Bab VII Pengajaran dan tuntunan-Nya

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

"Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam (Bani Adam) dari sulbi mereka.
Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa (ruh) mereka,
(seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Rabb-mu".
Mereka menjawab: "Betul (Engkau Rabb-kami), kami menjadi saksi".
(Kami lakukan yang demikian itu), agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)"."
(QS. AL-A'RAAF:7:172).

"Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada (Rabb),
Yang menciptakan langit dan bumi,
dengan cenderung kepada agama yang benar (perwujudan dari Fitrah Allah).
Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan-Nya."
(QS. AL-AN'AAM:6:79).

 

VII.

Pengajaran dan Tuntunan-Nya

Fitrah Allah dalam memberi pengajaran dan tuntunan-Nya

Manusia yang telah diberikan-Nya daya-kemampuan akal yang sempurna, menjadi memiliki kebebasan untuk bisa berusaha memilih jalan hidup yang lebih diinginkannya dalam proses penggodokannya, atau dalam menghadapi segala bentuk cobaan atau ujian-Nya sebagai khalifah-Nya (penguasa) di muka Bumi.

Namun juga sesuai dengan Fitrah Allah dalam penciptaan alam semesta ini, Allah Yang Maha Penyayang tidaklah membiarkan begitu saja tiap manusianya, untuk berjalan sendiri tanpa arah tujuan di muka Bumi, dengan hanya bermodalkan daya dan akalnya saja, tanpa suatu pengajaran dan tuntunan-Nya, agar bisa mencari dan mengenal Allah, Sang Penciptanya. Juga agar bisa kembali berada dekat di sisi 'Arsy-Nya, dengan mengikuti "jalan-Nya yang lurus", yang lebih diredhai-Nya bagi umat manusia, demi kemuliaan manusianya sendiri. 69)

Hati-nurani, tuntunan-Nya paling dasar

Maka Allah juga menciptakan 'hati-nurani' (atau mata hati) di dalam kalbu zat ruh tiap manusia, sebagai tuntunan-Nya yang paling mendasar, agar bisa mengambil pilihan atau keputusan dengan benar dalam menghadapi segala bentuk ujian-Nya. Isi hati-nurani sama pada tiap anak manusia yang baru lahir (amat suci-bersih dan tanpa dosa). Isi hati-nurani awalnya inipun ibarat sesuatu pantulan "sebagian kecil" dari cahaya kebenaran-Nya, pada cermin batiniah yang bersih (kalbu zat ruh tiap manusia).

Hal ini juga sebagai kesaksian atau pengetahuan yang paling dasar atas berbagai kemuliaan dan kekuasaan-Nya. Sehingga pada saat tiap manusianya telah berusia dewasa, telah menjadi fitrahnya, bahwa ia relatif pasti berkeinginan untuk mencari dan mengenal Tuhan, Yang telah menciptakannya.

"Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): 'Bukankah Aku ini Rabb-mu'. Mereka menjawab: 'Betul (Engkau Rabb-kami), kami menjadi saksi'. (Kami lakukan yang demikian itu), agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan: 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)'." – (QS.7:172).

 

Hati-nurani juga bisa menjadi benteng yang terakhir bagi tiap manusia, saat menghadapi berbagai godaan syaitan dan iblis. Namun jika pikiran dan kalbu ruh manusia tidak dalam keadaan jernih, kalut, tegang ataupun juga dikuasai oleh nafsu dan amarah, maka hati-nurani menjadi agak jarang diperhatikan atau sering terabaikan (menjadi tuli, pekak atau buta mata hatinya, hanya sesaat ataupun seterusnya).

