Bagaimana cara Allah berbuat di alam semesta ini

Bagaimana cara Allah berbuat di alam semesta ini

Berapa jumlah umat Islam yang masih menganggap, bahwa Allah bisa berbuat, misalnya:
tidak baik, tidak adil, pilih-kasih, sekehendak, sewenang-wenang, semena-mena, zalim,
aniaya, dsb?. Subhaanallah, 'masih banyak', yang terutama diketahui dari sejumlah
pemahaman pada sebagian aliran-mazhab-golongan di kalangan umat Islam.
Hal ini menunjukkan, bahwa umat Islam ataupun umat manusia belum
benar-benar memahami, bagaimana cara Allah berbuat di alam
semesta ini, melalui 'Sunatullah' (Sunnah Allah).

Sesuatu zat bisa dikenal atau diketahui oleh zat lainnya, jika zat itu memiliki 'esensi' dan 'perbuatan'. Jika salah-satu darinya ('esensi' atau 'perbuatan'), tidak bisa diungkapkan, diterangkan atau ditunjukkan oleh zat lainnya, maka zat itu memang 'tidak ada' (tidak ada wujudnya). Dalam berusaha mengamati dan menelaah alam semesta ini, terutama tentang Allah, Tuhan Yang telah menciptakannya, Yang menjadikannya tetap tegak-kokoh sampai sekarang ini, dan Yang tiap saatnya pasti selalu mengatur segala sesuatu hal di dalamnya, tentunya umat manusia justru sama sekali tidak bisa melihat atau mengetahui 'esensi' dari Zat Allah, Yang bersifat Maha Gaib.

Bahkan Zat Allah juga bersifat Maha Suci dan tersucikan dari segala sesuatu halnya, termasuk mustahil bisa dijangkau oleh alat-alat indera lahiriah dan batiniah pada tiap umat manusia (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, hati / kalbu, dsb), di dunia ataupun di akhirat. Alat-alat indera pada tiap makhluk-Nya justru hanya semata bisa menjangkau segala hal, yang terdapat di alam semesta ini, berupa segala zat ciptaan-Nya (nyata dan gaib, hidup dan mati), dan segala kejadiannya (lahiriah dan batiniah). Bahkan akal tiap makhluk-Nya, yang bisa menjangkau segala hal 'di luar' alam semesta ini ('di luar' informasi dari alat-alat inderanya), juga mustahil bisa menjangkau Zat Allah. Bahkan tidak ada satupun ayat kitab suci Al-Qur'an, yang menyebutkan 'langsung' tentang Zat Allah (hanya ada disebut tentang berbagai perbuatan, kehendak dan sifat Allah).

Namun umat manusia justru masih bisa mengenal atau mengetahui 'perbuatan' dari Zat Allah di alam semesta ini, yang berupa segala proses kejadian (lahiriah dan batiniah), yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah). Karena kedua sifat ini adalah ukuran yang paling mendasar dan utama, yang justru membedakan antara perbuatan Allah dan perbuatan segala makhluk-Nya di alam semesta ini. Sebaliknya perbuatan makhluk-Nya bersifat 'relatif' (tidak pasti terjadi / berlaku) dan 'fana' (tidak konsisten / berubah-ubah). Kedua sifat mendasar ini, lalu lebih umum dikenal sebagai sifat-sifat "Maha Kuasa" dan "Maha Kekal" pada Zat Allah.

Sekali lagi, hanya semata dari sifat-sifat 'mutlak' dan 'kekal' ini, umat manusia bisa mengenal berbagai perbuatan Allah di alam semesta ini. Dari segala perbuatan Allah yang telah dikenal, lalu bisa dikenal berbagai kehendak Allah. Serta dari segala kehendak Allah yang telah dikenal, lalu bisa dikenal berbagai sifat Allah. Seluruh perbuatan, kehendak dan sifat-Nya tentunya juga pasti bersifat 'mutlak' dan 'kekal'. Dan sekali lagi, seluruh sifat-Nya ini sama sekali bukan tentang 'esensi' Zat Allah, namun tentang 'perbuatan' Zat Allah.

Usaha dan proses pengenalan seperti ini juga telah dilakukan oleh nabi Muhammad saw, yang lalu mengungkap keseluruhan sifat-Nya yang bisa diketahuinya, melalui Asmaul Husna (nama-nama terbaik yang hanya milik Allah). Bahkan proses pengenalan yang amat dikenal oleh umat Islam, dan disebut langsung di dalam kitab suci Al-Qur'an, adalah proses yang dialami oleh nabi Ibrahim as, ketika mencari dan mengenal Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Pencipta alam semesta ini (pada QS.6:74-83).

