Teori ‘Big Light’ vs teori ‘Big Bang’ (2): Urutan penciptaan alam semesta

Teori 'Big Light' vs teori 'Big Bang' (2): Urutan penciptaan alam semesta

Amat jarang atau bahkan hampir tidak ada penjelasan yang berkembang luas di kalangan
umat Islam tentang urutan penciptaan alam semesta ini, selain dari hal-hal yang disebut
secara amat ringkas dalam kitab suci Al-Qur'an. Berikut ini diungkap urutan penciptaan
alam semesta ini menurut teori 'Big Light', beserta ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an
yang mendukungnya. Di samping itu juga diungkap urutan menurut
teori 'Big Bang', sebagai bahan perbandingannya.

Seri artikel "Teori Big Light vs teori Big Bang", yaitu:

Urutan penciptaan alam semesta ini menurut teori 'Big Light'

Dalam artikel/posting terdahulu "teori 'Big Light' vs teori 'Big Bang' (1): Pengantar" telah dikenalkan secara cukup ringkas, tentang teori 'Big Light'. Berikut ini akan diungkap urutan penciptaan alam semesta ini menurut teori 'Big Light', beserta ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an yang dianggap mendukungnya, minimal menurut penilaian relatif penulis. Dalam artikel/posting sekarang, pengungkapan atas urutan penciptaan alam semesta ini sengaja lebih didahulukan, terutama agar umat Islam bisa langsung mengetahui hubungan antara teori 'Big Light', dengan ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Sedangkan landasan teori beserta segala dalil-alasannya, yang digunakan untuk mendukung teori 'Big Light', akan diuraikan lebih lengkap dalam artikel/posting berikutnya ataupun bisa dibaca pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", tentang teori 'Big Light' dan model alam semestanya, di samping topik-topik terkait lainnya.

Namun agar umat bisa langsung memperoleh gambaran ringkas tentang teori 'Big Light', berikut berbagai elemen yang paling dasar, yang telah digunakan-Nya pada proses penciptaan alam semesta ini, dan sekaligus proses penciptaannya (proses penciptaan yang paling awalnya), maka terlebih dahulu dianggap perlu ditunjukkan pula gambar berikut. Urutan nomor poin pada gambar itupun (poin 1 s/d 4), relatif menunjukkan urutan proses penciptaannya.

Seluruh alam semesta dan segala isinya ini justru hanya diciptakan-Nya dengan 3 elemen yang paling dasar, yaitu: 'Materi terkecil' (mati dan nyata), 'Ruh' (hidup dan gaib) dan 'Energi', masing-masingnya berupa poin 2, 3 dan 4 pada gambar berikut. Hal inipun tentunya di samping segala aturan dan ketetapan-Nya (poin 1), yang telah diciptakan-Nya sebelumnya, yang memang pasti mengatur segala proses interaksi antar elemen tersebut. Sedangkan proses penciptaan yang paling awalnya atas elemen-elemen yang paling dasar tersebut, berikut urutannya, telah dijelaskan pula pada tabel di bawahnya (poin 1). Namun urutan itu pada dasarnya hanya berupa pertimbangan logis semata, pada kenyataannya, segala 'Aturan-Nya', 'Materi terkecil', 'Ruh' dan 'Energi' bahkan justru bisa diciptakan-Nya secara bersamaan dan sekaligus keseluruhannya, pada saat paling awalnya. Terlebih lagi karena keempatnya memang amat saling terkait, yang telah ditunjukkan melalui garis dan panah penghubung pada gambar. Serta hubungan atau interaksi ini seluruhnya pasti diatur oleh 'Aturan-Nya' (poin 1 di tengah-tengah gambar).

Gambar skema sederhana penciptaan elemen dasar alam semesta

Urutan penciptaan alam semesta ini menurut teori 'Big Light', sejak saat yang paling awalnya (saat alam semesta belum ada), sampai saat yang paling akhirnya (akhir jaman), telah diungkap pada tabel berikut. Sedangkan urutan terkait menurut teori 'Big Bang', juga telah diungkap di bagian bawah artikel/posting sekarang. Dengan membandingkan urutan dan penjelasannya, tentunya umat semestinya bisa menemukan sejumlah besar perbedaan di antara kedua teori, di samping juga ada kesamaan pada sejumlah aspek tertentu.

Urutan penciptaan alam semesta ini menurut teori 'Big Light', secara ringkasnya yaitu:

  • Jaman penciptaan           (awal keberadaan materi, ruh dan energi)

  • Jaman sub-atom             (penampakan "sinar alam semesta")

  • Jaman atom                     (pembentukan elemen purba)

  • Jaman inti-pusat             (pembentukan "kabut alam semesta")

  • Jaman bola api                 (pembentukan benda langit)

  • Jaman interaksi               (tabrakan antar benda langit)

  • Jaman kestabilan            (pembentukan formasi benda langit)

  • Jaman perluasan             (ekspansi alam semesta)

  • Jaman 'supernova'          (langit 'terbelah')

  • Jaman 'black hole'           ('kematian' benda langit)

  • Jaman kegelapan            ('kematian' alam semesta)

  • Jaman kehancuran         ("jika dikehendaki-Nya")

Sedangkan urutan terkait menurut teori 'Big Bang', yaitu:

  • Kejadian 'Big Bang'

  • Kejadian 1 x 10-36 detik setelah 'Big Bang'.

  • Keadaan tingkat energi amat tinggi, kejadian 1 detik setelah 'Big Bang'.

  • Pembentukan elemen-elemen dasar, kejadian 3 menit setelah 'Big Bang'.

  • Pendinginan alam semesta, kejadian 5 x 105 tahun setelah 'Big Bang'.

  • Kelahiran bintang dan galaksi, kejadian 1 x 109 tahun setelah 'Big Bang'.

  • Jaman quasar, kejadian 3 x 109 tahun setelah 'Big Bang'.

  • Awal terjadinya Supernova, kejadian 6 x 109 tahun setelah 'Big Bang'.

  • Kelahiran Matahari, kejadian 5 x 109 tahun sebelum saat ini.

  • Tabrakan antar galaksi, kejadian 3 x 109 tahun ke depan.

  • Galaksi lenyap, kejadian 1 x 1011 tahun ke depan.

  • Jaman bntang berakhir, kejadian 1 x 1012 tahun ke depan.

  • Jaman degenerasi, kejadian 1 x 1037 tahun ke depan.

  • Jaman 'black hole', kejadian 1 x 10100 tahun ke depan.

  • Jaman kegelapan, kejadian lebih dari 1 x 10100 tahun ke depan.

Adapun penjelasan yang lebih lengkapnya atas urutan penciptaan alam semesta ini menurut teori 'Big Light', yaitu:

Proses penciptaan alam semesta menurut teori 'Big Light'
("sinar alam semesta")

Keadaan sebelum penciptaan

Hanya keadaan 'ketiadaan' (hanya ruang tak-terbatas yang kosong atau hampa sama sekali, tanpa ada sesuatupun materi ataupun zat ciptaan-Nya di dalamnya). Dan semata-mata hanya ada Zat Allah, Yang Maha Esa, Maha pencipta, Maha awal dan Maha kekal.

Namun sebelum peristiwa 'Big Light' (sebelum penciptaan alam semesta ini), telah diciptakan-Nya terlebih dahulu segala ketetapan atau ketentuan-Nya bagi alam semesta ini (ciptaan-Nya yang berupa non zat, termasuk aturan-Nya atau sunatullah).
Dan semuanya telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung.

Tahapan proses penciptaan

1.

Jaman penciptaan           (awal keberadaan materi, ruh dan energi)

»

Pada saat paling awal diciptakan-Nya relatif singkat, bersamaan dan sekaligus:

a.

Tak-terhitung jumlah materi yang paling kecil, ringan dan sederhana (atau disebut 'materi terkecil'), sebagai zat yang paling dasar penyusun segala jenis benda mati, sekaligus sebagai materi pembawa unit energi terkecil.

b.

Tak-terhitung jumlah zat ruh, sebagai zat yang paling dasar penyusun kehidupan segala jenis zat makhluk-Nya ataupun segala jenis zat ciptaan-Nya. Zat-zat ruh ini sekaligus pula ditiupkan-Nya ke tiap 'materi terkecil' di atas.

Dan hal inilah bentuk paling dasar dari "proses ditiupkan-Nya zat ruh". Sedangkan segala proses peniupan berikutnya yang disebut-sebut dalam kitab suci Al-Qur'an pada dasarnya berupa "proses ditiupkan-Nya zat ruh (beserta zat 'materi terkecil' yang terkait), ke 'benih' tubuh wadah suatu makhluk hidup nyata".

Baca pula topik "Ruh-ruh" pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", tentang hubungan antara ruh dan benda mati.

c.

"Energi awal alam semesta", sebagai energi panas pemicu bagi tercipta dan berjalannya seluruh alam semesta ini, bahkan sampai saat terakhirnya (biasa disebut 'akhir jaman'). "Energi awal alam semesta" inilah yang telah menghidupkan atau menggerakkan 'sebagian dari' seluruh zat ruh (hanya zat-zat ruh yang kira-kira berada dalam wilayah ruang alam semesta saat ini).
Sehingga zat-zat ruh (terutama zat-zat ruh para makhluk hidup gaib) juga biasa disebut "diciptakan-Nya dari 'cahaya', 'api' dan 'api yang panas'" (lebih umumnya lagi dari 'energi').

 

Proses lebih jelasnya, secara hipotesis diduga segala 'materi terkecil' diciptakan-Nya tersusun merata di seluruh ruang tempat alam semesta ini berada (ruang tak-terbatas, yang telah terjangkau ataupun belum oleh manusia). Sedangkan ruang yang telah terpakai oleh alam semesta saat ini hanya sebagian amat sangat kecil, daripada seluruh volume ruang tak-terbatas itu.
Sehingga seluruh ruang tak-terbatas ini pada awalnya terisi oleh semacam gas (bukan gas yang tersusun dari atom-atom, namun dari segala 'materi terkecil'), yang amat sangat ringan, transparan, gelap dan dingin (suhu nol mutlak sebenarnya, atau sama sekali tidak ada 'materi terkecil' yang bergerak).

