Lampiran D.D Perbandingan aliran D

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

D.

Berbagai hakekat tambahan (dari pembahasan di sini)

Rangkuman secara ringkas atas keseluruhan pemahaman pada pembahasan buku ini, sebagian telah diungkap pada poin-poin A s/d C
di atas, yaitu: pada Tabel 23 (tentang daya dan perbuatan manusia), pada Tabel 28 (tentang kemutlakan sifat-sifat-Nya), dan juga pada Tabel 32 (tentang berbagai topik lain). Kandungan isi dari tabel-tabel tersebut terkait dengan hal-hal yang dibandingkan secara langsung, dengan hasil pemahaman dari aliran-aliran yang dibahas.

Agar lebih lengkap dan sebagai tambahan, maka pada Tabel 33 berikut diungkap berbagai pemahaman lainnya pada pembahasan buku ini, yang tidaklah terkait langsung dengan perbandingan pemahaman antar aliran-aliran di atas.

Tabel 33: Berbagai hakekat tambahan dari pembahasan di sini

Rangkuman ringkas pemahaman pada pembahasan di sini
tentang berbagai rangkuman hakekat tambahan

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

 

Berbagai rangkuman ringkas hakekat tambahan dari hasil pemahaman pada pembahasan buku ini, meliputi:

~ Hakekat penciptaan alam semesta dan tujuannya
~ Hakekat khalifah-Nya
~ Hakekat zat dan sifat Allah
~ Hakekat kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya
~ Hakekat takdir-Nya
~ Hakekat mu'jizat
~ Hakekat perbuatan manusia
~ Hakekat penciptaan makhluk nyata
~ Hakekat makhluk-Nya (zat, nilai dan kemuliaan)
~ Hakekat tugas para makhluk gaib
~ Hakekat ketundukan (sujudnya) para makhluk gaib kepada manusia
~ Hakekat ujian-Nya
~ Hakekat hubungan akal dan wahyu-Nya
~ Hakekat nabi, kitab dan agama-Nya
~ Hakekat Isra' mi'raj dan "kembali" ke hadapan 'Arsy-Nya
~ Hakekat Hari Kiamat
~ Hakekat kebangkitan nabi Isa as di Hari Kiamat
~ Hakekat kehidupan akhirat (termasuk Surga dan Neraka)

 

Dengan uraian-uraian selengkapnya, sebagai berikut:

Hakekat penciptaan alam semesta dan tujuannya

Hakekat penciptaan alam semesta (termasuk kehidupan manusia di dalamnya) adalah perwujudan dari Fitrah Allah. Dengan Fitrah Allah ini, maka diturunkan-Nya pula agama-Nya yang lurus (agama-agama tauhid).

Maka pada seluruh alam semesta inipun (segala zat ciptaan-Nya dan segala proses kejadian lahiriah dan batiniah atas zat-zat itu), terkandung pula segala hal yang ingin ditunjukkan oleh dan tentang Allah kepada segala zat makhluk ciptaan-Nya (terutama manusia sebagai khalifah-Nya), khususnya hal-hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'.

Segala hal itu berupa tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya, sebagai cerminan dari Fitrah Allah itu sendiri (seluruh sifat-Nya pada Asmaul Husna).

Hakekat tujuan penciptaan alam semesta adalah pengenalan segala kemuliaan dan kekuasaan-Nya kepada tiap manusia (khalifah-Nya), pengujian keimanan tiap manusia di dunia, agar manusia bisa kembali dekat ke hadapan 'Arsy-Nya, dengan mengikuti jalan-Nya yang lurus, sebagai keredhaan-Nya bagi manusia.

Sekaligus agar manusia bisa meraih kemuliaan yang tinggi di kehidupan akhiratnya.

Hakekat segala zat ciptaan-Nya selain manusia adalah bertujuan mendukung pengujian dan kehidupan manusia di dunia, sekaligus mendukung berjalannya alam semesta ini.

Hakekat segala zat ciptaan-Nya (termasuk diri manusia itu sendiri dan manusia lainnya) adalah bertujuan sebagai bahan pelajaran (lahiriah dan batiniah) yang amat sangat melimpah ruah (agar bisa mengenal Allah, memahami tujuan dari penciptaan alam semesta ini, mengenal jalan-Nya yang lurus dan juga bisa mengikuti Jalan-Nya yang lurus itu), sekaligus sebagai ujian-Nya (secara lahiriah dan batiniah) bagi manusia.

Hakekat unsur elementer penyusun alam semesta ini (atau segala zat ciptaan-Nya) adalah hanya 'Atom' (mati dan nyata) dan 'Ruh' (hidup dan gaib), dengan segala jenis atau sifatnya yang amat sangat kaya.

Benda mati nyata yang terkecil sebenarnya bukanlah Atom, dan bukanlah pula elektron, proton, foton dan neutron dalam Atom (segala partikel sub-atomik).

Diyakini, bahwa benda-materi terkecil yang sebenarnya itu adalah suatu bentuk "langit" lain, yang mustahil bisa diketahui atau dicapai oleh manusia.

Secara teoretis, benda-materi terkecil itu minimal mestinya menjadi "unsur penyusun" dari elektron, proton, foton, neutron, ataupun semua elemen Atom yang telah diketahui lainnya.

Namun sementara ini pula Atom tetaplah dianggap sebagai benda terkecil, karena hanya Atom benda terkecil yang diketahui memiliki sifat yang mandiri, serta hanya Atom itulah benda terkecil yang telah diketahui dengan jelas oleh manusia, sebagai unsur penyusun segala benda mati nyata.

Sedang elektron, proton, foton dan neutron di atas misalnya, selalu tergantung dan dalam lingkup pengaruh Atom. Selain karena tidak bersifat sebagai "unsur penyusun".

Hakekat khalifah-Nya

Hakekat manusia sebagai khalifah-Nya di dunia (di muka bumi) adalah karena hanya manusia yang diberikan-Nya kebebasan dan kekuasaan yang relatif paling sempurna dalam berkehendak dan berbuat selama di kehidupan dunianya, dibandingkan segala zat makhluk-Nya lainnya, dengan diberikan-Nya kombinasi 'akal' (pengetahuan dan kecerdasan untuk memilih) dan 'nafsu' (semangat dan keinginan untuk berkembang) yang relatif paling sempurna pula.

Akal dan nafsu pada berbagai zat ruh makhluk-Nya selain manusia, salah-satu atau keduanya relatif kurang sempurna.

Kebebasan seperti itu relatif tidak dimiliki oleh segala zat ciptaan-Nya lainnya. Mereka pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah-Nya. Amat berbeda dari manusia yang justru memiliki berbagai kecenderungan untuk bisa pula melanggar perintah-Nya (sebagai suatu bentuk ujian-Nya).

Kalaupun seolah-olah tampak mereka (segala makhluk-Nya selain manusia), bisa pula memiliki kebebasan, hal itu hanya karena banyaknya hal-hal yang diperintahkan atau ditugaskan-Nya kepada mereka. Mereka hanyalah mengikuti semacam sesuatu "naluri" saja, karena nafsu-keinginan mereka yang relatif amat stabil, sehingga terkadang juga disebutkan "tidak memiliki nafsu".

Kemampuan dan keinginan mereka justru semata-mata hanyalah untuk bisa mengabdi kepada-Nya.