Dari adanya kemungkinan pengabaian atas hati-nurani itulah, sekaligus untuk bisa menambah atau melengkapi tuntunan-Nya yang paling mendasar itu, dan sejalan dengan makin bertambahnya usia tiap manusia dan makin kompleks persoalannya, maka Allah menurunkan pula segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya, melalui: wahyu atau ayat-Nya; para nabi-Nya; berbagai kitab dan agama-Nya; dsb. 70)

Ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis, pengajaran-Nya paling dasar

Sedang pengajaran-Nya yang paling mendasar, adalah "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" yang terdapat di seluruh alam semesta ini, yang disebutkan pula sebagai "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya", "wajah-Nya", "kalam atau wahyu-Nya yang sebenarnya", "Al-Qur'an gaib yang tercatat pada Lauh Mahfuzh di sisi 'Arsy-Nya" atau "segala kebenaran atau pengetahuan-Nya". Dari mempelajari segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta, maka manusia pada dasarnya juga bisa memahami berbagai hakekat penciptaan alam semesta ini, bahkan bisa memahami hakekat 'wujud zat Allah' atau 'perwujudan' sifat-sifat Allah, Sang pencipta alam semesta itu sendiri.

Hal seperti itulah yang terjadi pada nabi Ibrahim as misalnya, saat mencari-cari Tuhannya, dengan terlebih dahulu membandingkan kelebihan dan kesempurnaan segala zat ciptaan-Nya di alam semesta, sampai akhirnya beliau bisa menemukan Tuhannya alam semesta ini yang sebenarnya, yaitu Allah Yang Maha Esa dan Maha kuasa.

Pada jaman sekarang pengenalan itupun juga justru makin bisa diperkuat lagi, dari mempelajari sebanyaknya berbagai bidang ilmu-pengetahuan (ilmu-ilmu agama ataupun non-agama), melalui sistem pendidikan ataupun membaca buku (autodidak). Dan juga bisa melalui pengetahuan dan pengalaman dalam mengamati alam di sekitar, agar makin mudah dan jelas dipahami berbagai kejadian di alam semesta.

Bahwa ada berbagai proses kejadian di alam semesta ini, yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten, atau tidak berubah-ubah). Berbagai proses kejadian seperti ini justru hanya hasil perwujudan dari segala perbuatan Allah di alam semesta ini (Sunnah Allah, sunatullah). Sunatullah bersifat Maha Teratur dan Sempurna, sehingga penciptaan alam semesta yang amat sangat luas ini, dengan segala aspek di dalamnya, hanya dengan "Atom" dan "Ruh" saja. Serta mustahil ada suatupun yang memiliki kemampuan seperti itu, kecuali hanya Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Sempurna.

Baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)".

Setelah berbagai proses pencarian dan pengenalan, atas wujud ketuhanan itu, maka persoalan yang lebih lanjut lagi adalah, "apakah telah bisa diperolehnya sesuatu tingkat keimanan yang makin tinggi?", sehingga pada tiap langkah kaki, tarikan napas dan detak jantungnya, manusia telah bisa diwarnai kesadaran atas tujuan dari diciptakan-Nya seluruh alam semesta ini, dan diciptakan-Nya kehidupannya sendiri di dalamnya, serta agar manusia bisa mengabdi kepada segala kehendak-Nya bagi alam semesta ini.

Juga tentunya agar manusia sebanyak mungkin tidak berbuat kesia-siaan yang terlalu menyimpang dari tujuan diciptakan-Nya alam semesta ini, dalam kehidupannya sehari-hari di dunia fana ini. Bahwa kesadaran dari hasil bertafakur seperti itu adalah ruh dari segala amal-ibadah yang dianjurkan di dalam ajaran-ajaran agama-Nya (kesadaran yang bisa diperoleh saat sebelum ataupun setelah beramal-ibadah).

Hal inilah yang berusaha maksimal dilakukan pada buku ini, agar bisa diperoleh kesadaran atau keyakinan batiniah, yang dibangun melalui berbagai pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) dalam kandungan isi ajaran agama-Nya, khususnya melalui judul buku ini 'Penciptaan Manusia dan Alam Semesta'.

Khususnya lagi agar diperoleh pemahaman yang relatif makin mendalam tentang aturan-Nya (sunatullah), yang berlaku tiap saatnya bagi segala zat ciptaan-Nya (dari galaksi sampai atom, dari sel sampai manusia, dari malaikat sampai iblis, dsb), serta juga mengatur segala proses kejadian di seluruh alam semesta (bersifat 'mutlak' dan 'kekal', secara lahiriah dan batiniah).

