Bab VI.A Sunatullah (sifat proses)

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

"Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang
yang telah terdahulu sebelum(mu).
Dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah."
(QS. AL-AHZAB:33:62).

"Dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.
Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah,
niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."
(QS. ATH-THALAAQ:65:3).

 

VI.A.

Sunatullah (sifat proses)

Sunatullah, perbuatan atau tindakan-Nya di alam semesta

Sifat proses yang 'sesungguhnya' (sifat proses 'mutlak') pada segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta (nyata dan gaib, hidup dan mati), pada dasarnya diciptakan-Nya. Sedang manusia hanya bisa memahami tentang Allah, melalui segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta ini (tanda-tanda kekuasaan-Nya). Maka sifat proses 'mutlak' itu adalah hasil perwujudan sifat perbuatan Allah di alam semesta (disebut pula sebagai 'Sunnah Allah' atau 'sunatullah').

Sedangkan penciptaan seluruh alam semesta itu sendiri, adalah hasil perwujudan 'Fitrah Allah' (sifat-sifat terpuji Allah), maka dalam sunatullah itu terkandung pula segala proses yang bisa menunjukkan berbagai sifat terpuji Allah (tanda-tanda kemuliaan-Nya).

Selain bersifat 'mutlak', justru segala hal yang terkait dengan Allah juga bersifat 'kekal', karena segala hal tentang Allah mustahil bersifat tidak konsisten, berubah-ubah, tidak jelas, dsb. Maka Sunnah Allah atau sunatullah itu justru bersifat 'kekal' (tidak pernah berubah-ubah). Sunatullah juga merupakan salah-satu dari ketetapan-Nya yang bersifat 'kekal' (atau segala kebenaran-Nya), dan telah ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta, serta telah tercatat pula pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, yang amat agung dan mulia.

Sunatullah mengatur segala proses di alam semesta

Bahwa sunatullah hanya bisa dipahami melalui segala proses yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal' pada segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini, maka sunatullah juga bisa disebut sebagai 'hukum, aturan atau ketetapan-Nya' yang pasti berlaku 'mutlak' (pasti terjadi), 'kekal' (pasti konsisten) dan 'sama' (pasti adil) bagi segala zat ciptaan-Nya.

Sehingga sunatullah itu mengatur segala proses interaksi antar segala macam zat-zat ciptaan-Nya di alam semesta ini (makhluk hidup dan benda mati, nyata dan gaib), ataupun segala proses kejadian yang dialami oleh setiap zat ciptaan-Nya itu sendiri (berupa segala proses perubahan keadaan internal dan eksternalnya).

Ringkasnya, sunatullah yang mengatur segala proses kejadian di seluruh alam semesta ini (lahiriah dan batiniah, bersifat 'mutlak' dan 'kekal'), sejak awal penciptaan alam semesta sampai akhir jaman. Serta sunatullah itu berupa sejumlah tak-terhitung aturan atau rumus proses kejadian di seluruh alam semesta ini, dari rumus yang amatlah sederhana sampai yang amatlah kompleks. Antar rumus-rumus itupun juga bisa saling terkait dengan amat sangat kompleks dan sempurna.

Hal ini menunjukkan sifat-sifat Allah, Yang Maha Sempurna, Maha Mengatur dan Maha Menguasai dan meliputi segala sesuatu.

Sunatullah berlaku sesuai segala keadaan zat ciptaan-Nya

Sebagai salah-satu ketetapan-Nya yang Maha sempurna, maka tiap rumus proses kejadian pada sunatullah, pastilah dipertimbangkan segala keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya, yang mempengaruhi proses itu, termasuk segala keadaan paling sederhana atau kecil sekalipun.

Segala keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya bisa meliputi: aspek internal (dalam diri tiap zat ciptaan-Nya) dan eksternal (dari pengaruh lingkungan sekitarnya); aspek lahiriah (nyata-fisik-material di dunia) dan batiniah (gaib-moral-spiritual di akhirat); dsb.

Tentunya tiap 'jenis' zat ciptaan-Nya mengalami 'sekumpulan' sunatullah-nya masing-masing yang berbeda-beda, karena 'jenis' itu sendiri adalah salah-satu bagian dari segala keadaan pada zat ciptaan-Nya. Berbagai jenis zat ciptaan-Nya, antara-lain: makhluk hidup dan benda mati; makhluk hidup nyata dan gaib; manusia (pria dan wanita), hewan (jantan dan betina) dan tumbuhan; sel; dsb.

Hal ini menunjukkan sifat-sifat Allah, Yang Maha Mengetahui dan Maha Menguasai dan meliputi segala sesuatu.

Sunatullah mengatur proses pemberian balasan-Nya

Sunatullah (aturan-Nya) juga termasuk mengatur segala proses pemberian balasan-Nya 'langsung' (pahala, beban dosa, azab, rahmat, dsb), atas segala hasil ujian atau proses penggodokan manusia, ketika manusianya sedang hidup di dunia. Walau balasan-Nya yang terakhir dan telah disempurnakan-Nya pasti diberikan-Nya di Hari Kiamat.

Proses pemberian segala bentuk balasan-Nya (secara lahiriah dan batiniah), melalui rumus proses yang bersifat pasti dan jelas, yang di dalamnya justru pasti mempertimbangkan tiap keadaan, yang bisa mempengaruhi tiap amal-perbuatan makhluk-Nya (seperti: niat, berat beban ujian-Nya, tingkat keterpaksaan, besar tanggung-jawab, tingkat kesadaran atau pengetahuan, dsb). Proses pemberian segala balasan-Nya juga pasti berlaku adil (pasti setimpal sesuai tiap amal-perbuatan makhluk-Nya). 51)

Bahkan tiap proses pemberian balasan-Nya melalui sunatullah, mustahil bersifat 'tidak adil' dan 'sewenang-wenang'. Karena segala sesuatu bisa disebut 'tidak adil', jika pengaturannya bersifat relatif, berubah-ubah, tidak pasti terjadi ataupun tidak konsisten, sebaliknya pengaturan melalui sunatullah justru bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten atau tidak berubah-ubah).

Walau bersifat 'mutlak', Allah juga tidak bisa disebut bersikap 'sewenang-wenang', karena sunatullah justru bersifat 'kekal'. Bahkan sunatullah itu telah ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta ini (bahkan sebelum penciptaan umat manusia di dalamnya), dan tidak pernah berubah-ubah sampai akhir jaman, maka Allah justru mustahil bisa disebut bersikap 'sewenang-wenang' kepada tiap umat manusia, ataupun kepada tiap makhluk ciptaan-Nya lainnya.

Hal inipun menunjukkan sifat-sifat Allah, Yang Maha Adil, Maha Arif dan Bijaksana.

Sunatullah bersifat mutlak dan memaksa

Bahwa segala zat ciptaan-Nya pasti mengikuti ataupun tunduk kepada aturan-Nya (sunatullah), dan pasti mustahil bisa melanggarnya (bahkan iblis dan orang paling kafir sekalipun), tetapi memang belum seluruh umat manusia bisa menyadari hal ini. Dan hal yang umumnya terjadi adalah, tiap manusia bisa melanggar anjuran, perintah ataupun larangan-Nya secara sadar ataupun tidak. Walaupun tentunya pasti ada hukuman-Nya baginya (sangat ringan ataupun sangat berat), jika tidak mengikuti tiap perintah ataupun larangan-Nya itu.

Bahwa sunatullah atau sunnah Allah, perbuatan-Nya, tindakan-Nya, kehendak-Nya, aturan-Nya, hukum-Nya, ketentuan-Nya ataupun ketetapan-Nya di alam semesta, adalah hal-hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi), atau memiliki daya paksa kepada tiap zat ciptaan-Nya. Sedang redha-Nya, anjuran-Nya, perintah-Nya ataupun larangan-Nya, sebaliknya lebih bersifat saran dan anjuran yang justru tidak memaksa dan tidak mengikat, hanya untuk menguji keimanan tiap makhluk. 52)

Segala sesuatu hal yang telah diperintah-Nya ataupun dilarang-Nya untuk dilakukan oleh tiap umat manusia, pada dasarnya semata-mata hanya demi kepentingan dan kemuliaan manusianya sendiri, dan bahkan sama sekali bukan demi kepentingan Allah. Bahkan jika tidak ada seorang umat manusiapun yang mau beriman, justru Allah pasti tetap berada dalam segala kemuliaan dan kekuasaan-Nya.

Segala anjuran-Nya bagi tiap manusia agar sebanyak mungkin memuji dan menyembah Allah, semuanya hanyalah semata-mata agar bisa terbentuk keadaan batiniah ruh manusianya, yang selalu tetap bisa menyadari hakekat tujuan dari diciptakan-Nya seluruh alam semesta dan kehidupan manusia di dalamnya. Juga agar ia tetap bisa menjalani kehidupannya berdasar kesadaran itu, juga bisa mencapai keuntungan yang paling baik, hakiki dan kekal (segala kemuliaan hidup di Surga).

Tindakan-Nya di alam semesta, pasti melalui sunatullah

Sunatullah (aturan-Nya) adalah bentuk perwujudan dari segala kehendak dan tindakan-Nya di alam semesta, karena Allah mustahil berkehendak dan bertindak dengan melanggar aturan-Nya, yang telah ditetapkan-Nya sendiri. Segala kejadian yang terjadi di alam semesta (di luar hasil dari perbuatan para makhluk-Nya), pasti mengikuti suatu aturan atau rumus proses kejadian tertentu, yang pasti dan jelas (atau pasti mengikuti sunatullah). Tidak ada sesuatu yang "turun dari langit" atau tiba-tiba terjadi dengan begitu saja, seperti sulap.

Dengan memahami bagaimana cara sunatullah bekerja, maka bisa diketahui, bahwa segala tindakan-Nya di alam semesta ini bersifat pasti, jelas, amat sangat teratur, konsisten, alamiah, halus, terselubung dan tidak kentara, dan 'seolah-olah' terjadi begitu saja. Dalam bahasa yang lebih dikenal, segala tindakan-Nya bisa disebut sangat alamiah, keniscayaan, tuntutan jaman, kehendak sejarah, sesuai kodrat ataupun hukum alam, dsb.

Namun dengan mencermati sunatullah itu pula, maka akan bisa tampak relatif 'jelas', bahwa segala tindakan-Nya di alam semesta ini, hanya mengikuti atau melalui sunatullah. Tentunya hal-hal yang amat jelas dan mudah dipahami adalah sunatullah pada aspek lahiriah, yang biasanya lebih dikenal sebagai 'hukum alam'. Sedang sunatullah pada aspek batiniah relatif amat sulit bisa dipahami oleh umat manusia pada umumnya, kecuali jika dimilikinya kepekaan batiniah yang amat kuat, dari berbagai pengalaman rohani-moral-spiritual yang relatif amat luas dan lengkap (seperti yang dimiliki oleh para nabi-Nya).

Ringkasnya, sunatullah atau 'Sunnah Allah' itu hanya sebagai sebutan lain bagi "segala tindakan-Nya di alam semesta ini". Serupa seperti 'Sunnah Nabi', sebagai sebutan lain bagi segala tindakan nabi Muhammad saw (sikap, perkataan dan perbuatannya).

Segala tindakan-Nya yang terselubung

Namun justru amat mudah dipahami, jika segala tindakan-Nya juga bersifat 'terselubung, tersembunyi atau gaib'. Selain karena Zat Allah sendiri yang memang Maha gaib, juga karena Allah justru tidak hendak seolah-olah tampak ikut campur tangan langsung atas tiap zat makhluk-Nya, dalam menjalani kehidupan dunianya (semuanya tetap berjalan amat alamiah), walau hal sebaliknya amat mudah bagi Allah.

Terutama lagi kepada manusia, dalam menjalani segala proses penggodokan di kehidupan dunia fana ini (pengujian sebagai khalifah-Nya), padahal tiap manusiapun telah diberikan-Nya 'akal' dan 'nafsu', agar ia bisa memiliki kebebasan dalam berkehendak dan berbuat, serta ia bisa memilih jalan hidup yang lebih diinginkan atau diharapkannya sendiri. Dengan tujuan paling utamanya, "agar Allah bisa mengetahui, siapa di antara manusia yang beriman dan yang kafir kepada-Nya".

Proses penggodokan manusia itu kemungkinan besar akan sia-sia ataupun tidak berjalan, jika Allah 'terlalu kentara' mengatur segala hal yang terjadi di alam semesta ini. Seperti misalnya, Allah mustahil akan pilih-kasih terhadap manusia dengan terang-terangan jauh lebih banyak memberi rahmat-Nya, bagi hamba-hamba-Nya yang disukai-Nya. Hal inipun pasti akan membuat seluruh umat manusia menjadi beriman, karena ada keuntungan langsung dan jelas dari keimanan itu. Serta proses penggodokan itupun justru akan kehilangan maknanya.

Namun Allah justru berkehendak, agar segala sesuatu halnya berjalan 'murni' sesuai dengan segala amal-perbuatan atau hasil usaha dari tiap manusianya sendiri. Sedang atas tiap amal-perbuatan manusia itu Allah memberi balasan-Nya secara 'setimpal', namun juga secara 'terselubung' di dunia ini (beban dosa atau hukuman-Nya, dan pahala atau nikmat-Nya). Sebelum pada akhirnya, Allah justru akan memberi balasan-Nya yang telah disempurnakan-Nya di Hari Kiamat.

Sebenarnya tiap balasan-Nya pada saat di dunia ini justru telah 'sempurna' (atau 'setimpal' di atas). Tetapi keterbatasan tubuh fisik-lahiriah, menjadikan manusia relatif sulit memahami tiap balasan-Nya, yang 'sebenarnya' terjadi pada alam batiniah ruhnya masing-masing (alam akhiratnya). Setelah ruhnya terpisah dari tubuh fisik-lahiriahnya di Hari Kiamat, maka tiap balasan-Nya itupun justru baru bisa terasa 'sempurna', bahkan atas pahala-Nya dan beban dosa yang sebesar biji zarrah sekalipun (amat sangat kecil atau sederhana sekalipun).