Karena itu pula segala perbuatan mereka sebenarnya bersifat relatif amat sangat teratur dan konsisten. Sehingga berbagai hewan yang buas dan liar sekalipun misalnya, relatif masih bisa dikendalikan oleh manusia.

Hakekat wujud dari kekuasaan khalifah-Nya yang sebenarnya adalah pada kehidupan batiniah ruh (kehidupan akhiratnya), dimana tiap manusia bisa memiliki kebebasan dan otoritas sepenuhnya untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri (dengan akal-pengetahuan-kecerdasan dan nafsu-keinginan-kemauannya).

Bahkan Allah sama sekali tidak ikut campur untuk mengatur kehidupan batiniah ruh tiap manusia (dari adanya orang yang beriman atau kafir, orang yang baik atau jahat, dsb).

Juga pada dasarnya sama sekali tidak ada kekuasaan segala zat ciptaan-Nya lainnya, yang bisa memaksakan segala macam pengaruhnya kepada kehidupan batiniah ruh tiap manusia, termasuk pula para makhluk gaib yang memang ditugaskan-Nya untuk mengganggu alam batiniah ruh manusia (sebagai bentuk ujian-Nya secara batiniah).

Semuanya tergantung keyakinan atau keimanan tiap manusia itu sendiri, untuk mau mengikuti berbagai pengaruh dari para makhluk gaib itu, ataupun tidak.

Kalaupun ada berbagai pemaksaan pengaruh secara lahiriah (dari tuan ke budaknya, dari atasan ke bawahan, dari penjajah ke orang yang terjajah, dsb), namun secara batiniah justru sebenarnya tetap tidak terpengaruh sama sekali.

Terutama jika dilihat dari sisi Allah, ketika diberikan-Nya nilai amalan atas tiap amal-perbuatan manusia, yang dilakukan saat sedang berada dalam keadaan keterpaksaan.

Allah Yang Maha mengetahui segala perbuatan tiap manusia yang diusahakan ataupun diinginkannya sendiri, dan yang bukan dari keinginannya (dipaksa oleh orang-lain).

Sedang pada kehidupan lahiriahnya, tiap manusia memang relatif amat sangat terbatas kemampuan dan kekuasaannya untuk bisa mengaturnya.

Hakekat zat dan sifat Allah

Hakekat tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal' pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian (lahiriah dan batiniah) di seluruh alam semesta ini, yang bisa dilihat, diraba dan diketahui oleh manusia (dengan mata lahiriah dan batiniah, atau segala alat indera lahiriah dan batiniah).

Tanda-tanda kekuasaan-Nya ini terkadang disebut juga sebagai "wajah-Nya", "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "Al-Qur'an (gaib) yang tercatat di kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya", "segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta" ataupun "wahyu atau kalam-Nya yang sebenarnya".

Karena penciptaan alam semesta itu sendiri adalah perwujudan dari Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji Allah), maka dari tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta itu manusia bisa mengetahui atau memahami pula sifat-sifat-Nya (terutama pada Asmaul Husna).

Hakekat Fitrah atau sifat-sifat terpuji Allah yang tergambar pada Asmaul Husna adalah hasil pemahaman nabi Muhammad saw atas berbagai hasil perbuatan-Nya di seluruh alam semesta, melalui sunatullah (tanda-tanda kekuasaan-Nya, lahiriah dan batiniah), melalui usaha Nabi yang relatif amat sangat keras dengan akalnya dalam mencari, mencermati, mempelajari dan memahami berbagai kebenaran-Nya.

Hakekat kekuasaan-Nya (juga bahkan semua sifat-Nya lainnya pada Asmaul Husna) adalah 'mutlak semutlaknya'. Tidak ada segala sesuatupun sekutu bagi Allah, yang bisa memiliki sifat yang serupa, mendekati, apalagi melebihi salah-satu saja dari sifat-sifat-Nya itu.

Bahkan semua sifat-Nya pada Asmaul Husna itu hanya sifat yang ditunjukkan-Nya dan berhasil dipahami umat manusia (khususnya yang dipahami oleh nabi Muhammad saw) melalui segala zat ciptaan-Nya di alam semesta sebagai perwujudan dari Fitrah Allah (tanda-tanda kekuasaan-Nya).

Padahal seperti halnya pada manusia, "fitrah" zat cenderung berbeda dari sifat yang sebenarnya (fitrah biasanya berupa "sifat tengah" atau "sifat yang paling mulia-terpuji"). Padahal rentang sifat manusia amat luas, misalnya: amat penakut s/d amat pemberani, amat baik s/d amat buruk, amat halus s/d amat kasar, dsb, sehingga sifat seseorang ataupun fitrah manusia relatif berada di antara rentang itu.

Padahal sifat sesuatu zat adalah segala sesuatu hal tentang zat itu yang bisa diketahui, dipahami dan digambarkan oleh sesuatu selain zat itu sendiri.

Padahal kebebasan dan kekuasaan yang diberikan-Nya kepada tiap manusia misalnya, justru sama sekali tidak ada artinya dibandingkan dengan kekuasaan-Nya, apalagi bisa menguranginya. Bahkan manusia justru mustahil bisa berkuasa menciptakan semut, ataupun mustahil bisa berkuasa mengatur segala hal tentang dirinya sendiri (kekuasaan manusia relatif amat sangat terbatas).

Maka suatu sifat-Nya yang mampu dipahami atau dijangkau oleh tiap manusia (dengan segala keterbatasannya), hanya 'sebagian' dari sifat-Nya terkait yang sebenar-benarnya yang 'mutlak semutlaknya'.

Hal yang amat penting pula untuk bisa diketahui, bahwa semua sifat-Nya pada Asmaul Husna itu haruslah dipahami sebagai satu kesatuan utuh, karena seperti itulah sifat-sifat Allah yang diyakini oleh nabi Muhammad saw.

Jika ada salah-satu saja dari sifat-sifat-Nya itu yang telah diabaikan ataupun tidak diperhatikan, maka tindakan ini sama saja dengan mengada-adakan sesuatu hal yang berbeda dari Allah sendiri, yang bisa mengarah kepada sesuatu kemusyrikan.

Juga kekuasaan-Nya misalnya memang mutlak semutlaknya, tetapi 'tidak' dalam segala hal, karena hal ini justru bisa mengurangi ataupun menghilangkan berbagai sifat-Nya lainnya (seperti: Maha adil, Maha memberi, Maha pengasih, dsb). Justru dalam segala hal di alam semesta ini terkandung 'semua' sifat-Nya pada Asmaul Husna, atau semua sifat-Nya itu bisa dipahami secara "tersebar" pada segala hal di alam semesta ini.

Dan tidak ada sesuatu kemuliaan pada segala sesuatu yang bertindak berlebihan atau melampaui batas (bahkan termasuk Allah sendiri).

Maka tindakan umat yang terlalu memaksakan penafsirannya tentang sesuatu sifat-Nya, juga bisa termasuk tindakan yang berlebihan. Dan hal ini dalam Al-Qur'an disebut sebagai "membantah tentang Allah tanpa dasar pengetahuan".

Padahal semua sifat-Nya juga bersifat gaib, sehingga hanya hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya yang bisa memahaminya (mau berusaha amat keras mempelajarinya).

Maka kemutlakan sesuatu sifat-Nya justru "tidaklah tampak jelas" dalam sesuatu hal, walaupun "ada" di dalamnya.