Lalu pada sebagian amat sangat sedikit daripada seluruh 'materi terkecil' itu (hanya sebagian yang ikut menyusun seluruh alam semesta saat ini), diberikan-Nya energi panas untuk bisa bergerak ("energi awal alam semesta").
Segala 'materi terkecil' yang digerakkan-Nya ini tersusun berupa suatu bola gas raksasa (walau tetap hanya berupa suatu titik amat sangat kecil, jika dibanding seluruh ruang tak-terbatasnya).

Tentunya pemberian energi terfokus atau dimulai dari titik pusat bola gas raksasa itu ('materi terkecil' pada pusatnya paling panas dan paling cepat gerakannya). Sedangkan makin menjauh dari titik pusat bola gas, sampai ke permukaannya, 'materi terkecil'-nya makin kecil energi panasnya ataupun makin lambat gerakannya.
Dan daerah sekitar 'pusat' bola gas raksasa itulah yang nantinya menjadi tempat terbentuk dan beradanya sesuatu benda langit yang terbesar, di antara segala benda langit lainnya, yang disebut di sini sebagai "pusat alam semesta".

Seluruh alam semesta pada dasarnya tetap mengambang atau melayang relatif 'tanpa bergerak' sama sekali di tengah-tengah seluruh 'materi terkecil' dalam ruang tak-terbatas, bahkan walaupun telah dipanasi-Nya (tidak menguap sama sekali).

Dengan adaya "energi awal alam semesta" itu, seluruh 'materi terkecil' penyusun seluruh alam semesta saat ini, menjadi berpijar dengan amat sangat panas dan juga bergerak amat sangat bebas secara acak (sesuai dengan teori konveksi atau perpindahan materi, sambil disertai dengan saling bertumbukannya materi).
Namun bentuk alam semesta sama sekali belum tampak (sinar pijaran dari seluruh 'materi terkecil' mustahil bisa ditangkap oleh segala alat dan indera manusia, jika 'diibaratkan' manusia telah ada saat itu).
Sehingga "sinar alam semesta" atau 'Big Light' pada dasarnya telah ada terjadi saat paling awal proses penciptaan alam semesta ini, namun belum tampak.

Sejak setelah proses penciptaan 'pertama' di atas, segala proses penciptaan selanjutnya pasti mengikuti sunatullah, yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian yang 'pasti' dan 'jelas'. Lebih tepatnya, sunatullah bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten).

Dan tentunya "energi awal alam semesta" yang bentuk awalnya hanya berupa energi panas, sampai akhir jaman jumlah total 'energi'-nya tetap tidak berubah, namun secara perlahan-lahan terus-menerus berubah menjadi segala bentuk energi lainnya (energi potensial atau energi gravitasi, energi thermal atau energi dalam, energi suara, energi pegas, energi elektromagnetik, dsb).
Sedangkan energi panas itu sendiri pada dasarnya sebanding dengan energi kinetik atau energi gerak rata-rata, dari seluruh partikel dalam suatu sistem tertentu yang ditinjau.

Maka alam semesta dan segala proses di dalamnya (termasuk proses-proses di bawah secara terurut), pada dasarnya terus-menerus makin mendingin, sampai pada tingkat kestabilan tertentu di akhir jaman (baca pula proses terakhir di bawah). Dan saat awalnya segala benda langit masih bersatu-padu berupa segala 'materi terkecil'.

"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui, bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya (masing-masing dibentuk-Nya). …" − (QS.21:30).

2.

Jaman sub-atom             (penampakan "sinar alam semesta")

»

Dengan saling bergerak amat sangat cepat, bebas dan acak, antar 'materi terkecil' juga saling bertumbukan dan berreaksi. Sehingga mulai terbentuk berbagai partikel sub-atom atau partikel dasar, yang berukuran lebih besar, seperti: quark, elektron, photon dan neutrino. Lalu proton dan neutron juga mulai terbentuk.
Partikel-partikel yang baru terbentuk ini juga tetap bergerak relatif amat sangat cepat, bebas dan acak.

Segala reaksi penggabungan partikel-partikel sub-atomik yang lebih kecil (bahkan termasuk dari 'materi terkecil'), menjadi partikel-partikel sub-atomik yang lebih besar di atas, pada dasarnya juga "reaksi fusi nuklir" dalam pengertiannya yang lebih luas. Sehingga "reaksi fusi nuklir" bukan hanya sekedar reaksi penggabungan antara partikel-partikel inti atom saja (proton dan neutron), yang lebih umum dikenal, karena penggabungan partikel-partikel sub-atomik yang lebih kecil justru juga menghasilkan efek-efek yang serupa (hanya berbeda-beda tingkat energi yang dihasilkan).

Saat inilah keseluruhan alam semesta mulai bisa tampak, dalam bentuk suatu sinar yang amat sangat panas, terang, putih dan merata ("sinar alam semesta" atau 'Big Light'). 'Big Light' ini terjadi karena sebagian dari "energi awal alam semesta" telah berubah bentuk menjadi energi hasil tak-terhitung jumlah reaksi fusi nuklir (reaksi penggabungan partikel-partikel sub-atomik), serupa halnya dengan energi panas radiasi sinar Matahari saat ini, namun justru terjadi di 'seluruh' alam semesta ini.

Sehingga 'Big Light' ini pada dasarnya berlangsung relatif cukup lama (diduga selama ribuan tahun), terutama sejalan dengan proses pembentukan photon, sampai relatif hampir tidak ada lagi photon bebas (relatif seluruhnya telah menyatu ke dalam segala sistem atom).
Padahal diketahui, bahwa definisi umum dari 'sinar atau cahaya' itu sendiri adalah pancaran-emisi dari paket-paket kecil materi yang berupa 'photon'.

Di mana 'Big Light' secara 'keseluruhannya', sejak bentuk awalnya yang belum tampak, lalu mulai tampak setelah terbentuknya photon-photon dan terus-menerus makin terang, sampai saat tingkat tertinggi jumlah emisi photon, lalu perlahan-lahan makin meredup kembali sinarnya.
Lebih tepatnya, sinarnya makin terfokus pada berbagai titik tertentu saja di seluruh alam semesta. Titik-titik fokus ini bukan titik-titik yang diam di tempat, namun terus-menerus bergerak dengan relatif amat cepat, bebas dan acak.
Dan titik-titik fokus ini tentunya belum terbentuk pada jaman sub-atom sekarang ini, namun terbentuk pada jaman-jaman berikut.

3.

Jaman atom                     (pembentukan elemen purba)

»

Dengan makin mendinginnya alam semesta, tak-terhitung jumlah proton dan neutron bersama-sama membentuk inti-pusat-nukleus dari elemen-elemen sederhana, seperti atom-atom gas Hidrogen dan gas Helium.

Melalui reaksi fusi nuklir yang terus-menerus, sebagian dari elemen-elemen sederhana itu berubah menjadi berbagai jenis atom yang lebih berat, sampai membentuk atom-atom 'pusat' (atom-atom yang relatif amat sangat besar massa jenis, gravitasi dan titik leburnya).
Namun seluruh atom itu masih berbentuk berupa atom gas, yang juga bergerak relatif amat cepat, bebas dan acak, karena memang masih amat sangat panas.

4.

Jaman inti-pusat             (pembentukan "kabut alam semesta")

»

Atom-atom 'pusat' itu menjadi cikal-bakal bagi pembentukan seluruh benda langit di alam semesta ini. Bersama dengan makin mendinginnya alam semesta ini, atom-atom 'pusat' itulah yang pertama-tama paling cepat berubah bentuk menjadi 'padat' dan paling stabil, namun masih amat panas.
Lalu dengan massa dan gravitasinya yang relatif amat sangat besar, atom-atom 'pusat' itupun mulai membentuk alam semesta, menjadi kantung-kantung kecil gas, asap atau kabut panas, yang terus-menerus bergerak cukup cepat, bebas dan acak (tidak lagi berupa sinar yang amat terang dan merata).

Atom-atom 'pusat' juga terus-menerus bertumbukan dan berreaksi dengan atom-atom 'pusat' lainnya di dekatnya, untuk membentuk molekul, butir ataupun benda inti-pusat bagi segala benda langit. Sehingga masing-masing kantung gas atau kabut panas makin lama makin membesar, yang di tengahnya terdapat bola-bola api yang berukuran relatif kecil, yang juga makin membesar.
Seluruh alam semesta pada saat ini banyak dipenuhi oleh bola-bola api semacam ini, yang bergerak relatif cepat, bebas dan acak. Dan secara umum, segala benda langit masih berupa asap atau kabut.

"Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: 'Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku (masing-masing dihadirkan atau dibentuk-Nya), dengan suka hati atau terpaksa'. Keduanya menjawab: 'Kami datang dengan suka hati'." − (QS.41:11).

5.

Jaman bola api                 (pembentukan benda langit)

»

Sejalan dengan makin mendinginnya alam semesta, dan telah terbentuknya inti-pusat benda-benda langit, sebagian dari atom dan molekul gas di sekeliling inti-pusat itu bisa berubah bentuk menjadi 'cair' dan 'padat', dan tertarik oleh gravitasi inti-pusat benda langitnya masing-masing, sehingga ukuran tiap benda langitnya juga makin membesar.

Bentuk awal dari hampir seluruh satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb, terbentuk pada jaman ini, dan umumnya masih berbentuk berupa bola-bola api. Tentunya hal ini relatif tidak berlaku pada benda-benda langit yang terbentuk jauh 'belakangan' (seperti: komet, meteor, asteroid, debu antariksa, dsb), yang berasal dari reruntuhan sisa hasil tabrakan antar benda-benda langit.

Sementara di lain pihak, segala tabrakan antar bola-bola api itu sendiri justru relatif tidak menimbulkan reruntuhan, bahkan 'menyatu' membentuk bola-bola api yang lebih besar. Terutama karena bola-bola api itu sebagian besarnya masih tersusun dari materi inti-pusat, yang massa jenis dan gaya gravitasinya memang relatif amat sangat besar, serta sekaligus masih amat panas.

