Bab I Pendahuluan

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

"Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi,
dan silih bergantinya malam dan siang,
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,"
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri,
duduk atau dalam keadaan berbaring.
Dan mereka memikirkan (bertafakur) tentang penciptaan langit dan bumi,
(seraya berkata): "Ya Rabb-kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."
(QS. ALI IMRAN:3:190-191).

"Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar.
Dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya.
Dan mereka tidak akan dirugikan."
(QS. AL-JAATSIYAH:45:22).

 

I.

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam semesta ini, atas segala nikmat dan karunia-Mu, khususnya segala hikmah dan hidayah-Mu, agar kami hamba-Mu bisa terus-menerus mengingat dan memuji-Mu. Shalawat bagi utusan-Mu, Nabi Muhammad saw, beserta seluruh keluarganya, para sahabatnya, para pembantu setianya pada jamannya, dan para khalifah sepeninggalnya.
Semoga Engkau selalu menganugerahkan bagi hamba-hamba-Mu segala pengetahuan yang baik-baik, yang semakin mendalam dan sempurna, agar semakin meningkatkan pemahaman atas ajaran-ajaran agama-Mu yang lurus (keimanan batiniahnya), agar bisa dipakai untuk mendukung dan memperkuat pengamalannya (keimanan lahiriahnya).

Terminologi pada judul buku ini

Judul dari buku ini "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW (Al-Hikmah yang terlupakan): Tindakan-Nya pada penciptaan manusia dan alam semesta ini, melalui Sunatullah", barangkali bahkan dianggap oleh sebagian umat Islam, ada tampak mengandung berbagai terminologi yang jarang dikenal dan juga bisa mengherankannya.

Berbagai terminologi yang terdapat pada judul buku ini, seperti misalnya:

a. "Al-Hikmah yang terlupakan"
b. "Pemikiran Rasulullah SAW".
c. "Menggapai Kembali".
d. "Tindakan-Nya di alam semesta, melalui Sunatullah".
e. "Penciptaan manusia dan alam semesta ini".

 

Uraian-uraian secara ringkasnya diungkap dalam tabel berikut. Sedang uraian-uraian terkait yang lebih detail dan lengkap, bisa dibaca pada bab-bab pembahasan pada buku ini (bab II s/d bab VII), ataupun pada bagian-bagian lainnya.

a.

"Al-Hikmah yang terlupakan"

 

Sebagaimana disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, bahwa seluruh para nabi dan rasul-Nya diberikan-Nya ilmu, Al-Hikmah dan kenabian. Sedangkan ada sebagian dari para nabi-Nya, yang juga diberikan-Nya Al-Kitab (kitab-Nya atau kitab tauhid).

"Mereka (para nabi) itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al-Kitab, Al-Hikmah dan kenabian. …" – (QS.6:89) dan (QS.3:79, QS.3:48, QS.3:81, QS.29:27, QS.57:26, QS.2:129, QS.2:151, QS.2:231, QS.2:251, QS.3:164, QS.4:54, QS.4:113, QS.5:110, QS.62:2).

"Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah dan pengetahuan (atau ilmu). …" – (QS.28:14) dan (QS.7:134, QS.12:22, QS.21:74, QS.21:79, QS.19:12, QS.31:12, QS.33:34, QS.38:20).

"(Ibrahim berdo'a): 'Ya Rabb-ku, berikanlah kepadaku hikmah, …" – (QS.26:83).

"Allah memberi hikmah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah-Nya, sungguh telah diberi-Nya kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang-orang yang berakal (menggunakan akalnya)." – (QS.2:269).

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, tanpa hikmah. …" – (QS.38:27).

"Dan tatkala Isa datang membawa keterangan, dia berkata: 'Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah, dan untuk menjelaskan kepadamu, sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertaqwakah kepada Allah dan taatlah (kepada)ku." – (QS.43:63).

 

Di lain pihak, malaikat mulia Jibril yang amat cerdas dan amat terpercaya itu, justru telah menurunkan wahyu-Nya melalui dada, hati atau pikiran para nabi-Nya (melalui alam pikiran atau alam batiniah ruh para nabi-Nya).

"Dan sesungguhnya, Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam,", "dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),", "ke dalam hatimu (Muhammad), agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan," – (QS.26:192-194).

"Katakanlah: 'Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkan (Al-Qur'an) ke dalam hatimu (Muhammad), dengan seijin-Nya. …'." – (QS.2:97).

"Berkatalah orang-orang kafir: 'Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) sekali turun saja?'. Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu (Muhammad) dengannya (Al-Qur'an), dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)." – (QS.25:32).

"Sebenarnya, Al-Qur'an itu adalah ayat-ayat-Kami yang nyata, di dalam dada orang-orang yang telah diberikan ilmu. …" – (QS.29:49).

 

"Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepada umatnya),", "yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat (hujjahnya),", "yang mempunyai akal yang cerdas. Dan …" – (QS.53:4-6).

"sesungguhnya, Al-Qur'an itu benar-benar firman(-Nya, yang dibawakan oleh) utusan yang mulia (Jibril)," – (QS.81:19).

 

Menurut pemahaman pada buku ini, istilah-istilah 'ilmu-pengetahuan', 'Al-Hikmah', 'kenabian' dan 'Al-Kitab' tersebut di atas, masing-masing memiliki pengertian sebagai berikut: (pada berbagai buku dan tulisan lain, pengertiannya juga bisa berbeda-beda tentunya).

~

'Ilmu-pengetahuan' adalah segala hasil usaha manusia dalam memahami segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadiannya di alam semesta, dengan segala tingkat kedalaman, obyektifitas dan kebenaran pemahamannya.

Maka ruang lingkup 'ilmu-pengetahuan' amat umum dan luas (seperti menyangkut hal-hal lahiriah dan batiniah, nyata dan gaib, mutlak dan relatif, kekal dan tak-kekal, universal dan temporer, dsb), serta juga 'belum tentu' menyangkut berbagai hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan manusia (hal-hal gaib dan batiniah).

~

'Al-Hikmah' adalah tingkat pengetahuan yang paling tinggi tentang kebenaran-Nya di alam semesta ini (bersifat 'kekal', 'mutlak', 'gaib' dan 'universal'), khususnya tentang berbagai hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan manusia pada setiap jamannya (hal-hal gaib dan batiniah).

'Al-Hikmah' berupa setiap ilmu-pengetahuan yang diperoleh secara 'amat obyektif dan mendalam', berdasar segala fakta-kenyataan-kebenaran di alam semesta (lahiriah dan batiniah), secara apa adanya (tanpa ditambah ataupun dikurangi).

Setiap 'Al-Hikmah' semestinya bersifat 'universal' (atau bisa melewati batas ruang, waktu dan konteks budaya), sehingga bisa dipakai dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun. Setiap 'Al-Hikmah' juga bersifat relatif rumit, detail, lengkap, tidak praktis-aplikatif dan tidak aktual. Serta mengandung segala dalil-alasan dan penjelasan yang relatif lengkap, kokoh-kuat dan meyakinkan, walau biasanya relatif sulit dijelaskan.

Dan 'Al-Hikmah' tentang sesuatu hal tertentu mestinya relatif sama dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman.

~

'Kenabian' adalah bangunan segala pemahaman 'Al-Hikmah' yang telah tersusun relatif amat lengkap (sesuai jamannya), mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan.

Sehingga 'kenabian' adalah tingkat pemahaman yang relatif paling 'tinggi dan sempurna', yang mampu dicapai oleh umat manusia pada setiap jamannya, tentang berbagai kebenaran-Nya di alam semesta ini. Dan pemilik pemahaman 'kenabian' biasanya disebut 'nabi-Nya'.

Tentu saja 'kenabian' disertai pula dengan pengamalan amat konsisten atas segala pemahaman tersebut, terutama di dalam melayani umat, sebagai wujud pengabdiannya kepada Allah. Termasuk di dalam memberi segala pengajaran dan tuntunan-Nya, serta menjadi contoh suri-teladan atau panutan umat.

Menurut anggapan pada buku ini, kesempurnaan pemahaman seperti itu (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan keseluruhannya), adalah ukuran yang menunjukkan, bahwa kebenaran 'relatif' milik seorang manusia telah amat dekat atau amat sesuai dengan kebenaran 'mutlak' milik Allah di alam semesta ini.
Kesempurnaan ini juga membedakan perolehan 'Al-Hikmah' pada para nabi-Nya dan pada manusia biasa lainnya dari hasil usahanya masing-masing. Serta membuat setiap 'Al-Hikmah' pada para nabi-Nya bisa disebut 'wahyu-Nya', namun tidak pada manusia biasa lainnya (tetap disebut 'Al-Hikmah' saja).

Sedang proses perolehannya sendiri persis sama pada setiap manusia, melalui akal dan usaha relatif amat keras. Tentunya juga melalui perantaraan para makhluk gaib, yang setiap saat pasti selalu mengikuti setiap manusia, pada alam pikirannya (memberi segala bentuk ilham yang benar dan yang sesat).

~

'Al-Kitab' adalah hasil 'rangkuman' atas segala pemahaman 'Al-Hikmah' tentang berbagai hal, yang telah ditulis, diucap ataupun diungkap oleh para nabi-Nya (melalui tulisan, lisan, sikap dan contoh-perbuatannya, seperti kitab suci Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Nabi). 'Al-Kitab' adalah hasil usaha para nabi-Nya, agar bisa menjawab berbagai keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umat kaumnya (dan bahkan seluruh umat manusia), terutama yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupannya (hal-hal gaib dan batiniah).

Setiap 'Al-Kitab' bersifat relatif sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual. Serta relatif tidak perlu ada mengandung segala dalil-alasan dan penjelasan yang lengkap, kokoh-kuat dan meyakinkan, karena memang ditujukan agar relatif bisa mudah dipahami dan diamalkan oleh umat pada umumnya.

Dari sifat-sifatnya, secara umum sunnah atau hadits dari para nabi-Nya pada dasarnya juga termasuk 'Al-Kitab' ('Al-Hikmah' yang telah terungkap), bukan hanya berupa kitab-kitab-Nya. Walau 'Al-Kitab' memang paling tepat ditujukan bagi kitab-kitab-Nya, karena langsung disampaikan oleh para nabi-Nya.

 

Dari pengertian istilah-istilah di atas, sekilas juga tampak menunjukkan tingkat kesempurnaan pengetahuan yang semakin meningkat, secara berurutan dari ilmu-pengetahuan, Al-Hikmah, kenabian sampai Al-Kitab. Meski istilah dan konteks pemakaian masing-masing memang kuranglah tepat disetarakan, karena juga menyangkut hal-hal lain di luar pengetahuannya sendiri. Di mana setiap Al-Hikmah adalah pengetahuan yang relatif sempurna atas suatu hal tertentu saja. Setiap kenabian adalah gabungan seluruh pengetahuan yang relatif sempurna beserta pengamalannya. Dan setiap 'Al-Kitab' adalah pengungkapan atas hasil rangkuman dari seluruh pengetahuan yang relatif sempurna, agar bisa menjawab segala persoalan umat yang paling penting, mendasar dan hakiki.

Segala wahyu-Nya yang diturunkan atau diilhamkan oleh malaikat Jibril, pada awalnya justru telah berubah menjadi segala pemahaman 'Al-Hikmah' dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya, sebelum mereka menyampaikannya kepada umat kaumnya (atau bahkan kepada seluruh umat manusia), pada jamannya masing-masing (menjadi 'Al-Kitab' atau 'wahyu-Nya yang diwahyukan'), sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya.
Lebih jelasnya, segala wahyu-Nya justru telah mengalami berbagai transformasi, dari bentuk awalnya dari Allah, sampai ke bentuknya yang diterima atau dikenal oleh umat manusia saat ini (ayat-ayat pada kitab-kitab-Nya), sebagai berikut:

1.

'Fitrah Allah' (sifat-sifat terpuji dan termulia Allah, sebagian dari keseluruhan sifat mutlak dan kekal Allah), yang hendak ditunjukkan-Nya kepada segala zat makhluk-Nya, agar bisa mengenal-Nya dengan segala kemuliaan dan kekuasaan-Nya, dan juga bisa mengabdikan dirinya kepada-Nya.

Hal ini belum berbentuk atau berwujud (hanya berupa pilihan dan kehendak-Nya atas sifat-sifat-Nya sendiri). Dan tentunya sesuai sifat-Nya, juga bersifat Maha gaib dan Maha kekal.

2.

'Tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya', tak-terhitung jumlahnya dan terkandung di seluruh alam semesta ini, serta berupa segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadiannya. Walau kekekalan ini hanya sebatas kekekalan umur alam semesta.

Hal inipun telah berbentuk atau berwujud, tetapi tersembunyi dalam berbagai hal di seluruh alam semesta ini. Dan tentunya bersifat gaib-tersembunyi dan universal.

Hal inilah bentuk wahyu, sabda, kalam atau firman-Nya yang sebenarnya (bentuk paling dasar atau awalnya), sebagai hasil perwujudan dari Fitrah Allah. Dan biasa disebut pula sebagai "segala pengetahuan atau kebenaran-Nya di alam semesta", "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "wajah-Nya", "kitab-kitab-Nya yang berbentuk gaib, dan telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya", dsb.

3.

Tiap 'Al-Hikmah', yang telah menyusun pemahaman kenabian pada para nabi-Nya (pemahaman yang relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan). Tiap 'Al-Hikmah' itu bisa diperoleh setelah mereka menerima berbagai jenis ilham, yang mengandung nilai-nilai kebenaran dari malaikat Jibril, saat mereka sedang mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini.

Hal ini berbentuk berbagai pengetahuan tentang tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya. Dan bersifat gaib (berupa isi pikiran), fana (hanya sebatas umur para nabi-Nya) dan universal.

4.

Tiap ayat 'Al-Kitab', dari hasil pengungkapan atas rangkuman seluruh pemahaman Al-Hikmah pada para nabi-Nya, terutama untuk bisa menjawab persoalan umat yang penting, mendasar dan hakiki. Biasa disebut sebagai ayat-ayat-Nya yang tertulis, terucap atau terungkap, serta terutama berupa ayat-ayat pada kitab-kitab-Nya. Pada dasarnya juga termasuk sunnah-sunnah para nabi-Nya (atau bentuk tertulisnya hadits-hadits), sebagai contoh pengamalan langsung atas ayat-ayat kitab-Nya.

Hal ini berbentuk tulisan, lisan, sikap dan contoh-perbuatan dari para nabi-Nya. Dan bersifat fana (sebatas perkembangan kehidupan umat), nyata, praktis-aplikatif dan aktual.

 

"Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Rabb kepadamu (hai manusia). …" – (QS.17:39).

"Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menjelaskan,", "sesungguhnya, Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya, Kami-lah yang memberi peringatan.", "Pada malam itupun dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah," – (QS.44:2-4).

"Dan sesungguhnya, Al-Qur'an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya), dan sangat banyak mengandung hikmah." – (QS.43:4) dan (QS.3:58, QS.36:2).

"Inilah ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung hikmah," – (QS.31:2) dan (QS.10:1).

 

"Katakanlah: 'Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku (umat Muhammad), …" – (QS.6:145).

"Dan demikianlah, Kami wahyukan kepadamu (hai umat Muhammad) wahyu, dengan perintah Kami. …" – (QS.42:52).

"Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepada umatnya)," – (QS.53:4).

 

Sehingga segala pemahaman Al-Hikmah yang mendasari sesuatu kenabian, justru pada dasarnya hanya tersimpan di dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya. Segala pemahaman Al-Hikmah tentunya juga mendasari kitab-kitab-Nya dan sunnah-sunnah dari para nabi-Nya (tulisan, lisan, sikap dan contoh-perbuatannya).

Pada saat ini di dalam pembahasan tentang kitab suci Al-Qur'an dan hadits Nabi (sunnah Nabi), sebagian dari umat Islam seolah-olah telah melupakan segala pemahaman Al-Hikmah pada nabi Muhammad saw, bahkan cenderung menyederhanakan dan menyebutkan 'sunnah Nabi' sebagai 'Al-Hikmah pada Nabi'.
Padahal berbagai istilah ilmu, Al-Hikmah, kenabian dan Al-Kitab, sering disebut secara bersamaan di dalam kitab suci Al-Qur'an. Bahkan Al-Hikmah juga termasuk salah-satu dari bentuk wahyu-Nya (pada uraian dan QS.17:39 di atas), sebelum menjadi bentuk wahyu-Nya yang biasanya dikenal oleh umat (ayat-ayat Al-Qur'an). Dan padahal Al-Hikmah relatif sangat berbeda sifat-sifatnya daripada sunnah Nabi, terutama karena setiap Al-Hikmah mengandung segala dalil-alasan dan penjelasannya, namun relatif tidak ada ataupun amat terbatas pada sunnah atau hadits Nabi.

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu, Rasul di antara (kalangan)mu, yang membacakan ayat-ayat-Kami kepadamu dan mensucikanmu, dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepadamu, apa yang belum kamu ketahui." – (QS.2:151) dan (QS.2:129, QS.2:231, QS.6:89, QS.3:79, QS.3:48, QS.3:81, QS.29:27, QS.57:26, QS.2:251, QS.3:164, QS.4:54, QS.4:113, QS.5:110, QS.62:2).

 

Dan 'Al-Hikmah' sering pula disebut sebagai 'hikmah dan hakekat kebenaran-Nya', 'petunjuk-Nya', 'hikmah dan hidayah-Nya', 'makrifat', 'makna yang sebenarnya', dsb.

Walaupun hikmah dan hidayah-Nya ini sering pula terlalu disederhanakan menjadi seperti "telah lebih dekat kepada-Nya", "telah kembali kepada-Nya", "telah mulai mau beribadah", dsb. Padahal di lain pihaknya, pemahamannya sendiri justru belumlah mencapai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (atau makna yang sebenarnya), 'di balik' teks ajaran-ajaran agama-Nya.

b.

"Pemikiran Rasulullah SAW"

 

Amat jarang para alim-ulama yang mau mengakui, bahwa wahyu-Nya diturunkan oleh malaikat Jibril, melalui akal-pikiran para nabi-Nya, seperti disebut di dalam kitab suci Al-Qur'an pada ayat-ayat QS.26:192-194, QS.2:97 dan QS.25:32 di atas. Padahal juga banyak ayat-ayat Al-Qur'an, yang menyebutkan "umat yang berakal (menggunakan akal)", "agar umat berpikir", "agar umat mengamati, memperhatikan, mencermati, meneliti, mempelajari dan memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya", dsb.

Padahal di lain pihaknya para jin, syaitan dan iblis seperti halnya para malaikat (termasuk malaikat Jibril), justru setiap saat dan secara bersamaan selalu mengikuti, mengawasi dan menjaga para nabi-Nya, pada alam batiniah ruhnya (alam pikirannya). Hal yang persis sama juga terjadi pada setiap manusia biasa lainnya.

"…. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya), melainkan orang-orang yang berakal (menggunakan akalnya)." – (QS.3:7) dan (QS.13:19, QS.14:52, QS.39:9, QS.89:5, QS.5:100, QS.11:78, QS.11:87, QS.26:28, QS.30:28, QS.39:18, QS.12:111, QS.35:37, QS.38:29, QS.38:43, …)

"Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (menggunakan akalnya),", "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Rabb-kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksaan neraka." – (QS.3:190-191) dan (QS.20:54, QS.20:128, QS.29:35, QS.30:24, QS.39:21, QS.45:5, QS.2:164, QS.10:24, QS.13:3-4, QS.16:67, QS.16:69, QS.16:11-13, QS.30:21, QS.39:42, QS.45:13, …)

"Dan tidak ada seorangpun akan beriman, kecuali dengan ijin-Nya. Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya." – (QS.10:100) dan (QS.7:179, QS.22:46, …)

"… Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu berpikir," – (QS.2:219) dan (QS.2:266, QS.7:176, QS.16:44, QS.22:15, QS.34:46, QS.37:102, QS.57:17, QS.59:21, QS.67:10, QS.2:242, QS.6:65, QS.6:151, QS.12:2, …)

"… Maka tidakkah kamu berpikir." – (QS.2:44) dan (QS.12:109, QS.3:65, QS.6:50, QS.7:184, QS.10:16, QS.11:51, QS.19:67, QS.30:8, QS.36:62, QS.36:68, QS.37:138, QS.37:155, QS.6:32, QS.21:10, QS.21:67, QS.23:80, …)

"(kitab-Nya) untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang yang berpikir." – (QS.40:54) dan (QS.2:97, QS.3:138, …)

 

"(Aku berlindung) dari kejahatan (bisikan) syaitan, yang biasa bersembunyi,", "yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia," – (QS.114:4-5) dan (QS.7:20, QS.20:120).

"Dan katakanlah: 'Ya Rabb-ku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.", "Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau, ya Rabb-ku, dari kedatangan mereka kepadaku'." – (QS.23:97-98).

"Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih (dekat) kepadanya daripada urat lehernya,", "(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal-perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan, dan yang lain duduk di sebelah kiri.", "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." – (QS.50:16-18).

 

Bahwa akal-pikiran dan keyakinan hati-nurani para nabi-Nya justru sangat berperan dalam menilai segala bentuk bisikan-godaan-ilham dari para makhluk gaib itu (yang positif-benar-baik dan yang negatif-sesat-buruk).

Dari segala bentuk ilham itulah, ilham yang mengandung nilai-nilai kebenaran-Nya justru berasal dari malaikat Jibril. Dan seperti halnya pada manusia biasa lainnya, justru akal-sehat, hati-nurani dan kemauan kuat dari manusianyalah, yang akhirnya bisa memutuskan, bahwa sebagian dari ilham-ilham itu mengandung nilai-nilai kebenaran (kebenaran 'relatif' menurut manusianya), sedang sebagian lainnya mengandung nilai-nilai kesesatan.

Padahal di lain pihak, hanya 'akal' satu-satunya alat pada setiap manusia, yang berkemampuan untuk memilih, mengolah, menilai ataupun memutuskan setiap informasi batiniah (termasuk segala bentuk ilham para makhluk gaib), untuk dianggap sebagai pengetahuan. Sedangkan segala pengetahuan tentang kebenaran 'relatif' pada hati-nurani setiap manusia, yang telah membentuk keyakinannya, justru juga hasil olahan 'akalnya' sebelumnya.

Padahal dari segi 'zatnya', para nabi-Nya justru 'manusia biasa'. Padahal Allah Yang Maha Adil mustahil berlaku 'pilih-kasih' hanya bagi para nabi-Nya (dalam memberikan kenabian), tanpa adanya segala usaha yang setimpal dan amat sangat keras dari para nabi-Nya itu sendiri, untuk meraih kenabian tersebut.

"Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku, dan memberikan peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari (Kiamat) ini … – (QS.6:130).

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu, Rasul di antara (kalangan)mu, yang membacakan ayat-ayat-Kami kepadamu dan mensucikanmu, dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepadamu, apa yang belum kamu ketahui." – (QS.2:151) dan (QS.2:129).

"dan sesungguhnya, telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan (rasul-rasul) di kalangan mereka." – (QS.37:72) dan (QS.23:32, QS.49:7, QS.38:4, QS.50:2).

"Dan mereka berkata: 'Mengapa Rasul ini memakan makanan, dan berjalan di pasar-pasar (sebagaimana manusia biasa lainnya). Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat, agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia," – (QS.25:7) dan (QS.25:20, QS.41:6).