Kesempurnaan proses penggodokan manusia itupun akan lebih nyata, jika tiap manusia mestinya mencari, mengenal atau memahami sendiri Tuhannya, Yang menciptakan telah dirinya dan alam semesta ini, melalui pemahaman atas tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini (atau ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis, lahiriah dan batiniah). Juga termasuk melalui pemahaman atas segala kehendak dan perbuatan-Nya yang terselubung (amat sangat alamiah, halus, dan tidak kentara, dan seolah-olah terjadi begitu saja di atas).

Walaupun begitu, Allah Yang Maha pengasih dan penyayang telah pula menurunkan segala pengajaran dan tuntunan-Nya, misalnya melalui para nabi dan kitab-Nya (ayat-ayat-Nya yang tertulis), agar manusiapun bisa lebih mudah mengenal Allah. Sekaligus agar selalu timbul kesadaran atas kehadiran Allah pada tiap langkah kaki, tarikan napas atau detak jantungnya, juga Allah amat sangat dekat dengannya.

Tentunya penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya itu juga dilakukan-Nya secara 'terselubung' kepada para nabi utusan-Nya, dan bahkan kepada seluruh umat manusia.

Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya", tentang proses-proses penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya secara lebih lengkap.

"…. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, lagi Maha Dekat'." – (QS.34:50).

"…, dan Kami lebih (dekat) kepadanya daripada urat lehernya," – (QS.50:16).

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (hai Muhammad), tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. …" – (QS.2:186).

"…. Sesungguhnya Rabb-ku amat dekat, lagi memperkenankan (do'a hamba-Nya)." – (QS.11:61).

Sunatullah, sebagian dari ilmu-Nya di alam semesta

Bahwa sunatullah hanya sebagian dari pengetahuan atau ilmu-Nya, karena sunatullah hanya terkait dengan segala proses penciptaan dan segala proses lainnya di seluruh alam semesta ini, yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'. Sebagian ilmu-Nya lainnya lagi, misalnya:

Berbagai sifat pembeda-esensi-statis pada segala zat ciptaan-Nya (ciri khasnya masing-masing);
Segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya (sebagiannya justru terkandung pula dalam sunatullah), secara lahiriah dan batiniah;
Hakekat dan tujuan utama penciptaan alam semesta ini dan segala isinya (segala jenis zat ciptaan-Nya);
Segala kejadian pada saat sebelum terciptanya alam semesta ini, dan setelah berakhirnya alam semesta ini;
Dan segala bentuk ketetapan dan kebenaran-Nya lainnya.

 

Namun pemahaman atas sunatullah justru amat penting untuk dimiliki oleh tiap umat Islam, karena sunatullah atau Sunnah Allah itu, adalah sebutan lainnya bagi segala kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya di seluruh alam semesta ini:

Beberapa keterangan penting lain tentang sunatullah

Berbagai keterangan dan penjelasan amat penting lainnya yang menyangkut sunatullah, antara-lain:

a. Ilmu-pengetahuan manusia, wujud sunatullah.
b. Allah bertindak di alam semesta, melalui sunatullah.
c. Sunatullah berupa tak-terhitung aturan / rumus proses.
d. Perkiraan kejadian, dengan memahami sunatullah.
e. Sunatullah tidak pernah berubah, sampai akhir jaman.
f. Semua sunatullah tidak saling bertentangan.
g. Sunatullah mengatur segala proses lahiriah & batiniah.
h. Alam semesta diciptakan-Nya melalui sunatullah.
i. Sunatullah memiliki unsur pemaksaan (pasti berlaku).
j. Alam semesta kokoh, karena berjalannya sunatullah.
k. Sunatullah menjaga keseimbangan alam semesta.
l. Tiap makhluk-Nya bebas memanfaatkan sunatullah.
m. Allah mengutus para nabi-Nya, melalui sunatullah.
n. Allah menurunkan berbagai hal, melalui sunatullah.
o. Pengetahuan dan pengalaman, wujud sunatullah.
p. Do'a, usaha batiniah yang diatur oleh sunatullah.
q. Pelaksanaan sunatullah dikawal tak-terhitung malaikat.

 

Uraian-uraian selengkapnya, yaitu:

Tabel 13: Beberapa hal penting tentang aturan-Nya (sunatullah)

Beberapa catatan penting tentang aturan-Nya (sunatullah)

a.

Ilmu-pengetahuan manusia, wujud sunatullah.

»

Segala ilmu-pengetahuan (berikut segala teori ataupun rumus di dalamnya), yang dikenal dan dicapai oleh manusia secara "sangat obyektif", hanya hasil pengungkapan atas sebagian amat sangat sedikit saja dari sunatullah. Bahkan nantinya, segala ilmu yang belum dikenal juga hanya dari hasil usaha mengungkap ataupun memformulasikan sunatullah, yang bahkan telah ditentukan atau ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta ini. 53)

Ke-Maha tinggi-an ilmu-Nya yang sebagiannya terwujud melalui sunatullah (lahiriah dan batiniah), mustahil bisa tercapai seluruhnya oleh umat manusia. Hal ini menunjukkan sifat Allah, Yang Maha Luas dan Maha Tinggi.

Tetapi segala ilmu-pengetahuan itu justru hasil usaha umat manusia, yang memiliki segala keterbatasan, maka mustahil bisa mutlak benar dan pasti obyektif, seperti halnya segala ilmu-Nya. Bahkan sebagian dari ilmu-pengetahuan hasil usaha atau temuan manusia itu mestinya dipakai secara hati-hati dan selektif, karena relatif mudah menyesatkan, termasuk pula kepada agama, ajaran ataupun paham hasil 'buatan atau karya' manusia.

Seperti misalnya pada teori-paham: teori evolusi Darwin; teori filsafat dan psikologi (Sigmund Freud, Karl Marx, dsb); paham materialisme, kapitalisme dan sosialisme, berikut segala teori kemasyarakatan dan ekonominya; paham feminisme barat; teori demokrasi dan HAM; dsb.

b.

Allah bertindak di alam semesta, melalui sunatullah.

»

Bahwa secara garis besar, hal-hal gaib bisa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu gaib "zat" dan gaib "tindakan". Gaib "zat" ini meliputi: zat Allah (ruh Sang Pencipta) dan zat-zat makhluk-Nya (ruh-ruh makhluk ciptaan-Nya). Sedang hal-hal yang gaib di luar gaib "zat" ini, tentunya semua berupa gaib "tindakan". 54)

Umat manusia mustahil bisa menjelaskan hakekat dari zat-zat gaib (gaib "zat"), karena mustahil mampu dijangkau dengan akal-pikirannya. Bahkan salah-satu dari sifat Allah adalah Maha Gaib, yang tidak dimiliki oleh zat ruh-ruh makhluk ciptaan-Nya.

Sedang dalam interaksi terang-terangan, manusia bahkan masih bisa mengetahui "wujud asli" dari para makhluk gaib-Nya (mengetahui sebagian dari sifat zat ruhnya), walau terjadi dalam keadaan yang amat khusus, dan hanya pernah dialami oleh amat terbatas jumlah manusia (termasuk sebagian dari para nabi-Nya).

Di lain pihaknya, manusia mustahil berinteraksi langsung dengan zat Allah, kecuali terhalang oleh segala 'tabir' atau hanya melalui perantaraan malaikat Jibril. Maka hampir tidak ada yang bisa diketahui oleh manusia, tentang 'esensi' zat Allah, kecuali: Ada (wujud), Maha Esa, Maha gaib (atau Maha tersembunyi), Maha kekal, Maha awal, Maha akhir dan Maha hidup.

Bahkan hal-hal ini juga 'tidak terkait langsung' dengan zat Allah sendiri, Yang Maha Gaib, karena hal-hal ini hanya berupa gambaran-fenomena 'di sekitar' zat Allah.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang 'wujud asli' para makhluk gaib. Serta baca pula uraian-uraian di bawah, tentang keistimewaan akal-pikiran manusia.

Tetapi keberadaan zat-zat gaib itu bisa dirasakan, diketahui atau dipahami, dari segala tindakannya yang ada di seluruh alam semesta ini, karena zat-zat gaib itu memang ingin agar manusia bisa mengenal Allah, Yang telah menciptakannya, melalui segala tindakan tersebut. Segala tindakan dari zat-zat gaib itulah yang disebut sebagai gaib "tindakan" di atas.

Sederhananya, pada gaib "tindakan" relatif hanya masalah kemampuan dan waktu tiap manusia untuk bisa memahaminya, karena segala tindakan atau proses yang terjadi di alam semesta (dari tindakan-Nya dan ruh-ruh makhluk-Nya, secara lahiriah dan batiniah), justru bersifat 'amat sangat teratur' (kekal).

Bahkan segala tindakan-Nya bersifat 'mutlak' dan 'kekal', maka gaib "tindakan" itupun pasti mengikuti logika-nalar, aturan atau rumus proses, yang 'pasti' dan 'jelas' (mengikuti sunatullah atau aturan-Nya).

Persoalan amat pentingnya justru ada pada sunatullah yang jumlahnya 'tak-terhitung', yang tidak akan pernah bisa dikuasai semuanya oleh manusia. Hanya amat sangat sedikit sunatullah itu yang bisa dikuasai oleh manusia, sehingga hal-hal yang terjadi di alam semesta ini seolah-olah tampak amat sulit dipahami, tidak teratur, tidak jelas, tidak kentara atau gaib (gaib "tindakan").

Hal ini menunjukkan sifat Allah, Yang Maha Gaib, Maha Tinggi dan Maha Luas.

Bahwa hal-hal yang mustahil bisa dijelaskan atau dinalar, adalah hakekat dari zat Allah dan zat ruh-ruh makhluk-Nya. Juga gaib "zat" ini memang tidak perlu dan tidak ada gunanya untuk dinalar. Bahkan tidak ada sesuatupun ayat Al-Qur'an yang telah menerangkan hal ini (kecuali sifat-sifat 'tidak langsung' tentang esensi zat Allah di atas). Hal yang disebut-sebut dalam Al-Qur'an hanya gaib "tindakan" (tindakan: Allah, ruh para makhluk gaib, ruh manusia, dsb), yang memang semestinya masih bisa dinalar.

Pengungkapan atas gaib "tindakan" inilah yang diusahakan secara maksimal melalui seluruh pembahasan buku ini, terutama berdasar bahan-bahan yang bersumber dari ayat-ayat Al-Qur'an.

Dengan menilai sesuatu tindakan (lahiriah dan batiniah), terutama tindakan yang bersifat pasti, jelas, amat sangat teratur, konsisten atau tidak pernah berubah-ubah, maka bisa diketahui atau dinalar tentang sifat-sifat pelakunya dalam berbuat sesuatu (diketahui sifat proses atau sifat perbuatannya).

Istilah "wujud zat Allah" (yang tergambar dalam Asmaul Husna) yang dipakai dalam buku inipun, harus dipahami sebagai "perwujudan dari tindakan zat Allah", Fitrah Allah atau sifat-sifat Allah, tetapi bukan "wujud atau sosok zat Allah", karena segala tindakan Allah ketika menciptakan seluruh alam semesta ini dan segala isinya, adalah hasil perwujudan dari Fitrah Allah tersebut.

Sedang hanya apa yang "ada atau terjadi" di alam semesta inilah, yang bisa dilihat dan dipelajari oleh umat manusia tentang Allah dan sifat-sifat-Nya (juga dipelajari oleh para nabi-Nya).

Pada Asmaul Husna itu hanya ada 2 jenis kata, yaitu kata "kerja" (Maha Menjaga, Maha Memelihara, Maha Mengatur, Maha Mengetahui, dsb) dan kata "sifat" (Maha Esa, Maha Mulia, Maha Tinggi, Maha Luas, Maha Suci, Maha Adil, dsb).

Bahwa Asmaul Husna yang berupa kata 'sifat' hanya bisa dipahami dari mempelajari 'sifat-sifat' dari segala hasil tindakan Allah di alam semesta ini (tanda-tanda kekuasaan-Nya).

Sedang Asmaul Husna yang berupa kata 'kerja', dengan sendirinya justru langsung menerangkan tentang tindakan Allah. Akhirnya, "wujud zat Allah", Fitrah Allah atau sifat-sifat terpuji Allah adalah gaib "tindakan", yang semestinya masih bisa untuk dinalar oleh akal-pikiran manusia.

c.

Sunatullah berupa tak-terhitung aturan / rumus proses.

»

Sunatullah tak-terhitung jumlahnya, yang telah ataupun belum dikenal oleh manusia. 'Tiap' sunatullah adalah aturan atau rumus proses yang input-masukannya berupa segala data-variabel, yang bisa menggambarkan 'keadaan awal' atas segala zat ciptaan-Nya, sebelum prosesnya sendiri mulai berlaku. Sehingga hasil akhir prosesnyapun akan bisa berbeda, jika salah-satu saja dari variabel input atau keadaan awalnya juga berbeda.

Sangat banyak variabel keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya (lahiriah dan batiniah), sehingga relatif tidak ada manusia yang bisa memastikan hasil akhir dari tiap sunatullah, pasti tidak bisa mengetahui segala keadaan zatnya selengkapnya (segala variabel dan harganya), serta pasti tidak bisa mengetahui rumus proses sesungguhnya yang berlaku dalam tiap sunatullah itu sendiri.

Lihat pula pada "Gambar 21: Diagram sederhana fungsi sunatullah" dan pada "Gambar 22: Diagram siklus proses sesaat fungsi sunatullah" di bawah.

Tetapi seperti pada tiap penemuan dari segala bidang ilmu-pengetahuan hasil temuan manusia, berdasar sesuatu pengalaman empirik lahiriah tertentu, dari menduga, menguji dan mengukur tiap data-variabel-fakta atau faktor yang dianggap amat dominan pengaruhnya bagi sesuatu sunatullah yang relatif amat sederhana. Sedang berbagai variabel lainnya sering disebut sebagai "faktor X" (faktor yang tidak diketahui).

Di dalam hal-hal batiniah, "faktor X" ini justru sering lebih dominan pengaruhnya ataupun lebih banyak jumlahnya, karena keadaan batiniah memang sulit bisa dijelaskan dan diukur, lalu di dalam hal ini manusiapun cenderung berserah-diri kepada Allah (bertawakal). Sebaliknya dalam hal-hal fisik-lahiriah seperti pada ilmu pasti-fisik-alam, segala variabelnya justru relatif jauh lebih mudah diduga dan diukur.