Namun ada anggapan yang relatif keliru tentang pembentukan benda langit, termasuk yang terkait dengan teori 'Big Bang'. Karena pada teori 'Big Bang', peranan inti-pusat benda-benda langit justru relatif kurang diperhatikan, dari anggapannya seperti "pembentukan satelit dan planet berawal dari kabut di sekeliling bintang induknya, ataupun pembentukan bintang berukuran kecil berawal dari kabut hasil Supernova pada bintang berukuran besar".
Dan bahkan sebagian besar ilmuwan barat juga beranggapan keliru, bahwa inti-pusat dari benda-benda langit justru tersusun dari 'besi'. Padahal 'besi' bukan materi inti-pusat yang sebenarnya ('besi' hanya di bagian kulit terluarnya saja).

Padahal benih dasar bagi pembentukan segala benda langit (inti-pusatnya), justru telah terbentuk jauh sebelumnya (ketika awal penciptaan alam semesta). Karena materi-materi inti-pusat yang bermassa relatif amat sangat berat itu, justru hanya bisa terbentuk ketika tingkat energi panas masih amat sangat tinggi. Adapun kabut di sekeliling bintang ataupun kabut hasil Supernova pada dasarnya hanya makin menambah ukuran benda langit, yang 'melintas' di dekat kabut-kabut tersebut. Terutama lagi karena kabut-kabut itu sendiri hanya terdiri dari materi-materi yang relatif amat ringan saja (bukan materi-materi penyusun inti-pusat benda langit).

Pada akhirnya proses pembentukan segala benda langit berukuran relatif besar (satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb), memang sangat tergantung kepada jenis materi penyusun dan ukuran inti-pusatnya (lebih ringkasnya, tergantung kepada berat inti-pusatnya), di samping itu juga tergantung kepada hasil interaksi antar benda langit di dekatnya. Dan berat inti-pusat dan interaksi antar benda langit inilah yang relatif paling menentukan hampir seluruh sifat suatu benda langit (ukuran dan berat keseluruhan, medan gravitasi dan medan magnetik, bentuk, formasi dan pergerakan, umur dan keaktifan, kilauan cahaya, dsb).

Sedangkan segala jenis materi lainnya penyusun suatu benda langit (dari materi di sekeliling inti-pusatnya, sampai materi di atmosfirnya), justru relatif hanya mengikuti sifat-sifat inti-pusatnya. Termasuk karena segala jenis materi di seluruh alam semesta justru tersebar secara homogen (relatif seragam) dan isotropi (relatif merata).

"Sesungguhnya, Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang," − (QS.37:6) dan (QS.67:5, QS.41:12, QS.86:3).

"Tidakkah kamu perhatikan, bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat." dan "Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya, dan menjadikan matahari sebagai pelita." − (QS.71:15-16) dan (QS.78:12-13).

6.

Jaman interaksi               (tabrakan antar benda langit)

»

Namun bersamaan dengan proses pembentukannya, justru masing-masing benda langit juga masih bergerak dengan relatif bebas dan acak. Sehingga didukung paling utamanya oleh interaksi medan gravitasinya, benda-benda langit yang masih berbentuk bola-bola api itu justru amat banyak yang saling bertabrakan.

Dengan tingkat energi yang masih tinggi pada jaman ini, ataupun umur benda-benda langit yang masih relatif muda, maka benda-benda langit itu sebagian besarnya masih tersusun dari materi inti-pusat, yang massa jenis dan gravitasinya memang relatif amat sangat besar. Sehingga segala tabrakan antar benda-benda langit pada jaman ini relatif hampir tidak menimbulkan reruntuhan, namun justru 'menyatu' membentuk benda-benda langit yang berukuran lebih besar.

Dalam konteks ini bisa disebut pula, bahwa segala tabrakan antar benda-benda langit yang telah membentuk benda-benda langit berukuran relatif amat kecil, sebagai reruntuhan hasil tabrakan (komet, meteor, asteroid, debu antariksa, dsb), justru belum terjadi pada jaman ini (lebih tepatnya terbentuk pada jaman kestabilan di bawah).

Demikian pula halnya penjelasan atas bentuk hampir seluruh benda-benda langit berukuran relatif besar (satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb), yang justru berupa bola bulat sempurna ataupun bola bulat agak lonjong sedikit (bukan berbentuk berupa bebatuan tak-beraturan, seperti komet, meteor dan asteroid). Karena pada jaman ini, hampir seluruh materi di permukaannya masih melebur dengan relatif amat panas, sehingga bentuknya masih mudah menyesuaikan diri dengan pengaruh gravitasi dan gerak rotasi dari inti pusatnya.

Pada akhirnya jumlah benda-benda langit ataupun jumlah tabrakan antar benda langit menjadi amat jauh berkurang, sampai pada tingkat yang amat minimal, walau ukurannya masing-masing juga makin besar. Hal inipun mengakibatkan prosentase ruang antariksa yang 'kosong' menjadi amat besar (diperkirakan sekitar 95%).

Hal-hal di atas sekaligus membantah berbagai anggapan, seperti "berbagai benda langit yang berukuran relatif besar (satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb), terutama terbentuk dari reruntuhan hasil tabrakan antar benda langit, ataupun dari debu sisa hasil ledakan Supernova".
Padahal inti-pusat masing-masing benda-benda langit justru telah terbentuk jauh sebelumnya, Sedangkan hasil tabrakan dan ledakan itu hanya memperbesar jumlah materi ataupun ukuran benda langitnya saja.

7.

Jaman kestabilan            (pembentukan formasi benda langit)

»

Bersamaan dengan makin berkurangnya tabrakan antar benda langit, khususnya yang berukuran relatif besar, maka pola pergerakan benda-benda langit juga makin stabil, sebagai hasil dari makin kuatnya pengaruh interaksi medan gravitasi dan medan magnetnya, lebih utamanya terhadap benda langit pusat orbitnya masing-masing ataupun terhadap benda-benda langit lainnya di dekatnya.
Hal ini tentunya juga makin memperjelas bentuk susunan, kelompok ataupun formasi benda-benda langit, menjadi sistem planet, sistem bintang, sistem galaksi dan berbagai sistem lainnya.

Tentunya jaman kestabilan ini seperti jaman-jaman lainnya juga bersifat relatif, tergantung kepada kelompok benda langit tertentu saja (sistem bintang, sistem galaksi, dsb). Karena ada kelompok benda langit yang bisa lebih 'cepat' mencapai jaman kestabilan ini, ada pula yang bisa lebih 'lambat' mencapainya.

Benda-benda langit makin berkumpul pada daerah keseimbangan medan magnet dari benda langit pusatnya masing-masing (daerah ekuatorialnya), sehingga bentuk sistem bintang, galaksi dan keseluruhan alam semesta, menjadi relatif lebih 'datar'.

Bersamaan itu pula interaksi medan gravitasi makin stabil dan seimbang, antar benda langit terdekat, ataupun antar tiap benda langit dengan benda langit pusat orbitnya. Hal ini menjadikan benda-benda langit memiliki jarak orbit tertentu, dari benda langit pusatnya masing-masing, sesuai dengan posisi awal, massa dan kecepatan geraknya.
Namun ada pula benda-benda langit yang hanya 'melayang-layang' dalam daerah keseimbangan medan gravitasi antar benda langit di dekatnya (relatif tanpa memiliki pola gerak revolusi tertentu ataupun tanpa memiliki pusat orbit). Hal yang seperti ini umumnya terjadi pada meteor, kelompok asteroid dan kelompok debu antariksa.

Tentunya sejalan dengan makin mendinginnya alam semesta, benda-benda langit yang berukuran relatif kecil (satelit, planet, dsb), juga tidak lagi berupa bola-bola api ataupun bola-bola yang amat panas, namun telah makin stabil dan berupa bola-bola padat dan dingin. Sedangkan benda-benda langit yang berukuran relatif besar (bintang, pusat galaksi, dsb), dengan tekanan gravitasinya yang memang relatif amat besar, justru masih berupa bola-bola api yang amat panas dan bersinar.
Di samping itu, hampir semua atom bebas dan debu di antariksa telah makin berkurang dan telah 'mengikuti' benda-benda langit terdekat, yang medan gravitasinya paling kuat berpengaruh terhadapnya, sehingga ukuran benda-benda langitnya masing-masing juga makin besar.

Selama proses perubahan pola pergerakan dan formasi benda-benda langit pada jaman ini untuk menuju ke keadaan stabilnya, tentunya masih ada pula tabrakan antar benda langit berukuran relatif besar, terutama antar planet dan satelit, yang memang telah berbentuk padat. Tabrakan seperti inilah yang pada dasarnya menimbulkan benda-benda langit berukuran relatif amat kecil, sebagai reruntuhan sisa hasil tabrakannya (komet, meteor, asteroid, debu antariksa, dsb).

Dan tentunya selain dengan planet dan satelit, tabrakan antar benda langit pada jaman ini juga terjadi dengan komet, meteor dan asteroid. Hal seperti inilah yang telah banyak memusnahkan kehidupan purba di Bumi.
Namun jumlah keseluruhan tabrakan inipun makin lama makin jauh berkurang, sampai pada tingkat yang paling minimal.

Pada akhirnya pola pergerakan dan formasi benda-benda langit juga telah relatif menyerupai keadaan kestabilan pada sistim Tata surya ataupun sistim galaksi Bima sakti pada saat sekarang ini.

"Maha Suci Allah, Yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang, dan Dia menjadikan juga padanya, matahari dan bulan yang bercahaya." − (QS.25:61) dan (QS.15:16, QS.85:1).

 

"Maka Aku bersumpah, dengan Rabb Yang Mengatur, tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang. Sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa." − (QS.70:40) dan (QS.56:75, QS.81:15-16, QS.53:1).

"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan, untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kaum yang memahami(nya)." − (QS.16:12) dan (QS.7:54, QS.22:18, QS.13:2, QS.14:33, QS.21:33, QS.36:37-38, QS.36:40, QS.55:5, QS.39:5, QS.31:29, QS.35:13).

"Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah, Yang Maha Perkasa, lagi Maha Mengetahui." − (QS.6:96) dan (QS.16:16, QS.10:5).

8.

