Jagalah hati-pikiran = sempurnakanlah kehidupan akhirat selama di dunia

Jagalah hati-pikiran = sempurnakanlah kehidupan akhirat selama di dunia

"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia.
Sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (QS.30:7).
Cukup jelas, kehidupan akhirat adalah aspek batiniah dari kehidupan dunia,
serta berupa kehidupan di alam batiniah ruh tiap makhluk-Nya (alam pikiran).

Relatif cukup jarang umat Islam yang telah memahami, "bahwa kehidupan akhirat adalah aspek batiniah dari kehidupan dunia saat ini", seperti disebut secara tidak langsung pada surat AR RUUM ayat 7 di atas (QS.30:7). Karena umat Islam pada umumnya relatif hanya memahami, bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan manusia sejak Hari Kiamat. Dan aspek batiniah dari kehidupan dunia ini tentunya berada di alam batiniah pada tiap zat ruh makhluk-Nya (alam batiniah ruh atau alam pikirannya).

Maka kehidupan akhirat tiap makhluk-Nya (kehidupannya di alam akhirat) justru berlangsung sepanjang usia zat ruhnya sendiri, dan tiap makhluk-Nya justru pasti memiliki kehidupan dan alam akhiratnya masing-masing (kehidupan dan alam pikirannya). Dengan sendirinya, kehidupan dunia tiap makhluk-Nya justru hanya 'sebagian' dari panjang waktu kehidupan akhiratnya (hanya sepanjang zat ruhnya sedang menyatu dengan tubuh fisik-lahiriahnya di alam dunia). Dan hal yang serupa pula dengan kehidupan tiap makhluk-Nya di alam rahim dan di alam kubur (hanya bagian-bagian lain dari kehidupan akhiratnya).

Namun begitu memang amat wajar pula, apabila kehidupan akhirat sering dikaitkan dengan kehidupan manusia sejak Hari Kiamat. Karena sejak Hari Kiamat (saat zat ruhnya kembali ke hadapan-Nya), tiap manusia memang mulai menjalani kehidupan akhiratnya yang sebenarnya atau murni (tidak lagi bercampur-baur dengan kehidupan fisik-lahiriah-duniawinya), serta memang telah tidak ada lagi segala kesibukan fisik-lahiriah-duniawinya, yang bisa menjadikannya 'lalai' terhadap kehidupan akhiratnya.

Padahal tiap manusia mestinya tidak 'lalai' terhadap kehidupan akhiratnya 'selama' di kehidupan dunia ini, dan juga sekaligus mestinya tidak 'menukar' kehidupan akhiratnya dengan kehidupan dunia. Padahal justru hanya semata selama di kehidupan dunia ini, tiap manusia bisa membangun, memperbaiki atau menyempurnakan kehidupan akhiratnya, melalui segala amal-kebaikannya. Sedangkan sejak Hari Kiamat, segala amalan justru telah terputus (tidak diterima, diperhitungkan atau dipertimbangkan-Nya lagi). Dan kehidupan akhirat tiap manusia sejak Hari Kiamat, hanya semata kelanjutan dari kehidupan akhirat yang telah dibangunnya selama di kehidupan dunia saat ini.

Penting diketahui pula, bahwa balasan-Nya atas tiap amal-perbuatan manusia, pasti secara setimpal atau adil mengubah segala keadaan yang terkait di alam batiniah ruhnya (alam pikirannya), dan juga tiap keadaan batiniah ini justru bersifat 'kekal', sejak diperoleh atau diubah (termasuk keadaan batiniah yang berupa pahala-Nya dan beban dosa). Maka tiap manusia mestinya bisa selalu menjaga dirinya, agar bisa terhindar dari segala bentuk amal-keburukan (perbuatan dosa). Dan di lain pihaknya, tiap manusia mestinya bisa selalu memperbanyak segala bentuk amal-kebaikan.

Tiap amal-perbuatan manusia tentunya bisa terdiri dari pikiran (bersifat batiniah), perkataan, sikap dan perbuatan (bersifat lahiriah). Namun tubuh wadah fisik-lahiriah tiap makhluk-Nya justru hanya semata patuh, tunduk dan taat kepada segala perintah ruhnya (perintah pikirannya). Maka segala amal-perbuatan manusia justru pasti bersumber atau berawal dari segala keadaan pada alam batiniah ruhnya (alam pikirannya).