Hakekat wujud zat Allah adalah amat sangat berbeda dari segala zat ciptaan-Nya, dari segi 'esensi' maupun segala hasil perwujudan 'perbuatan'-Nya (yang bisa diketahui oleh manusia), bahkan termasuk amat sangat berbeda pula dari zat para makhluk gaib-Nya (hanya berbentuk ruh), yang juga sama-sama gaib.

Karena manusia masih bisa "mengetahui" (bukan "melihat") langsung "wujud asli" dari para makhluk gaib itu melalui interaksi "terang-terangan", seperti yang diketahui pernah dialami oleh beberapa nabi-Nya, ataupun oleh sejumlah amat terbatas manusia sampai sekarang.

Interaksi "terselubung" dengan para makhluk gaib-Nya pasti dialami oleh tiap manusia tiap saat sepanjang hidupnya, berupa segala bentuk bisikan-ilham-godaan (positif dan negatif) yang amat sangat halus dalam pikiran manusia, sehingga segala ilham itupun bahkan seolah-olah hanyalah berasal dari hasil pikiran manusianya sendiri.

Pada interaksi "terang-terangan", suara bisikan dalam pikiran manusia itu telah menjadi lebih "jelas", seperti suara manusia dari berbagai usia, jenis kelamin, bahasa, bangsa, dsb, sehingga manusia bisa berkomunikasi langsung dua arah dengan para makhluk gaib-Nya itu.

Sedangkan manusia mustahil bisa berbicara, dan apalagi melihat Allah di dunia ataupun di akhirat. Bahkan manusia mustahil bisa melihat ataupun memahami segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini.

Allah hanya bisa "dipahami" oleh manusia secara batiniah (melalui pikiran), hal inipun hanya sebagian amat sangat sedikit tentang 'perbuatan' Zat Allah di alam semesta ini, dan justru sama sekali bukan tentang 'esensi' Zat Allah.

Dan segala sesuatu zat atau hal yang gaib, pastilah tetap bersifat gaib (mustahil bisa memiliki wujud nyata-fisik-lahiriah yang bisa dilihat ataupun diraba).

Bahkan sifat-sifat yang diketahui oleh nabi Muhammad saw tentang Zat Allah, hanyalah "ada" (wujud) dan "Maha gaib atau Maha tersembunyi".

Makna sifat "wujud" dalam Al-Qur'an adalah "ada", bukan keberadaan "wujud lahiriah".

Segala gambaran lahiriah tentang hal-hal yang gaib di dalam Al-Qur'an, justru hanya berupa "contoh-perumpamaan", untuk bisa lebih memudahkan dalam menjelaskannya, seperti: Allah (tangan, mata, telinga, kursi, rumah, dsb), para makhluk gaib (pemuda, orang-tua, wanita, dsb), alam kubur, alam akhirat (Surga dan Neraka), dsb.

Pemakaian istilah hakekat "wujud zat Allah" pada buku ini sama dengan "Fitrah Allah" (sifat-sifat terpuji Allah), sama sekali bukanlah dipakai dalam konteks 'esensi' zat-Nya, tetapi hasil perwujudan berbagai 'perbuatan' zat-Nya, yang menunjukkan Fitrah Allah.

Hakekat kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya

Hakekat kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini adalah terwujud melalui aturan-Nya (sunatullah), berupa segala aturan atau rumus proses kejadian atas segala zat ciptaan-Nya, yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten) serta amat sangat jelas, teratur, alamiah, halus, tidak kentara dan seolah-olah terjadi begitu saja.

Sunatullah telah ditetapkan-Nya sebelum awal penciptaan alam semesta ini, dan telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya. Juga sama sekali tidak ada perubahan pada segala kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya di seluruh alam semesta ini (melalui sunatullah).

Hakekat berlakunya aturan-Nya (sunatullah) adalah pastilah sesuai (setimpal) dengan segala keadaan (lahiriah dan batiniah) tiap zat ciptaan-Nya (nyata dan gaib, hidup dan mati). Keadaan itu tentunya termasuk pula 'jenis' zat ciptaan-Nya (sesuatu 'jenis' zat ciptaan-Nya tentunya juga diatur oleh sesuatu 'kumpulan' sunatullah tertentu).

Hakekat takdir-Nya

Hakekat takdir-Nya adalah segala hasil akhir tiap saatnya yang ditentukan-Nya atas tiap zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini (nyata dan gaib, hidup dan mati), melalui berlakunya segala aturan atau rumus proses kejadian yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal' (atau sunatullah).

Sunatullah pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan 'awal' tiap saatnya (lahiriah dan batiniah), dari hasil usaha oleh tiap zat makhluk-Nya sendiri ataupun dari hasil pengaruh segala zat ciptaan-Nya lainnya di sekitarnya.

Sedang benda mati tidak bisa berbuat sesuatu untuk mengubah keadaannya (pasif).

Hanya 'sesaat' saja saat tiap usaha itu sedang dilakukan (belum tentu telah 'selesai' dilakukan), maka sunatullah justru langsung menentukan keadaan 'akhir' setiap saatnya sebagai balasan-Nya. Tiap keadaan 'akhir' setiap saatnya itu disebut pula sebagai takdir 'kecil' (qadla-Nya).

Maka takdir-Nya atau qadar-Nya tentang sesuatu hal pada sesuatu saat tertentu (atas manusia misalnya), adalah rangkaian tak-terhitung jumlah takdir-takdir kecil yang terjadi sejak manusia terlahir sampai pada saat tertentu tersebut.

Sedangkan tiap zat ruh manusia justru terlahir sama, yaitu sangat suci-murni dan tanpa dosa (keadaan awalnya sama).

Penyebutan takdir-Nya atas sesuatu hal, hanya benar atau tepat justru 'setelah' hal itu terjadi, bukan 'sebelumnya'. Allah tidaklah menentukan takdir-Nya bagi suatu makhluk, 'sebelumnya' terjadinya, tetapi justru hanya saat 'sedang' ataupun 'setelah' terjadinya.

Hakekat rejeki, jodoh dan kematian sebagai takdir-Nya (yang ditentukan-Nya) adalah hasil pertemuan "jalan hidup" seseorang dengan "jalan hidup" berbagai hal yang terkait.

Bahwa tiap zat ciptaan-Nya (bukan hanya makhluk-Nya, nyata dan gaib) bisa memiliki "jalan hidup"-nya masing-masing sepanjang usianya (rangkaian besar sunatullah yang dijalani). Tentunya "jalan hidup" dari berbagai ciptaan-Nya yang berlalu lalang di seluruh alam semesta ini, pada suatu saat ada yang bisa saling bertemu dan bersesuaian.

Hal semacam inilah makna dari takdir-Nya tentang jodoh, rejeki dan kematian. Padahal dengan sunatullah itulah ditentukan-Nya takdir-Nya bagi setiap zat ciptaan-Nya.

Pada pengertian jodoh secara umum, bahwa "jalan hidup" dua orang ataupun lebih yang saling bertemu, bersesuaian ataupun berjodoh (misalnya: sahabat, teman, dsb).

Begitu pula halnya jodoh dalam arti pasangan hidup (suami-istri).

Pada takdir-Nya mengenai rejeki, "jalan hidup" seseorang dan hartanya yang saling bertemu atau bersesuaian.

