Bab VI.A.2 Usaha dan jalan hidup

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

VI.A.2.

Usaha dan jalan hidup makhluk ciptaan-Nya

"Jalan hidup" dan hubungannya dengan sunatullah

'Hidup' adalah proses memilih dan usaha tiap manusia (secara sadar ataupun tidak), agar bisa mengubah tiap keadaan atau nasibnya tiap saatnya, dengan memilih salah-satu dari sejumlah besar pilihan yang tersedia baginya tiap saatnya, sesuai dengan keadaan, keinginan, pengetahuan dan kemampuannya. Rangkaian dari tak-terhitung jumlah proses itu sepanjang hidupnya, biasanya dikenal dengan 'jalan hidup'.

Tiap pilihan (sepenggalan amat kecil dari garis 'jalan hidup') hanya suatu proses memilih dan usaha, untuk bisa mengubah keadaan awalnya saja (bukan keadaan akhir). Sedangkan keadaan akhirnya bisa diperoleh dari hasil berlakunya suatu sunatullah tertentu, yang terpilih 'otomatis' menurut keadaan awal tersebut. Maka 'jalan hidup' dengan sendirinya juga berupa rangkaian dari tak-terhitung jumlah sunatullah, yang telah dilalui atau dijalani.

Segala proses memilih dan usaha itu justru terjadi tiap saatnya, melalui sarana nafsu (daya-kemampuan-keinginan) dan akal (pikiran-pengetahuan-pilihan), yang diberikan-Nya kepada tiap manusia.

Fungsi akal dalam memilih "Jalan hidup"

Akal adalah sarana yang amat penting bagi tiap manusia untuk "memilih" berbagai keadaannya, sesuai dengan harapan-keinginannya. Semakin sering akalnya diasah (khususnya melalui berbagai lembaga pendidikan), maka juga bisa dimiliki kebebasan dan pengetahuan yang relatif semakin luas dalam "memilih".

Penting diketahui pula, bahwa apabila sejak awalnya telah bisa ditentukan sesuatu pilihan dengan tepat, sekalipun melalui berbagai usaha yang amat keras, maka pilihan itu akan amat mempermudah dan memperringan berbagai usaha atau langkah selanjutnya. Buah dari tiap usaha yang amat keras dan tepat, pasti bisa dinikmati kemudian.

Karena itulah amat penting dianjurkan bagi tiap manusia agar berpendidikan, semakin tinggi justru semakin baik, agar bisa dimiliki peluang semakin besar dalam memilih jalan hidupnya (atau nasibnya), yang lebih diharapkannya, khususnya dalam sesuatu lingkungan yang tingkat persaingannya relatif amat tinggi.

Dalam kasus-kasus tertentu, pendidikan (dengan segala ilmu-pengetahuan teoretisnya), memang bukanlah satu-satunya pilihan, dan pengalaman terkadang justru bisa berperan lebih penting. Pengetahuan teoretis dan pengalaman (pengetahuan aplikatif-praktis), yang justru telah bisa dikuasai sekaligus, tentunya paling baik.

Daya atau kemampuan dalam menjalani hidup

Bahwa 'daya' (tenaga, potensi, semangat, kemampuan, energi, keinginan, dsb) amat diperlukan dalam melakukan sesuatu usaha, dan bisa memberi peluang yang lebih besar, untuk 'mengubah' berbagai keadaan. Kemampuan itu misalnya: tenaga fisik atau kesehatan; uang atau harta; pengetahuan atau pengalaman; kebebasan; kesempatan atau waktu; semangat batiniah (psikologis, energi pikiran positif); dsb.

Daya manusia itupun diciptakan-Nya 'secara umum' pada diri tiap manusianya atau diperolehnya dari Allah dengan telah diciptakan-Nya pada tiap manusia, berupa: 'akal' (pengetahuan dan kecerdasan untuk bisa memilih) ataupun 'nafsu' (semangat dan keinginan untuk bisa berkembang).

Namun secara 'khusus', tiap manusia dengan akal-pikiran dan nafsu-keinginannya justru memiliki kesempatan yang relatif amat luas untuk bisa semakin meningkatkan daya atau kemampuannya (lahiriah dan batiniah), sederhananya seperti:

Tenaga fisik atau kesehatan;

Makan secukupnya, menjaga kesehatan, berolah-raga, dsb.

Uang atau harta;

Bekerja atau mencari mata-pencaharian.

Pengetahuan dan pengalaman;

Banyak belajar, melalui berbagai lembaga pendidikan yang ada ataupun secara autodidak (belajar sendiri), serta banyak memiliki dan melatih berbagai macam pengalaman.

Waktu atau kesempatan;

Mengurangi berbuat hal yang sia-sia, agar tersedia lebih banyak waktu untuk melakukan segala amal-kebaikan.

Semangat batiniah (psikis);

Banyak berpikir positif dan meningkatkan rasa optimisme dalam menjalani kehidupan. Terutama dengan banyak berdo'a dan ingat kepada Allah, karena adanya daya Allah Yang Maha besar, Yang selalu menyertai segala amal-perbuatan tiap manusia, dan Yang selalu meredhainya dalam berbuat segala amal-kebaikan.

Kebebasan;

Walau secara lahiriah relatif terbatas, tetapi secara batiniah tiap manusia memiliki kebebasan yang amatlah luas. Bahkan hakekat manusia terwujud pada alam batiniah ruhnya (alam akhiratnya), juga bukan pada alam dunianya (alam nyata-fisik-lahiriahnya).

Serta secara umum, penjajahan secara lahiriah di dunia ini telah relatif hampir tidak ada dan banyak berkurang, karena telah amat jarang adanya negara yang terjajah seperti pada jaman dahulu.

Saat ini penjajahan umumnya berasal dari pengaruh kemiskinan. Dengan pemberantasan kemiskinan itu sendiri, maka kebebasan manusia secara lahiriah, relatif makin bisa diperoleh.

dsb;

 

Sebagian dari berbagai daya manusia di atas, berada di dalam diri tiap manusia (internal), sedangkan sebagian lainnya berada di luar dirinya (eksternal). Namun semua daya itupun pada dasarnya 'murni' berasal dari hasil usaha manusia itu sendiri. Daya di atas yang disebut pula sebagai 'daya manusia murni', yang justru sama-sekali tidak ada hubungannya dengan daya Allah, kecuali dengan telah diciptakan atau diberikan-Nya 'akal' dan 'nafsu' pada tiap manusia.

Tetapi penting diketahui pula, bahwa 'daya manusia murni' itu justru bukan satu-satunya hal yang mewujudkan tiap amal-perbuatan manusia, lebih tepatnya, bukan hal yang bisa menunjukkan besarnya balasan-Nya atas amal-perbuatan tersebut, pada saat daya 'murni' itu dipakai.

'Daya manusia murni' pada saat sedang dipakai dalam berbuat sesuatu amal-perbuatan, dipengaruhi pula oleh berbagai aspek, seperti:

~ Niat (kelurusan tauhid, maksud dan tujuan, dsb);
~ Tingkat kesadaran, pengetahuan ataupun tingkat keimanan.
~ Besarnya beban cobaan atau ujian-Nya.
~ Tingkat keterpaksaan.
~ Besarnya beban tanggung-jawab.

 

Berbagai aspek di atas pada dasarnya bersifat 'batiniah', yang justru amat menentukan besarnya balasan-Nya yang 'sebenarnya' dan 'hakiki', yang justru juga bersifat 'batiniah' (pahala-Nya; nikmat-Nya; beban dosa; siksaan, hukuman ataupun azab-Nya; dsb).

Bahkan berbagai aspek batiniah itu yang justru membedakan antara orang beriman dan orang kafir, sedangkan balasan-Nya secara lahiriah tidak berbeda. Orang kafir sekalipun bisa mendapatkan 'upah' secara lahiriah (rejeki, karunia atau rahmat-Nya), sama sekali tanpa dihisab atau ditunda oleh Allah, atas usaha-usaha lahiriahnya pula.

Lihat pula pada Gambar 24 di atas, tentang daya manusia.

'Daya manusia aktual' sebagai sesuatu daya yang sebenarnya berperan dalam mewujudkan suatu amal-perbuatan (bisa mewujudkan balasan-Nya), adalah 'daya manusia murni' yang telah dikoreksi oleh aspek-aspek: beban ujian-Nya, tingkat keterpaksaan, beban tanggung-jawab, niat serta tingkat kesadaran atau keimanan di atas. Aspek-aspek koreksi ini justru bisa mempengaruhi segala keadaan, pada saat 'daya manusia murni' sedang dipakai pada sesuatu amal-perbuatan.

'Daya manusia aktual' seperti halnya 'daya manusia murni', justru sama-sekali tidak ada peran ataupun intervensi dari daya Allah, seperti yang diuraikan di bawah. Serta walaupun bisa berbeda besar dayanya (ada koreksi), tetapi 'daya manusia aktual' justru tetap terkait langsung atau tergantung kepada 'daya manusia murni' itu sendiri, yang memang murni dari segala hasil usaha tiap manusianya sendiri.

Sedangkan satu-satunya aspek yang berasal 'dari luar' diri tiap manusia, yaitu ujian-Nya, justru hanya mempengaruhi faktor kelipatan atas 'daya manusia murni' itu sendiri. Hal yang dipahami pada buku ini, ada dua alternatif dari adanya pengaruh ujian-Nya tersebut, yaitu:

Apabila 'daya manusia murni' bernilai positif (digunakan dalam berbuat amal-kebaikan).