Hakekat dari tiap makhluk-Nya (termasuk manusia) memang hanya semata pada ruhnya, dan hakekat nilai dari tiap makhluk-Nya di hadapan-Nya memang hanya semata pada segala amal-perbuatannya selama di kehidupan dunia ini. Dimana kehidupan dunia (bersifat fisik-lahiriah-nyata) adalah sarana pengujian bagi tiap makhluk-Nya, untuk bisa berusaha membuktikan pengabdiannya kepada Allah Tuhan Yang telah menciptakannya, sekaligus pula sambil berusaha membangun kemuliaannya masing-masing.

Sekali lagi, tiap amal-perbuatan makhluk-Nya pasti mengubah segala keadaan yang terkait pada alam batiniah ruhnya (alam pikirannya). Juga segala keadaan batiniah ruh ini memang hanya kebebasan, kekuasaan dan otoritas sepenuhnya pada tiap makhluk-Nya sendiri, yang bisa mengatur atau mengubahnya (dengan daya dan akalnya sendiri). Allah dan segala makhluk-Nya lainnya bahkan tidak bisa mengaturnya (Allah tidak berkehendak mengaturnya). Namun Allah hanya semata menanamkan segala 'keadaan dan fitrah dasar' yang sama-sama suci-murni dan tanpa dosa, pada tiap zat ruh makhluk-Nya, ketika awal penciptaan tiap zat ruhnya (sebagai bentuk awal ke-Maha Adil-an Allah), selanjutnya Allah sama sekali tidak mengaturnya.

Maka amal-perbuatan adalah ukuran yang paling universal, setimpal atau adil bagi nilai tiap makhluk-Nya di hadapan-Nya, yang telah tercermin pada segala keadaan di alam batiniah ruhnya masing-masing (di alam pikirannya). Maka "Jagalah hati-pikiran", karena hati-pikiran memang pasti mendasari segala amal-perbuatan tiap makhluk-Nya (baik dan buruk, lahiriah dan batiniah).

Proses yang lebih terurut dan lengkapnya atas tiap amal-perbuatan makhluk-Nya, diawali dari usaha makhluk-Nya sendiri dengan daya dan akalnya, untuk bisa mewujudkan segala keinginannya, yang lalu terwujudkan melalui segala bentuk amal-perbuatannya, dan lalu balasan-Nya atas segala amal-perbuatannya pasti secara setimpal atau adil mengubah segala keadaan alam batiniah ruhnya (alam pikirannya). Semuanya berawal dan berakhir pada pikiran tiap makhluk-Nya.

Pada alam pikiran atau pada tiap zat ruh makhluk-Nya terdapat elemen antara lain: akal, hati atau kalbu, hati-nurani, nafsu dan catatan amalan. Dimana:

  • 'Akal' adalah satu-satunya pengendali pada zat ruhnya, juga satu-satunya alat yang bisa memilih, mempelajari, menilai atau memutuskan tiap informasi batiniah, untuk dianggap sebagai bagian dari pengetahuan atau kebenaran relatifnya.

  • 'Hati atau kalbu' adalah alat indera batiniah, yang menerima dan menyimpan segala informasi dari luar zat ruhnya (informasi dari alat-alat indera fisik-lahiriah dan dari para makhluk gaib), dan juga sekaligus sebagai alat penyimpanan informasi tentang tingkat kesukaan atau perasaan.

  • 'Nafsu' adalah alat penyimpanan informasi tentang tingkat keinginan atau kemauan.

  • 'Hati-nurani' adalah alat penyimpanan informasi tentang kebenaran relatif.

  • 'Catatan amalan' adalah alat penyimpanan informasi tentang hal yang dilakukan atau dipikirkan.