Salah-satu contoh suatu sunatullah pada ilmu fisika adalah hukum gravitasi, seperti "gaya gravitasi antara dua buah benda, berbanding lurus dengan massa kedua benda itu, dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antar pusat kedua benda", dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan simbol variabel:
Fg : gaya gravitasi
K : konstanta gravitasi
m1 & m2 : massa jenis benda 1 dan 2
r : jarak antar pusat benda 1 dan 2

 

Rumus yang telah umum dipakai selama berabad-abad di dalam ilmu pasti ini (fisika), juga hasil 'pendekatan' empirik dan praktis atas sesuatu sunatullah, karena ada sejumlah 'faktor X' yang telah disederhanakan, misalnya:

Harga konstanta gravitasi (K) tertentu hanyalah bisa berlaku pada keadaan tertentu, misalnya di permukaan laut. Namun harga K yang sama, justru belum tentu bisa berlaku misalnya: di luar angkasa, di pusat Bumi, di permukaan bulan, dsb.
Harga massa jenis kedua benda itupun (m1 dan m2), adalah sesuatu harga pendekatan, selain karena adanya batasan dari ketelitian alat pengukur. Juga pengukurannya tidak akan bisa sepenuhnya menghilangkan pengaruh udara ataupun benda-benda lain di sekitarnya, karena amatlah tidak praktis untuk mengukur massa sesuatu benda dalam keadaan amat idealnya (dalam ruang hampa udara, dan tanpa pengaruh benda-benda lain di sekitarnya).
Harga jarak antar pusat kedua benda (r), juga sesuatu harga pendekatan, karena kedua bendanya dianggap atau diidealkan sebagai benda titik (amat kecil) dan bersifat homogen. Hal ini bukanlah seperti halnya benda-benda nyata pada umumnya, yang memiliki berragam bentuk, ukuran dan distribusi unsur-unsurnya (tidak homogen).

 

Dengan ke-Maha Luas-an cakupan sunatullah itu (sebagai sesuatu kesatuan), maka manusia telah memilah-milah sejumlah sunatullah yang dikenalnya menjadi jauh lebih sederhana (seperti halnya rumus gravitasi di atas). agar lebih mudah diformulasikan untuk bisa menjawab suatu persoalan tertentu berdasarkan hasil dari pengalaman empirik tertentu pula.

Pada akhirnya, rumus atau sunatullah yang diterapkan bisa berbeda-beda, jika keadaan (internal dan eksternal, lahiriah dan batiniah) yang telah melatar-belakangi suatu pengalaman empirik tertentu, juga berbeda cukup 'signifikan'. Rumus atau sunatullah tertentu yang disederhanakan (bukan suatu kesatuan), hanya bisa berlaku memadai pada 'lingkup-wilayah' keadaan tertentu saja.

Misalnya, sesuatu rumus gravitasi tertentu hanya memadai pada keadaan tertentu pula, seperti: berlaku pada jarak 0 s/d 100 m di atas permukaan laut; ukuran kedua benda relatif kecil; jarak antar kedua benda tidak terlalu dekat ataupun jauh (relatif setara dengan ukuran kedua bendanya); kedua benda berbentuk seperti bola; bersifat relatif homogen (distribusi unsur-unsur pada kedua benda relatif merata); dsb.

Pengungkapan atas sunatullah, melalui pemilah-milahan, pembatasan ataupun penyederhanaan di atas tentunya melahirkan anggapan, bahwa sunatullah adalah suatu kesatuan dari sejumlah tak-terhitung sunatullah yang jauh lebih sederhana, yang masing-masingnya hanya mengatur suatu proses tertentu saja.

Namun ada pula anggapan lain, bahwa sunatullah adalah suatu 'matriks' yang amatlah sangat besar, kompleks dan Maha Sempurna, yang terdiri dari segala variabel keadaan dan rumus proses kejadian atas segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini.

d.

Perkiraan kejadian, dengan memahami sunatullah.

»

Makin luas ilmu-pengetahuan tiap manusianya, khususnya makin banyak bisa dipahaminya proses berjalannya berbagai sunatullah, termasuk keterkaitan fungsi antar sunatullah, bahkan akan makin mendalam pula kemampuan manusianya, untuk memperkirakan peristiwa atau kejadian di alam semesta ini, yang telah, sedang ataupun yang belum terjadi. 55)

Bahkan walau perkiraan itu bisa diperoleh hanya berdasar satu ataupun beberapa fakta yang sederhana. Hasil perkiraan itu bahkan bisa menembus batas 'ruang' dan 'waktu', karena segala kejadian di alam semesta ini pasti tunduk atau mengikuti aturan-Nya (sunatullah), ataupun berjalan amat teratur. Sekilas memang seolah-olah tampak tidak teratur, karena saling terkaitnya dan tak terhitungnya jumlah sunatullah.

Penguasaan pengetahuan, lebih khusus lagi tentang hal-hal lahiriah hampir semuanya telah bisa diungkap oleh para ilmuwan modern (melalui berbagai ilmu pasti-fisik-alam). Tetapi amatlah sedikit tentang hal-hal batiniah, karena memang relatif amat sulit untuk dirumuskan (hanya pada ilmu-ilmu filsafat dan psikologi).

Seperti halnya keimanan yang amatlah sulit bisa diungkap memakai bahasa ilmiah, tetapi hanya bisa melalui bahasa agama. Pengetahuan atau pemahaman tertinggi tentang hal-hal gaib dan batiniah, umumnya diketahui hanya dimiliki oleh para nabi-Nya.

Istilah 'perkiraan' ini relatif amat berbeda daripada istilah 'ramalan', yang lebih bersifat mistis-tahayul atau tidak memiliki landasan ilmiah-nalar-logika. Sehingga ramalan shio (kambing, ayam, kelinci, dsb) atau ramalan rasi bintang (leo, aries, pisces, dsb), justru tidak dikenal ataupun dilarang dalam agama Islam.

Kemampuan 'perkiraan' itu bisa makin kuat dengan terus-menerus mengasah akal-pikiran (dalam hal-hal batiniah, dengan banyak melakukan perjalanan batiniah-rohani-spiritual). Dengan amatlah luasnya cakupan sunatullah (lahiriah dan batiniah), maka amatlah luas pula bidang cakupan yang bisa diperkirakan.

Namun perlu diketahui pula, bahwa makin luas aspek yang ditinjau, maka makin besar pula pengaruh "faktor X" (atau faktor yang tidak diketahui, pada poin c di atas), karena memang makin banyaknya interaksi segala hal yang ditinjau, yang membuatnya makin sulit diperkirakan.

Contoh perkiraan sederhananya misalnya: karakter pribadi seseorang dari raut muka ataupun caranya berjalan; cuaca beserta intensitas air hujan dan waktu turunnya; saat meletusnya gunung berapi; lokasi potensial yang kaya bahan tambang dan minyak bumi (di dalam tanah dan di dasar laut); nilai proyek yang akan dilaksanakan; perkiraan Nabi atas kejadian pada awal dan akhir penciptaan alam semesta ini; dsb.

e.

Sunatullah tidak pernah berubah, sampai akhir jaman.

»

Sunatullah tidak pernah berubah sampai akhir jaman, serta tidak ada suatupun kekuasaan makhluk-Nya yang bisa mengubah dan merusaknya. Mustahil ada sesuatu zat selain zat Allah, yang bisa meniru ataupun bertindak seperti proses berjalannya sunatullah, (mustahil bisa bertindak seperti Allah).

Contoh sederhananya, pada segala keadaannya yang persis 'sama', maka sampai akhir jaman, suatu bola tetap akan jatuh ke bawah, jika bola itu dilepaskan dari sesuatu ketinggian, dengan berlakunya sunatullah, yang berupa hukum gaya gravitasi pada uraian poin c di atas. Namun pada segala keadaan yang persis 'sama' pula, tidak ada sesuatu kekuasaanpun yang bisa membuat bola terjatuh ke atas (kecuali oleh Allah sendiri, walaupun Allah justru tidak akan mengubah-ubah aturan-Nya atau sunatullah).

Hal ini menunjukkan sifat Allah, Yang Maha Kuat atau Maha Perkasa.

Tiap zat makhluk-Nya justru hanyalah bisa memanfaatkan sunatullah, dengan berusaha memilih agar bisa berlakunya suatu sunatullah lainnya, agar tercapai tujuan yang lebih diinginkannya daripada hasil dari sunatullah yang sedang berlaku.

Usaha 'memilih' itu pada dasarnya berupa mengubah-ubah "berbagai keadaan awal" sebelum berlaku suatu sunatullah, yang 'otomatis terpilih' menurut segala keadaan awalnya.

Lihat pula pada "Gambar 22: Diagram siklus proses sesaat fungsi sunatullah" di bawah.

Hal di atas seperti halnya tiap usaha umat manusia untuk mengobati berbagai masalah dan penyakit sosial (batiniah), serta untuk bisa membuat hujan buatan, bom nuklir dan semua produk teknologi lainnya (lahiriah), bagi sarana keperluan hidupnya.

Bahkan termasuk pula segala usaha umat manusia, dalam mengikuti ajaran-ajaran agama-Nya, yang memang amat penting bagi usaha pencapaian keselamatan dan kebahagiaan kehidupan di dunia, lebih penting lagi bagi kehidupan di akhirat (kehidupan batiniah ruh).

f.

Semua sunatullah tidak saling bertentangan.

»

Seluruh sunatullah justru mustahil bisa saling bertentangan, baik di antara sunatullah-sunatullah yang belum, ataupun yang telah bisa dipahami dan diungkap oleh manusia (berupa berbagai ilmu-pengetahuan yang amat obyektif, dari hasil temuan manusia).

Ilmu-pengetahuan hasil temuan manusia yang dimaksud, misalnya segala hukum alam yang telah dikenal ataupun dipakai oleh manusia, selama berabad-abad (telah teruji atau terbukti), pada berbagai bidang ilmu: Fisika, Kimia, Biologi, Astronomi, Geologi, Matematika, dsb.

Misalnya pada ilmu fisika terdapat teori yang telah terbukti berlaku benar, selama berabad-abad, seperti "suatu massa (benda mati atau materi) mustahil bisa dimusnahkan, namun hanya bisa diubah-ubah bentuk dan strukturnya".

Sejak diciptakan-Nya, tiap benda mati nyata hanyalah bisa 'hancur' atau 'terurai' menjadi benda-benda yang relatif paling kecilnya (misalnya disebut 'atom' atau materi 'terkecil'). Namun semua atom penyusun benda asalnya mustahil bisa 'hilang' dan 'musnah' dengan begitu saja (hanya tidak bisa tampak oleh mata telanjang, karena atom memang amat kecil ukurannya). Melalui proses yang relatif lama dan rumit, justru semua atom itu bisa kembali membentuk benda-benda nyata (bisa terlihat kembali).

Implikasi penerapan teori itu, seperti: mustahil ada sesuatu benda yang hilang begitu saja pada sesuatu tempat, lalu muncul begitu saja pada tempat lain, seperti sulap; mustahil sosok tubuh Adam diciptakan-Nya pada sesuatu tempat (Surga), lalu pindah begitu saja ke Bumi, setelah diturunkan-Nya dari Surga; mustahil 'Isra mi'raj berupa sesuatu perjalanan tubuh fisik-lahiriah nabi Muhammad saw, tetapi sebenarnya perjalanan batiniah; dsb.

Baca pula topik "Makhluk hidup nyata", tentang penciptaan Adam dari tanah di permukaan Bumi.

Tentunya ada pula sebagian dari berbagai bidang ilmu itu yang masih mengandung hal-hal yang bersifat teoretis dan belum terbukti kebenarannya, terutama dalam hal-hal batiniah (seperti ilmu psikologi dan filsafat). Juga ada yang telah terbukti dalam hal-hal yang amat sederhana, tetapi terlalu dipaksakan diterapkan dalam hal-hal yang lebih luas dan kompleks.

Contoh paling terkenalnya, adalah 'teori Evolusi' Darwin (ilmu biologi). Dalam tingkat yang amat sederhana dan terbatas, memang terjadi evolusi pada tubuh manusia dan hewan. Namun terlalu dipaksakan menjadi "manusia adalah hasil proses evolusi dari kera ataupun simpanse". Bahkan teori Evolusi Darwin justru belum terbukti, khususnya tentang asal-muasal kehidupan.

Maka segala sesuatu proses kejadian di alam semesta, pada dasarnya tidak ada yang bisa disebut 'luar-biasa' secara lahiriah, karena segala tindakan-Nya dalam hal-hal fisik-lahiriah-nyata ini hampir sebagian besarnya telah bisa diungkapkan oleh manusia. Kecuali jika berlaku segala sunatullah yang belum bisa dipahami oleh manusia, yang mestinya "tidak bertentangan" dengan ilmu-pengetahuan dari hasil temuan manusia secara amat obyektif.

Menurut ilmu-pengetahuan modern pada saat ini kejadian tsunami, gempa bumi, gunung meletus, meteor jatuh, dsb, adalah berbagai kejadian 'biasa'. Baca pula poin m dan n di bawah, tentang mu'jizat pada para nabi-Nya, yang di jaman dahulu telah dianggap 'luar-biasa', tetapi di jaman sekarang ini sebagiannya justru telah bisa dijelaskan oleh manusia.

g.

Sunatullah mengatur segala proses lahiriah & batiniah.

»

Bahwa sunatullah yang telah mengatur segala proses pada semua sistem dan sub-sistem, yang ada di alam semesta ini (dari yang amat sangat kompleks, sampai amat sangat sederhana), misalnya: sel dan manusia yang berkembang biak; elektron dan planet yang berrotasi; ruh-ruh yang bersatu (hidup) ataupun berpisah (mati) dari tubuh wadahnya; ruh para makhluk gaib yang berinteraksi dengan makhluk nyata, ataupun sebaliknya; timbulnya perasaan manusia; atom dan benda langit yang saling berinteraksi; dsb.

Hal ini menunjukkan sifat-sifat Allah, Yang Maha Kuasa, Maha Menghidupkan atau Maha Mematikan.

h.

Alam semesta diciptakan-Nya melalui sunatullah.

»

Bahwa sunatullah yang berjalan dengan amat harmonis, teratur, konsisten, sinergis dan sempurna, yang bisa membuat terciptanya seluruh alam semesta dan segala isinya ini, hanya dari dua unsur-elemen paling dasar, yaitu: "Atom" (nyata dan mati) dan "Ruh" (gaib dan hidup), dengan segala jenis dan sifatnya.