"Kami tidak mengutus sebelum kamu (Muhammad), melainkan orang laki-laki, yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. …" – (QS.12:109).

 

"Dan bagi masing-masing mereka (jin dan manusia), (akan memperoleh) derajat, menurut apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan atas) pekerjaan-pekerjaan mereka, sedang mereka tiada dirugikan (dianiaya)." – (QS.46:19) dan (QS.6:132).

"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan, melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)." – (QS.6:160) dan (QS.28:84).

"Dan terang-benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Rabb-nya. Dan diberikanlah buku (catatan amal-perbuatan kepada masing-masing umat). Dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi, dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan (dianiaya)." – (QS.39:69) dan (QS.2:281, QS.3:25, QS.3:161, QS.16:111, QS.10:54, QS.17:71).

 

Padahal para nabi-Nya adalah orang-orang yang memang berkeinginan dan berusaha sangat keras, untuk memahami setiap kebenaran-Nya di alam semesta, dengan mengamati, mencermati ataupun mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya. Padahal mereka sangat banyak menyendiri, untuk bisa bertafakur memikirkan segala kejadian di alam semesta. Juga mereka sangat banyak memiliki pengalaman batiniah-rohani-spiritual (termasuk pengalaman berinteraksi dengan para makhluk gaib).

Sehingga para nabi-Nya adalah orang-orang yang paling tinggi ilmu-pengetahuannya di antara seluruh umat manusia pada jamannya masing-masing, terutama tentang berbagai kebenaran-Nya yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah).

Bahkan segala proses perolehan pengetahuan atau wahyu pada para nabi-Nya, justru telah melalui proses-proses yang amat alamiah (melalui akal-pikiran mereka). Serta mereka juga tidak mengetahui segala sesuatu hal, dan hanya menyampaikan hal-hal yang memang benar-benar telah bisa dipahami oleh akalnya saja, secara relatif amat jelas, pasti dan yakin.

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, seorang rasulpun, dan tidak (mengutus pula) seorang nabi, melainkan apabila ia (rasul atau nabi itu) mempunyai sesuatu keinginan (yang kuat, untuk mengetahui dan menyampaikan kebenaran-Nya). Syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu (namun) Allah menghilangkan apa yang dimaksud oleh syaitan itu, (untuk melindungi rasul atau nabi itu), dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. …" – (QS.22:52).

"Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,", "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Rabb-kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksaan neraka." – (QS.3:190-191) dan (QS.2:164, QS.16:11-13, QS.13:3, QS.57:17).

 

"Katakanlah: 'Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu, bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti, kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku'. Katakanlah: 'Apakah sama orang yang buta, dengan orang yang melihat'. Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)." – (QS.6:50).

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu (hai Muhammad), kecuali orang-orang lelaki (para nabi), yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui,", "(tentang) keterangan-keterangan dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia, apa yang telah diturunkan kepada mereka, supaya mereka memikirkan," – (QS.16:44).

 

Maka perbedaan antara para nabi-Nya dan manusia biasa lainnya justru hanyalah 'perbuatan' dan 'hasil dari perbuatan itu', yang telah diusahakannya masing-masing. Bukan pada 'zatnya', dan bukan karena Allah telah berlaku pilih-kasih hanya kepada para nabi-Nya. Proses diutus ataupun dipilih-Nya para nabi-Nya, justru suatu proses yang berlangsung amat alamiah.

Segala pengetahuan atau kebenaran yang bisa dipahami oleh para nabi-Nya, pada dasarnya juga bersifat 'relatif'. Namun dari segala hasil usaha mereka yang amatlah keras, justru segala pengetahuan mereka juga bersifat relatif jauh lebih 'sempurna', daripada segala pengetahuan pada seluruh manusia lainnya pada jamannya masing-masing, khususnya tentang hal-hal yang paling penting, mendasar ataupun hakiki bagi kehidupan umat manusia (ketuhanan; penciptaan alam semesta dan tujuannya; zat ruh-ruh makhluk-Nya; alam gaib dan alam akhirat, Hari Kiamat; dsb).

Sekali lagi, pengetahuan para nabi-Nya tentang berbagai kebenaran-Nya disebutkan relatif 'sempurna', karena relatif amat lengkap (sesuai jamannya), mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya.
Sehingga pengetahuan 'relatif' milik para nabi-Nya telah 'amat dekat', dari sebagian amat sedikit pengetahuan 'mutlak' milik Allah di alam semesta. Juga para nabi-Nya disebutkan bisa 'amat dekat' berada di sisi 'Arsy-Nya (simbol tempat tercatatnya segala pengetahuan atau kebenaran-Nya di alam semesta, bukan tempat kedudukan 'Zat' Allah yang sebenarnya). Demikian pula kedekatan malaikat Jibril yang amat cerdas itu, di sisi 'Arsy-Nya.

"…. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi-Nya, ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. …" – (QS.49:13).

"(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi-Nya, dan Allah Maha Melihat segala apa yang mereka kerjakan." – (QS.3:163) dan (QS.9:19, QS.8:4, QS.9:20, QS.10:2).

"…. Dan adalah dia (Musa) seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi-Nya." – (QS.33:69).

"Dan ia (Ismail) menyuruh ahlinya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diredhai di sisi Rabb-nya." – (QS.19:55).

 

"Dia-lah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, …" – (QS.57:4).

"sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar firman(-Nya, yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),", "yang mempunyai kekuatan, dan yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi-Nya, Yang mempunyai 'Arsy," – (QS.81:19-20).

 

"…. Tidak luput dari pengetahuan Rabb-mu, biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." – (QS.10:61) dan (QS.22:70, QS.27:75, QS.34:3).

"…, dan pada sisi Kamipun ada kitab yang memelihara (mencatat, Lauh Mahfuzh)." – (QS.50:4).

"Dan sesungguhnya, Al-Qur'an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya), dan amat banyak mengandung hikmah." – (QS.43:4) dan (QS.56:77-78, QS.85:21-22).

 

Dan pada akhirnya, ajaran-ajaran agama Islam (kitab suci Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Nabi) pada dasarnya justru sesuatu 'hasil pemikiran' Rasulullah nabi Muhammad saw, berdasarkan segala Al-Hikmah yang telah dipahami atau diperolehnya melalui perantaraan malaikat mulia Jibril, sekaligus pula sebagai sesuatu bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya bagi seluruh umat manusia.

c.

"Menggapai Kembali"

 

Agar umat Islam bisa benar-benar mengikuti setiap ajaran agama-Nya yang lurus dan terakhir (Islam), secara relatif utuh, menyeluruh dan sempurna, justru semestinya umat bisa berusaha mengungkap kembali setiap Al-Hikmah, 'di balik' teks kitab suci Al-Qur'an dan teks hadits-hadits Nabi (sunnah-sunnah Nabi).
Sederhananya, agar umat Islam bisa 'menggapai kembali' segala 'isi pikiran' Rasulullah nabi Muhammad saw, yang telah membawa ajaran-ajaran agama Islam itu sendiri. Karena segala 'isi pikiran' Rasulullah yang pasti telah mendasari adanya kitab suci Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Nabi (tulisan, lisan, sikap dan contoh-perbuatan Nabi). Dalam keadaan sadar, segala perbuatan setiap manusia pasti dikendalikan oleh akal-pikirannya sendiri.

Tentunya umat mustahil benar-benar bisa mengungkap segala isi pikiran Nabi, secara lengkap dan utuh, seperti aslinya. Namun tentunya umat bisa pula berusaha maksimal untuk makin bisa 'mendekatinya'.

Bahan-bahan untuk bisa mencapai hal itu tentunya segala risalah yang telah ditinggalkan oleh Nabi, beserta segala risalah, catatan, keterangan dan penjelasan terkait lainnya (kitab suci Al-Qur'an; kitab-kitab hadits; hasil ijtihad para alim-ulama di jaman dahulu dan di saat ini; segala catatan atas turunnya wahyu-Nya dalam Al-Qur'an atau Asbabun Nuzul; segala catatan sejarah atas umat-umat pada jaman Nabi, khususnya budaya dan bahasanya; segala kisah para nabi-Nya dan umat terdahulu; dsb).
Bahan-bahan lain yang justru amat penting, adalah tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta (atau ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis), yang berupa segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta ini.

Dengan amat cermat mempelajari berbagai bahan itu, dan terutama lagi jika didukung dengan pengalaman batiniah-rohani-spiritual yang amat banyak (termasuk tentang hal-hal gaib). Atas ijin Allah, umat Islam semakin bisa memahami berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, 'di balik' teks ajaran-ajaran agama Islam. Dengan sendirinya umat Islam semakin bisa 'mendekati' pula, setiap isi pikiran Rasulullah nabi Muhammad saw.
Khususnya jika umat telah bisa memahami ajaran-ajaran itu, secara relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, serta telah relatif memadai bisa memahami tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini.

Usaha-usaha di atas pada dasarnya amat perlu dilakukan, karena segala hal yang ada dalam pikiran setiap manusia, sedikit-banyak bisa berbeda dari segala hal yang telah diungkapkannya. Biasanya ada suatu jarak (jauh ataupun dekat) antara pemahaman 'batiniah' dan hasil pengungkapan 'lahiriahnya' (melalui tulisan, lisan, sikap dan contoh-perbuatan).
Begitu pula relatif ada jarak antara setiap isi pikiran Nabi, dan setiap ajaran agama Islam yang telah disampaikan oleh Nabi (kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah-sunnah Nabi).

Terutama karena ajaran-ajaran agama justru amat banyak mengandung hal-hal gaib dan batiniah, yang memang relatif sulit untuk bisa dijelaskan. Sehingga dalam Al-Qur'an misalnya, amat banyak ditemui segala contoh-perumpamaan simbolik, agar bisa relatif sederhana dan ringkas dalam menjelaskan hal-hal gaib dan batiniah. Walau segala contoh-perumpamaan simbolik itu pasti tetap bukan fakta-kenyataan yang sebenarnya.

"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa, adalah (seperti taman yang) mengalir sungai-sungai di dalamnya, (pohon-pohon yang) buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertaqwa. Sedang tempat kesudahan bagi orang-orang yang kafir ialah neraka." – (QS.13:35).

"…, tetapi dia cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah, perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu, agar mereka berpikir." – (QS.7:176).

"Sesungguhnya, Allah tiada segan membuat perumpamaan tentang nyamuk atau yang lebih sederhana dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb-mereka. Tetapi mereka yang kafir mengatakan: 'Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?'. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan-Nya, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan-Nya, kecuali orang-orang yang fasik," – (QS.2:26).

 

"Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia, dalam Al-Qur'an, setiap macam perumpamaan, supaya mereka dapat pelajaran." – (QS.39:27) dan (QS.17:89, QS.18:54, QS.30:58).

"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia. Dan tiada yang memahaminya, kecuali orang yang berilmu." – (QS.29:43).

"… Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia, supaya mereka mau berpikir." – (QS.59:21) dan (QS.13:17, QS.14:25, QS.24:35).

 

Dan bahkan berbagai pemahaman umat Islam yang belum sempurna atas ajaran-ajaran agama Islam (belum memahami hal-hal yang 'sebenarnya' dimaksudkan oleh Nabi), yang justru telah melahirkan banyak aliran-mazhab-golongan di kalangan umat.

Satu-satunya cara untuk bisa mengatasi segala persoalan pemahaman di kalangan umat Islam, adalah berusaha maksimal untuk bisa mengungkap segala Al-Hikmah, 'di balik' teks ajaran-ajaran agama Islam, secara relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan keseluruhannya.
Sekaligus berusaha untuk mengungkap berbagai rahasia, hikmah-hakekat atau fakta-kenyataan yang sebenarnya, 'di balik' segala contoh-perumpamaan simbolik dalam ajaran-ajaran itu.

Ringkasnya, berusaha semakin bisa 'menggapai kembali' segala hal yang 'sebenarnya' dimaksudkan oleh Rasulullah nabi Muhammad saw, melalui ajaran-ajaran agama Islam.

d.

"Tindakan-Nya di alam semesta, melalui Sunatullah"

 

Sunatullah atau Sunnah Allah pada dasarnya sebutan lain dari "segala kehendak, tindakan atau perbuatan Allah di seluruh alam semesta". Serupa seperti halnya Sunnah Nabi, yang berupa tulisan, lisan, sikap dan contoh-perbuatan, yang berasal dari nabi Muhammad saw.
Tentunya Sunnah Nabi yang berupa tulisan dan lisan itu, berada di luar segala hal yang terkandung di dalam kitab suci Al-Qur'an. Tentunya Allah Yang Maha Gaib juga mustahil berbicara dan menulis. Dan tentunya Allah mustahil berbuat seperti halnya segala zat makhluk ciptaan-Nya.

Tetapi berbagai kehendak, tindakan atau perbuatan Allah, pada dasarnya justru bisa diketahui atau dinalar oleh manusia. Karena melalui segala perbuatan Allah di alam semesta ini, Allah justru ingin menunjukkan segala kemuliaan dan kekuasaan-Nya kepada umat manusia (bahkan kepada segala zat makhluk-Nya), agar bisa mencari dan mengenal Allah Yang menciptakannya.
Meski segala perbuatan Allah memang juga bersifat gaib, tidak jelas kentara ataupun amat sangat halus, sebagai ujian-Nya bagi keimanan setiap manusia. Sehingga manusia justru memiliki berbagai pemahaman atas Tuhan Yang menciptakannya (dengan banyaknya agama dan alirannya). Biasa disebut pula, ada banyak tingkatan hijab-tabir-pembatas, antara Allah dan setiap manusia.

"Katakanlah: 'Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa, melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang-lainnya. Kemudian kepada Rabb-mulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu segala apa yang kamu perselisihkan'." – (QS.6:164).

"Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat, lagi Maha Perkasa." – (QS.22:74).

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus, lagi Maha Mengetahui." – (QS.6:103) dan (QS.22:63, QS.31:16, QS.67:14).

"Dan tidak ada bagi seorang manusiapun, bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan perantaraan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat Jibril), lalu diwahyukan kepadanya (manusia itu) dengan seijin-Nya, apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi, lagi Maha Bijaksana." – (QS.42:51).

 

"…Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu, terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada-Nya-lah kembalinya kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu, apa yang dahulu telah kamu perselisihkan itu," – (QS.5:48) dan (QS.6:165, QS.16:92, QS.47:4, QS.47:31).

"Dan Dia-lah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah 'Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. … – (QS.11:7) dan (QS.18:7, QS.67:2).

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu, dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." – (QS.21:35).

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.", "Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus. Ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." – (QS.76:2-3).

"Adapun manusia, apabila Rabb-nya mengujinya, lalu dimuliakan dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: 'Rabb-ku telah memuliakanku'.", "Adapun bila Rabb-nya mengujinya, lalu membatasi rejekinya, maka dia berkata: 'Rabb-ku menghinakanku'." – (QS.89:15-16).

"Dan sesungguhnya, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya, Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta." – (QS.29:3) dan (QS.38:24, QS.38:34).

 

Sunatullah berasal dari pemahaman manusia (khususnya para nabi-Nya), atas berbagai proses kejadian di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), yang bersifat 'mutlak dan kekal'. Karena hal-hal semacam inilah yang diyakini oleh manusia, sebagai hasil perbuatan Allah (hanyalah Allah Yang Maha Esa, Yang memiliki sifat-sifat 'mutlak dan kekal').

"Sebagai suatu sunatullah (sunnah Allah) yang telah berlaku, sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan dan penyimpangan bagi sunatullah itu." – (QS.48:23) dan (QS.33:62, QS.35:43).

"… dan sesungguhnya, telah berlalu sunatullah (sunnah Allah), terhadap orang-orang yang terdahulu." – (QS.15:13) dan (QS.40:85, QS.3:137, QS.8:38).

"…Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.", "Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi, tentang apa yang telah ditetapkan-Nya baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku," – (QS.33:37-38) dan (QS.77:7, QS.78:39).

 

"Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi-Nya adalah kekal. …" – (QS.16:96).

"Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu, Yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." – (QS.55:27).

"Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah), melainkan Dia. Yang hidup kekal, lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya." – (QS.3:2) dan (QS.20:111, QS.25:58, QS.40:65, QS.2:255).

 

Segala yang bersifat 'mutlak dan kekal' di alam semesta, biasanya dikenal sebagai "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya", "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "kalam atau wahyu-Nya yang sebenarnya", "Al-Qur'an berbentuk gaib yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya", "wajah-Nya", "segala pengetahuan atau kebenaran-Nya", dsb.
Berbagai hal ini pada hakekatnya sesuatu hal yang sama, namun hanya berbeda pada fokus pemakaiannya saja.

"Dan sesungguhnya, Al-Qur'an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya), dan amat banyak mengandung hikmah." – (QS.43:4) dan (QS.56:77-78, QS.85:21-22).

"Dan sesungguhnya telah Kami tulis dalam (kitab) Zabur, setelah (Kami tulis ke dalam) Lauh Mahfuzh, …" – (QS.21:105).

"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)." – (QS.13:39).

 

"Sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat, sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Rabb-nya yang paling besar." – (QS.53:18) dan (QS.17:1).

"Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (menggunakan akalnya)," – (QS.3:190) dan (QS.57:17, QS.2:164, QS.6:97, QS.6:98, QS.10:5, QS.10:6, QS.10:24, QS.6:99, QS.10:67, QS.16:12, QS.13:3, QS.14:5, QS.15:77, QS.13:4, QS.15:75, QS.16:65, QS.16:79, QS.20:54, QS.6:75, QS.51:20, QS.2:118, QS.13:2, QS.7:26, QS.7:58, QS.6:65, QS.20:128).

"Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan-Nya) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedangkan mereka (selalu) berpaling darinya." – (QS.12:105) dan (QS.17:59, QS.11:59, QS.15:81, QS.6:46, QS.20:56, QS.21:32, QS.18:100-101, QS.5:75, QS.7:146, QS.10:92).

"Dan di antara ayat-ayat-Nya (tanda-tanda kekuasaan-Nya), ialah menciptakan langit dan bumi, dan makhluk-makhluk yang melata, yang Dia sebarkan pada keduanya (langit dan bumi). …" – (QS.42:29).

 

"Katakanlah: 'Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabb-ku, sungguh habislah lautan itu, sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Rabb-ku, meskipun Kami datangkan tambahan (tinta) sebanyak itu (pula)." – (QS.18:109).

"… Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya. …" – (QS.6:115) dan (QS.10:64, QS.6:34, QS.18:27).

 

Segala kehendak, tindakan atau perbuatan Allah di alam semesta ini, disebut 'melalui' Sunatullah, karena Allah memang tidak langsung turun tangan dalam mengurus segala zat ciptaan-Nya ataupun segala hal lainnya di alam semesta ini. Tetapi justru Sunatullah itu pelaksanaannya dikawal oleh tak-terhitung jumlah para malaikat-Nya. Dan para malaikat-Nya amat tunduk, taat dan patuh melaksanakan segala kehendak dan perintah-Nya ("segala urusan-Nya di alam semesta").

Maka Allah pada dasarnya hanyalah mengeluarkan segala perintah-Nya kepada para malaikat-Nya, bagi proses pelaksanaan Sunatullah (lahiriah dan batiniah). Hal lebih tepatnya lagi, segala perintah-Nya itu bukan diberikan-Nya 'setiap saat', tetapi justru hanyalah diberikan-Nya 'sekali' saja (pada saat awal diciptakan-Nya segala zat ruh para malaikat-Nya). Karena segala perintah-Nya itu pada dasarnya hanyalah berupa segala 'fitrah dasar' pada zat ruh para malaikat-Nya.

"dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat,", "dan mendahului dengan kencang,", "dan mengatur (segala) urusan(-Nya di dunia)." – (QS.79:3-5).

"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril, dengan ijin Rabb-nya, untuk mengatur segala urusan(-Nya di dunia)." – (QS.97:4).

"Sesungguhnya Rabb-kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (singgasana), untuk mengatur segala urusan. …" – (QS.10:3) dan (QS.10:31, QS.13:2, QS.32:5).

 

Sunatullah juga merupakan salah-satu dari ketetapan atau ketentuan-Nya, yang telah ditetapkan 'sebelum' penciptaan alam semesta ini, dan tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya. Sunatullah bersifat mutlak (pasti terjadi) dan kekal (pasti konsisten atau tidak berubah), sejak ditetapkannya sampai akhir jaman (berakhirnya alam semesta dan kehidupan dunia).

Sunatullah berupa sekumpulan tak-terhitung aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah), yang pasti berlaku dan mengatur segala zat ciptaan-Nya di alam semesta. Sehingga Sunatullah juga disebut sebagai 'aturan-Nya' atau 'hukum-Nya'. Tentunya 'aturan atau hukum-Nya' ini (mengatur alam semesta), amat berbeda daripada 'aturan atau hukum syariat' dalam ajaran-ajaran agama-Nya (mengatur orang-orang yang beriman).

Dan sunatullah pada aspek lahiriah biasa disebut 'hukum alam'. Sedangkan sunatullah juga meliputi aspek batiniah (segala aturan atau rumus proses batiniah).
Sunatullah batiniah inilah yang paling penting dan hakiki bagi kehidupan umat manusia, yang juga paling banyak terdapat pada kitab-kitab suci agama (atau paling dikuasai oleh para nabi-Nya). Karena sunatullah batiniah ini yang justru pasti mengatur kehidupan akhirat setiap manusia (kehidupan batiniah ruhnya).

Setiap pemahaman atas sunatullah justru amatlah penting, di dalam memahami berbagai kebenaran-Nya di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah). Karena sunatullah itu adalah perwujudan dari sifat 'perbuatan' Zat Allah. Di lain pihak, sifat 'esensi' Zat Allah justru mustahil terjangkau oleh manusia ataupun segala zat makhluk-Nya (mustahil bisa dilihat dan diketahui). 'Esensi' Zat Allah Maha Suci dan tersucikan dari segala sesuatu hal.

Bahkan hanya dengan memahami sunatullah, maka umat manusia bisa memahami sifat-sifat-Nya. Karena jika telah bisa memahami berbagai 'perbuatan' suatu zat (termasuk Zat Allah), manusiapun bisa memahami berbagai 'kehendak' zat itu, sampai akhirnya bisa memahami berbagai 'sifat' zat itu, dalam berbuat.
Dari pemahaman amat mendalam Nabi tentang sunatullah (atau sifat 'perbuatan' Allah), maka Nabipun bisa menyampaikan semua sifat-sifat-Nya pada Asmaul Husna. Sedang sifat 'esensi' Allah Yang Maha gaib, memang mustahil bisa dijangkau ataupun dicapai oleh alat-alat indera dan akal-pikiran manusia.

e.

"Penciptaan manusia dan alam semesta ini"

 

Tentunya penciptaan alam semesta, serta kehidupan umat manusia di dalamnya, adalah bagian yang amat sangat mendasar dan penting, bahkan sangat sering disebut dalam kitab-kitab suci agama-agama. Karena awal dan akhir penciptaan alam semesta khususnya, adalah awal dan akhir kehidupan segala zat makhluk-Nya di dunia ini, termasuk pula kehidupan umat manusia.