Maka 'akal' adalah satu-satunya elemen 'aktif' yang mengendalikan, menggerakkan atau menghidupkan tiap zat ruh makhluk-Nya, serta memerintahkan segala anggota tubuh fisik-lahiriahnya. Hal ini terutama karena relatif mustahil bisa lebih dari satu 'pengendali' pada suatu zat ruh. Serta 'hati atau kalbu', 'hati-nurani', 'nafsu' dan 'catatan amalan' adalah elemen-elemen 'pasif' bagi penyimpanan segala informasi batiniah, yang dipilih, disimpan dan dipakai oleh 'akal'. Dan 'hati atau kalbu', 'hati-nurani', 'nafsu' dan 'catatan amalan' juga bisa merupakan sesuatu hal yang sama, hanya adanya pembedaan akibat klasifikasi atau jenis informasi batiniahnya.

Dan ada 4 kelompok elemen pada tiap zat ruh, yaitu: penerima informasi ('hati atau kalbu'), penyimpan informasi ('hati atau kalbu', 'hati-nurani', 'nafsu' dan 'catatan amalan'), pengolah dan pengeksekusi informasi ('akal'). Namun begitu, tiap alim-ulama tentunya bisa memiliki definisinya masing-masing yang lainnya, atas elemen-elemen pada tiap zat ruh.

Dalam berusaha "menjaga hati-pikiran" tentunya bisa berupa pemakaian akal, yang antara lain misalnya:

  • Berlaku relatif amat obyektif, dengan memakai informasi secara apa adanya, tanpa ditambah (tidak mengada-ada) dan tanpa dikurangi (tidak disembunyikan).

  • Selalu terus-menerus menyempurnakan kebenaran relatif pada hati-nurani, dengan makin mendalam bertafakur mempelajari tiap pengajaran dan tuntunan-Nya (ayat-ayat-Nya yang tertulis ataupun tak-tertulis), serta makin sering memanfaatkannya dalam memilih atau memisahkan antara informasi yang benar dan yang sesat.

    Termasuk kebenaran relatif itu semestinya relatif makin sesuai dengan pengetahuan atau kebenaran-Nya yang ada di alam semesta ini (ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis), yang justru bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), juga tentunya bersifat 'universal' (bisa melewati batas waktu, ruang dan budaya).

  • Menghindar dari nafsu-keinginan yang berlebihan atau melampaui batas, terutama yang bersifat fisik-lahiriah-duniawi.

    Termasuk tidak terlalu berlebihan ataupun tidak memaksakan diri dalam berusaha mewujudkan kebaikan atau kebenaran, karena kebaikan atau kebenaran menurut tiap manusia memang pasti bersifat 'relatif' dan 'terbatas'.

    Dan segala sesuatu yang berlebihan memang umumnya pasti menimbulkan berbagai keburukan atau kemudharatan.

  • Tidak hanya semata menilai dari informasi yang bisa tertangkap oleh alat-alat indera fisik-lahiriah (tanpa menilai dari informasi yang tak-tertangkap secara fisik-lahiriah). Padahal informasi mentah dari alat-alat indera fisik-lahiriah memang relatif paling rendah nilai kebenarannya.

    Tiap informasi fisik-lahiriah ini mestinya diolah, dipertimbangkan atau diteliti secara relatif cermat dan mendalam terlebih dahulu, sebelum diputuskan untuk dipakai.

  • Tidak memakai atau tidak mudah terpengaruhi oleh informasi dari para syaitan dan iblis dalam pikiran (segala bentuk ilham yang negatif-sesat-buruk), sebaliknya justru memakai informasi dari para malaikat (segala bentuk ilham yang positif-benar-baik).

  • Makin mengurangi alat-alat indera fisik-lahiriah (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, dsb) dari menangkap, mengalami ataupun merasakan hal-hal yang buruk, sebaliknya terhadap hal-hal yang baik. Pengetahuan tentang hal-hal yang buruk memang tidak harus diperoleh dari pengalaman pribadi langsung, namun bisa dipelajari dari segala kejadian di sekitar.

  • Makin mengurangi berpikir dan berbuat buruk, sebaliknya makin memperbanyak berpikir dan berbuat baik. Dan segala perbuatan tiap manusia pada dasarnya pasti berawal atau bersumber dari pilihan dan keputusan pikirannya sendiri.

