Bab V.A Makhluk nyata

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

"Dan di antara ayat-ayat-Nya (tanda-tanda kekuasaan-Nya) ialah, menciptakan langit dan bumi, dan makhluk-makhluk yang melata,
yang Dia sebarkan pada keduanya (pada langit dan bumi).
Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya,
apabila dikehendaki-Nya (di Hari Kiamat)."
(QS. ASY-SYUURA:42:29).

"Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air.
Maka sebagian dari hewan itu ada yang melata di atas perutnya.
Dan sebagian berjalan dengan dua kaki.
Sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki.
Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QS. AN-NUUR:24:45).

 

V.A.

Makhluk Hidup Nyata

Makhluk nyata dan awal proses penciptaannya

"Makhluk hidup nyata" (biasa disebut "makhluk hidup" saja) yang telah diketahui, misalnya: manusia, hewan, tumbuhan dan sel. Sedang belum jelas ada bukti tentang makhluk-makhluk di dalam film ataupun cerita fiksi ilmiah (hasil imajinasi manusia), misalnya: ETI (makhluk luar angkasa), alien, drakula, dsb.

Dalam perkiraan para ilmuwan, awal dari kehidupan makhluk nyata di Bumi dimulai sekitar 3,5 s/d 4 juta tahun yang lalu, terutama setelah mulai terbentuk air di permukaan Bumi. Serta masing-masing sekitar 4 dan 6 milyar tahun setelah awal penciptaan Bumi, dan awal penciptaan alam semesta ini.

Sebelum terjadinya penciptaan segala makhluk hidup nyata itu, ada proses yang sangat penting, yaitu proses terjadinya zat-zat organik (protein, lemak, karbohidrat, dsb), dari zat-zat anorganik (air, asam amino, metanol, amoniak, asam nukleat, enzim, dsb), dan proses yang paling sederhana lagi, dari atom-atomnya (Oksigen – O, Hidrogen – H, Nitrogen – N, Karbon – C, Fosfor – P, dsb), yang ada terdapat di tanah permukaan Bumi, serta sebagian lainnya ada pula di air dan di udara.

Semua proses atau reaksi kimiawi itu justru hanya bisa terjadi, karena adanya air di permukaan Bumi, dan karena adanya dukungan energi panas radiasi sinar dari Matahari. Dan zat-zat organik itu adalah zat-zat atau saripati makanan, yang sangat diperlukan oleh segala jenis makhluk hidup nyata.

Sel, makhluk nyata paling sederhana

Sebenarnya selain dari manusia, hewan ataupun tumbuhan, ada makhluk hidup nyata yang disebut 'sel', yang ukurannya sangat kecil (tidak terlihat langsung dengan mata telanjang) yang menjadi makhluk yang paling elementer atau sederhana, sebagai penyusun terbentuknya segala tubuh makhluk hidup nyata lainnya. Maka proses pembentukan 'sel', adalah awal dari segala proses penciptaan atas segala makhluk hidup nyata di muka Bumi ini. Dan pada 'sel' terkandung di dalamnya suatu benih dasar tubuh (mati) dan suatu zat ruh sel (hidup).

Dari sifatnya, tiap jenis zat ruh sel tertentu hanyalah akan bisa 'menyatu' (ditiupkan-Nya), ke jenis benih tubuh tertentu saja, yang ditemuinya, agar bisa memberinya suatu kehidupan dan pada keadaan-keadaan tertentu pula (seperti: belum terisi ruh, energinya tercukupi, komposisi benihnya tepat, dsb). Dan akhirnya, zat ruh sel itulah yang paling menentukan sifat-sifat dari sel tersebut.

Tetapi sel juga bukan makhluk yang mandiri, karena tidak bisa mencari makanannya sendiri ataupun tidak memiliki alat-sarana untuk bisa mengambil dan mencernanya. Sehingga sel hanya bisa hidup dari dukungan lingkungan di sekitarnya, yang bisa menyuplainya zat-zat makanan, ataupun ikut bertindak sebagai media perantara penyuplaian makanan, seperti misalnya: sel-sel darah, sel-sel hidup lainnya, cairan bernutrisi atau mengandung saripati makanan (zat-zat organik), dsb.

Selama masih mendapatkan cukup makanannya, sel bisa hidup dan tumbuh. Sel justru juga bisa berkembang-biak sendiri dengan cara membelah-diri (terpisah menjadi dua ataupun lebih sel-sel kembar).

Sel-sel itupun amat bermacam-macam jenisnya, juga sifat dan fungsinya, seperti misalnya: sel darah; sel otak; sel sumsum; sel kulit; sel otot; sel tulang; sel khlorofil; sel-sel generatif (sel indung telur dan sperma pada manusia dan hewan, ataupun sel putik dan tumpang sari pada tumbuhan); sel kromosom; sel DNA; dsb.

Catatan-catatan tambahan sekitar sel

Dari ukuran sel yang memang amat kecil dan relatif hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron, maka bisa dimaklumi apabila sel-sel belum dikenal pada jaman nabi Muhammad saw, begitu pula sel tidak disebut-sebut di dalam Al-Qur'an. Namun terkait dengan sel-sel generatif, cukup banyak disebut tentang 'air mani' (kumpulan sangat besar jumlah sel sperma dari pria, atau sel indung telur dari wanita).

Makhluk bersel satu yang dikenal manusia misalnya, 'Amuba', terkadang Amuba ini disebutkan sebagai tumbuhan, namun biasanya disebutkan sebagai hewan. Namun sel-sel itu juga bisa hidup di dalam satu kelompok yang mempunyai sifat-sifat yang khas (bersel banyak), yang disebut sebagai suatu sel baru yang lebih kompleks (seperti sel-sel generatif). Lebih lanjut lagi di dalam kelompok yang lebih besar, sel-sel membentuk jaringan dan organ tubuh manusia misalnya.

Secara garis besar, sel-sel itu juga bisa dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu: sel pertumbuhan dan sel generatif. Di mana sel-sel pertumbuhan lebih terkait dengan perkembangan tubuh wadah setiap makhluk hidup nyata. Sedang sel-sel generatif itu lebih terkait dengan perkembang-biakkan makhluk, serta bisa membentuk sesuatu makhluk baru (sel janin), jika sepasang sel generatifnya bercampur dalam suatu keadaan tertentu dan tentunya setelah ditiupkan-Nya dengan ruh .

Gambaran sederhana proses penciptaan sel

Pada Gambar 10 berikut ditunjukkan secara sederhana tentang proses penciptaan sel (sesuatu makhluk hidup nyata yang paling kecil, sederhana ataupun paling elementer).

Secara garis besarnya, proses penciptaan sel meliputi:

1. Penciptaan segala sifat dan jenis Atom dan Ruh, sebagai elemen-elemen palng dasar penyusun seluruh alam semesta (segala benda mati dan makhluk hidup), sekaligus disertai penciptaan Energi.
2. Segala sifat dan jenis Atom saling bercampur dan berreaksi, untuk membentuk segala jenis senyawa, di udara, air dan di tanah.
3. Segala jenis senyawa saling bercampur dan berreaksi, untuk bisa membentuk segala zat anorganik (senyawa yang lebih kompleks).
4. Segala jenis zat anorganik saling bercampur dan berreaksi, untuk membentuk segala zat organik (senyawa yang amat kompleks).
5. Segala jenis zat organik itu saling bercampur dan berreaksi, untuk bisa membentuk segala 'benih dasar', bagi tubuh wadah makhluk hidup nyata (senyawa yang relatif paling kompleks).
6. Pada segala jenis 'benih dasar' tubuh wadah makhluk hidup nyata, ditiupkan-Nya dengan ruh-ruh.
7. Terbentuk segala jenis sel-sel, bagi segala makhluk hidup nyata.

 

Gambar 10: Diagram umum penciptaan sel (makhluk nyata terkecil)

Awal kehidupan menurut Islam vs ilmuwan barat

Hal yang terkait dengan sel (makhluk hidup nyata yang paling sederhana), dalam teori yang dikenal luas di kalangan ilmuwan barat, bahwa awal kehidupan di Bumi berasal dari sel dan air (berupa es), yang ada pada komet ataupun meteor, yang menabrak Bumi pada awal pembentukan Bumi (setelah permukaan Bumi menjadi dingin).

Lebih lanjutnya lagi, teori di atas terkait teori lain, bahwa sel yang telah membeku selama milyaran tahun pada lingkungan seperti dalam pusat komet ataupun meteor (amat dingin, kering, tanpa udara, dsb), masih bisa hidup kembali, apabila berada pada lingkungan yang sesuai (seperti di Bumi).

Sehingga merekapun beranggapan, bahwa manusia, hewan dan tumbuhan, adalah suatu jenis makhluk angkasa luar atau alien (dalam bentuk sel-sel), yang terdampar ke Bumi, yang lalu berkembang-biak dan berevolusi menjadi segala jenis makhluk hidup nyata, yang amat sangat berragam sampai saat ini di Bumi.

Padahal teori di atas sangat bertentangan dengan fakta, bahwa tabrakan itu justru amat dahsyat menyerupai suatu ledakan nuklir yang pasti bisa pula membakar dan membunuh sel-sel, pada komet ataupun meteornya. Hal itu juga bertentangan dengan fakta, bahwa tidak ada sel yang telah mati atau menjadi fosil, yang bisa langsung hidup pada lingkungan yang sesuai. Minimal sel harus terurai dahulu (membusuk) menjadi molekul dan atom, lalu berreaksi-sintesa untuk membentuk sel sel baru (termasuk setelah ditiupkan-Nya dengan ruh).

Padahal Bumi, komet, meteor atau semua benda-benda langit lainnya, berbahan dasar yang persis serupa (dari kabut alam semesta yang relatif amat homogen, karena bercampur-baur unsur-unsurnya), maka pembentukan sel semestinya bisa pula terjadi di Bumi, tanpa mesti 'dibantu' oleh komet ataupun meteor.

Padahal atmosfir Bumi amat kaya pula dengan atom-atom gas Hidrogen-H dan Oksigen-O, sebagai atom-atom penyusun air, yang dikumpulkan oleh Bumi sejak awal pembentukannya. Sehingga hanya masalah waktu, untuk menunggu terjadinya proses pendinginan atau pembekuan permukaan Bumi. Setelah mendingin lalu terbentuk air di Bumi (air hujan), yang lalu menjadi lautan dan samudera. Sedang air justru diketahui amat diperlukan bagi kehidupan makhluk nyata.

Baca pula topik "Benda mati nyata" dan topik "Proses penciptaan air dan lautan", tentang proses terbentuknya benda-benda langit dan air.

Sedangkan pemahaman berdasar dari Al-Qur'an, bahwa semua makhluk hidup nyata terbentuk dari benih tubuh, yang berupa benda mati (saripati yang berasal dari tanah lumpur liat dan berwarna hitam di permukaan Bumi), yang lalu ditiupkan-Nya dengan ruh.

Sehingga kehidupan pada dasarnya bisa terjadi 'dimana saja', selama keadaannya memungkinkan, untuk terbentuknya benih tubuh (saripati) dan untuk bisa bersatunya ruh dengan benih itu, seperti pada keadaan di permukaan Bumi ini, yang hampir seluruhnya bisa hidup tumbuhan (termasuk tumbuhan lumut dan hewan plankton di air dan laut). Jadi awal timbulnya kehidupan di Bumi bukanlah karena adanya tabrakan komet, meteor dan benda-benda langit lainnya di permukaan Bumi. Keadaan itu termasuk sangat didukung pula oleh keberadaan air di Bumi dan pancaran energi panas sinar matahari.

Baca pula uraian-uraian selengkapnya di bawah.

Hal inipun amat jelas menunjukkan kelemahan ilmuwan barat, dalam menjelaskan tentang 'zat ruh', dan cara-cara Allah menciptakan makhluk-makhluk-Nya (termasuk berbagai jenis sel-sel). Dan mereka juga relattif tidak bisa menjelaskan, tentang 'ditiupkan-Nya' zat ruh. Sehingga dengan amat mudahnya mereka berteori, bahwa asal-muasal dari sel-sel kehidupan di Bumi, adalah "telah ada terjadi begitu saja" pada komet atau meteor yang jatuh ke Bumi.

Jika mereka memang beranggapan, bahwa sel 'telah ada terjadi begitu saja' pada komet, karena telah diciptakan oleh Tuhan. Maka hal ini masih cukup aneh, karena apakah ada perbedaan antara diciptakan-Nya di Bumi dan di komet atau meteor?.

Hal inipun cukup mudah dipahami, karena ilmuwan barat amat dikuasai oleh paham materialisme (kebendaan, fisik ataupun lahiriah). Namun sebaliknya mereka tidak bisa memahami dan telah melupakan aspek-aspek moral-spiritual-batiniah yang langsung terkait dengan ruh dan ketuhanan. Persis seperti ketika mereka banyak yang menyakini nabi Isa as yang hanya suatu zat makhluk ciptaan-Nya, sebagai Tuhan.

Sehingga mereka 'seolah-olah' telah berusaha melempar jauh-jauh segala hal, tentang proses penciptaan segala makhluk hidup oleh Allah, ke komet atau meteor, agar manusia tidak perlu terus-menerus berusaha mengungkapnya (tidak perlu memahami tentang penciptaan).

Lalu mereka berbondong-bondong mendukung teori Evolusi Darwin. Seperti disebut di atas, mereka beranggapan bahwa manusia dan segala jenis makhluk hidup nyata lainnya di Bumi, adalah hasil dari proses evolusi atas sel-sel, yang berasal dari komet atau meteor. Teori Evolusi Darwin justru sangat ditentang dalam agama Islam, dan terbukti mengandung kelemahan, kesesatan dan mengada-ada.

Bukti paling jelasnya misalnya tidak pernah ditemukan adanya fosil-fosil makhluk 'antara', sebagai hasil dari proses-proses evolusi perlahan-lahan, dari sel-sel menjadi segala makhluk hidup nyata yang ada saat ini. Contoh sederhananya, makhluk-makhluk 'antara' adalah berbagai jenis makhluk yang belum dikenal sampai saat ini, yang telah menjadi perantara bagi tiap perubahan, dari suatu jenis kera di jaman dahulu, sampai menjadi manusia saat ini. Hal ini mestinya juga terjadi pada tiap jenis makhluk hidup nyata yang ada saat ini.

Padahal jika mengikuti Teori Evolusi tersebut, mestinya fosil-fosil makhluk 'antara' itu justru berjumlah amat banyak, dari hasil tiap tahapan proses evolusinya. Selain berupa fosil-fosil, mestinya ada pula makhluk 'antara' yang masih bisa hidup. Baca pula uraian di bawah.

Bahan benih dasar tubuh semua makhluk nyata

Benih dasar tubuh tiap sel (dengan sendirinya, juga tubuh tiap makhluk hidup nyata lainnya), yang disebut dalam Al-Qur'an, melalui berbagai cara pengungkapan, misalnya dari: "tanah", "tanah kering, seperti bahan tembikar", "tanah liat", "tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam" ataupun "saripati (yang berasal) dari tanah".

Dalam bahasa manusia modernnya, benih dasar tubuh sel itu adalah saripati makanan, zat-zat hidrokarbon ataupun zat-zat organik (protein, lemak, karbohidrat, dsb), yang amat kaya di dalam 'tanah'. Seperti halnya suatu sel sendiri, yang berukuran amatlah kecil (tidak terlihat dengan mata telanjang), maka begitu pula ukuran benih atau 'tanah' itu. Tetapi dalam jumlah amat besar, berwujud seperti bentuk dasar bahan bakar fosil 'minyak bumi', yang berupa tanah lumpur liat dan berwarna hitam.

Disebut dari 'tanah', karena berbagai unsur yang penting bagi kehidupan, khususnya ada di tanah (selain sedikit di udara dan di air). Contoh ringkasnya, tumbuhan mendapatkan makanan dari tanah, lalu tumbuhan dimakan oleh hewan, lalu tumbuhan dan hewan dimakan oleh manusia. Pada akhirnya, tumbuhan, hewan dan manusiapun bisa berkembang-biak dari hasil pembentukan sel-sel generatifnya, melalui zat-zat makanannya itu pada alat-alat reproduksinya. Padahal semua zat-zat makanan itu sendiri, pada akhirnya hanya berasal dari 'tanah', dengan ataupun tanpa disadari langsung oleh manusia.

"… . Dan kamu lihat bumi ini (awalnya) kering, kemudian apabila Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu, dan suburlah (tanahnya), dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah." – (QS.22:5).

 

Disebut 'lumpur', karena sebagian terbesar dari zat-zat organik memang mengandung atom-atom penyusun air (H2O), yaitu: atom gas Oksigen (O) dan gas Hidrogen (H), sehingga disebut sebagai zat-zat hidrokarbon, dan berbentuk berupa cairan kental, yang bisa membuat tanahnya relatif basah. Namun juga disebut 'kering', karena umumnya komposisi zat-zat organik itu relatif sangat sedikit di dalam tanah, juga jika hanya ditinjau pada bahan dasarnya saja (tanpa kandungan air).

