Bab VII.A Para nabi dan rasul-Nya

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

"Allah memilih utusan-utusan(-Nya) dari malaikat dan dari manusia.
Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar, lagi Maha Melihat."
(QS. AL-HAJJ:22:75).

"(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul
pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.
Agar supaya tidak alasan bagi manusia untuk membantah Allah,
setelah diutusnya rasul-rasul itu.
Dan adalah Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana."
(QS. AN-NISAA':4:165).

 

VII.A.

Para Nabi dan Rasul Utusan-Nya

Definisi nabi dan rasul-Nya, serta iman kepada mereka

Dalam buku "Ensiklopedia Islam AL-KAMIL" (hal: 133-134) disebut antara-lain:

Definisi iman kepada rasul-rasul Allah:

"Membenarkan dan menyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah Ta'ala telah mengutus pada tiap-tiap umat, seorang rasul yang mengajak umatnya menyembah Allah semata, dan mengingkari sesembahan selainnya. Mereka semua adalah para rasul yang jujur dan telah menyampaikan semua misi Allah. Sebagian mereka, Allah sebutkan nama-namanya, sedangkan sebagian yang lain, Allah khususkan hanya Dia saja yang tahu namanya."

Definisi rasul:

"Rasul adalah orang yang diberikan wahyu 'syariat' dan diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan kepada orang yang tidak mengetahuinya, atau orang yang mengetahuinya tetapi mengingkarinya."

Definisi nabi:

"Nabi adalah orang yang Allah berikan wahyu 'syariat terdahulu' (syariat dari rasul terdahulu), agar diajarkan kepada orang-orang di sekelilingnya, dari kaum yang mengikuti syariat tersebut, sekaligus sebagai pembaharu. Setiap rasul pasti nabi, tapi setiap nabi belum tentu rasul."

 

Khususnya dari definisi iman kepada rasul-rasul Allah di atas, masih meninggalkan sejumlah pertanyaan, yang sedikit-banyak justru akan bisa menghambat keimanan itu sendiri, antara-lain:

~ Bagaimana Allah mengutus para nabi-Nya, serta memberi mereka misi, tugas atau amanat?.
~ Bagaimana para nabi-Nya itu bisa mengenal Allah, Tuhan Yang sesungguhnya, Yang semestinya disembah oleh manusia?.
~ Apakah hakekat wahyu-Nya? Bagaimana cara atau proses wahyu-Nya disampaikan-Nya kepada para nabi-Nya?.
~ Apakah hubungan ataupun kesamaan antara para nabi-Nya, yang telah dikenal ataupun yang tidak dikenal?.
~ Apa yang membuat umat bisa yakin kepada ajakan para nabi-Nya, untuk mengikuti ajarannya?.
~ Apakah penerimaan umat atas ajaran para nabi-Nya, cukup hanya mengandalkan sikap kejujuran dan budi-pekerti mereka?.

 

Sebagian besar umat Islam, mungkin jarang mempertanyakan hal-hal di atas, khususnya ketika ilmu agama yang dimiliki, memang masih relatif sangat sedikit, ataupun ketika umat masih berusia muda. Sedang di lain pihak justru pemahaman yang cukup memadai atas hal-hal itu, juga bisa makin meningkatkan keimanan umat Islam sendiri, serta umat bisa makin mendalam memahami agamanya sendiri (Islam, sebagai agama-Nya yang lurus dan terakhir).

Hal-hal itulah yang berusaha dijawab dalam pembahasan pada topik-topik berikut. Sekaligus agar umat bisa memahami, bagaimana agama-agama-Nya dan kitab-kitab-Nya diturunkan oleh Allah.