Ringkasnya, pemahaman pada buku inipun bisa diperoleh dari mengamati ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis dan sekaligus pula sambil diilhami dari ayat-ayat-Nya yang tertulis (ayat-ayat Al-Qur'an) sebagai bahan utamanya, yang telah disampaikan oleh nabi Muhammad saw. Sehingga diharapkan ayat-ayat Al-Qur'an bisa makin terang dan jelas dipahami kembali berbagai Al-Hikmah di dalamnya (diharapkan pula tentunya bisa 'mendekati' tingkat pemahaman pada Nabi).

Perbedaan pengajaran-Nya dan tuntunan-Nya

Dalam Al-Qur'an telah disebut bahwa utusan-Nya terdiri dari golongan 'jin' (para makhluk gaib) dan dari golongan 'manusia' (para nabi-Nya). Para makhluk gaib itupun biasanya disebut menyampaikan pengajaran, perintah, anjuran, peringatan, larangan, tuntunan, ujian-Nya ataupun berita gembira (semua disebut "wahyu-Nya").

Sedangkan para nabi-Nya disebut menyampaikan pengajaran, perintah, anjuran, peringatan, larangan, tuntunan-Nya ataupun berita gembira (semua disebut "wahyu yang diwahyukan atau dibacakan").

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang empat macam atau jenis wahyu-Nya.

Pada dasarnya terdapat perbedaan antara 'pengajaran-Nya' dan 'tuntunan-Nya'. Ibaratnya, masing-masingnya adalah awal dan akhir; bahan pelajaran dan pengetahuan; proses dan hasil; dsb. Sehingga dari tiap pengajaran-Nya kepada umat manusia diharapkan bisa diperoleh berbagai pemahaman (keyakinan batiniah), untuk bisa menuntun tiap manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Ringkasnya, untuk bisa mengenal baik dan buruk.

Sedang tuntunan-Nya dengan sendirinya bisa secara langsung digunakan oleh manusia, karena relatif tidak memerlukan pemahaman terlebih dahulu, atau relatif amat mudah dimengerti dan dilaksanakan. Hal ini berkebalikan dengan pengajaran-Nya, yang relatif lebih sulit bisa dipahami. Tentunya pengajaran-Nya dan tuntunan-Nya meliputi aspek lahiriah dan batiniah.

Serta berbagai hal yang disampaikan para utusan-Nya itu pada dasarnya bisa dikelompokkan menjadi: pengajaran-Nya dan tuntunan-Nya (seperti: ujian-Nya, perintah-Nya, anjuran-Nya, peringatan-Nya, larangan-Nya, berita gembira, dsb).

'Ujian-Nya' adalah segala bentuk kesulitan ataupun kesusahan (lahiriah dan batiniah), yang pasti dihadapi oleh semua manusia, yang memang sengaja diberikan-Nya, agar makin jelas diketahui-Nya siapa yang beriman dan yang kafir kepada-Nya.

Ujian-Nya terutama disampaikan oleh para makhluk gaib (jin, syaitan ataupun iblis). Ujian-Nya secara batiniah dari para makhluk gaib adalah puncak terakhir dari segala bentuk ujian-Nya (lahiriah dan batiniah), karena segala ujian-Nya secara lahiriah, pada dasarnya juga pasti bermuara kepada bentuk batiniahnya, pada alam batiniah ruh tiap manusia (tempat sebagian para makhluk gaib itu berada dan bekerja).

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang ujian-Nya secara batiniah.

'Perintah-Nya dan anjuran-Nya' adalah segala pengajaran dan tuntunan-Nya tentang hal-hal yang amat perlu 'dilakukan' oleh semua manusia, yang bisa menolong, menyelamatkan ataupun memuliakan dirinya (lahiriah dan batiniah).

'Peringatan-Nya dan larangan-Nya' adalah segala pengajaran dan tuntunan-Nya tentang hal-hal yang amat perlu 'diwaspadai atau dihindari' oleh semua manusia, yang bisa menyesatkan, mencelakakan membinasakan dan menghinakan dirinya (lahiriah dan batiniah).

