Lampiran D.E Perbandingan aliran E

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

E.

Kesimpulan perbandingan antar aliran-aliran

Pemahaman pada aliran Mu'tazilah vs pada buku ini

Ada hal-hal cukup menarik, khususnya pada aliran Mu'tazilah dan aliran Qadariah, jika dibandingkan dengan hasil pemahaman pada pembahasan buku ini, seperti yang diungkap pada tabel berikut.

Beberapa perbedaan antara pemahaman pada
aliran Mu'tazilah, dan pemahaman pada buku ini

No

Aliran Mu'tazilah

Pembahasan buku ini

1.

Hukum alam / Sunnah Allah (sunatullah) diciptakan oleh Allah.

Sunnah Allah (sunatullah atau aturan-Nya) diciptakan atau ditetapkan oleh Allah, sejak sebelum awal penciptaan alam semesta.

Sunatullah juga salah-satu dari ketetapan-Nya, yang telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya.

2.

Hukum alam "sama dengan" Sunnah Allah (sunatullah).

Hukum alam hanya "sebagian" dari wujud Sunnah Allah (sunatullah).

Karena hukum alam hanya meliputi aspek lahiriah saja, sementara sunatullah meliputi aspek lahiriah dan batiniah.

3.

Hukum alam / Sunnah Allah (sunatullah) hanya meliputi aspek "lahiriah".

Hukum alam memang hanya meliputi aspek "lahiriah" saja, sementara Sunnah Allah (sunatullah) meliputi aspek "lahiriah dan batiniah".

4.

Hukum alam tidak bisa berubah-ubah.

Hukum alam ataupun Sunnah Allah (sunatullah) tidak berubah-ubah (kekal), sejak awal penciptaan alam semesta ini sampai akhir jaman.

5.

Kebebasan dan kekuasaan manusia dibatasi oleh hukum alam

Kebebasan dan kekuasaan manusia (lahiriah dan batiniah), dibatasi atau diliputi oleh sunatullah.

Kehendak (kebebasan dan kekuasaan) manusia dibatasi atau diliputi oleh kehendak Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui sunatullah, yang tidak berubah-ubah (kekal).

Namun kehendak Allah terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak bersinggungan sedikitpun dengan kebebasan manusia dalam mengatur kehidupannya (bebas tetapi terbatas).

6.

Hukum alam pada hakekatnya adalah kehendak dan kekuasaan Allah, yang tidak bisa dilawan dan ditentang oleh manusia.

Hukum alam / Sunnah Allah (sunatullah) bersifat 'mutlak' (pasti terjadi).

Sunatullah pada hakekatnya adalah perwujudan dari segala kehendak dan kekuasaan Allah di alam semesta ini, yang tidak bisa dilawan dan ditentang oleh manusia.

Segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini pasti tunduk kepada sunatullah (aturan-Nya).

Sunatullah (aturan-Nya) bersifat 'mutlak' (pasti terjadi).

7.

Proses pada hukum alam / Sunnah Allah (sunatullah) "bukan" hasil perbuatan-Nya.

Segala proses pada sunatullah adalah "bentuk perwujudan" dari segala kehendak, aturan, tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta.

8.

Perbuatan, kehendak atau kekuasaan-Nya di alam semesta, "dibatasi" oleh sunatullah.

Sunatullah memang "bentuk perwujudan" dari kehendak dan kekuasaan-Nya di alam semesta.

Kehendak dan kekuasaan-Nya "tidak bertentangan dan tidak dibatasi" oleh sunatullah.

9.

Kehendak dan kekuasaan Allah bersifat 'tidak mutlak semutlak-mutlaknya' (dibatasi oleh sunatullah).

Kehendak dan kekuasaan Allah bersifat 'mutlak semutlak-mutlaknya' (sama sekali tidak dibatasi oleh sunatullah). Kehendak dan kekuasaan Allah memang 'melalui atau mengikuti' sunatullah.

10.

Akal manusia mempunyai daya yang besar, serta manusia bebas dan berkuasa atas tiap kehendak dan perbuatannya.

Wilayah kebebasan manusia dalam berkehendak dan berbuat memang 'bukan' hal yang diatur melalui sunatullah, walau dibatasi atau diliputinya.

Kebebasan itu justru sengaja diberikan-Nya kepada tiap manusia dengan diciptakan-Nya 'akal' dan 'nafsu', agar ia bisa mencari dan mengenal Allah, Yang telah menciptakannya, lalu agar bisa mengikuti jalan-Nya yang lurus untuk bisa kembali ke hadapan-Nya, dengan mendapat kemuliaan.

 

Dari tabel di atas, cukup jelas adanya pemahaman pada aliran Mu'tazilah itu sendiri yang saling bertentangan, misalnya pernyataan "Hukum alam pada hakekatnya adalah kehendak dan kekuasaan Allah, yang tidak bisa dilawan dan ditentang oleh manusia.", "kehendak dan kekuasaan-Nya tidak mutlak semutlak-mutlaknya", ataupun "manusia berkuasa atas kehendak dan perbuatannya sendiri".

Padahal bagaimanapun besarnya kekuasaan manusia, ia tetap dibatasi oleh hukum alam, sedangkan hukum alam itu sendiri adalah kehendak dan kekuasaan-Nya. Maka kebebasan atau kekuasaan pada manusia di dalam berbuat, pada dasarnya tidak mengurangi sedikitpun kemutlakan kehendak dan kekuasaan-Nya (melalui hukum alam).