Segala perbuatan Allah di seluruh alam semesta ini (pada aspek lahiriah dan aspek batiniah), pada dasarnya telah umum dikenal oleh umat Islam sebagai 'sunatullah' (Sunnah Allah). Sedangkan 'hukum alam' (law of nature) yang telah umum dikenal oleh masyarakat dunia, biasanya lebih dikaitkan dengan sunatullah pada aspek lahiriah.

Namun amat ironisnya, sebagian dari umat Islam justru memisahkan, membedakan atau bahkan saling mempertentangkan, antara 'perbuatan Allah' dan 'sunatullah'. Misalnya pada pemahaman mereka, seperti "sunatullah atau hukum alam justru telah mengurangi atau membatasi kekuasaan Allah". Padahal sunatullah itu sendiri memang bukti kekuasaan Allah. Padahal makna istilahnya cukup jelas, 'Sunatullah' (Sunnah Allah) adalah perbuatan Allah. Serupa dengan 'Sunnah Nabi' adalah perbuatan nabi Muhammad saw (berupa lisan, sikap dan perbuatannya, di luar kandungan isi kitab suci Al-Qur'an).

"Sebagai suatu sunatullah (sunnah Allah) yang telah berlaku, sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan dan penyimpangan bagi sunatullah itu." – (QS.48:23) dan (QS.33:62, QS.35:43).

"… dan sesungguhnya, telah berlalu sunatullah (sunnah Allah), terhadap orang-orang yang terdahulu." – (QS.15:13) dan (QS.40:85, QS.3:137, QS.8:38).

"…Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.", "Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi, tentang apa yang telah ditetapkan-Nya baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunatullah (sunnah Allah) pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku," – (QS.33:37-38) dan (QS.77:7, QS.78:39).

Namun penting diketahui, bahwa pembedaan antara sifat-sifat perbuatan Allah dan perbuatan segala makhluk-Nya di atas, pada dasarnya bersifat umum. Karena perwujudan atas segala perbuatan Allah di alam semesta ini (pelaksanaan sunatullah), justru dilakukan 'bukan langsung' oleh Allah sendiri, tetapi oleh segala makhluk-Nya (bahkan termasuk oleh iblis dan manusia yang paling kafir sekalipun). Maka dalam blog ini, segala perbuatan Allah di alam semesta ini, sering disebut "'melalui' sunatullah" (bukan langsung oleh Allah).

Lebih jelasnya lagi, segala bentuk perbuatan tiap makhluk-Nya tiap saatnya, pada dasarnya bisa terdiri dari: perbuatan 'bebas' dan perbuatan 'tak-bebas'. Perbuatan 'bebas' berasal dari segala 'kebebasan', yang telah diberikan-Nya bagi tiap makhluk-Nya (dengan diciptakan-Nya 'akal' dan 'nafsu-keinginan'). Sedangkan perbuatan 'tak-bebas' berasal dari segala 'fitrah dasar', yang telah ditanamkan-Nya pada zat ruh tiap makhluk-Nya, pada saat awal penciptaan zat ruhnya itu sendiri. Ringkasnya, ada berbagai perbuatan yang 'bebas' dilakukan oleh tiap makhluk-Nya, serta ada pula berbagai perbuatan yang 'tak-bebas' dan 'pasti' dilakukannya, dalam berbagai keadaan tertentu (secara sadar ataupun tidak). Maka segala bentuk perbuatan yang 'tak-bebas' dan 'pasti' dilakukan oleh segala makhluk-Nya di alam semesta ini, yang justru mewujudkan segala perbuatan Allah.

Namun untuk bisa 'meringkas' dan 'menyederhanakan' penjelasan atas hal itu, maka di dalam kitab suci Al-Qur'an biasanya disebut, bahwa perwujudan atas segala perbuatan Allah di alam semesta ini (pelaksanaan sunatullah), justru dilakukan ataupun dikawal oleh tak-terhitung jumlah para malaikat-Nya, dalam "mengatur segala sesuatu urusan Allah di alam semesta ini". Termasuk karena para malaikat-Nya memang pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah-Nya. Serta jumlah para malaikat-Nya memang tak-terhitung kali jumlah makhluk nyata, termasuk seluruh umat manusia (peranan para malaikat-Nya dalam pelaksanaan sunatullah jauh lebih dominan, dan meliputi seluruh alam semesta ini).

Lebih lanjutnya lagi, segala perintah-Nya kepada para malaikat-Nya, justru hanya diberikan-Nya 'sekali' saja (pada saat awal penciptaan zat ruhnya masing-masing), dengan ditanamkan-Nya segala 'fitrah dasar' pada tiap zat ruhnya itu. Dan baca pula pelaksanaan sunatullah dikawal oleh tak-terhitung jumlah malaikat, untuk penjelasan atau uraian yang lebih lengkapnya.

"dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi atau mengatur urusan(-Nya)," – (QS.51:4) dan (QS.79:5).

"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril, dengan ijin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan(-Nya)." – (QS.97:4).

"Demi malaikat-malaikat yang diutus(-Nya) untuk membawa kebaikan dan menyebarkan (segala rahmat-Nya) dengan seluas-luasnya," – (QS.77:1) dan (QS.77:3).

"Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu, dengan perintah-Nya, kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, …" – (QS.16:2).

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat, yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah-Nya. …" – (QS.13:11).

"… (Neraka) Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." – (QS.66:6).

Sebagai sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', tentunya sunatullah juga bisa disebut 'aturan, hukum, ketentuan atau ketetapan-Nya'. Karena sunatullah memang pasti tiap saatnya selalu mengatur segala proses kejadian, atas segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini, sesuai dengan segala keadaan lahiriah dan batiniahnya masing-masing, tiap saatnya. Maka sunatullah justru bersifat 'alamiah' (sesuai segala keadaan tiap saatnya pada tiap zat ciptaan-Nya) dan 'universal' (pasti berlaku sama sejak awal penciptaan alam semesta sampai akhir jaman), di samping itu juga bersifat amat sangat teratur, halus, tidak kentara dan seolah-olah terjadi begitu saja. Serta sunatullah berupa tak-terhitung jumlah aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah) di seluruh alam semesta ini.

Pemahaman atas sunatullah justru amat penting, agar bisa mengenal tiap kehendak dan sifat-Nya, serta bisa memahami ajaran-ajaran agama-Nya secara utuh dan mendalam. Bahkan pemahaman atas sunatullah relatif paling dikuasai oleh para nabi-Nya, dibanding seluruh umat manusia lainnya di tiap jamannya, terutama karena mereka memang relatif amat sering mengamati dan mempelajari tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah).

Sunatullah sebagai aturan atau hukum-Nya, untuk mengatur seluruh alam semesta ini, tentunya berbeda daripada 'aturan atau hukum syariat', untuk mengatur umat-umat yang beriman kepada ajaran-ajaran agama-Nya. Termasuk sunatullah bersifat 'memaksa' atau 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku). Sedangkan aturan atau hukum syariat bersifat 'tidak memaksa' (berupa anjuran atau keredhaan-Nya untuk diikuti oleh tiap umat manusia, bagi keselamatan, kebahagiaan dan kemuliaannya sendiri, bukan demi kepentingan Allah). Juga sunatullah bersifat 'netral' (bisa menguntungkan atau merugikan bagi tiap makhluk-Nya). Sedangkan aturan atau hukum syariat bersifat 'menguntungkan' bagi tiap umat manusia.

Adapun pola pelaksanaan sunatullah ditunjukkan secara amat umum dan sederhana pada gambar berikut. Input-masukan bagi rumus proses dalam sunatullah, berupa segala keadaan lahiriah dan batiniah 'tiap saatnya', yang sedang dialami oleh tiap zat ciptaan-Nya, baik segala keadaan pada dirinya sendiri, maupun pada lingkungan di sekitarnya. Berbagai keadaan awal ini bisa diusahakan untuk diubah-ubah oleh tiap makhluk-Nya, hanya 'sesaat sebelum' mulai berlakunya sunatullah 'tiap saatnya', atas zat itu.

Serta hanya 'sesaat setelah' berlakunya sunatullah, maka zat itupun lalu mengalami segala keadaan yang baru (keadaan akhir), sebagai hasil atau output-keluaran dari rumus proses dalam sunatullah. Hasil atau keadaan akhir ini tentunya juga ikut mengubah segala keadaan terkait pada lingkungan di sekitarnya. Hasil atau keadaan akhir ini, adalah bentuk balasan-Nya secara setimpal 'tiap saatnya', atas tiap perubahan keadaan awal pada zat itu. Dan balasan-Nya 'tiap saatnya' ini juga telah biasa dikenal sebagai 'qadla-Nya' bagi zat itu.

Gambar diagram sederhana fungsi sunatullah

Dengan seluruh sifat-Nya yang 'mutlak' dan 'kekal' itu, tentunya mestinya mustahil segala perbuatan Allah di alam semesta ini (melalui sunatullah), bisa dianggap atau dinilai, misalnya: tidak baik, tidak adil, pilih-kasih, sekehendak, sewenang-wenang, semena-mena, zalim, aniaya, dsb. Hal-hal seperti ini mestinya hanya semata diperoleh, dari menilai segala perbuatan yang bersifat 'relatif' (tidak pasti terjadi / berlaku) dan 'fana' (tidak konsisten / berubah-ubah), yang berasal dari kebebasan pada segala makhluk-Nya.