'Berita gembira' adalah berbagai khabar tentang nikmat-Nya (keuntungan secara lahiriah dan batiniah, di dunia dan akhirat), yang dijanjikan-Nya kepada tiap manusia, setelah bisa mengikuti berbagai tuntunan-Nya.

Dari tiap tuntunan-Nya ataupun dari tiap pengajaran-Nya yang telah berbentuk tuntunan-Nya, yang dipahami oleh tiap manusia tiap saatnya, pada akhirnya terus-menerus makin menambah tuntunan-Nya di dalam hati-nuraninya (makin menambah keyakinan batiniahnya).

Tentunya keyakinan batiniah yang makin kuat bisa diperoleh, jika semua pengajaran dan tuntunan-Nya itupun bisa dipahami dengan makin sempurna, bukan sekedar mengikuti hal-hal yang disampaikan oleh para nabi-Nya, namun tanpa memiliki pemahaman yang relatif memadai, atas hal-hal yang disampaikan itu.

Pengajaran dan tuntunan-Nya melalui para nabi dan kitab-Nya

Tiap pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya tentang tujuan dan makna penciptaan kehidupan di dunia ini, adalah hal yang relatif sulit bisa dicapai oleh manusia biasa umumnya. Maka kepada tiap kaumnya, Allah telah berkehendak pula untuk menurunkan para nabi dan rasul-Nya dari kalangan kaum itu sendiri, yang telah diberi-Nya segala limpahan hikmah dan hidayah-Nya, sebagai utusan-Nya untuk bisa menyampaikan wahyu-wahyu-Nya, sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya kepada umat kaumnya masing-masing, ataupun bahkan kepada seluruh umat manusia.

Selain itu, Allah telah pula menurunkan beberapa kitab-Nya (kitab kumpulan wahyu-wahyu-Nya), kepada beberapa nabi dan rasul-Nya, yaitu: Zabur (nabi Daud as), Taurat (nabi Musa as), Injil (nabi Isa as) dan terakhir Al-Qur'an (nabi Muhammad saw), sebagai sesuatu pengajaran dan tuntunan-Nya yang 'relatif lengkap' bagi seluruh umat manusia pada tiap jamannya (khususnya umat penganut agama-agama tauhid, yaitu: Yahudi, Nasrani dan Islam), walau para nabi dan rasul-Nya yang terkait telah tiada ataupun wafat.

Disebut 'relatif lengkap', karena wahyu-wahyu-Nya di dalam kitab-kitab-Nya itu merupakan suatu intisari (rangkuman) dari seluruh pemahaman pada para nabi-Nya itu, yang berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), yang bisa dipahaminya dari mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta.

Serta pemahaman yang makin lengkapnya juga bisa diperoleh pada berbagai budi-pekerti, contoh dan suri-teladan dari para nabi-Nya (sikap, perkataan dan perbuatannya). Dalam agama Islam yang telah disampaikan oleh nabi Muhammad saw, hal-hal ini umumnya dikenal sebagai 'Sunnah-sunnah Nabi' (ataupun bentuk tertulisnya, kitab-kitab 'Hadits'). 71)

Gambaran sederhana hubungan Fitrah-Nya dan agama-Nya

Secara ringkas dan sederhananya, proses hubungan dari 'Fitrah Allah' sampai kepada kedatangan agama Islam, sekaligus pula sebagai ringkasan pembahasan dari keseluruhan isi buku ini, ditunjukkan pada Gambar 33 di bawah.

Seperti telah diuraikan di atas, bahwa penciptaan seluruh alam semesta ini merupakan perwujudan dari 'Fitrah Allah'. Sedangkan tiap ajaran agama-agama-Nya, merupakan hasil dari pemahaman pada para nabi-Nya atas tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini, setelah mereka dituntun oleh malaikat Jibril.