Para calon nabi-Nya, manusia unggul dalam kaumnya

Kehendak-Nya menurunkan, menunjuk ataupun mengutus para nabi dan rasul-Nya (para utusan-Nya yang menyampaikan pengajaran, tuntunan, anjuran, perintah, peringatan, larangan, berita gembira, dsb), juga mengikuti 'sunatullah', karena para nabi dan rasul-Nya itu adalah sejumlah manusia biasa yang 'unggul' (berpengetahuan relatif sangat tinggi dan sangat arif dan bijaksama), yang terlahir dan muncul secara alamiah dari lingkungan kaumnya masing-masing. 73)

Setelah manusia unggul ini telah sangat tekun mengamati atau mempelajari hal-hal yang dialami, dalam kehidupan kaumnya sehari-hari, bahwa kehidupan kaumnya itu dianggapnya telah menyimpang relatif sangat jauh (banyak berbuat kebatilan, kekafiran, kemungkaran, kezaliman, dsb), maka timbul kesadaran pada diri manusia unggul ini, untuk bisa berusaha memperbaiki keadaan kaumnya, dengan selalu berusaha keras untuk mencari berbagai solusi penyelesaiannya (secara lahiriah, dan terutama batiniahnya). 74)

Para calon nabi-Nya pada kaumnya yang penuh kezaliman

Hal di atas juga sangat alamiah dan sesuai yang disebut dalam Al-Qur'an, "Dia hanyalah mengutus rasul-Nya, kepada kaumnya yang penuh kesempitan, penderitaan dan kezaliman". Karena dalam sesuatu kaum yang keadaannya relatif lebih stabil atau normal, justru relatif hampir tidak ada sesuatu hal yang perlu diubah dan diperbaiki, serta kehadiran seseorang seperti manusia unggul inipun seolah-olah relatif kurang menonjol dan kurang dibutuhkan oleh masyarakat kaumnya.

Seperti misalnya, karena kaum semacam ini telah berhasil bisa mengikuti para nabi-Nya terdahulu, serta juga karena kehidupan dan peradaban kaumnya telah sangat maju dan mapan. Sehingga hampir tidak terlalu berarti pula kiprah dan peranan tiap individunya, seperti pada bangsa-bangsa yang dianggap sangat maju pada jaman dahulu (Romawi kuno, Yunani kuno, Mesir kuno, Persia kuno, Cina, India, dsb). Walau agama yang dianut oleh bangsa-bangsa tersebut, memang bukan agama yang benar-benar lurus (masih menyembah para dewa, berhala, patung, dsb).

Tetapi sebaliknya, manusia unggul ini justru sangat diperlukan kehadirannya dalam sesuatu kaum, yang kehidupannya penuh dengan berbagai bentuk kezaliman (penuh konflik lahiriah ataupun batiniah), untuk bisa diperbaiki keadaannya atau bisa dituntun kembali ke jalan-Nya yang lurus. 75)

Baca pula topik "Pemahaman atas agama dan kitab tuntunan-Nya di jaman modern", tentang pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam ayat-ayat Al-Qur'an, yang memuat kisah para nabi terdahulu (poin h).

"Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada suatu negeri, melainkan Kami (telah) timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan, supaya mereka tunduk dan merendahkan diri." – (QS.7:94).

Fitrah manusia untuk mencegah kebatilan di sekitarnya

Telah menjadi 'fitrah dasar' manusia, bahwa jika melihat suatu kebatilan, maka hati-nuraninya cenderung pasti menolak kebatilan itu. Demikian pula halnya yang terjadi pada diri manusia unggul ini, yang merupakan bagian dari kelompok kecil dalam kaumnya, yang sadar dan merasa tergerak untuk langsung bertindak nyata, dalam berusaha memperbaiki keadaan kaumnya. 76)

Kesadarannyapun makin lama makin menguat, selain karena keadaan kaumnya yang relatif ekstrim, seperti: sangat jahiliyah; penuh penyimpangan, kezaliman dan kebatilan; dsb. Serta karena manusia unggul inipun telah mempelajari dan memahami dengan relatif sangat lengkap dan mendalam, atas hampir keseluruhan aspek dari kehidupan kaumnya. 77)

Dengan melihat fakta bahwa orang-orang pada jaman dahulu, seperti jaman nabi Muhammad saw (sekitar abad ke-7), yang bentuk kehidupannya masih relatif primitif atau sederhana. Di samping itu, tiap kaumnya relatif masih berjumlah sedikit, dan tinggal dalam kota ataupun negeri yang relatif kecil. Maka sangat mudah dipahami jika kehidupan kaumnya ketika itu relatif sangat keras, dan sangat kentara sekali kebatilan atau kezaliman yang terjadi dalam masyarakat. 78)