Sehingga kemutlakan kehendak dan kekuasaan-Nya itu tidak berarti bahwa tidak boleh ada sesuatu hal selain Allah, yang memiliki kebebasan ataupun kekuasaan (seperti pada manusia, dengan akalnya). Justru kemutlakan kehendak dan kekuasaan-Nya itu tidak berkurang sedikitpun, karena kebebasan ataupun kekuasaan yang memiliki oleh sesuatu hal selain Allah, justru pasti diliputi dan pasti tunduk di bawah pengaruh kehendak dan kekuasaan-Nya (melalui sunatullah).

Ringkasnya, segala zat makhluk-Nya pada dasarnya hanyalah 'bebas memilih-milih' berlakunya berbagai sunatullah tertentu, yang hasilnya lebih diharapkannya. Melalui segala perbuatannya, segala zat makhluk-Nya justru hanya 'berpindah-pindah' dari suatu sunatullah ke sunatullah lainnya. Dan segala kekuasaan pada zat makhluk-Nya pada dasarnya semata-mata hanya 'memanfaatkan' kekuasaan-Nya (melalui sunatullah lahiriah dan batiniah).

Segala kebebasan dan kekuasaan yang memiliki oleh sesuatu hal selain Allah, justru pasti hanya bersifat 'relatif' (tidak 'mutlak'). Kebebasan dan kekuasaan pada tiap manusia dalam berkehendak dan berbuat, memang telah sengaja diberikan-Nya (dengan diciptakan-Nya akal dan nafsu, pada zat ruh tiap manusia).

Hal ini bahkan diperkuat pula oleh pernyataan, bahwa "hukum alam ataupun Sunnah Allah (sunatullah) tidak berubah-ubah (kekal)". Tentunya persinggungan antara kebebasan dan kekuasaan manusia itu dengan kekuasaan-Nya justru mustahil bisa terjadi, bahkan mustahil bisa dibandingkan dan dihubungkan. Kentara sekali, aliran Mu'tazilah justru tidak mencermati adanya perbedaan antara 'mutlak yang kekal' dan 'mutlak yang tak-kekal', seperti yang diuraikan di bawah.

Sifat mutlak yang 'kekal' dan yang 'tak-kekal'

Ada hal penting yang justru telah dilupakan oleh ke semua aliran di atas, yang telah amat menimbulkan kerancuan, yaitu tentang kata sifat "mutlak" (absolut, berdaya paksa, pasti berlaku atau terjadi, dsb). Serupa halnya dari kerancuan pemahaman atas kemutlakan sifat-sifat-Nya, yang justru telah dipaksakan dan disalah-terapkan (terutama dianggap 'mutlak semutlaknya' pada segala hal dan segala aspeknya), tanpa dipisahkan antara peran Allah dan peran segala makhluk-Nya.

Sesuai konteksnya dalam hal ini, sifat "mutlak" dibagi menjadi dua macam, yaitu:

Perbedaan antara sifat mutlak yang 'kekal' dan 'tak-kekal'

Mutlak, yang bisa berubah-ubah tiap saatnya (tak-kekal).

Sifat mutlak semacam ini dimiliki oleh para raja, kepala negara atau pemimpin, yang berlaku diktator kepada rakyatnya ataupun orang-orang yang dipimpinnya.

Secara manusiawi, kediktatoran ini selain hanya bisa terjadi dalam berbagai hal dan waktu tertentu saja, terutama ketika perasaan sang raja sedang tidak senang terhadap sesuatu hal. Juga hanya bisa terjadi ketika sesuatu hal yang tidak disenangi oleh sang raja itu, justru berada dalam pengetahuan sang raja (secara langsung ataupun tidak).

Sedangkan di luar pengetahuan sang raja, rakyatnya dengan relatif bebas bisa berbuat apa saja, tanpa mendapat hukuman dari sang raja.

Mutlak, yang tidak berubah-ubah (kekal).

Sifat mutlak semacam ini hanya dimiliki oleh Allah, Tuhannya semesta alam Yang Maha Esa dan Maha kekal.

Alam semesta ini memang sengaja diciptakan oleh Allah, atas kehendak Allah sendiri, sehingga segala sesuatu hal yang akan terjadi di alam semesta ini justru mustahil bisa berada di luar perkiraan Allah, Yang Maha merencanakan segala sesuatu halnya dan Maha Sempurna.

Termasuk Allah pasti telah memperkirakan, kemungkinan adanya manusia yang tidak beriman ataupun yang kafir, dengan telah diciptakan-Nya akal dan nafsu pada tiap manusia.

Maka kekafiran manusia itupun justru bukan hal yang penting bagi Allah (sama sekali tidak sedikitpun mempengaruhi Allah). Bahkan jika seluruh manusiapun berbuat kafir, Allah pasti tetap berada dalam segala kemuliaan dan keagungan-Nya.

Tentunya manusia yang berbuat kafir, pasti dihukum-Nya di dunia dan di akhirat.

Sehingga istilah 'disukai ataupun tidak disukai' (diredhai ataupun tidak diredhai) oleh Allah atas amal-perbuatan manusia dalam Al-Qur'an, sama-sekali tidak relevan bagi Allah, tetapi hanya relevan bagi manusia. Lebih jelasnya, kesukaan atau keredhaan-Nya itu justru sama sekali bukan demi kepentingan Allah sendiri, Yang Maha tidak memerlukan segala sesuatu halnya, tetapi justru demi kepentingan dan kemuliaan manusia itu sendiri, serta sama sekali tidak berpengaruh kepada Allah.