Sebaliknya pada takdir-Nya mengenai kematian makhluk nyata, justru "jalan hidup" ruh dan tubuh wadahnya yang telah tidak bisa bertemu atau tidak bisa bersesuaian lagi (diangkat atau dicabut-Nya zat ruhnya, atau dimatikan-Nya).

Hal inipun terjadi karena ada penyusutan internal pada tubuh secara alamiah (proses penuaan). Juga bisa terjadi karena ada pengaruh eksternal yang membinasakan tubuh (penyakit, kecelakaan, pembunuhan, dsb).

Hal ini berkebalikan dengan proses pada awal kehidupan makhluk nyata (ditiupkan-Nya zat ruhnya, atau dihidupkan-Nya).

Hakekat mu'jizat

Hakekat mu'jizat adalah hasil dari sesuatu ilmu-pengetahuan tertentu yang dimiliki oleh para nabi-Nya (lahiriah dan batiniah, secara sadar ataupun tidak), yang tampak relatif luar-biasa, terutama dari sudut pandang umat pada jaman terjadinya. Maka mu'jizat pada dasarnya hasil dari berlakunya berbagai sunatullah yang mereka pahami secara sadar (pengetahuan) ataupun tidak (pengalaman kebetulan).

Dengan ilmu-pengetahuan yang dimiliki oleh umat manusia modern sekarang, sebagian dari mu'jizat yang bersifat lahiriah pada para nabi-Nya terdahulu, justru tidak tampak luar-biasa lagi.

Jadi keluar-biasaan itu amat tergantung pada jamannya, selain dari kandungan hakekat mu'jizat (kebenaran-Nya secara lahiriah atau batiniah)

Sedang mu'jizat dari nabi Muhammad saw hanya kitab suci Al-Qur'an, yang merupakan mu'jizat yang paling besar di antara mu'jizat-mu'jizat para nabi-Nya. Dan hampir semua kandungan isi Al-Qur'an lebih bersifat batiniah. Bahkan hal-hal lahiriah yang disebut dalamnya (seperti: amalan, ritual ibadah, syariat, dsb), pada dasarnya hanyalah untuk mencapai tujuan-tujuan batiniah di baliknya.

Umat pada jaman nabi Muhammad saw telah jauh berkembang daripada umat para nabi lainnya, maka makin sulit bisa timbul kejadian-kejadian yang dianggap luar-biasa secara lahiriah oleh umat-umat Nabi.

Dan keluar-biasaan dari Al-Qur'an justru terletak pada keutuhan, kelengkapan, tidak saling bertentangan hikmah dan hakekat kebenaran-Nya pada seluruh isinya. Karena segala "hakekat" kebenaran-Nya justru berada pada alam batiniah (alam akhirat, yang hakiki dan kekal), bukan pada alam lahiriah (alam dunia, yang sangat semu dan fana).

Mu'jizat merupakan suatu tanda bahwa para nabi-Nya memiliki berbagai kelebihan dan keistimewaan dari segi keilmuan (lahiriah dan batiniah) dibandingkan umat manusia lain pada jamannya. Terutama mereka itu menunjukkan mujizatnya, agar umatnya mau pula mengikuti berbagai ajaran yang disampaikannya.

Mu'jizat juga sebenarnya bukanlah hal yang mistis-tahayul (sama sekali tidak memiliki penjelasan melalui intuisi-nalar-logika manusia).

Kesan mistis-tahayul justru hanya ada, karena relatif belum bisa atau sulit dijelaskan oleh tiap umat, termasuk karena tidak ada penjelasan selengkapnya dari para nabi-Nya itu sendiri, tentang "ilmu" atau "hakekat" di balik mu'jizat mereka.

Hakekat perbuatan manusia

Hakekat perbuatan manusia adalah perbuatan manusia yang sebenarnya, dan sama sekali bukanlah perbuatan Allah.

Hanya kehendak manusia sendirilah yang memulai, menciptakan atau memicu daya dan perbuatannya (pemakaian daya). Tetapi hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (Allah pasti selalu menyertai 'di belakang' tiap perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, sekaligus untuk memberi balasan-Nya.

Daya dan perbuatan Allah itu (melalui sunatullah) juga agar makin memudahkan tiap umat manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia (sebagai suatu rahmat-Nya).

Setiap perbuatan manusia pada dasarnya merupakan proses berusaha dan memilih (secara sadar atau tidak) berbagai keadaannya, agar berlalu berbagai sunatulah yang terpilih (secara sadar ataupun tidak) sesuai dengan keadaan yang telah diusahakannya itu, yang bisa mengantarkannya untuk memperoleh berbagai keadaan akhir yang lebih diinginkannya (sebagai balasan-Nya).

Setiap perbuatan manusia itu secara umum pada dasarnya semacam sesuatu hijrah (jika ke arah kebaikan), untuk bisa memilih nasibnya, atau memilih takdir-Nya baginya, daripada nasibnya atau takdir-Nya jika ia tidak melakukan usaha-usaha baru apapun.

Dan tiap perbuatan manusia setiap saatnya yang sekecil atau sesederhana apapun (sebesar biji zarrah), pada dasarnya pastilah mempengaruhi nasibnya setiap saat pula, ataupun pada akhir hidupnya.

Bahkan tiap perbuatan manusia juga bisa mempengaruhi alam semesta. Seperti setiap amal-perbuatan nabi Muhammad saw, yang telah menjadi contoh suri-teladan bagi umat manusia, selama berabad-abad ataupun bahkan sampai akhir jaman nanti.

Hakekat penciptaan makhluk nyata

Hakekat unsur-unsur elementer penyusun segala zat makhluk nyata (manusia, hewan, tumbuhan, sel, dsb) adalah sama, pada dasarnya hanya dari Atom-materi-benda (nyata dan mati) dan Ruh (gaib dan hidup). Elemen-elemen lebih lengkapnya lagi, yaitu: tanah, udara, air, energi dan ruh (semuanya juga hanya tersusun dari materi dan ruh).

Dan tanah adalah sumber utama berbagai unsur (atau atom) pembentuk tubuh wadah fisik-nyata-lahiriah bagi tiap makhluk hidup nyata.

Hakekat siklus proses penciptaan segala zat makhluk hidup nyata (manusia, hewan, tumbuhan, sel, dsb) adalah sama, yaitu dari tanah, hidup (ditiupkan-Nya ruh), tumbuh, mati (diangkat-Nya ruh) dan sampai kembali ke tanah.

Hakekat sel adalah makhluk hidup nyata terkecil, yang hidup berdiri-sendiri (bersel satu), ataupun sebagai penyusun makhluk nyata yang lebih kompleks (bersel banyak, seperti manusia) .

Benih tubuh sel berasal dari atom-atom, yang berturut-turut bereaksi (dengan dukungan udara, air, energi) membentuk zat-zat unorganik, membentuk zat-zat organik (zat-zat makanan), lalu suatu gabungan komposisi zat-zat organik tertentu bereaksi membentuk benih dasar tubuh makhluk nyata tertentu pula.

Dan pada tiap benih dasar tertentu ini ditiupkan-Nya jenis ruh tertentu pula, sehingga membentuk benih janin sel, dan tumbuh menjadi sel yang utuh, jika tetap mendapatkan makanan (zat-zat organik).