Pondasi awal para calon nabi-Nya, akhlak dan budi-pekerti

Dengan kesadaran yang telah terbangun, didukung oleh budi-pekerti, akhlak dan kebiasaan positif sepanjang hidupnya, yang telah membentuk pondasi spiritualnya, manusia unggul ini akhirnya telah memahami berbagai solusi dan kebenaran cukup lengkap, atas hampir seluruh persoalan kaumnya (terutama berbagai persoalan yang sangat mendasar), bahkan bisa sesuai pula bagi persoalan keseluruhan umat manusia (pada jamannya ataupun sampai akhir jaman). 79)

Budi-pekerti, akhlak dan kebiasaan positif itu umumnya telah diperolehnya sejak masa kecil, dari hasil didikan orang-tua ataupun keluarganya. Sehingga tidak heran, apabila manusia unggul ini banyak yang berada dalam garis-garis keturunan para nabi terdahulu, secara langsung ataupun tidak (anak tiri, anak asuh ataupun anak angkat), ataupun keturunan dari orang-orang yang sangat arif-bijaksana lainnya di kalangan kaumnya. Akhirnya berbagai keutamaan pada para orang-tuanya, telah ikut menurun pula kepada manusia unggul ini. 80)

Proses perolehan kenabian oleh para calon nabi-Nya

Bahkan pemahaman pada manusia unggul inipun atas berbagai kebenaran-Nya, atau perolehan hikmah dan hidayah-Nya, makin lama juga makin meluas. Pada awalnya hal-hal itu diperoleh dengan intuisi-nalar-logika akal-pikiran, seperti halnya tiap manusia biasa umumnya. Logika akal-sehatnya telah membentuk berbagai keyakinan batiniah-rohani-spiritual yang mendasar, sebagai pondasi awalnya sebelum bisa menuju kepada tingkat pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya yang relatif jauh tinggi lagi (tingkat pemahaman kenabiannya).

Akhirnya pada tingkatan perolehan spiritualnya yang relatif sangat tinggi, maka manusia unggul ini telah bisa mulai dituntun-Nya (melalui perantaraan malaikat Jibril), agar bisa memahami berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), melalui suatu intuisi kenabian (tingkat pemahaman tertinggi atas berbagai kebenaran-Nya, yang bisa dicapai oleh tiap umat manusia). 81)

Manusia unggul ini memahami berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), antara-lain: penciptaan alam semesta dan segala isinya, serta kehidupan manusia dalamnya; wujud zat Allah, Sang Pencipta alam semesta itu sendiri; para makhluk gaib; alam dunia dan akhirat (surga dan neraka); Hari Kiamat; alam kubur; para nabi dan kitab-Nya terdahulu; ruh-ruh; dsb.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang proses pengajaran malaikat Jibril (penyampaian wahyu-Nya) kepada para nabi dan rasul-Nya.

Para calon nabi-Nya memproklamirkan diri sebagai utusan-Nya

Maka segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), yang terkait dengan kehidupan kaumnya (khususnya), dan kehidupan seluruh umat manusia (umumnya), telah dibukakan-Nya lebih dahulu kepada manusia unggul ini, sebagai sesuatu satu kesatuan pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya secara relatif sangat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, melalui berbagai proses pengajaran dan pembelajaran yang relatif sangat lama, oleh malaikat Jibril (contohnya: nabi Muhammad saw mencapai kenabiannya, pada usia sekitar 40 tahun). 82)

Setelah tercapai tingkat spiritual atau keyakinan batiniah yang relatif sangat tinggi dan lengkap, khususnya dianggap telah cukup bisa mengatasi keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan yang paling penting, mendasar dan hakiki pada kaumnya sendiri (hal-hal gaib dan batiniah), maka manusia unggul inipun diutus-Nya kepada kaumnya itu, untuk bisa menyampaikan segala pengajaran dan tuntunan-Nya, sekaligus disertai pula dengan memproklamirkan dirinya, sebagai nabi ataupun rasul-Nya.