Sedang disebut 'liat' ataupun 'seperti bahan tembikar', karena amat besar kekenyalan ikatan antar unsur-unsur dalam tanah, akibat dari adanya zat-zat organik itu. Dalam bahasa ilmiahnya, kekenyalan itu tampak dari zat-zat organik yang umumnya memiliki 'rantai atom-atom' yang relatif amat panjang dan kompleks, yang membuatnya bisa relatif mudah mengikat atom atau molekul lain di sekitarnya.

Dan warna 'hitam' itu, adalah warna dasar dari unsur karbon, yang merupakan salah-satu unsur paling penting pada zat-zat organik. Sedang unsur-unsur penting lainnya seperti: Oksigen-O, Hidrogen-H dan Nitrogen-N, justru tidaklah memiliki warna. Warna karbon itupun mudah diketahui dari warna kayu arang, atau juga dari warna asap dan jelaga pada knalpot kendaraan bermotor, sebagai sisa hasil buangan pembakaran bahan bakar fosil (solar atau bensin). Sedang unsur-unsur lain pada bahan bakar itu telah terlepas kembali lagi ke udara (seperti gas-gas: Oksigen-O, Karbon-dioksida-CO2, Hidrogen-H, dsb).

Proses fotosintesa dalam pembentukan kehidupan

Dengan bantuan 'energi panas' radiasi sinar matahari, secara langsung ataupun tidak (seperti yang terjadi pada tumbuhan di luar ataupun dalam rumah), maka terjadi suatu 'proses fotosintesa' (reaksi penggabungan-sintesa karena cahaya). Pada proses ini bisa terbentuk berbagai 'benih dasar' tubuh makhluk nyata, dari hasil reaksi sintesa (penggabungan), antara berbagai jenis zat-zat organik tertentu, dengan komposisi tertentu pula. Setelah itu lalu ditiupkan-Nya berbagai jenis ruh sel kepada benih-benih dasarnya itu, sesuai dengan jenis benihnya.

Bahwa reaksi fotosintesa itu hanya bisa terjadi, tentunya jika ada 'air' sebagai sarana dan medianya. Juga jika ada 'energi panas' sinar matahari, yang mendukung proses pembentukan zat-zat organik, dari zat-zat unorganiknya, lebih jauh bahkan dari atom-atom. Karena adanya cukup panas itu membuat ikatan-ikatan antar atom-atom pada zat-zat unorganik itupun menjadi relatif kurang kuat ataupun bahkan terurai, untuk bisa membentuk zat-zat organik yang lebih kompleks.

Molekul uap air (H2O) yang juga suatu zat unorganik misalnya akan bisa terurai menjadi atom-atomnya (Oksigen-O dan Hidrogen-H). Juga molekul gas karbon-dioksida (CO2) di udara, terurai menjadi atom-atomnya (Oksigen-O dan Karbon-C). Ke semua atom Hidrogen dan sebagian dari atom Oksigen itu justru terikat oleh atom Karbon, yang lalu akan membentuk molekul-molekul hidrokarbon (atau zat-zat organik). Kelebihan oksigen-nya terlepas lagi ke udara bebas. Dan hal-hal serupa pula terjadi pada berbagai molekul dan atom lainnya.

Sehingga umum dikenal, bahwa tumbuhan menjadikan udara di sekitarnya menjadi lebih 'segar', karena tumbuhan bisa mengubah gas karbon-dioksida yang 'beracun' di udara, menjadi oksigen yang segar yang keluar dari daunnya. Bahkan hutan-hutan tropis juga sering disebut sebagai 'paru-paru dunia'.

Persamaan umum proses fotosintesa pada tumbuhan:

Prinsip-prinsip proses fotosintesa tersebut di atas, bisa terjadi dimana saja, misalnya pada saat terbentuknya segala macam sel, yang terdapat pada tubuh manusia, hewan, tumbuhan, dsb. Namun pada umumnya, proses fotosintesa itupun lebih dikaitkan dengan tumbuhan (khususnya pada daun), karena proses-proses pada tumbuhan itu lebih jelas diketahui terkait langsung dengan energi panas sinar matahari, dan bukan terkait dengan energi berbentuk lainnya.

Sedang pada manusia dan hewan lebih terkait dengan energi panas, dari dalam tubuhnya masing-masing. Walaupun pada dasarnya, energi panas pada tubuhnya itu juga berasal dari zat-zat atau saripati makanan pada hewan dan tumbuhan yang telah pernah dimakannya. Akhirnya, kesemuanya juga berasal dari energi panas sinar matahari.

Air, unsur penting pendukung proses metabolisme tubuh

Air, selain sebagai media terjadinya berbagai reaksi di atas (tempat bercampurnya berbagai unsur), juga sebagai media pengantar bagi energi dan zat-zat makanan (zat-zat organik), yang sangat penting diperlukan bagi setiap makhluk hidup, untuk hidup dan pertumbuhan tubuhnya. Darah yang bisa mengantarkan zat-zat makanan ke seluruh tubuh setiap makhluk hidupnya, juga mengandung air. Bahkan seperti telah diuraikan di atas, bahwa air juga salah-satu unsur yang penting pada proses pembentukan zat-zat organik itu sendiri.

Peranan air itupun secara ilmiah sering pula disebutkan, untuk kelangsungan terjadinya proses-proses 'metabolisme', di dalam tubuh suatu makhluk hidup nyata. 22)

Baca pula topik "Proses penciptaan air dan lautan", tentang proses terbentuknya air di Bumi.

Contoh-contoh terbentuknya kehidupan dalam Al-Qur'an

Penciptaan berbagai makhluk hidup nyata cukup sering disebut pula dalam Al-Qur'an, seperti "dengan air hujan itu dihidupkan-Nya bumi yang mati", atau "dengan air hujan itu ditumbuhkan-Nya buah-buahan". Karena pemahaman yang lebih jelas dan mudah diperoleh tentang terciptanya kehidupan dari tanah, memang ketika dihidupkan-Nya tumbuh-tumbuhan.

Selain itu, tumbuhan adalah sesuatu makhluk hidup nyata yang tingkatannya relatif jauh lebih rendah daripada hewan atau manusia. Sehingga proses-proses pada tumbuhan juga jauh lebih sederhana, dan lebih mudah pula untuk dijelaskan. Walau pada dasarnya, proses yang relatif 'serupa' justru juga terjadi pada hewan dan manusia.

Pada musim kering tumbuhan sulit bisa hidup dan bahkan bisa mati. Sebaliknya pada musim hujan, air hujannya mencairkan zat-zat yang ada di dalam tanah, sehingga akan mudah diserap melalui akar-akar tumbuhan, dan naik tersebar ke bagian-bagian tumbuhan, sampai ke daun. Dengan energi panas sinar Matahari yang diserap oleh daun ataupun ketiak batang, maka terjadi proses fotosintesa di atas, yang akhirnya membentuk sel-sel tumbuhan. Lalu sel-sel itu bisa tersebar melalui inti-inti batang ke seluruh bagian tumbuhannya, yang akan bisa menumbuhkan tumbuhannya.

Proses awal pembentukan benih tubuh makhluk nyata

Ada perbedaan penting antara proses awal terjadinya benih tubuh wadah berbagai makhluk hidup, yang diciptakan-Nya 'pertama' kali, dan berbagai makhluk hidup 'berikutnya' (setiap anak keturunan dari makhluk pertama tersebut), pada manusia, hewan dan tumbuhan.

Baca pula penjelasan lebih lengkapnya, tentang urutan siklus kejadian manusia di bawah.

Bahwa benih-benih dasar bagi setiap anak keturunan makhluk pertama (atau pasangan sel generatifnya), terjadi melalui proses pada alat-alat reproduksi setiap makhluk induknya, untuk bisa berkembang-biaknya. Benih itu berasal dari berbagai zat organik yang diperoleh dari berbagai zat makanannya (yang pada akhirnya dari tumbuhan dan tanah), yang terjadi setelah melalui berbagai proses sintesa tertentu, pada alat-alat reproduksi itu.

Proses pembentukan benih sangat disederhanakan dari adanya alat-alat reproduksi itu, yang memang secara khusus diciptakan-Nya untuk berfungsi menghasilkan benih. Maka relatif amat sangat sedikit jumlah 'tanah' yang diperlukan bagi terjadinya tiap benih. Karena zat-zat organik langsung berasal dari berbagai macam zat makanan, yang telah dicerna oleh alat-alat pencernaannya, dan juga telah dipisahkan dari ampas-ampasnya (kotorannya).

Pasangan dari tiap benih atau sel generatif itu (sel putik dan sel tumpang sari pada tumbuhan, ataupun sel indung telur dan sel sperma pada manusia dan hewan), haruslah dipertemukan, agar bisa terbentuk 'benih janin'. Lalu agar bisa ditiupkan-Nya dengan ruh yang 'sesuai', agar bisa membentuk 'sel janin', bagi makhluk hidup yang baru.

Tentunya sel-sel generatif itu sendiri (dari kedua induknya), juga bisa disebut sebagai 'benih-benih' bagi sel janin anaknya.

Proses pembentukan benih tubuh makhluk nyata "pertama"

Sebaliknya proses terjadinya benih semua "makhluk pertama", berlangsung sangatlah rumit dan lama (sekitar ribuan ataupun jutaan tahun), yang merupakan sejumlah sangat besar reaksi sintesa terhadap unsur-unsur (atom) pada tanah permukaan Bumi, terutama didukung oleh adanya air dan energi panas sinar Matahari. Reaksi sintesa itupun membentuk zat-zat anorganik, lalu menjadi zat-zat organik, dan lalu akhirnya menjadi benih-benih dasar, bagi sel-sel generatif.

Dikatakan rumit karena berbagai jenis atom yang terdapat pada permukaan Bumi, justru tidak terlalu merata penyebarannya. Dengan sendirinya zat-zat organik yang terbentuk juga tidak merata. Padahal benih hanyalah bisa terjadi pada komposisi campuran berbagai macam zat-zat organik tertentu di suatu tempat yang sama, secara bersamaan.

Hal ini paling logis dijawab, melalui peranan air sebagai media yang membawa dan mengumpulkan zat-zat organik itu. Air ini diduga berupa air rawa-rawa di tengah hutan yang sangat lebat, yang ada di hampir seluruh permukaan Bumi (termasuk pada daerah padang pasir di tanah Arab), ketika masih terjadi air hujan selama ribuan ataupun jutaan tahun pada masa-masa awal pembentukan Bumi. Segala jenis tumbuhan pada hutan lebat itupun justru telah sangat mendukung bagi proses terjadinya benih-benih, bagi semua 'makhluk pertama' tersebut (khususnya manusia dan hewan).

Rawa-rawa ini relatif cukup dangkal, karena permukaan Bumi pada saat itupun masih cukup hangat, untuk bisa mudah menguapkan air rawanya secara terus-menerus. Sehingga air rawa itupun berbentuk semacam sesuatu 'kaldu purba' yang agak kental, yang sangatlah kaya dengan zat-zat organik (saripati makanan).

Serupa halnya dengan proses pembuatan garam, yang melalui proses penjemuran air laut secara terus-menerus oleh panas terik sinar Matahari. Lalu terbentuk air laut yang sangat jenuh dan agak kental, dan akhirnya menjadi garam.

Kerumitan juga disebabkan karena proses pembentukan sel-sel generatifnya berlangsung di alam bebas, bukan langsung melalui alat-alat reproduksi, yang memang telah khusus diciptakan-Nya untuk bisa menghasilkan benih-benih janin (atau sel-sel generatif).

Dan pembentukan benih-benih para 'makhluk pertama' terjadi selama ribuan atau jutaan tahun dan secara 'kebetulan', karena saling bercampur-aduk dan berreaksinya zat-zat dalam 'kaldu' air rawa, pada saat air rawanya mengalir ke sana ke mari.

Akhirnya, jumlah 'tanah' yang diperlukan untuk bisa semakin memungkinkan terjadinya pembentukan benih-benih, juga relatif amat sangat banyak, apalagi jika semakin kompleks tubuh makhluk terkait. Tentunya jumlah lama waktu proses pembentukan benih yang sekitar ribuan ataupun jutaan tahun itu, jauh lebih mudah dipahami daripada jumlah 'tanah'-nya (yang amat sangat banyak).

Bahkan sel-sel generatif manusia misalnya, justru tersusun lagi dari berbagai sel lainnya yang lebih sederhana (karena bersel banyak). Sehingga pembentukan sel-sel generatif itupun juga bisa memerlukan waktu yang jauh lebih lama, daripada lama waktu bagi pembentukan sel-sel yang lebih sederhana.

Proses pertumbuhan tubuh makhluk nyata

Manusia, hewan dan tumbuhan 'dewasa', adalah tiap makhluk-makhluk yang telah utuh dan sempurna, sebagai hasil pertumbuhan dari sesuatu 'sel janin' kehidupan (bentuk yang paling sederhana dari tubuh setiap makhluk hidup nyata), yang terbentuk dari 'benih janin' hasil pencampuran pasangan sel-sel generatif induknya (sel putik dan sel tumpang sari pada tumbuhan, serta sel indung telur dan sel sperma pada hewan dan manusia) setelah ditiupkan-Nya dengan setiap ruhnya masing-masing (sesuai dengan jenis benih dasar tubuh wadahnya atau jenis 'benih janinnya').

Selain itu, dari sifat-sifat ruh pada uraian-uraian di atas, bahwa dalam keadaan normal, ruh-ruh pria juga lebih 'suka' bertemu dengan benih-benih tubuhnya, yang banyak mengandung sel berkromosom Y, sedang ruh-ruh wanita 'suka' dengan sel berkromosom X. Namun jika terjadi hal-hal yang sebaliknya (terjadi suatu 'kecelakaan'), maka bisa terlahir manusia-manusia yang cenderung berkelainan sex.

Urutan proses pertumbuhan dan pembentukan tubuh (terutama pada tubuh manusia ataupun hewan), menurut teori ilmu-pengetahuan modern, yaitu: atom; molekul atau zat-zat unorganik; zat-zat organik; benih; sel; jaringan; organ; dan tubuh lengkap. Sedangkan urutan itu menurut Al-Qur'an, yaitu: saripati yang berasal dari tanah (lumpur liat yang kering dan berwarna hitam); air mani; segumpal darah; segumpal daging; tulang belulang yang dibungkus dengan daging; dan akhirnya tubuh lengkap (pada QS.23:14).

Namun apabila dicermati lebih jauh, sebenarnya kedua urutan itu pada dasarnya 'serupa', yang berbeda hanya cara pengklasifikasian ataupun fokus pengungkapannya saja.

Proses kelahiran makhluk nyata "pertama"

Bahwa manusia ataupun hewan 'pertama' tidak lahir di dalam rahim induknya. Serupa seperti halnya proses kelahiran 'bayi tabung', dengan pencampuran sel indung telur dan sel sperma, di dalam suatu tabung yang telah terisi lengkap dengan zat-zat makanan. Namun pada kasus bayi tabung, setelah umur tertentu sel janin yang telah tumbuh itupun lalu dimasukkan ke dalam rahim induknya (ibu genetis ataupun ibu pinjaman).

Lebih tepatnya lagi, pembentukan setiap benih janin 'makhluk pertama', pembentukan sel janinnya, terlahir ke dunia ataupun tumbuh sampai menjadi anak-anak, justru terjadi pada tanah permukaan Bumi (daerah air rawa-rawa di tengah hutan lebat), yang pada jaman dahulu berbagai keadaannya, justru menyerupai keadaan dalam rahim induk normal, seperti: hangat karena Bumi masih relatif panas; penuh cairan yang amat kaya dengan zat-zat makanan dari hutan lebat; steril karena alam belum dirusak oleh zat-zat kimia berracun buatan manusia; amat segar udaranya karena dinaungi oleh pepohonan; amat terlindungi dari panas terik matahari karena dalam hutan lebat; dsb.

Tetapi keadaan yang sangat khusus itu hanya bisa terjadi pada masa awal perkembangan Bumi. Di mana hampir keseluruhan bagian tanah permukaannya sangat basah, berupa rawa-rawa yang berlumpur di tengah hutan lebat, karena tertimpa oleh air hujan yang berlangsung terus-menerus, selama ribuan ataupun jutaan tahun, dan lalu sangatlah berlimpah terbentuk berbagai jenis zat-zat organik (saripati makanan).

Maka dari sel janin, orok, bayi sampai usia anak-anak, Adam memperoleh makanannya dari cairan saripati makanan di permukaan Bumi, yang masuk melalui mulutnya (disengaja ataupun tidak). Cairan itupun berfungsi sebagai suatu sumber makanan, serupa seperti cairan infus (bagi orang sakit), ataupun air susu ibu (bagi bayi). Juga bahkan amat serupa dengan saripati makanan dari seorang ibu, yang teralirkan melalui tali pusarnya (bagi janin). Tetapi saripati makanan bagi Adam justru terbentuk alamiah di permukaan Bumi (di air rawa-rawa).