Tiap sel berkembang-biak dengan cara membelah diri. Maka jika sel itu terus tumbuh, ia akan membelah menjadi dua sel kembar. Proses pembentukan sel baru inipun pada dasarnya tetap serupa dengan pembentukan sel semula (gabungan komposisi zat-zat organik yang ditiupkan-Nya ruh)

Hakekat penciptaan Adam, pada dasarnya relatif serupa dengan penciptaan nabi Isa as, ataupun penciptaan semua manusia lainnya.

Hal yang berbeda hanyalah pada "tempat" dan "bagaimana" proses terjadinya sel janin tubuh mereka, dari hasil bercampurnya pasangan sel generatif (sel sperma dan sel indung telur).

Pada Adam, sel sperma dan sel indung telur itu justru terbentuk dan bercampur pada permukaan Bumi.

Pada nabi Isa as, sel indung telur terbentuk di dalam tubuh Maryam, sedangkan tidak diketahui asal sel spermanya, dan sel sperma dan sel indung telur itupun kebetulan bercampur dalam tubuh Maryam.

Pada manusia umumnya, sel sperma dan sel indung telur terbentuk di dalam tubuh masing-masing orang-tuanya, dan bercampur dalam tubuh ibunya.

Hakekat makhluk-Nya (zat, nilai dan kemuliaan)

Hakekat segala makhluk adalah pada ruhnya. Sedangkan tubuh lahiriahnya (pada tiap makhluk nyata) pada dasarnya hanya mengikuti segala perintah ruhnya (atau sesuai keadaan batiniah ruhnya). Apalagi pada makhluk gaib yang relatif tidak memerlukan tubuh lahiriah, untuk hidup sebagai makhluk utuh (relatif hanya ada ruh).

Hakekat nilai makhluk adalah pada segala amal-perbuatannya (pada proses berusaha dan hasil batiniahnya, bukanlah hasil lahiriahnya). Karena tiap perkataan dan perbuatan lahiriahnya pada dasarnya hanya perwujudan keadaan batiniah ruhnya (pengetahuan, pemahaman, keyakinan, keimanan, dsb) yang telah bisa diwujudkan atau diamalkan.

Dari segala zat makhluk ciptaan-Nya, relatif hanya manusia yang mengalami ujian-Nya setiap saat sepanjang hidupnya. Dan relatif hanya manusia yang tiap perbuatannya berdasarkan pada kehendaknya sendiri, dari kebebasannya yang telah diberikan-Nya (diciptakan-Nya akal dan nafsunya yang sempurna).

Selain manusia, tiap perbuatannya relatif hanya mengikuti perintah-Nya dan tidak mengalami ujian-Nya, sehingga amat tidak relevan untuk dinilai, karena nilai mereka di mata Allah, relatif bersifat konstan (mereka amat tunduk, patuh dan taat kepada-Nya).

Sedangkan nilai manusia di mata Allah, tergantung kepada perolehan kemuliaan yang diusahakannya sendiri.

Hakekat kemuliaan tiap manusia adalah hanya dapat diraihnya melalui segala amal-ibadahnya sepanjang hidupnya selama di dunia fana ini (segala amal-ibadah setelah kematiannya, tidak diterima-Nya lagi).

Dimulai dari keadaan ruhnya yang sangat suci-murni dan bersih dari dosa, sejak lahir sampai mencapai usia akil-baliq (telah memiliki dosa pertamanya). Dan sejak lahir itulah manusia ditempatkan-Nya pada kehidupan dunia-lahiriah-fana yang penuh kehinaan (dari air mani yang hina, dan memiliki nafsu yang bisa menghinakannya sendiri).

Jika tiap manusia bisa menjaga atau bahkan meningkatkan kemuliaannya sampai akhir hayatnya, di tengah-tengah terpaan berbagai bentuk ujian-Nya tiap saatnya sepanjang hidupnya, maka manusia bisa memiliki kemuliaan, yang lebih tinggi dari segala ciptaan-Nya lainnya. Dan sebaliknya juga bisa lebih hina, karena tidak bisa memanfaatkan segala nikmat-kelebihan yang diberikan-Nya dengan sebaik-baiknya.

Hakekat kemuliaan makhluk selain manusia adalah langsung diberikan-Nya sejak zat ruhnya diciptakan-Nya (sangat suci-murni dan bersih dari dosa).

Dan mereka itu selalu tinggal di Surga (bahkan juga iblis dan syaitan). Mereka pasti tunduk, patuh dan taat melaksanakan segala perintah-Nya atau tugas yang diberikan-Nya. Iblis dan syaitan justru ditugaskan-Nya untuk bisa menguji keimanan manusia.

Hakekat tugas para makhluk gaib

Hakekat tugas utama para makhluk gaib adalah memberikan pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah tiap saatnya kepada tiap manusia (berupa berbagai bisikan atau ilham dalam pikiran manusia, positif dan negatif). Di samping itu juga mendukung terciptanya alam semesta ini dan mendukung kehidupan manusia di dalamnya.

Bahkan iblis dan syaitan itu justru ditugaskan-Nya untuk menguji keimanan manusia, sebaliknya para malaikat untuk menambah keimanan manusia.

Segala persoalan kehidupan tiap manusia yang bersifat lahiriah dalam kehidupan dunia ini, pada dasarnya semuanya hanya akan berujung atau bermuara kepada hal-hal yang bersifat batiniah pada ruhnya sendiri.

Maka agama-Nya yang lurus sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya dalam mengatasi segala persoalan kehidupan manusia, justru hampir semua mengandung hal-hal yang bersifat batiniah.

Bahkan kekuasaan tiap manusia sebagai khalifah-Nya di dunia, justru berada pada alam batiniah ruhnya sendiri, dimana tiap manusia memiliki kebebasan dan otoritas sepenuhnya untuk bisa mengatur alam batiniah ruhnya (dengan akal dan nafsunya).

Maka pemahaman tentang para makhluk gaib justru menjadi sangat penting, karena di alam batiniah ruh tiap manusialah sebagian dari mereka bertugas. Sebagian bertugas merusaknya (jin, syaitan dan iblis) sebagai bentuk ujian-Nya, dan juga sebagiannya lagi bertugas memperbaikinya (para malaikat) sebagai bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya bagi tiap manusia.

Dengan kekuasaannya dalam mengatur alam batiniah ruhnya sendiri (membersihkan, mensucikan atau melayani ruhnya), maka manusia semestinya bisa mengatasi segala gangguan syaitan dan iblis. Maka manusia mestinya bisa mengatasi atau memikul pula segala beban ujian-Nya, ataupun bisa mengatasi segala persoalan kehidupannya.

Persoalannya, hal yang ideal itu relatif sangat sulit bisa dicapai oleh tiap manusia, tiap saatnya, karena tingkat keimanan manusia justru cenderung berubah-ubah.

Tetapi para nabi-Nya termasuk sebagian dari manusia yang bisa mencapainya (memiliki keimanan yang amat tinggi), dengan melalui usaha yang relatif amat sangat keras pula (dalam mencapai berbagai pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang amat mendalam, sekaligus pengamalannya yang amat konsisten).

Hakekat ketundukkan (sujudnya) para makhluk gaib kepada manusia

Hakekat mau bersujudnya para malaikat kepada Adam (manusia) adalah suatu simbol pengajaran dan tuntunan-Nya yang disampaikannya, yang justru bisa menguntungkan manusia (khalifah-Nya).

Tinggal usaha dan pilihan tiap manusia sendiri sepenuhnya, agar mau memahami dan mengamalkannya (memperoleh hidayah-Nya).