Gambar 33: Diagram hubungan Fitrah Allah dan agama Islam

Ringkasnya, dengan melalui segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian yang terdapat di seluruh alam semesta ini, Allah memang ingin menunjukkan sifat-sifat terpuji-Nya (Fitrah Allah), kepada umat manusia, agar manusia bisa mengenal Allah dan mengenal jalan atau agama-Nya yang lurus, sebagai suatu keredhaan-Nya bagi keseluruhan umat manusia, demi kemuliaan umat manusia itu sendiri.

Tidak ada seorangpun tanpa pengajaran dan tuntunan-Nya

Bisa dipastikan, bahwa tiap manusia telah mendapat berbagai bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya, terutama sesuatu tuntunan-Nya yang paling mendasar pada hati nuraninya ketika ia terlahir ke dunia, yang berupa segala fitrah dasarnya yang masih suci-murni dan tanpa dosa. Serta juga sesuatu pengajaran-Nya yang paling mendasar, yang berupa ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis yang terdapat di seluruh alam semesta ini (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya).

Bahkan tiap manusia tiap saatnya pasti selalu telah mendapat pengajaran dan tuntunan-Nya secara batiniah, dari para makhluk gaib. Sekaligus pula tentu saja, tiap manusia tiap saatnya pasti selalu telah mendapat cobaan atau ujian-Nya secara batiniah, dari mereka.

Segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya itu, bahkan pada dasarnya pasti telah pula diberikan-Nya bagi orang kafir; orang yang terlahir sebagai orang kafir (anak dari orang kafir); orang yang sama sekali belum pernah mendapat pengajaran dari para nabi-Nya (secara langsung ataupun tidak); ataupun juga bagi orang yang belum pernah membaca kitab-kitab-Nya.

Sehingga persoalannya pada dasarnya hanya terserah ataupun tertinggal kepada tiap manusia itu sendiri, untuk mau berusaha dengan sebenar-benarnya untuk 'memahami' segala pengajaran dan tuntunan-Nya tersebut, serta untuk 'mengamalkan' hasil pemahamannya, dalam kehidupannya sehari-hari di dunia ini.

Tentunya 'banyak jumlah' pengajaran dan tuntunan-Nya yang telah bisa diperoleh dan bisa dipahami oleh tiap manusianya, akan bisa mempengaruhi pula besar balasan-Nya atas tiap amal-perbuatannya (baik dan buruk). Bahkan hisab-Nya itu amatlah sangat adil, sehingga tiap manusia pasti tidak akan dimintai-Nya pertanggung-jawabannya, atas hal-hal yang berada di luar kesadaran atau pengetahuannya, serta juga yang di luar kekuasaannya (jika ada keterpaksaan dalam berbuat).

Sehingga Allah pasti berlaku adil atas tiap manusia, berapapun usia masa hidupnya, serta berapapun banyak jumlah dari pengajaran dan tuntunan-Nya yang telah bisa diperolehnya dan bisa dipahaminya sepanjang hidupnya, sampai saat wafatnya. 72)

Ringkasnya, pada tiap manusia yang pendek umurnya, relatif sedikit segala pengajaran dan tuntunan-Nya yang bisa diperolehnya, sehingga tingkat kesadaran atau pengetahuannya dalam berbuat relatif rendah. Walau kesempatannya untuk bisa memperbaiki dosa-dosanya memang relatif sedikit, namun justru tingkat tanggung-jawabnya atas tiap perbuatannya, juga relatif rendah.

Sebaliknya pada tiap manusia yang panjang umurnya, tingkat kesadaran atau pengetahuannya, serta tingkat tanggung-jawabnya atas tiap perbuatannya relatif tinggi, namun kesempatannya juga banyak untuk bisa bertaubat. Maka berapapun panjang umur manusia, pada dasarnya ia pasti mendapatkan kesempatan yang sama dan adil, untuk bisa hidup kekal di Surga pada Hari Kiamat

Hal yang relatif sedikit berbeda pada orang-orang yang kafir-musyrik, karena makin tinggi tingkat kesadarannya di dalam berbuat kemusyrikan itu, justru makin tinggi pula beban dosanya, atau makin sulit bisa dimaafkan-Nya, saat bertaubat dan menganut agama Islam. Kemusyrikan yang paling ringan beban dosanya, adalah kemusyrikan pada orang-orang yang hanya mengikuti saja agama orang tua mereka (kemusyrikan akibat keturunan), sementara di lain pihak, mereka juga tetap selalu berbuat kebaikan.