Akhirnya saat ini, pada lapisan Bumi yang dahulunya amatlah berlimpah dengan zat-zat organik itu juga telah dibor oleh manusia, untuk bisa mengambil bahan bakar fosil ('minyak bumi'). Dan dengan amat melimpahnya minyak bumi di tanah Arab, maka cukup masuk akal, jika manusia-manusia pertama (Adam dan Hawa), bisa terlahir di sana (atau "diturunkan-Nya di padang arafat").

Tetapi masih 'misterius', faktor alamiah semacam apakah yang telah membuat tanah Arab itu menjadi jauh lebih kaya dengan bahan bakar fosil 'minyak bumi', jika dibanding dengan bagian-bagian Bumi lainnya. Lebih khususnya lagi, kenapa Adam dan Hawa terlahir di sekitar tanah Arab, seperti yang telah disebut-sebut dalam kitab-kitab agama tauhid, dan justru bukan di tempat-tempat lainnya.

Walaupun secara sederhananya daerah tanah Arab itu memang berada pada bagian Bumi, yang memiliki sudut garis lintang sedang. Seperti halnya daerah-daerah di Cina utara, Amerika tengah, Australia tengah, Afrika utara dsb. Di mana daerah-daerah itu memang memiliki tingkat penguapan yang amat tinggi dan amat kering, sehingga banyak pula terdapat gurun-gurun pasir. Keadaan yang amat panas dan kering inilah yang membuat fosil-fosil makhluk hidup dalam tanah, menjadi jauh lebih mudah terurai menjadi minyak bumi.

Masih 'misterius' misalnya, apakah keadaan yang lebih panas dan kering, yang memungkinkan Adam dan Hawa terlahir di tanah Arab?. Serta apakah Adam dan Hawa hanyalah sebutan simbolik bagi sejumlah besar manusia pertama pada berbagai daerah di Bumi (bukan hanya di tanah Arab, tempat kelahiran sebagian besar para nabi-Nya)?

Tumbuhan sebagai makhluk yang 'tingkatannya' lebih rendah, prosesnya lebih sederhana, karena tumbuhan relatif tidak memerlukan rahim induknya. Sel-sel generatifnya (sel putik dan tumpang sari) bisa bertemu di tanah ataupun di udara, yang kemudian jatuh kembali ke tanah, serta langsung hidup atau mendapat makanannya dari tanah itu, untuk pertumbuhannya.

Hal ini justru yang telah membuat mudah terbentuknya hutan yang sangat lebat terlebih dahulu, jauh sebelum dimulai-Nya proses penciptaan Adam dan Hawa di atas.

Gambaran sederhana proses penciptaan makhluk nyata

Berdasar uraian-uraian di atas, maka bisa diberikan gambaran secara umum dan sederhana pada Gambar 11 di bawah, tentang proses penciptaan makhluk hidup nyata, dari atom dan ruh.

Gambar 11: Diagram umum penciptaan makhluk nyata

Urutan proses penciptaan manusia "pertama" pengembangan

Adapun urutan secara umum dan ringkas atas berbagai proses penciptaan manusia pertama (Adam dan Hawa), yang dikembangkan dari uraian-uraian di atas, serta dikaitkan dengan berbagai keterangan dari ayat-ayat Al-Qur'an, yaitu: 23)

Tabel 4: Urutan penciptaan Adam, dari pembahasan di sini

Urutan penciptaan Adam, dari pembahasan buku ini

Q 1.

Diciptakan-Nya alam semesta dan segala isinya ini, sampai saat awal perkembangan Bumi. Tepatnya lagi saat sebelum diciptakan-Nya manusia (Adam) di muka Bumi. Hal inipun dimulai dari penciptaan 'energi alam semesta', yang diikuti oleh tak-terhitung ledakan besar di seluruh alam semesta.

Q 2.

Bersamaan dengan penciptaan energi, diciptakan-Nya pula dari energi itu, segala jenis zat ruh makhluk (makhluk gaib, manusia, hewan, tumbuhan, sel, dsb). Seluruh ruh itu pada awalnya tinggal di surga (alam akhirat yang gaib).

(baca pula topik "Ruh-ruh")

Q 3.

Dikabarkan-Nya kepada para malaikat-Nya, tentang akan dipilih-Nya Adam sebagai khalifah-Nya di muka Bumi ini (atau akan diciptakan-Nya tubuh wadah bagi zat ruh Adam di Bumi).

X 4.

Diciptakan-Nya air di Bumi sebagai suatu unsur yang amat penting bagi kehidupan makhluk, melalui diturunkan-Nya air hujan selama ribuan ataupun jutaan tahun.

X 5.

Diciptakan-Nya berragam sel-sel 'pertama', termasuk pula sel-sel generatif (atau sel sperma dan sel indung telur bagi manusia dan hewan, beserta sel putik dan sel tumpang sari bagi tumbuhan), dari 'energi' panas sinar Matahari, 'tanah' (yang kaya dengan berbagai jenis unsur) dan 'air' di Bumi. Setelah ditiupkan-Nya zat ruh selnya masing-masing.

X 6.

Diciptakan-Nya berbagai macam jenis tumbuhan, sebagai makhluk tingkat rendah, dari benih-benihnya (sebagai hasil bercampurnya, sel putik dan sel tumpang sari), yang telah ditiupkan-Nya zat ruh-ruh tumbuhan.

Q 7.

Diciptakan-Nya manusia 'pertama' (Adam), dan berbagai jenis hewan 'pertama', sebagai makhluk tingkat tinggi, dari benih-benihnya (sebagai hasil bercampurnya, sel sperma dan sel indung telur), yang juga telah ditiupkan-Nya zat ruhnya masing-masing. Semuanya tumbuh dari berupa sel janin sampai bayi pada 'rahim induk', yang berupa tanah permukaan Bumi, yang pada jaman dahulu 'serupa' dengan keadaan rahim ibu sebenarnya.

Q 8.

Adam tumbuh dewasa (mulai berusia akil-baliq), dan telah mengenal nama-nama benda di Bumi (berpengetahuan).

X 9.

Diciptakan-Nya Hawa, dari sel-sel sperma pada air mani Adam (yang kebetulan terjatuh ke tanah), dan dari sel-sel indung telur yang telah terbentuk di atas tanah. Hawa juga tumbuh pada 'rahim', yang berupa tanah permukaan Bumi.

X 10.

Hawa tumbuh dewasa (mulai berusia akil-baliq), dan juga telah mengenal nama-nama benda (berpengetahuan).

X 11.

Adam bertemu dengan Hawa, setelah masing-masing pergi mengembara di muka Bumi.

Q 12.

Allah 'menguji' pengetahuan para malaikat, tentang nama-nama benda.

Q 13.

Para malaikat telah mengakui pengetahuannya, yang amat terbatas tentang berbagai 'rencana, ilmu dan rahasia-Nya'.

Q 14.

Allah memerintahkan kepada para malaikat-Nya, agar mau 'tunduk' (bersujud) kepada Adam, yang dimuliakan-Nya, dan telah dijadikan khalifah-Nya di Bumi.

Q 15.

Para malaikat bersedia 'bersujud' kepada Adam, kecuali iblis. Karena iblis yang terbuat dari 'api', menyombongkan dirinya yang lebih mulia daripada Adam, yang terbuat dari 'tanah' (atau memiliki tubuh wadah, yang berasal dari 'air yang hina' atau 'air mani').

Q 16.

Karena kesombongannya yang tidak mau bersujud kepada Adam, maka iblis diusir-Nya keluar dari Surga (pada alam akhirat yang gaib). Dan iblis juga dikutuk-Nya sampai Hari Kiamat.

Q 17.

Iblis meminta hukumannya bisa ditangguhkan-Nya sampai Hari Kiamat. Dan penangguhan hukumannya itupun telah dikabulkan-Nya.

Q 18.

Iblis berjanji akan menyesatkan tiap umat manusia, kecuali hamba-hamba-Nya yang Mukhlis (berlaku sangat ikhlas). Dan janji Iblis inipun mendapat ijin-Nya.

Q 19.

Adam dan Hawa yang masih hidup dan tinggal di Surga (pada alam akhirat yang gaib), telah dilarang-Nya untuk mendekati dan memakan buah pohon khuldi. Dan dimintai-Nya mereka untuk mewaspadai setiap godaan dari iblis.

Q 20.

Iblis memulai menggoda manusia (Adam dan Hawa), agar mau memakan buah pohon khuldi tersebut.

Q 21.

Adam dan Hawa telah berhasil terkena godaan untuk mau memakan buah pohon khuldi tersebut.

Q 22.

Adam dan Hawa telah mulai bisa merasakan, memahami ataupun menutupi auratnya (atau telah berusia akil-baliq).

Q 23.

Adam dan Hawa mendapat teguran-Nya, karena mereka telah melanggar perintah-Nya untuk tidak mendekati atau tidak memakan buah pohon khuldi tersebut.

Q 24.

Adam dan Hawa diusir-Nya keluar dari surga (pada alam akhirat yang gaib). Tetapi Allah telah bisa memaafkan pula dosa mereka, setelah bisa menerima taubat mereka. Allah juga memberi mereka petunjuk.

X 25.

Hawa melahirkan anak-anak Adam.

Q 26.

Adam, Hawa, dan seluruh anak keturunannya (atau seluruh umat manusia sampai saat ini), lalu disuruh-Nya hidup dan tinggal di muka Bumi sampai Hari Kiamat.

Sebagai perbandingannya, baca pula ringkasan ayat-ayat Al-Qur'an pada "Tabel 5: Urutan penciptaan Adam, dari Al-Qur'an" di bawah. Kolom di samping kiri dengan huruf "Q", berarti urutan barisnya sesuai dengan urutan di dalam Tabel 5 itu. Namun sebagian uraiannya telah disesuaikan. Sedangkan baris berhuruf "X", berarti tidak disebut di dalam Tabel 5 itu (ataupun disebut secara terpisah di dalam Al-Qur'an).

Urutan proses penciptaan manusia "pertama" dalam Al-Qur'an

Sebagai bahan perbandingan urutan proses penciptaan manusia pertama, maka pada Tabel 5 di bawah inipun disertakan pula sejumlah surat-surat Al-Qur'an dan ayat-ayatnya, yang diketahui paling lengkap menyebut urutan seperti di atas, yaitu surat-surat: Al Baqarah (ayat 29 s/d 38), Al Hijr (ayat 26 s/d 43), Al A'raaf (ayat 10 s/d 25), Thaha (ayat 116 s/d 123) dan Shaad (ayat 71 s/d 83). Teks terjemahan ayat pada Tabel 5 sengaja diringkas untuk bisa mendapat gambaran umum isi ayatnya, namun teks ayat-ayat selengkapnya telah disertakan pula di Lampiran E. 23)

Walau kelengkapan masing-masing kandungan isi setiap surat pada Tabel 5, berbeda-beda. Namun secara "luar biasa", urutan semua kandungan isi surat-surat itu tetap persis sama, kecuali hanyalah pada surat Al-Hijr ayat 27 (QS.15:27), yaitu "Dan Kami telah menciptakan jin, sebelum (Kami menciptakan Adam). ….". Dengan adanya kata 'sebelum', maka urutannya perlu disesuaikan pula menjadi: QS.15:27, QS.15:28 dan QS.15:26. Juga ayat QS.7:11 perlu dibagi dua (dipisah).

Tabel 5: Urutan penciptaan Adam, dari Al-Qur'an
(ayat-ayat Al-Qur'an-nya diringkas)

Urutan penciptaan Adam, dari Al-Qur'an

Surat Al-Baqarah
(QS.2)
Ayat 29 – 38

Surat Al-Hijr
(QS.15)
Ayat 26 – 43

Surat Al-A'raaf
(QS.7)
Ayat 10 – 25

Surat Thaha
(QS.20)
Ayat 116 -123

Surat Shaad
(QS.38)
Ayat 71 – 83

Diciptakan-Nya langit dan bumi dan seisinya. (QS.2:29).

       
 

Diciptakan-Nya jin, sebelum Adam, dari api yang sangat panas. (QS.15:27).

     

Dikabarkan-Nya kepada para malaikat, tentang akan diciptakan-Nya Adam. (QS.2:30).

Dikabarkan-Nya kepada para malaikat, tentang akan diciptakan-Nya Adam. (QS.15:28).

   

Dikabarkan-Nya kepada para malaikat, tentang akan diciptakan-Nya Adam dari tanah. (QS.38:71).

 

Diciptakan-Nya Adam dari tanah liat kering (dari lumpur hitam) yang diberi-Nya bentuk. (QS.15:26).

Adam telah ditempatkan-Nya hidup di muka bumi. (QS.7:10).

   

Adam diajarkan-Nya nama-nama benda. Kemudian para Malaikat diuji-Nya pengetahuannya tentang nama-nama benda. (QS.2:31).

       

Para Malaikat mengaku tidak mengetahui semua rahasia dan rencana-Nya, kecuali hanya hal-hal yang telah diberitahukan-Nya. (QS.2:32).

       

Adam disuruh-Nya menyebutkan nama-nama benda, di hadapan para Malaikat. (QS.2:33).

       

Para Malaikat disuruh-Nya bersujud kepada Adam. Maka sujudlah mereka, kecuali iblis, akibat kesombongannya. (QS.2:34).

Setelah Adam sempurna kejadiannya, dan ditiupkan-Nya ruhnya, para malaikat disuruh-Nya bersujud kepada Adam. (QS.15:29).

Diciptakan-Nya Adam, dibentuk-Nya tubuhnya. Para malaikat disuruh-Nya bersujud kepada Adam. Maka sujudlah mereka, kecuali iblis. (QS.7:11).

Para Malaikat disuruh-Nya bersujud kepada Adam. Maka sujudlah mereka, kecuali iblis, akibat kesombongannya. (QS.20:116).

Setelah Adam sempurna kejadiannya, dan ditiupkan-Nya ruhnya, para malaikat diminta-Nya bersujud kepada Adam. (QS.38:72).

 

Bersujudlah para malaikat, kecuali iblis. (QS.15:30,31).

   

Seluruh malaikat bersujud, kecuali iblis, akibat kesombongannya. (QS.38:73,74).

 

Iblis ditanya alasan pembangkangan ataupun kesombongannya. (QS.15:32,33).

Iblis ditanya alasan pembangkangan ataupun kesombongannya. (QS.7:12).

 

Iblis ditanya alasan pembangkangan ataupun kesombongannya. (QS.38:75,76).

 

Iblis diusir-Nya keluar dari surga, dan dikutuk-Nya sampai Hari Kiamat. (QS.15:34,35).

Iblis diusir-Nya keluar dari surga, dan dikutuk-Nya akibat kesombongannya. (QS.7:13).

 

Iblis diusir-Nya dari surga, dan dikutuk-Nya

akibat kesombongannya sampai Hari Kiamat. (QS.38:77,78).

 

Iblis minta hukumannya ditangguhkan-Nya sampai Hari Kiamat. (QS.15:36).

Iblis minta hukumannya ditangguhkan-Nya sampai Hari Kiamat. (QS.7:14).

 

Iblis minta hukumannya ditangguhkan-Nya sampai Hari Kiamat. (QS.38:79).

 

Penangguhan hukuman iblis diijinkan-Nya, sampai Hari Kiamat. (QS.15:37,38).

Penangguhan hukuman iblis diijinkan-Nya. (QS.7:15).

 

Penangguhan hukuman iblis diijinkan-Nya, sampai Hari Kiamat. (QS.38:80,81).

 

Iblis berjanji akan menyesatkan semua manusia, kecuali hamba-Nya yang mukhlis. (QS.15:39,40).

Iblis berjanji akan menyesatkan semua manusia. (QS.7:16,17).

 

Iblis berjanji akan menyesatkan semua manusia, kecuali hamba-Nya yang mukhlis. (QS.38:82,83).

 

Allah berjanji menjaga orang yang mukhlis, dari godaan iblis, kecuali orang yang sesat. (QS.15:41,42).

     
 

Orang yang sesat (pengikut iblis) diancam-Nya dengan Jahanam. (QS.15:43).

Iblis diusir-Nya keluar dari surga, dan dikutuk-Nya terhina. Dan iblis dan pengikutnya diancam-Nya dengan Jahanam. (QS.7:18).

   

Adam dan Hawa disuruh-Nya tinggal di surga, dan dilarang-Nya memakan buah pohon khuldi. (QS.2:35).

 

Adam dan Hawa disuruh-Nya tinggal di surga, dan dilarang-Nya memakan buah pohon khuldi. (QS.7:19).

Adam dan Hawa yang sedang tinggal di surga, diminta-Nya untuk mewaspadai iblis. (QS.20:117-119).

 
   

Adam dan Hawa digoda iblis untuk memakan buah pohon khuldi. (QS.7:20,21).

Adam dan Hawa digoda iblis untuk memakan buah pohon khuldi. (QS.20:120).

 

Adam dan Hawa tergoda iblis, untuk memakan buah pohon khuldi. Adam dan Hawa diturunkan-Nya dari surga dan hidup di bumi, sampai Hari Kiamat. (QS.2:36).

 

Adam dan Hawa tergoda iblis untuk memakan buah pohon khuldi, tampaklah auratnya, dan ditutupi dengan daun-daun surga. Adam dan Hawa ditegur oleh Allah. (QS.7:22).