'Daya manusia murni' dilipat-gandakan-Nya. Makin besar beban 'ujian-Nya', justru makin besar pula 'daya manusia murni' yang sebenarnya (yang lalu mengakibatkan makin dilipat-gandakan-Nya besar pahala-Nya atas amal-kebaikan terkait).

Dengan rumus kira-kira seperti:

Daya murni akhir = daya murni awal x faktor beban ujian-Nya

Apabila 'daya manusia murni' bernilai negatif (digunakan dalam berbuat amal-keburukan).

'Daya manusia murni' dikurangi-Nya. Makin besar beban 'ujian-Nya' justru makin kecil 'daya manusia murni' yang sebenarnya (yang lalu mengakibatkan makin mengurangi besar beban dosanya atas amal-keburukan terkait, walau tidak bisa menghilangkannya).

Dengan rumus kira-kira seperti:

Daya murni akhir = daya murni awal / faktor beban ujian-Nya

Daya dukungan dari lingkungan bagi manusia

Selain 'daya manusia murni', manusia juga mendapat berbagai dukungan ataupun hambatan (lahiriah dan batiniah), dari lingkungan di sekitarnya (eksternal, seperti keadaan alam dan semua manusia lain di sekitarnya), secara langsung ataupun tidak, diketahui ataupun tidak.

Tentunya dukungan dari luar itupun bukan suatu hal yang bisa menetap.dan bisa diandalkan. Maka dalam Al-Qur'an, ada pula segala anjuran-Nya bagi umat, agar sebanyak-mungkin bisa bergaul dengan umat-umat yang seiman dan seaqidah. karena secara manusiawi, tidak ada umat yang memiliki kemampuan hebat yang tahan banting kepada segala bentuk ujian-Nya. Lingkungan bahkan juga bisa membentuk tiap manusianya menjadi orang baik ataupun jahat, yang terkadang di luar kemampuan manusianya sendiri untuk menghadapinya.

Pengaruh lingkungan inipun pada dasarnya justru suatu bentuk ujian-Nya. Pengaruh lingkungan yang bersifat 'positif' (mendukung) pada dasarnya meringankan beban ujian-Nya dan sebaliknya pengaruh yang bersifat 'negatif' (menghambat), memperberat beban ujian-Nya.

Pengaruh lingkungan justru bukan berasal dari diri manusianya sendiri, maka pada dasarnya juga sama sekali tidak akan berpengaruh kepada nilai amalan atas /segala amal-perbuatannya. Anjuran-Nya di dalam Al-Qur'an, agar umat berusaha mencari suatu lingkungan yang lebih sehat dan Islami (seperti peristiwa berhijrahnya nabi Muhammad saw dari Mekah ke Medinah), justru lebih terkait dengan kesempatan dan ketentraman yang lebih tinggi bagi umat, untuk bisa lebih banyak melakukan berbagai amal-kebaikan.

Pengaruh daya atau perbuatan Allah bagi manusia

Segala sesuatu hal yang berpengaruh kepada tiap manusia (dari luar diri manusianya sendiri), pada dasarnya bisa dibagi menjadi dua aspek, yaitu:

Aspek lahiriah

Pengaruh yang bersifat fisik-lahiriah-nyata dari segala zat ciptaan-Nya, yang justru selalu saling berinteraksi di seluruh alam semesta ini (terlihat ataupun tidak, berkaitan secara langsung ataupun tidak, menguntungkan ataupun merugikan, dsb).

Aspek batiniah

Pengaruh dari para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis), yang selalu berusaha mempengaruhi atau menggoda alam pikiran manusia (alam batiniah ruhnya), tiap saatnya sepanjang hidupnya (ke arah yang positif-benar-baik ataupun negatif-sesat-buruk).

 

Tetapi pada umumnya tiap manusia justru menganggap, bahwa segala sesuatu pengaruh (secara langsung ataupun tidak) yang berasal dari "luar" dirinya dan "tidak diketahuinya", disebut sebagai pengaruh dari segala hasil perbuatan Allah.

Sementara itu segala sesuatu pengaruh yang berasal dari "luar" dirinya tetapi "bisa diketahuinya", justru disebut sebagai pengaruh dari segala hasil perbuatan dari manusia ataupun zat makhluk-Nya lainnya di sekitarnya. Serta segala pengaruh semacam ini justru relatif jarang dikaitkan dengan perbuatan Allah.

Secara sekilas anggapan di atas 'seolah-olah' betul, namun hal yang sebenarnya adalah, segala sesuatu hal yang berpengaruh kepada tiap manusianya, justru 'hanya' dari hasil saling berinteraksinya segala zat ciptaan-Nya (nyata dan gaib) di seluruh alam semesta ini. Maka 'pengaruh Allah' kepada tiap manusianya (biasa disebut 'ujian-Nya'), pada dasarnya juga 'hanya' melalui segala zat ciptaan-Nya (pengaruh 'tidak langsung'), sehingga justru sama-sekali tidak ada ikut campur tangan ataupun pengaruh 'langsung' dari Allah.

Akan tetapi pengaruh yang "luar biasa" besar dari Allah, Yang Maha Besar dan Maha Mengatur, justru berada 'di balik' segala proses kejadian atas segala zat ciptaan-Nya, dan bahkan sampai segala proses atas zat-zat yang paling elementer penyusun seluruh alam semesta ini, yaitu: Atom-materi (penyusun tiap benda mati) dan Ruh (penyusun tiap makhluk hidup).

Justru hanya 'daya Allah' (melalui sunatullah) yang pasti telah 'mewujudkan' (mengakhiri) segala proses, kejadian atau perbuatan pada segala zat ciptaan-Nya, untuk diberikan balasan-Nya yang amat sesuai atau setimpal, dengan segala keadaan zat ciptaan-Nya terkait. Sedang pada tiap perbuatan manusia, pasti sesuai pula dengan segala keadaan, yang telah dipilih atau diusahakan oleh manusianya sendiri (termasuk 'daya manusia murni' dalam uraian di atas).

Manusia melalui tiap usaha atau perbuatannya, pada dasarnya hanya memanfaatkan 'daya Allah' (otomatis memilih salah-satu dari sunatullah, secara sadar ataupun tidak), pada saat berusaha mengubah tiap keadaan kehidupannya, sesuai kemampuan, pengetahuan ataupun pengalamannya. Hal ini merupakan suatu rahmat dan nikmat-Nya bagi manusia, karena manusia justru tidak perlu mengetahui secara lengkap segala proses kejadian itu, dan tinggal memanfaatkannya saja.

Lihat pula "Gambar 22: Diagram siklus proses sesaat fungsi sunatullah" dan "Gambar 23: Diagram siklus proses sesaat perbuatan manusia" (ataupun Gambar 24), tentang hubungan antara daya dan perbuatan-Nya, terhadap daya dan perbuatan manusia.

Perbuatan segala makhluk-Nya, bukan perbuatan Allah

Dari uraian-uraian di atas telah bisa diketahui, bahwa daya dan pengaruh perbuatan Allah hanya "menyertai" tepat di belakang 'daya manusia aktual' (yang berupa sesuatu hasil koreksi dari 'daya manusia murni'). Sedangkan pada tiap perbuatan manusia, hanya 'daya manusia aktual' itulah yang bisa memberi pengaruh kepada besarnya balasan-Nya yang setimpal (lahiriah dan batiniah).

'Pencipta' tiap perbuatan manusia adalah manusia itu sendiri, justru bukan Allah. Tiap perbuatan manusia bukan perbuatan Allah, walau perbuatan Allah memang pasti selalu 'menyertai' tiap perbuatan manusia. Sedangkan perbuatan Allah melalui sunatullah justru berlaku sama kepada segala zat ciptaan-Nya, serta tidak berubah sampai akhir jaman. Karena itulah tiap manusianya justru semestinya bertanggung-jawab, atas segala amal-perbuatannya sendiri.

Contoh sederhananya, tiap nelayan hanya bertindak memasang layar kapal, tetapi justru Allah, Yang meniupkan angin dan membawa kapalnya itu ke tujuannya (melalui sunatullah, yang dikawal oleh tak-terhitung para malaikat-Nya). Tetapi jika berbagai keadaan terkaitnya memang tidak memungkinkan agar bisa ditiupkan-Nya angin ataupun dibawa-Nya kapal itu misalnya, maka hal itupun mustahil bisa terjadi (ada aturan atau proses yang pasti dan jelas). Misalnya mustahil bisa terjadi, jika nelayannya justru tidak memasang layar kapalnya.

"Rabb-mu adalah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu." – (QS.17:66).

"Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat-Nya, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya …." – (QS.31:31).

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira, dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal bisa berlayar dengan perintah-Nya, dan (juga) supaya kamu bisa mencari karunia-Nya. Mudah-mudahan kamu (mau) bersyukur." – (QS.30:46).

 

Masih banyak lagi berbagai ayat Al-Qur'an lainnya, yang juga menunjukkan perbuatan Allah (melalui sunatullah), yang tiap saatnya pasti selalu menyertai di belakang tiap perbuatan manusia, sepanjang hidupnya, sesuai dengan segala keadaan yang telah diusahakan oleh manusia itu sendiri ketika berbuat (termasuk tentunya segala keadaan di lingkungan sekitarnya, sebagai rahmat-Nya ataupun ujian-Nya).