Jaman perluasan             (ekspansi alam semesta)

»

Bagi sistim galaksi Bima sakti, 'saat sekarang' telah termasuk dalam jaman perluasan ini. Di mana benda-benda langit yang tidak bersinar, temperaturnya telah mencapai keadaan stabil, seperti keadaannya saat ini (relatif padat dan dingin). Sedangkan benda-benda langit yang bersinar (bintang, pusat galaksi, dsb), tentunya tetap terus memancarkan energi panas radiasi sinarnya ke daerah sekelilingnya, sebagai hasil dari reaksi fusi nuklir di permukaannya.
Sehingga benda-benda langit yang bersinar itupun perlahan-lahan makin menurun ukuran, energi panas dan medan gravitasinya.

Hal ini akhirnya menjadikan jarak antara benda-benda langit terhadap benda langit pusat orbitnya masing-masing, juga perlahan-lahan makin saling menjauh (atau biasa disebut "alam semesta 'teramati' berekspansi makin meluas").

Pada jaman ini telah mulai terjadi 'Supernova', yang berupa ledakan amat besar pada setiap bintang yang telah 'hampir mati' (tidak ada lagi keadaan dan bahan bakar pemicu bagi terjadinya ledakan fusi nuklir secara alamiah, dari dan oleh sistem bintang itu sendiri). Supernova terjadi akibat dipicu oleh benda-benda langit lain di sekitarnya, termasuk sebagai hasil dari pergeseran perlahan-lahan lintasan benda-benda langit, akibat dari adanya perluasan atau ekspansi di atas.

Suatu Supernova sekaligus menandai akhir dari suatu bintang terkait, sebagai bintang normal seperti biasanya, untuk menjadi 'black hole' ataupun 'bintang neutron', yang bahan bakar nuklirnya relatif telah terbakar semuanya, secara 'sekaligus'. Sehingga Supernova pada awalnya terutama terjadi pada berbagai pusat galaksi dan bintang yang berukuran besar, karena massa, ukuran, tekanan dan temperaturnya memang amat sangat besar, sehingga relatif paling mudah menguapkan dan membakar semua bahan bakar nuklirnya.

Dan tentunya uraian di atas sekaligus membantah anggapan, bahwa perluasan atau ekspansi alam semesta dimulai dari suatu titik (dari bola yang amat sangat besar, panas dan padat), seperti halnya yang disebut pada teori 'Big Bang'. Padahal ekspansinya terpusat dari banyak titik (dari hampir semua pusat benda langit).

Penting pula diketahui, bahwa pada tingkat pergeseran lintasan benda-benda langit yang telah cukup ekstrim, maka Bumi juga akan bisa relatif banyak bertabrakan yang menimbulkan ledakan hebat, ataupun dilintasi dengan relatif cukup dekat oleh benda langit lainnya, dari yang berukuran relatif besar sampai yang amat kecil. Sehingga pada saat seperti ini, Bumi juga akan bisa mencapai keadaan 'akhir jaman'.

"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." − (QS.51:47).

"Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang, (sebagaimana) yang kamu lihat, …" − (QS.13:2).

 

"dan apabila (di Hari Kiamat) gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu," − (QS.77:10) dan (QS.81:3, QS.69:14).

"apabila (di Hari Kiamat) bumi diratakan," − (QS.84:3).

"Telah dekat (datangnya) saat itu (Hari Kiamat) dan telah terbelah bulan." − (QS.54:1).

"dan apabila (di Hari Kiamat) lautan dijadikan meluap," − (QS.82:3).

"dan apabila (di Hari Kiamat) lautan dipanaskan." − (QS.81:6).

9.

Jaman 'supernova'          (langit 'terbelah')

»

Jaman ini terjadi karena makin banyak benda-benda langit yang bersinar (terutama bintang-bintang dan quasar-quasar), yang telah berakhir segala keadaan dan bahan bakar pemicu bagi terjadinya ledakan fusi nuklir secara alamiah (disebut bintang 'mati'). Sekaligus jaman ini merupakan 'akhir jaman' bagi kehidupan makhluk pada planet-planet dalam sistem bintang terkait, yang tidak lagi bisa memancarkan energi panas sinarnya.

Seperti telah disinggung di atas, bersamaan dengan makin meluasnya alam semesta, maka ada pula sedikit pergeseran lintasan pergerakan benda-benda langit. Hal ini mengakibatkan banyak bintang 'mati' yang masih bisa berinteaksi dengan benda-benda langit lain di sekitarnya, dan menjadikan bintang 'mati' itu kembali bisa menghasilkan ledakan fusi nuklir, yang amat sangat besar (Supernova) ataupun ledakan lebih kecil (Nova).
Dan Nova ataupun Supernova itupun biasanya menandai betul-betul berakhirnya suatu bintang (tidak bersinar lagi), lalu berubah menjadi 'black hole' ataupun 'bintang neutron'.

Namun ada anggapan yang cukup keliru tentang Supernova, karena Supernova dianggap bisa melahirkan benda-benda langit yang berukuran lebih kecil. Padahal suatu ledakan fusi nuklir (termasuk Supernova), justru tidak bisa menghancurkan atau memecah inti-pusat benda langitnya. Padahal ledakan seperti itu justru telah terjadi sebelumnya terus-menerus selama milyaran tahun, namun juga tidak menghancurkannya.

Sehingga Supernova bukan menyebarkan materi inti-pusat bagi pembentukan benda-benda langit baru. Namun Supernova hanya memancarkan atau menyebarkan materi-atom yang relatif jauh lebih ringan (partikel, debu dan gas), ke benda-benda langit yang telah ada sebelumnya, yang kebetulan melintas ataupun berada di dekat Supernova. Sehingga benda-benda langit inipun menjadi lebih aktif (terutama pada bintang-bintang), ataupun ukurannya menjadi makin besar.

Dan tentunya peristiwa Supernova makin jauh berkurang pula sampai pada tingkat paling minimal, sejalan dengan makin berkurangnya interaksi antar benda-benda langit, terutama melalui pancaran ataupun perpindahan materinya.

Penting pula diketahui, bahwa pada saat bintang-bintang di dalam sistem galaksi Bima sakti telah banyak yang mengalami Supernova, maka pada berbagai saat, dari Bumi juga akan bisa terlihat langit yang seolah-olah terbelah, terpecah atau terbakar oleh ledakan hebat, serta relatif penuh dengan kabut dan debu.

"Dan (ingatlah) hari (Kiamat, ketika) langit pecah-belah mengeluarkan kabut, dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang." − (QS.25:25) dan (QS.73:18).

"Maka apabila (di Hari Kiamat) langit telah terbelah, dan menjadi merah mawar seperti (kilapan lampu) minyak." − (QS.55:37) dan (QS.77:9, QS.82:1, QS.84:1).

"dan terbelahlah langit, karena pada hari (Kiamat) itu langit menjadi lemah." − (QS.69:16).

"dan apabila (di Hari Kiamat) bintang-bintang telah berjatuhan," − (QS.81:2) dan (QS.82:2).

10.

Jaman 'black hole'           ('kematian' benda langit)

»

Sejalan dengan makin berkurang pancaran ataupun perpindahan materi, dari suatu benda langit ke benda langit lainnya, maka semua benda langit makin tidak bersinar lagi. Sampai akhirnya makin banyak yang berubah menjadi 'black hole' ataupun 'bintang neutron'. Juga semua benda langit makin tidak lagi mengalami perubahan bentuk, massa dan ukurannya.

Hal ini benar-benar makin membentuk keseimbangan medan gravitasi dan medan magnet untuk yang terakhir kalinya, ke arah yang paling stabil. Dan sekaligus pula menandai akhir dari perluasan atau ekspansi keseluruhan alam semesta 'teramati'.

Pada jaman inilah segala benda langit telah memiliki pola pergerakan yang paling stabil. Hampir seluruh "energi awal alam semesta" telah berubah menjadi energi kinetik, energi medan gravitasi dan medan magnet pada seluruh benda langit, yang juga telah paling stabil.
Kalaupun masih ada energi panas, hal ini hanya terjadi dalam perut benda-benda langit di sekitar bagian inti-pusatnya, serta telah berupa sesuatu siklus yang berulang-ulang relatif tanpa akhir (siklus tekanan, temperatur dan aliran perputaran materi dalam perut benda langit).

"(Yaitu) pada hari (Kiamat) Kami menggulung langit sebagai (seperti) menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama (alam semesta), begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya." − (QS.21:104).

"Apabila (di Hari Kiamat) matahari telah digulung," − (QS.81:1).

11.

Jaman kegelapan            ('kematian' alam semesta)

»

Pada jaman ini siklus tekanan, temperatur dan aliran perputaran materi dalam perut benda-benda langit telah relatif berhenti, karena telah makin mendinginnya keseluruhan alam semesta, atau isi perut benda-benda langit telah membeku seluruhnya, walau relatif tetap cukup hangat.
Sedangkan di bagian permukaan benda-benda langit, seluruhnya telah relatif dingin membeku pada tingkat temperatur yang paling minimal (walau temperaturnya masih tetap di atas suhu nol mutlak sebenarnya).

"Energi awal alam semesta" yang awalnya seluruhnya berupa energi panas, relatif telah berubah sepenuhnya menjadi energi kinetik, energi medan gravitasi dan medan magnet pada seluruh benda langit.
Seluruh alam semesta juga telah berakhir, pada keadaan yang amat sangat gelap, dingin dan sekaligus 'berjalan' dengan amat sangat stabil.

Hal yang amat penting lainnya, kehidupan 'lahiriah-fisik-duniawi' pada segala zat makhluk-Nya (nyata dan gaib), telah benar-benar berakhir. Dan seluruhnya hidup di alam arwah atau alam ruh yang bersifat kekal dan gaib, sesuai tugas-amanatnya yang telah diberikan-Nya dan sekaligus sesuai amal-perbuatannya masing-masing.

"dan apabila (di Hari Kiamat) langit telah dilenyapkan," − (QS.81:11).

"Maka apabila (di Hari Kiamat) bintang-bintang telah dihapuskan," − (QS.77:8).

"dan apabila (di Hari Kiamat) bulan telah hilang cahayanya," dan "dan matahari dan bulan dikumpulkan (sama-sama berada dalam kegelapan)," – (QS.75:8-9).

12.