Adam dan Hawa tergoda iblis untuk memakan buah pohon khuldi, tampaklah auratnya, dan ditutupi dengan daun-daun surga. Adam dan Hawa ditegur oleh Allah atas kedurhakaannya. (QS.20:121).

 

Allah memberi Adam petunjuk, dan menerima taubatnya Adam. (QS.2:37).

 

Adam dan Hawa meminta ampun kepada Allah. (QS.7:23).

Adam dipilih-Nya menjadi khalifah-Nya dan manusia pertama. Adam diterima-Nya taubatnya, dan diberi-Nya petunjuk. (QS.20:122).

 

Adam dan Hawa diturunkan-Nya dari surga. (QS.2:38).

 

Adam dan Hawa diturunkan-Nya hidup di muka bumi, sampai Hari Kiamat. (QS.7:24,25).

Adam dan Hawa diturunkan-Nya dari surga. (QS.20:123).

 

Siklus kejadian manusia "pertama" dan keturunannya

Untuk mendapatkan suatu gambaran umum berlakunya aturan-Nya (sunatullah) dalam penciptaan setiap manusia, maka pada Tabel 6 di bawah ini disertakan perbandingan, antara siklus kejadian manusia pertama dan anak keturunannya (umat manusia keseluruhannya), "dari tanah sampai akhirnya kembali lagi ke tanah". Di mana siklus inipun berlangsung terus-menerus dan berulang-ulang sampai akhir jaman. 24)

"Dan apakah mereka (manusia) tidak memperhatikan, bagaimana Allah menciptakan(nya) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah." – (QS.29:19).

"Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati (ditiupkan-Nya ruh untuk menciptakan makhluk hidup nyata), dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (diangkat-Nya ruh dari jasad tubuh makhluk hidup nyata), …." – (QS.30:19).

 

Tabel 6: Rangkuman urutan siklus proses kejadian manusia

Urutan siklus proses kejadian manusia

Manusia pertama (Adam)

 

Manusia sekarang

A1

Tanah I (+ zat-zat organik)

<<

   

A2

Tanah II + zat-zat organik

     

A3

Zat-zat organik + ruh sel (sperma & telur)

     

A4

Sel generatif (sel sperma & sel telur)

     

A5

Sel sperma + sel telur

     

A6

Benih janin

     

A7

Benih janin + ruh manusia

 

B1

Tanah I (+ zat-zat organik)

A8

Sel janin

 

B2

Tanah II + zat-zat organik

A9

Bayi dan anak manusia

 

B3

Zat-zat organik + ruh sel (sperma & telur)

A10

Manusia dewasa

>>

B4

Sel generatif (sel sperma & sel telur)

A11

Manusia tua

 

B5

Sel sperma + sel telur

A12

Manusia mati

 

B6

Benih janin

A13

Tanah II + jasad tubuh mati

 

B7

Benih janin + ruh manusia

A14

Tanah II + zat-zat organik (- ruh manusia)

 

B8

Sel janin

A15

Tanah I (+zat-zat organik)

 

B9

Bayi dan anak manusia

     

B10

Manusia dewasa

     

B11

Manusia tua

     

B12

Manusia mati

     

B13

Tanah II + jasad tubuh mati

     

B14

Tanah II + zat-zat organik (- ruh manusia)

     

B15

Tanah I (+zat-zat organik)

 

Keterangan tabel

Urutan seluruh siklus proses kejadian manusia pertama (Adam) dan manusia sekarang adalah persis sama (A1−A15=B1−B15). Namun perbedaan utamanya hanya berupa keadaan-keadaan pada proses A3-A8 (atau B3-B8), yaitu tempat terjadinya sel-sel generatif pada A3-A4 (atau B3-B4), dan tempat percampuran sel-sel generatif pada A5-A8 (atau B5-B8).

Tanda awal siklus proses kejadian manusia ('>>') pada A1 (manusia pertama dari tanah) dan pada B4 (manusia sekarang dari benih induknya). Namun tanda ini kuranglah berarti, karena keduanya berupa siklus yang sama dan berulang.

Kedua siklus itu juga berawal dari tanah, dan kemudian kembali ke lagi tanah (A1/B1 sama dengan A15/B15). Dan hampir ke semua proses itu juga selalu memerlukan air dan energi. Siklus kejadian hewan pertama dan sekarang, juga serupa dengan siklus kejadian manusia.

Proses kejadian Hawa adalah kombinasi ataupun transisi antara proses kejadian manusia pertama (Adam) dan manusia sekarang, yaitu dari sel sperma Adam dan sel indung telur di Bumi.

Keadaan khusus: tempat proses terjadinya sel-sel generatif.

~

Pada manusia pertama (A3 − A4):

Terjadi pada tanah permukaan Bumi. Melalui berbagai reaksi sintesa yang berlangsung ratusan ataupun ribuan tahun, khususnya setelah terciptanya air di Bumi, yaitu dari atom-atom, lalu menjadi zat-zat anorganik, lalu akhirnya menjadi berbagai macam zat-zat organik, yang sangatlah kaya pada jaman dahulu.

Selanjutnya pada komposisi gabungan dari zat-zat organik "tertentu" membentuk benih "tertentu" pula. Lalu pada benih dan keadaan yang sesuai, ditiupkan-Nya ruh-ruh sel (ruh sel sperma dan ruh sel indung telur), sehingga menjadi sel-sel generatifnya.

~

Pada manusia sekarang (B3 − B4):

Terjadi pada alat reproduksi pria dan wanita dewasa. Berbagai zat-zat organik yang diperoleh dari bermacam makanannya, setelah dicerna oleh berbagai alat-alat pencernaan. Makanan itu juga pada puncaknya berasal dari tanah, tempat tumbuh-tumbuhan hidup dan mendapat makanannya. Kemudian tumbuhan itu dimakan oleh hewan dan manusia.

Selanjutnya pada komposisi gabungan dari zat-zat organik "tertentu" membentuk benih "tertentu" pula. Lalu pada benih dan keadaan yang sesuai, ditiupkan-Nya ruh-ruh sel sperma dan sel indung telur (dari pria & wanita), sehingga menjadi sel-sel generatifnya.

Keadaan khusus: tempat proses percampuran sel-sel generatif.

~

Pada manusia pertama (A5 − A8):

Terjadi di tanah permukaan Bumi. Dan pada benih tubuh janin hasil percampuran sel sperma dan sel indung telur itu ditiupkan-Nya dengan ruh manusia. Sehingga terbentuk sel janin pada air rawa-rawa di permukaan Bumi, yang jaman dulu serupa dengan keadaan rahim ibu.

Kemudian sel janin itupun tumbuh menjadi bayi dan anak manusia, dengan mendapat makanan dari saripati makanan (zat-zat organik) yang sangatlah kaya pada air rawa-rawa itu.

~

Pada manusia sekarang (B5 − B8):

Terjadi pada tubuh wanita dewasa (ibu). Dan pada benih tubuh janin hasil percampuran sel sperma (dari bapak) dan sel indung telur (dari ibu) itu ditiupkan-Nya dengan ruh manusia. Sehingga terbentuk sel janin pada rahim ibu.

Kemudian sel janin itu tumbuh menjadi bayi, dengan mendapat zat-zat makanan dari ibunya, yang tersalurkan melalui plasenta (tali pusar) di perut janin bayi.

Berbagai urutan proses siklus kejadian manusia, selengkapnya:

~

A1 atau B1, Tanah I (+ zat-zat organik):

Tanah masih bercampur-aduk segala unsur-unsurnya.

~

A2 atau B2, Tanah II + zat-zat organik:

Telah terbentuk zat-zat organik dalam tanahnya, dari hasil berbagai reaksi sintesa antar unsur-unsur di dalam tanah, dengan adanya dukungan air di Bumi dan energi panas sinar Matahari.

~

A3 atau B3, Zat-zat organik + ruh sel (sperma & telur):

Komposisi gabungan dari zat-zat organik "tertentu" dalam tanah itu berreaksi lagi membentuk benih "tertentu" pula. Lalu pada benih dan keadaan yang sesuai, ditiupkan-Nya dengan ruh-ruh sel (sperma dan indung telur).

(baca pula uraian keadaan khusus di atas).

~

A4 atau B4, Sel generatif (sel sperma & sel telur):

Terbentuk sel-sel generatif (sel sperma dan sel indung telur) dari benih-benih dan ruh-ruh selnya masing-masing.

(baca pula uraian keadaan khusus di atas).

~

A5 atau B5, Sel sperma + sel telur:

Pasangan sel-sel generatif itu (sel sperma dan sel indung telur) bercampur.

(baca pula uraian keadaan khusus di atas).

~

A6 atau B6, Benih janin:

Terbentuk benih tubuh janin dari hasil percampuran pasangan sel-sel generatif itu (sel sperma dan sel indung telur).

(baca pula uraian keadaan khusus di atas).

~

A7 atau B7, Benih janin + ruh manusia:

Benih tubuh janin itu ditiupkan-Nya dengan ruh manusia.

(baca pula uraian keadaan khusus di atas).

~

A8 atau B8, Sel janin:

Terbentuk sel janin dari benih tubuh janin dan ruh manusia itu.

(baca pula uraian keadaan khusus di atas).

~

A9 atau B9, Bayi dan anak manusia:

Sel janin itupun tumbuh dan berkembang menjadi bayi dan anak manusia.

Manusia pertama : mendapat makanan dari berbagai zat-zat organik, yang amat kaya pada air rawa-rawa di permukaan Bumi pada jaman dahulu, yang masuk ke mulutnya secara sengaja ataupun tidak.
Manusia sekarang : mendapat makanan dari induk atau ibunya.
~

A10 atau B10, Manusia dewasa:

Manusia tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, dengan usaha mencari makanannya sendiri, untuk hidup dan beraktifitas.

~

A11 atau B11, Manusia tua:

Manusia mulai mengalami penurunan kemampuan lahiriah ataupun batiniahnya (sakit-sakitan, pikun atau pelupa, pekak, dsb).

~

A12 atau B12, Manusia mati:

Manusia telah mengalami kematian teknis menurut teori ilmu-kedokteran, karena organ-organ penting pada tubuhnya, tidak lagi berfungsi (seperti: jantung, paru-paru, otak, hati, dsb).

~

A13 atau B13, Tanah II + jasad tubuh mati:

Jasad tubuh manusia dikuburkan di dalam tanah.

~

A14 atau B14, Tanah II + zat-zat organik (- ruh manusia):

Jasad tubuhnya telah mulai membusuk dan terurai menjadi zat-zat organik di dalam tanah. Ruhnya dikeluarkan-Nya (dibangkitkan atau diangkat-Nya) dari tubuh wadahnya, setelah "sel benih dasarnya" juga membusuk atau kehilangan energinya.

~

A15 atau B15, Tanah I (+zat-zat organik):

Zat-zat organik itu semakin terurai lagi, lalu bercampur-aduk dan menyatu dengan tanahnya.

Proses bersatunya jenis benih tertentu dengan ruh sel yang terkait, untuk bisa menjadi suatu sel.

Proses ini mudah dibuktikan oleh umat, dengan melihat proses pada berbagai macam sisa-sisa makanan (berbagai jenis benih atau zat-zat organik), yang disimpan lama atau mulai membusuk.

Pada berbagai sisa makanan itu akan muncul sendiri berbagai jenis bakteri tertentu (makhluk hidup kecil berupa sel), setelah ditiupkan-Nya dengan berbagai jenis ruh selnya masing-masing.

Setiap jenis sel bakteri itu memiliki bentuk, sifat ataupun warna, yang berbeda-beda, yang terkumpul dalam jumlah amat sangat besar, pada masing-masing sisa-sisa makanannya.

Beberapa keadaan khusus proses kejadian manusia

Dari kitab suci Al-Qur'an, akhirnya bisa disimpulkan beberapa proses kejadian penciptaan manusia, yang siklus kejadiannya secara mendasar persis sama, seperti pada uraian-uraian ataupun pada Tabel 6 di atas. Namun ada sebagian dari sekumpulan proses itu, yang agak berbeda pada 'keadaan-keadaan' tertentu dalam prosesnya.

Sehingga adanya "keadaan khusus" yang berbeda dari proses penciptaan manusia biasa umumnya sampai sekarang ini, di dalam Al-Qur'an disebut sebagai "suatu tanda yang besar bagi semesta alam" – (QS.21:91 dan QS.3:59), terutama tentang diciptakan-Nya nabi Adam as dan nabi Isa as. Serta bagi proses-proses penciptaan yang cukup rumit untuk diungkapkan seperti ini, dalam Al-Qur'an disebut dengan istilah yang sangat ringkas, "jadilah". Maka sejumlah keadaan tersebut dicoba diungkapkan secara ringkas pada Tabel 7 di bawah ini, selain melalui berbagai pembahasan lainnya pada buku ini.

Sedang berbagai keadaan yang lainnya di sekitar siklus proses kejadian keseluruhan manusia, sejak dari tanah sampai kembali lagi ke tanah, tidak ada perbedaan yang cukup mendasar.

"Sesungguhnya, misal (kejadian) 'Isa di sisi Allah, adalah seperti (kejadian) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: 'Jadilah', maka jadilah dia (melalui segala aturan-Nya)." – (QS.3:59).

"Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: 'Jadilah', lalu jadilah ia (melalui segala aturan-Nya)." – (QS.2:117).

"Dan pada penciptaan kamu (manusia) dan pada binatang-binatang yang melata, yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya), untuk kaum yang menyakini," – (QS.45:4).

 

Tabel 7: Beberapa keadaan khusus proses kejadian manusia

Beberapa keadaan khusus pada proses kejadian manusia

Nabi Adam as

»

Keterangan keadaan khusus kejadiannya:

Sel-sel generatifnya (sel sperma dan sel indung telur) terbentuk secara alamiah pada tanah permukaan Bumi ini, dari unsur-unsur yang terutama terdapat di tanah, dan sebagian kecilnya lagi di udara dan di air. Proses pembentukan inipun terjadi selama ribuan ataupun jutaan tahun, setelah diciptakan-Nya air di Bumi, didukung pula oleh energi panas sinar Matahari, serta unsur-unsur di tanah dan di udara.

Ibu genetisnya tidak ada (atau Bumi) dan juga bapak genetisnya tidak ada (atau Bumi).

Proses pencampuran sel-sel generatif terjadi tanpa sengaja atau secara kebetulan, dan tanpa melalui hubungan kelamin.

Proses pencampuran itu, sekaligus proses pembentukan sel janin, terjadi secara alamiah pada air rawa-rawa dalam hutan lebat di permukaan Bumi

Sel janin tumbuh sampai bayi, pada "rahim" yang berupa air rawa-rawa di permukaan Bumi, yang pada jaman dahulu keadaannya serupa dengan rahim ibu yang sebenarnya.

Janin mendapatkan makanannya dari berbagai saripati makanan (zat-zat organik) yang sangat kaya pada air rawa-rawa di permukaan Bumi pada jaman dahulu, yang masuk ke mulutnya secara sengaja ataupun tidak.

Ayat-ayat terkait dalam Al-Qur'an:

"Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk (tubuh sel janin selengkapnya)." – (QS.15:26).

"Dan kepada (kaum) Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari Bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya. Karena …'." – (QS.11:61).

"Maha Suci Rabb, Yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh Bumi, dan dari diri mereka (mani), maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." – (QS.36:36).

Hawa

»

Keterangan keadaan khusus kejadiannya:

Sel indung telurnya terbentuk secara alamiah di tanah permukaan Bumi, persis seperti halnya pada Adam.

Sedangkan sel spermanya berasal dari Adam, yang kebetulan terjatuh ke permukaan Bumi, tempat dimana sel-sel indung telur itu berada.

Ibu genetisnya tidak ada (atau Bumi), seperti Adam, dan bapak genetisnya adalah 'Adam' (salah-satu dari banyak pria 'pertama', namun belum tentu calon suaminya).

Proses pencampuran sel-sel generatif terjadi tanpa sengaja atau secara kebetulan, dan tanpa melalui hubungan kelamin.

Proses pencampuran itu, sekaligus proses pembentukan sel janin, terjadi secara alamiah pada air rawa-rawa dalam hutan lebat di permukaan Bumi ini. Juga persis seperti halnya pada Adam.

Sel janin tumbuh sampai bayi, pada "rahim" yang berupa air rawa-rawa di permukaan Bumi, yang pada jaman dahulu keadaannya serupa dengan rahim ibu yang sebenarnya.

Janin mendapatkan makanannya dari berbagai saripati makanan (zat-zat organik) yang amat kaya pada air rawa-rawa di permukaan Bumi pada jaman dahulu, yang masuk ke mulutnya secara sengaja ataupun tidak. Juga persis seperti halnya pada Adam.

Ayat-ayat terkait dalam Al-Qur'an:

"Dia-lah Yang menciptakan kamu (manusia) dari diri yang satu (Adam), dan darinya (air maninya) Dia menciptakan istrinya (Hawa), agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya mengandung kandungan yang ringan, dan …." – (QS.7:189).