Adanya pemakaian istilah "perintah-Nya" dalam ayat di atas, karena segala zat ciptaan-Nya selain manusia (khususnya segala benda mati dan para makhluk gaib), mereka selalu patuh dan tunduk kepada segala perintah-Nya. Mereka justru tidak seperti halnya manusia, yang telah diberikan-Nya kebebasan (sebagai bentuk ujian-Nya), untuk bisa memilih mengikuti perintah-Nya, ataupun tidak.

Untuk segala hal yang pasti berlaku bagi tiap manusia (bahkan bagi iblis dan orang yang paling kafir sekalipun), di dalam Al-Qur'an justru tidak disebut sebagai "perintah-Nya" (bersifat tidak memaksa), tetapi biasanya disebut sebagai "kehendak-Nya" (bersifat memaksa).

"Apakah kamu (hai manusia) tiada mengetahui, bahwa kepada Allah, bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata, dan sebagian besar dari manusia. …" – (QS.22:18).

Cobaan dan ujian-Nya, bukan siksaan-Nya

Manusia umumnya beranggapan, bahwa segala pengaruh dari "luar" dirinya dan "tidak diketahuinya", disebut sebagai pengaruh dari perbuatan Allah. Sedangkan pengaruh semacam ini yang justru terasa merugikannya, relatif umum disebut sebagai 'cobaan atau ujian-Nya'.

Namun segala pengaruh dari "luar" dirinya, yang justru telah "bisa diketahuinya", disebut sebagai pengaruh dari perbuatan manusia dan segala makhluk-Nya lainnya di sekitar. Segala pengaruh semacam ini yang terasa merugikannya, relatif jarang disebut sebagai 'cobaan atau ujian-Nya'.

Sekilas anggapan itu 'seolah-olah' betul, namun seperti uraian di atas, bahwa tiap pengaruh (secara langsung ataupun tidak, yang bisa menguntungkan ataupun merugikan, secara lahiriah ataupun batiniah), bagi tiap manusia, justru 'hanya' berasal dari segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini, sama-sekali tidak ada sedikitpun pengaruh 'langsung' dari Allah.

Segala cobaan atau ujian-Nya itu pada dasarnya berupa segala pengaruh kepada tiap manusia (secara langsung ataupun tidak), yang 'murni' berasal dari segala zat ciptaan-Nya (nyata dan gaib), serta 'di luar' diri manusianya sendiri, yang dianggap merugikan, membebani, berpengaruh buruk ataupun tidak menguntungkannya.

Sebaliknya, jika segala pengaruh semacam itu 'murni' berasal dari hasil segala perbuatan manusianya sendiri, yang secara langsung ataupun tidak telah mempengaruhi lingkungan di sekitarnya (ataupun seluruh alam semesta), yang lalu kembali lagi mempengaruhi dirinya, maka hal ini biasanya disebut sebagai 'siksaan-Nya'. Jika siksaan-Nya relatif amat besar, juga biasanya disebut sebagai 'azab-Nya'.

Ringkasnya, segala 'cobaan atau ujian-Nya' itu, adalah segala pengaruh yang murni berasal dari 'luar' manusia yang mengalaminya. Serta tidak ada kaitannya sama-sekali dengan hasil dari tiap perbuatan manusia itu sendiri (secara langsung ataupun tidak).

Sama-sekali tidak ada tanggung-jawab manusianya, dari segala pengaruh ujian-Nya atas hasil dari tiap perbuatan yang dilakukannya, ketika ia sedang mengalami ujian-Nya itu. Bahkan makin besar beban ujian-Nya itu, makin 'besar' pula pahala-Nya (nilai amalannya), yang diperolehnya dari tiap amal-kebaikannya, dan sebaliknya justru makin 'ringan' beban dosa dari tiap amal-keburukannya.

Hanyalah Allah Yang Maha mengetahui besarnya beban ujian-Nya, sekaligus pula besarnya balasan-Nya yang sesuai atau setimpal (pahala-Nya dan beban dosa), atas tiap amal-perbuatan manusia.

Ujian-Nya memang terasa membebani atau menyiksa, namun sama-sekali 'bukan' siksaan-Nya. Walau ujian-Nya memang bukanlah langsung berasal dari Allah (hanya dari segala zat ciptaan-Nya), tetapi Allah tetap berkehendak ikut bertanggung-jawab atas tiap ujian-Nya, sebagai bagian dari rencana-Nya bagi alam semesta, karena ujian-Nya adalah sarana Allah untuk bisa menguji keimanan hamba-hamba-Nya.

Sama sekali tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami ujian-Nya, secara lahiriah dan khususnya secara batiniah, tiap saatnya sepanjang hidupnya, bahkan termasuk para nabi-Nya dan konglomerat sekalipun. Pada uraian di bawah, justru ujian-Nya secara batiniah dari para makhluk gaib, yang paling penting untuk bisa dipahami.

Lihat pula pada "Gambar 23: Diagram siklus proses sesaat perbuatan manusia", tentang pengaruh ujian-Nya atas tiap perbuatan manusia.

Cobaan dan ujian-Nya, pasti mampu dipikul manusia

Segala hal yang bersifat batiniah pada dasarnya justru paling penting, mendasar, hakiki dan kekal (di dalam kehidupan akhirat atau kehidupan batiniah ruh). Dari mengatur dan membangun sikap-sikap batiniah ruhnya, terutama sikap ikhlas, tiap manusia bisa relatif mudah pula mengatasi segala ujian-Nya (secara lahiriah dan batiniah).

Sedang segala hal yang bersifat lahiriah, justru pasti bermuara kembali ke segala hal yang bersifat batiniah. Bahkan makna 'beban ujian-Nya' pada dasarnya lebih terkait dengan aspek batiniah.

Hal inilah yang dimaksud dalam kandungan isi Al-Qur'an yang menyatakan, seperti "Allah mustahil memberi beban ujian, yang tidak mungkin dipikul oleh manusia", atau "Allah mustahil memberi cobaan atau ujian-Nya, yang melewati batas kemampuan manusia". Demikian pula maksud dari manusia, yang telah ditunjuk atau mendapat amanat-Nya, sebagai khalifah-Nya (penguasa) di muka Bumi.

Daya-kemampuan lahiriah tiap manusia memang relatif amat terbatas, dan sebaliknya daya-kemampuan batiniah tiap manusia justru relatif amat sangat luas, karena kemampuan batiniah memang hanya milik (atas kekuasaan) tiap manusianya sendiri. Dengan akalnya, tiap manusia justru pasti memiliki kebebasan, kekuasaan dan otoritas yang sepenuhnya, untuk bisa mengatur alam batiniahnya sendiri.

Betapapun keadaan lahiriah tiap manusia, ia justru pasti tetap memiliki kesempatan yang amat luas dan sama, untuk mendapat Surga di alam akhirat (alam batiniah ruh). Begitu pula perubahan amat besar pada alam batiniah ruhnya, bisa membuat manusia menjadi setengah malaikat ataupun setengah iblis; menjadi nabi ataupun fir'aun; menjadi orang yang amat berilmu ataupun yang amat bodoh, menjadi penghuni Surga yang paling mulia ataupun Neraka yang paling hina; dsb.

Contoh sederhananya, orang buta ataupun cacat tubuhnya, bisa melupakan atau mengabaikan kekurangan lahiriahnya, dan lalu ia bisa menjalani kehidupannya secara 'lebih normal', jika ia telah menerima dengan ikhlas dan sabar, atas berbagai kehendak-Nya itu (mendapat cobaan atau ujian-Nya).

Dan seorang fakir-miskin dan seorang konglomerat sama-sama tetap bisa pula tersenyum ataupun berbahagia, pada berbagai hal dan saat tertentu dalam kehidupannya masing-masing.

Pengaruh ujian-Nya atas kemampuan manusia

Ujian-Nya relatif luas cakupannya (lahiriah dan batiniah), serta bisa mempengaruhi seluruh aspek dan jenis kemampuan tiap manusia ('daya manusia aktual'), yang mewujudkan segala amal-perbuatannya. Beban ujian-Nya menentukan nilai penghargaan-Nya yang sebenarnya atas tiap amal-perbuatan manusia, di samping: niat, beban tanggung-jawab, tingkat keterpaksaan, tingkat kesadaran, dsb, saat berbuat. Hal itulah yang terjadi, saat Allah memberikan pahala-Nya (nikmat-Nya), atas tiap amal-kebaikannya, juga saat menimpakan beban dosa (siksa-Nya), atas tiap amal-keburukannya.

Makin berat ujian-Nya yang dialami tiap manusia, makin besar pula pahala-Nya yang diperolehnya di dunia ini (dan khususnya lagi di akhirat), atas tiap usahanya dalam keadaan sedang menghadapi ujian-Nya itu. Juga nilai siksaan-Nya atas tiap perbuatan dosa, makin ringan jika dilakukan dalam keadaan relatif amat terpaksa (akibat dari ujian-Nya), dibandingkan dalam keadaan normal (tidak terpaksa).

Contoh sederhananya orang biasa yang ikhlas bersedekah uang Rp. 50.000,-, akan mendapatkan pahala-Nya yang relatif lebih banyak, dibandingkan pahala-Nya bagi orang kaya, yang bersedekah dengan jumlah uang dan tingkat keikhlasan, yang sama.

Pada orang yang sedang amat kelaparan, jika memang tidak tersedia makanan lainnya, asal tidak berlebihan, ia juga diperbolehkan untuk memakan makanan yang telah diharamkan oleh hukum syariat.