Jaman kehancuran         ("jika dikehendaki-Nya")

»

Sekali lagi "jika dikehendaki-Nya", Allah Yang Maha kuasa bisa pula menghancurkan atau memusnahkan seluruh alam semesta dan segala isinya ini (termasuk segala zat ruh makhluk-Nya). Namun di dalam kitab suci Al-Qur'an telah dijanjikan-Nya, bahwa segala zat ruh makhluk-Nya akan hidup kekal di alam akhiratnya masing-masing (alam batiniah ruh atau alam pikirannya).
Maka seluruh alam semesta dan segala zat ruh makhluk-Nya di dalamnya pada dasarnya justru tidak dihancurkan-Nya. Hal yang dihancurkan-Nya hanya segala kehidupan 'lahiriah-fisik-duniawi' dari segala zat makhluk-Nya.

Dan tentunya hal ini bisa terjadi, karena tiap zat ruh memang hanya memerlukan energi yang amat sangat sedikit saja. Sehingga segala zat ruh tetap bisa hidup dalam keadaan tingkat energi yang paling minimal sekalipun di alam semesta.

"Kami tidak menjadikan hidup (di dunia akan dapat) abadi, bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?." − (QS.21:34).

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu, dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." − (QS.21:35) dan (QS.29:57).

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya, pada Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanya kesenangan yang memperdayakan." − (QS.3:185).

"Pada hari (Kiamat) ini tiap-tiap jiwa diberi balasan, dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya." − (QS.40:17) dan (QS.39:70, QS.82:5, QS.81:14).

 

"Dan orang-orang yang beriman, serta beramal shaleh, mereka itu penghuni surga, dan mereka kekal (tinggal) di dalamnya." − (QS.2:82) dan (QS.2:25, QS.3:15, QS.3:107, QS.3:136, …)

"dan sesungguhnya, kamu (Adam) tidak akan merasa dahaga, dan tidak (pula) akan ditimpa panas (teriknya sinar) matahari di dalamnya (Surga)'." − (QS.20:119) dan (QS.76:13).

 

Wallahu a'lam bishawwab. Hanya kepada Allah Yang Maha mengetahui dan Maha menentukan, tempat segala sesuatu urusan dikembalikan.

Catatan atas tahapan proses penciptaan

Teori 'Big Light' adalah kelanjutan ataupun hasil usaha pengembangan lebih detail pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", atas konsep kosmologi Islam yang disebut dalam kitab suci Al-Qur'an. Terutama karena tahapan proses penciptaan alam semesta dalam kitab suci Al-Qur'an, memang tidak disebut secara relatif lengkap, mengalir, runut atau terurut seperti di atas.

Pengembangan ini dilakukan dengan konsisten mengikuti hukum-hukum alam (sunatullah pada aspek lahiriah), yang telah dikenal oleh umat manusia dan telah terbukti cukup lama. Dan sama sekali tidak memakai berbagai teori ataupun konsep, yang justru belum terbukti dan masih amat misterius, seperti halnya pada berbagai teori tentang 'Big Bang', antara-lain: 'energi gelap', 'materi gelap', 'materi yang hilang', 'inflasi', 'energi vakum', dsb.

Penting diketahui, bahwa semua tahapan proses penciptaan di atas hanya ditinjau secara umum, atau ditinjau dari suatu kelompok benda langit tertentu, misalnya atas sistem galaksi Bima sakti ataupun sistem Tata surya tempat manusia berada.
Sedangkan pada sistem galaksi ataupun sistem bintang lainnya, justru bisa mengalami proses yang lebih cepat ataupun lebih lambat, daripada sistem galaksi Bima sakti ataupun sistem Tata surya.

Misalnya saat sekarang ini, ada sistem-sistem galaksi yang baru mengalami proses-proses awal pembentukannya, dan ada pula sistem-sistem galaksi yang sedang mengalami proses-proses akhir menuju 'kematiannya'.

Juga semua tahapan proses penciptaan pada dasarnya tidak terkotak-kotak atau terpisah-pisah dengan tegas, mengikuti urutan di atas, namun hampir semua tahapan prosesnya justru saling bersinggungan ataupun saling terkait. Sehingga suatu tahapan proses tertentu bisa berawal pada tahapan sebelumnya, ataupun bisa berakhir pada tahapan berikutnya.
Dan pentahapan ini hanya untuk menunjukkan fokus paling utama kejadiannya, serta kebanyakan uraiannya masih ditinjau dengan sudut pandang dari Bumi.

Dan tiap umat Islam tentunya juga bisa memiliki teorinya masing-masing, tentang urutan penciptaan alam semesta ini, termasuk tentang penempatan yang paling tepat bagi ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an yang terkait. Usaha pengungkapan atas teori 'Big Light' dan urutan penciptaan di atas, diharapkan bisa memancing para alim-ulama dan para ilmuwan Muslim, untuk bisa menemukan penjelasan yang makin baik lagi, tentang penciptaan alam semesta ini. Hal ini amat diperlukan, terutama karena keterangan terkait dalam ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an memang amat ringkas, serta amat kurang jelas mengungkap urutan proses kejadiannya.

Termasuk agar umat Islam juga tidak terombang-ambing dan hanya mengikuti saja teori atau konsep yang berkembang luas di kalangan negara-negara barat, yang memang relatif lebih maju perkembangan ilmu-pengetahuannya (seperti berbondong-bondong ikut membenarkan teori 'Big Bang'), padahal tanpa memiliki pemahaman yang relatif lengkap dan mendalam, serta bahkan belum tentu sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam.

Urutan penciptaan alam semesta ini menurut teori 'Big Bang'

Sejak awal dikemukakan oleh seorang ilmuwan dan pendeta berkebangsaan Belgia, yang bernama Georges Lemaitre sekitar tahun 1927, sampai saat ini, pada dasarnya teori 'Big Bang' telah mengalami berbagai perubahan dan perbaikan. Maka urutan penciptaan alam semesta ini di bawah hanya salah-satu dari konsep yang berkembang, terutama yang telah dikemukakan oleh NASA (Lembaga Penerbangan dan Antariksa AS) melalui "History of the Universe", yang dikutip kembali dan sekaligus diterjemahkan pada tabel berikut.

Proses penciptaan alam semesta menurut teori 'Big Bang'
("ledakan atau dentuman besar")

Keadaan sebelum penciptaan

Belum terjawab cukup jelas tentang keadaan 'sebelum' dan 'saat paling awal' penciptaan alam semesta (detik-detik pertamanya), atau belum ada konsensus antar para penganut teori 'Big Bang' atas hal ini. Terutama karena ada yang menganggap umur alam semesta 'berhingga' (fana) dan ada pula yang menganggap 'tak-berhingga' (kekal).

Tentunya bagi para penganut teori 'Big Bang' yang menganggap umur alam semesta 'tak-berhingga' (kekal), maka keadaan sebelum 'Big Bang' dianggap hanya keadaan akhir dari kejadian 'Big Bang' sebelumnya. Dan 'Big Bang' dianggap sebagai siklus yang terjadi terus-menerus, atau alam semesta dianggap tanpa awal dan tanpa akhir.

Namun dalam perkembangannya saat ini, kebanyakan para kosmolog penganut teori 'Big Bang' justru menganggap umur alam semesta 'berhingga' (fana).

Tahapan proses penciptaan

(Poin 2 s/d 15 di bawah ini, dirangkum dari "History of the Universe". Sedangkan poin 1 ditambahkan oleh penulis, agar bisa menggambarkan bentuk yang paling awalnya).

1.

Kejadian 'Big Bang'

»

'Ledakan' yang amat sangat hebat (lebih tepatnya proses percepatan pengembangan alam semesta secara amat cepat, tiba-tiba dan eksponensial), atas suatu bola yang amat sangat besar, panas dan padat, yang meliputi segala materi penyusun keseluruhan alam semesta.

2.

Kejadian 1 x 10-36 detik setelah 'Big Bang'.

»

Alam semesta dimulai dari amat banyak jumlah ledakan, yang mengekspansi ruang dan waktu, dan dihasilkan segala materi dan energi di alam semesta.
Hal tepatnya yang telah memicu ekspansi amat cepat ini, masih misterius. Para astronom meyakininya sebagai peranan proses 'inflasi' (pemompaan), oleh suatu jenis energi khusus yang bisa berada di dalam ruang vakum ('energi vakum'), yang termobilisasi amat cepat. Inflasi meluas hanya bisa berakhir, setelah energi itu telah berubah menjadi segala jenis materi dan energi yang biasa dikenal saat ini.

3.

Keadaan tingkat energi amat tinggi, kejadian 1 detik setelah 'Big Bang'.

»

Setelah inflasi berakhir, dalam seper sekian detik pertama alam semesta terus meluas, namun kurang begitu cepat lagi. Karena sambil mendinginnya alam semesta, gaya-gaya paling dasar di alam mulai muncul: pertama gravitasi, lalu gaya kuat, yang saling mengikat inti-pusat atom-atom, diikuti oleh gaya lemah dan gaya elektromagnetik.
Dalam detik pertama keberadaannya alam semesta tersusun dari partikel-partikel dasar, termasuk quark, elektron, photon dan neutrino. Proton dan neutron lalu mulai terbentuk.

4.

Pembentukan elemen-elemen dasar, kejadian 3 menit setelah 'Big Bang'.

»

Dalam beberapa menit berikutnya, alam semesta mulai terbentuk. Dengan jumlahnya yang tak-terhitung, proton dan neutron bersama-sama membentuk inti-pusat dari elemen-elemen sederhana. Di mana alam semesta yang sebagian besarnya masih tersusun dari elemen-elemen ini – Hidrogen dan Helium − juga dianggap sebagai bukti amat kuat atas validasi model 'Big Bang'.

5.

Pendinginan alam semesta, kejadian 5 x 105 tahun setelah 'Big Bang'.

»

Untuk 300,000 s/d 500,000 tahun berikutnya ataupun lebih, alam semesta masih berupa suatu kabut besar dari gas panas yang sedang berekspansi. Ketika kabut gas ini telah mendingin sampai pada tingkat suhu kritis tertentu, elektron-elektron bisa bergabung dengan inti-pusat Hidrogen dan Helium. Photon-photon juga tidak begitu berserakan lagi, tetapi masih amat mudah keluar dari atom-atom.
Photon-photon yang teremisi masih terlihat pada saat itu, tetapi waktu dan ruang telah mengubahnya ke panjang gelombang mikro. Saat ini, radiasi gelombang mikro latar kosmik itu memberi pandangan bagi para astronom ke masa awal alam semesta.