"Dia menciptakan kamu (manusia) dari seorang diri (Adam), kemudian Dia jadikan darinya (air maninya), istrinya (Hawa), dan Dia menurunkan untuk kamu, delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu, kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. …." – (QS.39:6).

"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu, Yang telah menciptakan kamu (manusia) dari yang satu (Adam), dan darinya (air maninya) Allah menciptakan istrinya (Hawa). Dan dari keduanya (Adam dan Hawa) Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak (seluruh umat manusia). Dan …." – (QS.4:1).

Nabi Isa as

»

Keterangan keadaan khusus kejadiannya:

Sel indung telurnya terbentuk secara alamiah pada alat reproduksi ibunya (Siti Maryam), persis seperti halnya pada manusia biasa pada umumnya. Sedang sel spermanya 'tidak diketahui' asalnya.

Kuat dugaan bahwa sel spermanya "tidak" berasal dari permukaan tanah, seperti halnya pada Adam. Karena keadaan permukaan Bumi telah jauh berbeda, dan keadaan seperti kejadian pada nabi Isa as ini justru tidak dialami pula oleh manusia-manusia lainnya pada saat itu ataupun sampai saat ini.

Hal yang paling logis, sel spermanya pasti tetap berasal dari seorang pria dewasa. Namun siapa pria ini?, ataupun bagaimana sel spermanya bisa bertemu dengan sel indung telur dari Siti Maryam, pada rahimnya?. Masih tetap menjadi rahasia-Nya. Wallahu a'lam bishawwab.

Tentunya, jika ada penelitian ilmiah untuk bisa menjawab misalnya: berapa lama umur sel-sel sperma, yang telah terpancar keluar dari alat reproduksi pria dewasa?; apakah sel-sel sperma itu juga bisa tetap hidup sementara waktu di dalam air?; apakah pada jaman dahulu ada tempat-tempat pemandian umum?; dsb. Tentunya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti ini, ataupun setiap pertanyaan serupa lainnya, akan bisa terungkap lebih jelas lagi atas sebagian dari rahasia-Nya itu.

Ibu genetisnya adalah Siti Maryam, dan bapak genetisnya tidak diketahui. Dan ibunya Siti Maryam masih dianggap perawan pada saat melahirkan bayi nabi Isa as.

Proses pencampuran sel-sel generatif terjadi tanpa sengaja atau secara kebetulan, dan tanpa melalui hubungan kelamin.

Proses pencampuran itu, sekaligus proses pembentukan sel janin, terjadi pada tubuh Siti Maryam

Sel janin tumbuh sampai bayi, pada rahimnya Siti Maryam.

Janin mendapatkan makanannya dari induk atau ibunya, yang tersalurkan melalui plasenta (tali pusar) di perut janin bayi, seperti manusia umumnya.

Ayat-ayat terkait dalam Al-Qur'an:

"Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami, dan Kami jadikan dia dan anaknya (sebagai) tanda (kekuasaan Kami) yang besar bagi semesta alam." – (QS.21:91).

"Dan telah Kami jadikan (Isa) putera Maryam, beserta ibunya (sebagai) suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan …." – (QS.23:50).

"Maryam berkata: 'Ya Rabb-ku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun'. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): 'Demikianlah Allah menciptakan, apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: 'Jadilah', lalu jadilah dia (melalui aturan-Nya)." – (QS.3:47).

"Maryam berkata: 'Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku, dan aku bukan (pula) seorang penzina!'.", "Jibril berkata: 'Demikianlah. Rabb-mu berfirman: Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda (kekuasaan Kami) bagi manusia, dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah sesuatu perkara yang telah diputuskan'.", dan "Maka Maryam mengandungnya, lalu …." – (QS.19:20-22).

"…. Sesungguhnya, Al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (diciptakan dengan) kalimat-Nya, yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka …." – (QS.4:171).

"Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul, yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul (Isa seperti rasul-rasul lainnya), dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan (juga manusia biasa). Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian …." – (QS.5:75).

Manusia pada umumnya

»

Keterangan keadaan khusus kejadiannya:

Sel-sel generatifnya (sel sperma dan sel indung telur) terbentuk secara alamiah pada alat-alat reproduksi pada pria dan wanita dewasa.

Ibu genetisnya adalah ibu pada umumnya, dan bapak genetisnya adalah bapak pada umumnya.

Proses pencampuran sel-sel generatif terjadi secara sengaja, dan dengan ataupun tanpa melalui hubungan kelamin. Proses tanpa melalui hubungan kelamin, terjadi seperti misalnya pada proses bayi tabung.

Proses pencampuran itu, sekaligus proses pembentukan sel janin, terjadi pada tubuh ibu genetis ataupun pada tabung

Sel janinnya tumbuh sampai bayi, pada rahim ibu genetisnya ataupun ibu pinjaman.

Janin mendapatkan makanannya dari induk atau ibunya, yang tersalurkan melalui plasenta (tali pusar) di perut janin bayi.

Ayat-ayat terkait dalam Al-Qur'an:

"Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak dari Adam dari sulbi (alat kelamin) mereka. Dan …." – (QS.7:172).

"Maka hendaklah manusia memperhatikan, dari apakah dia diciptakan.", "Dia diciptakan dari air yang terpancar (air mani)," dan "yang keluar dari antara tulang sulbi (alat kelamin) laki-laki, dan tulang dada perempuan." – (QS.86:5-7).

"dan bahwasanya Dia-lah Yang menciptakan berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan." dan "dari air mani, apabila dipancarkan." – (QS.53:45-46).

"Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),", "kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,", dan "lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki-laki dan perempuan." – (QS.75:37-39).

"Bukankah Kami menciptakan kamu (hai manusia) dari air yang hina (air mani), ", dan "kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim)," – (QS.77:20-21).

"Dia-lah Yang membentuk kamu (hai manusia) dalam rahim, sebagaimana kehendak-Nya. Tak …." – (QS.3:6).

"Hai manusia, kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur). Maka (ketahuilah) sesungguhnya, Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya, dan yang tidak sempurna (cacat), agar Kami jelaskan kepadamu, dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan (sekitar 9 bulan), kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian …." – (QS.22:5).

"Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (yang berasal) dari tanah.", "Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani, (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)." dan "Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain (laki-laki atau perempuan). Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." – (QS.23:12-14).

Kesimpulan sekitar penciptaan manusia "pertama"

Dari uraian-uraian tentang proses kejadian penciptaan manusia "pertama" di atas, bisa diambil beberapa kesimpulan, antara-lain:

Berbagai kesimpulan terkait tentang penciptaan manusia "pertama"

a.

Bahwa 'Adam' dan 'Hawa' adalah sesuatu sebutan simbolik bagi sepasang ataupun lebih para manusia pertama (pria dan wanita). Bahwa Hawa justru diciptakan-Nya dari air maninya Adam, dan bukan dari tulang rusuk Adam, ataupun bagian-bagian lainnya.

Hal ini berdasarkan dugaan kuat, bahwa sel-sel generatif manusia (sel sperma dan sel indung telur), yang terbentuk dan bertemu di permukaan Bumi pada jaman Adam, bukanlah hanya sepasang saja (dua buah sel). Namun ada banyak pasangan sel-sel yang bertemu pada berbagai tempat di Bumi, khususnya di jazirah Arab yang amat banyak mengandung minyak bumi.

Sehingga diduga ada banyak jumlah Adam-Adam dan Hawa-Hawa, yang terlahir di Bumi pada jaman dahulu.

Namun faktanya pula, bahwa perlu amat banyak jumlah sel-sel sperma dari pria (sekitar jutaan buah), untuk bisa berhasil membuahi hanya sebuah sel indung telur wanita. Sehingga amat kecil kemungkinannya, untuk mudah terbentuknya sel-sel sperma sebanyak itu di permukaan Bumi, pada suatu lokasi tertentu saja.

Sehingga jauh lebih mungkin, jika Hawa diciptakan-Nya dari benih hasil pencampuran sel-sel sperma (jutaan jumlahnya), pada air mani Adam (yang mungkin kebetulan terjatuh ke Bumi), dengan sel indung telur yang telah ada di Bumi. Hal ini sesuai dengan yang disebut dalam Al-Qur'an, seperti "darinya (Adam), Allah menciptakan istrinya (Hawa)" (seperti: QS.7:189, QS.39:6 dan QS.4:1).

Namun jika Hawa berasal dari bagian-bagian lain pada Adam (bukanlah air maninya, tetapi misalnya tulang rusuknya), maka hal ini justru pasti bertentangan, dengan segala aturan-Nya bagi penciptaan makhluk-Nya di alam semesta (sunatullah), atau mustahil bisa terjadi.

Baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)".

b.

Bahwa perbuatan memakan buah pohon khuldi oleh Adam dan Hawa, adalah 'simbol' dari perbuatan hubungan kelamin pertama oleh umat manusia.

Hal inipun terkait jelas, seperti: dilakukan oleh sepasang manusia yang berlainan jenis (pria dan wanita), setelah keduanya bertemu; setelah keduanya dewasa (atau telah mengenal nama-nama benda, serta telah berusia akil-baliq); terkait dengan aurat; terkait dengan godaan iblis dan dosanya (termasuk godaan nafsu birahi yang mudah menyesatkan); kurang ada penjelasan tentang proses kelahiran anak-anak Adam dan Hawa; dsb.

Selain itu, adanya bentuk dari pemakaian simbol 'pohon khuldi', juga merupakan suatu solusi simbolik yang amat cerdas, untuk menghindari berbagai kontroversi dan masalah yang bisa terjadi kemudian, misalnya:

Jika jelas-jelas disebutkan sebagai 'hubungan kelamin', maka ayat tentang pelarangan memakan buah 'pohon khuldi', bisa mudah disalah-artikan sebagai pelarangan terhadap perbuatan berhubungan kelamin itu sendiri. Sedang hal ini adalah salah-satu cara utama bagi manusia, untuk bisa berkembang-biak.

Bisa mudah disalah-artikan sebagai anjuran ataupun ijin-Nya, atas berhubungan kelamin dengan anak kandung sendiri (atau incest). Karena amatlah sulit untuk bisa dijelaskan perbedaan antara, Adam yang ini 'bapaknya' Hawa, sedang Adam yang itu 'suaminya' Hawa.

Perlu diketahui pula, bahwa saat itu belum ada aturan syariat tentang berhubungan kelamin. Maka cukup mudah dipahami, jika Allah-pun memaafkan dosa Adam dan Hawa itu, setelah Allah bisa menerima taubat mereka.

Begitu pula halnya dengan kasus Habil dan Qabil, yang mau menikahi adik perempuan sekandungannya, yang juga tidak ada keterangan tentang syariatnya.

Padahal amatlah sulit untuk mengambil contoh lainnya untuk bisa menunjukkan cara pertama dari iblis, dalam menggoda manusia. Sekaligus untuk menunjukkan bahwa amatlah perlu bagi tiap manusia untuk mewaspadai tiap godaan iblis, yang justru sangat mudah menjerumuskan manusia itu sendiri.

Padahal dari 3 macam bentuk utama godaan Iblis kepada tiap manusia, yaitu: harta, tahta dan wanita. Sedang godaan iblis yang telah tersedia bagi Adam, hanyalah 'wanita' (Hawa).

c.

Bahwa hewan dan tumbuhanpun juga diciptakan-Nya dari tanah, bukanlah hanya manusia.

Bahwa sel-sel generatif pada hewan (sel sperma dan sel indung telur) dan tumbuhan (sel putik dan sel tumpang sari), juga terbentuk dari energi panas sinar matahari, tanah dan air di Bumi, persis seperti sel-sel generatif pada manusia (sel sperma dan sel indung telur).

Bahkan tumbuhan, sebagai makhluk yang tingkatannya lebih rendah dari hewan dan manusia, prosesnya lebih sederhana lagi. Contohnya, jika tanah telah tersirami oleh air hujan, maka di situ segera tumbuh rerumputan.

d.

Bahwa surga (alam akhirat yang gaib), adalah keadaan ruh-ruh yang relatif sangat bersih dari dosa, seperti keadaan awal ruh-ruh pada saat diciptakan-Nya (suci-murni dan bersih dari dosa).

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang Surga.

Hal ini berdasar pada kenyataan, bahwa Adam dan Iblis diusir-Nya keluar dari surga, tepat setelah keduanya melakukan dosa pertamanya masing-masing, atau keadaan tiap ruh mereka telah mengandung dosa. Karena Adam beserta Hawa yang telah menuruti hawa nafsu birahinya (atau telah memakan buah pohon khuldi yang dilarang-Nya).

Sedang Iblis telah kafir terhadap perintah-Nya, dengan menolak bersujud kepada Adam, yang telah dipilih-Nya sebagai khalifah-Nya di Bumi. Ketidak-tundukan Iblis ini, adalah simbol segala kesesatan yang tiap saatnya selalu dibawanya, yang justru amat 'merugikan' manusia.

Sebaliknya, bersedia bersujudnya para malaikat kepada Adam, adalah simbol segala pengajaran dan tuntunan-Nya yang tiap saatnya selalu dibawanya, yang justru amat menguntungkan manusia.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang pengajaran dan ujian-Nya dari para makhluk gaib.

e.

Bahwa ketika Adam dan Hawa terusir dari Surga, mereka telah terlahir dan dewasa di Bumi (di dunia).

Bahwa manusia telah mulai melakukan perbuatan dosa pertamanya, ketika telah berusia akil-baliq (telah dewasa, mulai mengenal baik dan buruk, serta mengenal auratnya). Karena saat dewasa, tiap perbuatannya semestinya telah bisa dipertanggung-jawabkannya (telah berdasar kesadaran atau pengetahuannya).

Hal inipun sesuai dengan saat diperintahkan-Nya para malaikat, untuk bersujud kepada Adam. Karena sejak saat usia akil-baliq, tiap umat manusia telah bisa memiliki kesadaran atau pengetahuan dalam berbuat kebaikan (akibat pengaruh dari para malaikat) ataupun berbuat keburukan (akibat pengaruh dari iblis ataupun syaitan).

Bahwa alasan diusir ataupun diturunkan-Nya mereka dari surga, adalah karena telah berbuat dosa pertamanya, yang pada dasarnya hanya suatu proses batiniah (tidak terkait sama-sekali dengan tubuh fisik-lahiriah ataupun tempat tubuh berada). Begitu pula halnya iblis, yang juga terusir dari surga, dan bahkan relatif sama-sekali tidak memiliki tubuh fisik-lahiriah (gaib).

Sebaliknya, ada sebagian dari kalangan umat Islam yang telah menafsirkan "diturunkan-Nya dari Surga" itu, berhubungan dengan perpindahan tubuh lahiriah dari Surga (di atas langit) ke Bumi. Padahal istilah "diturunkan-Nya", lebih tepat ditafsirkan sebagai "diturunkan-Nya derajat kemuliaannya, akibat berbagai perbuatan dosanya".

Bahwa mustahil Iblis yang telah terusir lebih dahulu dari Surga, tetap bisa menggoda Adam dan Hawa yang masih berada di Surga, kalau Surga dianggap sebagai 'tempat' yang terpisah dari dunia. Bahwa tubuh wadah Adam dan Hawa mustahil bisa berpindah tempat dari Surga (kalaulah dianggap berada di langit nyata) ke Bumi, karena hal ini bertentangan dengan sunatullah (aturan-Nya) yang berlaku di alam semesta ini.

Bahwa tidaklah ada yang bisa terjadi begitu saja di alam semesta ini, ataupun "turun begitu saja dari langit". Semuanya pasti mengikuti suatu aturan tertentu. Walau tidak semua aturan-Nya (sunatullah) itu memang bisa dipahami oleh manusia. Juga mestinya tidak bertentangan dengan berbagai sunatullah lainnya, seperti hukum-hukum alam yang telah dikenal oleh manusia.

Baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)".

f.

Bahwa alam akhirat adalah alam batiniah pada tiap ruh makhluk. Sedang Surga dan Neraka adalah keadaan-keadaan tertentu pada alam batiniah tiap ruh. 23) & 25)

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang Surga dan Neraka.

Bahwa Surga itu telah ada sejak jaman Adam dan Hawa (sehingga disebutkan "mereka awalnya tinggal di Surga"). Lebih tepatnya, Surga dan Neraka tersebut (sarana dan prasarananya), telah ada sejak terciptanya ruh-ruh, karena merupakan keadaan-keadaan batiniah ruh itu sendiri, yaitu keadaan yang bersih dari dosa (ataupun berbagai dosanya telah bisa dimaafkan-Nya), dan keadaan yang mengandung berbagai dosa, yang belum atau amat sulit dimaafkan-Nya.

Hal itu juga persis seperti halnya keadaan manusia pada Hari Kiamat. Orang-orang yang akan masuk Surga adalah orang-orang yang telah dimaafkan-Nya segala dosanya (mereka telah bertaubat), serta menurut penilaian Alah, segala keadaan batiniah ruhnya relatif telah bersih dari dosa. Sebaliknya bagi orang-orang yang akan masuk Neraka, keadaan batiniah ruhnya justru masih mengandung dosa.