Hal itu sekedar agar manusia juga ikut menyukai segala hal yang disukai oleh Allah, sekali lagi demi kepentingan dan kemuliaan manusianya sendiri.

Juga Allah Yang Maha mengetahui segala keadaan ataupun kejadian pada segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini (sebesar biji zarrah sekalipun). Mustahil ada sesuatu hal yang berada di luar pengetahuan dan pengawasan-Nya.

Maka tiap manusia juga pasti mendapat balasan-Nya atas tiap amal-perbuatannya.

 

Dari hal-hal di atas telah bisa disimpulkan, tidak ada sesuatu alasan yang bisa membuktikan, bahwa Allah adalah Maha raja yang bersifat diktator. Tidak ada sesuatu kesamaan sifat antara Allah dan seorang raja yang bersifat diktator. Di samping tentunya, mustahil bisa membandingkan antara kekuasaan Allah dan segala zat ciptaan-Nya.

Kalaupun Allah ada berlaku 'diktator', justru hanya pada saat sebelum diciptakan-Nya alam semesta (termasuk belum ada manusia). Di mana Allah menetapkan segala sesuatu halnya, dalam rencana-Nya bagi penciptaan seluruh alam semesta. Dengan sekehendak-Nya, Allah menetapkan atau memutuskan segala sesuatu hal yang dikehendaki-Nya, dan menghapus segala sesuatu hal yang tidak dikehendaki-Nya.

Misalnya pada saat Allah menetapkan: apa saja jenis, sifat, bentuk, hal yang bisa dilakukan dan tugas bagi tiap zat ciptaan-Nya; siapa yang akan ditunjuk sebagai khalifah-Nya di dunia; siapa yang akan menguji khalifah-Nya; ruh mana yang akan diberi-Nya akal saja, nafsu saja atau kedua-duanya (tentang kesempurnaan akal dan nafsu); ruh-ruh mana yang akan diberi-Nya tubuh wadah dan yang tidak; dsb.

Padahal jika Allah telah menetapkan sesuatu hal, atas sesuatu zat ciptaan-Nya di alam semesta ini, justru ketetapan-Nya itu langsung bersifat 'kekal' (tidak berubah-ubah), sampai akhir jaman. Sekaligus langsung tercacat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya. Allah Yang Maha Suci dan Maha Mulia justru mustahil mengubah-ubah ketetapan-Nya, karena bisa mengurangi segala kemuliaan-Nya. Serta relatif tidak ada suatu kemuliaan, bagi sesuatu hal yang berlaku tidak konsisten, tidak tetap, tidak pasti, berubah-ubah, plin-plan, dsb.

Berbagai pertanyaan tentang perubahan kehendak-Nya

Bahkan dalam Al-Qur'an disebut tentang kehendak-Nya itu, bahwa para malaikat dan iblis telah menyatakan sesuatu keraguan dan protes kepada Allah, ketika akan dipilih-Nya Adam sebagai khalifah-Nya di muka Bumi. Di mana para malaikat menguatirkan atas adanya nafsu pada Adam (manusia), sehingga manusia bisa berbuat kerusakan di muka Bumi, dan manusia bisa menghinakan dirinya sendiri. Sedang iblis memprotes atas tubuh-wadah Adam (manusia), yang terbuat dari tanah lumpur berwarna hitam atau dari air mani yang hina, yang jauh daripada kesempurnaan iblis sendiri yang terbuat dari api yang panas.

Selain kejadian pada awal penciptaan alam semesta tersebut, tidak ada sesuatupun disebut lagi dalam Al-Qur'an, tentang 'keraguan' dan 'protes' atas segala kehendak-Nya bagi alam semesta ini.

Hal inipun secara tidak langsung merupakan salah-satu bukti, bahwa tidak ada suatupun perubahan pada segala kehendak-Nya bagi alam semesta ini. Kalaupun ada perubahan, maka efeknya juga pasti amat sangat luar biasa bagi segala makhluk-Nya (termasuk manusia). Bahkan alam semesta inipun bisa hancur dengan amat sangat mudah.

Semua aliran yang dibahas di atas, biasanya selalu berasumsi bahwa segala kehendak-Nya di alam semesta ini bisa 'berubah-ubah'. Maka sebaiknya bagi aliran-aliran itu, untuk menilai kembali secara amat cermat, untuk bisa membuktikan, apakah benar-benar ada suatu perubahan pada tiap kehendak-Nya?, atau apakah Allah ada berbuat sekehendak dan semaunya di alam semesta ini?. Dan apakah ada suatu kejadian di alam semesta ini (selain hasil perbuatan zat makhluk-Nya), yang tidak berlangsung amat sangat alamiah, pasti konsisten dan pasti terjadi, seperti yang telah terjadi selama berabad-abad?.

Hal-hal yang dikehendaki-Nya

Dalam Al-Qur'an amat banyak disebut tentang "hal-hal yang dikehendaki-Nya", "suatu hal pasti mengikuti kehendak-Nya", "sesuai kehendak-Nya", "bagi siapa yang dikehendaki-Nya", dsb. Dari hal-hal ini secara sekilas 'seolah-olah' tampak ada 'kesibukan yang bersifat sesaat' dari Allah dalam mengurus segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini. Serta 'seolah-olah' tampak ada berbagai kehendak-Nya yang muncul secara 'tiba-tiba', atau turun begitu saja dari langit.