Proses 'diutus-Nya' ataupun 'proklamir kenabian' itu, adalah suatu proses sangat lumrah dan alamiah. Persis seperti manusia biasa umumnya, ketika telah berkeyakinan kuat atas sesuatu hal (memahami kebenaran-Nya), lalu ia maju ke depan untuk menyatakan kebenaran tersebut, apalagi jika sedang menghadapi suatu kebatilan. Juga seperti halnya Albert Einstein, ketika telah berkeyakinan kuat atas berbagai landasan ilmiah bagi teorinya, maka iapun lalu mengumumkan teori Relativitasnya yang terkenal itu.

Tentunya ada pula suatu keistimewaan tertentu tentang proses 'proklamir kenabian', karena hal yang diumumkan itu adalah hal yang amat sangat penting bagi kehidupan umat kaumnya, ataupun bahkan bagi kehidupan seluruh umat manusia, bahkan bisa mengubah seluruh aspek kehidupannya, khususnya lagi karena sangat erat terkait dengan keyakinan umat kaumnya atas ketuhanan.

Juga sangat lumrah apabila hal pertama yang disampaikan oleh para nabi-Nya, adalah rangkuman terpenting dari seluruh pemahaman mereka, yaitu tauhid "tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa".

Selain itu, keseluruhan pemahaman para nabi-Nya semestinya sangat lengkap (relatif sesuai jamannya), mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, karena para nabi-Nya pasti tidak akan diikuti oleh umat kaumnya, jika ia tidak bisa menjawab hampir semua persoalan umat, ataupun jika tidak konsisten. Sehingga ia juga harus bisa meenjadi contoh suri-teladan langsung bagi umat kaumnya, pada kehidupannya sehari-hari, sesuai dengan segala pemahamannya itu. 83)

Lihat pula pada Gambar 38, tentang aspek pemahaman yang lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan.

Para nabi-Nya sangat banyak, yang dikenal ataupun tidak

Jumlah para nabi-Nya itu pada dasarnya sangat banyak (bisa berjumlah ribuan orang), yang merupakan orang-orang yang berilmu sangat tinggi dan sangat arif-bijaksana pada kalangan kaumnya, yang menyampaikan berbagai kebenaran-Nya yang telah bisa dipahaminya. Namun hanyalah sebagian kecil dari mereka (25 orang), yang dikenal ataupun tercatat di dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi, sebagai sesuatu contoh suri-teladan ataupun perumpamaan bagi seluruh umat manusia sampai akhir jaman (lihat pula pada tabel di bawah).

Selain itu, karena para nabi-Nya yang lebih dikenal tersebut, memang juga mengalami berbagai kejadian atau peristiwa yang luar-biasa (mu'jizat), ataupun berbagai hal-hal penting lainnya, sehingga berbagai kisah dan suri-teladan mereka itu, telah menjadi buah tutur umat manusia, dari generasi ke generasi, serta dari negeri ke negeri, sampai sekarang. 84)

Baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)", tentang hakekat dan proses diturunkan-Nya tiap mu'jizat-Nya.

Daftar sebagian dari para nabi atau rasul-Nya
(yang paling dikenal), dan terurut menurut jamannya

No

Nama nabi atau rasul-Nya

Masa hidup (umur)

1. Nabi Adam as. ± 5872 SM – 4942 SM (± 931 tahun)
2. Nabi Idris as. ± 4533 SM – 4188 SM (± 346 tahun)
3. Nabi Nuh as. (rasul ulul azmi) ± 3993 SM – 3043 SM (± 951 tahun)
4. Nabi Hud as. ± 2450 SM – 2320 SM (± 131 tahun)
5. Nabi Saleh as. ± 2150 SM – 2080 SM (± 71 tahun)
6. Nabi Ibrahim as. (rasul ulul azmi) ± 1997 SM – 1822 SM (± 176 tahun)
7. Nabi Luth as. ± 1950 SM – 1870 SM (± 81 tahun)
8. Nabi Ismail as. ± 1911 SM – 1779 SM (± 133 tahun)
9. Nabi Ishak as. ± 1861 SM – 1638 SM (± 224 tahun)
10. Nabi Ya'qub as. ± 1837 SM – 1690 SM (± 148 tahun)
11. Nabi Yusuf as. ± 1745 SM – 1635 SM (± 111 tahun)
12. Nabi Ayyub as. ± 1640 SM – 1420 SM (± 221 tahun)
13. Nabi Zulkifli as. ± 1600 SM – 1425 SM (± 176 tahun)
14. Nabi Syu'aib as. ± 1600 SM – 1500 SM (± 101 tahun)
15. Nabi Musa as. (rasul ulul azmi) ± 1531 SM – 1408 SM (± 124 tahun)
16. Nabi Harun as. ± 1527 SM – 1408 SM (± 120 tahun)
17. Nabi Daud as. ± 1041 SM – 971 SM (± 71 tahun)
18. Nabi Sulaiman as. ± 975 SM – 935 SM (± 41 tahun)
19. Nabi Ilyas as. ± 910 SM – 850 SM (± 61 tahun)
20. Nabi Ilyasa' as. ± 885 SM – 795 SM (± 91 tahun)
21. Nabi Yunus as. ± 820 SM – 750 SM (± 71 tahun)
22. Nabi Zakaria as. ± 100 SM – 20 SM (± 81 tahun)
23. Nabi Yahya as. ± 1 M – 31 M (± 31 tahun)
24. Nabi Isa as. (rasul ulul azmi) ± 1 M – 32 M (± 32 tahun)
25. Nabi Muhammad saw. (rasul ulul azmi) ± 570 M – 632 M (± 63 tahun)