Sedang unsur dasar ketiganya yaitu "energi", justru relatif hanya terjadi dari hasil segala reaksi antar atom-atom itu sendiri, sebagai perwujudan sifat-sifat atom. Seperti halnya energi panas radiasi sinar Matahari dan bintang-bintang lainnya yang terjadi secara alamiah. Atom, Ruh dan Energi tentunya diciptakan-Nya.

Baca pula topik "Benda mati nyata" dan topik "Ruh-ruh", tentang sifat-sifat atom dan ruh itu.

Pada berbagai sumber lain, jumlah unsur-elemen dasar itu disebut empat ataupun lima, yaitu: "air, api, angin dan tanah", ataupun "air, api, angin, tanah dan logam". Namun ke-empat dan ke-lima elemen dasar itu justru sebenarnya hanya bersumber dari "atom". Namun "atom" memang tidak bisa tampak dengan mata telanjang, sehingga belum diketahui oleh orang-orang terdahulu, yang telah merumuskan kumpulan elemen tersebut. Dan anehnya unsur-elemen dasar pembentuk kehidupan segala zat makhluk-Nya, yaitu "ruh", justru telah mereka abaikan.

Dengan dua macam unsur paling dasar itu (Atom dan Ruh) dan didukung oleh Energi, diciptakan-Nya amat sangat berragam seluruh khasanah zat ciptaan-Nya, yang terdapat di alam semesta ini (nyata dan gaib, hidup dan mati), misalnya: dari anak sampai harta, dari atom sampai galaksi, dari sel sampai dinosaurus, dari malaikat sampai iblis, dari cecak sampai komodo, dari lumut sampai pohon beringin, dari udara sampai besi, dsb.

Sekali lagi, penciptaan itu hanya dengan berbagai jenis zat benda mati (Atom) dan zat kehidupan (Ruh). Juga hanya melalui sunatullah, yang mengatur segala proses interaksi antar zat, dan segala proses pada tiap zat itu sendiri, maka telah diciptakan-Nya segala khasanah zat ciptaan-Nya yang amat sangat kaya itu.

Bahkan juga diciptakan-Nya pasangan keseimbangan atas segala zat ciptaan-Nya, seperti: maskulin-feminin; jantan-betina; pria-wanita; pahala-dosa; surga-neraka; bumi-langit; nyata-gaib; hidup-mati; dunia-akhirat; baik-buruk; kebenaran-kebatilan; tua-muda; petunjuk-kesesatan; cacat-normal; tinggi-rendah; hitam-putih; kaya-miskin; besar-kecil; luas-sempit; bersih-kotor; licin-kasar; ; buram-mengkilap; dsb.

Masih amat banyak pula hal-hal lainnya di antara berbagai pasangan keseimbangan itu, sehingga tidak betul-betul "hitam-putih", tetapi justru ada berbagai tingkat warna kelabu misalnya. Hal ini bahkan amat berragam seperti pada warna pelangi, yang semuanya justru telah menunjukkan ke-Maha Luas-an segala zat ciptaan-Nya.

"(Rabb) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah, sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?." – (QS.67:3).

 

Segala sesuatu hal di alam semesta diciptakan-Nya serba ada tersedia, sebagai sesuatu ke-Maha Luas-an rahmat-Nya bagi seluruh umat manusia (demi kepentingan kehidupannya di dunia fana ini). Sekaligus sebagai bahan pelajaran yang berlimpah-ruah pula bagi tiap manusia, untuk bisa mengenal Allah, dan akhirnya untuk bisa kembali dekat ke hadapan 'Arsy-Nya.

Hal ini menunjukkan sifat-sifat Allah, Yang Maha Kaya, Maha Memiliki, Maha Pencipta, Maha Pemberi, Pemurah dan Dermawan, atau Maha Sempurna.

i.

Sunatullah memiliki unsur pemaksaan (pasti berlaku).

»

Bahwa sunatullah memiliki unsur 'memaksa' (serupa aturan atau perundang-undangan buatan manusia), misalnya untuk: menjaga keteraturan tatanan kehidupan segala zat makhluk-Nya; menjaga keseimbangan di alam semesta ini, sehingga tidak ada sesuatu zat makhluk-Nya yang bisa mendominasi atau memiliki kekuasaan yang amat melampaui batas; dsb.

Pemaksaan atau pembatasan melalui sunatullah itu, hanya untuk menjamin keseluruhan alam semesta ini (bahkan termasuk kehidupan manusia di dalamnya), bisa tetap tegak-kokoh sampai akhir jaman.

Baca pula uraian-uraian pada poin di bawah.

Tanda-tanda yang mudah dipahami oleh manusia, tentang kedatangan akhir jaman, bahkan juga telah 'dipersiapkan-Nya' melalui sunatullah, yaitu dari adanya penemuan para ilmuwan, tentang berbagai bintang yang telah 'mati', yang umum dikenal sebagai 'lubang hitam' (black hole) dan 'bintang neutron'.

Tentunya Matahari, sebagai bintang sumber penting bagi energi kehidupan di Bumi, suatu saat akan bisa 'mati' pula, yang diperkirakan masih sekitar puluhan ataupun ratusan ribu tahun lagi. Tentunya saat inilah kedatangan akhir jaman itu, jika umat manusia belum bisa pindah bertempat tinggal ke planet lain di luar sistem Tata surya (Matahari).

Baca pula topik "Benda mati nyata", tentang 'bintang mati' ataupun 'lubang hitam' (black hole).

Walau membatasi, tetapi sunatullah juga mengatur dengan amat sangat cermat, lengkap dan sempurna, atas segala sesuatu halnya di alam semesta ini. Sehingga tiap manusia tetap memiliki kesempatan dan kebebasan yang relatif amat sangat luas, untuk bisa menjalani, mengatur dan mencapai tujuan kehidupan yang lebih diinginkannya. Semuanya hanya tergantung pada usaha tiap manusianya, sesuai dengan keadaan dan kemampuannya masing-masing.

Contoh sederhananya, manusia bisa bebas menendang dan memukul bola ke segala arah, sesuai keinginannya. Namun Allah melalui sunatullah telah mengatur pula, agar manusia hanya bisa melempar bola, sejauh jarak yang terbatas saja. Namun pukulan dan tendangan itu telah cukup untuk bisa memenuhi kebutuhan umat manusia dalam kehidupannya, seperti untuk bermain sepak bola, bola voli, dsb.

Kesempatan yang luas justru tampak lebih jelas pada aspek batiniahnya (aspek lahiriahnya memang relatif terbatas). Karena aspek batiniah itu adalah wujud kehidupan akhirat tiap manusia, di mana manusia memiliki kesempatan yang persis sama untuk bisa membangunnya, bagaimanapun keadaan lahiriahnya. Seperti misalnya, tiap manusia pasti bisa mencapai kebahagiaan batiniah, pada kehidupannya di dunia ataupun setelah Hari Kiamat.

Sedang kehidupan lahiriah-duniawi adalah sesuatu bentuk ujian-Nya bagi tiap umat manusia, di samping itu juga untuk bisa mendukung tiap usahanya dalam membangun kehidupan batiniah ruhnya (kehidupan akhiratnya).

Ajaran-ajaran agama-Nya adalah berbagai cara yang telah dianjurkan-Nya untuk bisa membangun kehidupan akhirat, agar tiap manusia bisa menjaga keseimbangan dirinya, mengikuti dan ikut menjaga keseimbangan pada lingkungan sekitarnya, secara lahiriah dan batiniah. Juga agar tiap manusianya bisa mencapai segala keadaan kehidupannya, yang aman, tentram dan bahagia.

Dengan mengikuti ajaran-ajaran agama-Nya, tiap manusia relatif bisa menjaga keharmonisan dengan irama lingkungannya. Tiap manusia relatif tidak merusak keseimbangan dirinya (tidak ada pertentangan lahiriah dan batiniah), relatif tidak merusak segala keseimbangan pada lingkungan sekitarnya (tidak menjadi biang kerusakan), dan bahkan relatif tidak mencoba-coba untuk "melawan" sunatullah (tidak melampaui batas atau tidak berbuat kezaliman, agar tidak tertimpa azab-Nya).

Terkait hal ini, bahkan nabi Muhammad saw diutus-Nya, untuk menjadi "rahmat bagi semesta alam".

Hal inipun juga menunjukkan sifat-sifat Allah, Yang Maha Sempurna, Maha Adil atau Maha Menentukan.

j.

Alam semesta kokoh, karena berjalannya sunatullah.

»

Bahwa hanya dengan pasti berlakunya seluruh sunatullah secara konsisten dan sinergis, maka alam semesta bisa tetap dan tegak kokoh (secara lahiriah dan batiniah), sampai seperti sekarang ini. Sebaliknya, jika ada sesuatu sunatullah saja yang tidak berjalan, maka seluruh alam semesta ini akan bisa kacau balau, tidak akan bisa berjalan semestinya, dan bahkan akan bisa hancur-binasa. 56)

Bayangkan apa jadinya: jika hukum gaya gravitasi ataupun hukum kekekalan massa dan energi tidak ada; jika iblis berkuasa sepenuhnya untuk mengendalikan manusia, ataupun sebaliknya; jika manusia berkuasa mengendalikan manusia lainnya, dengan bebasnya; jika ruh bisa bolak-balik atau pindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya, seperti yang diyakini para penganut penitisan atau reinkarnasi ruh (terutama tentang keadaan akhir ruh); dsb.

Baca pula topik "Ruh-ruh", tentang kemustahilan konsep reinkarnasi atau penitisan.

Selain hal ini menunjukkan sifat-sifat Allah, Yang Maha Pelindung, Menjaga, Memelihara atau Menegakkan. Juga hal ini bisa menunjukkan sifat Allah, Yang Maha Esa. Karena mustahil dunia ini tetap tegak-kokoh, jika ada ilah-ilah selain Allah, yang kekuasaannya bisa sebanding dengan kekuasaan Allah, dan bisa mengganggu berjalannya salah satu saja dari seluruh sunatullah.

k.

Sunatullah menjaga keseimbangan alam semesta.

»

Bahwa sunatullahpun menjaga segala keseimbangan yang ada di alam semesta ini. sehingga segala sesuatu hal yang telah merusak keseimbangan itu secara melampaui batas (berbuat zalim ataupun berlebihan), maka melalui sunatullah pula, Allah justru bertindak mengembalikan keseimbangan itu, serta menghukum segala hal yang telah merusaknya.

Pada tiap aksi pasti ada pula reaksi yang berlawanan, yang sesuai besar pengaruhnya (seperti yang umumnya dikenal dalam teori ilmu-fisika, tentang gaya).

Namun keseimbangan sebagai wujud dari ke-Maha Adil-an Allah, hanya tampak lebih jelas jika diperhatikan keseluruhan aspeknya (aspek lahiriah dan terutama aspek batiniah). Bahkan hakekat dari ke-Maha Adil-an Allah itu justru berada pada alam batiniah ruh tiap makhluk-Nya (alam akhiratnya), bukan berada pada alam lahiriah-fisik-duniawi, yang justru amat terbatas, semu dan mudah menyesatkan.

Hal ini menunjukkan sifat Allah, Yang Maha Adil, Maha Menjaga atau Maha Penyayang.

Contoh sederhananya antara-lain:

Betapapun hebatnya kaum kafir secara fisik-lahiriah, mereka tidak akan pernah bisa mengalahkan kaum Mukmin. Karena pencarian mereka yang berlebihan atas hal-hal fisik-lahiriah, justru memiliki segala pengaruh amat buruk. Hal terpenting, kaum kafir akan mengalami kerusakan rohani-moral-spiritual (melemah keyakinan batiniah), ketika mereka itu telah terlalu mengagungkan hal-hal duniawi. Padahal amat banyak beban dosa, yang bisa timbul dari pencarian berlebihan atas hal-hal duniawi itu.

Padahal dasar utama timbulnya tiap kekafiran, adalah karena tiap manusia terlalu berlebihan dalam memperturutkan nafsu-keinginan duniawinya;

Pada sesuatu kezaliman (berlaku melampaui batas ataupun berlebihan menganiaya zat-zat makhluk-Nya) pasti ada azab-Nya. Jika hutan dieksploitasi berlebihan misalnya, maka akan bisa timbul azab-Nya yang berupa banjir; erosi dan longsor; kematian; dsb (bagi 'korbannya' hal ini suatu ujian-Nya).

Allah pasti akan mengutus para nabi dan rasul-Nya ataupun orang-orang yang arif-bijaksana, untuk bisa membawa segala pengajaran dan tuntunan-Nya (untuk membawa perbaikan), kepada kaum yang banyak melakukan segala kemungkaran, dari lingkup kalangan kaum itu sendiri; dsb.

l.

Tiap makhluk-Nya bebas memanfaatkan sunatullah.

»

Bahwa tiap saatnya tiap zat ciptaan-Nya pasti sedang menjalani berbagai sunatullah secara bersamaan. Serta hasil akhir dari tiap sunatullah tergantung kepada segala keadaan pada tiap zatnya. 57)

Tiap saatnya pula, tiap makhluk ciptaan-Nya bisa berusaha mengubah-ubah segala keadaan atau nasibnya, sesuai keinginan dan kemampuannya, dengan mengubah satu ataupun beberapa dari variabel proses pada sesuatu sunatullah tertentu, atau dengan 'memilih' sunatullah lainnya (jika ada perbedaan keadaan yang cukup signifikan). Perubahan keadaan itu semestinya diusahakan cukup berarti atau signifikan, agar takdir-Nya atau nasibnya bisa berubah cukup berarti ataupun drastis pula, serta agar usahanya tidak terlalu sia-sia.

Lihat pula pada "Gambar 22: Diagram siklus proses sesaat fungsi sunatullah" di bawah.

Contoh terkenal dari perubahan drastis itu adalah peristiwa pergi berhijrahnya nabi Muhammad saw bersama-sama dengan sejumlah umatnya dari Mekah, dimana Nabi telah amatlah sulit untuk mengembangkan diri dan berdakwah kepada umat, menuju ke Madinah, sebagai usaha Nabi untuk bisa mengubah keadaan dirinya dan umat-umatnya.