"Proses berusaha" jauh lebih penting, daripada hasilnya

Perlu diketahui pula, bahwa daya-kemampuan dan akal-pikiran pada masing-masing manusia, amat berbeda, sehingga hasil akhir dari proses kehidupannya masing-masing, juga bisa berbeda-beda. Namun justru bukan "hasil akhir" (lahiriah dan batiniah), yang lebih dihargai ataupun dinilai oleh Allah, melainkan "proses berusahanya", dimana segala bentuk beban ujian-Nya meliputi proses ini.

Segala "proses berusaha" tiap umat manusia dalam menjalani dan mengisi kehidupannya di dunia fana ini, yang justru dihisab-Nya pada Hari Kiamat (dihitung-Nya jumlah nilai amalannya), dan bukan segala "hasil akhirnya". Tiap manusia sama-sekali tidak dianiaya-Nya, serta tidak menanggung segala beban dosa manusia lainnya (dihisab-Nya dengan adil). 59)

Dengan mengambil contoh pada orang biasa dan orang kaya, yang ikhlas bersedekah di atas, maka "hasil akhirnya" memang sama, 9jumlah nilai sedekah dan tingkat keikhlasan keduanya sama0. Tetapi perbedaan yang membuat masing-masing mereka mendapat pahala-Nya yang berbeda, berupa perbedaan pada "proses berusaha" mereka, saat bersedekah uang senilai Rp. 50.000,- tersebut.

Bagi orang biasa, uang senilai itu mungkin hanya cukup untuk belanja sehari sekeluarganya. Sehingga usahanya secara batiniah lebih berat, untuk bisa timbulnya sikap ikhlas saat melepas uangnya. Sedang bagi orang kaya, uang senilai itu mungkin uang saku anaknya dalam seharinya, maka ia jauh lebih ringan melepasnya untuk bersedekah.

Ke-Maha Adil-an-Nya pada aspek batiniah, bukan lahiriah

Tiap manusia pada hakekatnya pasti memiliki kedudukan dan kesempatan yang sama, bagaimanapun keadaan fisik-lahiriahnya, agar bisa mendapatkan rahmat-Nya yang paling baik (Surga di akhiratnya), tergantung dari berbagai usahanya, untuk mengikuti segala pengajaran dan tuntunan-Nya dalam berbagai ajaran agama-Nya, dengan sebaik-baiknya sesuai keadaan dan kemampuannya masing-masing.

Hal inipun amat sesuai dengan kesamaan keadaan batiniah ruh tiap bayi manusia yang memang amat suci-murni dan bersih dari dosa. Sehingga orang miskin, biasa dan kaya misalnya, justru tidak berbeda di mata Allah, dan pasti sama-sama mendapatkan ujian-Nya (melalui kekurangan dan kelebihan harta). Hal ini diuraikan sebagai berikut:

Orang kaya (berkelebihan harta):

Diuji-Nya dengan kelebihan harta, yang perlu kesabaran tinggi ketika berusaha memperoleh ataupun menggunakan hartanya itu, misalnya terhadap ancaman berbagai dosa, seperti:

~

Kemusyrikan

Menjadikan harta sebagai ilah selain Allah.

~

Kekafiran

Menggunakan hartanya untuk berjudi, berzina dan berbagai perbuatan maksiat lainnya.

~

Kemungkaran

Menggunakan harta untuk berpesta-pora, berfoya-foya, dsb. Juga dalam berrebut harta warisan.

~

Kemunafikan

Melupakan, bahwa hartanya adalah amanat-Nya yang perlu dinafkahkannya di jalan-Nya, sekaligus agar mensucikannya. Seperti: membayar zakat, bersedekah, menyantuni anak-anak yatim dan fakir-miskin, dsb.

~

Kezaliman

Mencari harta dengan merusak alam atau lingkungan sekitar.

~

Kesombongan dan Riya

Menunjukkan kelebihan hartanya itu kepada orang-lain, agar bisa mendapat pujian.

~

Keserakahan dan Mencuri

Mencari harta dengan makan riba, atau merampas hak-milik orang-lain; dsb.

Orang miskin (berkekurangan harta):

Diuji-Nya dengan kekurangan harta, yang perlu kesabaran yang amat tinggi dalam menghadapinya.

Terutama dari rasa curiga dan berburuk-sangkanya kepada Allah, akibat dari kekurangan kenikmatan duniawi, yang diberikan-Nya kepadanya. Akhirnya hal itupun bisa pula menimbulkan berbagai keburukan lainnya, khususnya yang berupa misalnya: merampas hak-milik orang-lainnya (mencuri, merampok, dsb), berjudi atau mengadu nasib, dsb

Orang biasa (kadang berkekurangan ataupun berkelebihan harta):

Mengalami dua macam ujian-Nya, sebagian dari ujian-Nya bagi orang kaya, dan sebagian lagi bagi orang miskin.

 

Sehingga bukanlah hanya pada berkekurangan harta saja, yang mudah membawa manusia kepada kekafiran, namun justru juga pada berkelebihan harta, yang melebihi kebutuhan atau keperluannya.

Hal yang berbeda hanya sudut pandangnya saja, orang yang cenderung melihat aspek lahiriah, maka ia akan menilai hidup orang kaya lebih enak. Padahal beban resiko dosa yang dihadapi orang kaya, justru relatif lebih banyak (pada uraian di atas). Bahkan orang kaya, secara batiniah termasuk orang yang perlu dikasihani, karena mereka mendapat ujian-Nya yang lebih berat daripada orang miskin, apalagi atas orang biasa. Walau secara sekilas, hal seperti ini memang relatif sulit dipahami oleh orang awam.

Sedang jika dilihat dari aspek batiniahnya, ketiga tipe orang itu justru sama-sama mendapatkan ujian-Nya. Hal yang lebih tinggi lagi jika bisa dipahami, bahwa mereka semua justru sama-sama disayangi-Nya. Tentunya hal inipun bisa terjadi, jika kesemuanya (orang miskin, biasa dan kaya), adalah orang-orang yang telah beriman.

Apabila dikaitkan dengan contoh pahala-Nya bagi orang-orang yang bersedekah di atas, maka bisa diuraikan sebagai berikut.

Orang biasa (terkadang berkekurangan dan berkelebihan harta):

Mengalami ujian-Nya yang relatif paling ringan. Dalam keadaan biasa umpamanya, maka bisa dikatakan pula, bahwa pahala-Nya yang diperolehnya "biasa", ketika ia bersedekah sejumlah uang tertentu yang sewajarnya.

Orang kaya (berkelebihan harta):

Mengalami ujian-Nya yang relatif paling berat. Dalam keadaan biasa itu maka ia hanyalah bisa memperoleh pahala-Nya seperti bagi orang biasa di atas, ketika ia bersedekah dengan sejumlah uang yang relatif jauh lebih besar.

Selain itu, ia berkesempatan besar untuk bisa bersedekah, walau godaannya cukup besar, untuk tidak melepaskan hartanya dengan begitu saja (khususnya untuk dinikmatinya sendiri).

Orang miskin (berkekurangan harta):

Mengalami ujian-Nya yang relatif cukup berat. Dalam keadaan biasa itu maka ia bisa memperoleh pahala-Nya seperti bagi orang biasa di atas, walau ia bersedekah dengan jumlah uang yang jauh lebih sedikit (misalnya kepada orang miskin lainnya, yang jauh lebih membutuhkan).

Bahkan pahala-Nya seperti itupun bisa pula diperolehnya, jika ia tetap bersabar dan beriman, walau tanpa perlu bersedekah.

 

Dari gambaran sederhana di atas cukuplah jelas terlihat adanya kesempatan sama bagi tiap manusia, dalam beramal-ibadah dan dalam mendapat pahala-Nya (bersifat batiniah), bahkan termasuk pula untuk mendapat pahala-Nya yang paling baik (Surga di akhirat), betapapun keadaan fisik-lahiriahnya masing-masing. Hal yang paling pentingnya, hanya pada bagaimana ia bisa menghadapi dan menyikapi ujian-Nya, dengan sebaik-baiknya sesuai keadaan dan kemampuannya.

Bahkan dengan dipahaminya hakekat dari pahala-Nya, seluruh orang yang beriman juga pasti disayangi-Nya secara batiniah. Setelah mereka bersabar (menghadapi segala ujian-Nya), berikhlas (menerima segala kehendak-Nya), bertawakal (berserah-diri atas hasil usahanya), dan bersyukur (atas segala pemberian-Nya). Dan akhirnya juga setelah mereka itu menyadari, bahwa segala keadaan lahiriahnya yang telah diberikan-Nya, adalah hal-hal yang terbaik baginya (khususnya secara batiniah), dan tentunya setelah berhasil diperolehnya berbagai hikmah dan hidayah-Nya tentang tujuan penciptaan kehidupan manusia.

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang dosa, pahala dan ujian-Nya.

Hal yang paling ideal tentunya, apabila tiap manusia bisa lebih mencapai keseimbangan batiniahnya, dengan berusaha menghindari kemiskinan, ataupun menghindari mencari kekayaan secara berlebihan (jauh melebihi kebutuhannya). Maka amat dianjurkan di dalam ajaran agama-Nya, untuk saling membantu dan menolong antar sesama umat, melalui anjuran seperti: membayar zakat, bersedekah, berinfaq, dsb.

Hal itupun menunjukkan sifat-sifat Allah, Yang Maha Adil dan Bijaksana.

Begitu pula halnya dalam menyikapi segala ujian-Nya lainnya selain dari harta di atas (kekayaan, uang) secara lahiriah dan batiniah, seperti: tahta (jabatan, kedudukan), wanita (nafsu birahi), dsb. segala ujian-Nya justru suatu sarana Allah untuk mengetahui, siapakah yang beriman ataupun yang kafir kepada perintah-Nya, di antara tiap umat manusia.