Namun sejalan dengan makin bertambahnya umurnya, dengan sendirinya justru makin bertambah banyak pengajaran dan tuntunan-Nya yang telah bisa diperolehnya. Sehingga semestinya makin banyak kesempatan dan pengetahuan, untuk bisa menilai kembali kekeliruan pada agamanya, dan sebelum menjelang akhir hidupnya, semestinya ia bisa menganut agama Islam, bertaubat dan berbuat segala kebaikan.

Pada saat ia telah mulai menganut agama Islam, ia ibaratnya 'baru terlahir' kembali ke dunia ini, sebagai seorang Muslim. Dan tiap usaha mengubah keyakinannya yang sangat keras, atas ijin-Nya, bisa menghapus pula dosa-dosa di masa lalunya. Sedang tidak ada usaha keras seperti ini, pada seorang yang memang terlahir sebagai Muslim.

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu, Rasul di antara (kalangan)mu, yang membacakan ayat-ayat-Kami kepadamu dan mensucikanmu, dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepadamu, apa-apa yang belum kamu ketahui." – (QS.2:151) dan (QS.3:164, QS.62:2, QS.2:231, QS.2:239, QS.2:129, QS.4:113, QS.96:4-5).

"… Dia memberi pengajaran kepadamu, agar kamu dapat mengambil pelajaran." – (QS.16:90) dan (QS.55:2).

"… Sesungguhnya, Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. …" – (QS.4:58).

"Dan kamu (Muhammad) sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam.", "Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan-Nya) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling darinya." – (QS.12:104-105).

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rakhmat bagi kaum yang beriman." – (QS.12:111) dan (QS.11:120, QS.20:113, QS.36:69).

"Dan Allah akan mengajarkan kepadanya (Isa) Al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil." – (QS.3:48) dan (QS.5:46, QS.5:110).

"…Dan sesungguhnya, dia (Yakub) mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya." – (QS.12:68) dan (QS.2:251, QS.21:48).

 

"Tidak wajar bagi seseorang manusia, yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: 'Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah'. Akan tetapi hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab, dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." – (QS.3:79).

 

 

Judul bab & sub-bab berikutnya dan keterangan ringkasnya

×

Para nabi dan rasul utusan-Nya.

Para pembawa tuntunan dan peringatan-Nya.

×

Kitab-kitab tuntunan-Nya (kitab-kitab tauhid).

Kitab-kitab yang diturunkan langsung oleh Allah.

×

Nabi terakhir, untuk seluruh umat manusia.

Bukti-bukti ilmiah-alamiah, tentang nabi Muhammad saw adalah nabi-Nya yang terakhir.

×

Pemahaman atas agama dan kitab-Nya di jaman modern.

Cara-cara ajaran Islam menjawab segala tantangan, persoalan dan kebutuhan umat manusia modern.

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

3 Balasan ke Bab VII Pengajaran dan tuntunan-Nya

  1. Hengki noviadi berkata:

    Kalau boleh tau, bapak dapatkan informasi ini dari mana……………………???????????

    • Syarif Muharim berkata:

      Maaf, informasi yg mana yg dimaksud?. Utk sementara saya coba jawab scra umum saja. Seluruh pemahaman dlm buku “Menggapai” ini adalah bentuk bangunan pemahaman saya pribadi, sbgai hasil dari mempelajari / mentafakuri ayat-ayat Al-Qur’an (ayat2-Nya yg tertulis) dan sekaligus sambil disandingkan dgn hasil dari mempelajari ayat2-Nya yg tak-tertulis di alam semesta ini.

  2. Pardi Adi berkata:

    subekana allah,alkamdullilah,walailahak illalloh allohuakbar,lakawula walakuata illabillah….

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s