    'Pikiran buruk' memamg mustahil bisa dihilangkan, akibat dari adanya segala bentuk ilham yang negatif-sesat-buruk tiap saatnya dari para syaitan dan iblis (sebagai suatu bentuk ujian-Nya secara batiniah). Namun 'berpikir buruk' mestinya bisa dikurangi (tidak mengikuti, menindak-lanjuti ataupun memperturutkan ilham-bisikan-godaan dari para syaitan dan iblis).

    Makin lama mengikuti ilham-bisikan-godaan dari para syaitan dan iblis, makin besar pula beban dosanya. Hal yang relatif serupa dengan perbuatan buruk atau perbuatan dosa, sebagai perwujudan dari pikiran buruk, dan beban dosanya makin besar lagi.

Dan lebih penting lagi, berbagai usaha "menjaga hati-pikiran" seperti di atas, justru langsung berupa usaha untuk membangun, memperbaiki atau menyempurnakan keadaan kehidupan akhirat. Bahkan keadaan kehidupan di alam akhirat ini (alam batiniah ruh atau alam pikiran) justru bersifat 'kekal' (sesuai panjang usia zat ruhnya), sejak diubah oleh tiap makhluk-Nya sendiri, dan terus berlanjut setelah Hari Kiamat.

Keadaan kehidupan akhirat atau keadaan batiniah itu terutama berupa pahala-Nya dan beban dosa, dari hasil perbuatan baik dan perbuatan buruk (perbuatan dosa). Namun besarnya pengaruh dari tiap keadaan batiniah atas kehidupan akhirat secara keseluruhan, juga bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain misalnya:

  • Tingkat kemuliaan dan kehinaan dari sesuatu keadaan (besar pahala-Nya dan beban dosa dari sesuatu perbuatan).

  • Telah atau belum terwujud melalui perbuatan secara fisik-lahiriah (besar pahala-Nya dan beban dosa relatif lebih kecil jika masih hanya di dalam pikiran atau perbuatan belum terwujud secara fisik-lahiriah).

  • Seringnya dan jangka waktu terakhir sesuatu keadaan diubah (misalnya: beban dosa makin berat jika perbuatan dosa terkait makin sering dilakukan ataupun makin dekat waktu terakhir dilakukan).

  • Adanya keadaan terkait lainnya yang lebih dominan pengaruhnya (misalnya: beban dosa yang bisa relatif tertutupi oleh hasil bertaubat, sebaliknya pahala-Nya yang bisa relatif tertutupi oleh perbuatan dosa-dosa besar).

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang kehidupan dan alam akhirat tiap zat makhluk-Nya, serta kaitannya dengan alam pikiran dan amal-perbuatannya.

Wallahu a'lam bishawwab.

Artikel / buku terkait:

Beranda: "Islam, agama universal"

Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

Tentang Syarif Muharim

Alumni Teknik Mesin (KBK Teknik Penerbangan) - ITB - angkatan 1987 Blog: "islamagamauniversal.wordpress.com"
Pos ini dipublikasikan di Hikmah, Saduran buku dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Jagalah hati-pikiran = sempurnakanlah kehidupan akhirat selama di dunia

  1. Ping balik: Manusia Dan Agama | saiful runardi

  2. R Umarul Faruq cakraningrat berkata:

    Sekalipun sekilas membaca artikel anda namun saya cukup mengerti. Anda membahas dengan pendekatan Ilmu Alam Fisika itu “Hak Anda”. Saya ingin komfirmasi aja tentang pengertian atau pengertian Anda tentang : a) dalam huruf F “Terutama lagi kpd manusia , dalam menjalani segala proses penggodokan di kehidupan dunia fana ini (peroses pengujiann keimanannya sebagai khalifah-NYA) apakah definisi Khalifah menurut anda, apakah sama dg para ilmuwan lainnya yg menganggap manusia sebagai pengganti/wakil Tuhan di Bumi ???. PADAHAL ALLAH ITU LAA SYARIKALAHU. TIDAK BERSEKUTU ATAU TIDAK BERSERIKAT DENGAN SIAPAPUN, ITU SANGAT JELAS KAN. 2) Anda berpendapat kehidupan di akherat kelak sudah tidak ada kegiatan fisik, jadi cuma kegiatan ruh-ruh belaka, karena anda beranggapan kehidupan fisik di dunia hanya sampai di kubur belaka (kalau saya tak salah memahami begitu kesimpulan anda). PADAHAL SANGAT JELAS DLM AL-QUR-AN TENTANG KEBANGKITAN MANUSIA DARI KUBUR, TULANG-BELULANG BERSATU KEMBALI, CUMAN MEMANG TIDAK SAMA DI AKHERAT TIDAK ADA KEBOHONGAN, KELAPARAN DLL BAGI MEREKA YG BERADA DI SORGA, SEDANGKAN YG ADA DINERAKA KEBALIKANNYA.