Paling penting memakmurkan kehidupan akhirat

Segala 'proses usaha' dalam memakmurkan kehidupan akhirat (kehidupan batiniah ruh), dengan ataupun tanpa penuh kesadaran atau pemahaman, yang justru jauh lebih diredhai-Nya. Kehidupan dunia ini hanya sarana yang disediakan oleh Allah bagi umat manusia, agar bisa membangun kehidupan akhiratnya sendiri yang makin baik.

Kehidupan dunia yang fana ini justru bukan tujuan akhir dari diciptakan-Nya seluruh alam semesta ini. Umat manusia bukan hidup atau diciptakan-Nya untuk hanya sekitar 60-70 tahun di dunia ini saja, tetapi untuk hidup di akhirat yang bersifat kekal dan hakiki.

Justru suatu kesia-siaan bagi tiap manusia, jika hanya berusaha mengejar kehidupan duniawinya. Padahal kehidupan dunia fana ini hanya suatu bentuk ujian-Nya secara lahiriah, sedang ujian-Nya secara batiniah dilakukan oleh para jin, syaitan dan iblis. Jika tiap manusia dianggap-Nya telah relatif mampu melewati segala ujian-Nya dengan sebaik-baiknya (menurut penilaian-Nya), maka atas ijin-Nya, manusia akan bisa mendapatkan surga pada kehidupan akhiratnya di dunia ini (surga 'kecil') ataupun di Hari Kiamat (surga 'besar').

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang ujian-Nya secara batiniah melalui para makhluk gaib. Dan topik "Benda mati gaib", tentang kehidupan akhirat.

Konsep reinkarnasi, sekedar solusi masalah keadilan duniawi

Selain telah cukup jelas bisa dibantah, tentang pemahaman atas ruh makhluk lama yang telah wafat, yang dianggap bisa pindah tempat ke tubuh wadah makhluk baru, yang akan terlahir kemudian (menitis kembali atau berreinkarnasi).

Namun justru telah diketahui pula, bahwa konsep reinkarnasi pada beberapa agama itu, timbul berdasarkan pemahaman atas adanya suatu bentuk "ke-tidak adil-an" Tuhan pada kehidupan dunia fana ini (kehidupan nyata-fisik-lahiriah).

Baca pula topik "Ruh-ruh", tentang reinkarnasi.

Keadilan Tuhan dipahami oleh para penganut agama-agama itu hanya akan bisa terwujud jika manusia terus hidup dan menjalani fase-fase kehidupan dunia berikutnya (atau terus terlahir kembali), sampai kepada keadaan kehidupannya yang telah bisa dianggap 'paling tnggi dan agung', yaitu mencapai Moksha (keadaan menyatu dengan Tuhan) ataupun mencapai kesadaran agung (Nirvana).

Sedangkan sebelum mencapai Moksha itu, tiap manusia harus terlahir kembali ke fase kehidupan dunia berikutnya, agar benar-benar bisa menikmati segala hasil perbuatannya pada kehidupannya saat ini, yang justru belum sempat dinikmatinya sampai akhir hidupnya. Dan sebelum terlahir kembali, ruhnya tinggal sementara di Surga ataupun di Neraka, sesuai segala amal-perbuatannya sebelumnya (karmanya).

Bagi para penganut reinkarnasi itu, justru Surga dan Neraka hanya suatu tempat tinggal 'sementara', dan bukan tempat tujuan yang terakhir. Hal paling penting lainnya, 'kenikmatan' kehidupan di dunia ini justru hanya menurut penilaian 'relatif' manusia saja, dan tidak ada penilaian 'absolut' dari Tuhannya, atas tiap perbuatan manusia.

Dan ringkasnya, Tuhan dari agama-agama itu tidak memiliki kekuasaan, untuk langsung memberi penilaian dan balasan yang 'adil' atas tiap perbuatan manusia, bahkan apalagi penilaian 'segera' setelah perbuatannya itu selesai dilakukannya.

Tetapi pemahaman reinkarnasi itupun hanya tahayul yang amat menyesatkan, karena keadaan-keadaan relatif 'ideal' yang diidamkan oleh tiap manusianya (pemenuhan segala aspek fisik-lahiriah-duniawi, secara adil), dari segala hasil perbuatannya sebelumnya, justru belum tentu sesuai dengan keadaan lingkungan, pada tiap fase kehidupannya. Maka ia bisa mesti menunggu tanpa akhir, atau bisa tidak memiliki harapan sama-sekali, untuk mencapai kenikmatan yang diidamkan dan dianggapnya harus diperolehnya (dari segala hasil usahanya sendiri).

Pemahaman reinkarnasi itu justru amat ditentang dalam agama Islam. Karena seperti diuraikan sebelumnya, bahwa Ke-Maha Adil-an-Nya justru hanya terwujud pada aspek batiniah, bukanlah pada aspek lahiriah. Sedang kehidupan dunia ini memang bukan diciptakan-Nya, agar tiap manusia bisa meraih berbagai kenikmatan duniawi semata-mata, apalagi secara merata, tetapi sebagai bentuk cobaan atau ujian-Nya bagi manusia, sekaligus sebagai sarana untuk meraih kehidupan akhiratnya masing-masing (kehidupan batiniah ruh), yang paling baik pada Hari Kiamat (Surga besar).

Bahkan dengan memahami kehidupan akhirat itu, tiap manusia juga bisa meraih kebahagiaan yang jauh lebih hakiki dalam kehidupan dunianya (berupa surga-surga kecil atau pahala-pahala-Nya). Dan tiap manusia justru memiliki kesempatan yang persis sama dalam berusaha mendapat Surga besar dan kecil tersebut, betapapun segala keadaan fisik-lahiriahnya. Semuanya hanya tergantung kepada amal-perbuatan tiap manusia itu sendiri, seperti yang sering disebut dalam Al-Qur'an.

Hanya penilaian berdasar 'amal-perbuatan' inilah, satu-satunya ukuran justru yang 'paling adil' bagi tiap umat manusia. Juga berdasar 'proses berusaha', bukan berdasar 'hasil usahanya' (hasil lahiriah dan batiniah), bahkan berapapun panjang usia hidup tiap manusia.

Bahkan Allah Yang Maha kuasa dan Maha mengetahui, pasti memiliki penilaian yang 'absolut' dan balasan yang 'setimpal' (adil), atas tiap perbuatan manusia, 'segera' setelah perbuatannya itu selesai dilakukan, sesederhana atau sekecil apapun perbuatan itu. Serta suatu bentuk balasan-Nya yang paling hakiki justru bersifat gaib-batiniah-spiritual, bukan bersifat nyata-lahiriah-duniawi.

Baca pula topik "Sunatullah" sekarang, tentang hubungan antara perbuatan manusia dan balasan-Nya, serta nilai amalan absolut.

Allah Maha Adil, berapapun usia hidup tiap manusia

Sedangkan jika ditinjau dari panjang usia hidup tiap manusia, justru Ke-Maha Adil-an-Nya juga relatif mudah tampak, karena makin lama hidup seseorang, cenderung makin banyak pula dosa yang bisa diperbuatnya, tetapi justru makin banyak pula tersedia waktu baginya, untuk bisa makin memperbaiki dosa-dosanya itu (dengan bersungguh-sungguh bertaubat).

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang taubat.

Serta makin panjang usia hidup tiap manusia, maka kesadaran dan tanggung-jawabnya dalam berbuat sesuatu hal, makin tinggi pula. Maka dalam ajaran agama Islam, berapapun usia hidup manusia justru segala nilai amalannya justru telah bisa langsung dihitung-Nya dengan adil, saat ia wafat ataupun saat ruhnya kembali ke hadapan 'Arsy-Nya.

Dan atas ijin-Nya, anak-anak yang meninggal dunia pada saat sebelum usia akil-baliqnya, pasti bisa langsung masuk surga.

Hal yang amat penting pula bagi tiap umat Islam, bahwa amat keliru sesuatu pemahaman, seperti "di usia muda untuk 'bersenang-senang', sedangkan di usia tua untuk banyak bertaubat". Padahal tidak ada seorang manusiapun yang bisa mengetahui panjang usia hidupnya. Padahal tidak ada seorang manusiapun yang bisa memastikan, hal-hal yang akan mampu dilakukannya suatu saat, termasuk dalam bertaubat.

Justru 'tiap saatnya' tiap umat Islam semestinya bisa menjalani kehidupan dunianya dengan sebaik-baiknya, berdasar tiap pengajaran dan tuntunan-Nya yang telah bisa dipahami, sesuai dengan keadaan, pengetahuan dan kemampuannya masing-masing.

Segala hasil usaha manusia, tetap kembali kepadanya

Segala hasil usaha atau hasil amal-perbuatan tiap manusia pada dasarnya semata-mata hanya buat dirinya sendiri (bahkan bukan buat Allah), walaupun tiap amal-perbuatan itu sedikit-banyak bisa memiliki pengaruh baik (berkah) ataupun buruk bagi orang-lain. Pada akhirnya, pahala (nikmat-Nya) dan beban dosa (hukuman-Nya) sebagai balasan-Nya atas tiap amat-perbuatan itu, justru hanya diberikan-Nya kepada pelakunya. Tentunya makin banyak orang-lainnya yang terpengaruh, makin besar pula balasan-Nya bagi pelakunya (dilipat-gandakan-Nya nikmat ataupun hukuman-Nya), atas tiap amat-perbuatannya.