Baca pula poin d dan e di atas.

Bahwa kehidupan akhirat (termasuk di Surga ataupun di Neraka) dan kehidupan dunia ini justru berlangsung bersamaan. Namun masing-masing berada pada aspek yang berlainan, aspek batiniah dan aspek lahiriah. Kehidupan akhirat itupun tetap ada dan berlanjut setelah Hari Kiamat, yang bersifat kekal dan telah disempurnakan-Nya (setelah berakhirnya kehidupan dunia).

Juga pada Hari Kiamat, dibukakan-Nya segala hakekat kebenaran-Nya, termasuk diputuskan-Nya tiap perselisihan antar manusia. Lalu disempurnakan-Nya segala nikmat dan hukuman-Nya, sebagai suatu balasan-Nya yang terakhir atas segala amal-perbuatan setiap manusia selama di kehidupan dunianya.

Bukti lainnya tentang Surga dan Neraka berada di alam batiniah ruh setiap manusia, bahwa para penjaganya adalah para makhluk gaib. Persis sama dengan pada saat mereka mengikuti manusia (seperti dalam memberikan pengajaran dan ujian-Nya, ataupun memberikan segala ilham yang benar dan sesat), di alam batiniah ruh tiap manusia tiap saatnya selama hidupnya di dunia.

Para penjaga manusia di kehidupan dunia terdiri dari berbagai jenis makhluk gaib (dari malaikat sampai iblis). Sedang para penghuni Surga di Hari Kiamat hanyalah para malaikat, dan para penghuni Neraka hanyalah para iblis, syaitan dan jin. Tentu saja di samping masing-masingnya dihuni pula oleh manusia.

Bahwa perbedaan para penjaga manusianya di kehidupan dunia dan di kehidupan setelah Hari Kiamat itu, sesuai dengan keadaan di kehidupan dunia, yang penuh dengan pengajaran dan ujian-Nya. Sebaliknya pada Hari Kiamat, telah disempurnakan-Nya segala nikmat (pahala) dan siksaan (hukuman) dari Allah, bagi setiap umat manusia.

Pada kehidupan dunia fana ini setiap godaan iblis ataupun syaitan merusak atau menyiksa keadaan batiniah ruh manusia, sebagai sesuatu bentuk ujian-Nya secara batiniah. Walau godaan itu bisa terasa amat menarik dan menyenangkan bagi manusia.

Pada Hari Kiamat itu, berbagai bentuk kerusakan yang mereka timbulkan, justru akan menjadi siksaan-Nya yang tak-terperikan bagi manusia di Neraka, yang dihuni pula oleh iblis ataupun syaitan. Walaupun bukan berbentuk godaan lagi, namun telah berupa penghakiman atas segala dosa yang telah diperbuat oleh setiap manusia, yang amat sulit bisa dimaafkan-Nya.

Hal sebaliknya terjadi di Surga, yang dihuni pula oleh para malaikat, manusia mendapat berbagai nikmat-kemuliaannya di Surga, sesuai dengan segala amalannya, serta disambut dan dimuliakan oleh para malaikat.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib".

"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia. Sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat (atau kehidupan batiniah ruh), adalah lalai." – (QS.30:7).

g.

Bahwa anggapan tentang Surga (ataupun Neraka) sebagai suatu tempat (bukan keadaan batiniah ruh), justru memiliki pengaruh yang amat fatal, seperti yang telah dialami oleh umat Kristiani.

Karena umat-umat Kristiani menyakini, bahwa Adam dan Hawa bertanggung-jawab dan berperan membuat seluruh umat manusia lainnya tidak bisa lagi hidup kekal dan tinggal di Surga sampai Hari Kiamat. Hal ini akibat dari dosa yang telah mereka lakukan (memakan buah pohon khuldi), sehingga mereka terusir dari Surga, dan 'pindah' bertempat tinggal ke dunia.

Maka umat Kristiani amat menyakini pula bahwa proses penyaliban Yesus, adalah suatu cara penebusan atas segala dosa umat manusia. Terutama penebusan atas dosa Adam dan Hawa di atas, yang juga ditanggung oleh seluruh umat manusia lainnya.

Sebaliknya hal-hal semacam itu sama sekali tidak dikenal dalam agama Islam. Misalnya dalam agama Islam tidak dikenal istilah 'dosa turunan', serta tiap anak manusia terlahir amat suci-murni dan bersih dari dosa, serta sama sekali tidak menanggung dosa orang-lainnya, para orang-tua ataupun leluhurnya (termasuk pula tidak menanggung dosa-dosa Adam dan Hawa).

Begitu pula dalam agama Islam tidak dikenal ada cara penebusan atau penghapusan dosa-dosa umat manusia seperti itu. Tiap manusia hanyalah bisa menebus sendiri atas tiap dosanya, dengan benar-benar bertaubat (bukanlah ditebus oleh orang-lain).

Seperti uraian pada poin-poin di atas, dosa-dosa Adam dan Hawa lebih tepatnya sesuatu 'simbol', tentang pasti adanya perubahan keadaan batiniah ruh tiap manusia, yang terjadi ketika mulai usia akil-baliqnya (mulai berbuat dosa pertamanya). Dari keadaan ruh yang amat suci-murni dan bersih dari dosa, menjadi keadaan ruh yang telah mengandung dosa, yang amat sederhana atau kecil sekalipun (sebesar biji zarrah).

Maka sama sekali bukanlah sesuatu 'dosa turunan', akan tetapi sesuatu 'simbol' atas fitrah dasar manusia, yang cenderung berbuat dosa (tidaklah terkait sama sekali dengan 'sosok' leluhur seluruh umat manusia, Adam dan Hawa), dengan diciptakan-Nya nafsu pada tiap manusia. Sedang keberadaan nafsu ini bukanlah suatu diosa atau kesalahan manusia, namun hanya sesuatu sarana bagi Allah untuk menguji keimanan tiap manusia.

Setiap manusia memiliki segala keadaan batiniah ruhnya masing-masing, dengan sendirinya memiliki Surga dan Neraka, yang masing-masing pula (bukan tempat tinggal bersama).

Dalam Al-Qur'an ada 'perumpamaan', dimana manusia seolah-olah tinggal bersama di Surga atau di Neraka, karena ruh-ruh di alam akhirat memang bisa saling berinteraksi. Serta Surga dan Neraka memang memiliki sangat banyak tingkatan, dimana keadaan batiniah ruh-ruh hampir serupa pada setiap tingkatannya (relatif serupa nilai timbangan amalannya).

Contoh yang jelas, tentang adanya saling interaksi antar ruh-ruh makhluk-Nya, adalah interaksi antara malaikat Jibril dan sebagian para nabi-Nya, pada alam akhirat atau alam batiniah ruh setiap nabi-Nya itu. Begitu pula interaksi antara manusia dengan jin, syaitan dan iblis, dalam menggoda manusia setiap saatnya.

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang Surga dan Neraka. Dan juga topik "Makhluk hidup gaib", tentang interaksi ruh manusia dan ruh para makhluk gaib.

 

Bahwa penciptaan manusia 'pertama' (Adam dan Hawa), dan makhluk hidup 'pertama' lainnya (hewan dan tumbuhan) juga pastilah mengikuti aturan-Nya (sunatullah), dan tidaklah tercipta secara tiba-tiba begitu saja, seperti sulap. Bahkan serupa pula dengan tiap proses penciptaan segala makhluk hidup nyata, pada masa sekarang, ataupun pada masa mendatang.

Dalam kerangka ini pula, penafsiran atas firman-Nya 'jadilah', ketika Allah menciptakan segala sesuatu, yang melalui proses-proses yang 'pasti' dan 'jelas'. Walaupun setiap proses itu sendiri bisa terjadi selama milyaran tahun, ataupun hanyalah seper-sekian detik saja. Dan juga walaupun manusia belum bisa memahami semuanya, ada yang prosesnya telah dibukakan-Nya kepada umat-umat yang dikehendaki-Nya, dan ada pula yang tidak ataupun belum dibukakan-Nya.

Makhluk hidup nyata di angkasa luar

Sampai sekarang, baru di Bumi yang diketahui ada makhluk hidup nyata 'tingkat tinggi', seperti halnya manusia dan hewan. Dan secara teoretis bisa dipastikan, bahwa ada planet-planet lainnya pada bintang-bintang yang lainnya pula (selain Bumi dan Matahari), yang hampir serupa dengan keadaan di Bumi, yang memungkinkan bisa terjadinya suatu kehidupan makhluk hidup nyata 'tingkat tinggi'.

Sebagaimana telah diketahui oleh para ilmuwan, bahwa tidak ada kehidupan pada planet-planet lain dalam sistem tata surya, selain Bumi. Hal ini khususnya menunjukkan, bahwa kehidupan makhluk hidup nyata 'tingkat tinggi' hanya terjadi, pada planet yang memiliki temperatur dan keadaan lainnya yang sesuai. Tentunya hal ini berlaku pula pada semua sistem bintang dan planet, di luar sistem Tata surya.

Sedang makhluk hidup nyata 'tingkat rendah', yang berupa sel ataupun lumut, telah diketahui oleh para ilmuwan, ada pada berbagai benda langit selain Bumi (seperti pada meteor, komet, dsb).

Jikalaupun makhluk angkasa luar itu ada, secara teoretis bisa dipastikan, bahwa makhluk hidup nyata tingkat tinggi di angkasa luar itupun bentuknya sama pula, seperti manusia dan hewan di Bumi ini. Dengan dalil-alasan, bahwa segala unsur paling elementer (atau atom), sebagai pembentuk seluruh benda langit semestinya juga serupa (dari "kabut alam semesta", yang segala unsurnya bercampur-baur secara relatif homogen). Sehingga diperkirakan, segala zat organik atau benih kehidupan yang terbentukpun semestinya juga serupa.

Begitu pula halnya dengan segala jenis zat ruh-ruh, yang telah diciptakan-Nya sejak ada terciptanya energi pada saat awal penciptaan alam semesta ini. Ruh-ruh yang juga "bercampur-baur" dan berada di seluruh alam semesta ini. Menurut sifatnya masing-masing, ruh-ruh tinggal menunggu saja untuk bisa menyatu dengan benih tubuh wadah yang sesuai (kecuali ruh makhluk gaib, yang tidak memerlukan tubuh wadah). Bahkan ada pemahaman lain yang menyatakan, bahwa segala zat ruh ciptaan-Nya justru memiliki jenis atau sifat yang persis sama.

Dan pada akhirnya, wujud dari makhluk-Nya (makhluk hidup tingkat tinggi ataupun tingkat rendah), pada planet-planet selain Bumi, bisa diperkirakan semestinya sama seperti halnya segala makhluk-Nya yang ada di Bumi.

Namun hal seperti ini bukanlah hal yang penting (ada ataupun tidaknya), tentang keberadaan para makhluk angkasa luar itu, karena tiap makhluk pasti hanya dimintai-Nya pertanggung-jawabannya, atas segala amal-perbuatannya masing-masing dalam kehidupannya. Maka kehidupan manusia di Bumi, sama-sekali tidak ada kaitannya dengan keberadaan segala makhluk angkasa luar itu (jika memang ada).

Juga seluruh makhluk-Nya pasti mencari dan mengenal Tuhan yang sama, Allah Yang Maha Esa, dari hasil memahami tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya yang sama, di alam semesta yang sama pula. Akhirnya, seluruh makhluk-Nya bisa memahami jalan-Nya yang lurus yang sama yang perlu diikutinya, agar ia bisa kembali dekat ke hadapan 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung, yang sama pula.

Proses "kloning" atas makhluk hidup nyata

Definisi dari istilah "kloning" cukup berragam. Namun tentu saja proses kloning yang dibahas di sini, dan telah menjadi perdebatan ramai, adalah proses kloning yang menurut bidang ilmu bioteknologi, yaitu "proses-proses yang digunakan untuk menggandakan berbagai elsemen DNA (kloning molekular), sel-sel (kloning sel), ataupun juga organisme-organisme".

Proses kloning relatif serupa atau kelanjutan dari segala usaha manusia, untuk bereksperimen pada bidang-bidang ilmu bioteknologi ataupun rekayasa genetik. Seperti misalnya proses pembuatan 'bayi tabung', yang relatif telah cukup lama diterapkan.

Proses kloning pada dasarnya adalah sesuatu proses 'asembli' (atau penggabungan). Di mana suatu sel janin yang 'baru mulai' hidup dan tumbuh, dihilangkan inti selnya, serta inti sel ini lalu digantikan oleh suatu inti sel lain, dari suatu organisme yang ingin digandakan. Sel janin yang telah dimodifikasi inti selnya itu, lalu disimpan kembali ke rahim induknya.

Maka proses kloning itu sama sekali bukanlah sesuatu proses "penciptaan makhluk" oleh manusia (menggantikan kekuasaan Allah). Bukanlah pula sesuatu usaha, agar manusia bisa 'hidup abadi', karena makhluknya memang berbeda (hanya serupa bentuknya saja). Sedang pada proses kloning itu manusia hanyalah bereksperimen untuk bisa mengganti-ganti hal-hal yang telah diciptakan-Nya. Serupa misalnya pada operasi pencakokan jantung, dari seseorang ke orang-lainnya.

Pada dasarnya persoalan etis dalam proses kloning itu, relatif serupa dengan persoalan penentuan usia dari janin yang masih boleh digugurkan, pada usaha pengguguran kandungan. Maka sikap umat Islam dalam menyikapi hal ini, untuk kembali pada Majelis ulamanya yang bisa melahirkan sesuatu 'fatwa', yang lebih cermat menentukan 'batas usia' janin, yang telah bisa dianggap sebagai sesuatu makhluk yang 'utuh' dan 'tidak boleh' dibunuh (dibuang janin atau oroknya). Jika masih pada tahap sel, tentunya hal ini belum menjadi persoalan yang relatif cukup besar.

Namun ada persoalan etis lain yang justru jauh lebih penting, walaupun memang bukanlah pengaruh langsung dari proses kloning itu sendiri, yaitu tingkat kegagalannya yang masih sangat tinggi (lebih dari 90%). Efek sampingan dari kegagalan inilah yang menimbulkan persoalan etis yang amat sangat luar biasa, terutama pada kloning atas manusia dan hewan. Tentunya Majelis ulama haruslah pula menyikapi hal ini, dimana kemungkinan akan sangat banyak manusia dan hewan dari hasil proses kloning, yang bisa menemui kematian secara dini, cacat, menderita berbagai penyakit dan berbagai persoalan lainnya.

Menurut pemahaman di sini, tingkat kegagalan pada proses kloning atas manusia dan hewan, hampirlah dipastikan akan mustahil bisa mencapai 0% (atau 100% berhasil), karena pasti ada rahasia-Nya pada penciptaan setiap makhluk-Nya (terutama makhluk hidup tingkat tinggi, seperti manusia dan hewan), yang mustahil bisa dijangkau oleh umat manusia yang paling pintar sekalipun.

Namun proses kloning atas sel-sel embrio, selain manusia dan hewan, justru barangkali masih bisa membawa berbagai kemanfaatan bagi umat manusia. Seperti misalnya agar bisa: meningkatkan kualitas dan mempercepat produksi pangan; mempercepat produksi berbagai vaksin, sebagai bahan pengobatan atas berbagai penyakit; dsb.

"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun (yang menciptakan mereka atau terjadi begitu saja)?, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?.", "Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?. Sebenarnya mereka tidak menyakini (apa yang mereka katakan).", "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabb-mu atau merekakah yang berkuasa?." − (QS.52:35-37).

"Dan apakah mereka tidak melihat, bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan, dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?." – (QS.36:71).

"Dan tidakkah manusia itu memikirkan, bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang (sebelumnya) ia tidak ada sama sekali." – (QS.19:67).

"Apakah mereka mempersekutukan(-Nya dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun. Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang." – (QS.7:191) dan (QS.13:16, QS.16:17, QS.27:60, QS.35:40, QS.37:125, QS.39:38, QS.41:9, QS.46:4).

"Katakanlah: 'Siapakah yang memberi rejeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan'. Maka mereka menjawab: 'Allah'. Maka katakanlah: 'Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?'." – (QS.10:31).

"Katakanlah: 'Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya kembali' katakanlah: 'Allah-lah Yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya kembali. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)'." – (QS.10:34) dan (QS.27:64, QS.29:19, QS.35:3).

Lebih lanjut, teori 'evolusi' Darwin dan berbagai bantahannya

Sebelum dibahas lebih mendalam dan sekaligus pula dibantah, terlebih dahulu pada tabel berikut diungkapkan secara ringkas, tentang teori evolusi pada bidang biologi itu sendiri.