Selain dari hal-hal di atas, para malaikat juga ditugaskan-Nya untuk mendukung tegak-kokohnya alam semesta ini, yang semuanya pada akhirnya juga agar bisa mendukung kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.

Tanpa mereka, manusia pastilah tersesat kehilangan arah dalam menghadapi segala ujian-Nya, karena manusia mustahil bisa memahami tiap kebenaran-Nya, jika tanpa segala bisikan-ilham yang mengandung nilai-nilai kebaikan atau kebenaran (positif), dari mereka.

Hakekat tidak mau bersujudnya iblis kepada Adam (manusia) adalah simbol kesesatan yang dibawanya, yang justru bisa sangat merugikan tiap manusia (atau membinasakan, merusak, menghinakan atau mengurangi kemuliaannya, dsb).

Tetapi tinggal usaha dan pilihan tiap manusia sendiri sepenuhnya, untuk menolak atau menghindarinya (memperoleh hikmah-Nya).

Bahkan tanpa iblis dan syaitan itu segala ujian-Nya bagi manusia pasti tidak akan bisa berjalan, karena mereka adalah aktor utama pemberian ujian-Nya (secara batiniah ataupun lahiriah). Segala ujian-Nya secara lahiriah itu, pada akhirnya pasti semuanya bermuara pada persoalan batiniah dalam ruh manusianya sendiri.

Tanpa mereka pula, manusia mustahil bisa memahami berbagai peringatan-Nya (atau berbagai keburukan yang perlu diwaspadai dan dihindari), dari hasil pengaruh segala bisikan-ilham mereka yang mengandung nilai-nilai keburukan atau kesesatan (negatif).

Hakekat ujian-Nya

Hakekat ujian-Nya adalah segala hasil pengaruh dari hasil interaksi segala zat-zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini (langsung ataupun tidak, lahiriah dan batiniah).

Ujian-Nya justru bukanlah berasal dari hasil pengaruh langsung daya dan perbuatan-Nya, karena manusia mustahil mampu menghadapinya.

Sedang beban ujian-Nya itu mestinya mampu dipikul oleh tiap umat manusia, karena segala beban ujian-Nya (lahiriah atau batiniah) pada dasarnya berada pada aspek batiniah pada tiap ruh manusianya sendiri. Padahal tiap manusia memiliki kekuasaan dan otoritas sepenuhnya untuk bisa mengatur alam batiniah ruhnya sendiri.

Walaupun bukan langsung dari Allah, balasan-Nya (beban dosa dan pahala-Nya) atas tiap amal-perbuatan manusia, yang dilakukan dalam keadaan sedang mengalami ujian-Nya, beban ujian-Nya itu justru pasti dipertimbangkan-Nya dalam menentukan nilai amalannya, sebagai perwujudan dari sifat-Nya, Yang Maha adil dan Maha penyayang.

Karena ujian-Nya itu adalah bagian dari kehendak atau rencana-Nya dalam penciptaan alam semesta, untuk bisa menguji keimanan manusia.

Nilai amalan itu juga bersifat absolut dan batiniah, yang hanya hak Allah Yang Maha mengetahuinya, bahkan para nabi-Nya hanya bisa memahami secara 'relatif' saja.

Hakekat ujian-Nya adalah relatif hanya dialami oleh manusia, sedangkan segala zat ciptaan-Nya lainnya pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah atau anjuran-Nya (dan selalu tinggal di Surga).

Nafsu mereka relatif sangat stabil, atau sama sekali tidak ada keinginan mereka untuk menentang satupun perintah-Nya. Dan keinginan mereka itupun hanyalah dipakai untuk mengabdi dan melaksanakan segala perintah-Nya.

Padahal segala pengaruh ujian-Nya hanya bisa memiliki efek kepada zat makhluk-Nya yang memiliki nafsu yang tidak stabil (seperti pada manusia). Maka ringkasnya, segala ciptaan-Nya selain manusia pasti tidak mengalami ujian-Nya.

Contoh sederhananya, tiap umat manusia tiap saatnya sepanjang hidupnya pasti memperoleh ilham-ilham positif dan negatif secara amat seimbang. Dengan kata lain, para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis) pasti selalu melaksanakan tugasnya untuk memberikan pengajaran dan ujian-Nya kepada manusia secara batiniah. Padahal mereka juga selalu melaksanakan segala urusan Allah di alam semesta. Sebaliknya hal itu hanya kadang-kadang saja terjadi, jika nafsu-keinginan pada para makhluk gaib itu justru tidak stabil, serta pengajaran dan ujian-Nya itu mustahil bisa berjalan efektif.

Hampir semua jenis hewan bisa dikendalikan atau ditundukkan oleh manusia (terutama pawang hewan), karena tingkah laku hewan cukup mudah dipahami (nafsunya stabil, atau hanya mengikuti nalurinya saja).

Singa juga tidak bernafsu lagi memangsa korbannya, jika perutnya telah kenyang.

Hakekat "Allah mustahil akan memberi beban ujian-Nya yang tidak mungkin dipikul oleh manusia" adalah karena kekuasaan manusia sebagai khalifah-Nya, sesungguhnya justru berada pada aspek batiniah, dimana manusia berkuasa dan bebas berkehendak sepenuhnya untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

Walau jin, syaitan dan iblis, memang tiap saatnya justru selalu menggoda keimanan manusia, terutama dengan mempermainkan nafsunya.

Sedang pada aspek lahiriah, kekuasaan manusia memang amat terbatas.

Padahal makna "beban" itu pada dasarnya lebih terkait dengan aspek batiniah, yaitu tingkat terhambat atau tidak terpenuhinya hawa nafsu-keinginan duniawi.

Dengan mengatur alam batiniah ruhnya sendiri, tiap manusia justru mestinya bisa meringankan beratnya beban ujian-Nya yang dirasakannya, terutama dengan membina sikap-sikap, seperti: sabar, ikhlas, tawakal dan syukur.

Sehingga nafsu-keinginan duniawinya bisa menjadi lebih tenang atau lebih stabil, dan terutama semestinya tidak berlebihan atau tidak melampaui batas (tidak melakukan kezaliman kepada diri sendiri ataupun orang-lain), agar tidak tertimpa azab-Nya.

Hakekat hubungan akal dan wahyu-Nya

Hakekat akal adalah satu-satunya alat pada manusia (termasuk para nabi-Nya) untuk mengolah dan menilai segala sesuatu hal (data, informasi, keterangan, ucapan, fakta atau kenyataan, dsb) yang telah bisa ditangkap oleh semua alat indera lahiriah dan batiniahnya (mata, telinga, lidah, hidung, kulit, kalbu, dsb).

Akal termasuk pula untuk menilai pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah dari para makhluk gaib (segala bentuk ilham-bisikan positif-benar-baik dan negatif-sesat-buruk).

Hasil pemahaman manusia atas pengajaran-Nya dari para malaikat (terutama malaikat Jibril), disebut "hidayah-Nya". Sedangkan pemahaman yang berupa pelajaran potitif atas ujian-Nya dari syaitan dan iblis, disebut "hikmah-Nya".

Hakekat wahyu-Nya adalah serupa dengan hikmah dan hidayah-Nya yang juga bisa diperoleh manusia umumnya, sebagai hasil pemahaman atas tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), dengan menggunakan akalnya.