Sedang orang-lainnya yang ikut terpengaruh, justru ia punya tanggung-jawab sendiri, atas pilihannya untuk mengikuti pengaruh itu. Namun besar tanggung-jawab yang sebenarnya, justru ditentukan oleh besarnya beban dari pengaruhnya (tingkat keterpaksaan dan tingkat kesadaran saat berbuat). Serta seseorang pasti tidak akan menanggung segala beban dosa orang-lainnya.

Bagi orang-orang yang tingkat keimanannya telah amat tinggi (para nabi dan rasul-Nya, para sahabat nabi, para tabiin, para tabiit-tabiin, para wali, dsb), justru bisa 'menikmati', ketika berbuat amal-kebaikan (memberi berkah) dan menyampaikan pengajaran (memberi syafaat) bagi orang-lainnya, karena di balik itu, mereka justru sambil memakmurkan pula kehidupan akhiratnya sendiri (kehidupan batiniah ruhnya).

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang syafaat.

Makna absolut tiap usaha manusia, yang sebesar biji zarrah

Apakah peran dan makna tiap usaha manusia yang amat sangat sederhana atau kecil sekalipun (sebesar biji zarrah, baik dan buruk), di tengah-tengah alam semesta ini dan kehidupan manusia di dalamnya, dengan segala aspeknya yang amat sangat luas ini?.

Tiap usaha sekecil apapun juga pasti dinilai oleh Allah, bahkan tiap beban dosa ataupun pahala-Nya dari hasil sesuatu amal-perbuatan, pasti akan dilipat-gandakan-Nya (di dunia dan terutama di akhirat).

Bahkan tiap usaha manusia itu bisa memiliki pengaruh sampai selama bertahun-tahun ataupun bahkan ribuan tahun, tergantung pada besar nilai amalannya. Pengaruh itu bisa bagi orang-lain ataupun bagi diri pelakunya sendiri (sesaat ataupun sepanjang hidupnya).

Contoh paling idealnya, tiap amal-perbuatan nabi Muhammad saw (termasuk yang amat sederhana sekalipun), bahkan telah menjadi contoh dan suri-teladan bagi seluruh umat manusia, sampai sekarang ini ataupun bahkan juga di masa mendatang. 60)

Pemahaman atas disempurnakan-Nya pahala atau nikmat-Nya dan beban dosa atau hukuman-Nya pada Hari Kiamat, adalah dilipat-gandakan-Nya balasan bagi tiap amal-perbuatan manusia yang sekecil apapun (sebesar biji zarrah), khususnya karena tiap amal-perbuatan manusia bisa memiliki pengaruh absolut bagi "seluruh alam semesta" (memiliki "nilai amalan absolut").

Sesuatu jumlah "nilai amalan absolut", yang akan dihitung atau dihisab-Nya di Hari Kiamat, bagi segala amal-perbuatan tiap manusia. Hal ini pasti berbeda daripada nilai amalan dari penilaian 'relatif' dan 'subyektif' menurut tiap manusia, selama di dunia.

Tiap usaha atau amal-perbuatan tiap manusia yang amat sangat sederhana atau kecil sekalipun (sebesar biji zarrah), pasti ada memiliki pengaruh, peran ataupun makna bagi seluruh alam semesta ini, seperti halnya pada segala amal-perbuatan dari nabi Muhammad saw, selama hidupnya (seperti: cara Nabi berjalan, makan, tidur, dsb).

Oleh karena itulah dalam ajaran agama Islam, amat dianjurkan bagi tiap umat Islam, agar jauh lebih bisa memperhatikan tiap pikiran, perkataan dan perbuatannya, kepada segala hal yang benar dan positif, agar iapun bisa membentuk segala akhlak, budi-pekerti dan kebiasaan positif, sekecil apapun (membangun kehidupan akhiratnya).

Makna do'a kepada orang yang telah meninggal dunia

Dengan adanya makna ataupun nilai amalan 'absolut' dari tiap amal-perbuatan manusia, sekaligus pula telah selesainya segala amal-perbuatannya setelah ia meninggal dunia, maka bisa timbul pertanyaan "apakah pengaruh dari do'a dan laknat kepadanya, dari berbagai orang yang masih hidup, yang justru telah ikut terpengaruh akibat dari tiap perbuatannya (secara langsung ataupun tidak)?" atau "apakah do'a dan laknat tersebut bisa ikut mempengaruhi jumlah nilai amalannya?".

Jawabannya 'tidak bisa', karena nilai amalan 'absolut' itu tidak bisa diubah oleh tiap do'a dan laknat dari semua orang yang telah ikut terkena akibat (pengaruh baik ataupun buruk, secara langsung ataupun tidak), dari amal-perbuatan terkait, sampai akhir jaman.

Hal inipun bisa makin dipahami, dari berbagai uraian sebagai berikut:

Obyektifitas kandungan isi do'a dan laknat, hanyalah milik Allah, Yang Maha mengetahuinya.
Suatu perbuatan yang sama, bisa memiliki pengaruh 'baik' bagi seseorang, namun juga bisa sebaliknya bagi orang lainnya, relatif tergantung kepada pemahaman ataupun cara pandang dari orang-orang yang terpengaruh.
Do'a dan laknat dari manusia bisa tidak jelas atau salah sasaran (misalnya karena tidak kenal benar pelakunya), sedangkan amat sedikit pribadi seseorang (bersifat batiniah), yang bisa diketahui benar atau jelas oleh orang-lainnya.
Ada orang beriman yang sengaja mendo'akan kepada orang kafir (misalnya, agar kembali beriman), dan ada pula orang kafir yang sengaja melaknat kepada orang beriman.
Hasil pengaruh dari sesuatu amal-perbuatan tidak bisa diketahui langsung oleh pelakunya sendiri, apalagi jika pelakunya itu telah meninggal dunia. Sehingga berbagai hasil pengaruh dari amal-perbuatan itupun relatif tidak bisa langsung mengubah keadaan batiniah ruh pelakunya (informasi ataupun catatan amalan dalam zat ruhnya), yang tentunya dari sudut pandang pelakunya sendiri.

 

Telah pula diuraikan sebelumnya bahwa do'a adalah suatu cara terapi batiniah, untuk bisa membentuk berbagai keadaan dan semangat batiniah yang positif. Sedang laknat serupa pula dengan do'a, namun lebih khususnya untuk bisa membentuk semangat "melawan" berbagai keadaan batiniah, yang telah dianggap negatif ataupun tidak disukai (kemusyrikan, kezaliman, kebatilan, keburukan, godaan syaitan, dsb), yang tentunya menurut penilaian 'relatif' tiap manusianya.

Fokus paling penting dari segala do'a dan laknat, yang sering disebut di dalam ajaran agama-Nya, pada dasarnya justru bagi tiap diri pribadi manusia yang masih hidup itu sendiri, agar bisa pula menjalani kehidupan dunianya, dengan keadaan batiniah yang selalu makin baik dan positif (membangun kehidupan akhiratnya selama di dunia).

Contohnya, anjuran-Nya bagi umat Iskam agar bisa sebanyak mungkin bersyalawat (atau berdo'a) bagi para nabi-Nya (khususnya bagi nabi besar Muhammad saw), justru bertujuan agar umat semakin menghargai dan menjaga kemuliaan seluruh ajaran yang disampaikan oleh para nabi utusan-Nya itu. Dan tentunya sekaligus pula, agar umat bisa mengamalkan ajaran-ajaran itu, dalam kehidupannya sehari-hari.

Di lain pihaknya, kemuliaan "pribadi" para nabi-Nya itu justru sama sekali tidak berubah ataupun bertambah, karena banyaknya umat yang bersyalawat. Bahkan mereka sekarang telah berada di Surga dan amat dekat di sisi 'Arsy-Nya, sedangkan 'kedekatan' inipun tentu saja sesuai tingkat keimanannya masing-masing, yang telah diusahakannya sendiri secara setimpal.

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang Hari Kiamat dan kehidupan di Surga.

Manusia, khalifah-Nya terutama pada aspek batiniah

Apabila dikaitkan antara amat pentingnya usaha membangun kehidupan akhirat (kehidupan batiniah ruh), dan juga amat pentingnya peran tiap usaha manusia yang sebesar biji zarrah sekalipun bagi alam semesta ini, maka bisa diketahui pula makna dari "manusia adalah khalifah-Nya (penguasa) di muka Bumi" adalah betapapun keadaan lahiriahnya, tiap manusia memiliki kebebasan, otoritas dan kekuasaan sepenuhnya, untuk mengatur kehidupan akhiratnya sendiri (kehidupan batiniah ruhnya), tanpa bisa dipengaruhi oleh segala sesuatu halpun. Sedang Allah hanya 'mengikuti' pengaturan oleh manusianya sendiri (melalui sunatullah batiniah).

Tentunya hal yang relatif amat ideal itupun (mampu mengatur kehidupan akhirat), hanya bisa dicapai jika manusia telah cukup bisa mengatasi tiap cobaan atau ujian-Nya, yang justru telah mengganggu keadaan batiniah ruhnya (jika keimanannya telah cukup tinggi). Juga iapun bahkan bisa mengambil berbagai manfaat positif (hikmah-Nya), dari cobaan atau ujian-Nya tersebut.