Bahkan Allah mustahil memilih, menunjuk atau mengutus beberapa umat manusia tertentu yang 'dikehendaki-Nya' (termasuk para nabi-Nya), sama sekali tanpa ada usaha yang 'setimpal' dari tiap umat itu sendiri. Allah hanya semata berkehendak bagi seseorang umat, jika umat itu sendiri memang menghendakinya dan telah berusaha secara 'setimpal'. Walaupun dalam berusaha, tentunya tiap umat juga menghadapi segala bentuk ujian-Nya (memberatkan) dan menerima segala bentuk rahmat-Nya (meringankan), secara lahiriah dan batiniah, akibat pengaruh dari segala keadaan di lingkungan sekitarnya. Segala bentuk ujian dan rahmat-Nya (lahiriah dan batiniah), adalah bagian dari kehendak-Nya. Sehingga pada segala kehendak dan perbuatan umat manusia, justru tiap saatnya pasti selalu diikuti oleh kehendak dan perbuatan Allah (melalui sunatullah).

"…. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan, yang ada pada diri mereka sendiri. …" – (QS.13:11).

"…. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. …" – (QS.3:145).

Berbagai gambaran sederhana, tentang peranan sunatullah (perbuatan Allah), pada tiap perbuatan manusia tiap saatnya. Dan baca pula topik "perbuatan segala makhluk-Nya, bukan perbuatan Allah", di samping pada topik-topik "daya dukungan dari lingkungan bagi manusia", "pengaruh daya atau perbuatan Allah bagi manusia", "pengaruh ujian-Nya atas kemampuan manusia" dan "ke-Maha Adil-an-Nya pada aspek batiniah, bukan lahiriah", untuk penjelasan yang lebih lengkapnya.

Gambar diagram siklus proses sesaat fungsi sunatullah

Gambar diagram siklus proses sesaat perbuatan manusia

Gambar diagram pemakaian daya pada perbuatan manusia

Hal yang paling pokok dari gambar-gambar di atas, bahwa tiap daya dan perbuatan manusia tiap saatnya pasti selalu dibantu, diikuti ataupun disertai oleh daya dan perbuatan Allah (melalui sunatullah), sebagai bentuk 'rahmat-Nya' (memudahkan manusia menjalani kehidupannya) dan sekaligus sebagai bentuk pemberian 'balasan-Nya' secara setimpal tiap saatnya (nikmat dan hukuman-Nya, lahiriah dan batiniah), atas perbuatan manusianya itu. Segala makhluk-Nya lainnya tentunya juga pasti mengalami hal yang relatif serupa, sesuai dengan segala keadaan lahiriah dan batiniahnya masing-masing.

Dan balasan-Nya secara setimpal tiap saatnya, justru lebih jelas bisa dirasakan pada aspek batiniahnya (pahala-Nya dan beban dosa), karena memang pasti 'murni' berasal dari atau sesuai dengan isi pikiran tiap manusia pelaku sesuatu perbuatan, seperti: niat (tauhid, maksud-tujuan dan dalil-alasan), tingkat kesadaran atau pengetahuan, tingkat keimanan, beban tanggung-jawab, tingkat keterpaksaan, beban ujian-Nya, dsb. Namun balasan-Nya pada aspek lahiriahnya (rejeki-Nya), justru bisa dirasakan tidak setimpal, karena memang dipengaruhi pula oleh segala keadaan lahiriah dan batiniah di lingkungan sekitarnya (ujian dan rahmat-Nya).

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang Sunatullah (sifat proses) dan Beberapa keterangan penting lain tentang sunatullah, di samping dari topik-topik terkait lainnya dalam buku ini.

Wallahu a'lam bishawwab.

Artikel / buku terkait:

Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

Tentang Syarif Muharim

Alumni Teknik Mesin (KBK Teknik Penerbangan) - ITB - angkatan 1987 Blog: "islamagamauniversal.wordpress.com"
Pos ini dipublikasikan di Hikmah, Saduran buku dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Bagaimana cara Allah berbuat di alam semesta ini

  1. Boby berkata:

    Tulisan yang sangat menarik. Saya ingin menanyakan dimana letak peran doa dan hubungannya dengan firman Allah “Ud’unii fasjatiblakum” apa arti doa itu dan bagaimana hubungannya dengan sunnatullah

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s