Catatan:

Data-data masa hidup ataupun umur di atas, belum diverifikasi keakuratannya. Dan hanya untuk memberi gambaran sangat sederhana, tentang periode keberadaan para nabi-Nya.

Utusan-Nya bukanlah perantara-Nya

Hal yang perlu diketahui oleh umat Islam, bahwa para nabi-Nya, ataupun bahkan para malaikat, bukanlah perantara-Nya, namun hanya utusan-Nya yang menyampaikan segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya. Bahkan para nabi-Nya itu semata-mata hanya seorang manusia biasa pada 'zat'-nya. Hal yang berbeda dari manusia biasa lain hanya pada ketinggian ilmu mereka, dari hasil memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta, sekaligus pengamalannya yang sangat konsisten, atas berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (wahyu-Nya atau Al-Hikmah), yang telah diperoleh dan dipahaminya.

Sekilas istilah 'perantara' dan 'utusan' itu memang seolah-olah tampak sama. Tetapi perbedaan pemakaiannya dianggap sangat perlu untuk ditekankan, karena pada istilah 'perantara' seolah-olah adanya suatu hubungan 'dua arah' antara Allah dan para nabi-Nya itu. Sedang pada istilah 'utusan', hanya suatu hubungan 'satu arah' (hanya melalui wahyu-Nya).

Begitu pula halnya dengan para malaikat (khususnya malaikat Jibril) yang sering disebut-sebut sebagai perantara dalam penyampaian wahyu-Nya kepada para nabi-Nya. Malaikat Jibril itu bukan menjadi penghubung antara Allah dan para nabi-Nya, namun malaikat Jibril itu justru semata hanya menghubungkan antara berbagai kebenaran-Nya di seluruh alam semesta dan pengetahuan para nabi-Nya, melalui alam batiniah ruh para nabi-Nya (alam pikirannya).

Perbedaan antara 'perantara' dan 'utusan' itupun bisa memiliki pengaruh yang relatif sangat besar. Pada 'perantara' itu misalnya: nabi bisa mengabulkan do'a umat dan dirinya sendiri; nabi bisa menghapus dosa umat dan dirinya sendiri; nabi bisa meminta sesuatu; dsb. Dan hal-hal sebaliknya pada 'utusan', nabi semata-mata hanya penyampai atas berbagai hal yang telah dipahaminya, sebagai kehendak-Nya bagi alam semesta ini, ataupun bagi seluruh umat manusia. Pengutusan ini justru juga suatu proses yang sangat alamiah.

Maka 'perantara' seperti itu justru tidak dikenal dalam agama Islam, seperti halnya pada agama Nasrani, ataupun pada agama-agama lainnya, yang mengenal adanya perantara antara Allah dan manusia. Di mana Yesus dan pendeta misalnya, bisa ikut menghapus dosa-dosa umatnya (melalui penyaliban, pembabtisan, pengakuan dosa, dsb).