Dari adanya pemahaman yang telah makin memadai atas penciptaan alam semesta, maka setiap manusia diharapkan makin memahami pula segala hikmah dan hakekat dari diciptakan-Nya kehidupannya sendiri (khususnya tentang tujuan akhirnya, dalam membangun kehidupan akhiratnya yang kekal, yang makin baik).
Pemahaman itu diperlukan, agar umat manusia yang telah dipilih sebagai khalifah-Nya (penguasa) di muka Bumi, bisa pula menyesuaikan diri dengan tujuan akhir itu, agar kehidupannya di dunia bisa sesuai keredhaan Allah, Tuhan alam semesta ini yang sebenarnya, dan telah menciptakannya.

"Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (ke sana), malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta darinya (tidak bisa memahaminya)." – (QS.27:66).

"… Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia. Sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat (atau kehidupan batiniah ruh) adalah lalai." – (QS.30:7).

"Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah, agar Kami dapat membedakan, siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat, dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Rabb-mu Maha Memelihara segala sesuatu." – (QS.34:21).

"…Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu berpikir,", '"tentang dunia dan akhirat. …" – (QS.2:219-220) dan (QS.4:134, QS.7:156, QS.9:69, QS.9:74, QS.10:64, QS.12:101, QS.13:34, QS.14:27, QS.16:122, QS.22:11, QS.22:15, QS.24:14, QS.24:19, QS.24:23, QS.28:70, QS.28:77, QS.33:57, QS.39:26, QS.40:43, QS.40:45, QS.41:16, QS.41:31, QS.53:25, QS.79:25, QS.92:13).

"Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat-sifat yang buruk. …" – (QS.16:60) dan (QS.23:74, QS.27:4, QS.34:8, QS.41:7, QS.53:27).

"Itulah orang-orang yang memilih kehidupan dunia daripada (kehidupan) akhirat. Maka tidak akan diringankan siksaan-Kami kepada mereka, dan mereka tidak akan bisa ditolong." – (QS.2:86) dan (QS.2:114, QS.2:126, QS.2:200-201, QS.3:77, QS.3:85, QS.3:176, QS.4:74, QS.4:77, QS.5:5, QS.5:33, QS.5:41, QS.6:113, QS.7:45, QS.7:147, QS.11:16, QS.11:19, QS.11:22, QS.14:3, QS.16:22, QS.16:107, QS.16:109, QS.17:10, QS.17:45, QS.17:72, QS.20:127, QS.23:33, QS.27:5, QS.30:16, QS.39:9, QS.39:45, QS.42:20, QS.57:20, QS.59:3, QS.60:13, QS.68:33, QS.74:53, QS.75:21).

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain daripada main-main dan senda-gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya!." – (QS.6:32) dan (QS.7:169, QS.8:67, QS.12:57, QS.12:109, QS.16:30, QS.17:19, QS.17:21, QS.27:3, QS.28:37, QS.28:83, QS.29:64, QS.31:4, QS.33:29, QS.40:39, QS.43:35, QS.59:18, QS.65:2, QS.87:17).

"…Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat?, padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat, hanya sedikit." – (QS.9:38) dan (QS.13:26, QS.16:41).

"Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka (Ibrahim, Ishak dan Yakub), dengan akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat." – (QS.38:46).

"… dan sesungguhnya, dia (Ibrahim) di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh." – (QS.29:27).

 

"… Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keredhaan-Nya. Dan merekalah orang-orang yang beruntung." – (QS.30:38).

"Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia-Nya (yang besar), mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keredhaan-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." – (QS.3:174) dan (QS.4:114, QS.2:207).

"Yang demikian itu, karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keredhaan-Nya. Sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka." – (QS.47:28) dan (QS.3:162).

"Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang-benderang dengan seijin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." – (QS.5:16).

 

Di lain pihaknya penciptaan seluruh alam semesta ini dan segala isinya, termasuk penciptaan dan kehidupan umat manusia di dalamnya, adalah hasil perwujudan 'Fitrah Allah' (Surat AR-RUUM ayat 30). Serta dengan 'Fitrah Allah' itu pulalah, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah menciptakan agama-Nya yang lurus, terutama berupa ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di alam semesta (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya) dan berbagai fitrah dasar pada hati-nurani setiap manusia, sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya yang paling dasar.
Termasuk pula berbagai bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya secara batiniah melalui para malaikat-Nya, yang setiap saat pasti selalu mengikuti setiap manusia pada alam batiniah ruhnya (alam pikiran atau alam akhiratnya). Maka pada dasarnya justru tidak ada seorang manusia yang sama-sekali tidak memperoleh sesuatu pengajaran dan tuntunan-Nya (lahiriah dan batiniah), dan bahkan bagi orang-orang yang paling kafir sekalipun.

Hal itu agar manusia yang telah dipilih sebagai khalifah-Nya di muka Bumi ini, tidak berjalan kehilangan arah-tujuan dan hanya bermodalkan daya dan akalnya. Agar ia bisa mencari dan mengenal Allah, Yang menciptakannya. Dan agar bisa 'kembali' amat dekat ke hadapan 'Arsy-Nya, yang amat mulia dan agung, dengan mengikuti "agama atau jalan-Nya yang lurus", sebagai suatu bentuk keredhaan-Nya bagi kemuliaan manusia sendiri.

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama-Nya, (sebagai perwujudan dari) fitrah Allah, Yang telah menciptakan manusia, menurut fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama(-Nya) yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," – (QS.30:30).

"Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama(-Nya) yang lurus (Islam), sebelum Allah mendatangkan suatu hari, yang tidak dapat ditolak (kedatangannya, yaitu Hari Kiamat). …" – (QS.30:43).

"sesungguhnya kamu (Muhammad adalah) salah seorang dari rasul-rasul,", "(yang berada) di atas jalan(-Nya) yang lurus," – (QS.36:4).

"Katakanlah: 'Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan(-Nya) yang lurus menuju kepada-Nya, dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya," – (QS.41:6).

 

Telah disebut pula di atas, "sunatullah adalah sebutan lain dari segala kehendak dan perbuatan-Nya di alam semesta". Maka 'penciptaan' segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini, sebagai salah-satu jenis perbuatan-Nya, juga pasti mengikuti atau melalui sunatullah. Sebaliknya, sunatullah itu sendiri justru hanyalah bisa dipahami oleh manusia, dari mempelajari segala proses kejadian yang bersifat 'mutlak dan kekal', pada segala zat ciptaan-Nya di alam semesta.
Dan umat manusia (dan segala zat makhluk-Nya lainnya) memang bisa memahami segala hal tentang Allah (selain tentang 'esensi' Zat Allah), hanyalah dengan mempelajari segala sesuatu hal yang ada tersedia di alam semesta (atau segala hal yang bisa dilihat, dirasakan ataupun dipikirkannya).

Sehingga pemahaman atas segala zat ciptaan-Nya di alam semesta (nyata dan gaib, benda mati dan makhluk hidup), proses penciptaannya masing-masing, ataupun proses-proses pada setiap zat ciptaan-Nya, yang internal (dalam diri zat) dan yang eksternal (dalam berinteraksi dengan lingkungannya), justru amat penting.

Tujuan dan ruang lingkup pembahasan buku ini

Sejalan dengan judul buku ini, "Menggapai kembali pemikiran Rasulullah SAW", maka tujuan keseluruhan pembahasan pada buku ini pada dasarnya adalah, "mengungkap seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya berbagai pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) pada nabi Muhammad saw, yang telah diungkapkannya secara relatif amat ringkas dan sederhana melalui kitab suci Al-Qur'an. Sekaligus pula untuk membuktikan kekonsistenan, keutuhan dan tidak saling bertentangannya, 'bangunan pemahaman' Al-Hikmah tersebut".

Maka berbagai hal yang diungkap pada buku ini pada dasarnya bukan bentuk pembahasan yang amat lengkap dan mendalam, tentang proses 'penciptaan' manusia dan alam semesta ini. Namun justru lebih diutamakan agar bisa mengungkap berbagai Al-Hikmah dalam kitab suci Al-Qur'an. Serta agar berbagai mata-rantai yang menghubungkan antar ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an bisa relatif jauh lebih jelas tampak dan mudah dipahami oleh umat.
Sehingga pengungkapan proses 'penciptaan' itu sendiri hanya pondasi awal, bagi pengungkapan atas berbagai kehendak, tindakan atau perbuatan Allah di alam semesta ini, yang justru amat banyak dan berragam, yang disebut di dalam kitab suci Al-Qur'an (bukanlah hanya 'penciptaan' segala zat ciptaan-Nya). Maka ruang lingkup keseluruhan pembahasan pada buku ini pada dasarnya amat luas (atau mencakup semua aspek di dalam kitab suci Al-Qur'an, yang telah bisa diungkap). Sedangkan tentang proses-proses penciptaannya sendiri justru relatif lebih ringkas dan sederhana, jika dibanding sumber-sumber lainnya.

Dengan pengungkapan lebih lengkap atas berbagai kehendak, tindakan atau perbuatan Allah di alam semesta ini, maka diharapkan berbagai 'mistis-tahayul' tentang hal ini, bisa relatif amat berkurang. Sekaligus pula agar tiap umat Islam makin mendalam pemahamannya (keyakinan batiniahnya), atas ajaran-ajaran nabi Muhammad saw. Dan pada akhirnya, agar makin meningkat dan konsisten pengamalannya (keyakinan lahiriahnya).
Seperti misalnya bagaimana Allah berkehendak dan bertindak menurunkan wahyu-Nya, kitab-Nya dan agama-Nya; mengutus para nabi dan rasul utusan-Nya; menentukan takdir-Nya (nasib) bagi setiap zat makhluk-Nya; menurunkan mu'jizat-Nya kepada para nabi-Nya, membagikan rejeki-Nya, menimpakan azab-Nya dan kematian, dsb. Dan dari pemahaman atas hal-hal ini, maka relatif amat banyak hal-hal lainnya yang juga bisa diungkap.
Baca pula uraian di bawah, tentang daftar yang lebih lengkap atas hikmah dan hakekat, yang relatif berhasil diungkap pada buku ini.

Tentunya pula, belum seluruh Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya) yang terkandung di dalam kitab suci Al-Qur'an, telah bisa diungkap. Namun minimalnya, berbagai hasil pengungkapan pada buku ini telah cukup memadai bisa manjawab, sejumlah hal yang telah menjadi polemik dan kontroversi di kalangan umat, terutama melalui berbagai aliran-mazhab-golongannya.
Hal-hal ini telah dibahas secara relatif lengkap di Lampiran D, tentang perbandingan aliran-aliran teologi Islam, dalam berbagai topik yang amatlah mendasar, bagi keyakinan beragama umat Islam (dasar-dasar pokok aqidah dalam ajaran agama Islam).

Baca pula uraian di bawah, tentang berbagai kelebihan dan kekurangan pada buku ini.

Pembahasan pada buku ini yang telah amat luas

Dari judul buku ini yang memang mendasar, yaitu "Penciptaan manusia dan alam semesta", akhirnya ternyata bisa berkembang cukup luas, bahkan termasuk meliputi Hari Kiamat dan beberapa kejadian di sekitarnya, sebagai kejadian-kejadian terakhir dari tujuan diciptakan-Nya alam semesta. Hal inipun sesuai dengan ke-Maha Luas-an segala jenis ciptaan-Nya, dengan segala aspeknya (zat dan non-zat, nyata dan gaib, benda mati dan makhluk hidup, lahiriah dan batiniah, dsb).
Namun pembahasan di sini lebih terfokus lagi kepada ke-Maha Halus-an segala tindakan-Nya di alam semesta ini, melalui aturan-Nya (sunatullah, dan berupa segala aturan atau rumus proses kejadian yang pasti dan jelas). Bahkan termasuk proses-proses pada tiap Atom (nyata dan mati) dan Ruh (gaib dan hidup), sebagai unsur-unsur yang paling dasar atau paling elementer penyusun seluruh alam semesta ini.

Dalam bahasa yang lebih lengkapnya, bahwa segala tindakan-Nya bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), serta prosesnya amat sangat teratur, alamiah, halus, tidak kentara ataupun seolah-olah terjadi begitu saja. Sehingga hal ini relatif sulit untuk bisa dipahami oleh sebagian besar dari umat manusia (terutama umat-umat yang awam, dengan pengetahuannya yang relatif terbatas), serta hanya umat-umat tertentu yang telah bisa memahaminya dengan relatif jelas (seperti para nabi-Nya, para sahabat, para wali, dsb).
Sehingga pembahasan pada buku ini mencoba mengungkapkan secara relatif panjang lebar tentang sunatullah (terutama yang terkait langsung dengan penciptaan alam semesta). Juga sekaligus mencoba mengungkapkan setiap hikmah dan hakekat yang terkait lainnya, dari berbagai pemahaman atas penciptaan itu sendiri, seperti misalnya:

Berbagai hikmah dan hakekat yang terungkap pada buku ini

~ Bagaimana cara Allah berkehendak, bertindak ataupun berbuat di alam semesta ini;
~ Apa hakekat dari kebebasan, kehendak, perbuatan dan daya tiap manusia, serta kaitannya dengan kehendak, perbuatan dan daya Allah;
~ Bagaimana proses dari tiap amal-perbuatan manusia, serta proses pemberian balasan-Nya secara setimpal, atas tiap amalan itu;
~ Bagaimana Allah berlaku 'adil' bagi segala makhluk-Nya, sesuai tugas-amanat dan amal-perbuatannya masing-masing (dari segala jenis zat makhluk, usia hidup, tingkat pengetahuan & kesadaran, beban tanggung-jawab, keadaan & kedudukan lahiriah, dsb);
~ Apa hakekat dari Qadla dan Qadar (takdir-Nya), dan bagaimana cara Allah menentukan takdir-Nya (nasib) bagi tiap zat makhluk-Nya, serta bagaimana cara tiap manusia bisa berusaha 'memilih' takdir-Nya (mustahil bisa 'mengubahnya');
~ Bagaimana Allah berkehendak menurunkan mu'jizat-Nya kepada para nabi-Nya, memberikan rejeki-Nya, menimpakan azab-Nya, menentukan kematian, dsb;
~ Apa hakekat dari agama dan kitab-Nya (agama dan kitab tauhid), serta kaitannya dengan Fitrah Allah (sifat-sifat yang terpuji dan termulia pada Zat Allah);
~ Bagaimana cara Allah bertindak menurunkan wahyu, kitab dan agama-Nya;
~ Bagaimana proses perubahan bentuk kitab dan wahyu-Nya, dari bentuknya langsung dari Allah, sampai bentuknya yang biasanya dikenal saat ini oleh umat Islam (Al-Qur'an dan ayat-ayatnya);
~ Bagaimana cara Allah memelihara Al-Qur'an;
~ Apa kaitan antara alam semesta, pengetahuan dan wahyu-Nya, akal dan pengetahuan para nabi-Nya, serta kaitannya dengan para makhluk gaib-Nya (terutama malaikat mulia Jibril);
~ Apa kaitan antara ilmu-pengetahuan, Al-Hikmah, kenabian, dan Al-Kitab (Al-Hikmah yang telah terungkap, melalui kitab-kitab-Nya dan sunnah-sunnah para nabi-Nya);
~ Apa hakekat dari 'hijab-tabir-pembatas' antara Allah dan segala zat makhluk-Nya, serta kaitannya dengan pengetahuan 'mutlak' Allah di alam semesta dan pengetahuan 'relatif' manusia;
~ Apa hakekat dari 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung, serta kaitannya dengan pengetahuan pada Allah dan manusia;
~ Apa hakekat dari kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, serta berbagai hal yang tercatat di dalamnya;
~ Apa hakekat dari 'kembali' ke hadapan 'Arsy-Nya (bagi 'zat' ruh pada Hari Kiamat, dan bagi 'keadaan batiniah' ruh selama pada kehidupan dunia), serta kaitannya dengan peristiwa 'Isra Mi'raj, yang dialami oleh Nabi;
~ Apa hakekat dari 'sunatullah' (sunnah Allah atau sifat perbuatan Allah di alam semesta, lahiriah dan batiniah), serta apa kaitannya dengan hukum alam (lahiriah) dan segala ilmu-pengetahuan pada manusia;
~ Apa hubungan antara sunatullah dengan segala zat ruh ciptaan-Nya (terutama ruh para malaikat), serta apa kaitan antara zat ruh dan materi-benda mati;
~ Bagaimana cara memahami sifat-sifat Allah, serta tiap persoalan dalam memahaminya (termasuk yang telah menimbulkan segala bentuk kemusyrikan);
~ Bagaimana Allah bertindak mengutus para nabi dan rasul utusan-Nya;
~ Apa hakekat dari 'kenabian terakhir' pada nabi Muhammad saw, serta hakekat dari Islam dan Al-Qur'an sebagai agama dan kitab tauhid terakhir;
~ Bagaimana kemustahilan atas turunnya para 'nabi baru', setelah nabi Muhammad saw;
~ Bagaimana kemustahilan atas anggapan turunnya nabi Isa as dan Imam Mahdi, 'pada saat sebelum akhir jaman', serta apa hakekat dari dibangkitkan-Nya hidup kembali nabi Isa as, nabi Yahya as ataupun seluruh manusia lainnya, 'pada saat Hari Kiamat'
~ Apa hakekat dari ruh, fitrah dan hati-nurani manusia;
~ Apa sifat-sifat ruh makhluk-Nya, serta elemen-elemennya (akal, hati / kalbu, hati-nurani, nafsu, catatan amalan, dsb);
~ Bagaimana proses berpikir tiap manusia, serta bagaimana akal manusia mengendalikan semua elemen ruh lainnya (akal sebagai pengendali satu-satunya);
~ Apa kekeliruan atau kesalahan pada teori 'reinkarnasi'
~ Bagaimana pengabdian ruh-ruh makhluk-Nya kepada-Nya, serta hambatan atas pengabdiannya itu, dari adanya kehidupan dunia;
~ Apa hakekat dan tujuan dari diciptakan-Nya kehidupan dunia ini, yang bersifat fana;
~ Apa hakekat dari penunjukan umat manusia sebagai 'khalifah-Nya' (penguasa) di muka Bumi (dunia), serta apa kelebihan dan kekurangan manusia dibanding segala makhluk-Nya lainnya;
~ Apa hakekat dari kehidupan akhirat (termasuk pula kehidupan di surga dan di neraka pada Hari Kiamat), serta kaitannya dengan kehidupan batiniah ruh tiap manusia di dunia;
~ Apa hakekat dari Hari Kiamat itu, berikut kejadian-kejadian di sekitarnya (kebangkitan; pertemuan, pengumpulan; penyaksian; penghisaban; pengadilan, pemutusan, pembalasan, dsb), serta apa kaitannya dengan kematian tiap manusia;
~ Apa hakekat dari 'syafaat', serta kaitannya dengan pengajaran-Nya dan proses penyaksian pada Hari Kiamat;
~ Apa hakekat dari 'mau dan tidak mau' bersujudnya para makhluk gaib kepada Adam (khususnya para malaikat dan iblis), pada saat Adam masih berada di alam arwah atau alam ruh;
~ Bagaimana 'wujud asli' para makhluk gaib, yang amat cerdas itu, serta tugas-amanatnya masing-masing yang diberikan-Nya;
~ Apa hakekat dari pengelompokan para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis), serta apa kaitannya dengan keseimbangan segala pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah bagi manusia;
~ Apa hakekat dari 'ilham', 'bisikan' atau 'godaan' para makhluk gaib, pada alam batiniah ruh tiap manusia;
~ Bagaimana cara-cara berinteraksi antara para makhluk gaib dan tiap manusia (terutama melalui 'bisikan suara' dari para makhluk gaib), pada interaksi secara 'terselubung atau tersembunyi', dan secara 'terang-terangan'
~ Apa hubungan antara 'ruh', 'atom' dan 'energi', sebagai elemen-elemen yang paling dasar penyusun seluruh alam semesta ini;
~ Bagaimana proses-proses awal penciptaan alam semesta, ataupun konsep kosmogoni dan kosmologi menurut ajaran agama Islam;
~ Apa kekeliruan-kesalahan pada teori para ilmuwan barat, tentang asal-muasal kehidupan makhluk di Bumi, serta apa kekeliruan-kesalahan pada teori 'big bang', teori 'evolusi' ataupun teori 'anti-materi'
~ Bagaimana siklus dan proses ringkas penciptaan segala makhluk hidup nyata, dari benih dasar tubuh wadahnya (tanah liat kering dari lumpur berwarna hitam, ataupun air mani);
~ Bagaimana proses ringkas penciptaan nabi Adam as, Hawa, nabi Isa as, dan manusia pada umumnya, serta berbagai kasus khusus dalam penciptaannya;
~ Apa hubungan antara syariat, pengalaman rohani-moral-spiritual umat, serta kehidupan batiniah ruh umat (kehidupan akhiratnya);
~ Apa hakekat dari 'jalan hidup' tiap manusia dan 'jalan-Nya yang lurus'
~ Apa hakekat dari 'ujian-Nya' (secara lahiriah dan batiniah), serta batas kemampuan manusia dalam menghadapinya;
~ Dan masih banyak lagi;

 

Tentunya tingkat kedalaman berbagai hikmah dan hakekat di atas, juga pasti bersifat 'relatif', ataupun masih bisa dipertanyakan dan didiskusikan. Ada pula berbagai pemahaman yang relatif agak serupa, dengan hal-hal yang telah berkembang luas di kalangan umat Islam. Maka selain berupa berbagai hasil pemahaman 'baru', melalui buku inipun sedang berusaha diklarifikasi atau dijawab tuntas, atas berbagai pemahaman yang telah berkembang luas itu.
Hal itu khususnya karena masih adanya sejumlah kontroversi dalam berbagai halnya di kalangan umat Islam, akibat dari banyaknya aliran-mazhab-golongan pemahaman keagamaan (teologi) yang ada di dalam agama Islam. Dan perbandingan atas berbagai pemahaman dari beberapa aliran teologi diungkap secara relatif lengkap di Lampiran D, termasuk di dalamnya rangkuman atas berbagai pemahaman dari hasil pembahasan pada buku ini.

Berbagai kelebihan dan kekurangan buku ini

Secara umum buku ini relatif amat berbeda dan juga memiliki kelebihan, dibanding dengan berbagai tulisan dan buku tentang agama Islam lainnya. Karena berbagai tulisan dan buku lainnya itu umumnya memiliki berbagai kekurangan, antara-lain seperti:

Berbagai kekurangan dan kelemahan
pada buku-buku keagamaan

Cukup jarang yang mengakui, bahwa segala petunjuk atau wahyu-Nya pada para nabi-Nya, justru berupa pengetahuan (pemahaman) mereka atas berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di alam semesta (Al-Hikmah). Hal ini tentunya pastilah melalui pengunaan 'akal' mereka, sambil dituntun oleh malaikat Jibril, yang memberi mereka segala ilham yang mengandung nilai-nilai kebenaran-Nya, melalui alam batiniah ruhnya (alam pikiran atau alam akhiratnya).

Tentunya cukup jarang pula yang mengakui, bahwa para nabi-Nya justru adalah orang-orang yang berilmu-pengetahuan paling tinggi di antara seluruh umat kaumnya pada setiap jamannya, khususnya dalam menguasai segala pengetahuan, tentang hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia, yang sebagian besarnya justru berupa hal-hal yang gaib dan batiniah.

Para nabi-Nya itu justru relatif amat banyak pengalaman hidupnya (termasuk dalam mengamati, mencermati dan mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya pada lingkungan sekitarnya), amat banyak pengalaman rohani-spiritual-batiniahnya, dan bahkan amat senang menyendiri untuk bisa bertafakur (memikirkan setiap kebenaran-Nya di alam semesta).