Namun justru jika benar-benar dipahami, segala kejadian atau peristiwa dalam kandungan isi dari ayat-ayat Al-Qur'an yang terkait, maka selain segala kejadian itu bersifat 'mutlak' (pasti berlaku), justru hal yang lebih pentingnya lagi, segala kejadian akibat perbuatan Allah itu pasti mengikuti sesuatu aturan yang bersifat 'kekal' (tidak berubah-ubah), bahkan amat sangat alamiah proses kejadiannya.

Sehingga segala kehendak dan perbuatan-Nya di alam semesta ini bukan muncul dan terjadi secara 'tiba-tiba', namun sebenarnya selalu melalui berbagai proses yang pasti dan jelas. Bahkan prosesnya bisa memakan waktu jutaan atau milyaran tahun, ataupun hanya seper sekian detik saja. Dan tiap prosesnya juga tetap sama sejak dari jaman dahulu sampai akhir jaman nanti.

Pemahaman pada buku ini, segala proses kejadian (lahiriah dan batiniah) atas segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini, pasti mengikuti aturan-Nya (sunatullah), yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal' (pasti berlaku, tidak pernah berubah, dan berlaku amat sangat alamiah, halus, tidak kentara, dsb). Sedang sebaliknya, segala hasil perbuatan makhluk-Nya justru bersifat 'tidak mutlak' dan 'tidak kekal' (tidak pasti berlaku, relatif, berubah-ubah, tidak konsisten, dsb).

Berbagai contoh ayat-ayat Al-Qur'an yang telah bisa diketahui yang membahas tentang berbagai kehendak-Nya, yang telah diringkas dan diambil intisarinya, berikut uraian prosesnya, seperti:

Berbagai rangkuman ringkas tentang kehendak-Nya,
dalam Al-Qur'an

a.

Kehendak-Nya untuk mengirimkan angin, menggerakkan atau membentangkan awan, dan menurunkan air hujan. Lalu air hujan itu diturunkan-Nya mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. (QS.30:48).

Proses ini dikenal secara umum sebagai hukum alam, yang berlaku amat alamiah dan tidak berubah-ubah, dalam hal-hal lahiriah di alam semesta (khususnya di Bumi).

Tentunya hamba-hamba-Nya itupun hanyalah orang-orang yang tinggal pada daerah-daerah yang pada waktu-waktu tertentu memungkinkan terjadinya hujan (misalnya di musim hujan).

Baca pula topik "Benda mati nyata", tentang proses penciptaan air dan lautan.

b.

Kehendak-Nya untuk menimpakan hujan es bagi siapa yang dikehendaki-Nya, tetapi tidak bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS.24:43).

Proses ini serupa dengan poin a di atas, tetapi hanyalah dikehendaki-Nya bagi orang-orang, yang tinggal di daerah-daerah dengan musim dingin dan musim semi. Sedang tidak dikehendaki-Nya bagi sebagian besar orang-orang yang tinggal di daerah tropis.

c.

Kehendak-Nya untuk memberi rejeki-Nya, kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS.24:38).

Proses ini hanyalah melalui usaha yang keras dalam mencari rejeki-Nya, seperti pada para konglomerat atau orang-orang terkaya di dunia misalnya.

Sedang orang yang tidak mau berusaha keras, pasti bukan termasuk orang yang dikehendaki-Nya.

Baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)", tentang diturunkan-Nya rejeki-Nya.

d.

Kehendak-Nya untuk mengutus seorang yang memberi peringatan (rasul) pada tiap-tiap negeri. (QS.25:51).

Proses ini biasanya hanya terjadi pada negeri-negeri yang kaumnya relatif banyak melakukan keburukan, kezaliman, kekafiran, dsb. Sehingga secara alamiah muncul dari kalangan kaum itu sendiri, orang-orang yang amat arif-bijaksana dan berilmu-pengetahuan tinggi, yang bersedia berusaha keras memperbaiki keadaan kaumnya.

Baca pula topik "Para nabi dan rasul utusan-Nya".

e.

Kehendak-Nya untuk membimbing kepada petunjuk atau cahaya-Nya, siapa yang dikehendaki-Nya. (QS.24:35).

Proses ini pasti hanya terjadi pada orang-orang yang berusaha memahami berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (petunjuk-Nya). Lalu mengamalkan hasil pemahamannya itu, ke dalam bentuk akhlak dan amal-perbuatannya sehari-hari.

Baca pula topik "Pemahaman agama dan kitab tuntunan-Nya di jaman modern" atau topik-topik lainnya.

f.

Kehendak-Nya untuk menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan-Nya yang lurus. (QS.24:46).

Proses ini serupa dengan poin e di atas.

Kemutlakan semua sifat-Nya, kesatuan yang utuh

Hal penting lainnya, yang justru telah dilupakan pula oleh ke semua aliran-aliran itu, adalah Fitrah Allah (sifat-sifat yang terpuji Allah), yang tergambarkan pada nama-nama yang terbaik yang hanya milik Allah (Asmaul Husna), agar masing-masing sifat-sifat-Nya tidak dipahami secara terpisah-pisah, namun semestinya dipahami sebagai sesuatu kesatuan yang utuh. Pemahaman secara terpisah-pisah inilah sumber utama dari tiap bentuk kemusyrikan.

