Allah Maha Adil, berapapun usia hidup manusia

Allah Maha Adil, berapapun usia hidup tiap manusia

Apabila umat manusia telah cukup memahami alam batiniah ruh (alam pikiran),
ke-Maha Adil-an Allah justru bisa diketahui terjadi tiap saatnya, karena balasan-Nya
secara setimpal atau adil (nikmat dan siksaan-Nya, lahiriah dan terutama batiniah),
memang diberikan-Nya tiap saatnya atas tiap amal-perbuatan manusia.

Allah Maha Adil kepada tiap manusia, berapapun panjang usia hidupnya di dunia ini. Makin panjang usia hidup seseorang, relatif makin banyak dosa yang telah dilakukannya. Namun makin banyak pula tersedia waktu baginya, untuk bisa memperbaiki dosa-dosanya (dengan bersungguh-sungguh bertaubat kepada-Nya).

Juga makin panjang usia hidup seseorang, relatif makin tinggi tingkat kesadarannya dalam berbuat (relatif makin banyak jumlah pengajaran dan tuntunan-Nya yang telah bisa diperolehnya), serta juga relatif makin besar daya-kemampuannya dalam berbuat (relatif makin luas dan kuat pengaruhnya kepada orang lainnya). Namun relatif makin tinggi pula beban tanggung-jawabnya atas tiap amal-perbuatannya (relatif makin besar balasan-Nya). Dimana relatif makin besar pahala-Nya (nikmat-Nya) atas tiap amal-kebaikannya, serta relatif makin besar beban dosa (siksaan-Nya) atas tiap amal-keburukannya. Dan tentunya hal-hal yang relatif sebaliknya apabila makin pendek usia hidupnya.

Atas ijin-Nya, anak-anak yang telah meninggal dunia saat belum usia akil-baliqnya misalnya (belum melakukan dosa pertamanya), justru ia relatif pasti bisa langsung masuk surga. Anak-anak yang belum mencapai usia akil-baliqnya itu memang relatif sama sekali belum memiliki kesadaran dan tanggung-jawab dalam berbuat. Juga karena tiap manusia justru terlahir dengan segala 'keadaan dan fitrah dasar', yang suci-murni dan tanpa dosa. Hal yang relatif serupa bagi orang-orang yang cacat mental, yang sama sekali bukan hasil dari segala amal-perbuatannya sendiri (bukan tertimpa azab-Nya).

Berbagai 'fitrah dasar' itu sebagai bentuk tuntunan-Nya yang paling mendasar pada hati nurani tiap manusia. Termasuk 'fitrah dasar' untuk cenderung mencari dan mengenal Allah Yang telah menciptakannya (memahami kebenaran-Nya). Sedangkan ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis yang terdapat di seluruh alam semesta ini (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya) sebagai bentuk pengajaran-Nya yang paling mendasar.

Melalui alam batiniah ruh atau alam pikirannya, bahkan tiap manusia tiap saatnya selalu mendapat pengajaran dan tuntunan-Nya secara batiniah dari para malaikat. Serta juga tiap manusia tiap saatnya selalu mendapat cobaan atau ujian-Nya secara batiniah dari para syaitan dan iblis (pengajaran-Nya tentang segala sesuatu yang mestinya diwaspadai, dihindari ataupun dilaknati).

Maka bisa dipastikan, tiap manusia telah mendapat berbagai bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya. Bahkan justru pasti telah pula diberikan-Nya kepada orang kafir-musyrik, serta orang yang sama sekali belum pernah mendapat pengajaran dan tuntunan-Nya dari para nabi-Nya, secara langsung ataupun tidak (belum pernah membaca kitab-kitab-Nya, belum pernah diajari oleh para alim-ulama dan orang lainnya, dsb).

Dan persoalannya memang semata terserah atau tertinggal kepada tiap manusianya sendiri, untuk bersedia berusaha memahami segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya dengan sebenar-benarnya, sekaligus pula untuk mengamalkan tiap hasil pemahamannya itu, dalam kehidupannya sehari-hari di dunia ini (melalui segala bentuk amal-kebaikan).

Bahkan lebih penting lagi, berapapun panjang usia hidup tiap manusia, segala nilai amal-perbuatannya justru pasti langsung bisa dihitung-Nya 'tiap saatnya' secara adil, juga termasuk saat ia wafat (saat ruhnya kembali ke hadapan-Nya). Bahkan juga segala bentuk balasan-Nya (nikmat dan siksaan-Nya) justru pasti langsung diberikan-Nya 'tiap saatnya' secara setimpal atau adil, atas tiap amal-perbuatannya 'tiap saatnya' (baik dan buruk).