Dan segala hal yang dipahami oleh para nabi-Nya (wahyu-wahyu-Nya), bukan turun begitu saja 'dari langit'. Namun justru dari hasil usaha mereka yang relatif 'amat keras', di dalam mengenal Allah Tuhannya alam semesta ini, ataupun di dalam memahami berbagai kebenaran-Nya. Sekaligus tentunya mereka juga telah relatif 'amat konsisten', di dalam mengamalkan segala pemahamannya itu.

Cukup jarang yang berdasar berbagai pemahaman yang diperoleh dari suatu 'bangunan pemahaman' yang konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhan, atas berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) 'di balik' teks ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an dan hadits Nabi (Al-Kitab).

Para ahli tafsir dan ahli ijtihad mestinya telah memiliki 'bangunan pemahaman' seperti ini, tetapi amat jarang pula dari mereka, yang telah mengungkapnya secara 'utuh' melalui tulisan atau buku.

Hal yang biasanya terjadi, berbagai pemahaman mereka itu justru disampaikan melalui 'banyak' tulisan atau buku. Sehingga aspek-aspek kekonsistenan, keutuhan dan tidak saling bertentangannya secara keseluruhan pemahamannya, menjadi relatif sulit diketahui, kecuali jika semua tulisan atau buku mereka telah dibaca.

Cukup jarang yang relatif cukup lengkap dan saling 'mengaitkan' antar banyak aspek di dalam kitab suci Al-Qur'an, seperti: Allah; sifat-sifat Allah; alam semesta; atom dan ruh; segala zat ciptaan ataupun segala makhluk-Nya; alam nyata-dunia-lahiriah dan gaib-akhirat-batiniah; Hari Kiamat; amal-perbuatan makhluk; akhlak; pahala dan beban dosa; ujian-Nya; syariat dan pengalaman rohani-batiniah-spiritual; ilmu, Al-Hikmah, kenabian dan Al-Kitab; takdir-Nya atau Qadla dan Qadar-Nya; syafaat; agama-Nya; wahyu-Nya; nabi dan rasul utusan-Nya; kebebasan makhluk-Nya; hukum alam dan sunatullah; mu'jizat, ayat-ayat-Nya; azab-Nya; dsb.

Baca pula daftar lebih lengkapnya di bawah, tentang aspek-aspek yang terkait dengan keseluruhan pembahasan pada buku ini.

Cukup jarang yang relatif 'sistematis' bisa menjelaskan berbagai tindakan yang Maha Halus dari Zat Allah, serta berbagai tindakan ruh-ruh zat makhluk-Nya di alam semesta (makhluk gaib ataupun makhluk nyata). Serta tentunya relatif tidak cukup memadai pula bisa menjelaskan hal-hal gaib lainnya.
Pada umumnya penjelasan atas berbagai tindakan Zat Allah dan ruh-ruh zat makhluk-Nya hanya sekedar mengutip dari Al-Qur'an dan Hadits Nabi, tanpa melalui pemahaman yang menyeluruh.

Contoh sederhananya, hampir tidak ada sesuatu buku yang cukup jelas dan lengkap bisa mengungkap tentang Qadla dan Qadar-Nya (Takdir-Nya), atau "Apa hakekat sebenarnya dari takdir-Nya dan bagaimana ditentukan-Nya?". Perdebatan atas takdir-Nya, bahkan tidak pernah selesai tuntas dari jaman dahulu (sejak setelah Nabi wafat) sampai sekarang. Hal serupa juga terjadi pada agama lain.

Juga hampir tidak ada sesuatu buku yang bisa menjelaskan cukup lengkap dan mendalam, tentang "bagaimana proses wahyu, kalam atau risalah-Nya, kitab-Nya, agama-Nya, nabi dan rasul-Nya, dsb, pada saat diturunkan-Nya". Begitu pula hal-hal lainnya.

Cukup jarang yang bisa relatif 'ilmiah' dan 'terstruktur' di dalam membahas dan mengungkap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), di dalam ajaran-ajaran agama Islam (terutama kitab suci Al-Qur'an).

Contoh sederhananya, tidak ada yang memakai tabel dan gambar (skema atau diagram) dalam membahas pengetahuan keagamaan, seperti umumnya pada buku-buku ilmiah.

Padahal dalam setiap ajaran agama-Nya terkandung pengetahuan atau pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya, yang relatif sangat 'pasti' dan 'jelas' (nyata), selain tentunya 'benar' (haq).

Padahal melalui tabel dan gambar justru relatif lebih 'terstruktur' dan 'jelas', terutama dalam menerangkan tentang pengelompokan, pembagian, hierarki, percabangan, saling keterkaitan hubungan, aliran dan urutan pentahapan proses, dsb, daripada melalui teks-teks semata. Dan tentunya melalui tabel dan gambar bisa langsung mudah dan jelas dilihat 'gambaran ringkas' tentang sesuatu hal.

Sedang sesuatu yang 'benar' (haq) pastilah memiliki berbagai alur pemikiran yang 'jelas' dan berbagai dalil-alasan yang kuat. Walau diakui pula ajaran agama-Nya memang amat banyak mengandung pengetahuan tentang hal-hal gaib dan batiniah, yang memang juga relatif sulit dijelaskan, dan memang amat memerlukan keyakinan atau keimanan batiniah yang kuat.

Cukup banyak yang mengandung segala hal yang bersifat 'mistis-tahayul', yang tidak memiliki berbagai dalil-alasan dan penjelasan yang bisa diterima oleh akal-sehat.

Cukup jarang yang bisa menjawab berbagai persoalan pemahaman umat atas ajaran-ajaran agama-Nya, secara relatif 'memadai' dan 'tuntas' (melalui berbagai aliran-mazhab-golongannya). Terutama tentang sejumlah hal yang telah menjadi polemik dan kontroversi di kalangan umat, yang terkait dengan berbagai dasar-pokok bagi keyakinan atau keimanan umat, yaitu: Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para nabi-Nya, Hari Kiamat dan takdir-Nya.

Lebih detail lagi misalnya, berbagai persoalan pemahaman atas:

a. Berbagai sifat dan perbuatan-Nya.
b. Cara malaikat Jibril menurunkan wahyu-Nya, serta tugas para malaikat-Nya (ataupun para makhluk gaib secara umum).
c. Cara Allah menurunkan kitab-kitab-Nya, serta hubungan antar kitab-kitab-Nya.
d. Cara Allah mengutus ataupun menunjuk para nabi-Nya, serta hubungan antar para nabi-Nya.
e. Segala kejadian dan keadaan pada Hari Kiamat.
f. Cara Allah menentukan takdir-Nya bagi setiap makhluk-Nya, dan juga hubungannya dengan kebebasan makhluk-Nya dalam berkehendak dan berbuat.
g. Dan masih banyak lagi.

 

Padahal sangat kurang memadainya pemahaman umat atas hal-hal di atas, yang justru telah berperan sangat besar dalam melahirkan banyak aliran-mazhab-golongan di kalangan umat.

Jikalaupun hal-hal di atas telah bisa dijawab oleh berbagai aliran-mazhab-golongan itu, tetapi biasanya segala dalil-alasannya relatif masih sangat lemah. Dan bukan berdasar 'bangunan pemahaman' yang utuh dan menyeluruh atas keseluruhan kandungan kitab suci Al-Qur'an dan hadits Nabi, sehingga relatif mudah terbantahkan.

Cukup banyak yang hanya pandai mengumpulkan sejumlah ayat-ayat Al-Qur'an Hadits-hadits Nabi, tentang 'siapa yang benar dan yang sesat'. Tetapi amat lemah dalam memberi segala penjelasan, dan bahkan relatif amat sedikit segala dalil-alasannya, agar makin jelas memisahkan antara 'pemahaman yang benar dan yang sesat'.

Cukup banyak yang hanya berupa suatu rangkuman dan kumpulan pemahaman para alim-ulama terdahulu. Serta bukan berupa alur-pemikiran dan pemahaman yang utuh dari penulisnya sendiri.

Dari sangat berragamnya pemahaman para alim-ulama terdahulu, yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan dan perselisihan antar aliran-aliran teologi. Maka setiap tulisan dan buku juga mestinya bisa mengambil sesuatu 'kesimpulan', sebagai bentuk pemahaman yang bisa dianggap paling baik (minimal menurut penilaian relatif penulisnya), ataupun justru berbentuk berbagai pemahaman baru, yang sama-sekali berbeda.

Segala bentuk pemahaman manusia pasti bersifat 'relatif', maka hal yang paling penting justru agar selalu terus-menerus berusaha mengungkap atau mencari pemahaman yang 'makin baik', dengan segala dalil-alasan dan penjelasan yang 'makin baik' pula (makin lengkap, makin mendalam dan makin sulit terbantahkan).

Dan usaha pengungkapan hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) memang tidak akan pernah selesai tuntas oleh manusia, sampai dibukakan-Nya di Hari Kiamat.

Bahkan walaupun semua ajaran yang telah disampaikan oleh nabi Muhammad saw, telah relatif lengkap menjawab semua persoalan yang paling penting, mendasar dan hakiki dalam kehidupan umat manusia, khususnya di jaman Nabi. Tetapi pemahaman Nabi yang diungkapnya melalui lisan, tulisan, sikap dan contoh perbuatannya (Al-Kitab), tetap relatif berbeda daripada pemahaman Nabi sendiri (segala Al-Hikmah dalam dada-hati-pikiran Nabi).

Sehingga pengungkapan atas berbagai Al-Hikmah 'di balik' teks-teks ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi, semestinya tetap dilakukan oleh umat Islam, di samping pengungkapan langsung atas tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini.

Cukup banyak yang cenderung hanya bertujuan membela berbagai pemahaman pada suatu aliran, yang lebih diyakini oleh penulisnya sendiri. Bukan bertujuan untuk bisa mencari berbagai pemahaman yang 'makin baik', yang makin 'mendekati' berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), seperti yang telah dipahami oleh nabi Muhammad saw sendiri, secara relatif sangat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, di balik keseluruhan wahyu-Nya yang telah disampaikannya.

Walaupun untuk bisa mencapai berbagai pemahaman yang 'makin baik', jika perlu harus bisa mengkritik dan memperbaiki berbagai pemahaman pada aliran penulisnya sendiri.

Tentunya juga semestinya tidak secara sengaja menyembunyikan setiap kebenaran yang telah diketahui, sekecil apapun bentuknya, khususnya yang kurang menguntungkan bagi setiap pemahaman yang ingin terus dipertahankan.

Cukup jarang yang mempunyai keberanian untuk melewati batas-batas dogmatis, yang telah dipakai oleh sebagian besar umat Islam selama berabad-abad, yang biasa timbul dari segala pemahaman secara 'tekstual-harfiah' atas ajaran-ajaran agama-Nya. Walaupun sebagian dari dogma-dogma itu justru diajarkan dan disampaikan oleh nabi Muhammad saw sendiri, yang tentunya hanyalah sesuai bagi umat di jaman Nabi, dan hanyalah sesuai sebagai pengajaran 'paling dasar' bagi umat pada umumnya.

Padahal setiap pemahaman 'tekstual-harfiah' adalah suatu bentuk pemahaman yang 'paling sederhana', sedangkan pemahaman yang sebenarnya dan 'paling tinggi' nilainya, berupa setiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah). Karena setiap Al-Hikmah itu justru bersifat 'universal', bahkan meliputi atau mencakup seluruh ayat kitab suci Al-Qur'an dan seluruh Sunnah Nabi yang terkait.
Dan bahkan juga bisa meliputi atau mencakup seluruh ajaran yang terkait, dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman, karena memang menyangkut berbagai kebenaran-Nya di alam semesta itu sendiri, yang mestinya memang bisa dipahami oleh seluruh umat manusia.

Cukup jarang yang ditujukan secara relatif umum kepada 'seluruh' umat manusia di muka Bumi. Padahal seluruh ajaran agama-Nya justru mestinya bersifat universal. Maka selain agar bisa dipahami oleh kalangan umat Muslim sendiri, mestinya bisa pula oleh umat non-Muslim, agar bisa membawa mereka kembali ke agama atau jalan-Nya yang lurus.

Agar bisa diperoleh berbagai kemanfaatan dan rakhmat-Nya yang lebih besar, maka pemakaian semua istilah bahasa Arab misalnya, mestinya semaksimal mungkin disertai dengan terjemahannya.

Juga segala penghujatan kepada umat-umat yang pemahamannya berbeda dan bahkan agamanya berbeda, mestinya jauh dikurangi. Justru jauh lebih baik, jika langsung dikemukakan tiap kelemahan dan kerugian yang bisa ditimbulkan, dari pemahaman dan agama yang berbeda tersebut. Sekaligus tentunya dikemukakan pula tiap pemahaman yang benar, serta tiap kelebihan dan keuntungan yang bisa diperoleh (rahmat dan pahala-Nya).

Dalam Al-Qur'an, justru penghujatan hanyalah dilakukan terhadap 'pribadi dan kelompok' umat, yang memang telah berbuat 'sangat berlebihan' atau 'sangat melampaui batas' (Abu jahal, Fir'aun, Bani Israil, kaum musyrik, dsb).
Bahkan para 'ahli kitab' (umat Nasrani dan Yahudi) yang masih mengikuti 'agama-Nya yang lurus', tetaplah dianggap pula sebagai orang-orang yang beriman.

Kepada umat-umat yang pemahamannya relatif berbeda mestinya sangat dihindari menyalahkan 'pribadi dan kelompoknya', namun sebaiknya lebih menyalahkan pemahamannya itu sendiri. Karena tiap pribadi dan kelompok sangat tidak tertutup kemungkinan bisa pula mempunyai berbagai pemahaman lainnya yang relatif 'benar'. Bahkan hampir tidak ada pribadi dan kelompok yang keseluruhan pemahamannya relatif 'sempurna', seperti pada para nabi-Nya.

 

Pada buku ini dicoba semaksimal mungkin dihindari berbagai kekurangan di atas. Namun tentunya buku ini masih memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan, antara-lain misalnya:

Berbagai kekurangan dan kelemahan pada buku ini

Karena belum menguasai bahasa Arab, maka penulis justru lebih memilih untuk mempercayakan para ahli bahasa Arab, yang telah menuliskan terjemahan kitab suci Al-Qur'an dari Dep. Agama RI. Dan kebetulan buku ini memang hanya membahas, tentang kitab suci Al-Qur'an dan berbagai topik-aspek di dalamnya.

Sehingga penulis tinggal berusaha mencari sesuatu 'makna yang sebenarnya', yang bisa menghubungkan keseluruhan ayat-ayat Al-Qur'an yang terkait secara 'relatif' paling tepat dan benar, tentang setiap topik-aspeknya. Tentunya semakin baik, jika umat memiliki relatif banyak waktu untuk menguasai bahasa Arab, saat sebelum ataupun saat sedang mengkaji kandungan isi kitab suci Al-Qur'an.

Dengan relatif terbatasnya sumber daya, maka segala pemahaman pada buku ini tentang para makhluk gaib, hanya diperoleh melalui suatu penelitian yang sangat sederhana. Karena hanya bersumber dari sangat sedikit responden, yang kebetulan telah berhubungan secara 'terang-terangan' dengan para makhluk gaib.

Namun dari penelitian itu, penulis telah memperoleh relatif cukup banyak pemahaman, misalnya tentang:

~ Ruh, sebagai elemen paling dasar yang membentuk kehidupan segala makhluk-Nya (para makhluk gaib hanya berupa ruh);
~ Kehidupan pada alam ruh atau alam akhirat, di dunia ataupun di Hari Kiamat (para makhluk gaib menjaga alam akhirat);
~ 'Wujud asli' para makhluk gaib (termasuk jenis kelaminnya);
~ Kecerdasan para makhluk gaib;
~ Hakekat dari malaikat, jin, syaitan dan iblis;
~ Hakekat dari 'ilham-bisikan-godaan' dari para makhluk gaib;
~ Tugas-tugas para makhluk gaib, terutama dalam memberikan segala pengajaran dan ujian-Nya secara 'batiniah'
~ Keseimbangan ataupun kenetralan segala pengajaran dari para makhluk gaib;
~ Adanya para makhluk gaib yang pasti selalu mengikuti setiap manusia sepanjang hidupnya, pada alam batiniah ruhnya;
~ Bentuk wahyu, kalam atau sabda-Nya yang sebenarnya;
~ Bagaimana cara wahyu diturunkan-Nya, ke dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya, melalui perantaraan malaikat Jibril;
~ Bagaimana Allah menjaga akhlak para nabi-Nya;
~ Hakekat dari 'catatan amalan' setiap manusia (termasuk cara dibuka, dibaca atau diberitakan, oleh para malaikat Rakid dan 'Atid, di dunia ataupun di Hari Kiamat);
~ Hakekat dari 'pengadilan akhirat' di Hari Kiamat;
~ Hakekat dari siksaan-Nya di neraka, dan nikmat-Nya di Surga;
~ Proses ditiupkan dan dibangkitkan-Nya ruh;
~ Dan banyak lagi pemahaman terkait lainnya.

 

Hal inipun tentunya diperoleh, setelah dicocokkan dengan segala keterangan dan penjelasan terkait di dalam kitab suci Al-Qur'an.

'Bangunan pemahaman' pada buku inipun belum meliputi seluruh ayat Al-Qur'an (baru meliputi ± 2900 ayat-ayat Al-Qur'an, atau ± 46% dari seluruh 6236 ayat-ayat Al-Qur'an).

Seluruh pemahaman Al-Hikmah di dalam 'bangunan pemahaman' pada buku ini, telah disusun dan dibahas secara relatif sistematis, terstruktur dan ilmiah (beserta segala dalil-alasan dan penjelasan), termasuk pula di dalamnya berbagai pemahaman yang telah bisa diketahui, tentang hal-hal gaib dan batiniah.

Dan Maha Suci Allah, semua ayat Al-Qur'an yang terkait langsung dengan 'bangunan pemahaman' Al-Hikmah pada buku ini, justru benar-benar telah bisa terbukti "relatif" sangat konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya.

Sedang pembuktian semacam ini justru mustahil tercapai, melalui pemahaman secara 'tekstual-harfiah', terutama akibat dari adanya segala bentuk 'contoh-perumpamaan simbolik', sebagai alat untuk bisa relatif makin memudahkan penjelasan, atas hal-hal gaib dan batiniah. Dan 'contoh-perumpamaan simbolik' tetap bukan fakta-kenyataan yang sebenarnya (hanyalah sesuatu pendekatan analogi sebagai pengajaran, agar umat relatif makin mudah merasakan dan memahaminya secara 'tidak langsung').

Pada buku inipun amat sedikit menyertakan Hadits Nabi dan hasil ijtihad para alim-ulama terdahulu ataupun saat ini. Karena pada buku ini memang hanya bertujuan utama untuk mempelajari dan mengungkap 'bangunan pemahaman' nabi Muhammad saw, yang telah diungkapkannya melalui kitab suci Al-Qur'an.

Padahal kitab suci Al-Qur'an adalah dasar tertinggi ajaran agama Islam (terkandung segala dasar-pokok ajaran agama Islam, secara utuh dan lengkap).

Insya Allah, jika di masa mendatang 'bangunan pemahaman' pada buku ini telah utuh dan lengkap, atas keseluruhan ayat kitab suci Al-Qur'an, maka akan relatif makin mudah untuk mempelajari dan mengungkap dasar-dasar ajaran agama Islam lainnya (Hadits Nabi dan hasil ijtihad para alim-ulama).

Di samping 'bangunan pemahaman' pada buku ini yang telah bisa berhasil menjelaskan dan saling mengaitkan antar banyak aspek di dalam kitab suci Al-Qur'an, seperti: Allah; sifat dan fitrah Allah; alam semesta; atom dan ruh; segala zat ciptaan dan makhluk-Nya; alam nyata-dunia-lahiriah dan gaib-akhirat-batiniah; Hari Kiamat; pahala dan beban dosa; pengalaman rohani-batiniah-spiritual dan syariat; akhlak; amal-perbuatan makhluk; ujian-Nya; takdir-Nya (qadla dan qadar-Nya); ilmu, Al-Hikmah, kenabian dan Al-Kitab; syafaat; wahyu, kitab dan agama-Nya; para nabi dan rasul utusan-Nya; mu'jizat, ayat-ayat-Nya; azab dan siksa-Nya; sunatullah dan hukum alam; kebebasan makhluk-Nya; dsb.

Baca pula daftar lebih lengkapnya di bawah, tentang aspek-aspek yang terkait dengan keseluruhan pembahasan pada buku ini.

Namun masih banyak pula hal-hal lain yang belum dibahas secara relatif lengkap, seperti:

a. Seluruh sifat Allah pada Asmaul Husna.
b. Segala hal yang disebut dalam Hadits Nabi, sebagai penjelasan lebih lengkap dan detail bagi pengamalan ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an (termasuk penjelasan atas berbagai hukum syariat).
c. Segala sunatullah batiniah;
d. Segala bentuk akhlak positif dan negatif;
e. Do'a-do'a;
f. Perbedaan gender (jenis kelamin);
g. Dsb.

Pembahasan pada buku ini relatif belum cukup detail, lengkap dan mendalam, terutama karena memang sangat banyak dan luasnya aspek dalam kitab suci Al-Qur'an, yang menyangkut keseluruhan aspek yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan seluruh umat manusia. Sehingga buku ini hanya bertujuan untuk bisa memberi gambaran umum atas 'bangunan pemahamannya'.
Pembahasan yang relatif detail, lengkap dan mendalam hanya bisa dilakukan atas topik-topik tertentu yang dianggap sangat penting, misalnya: Sunatullah, proses turunnya wahyu-Nya, para makhluk gaib beserta tugas-tugasnya, alam akhirat, dsb.

Walaupun begitu, 'keutuhan' bangunan pemahaman pada buku ini justru lebih diutamakan daripada 'kelengkapannya'. Kelengkapan inipun tentunya relatif makin tercapai, jika atas ijin-Nya, di masa mendatang bangunan pemahamannya telah meliputi 'seluruh' ayat Al-Qur'an. Sementara ini, segala hal yang belum berhubungan erat dengan berbagai topik yang telah dibahas, memang sengaja belum disertakan (tidak hanya sekedar lengkap, namun harus ada saling keterkaitan antar topik-topiknya).

Sedang pembahasan yang jauh lebih detail dan mendalam, lebih tepat jika dicari dari sumber-sumber lainnya, karena tujuan utama seluruh pembahasan pada buku ini, hanya sekedar 'secukupnya' untuk bisa membuktikan kekonsistenan, keutuhan dan tidak saling bertentangan, atas 'sebagian' kandungan isi kitab suci Al-Qur'an, yang telah mampu dibahas (atau atas ijin-Nya, nantinya juga atas 'seluruh' kandungan isinya).

Pembuktian semacam ini justru sangat jarang dilakukan oleh umat Islam, bahkan termasuk para alim-ulamanya. Padahal keimanan umat bisa jauh makin kuat, jika umat telah bisa membuktikannya.

Buku inipun pada dasarnya hanya cocok bagi kalangan umat yang telah relatif cukup tinggi pengetahuannya, karena kalangan umat ini telah dianggap relatif cukup 'siap' menerima setiap Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya). Sebaliknya buku ini kurang cocok bagi kalangan umat yang awam, yang relatif belum tinggi pengetahuannya, karena kalangan umat ini justru bisa mengalami kekagetan dan terganggu keimanannya. Sekaligus agar terhindar timbulnya segala fitnah yang amat tidak perlu di kalangan umat.