Padahal sesuatu Zat disebut Allah (Tuhan ataupun Ilah), pada hakekatnya adalah karena Zat itupun semestinya pasti memiliki segala kesempurnaan dan kemuliaan, yang tanpa ada cacat sama-sekali.

Baca pula topik "Sifat-sifat ciptaan-Nya", tentang proses pemahaman atas sifat-sifat-Nya, berikut permasalahan pemahamannya.

Contoh sederhananya, tiap sifat Allah (Maha berkehendak atau Maha berkuasa) tidak semestinya dipertentangkan dengan sifat-sifat-Nya lainnya: Maha memelihara, Maha melindungi, Maha pengampun, Maha penyayang, Maha bijaksana dan adil, dsb. Karena semua sifat-Nya justru merupakan sesuatu kesatuan yang utuh, yang membentuk segala kesempurnaan dan kemuliaan-Nya.

Jika Allah berlaku atau berbuat sekehendak-Nya, maka dengan sendirinya sifat-sifat-Nya lainnya bisa berkurang ataupun bahkan bisa hilang. Jika Allah "terlalu" penyayang, maka sifat Maha adil-Nya akan bisa hilang. Demikian pula sifat-sifat-Nya lainnya. Semua penafsiran yang serba "terlalu" berlebihan atau tidak proporsional atas sifat-sifat Allah, justru pada akhirnya bisa mengurangi segala kesempurnaan dan kemuliaan-Nya.

Hindari menganalogikan sifat-Nya, dengan sifat makhluk-Nya

Segala penafsiran atas sifat dan perbuatan-Nya mestinya tidak disetarakan, tidak dibandingkan atau tidak dianalogikan, dengan sifat dan perbuatan manusia (atau segala zat makhluk-Nya lainnya). karena segala sesuatu hal tentang Allah memang justru amat berbeda daripada segala zat ciptaan dan makhluk-Nya. Jikalau suatu analogi diperlukan sebagai suatu 'perumpamaan', maka hal ini mestinya dilakukan secara amat hati-hati, serta tidak mudah dijadikan sebagai alasan pembenaran atau mestinya tetap diletakkan semata sebagai perumpamaan, karena hal ini juga relatif amat mudah terarah kepada suatu kemusyrikan.

Contoh sederhananya: sifat Maha luas-Nya misalnya pada tak-terbatasnya luas alam semesta ini; sifat Maha tinggi-Nya, pada tak-terbatasnya tinggi langit; sifat Maha Esa dan Maha memelihara-Nya, pada segala proses kejadian di alam semesta ini yang berjalan amat teratur (tidak ada Ilah selain Allah, yang bisa mengganggunya); dsb.

Walau bagaimanapun, segala zat ciptaan-Nya justru mustahil memiliki segala kesempurnaan dan kemuliaan, seperti yang dimiliki oleh Allah, Yang Maha Sempurna dan Maha Mulia. Bahkan sesuatu perumpamaan yang berupa analogi seperti itu justru tidak ditemukan dalam Al-Qur'an. Secara simbolik, analogi seperti itu telah digantikan oleh istilah 'Maha' atas setiap sifat-sifat-Nya (sebagai suatu hal yang berada di luar jangkauan akal manusia, ataupun amat berbeda daripada segala zat makhluk-Nya).

Segala analogi atau perumpamaan justru hanya bisa ditemukan dalam Al-Qur'an, pada saat dipakai untuk bisa menggambarkan hal-hal yang gaib lainnya, 'selain' Zat Allah (seperti: kehidupan atau alam akhirat, para makhluk gaib, dsb).

Sedang dalam contoh di atas misalnya, pada zat-zat ciptaan-Nya hanya bisa menggambarkan 'salah-satu atau beberapa' saja dari semua sifat-Nya pada Asmaul Husna. Walau sebaliknya, justru semua sifat-Nya memang hanya bisa dipahami, melalui segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta ini.

Sekali lagi, bahwa pada dasarnya mustahil ada sesuatu zat di alam semesta ini, yang tidak bisa 'dilihat' (dengan mata lahiriah) dan tidak bisa 'diketahui' (dengan mata batiniah) oleh manusia, seperti halnya Zat Allah, Yang Maha Gaib, karena 'esensi' dari Zat Allah memang mustahil bisa terjangkau oleh manusia. Zat para malaikatpun bahkan masih bisa, karena sebagian manusia telah mengetahui 'wujud asli' mereka. Akan tetapi manusia hanya bisa melihat atau mengetahui berbagai hasil perwujudan dari 'perbuatan' Zat Allah di alam semesta ini, melalui mata lahiriah dan terutama lagi melalui mata batiniahnya.

Hindari berfilsafat tentang sifat-sifat-Nya

Juga diperlukan tingkat kehati-hatian yang amat tinggi, bahkan sebaiknya dihindari dalam 'berfilsafat' tentang Allah, karena bahasa dalam ilmu filsafat, adalah bahasa yang biasanya dikenal dan dipakai dalam kehidupan nyata manusia sehari-harinya (kehidupan makhluk-Nya), yang pasti amat terbatas untuk bisa menjelaskan segala hakekat tentang zat dan sifat Allah, Yang Maha gaib.