Namun balasan-Nya secara setimpal atau adil justru bersifat batiniah (pahala-Nya dan beban dosa), sesuai segala proses batiniah tiap manusia dalam berbuat, yang memang relatif amat sulit dipahami oleh umat pada umumnya. Juga segala hal batiniah ini memang hanya kebebasan, kekuasaan dan otoritas sepenuhnya pada tiap manusianya sendiri, yang bisa mengatur atau mengubahnya. Dan tiap amal-perbuatan manusia pasti secara setimpal atau adil mengubah segala keadaan terkait pada alam batiniah ruhnya (alam pikirannya).

Sedangkan balasan-Nya yang bersifat lahiriah, justru biasanya bisa dirasakan relatif kurang setimpal atau adil, karena memang relatif amat dipengaruhi oleh segala keadaan di lingkungan sekitar (lahiriah dan batiniah, meringankan dan memberatkan), dan juga segala keadaan pada tubuh fisik-lahiriah tiap manusianya sendiri. Meskipun balasan-Nya secara lahiriah ini tetap pasti setimpal atau adil, sesuai dengan 'segala' keadaan lahiriah pada tiap manusianya dalam berbuat (pada lingkungan di sekitar dan pada dirinya sendiri).

Dan ke-Maha Adil-an Allah memang terletak pada 'proses' batiniah yang dilakukan oleh tiap manusianya sendiri dalam berusaha atau berbuat, serta sama sekali bukan pada 'hasilnya' (lahiriah dan batiniah). Dimana proses batiniah itu antara lain dipengaruhi oleh: niat, tingkat kesadaran atau pengetahuan, tingkat keimanan, tingkat keterpaksaan, beban ujian-Nya, beban tanggung-jawab, dsb, yang diperhitungkan-Nya dengan seadil-adilnya.

Pengaruh dari segala keadaan lingkungan di sekitar atas tiap manusia (lahiriah dan batiniah), biasanya disebut 'rahmat-Nya' (keadaan yang meringankan) ataupun 'ujian-Nya' (keadaan yang memberatkan). Rahmat dan ujian-Nya sama sekali bukan hasil dari segala amal-perbuatan tiap manusia yang mengalaminya. Dan ujian-Nya sebenarnya sama sekali tidak merugikan, dan rahmat-Nya sebenarnya sama sekali tidak menguntungkan, bagi tiap manusia yang mengalaminya.

Balasan-Nya tetap pasti adil atas tiap amal-perbuatan manusia, terhadap adanya rahmat dan ujian-Nya. Makin berat beban ujian-Nya yang 'sedang' dialami dalam berbuat, makin besar 'pahala-Nya' atas tiap amal-kebaikannya, sebaliknya makin kecil 'beban dosa' atas tiap amal-keburukannya. Sedangkan makin besar rahmat-Nya yang 'sedang' dialami dalam berbuat, makin kecil 'pahala-Nya' atas tiap amal-kebaikannya, sebaliknya makin besar 'beban dosa' atas tiap amal-keburukannya.

Para pemimpin, alim-ulama dan orang yang kaya misalnya (lebih banyak mendapat limpahan rahmat-Nya atau segala bentuk kelebihan lahiriah), justru lebih besar mendapat beban tanggung-jawab. Sedangkan orang-orang yang miskin, yatim-piatu dan cacat fisik misalnya (lebih berat mendapat beban ujian-Nya atau segala bentuk kekurangan lahiriah), justru lebih banyak mendapat segala bentuk kemudahan batiniah (do'anya lebih mudah dikabulkan-Nya, lebih kecil beban tanggung-jawabnya, lebih besar tiap pahala-Nya, dsb).

Penting diketahui, amat keliru pemahaman seperti, "di usia muda untuk bersenang-senang, serta di usia tua untuk banyak bertaubat". Padahal tidak ada seorang manusiapun yang bisa mengetahui panjang usia hidupnya di dunia, serta bisa memastikan hal-hal yang akan bisa dilakukannya nantinya (termasuk dalam bertaubat).

Justru relatif 'tiap saatnya', tiap manusia mestinya bisa berbuat sebaik-baiknya di kehidupan dunianya, berdasar tiap pengajaran dan tuntunan-Nya yang telah dipahaminya, sesuai dengan tingkat pengetahuan, keadaan dan kemampuannya masing-masing.

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang ke-Maha adil-an Allah kepada segala makhluk-Nya (dengan segala: jenis makhluk; panjang usia hidup; tingkat pengetahuan dan kemampuan; keadaan dan kedudukan lahiriah; beban ujian-Nya; beban tanggung-jawab; dsb), sesuai dengan tugas-amanat-peran dan amal-perbuatannya masing-masing.

Wallahu a'lam bishawwab.

Artikel / buku terkait:

Beranda: "Islam, agama universal"

Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

Tentang Syarif Muharim

Alumni Teknik Mesin (KBK Teknik Penerbangan) - ITB - angkatan 1987 Blog: "islamagamauniversal.wordpress.com"
Pos ini dipublikasikan di Hikmah, Saduran buku dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s