Pemahaman Al-Hikmah pada dasarnya 'relatif berbeda' daripada pemahaman tekstual-harfiah. Karena setiap Al-Hikmah itu bukan berdasar makna tekstual-harfiah dari 'ayat per ayat', tetapi justru semaksimal mungkin berusaha berdasar makna dari 'seluruh ayat terkait' (dari sesuatu 'benang merah' yang bisa menghubungkan seluruh ayat terkait, secara relatif paling tepat dan benar). Maka makna tekstual-harfiah dan makna hikmah dan hakekatnya justru bisa 'relatif berbeda'.

Padahal makna 'tekstual-harfiah' itulah yang biasanya dibaca dan dipahami langsung oleh umat-umat yang awam, dari berbagai teks ajaran-ajaran agama-Nya.

Belum disertakan seluruh ayat Al-Qur'an yang berkaitan langsung dengan bangunan pemahaman pada buku ini (sebagai pendukung segala dalil-alasan pemahamannya), antara-lain karena:

a.

Banyak kata dan cara untuk mengungkap suatu hal yang sama.
Misalnya kata 'kehendak', bisa diganti oleh kata synonimnya, seperti: 'kecenderungan', 'kesukaan', 'harapan', 'keinginan', 'kemauan', 'keredhaan', dsb. Begitu pula cara pengungkapan yang bisa berbeda-beda (berbagai jenis kata dan kalimatnya).

Maka ditemui pula banyak kesulitan, akibat variasi pemakaian kata-kata seperti itu, saat mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an yang terkait secara 'lengkap'.

b.

Keterbatasan jumlah halaman buku. Sehingga ayat-ayat yang kandungan isinya dan cara pengungkapannya sama, biasanya hanya diwakili oleh satu atau dua ayat saja.

Kutipan ayat-ayat Al-Qur'an hanya disertakan teks terjemahannya saja (belum ada teks bahasa Arab-nya), dan bahkan hanya nomor ayatnya saja, terutama karena sangat banyaknya jumlah ayat yang disertakan (ada ribuan ayat), dan keterbatasan halaman buku.

Maka ketika sambil membaca buku ini, pembaca diharapkan pula menyediakan kitab suci Al-Qur'an, agar bisa memeriksa langsung ayat-ayatnya.

Dari keseluruhan pembahasan pada buku ini cukup jelas tampak, bahwa 'masih' bercampur-baur antara berbagai pemahaman, yang berupa makna tekstual-harfiah secara simbolik dan makna hakekat yang sebenarnya (minimal menurut penilaian 'relatif' penulis).
Maka konsistensi maknanya juga seolah-olah berkurang, terutama karena relatif sangat banyak, kompleks dan luasnya, seluruh topik pada buku ini.

Namun pencampuran semacam ini justru masih bersifat alamiah, dan juga terjadi dalam kitab suci Al-Qur'an sendiri (sekaligus ada makna tekstual-simbolik dan makna hakekatnya). Bahkan dalam Al-Qur'an ataupun kitab-kitab-Nya lainnya, fokus utamanya justru sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya kepada umat, yang bersifat relatif sederhana, praktis-aplikatif dan aktual, agar umat juga bisa lebih mudah memahami dan mengamalkannya. Sehingga di dalam Al-Qur'an juga sangat banyak segala bentuk contoh-perumpamaan simbolik, untuk makin bisa memudahkan penjelasan, atas hal-hal gaib dan batiniah. Di samping itu, ada pula satu ataupun beberapa ayat-ayat Al-Qur'an (umumnya relatif tersembunyi dan terbatas), yang menjelaskan makna yang sebenarnya, atas hal-hal terkait.

Segala bentuk pemahaman tekstual-simbolik pada buku ini justru sengaja tetap diungkapkan, agar relatif bisa lebih perlahan, mudah dan jelas, saat mengantarkan umat pada pemahaman hakekatnya. Bahkan semaksimal mungkin pemahaman tekstual-simbolik justru disertakan, agar umat bisa pula mengetahuinya dengan jelas setiap latar-belakang dari timbulnya pemahaman hakekat terkait.

Juga karena segala dalil-alasan dari menggunakan makna tekstual-simbolik itu jauh lebih mudah diterima oleh sebagian besar umat, yang memang 'mudah langsung' bisa diambil dari teks-teks ajaran yang disampaikan oleh nabi Muhammad saw, jika dibandingkan penerimaan atas makna lainnya dari hasil pemahaman umat-umat manusia lainnya, termasuk pula dari penulis.

Sehingga pemakaian makna tekstual-simbolik dalam pembahasan pada buku ini biasanya agar bisa relatif lebih mudah dan ringkas, saat membahas dan mengungkap makna hakekat atas suatu topik tertentu (untuk bisa mendukung dan memperkuat dalil-alasannya). Sedangkan pada topik lainnya, makna tekstual-simbolik itu sendiri juga dibahas dan diungkap pula makna hakekatnya.

Segala makna tekstual-simbolik dari teks-teks ajaran agama-Nya pada dasarnya bukan hal-hal yang telah 'keliru' maknanya. Tetapi segala contoh-perumpamaan simbolik dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits, tetap bukan fakta-kenyataan yang sebenarnya (hanya analogi-pendekatan). Juga segala konteks keadaan yang melatar-belakangi proses penyampaian tiap ayat-ayatnya (konteks waktu, ruang, budaya, dsb), justru relatif tidak terungkapkan pada teks-teksnya. Sehingga pemahaman 'langsung' dari teks-teks ayatnya, relatif pasti tidak bisa menunjukkan makna yang sebenarnya, yang dimaksudkan oleh nabi Muhammad saw.

Berbagai makna hakekat yang berusaha diungkap dalam seluruh pembahasan pada buku inipun, pada dasarnya berasal dasi usaha-usaha yang semaksimal mungkin dalam 'merekonstruksi' ataupun 'mengungkap' kembali berbagai konteks keadaan tersebut. Agar segala sesuatu halnya 'diharapkan' makin bisa ditempatkan pada tempat yang semestinya, juga agar makin bisa 'mendekati' hal-hal yang sebenarnya, yang dimaksudkan oleh Nabi.

Dari pembahasan pada buku ini ada tampak pula sejumlah sangat kecil dugaan, dan pencampuran atas dua ataupun lebih anggapan, sehingga berbagai pemahamannyapun seolah-olah kurang tepat.

Namun berbagai dugaan dan anggapan ini, selain jumlahnya yang sangat sedikit, pada dasarnya justru tidak ikut menyusun struktur utama 'bangunan pemahaman' pada buku ini. Dan hanya dipakai sebagai kemungkinan pengembangan lebih lanjutnya, jika segala dalil-alasannya telah cukup kuat.

Berbagai 'dugaan' itu pada dasarnya timbul dari pembahasan atas hal-hal yang hampir tidak ada keterangannya dalam kitab suci Al-Qur'an. Walau ada dalil-alasannya, namun masih relatif lemah.

Sedang pencampuran atas dua ataupun lebih 'anggapan' biasanya timbul dari sesuatu pemahaman baru, yang justru bisa ditemukan dan diungkapkan belakangan, ketika penulisan buku ini mendekati penyelesaiannya. Sehingga tiap pemahaman baru itupun dianggap sebagai 'tambahan' bagi pemahaman sebelumnya, agar tiap umat bisa memilih-milih pemahaman yang dianggapnya 'lebih baik'.

 

Tentunya ada pula berbagai kelebihan dan kekurangan lainnya pada buku ini, yang barangkali belum sempat disebutkan di atas. Amat diharapkan apabila para pembaca bisa pula ikut menyebutkannya, bagi perbaikan-perbaikan buku ini di masa mendatang.

Harapan adanya 'kitab Al-Hikmah' dari Majelis alim-ulama

Adanya berbagai kekurangan pada buku ini di atas, khususnya karena hanya ditulis oleh penulis sendiri. Padahal amat idealnya, buku seperti ini semestinya dibuat oleh Majelis alim-ulama, yang didukung pula oleh para ahli dari berbagai bidang keilmuan (para cendikiawan Muslim). Karena pada dasarnya, Majelis alim-ulama yang semestinya justru mewarisi 'tugas-peran' para nabi-Nya. Bukan hanya alim-ulama perseorangan, dan juga bukan hanya mewarisi 'ajaran' para nabi-Nya.
Maka Majelis alim-ulama itulah yang semestinya justru paling berkepentingan agar bisa memahami berbagai Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), pada ajaran-ajaran para nabi-Nya (terutama berbagai Al-Hikmah yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi), dan pada tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta, apabila para alim-ulama dalam Majelis alim-ulama itu memang benar-benar ingin mewarisi 'tugas dan ajaran' para nabi-Nya.

Hal ini amat perlu dilakukan, sebelum Majelis alim-ulama bisa melahirkan segala bentuk ijtihad atau fatwa, minimal pemahaman atas setiap Al-Hikmah yang terkait. Walau pada pemahaman di sini, setiap Al-Hikmah semestinya bukan sesuatu yang bisa berdiri sendiri, namun telah menjadi bagian dari 'bangunan pemahaman' atas keseluruhan Al-Hikmah, yang tersusun relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan.

Sedangkan hanya Majelis alim-ulama yang dianggap memiliki sumber daya yang paling memadai, untuk melahirkan suatu 'kitab Al-Hikmah'. Walaupun 'kitab Al-Hikmah' ini memang kurang cocok bagi umat secara umum, yang justru lebih memerlukan setiap hasil ijtihad, sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya yang bersifat relatif sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, sesuai segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umat pada setiap jamannya.
Sebaliknya 'kitab Al-Hikmah' ini relatif hanya cocok bagi para alim-ulama dan umat-umat yang relatif cukup berilmu, karena setiap Al-Hikmah bersifat relatif amat rumit, tidak praktis dan universal (bisa melewati batas ruang, waktu dan budaya). Sehingga setiap Al-Hikmah pada dasarnya bisa dipakai dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun, dari hasil pemahaman atas tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini. Pemahaman atas tanda-tanda kekuasaan-Nya itu justru telah terjadi dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman, yang secara alamiah bahkan relatif makin sempurna pemahamannya (relatif makin lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan).

Tentunya 'tugas-peran' para nabi-Nya semestinya dilanjutkan oleh Majelis alim-ulama pada berbagai negeri (bersama dengan para cendikiawan Muslim), untuk makin banyak mengungkap tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya secara terus-menerus, karena memang mustahil bisa terungkap tuntas semuanya sampai akhir jaman. Walau para nabi-Nya memang telah bisa mengungkap segala hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan seluruh umat manusia.
Maka minimalnya sekali, Majelis alim-ulama semestinya bisa mengungkap berbagai Al-Hikmah di balik teks-teks ayat kitab suci Al-Qur'an dan hadits Nabi. Dan setiap wahyu-Nya justru diturunkan-Nya berbentuk Al-Hikmah, ke dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya, dan bukan diturunkan-Nya berbentuk teks-teks ayat Al-Kitab (kitab-Nya).
Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya", tentang adakah kemungkinan bagi penyusunan "kitab Al-Hikmah".

Kemunduran ilmu-pengetahuan di kalangan kaum Muslim

Pada masa sekarang ini, amatlah sangat kentara tertinggalnya kaum Muslim daripada kaum non-Muslim (khususnya bangsa-bangsa barat), di dalam bidang ilmu-pengetahuan dan teknologi. Ironisnya hal inipun justru berkebalikan dari keadaan pada jaman keemasan Islam dahulu, dari sejak nabi Muhammad saw diutus-Nya sebagai salah satu dari Rasul-Nya sampai beberapa abad setelah wafatnya Nabi. Di mana pada saat itu kemajuan ilmu-pengetahuan pada kaum Muslim sedang mencapai masa-masa kejayaannya. Bahkan telah tercatat pula dalam sejarah, bahwa pada jaman keemasan Islam itu justru bangsa-bangsa barat banyak belajar dari kaum Muslim, tentang berbagai bidang ilmu-pengetahuan.

Tentunya bidang ilmu-pengetahuan yang ditinjau di atas lebih khusus pada aspek lahiriah, yang memang jauh lebih mudah tampak. Padahal ilmu-pengetahuan lahiriah yang dimiliki oleh kaum Muslim dahulu, hanya sebagian kecil saja dari segala ilmu-pengetahuan yang diilhami dari Al-Qur'an. Sedangkan dalam Al-Qur'an memang amat menekankan pada aspek batiniah, sebagai aspek yang paling penting, mendasar dan hakiki dari diturunkan-Nya setiap agama tauhid, untuk bisa menjawab segala persoalan mendasar kehidupan umat manusia.
Hal yang lebih ironisnya lagi, justru pengetahuan umat Islam tentang hal-hal batiniah itu, ikut pula mengalami kemunduran ataupun mencapai stagnasi. Sedang hal-hal batiniah justru amat terkait dengan keimanan atau keyakinan batiniah setiap umat Islam, yang diperlukan dalam beragama ataupun dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Salah-satu hal yang diduga berperanan amat penting dalam hal kemunduran hampir seluruh bidang ilmu-pengetahuan pada kalangan kaum Muslim (pada aspek lahiriah dan batiniah), adalah melemahnya pemahaman umat Islam atas ajaran-ajaran agamanya (khususnya Al-Qur'an dan Sunnah Nabi). Padahal pada kedua dasar utama ajaran ini selain kandungan isinya amat luas dan lengkap, seperti tentang proses dan tujuan penciptaan alam semesta, dan termasuk proses penciptaan kehidupan manusia di dalamnya (lahiriah dan batiniah), juga banyak mengandung sumber inspirasi yang amat kaya bagi ilmu-pengetahuan.
Bahkan dalam Al-Qur'an tercakup pula berbagai bidang ilmu-pengetahuan, yang telah dikenal umat manusia saat ini, seperti: fisika, biologi, matematika, astronomi, geografi, psikologi, kimia, dsb. Dan seluruh ilmu-pengetahuan yang terkandung dalam Al-Qur'an, bahkan telah banyak yang terbukti kebenarannya oleh para ilmuwan modern.

Teori 'big bang' misalnya (ledakan atau dentuman besar), yang berkaitan dengan proses kejadian pada awal penciptaan alam semesta, yang telah dikenal dan dipakai secara luas di kalangan ilmuwan barat sejak abad ke-20, justru telah diungkap 'hampir serupa' belasan abad sebelumnya dalam Al-Qur'an (sejak abad ke-7).

Pengaruh lanjutan dari kemunduran pemahaman atas berbagai bidang ilmu-pengetahuan pada kalangan kaum Muslim itu, misalnya, terus-menerus habisnya waktu, energi dan pikiran umat Islam dalam mengatasi segala persoalan internalnya sendiri, yang timbul di antara kalangan umat Islam, khususnya dengan hanya saling bertengkar atau mempertentangkan hal-hal yang bersifat khilafiyah, yang tidak begitu prinsipiil atau tidak mendasar bagi kehidupan beragama umat.
Hampir tidak ada pula suatu pengembangan pemahaman atau penafsiran bersama atas ajaran-ajaran agama Islam, dari semua aliran-mazhab-golongan yang ada. Sehingga umat Islam pada saat ini seolah-olah hanya berjalan di tempat saja, bahkan cenderung terpinggirkan dan belum bisa aktif memberikan warna bagi perkembangan dunia.

Padahal semestinya secara terus-menerus dan bersama-sama, umat Islam semakin memperdalam dan mengembangkan pengetahuan atau pemahamannya atas berbagai ajaran agama Islam, agar bisa pula mengatasi segala tantangan dan persoalan internal umat yang semakin meningkat sesuai perkembangan jaman, termasuk pula pengaruh dan persoalan eksternal dari pihak-pihak lainnya, yang sejak jaman dahulu memang tidak menyukai setiap kemajuan di kalangan umat Islam.
Lebih khususnya, agar setiap umat Islam bisa memiliki segala pemahaman, yang semakin mendekati pemahamannya Rasulullah nabi Muhammad saw tentang berbagai kebenaran-Nya, dan sekaligus pula agar umat bisa mengamalkan berbagai ajaran yang telah disampaikan oleh Nabi, secara semakin konsisten, utuh, menyeluruh dan benar.

Keutamaan berilmu-pengetahuan menurut Al-Qur'an

Dalam Al-Qur'an telah jelas disebut amat banyak anjuran, agar umat Islam menguasai berbagai bidang ilmu-pengetahuan, serta agar sebanyak mungkin memakai 'akal-pikiran'-nya untuk bisa memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini (lahiriah dan batiniah). Dan amat banyak pula disebut segala keutamaan bagi setiap umat Islam yang berilmu, yang berakal (mau menggunakan akalnya), serta yang mau mengamati, berpikir, mempelajari, memahami, dsb.
Bahkan pada dasarnya para nabi-Nya adalah orang-orang yang juga berilmu-pengetahuan paling tinggi pada setiap jamannya masing-masing. Karena mereka telah amat mendalam bisa memahami, tentang hikmah dan hakekat dari penciptaan alam semesta dan segala isinya, bahkan mereka bisa memahami pula sifat-sifat zat Allah, Tuhan Yang menciptakan seluruh alam semesta ini. 2)

Suatu pengembangan pemahaman terhadap setiap bidang ilmu-pengetahuan di kalangan umat Islam, selain agar bisa mengungkapkan tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya, agar makin meningkatkan keimanan atau keyakinannya, juga agar bisa memanfaatkan berbagai rahmat-Nya yang amat luas di alam semesta, demi kemaslahatan umat manusia. Namun tentunya bukanlah dengan cara-cara yang berlebihan dalam mengeksploitasi alam (keseimbangan semestinya tetap dijaga), dan bukanlah pula untuk tujuan-tujuan yang tidak diredhai-Nya.
Lebih khususnya lagi, agar bisa mengungkap berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), 'di balik' teks kitab suci Al-Qur'an. Hal ini yang diduga kuat telah bisa membuat kaum Muslimin pada jaman dahulu, mengalami masa keemasan atau kejayaan. Selain karena memperoleh bimbingan langsung dari 'tangan-tangan pertama' (Nabi dan para sahabat Nabi), juga karena mereka itu amat mendalam dan serius dalam membuktikan dan mengkaji kandungan isi kitab suci Al-Qur'an dan kitab-kitab Hadits Nabi (Sunnah Nabi).

Ironisnya, justru kemauan, kemampuan dan keberanian seperti itu telah jauh menipis pada saat ini. Sehingga Al-Qur'an seolah-olah hanyalah diletakkan di atas 'menara gading' yang amatlah tinggi, serta dibaca setiap harinya, tetapi tanpa dikaji ataupun ditelaah sama sekali kandungan isinya secara lengkap, mendalam, konsisten dan utuh.
Terutama karena adanya sebagian dari umat Islam yang lebih beranggapan, bahwa wahyu-wahyu-Nya di dalam Al-Qur'an mustahil bisa dijangkau dengan akal. Sehingga seolah-olah ada jarak yang amat besar, antara Al-Qur'an dan berbagai kebutuhan nyata pada kehidupan umat Islam sehari-harinya (yang hanya dipahaminya dengan akalnya).

Maka tidak terlalu mengherankan, apabila masih amat banyak umat Islam, yang misalnya:

~ Beragama, tanpa pernah mengetahui apa hakekat dari agama Islam dan bagaimana agama Islam diturunkan-Nya;
~ Beramal-ibadah, tanpa mengetahui tiap ruhnya (tujuan batiniah) di baliknya. Juga tanpa mengetahui pengaruh lanjutannya (terutama berbagai kemanfaatannya), yang mestinya terasa dalam kehidupan umat (terutama kehidupan batiniah ruhnya);
~ Bermimpi mendirikan suatu negara Islam (dengan sistem hukum dan pemerintahan), tanpa memiliki segala dasar konsep yang jelas dan lengkap, serta tanpa memahami konteks jamannya. Dan pada umumnya hanya memiliki semangat dan keyakinan semata (tanpa segala dalil-alasan yang bisa diterima oleh akal-sehat);
~ Berjihad, tanpa mengetahui maksud, tujuan dan caranya;
~ Berpoligami, tanpa mengetahui dasar-dasar alasan, hak, kewajiban ataupun caranya yang benar; dan banyak lagi lainnya;

 

Hal-hal seperti di atas dan hal-hal lainnya di dalam kehidupan beragama umat, diduga kuat bisa timbul, karena relatif banyak para alim-ulama yang cenderung telah memisahkan dan mempertentangkan antara 'agama' dan 'akal'. Padahal usaha para alim-ulama ini mestinya hanya agar bisa makin meningkatkan sikap kehati-hatian umat, karena relatif amat sulit memisahkan antara hasil akal-pikiran yang subyektif dan yang obyektif pada setiap umat, juga karena amat luasnya tingkat obyektifitas akal manusia.
Di lain pihak, justru hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) pada ajaran-ajaran agama Islam, hanya bisa dipahami dengan menggunakan akal-pikiran secara amat obyektif (sesuai dengan segala kebenaran-Nya ataupun tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta).

Tetapi jika segala usaha para alim-ulama itu agar bisa menjaga kemuliaan ajaran-ajaran agama Islam justru telah terlalu 'berlebihan', maka setiap kebenaran-Nya dalam ajaran-ajaran itu justru akan sulit terjaga, sulit terungkap ataupun sulit bisa dipahami setiap hikmah dan hakekatnya (Al-Hikmah). Dan sulit pula bisa dicapai tingkat keyakinan batiniah (pemahaman), yang makin tinggi pada setiap umat.
Sedang di lain pihaknya, pada akhirnya keyakinan yang terjadi hanyalah bisa timbul dari pemahaman yang bersifat 'taklid-dogmatis' (dipaksakan, tetapi tanpa pemahaman sama sekali). Padahal keimanan yang paling tinggi berasal dari pemahaman yang amat mendalam atas berbagai kebenaran-Nya (keimanan batiniah) lalu disertai pula dengan pengamalannya yang amat konsisten (keimanan lahiriah), seperti yang dimiliki dan dilakukan oleh para nabi-Nya.

Hasil pemakaian akal-pikiran secara amat obyektif (atau sesuai dengan akal sehat), dalam memahami hal-hal lahiriah dan batiniah di alam semesta ini (tanda-tanda kekuasaan-Nya), semestinya juga sesuai dengan seluruh ajaran agama Islam. Karena hanya dengan proses yang amat panjang, melalui intuisi-nalar-logika akal-sehat pada para nabi-Nya itulah, ketika Allah menurunkan agama-Nya yang lurus kepada mereka. Di samping itu tentunya, pasti melalui perantaraan malaikat mulia Jibril pada alam batiniah ruh mereka (alam pikiran).
Akhirnya, setiap usaha secara sadar ataupun tidak, yang terlalu 'berlebihan' mempertentangkan antara agama dan akal manusia, justru sama halnya dengan suatu usaha yang bisa memperlemah, atau bahkan bisa membinasakan agama itu sendiri. Na'udzubillah. Sehingga Allah memurkai orang-orang yang tidak menggunakan akalnya (QS.10:100).