Juga segala teori ilmu filsafat pada akhirnya menganalogikan sifat-sifat-Nya dengan sifat-sifat manusia, seperti yang justru biasanya dilakukan oleh para umat Nasrani (Kristiani) dan umat agama-agama lainnya, yang telah berbuat musyrik (menyekutukan Allah dengan zat-zat ciptaan-Nya).

Maka sebaiknya bagi umat Islam, agar tidak berfilsafat ketika berusaha memahami berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) dalam ajaran-ajaran agamanya. Namun semestinya diungkap dengan menggunakan berbagai fakta, kenyataan dan kebenaran yang bisa ditemukan di seluruh alam semesta ini, yang sering disebutkan sebagai "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya". Lebih utamanya lagi, dengan mengacu kepada ayat-ayat Al-Qur'an itu sendiri, yang telah disampaikan oleh nabi Muhammad saw sebagai suatu pengajaran dan tuntunan-Nya bagi seluruh umat manusia.

Sebaliknya pada ilmu filsafat, berbagai fakta, kenyataan atau kebenaran itu biasanya tidak dipakai secara apa adanya. Tetapi justru ilmu filsafat biasanya memakai beberapa fakta yang sederhana, untuk bisa mengambil teori-teori yang bersifat lebih umum dan luas. Adanya pengembangan dan pengurangan atas fakta inilah, yang semestinya dicermati dengan amat hati-hati, selain ilmu filsafat memang memakai "bahasa dan analogi manusia" di atas.

Baca pula topik "Pemahaman agama dan kitab tuntunan-Nya di jaman modern", tentang metode-metode pemahaman hikmah dan hakekat atas ajaran-ajaran agama-Nya.

Hampir ke semua aliran yang dibahas, khususnya yang cukup lengkap pembahasannya, yaitu aliran-aliran: Mu'tazilah, Asy'ariah, Maturidiah Samarkand dan Maturidiah Buchara, justru terjebak amat mendalam kepada dasar-dasar pemahaman yang bersumber dari teori-teori mereka dalam berfilsafat.

Maka tidak heran apabila sebagian dari pemahaman mereka, terkadang bisa bertentangan dengan pemahaman mereka sendiri yang lainnya. Kemudian pada akhirnya, mereka sendiri melakukan berbagai usaha untuk "berkompromi" yang seolah-olah dipaksakan, agar setiap pemahaman mereka tetap tampak "benar". Hal-hal seperti ini biasanya akan terus berkembang, dan bahkan berbagai bentuk pemahamannya yang dilahirkan justru akan tampak "aneh" bagi orang yang berilmu sekalipun

Wallahu a'lam bishawwab.

Kebebasan dan keterbatasan manusia

Akal, kebebasan, kehendak ataupun kekuasaan manusia tetap merupakan hal-hal yang selalu diliputi atau dibatasi oleh aturan-Nya (sunatullah). Kehendak dan kekuasaan manusiapun amat mustahil bisa dibandingkan dan disetarakan dengan kehendak dan kekuasaan Allah, termasuk pula pasti mustahil bisa mengurangi kekuasaan Allah. Dan bahkan kehendak dan kekuasaan manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan kekuasaan Allah.

Lebih tepatnya, kehendak dan kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia, adalah bagian dari kehendak ataupun rencana Allah di dalam penciptaan seluruh alam semesta ini. Kehendak dan kekuasaan manusia sama-sekali tidak menjangkau dan bersinggungan dengan kehendak dan kekuasaan Allah.

Seperti misalnya, akal masih mungkin bisa mengungkap hal-hal 'gaib' (tepatnya 'perbuatan' dari zat-zat gaib), seperti kemampuan yang dimiliki oleh para nabi-Nya, namun akal mustahil akan mampu menjelaskan 'esensi atau hakekat' dari zat-zat gaib (zat Allah dan zat ruh-ruh makhluk-Nya). Sekali lagi, hal-hal gaib yang masih mungkin dicapai melalui nalar-intuisi-logika akal-pikiran manusia justru hanya berupa hasil perwujudan dari berbagai 'perbuatan' zat-zat gaib itu di alam semesta ini.

Melalui segala hasil perbuatannya di alam semesta ini, zat-zat gaib itu justru memang hendak menunjukkan segala kemuliaan dan kekuasaan-Nya kepada umat manusia, agar bisa mengenal Allah Yang telah menciptakannya. Bahkan amat banyak pula berbagai 'langit' lain yang justru mustahil mampu dijangkau oleh manusia, secara lahiriah dan batiniah.

Perbedaan penafsiran atas perbuatan Allah Yang Maha Halus

Perbedaan pemahaman antara pembahasan pada buku ini dan pada aliran-aliran, ataupun antar aliran itu sendiri, pada dasarnya lebih utamanya terjadi akibat perbedaan pemahaman yang relatif tajam atas perwujudan kehendak dan perbuatan Allah di seluruh alam semesta ini, yang memang Maha Halus, sedang hal ini berkaitan amat sangat erat dengan daya, kehendak dan perbuatan manusia.

Dalam segala halnya, zat Allah amat sangat berbeda daripada segala zat ciptaan-Nya ataupun zat makhluk-Nya, termasuk dalam hal berkehendak, bertindak atau berbuat, maka amat sulit bisa dipahami. Sementara itu, manusia hanya bisa mengenal Allah dari memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini, seperti yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya. Kemudian para nabi-Nya itupun menyampaikan hasil pengetahuan atau pemahamannya kepada umat manusia lainnya, melalui berbagai ajaran agama-Nya, agar bisa makin mudah dipahami pula oleh seluruh umat manusia.