Contoh yang relatif mudah diketahui adalah, tiap manusia (dari fakir miskin sampai konglomerat, dari anak-anak sampai lansia, dari orang normal sampai orang cacat, dari orang pintar sampai orang bodoh, dsb), bisa membangun dan memiliki kebahagiaan batiniahnya masing-masing dalam hidupnya. Juga tidak ada seorangpun yang bisa memastikan, dan berkata misalnya, "si konglomerat yang muda dan tampan itu, jauh lebih berbahagia hidupnya daripada si petani tua dan berkekurangan-miskin", karena segala sesuatu hal yang terlihat-nyata-fisik-lahiriah, memang bersifat fana, amat semu dan menyesatkan.

Demikian pula halnya dengan para nabi-Nya, yang justru pada umumnya bukan berupa orang-orang yang memiliki kedudukan dan kekuasaan duniawi yang amat tinggi. Namun mereka itu telah berhasil dalam menyempurnakan kehidupan batiniah ruhnya, sehingga mereka mendapat kemuliaan yang amat tinggi dan dekat di sisi 'Arsy-Nya.

Kemampuan batiniah tak-terbatas, jika nafsu telah tenang

Maksud dari pernyataan, "Allah tidak akan memberi cobaan-Nya, yang melebihi batas kemampuan umat" adalah, segala persoalan batiniah ruh manusia (cobaan atau ujian-Nya), pada dasarnya memang bersumber dari nafsu-keinginan atas pemenuhan berbagai kebutuhan duniawi-lahiriahnya. Segala sesuatu masalah yang timbul dari adanya nafsu itu, akan teratasi jika nafsu itu sendiri bisa dibuat 'lebih tenang' (serupa halnya nafsu para malaikat). Padahal nafsu adalah sarana yang paling disukai iblis, untuk bisa menggoda manusia (secara batiniah).

Pencapaian nafsu yang 'lebih tenang' itu, antara-lain dilakukan dengan berusaha membentuk sikap-sikap sabar, ikhlas, tawakal dan syukur yang makin tinggi, yang semuanya hanya perlu dilatih ataupun dibentuk secara batiniah saja (relatif tidak perlu segala usaha-tindakan lahiriah), dan hanya melalui pencarian pemahaman yang relatif cukup mendalam atas sikap-sikap batiniah tersebut (melalui bertafakur).

Tentunya hal ini justru relatif pasti "mampu" dicapai oleh tiap umat manusia, karena hanya dengan memanfaatkan akal-pikirannya, tanpa perlu memakai tenaga fisik sama sekali. Bahkan jika nafsunya telah benar-benar 'tenang' (seperti halnya pada orang yang Mukhlis), tiap manusia relatif pasti bisa mengatasi segala bentuk ujian-Nya, dan juga bisa memiliki daya-kemampuan batiniah yang relatif amat besar. Serta iapun relatif amat sulit bisa tersesatkan oleh iblis dan syaitan.

Tetapi persoalannya, sikap-sikap bersabar (menghadapi segala ujian-Nya), berikhlas (menerima segala kehendak-Nya), bertawakal (berserah-diri kepada-Nya atas segala hasil usaha), ataupun bersyukur (menerima segala pemberian-Nya), bukan hal-hal yang mudah dicapai dan tetap bisa terjaga. Namun justru terus-menerus bisa berubah-ubah, mengikuti keadaan naik-turunnya tingkat keimanan manusianya.

Maka dalam ajaran agama-Nya banyak pula anjuran bagi umat, untuk bisa menjalani secara rutin ataupun tidak, berbagai ritual ibadah fisik yang relatif amat sederhana yang semestinya pasti "mampu" pula dilakukan oleh tiap umat, agar diperoleh berbagai pengalaman rohani-spiritual-batiniah untuk terus melatih dan menjaga sikap-sikap sabar, ikhlas, tawakal dan syukur tersebut. Semua amal-ibadah itu juga pada dasarnya justru untuk bisa membina segala akhlak, budi-pekerti dan kebiasaan terpuji yang makin kokoh (membangun kehidupan akhirat).

"…, dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu di dalam (ber)agama, sesuatu kesempitan (kesulitan). …." – (QS.22:78).

Sabar, ikhlas, tawakal dan syukur dalam menjalani hidup

Pada tabel berikut ini diuraikan secara ringkas, tentang sikap-sikap sabar, ikhlas, tawakal dan syukur, yang sangat penting bagi umat manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia, dengan relatif jauh lebih damai, tenteram, ringan, gembira ataupun bahagia, yaitu: 61)

Tabel 16: Sikap-sikap sabar, ikhlas, tawakal dan syukur

Berbagai catatan tentang sikap sabar, ikhlas,
tawakal dan syukur

Sabar (dalam menghadapi segala ujian-Nya)

»

Seperti diuraikan di atas, bahwa tiap manusia tiap saatnya pasti mendapat ujian-Nya, dan tidak seseorang manusiapun yang tidak menghadapinya (dari orang cacat sampai orang normal; dari fakir miskin sampai konglomerat; dari para nabi-Nya sampai manusia biasa; dari orang pintar sampai orang bodoh; dari berusia anak-anak sampai lansia; dsb).

Sedangkan ujian-Nya itu sendiri suatu kehendak-Nya, agar bisa diketahui-Nya, "siapa di antara umat manusia yang beriman".

Wujud dari ujian-Nya itu pada dasarnya berupa perbedaan antara berbagai keinginan batiniah, terhadap berbagai aspek lahiriahnya yang bisa terwujud. Padahal kekuasaan tiap manusia untuk bisa mengatur segala aspek lahiriahnya justru relatif sangat terbatas. Di lain pihaknya, tiap manusia memiliki kekuasaan sepenuhnya untuk mengatur keinginan batiniahnya, agar jurang perbedaan itu juga bisa menjadi berkurang. Usaha dalam mengatur keinginan batiniah ruh inilah wujud dari suatu 'kesabaran'.

Maka secara batiniah, tidak bisa dikatakan bahwa si fakir miskin hidupnya jauh lebih susah daripada si konglomerat. Bahkan si konglomerat memiliki suatu amanat (tanggung-jawab) dan resiko batiniah yang justru relatif lebih tinggi, atas kelebihan hartanya itu (tanggung-jawab pada perolehan dan pemakaian hartanya).

Dan nilai amalan sebenarnya bukan ditentukan dari 'hasil usaha dan kemampuan' lahiriah, tetapi justru dari 'proses berusahanya' yang dalam prosesnya justru diliputi oleh cobaan atau ujian-Nya.

Si fakir miskin dan si konglomerat juga pasti sama-sama diberi-Nya kesempatan, untuk mendapat pahala-Nya yang paling baik pada alam akhiratnya (Surga), dan sebaliknya keduanya bisa pula sama-sama mendapat Neraka.

Maka 'tidaklah semestinya' ada manusia yang merasa perlu lebih dikasihani daripada orang-lainnya, dalam menjalani kehidupan di dunia, semua justru menghadapi persoalannya masing-masing, yang berbeda hanya sudut pandang tiap manusianya yang relatif sangat subyektif. Padahal semua manusia justru 'sama' di mata Allah. Dan kemuliaan atau nilai dari tiap manusia di mata Allah, justru hanya tergantung kepada segala amal-perbuatannya.

Banyak disebut dalam ayat-ayat Al-Qur'an, tentang anjuran-Nya dan keutamaan dalam bersabar. Bahkan orang-orang yang paling bersabar, adalah orang-orang yang paling kuat dan tahan banting (secara batiniah), di antara seluruh umat manusia, karena mereka itu relatif paling mampu menghadapi berbagai ujian-Nya.

Ikhlas (menerima apa adanya segala kehendak-Nya)

»

Beberapa ayat di dalam Al-Qur'an, disebutkan "agar umat Islam berlaku ikhlas dalam beragama". Sedangkan pada topik "Kitab-kitab tuntunan-Nya (kitab-kitab tauhid)" dan pada "Gambar 33: Diagram hubungan Fitrah Allah dan agama Islam", cukup jelas diuraikan hubungan antara agama-Nya dan kehendak-Nya dalam penciptaan seluruh alam semesta ini, melalui aturan-Nya (sunatullah).

Bahwa segala kejadian yang terjadi pada segala zat ciptaan-Nya (termasuk manusia), justru pasti mengikuti sunatullah, walaupun kejadian itu belum tentu berdasar keredhaan-Nya, sebagai wujud dari diberikan-Nya kebebasan kepada taip umat manusia dalam menentukan pilihan jalan hidupnya (ke arah baik ataupun buruk). Termasuk wujud dari saling bercampur-baurnya berbagai 'jalan hidup' dari segala zat ciptaan-Nya di alam semesta. Di samping sunatullah itu sendiri yang memang amat sangat luas aspeknya,

Baca pula uraian-uraian di atas, tentang kaitan antara jalan hidup setiap manusia dan sunatullah.

Maka semakin luas aspek yang sulit diperkirakan dan dipahami, dengan pengetahuan pada tiap manusia.

Selain memang tidak ada kekuasaan manusia sama-sekali, dalam memahami segala aturan atau rumus proses kejadian di seluruh alam semesta (sunatullah), juga ada keterbatasan manusia dalam memahami keterkaitan hubungan antar sunatullah, yang berlaku atas masing-masing zat ciptaan-Nya.

Sedang manusia justru hanya bisa 'memilih' sunatullah (secara sadar ataupun tidak), yang diinginkannya yang memang tersedia baginya tiap saatnya, sesuai keadaan dan kemampuannya.

Maka tiap manusia mestinya bisa bersikap ikhlas (menerima apa adanya), atas segala kehendak-Nya di alam semesta ini (melalui sunatullah, bersifat 'memaksa') ataupun atas segala perintah-Nya di dalam ajaran-ajaran agama-Nya (bersifat 'tidak-memaksa').