Berbagai golongan pemahaman atas ajaran agama Islam

Setelah masa keemasan kaum Muslimin pada jaman dahulu, pemahaman umat Islam atas Al-Qur'an dan Sunnah Nabi, justru telah makin mengalami kemunduran dan terpecah menjadi berbagai aliran, dari yang sangat maju (melalui berbagai riset dan penelitian pada saat ini) sampai yang sangat tradisional (hanya memakai kitab-kitab kuno dari para alim-ulama terdahulu), dan dari yang sangat mendalam (pada tingkat pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya) sampai yang sangat sederhana (pada tingkat pemahaman tekstual-harfiah).
Namun ironisnya, pemahaman yang sangat berragam ini bukan dianggap sebagai suatu bentuk kekayaan rahmat-Nya. Di mana setiap golongan umat semestinya bisa memiliki jalan yang relatif 'berbeda', untuk bisa mengabdi kepada Allah, sesuai keadaan, kemampuan dan pemahaman masing-masing.

Karena hanya Allah Yang Maha mengetahui pemahaman yang paling benar dan siapakah yang paling baik amalannya. Asalkan tidak menyimpang dari dasar-dasar pokok aqidah agama Islam (khususnya harus beriman dan hanya menyembah kepada Allah, juga menyakini nabi Muhammad saw adalah utusan-Nya), serta juga tidak menzalimi ataupun mudah menuduh golongan lainnya sebagai kafir, maka semua golongan seperti inipun pada dasarnya masih saling bersaudara seiman dan seaqidah. Sedangkan tingkat keimanannya masing-masing hanya hak dan urusan Allah semata, Yang Maha menentukan.

Selain berbagai persoalan pemahaman secara internal tersebut, yang bisa timbul dari kalangan kaum Muslimin sendiri (seperti yang diungkap di Lampiran D, tentang perbandingan berbagai pemahaman aliran-aliran teologi), muncul pula pemahaman atas Al-Qur'an dan Hadits Nabi, yang telah terwujud melalui beberapa golongan lainnya, yang sedikit-banyak merupakan hasil dari proses akulturasi atau hasil pengaruh eksternal dari berbagai ajaran agama di luar agama Islam.

Melalui bangunan pemahaman yang bisa relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, atas kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi, maka diharapkan agar seluruh aliran-mazhab-golongan bisa relatif makin 'mendekat' pemahamannya, atau bahkan bisa relatif makin 'menyatu', karena pemahaman yang relatif sempurna seperti itu relatif sulit dibantah segala dalil-alasannya. 3)

Harapan kembalinya jaman keemasan di kalangan kaum Muslim

Salah-satu harapan penting pada buku ini, adalah supaya umat Islam tidak terlalu terkungkung pada romantisme masa lalu, pada saat kaum Muslim mengalami masa keemasan dan kejayaannya. Padahal kemuliaan ajaran agama Islam menjadi amanat bagi setiap umat Islam pada setiap jamannya, untuk menegakkan dan menjaganya, dan bukan hanya sekedar mengikuti saja segala hasil usaha umat-umat terdahulu.
Padahal tingkat pemahaman umat Islam pada saat sekarang ini, justru belum tentu telah bisa sesuai (atau bahkan masih jauh) daripada pemahaman nabi Muhammad saw atas wahyu-wahyu-Nya, yang telah diperolehnya melalui perantaraan malaikat Jibril.

Bahkan umat Islam belum tentu telah berbuat sesuatu hal bagi agama Islam (atau bahkan justru bagi keyakinannya sendiri), terutama dengan memahami hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi, agar berbagai ajaran agama Islam tetap bisa aktual penerapannya pada setiap jamannya melalui berbagai pemahaman Al-Hikmah, yang memang justru bersifat 'universal'.
Juga agar setiap umat Islam tidak hanya sekedar melaksanakan segala amal-ibadah yang dianjurkan-Nya, namun justru bisa memiliki pemahaman relatif memadai tentang setiap amal-ibadah itu. Termasuk memahami setiap keuntungan yang bisa diperolehnya bagi kehidupan akhiratnya, dari setiap amalan itu. Lebih utama lagi, agar setiap umat Islam bisa kembali dekat ke hadapan 'Arsy-Nya, dengan mendapatkan kemuliaan yang makin tinggi.

Padahal untuk bisa menghadapi perkembangan jamannya, nabi Muhammad saw telah membukakan pintu Ijtihad (ijma', qiyas, dsb), sebagai sarana yang amat penting bagi umat Islam, untuk bisa terus-menerus membuka pemikirannya atas ajaran-ajaran agama-Nya, serta tidak harus hanya terkungkung dari hasil pemikiran para alim-ulama terdahulu. Syukur-syukur jika telah bisa mengikuti para alim-ulama itu, namun juga disertai pemahaman yang mendalam atas setiap dalil-alasan dan penjelasan, di balik timbulnya pemikiran mereka.
Padahal keimanan secara taklid (hanya sekedar bisa mengikuti dan mengamalkan, tanpa memiliki pemahaman yang cukup memadai) merupakan suatu wujud keimanan yang amat rendah. Walau memang masih lebih baik daripada pemahaman, tanpa pengamalan sama-sekali (merupakan suatu bentuk kemunafikan).

Bahkan nabi Muhammad saw justru telah mewariskan ajaran agama Islam kepada para alim-ulama di 'setiap jamannya'. Sehingga tertinggal kepada mereka sendiri untuk mau melaksanakan amanat itu, terutama sesuai dengan pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) secara amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, atas ajaran-ajaran agama Islam. Lalu setiap pemahaman itu semestinya disampaikan kepada umat secara amat arif dan bijaksana, serta sesuai tingkat pemahaman masing-masing umat.

Melalui pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) di dalam kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah Nabi, secara amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan itu, pada akhirnya kaum Muslimin pada setiap jamannya amat diharapkan bisa menjawab setiap keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalannya sendiri secara internal (atau bahkan persoalan seluruh umat manusia). Dengan sendirinya amat diharapkan pula, kaum Muslimin akan bisa berperan aktif dan penting dalam mewarnai perkembangan dunia, ke arah yang jauh lebih positif dan benar, secara lahiriah dan batiniah.

Pencarian pemahaman mendasar atas hakekat kehidupan

Pada buku ini sengaja dipilih suatu judul yang amat mendasar, yaitu "Penciptaan Manusia dan Alam Semesta", sebagai suatu sarana pemicu untuk membuka pemikiran umat Islam, agar selalu berusaha keras mengungkap berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), terutama dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan kitab-kitab Hadits Nabi. Pemilihan judul inipun dianggap diperlukan, karena pemahaman yang diperoleh pada buku ini diharapkan juga bisa menjadi pondasi dasar yang kokoh, bagi berbagai pengungkapan selanjutnya.
Lebih utama lagi, agar bisa terungkap pemahaman tentang hal-hal yang amat mendasar, yaitu hakekat dan tujuan dari diciptakan-Nya kehidupan umat manusia. Karena pemahaman seperti ini penting bagi setiap umat Islam dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, dengan telah memiliki keyakinan atau kepercayaan diri yang makin tinggi.

Juga agar seluruh ayat Al-Qur'an bisa makin dipahami hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalamnya, dari memanfaatkan berbagai ilmu-pengetahuan (melalui akal, yang diberikan-Nya kepada tiap umat manusia). Padahal seluruh bidang ilmu-pengetahuan itu sendiri telah jauh berkembang pesat, dibandingkan dengan segala pencapaian ilmu-pengetahuan pada masa keemasan kaum Muslimin dahulu.
Khususnya dari hasil mengungkap berbagai keterkaitan antara ayat-ayat Al-Qur'an itu sendiri secara konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan. Kemudian agar bisa diambil suatu pemahaman akhirnya (hikmah dan hakekatnya), dari berbagai kesimpulan sementara secara tekstual-harfiah yang telah diperoleh.

Padahal telah jelas disebutkan dalam Al-Qur'an, bahwa proses diturunkan-Nya "agama-Nya yang lurus" (atau agama-agama tauhid, termasuk Islam sebagai agama tauhid yang terakhir) dan penciptaan alam semesta (termasuk kehidupan manusia di dalamnya), merupakan perwujudan dari Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji Allah).

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama-Nya (sebagai perwujudan dari) Fitrah Allah, Yang telah menciptakan manusia (dan alam semesta ini) menurut Fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada Fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya," – (QS.30:30).

 

Maka dengan pemahaman secara amat cermat dan mendalam atas segala hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di seluruh alam semesta (atau bisa memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya), umat manusia misalnya: bisa mengenal Allah; bisa memahami berbagai tindakan-Nya; bisa memahami proses diutus-Nya para nabi-Nya; bisa memahami cara proses diturunkan-Nya wahyu, kitab atau agama-Nya; dsb. Termasuk pula bisa memahami tujuan dari diciptakan-Nya alam semesta ini, serta kehidupan manusia di dalamnya.
Tingkat pemahaman paling tinggi yang bisa dicapai manusia atas hal-hal tersebut, adalah pemahaman yang dimiliki oleh para nabi-Nya. Sedang di lain pihak, pemahaman pada manusia biasa lainnya pada umumnya justru lebih banyak diilhami dari wahyu-wahyu-Nya, yang telah mereka sampaikan.

Dari usaha pemahaman atas ayat-ayat Al-Qur'an yang terkait dengan relatif cermat dan mendalam, melalui berbagai pembahasan pada buku ini, sekaligus didukung oleh pemahaman secukupnya atas berbagai bidang ilmu-pengetahuan fisik-alam, maka pada buku inipun diharapkan bisa diperoleh berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), tentang penciptaan alam semesta ini dan kehidupan manusia di dalamnya, secara cukup memadai.

Penafsiran Al-Qur'an dengan Al-Qur'an

Melalui buku ini penulis mencoba menawarkan sesuatu bentuk bangunan penafsiran atau bangunan pemahaman baru atas ayat-ayat Al-Qur'an, melalui sejumlah besar dalil-alasan, argumen atau hujjah, yang semaksimal mungkin diusahakan hanya semata diperkuat dengan ayat-ayat lainnya yang terkait pada kitab suci Al-Qur'an itu sendiri. Hal inipun sengaja dilakukan, antara-lain karena:

Berbagai alasan penafsiran Al-Qur'an dengan Al-Qur'an,
pada buku ini

Kitab suci Al-Qur'an telah dijamin oleh Allah, bahwa pasti akan terlindungi dari berbagai campur-tangan manusia.
Serta teks Al-Qur'an tetap 'otentik' (tidak pernah berubah), sejak awal disampaikan oleh nabi Muhammad saw.
Lebih penting lagi, ada "Al-Qur'an berbentuk gaib" (atau "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis"), sebagai sandingan pembanding dan penjaga kebenaran kandungan isi kitab suci Al-Qur'an.

Agar kelengkapan, kedalaman, kekonsistenan, keutuhan ataupun tidak saling bertentangannya seluruh kandungan isi kitab suci Al-Qur'an semakin bisa diketahui oleh setiap umat Islam, khususnya atas ayat-ayat yang terkait langsung dalam bangunan pemahaman pada buku ini. Sekaligus pula agar semakin bisa meningkatkan keimanan setiap umat Islam atas ajaran-ajaran agamanya.

Berbagai kesempurnaan tersebut memang sengaja hendak dikaji, ditelaah serta dibuktikan, melalui keseluruhan pembahasan pada buku ini. Sekaligus pula tentunya untuk bisa cukup membuktikan kesempurnaan 'bangunan pemahaman' Al-Hikmah yang dimiliki oleh Nabi, atas seluruh wahyu-Nya yang telah diperolehnya.

Ketika Nabi menyampaikan Al-Qur'an (sampai akhir hidupnya), bahkan Nabi masih 'melarang' pencatatan atas Sunnah-sunnah Nabi. Dalam arti bahwa kitab suci Al-Qur'an telah dianggap oleh Nabi sendiri, sebagai kitab pengajaran dan tuntunan-Nya, yang telah utuh dan lengkap bagi seluruh umat manusia sampai akhir jaman (terutama tentang dasar-dasar pokok aqidah agama Islam).

Tentunya hal ini tanpa dimaksudkan untuk mengabaikan Sunnah-sunnah Nabi sebagai contoh pengamalan langsung dan nyata atas ayat-ayat Al-Qur'an, begitu pula dengan segala hasil ijtihad dari para alim-ulama (Ijma', Qiyas, Istihsan, Fatwa, dsb).

Agar buku ini terhindar dari ikut terjebak ke dalam pertentangan penafsiran atau pemahaman atas sebagian hadits Nabi, yang amat sering terjadi di kalangan umat Islam.

Padahal jika terjadi berbagai pertentangan seperti itu, semestinya umat Islam kembali mengacu ke kitab suci Al-Qur'an, sebagai dasar tertinggi ajaran agama Islam.
Padahal penilaian atas pribadi para perawi hadits bersifat relatif amat subyektif dan sulit dibuktikan dengan cepat. Hal ini belum termasuk pembuktian atas kandungan isi haditsnya sendiri.

Agar setiap umat Islam juga bisa memahami agamanya langsung dari kitab suci Al-Qur'an, terutama tentang berbagai dasar pokok aqidah agama Islam.

Umat Islam pada umumnya pastilah telah memiliki kitab suci Al-Qur'an, dan juga umumnya tidak pernah mengenyam pendidikan khusus tentang ilmu-ilmu agama.
Maka umatpun belum tentu memiliki berbagai referensi lengkap tentang Hadits-hadits (bentuk tertulis dari Sunnah-sunnah Nabi), dengan berbagai perawinya.

Agar buku ini bisa dibaca pula oleh kaum non-Muslim, ataupun para Mu'allaf dan umat Islam sendiri yang relatif kurang lengkap ataupun mendalam pengetahuannya tentang agama Islam. Tetapi justru mereka menguasai berbagai bidang ilmu-pengetahuan, dan relatif amat sering memakai intuisi-nalar-logika akal-pikirannya.
Dengan bakatnya ini mereka diharapkan agar lebih terarah dalam memanfaatkan ilmunya, untuk bisa lebih mengenal Allah, Tuhan yang sebenarnya dan Yang telah menciptakannya, dan untuk bisa pula kembali mengikuti jalan-Nya yang lurus.

Mereka ini juga umumnya hanya membaca kitab suci Al-Qur'an dan berbagai keterangan tentang Al-Qur'an, ketika awal-awalnya berusaha memahami agama Islam.

Agar bisa diusahakan makin berkurangnya ketergantungan pada hasil penafsiran atau pemikiran dari para alim-ulama terdahulu, tanpa sedikitpun mengurangi rasa hormat kepada mereka.
Sehingga sengaja pada buku ini, nama mereka relatif amat jarang disebut, ataupun pendapat mereka tidak dipakai langsung. Kalau ada, pendapat mereka hanya dipakai sebagai pembanding saja.

Alasan utamanya adalah, sekali pendapat mereka dipakai, maka umat mesti menyatu ke dalam struktur pemikiran mereka sampai ke akarnya, yang melahirkan pendapat mereka (mesti menguasai segala dalil-alasan dan penjelasan pada tiap pemikirannya).
Padahal hal ini relatif sulit dilakukan, karena amat banyak tulisan mereka yang mestinya dibaca dan dikaji. Tanpa tahu segala dasar pemikiran mereka, pada akhirnya segala pemahaman yang akan dibentuk pada buku ini bisa terpecah dan tidak utuh.

Selain itu pula, penafsiran dan pemikiran mereka amat berbeda-beda. Sehingga kurang tepat, jika hanya mengacu kepada salah-satu dari mereka, karena tiap merekapun memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bahkan jika akan diambil suatu rangkuman pemikiran yang dianggap relatif terbaik dari masing-masingnya, tetap amat sulit ditemukan dasar-dasar pemikirannya.

Agar seluruh pembahasan pada buku ini menjadi lebih ringkas, maka pembahasan atas pertentangan penafsiran sebagian hadits Nabi, ataupun perbedaan pemikiran para alim-ulama terdahulu misalnya, dipilih untuk dilakukan di luar buku ini, serta langsung dijawab melalui pemahaman yang relatif lebih sesuai dan benar.

Pembahasan atas segala pertentangan ataupun perbedaan itu juga amat menguras waktu, energi dan pikiran. Pemikiran pada buku inipun akan makin sulit dan tersendat-sendat pengembangannya, serta alur utama pemikirannyapun akan bisa menjadi tidak tentu arah, tidak terfokus dan tidak mengalir.
Selain itu pula pemikiran pembaca akan bisa mudah bergoyang, dan tidak jelas memahami hal-hal yang dimaksud.

Pembahasan atas berbagai perbedaan semacam itupun juga hanya diletakkan di Lampiran D, tentang perbandingan beberapa aliran teologi dalam agama Islam, serta amat terbatas yang ikut dibahas langsung dalam topik-topik pembahasan utama pada buku ini.

Agar keutuhan struktur pemikiran ataupun bangunan pemahaman dalam pikiran tiap umat Islam, atas berbagai dasar pokok aqidah agama Islam dalam kitab suci Al-Qur'an, bisa makin terungkap jelas dan juga makin tersusun dengan relatif kokoh dan sempurna (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan keseluruhan pemahamannya).

Walau relatif amat perlahan dan terbatas bisa dibangun, karena mesti hanya sebatas pengetahuan yang dimiliki, suatu bangunan pemahaman semestinya memang hanya berupa segala keyakinan batiniah milik tiap pribadi-individu umat (bukan orang-lainnya).
Keyakinan adalah gabungan antara keyakinan batiniah (ilmu atau pemahaman) dan keyakinan lahiriah (amal atau pengamalan).

Sehingga tiap umat semestinya tidak semata hanya bisa memiliki keyakinan, seperti "jika saya mengikuti kelompok alim-ulama ini ataupun kelompok perawi hadits itu, maka pemahaman dan jalan saya telah benar dan tuntas". Padahal umat sendiri belum benar-benar memahami segala pemikiran dari para alim-ulama dan para perawi hadits terkait, atas kandungan isi kitab suci Al-Qur'an.

Jika ada pemahaman yang justru diilhami dari pemikiran orang-lain, yang belum benar-benar dikuasai segala dasar pemikirannya (segala dalil-alasan dan penjelasannya), agar pemahaman itupun semestinya hanya dipakai sebagai contoh-pembanding saja, tidak dipaksakan menjadi pondasi bangunan pemahaman umat sendiri.

Maka pada buku ini lebih dipilih untuk mengkaji langsung ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an, dengan dasar pijakan utamanya hanya kitab suci Al-Qur'an itu sendiri (sebagai sesuatu kitab pengajaran dan tuntunan-Nya yang utuh dan lengkap, tentang berbagai dasar pokok aqidah agama Islam), serta dengan didukung oleh segala pengetahuan, pengalaman dan keyakinan yang telah dimiliki.
Tentunya pengalaman batiniah-rohani-spiritual yang relatif amat lengkap dan mendalam, justru amat diperlukan. Karena hal-hal gaib dan batiniah justru paling banyak terdapat dalam kitab suci Al-Qur'an dan kitab-kitab suci agama lainnya, sedangkan relatif amat sedikit dan terbatas tentang hal-hal nyata-fisik-lahiriah.

Dan pondasi paling dasar bangunan pemahaman pada buku ini, yaitu "bahwa penciptaan manusia dan alam semesta ini, serta diturunkan-Nya agama-Nya yang lurus adalah perwujudan dari Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji Allah)" (pada QS.30:30).

 

Sedang dasar-dasar ajaran lainnya (Hadits, Ijma', Qiyas, dsb), termasuk penafsiran dan pemikiran para ulama terdahulu, juga dipakai untuk bisa memperkaya hasil pemahaman di sini, namun tidak secara langsung. Hal ini lebih diutamakan sebagai sesuatu bahan dan contoh perbandingan, bukan langsung dipakai untuk bisa membentuk struktur bangunan pemahaman yang akan dibangun pada buku ini.

Sengaja buku inipun hanya disusun berdasar pada terjemahan kitab suci Al-Qur'an yang diterbitkan oleh Departemen Agama RI, yaitu "Al-Qur'an dan Terjemahnya", karena dianggap telah bisa diakui oleh mayoritas umat Islam Indonesia. Terjemahan ini dipakai sebagai dasar argumen pada buku ini, untuk bisa mengurangi makin kaburnya hasil-hasil pemahaman dan pembahasan, jika dipakai sumber-sumber terjemahan ataupun tafsiran lain yang berbeda-beda. Dan juga karena beberapa tafsiran Al-Qur'an yang ada memang belum bisa menjawab segala sesuatu halnya secara relatif tuntas dan memuaskan.

Walaupun tentu saja terjemahan Al-Qur'an hasil terbitan Dep. Agama RI tersebut bukan suatu bentuk terjemahan yang paling baik, khususnya dari segi pemilihan kata-kata dalam Bahasa Indonesia-nya. Sehingga 'teks' kalimat ayat-ayatnya terkadang relatif tidak utuh dan sulit dipahami, serupa pula halnya pada 'tafsiran' dari tim penyusun terjemahan itu (pada semua teks terjemahan dalam tanda kurung).
Oleh karena itulah, penulis merasa sangat perlu untuk berusaha menyusun kembali terjemahan itu, dengan menggunakan sinonim dari kata-kata aslinya, agar diperoleh kalimat yang lebih pas, utuh, runut-mengalir dan lebih mudah dimengerti. Begitu pula dengan tafsirannya, telah disesuaikan dengan segala pemahaman baru pada buku ini.

Pemakaian terjemahan kitab suci Al-Qur'an pada buku ini

Ada beberapa catatan yang cukup penting tentang pemakaian dari terjemahan kitab suci Al-Qur'an terbitan Dep. Agama RI tersebut, melalui keseluruhan terjemahan ayat Al-Qur'an di Lampiran E, dan di bagian-bagian lainnya pada buku ini, yaitu:

Berbagai catatan atas pemakaian terjemahan Al-Qur'an,
pada buku ini

Penulis beranggapan, bahwa teks-teks kalimat terjemahan ayat yang berada di dalam tanda kurung '()', adalah hasil penambahan atau penafsiran dari "Tim Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an" Dep. Agama RI.
Sedang teks-teks di luar tanda kurung '()' itu, dianggap sebagai "terjemahan murni" dari teks-teks bahasa Arab-nya.

Berdasar hal di atas, maka berbagai terjemahan ayat di Lampiran E lebih terfokus pada "terjemahan murni", dan teks-teks ayatnya diusahakan tidak diubah, kecuali ada perubahan untuk memakai kata sinonim yang lebih sesuai dan pas.
Sedang "tafsiran lama"-nya ada sebagiannya yang telah 'dihapus' (untuk bisa mempertahankan pemahaman awal atas "terjemahan murninya") dan 'diubah' (agar sesuai dengan segala pemahaman baru yang diperoleh, dari pemahaman bersama atas keseluruhan ayat-ayat terkait).

Karena adanya berbagai pemahaman baru pada buku ini, maka ada pula berbagai penambahan "tafsiran baru" secukupnya yang lebih sesuai, dan teksnya tetap diketik di dalam tanda kurung '()'.

Ayat ayat yang terkait dengan topik yang sedang dibahas, juga diusahakan bisa terwakili dari semua aspek. Pada tiap aspeknya, ada pula berbagai versi ayat (dengan metode-cara pengungkapan yang relatif berbeda-beda).
Dari tiap versi itu diusahakan, agar minimal bisa terwakili oleh 5 ayat yang tersedia (hanya untuk bisa membatasi jumlah halaman buku ini). Jika tidak ada batasan seperti ini, tentunya seluruh ayat yang terkait sebaiknya disertakan pula.