Tetapi tiap hikmah dan hidayah-Nya justru hanya bisa disebut dengan wahyu-Nya, jika seluruh hikmah dan hidayah-Nya yang telah diperoleh seseorang (terutama para nabi-Nya), telah tersusun dengan relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan atas keseluruhan pemahaman di dalamnya.

Disebut konsisten, karena tiap pemahamannya tidak terus bergoyang atau tidak terus berubah-ubah, terutama karena segala dalil-alasannya telah relatif kokoh-kuat. Juga tiap pemahamannya sesuai dengan keadaan alam nyata, sehingga bisa diamalkan.

Disebut lengkap, karena meliputi berbagai pengajaran dan tuntunan-Nya untuk bisa mengatasi segala persoalan kehidupan umat ataupun seluruh umat manusia, terutama atas hal-hal yang mendasar dan hakiki (seperti: ketuhanan, tujuan kehidupan dunia, jalan-Nya yang lurus yang mestinya diikuti sebagai keredhaan-Nya bagi manusia, dsb).

Disebut utuh dan tidak saling bertentangan, karena tidak satupun pemahaman itu yang tidak mengandung kebenaran-Nya dan saling terkait, sekaligus tiap pemahamannya saling bersesuaian dengan berbagai pemahaman lainnya, secara keseluruhan.

Hakekat akal dan wahyu-Nya adalah pada dasarnya tidak akan saling bertentangan, jika akal tiap manusia (di luar para nabi-Nya) dipakai secara amat obyektif (berdasarkan fakta-kenyataan yang sebenarnya, yang digunakan secara apa adanya, tidak ditambah atau dikurangi).

Hakekat nabi-Nya dan kenabiannya adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi (ilmu lahiriah dan terutama ilmu batiniah) dan sangat arif-bijaksana yang terlahir atau muncul secara alamiah di antara kalangan kaumnya sendiri.

Dengan usaha yang amat sangat keras dan dengan akalnya, mereka bisa memahami amat banyak ataupun lengkap hikmah dan hakekat tentang penciptaan alam semesta (memperoleh hikmah dan hidayah-Nya).

Seluruh perolehan mereka (kenabian) bersifat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, yang amat sulit dicapai oleh manusia biasa umumnya.

Dan tiap hikmah dan hidayah-Nya mereka disebut sebagai wahyu-Nya.

Hakekat nabi, kitab dan agama-Nya

Hakekat pembenaran dalam agama Islam atas semua nabi, kitab dan agama-Nya adalah kesamaan dasar semua ajaran para nabi-Nya.

Setiap manusia (termasuk para nabi-Nya) justru hanya melihat alam semesta (tanda-tanda kekuasaan-Nya) yang sama. Dengan sendirinya pada tiap tataran 'hikmah dan hakekat'-nya ajaran-ajaran mereka pada dasarnya sama pula, dari hasil pemahaman mereka yang amat mendalam atas tanda-tanda kekuasaan-Nya itu.

Pada dasarnya para nabi-Nya adalah orang-orang yang amat berilmu tinggi dan amat arif-bijaksana pada jamannya, yang terlahir dan muncul secara alamiah di antara kalangan kaumnya sendiri.

Dengan akalnya, mereka telah berusaha amat sangat keras, untuk memahami secara amat mendalam tentang penciptaan alam semesta dan tujuannya.

Lalu mereka menyampaikan berbagai hasil pemahamannya itu kepada umat kaumnya (menyampaikan pengajaran dan tuntunan-Nya), untuk bisa mengatasi segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umat, terutama yang paling mendasar dan hakiki.

Secara alamiah pula, perbedaan antar para nabi-Nya hanya pada kelengkapan dan kedalaman pemahamannya, sesuai dengan keadaan perkembangan jamannya.

Dengan keyakinan umat Islam, bahwa nabi Muhammad saw, Al-Qur'an dan Islam adalah nabi, kitab dan agama-Nya yang terakhir, dengan sendirinya ajaran-ajaran dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi juga merupakan pengajaran dan tuntunan-Nya yang paling lengkap, sempurna, lurus dan benar.

Dan tiap proses diturunkan-Nya semua nabi, kitab dan agama-Nya itu adalah proses yang sangat alamiah.

Serupa seperti proses kemunculan para ilmuwan modern, ketika menyampaikan rumus atau teori baru hasil temuannya (biasanya dalam ilmu-ilmu lahiriah).

Sedangkan para nabi-Nya itu justru menemukan rumus-rumus batiniah secara lengkap, tentang hakekat kehidupan umat manusia (rumus kehidupan), dengan segala aspeknya yang sangat luas (seperti disebut dalam Al-Qur'an).

Hakekat Isra' mi'raj dan "kembali" ke hadapan 'Arsy-Nya

Hakekat 'kembali' dekat ke hadapan 'Arsy-Nya adalah kembalinya tiap ruh manusia ("keadaan batiniah" ruh dan "zat" ruh) ke hadirat Allah Yang menciptakan ruh.

Ada dua macam "kembali", yaitu: "keadaan batiniah" ruh dan "zat" ruh, yang menuju ke hadapan 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung.

Telah dijanjikan-Nya, bahwa di Hari Kiamat tiap manusiapun dikumpulkan-Nya langsung atau kembali ke hadapan 'Arsy-Nya, untuk dimintai-Nya pertanggung-jawaban dan diberikan-Nya keputusan akhir atas segala amal-perbuatan masing-masing selama di kehidupan dunianya.

Sehingga 'kembali' di sini bersifat memaksa dan bertujuan sebagai pembuktian akhir atas segala kebenaran-Nya, sekaligus pemberian hasil akhir atas proses penggodokan manusia di dunia.

Dan di sini, "zat" ruh yang kembali, yang berkebalikan dari proses diturunkan-Nya ruh (ditiupkan-Nya ruh atau dihidupkan-Nya manusia).

"Kembali" di Hari Kiamat itu berbeda dari "kembali" pada saat manusia masih hidup di dunia. Di mana "kembali" yang terakhir ini memiliki pengertian tentang kesadaran manusia untuk bisa lebih mengenal-Nya dan lebih dekat kepada-Nya, dengan berusaha mengikuti berbagai ajaran agama-Nya yang lurus.

Di sini, "keadaan batiniah" tiap ruh yang kembali, karena memang sengaja dipersiapkan untuk bisa menghadapi "kembali" di Hari Kiamat di atas.

Hakekat Isra' mi'raj adalah puncak perjalanan batiniah-moral-sprituil yang amat luar biasa, yang pernah dilakukan oleh nabi Muhammad saw.

Pada dasarnya perjalanan Isra' mi'raj itu merupakan contoh bentuk kembalinya ruh ("keadaan batiniah" ruh, bukan "zat" ruh) dekat ke hadapan 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung.

Zat ruh "kembali" hanya terjadi pada Hari Kiamat kecil (kematian).

Keadaan batiniah Nabi pada saat peristiwa Isra' mi'raj itu adalah keadaan yang telah mencapai tingkat pemahaman yang amat sangat tinggi tentang berbagai kebenaran-Nya.

Nabi bisa memahami dengan amat jelas, misalnya: keadaan kehidupan akhirat di Surga dan di Neraka, ketaqwaan dan ibadah para nabi-Nya lainnya, syariat shalat, dsb.