Tiap manusia semestinya cukup pintar dalam memahami hal-hal seperti: keadaan lingkungan terkait di sekitarnya; keadaan dirinya sendiri; sunatullah tentang persoalan yang dihadapinya; segala variabel yang cukup penting dan dominan pada sunatullah itu; keterkaitan sesuatu sunatullah dengan sunatullah-sunatullah lainnya; dsb, agar bisa maksimal memanfaatkan sunatullah.

Namun dengan segala keterbatasan ilmunya, tiap manusia tidak memiliki kemampuan dan pemahaman yang amat lengkap semacam itu, tentang berbagai persoalan dan keadaannya dalam kehidupannya. Maka pada akhirnya, tiap manusia cenderung pula akan berserah diri atau bertawakal kepada-Nya, atas segala nasib kehidupannya, setelah ia sendiri telah berusaha maksimal.

Untuk menolong manusia agar bisa mengubah keadaannya (lahiriah dan batiniah), menuju keadaan yang jauh lebih baik dan hakiki, justru telah diturunkan-Nya berbagai bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya, terutama melalui ajaran-ajaran agama-Nya.

Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya".

Dan sejumlah tak-terhitung proses memilih dan usaha tiap manusia sepanjang hidupnya di dunia, agar bisa mengubah nasib atau takdirnya, biasanya dikenal sebagai 'jalan hidupnya', sedang segala cara yang telah diajarkan dalam agama-Nya, untuk tujuan yang sama, tetapi dengan cara yang lebih diredhai-Nya bagi umat manusia, biasanya dikenal sebagai 'jalan-Nya yang lurus'.

Baca pula topik "Usaha dan jalan hidup makhluk ciptaan-Nya" dan topik "Jalan-Nya yang lurus".

m.

Allah mengutus para nabi-Nya, melalui sunatullah.

»

Bahwa melalui sunatullah, saat Allah memilih ataupun mengutus para nabi-Nya, dan juga saat Allah menurunkan agama Islam dan kitab suci Al-Qur'an (agama-Nya yang lurus dan kitab-Nya yang terakhir), bagi seluruh umat manusia. Lebih umumnya lagi, saat Allah menurunkan berbagai bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya (termasuk pula berbagai agama dan kitab tauhid lainnya).

Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya".

Tidak ada seorang manusiapun yang telah berjalan ataupun hidup di muka bumi, tanpa disertai dengan suatu pengajaran dan tuntunan-Nya. Sedang tuntunan-Nya yang paling dasar, berupa hati-nurani pada zat ruh tiap manusia. Dan pengajaran-Nya yang paling dasar, berupa ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di seluruh alam semesta ini (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya).

Tiap tarikan napas atau tiap saatnya sepanjang hidup tiap manusia, Allah juga mengutus para makhluk gaib baginya, untuk memberi segala pengajaran dan tuntunan-Nya secara batiniah.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib".

Hal ini juga menunjukkan sifat-sifat Allah, Yang Maha Penyayang atau Maha Pemberi Kabar.

Segala pengajaran dan tuntunan-Nya justru agar manusia bisa memahami agama atau jalan-Nya yang lurus (Islam), yang telah dirangkum dalam kitab suci Al-Qur'an. Dan kehidupan nabi Muhammad saw yang menyampaikan wahyu-wahyu-Nya dalam Al-Qur'an, telah menjadi suatu contoh pengamalan langsung atas ajaran-ajaran dalam Al-Qur'an, sehingga Nabi justru disebut pula sebagai "contoh hidup Al-Qur'an".

Ajaran agama Islam adalah cara-cara yang paling mudah, jelas, aman, benar dan paling sempurna bagi umat manusia, agar bisa menjalani kehidupan sesuai keredhaan-Nya (secara lahiriah dan terutama batiniah). Serta agar manusia bisa hidup berbahagia dan mencapai berbagai kemuliaan di dunia dan di akhirat.

Baca pula topik "Jalan-Nya yang lurus".

n.

Allah menurunkan berbagai hal, melalui sunatullah.

»

Bahwa melalui sunatullah, saat berbagai kehendak dan tindakan-Nya dalam menurunkan hal-hal seperti: siksa atau azab; mu'jizat; rejeki; jodoh; kematian; wahyu, ayat dan kitab; nabi dan rasul; ruh (penciptaan segala zat makhluk-Nya); karunia, rahmat dan hidayah; berkah; cobaan atau ujian; dsb. 58)

Uraian tentang hal-hal yang diturunkan-Nya itu, misalnya:

Siksa atau azab-Nya:

Baca pula uraian-uraian di bawah, tentang proses diturunkan atau ditimpakan-Nya, siksa atau azab-Nya.

Mu'jizat:

Baca pula uraian-uraian di bawah, tentang proses diturunkan atau dilimpahkan-Nya, mu'jizat-Nya.

Rejeki, jodoh dan kematian:

Baca pula topik "Takdir-Nya".

Wahyu, ayat, kitab ataupun para nabi dan rasul-Nya:

Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya".

Ruh-Nya (penciptaan segala zat makhluk-Nya):

Baca pula topik "Makhluk hidup nyata".

o.

Pengetahuan dan pengalaman, wujud sunatullah.

»

Wujud pemahaman atas sunatullah biasanya juga disebut sebagai 'pengetahuan' dan 'pengalaman'.

Baca pula uraian poin a di atas.

Dalam masyarakat awam, 'pengetahuan' biasanya dikenal sebagai 'pengalaman' (bersifat sederhana, aplikatif dan terbatas). Sedang pengetahuan biasanya dihubungkan dengan hal-hal yang diperoleh dari lembaga pendidikan (bersifat kompleks, teoretis dan amat luas). Selain itu pula, suatu pengalaman biasanya tidak memerlukan pemikiran yang tajam, luas ataupun rumit, sehingga relatif mudah dikuasai oleh orang-orang yang awam sekalipun.

Namun pengetahuan dan pengalaman pada dasarnya sama, berupa segala pemahaman atas aturan-Nya atau sunatullah. Dari sifat keduanya, maka pemanfaatannya ke dalam suatu perbuatan, hasilnya bisa jauh lebih sempurna diperoleh, jika pengetahuan dan pengalaman bisa dimiliki sekaligus.

Di dalam hal-hal batiniah-moral-spiritual khususnya, justru 'pengalaman' itulah yang paling penting, karena hal-hal batiniah memang amat sulit untuk bisa dirumuskan, juga relatif amat sulit bisa diperoleh dari lembaga pendidikan (bersifat seragam, massal dan waktu terbatas), termasuk pula dari sekolah-sekolah agama. Di samping itu, hal-hal batiniah juga menyangkut keyakinan tiap pribadi. Lulusan sekolah agama adalah "pengajar agama", bukan pasti berupa "orang beriman".

Ajaran agama-Nya justru amat banyak menekankan nilai-nilai batiniah. Maka dalam beragama, perlu dimilikinya berbagai pengalaman rohani-moral-spiritual, agar bisa dicapai pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalam ajarannya. Bahkan tiap praktek atau ritual ibadah di dalam ajaran-ajaran agama-Nya, adalah cara-cara agar bisa memahami nilai-nilai batiniah (rohani-moral-spiritual) di baliknya, secara perlahan-lahan atau bertahap.

Tiap praktek-ritual agama itu umumnya amatlah sederhana bentuknya, sehingga umat yang awam sekalipun semestinya bisa mengikuti dan memahami agama-Nya. Dan agama-Nya memang bukan hanya bagi para alim-ulama dan umat-umat yang berilmu.

Kenabian para nabi-Nya pada dasarnya hanya bisa dicapai, karena mereka itu memahami nilai-nilai batiniah ataupun hakekat penciptaan alam semesta dan kehidupan makhluk di dalamnya. Sedang mereka itu telah menjalani langsung banyak pengalaman rohani-moral-spiritual, termasuk dari segala akhlak, budi-pekerti dan kebiasaan positif yang amat konsisten sepanjang hidupnya.

Selain para nabi-Nya memiliki pengalaman rohani-moral-spiritual yang cukup lengkap, merekapun memiliki pengetahuan yang lebih tinggi daripada seluruh manusia lainnya di kalangan kaumnya, yang bisa tampak jelas dari mu'jizat yang dimilikinya. Lebih sederhananya, umat pasti tidak akan mau mengikuti orang-orang yang lebih tidak berpengetahuan daripada dirinya sendiri.

Juga segala pengetahuan yang dimiliki oleh para nabi-Nya, telah utuh dan lengkap (lahiriah dan batiniah). Tentunya khusus pada aspek lahiriah, amat tidak relevan jika pengetahuan mereka dibanding dengan pengetahuan umat manusia modern saat ini.

p.

Do'a, usaha batiniah yang diatur oleh sunatullah.

»

Bahwa do'a adalah metode terapi batiniah, yang diajarkan-Nya di dalam ajaran-ajaran agama-Nya. Dengan berdo'a, tiap umat pada dasarnya melakukan sesuatu usaha batiniah (secara sadar ataupun tidak), agar bisa mengubah berbagai keadaan batiniahnya. Walau memang lebih sulit bisa dijelaskan, proses dan hasil dari hal-hal yang bersifat batiniah juga diatur dalam sunatullah, persis seperti pada proses-proses lahiriahnya.

Agar keadaan batiniah itupun betul-betul tercapai, dan juga agar do'a itupun lebih memungkinkan untuk dikabulkan-Nya (di-ijabah), maka kandungan isinya semestinya betul-betul dipahami. Penting diketahui, tiap do'a semestinya bisa membentuk sesuatu semangat batiniah (energi positif), yang justru diperlukan untuk bisa mendukung segala usahanya, dalam mencapai tujuan-tujuan lahiriah ataupun batiniah. Padahal diketahui, bahwa tubuh fisik-lahiriah hanya sarana bagi ruh, ataupun hanya tunduk mengikuti perintah ruh, berdasar segala keadaan batiniah ruh itu sendiri.

Selain semangat batiniah itu, do'a amat penting pula untuk bisa membentuk sikap-sikap batiniah dalam diri manusia, seperti misalnya:

Saat sebelum berusaha, agar manusia bisa bersabar di dalam menghadapi segala keadaannya (lahiriah dan batiniah), yang terutama dari segala bentuk cobaan atau ujian-Nya.
Saat sedang berusaha, agar manusia bisa berikhlas menerima apa adanya, atas segala kehendak-Nya di alam semesta ini.
Saat akhir berusaha, agar manusia bisa berserah-diri kepada-Nya (bertawakal), atas tiap hasil usahanya.
Saat setelah berusaha, agar manusia bisa bersyukur menerima apapun pemberian-Nya, atas tiap usahanya.

 

Khusus pada tujuan-tujuan lahiriah, setelah berdo'a, segala usaha yang sesuai semestinya tetap dilakukan oleh tiap manusia itu sendiri. Proses seperti ini pulalah, yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yang berilmu tinggi, yang do'a-do'anya dianggap "mustajab" (ampuh). Mereka telah pula bisa memahami sebagian dari sunatullah tertentu (lahiriah dan batiniah), khususnya yang terkait dengan do'a-do'a tersebut.

Akhirnya, semuanya mestinya tetap kembali pada 'usaha', sekeras atau selama apapun usaha itu mestinya dilakukan, untuk bisa mewujudkan kandungan isi sesuatu do'a. Namun pencapaian tujuan-tujuan batiniahnya jauh lebih penting dan hakiki, daripada pencapaian tujuan lahiriahnya yang amat semu dan menyesatkan.

Apa peran Allah dalam mengkabulkan do'a hamba-hamba-Nya?. Sekali lagi, segala tindakan dan kehendak-Nya di seluruh alam semesta justru pasti melalui aturan-Nya (sunatullah). Tidak ada seorangpun yang bisa menyatakan, bahwa do'anya pasti akan dikabulkan-Nya (bahkan termasuk para nabi-Nya), karena umat manusia tidak akan pernah bisa memahami seluruh sunatullah.

q.

Pelaksanaan sunatullah dikawal tak-terhitung malaikat.

»

Bahwa segala kehendak, tindakan atau perbuatan Allah di alam semesta disebut 'melalui' sunatullah, karena Allah memang tidak langsung turun tangan, dalam mengurus segala zat ciptaan-Nya dan segala hal lainnya di alam semesta, tetapi justru pelaksanaan sunatullah dikawal oleh tak-terhitung jumlah para malaikat-Nya. Dan para malaikat-Nya itupun justru pasti tunduk, taat dan patuh, dalam melaksanakan segala kehendak dan perintah-Nya ("segala urusan-Nya di alam semesta").

Bahkan Allah pada dasarnya hanya menyampaikan segala perintah-Nya kepada para malaikat-Nya, bagi proses pelaksanaan sunatullah (lahiriah dan batiniah). Hal lebih jelasnya lagi, segala perintah-Nya itu bukan diberikan-Nya 'tiap saatnya', tetapi justru hanya diberikan-Nya 'sekali' saja (pada saat awal diciptakan-Nya segala zat ruh para malaikat-Nya). Sedang segala perintah-Nya itu pada dasarnya hanya berupa 'fitrah-fitrah dasar' pada tiap ruh mereka, bahkan juga pada segala ruh makhluk-Nya lainnya.

"dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat,", "dan mendahului dengan kencang,", "dan mengatur (segala) urusan(-Nya)." – (QS.79:3-5).

"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril, dengan ijin Rabb-nya, untuk mengatur segala urusan(-Nya di dunia)." – (QS.97:4).

"Sesungguhnya Rabb-kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan(-Nya). …" – (QS.10:3) dan (QS.10:31, QS.13:2, QS.32:5).

Diturunkan atau ditimpakan-Nya, siksa atau azab-Nya

Siksa atau azab-Nya pada dasarnya bukan terjadi karena umat manusia dianiaya oleh Allah, tetapi akibat dari segala perbuatan umat itu sendiri (dengan ataupun tanpa disadarinya). Di mana umat manusia itu sendiri telah melakukan berbagai perbuatan dosa, yang justru bisa mengakibatkan terpilih atau berjalannya berbagai sunatullah tertentu, yang pada akhirnya justru bisa menimbulkan siksa atau azab-Nya itu di dunia (secara lahiriah) dan di akhirat (secara batiniah).

Azab-Nya umumnya justru dianggap terkait dengan kematian dan siksa Neraka. Walaupun hal ini kurang tepat dan lengkap, karena kematian yang terjadi bukanlah akibat perbuatan dosa umat itu sendiri misalnya, justru tidak termasuk azab-Nya, tetapi termasuk takdir-Nya bagi umat itu, serta termasuk cobaan atau ujian-Nya bagi keluarga dan orang-orang-lainnya yang ditinggalkannya.