6.

Kelahiran bintang dan galaksi, kejadian 1 x 109 tahun setelah 'Big Bang'.

»

Sambil berjalannya waktu, gaya tarikan gravitasi mulai berperan pada saat awal alam semesta. Hal ini berakibat pada ketidak-teraturan kerapatan gas purba. Bahkan walau keseluruhan alam semesta terus berekspansi, kantung-kantung gas terus makin padat atau tebal. Bintang-bintang berawal dari kantung-kantung gas ini.
Kelompok-kelompok bintang lalu membentuk galaksi-galaksi paling awal. Teleskop modern bisa mendeteksi galaksi-galaksi purba ini, sebagaimana kemunculannya saat alam semesta masih berumur hanya semilyar tahun, atau hanya 7% dari umurnya saat sekarang ini.

7.

Jaman quasar, kejadian 3 x 109 tahun setelah 'Big Bang'.

»

Dari 1 s/d 3 milyar tahun setelah 'Big Bang', banyak galaksi kecil yang menyatu menjadi galaksi yang lebih besar, membentuk kumpulan bintang yang menyerupai spiral dan bulatan (dikenal sebagai galaksi eliptis). Seringkali penyatuan itu amat hebat, dimana bintang-bintang dan gas termampatkan ke suatu pusat bersama, serta menjadikannya begitu padat dan membentuk 'black hole' raksasa.
Gas yang mengalir ke dalam 'black hole' ini menjadi amat panas untuk bisa bersinar dengan terang, sebelum sinarnya menghilang. Sinar dari 'quasar−quasar' ini bisa terlihat di sepanjang kedalaman alam semesta.

8.

Awal terjadinya Supernova, kejadian 6 x 109 tahun setelah 'Big Bang'.

»

Dalam galaksi-galaksi, bersama dengan kelahiran bintang-bintangnya, juga ada bintang-bintang lainnya yang berakhir, yang seringnya melalui ledakan amat besar. Ledakan-ledakan seperti ini disebut 'supernova', yang penting bagi evolusi galaksi-galaksi, karena bisa menyebarkan semua elemen umum ke ruang antariksa, seperti: Oksigen, Karbon, Nitrogen, Kalsium dan Besi. Khususnya ledakan-ledakan pada bintang-bintang besar, juga membentuk dan menyebarkan elemen elemen yang lebih berat, seperti: Emas, Perak, Timah dan Uranium.
Supernova yang digambarkan di samping adalah supernova yang bertipe kecil, yang dimanfaatkan oleh para astronom untuk menentukan jarak. Supernova ini bisa tampak pada saat sekarang, sebagaimana terlihat pada saat alam semesta masih berumur sekitar 5 milyar tahun.

9.

Kelahiran Matahari, kejadian 5 x 109 tahun sebelum saat ini.

»

Matahari terbentuk dalam suatu kabut gas pada lengan spiralnya galaksi 'Bima sakti'. Suatu piringan yang penuh dengan gas dan debu, yang menyelimuti bintang baru ini, termampatkan menjadi berbagai planet, bulan dan asteroid.
Pada gambar di samping dari Teleskop Hubble, ditunjukkan suatu bintang yang sedang terlahir. Pancaran radiasi yang amat kuat yang keluar dari kutub-kutubnya, menerangi lingkungan di sekitarnya.

10.

Tabrakan antar galaksi, kejadian 3 x 109 tahun ke depan.

»

Para astronom memperkirakan, bahwa dalam waktu sekitar 3 milyar tahun lagi, galaksi 'Bima sakti' akan tertelan oleh salah-satu dari tetangga terdekatnya, yaitu galaksi besar bernama Andromeda, yang berjarak 2.2 juta tahun cahaya. Tergantung prosesnya, kedua galaksi ini bisa menyatu menjadi suatu galaksi yang amat besar, atau tetap terpisah, yang bisa menjadikan jutaan bintang seperti Matahari terlempar ke dalam ruang antariksa. Suatu tabrakan besar yang meliputi 4 galaksi, yang berjarak 300 juta tahun cahaya, digambarkan di samping.

11.

Galaksi lenyap, kejadian 1 x 1011 tahun ke depan.

»

Jika benar hasil pengamatan masa kini tentang percepatan kosmik, lalu "energi vakum" yang muncul di alam semesta akan terus melampaui gaya tarik gravitasi dari materi. Hal ini berarti, bahwa di masa depan, gravitasi yang mengikat sekumpulan galaksi akan bertahan, tetapi galaksi-galaksi secara umum akan melayang terpisah jauh makin cepat. Segera pula para tetangga terdekat yang tidak saling terikat gravitasinya, akan menjauh sampai tak-terlihat lagi, bahkan dengan teleskop besar. Tetapi kejadian ini terlalu jauh ke masa depan, dimana masih akan cukup lama waktu sejak meledaknya Matahari, dan sekaligus pula berakhirnya Bumi.

12.

Jaman bntang berakhir, kejadian 1 x 1012 tahun ke depan.

»

Selama jaman ini, yang terjadi antara 100 milyar tahun sampai satu triliun tahun setelah 'Big Bang' (dan termasuk pula jaman saat ini), sebagian besar energi yang ada di alam semesta akan berbentuk pembakaran gas hidrogen, ataupun elemen-elemen lainnya dalam inti-pusat bintang-bintang. Periode panjang ini akan memulai suatu langkah yang lebih panjang lagi, untuk menuju kematian alam semesta.

13.

Jaman degenerasi, kejadian 1 x 1037 tahun ke depan.

»

Jaman ini berada pada 10 triliun triliun tahun setelah 'Big Bang'. Sebagian besar materi yang terlihat saat ini di alam semesta, akan terkumpul pada bintang-bintang, yang meleleh dan runtuh menjadi berbagai 'black hole' dan 'bintang netron', atau ia akan tetap berupa berbagai bintang kecil berwarna coklat dan planet, yang tidak pernah bisa memicu reaksi fusi nuklir, atau berupa berbagai bintang yang melemah menjadi bintang kecil berwarna putih. Dengan bintang-bintang yang tidak lagi aktif menyala atau meledak, energi pada jaman ini timbul dari peluruhan proton dan kehancuran partikel.

14.

Jaman 'black hole', kejadian 1 x 10100 tahun ke depan.

»

Jaman ini menjangkau sampai 10 ribu triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun tahun setelah 'Big Bang'. Setelah jaman peluruhan proton, benda langit yang tersisa yang menyerupai bintang hanya 'black hole', dengan amat bervariasi beratnya. Energinyapun tetap terus-menerus teruapi (terevaporasi).

15.

Jaman kegelapan, kejadian lebih dari 1 x 10100 tahun ke depan.

»

Pada tingkat terakhir ini, proton-proton telah habis meluruh, dan 'black hole-black hole' telah sempurna teruapi (terevaporasi). Hasil-hasil proses berikutnya yang masih tersisa: kebanyakan hanya berupa neutrino, elektron, positron dan photon dalam berbagai panjang gelombangnya. Untuk segala maksud dan fungsinya, alam semesta yang dikenal saat ini akan mendekati masa akhirnya.

Catatan atas tahapan proses penciptaan

Gambar-gambar di atas kebanyakan hanya contoh 'rekaan', dari hasil simulasi model matematis. Serta hanya sebagian kecilnya yang berupa gambar fakta-kenyataan yang sebenarnya. Namun fakta inipun hanya memberi analogi sederhana bagi kejadian yang lebih luas dan umum (kejadian penciptaan alam semesta). Begitu pula halnya dengan angka-angka tahunnya, dari hasil simulasi model matematis.

Sehingga gambar dan angka itu bukan merupakan bukti-bukti atas kebenaran tentang 'Big Bang' dan keseluruhan teori yang mendasarinya. Walau sebagian dari teori tentang 'Big Bang' dan tahapan prosesnya, ada pula yang relatif sesuai dengan teori 'Big Light'.

Penting diketahui dan di luar dugaan di sini, ternyata semua tahapan proses penciptaaan di atas relatif amat berbeda daripada konsep awal teori 'Big Bang', dari salah-satu penggagas pertamanya, yang bernama Georges Lemaitre (pendeta katolik dari Belgia), yang menyatakan seperti "asal usul alam semesta dimulai dari ledakan atas suatu 'atom purba' yang super besar, padat dan panas. Lalu alam semesta mengembang sampai pada suatu saat tertentu dimana proses pengembangannya berhenti. Lalu alam semesta kembali mengerut sampai pada suatu saat tertentu dimana seluruh massa penyusun alam semesta kembali menjadi suatu 'atom purba', serupa bentuk awalnya semula. Dan tentunya siklus 'Big Bang' bisa terjadi berulang-ulang tanpa akhir (kekal)".

Hal ini cukup menunjukkan, bahwa teori 'Big Bang' telah mengalami berbagai perbaikan dan penyesuaian, dari sejak awal dikemukakannya sampai saat ini. Namun begitu justru tetap masih banyak persoalan yang belum bisa terjawab tuntas melalui teori 'Big Bang', beserta model alam semestanya.

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang perbandingan antara teori 'Big Bang' dan teori 'Big Light', di samping dari topik-topik terkait lainnya dalam buku ini.

Wallahu a'lam bishawwab.

Artikel / buku terkait:

Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

Tentang Syarif Muharim

Alumni Teknik Mesin (KBK Teknik Penerbangan) - ITB - angkatan 1987 Blog: "islamagamauniversal.wordpress.com"
Pos ini dipublikasikan di Hikmah, Saduran buku dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

15 Balasan ke Teori ‘Big Light’ vs teori ‘Big Bang’ (2): Urutan penciptaan alam semesta

  1. Judhianto berkata:

    Saya mau nyumbang artikel yang mungkin berhubungan:
    Adam, Sebuah Cerita Manusia

    • syarifmuharim berkata:

      Trims p’ Judhi,
      Sy coba pelajari dulu, mudah-mudahan bisa melengkapi topik serupa pada buku “Menggapai”, tentang penciptaan manusia pertama pada bab Makhluk nyata.

  2. Jack berkata:

    numpang tanya kang
    apakah waktu berbanding lurus dengan ruang?