Maka pada sesuatu topik tertentu (satu ataupun beberapa alinea), pembahasannya bisa didukung oleh puluhan ayat yang terkait, yang diharapkan cukup bisa memperkuat setiap dalil-alasan bagi penentuan kesimpulan dan pemahaman akhir pada buku ini.

 

Serta demi membatasi jumlah halaman buku ini, maka penulis perlu meminta mohon-maaf kepada para pembaca, apabila hanya bisa menyertakan teks terjemahan bahasa Indonesia-nya saja (tanpa disertai dengan teks bahasa Arab-nya), yang telah diletakkan di Lampiran E, yang seluruhnya telah terdiri dari ribuan ayat-ayat Al-Qur'an (± 2900 ayat). Insya Allah, pada masa-masa mendatang diharapkan telah bisa mencakup seluruh ayat Al-Qur'an (ketika bangunan pemahaman yang terbentuk pada buku ini telah relatif utuh dan lengkap).

Maka saat membaca buku ini, sebaiknya disertai pula dengan terjemahan kitab suci Al-Qur'an hasil terbitan Dep. Agama RI, atau terbitan lainnya, agar pembaca bisa langsung memeriksa ayat-ayatnya.

Pencarian pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya

Tujuan paling utama dari segala usaha pencapaian pemahaman atau penafsiran baru pada buku ini, adalah agar semaksimal mungkin bisa relatif amat utuh, konsisten dan tidak saling bertentangan seluruh pemahamannya. Dengan begitu diharapkan akan bisa diperoleh segala pemahaman yang jauh lebih jernih, ilmiah, terstruktur dan benar, atas ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Tiap pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) pada dasarnya bersifat 'universal', yang sebagian besarnya hampir mustahil bisa terungkap begitu saja, melalui makna tekstual-harfiah dari ayat-ayatnya.
Sedangkan bahasa (terutama bahasa lisan dan tulisan) memiliki berbagai keterbahasan dalam mengungkap segala sesuatu hikmah dan hakekat. Padahal di lain pihaknya teks ayat-ayat Al-Qur'an semestinya bisa dipahami dengan mudah oleh umat, walau umat tidak memahami hakekat di dalamnya (ayat-ayat Al-Qur'an bersifat relatif sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual). Maka usaha pencapaian berbagai pemahaman Al-Hikmah pada buku ini sejauh mungkin dihindari tiap pemahaman tekstual-harfiah atas ayat-ayat Al-Qur'an. Serta atas ijin-Nya, di masa mendatang keseluruhan pemahamannya diharapkan bisa lengkap (meliputi seluruh ayat Al-Qur'an), dan mendalam (relatif bisa makin mendekati tingkat pemahaman pada nabi Muhammad saw).

Pada akhirnya pemahaman pada buku ini tetaplah hanya salah-satu usaha saja, dari banyak bentuk pemahaman yang telah diusahakan umat Islam lainnya, agar bisa mendekati tingkat pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), yang ada di dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Sedangkan Al-Hikmah adalah bentuk wahyu-Nya pada saat diturunkan-Nya melalui perantaraan malaikat Jibril, ke dalam dada-hati-pikiran Nabi, sebelum bisa menjadi ayat-ayat Al-Qur'an saat ini.
Juga tentunya hanya hak Allah, Yang Maha mengetahui segala sesuatunya, termasuk pemahaman yang paling benar, ataupun paling mendekati tingkat pemahaman Nabi. 82)

Dan hanya pada tingkat pemahaman Al-Hikmah, yang bersifat 'universal' itulah, maka sesuatu pemahaman akan bisa melewati batas ruang, waktu ataupun konteks budayanya. Sehingga berdasar berbagai pemahaman Al-Hikmah, seluruh ajaran agama Islam diharapkan sesuai dengan segala keadaan, kebutuhan, tantangan ataupun persoalan umat manusia pada jaman modern saat ini, atau bahkan sampai akhir jaman. Sebagaimana pernyataan dan janji Allah sendiri, "Islam, adalah agama untuk seluruh umat manusia (umat pada masa lalu, masa sekarang dan umat pada masa mendatang)". 95) & 97)

Harapan adanya 'bangunan pemahaman' atas Al-Qur'an

Hal yang amatlah penting namun barangkali kurang diketahui, diperhatikan dan dilupakan oleh umat Islam, bahwa semestinya setiap umat Islam memiliki 'bangunan pemahaman' yang 'kokoh', 'utuh' dan 'mendalam' atas ayat-ayat Al-Qur'an, khususnya pada tataran hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), dari berbagai macam tingkat kedalamannya. Hal ini pada dasarnya suatu cara untuk bisa mendapat segala pemahaman yang konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya, yang disebut-sebut di atas.
Sehingga umat Islam justru tidak hanya sering membaca atau hapal atas sebagian atau keseluruhan teks ayat-ayat Al-Qur'an. Namun umat Islam juga memiliki kesimpulan tertentu, atas 'keterkaitan' antara berbagai teks ayat-ayatnya secara keseluruhan, sesuai dengan keadaan, pengetahuan dan kemampuan masing-masing umat, terutama diawali dari ayat-ayat yang telah sering dibaca dan dihapal.

Kesimpulan itu amatlah perlu dimiliki oleh setiap umat, karena pengungkapan melalui teks ayat-ayat Al-Qur'an terkait, tentang suatu hal tertentu, sering pula disampaikan dengan banyak cara yang cukup berbeda-beda (walaupun makna sebenarnya tetap sama). Selanjutnya, diharapkan bisa pula dicapai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), 'di balik' teks ayat-ayat Al-Qur'an terkait (diketahui makna yang sebenarnya, secara relatif amat mendalam atau amat memadai). Makin mendalam pemahaman hikmah dan hakekatnya itu makin baik, yang makin bisa diperoleh melalui penguasaan amat luas dan obyektif, atas segala bidang ilmu-pengetahuan (lahiriah dan batiniah, agama dan non-agama, dsb). Juga amat penting dimilikinya pengalaman batiniah-rohani-spiritual yang relatif lengkap dan mendalam.

Bahkan suatu bangunan pemahaman yang relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan keseluruhan Al-Hikmah di dalamnya, khususnya tentang berbagai hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan seluruh umat manusia, yang justru telah dimiliki oleh nabi Muhammad saw, 'sebelum' Nabi memproklamirkan diri sebagai utusan-Nya. Hal inipun terus-menerus terbangun makin lengkap dan sempurna, serta diamalkannya melalui usaha yang amat keras dan konsisten, sepanjang hidup Nabi.
Kenabian justru tidak diberikan atau diturunkan-Nya langsung dari langit dengan begitu saja, bahkan Allah Yang Maha Adil mustahil berlaku pilih-kasih kepada tiap manusia, tetapi semuanya justru hanya tergantung kepada usaha atau amal-perbuatan tiap manusia itu sendiri.

Tanpa dimilikinya keyakinan batiniah (pemahaman) dan juga keyakinan lahiriahnya (pengalaman) yang relatif sempurna (bangunan pemahaman yang relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, dan juga pengalaman yang amat konsisten), maka mustahil nabi Muhammad saw berani dan yakin menyatakan diri sebagai nabi utusan-Nya dalam menyampaikan setiap kebenaran-Nya. Dan sebaliknya juga mustahil umat bersedia menjadi pengikutnya.

Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya", tentang proses pembentukan bangunan pemahaman selengkapnya.

Isi buku ini hanyalah salah-satu bentuk pemahaman

Perlu bisa disadari pula, bahwa berbagai pemahaman dari hasil pembahasan pada buku ini, hanya salah-satu saja dari berbagai bentuk pemahaman, atas sebagian dari ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di alam semesta ini, dan dari ayat-ayat-Nya yang tertulis (seperti kitab suci Al-Qur'an). Pemahaman di sinipun bukan suatu bentuk pemahaman yang relatif 'paling benar', seperti yang dimiliki oleh nabi Muhammad saw. Maka amat tidak tertutup kemungkinan adanya berbagai pemahaman lainnya yang jauh lebih baik, khususnya atas judul pada buku ini, dari para alim-ulama, cendikiawan Muslim atau umat-umat Islam lainnya. Hanya hak Allah Yang Maha mengetahui pemahaman yang terbaik.

Pada pembahasan buku inipun ternyata bisa diungkap berbagai sifat-Nya yang tergambar pada Asmaul Husna. Walau pengungkapan inipun tidak direncanakan sejak awal, atau terjadi begitu saja. Karena proses penciptaan alam semesta itu sendiri memang hasil perwujudan dari Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji Allah).
Sehingga amat diharapkan, agar segala pemahaman yang telah diperoleh pada buku ini bisa ikut makin meningkatkan keyakinan atau keimanan setiap umat Islam (terutama bagi para pembaca), atas segala kebenaran-Nya. Juga agar bisa menambah kenikmatan saat membaca ayat-ayat Al-Qur'an, karena pembacaan itu sendiri telah disertai pula dengan latar-belakang pemahaman yang relatif makin mendalam.

Tiap bentuk pemahaman mesti dicermati sangat hati-hati

Namun seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa ada pula berbagai pemahaman pada buku ini yang relatif berbeda dari berbagai pemahaman yang telah berkembang amat luas dan lama pada sebagian besar kalangan umat Islam. Maka sebagai contoh perbandingannya, di Lampiran D disertakan berbagai hasil pemahaman atas hal-hal tertentu pada beberapa aliran teologi, yang telah amat dikenal di dalam agama Islam, yang dibandingkan dengan hasil pemahaman terkait yang telah diperoleh pada buku ini. Sehingga berbagai bentuk pemahaman itupun semestinya ditelaah oleh umat, secara amat hati-hati dan cermat.

Ada pula berbagai pemahaman yang diperoleh pada buku ini, dari hasil perkiraan atau asumsi. Walau telah amat diusahakan untuk menerapkan metode ilmiah yang seobyektif mungkin (dijelaskan dalil-alasan dari intuisi-nalar-logika, dan bagaimana proses dihasilkannya), terutama atas hal-hal yang memang kurang jelas ataupun tidak disebut secara khusus dalam ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an.
Mudah-mudahan dengan metode-cara seperti itu, penulis tidak termasuk salah-seorang yang disebut-sebut di dalam surat Al Mu'min ayat 35 dan 56, yaitu "(Yaitu) orang yang memperdebatkan ayat-ayat-Nya, tanpa suatu alasan yang sampai kepada mereka. …." – (QS.40:35 dan QS.40:56), ataupun di dalam surat Al Mu'min ayat 4, yaitu "Tidak ada (orang-orang) yang memperdebatkan tentang ayat-ayat-Nya, kecuali orang-orang yang kafir. …." – (QS.40:4).

Insya Allah penulis yakin, bahwa tiap ilmu-pengetahuan hasil temuan manusia yang diperoleh secara amat obyektif, pasti merupakan rahmat pemberian dari Allah bagi seluruh umat manusia, bahkan ilmu-pengetahuan semacam ini pasti tidak bertentangan dengan tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah).
Karena ilmu-pengetahuan yang relatif amat obyektif, hanyalah memakai fakta-kenyataan yang ada di seluruh alam semesta ini, secara apa adanya (tanpa ditambah ataupun dikurangi). Maka hal ini kurang berlaku bagi 'ilmu filsafat' misalnya, karena cenderung amat banyak melebih-lebihkan suatu hal (atau mengambil kesimpulan yang bersifat luas dan umum, hanya berdasar berbagai fakta-kenyataan yang relatif sederhana), dan bahkan juga cenderung bermain-main dengan istilah-kata dan maknanya (memanfaatkan berbagai keterbatasan bahasa).

Lebih pentingnya lagi, penulis juga yakin bahwa hal-hal yang dimaksudkan pada 3 ayat di atas (QS.40:4, QS.40:35 dan QS.40:56), adalah berbagai bentuk 'penentangan' atas ayat-ayat Al-Qur'an (justru tidak mengakui suatu kebenaran-Nya), sedangkan segala pemahaman pada buku ini hanya suatu bentuk 'penafsiran'.

Penulis amat yakin, bahwa agama-Nya yang lurus dan terakhir (Islam), bukanlah agama yang mengandung segala hal mistis-tahayul, yang sama sekali tanpa memiliki dalil-alasan dan penjelasan, melalui intuisi-nalar-logika akal-sehat, dan bahkan agama Islam adalah agama yang paling rasional, jika dibandingkan dengan agama-agama lainnya.
Sebenarnya hanya kemampuan tiap manusia yang relatif amat sangat terbatas dalam menjelaskan ajaran-ajarannya, sehingga seolah-olah ada kesan mistis itu. Selain 'kesan' mistis karena amat tingginya nilai-nilai kemuliaan dan kebenaran yang terkandung di dalam ajaran-ajaran agama Islam itu sendiri (terutama Al-Qur'an dan Sunnah Nabi).

Padahal kemuliaan itu pada dasarnya bukan karena tidak bisa dijangkau oleh akal umat manusia biasa pada umumnya, tetapi karena kebenaran-Nya yang terkandung di dalamnya. Padahal hanyalah akal, satu-satunya sarana yang dimiliki manusia (termasuk para nabi-Nya) untuk bisa menilai segala sesuatu halnya, termasuk untuk menilai tiap kebenaran-Nya. Wahyu-Nya justru semestinya mustahil bertentangan dengan akal-sehat manusia, pada tataran ataupun tingkat pemahaman hikmah dan hakekatnya.
Bahkan wahyu-Nya pada dasarnya diturunkan-Nya, agar bisa menyelesaikan segala persoalan kehidupan umat manusia (khususnya berbagai persoalan yang paling penting, mendasar dan hakiki). Sedang akal-sehat justru juga dipakai oleh setiap manusia setiap saatnya, agar bisa menjawab segala persoalan kehidupannya sehari-hari, sebaliknya mengabaikan akal-sehat justru bisa melahirkan segala persoalan.

"… . Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada-mu, supaya kamu berpikir," – (QS.2:219) dan (QS.2:266).

"… . Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nyakepada manusia, supaya mereka mengambil pelajaran." – (QS.2:221).

"… . Demikianlah Allah menerangkanayat-ayat-Nya kepada-mu, agar kamu mendapat petunjuk." – (QS.3:103).

Topik-topik pembahasan yang terstruktur

Sebagaimana pemahaman pada buku ini, bahwa kitab suci Al-Qur'an adalah berbagai hasil pengungkapan yang bersifat sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, dari nabi Muhammad saw kepada umat di jaman Nabi, berdasar segala pemahaman Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), yang telah bisa dipahaminya, serta telah tersusun relatif sempurna (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan keseluruhannya).
Tentunya hal yang serupa pula terjadi atas sunnah-sunnah Nabi (berbagai hasil pengungkapan oleh Nabi, di luar kandungan isi kitab suci Al-Qur'an, melalui tulisan, lisan, sikap dan contoh-perbuatan).

Maka kitab suci Al-Qur'an pada dasarnya suatu 'kitab ilmiah', yang 'saling terkait' hubungan antar seluruh topik di dalamnya (Allah; sifat-sifat Allah; alam semesta; Atom dan Ruh; segala zat ciptaan atau zat makhluk-Nya; alam nyata-lahiriah-dunia dan gaib-batiniah-akhirat; Hari kiamat; perbuatan makhluk; akhlak; pahala dan dosa; ujian-Nya; dsb). Padahal 'kenabian' adalah sesuatu gabungan antara pemahaman yang sempurna seperti di atas, beserta pengamalannya yang sempurna pula (amat konsisten, sesuai pemahamannya). Serta sesuatu 'kenabian' justru harus bisa menjawab segala kebutuhan, tantangan dan persoalan umat kaumnya di jamannya, terutama atas hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia.
Sehingga sesuatu 'pemahaman kenabian' yang telah sempurna, semestinya tidak ada berbagai 'celah' pada pemahamannya (tidak bisa menjawab suatu hal atau topik tertentu, yang juga amat mendasar dan penting). Padahal seluruh umat Islam justru telah menyakini, bahwa Al-Qur'an adalah kitab suci yang telah lengkap dan sempurna, sebagai penuntun seluruh kehidupannya .Dan sekali lagi, kitab suci Al-Qur'an adalah kitab yang 'saling terkait' antar keseluruhan topiknya (segala 'celah' pada pemahamannya telah tertutupi dengan relatif sempurna).

Seperti disebutkan di atas bahwa segala pemahaman Al-Hikmah yang mendasari seluruh kandungan isi kitab suci Al-Qur'an ataupun sunnah-sunnah Nabi, pada dasarnya hanya tersimpan dalam dada-hati-pikiran Nabi saja. Karena nilai-nilai kebenaran-Nya pada pemahaman Al-Hikmah, yang bersifat 'universal' (melewati batas ruang, waktu dan budaya), relatif pasti akan berubah menjadi bersifat ringkas, temporer, sederhana dan aktual (tergantung konteks ruang, waktu dan budaya), jika telah diungkap melalui tulisan, lisan, sikap dan contoh-perbuatan, sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya yang bersifat 'praktis-aplikatif'.

Namun secara alamiah tentunya, berbagai keadaan pada jaman Nabi juga tidak cukup memungkinkan untuk bisa menyusunnya secara terstruktur, apalagi topik-topik di dalam kitab suci Al-Qur'an memang amat luas. Juga karena secara alamiah proses pengungkapan oleh Nabi dilakukan saat sedang menjawab setiap persoalan umatnya, serta saat mengingat hal-hal yang perlu disampaikannya kepada umatnya.
Dan secara alamiah pula, karena proses pengungkapan itu telah dilakukan puluhan tahun, sampai menjelang akhir hayat Nabi, maka kandungan isi kitab suci Al-Qur'an, makin lama justru makin tersusun 'sempurna' (segala pemahaman Nabi relatif telah terungkap semua).

Maka melalui buku ini, semaksimal mungkin berusaha disusun kembali bangunan pemahaman atas kitab suci Al-Qur'an, secara lebih terstruktur, yang ditandai dengan cukup banyaknya tabel dan gambar pada buku ini, agar makin mudah dipahami. Karena suatu pemahaman pasti memiliki struktur pemikiran yang jelas, beserta dalil-alasan dan penjelasannya (termasuk setiap pemahaman Al-Hikmah pada Nabi).
Seperti umumnya diketahui tabel dan gambar relatif lebih jelas menunjukkan sesuatu hal (termasuk struktur atau alur pemikiran), jika dibandingkan melalui teks semata. Hal ini relatif amat jarang dan telah diabaikan pada hampir semua tulisan dan buku tentang agama Islam.

Topik-topik pembahasan yang saling terkait

Seperti halnya kitab suci Al-Qur'an sendiri yang amatlah luas topiknya dan tidaklah linier strukturnya (atau saling terkait antar ayat-ayatnya, yang tersebar luas di dalamnya), maka harap dimaklumi, jika topik-topik pada buku inipun saling terkait (ada cukup banyak dipakai kalimat "baca pula topik atau uraian …", untuk bisa mengacu kepada topik-topik yang memiliki uraian relatif lebih lengkap). Walau secara garis besar memang telah dikelompokkan sesuai setiap jenis ciptaan-Nya, yang diketahui terkait dengan penciptaan alam semesta ini.

Keseluruhan uraian-pembahasan pada buku ini ditulis dengan mengalir begitu saja, sesuai dengan berbagai hal baru yang ditemukan dan ingin dibahas, yang terkait dengan topik-topik yang telah dibahas sebelumnya. Sehingga topik-topik pada buku ini (satu atau beberapa alinea) seolah-olah bercampur-aduk dan strukturnya kurang sistematis, walau semaksimal mungkin telah berusaha dijaga tetap terstruktur.

Maka lebih dianjurkan bagi para pembaca, agar buku ini bisa dibaca terlebih dahulu secara utuh keseluruhannya, untuk memperoleh gambaran secara umum. Kemudian jika ingin diketahui lebih lengkap dan mendalam tentang berbagai topik tertentu, maka dianjurkan pula, sambil membaca kembali berbagai topik lainnya yang terkait (sebagai acuan), terutama untuk bisa mengurangi pengulangan pembacaannya.
Namun pada saat membaca topik utamanya, tentunya bisa pula sambil meloncat untuk membaca topik-topik lainnya yang terkait, dan topik-topik terkait inipun ditandai, agar tidak perlu dibaca kembali.

Lihat pula pada tabel di bawah, tentang gambaran sederhana saling keterkaitan antar aspek-aspek pembahasan pada buku ini. Akan tetapi setiap aspeknya memang belum semua dibahas secara lengkap, dan belum semua aspek memiliki sesuatu topik pembahasan tersendiri. Karena buku inipun memang lebih difokuskan pada 'keterkaitan' antar topik penciptaan dan berbagai tindakan-Nya lainnya, dan justru bukan difokuskan pada 'kelengkapan' topiknya.
Keterkaitan antar topik-topik ini memang sengaja dilakukan, sesuai dengan rencana awal, untuk bisa menyusun sesuatu bangunan pemahaman yang 'utuh' atas ayat-ayat Al-Qur'an terkait, betapapun sederhananya bangunan pemahaman yang bisa dimulai atau dibangun. Selanjutnya sepanjang hidup setiap umat bangunan itupun bisa makin dilengkapi, sejalan dengan makin bertambah pengetahuannya sendiri. Alhamdulillah, bangunan pemahaman pada buku ini justru telah bisa meliputi hampir setengah dari ayat-ayat Al-Qur'an (di Lampiran E).

Sedangkan berbagai topik dalam Al-Qur'an yang justru tidak berkaitan langsung dengan judul buku ini (ataupun ada keterkaitannya tetapi belum sempat bisa dibahas) memang sengaja tidak dicantumkan ayat-ayatnya dalam buku ini. Insya Allah, sejalan dengan telah makin berkembangnya pembahasan pada buku ini, maka diharapkan seluruh ayat Al-Qur'an bisa dibahas dan dipahami pula berbagai hikmah dan hakekatnya.
Paling minimalnya sekali, agar bisa diperoleh sesuatu bentuk teks terjemahan ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an, yang relatif lebih jelas dan lebih mudah dimengerti (di Lampiran E tersebut). Hal ini terutama karena makna-makna atas berbagai hal di dalam kitab suci Al-Qur'an, telah relatif lebih konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya. Walau buku ini memang belum bertujuan untuk bisa menyusun suatu 'tafsir' kitab suci Al-Qur'an.

Gambaran sederhana keterkaitan antar aspek pada buku ini

No gambar

Nama gambar

Aspek-aspek terkait

Gambar 1

Diagram tujuan penciptaan alam semesta

Allah; Penciptaan alam semesta dan seisinya; Segala kejadian (lahiriah & batiniah); Segala zat ciptaan-Nya (nyata & gaib, makhluk hidup & benda mati); Khalifah-Nya dan Non-khalifah-Nya; Tujuan utama kehidupan manusia; dsb.

Gambar 2

Diagram umum penciptaan alam semesta

Fitrah Allah; Penentukan atau penetapkan segala hal sekehendak-Nya; Penciptaan alam semesta; Tanda-tanda kekuasaan-Nya; dsb.

Gambar 3

Diagram umum segala jenis ciptaan-Nya

Allah; Segala ketentuan / ketetapan atas segala ciptaan-Nya; Penciptaan alam semesta, melalui sunatullah; Segala jenis dan sifat zat ciptaan-Nya; Benda mati dan Makhluk-Nya; Benda mati gaib, Benda mati nyata, Makhluk hidup nyata dan Makhluk hidup gaib; dsb.