Sedang tindakan 'bunuh diri', yang amat diharamkan bagi umat Islam misalnya, termasuk azab-Nya,. Karena pelakunya telah sengaja memutus rahmat-Nya (menghilangkan kesempatannya untuk mengisi kehidupannya, dengan bertaubat atau berbuat segala amal-kebaikan), telah kehilangan orientasinya atas diciptakan-Nya kehidupan dunia ini ataupun telah memaksakan dirinya di dalam mendahului pengetahuan-Nya tentang kehidupan akhiratnya.

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang penilaian-Nya atas setiap amal-perbuatan manusia, jika dikaitkan dengan cobaan atau ujian-Nya.

Siksa atau azab-Nya secara 'batiniah' justru paling berbahaya dan hakiki, karena bisa mengubah keadaan batiniah ruh. Serta hal itu tetap akan teringat dan mengikuti ruhnya, sampai akhir jaman, walau sebagiannya bisa berkurang melalui usaha bertaubat dengan sebenar-benarnya. Namun atas ijin-Nya, taubat itupun hanya bisa berlaku bagi berbagai dosa tertentu yang masih bisa dimaafkan-Nya, seperti: dosa-dosa kecil; dosa-dosa yang tidaklah disengaja; dosa-dosa yang relatif amat terpaksa dilakukan dan memiliki dasar alasan pembenaran; dosa-dosa yang belum ada hukum syariatnya; dsb.

Siksa atau azab-Nya secara 'lahiriah' justru relatif jauh lebih ringan, apalagi ilmu kedokteran modern telah bisa menghilangkan dan mengatasi banyak penyakit lahiriah. Sedangkan pengaruh lahiriahnya yang paling tinggi berupa kematian, walau kematian juga relatif tidak cukup 'menyiksa', apalagi seluruh makhluk hidup nyata memang pasti akan mengalami kematian.

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang berbagai keadaan batiniah ruh.

Penting diketahui pula, bahwa siksa atau azab-Nya justru amat berbeda dari cobaan atau ujian-Nya, walau 'seolah-olah' terasa sama-sama 'menyiksa'. Karena siksa atau azab-Nya justru murni akibat hasil segala perbuatan dosa, dari umat yang mengalaminya. Dan sebaliknya cobaan atau ujian-Nya justru berasal dari Allah (tidaklah terkait secara langsung ataupun tidak, dengan segala amal-perbuatan umat itu).

Bahkan bagi umat-umat tertentu yang dikehendaki-Nya, justru dari berbagai cobaan atau ujian-Nya, bisa diperoleh berbagai hikmah-Nya (pelajaran positif), yang amat berharga untuk dimanfaatkan dalam menjalani kehidupannya di dunia dan di akhirat.

Sekali lagi hal ini amat penting ditekankan, karena umat Islam dan para ulama sekalipun sering keliru, bahwa segala keadaan tubuh fisik-lahiriah tiap makhluk-Nya yang bersifat 'fana' dan 'semu', relatif amat berbeda daripada segala keadaan rohani-batiniah ruhnya yang bersifat 'kekal' dan 'hakiki' (segala keadaan kehidupan akhiratnya). Dan seperti disebut pula di atas, bahwa azab-Nya yang sebenarnya dan hakiki, justru azab-Nya secara batiniah.

Tiap bentuk kerusakan atau kematian pada tubuh fisik-lahiriah manusia (perorangan ataupun massal, kecelakaan ataupun bencana, dari akibat bencana alam ataupun akibat perbuatan manusia, pada saat sedang menderita penyakit amat parah ataupun pada saat sedang tidur amat tenang, dsb), justru pada dasarnya bukan bentuk azab-Nya yang sebenarnya, melainkan berbentuk segala kerusakan keadaan batiniah ruh manusianya pada saat kematiannya itu sendiri, akibat dari segala perbuatan dosanya sepanjang hidupnya.

Orang-orang yang tertimpa azab-Nya secara batiniah inipun di dalam Al-Qur'an sering disebut sebagai "orang-orang yang dibiarkan-Nya terombang-ambing dalam kesesatan ataupun telah buta, tuli, bisu dan pekak", "orang-orang yang tidak bisa kembali lagi ke jalan-Nya yang lurus", "orang-orang yang telah dilaknat-Nya", dsb, yang karena keadaan batiniah ruhnya memang telah rusak relatif cukup parah.

Contoh misalnya, pada tindakan orang yang bunuh diri di atas, azab-Nya bukan berupa kematiannya itu sendiri, namun justru berupa berbagai kerusakan keadaan batiniahnya pada saat terjadi kematiannya (bahkan termasuk pula yang telah menimbulkan kematiannya). Sekali lagi, tubuh fisik-lahiriahnya pasti hanya tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah ruhnya. Serta hakekat tiap makhluk ada pada ruhnya.

Begitu pula pada kasus kemusnahan atau kematian massal atas umat-umat terdahulu yang justru telah menentang para nabi-Nya, serta sering disebut dalam Al-Qur'an. Sekali lagi azab-Nya yang sebenarnya dan hakiki bukan berupa kematian mereka itu sendiri, namun berupa berbagai kekafiran mereka menjelang kematiannya, yang menjadikan berbagai keadaan batiniah ruh mereka telah rusak relatif cukup parah.

Sekali lagi, segala bentuk kerusakan atau kematian pada tubuh fisik-lahiriah manusia (perseorangan ataupun massal), bukan suatu hal yang dimaksud sebagai azab-Nya, kecuali jika orang-orang yang mati itu memang telah banyak berbuat amal-keburukan, sedangkan segala amalan dan taubatnya justru telah terputus. Sebaliknya kematian pada orang-orang yang beriman justru sama sekali bukan azab-Nya.

Segala bentuk bencana-musibah secara fisik-lahiriah, sebagian besarnya justru tidak memiliki hubungannya dengan tingkat keimanan para korban bencananya, yang memang bersifat batiniah.

Kejadian bencana alam (tsunami, gunung berapi, gempa bumi, dsb), relatif sama-sekali tidak ada tanggung-jawab umat manusia atas hal itu, serta bisa pula menimpa umat manusia dengan segala tingkat keimanannya. Sedang pada bencana yang justru terkait hasil perbuatan manusia (banjir, longsor, perang, dsb), para pelaku penyebabnya pada umumnya relatif tidak tertimpa akibatnya, namun yang tertimpa justru orang-orang yang sama-sekali tidak terkait ataupun tidak berdosa.

Baca pula topik "Usaha dan jalan hidup makhluk ciptaan-Nya", tentang Allah Maha Adil kepada segala makhluk-Nya, berapapun usia hidupnya masing-masing. Dan topik "Benda mati gaib", tentang azab Neraka dan siksaan Neraka kecil (beban dosa).

Hal paling penting bagi tiap umat Islam, agar tiap saatnya bisa selalu berusaha memelihara segala keadaan batiniah ruhnya (sering pula disebut 'mensucikan ruhnya'), sebelum kedatangan kematiannya, yang justru hanya Allah Yang Maha mengetahui waktunya. Usaha ini pada dasarnya berupa pembentukan berbagai akhlak, budi pekerti dan kebiasaan terpuji, sebagai tujuan utama dari pelaksanaan segala amal-ibadah yang dianjurkan-Nya melalui ajaran-ajaran agama Islam.

Segala keadaan batiniah ruh tiap umat manusia itulah (keadaan kehidupan akhiratnya), yang akan disempurnakan-Nya di Hari Kiamat (dilipat-gandakan-Nya segala nikmat dan hukuman-Nya, sebesar biji zarrah sekalipun), yang lalu atas ijin-Nya, segala keadaan batiniah ruh itu juga tetap kekal bersama zat ruhnya setelah Hari Kiamat (kecuali "jika dikehendaki-Nya" kehancuran segala zat ruh ciptaan-Nya).

Diturunkan atau dilimpahkan-Nya, mu'jizat-Nya

Mu'jizat adalah hasil dari berlakunya berbagai sunatullah yang tampak luar-biasa, khususnya dari sudut pandang umat manusia pada jaman terjadinya dahulu. Dengan berbagai bidang ilmu-pengetahuan umat manusia modern sekarang ini, sebagian dari mu'jizat para nabi-Nya terdahulu (sebelum nabi Muhammad saw), relatif tidaklah tampak luar-biasa lagi (terutama bagi mu'jizat yang berbentuk lahiriah). Maka keluar-biasaan mu'jizat juga amat tergantung kepada jamannya. Serta mu'jizat justru berasal dari 'pengetahuan' pada para nabi-Nya terkait.

Hal ini juga menerangkan, tentang tidak adanya mu'jizat dari nabi Muhammad saw, selain mu'jizatnya yang paling luar-biasa, yang berupa "kitab suci Al-Qur'an". Sedang umat pada jaman Nabi justru telah jauh berkembang daripada umat para nabi terdahulu, maka relatif makin sulit timbul segala kejadian lahiriah, yang dianggap luar-biasa oleh umat-umat pada jaman Nabi.

Bahkan dalam pengetahuan lahiriah, Nabi terkadang meminta pendapat para sahabat, seperti saat menyetujui pendapat salah seorang panglima perang Islam, untuk dibuatnya sesuatu parit pertahanan pada lokasi lain, yang berbeda daripada lokasi yang semula telah diusulkan oleh Nabi.

Sedangkan hampir seluruh kandungan isi kitab suci Al-Qur'an, berupa hal-hal yang bersifat batiniah, bahkan segala aspek lahiriahnya (ritual ibadah, syariat, dsb), justru untuk bisa mendukung pencapaian aspek-aspek batiniah di baliknya. Keluar-biasaan atau mu'jizat dari kitab suci Al-Qur'an justru pada amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangannya seluruh Al-Hikmah di dalamnya (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, 'di balik' teks ayat-ayatnya).

Sedangkan segala hakekat kebenaran-Nya tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh), di sisi 'Arsy-Nya, atau berada di alam akhirat (alam batiniah ruh). yang hakiki dan kekal, bukanlah berada di alam dunia (alam lahiriah). yang amat semu, fana dan mudah menyesatkan.

Mu'jizat dari Nabi juga bukan berupa mu'jizat yang berbentuk nyata-lahiriah, karena jika keliru pemakaian atas ilmu-ilmu lahiriah, hasilnya justru bisa tidak dibenarkan-Nya, seperti pada mu'jizat yang 'serupa sihir' dari nabi Musa as. Padahal ilmu pada nabi Musa as itu justru bukan sihir, namun hanya hasil ilmu-pengetahuan biasa (seperti pesulap dan ilusionis saat ini), serta justru hanya bertujuan untuk bisa menunjukkan ketinggian ilmunya, agar umat kaumnya mau meyakini dan mengikuti segala kebenaran-Nya yang disampaikannya.

Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya", tentang kitab-kitab tuntunan-Nya (kitab-kitab tauhid).

Bahkan mu'jizat dari beberapa nabi-Nya, yang disebutkan bisa menghidupkan kembali 'orang mati'. Hal ini justru bukan benar-benar bisa menghidupkan 'orang mati', akan tetapi para nabi-Nya itu pada dasarnya hanya mempunyai kemampuan khusus, untuk menyadarkan kembali orang yang sedang pingsan, mati suri, koma ataupun sekarat (mati sementara). Bahkan kemampuan mereka itupun justru jauh lebih sederhana daripada para dokter pada jaman modern saat ini.

Padahal di jaman dahulu (di awal abad masehi ataupun di abad sebelum masehi), kehidupan umat para nabi-Nya terdahulu memang masih relatif amat primitif, jika dibandingkan dengan kehidupan umat manusia modern saat ini. Sehingga amat mudah dipahami, jika orang yang telah 'pingsan' relatif lama, justru bisa dianggap oleh umat-umat terdahulu, sebagai 'orang mati'. Serta orang yang 'pingsan' memang benar-benar bisa 'mati', jika tidak ada berbagai tindakan pengobatan secara khusus (di jaman dahulu ataupun di jaman sekarang ini).

Padahal para nabi-Nya terkait tidak bisa menghidupkan 'orang mati' yang telah lama dikuburkan, atau jasadnya telah hancur di dalam tanah. Hal-hal seperti inilah yang terjadi pada segala mu'jizat lainnya dari para nabi-Nya. Dasar terjadinya tiap mu'jizat itu adalah berbagai ilmu-pengetahuan (sunatullah) yang telah bisa dipahami dengan relatif amat baik oleh para nabi-Nya terkait (bisa berulang), ataupun berbagai pengalaman tertentu yang terjadi tanpa disengaja (tidak berulang).

Mu'jizat pada umumnya dianggap sebagai suatu tanda, bahwa para nabi-Nya itu telah memiliki berbagai kelebihan dan keistimewaan dari segi keilmuan (lahiriah dan batiniah), dibandingkan seluruh umat manusia pada jamannya, terutama agar umat kaumnya mau mengikuti ajaran-ajaran agama-Nya yang sedang disampaikannya.

Mu'jizat justru bukanlah hal yang mistis-tahayul. Kesan mistis 'seolah-olah' ada, karena memang belum bisa dijelaskan oleh manusia biasa pada umumnya, termasuk karena tidak ada penjelasan lengkap dari para nabi-Nya itu sendiri, tentang 'ilmu' di balik tiap mu'jizatnya.

Manusia mengenal Allah, dengan memahami sunatullah

Dari memahami kesempurnaan dan keindahan atas aturan-Nya (sunatullah), maka umat manusia justru bisa memahami sebagian dari hakekat "wujud zat Allah" (perwujudan dari sifat-sifat terpuji Allah), yang tergambar pada nama-nama terbaik Allah (Asmaul Husna), yang disebut-sebut dalam Al-Qur'an, antara-lain: Maha Esa, Maha Adil, Maha Sempurna, Maha Kuasa, Maha Memelihara, Maha Kuat, Maha Pemurah, Maha Penyayang, dsb, seperti yang telah pula disebut pada berbagai uraian di atas.

Seperti diketahui pada Gambar 18, Gambar 19, Gambar 20, tentang sifat zat, serta hubungan antara sifat-sifat-Nya dan sifat-sifat segala zat ciptaan-Nya, dan diketahui pula pada uraian-uraian di atas (terutama poin b), bahwa sifat zat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: sifat 'esensi-statis-pembeda' dan sifat 'perbuatan-dinamis-proses'.