Para malaikat juga bukan 'perantara' seperti itu, mereka justru hanya ditugaskan-Nya kepada tiap manusia (melalui alam batiniah ruh manusia), agar tiap saatnya bisa selalu menyampaikan pengajaran dan tuntunan-Nya (melalui berbagai ilham positif-baik-benar). Sebaliknya dari para jin, syaitan atau iblis yang menyampaikan cobaan atau ujian-Nya (melalui berbagai ilham negatif-buruk-sesat).

Istilah 'perantara' hanya tepat sekedar dimaknai sebagai, "alat-sarana-media penyampaian kebenaran-Nya", namun sama sekali tidak menunjukkan hubungan langsung antara Zat Allah, dengan zat subyek dan zat obyek perantaraannya. Zat Allah Maha Suci justru tersucikan dari segala sesuatu hal, termasuk mustahil bisa dilihat (dengan mata), diketahui, dipikirkan dan dibayangkan (dengan akal-pikiran).

"Dan tidak ada bagi seorang manusiapun, bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan perantaraan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat Jibril), lalu diwahyukan kepadanya (manusia itu) dengan seijin-Nya, apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi, lagi Maha Bijaksana." – (QS.42:51).

"Bacalah (hai manusia), dan Rabb-mulah Yang Paling Pemurah,", "Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (wahyu-Nya)." dan "Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." – (QS.96:3-5).

"Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran, bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabb-mu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu, agar dia memberi peringatan kepadamu, dan mudah-mudahan kamu bertaqwa, dan supaya kamu mendapat rahmat?." – (QS.7:63).

Diturunkan-Nya para nabi-Nya, proses alamiah

Dari berbagai uraian di atas, cukup jelas bahwa proses diutus atau diturunkan-Nya para nabi dan rasul-Nya juga merupakan proses yang sangat alamiah, keniscayaan, kehendak sejarah, tuntutan jaman, kodrat atau hukum alam, dalam agama juga disebut mengikuti aturan-Nya (sunatullah). Segala kehendak dan tindakan-Nya di alam semesta justru amat sangat halus (Maha Halus), dan pasti melalui sunatullah.

Proses dipilih, ditunjuk atau diutus-Nya para nabi-Nya, sering terputus-putus atau terpisah-pisah sangat lama (bahkan bisa berabad-abad). Hal l ini juga sangat jelas menunjukkan, bahwa prosesnya justru memang bukan terjadi dengan begitu saja (sekehendak-Nya), namun melalui proses yang sangat alamiah tersebut.

Apabila sebaliknya, tentunya Allah pasti sangat mudah untuk memilih, menunjuk atau mengutus para nabi-Nya, kapan saja dengan sekehendak-Nya. Namun kenyataannya justru tidak demikian, Allah Yang Maha suci dan Maha kekal justru tidak pernah ataupun mustahil berbuat sekehendak-Nya di alam semesta ini.

Baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)".

"Kami tidaklah mengutus sebelum kamu (Muhammad), melainkan orang laki-laki, yang kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. …." – (QS.12:109).

"Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka …." – (QS.14:4).

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat-Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang-benderang dan …." – (QS.14:5).

 

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, seorang rasulpun, dan tidak (mengutus pula) seorang nabi, melainkan apabila ia (rasul atau nabi itu) mempunyai sesuatu keinginan (yang kuat untuk mengetahui kebenaran-Nya). Syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, (namun) Allah menghilangkan apa yang dimaksud oleh syaitan itu, (untuk melindunginya), dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. …" – (QS.22:52).

"Dan sesungguhnya, telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran." – (QS.54:51) dan (QS.54:15, QS.6:80, QS.7:57, QS.7:130, QS.8:57, QS.9:126, QS.10:3, QS.11:24, QS.11:30).

"… Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka mengambil pelajaran." – (QS.2:221) dan (QS.54:32, QS.6:126, QS.7:3, QS.14:52).

 

"dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini, dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda (kekuasaan-Nya) bagi kaum yang mengambil pelajaran." – (QS.16:13).

"Allah memberikan hikmah-Nya, kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah-Nya, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang-orang yang berakal." – (QS.2:269) dan (QS.3:7, QS.13:19).