Gambar 4

Skema sederhana penciptaan elemen dasar alam semesta

Aturan; Energi; Ruh; Materi; Atom; Kehidupan; Tubuh wadah; dsb.

Gambar 5

Skema umum sistem benda nyata terkecil

Sistem benda terkecil yang telah diketahui manusia (Atom), dan Sistem benda terkecil sebenarnya (belum diketahui manusia).

Gambar 6

Diagram umum penciptaan dan keadaan ruh

Penciptaan alam semesta;

Gambar 7

Skema sederhana hubungan antara ruh dan benda

Ruh; Benda mati (atom-atom) dan Makhluk nyata (sel-sel).

Gambar 8

Skema sederhana perkembangan struktur benda

Berbagai struktur benda mati atau makhluk hidup nyata; Ruh-ruh 'anak' dan Ruh 'induk' suatu struktur; dsb.

Gambar 9

Skema sederhana pengabdian ruh-ruh kepada-Nya

Tingkat kesempurnaan tubuh-fisik-lahiriah; Tingkat keimanan, jika mampu atasi ujian-Nya; Tingkat ketidak-tundukan kepada perintah-Nya; Tingkat berat beban ujian-Nya yang dihadapi; Tingkat kebebasan berkehendak dan berbuat.

Gambar 10

Diagram umum penciptaan sel (makhluk nyata terkecil)

Penciptaan alam semesta; Atom-atom dan Ruh-ruh; Unsur atau senyawa di udara, air dan tanah; Ruh makhluk gaib dan nyata; Zat-zat anorganik dan organik; Benih-benih dasar; Sel (makhluk nyata terkecil); Sel-sel generatif dan Sel-sel perkembangan; dsb.

Gambar 11

Diagram umum penciptaan makhluk nyata

Penciptaan alam semesta; Atom-atom dan Ruh-ruh; Ruh makhluk gaib dan nyata; Benih-benih dasar; Sel (makhluk nyata terkecil); Makhluk bersel banyak dan bersel satu; dsb.

Gambar 12

Diagram umum tugas para makhluk gaib

Para makhluk gaib-Nya; Memberi pengajaran-Nya dan ujian-Nya; Pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah (ilham/bisikan dalam pikiran); Interaksi terang-terangan dan terselubung; Berbagai macam tugas / amanat lainnya dari-Nya; dsb.

Gambar 13

Diagram sederhana proses perolehan wahyu

Alam semesta; Indera lahiriah manusia; Para makhluk gaib; Indera batiniah manusia; Akal manusia; Catatan amal manusia; Hati-nurani manusia; Pemahaman hikmah dan hidayah-Nya; Para nabi dan rasul-Nya; Umat manusia biasa umumnya; Wahyu-Nya (lisan & tertulis); dsb.

Gambar 14

Diagram empat macam bentuk wahyu-Nya

Zat Allah; Sifat-sifat Allah; Fitrah Allah (Wahyu-Nya jenis ke-1); Alam semesta; Tanda-tanda kemuliaan & kekuasaan-Nya (Wahyu-Nya jenis ke-2); Manusia (terutama para nabi-Nya); Hikmah & hakekat kebenaran-Nya (Wahyu-Nya jenis ke-3); Al-Kitab; Kitab-kitab-Nya; Sunnah dan Hadits para nabi-Nya; dsb.

Gambar 15

Skema umum siklus air

Penguapan (uap air naik); Pergerakan awan; Turun air hujan; Air mengalir ke danau/laut.

Gambar 16

Skema umum tahapan kejadian manusia

~

Allah, Maha awal;

~

Awal penciptaan alam semesta, dari tak-terhitung Atom dan Ruh;

~

Awal ruh manusia ditiupkan-Nya ke tubuhnya;

~

Awal bayi manusia terlahir ke dunia;

~

Awal tiupan sangkakala pertama / awal kematian manusia / Hari kiamat 'kecil' awal;

~

Awal tiupan sangkakala kedua / awal ruh manusia diangkat-Nya dari tubuhnya;

~

Awal hancurnya Bumi & tata surya / akhir jaman / Hari kiamat 'besar'

~

Akhir hancur-musnahnya alam semesta (jika dikehendaki-Nya);

~

Allah, Maha akhir.

Gambar 17

Diagram hubungan syafaat dan Penyaksian di Hari Kiamat

Proses penyaksian pada pengadilan akhirat di Hari Kiamat; Para malaikat; Para saksi atau penyampai kebenaran-Nya; Umat; Taubat; Syafaat; dsb.

Gambar 18

Diagram umum sifat dan fitrah zat

Zat; Sifat statis dan dinamis zat yang sebenarnya; Fitrah zat; Perwujudan esensi dan perbuatan zat (penampakan lahiriah / batiniah); Sesuatu selain zat (pengamat); Sifat statis dan dinamis zat yang terwujud; dsb.

Gambar 19

Diagram umum proses pemahaman sifat-sifat-Nya

Allah; Sifat statis dan dinamis Allah yang sebenarnya; Fitrah Allah; Penciptaan alam semesta dan seisinya, sebagai perwujudan dari Fitrah Allah; Manusia (khalifah-Nya) dan makhluk lainnya; Sifat statis dan dinamis Allah yang terwujud; dsb.

Gambar 20

Diagram umum sifat-Nya pada sifat zat ciptaan-Nya

Allah; Fitrah Allah; Sunatullah (sifat dinamis, perbuatan atau sifat proses Allah), yang megandung Fitrah Allah; Penciptaan alam semesta dan segala isinya, sebagai perwujudan dari Fitrah Allah; Benda mati dan Makhluk-Nya; Zat-zat atom dan ruh; Tubuh wadah makhluk-Nya; Kebebasan berbuat & berkehendak makhluk-Nya; Sifat statis (mutlak) di Atom dan Ruh; Sifat dinamis (mutlak) atau sunatullah; Sifat dinamis (relatif) sebagai balasan-Nya; Sifat benda mati dan makhluk-Nya; dsb.

Gambar 21

Diagram sederhana fungsi sunatullah

Keadaan awal; Proses, melalui sunatullah; Keadaan akhir.

Gambar 22

Diagram siklus proses sesaat fungsi sunatullah

Manusia; Lingkungan; Segala usaha & memilih manusia; Cobaan / ujian-Nya; Keadaan internal (manusia) hasil dari ujian-Nya; Keadaan ksternal (lingkungan) hasil dari ujian-Nya; Segala keadaan awal; Tak-terhitung Sunatullah; Segala keadaan akhir (lahiriah & batiniah, baik & buruk); dsb.

Gambar 23

Diagram siklus proses sesaat perbuatan manusia

Manusia; Beban tanggung-jawab, tingkat keterpaksaan, niat, tingkat kesadaran dan tingkat keimanan; Segala usaha & memilih manusia; Keadaan awal / murni (lahiriah & batiniah), hasil usaha manusia; Makhluk gaib (batiniah); Makhluk hidup & benda mati nyata (lahiriah); Lingkungan atau alam semesta; Pengaruh batiniah dan lahiriah; Pengaruh baik (meringankan) dan Pengaruh buruk (beban ujian-Nya); Keadaan aktual (lahiriah & batiniah), yang mewujudkan perbuatan; Sunatullah (aturan-Nya); Keadaan akhir (lahiriah & batiniah); dsb.

Gambar 24

Diagram pemakaian daya pada perbuatan manusia

Manusia; Beban tanggung-jawab, tingkat keterpaksaan, niat, tingkat kesadaran dan tingkat keimanan; Segala usaha & memilih manusia; Daya awal / murni (lahiriah & batiniah), hasil usaha manusia; Makhluk gaib (batiniah); Makhluk hidup & benda mati nyata (lahiriah); Lingkungan atau alam semesta; Pengaruh batiniah dan lahiriah; Pengaruh baik (meringankan) dan Pengaruh buruk (beban ujian-Nya); Daya aktual atau akhir (lahiriah & batiniah), yang mewujudkan perbuatan; Sunatullah (aturan-Nya); Daya akhir (lahiriah & batiniah); dsb.

Gambar 25

Diagram siklus proses sesaat pikiran manusia

Manusia, termasuk para nabi-Nya; Keyakinan batiniah, pengetahuan atau pemahaman yang ada; Beban tanggung-jawab, tingkat keterpaksaan (doktrinasi), Niat dan tingkat kesadaran; Segala usaha berpikir & memilih informasi dari dalam otak; Keadaan awal / murni (batiniah), hasil usaha manusia; Segala ciptaan-Nya dan kejadian di seluruh alam semesta (tanda-tanda kekuasaan-Nya); Ilham-ilham (baik & buruk) dari para makhluk gaib; Pengaruh batiniah baik (pengajaran-Nya) dari malaikat atau jin; Pengaruh batiniah buruk (cobaan atau ujian-Nya) dari jin, syaitan atau iblis; Usaha memfilter atau memilih informasi dari luar (bisikan ke dalam batin manusia); Keadaan aktual (batiniah) dari hasil penilaian akal; Sunatullah batiniah (aturan-Nya); Keadaan akhir (batiniah); dsb.

Gambar 26

Diagram detail proses berpikir manusia

Penciptaan alam semesta; Indera lahiriah manusia; Para makhluk gaib; Otak manusia; Catatan amal manusia; Nafsu manusia; Indera batiniah manusia; Akal manusia; Hati-nurani manusia; Tabir; 'Arsy-Nya; Zat Allah; dsb.

Gambar 27

Diagram sederhana elemen ruh dan fungsinya

Para makhluk gaib; Indera lahiriah; Otak; Catatan amal; Nafsu; Indera batiniah; Akal; Anggota badan; Hati-nurani; Tabir; 'Arsy-Nya; dsb.

Gambar 28

Skema pemilihan jalan hidup (rangkaian sunatullah)

Segala keadaan awal; Usaha atau tindakan manusia; Sunatullah; Segala keadaan akhir; dsb.

Gambar 29

Skema beberapa contoh jalan hidup manusia

God spot (tingkat kesadaran ketuhanan); Batas bawah keimanan para nabi; Batas bawah keimanan para wali atau para ulama; Tingkat keimanan nol (pada bayi); dsb.

Gambar 30

Skema pengaruh pengajaran para makhluk gaib

God spot (tingkat kesadaran ketuhanan); Jalan hidup manusia; Segala bentuk ilham (pengaruh batiniah) dari para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis); dsb.

Gambar 31

Skema sederhana proses pemilihan takdir/qadar-Nya

Usaha manusia relatif konstan (serupa dengan usaha sebelumnya); Segala pilihan batiniah (diilhami oleh para makhluk gaib) & belum diamalkan; Peranan daya-upaya manusia, untuk mengubah berbagai keadaan awal (mengamalkan pilihan batiniahnya); Usaha memilih qadar-Nya yang lain (berbeda dari usaha sebelumnya); Peranan daya-upaya Allah, untuk mewujudkan segala keadaan akhir (melalui sunatullah atau aturan-Nya); Balasan-Nya setimpal dengan usaha manusia; Segala keadaan akhir yang terwujud 'tiap saatnya' (Qadla-Nya); Qadar-Nya atau Qadla-Nya yang terakhir; dsb.

Gambar 32

Skema sederhana wilayah kebebasan manusia

Tak-terhitung sunatullah, yang berlaku mutlak dan kekal, sejak awal penciptaan alam semesta, sampai akhir jaman; Tiap aliran proses sunatullah; Wilayah proses sunatullah seluruhnya; Wilayah proses sunatullah yang telah dan belum dijalani manusia; Wilayah kebebasan pikiran (batiniah) dan tubuh (lahiriah) manusia; Jalan hidup manusia; dsb.

Gambar 33

Diagram hubungan Fitrah Allah dan agama Islam

Fitrah Allah; Aturan-Nya (sunatullah), segala aturan proses di alam semesta; Penciptaan alam semesta; Tanda-tanda kekuasaan-Nya; Para nabi dan rasul-Nya; Kitab-kitab tauhid (kitab-kitab-Nya); Agama-agama tauhid (agama-agama-Nya); dsb.

Gambar 34

Skema hubungan aplikasi wahyu-Nya dan akal

Aliran-aliran; Wahyu dan akal; Mengenal Tuhan, Kewajiban mengenal Tuhan, Mengenal baik dan jahat dan Kewajiban mengerjaan yang baik & menjauhi yang jahat; dsb.

Gambar 35

Skema umum perbedaan keimanan umat berilmu & tidak

Segala pengajaran & tuntunan-Nya; Umat yang berilmu dan Umat yang awam; Segala ilmu-pengetahuan dan Tanpa ilmu-pengetahuan; Pemahaman secara mendalam dan Pemahaman secara taklid; Syariat (amal-ibadah); Pengalaman rohani-spiritual-batiniah; Segala akhlak terpuji; Berragam tingkat keimanan; Kehidupan akhirat di dunia; Kehidupan akhirat di Hari Kiamat; dsb.

Gambar 36

Diagram empat macam bentuk Al-Qur'an

Zat Allah; Sifat-sifat Allah; Fitrah Allah (Al-Qur'an jenis ke-1); Alam semesta; Tanda-tanda kemuliaan & kekuasaan-Nya (Al-Qur'an jenis ke-2); Nabi Muhammad saw; Hikmah & hakekat kebenaran-Nya (Al-Qur'an jenis ke-3); Al-Kitab (Al-Qur'an jenis ke-4); Kitab suci Al-Qur'an; Sunnah dan Hadits Nabi; dsb.

Gambar 37

Skema teoretis sederhana, kenabian terakhir

Jumlah persoalan umat (lahir & batin); Waktu atau jaman; Jumlah persoalan umat manusia, tiap jamannya; Batas kemampuan tiap manusia, tiap jamannya; dsb.

Gambar 38

Diagram aspek pemahaman ajaran agama-Nya

Aspek 'bangunan pemahaman' ideal; Para Nabi dan rasul-Nya; Umat manusia umumnya; Utuh, Tidak saling bertentangan, Konsisten, Amat lengkap dan Amat mendalam; dsb.

Gambar 39

Skema bangunan pemahaman atas Al-Qur'an

Waktu atau kelengkapan pemahaman; Jumlah ayat; Suatu ayat tertentu sebagai pondasi pertama; Tiap penambahan ayat atau tiap pembahasan (batu pondasi); dsb.

Gambar 40

Diagram umum proses pengajaran-Nya sepanjang masa

Allah; Alam semesta; Tanda-tanda kekuasaan-Nya; Para makhluk gaib; Para nabi-Nya terdahulu; Nabi Muhammad saw; Para sahabat, tabiin, tabiit-tabiin, ulama terdahulu, dsb; Umat tiap jamannya (terutama melalui Majelis alim-ulama); Hikmah & hakekat kebenaran-Nya; Segala kitab & wahyu-Nya, serta kisah para nabi-Nya; Kitab suci Al-Qur'an & Sunnah-sunnah Nabi (Hadits); Ijtihad (Ijma', Qiyas, Istihsan, dsb) dari para alim-ulama; Ijtihad dari Majelis para alim-ulama di tiap jamannya; Persoalan umat-umat terdahulu, umat di jaman Nabi, umat di masa awal Islam dan umat di tiap jamannya; dsb.

Rangkuman aspek-aspek terkait (sesuai kelompoknya)

~

Allah (zat, sifat & fitrah Allah)

~

Alam semesta (penciptaan & tujuannya)

~

Agama-Nya yang lurus (segala pengajaran & tuntunan-Nya)

~

'Arsy-Nya

~

Kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya

~

Segala ketentuan / ketetapan-Nya bagi segala zat ciptaan-Nya

~

Segala kehendak, tindakan / perbuatan-Nya di alam semesta

~

Sunatullah (Sunnah Allah / sifat dinamis-perbuatan-proses Allah / aturan-Nya, lahiriah & batiniah)

~

Tabir-hijab-pembatas antara Allah & makhluk-Nya

~

Tanda-tanda kekuasaan-Nya (segala zat ciptaan-Nya & kejadian di alam semesta, yang mutlak & kekal)

~

Ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis

~

Al-Qur'an / kitab-kitab-Nya yang berwujud gaib, yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh)

~

Wajah-Nya (perwujudan sifat zat Allah)

~

Segala pengetahuan / kebenaran-Nya di alam semesta

~

Kalam / wahyu-Nya yang sebenarnya

~

Wahyu-Nya

~

Agama-agama-Nya

~

Ilmu-pengetahuan, yang amat obyektif

~

Al-Hikmah (hikmah & hakekat kebenaran-Nya)

~

Kenabian (pemahaman dan pengamalan, yang relatif sempurna)

~

Al-Kitab (kitab-kitab-Nya / ayat-ayat-Nya yang tertulis / Al-Hikmah yang terungkap-tertulis-terucap)

~

Aliran-golongan-mazhab pemahaman

~

'Bangunan pemahaman' Al-Hikmah yang relatif ideal / sempurna (amat lengkap, mendalam; konsisten; utuh dan tidak saling bertentangan)

~

Sunnah & Hadits para nabi-Nya

~

Ijtihad para alim-ulama (Ijma', Qiyas, Istihsan, dsb), sesuai keadaan, kebutuhan, tantangan & persoalan umat

~

Para nabi / rasul-Nya

~

Para sahabat, tabiin, tabiit-tabiin, ulama terdahulu, dsb

~

Umat yang berilmu & awam

~

Para saksi / penyampai kebenaran-Nya

~

Syafaat

~

Syariat (amal-ibadah)

~

Pengalaman rohani-spiritual-batiniah

~

Akhlak manusia

~

Keimanan / keyakinan (batiniah-pemahaman & lahiriah-pengamalan)

~

Khalifah-Nya & Non-khalifah-Nya

~

Tugas / amanat bagi tiap makhluk-Nya

~

Pengajaran-Nya & cobaan-ujian-Nya (lahiriah & batiniah)

~

Segala bentuk ilham-bisikan-godaan para makhluk gaib (positif-benar-baik & negatif-sesat-buruk)

~

Zat & non-zat ciptaan-Nya

~

Segala jenis & sifat zat ciptaan-Nya

~

Atom (nyata & mati) & Ruh (gaib & hidup)

~

Benda mati & makhluk hidup (nyata & gaib)

~

Makhluk hidup gaib (malaikat, jin, syaitan & iblis)

~

Makhluk hidup nyata (manusia, hewan & tumbuhan)

~

Sel (makhluk nyata terkecil)

~

Sistem benda terkecil

~

Energi & air

~

Unsur / senyawa di udara, air & tanah

~

Zat-zat organik & anorganik

~

Tubuh wadah makhluk-Nya & benih dasarnya

~

Ditiupkan-Nya & diangkat / dibangkitkan-Nya ruh

~

Sifat dinamis-perbuatan-proses & statis-esensi-pembeda zat (mutlak & relatif)

~

Akal, nafsu, hati / kalbu, hati-nurani & catatan amal manusia

~

Indera manusia (lahiriah & batiniah)

~

Otak manusia

~

Proses berpikir manusia

~

Usaha & pilihan manusia

~

Kebebasan berbuat & berkehendak tiap makhluk-Nya (lahiriah & batiniah)

~

Wilayah kebebasan manusia (pikiran-batiniah & tubuh-lahiriah)

~

Perbuatan manusia & aspek-aspeknya (beban tanggung-jawab, tingkat keterpaksaan, beban ujian-Nya, niat, tingkat kesadaran, tingkat keimanan, dsb)

~

Daya dan keadaan manusia (lahiriah & batiniah)

~

Peranan daya-upaya Allah & manusia, atas perbuatan manusia (baik & buruk)

~

Jalan hidup & jalan-Nya yang lurus

~

Qadla & Qadar-Nya (takdir-Nya)

~

Balasan-Nya (nikmat & hukuman-Nya / pahala & beban dosa)

~

Taubat

~

Kehidupan dunia

~

Kehidupan akhirat di dunia & di Hari Kiamat

~

Hari kiamat 'kecil' (kematian tiap makhluk nyata)

~

Hari kiamat 'besar' (akhir jaman)

~

Pengadilan akhirat di Hari Kiamat (penyaksian, dibukakan kebenaran-Nya, penghisaban, pemutusan & pembalasan)

 

Sekali lagi, berbagai aspek yang relatif sangat banyak atau luas pada tabel di atas (di samping aspek-aspek yang belum digambarkan), sekaligus 'saling terkait' antar aspek-aspeknya, sama sekali belum menunjukkan tingkat kebenaran dan kesempurnaan seluruh pemahaman pada buku ini. Minimal di sini hanya ingin ditunjukkan, bahwa sesuatu bangunan pemahaman yang 'sempurna' (relatif sangat lengkap, mendalam, utuh, konsisten dan tidak saling bertentangan), atas ajaran-ajaran Rasulullah saw, semestinya memiliki saling keterkaitan antar aspek-aspeknya.
Suatu kebenaran-Nya di alam semesta ini pasti memiliki segala dalil-alasan dan segala penjelasannya, yang jelas dan nyata, walau relatif hanya sangat sedikit jumlah umat manusia (terutama para nabi-Nya), yang telah bisa memahaminya dengan relatif jelas. Sedangkan 'benar' (berdasar segala fakta-kenyataan di alam semesta ini, yang bersifat 'mutlak', 'kekal' dan 'universal', yang diperoleh secara 'sangat obyektif') merupakan satu-satunya bukti, bahwa sesuatu pemahaman memang berasal dari Allah Tuhannya selueuh alam semesta ini, bagaimanapun cara kebenaran itu disampaikan, pada kitab manapun kebenaran itu tertulis, dan oleh siapapun kebenaran itu tersampaikan. Pemahaman yang 'benar' inilah yang biasanya disebut sebagai 'Al-Hikmah' (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), seperti dimiliki oleh seluruh nabi-Nya.

Dan segala kebenaran dan kesempurnaan semata hanya milik Allah, serta sebaliknya segala kesalahan, kekeliruan, kekurangan dan keterbatasan hanya milik hamba-hamba-Nya.

"… Maka tatkala Rasul (Muhammad) itu datang kepada mereka, dengan membawakan bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: 'Ini adalah sihir yang nyata'." – (QS.61:6) dan (QS.7:105).

"Bahkan yang sebenarnya mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka, telah mendustakan (para rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat, (atas) orang-orang yang zalim itu." – (QS.10:39) dan (QS.39:32-33, QS.43:86, QS.29:68, QS.23:70-71).

"Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran, dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya)." – (QS.37:37) dan (QS.5:48, QS.17:81, QS.34:49, QS.2:91, QS.2:213, QS.7:181-182, QS.7:53).

 

"…Sebenarnya Al-Qur'an itu adalah kebenaran (yang datang) dari Rabb-mu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum, yang be-lum datang kepada mereka, orang yang memberi peringatan, sebelum kamu. Mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk." – (QS.32:3) dan (QS.21:24, QS.34:43, QS.43:30, QS.22:54, QS.21:24, QS.46:7, QS.60:1, QS.50:5, QS.48:28, QS.3:60, QS.47:2, QS.18:29, QS.5:84, QS.28:75, QS.25:26, QS.47:3).

 

"sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar firman, yang memi-sahkan antara yang hak (benar) dan yang batil," – (QS.86:13) dan (QS.42:24, QS.2:42, QS.3:71, QS.8:8, QS.18:56, QS.21:18).

"Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang hak (benar). Dan sesungguhnya, apa saja yang mereka serukan selain dari Allah itulah yang batil. …" – (QS.31:30) dan (QS.22:62, QS.22:6).

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s