Sedangkan sifat-sifat 'esensi' Zat Allah yang diketahui (walau juga tidak langsung tentang Zat Allah) adalah Ada (wujud), Maha Esa, Maha Gaib (Maha tersembunyi), Maha Kekal, Maha Awal, Maha Akhir dan Maha Hidup. Maka sifat-sifat-Nya lainnya pada Asmaul Husna, pada dasarnya justru berupa sifat-sifat dari segala 'perbuatan' Zat Allah di alam semesta ini, yang biasa disebut pula sebagai Sunnah Allah (sunatullah).

Sekali lagi, pada dasarnya sifat-sifat 'esensi' Zat Allah tersebut tidak terkait langsung tentang zat Allah itu sendiri, tetapi berdasarkan hasil pemahaman atas 'fenomena umum' dari segala 'perbuatan' Zat Allah. Maka pemahaman atas sunatullah itu sendiri, adalah unsur yang amat sangat penting dalam mengenal Allah dan sifat-sifat Allah.

Cara memahami sunatullah (Sunnah Allah)

Bahwa hakekat dari sunatullah (sunnah Allah) itu sendiri bisa dipahami dari mengamati dan mempelajari berbagai proses kejadian (lahiriah dan batiniah, yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'), atas segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini. Karena segala proses kejadian yang seperti itu memang hanya hasil dari perbuatan Allah, Yang Maha Kuasa dan Maha Kekal.

Segala proses kejadian itu biasa disebut pula sebagai "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya", "wajah-Nya", "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "kalam-Nya atau wahyu-Nya yang sebenarnya", "segala pengetahuan atau kebenaran-Nya", atau disebut pula sebagai "Al-Qur'an dan kitab-kitab-Nya lainnya yang berbentuk gaib", yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya.

Pemahaman atas sunatullah juga bisa amat diperkuat, melalui ilmu-ilmu yang biasanya dipelajari dari bangku sekolah, yaitu: fisika, kimia, biologi, astronomi, matematika, dsb, terutama lagi yang lebih pentingnya berupa teori-hukum-rumus fisik-alam (ilmu fisika, kimia, biologi, dsb) ataupun hukum kausalitas (hukum sebab-akibat).

Sebagian dari ilmu-ilmu itu bersifat pasti, dan juga relatif telah teruji dan terbukti kebenarannya. Walaup ilmu-ilmu temuan manusia pada dasarnya justru tidak bersifat 'mutlak', seperti halnya ilmu-Nya yang berupa sunatullah, karena ilmu-ilmu itu lebih bersifat pendekatan 'relatif' atas berbagai pengalaman empirik lahiriah tertentu. Tepatnya, ilmu-ilmu hasil temuan manusia justru hanya pendekatan atas rumus-rumus pada sunatullah, yang telah bisa diformulasikan oleh manusia.

Sedangkan dalam ayat-ayat-Nya yang tertulis (ayat-ayat kitab-kitab-Nya), sedikit sekali disebut istilah 'sunatullah' (Sunnah Allah). Tetapi dalam Al-Qur'an misalnya, justru amat banyak anjuran untuk bisa mempelajari segala proses kejadian di seluruh alam semesta ini, melalui ayat-ayatnya yang berbunyi, seperti: "berjalanlah di muka bumi itu, pelajarilah …" "perhatikanlah bagaimana cara Allah …" "… terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya" dsb.

Di dalam Al-Qur'an banyak pula keterangan langsung, tentang berbagai tindakan-Nya, melalui ayat-ayatnya yang berbunyi, seperti: "Dia berkehendak …" "… kepada siapa yang dikehendaki-Nya …" "… dengan kehendak-Nya" "… sebagaimana kehendak-Nya" "… Demikianlah Allah berbuat, apa yang dikehendaki-Nya" "Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka …" dsb.

Dan tentunya, penjelasan tentang segala kejadian alam (fisik-lahiriah) dalam kitab-kitab-Nya, tidaklah selengkap pengetahuan umat manusia modern saat ini, setelah amat pesatnya perkembangan segala bidang ilmu-pengetahuan lahiriah hasil temuan manusia.

Baca pula uraian poin a pada Tabel 13 di atas.

Keistimewaan akal-pikiran manusia

Akal-pikiran pada tiap manusia, sebagai suatu sarana batiniah ruh manusianya (beserta hati atau kalbu), amatlah jelas diketahui bisa menampung apa saja. Juga bisa membayangkan ataupun memikirkan apa saja, bahkan memikirkan hal-hal yang tak-nyata sekalipun. Luas pikiran manusia adalah tak-terhingga. Tidaklah ada sesuatu benda di dunia ini yang tidak bisa dipikirkannya. Bahkan hal-hal yang tidak ada di dunia, juga bisa dipikirkannya. Hal yang tidak bisa dilihat dengan mata, juga bisa ada dalam pikirannya. Sehingga 'hampir' apa saja bisa dipikirkan ataupun ditampung oleh akal-pikiran manusia. Sekali lagi, 'hampir' apa saja.

Disebut "'hampir' apa saja"., karena akal-pikiran tiap manusia justru mustahil memiliki kekuatan, kapasitas atau daya tampung, agar bisa membayangkan ataupun memikirkan hakekat 'zat' ruh Allah dan hakekat 'zat' ruh makhluk-Nya. Juga hanya amat sangat sedikit sifat esensi zat ruh yang bisa dipahami oleh akal manusia (hanya dipahami fenomena umum di sekitar zat ruh, atau tidak terkait langsung dengan zat ruh itu sendiri).

Tetapi khusus tentang hakekat zat ruh makhluk-Nya (terutama para makhluk gaib), telah ada sebagian kecilnya yang bisa diungkap oleh sebagian dari para nabi-Nya dan manusia biasa lainnya (telah bisa mengetahui 'wujud asli' para makhluk gaib)

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang 'wujud asli' para makhluk gaib. Dan uraian di atas, tentang hal-hal gaib yang masih bisa dinalar dengan akal (berupa gaib 'tindakan', bukan gaib 'zat').

Bahkan Imam Al-Ghazali juga menunjukkan segala kelebihan atau keistimewaan 'akal' (sebagai indera batiniah ruh tiap manusia), terutama saat dibandingkannya dengan indera lahiriah ('mata'), yang diungkap pada Tabel 14 berikut.

Walau pemahaman pada buku ini, 'akal' tidak tepat dianggap sebagai indera batiniah ruh tiap manusia (lebih tepatnya berupa 'hati atau kalbu'). Sedang 'akal' justru bisa berfungsi memilih, mengolah, menelaah, menilai ataupun memutuskan atas segala bentuk informasi batiniah, dari hasil tangkapan 'hati atau kalbu'. Lebih lengkapnya lagi, dari hasil tangkapan alat-alat indera lahiriah (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, dsb), yang juga telah terkirim ke 'hati atau kalbu'.

Pada informasi dari 'hati atau kalbu' itupun telah disertai pula dengan segala bentuk informasi batiniah tambahan dari para makhluk gaib, yang berupa ilham-ilham positif dan negatif, ke dalam 'hati atau kalbu' manusia yang selalu mereka ikuti, awasi dan jaga.

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang ilham-ilham dari para makhluk gaib. Juga topik "Awal Penciptaan Alam Semesta, dan Elemen Dasarnya", tentang sifat-sifat ruh. Juga uraian-uraian di bawah, tentang elemen-elemen pada zat ruh dan fungsinya.

Tabel 14: Keistimewaan akal manusia (terhadap mata lahiriah)

Berbagai keistimewaan akal manusia (terhadap mata lahiriah)

No

Perbandingan antara mata dan akal

1. Mata :

Bisa melihat benda lain, tetapi relatif tidak bisa melihat dirinya sendiri.

Akal :

Bisa menyerap tak-terhingga pengetahuan di luar dirinya, tetapi juga bisa menyerap dirinya sendiri.

2. Mata :

Tidak bisa melihat suatu yang amat jauh dan amat dekat.

Akal :

Bisa menyerap suatu yang amat jauh-tinggi dan amat dekat-dalam tanpa ada bedanya, dan dalam sekejap mata.

3. Mata :

Tidak bisa melihat benda-benda yang berada di balik selubung (hijab, tabir, penutup atau pembatas).

Akal :

Bisa menyerap segala sesuatu hal yang berada di balik selubung, bahkan sampai ke hijab di sekitar 'Arsy-Nya. Bisa bergerak bebas di alam dunia dan alam malakut (alam gaib). Dan hijab bagi akal, hanya ketika menghijab dirinya sendiri

4. Mata :

Hanya bisa melihat permukaan sesuatu, dan bukanlah bagian di dalamnya.

Akal :

Bisa menyerap permukaan sesuatu, dan juga bagian di dalamnya (rahasia, hakekat atau ruhnya; sebab-sebab; sifat-sifat; hukum-hukum; dsb).

5. Mata :

Hanya bisa melihat sebagian dari yang maujud saja, dan bukan keseluruhannya.

Akal :

Bisa menyerap keseluruhan dari sesuatu yang maujud. Bahkan 'seluruh' maujudat adalah bidang jangkauan akal. Akal bisa memberi penilaian dengan penuh keyakinan dan kepastian.

Semua indera lahiriah hanya sarana bagi akal, dan tunduk kepada akal.

6. Mata :

Hanya bisa melihat sesuatu yang terbatas saja, dan bukan sesuatu yang tak-terbatas.

Akal :

Bisa menyerap sesuatu yang terbatas, dan juga sesuatu yang tak-terbatas atau tak-terhingga.

7. Mata :

Banyak kesalahan yang bisa terjadi pada saat melihat (sesuatu yang besar bisa tampak kecil, sesuatu yang jauh bisa tampak dekat, sesuatu yang diam bisa tampak bergerak, sesuatu yang tak-bersinar bisa tampak bersinar, sesuatu yang kasar bisa tampak licin, dsb).

Akal :

Jarang ada kesalahan yang bisa terjadi pada saat menyerap sesuatu hal (hanya terjadi jika terkandung khayalan dan anggapan yang keliru).

(dirangkum dari buku "Misykat cahaya-cahaya", Imam Al-Ghazali, 1993: 18-26)

Islam, agama yang paling sesuai ilmu-pengetahuan

Dari pemahaman yang mendalam atas sunatullah, ataupun atas segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam ajaran agama Islam, relatif jelas bisa diketahui bahwa hanya Islam, satu-satunya agama di dunia ini, yang paling sesuai (bahkan semestinya mustahil bisa saling bertentangan), dengan segala ilmu-pengetahuan hasil temuan manusia secara 'amat obyektif' (berdasar fakta-kenyataan-kebenaran yang ada di seluruh alam semesta ini, tanpa ditambah dan dikurangi).

Bahkan pastilah akan sesuai pula dengan segala bidang ilmu-pengetahuan yang belum berhasil diungkap oleh manusia modern saat ini (secara 'amat obyektif' pula tentunya). Sedang segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam kandungan isi tiap ajaran agama Islam, pada dasarnya justru bersifat 'universal' (tidak tergantung pada batas ruang, waktu, konteks budaya manusia, dsb).

Dalam ajaran agama Islam justru pada dasarnya tidak pernah diajarkan 'mistis-tahayul', yang tidak bisa dijelaskan dengan intuisi-nalar-logika akal sehat manusia. Walaupun memang ada sebagian dari umat Islam yang menafsirkan ajaran-ajaran agamanya secara 'mistis-tahayul' tersebut. Dan tentunya mereka inipun telah melakukan suatu kekeliruan besar.

Sedang pada berbagai ajaran di luar agama Islam, ada banyak yang mengandung tahayul, termasuk tahayul yang dikembangkan di sekitar mu'jizat para nabi-Nya, yang justru sulit dinalar dengan akal-sehat manusia. Padahal mu'jizat yang ditahayulkan itu pada dasarnya bersifat fisik-lahiriah, sedang hal-hal lahiriah itu sendiri justru hampir semuanya telah bisa dipahami oleh para ilmuwan modern saat ini.

Padahal mu'jizat yang bersifat lahiriah, hanya perwujudan dari 'keluar-biasaan' hasil ilmu-pengetahuan para nabi-Nya, pada konteks umat ataupun jamannya masing-masing. Ironisnya, justru umat Islam sendiri yang juga ikut serta mengtahayulkan berbagai kisah, tentang mu'jizat lahiriah dari para nabi-Nya itu. Bahkan termasuk dilakukan pula oleh masyarakat barat, yang justru telah maju ilmu-pengetahuan lahiriahnya. Hal ini justru menjauhkan agama dari akal-sehat manusia.

Baca pula uraian-uraian tentang mu'jizat di atas.

Sedang mu'jizat dari nabi Muhammad saw hanya berupa kitab suci Al-Qur'an. Di mana secara lahiriahnya, tidak ada yang luar-biasa dengan mu'jizat dari Nabi tersebut, karena bentuk fisik-lahiriah kitab suci Al-Qur'an persis seperti buku-buku lainnya. Justru keluar-biasaan Al-Qur'an terletak pada seluruh hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang terkandung di balik teks ayat-ayatnya (amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan).

Kalaupun ada sebagian dari ajaran agama Islam, yang amatlah menuntut ketaqwaan dan keimanan secara "taklid". Hal ini bisa terjadi karena sebagian besar umat terdiri dari kalangan yang relatif awam, terhadap tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di balik teks ajaran-ajarannya, terutama lagi dalam hal-hal yang bersifat batiniah dan gaib, yang memang relatif amat sulit bisa dijelaskan dengan bahasa manusia sehari-harinya (hanya bisa dijelaskan dengan segala perumpamaan).

Dan hanya bagi para nabi-Nya, para wali ataupun para alim-ulama yang memiliki ilmu agama relatif amat tinggi (atas kehendak-Nya), yang bisa memahami hikmah dan hakekat kebenaran-Nya itu, karena segala kehendak dan tindakan-Nya di alam semesta, memang amat teratur. Namun bagi umat-umat yang awam, sebagian dari ajaran agama Islam seolah-olah dianggapnya sebagai suatu hal yang mistis-tahayul, karena memang belum bisa dijangkau oleh akal-pikirannya.