Di pihak lain, pemahaman atas kehendak dan perbuatan Allah justru mestinya dimiliki oleh setiap manusia, secara langsung ataupun tidak (melalui ajaran-ajaran para nabi-Nya), agar saat setiap manusia menjalani kehidupannya, semaksimal mungkin bisa pula memperoleh keredhaan Allah (sesuai kehendak Allah), Tuhan alam semesta ini dan tempat segala sesuatu hal bergantung. Sebaliknya, agar setiap manusia menjalani kehidupannya tidak terlalu jauh dari jalan-Nya yang lurus, demi keselamatan dan kemuliaan atas manusia itu sendiri.

Padahal kemanapun mata lahiriah dan mata batiniah manusia memandang, juga semestinya bisa mengetahui segala hasil perbuatan-Nya (melalui sunatullah, lahiriah dan batiniah). Sedang pelaksanaan sunatullah itu dikawal oleh tak-terhitung jumlah para malaikat.

Contoh sederhananya, pada saat Allah 'menggiring' awan, lalu diturunkan-Nya air hujan; saat seseorang marah, jika badannya telah dipukul oleh orang-lainnya; saat seseorang sedih, setelah orang-tuanya menunggal dunia; dan segala hal lainnya yang terjadi di alam semesta.

Pada umumnya, segala kejadian itu hanya dikelompokkan oleh manusia menjadi dua, yaitu: "terjadi begitu saja" dan segala hasil dari perbuatan setiap makhluk-Nya itu sendiri. Atas hal-hal yang "terjadi begitu saja" di alam semesta, umumnya manusia menyebutnya sebagai "hukum alam", sebagian lainnya menyebutnya sebagai "sunatullah".

Apabila dikaitkan dengan kejadian diturunkan-Nya air hujan di atas, maka justru bisa disimpulkan pula, "Allah menurunkan air hujan melalui hukum alam" atau "Allah bertindak melalui segala hukum dan aturan-Nya, yang diciptakan-Nya bagi alam semesta". Serta segala hal yang "terjadi begitu saja" di atas (yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'), adalah hasil dari perbuatan-Nya. Segala perbuatan-Nya bukan hanya semata-mata menciptakan zat-zat ciptaan ataupun makhluk-Nya, tetapi justru termasuk pula segala proses kejadian setiap saatnya di seluruh alam semesta ini, yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'.

Sunatullah tentang hal-hal batiniah

Bagaimana penjelasan bagi segala proses yang justru bersifat 'batiniah' di atas?. Berbagai buku, catatan atau pernyataan yang telah diketahui dari para alim-ulama dan para cendikiawan Muslim, relatif amat jarang yang berbicara tentang "hukum batiniah". Hampir semua hanya mengaitkan sunatullah dengan hal-hal lahiriah semata. Padahal dalam Al-Qur'an justru relatif amat banyak disebut tentang pemberian pahala-Nya, yang memang bersifat batiniah, termasuk pula berbagai kadar pahala-Nya bagi setiap amal-kebaikan manusia.

Maka dari pemahaman pada buku ini, justru aturan-Nya atau sunatullah meliputi pula aturan-aturan yang bersifat 'batiniah'. Walau hal ini memang relatif amat sulit untuk dipahami oleh manusia biasa pada umumnya, karena juga relatif amat sulit untuk dijelaskan. Hal-hal batiniah dan gaib ini memang hanya hak milik Allah Yang Maha mengetahui segala rahasianya.

Diketahui hanya para nabi-Nya (tepatnya lagi para rasul-Nya), yang memiliki pemahaman yang relatif amat mendalam, atas aturan-aturan batiniah itu. Sehingga mereka juga mampu menyusun hukum-hukum syariat dalam agama, berdasar berbagai pengalaman batiniah (rohani-moral-spiritual) yang pernah dijalaninya, secara lengkap dan mendalam. Seperti saat nabi Muhammad saw telah selesai menjalani perjalanan batiniahnya yang amat luar-biasa "'Isra Mi'raj", kemudian Nabi mensyariatkan adanya shalat wajib lima waktu sehari semalam.

Hal lebih pentingnya lagi, bahwa mustahil para nabi-Nya bisa menyampaikan ajaran-ajaran agama-Nya, jika berbagai aspek batiniah tersebut sama-sekali tidak memiliki aturan-aturan yang pasti dan jelas. Ajaran-ajaran agama-Nya pada dasarnya juga pasti memiliki berbagai tujuan batiniah di dalamnya, dan menjadi tuntunan bagi seluruh umat manusia, untuk bisa mengatur kehidupan batiniah ruhnya (kehidupan akhiratnya), ketika sambil menjalani kehidupan lahiriah-duniawinya.

Persoalannya justru pada amat sedikitnya jumlah manusia yang bisa memahami aturan atau hukum dalam hal-hal batiniah itu, seperti: para nabi-Nya, para sahabat Nabi, para wali, dsb. Mereka telah bisa memiliki tingkat keimanan yang amat tinggi, sehingga pengetahuan mereka tentang hal-hal batiniah itu juga lebih tinggi daripada manusia biasa umumnya. Lebih jelasnya, kepekaan mata batiniah mereka (hati-kalbu) telah amat tajam, karena cermin batiniah ruh mereka telah amat bersih, sehingga hati-kalbu merekapun bisa amat terang memantulkan berbagai cahaya kebenaran-Nya yang terkait hal-hal gaib dan batiniah.