Misalnya, jika orang-orang yang dicintai meninggal dunia, maka tidak ada alasan bagi seorang manusia, untuk terlalu larut dalam kesedihan. Ia semestinya juga bisa mengikhlaskan kepergiannya, karena segala sesuatu halnya justru memang merupakan bagian dari kehendak-Nya ("tiap-tiap yang berjiwa pasti akan mati").

Selain itu, keikhlasan amatlah dibutuhkan ketika nafsu-keinginan relatif sulit terpenuhi, karena keikhlasan adalah obat yang sangat ampuh terhadap nafsu yang tidak terpenuhi ataupun berlebihan, yang justru paling sering dipakai oleh iblis dan syaitan untuk bisa menyesatkan tiap manusia (bentuk ujian-Nya secara batiniah).

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang orang-orang Mukhlis, yang tidak mudah tersesatkan oleh iblis.

Bahkan dalam keadaan yang idealnya, keikhlasan yang sempurna justru bisa menghilangkan hampir sebagian besar dari persoalan manusia, yang pada umumnya memang hanya berasal dari nafsu-keinginan yang relatif berlebihan, dan telah terlalu diperturutkan (menentang kehendak-Nya ataupun perintah-Nya).

Tawakal (berserah-diri kepada-Nya)

»

Secara sederhananya, segala 'keadaan akhir' pasti bisa diketahui, jika segala 'keadaan awal' sebagai masukan bisa diketahui pula, sebelum mulai berlakunya suatu sunatullah. Keadaan awal itulah yang bisa dipilih dan diusahakan oleh tiap manusia (melalui tiap amal-perbuatannya), sesuai pengetahuan dan kemampuannya.

Persoalannya tiap manusia pada umumnya tidak bisa mengetahui berbagai 'keadaan awal' manakah yang memiliki 'keadaan akhir' terbaik sesuai harapannya (selain 'keadaan awal' dari pengaruh lingkungan). Walau ajaran agama telah memberi tuntunan-Nya secara garis besar, bahwa tiap usaha manusia untuk mensucikan 'keadaan batiniah' ruhnya, justru paling penting dan hakiki.

Maka sudah semestinya, jika tiap manusia tetaplah berserah-diri kepada-Nya (bertawakal), ataupun menyerahkan hasil akhir atas segala urusannya kepada kehendak-Nya, karena amatlah terbatas sunatullah dengan segala aspeknya (lahiriah dan batiniah), yang bisa dipahami dan dimanfaatkan oleh tiap umat manusia (bahkan termasuk para nabi-Nya sekalipun).

Hal itu juga bisa menjelaskan tentang, Allah Yang pasti "selalu" menyertai setiap perbuatan manusia, melalui sunatullah (dikawal para malaikat). Serta pasti hanyalah Allah, Yang menyelesaikan segala urusan atau amal-perbuatan manusia (walau belum tentu sesuai dengan keredhaan-Nya baginya).

Misalnya "Allah memberinya rejeki-Nya" dan "manusia mencari rejeki-Nya", adalah kalimat yang sama-sama benar, dan di dalam sesuatu proses yang sama. Perbedaannya hanyalah pada manusia yang memulai, tetapi Allah, Yang menyelesaikan. Juga kalimat "Pelaut itu menundukkan lautan" dan "Allah Yang menundukkan lautan baginya", adalah sesuatu proses yang sama, demikian pula halnya dengan segala perbuatan manusia lainnya.

Namun penting diketahui pula, bahwa Allah pasti Maha adil atau pasti setimpal di dalam menyelesaikan ataupun mewujudkan tiap perbuatan manusia (atau pasti sesuai dengan hal-hal yang telah diusahakan oleh manusianya), sekaligus untuk bisa memberikan balasan-Nya tiap saatnya, selama perbuatan itu sedang dilakukan sampai selesai.

Dan balasan-Nya yang paling utama justru bersifat batiniah, dan sesuai dengan 'proses berusahanya', bukan 'hasil usahanya'.

Syukur (menerima segala pemberian-Nya)

»

Relatif jelas dari uraian-uraian di atas, bahwa segala hasil akhir usaha manusia, adalah hasil pemberian Allah melalui sunatullah, sebagai suatu balasan-Nya (seperti: karunia, rahmat, rejeki, azab, dosa-siksa, pahala-nikmat, hikmah dan hidayah, dsb), yang pasti setimpal dengan tiap usaha atau amal-perbuatan manusianya.

Walau sebagian dari pemberian atau balasan-Nya justru memang belum tentu sesuai keredhaan-Nya bagi manusia.

'Setimpal' itu tentunya menurut penilaian Allah, karena manusia relatif amat subyektif menilai segala sesuatu hal, termasuk relatif amat sulit bisa memahami segala aspek ujian-Nya atas tiap amal-perbuatannya sendiri. Sehingga misalnya, suatu amal-perbuatan yang sama, tetapi hasilnya bisa berbeda bagi tiap manusia (secara lahiriah dan batiniah).

Dari contoh orang biasa dan orang kaya yang bersedekah dalam uraian di atas, maka maksud dari "setimpal" itu juga lebih terkait dengan hal-hal yang bersifat batiniah (jumlah pahala-Nya dan beban dosa).

Tiap manusia semestinya bersyukur atas segala pemberian Allah baginya, apapun bentuknya (langsung ataupun tertunda, lahiriah-nyata ataupun batiniah-gaib), karena Allah Maha mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, khususnya bagi kehidupan batiniah ruhnya (kehidupan akhiratnya).

Bahkan orang yang paling banyak bersyukur adalah, orang-orang yang paling kaya secara batiniah di antara seluruh umat manusia, karena mereka selalu merasa bercukupan, atas apapun yang telah diberikan-Nya kepadanya.

 

Relatif jelas tampak dari masing-masing uraian di atas, bahwa sikap-sikap sabar, ikhlas, tawakal dan syukur justru amat saling terkait dan saling mendukung satu dengan lainnya. Semuanya juga bisa amat menolong atau membantu tiap manusia, dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini, terutama lagi dalam membangun kehidupan akhiratnya (kehidupan batiniah ruhnya).

Gambaran sederhana proses pemilihan jalan hidup

Proses pemilihan 'jalan hidup' makhluk-Nya bisa ditunjukkan secara sederhana pada Gambar 28 di bawah. Hal inipun pada dasarnya berlaku pula bagi tiap zat ciptaan-Nya, yang justru berupa benda mati. Lebih jelasnya, 'jalan hidup' dari benda mati, dipilih atau diusahakan oleh segala makhluk-Nya (bahkan termasuk para makhluk gaib, yang mengawal pelaksanaan sunatullah).

Sedang segala 'benda mati' atau 'materi' justru tidak memiliki kebebasan dalam berkehendak dan berbuat seperti halnya pada segala makhluk hidup, yang telah diberikan-Nya 'akal' dan 'nafsu'.

Gambar 28: Skema pemilihan jalan hidup (rangkaian sunatullah)

 

Keterangan gambar

Tiap potongan garis utuh (simbol S)

Sebagai tiap sunatullah, atau suatu proses yang mengubah keadaan manusia ke keadaan yang baru. Tiap sunatullah itu bisa dimulai hanya melalui usaha sesaat, namun bisa pula usaha yang berlangsung terus-menerus, konsisten dan amat lama, sampai keadaan baru bisa tercapai.

Namun proses yang berjalan lancar seperti itu hanya bisa terjadi, jika tidak ada pengaruh internal atau eksternal yang mengganggu jalannya proses, secara cukup berarti atau signifikan. Kalau terjadi gangguan seperti itu, maka justru 'sunatullah lain' yang berlaku.

Tiap titik belok garis (A1, A2, …, An, B2, B3, dsb)

Sebagai titik awal sesuatu usaha atau tindakan baru manusia, yang berbeda dari usaha-usaha yang telah dilakukannya sebelumnya, ataupun karena ada terjadinya 'gangguan' yang signifikan atas masukan sunatullah yang 'semula', sehingga bisa berbeda pula sunatullah yang akan dilaluinya.

Tiap potongan garis putus-putus (simbol U)

Sebagai saat terjadinya sunatullah yang 'baru', sebagai hasil usaha baru manusia, di tengah-tengah berjalannya sunatullah yang lainnya, yang dianggapnya 'tidak' ataupun 'kurang' diharapkan hasilnya, untuk bisa mengubah jalan hidupnya, dengan cara memilih jalan hidup yang lain, atau memilih rangkaian sunatullah lain, yang lebih cenderung atau diperkirakan dekat ke keadaan-keadaan akhir baru, yang lebih diharapkannya.

Contohnya: jika usaha dari seseorang tetap mengikuti sunatullah S1, maka keadaannya akan berubah dari A1 ke A2 (atau akan cenderung "dekat" ke keadaan akhir An). Namun jika ia merasa kurang sesuai dengan keadaan A2 sampai An, lalu di tengah jalan (sebelum mencapai A2), ia melakukan usaha-usaha baru, maka keadaannya akan berubah dari A1 ke B3 (atau A1 ke B2 ke B3, atau akan lebih cenderung "dekat" ke keadaan akhir Bn).

 

"… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan, yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya. Dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." – (QS.13:11).

"Dan Allah telah berjanji, kepada orang-orang yang beriman di antara kamu, dan mengerjakan amal-amal yang shaleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka, agama yang telah diredhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sen-tosa. Mereka tetap menyembah-Ku, dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir, setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik." – (QS.24:55).

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s