    • syarifmuharim berkata:

      Dimensi waktu dan ruang merpkan dimensi yg berbeda dan tdk saling terkait langsung, serupa dgn hubungan antara koordinat X, Y dan Z . Kedua dimensi memang sama-sama dipakai utk menunjukkan posisi keberadaaan suatu zat.
      Jika waktu berupa posisi thd suatu saat tertentu, maka ruang berupa posisi thd suatu koordinat tertentu, pada suatu saat tertentu.
      Bisa dikatakan waktu adalah dimensi ke-4, setelah X, Y dan Z, utk menunjukkan posisi keberadaaan suatu zat di alam semesta.
      Jika pertanyaan yg dimaksud, seperti “apakah ruang tempat alam semesta berada berkembang dgn berjalannya waktu?”.
      Amat sulit dinalar, jika ruang tempat alam semesta berada justru ikut berkembang, bersama dgn ekspansi alam semesta Mestinya atau jauh lebih mudah dinalar, jika dipisahkan antara ‘isi’ dan ‘wadahnya’.
      Ruang tempat alam semesta berada justru tak-terbatas, dan tidak memerlukan dimensi ruang sama-sekali. Serta alam semesta hanya mengisi sebagian amat sedikit darinya.
      Baca pula “jawab persoalan fisika”.

  3. ngawur berkata:

    Alquran…ngawur……

    Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui, bahwasanya “LANGIT” dan “BUMI” itu keduanya dulu adalah suatu yang padu, kemudian KAMI PISAHKAN antara KEDUANYA .(QS.21:30)
    LANGIT jelas adalah menyebutkan dimensional RUANG. sementara BUMI sudah pasti untuk menyebutkan dimensional MASSA (materi).

    jika bumi (materi) dipisahkan dengan langit (ruang), bagaimana mungkin bumi (materi) dapat eksis?

    ini logika yang sangat sederhana loh……?!

    lantas kalau alquran mengklaim langit (ruang) dan bumi (materi) telah dipisahkan…..lalu sekarang ini bumi (materi) menempati apa, apa kalau memang bukan langit (ruang)?…………DISINILAH LETAK KESALAHAN ALQURAN……….!!
    sejak terbentuk sampai sekarangpun…bumi (materi) masih menempati langit (ruang)……..kalo sampai mereka berpisah sedetikpun…kiamatlah dunia….!

    • Syarif Muharim berkata:

      Maaf sdra/i Ngawur, stlah cukup lama saya cari2 di kamus bisa disimpulkan, bhwa argumen2 anda di atas juga cukup ngawur, tdk pernah saya dengar sebelumnya dan juga menyalahi pendapat masyrkat umum.

      Misalnya definisi/arti kata “langit” dari kamus adalah “ruang luas yg terbentang di atas bumi, tempat beradanya bulan, bintang, matahari dan planet2 yg lain”.
      Shg Bumi dan ruang tempatnya berada justru bukan termasuk langit. Kecuali tentunya jika posisi acuannya bukan BUMI (misalnya Bulan dan planet2 lain), atau definisi kata “langit” tgt dimana posisi acuan manusianya sdg berada / berpijak.

      Jika anda sdg berdiri/berpijak di Bumi, apakah anda sdg berada di langit?. Anak kecilpun pasti menjawab “TIDAK/BUKAN”.

      Juga saya baru dengar dari anda, bhwa “LANGIT adalah dimensional RUANG” dan “BUMI adalah dimensional MASSA (materi)”.
      Krn hal2 yg saya tahu, “LANGIT adalah definisi RUANG, bukan dimensional ataupun dimensi RUANG”; “dimensi ruang hanya X, Y dan Z, serta tdk ada langit”; “BUMI adalah MASSA (materi), bukan dimensional ataupun dimensi MASSA (materi)”; dan “tdk ada dimensional ataupun dimensi MASSA (materi)”.

      Cukup jelas bagi umat Islam, bhwa sebutan bersamaan “BUMI dan LANGIT” justru mrpkan sebutan lain bagi “ALAM SEMESTA”. Serta “LANGIT” mrpkan “RUANG di atas BUMI, beserta sgla benda langit di dalamnya”. Hal ini persis sesuai dgn definisi/arti kata “langit” dari kamus di atas.

      Bahkan juga PEMISAHAN antara RUANG dan MASSA (materi) yg anda lakukan, justru amat rancu, krn RUANG adalah properti atau sifat dari MASSA (materi) itu sendiri, shg keduanya mrpkan satu-kesatuan.
      Dlm bhsa yg lebih sdrhna, “RUANG adalah tempat MASSA (materi) berada” atau “RUANG adalah definisi bagi tempat sekumpulan MASSA (materi) tertentu berada”.

      Juga tdk ada RUANG yg benar2 kosong (vakum) di alam semesta ini, krn pasti ada MASSA (materi) di dalamnya. Bahkan ruang antariksa (ruang ‘kosong / vakum’ di antara benda2 langit), telah diketahui oleh para ilmuwan modern saat ini, mmg terisi pula oleh partikel2 ataupun molekul2 gas.

      Maaf, harap anda bisa lebih teliti dan ilmiah, jika hendak membantah sesuatu hal, apalg terhadap kebenaran2 dalam ayat2 kitab suci Al-Qur’an.

      • agus berkata:

        sejauh yg saya yakini adalah segala sesuatu yang ada di alam semesta maha luas ini adalah MATERI, dan segala sesuatu diciptakan ALLAH secara berpasang-pasangan, maka pasangan dari MATERI itu adalah INMATERI, dimana keberadaannya ??? itu yg jadi misteri…..mungkin Big LIght akan mampu menjawab hal ini suatu saat….
        ttg langit, jelas itu adalah materi, bumi apalagi, mungkin kuncinya ada di kejadian saat ALLAH menampakkan diri pada Musa as, kemudian gunung tersebut hancur lenyap seketika ! karena jika inmateri mendekati materi di alam materi maka semuanya akan lenyap. Sebaliknya jika kita sebagai materi mendekati inmateri, dalam hal ini ALLAH, di dunia materi, hasilny berbeda- beda…..mungkinkah ini salah satu alasan kenapa kita, materi, ada ???

        • Syarif Muharim berkata:

          Maaf, dari membaca pernyataan2nya, seolah2 agak rancu antara pemakaian istilah INMATERI dan ANTI-MATERI. Okelah saya pakai saja apa adanya istilah INMATERI, yg juga disebut IMMATERI / NON-MATERI / BUKAN MATERI / GHAIB.

          Lebih tepatnya, bukan “segala sesuatu yang ‘ADA’ di alam semesta”, tapi “segala sesuatu yang ‘TERLIHAT’ di alam semesta”, krn selain MATERI, juga ada RUH, ENERGI dan SUNATULLAH (HUKUM ALAM) misalnya, yg tdk terlihat.

          Menurut saya, pasangan dari MATERI tepatnya bukan INMATERI, tapi RUH.
          Sdrhnanya MATERI bersifat nyata dan mati, sedangkan RUH bersifat ghaib dan hidup. RUH adalah elemen yg plg dasar penyusun kehidupan makhluk. Para malaikat misalnya adalah makhluk yg hanya berupa RUH.
          Sdgkan INMATERI / GHAIB itu sendiri amat luas cakupannya, dan bukan hanya berupa RUH.
          Pd teori Big Light cukup byk dibahas ttg RUH, ENERGI dan SUNATULLAH (HUKUM ALAM) misalnya, yg bisa dibaca pd “Model alam semesta” (https://islamagamauniversal.wordpress.com/2011/11/09/big-light-vs-big-bang-3/).

          Ohh… dianalogikan dgn kisah Musa as dan hancurnya gunung Thursina?. Serta diasumsikan, bhwa MATERI dan INMATERI akan slg menghancurkan jika slg bertemu.
          Wahh…. maaf, analogi dan asumsinya amat keliru. Asumsi ini berasal dari mana?.

          KALAU INMATERI / GHAIB diasumsikan bisa menghancurkan MATERI, maka mestinya:
          – Ruh tiap manusia yg INMATERI, mestinya bisa menghancurkan tubuh manusianya.
          – Allah yg INMATERI, mestinya bukan hanya bisa menghancurkan gunung Thursina, tapi justru bisa menghancurkan keseluruhan alam semesta ini.
          – Ruh makhluk yg INMATERI, ada dimana-mana di alam semesta ini, mestinya juga ada kehancuran dimana-mana.

          Serta lebih tepatnya, bukan INMATERI yg bisa slg menghancurkan jika bertemu dgn MATERI, tetapi ANTI-MATERI. INMATERI berbeda dari ANTI-MATERI.
          ANTI-MATERI tak lain hanya semata berupa MATERI, yg bersifat transisional dan relatif amat sesaat/sementara. Serta ANTI-MATERI hanya ada pd keadaan2 yg amat ekstrim (tingkat energi yg amat tinggi), sprti pd reaksi2 fusi nuklir di permukaan Matahari dan bintang2 lainnya.
          Jika ANTI-MATERI bertemu dgn MATERI, maka keduanya akan hancur menjadi ENERGI dan MATERI yg berukuran lebih kecil.

          Jika RUH (INMATERI) mendekati MATERI, maka terjadilah kehidupan, bukannya lenyap. Hal ini sering disebut “ditiupkan-Nya RUH kpd tubuh mati (zat2 organik misalnya), utk menghidupkan / menciptakan sel”.

  4. Dadang berkata:

    Langit dan bumi berpisah atau menyatu?………..Jika kata langit ditapsirkan sebagai surga, mungkin bisa diterima oleh akal kali ya?….cos jaman dulu, dalam bahasa manusia diseluruh dunia, jika berbicara letak posisi surga pasti yang ditunjuk adalah ke arah langit. Tapi kalo kata langit ditapsirkan sebagai, angkasa luar…kayaknya “pendapat yang menyebutkan langit dan bumi dipisahkan” cukup lucu juga ya? mengingat bumi kita sampai saat inipun berada didalam langit (ketika dilihat dari angkasa luar) dan bumi sendiri adalah salahsatu benda penghuni langit. Jadi menurutku….penafsiran ayat alqur’an yang menyebutkan langit dan bumi dipisahkan itu harusnya ditinjau kembali…kalau menurutku tafsiran yang tepat adalah “surga dan bumi” yang dipisahkan, bukan “langit dan bumi”.