Selain itu, berbagai pemahaman yang bisa mengaitkan antara sunatullah dan berbagai proses batiniahnya dianggap amat diperlukan, karena dengan kemutlakan setiap sifat-sifat-Nya mustahil Allah hanya menciptakan sesuatu hal yang amat terbatas (hanya sunatullah bersifat lahiriah saja, atau 'hukum alam'). Apalagi sunatullah adalah sebutan lain bagi segala perbuatan Allah di alam semesta ini (Sunnah Allah).

Padahal diketahui bahwa segala aspek batiniah pada manusia justru mempengaruhi pula berbagai aspek lahiriahnya. Demikian pula sebaliknya, bahwa segala aspek lahiriah bisa mempengaruhi berbagai aspek batiniahnya.

Contoh sederhananya seperti: orang cenderung mudah marah, saat tubuhnya sedang capek (kehabisan energi fisik); air mata keluar, saat sedang sedih; keluar keringat dingin, saat sedang ketakutan; tubuh sulit digerakkan, saat sedang tidak bersemangat; dsb.

Hasil perbandingan antar aliran-aliran

Akhirnya, hasil perbandingan kualitatif dan kuantitatif di atas tidak menunjukkan apa-apa, kecuali hanya letak relatif "posisi" hasil pemahaman pada buku ini, terhadap pemahaman dari berbagai aliran yang dibahas, untuk bahan perbandingan bagi setiap umat Islam. Pada dasarnya tidak ada sesuatupun dari aliran-aliran teologi tersebut, yang pemahamannya betul-betul sesuai dengan pemahaman pada buku ini.

Juga berbagai hasil perbandingan di atas bukan menunjukkan bentuk pemahaman yang paling benar, karena hal ini memang semata hanya hak milik Allah, Yang Maha mengetahui segala sesuatu hal.

Mininal dari berbagai uraian di atas diharapkan bisa semakin memperluas sudut pandang atau wawasan setiap umat Islam, di dalam memahami ajaran-ajaran agamanya. Sekaligus agar setiap umat Islam bisa lebih mengetahui berbagai aliran-mazhab-golongan teologi dalam agamanya sendiri, berikut setiap pemahamannya masing-masing. Agar setiap umat Islam makin terbuka, jernih dan proporsional, saat menilai kebenaran-Nya dalam ajaran-ajaran agama Islam, seperti: Al-Qur'an, Sunnah Nabi (Hadits), Ijtihad (Qiyas, Ijma', Istihsan, dsb), dsb.

Juga agar diharapkan bisa ikut mengurangi, dan bahkan bisa menghilangkan segala bentuk tahayul, taklid dan dogma, yang tidak berdasarkan suatu pengetahuan, sehingga dengan sendirinya semakin meningkatkan keyakinan atau keimanan batiniah umat (pemahaman). Di samping amat penting pula, untuk bisa meningkatkan keyakinan atau keimanan lahiriahnya (pengamalan), secara amat konsisten.

Padahal 'hijab-tabir-pembatas' antara Allah dan setiap umat manusia hanya berupa 'pengetahuan' umat itu atas setiap kebenaran-Nya di alam semesta ini. Sedangkan 'hijab yang terdekatnya' berupa pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), seperti halnya yang telah dimiliki oleh seluruh para nabi-Nya, yang memiliki Al-Kitab ataupun tidak.

Ilmu-ilmu teologi bagi pemahaman keagamaan, seperti yang dipakai oleh aliran-aliran itu, biasanya disebutkan sebagai ilmu tauhid, ilmu ushuluddin, ilmu kalam, ilmu filsafat, dsb. Walau ilmu-ilmu ini sedikit-banyak memiliki perbedaan pada definisinya masing-masing, yang dipengaruhi oleh fokus dan metode-cara perolehan ilmunya.

Namun demikian ilmu-ilmu inipun memiliki suatu kesamaan, terutama karena tujuannya membentuk dasar-dasar pokok dan pondasi pemahaman umat Islam atas ajaran-ajaran agamanya. Selain itu karena ilmu-ilmu inipun mendalami tentang Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya, wahyu-Nya, para utusan-Nya (para malaikat-Nya dan para nabi-Nya), tujuan diciptakan-Nya kehidupan di dunia dan di akhirat, zat dan alam ruh-ruh makhluk-Nya, dsb.

Namun pada akhirnya, ilmu-ilmu teologi itu semestinya tidak jauh menyimpang dari berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) pada ajaran-ajaran agama Islam, terutama ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an sebagai dasar tertinggi ajaran agama Islam.

Hal itu terutama dengan membentuk 'bangunan pemahaman' atas ajaran-ajaran agama Islam secara relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan. Aspek-aspek ini telah dipahami pada buku ini, sebagai suatu ukuran bagi pemahaman setiap umat Islam yang telah amat mendekati pemahaman nabi Muhammad saw, atas agama-Nya yang lurus dan terakhir diturunkan-Nya (Islam).

Wallahu a'lam bishawwab.

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an (hai Muhammad), dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya), dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dengan meninggalkan kebenaran, yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada-Nya-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu, apa yang telah kamu perselisihkan itu," – (QS.5:48).

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s