Padahal tidak ada ajaran agama Islam yang bersifat 'tahayul'. Serta mistisisme dalam ajaran agama Islam semestinya hanya berupa suatu pengagungan yang amatlah tinggi kepada 'segala ketinggian dan kemuliaan nilai-nilai kebenaran-Nya' di dalamnya (bukan mistisisme sekaligus tahayul).

Cukup mudah diduga, bahwa tiap penafsiran yang cenderung bersifat 'tahayul' atas kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah-sunnah Nabi, justru akibat telah dipengaruhi (secara disengaja ataupun tidak), oleh ajaran-ajaran agama lainnya, seperti: hadits-hadits Israiliyat; turunnya nabi Isa as ataupun Imam Mahdi sebelum akhir jaman; dsb.

Bahkan berbagai agama itu justru telah timbul ratusan tahun, sebelum kedatangan agama Islam. Padahal berbagai perubahan dan perbedaan penafsiran pada umat-umat di 'jaman dahulu', justru secara perlahan-lahan bisa mengubah tiap ajaran agama-agama itu, sekaligus pula melahirkan berbagai tahayul di dalamnya. Dan kedatangan agama Islam justru untuk meluruskannya, sebagai agama-Nya yang lurus dan terakhir, serta umat Islam juga mestinya menghindari segala 'tahayul'.

Contoh misalnya dalam Al-Qur'an disebut "bahwa nabi Isa as diturunkan-Nya 'pada Hari Kiamat'", justru bukan 'pada akhir jaman', 'sebelum akhir jaman', ataupun bukan 'beberapa tahun sebelum akhir jaman'. Padahal 'Hari Kiamat' relatif berbeda daripada 'akhir jaman', juga tentunya kata 'pada' berbeda daripada kata 'sebelum'.

Kekeliruan penafsiran atas hal inilah, yang telah menimbulkan tahayul seperti: "nabi Isa as pasti akan diturunkan-Nya sebelum akhir jaman, untuk merobohkan salib-salib dan meluruskan agama-Nya.".

Baca pula topik "Nabi terakhir, untuk seluruh umat manusia", tentang kemustahilan turunnya nabi Isa as di akhir jaman. Dan topik "Benda mati gaib", tentang Hari Kiamat.

Bahkan pengaruh dari ajaran-ajaran agama di luar Islam itupun dengan amat jelas dan efektif, telah menimbulkan kemunduran amat drastis atas perkembangan ilmu-pengetahuan di kalangan umat Islam, justru hanyalah beberapa abad setelah wafatnya nabi Muhammad saw. Bisa dikatakan, perkembangan itupun praktis telah terhenti saat ini.

Hal ini karena segala pemikiran umat Islam telah berlangsung statis (hanya berjalan di tempat saja), ataupun terus-menerus berkutat mendebatkan hal-hal yang bersifat khilafiyah, hanya berdasarkan dari 'hasil pemikiran' para ulama terdahulu saja. Serta umat yang berilmu telah merasa cukup hanya sebagai penghapal Al-Qur'an dan Hadits.

Amat ironisnya lagi, bangsa Yahudi yang justru telah berhasil mengacak-acak agama-agama tauhid, justru telah menjadi pemimpin penguasaan ilmu-pengetahuan di jaman modern ini, walaupun banyak ilmu-ilmu mereka yang memang telah diperoleh dan dipakai, dengan melewati batas-batas moral-etika (melampaui batas, berbuat zalim).

Di lain pihaknya, segala tahayul yang telah dikembangkan atas ajaran-ajaran agama Islam, justru bisa semakin menjauhkan ataupun semakin memutuskan hubungan antara agama dan akal-sehat manusia. Padahal dalam Al-Qur'an justru amat banyak disebut tentang berbagai keutamaan bagi tiap umat Islam yang berilmu-pengetahuan; berakal (mau memakai akal); mau berpikir, memahami dan mempelajari; dsb.

Padahal akal justru dipakai oleh tiap umat manusia, untuk bisa menjawab segala persoalan kehidupannya sehari-harinya. Padahal di lain pihak, ajaran-ajaran agama-Nya justru juga untuk bisa menjawab hal yang sama, walaupun tentunya dengan cara-cara yang justru lebih sesuai dengan keredhaan-Nya, ataupun lebih mendasar dan hakiki.

Para ilmuwan Muslim terdahulu

Para ilmuwan Muslim pada jaman dahulu, selain dari berusaha amat keras dalam memahami segala aspek yang langsung menyangkut agama-Nya (ilmu-ilmu agama), justru juga berusaha amat keras dalam menguasai amat banyak bidang ilmu-pengetahuan umum (ilmu-ilmu non-agama), yang justru amat dianjurkan pula dalam Al-Qur'an.

Bahkan mereka itu amat banyak diilhami dari Al-Qur'an untuk mengkaji berbagai kebenaran-Nya di dalamnya (lahiriah dan batiniah), bukanlah hanya semata sekedar menerima apa adanya. Justru banyak pula hasil penemuan ilmu-pengetahuan (terutama ilmu-ilmu lahiriah) sampai pada jaman modern saat ini, yang telah memperkuat kebenaran kandungan isi ayat-ayat Al-Qur'an.

Di lain pihaknya, ilmu-ilmu batiniah memang relatif amat sulit untuk bisa dibuktikan dan diukur. Hanya orang-orang yang memiliki kepekaan batiniah amat kuat yang bisa memahami dan menyakininya.

Pada Tabel 15 berikut ditunjukkan beberapa ilmuwan Muslim pada jaman dahulu, yang hidup di sekitar abad ke-8 s/d 15. Bahkan sebagian darinya amat dikenal di dunia (termasuk di kalangan negara-negara barat), sehingga merekapun telah memiliki nama-nama barat. Seperti: Ibn Sina sebagai Avicenna; Ibn Rushd sebagai Averroe's; Al-Idrisi sebagai Dreses; Ibn Maymun, Musa sebagai Maimonides; dsb.

Tabel 15: Daftar para ilmuwan Muslim terdahulu

Para ilmuwan Muslim terdahulu (abad ke-8 s/d 15),
dengan berbagai bidang ilmu-pengetahuan yang dikuasainya

Masa hidup

Nama ilmuwan

Bidang ilmu

701 (wafat)

Khalid Ibn Yazeed

Ilmuwan kimia

721- 803

Jabir Ibn Haiyan

Ilmuwan kimia (seorang ilmuwan kimia muslim populer)

740

Al-Asma'i

Ahli ilmu hewan, ahli tumbuh-tumbuhan, ahli pertanian

780

Al-Khwarizmi (Algorizm)

Matematika (Aljabar, Kalkulus), Astronomi

776- 868

Amr Ibn Bahr al-Jahiz

Ahli ilmu hewan

787

Al Balkhi, Ja'far Ibn Muhammas (Albumasar)

Astronomi

796 (wafat)

Al-Fazari, Ibrahim Ibn Habib

Astronomi

800

Ibn Ishaq Al-Kindi (Alkindus)

Kedokteran, Filsafat, Fisika, Optik

815

Al-Dinawari, Abu Hanifa Ahmed Ibn Dawud

Matematika, Sastra

816

Al Balkhi

Ilmu Bumi (geografi)

836

Thabit Ibn Qurrah (Thebit)

Astronomi, Mekanik, Geometri, Anatomi

838- 870

Ali Ibn Rabban Al-Tabari

Kedokteran, Matematika

852

Al Battani Abu Abdillah

Matematika, Astronomi, Insinyur

857

Ibn Masawaih You'hanna

Kedokteran

858- 929

Abu Abdullah Al Battani (Albategnius)

Astronomi, Matematika

860

Al-Farghani, Abu al-Abbas (Al-Fraganus)

Astronomi, Teknik Sipil

864- 930

Al-Razi (Rhazes)

Kedokteran, Ilmu Kedokteran Mata, Ilmu Kimia

973 (wafat)

Al-Kindi

Fisika, Optik, Ilmu Logam, Ilmu Kelautan, Filsafat

888 (wafat)

Abbas Ibn Firnas

Mekanika, Ilmu Planet, Kristal Semu

900 (wafat)

Abu Hamed Al-Ustrulabi

Astronomi

903- 986

Al-Sufi (Azophi)

Astronomi

908

Thabit Ibn Qurrah

Kedokteran, Insinyur

912 (wafat)

Al-Tamimi Muhammad Ibn Amyal (Attmimi)

Ilmu Kimia

923 (wafat)

Al-Nirizi, AlFadl Ibn Ahmed (Altibrizi)

Matematika, Astronomi

930

Ibn Miskawayh, Ahmed Abu Ali

Kedokteran, Ilmu Kimia

932

Ahmed Al-Tabari

Kedokteran

934

Al-Istakhr II

Ilmu Bumi (Peta Bumi)

936-1013

Abu Al-Qosim Al-Zahravi (Albucasis)

Ilmu Bedah, Kedokteran

940- 997

Abu Wafa Muhammad Al-Buzjani

Matematika, Astronomi, Geometri

943

Ibn Hawqal

Ilmu Bumi (Peta Dunia)

950

Al Majrett'ti Abu al-Qosim

Astronomi, Ilmu Kimia, Matematika

958 (wafat)

Abul Hasan Ali al-Mas'udi

Ilmu Bumi, Sejarah

960 (wafat)

Ibn Wahshiyh, Abu Bakar

Ilmu Kimia, Ilmu Tumbuh-tumbuhan

965-1040

Ibn Al-Haitham (Alhazen)

Fisika, Optik, Matematika

973-1048

Abu Rayhan Al-Biruni

Astronomi, Matematika, Sejarah, Sastra

976

Ibn Abil Ashath

Kedokteran

980-1037

Ibn Sina (Avicenna)

Kedokteran, Filsafat, Matematika, Astronomi

983

Ikhwan A-Safa (Assafa)

(Kelompok Ilmuwan Muslim)

1001

Ibn Wardi

Ilmu Bumi (Peta Dunia)

1008 (wafat)

Ibn Yunus

Astronomi, Matematika.

1019

Al-Hasib Alkarji

Matematika

1029-1087

Al-Zarqali (Arzachel)

Matematika, Astronomi, Syair

1044

Omar Al-Khayyam

Matematika, Astronomi, Penyair

1060 (wafat)

Ali Ibn Ridwan Abu Hassan Ali

Kedokteran

1077

Ibn Abi Sadia Abul Qasim

Kedokteran

1090-1161

Ibn Zuhr (Avenzoar)

Ilmu Bedah, Kedokteran

1095

Ibn Bajah, Mohammed Ibn Yahya (Avenpace)

Astronomi, Kedokteran

1097

Ibn Al-Baitar Diauddin (Bitar)

Ilmu Tumbuh-tumbuhan, Ilmu Kedokteran

1099

Al-Idrisi (Dreses)

Ilmu Bumi (geografi), Ahli Ilmu Hewan, Peta Dunia (Peta Pertama)

1110-1185

Ibn Tufayl, Abubacer Al-Qaysi

Filosofi, Kedokteran

1120 (wafat)

Al-Tuhra-ee, Al-Husain Ibn Ali

Ahli Kimia, Penyair

1128

Ibn Rushd (Averroe's)

Filosofi, Kedokteran, Astronomi

1135

Ibn Maymun, Musa (Maimonides)

Kedokteran, Filosofi

1136-1206

Al-Razaz Al-Jazari

Astronomi, Seni, Insinyur mekanik

1140

Al-Badee Al-Ustralabi

Astronomi, Matematika

1155 (wafat)

Abdel-al Rahman al Khazin

Astronomi

1162

Al Baghdadi, Abdel-Lateef Muwaffaq

Kedokteran, Ahli Bumi (geografi)

1165

Ibn A-Rumiyyah Abul'Abbas (Annabati)

Ahli Tumbuh-tumbuhan

1173

Rasheed Al-Deen Al-Suri

Ahli Tumbuh-tumbuhan

1180

Al-Samawal

Matematika

1184

Al-Tifashi, Shihabud-Deen (Attifashi)

Ahli Logam, Ahli Batu-batuan

1201-1274

Nasir Al-Din Al-Tusi

Astronomi, Non-Euclidean Geometri

1203

Ibn Abi-Usaibi'ah, Muwaffaq Al-Din

Kedokteran

1204 (wafat)

Al-Bitruji (Alpetragius)

Astronomi

1213-1288

Ibn Al-Nafis Damishqui

Astronomi

1236

Kutb Aldeen Al-Shirazi

Astronomi, Ilmu Bumi (geografi)

1248 (wafat)

Ibn Al-Baitar

Farmasi, Ahli Tumbuh-tumbuhan (Botani)

1258

Ibn Al-Banna (Al Murrakishi), Azdi

Kedokteran, Matematika

1262

Abu al-Fath Abd al-Rahman al-Khazini

Fisika, Astronomi

1273-1331

Al-Fida (Abdulfeda)

Astronomi, Ilmu Bumi (geografi)

1360

Ibn Al-Shater Al Dimashqi

Astronomi, Matematika

1320 (wafat)

Al Farisi Kamaluddeen Abul-Hassan

Astronomi, Fisika

1341 (wafat)

Al Jildaki, Muhammad Ibn Aidamer

Ilmu Kimia

1351

Ibn Al-Majdi, Abu Abbas Ibn Tanbugha

Matematika, Astronomi

1359

Ibn Al-Magdi, Shihab Udden Ibn Tanbugha

Matematika, Astronomi

1375 (wafat)

Ibn al-Shatir

Astronomi

1393-1449

Ulugh Beg

Astronomi

1424

Ghiyath al-Din al Kashani

Analisis Numerikal, Perhitungan

 

"Allah memberikan hikmah-Nya, kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah-Nya, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang-orang yang berakal (mau menggunakan akalnya)." – (QS.2:269).

"… . Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb-kami'. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya), melainkan orang-orang yang berakal (mau menggunakan akalnya)." – (QS.3:7).

"Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi ini, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (mau menggunakan akalnya)," dan "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Rabb-kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksaan neraka." – (QS.3:190-191).

"Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikan buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal." – (QS.5:58).

"Dan tidak ada seorangpun akan beriman, kecuali dengan ijin-Nya. Dan Allah menimpakan kemurkaan, kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya." – (QS.10:100).

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

Satu Balasan ke Bab VI.A Sunatullah (sifat proses)

  1. Ping balik: Manusia Dan Agama | saiful runardi

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s