Bahkan Nabi bisa berada sangat dekat ke 'Arsy-Nya (atau bisa memahami dengan sangat jelas berbagai hakekat atau cahaya kebenaran-Nya), sehingga Nabi diliputi oleh "cahaya-Nya yang amat sangat terang".

Hal itu tercapai karena berbagai pondasi akhlak dan budi-pekerti Nabi yang sangat terpuji dan lengkap, yang terbentuk sepanjang hidupnya.

Sehingga keadaan batiniah ruhnya ("cermin batinnya"), menjadi sangat bersih dan bisa memantulkan dengan sangat jelas berbagai cahaya kebenaran-Nya.

Sehingga dari seringnya Nabi bertafakur (terutama di gua Hira), Nabi makin banyak dan mendalam memahami berbagai kebenaran-Nya, dan puncak perolehan pemahaman Nabi dari segala usaha bertafakurnya adalah peristiwa Isra' mi'raj tersebut.

Hakekat Hari Kiamat

Hakekatnya Hari Kiamat ada dua macam, yaitu Hari Kiamat "kecil" (kematian pada tiap manusia) dan Hari Kiamat "besar" (akhir jaman atau kehancuran seluruh kehidupan di dunia atau di Bumi).

Semua proses pada Hari Kiamat "kecil" dan Hari Kiamat "besar" itu yang disebut dalam Al-Qur'an, pada dasarnya sama.

Hal yang justru berbeda hanya pada tingkat kegoncangannya yang terjadi dan juga jumlah manusia yang meninggal. Kegoncangan pada Hari Kiamat "besar" lebih besar, selain karena ada kegoncangan seperti pada Hari Kiamat "kecil", berupa kegoncangan pada ruh secara batiniah (walau relatif tidak terasa bagi orang-orang yang beriman).

Juga pada Hari Kiamat "besar" terdapat kegoncangan secara lahiriah, yaitu berakhirnya seluruh kehidupan manusia di dunia.

Hakekat kebangkitan nabi Isa as di Hari Kiamat

Hakekat dibangkitkan-Nya hidup kembali nabi Isa as di Hari Kiamat (bukan "sebelum" atau "mendekati" akhir jaman) adalah persis sama dengan proses kebangkitan semua manusia lainnya.

Kebangkitan nabi Isa as itu secara khusus disebut dalam Al-Qur'an, selain karena ia bertindak sebagai saksi atas umat-umatnya di Hari Kiamat, seperti halnya semua nabi-Nya lainnya. Lebih khususnya lagi, karena ada sebagian dari umatnya yang telah menyekutukannya dengan Allah.

Padahal selain Allah, tidak ada sesuatupun yang mengetahui waktu kedatangan Hari Kiamat ataupun akhir jaman (bahkan termasuk para nabi-Nya sekalipun).

Padahal umur alam semesta ini diperkirakan telah milyaran tahun, dan umur kehidupan manusia telah ribuan tahun. Dengan sendirinya, kehancuran dunia (akhir jaman) barangkali masih ratusan ribu tahun lagi atau bahkan lebih. Sedang usia rata-rata manusia sekarang hanya sekitar 0 s/d 100 tahun.

Maka kedatangan Hari Kiamat ataupun akhir jaman itupun amat tidak relevan (bahkan mustahil) untuk "ditunggu-tunggu", karena waktunya saja memang tidak jelas, ataupun masih amat sangat lama (pada akhir jaman).

Padahal kebangkitan nabi Isa as "pada saat" Hari Kiamat, yang disebut dalam Al-Qur'an, bukan saat "sebelum" atau "mendekati" akhir jaman.

Maka kebangkitan nabi Isa as itu memang bukanlah hal yang istimewa dan apalagi perlu "ditunggu-tunggu".Bahkan Hari Kiamat itu pada dasarnya suatu Hari Kiamat 'kecil' pada nabi Isa as sendiri.

Hakekat Imam Mahdi adalah tidak ada.

Pemahaman tentang Imam Mahdi pada dasarnya hanya karena kekeliruan pemahaman atas kebangkitan hidup kembali nabi Isa as pada saat Hari Kiamat (bukan "sebelum" atau "mendekati" akhir jaman) yang disebut dalam Al-Qur'an.

Sehingga seolah-olah harus ada tokoh dari kalangan umat Islam sendiri (Imam Mahdi itu), untuk dapat "menyaingi" kebangkitan nabi Isa as tersebut (yang lebih dianggap sebagai "milik" umat Nasrani atau Kristiani). Juga untuk bisa menyaingi kemenangan umat Nasrani di akhir jaman.

Hakekat kehidupan akhirat (termasuk Surga dan Neraka)

Hakekat tujuan akhir kehidupan tiap manusia adalah pada kehidupan akhirat di Surga atau Neraka setelah Hari Kiamat, yang bersifat gaib-batiniah dan kekal (kehidupan batiniah ruh manusia), bukan pada kehidupan dunia, yang nyata-lahiriah dan fana.

Hakekat Surga dan Neraka adalah keadaan-keadaan pada alam batiniah ruh makhluk-Nya (atau alam akhirat yang gaib), yaitu keadaan yang bersih dari dosa (atau dosa-dosa telah dimaafkan dan dihapuskan-Nya), dan keadaan yang mengandung dosa (atau ada dosa yang sulit dimaafkan dan dihapuskan-Nya, terutama dosa-dosa besar).

Maka "sarana-prasarana" Surga dan Neraka telah ada bersama adanya ruh. Kehidupan di Surga dan Neraka bagi tiap makhluk-Nya, akan kekal jika ruh itu sendiri tetap kekal sejak diciptakan-Nya pada awal penciptaan alam semesta. Sedang janji-Nya sendiri dalam Al-Qur'an, bahwa kehidupan di Surga dan Neraka itu tetap kekal setelah Hari Kiamat kecil, ataupun setelah akhir jaman (Hari Kiamat besar).

Kesempurnaan hukuman-Nya di Neraka dan terutama nikmat-Nya di Surga, amat sulit dibayangkan atau amat tidak sesuai, jika kehidupan di Surga dan Neraka itu serupa dengan kehidupan dunia-nyata-lahiriah seperti saat sekarang. Padahal kehidupan di dunia ini penuh dengan segala kehinaan, kekurangan dan keterbatasan.

Padahal hakekat makhluk ada pada ruhnya.

Padahal kesempurnaan di atas lebih masuk akal, jika makhluk berada dalam bentuknya yang paling sederhananya (ruh, yang gaib), termasuk kehidupan batiniah ruh yang amat tak-terbatas dalam segala aspeknya.

Bahwa sejak diciptakan-Nya, keadaan setiap ruh masih sangat suci-murni dan bersih dari dosa. Maka Adam dan Iblis langsung tinggal di Surga, pada awal penciptaan alam semesta. Dan mereka "otomatis" terusir dari Surga, ketika mereka telah melakukan dosa pertamanya masing-masing (melanggar perintah-Nya untuk tidak memakan buah pohon khuldi, ataupun membangkang perintah-Nya untuk bersujud kepada Adam).

Maka makna "Adam terusir dari Surga", bukanlah "Sosok tubuh Adam pindah dari Surga ke dunia (Bumi)". Tepatnya nilai kemuliaan Adam yang telah menurun.

Dosa pertama Adam itu terjadi pada saat ia telah mencapai usia akil-baliqnya (seperti halnya semua manusia lainnya), serta saat itu "tubuh" Adam telah mulai dewasa dan justru telah berada di dunia.

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s