Uraian ringkas tentang teori evolusi biologis
(teori evolusi Darwin)

Teori evolusi pada bidang ilmu biologi, terutama terlahir dari seorang yang bernama Charles Darwin, melalui buku terbitannya pada tahun 1859 berjudul "On the Origin of Species (asal-muasal dari spesies-spesies)". Walau pondasi pemikirannya telah ada sejak abad ke-6, melalui filsuf Yunani bernama Anaximander. Lalu pemikiran tentang evolusi, diikuti oleh sejumlah ilmuwan seperti misalnya: Pierre Maupertuis (tahun 1745), Erasmus Darwin (tahun 1796), Jean-Baptiste Lamarck, Alfred Russel Wallace (tahun 1858), sampai kepada Charles Darwin sendiri. Tentunya sampai saat ini, ada pula berbagai hasil pemikiran yang serupa. Dan bahkan pemikiran ataupun teori evolusi telah relatif amat luas diterima di seluruh dunia, terutama di kalangan para ilmuwan.

Walaupun begitu, sangat banyak pula perdebatan, kontroversi dan bahkan penolakan atas teori evolusi, khususnya karena dianggap bertentangan dengan konsep penciptaan pada beberapa kitab suci agama. Hal lebih khususnya, karena teori evolusi telah melahirkan pensejajaran antara manusia dan hewan (khususnya kera ataupun simpanse).

Evolusi (pada bidang biologi) adalah proses perubahan sangat perlahan atas sifat-sifat menurun pada suatu populasi organisme, dari generasi ke generasi. Setelah suatu populasi terpisah-pisah menjadi berbagai kelompok lebih kecil, tiap kelompok itupun bisa berkembang mandiri, dan langsung bisa membentuk berbagai variasi spesies baru.

Pada puncaknya, segala kehidupan makhluk nyata berasal dari suatu 'nenek moyang bersama', melalui deretan amat panjang proses pembentukan spesies tersebut, dengan merunut ke belakang atas suatu 'pohon kehidupan', yang terbangun selama umur kehidupan makhluk nyata di Bumi (±3,5 milyar tahun sampai saat ini sejak sel ditemukan).

Evolusi itu dianggap bisa tampak terlihat dari anatomi, genetik dan kesamaan lainnya antar kelompok organisme; penyebaran secara geografis dari berbagai spesies terkait; penemuan berbagai fosil purba; serta catatan perubahan genetik pada berbagai organisme hidup dalam banyak generasi.

Untuk bisa membedakan pemakaian istilahnya, evolusi yang dimaksud di sini sering disebut pula sebagai 'evolusi biologis', 'evolusi genetik' ataupun 'evolusi organik'.

Evolusi adalah hasil dari 2 hal yang relatif berlawanan, yaitu: berbagai proses yang secara konstan menimbulkan variasi sifat, dan berbagai proses yang mengakibatkan berbagai varian tertentu, menjadi makin banyak atau sedikit. Setiap sifat adalah suatu karakteristik khas tertentu (seperti: warna mata, tinggi dan tingkah laku), yang tampak saat suatu jenis organisme berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam sesuatu populasinya ada banyak ragam jenis organisme, sehingga bisa tampak perbedaan ataupun variasi sifat-sifat menurunnya.

Penyebab utama variasi itu adalah 'mutasi', yang mengubah rangkaian dari sesuatu gen. Gen-gen yang berubah, lalu menurun pula ke anak-keturunannya. Terkadang ada pula terjadi perpindahan gen antar spesies (pada perkawnan silang).

Dua proses paling utama penyebab berbagai varian menjadi makin banyak atau sedikit populasinya. Pertama adalah 'seleksi alam' dimana sifat-sifat yang justru bisa membantu kelangsungan hidup dan perkembang-biakan, menjadikannya makin banyak jumlahnya. Sementara sifat-sifat yang menghambat, menjadikannya makin sedikit.

Seleksi alam terjadi, karena hanyalah sedikit individu pada tiap generasi, yang bisa bertahan hidup, akibat sumber daya yang terbatas ataupun organisme menghasilkan relatif jauh lebih banyak keturunan, daripada kemampuan daya dukung lingkungannya.

Sepanjang berbagai generasi, mutasi menimbulkan perubahan sifat-sifat secara berkelanjutan, perlahan dan acak, yang lalu tersaring melalui seleksi alam dan perubahan positif yang bertahan. Hal inipun mengubah sifat-sifat tersebut, sehingga menjadikannya cocok dengan lingkungannya (beradaptasi).

Penyebab evolusi lainnya adalah 'penyimpangan genetik' yang secara keseluruhan bisa menghasilkan perubahan acak, atas sifat-sifat umum dari suatu populasi. Penyimpangan genetik terjadi dari adanya sesuatu hal yang menentukan kesempatan, apakah sesuatu sifat akan bisa mencapai generasi berikutnya (pewarisan Mendel).

Secara ringkasnya, proses evolusi meliputi berbagai mekanisme, seperti:

a.

Seleksi alam (natural selection).

Seleksi alam adalah mekanisme utama proses evolusi dimana sifat-sifat spesies pada suatu populasi menjadi makin banyak, ataupun makin sedikit, akibat dari pengaruh secara konsisten atas kelangsungan hidup dan perkembang-biakan spesiesnya.

b.

Adaptasi (adaptation).

Adaptasi adalah proses evolusi dimana sesuatu populasi bisa menjadi lebih cocok dengan habitatnya (lingkungan tempat tinggalnya), dan bisa pula berlangsung selama berbagai generasi.

c.

Perpindahan gen (gene flow).

Perpindahan atau aliran gen pada populasi genetik, adalah pemindahan satu atau lebih bentuk rangkaian DNA pada gen, dari sesuatu populasi ke populasi lainnya, antara-lain akibat dari proses perkawinan silang atau hibridisasi.

d.

Mutasi (mutation).

Mutasi adalah perubahan rangkaian DNA pada genome sesuatu sel (semua data yang menurun), ataupun perubahan rangkaian DNA / RNA pada sesuatu virus, antara lain akibat dari radiasi, serangan virus, reaksi kimia, dan berbagai kesalahan selama meiosis atau replikasi DNA. Juga bisa dipengaruhi oleh berbagai proses selular pada organismenya sendiri.

e.

Penyimpangan genetik (genetic drift).

Penyimpangan genetik (atau sifat-sifat menurun), adalah proses evolusi penting, yang berupa perubahan frekuensi suatu varian gen dalam suatu populasi, akibat dari sampling acak atau probabilitas reproduksi. Namun bukan akibat dari tekanan pengaruh lingkungan dan proses adaptasi.

f.

Spesiasi (speciation).

Spesiasi adalah proses evolusi dimana bisa muncul species biologis baru, sedikit-banyak akibat dari penyimpangan genetik (genetic drift), ataupun hal-hal lainnya.

Beberapa dari mekanisme di atas juga saling terkait erat, seperti misalnya antara: 'seleksi alam' dan 'adaptasi', 'spesiasi' dan 'penyimpangan genetik', dsb. Dan secara perlahan-lahan, berbagai mekanisme di atas pada puncaknya dianggap bisa membentuk spesies-spesies baru (spesiasi sebagai mekanisme puncaknya).

 

Namun pada penciptaan segala makhluk hidup nyata, ada hal-hal yang justru relatif sama-sekali bukanlah peran ataupun bagian dari proses evolusi, antara-lain misalnya:

a.

Adanya zat ruh dan berbagai elemennya (akal, nafsu, hati nurani, hati atau kalbu, dsb), beserta jiwa di dalam zat ruh.

Padahal hakekat dan nilai dari tiap makhluk hidup masing-masing terletak pada ruh dan segala keadaan batiniah di dalamnya. Sedang keberadaan zat ruh dan berbagai elemennya tentunya bukan hasil dari proses evolusi, namun justru telah langsung diciptakan-Nya, untuk bisa memberi kehidupan bagi segala makhluk-Nya.

b.

Adanya kebebasan makhluk dalam berkehendak dan berbuat.

Padahal kebebasan (terutama dari adanya akal dan nafsu pada tiap zat ruh makhluk), bukan suatu bagian dari proses evolusi. Karena sampai kapanpun, manusia misalnya justru bisa menjadi setengah malaikat, atau sebaliknya bisa menjadi setengah iblis.

c.

Adanya energi dan materi, beserta segala sifatnya masing-masing (gravitasi, elektromagnetik, dsb).

Padahal keberadaan energi dan materi (serta segala sifatnya) bukan hasil proses evolusi, namun juga telah langsung diciptakan-Nya.

d.

Adanya sel-sel.

Padahal segala makhluk utuh dan dewasa pasti berasal dari sel-sel, yang telah tumbuh atau berkembang. Maka pembentukan segala jenis species (terutama species-species paling awal) justru terjadi bersamaan dengan pembentukan selnya masing-masing, pada awal penciptaan kehidupan di Bumi. Sedang pada teori evolusi, justru pembentukan berbagai jenis species terfokus berasal dari species-species 'utuh' lainnya.

e.

Adanya hierarki struktur sebagai hasil dari interaksi antar materi, serta berbagai batasan dan tingkatan stabilitas strukturnya. Selama berabad-abad juga telah diketahui, bahwa struktur 'dasar' genetik dan morfologis dari makhluk hidup nyata, justru relatif amat stabil dan tidak berubah-ubah (hanya ada perubahan yang sangat terbatas dan tidak mendasar).

Padahal kestabilan struktur dasar genetik dan morfologis pada tiap species yang ada, justru relatif diabaikan pada teori evolusi. Dan sebaliknya pada teori evolusi justru dianggap, bahwa tiap species bisa berubah terus-menerus relatif tanpa akhir dan batasan tertentu, untuk membentuk berbagai jenis species lainnya.

f.

Adanya hierarki struktur zat organik (protein, lemak, karbohidrat, dsb), ataupun DNA, kromosom, sel, jaringan, organ dan makhluk utuh, yang relatif amat sangat rumit dan sekaligus memiliki fungsi-fungsi tertentu, serta saling berinteraksi secara harmonis. Juga ada simetrisitas struktur tubuh makhluk, serta saling berpasangan.

Padahal fungsi ataupun tujuan dari penciptaan segala sesuatu hal, justru relatif diabaikan pada teori evolusi, dan bukan terjadi begitu saja dengan sendirinya.

g.

Adanya struktur tubuh wadah tiap jenis makhluk hidup nyata, yang bisa tersusun secara amat lengkap dan sempurna.

Padahal atruktur seperti itu relatif sulit bisa terus-menerus berubah (seperti menurut teori evolusi). Kalaupun ada perubahannya, justru relatif amat terbatas dan tidak mendasar (tidak membentuk spesies baru). Dan definisi 'spesies' semestinya disesuaikan dengan urutan proses penciptaannya (bukanlah hanya sekedar berdasar kemiripan genetik dan morfologisnya saja).

h.

Adanya kehidupan (peniupan zat ruh), pertumbuhan, perkembang-biakan (penurunan sifat induk), penuaan dan kematian (pencabutan atau pengangkatan zat ruh).

Padahal kehidupan mustahil dianggap sebagai proses evolusi, yang lebih terfokus pada interaksi antar materi-benda (lahiriah).

i.

Adanya hukum alam ataupun sunatullah.

Padahal hukum alam ataupun sunatullah bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), yang pasti mengatur segala zat ciptaan-Nya di alam semesta sesuai dengan segala keadaan tiap saatnya pada tiap zat.

Sunatullah memang seolah berjalan 'otomatis', namun Allah Yang Maha Esa, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, justru menciptakan sunatullah, agar selalu bisa mengatur segala zat ciptaan-Nya, tiap saatnya sesuai segala keadaan lahiriah dan batiniah pada tiap zat. Maka sunatullah justru bersifat 'dinamis', sesuai perubahan segala keadaan tiap saatnya (termasuk berbagai keadaan yang diusahakan oleh tiap makhluk).

 

Dari hal-hal di atas cukup tampak, bahwa proses evolusi hanya salah-satu dari amat banyak aspek-fenomesa pada proses penciptaan. Lebih pentingnya lagi, proses evolusi bukan bagian yang utama dari proses penciptaan itu sendiri, seperti misalnya: penyebab; keberadaan; pengaturan dan pengendalian; hierarki dan kestabilan; peran dinamis makhluk; fungsi-tujuan; dsb. Juga proses evolusi hanya menyangkut hal-hal lahiriah saja, dan bukan menyangkut hal-hal gaib dan batiniah.

Perkembangan keadaan batiniah (pengetahuan misalnya) justru bukan hasil dari proses evolusi, karena tidak bisa menurun ke anak-keturunan. Sedang segala bayi terlahir dengan segala keadaan batiniah awal (fitrah dasar), yang sama-sama suci-murni dan bersih dari dosa. Tentunya peran dinamis makhluk yang relatif bebas namun terbatas di dalam proses penciptaan, juga tidak cocok disebut sebagai bagian dari proses evolusi (suatu kebebasan tidak memiliki arah tertentu).

Sehingga proses evolusi sama-sekali tidak tepat, jika dianggap bisa mewakili keseluruhan proses penciptaan (tidak bisa disejajarkan begitu saja). Teori evolusi secara umum juga hanya sekedar berdasar kemiripan genetik dan morfologis, tanpa ada penjelasan memadai atas proses terjadinya kemiripan tersebut, agar bisa menjelaskan hubungan yang sebenarnya antar spesies yang berbeda-beda.

Padahal segala makhluk hidup nyata di Bumi, memang pasti hanya terbentuk dari berbagai materi di Bumi, tentunya sedikit-banyak pasti ada pula kemiripan antar spesies. Tetapi hubungan antar spesies yang sebenarnya tidak bisa disederhanakan begitu saja, seperti halnya pada 'pohon kehidupan' (kera dianggap nenek moyang bagi manusia), tanpa alasan jelas. Berbagai kemiripan itupun masih sangat umum.

Bahkan sama sekali belum terbukti adanya perubahan struktur tubuh secara amat perlahan,.dari suatu spesies tertentu ke spesies lain. Jelasnya lagi, belum terbukti adanya spesies-spesies 'antara' (di dalam bentuk fosil sekalipun), yang berada di antara dua spesies yang jelas-jelas diketahui, agar benar-benar bisa menunjukkan proses evolusinya.

Status keberadaan spesies antara ditunjukkan secara sederhana melalui gambar berikut, terutama jika dikaitkan dengan cara pandang atas proses evolusi itu sendiri, yang secara umum bisa dikelompokkan menjadi 2 macam tipe proses evolusi, menurut perubahan genetiknya.

Dan akhirnya, pada dasarnya teori evolusi memang ada sedikit mengandung kebenaran, namun justru telah relatif terlalu dipaksakan, agar menjelaskan penciptaan atau pembentukan makhluk hidup nyata. Sehingga teori evolusi juga mengandung berbagai kesesatan (terutama tentang asal-muasal atau awal penciptaan makhluk).

Oleh karena itu, sangat diharapkan agar tiap umat Islam jauh lebih mencermati teori evolusi. Juga jauh berhati-hati menerapkannya sesuai konteks semestinya. Di samping para malaikat, manusia justru diciptakan-Nya relatif jauh lebih mulia dan sempurna daripada segala makhluk lainnya, terutama lagi jika ia memang telah mengikuti segala pengajaran dan tuntunan-Nya. Juga manusia bukanlah anak-keturunan dari kera, simpanse ataupun bahkan segala spesies lainnya.

"Maka terangkanlah kepadaku, tentang nutfah yang kamu pancarkan (atau air mani).", "Kamukah yang menciptakannya, atau Kami-kah yang menciptakannya?." – (QS.56:58-59).

"Maka terangkanlah kepadaku, tentang yang kamu tanam.", "Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?." – (QS.56:63-64).

"Maka terangkanlah kepadaku, tentang air yang kamu minum.", "Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?." – (QS.56:68-69).

"Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dari menggosok-gosokan kayu).", "Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya." – (QS.56:71-72).

 

"Dan sesungguhnya, telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna, atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." − (QS.17:70).

"Rasakanlah (air amat panas di neraka), sesungguhnya kamu (diciptakan sebagai) orang yang perkasa, lagi mulia." − (QS.44:49).

"Dia (iblis) berkata: 'Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya (Adam), yang Engkau muliakan atas diriku?. …'." − (QS.17:62).

"…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi-Nya, ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. …" − (QS.49:13) dan (QS.3:26, QS.22:50, QS.4:31, QS.8:74, QS.20:75, QS.24:26, QS.33:31, QS.33:44, QS.8:4, QS.34:4, QS.35:10, QS.56:8, QS.36:11, QS.36:27, QS.37:42, QS.70:35).

"…. Sebenarnya (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan," − (QS.21:26) dan (QS.51:24, QS.80:15-16, QS.81:19, QS.82:11).

 

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Rabb-kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. …" − (QS.3:191).

"Dan sungguh, jika kamu tanyakan kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi', niscaya mereka akan menjawab: 'Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa, lagi Maha Mengetahui'." − (QS.43:9).