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

8 Balasan ke Bab VII.A Para nabi dan rasul-Nya

  1. Anonim berkata:

    jelek banget….. masak aku cari tugas ajak endk bisa klaw gitu jangan buka ginian donx
    orang mau cari ceritanya kok ngk ada dan jelas lagi😦😦😦

    iy mang jelek benar gak ndak lengkap lagik tu
    malu lah, kalah anak sd lagi…….eh makantuh kayak ginian!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!😛 :
    P

    • Syarif Muharim berkata:

      Artikel ini mmg bukan utk menjelaskan scra lengkap ttg para nabi dan rasul-Nya, krn kisah2 mereka mmg sdh byk diungkap dlm byk sumber. Fokus dari artikel ini hanya utk mengungkap, bhwa para nabi dan rasul-Nya adalh manusia biasa dari segi zatnya, dan juga bhwa proses dipilih atau diutus-Nya mereka adalh proses yg amat alamiah. Hanya itu saja tujuannya, sesuai tujuan.keseluruhan isi buku ini, utk menjelaskan bgmna cara Allah berbuat di alam semesta ini.
      Jika ingin memperoleh kisah2 mereka selengkapnya, mmg lebih baik membaca dari sumber2 lain, yg bisa byk diperoleh dgn mudah.

  2. Anonim berkata:

    belajarlah menghaargai karya org lain

    • Syarif Muharim berkata:

      Terima kasih atas kritikannya, walaupun kritikan tsb juga kurang tepat, krn saya justru tetap menghargai karya orang-lain (terutama para alim-ulama).
      Jika saya tdk byk mengutip karya / buku / pemikiran orang-lain, tentunya tdk otomatis menunjukkan saya tdk menghargainya.

      Namun khusus pada topik bahasan ilmu kalam dalam buku hikmah “MENGGAPAI”, saya mmg sengaja ingin membangun KEYAKINAN PRIBADI (tanpa banyak terpengaruh oleh pemikiran2 orang-lain), dan terutama lagi krn mmg cukup banyaknya aliran2 ilmu kalam yg ada, dan sekaligus antar aliran tsb justru juga sering saling bertentangan.
      Sedangkan relatif tetap ada hal2 yg positif dari tiap alirannya dan juga relatif tdk ada aliran yg benar2 sempurna keseluruhan pemahamannya (sedikit-banyak relatif tetap ada berbagai kekurangan). Sehingga relatif paling sempurna, jika bisa dibangun suatu KEYAKINAN PRIBADI, dan juga jika bisa sekaligus relatif tdk terlibat / terlepas dari pertentangan dan perselisihan antar aliran ilmu kalam.

      Adapun alasan2 lebih lengkapnya bisa dibaca pada “Penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an” (https://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/bd_1/#_Toc280619067).

      Jika justru ada hal lain yg dimaksud dgn kritikan, yg berbeda dgn hal yg saya cerna di atas, silahkan langsung disampaikan. Saya akan berterima kasih jika bisa mengetahuinya lebih jelas.

      Salam…

  3. Anonim berkata:

    adek se bender

  4. aslan berkata:

    menurut pemahaman saya, nabi diutus membawa risalah untuk seluruh umat manusia, sedangkan rasul hanya untuk suatu kaum tertentu. Ada rasul yang nabi dan ada juga rasul yg bukan nabi, dalam hal rasul yg bukan nabi ini mengajarkan/memberi petunjuk kepada kaumnya berdasarkan risalah nabi terdahulu….mohon penjelasan apakah pemahaman saya ini keliru?

    • Syarif Muharim berkata:

      Secara umum, sepertinya Pak Aslan terbalik dlm menggunakan istilah2 ‘nabi’ dan ‘rasul’ tsb. Bisa diperiksa kutipan buku “Ensiklopedia Islam AL-KAMIL” (hal: 133-134) pada awal2 artikel ini, ataupun bisa diperiksa pada sumber2 lain.

      Juga sepengetahuan saya, hanya risalah pada Rasulullah SAW, yg khusus diperuntukkan bagi seluruh umat manusia.

      Wallahu a’lam.

  5. azarine berkata:

    terlalu banyak orang yang berkomentar tapi belum memahami tulisan yang ditulis. tanggalkan ego dan bersihkan hati kalau mau membaca artikel bapak syarif, supaya para pembaca tidak membca dengan ego dan hati yang kotor.

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s