    • Syarif Muharim berkata:

      Dlm agama Islam, langit dan surga dianggap berbeda (diungkap dgn istilah2 yg berbeda, msg2 “samaawati” dan “jannah”). Shg dlm agama Islam, definisi langitnya sama dgn dlm kamus2 pd umumnya, “wilayah di luar Bumi ataupun di luar tempat manusia berpijak”.
      Istilah yg melingkupi ‘seluruhnya’ sdh ada “alam semesta”, bukan “langit”.

      Kalau “surga” dianggap sama dgn “langit”, malah tdk sesuai dgn akal sehat, krn pd Bulan, planet2, bintang2, galaksi2, dan benda2 langit lainnya di atas sana, justru sama sekali belum pernah terbukti adanya kehidupan seperti di surga.

      Tafsiran yg menyamakan “surga” dan “langit”, hanya muncul dari penafsiran lainnya, misalnya atas “Adam as diturunkan-Nya dari surga”. Padahal tdk ada disebut langsung dlm Al-Qur’an bhwa “Adam as diturunkan-Nya dari Surga ke Bumi” dan “surga sama dgn langit”. Keduanya blm saya temukan dalil2nya.

  5. Akung Ibnu berkata:

    Silakan baca Bigbang versi Teori Minimalis yang sangat sesuai dengan teori penciptaan.

  6. Akung Ibnu berkata:

    Saya tertarik dengan Teori Biglight. Sebelum saya mempelajari Teori Biglight, saya ingin tahu penjelasan Bigbang Versi Materialistik Science (MS) yang menyadikan manusia terjebak dalam materialistik, hingga menganggap isi Alam Semesta hanya materi hingga berujung pada atheisme. Menurut saya mereka sulit diyakinan lewat SR. tentang adanya penciptaan, namun maisih mungkin lewat akal budi, bukan lewat iman.
    Sebenarnya saya ingin bertanya kepada yang menulis menepis teori Bigbang, sayangnya diblog.sehingga saya tak mungkin mengikuti polemik mengenai menepis teori Bigbang.
    Maafkan saya terpaksa mempertanyakan berihal Alam Semesta kepada anda, semoga anda bersedia menjawab sesuai dengan keyakinan anda.
    Inilah sekelumit pertanyaan yang dapat saya jawab berdasar Teori Minimalis yang targetnya mereka yang atheis agar dapat menjadi menerima keberadaan dan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa hasil akal budi manusia, bukan Tuhan Yang Maha Kuasa yang berdasar keseimbangan fikiran dan keyakinan (dogma), Saya ingin membandingkan jawaban anda dengan jawaban saya.
    1.Kapan terjadinya (mulai ada) gelombang latar belakang kosmis, sesudah atau sebelum Bigbang?Jawaban saya : Sebelum Bigbang saat lahirnya di Sub Alam Transien dan terus terjadi hingga saat ini,
    2.Apakah eter itu ada di Alam Semesta? Apakah eter itu? Jawaban saya Eter itu terdapat disegenap penjuru Alam Semesta. Eter adalah di pole magnet yang kedua kutubnya beda besarnya. E#0, x#0, y#0 pada FSM E = -x + y
    3.Apakah soul itu? Apa bedanya dengan spirit? Jawaban saya: Soul adalah bagian dari Non Energi,sehingga tak memenuhi FSM E= – x + y. Soul sanggup keluar masuk Alam Semesta tanpa mengganggu jumlah energi di Alam Semesta.
    Spirit adalah interaksi vitalistik antara astral body( yang tak memiliki massa) dengan soul, Spirit tak dapat meninggalkan alam semesta karena memiliki unsur energi, namun Spirit sanggup melanglang ke segenap penjuru Alam Semesta karena tidak memiliki massa. .
    4.Kapan dimulai dimensi waktu , sesudah atau sebelum Bigbang? Jawaban saya: Sebelum Bigbang saat Alam Abadi dipisahkan dengan calon Alam Semesta dimulai dengan t=0 semu (permulaan terjadinya Alam Semu), awal terjadinya Alam Semu (Supernatural)., Saat Bigbang dimulai t=0 fisik awal lahirnya Sub Alam Fisika.
    5.Mengapa Alam Semesta mengembang? Jika alam semesta mengembang apakah tidak mendesak lingkungannya (Alam Abadi) sehingga tidak menjadi abadi lagi? Jawaban saya: Yang mengembang bukan Alam Semesta melainkan Sub Alam Fisika, Pengembangan Sub Alam Fisika tidak akan mendesak Alam Abadi menjadi tidak abadi, melainkan mengisi alam semu
    6..Bagaimana terjadinya gravitasi? Jawaban saya: gravitasi terjadi akibat terjadinya graviton yang menghasilkan tekanan negatif karena peruban quantum menjadi eteric. Graviton adalah pertemuan dua ECW (Elementer Clear Wave) dari benda berkepadatan massanya sangat tinggi (misalnya blackhole, matahari, planit) dengan benda-benda disekitarnya.
    7.Mengapa kecepatan cahaya = kecepatan photon? Jawaban saya: Menurut teori fisika cahaya cahaya adalah gelombang elecrto magnet (yang tidak bermassa) dan aliran photon yang mermassa sangat kecil (mendekati nol), sehingga dikatakan cahaya bersifat ambigus. Menurut TM cahaya murni fenomena gelombang electro magnet, photon terjadi. dua kali setiap panjang gelombang, diruang hampa photon akan segera lenyap, namun diruang berisi partikel akan berinteraksi dengan partikel. Itulah sebabnya kecepatan cahaya akan berkurang saat memasuki ruang yang terisi partikel.
    8.Alam semesta hanya terisi oleh materi atau terisi oleh energi. Energi atau materi dapat keluar dari alam semerta atau tidak? Jika dapat kemana perginya? Jawaban saya: Alam semesta terisi berbagai jenis energi yang berbaur menjadi satu secara acak, namun masing-masing dibkali kesadaran oleh Tuhan YME untuk mengurusi diri, jenis dan lingkungan masing-masing. Energi dapat terakumulasi menjadi body atau bergetar secara periodik menjadi gelombang. Materi tersusun dari energi, padahal energi tak mungkin keluar dari Alam Semesta, sehingga materi tak mungkin keluar dari Alam Semesta,. Materi membutuhkan ruang nyata, ruang semu yang terisi oleh materi/partikel akan menjadi ruang nyata.
    9. Apakah disamping materi dan energi tidak ada yang lain? Jawaban saya: Alam Semesta justru didominasi oleh non energi, hal ini dapat dijelaskan dengan FSM atau Peta Energi da Non Energi Minimalis. Non Energi sanggup keluar masuk Alam Semesta tanpa mempengaruhi jumlah energi di Alam Semesta. Soul termasuk dalam Non Energi..
    10. Apa itu yang disebut anti matter,………… yang jika berinterasi dengan matter menjadi gelombang, gelombang jenis apa dan kemana perginya? Jawaban saya: Anti matter adalah matter yang operatornya berubah dari perkalian * menjadi pemjumlahan. Hal ini dapat dijelaskan dengan Teori Quantum Eteric dan Teori Anti Matter Minimalis.
    Teori Minimalis adalah mereka yang atheis agar menjadi theis, TM menggunakan keseimbangan akal dan batin yang membedakan antara Tuhan Yang Maha Kuasa yang dianggap membelenggu akal,, keyakinan dan perbuatan manusia sehingga menjadikan alergi bagi kaum atheis. . Tuhan YME adalah hasil akal budi manusia (the founding father bangsa Indonesia) untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang majemuk.
    Pertanyaan-pertanyaan saya sekedar membandingkan jawaban berdasar keseimbangan akal dan batin dengan yang berdasar fikiran dan dogma.

  7. Dito berkata:

    Saudaraku,Quran bukanlah kitab ilmu pengetahuan,tidak tertulis didalamnya:2+2=4. melainkan kitab tanda-tanda.itu adalah kitab ayat-ayat,didalamnya terdapat lebih dari 6.000 tanda-tanda,6.000 ayat dalam Quran dimna lebih dari 1.000 membicarakan tentang ilmu pengetahuan,tapi yang menjadi keindahanya adalah apa yg tertulis tidak kita ketahui,manusia tidak mengetahuinya..itu artinya tuhanlah yg menulisnya.jika Quran memuat semua ilmu pengetahuan maka buku itu tebalnya akan melebihi World Trade Center atau mungkin Buru Dubai,bangunan tertinggi di dunia.
    Quran berfirman dalam surat an-nisa’:82
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’ran ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah,tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. maka akan ada banyak kesalahan di dalamnya.

    • Syarif Muharim berkata:

      Tergantung sudut-pandang ataupun lingkup ilmu-pengetahuan yg dimaksud, saudaraku.
      Al-Qur’an itu mengandung kebenaran2 Ilahiah. Sdgkan tiap kebenaran itu sendiri justru suatu bentuk pengetahuan.

      Al-Qur’an mmg ada sedikit perbedaannya dgn buku2 ilmu-pengetahuan / sains pada umumnya, krn Al-Qur’an amat terbatas membahas segala ilmu-pengetahuan ttg hal2 nyata-fisik-lahiriah (sains). Tapi sebaliknya Al-Qur’an lebih lengkap membahas segala ilmu-pengetahuan ttg hal2 ghaib-moril-batiniah.
      Juga Al-Qur’an mmg amat terbatas memberi penjelasan atas segala pengetahuan / kebenaran Ilahiah di dalamnya. Sehingga Al-Qur’an mmg lebih mengandung tanda-tanda.

      Karena itulah umat Islam mestinya menggunakan akalnya, untuk menghubungkan segala tanda / pengetahuan / kebenaran tsb menjadi ilmu-ilmu yg bermanfaat dan bisa dipahami dgn jelas.
      Begitu pula usaha yg dilakukan pada artikel di atas, ataupun pada blog ini secara umumnya, dgn menghubungkan Al-Qur’an dan ilmu-pengetahuan / sains, yg telah berkembang saat ini. Dan terbukti, ternyata Al-Qur’an mmg amat sesuai / tidak bertentangan dgn ilmu-pengetahuan / sains.

      “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk, dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka, bahwa Al-Qur`an itu benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.” (QS.41:53)
      “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS.3:190)

      Salam….

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s