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

14 Balasan ke Bab V.A Makhluk nyata

  1. Zainon B. Sharif berkata:

    Assalamualaikum, sdr yang dihurmati,
    Saya pohon convert ke link kegemaran dalam blog saya

    http://ibutanah.blogspot.com

  2. Cek Jen berkata:

    Di dalam tubuh manusia ada 4 ( 3 bagi wanita) yg tak jelas fungsinya, seakan miskonstruksi, tak canggih, dll. 3 yg pertama (2 bagi wanita) yakni Usus buntu, Amandel dan kulup. Ada dan tak ada , tak mempengaruhi fungsi, bahkan lebih baik di buang. Yang ke 4 adlh Otot Larink, berfungsi mentrigger pita suara. Berawal dr otak, turun di sebelah tenggorokan, menuju rongga dada dan kembali ke tenggorokan, berakhir di pita suara. Dari atas, turun ke bawah dan naik lagi keatas, tanpa ada interaksi apapun di rongga dada. Pada manusia, bisa mencapai 70 cm yg seharusnya hanya kl 30 cm, jarak dari otak ke pita suara di Tenggorokan, demikian juga pada kera, macan, Singa dan lainnya. Bahkan pada Jerapah dapat mencapai 3m lebih yang seharusnya kl 1 m. Sekilas benar2 tak canggih. Bagaimana anda menanggapi ini ?

    • Syarif Muharim berkata:

      Sayangnya saya bukan dokter ataupun ahli anatomi. Namun bgtu, tetap akan saya coba jawab scra umum dan sekilas saja.

      Keyakinan kuat saya, bahwa tiap jenis makhluk ciptaan-Nya pd dasarnya pasti diciptakan-Nya dlm bentuknya yg plg optimal ataupun plg sempurna, sejak dari bentuknya yg plg elementer, plg awal ataupun plg sederhananya (berupa zat ruhnya masing2), sampai dgn bentuknya yg plg akhir (dewasa, menua dan mati).
      Dgn kata lain, pasti ada suatu Kecerdasan yg Maha sempurna, yg terlibat dlm penciptaan tiap jenis makhluk, shg tdk ada sesuatupun yg meleset dlm penciptaannya msg2.

      Walaupun keyakinan ini blm berdasar fakta ilmiah dan baru berdasar dalil2 naqli berikut misalnya, namun dgn mengamati sgla jenis makhluk (dari yg plg sederhana s/d yg plg kompleks; sel, lumut, semut, beringin, dinosaurus, manusia, dsb), justru semuanya bisa hidup normal dan sempurna pd keadaannya msg2 yg mmg sesuai, sampai akhir hayatnya.

      Shg amat tdk tepat adanya anggapan, bhwa dlm proses penciptaan ada miskonstruksi, tak canggih, dan semacamnya.

      Keyakinan ini sekaligus membantah teori evolusi, ttg adanya suatu “jenis spesies” yg muncul dari “jenis spesies” lainnya. Evolusi hanya terjadi pada suatu “jenis spesies” yg sama, bukan antar “jenis spesies” yg berbeda.
      Krn tiap “jenis spesies” mmg telah diciptakan-Nya, dlm bentuk yang plg baik ataupun plg sempurna. Jika tidak, tentunya pasti ada “malfunction” dari tiap elemen tubuh spesiesnya, terutama dlm keadaan normal.
      ————-
      “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia, dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
      “Maka apabila (manusia) telah Kusempurnakan kejadiannya, dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku. …”
      “Yang telah menciptakan kamu (hai manusia), lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang,”, “dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”
      “… Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah, sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.”
      ————-
      Sedikit terkait dgn pertanyaannya, mestinya sudut pandang atas “fungsi” dari tiap elemen tubuh, juga jauh lebih diperluas lagi.
      Trmsuk mestinya juga disertakan / dipertimbangkan, misalnya:
      – proses alamiah pembentukan tiap elemennya;
      – proses terbentuknya fungsi dari tiap elemennya;
      – jenis2 sistem jaringan;
      – daerah transisi antar sistem jaringan2 yg berbeda;
      – daerah2 batas pertumbuhan;
      – dsb.

      Jawaban bagi sebagian elemen:
      a. Kulup.
      Analisa sederhana saya, jika tdk terlindung Kulup sejak awal, justru sensitifitas ujung alat genital pria pasti hilang (mengeras), tdk lbh serupa ujung2 jari kaki dan tangan. Dgn kata lain, fungsinya sbgai alat seksual-reproduksi tentunya juga bisa hilang.
      Setelah jaringannya terbentuk, tentunya sensitifitasnya tetap bisa terjaga, sekalipun Kulup telah dihilangkan.

      b. Otot Larink.
      Analisa sederhana saya, Otot Larink relatif berkembang mengikuti gravitasi, shg bisa lbh panjang dari yg diperlukan. Apalg relatif tdk ada struktur tulang yg mendukungnya.

      Terakhir, 3-4 elemen tubuh manusia yg “dianggap” tak jelas fungsinya, justru hanya sebagian amat kecil dari jumlah keseluruhan elemennya (mgkn ada ribuan ataupun lebih elemen), dan semua elemen lainnya tsb justru fungsional.
      Shg 3-4 elemen tsb seakan juga hanya belum ditemukan saja fungsinya.
      ————-
      Wallahu a’lam.

  3. Cek Jen berkata:

    Assalamualaikum Warrahmatullah. Sebagai gambaran sy sertakan link video You Tube. http://www.youtube.com/watch?v=cO1a1Ek-HD0 . Waalaikumsalam Warrahmatullah

  4. sayyid berkata:

    Assalamualaikum wr.wb,
    mas syarif yg saya hormati,
    saya sangat setuju dengan pendapat mas syarif soal penciptaan hawa dari adam.
    “Dia-lah Yang menciptakan kamu (manusia) dari diri yang satu (Adam), dan darinya (air maninya) Dia menciptakan istrinya (Hawa), agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya mengandung kandungan yang ringan, dan ….” – (QS.7:189).

    dan
    “Dia menciptakan kamu (manusia) dari seorang diri (Adam), kemudian Dia jadikan darinya (air maninya), istrinya (Hawa), dan Dia menurunkan untuk kamu, delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu, kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. ….” – (QS.39:6).

    dan”Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu, Yang telah menciptakan kamu (manusia) dari yang satu (Adam), dan darinya (air maninya) Allah menciptakan istrinya (Hawa). Dan dari keduanya (Adam dan Hawa) Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak (seluruh umat manusia). Dan ….” – (QS.4:1).

    soal penciptaan seluruh manusia termasuk adam dan hawa ini , dapat juga saya temukan pada surat yaasiin ayat 77.
    Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa kami menciptakaannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!

    Menurut pendapat saya penciptaan hawa dari tulang rusuk adam adalah dari pendapat israiliat.

    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid

    • Syarif Muharim berkata:

      Wa ‘alaikum salam Wr. Wb.,
      Syukur alhamdulillah….

      Begitulah pak Sayyid, yang mampu saya kaji dan telusuri sejauh ini. Dasar keyakinan saya secara umum, bahwa proses penciptaan atas sgla jenis makhluk-Nya pasti tetap tidak terlepas dari Sunnatullah (hukum alam / hukum sebab-akibat). Hal yang membedakan antara proses penciptaan nabi Adam as, nabi Isa as dan seluruh manusia lainnya, relatif hanya pada segala keadaan yang melatar-belakangi prosesnya. Pada proses penciptaan nabi Adam as dan nabi Isa as, segala keadaan terkait memang lebih khusus lagi.
      Wallahu a’lam.

      • sayyid berkata:

        Assalamualaikum wr.wb,
        mas syarif yg saya hormati.
        seperti yg kita ketahui bawa nabi isa a.s telah Allah S.W.T jadikan tanpa seorang ayah dan proses kejadiannya berabad2 sesudah nabi Adam a.s.
        Siti maryam ibunda nabi isa.a.s semasa hidupnya sering Allah berikan makanan dari surga,apakah ada kemungkinan dari makanan dari surga ini (melalui proses) dpt membuahi ibunda maryam, mengingat bahwa segala sesuatu yg diciptakan oleh Allah selalu melalui proses atas kehendak Allah.

        wassalamualaikum wr.wb,
        sayyid

        • Syarif Muharim berkata:

          Wassalam mu’alaikum Wr. Wb.,
          Maaf agak terlambat dibalas, pak Sayyid.

          Sepakat pak, bahwa segala sesuatu yg diciptakan oleh Allah selalu melalui proses atas kehendak Allah, yg sering dikenal dgn “Sunnatullah” (hukum sebab-akibat).

          Ringkasnya, Sunnatullah adalah tak-terhitung sgla ‘aturan’ atau ‘rumus proses’ yg TIDAK PERNAH BERUBAH (KEKAL), yg pasti mengatur sgla kejadian di seluruh alam semesta ini, sesuai dgn sgla keadaan alamiah tiap saatnya (lahiriah dan batiniah), pada tiap2 zat ciptaan-Nya.

          Jika suatu zat ciptaan-Nya mengalami keadaan A pada saat tertentu (sebab), maka sejak saat itu pula otomatis berlaku Sunnatullah tertentu, yg hasil prosesnya pasti berupa keadaan A’ misalnya (akibat), atas zat ciptaan-Nya tsb.
          Begitu pula sgla zat ciptaan-Nya lainnya yg juga PERSIS SAMA mengalami keadaan A, pasti mengalami proses dan hasil proses yg sama. Tentunya hal ini dlm asumsi idealnya, krn keadaan pada tiap2 zat ciptaan-Nya blm tentu PERSIS SAMA (sedikit-banyak bisa berbeda).

          Pada kejadian2 mu’jizat misalnya, Sunnatullah yg terkait tetap TDK PERNAH BERUBAH (KEKAL) dan SUDAH ADA, bahkan sejak awal penciptaan alam semesta ini. Namun sgla ‘rumus proses’ dan sgla ‘keadaan’ yg terkait dgn kejadian2 mu’jizat, umumnya relatif hanya menjadi rahasia Allah, bahkan para nabi-Nya terkait belum tentu benar2 telah mengetahuinya.

          Sedangkan terkait dgn proses penciptaan nabi Adam as dan nabi Isa as, juga Sunnatullah yg terkait sebenarnya SUDAH ADA sebelumnya, namun ada berbagai KEADAAN KHUSUS tertentu yg membedakannya dgn proses penciptaan umat manusia lainnya. Hal ini bisa dibaca pada sub-bab “Beberapa keadaan khusus proses kejadian manusia” di atas (https://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/bd_5a/#_Toc280619157).

          Namun berbagai KEADAAN KHUSUS yg terkait dgn proses penciptaan nabi Isa as, belum berani / belum sampai saya kaitkan dgn “makanan dari surga” (seperti disebut dlm ayat QS.3:37). Apa sebenarnya “makanan dari surga” tsb mmg masih menjadi perdebatan antar para alim-ulama.

          Wallahu a’lam.. Salam hormat…

          • sayyid berkata:

            Assalamualaikum wr.wb,
            mas syarif yg saya hormati,
            terimakasih atas penjelasan yg sangat luas ini.
            seperti kita ketahui bahwa nabi isa a.s telah lahir tanpa seorang ayah dan apabila kita lihat perkembangan saat ini,bahwa manusia hanya bisa kloning dari satu jenis ke jenis yg sama, sangat berbeda dengan kejadian nabi isa a.s dari ibunya siti maryam.
            memang benar bahwa kejadian isa a.s tidak difirmankan oleh Allah secara mendetil.
            Bebarapa hari yg lalu pernah saya tanyakan kepada Allah peristiwa penciptaan nabi isa a.s yg luar biasa ini,Allah kata bahwa kejadian nabi isa a.s cukup dengan kata KUN, oleh karena ketaatan maryam kepadaNYA dengan banyak tunduk dan sujud,dengan ini Allah telah menunjukkan kapada saya surat maryam QS.3:43.Allah kata bahwa semua makhluk yg dijadikan adalah sebagai hamba.Jika begitu benarlah firman Allah pada QS5:116
            Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman[15], “Wahai Isa putera Maryam! Kamukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?”. Isa menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.

            Tetapi sayang sekali setelah keduanya wafat, mereka berdua disembah-sembah oleh beberapa kaum.Maha suci Allah yg telah mengetahui masa depan,padahal percakapan Allah dan nabi isa a.s ini adalah mengenai masa depan.

            wassalamualaikum wr.wb,
            sayyid

  5. sayyid berkata:

    Assalamualaikum wr.wb,
    mas syarif yg saya hormati,
    Allah berfirman pada surat Al Baqarah ayat 30.
    Dan ingatlah tatkala Tuhanmu berkata kepada para Malaikat:’Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi . Mereka bekata:’Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman:”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui ” (QS.Al-Baqarah: 30).

    saya ingin memberikan tanggapan sedikit mengenai asal-usul penciptaan manusia melalui firman Allah ini ,ayat demi ayat secara singkat.
    seperti kita ketahui bahawa kata khalifah merujuk kepada kepimpinan.
    Allah hendak menciptakan seorang pemimpin(khalifah) di muka bumi,tetapi para malaikat memperotes dengan mengatakan bahwa khalifah(pemimpin) tersebut akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi.
    apakah yg diketahui oleh para malaikat sehingga mereka memperotes?
    yaitu apabila Allah menciptakan seorang pemimpin di muka bumi, sudah tentu Allah hendak ingin menciptakan seorang makhluk yg nyata, yaitu makhluk yg dapat hidup di bumi dan dapat menikmati hasil usahanya sendiri dari bumi dan semua kebutuhannya dari bumi.
    makhluk ini sudah tentu mempunyai nafsu yaitu nafsu makan ,bekerja dan tentunya berkembang biak.Makhluk nyata ini(khalifah) sudah tentu sangat berbeda dengan para malaikat yg tidak mempunyai nafsu,tugas mereka hanya bertasbih,memuji dan mensucikan Allah saja,tetapi Allah telah mententeramkan kegelisahan mereka dengan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu keteahui”.

    Jadi apakah yg tidak diketahui oleh para malaikat?(lihatlah ayat 33, surat al baqarah dengan hurup besar).
    firman Allah Al Baqarah ayat 31
    Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar! ( Surat Al Baqarah Ayat 31)
    dan ayat 32.
    Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Surat Al Baqarah Ayat 32)

    Dengan kedua ayat ini sangat jelas bahwa Allah telah menciptakan seorang khalifah(pemimpin) yg berbentuk manusia yg sangat cerdas.

    Dengan ayat 33 pada surat Al Baqarah, firman Allah,
    Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “BUKANKAH SUDAH KU-KATAKAN KEPADAMU, BAHWA SESUNGGUHNYA AKU MENGETAHUI RAHASIA LANGIT DAN BUMI DAN MENGETAHUI APA YANG KAMU LAHIRKAN DAN APA YANG KAMU SEMBUNYIKAN?” (Surat Al Baqarah Ayat 33).

    Adam adalah khalifah(pemimpin ) seorang manusia pertama yg berakal cerdas.
    sebelum adam hanya ada tumbuhan dan hewan-hewan saja pada zamannya.
    mengenai teori darwin yg mengatakan bahwa manusia berasal dari monyet adalah tidak benar.

    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid.

    .

    • Syarif Muharim berkata:

      Wa ‘alaikum salam wr.wb.,

      Khusus terkait dgn kisah penciptaan Adam ini, saya tdk ingin membahas dan berkomentar banyak tentang pemahaman2 dari pak Sayyid. Terutama karena saya anggap kisah ini relatif paling ‘misterius’, dibanding kisah2 lainnya dalam Al-Qur’an.
      Kisah ini banyak mengandung muatan simboliknya, dan banyak hal yg menumpuk dalam satu kisah ini saja, misalnya:
      – Bagaimana dan dari apa tiap2 makhluk tercipta.
      – Apa saja keadaan2 pada awal penciptaan dan kehidupan dari tiap2 makhluk.
      – Apa saja kemampuan dan sarana yang diberikan-Nya bagi tiap2 makhluk (terutama terkait dgn akal dan nafsu).
      – Bagaimana penetapan atas kedudukan dari tiap2 makhluk, termasuk penetapan manusia sebagai khalifah di muka Bumi (pemimpin / penguasa).
      – Apa hubungan antar tiap2 makhluk (terutama antara manusia dan para makhluk ghaib).
      – Bagaimana anak2 Adam tercipta / terlahir di muka Bumi.
      – Apa hubungan antara kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.
      – Bagaimana tiap2 makhluk terusir dari Surga.
      – dsb.

      Sehingga dalam mengkaji kisah penciptaan Adam ini, amat diperlukan misalnya:
      – Tingkat kehati-hatian dan kecermatan yg mestinya relatif jauh lebih tinggi.
      – Amat banyak ayat2 terkait, yg mestinya juga ikut dikaji.
      – Hal2 simbolik yg umumnya dipakai guna menjelaskan hal2 ghaib, mestinya tidak hanya dikaji secara harfiah-leterlek.
      – dsb.

      Karena itulah, saya cenderung menyerahkan kepada pemahaman dan keyakinan masing2 umat, dalam mengkaji kisah penciptaan Adam ini, sesuai dengan tingkat pengetahuannya masing2. Terutama karena kisah semacam ini memang relatif amat merepotkan, jika diperdebatkan.

      Insya Allah, bagus2 saja pemahaman2 dari pak Sayyid.

      Saya amat sepakat, “teori darwin yg mengatakan bahwa manusia berasal dari monyet adalah tidak benar”.

      Wallahu a’lam.

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s