    • Syarif Muharim berkata:

      Betul, sebagian dari pemahaman2 pada buku / blog ini memang didukung pula oleh Ilmu Alam / Ilmu Fisika, meskipun tidak semuanya tentunya. Karena Ilmu Alam / Ilmu Fisika tidak bisa dipakai dalam pembahasan2 tentang Allah, makhluk ghaib, akal, hati, jiwa, ruh, akhirat, dsb misalnya.

      1). Kutipan “Terutama lagi kepada manusia, dalam menjalani segala proses penggodokan di kehidupan dunia fana ini (proses pengujian keimanannya sebagai khalifah-Nya).” tsb berada pada artikel “Sunatullah sebagai wujud perbuatan Allah: f. Sunatullah berlaku secara terselubung” (https://islamagamauniversal.wordpress.com/2011/12/12/sunatullah-sebagai-wujud-perbuatan-allah/#suna_f).

      Sepanjang buku / blog ini, definisi Khalifah selalu dimaknai dengan “penguasa” (pemimpin), yang tentunya amat berbeda dengan “pengganti/wakil Tuhan di Bumi”.

      Definisi lebih jelasnya bisa dibaca pada “Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah” (https://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/bf_lamb/), yang berbunyi “Khalifah-Nya = Manusia, yang telah diberi tugas atau amanat oleh Allah untuk berkuasa di dunia (menjadi Khalifah-Nya di muka Bumi).”

      Dalam agama Islam tidak dikenal “manusia sebagai pengganti/wakil Tuhan di Bumi”.

      2. Kurang tepat, jika dianggap “kehidupan di akherat kelak cuma kegiatan RUH-RUH belaka”. Lebih tepatnya “kehidupan di akherat kelak berupa kegiatan / aktifitas JIWA”.
      Amat banyak keterangan2 dalam Al-Qur’an dan hadits, tentang “tiap2 JIWA pasti mati”, “tiap2 JIWA pasti kembali kepada-Nya”, “tiap2 JIWA pasti harus mempertanggung-jawabkan segala amal-perbuatannya”, “tiap2 JIWA pasti merasakan segala balasan-Nya (nikmat-surga dan hukuman-neraka)”, “tiap2 JIWA hidup kekal di surga / neraka”, dsb.

      Sedangkan bagaimana hubungan antara JIWA dan JASAD / TUBUH FISIK dari tiap2 makhluknya, relatif amat sulit / rumit dijelaskan, terutama karena bersifat ghaib. Sehingga saya tidak ingin menjelaskannya disini. Silahkan membaca artikel2 terkait pada buku / blog ini, bagi penjelasan lebih lengkapnya.

      Namun penjelasan secara ringkasnya, tiap2 manusia terdiri dari: RUH, JIWA dan JASAD. Dimana JIWA menghubungkan RUH dan JASAD dari tiap2 manusianya. Dan JIWA terkadang disebut juga dengan “NAFS” / “NYAWA” / “DIRI”.

      Betul, di hari akhirat tiap2 JIWA tidak bisa berbohong, tidak bisa kelaparan, dsb.

      Akhirnya, silahkan anda menyakini hal2 yang telah diketahui / dipahami selama ini. Tidak ada paksaan dari siapapun kepada anda, dalam meyakini sesuatu.

      Semoga kita semua senantiasa selalu mendapat petunjuk dan hidayah-Nya. Aamiin.

      Wallahu a’lam…. Salam…

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s