Lampiran C Daftar istilah2

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

(diurut menurut abjad)

 

Daftar istilah dan keterangannya

Al-Qur'an,
Sunnah Nabi (Hadits) dan
Ijtihad (Qiyas, Ijma', Istihsan, dsb)

»

Dasar-dasar ajaran agama Islam.

Al-Qur'an adalah kitab suci agama Islam, dan menjadi dasar paling tinggi ajaran agama Islam. Al-Qur'an merupakan kumpulan wahyu-Nya yang telah diperoleh nabi Muhammad saw, yang telah dibukukan.

Sunnah Nabi (Hadits Nabi) adalah berbagai lisan, sikap, perkataan dan perbuatan dari nabi Muhammad saw, sebagai contoh suri-teladan langsung pengamalan atas ajaran-ajaran dalam Al-Qur'an.

Sunnah Nabi menjadi dasar paling tinggi kedua ajaran agama Islam, setelah Al-Qur'an.

Hadits adalah catatan atau keterangan tertulis tentang berbagai Sunnah Nabi, dari orang-orang yang amat dekat dengan nabi Muhammad saw (istri, keluarga atau sahabat Nabi), ataupun yang jauh dan amat jauh (hanya pernah bertemu Nabi, atau bahkan hanya mendengar tentang Nabi).

Perlu diketahui pula, bahwa tidak ada sesuatupun hadits yang berasal langsung dari nabi Muhammad saw, karena tidak ada satupun Sunnah-sunnah Nabi yang telah dicatat pada saat Nabi masih hidup.

Salah-satu faktor terpenting penyebab terjadinya hal ini, yaitu adanya larangan dari nabi Muhammad saw atas pencatatan Sunnah-sunnah Nabi.

Hal ini khususnya lebih pada alasan teknis, karena Al-Qur'an itu sendiri belum selesai dicatat dan bahkan belum dibukukan (baru selesai dicatat atau selesai diturunkan-Nya saat menjelang wafatnya Nabi).

Sehingga dikuatirkan oleh Nabi bahwa catatan atas ayat-ayat Al-Qur'an amat mungkin akan bisa bercampur-baur dengan catatan atas Sunnah-sunnah Nabi (disebut Hadits).

Ijtihad (Qiyas, Ijma', Istihsan, dsb) adalah penafsiran yang sangat hati-hati atas Al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Hadits), dalam konteks kekinian, ataupun penafsiran aktual atas persoalan yang belum ada pada jaman Nabi. Hal ini dihasilkan oleh sekelompok atau majelis alim-ulama ahli ijtihad dan ahli tafsir, yang bisa dipilih oleh umat, setiap jamannya.

Selain itu, para ulama terkemuka inipun harus sangat menguasai ilmu agama, juga menguasai berbagai bidang keilmuan lain, sesuai dengan berbagai keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan yang sedang dihadapi umat.

Dan seperti telah diketahui, bahwa pada berbagai ajaran agama-Nya sebelum kedatangan nabi Muhammad saw (khususnya dalam Taurat dan Injil), tantangan dan persoalan manusia di masa mendatang, dijawab melalui ramalan-ramalan atas kedatangan nabi berikutnya, demi kelangsungan ajaran agama-Nya itu.

Sejalan dengan tujuan itu, maka nabi Muhammad saw memberikan solusi yang agak berbeda, dibanding para nabi-Nya sebelumnya atas kelangsungan dan aktualitas ajaran agama Islam yang dibawanya, dalam menghadapi persoalan manusia modern sekarang, ataupun di masa mendatang. Padahal diketahui pula, bahwa nabi Muhammad saw dan Al-Qur'an adalah nabi dan kitab tauhid terakhir.

Ijtihad adalah suatu pintu solusi yang telah dianjurkan oleh Nabi bagi aktualisasi ajaran agama Islam.

Dengan dasar Ijtihad dari para alim-ulama, maka ajaran agama Islam jauh lebih mungkin dan amat terbuka untuk menjawab semua tantangan dan persoalan umat manusia modern, sampai akhir jaman.

Sedangkan Sunnah-sunnah Nabi (atau Hadits) telah tidak berkembang sejak wafatnya nabi Muhammad saw, yang kehidupannya merupakan "tafsiran hidup" atas Al-Qur'an, sehingga secara historis dan budaya, Sunnah Nabi justru masih memiliki keterbatasan.

Amar ma'ruf nahi munkar

»

Saling mengingatkan antar umat Islam tentang berbagai kebaikan (untuk dilakukan) ataupun keburukan (untuk dihindari), tetapi mestinya dilakukan secara amat arif-bijaksana, agar tidak melahirkan berbagai kemudaratan atau keburukan baru.

Bani

»

Bani adalah anak keturunan dari seseorang, yang kemudian telah menjadi sesuatu kaum, bangsa, suku, kelompok, dsb.

Bani Adam misalnya adalah seluruh anak keturunan nabi Adam as sampai saat sekarang ini (umat manusia secara keseluruhannya).

Do'a

»

Do'a adalah sesuatu cara terapi batiniah yang diajarkan dalam agama-Nya.

Dengan berdo'a, setiap manusia melakukan sesuatu usaha secara batiniah (secara sadar ataupun tidak), untuk bisa mengubah berbagai keadaan batiniahnya 'sendiri' (amat tidak efektif bagi orang-lain), kecuali do'a yang dibacakan di hadapan orang-lain, untuk sekedar memberi pengajaran.

Walaupun lebih sulit dijelaskan, proses dan hasil dari do'a yang bersifat batiniah ini, juga diatur dalam sunatullah, serupa seperti halnya proses-proses lahiriah.

Agar berbagai keadaan batiniah itu betul-betul tercapai, dan juga agar do'a itu lebih memungkinkan bisa dikabulkan-Nya (di-ijabah), maka kandungan isi do'a itu justru semestinya betul-betul dipahami. Penting diketahui, do'a membentuk semangat batin (energi positif) yang sangat diperlukan, untuk mendukung berbagai usaha di dalam mencapai tujuan-tujuan lahiriah ataupun batiniah.

Selain semangat batin itu, do'a amat penting pula untuk membentuk sikap-sikap batiniah pada diri manusia, seperti:

~ Saat sebelum berusaha, bersabar dalam menghadapi segala bentuk keadaan pada diri sendiri dan lingkungan (terutama akibat cobaan atau ujian-Nya).
~ Saat sedang berusaha, ikhlas menerima secara apa adanya atas segala kehendak-Nya di alam semesta ini.
~ Saat akhir berusaha, bertawakal (berserah-diri) atas tiap hasil usaha kepada-Nya.
~ Saat setelah berusaha, bersyukur menerima segala apapun bentuk dari hasil pemberian-Nya.

 

Khusus pada tujuan-tujuan lahiriah, setelah berdo'a berbagai usaha yang sesuai tetap harus dilakukan oleh manusia itu sendiri. Proses semacam ini pula yang telah dilakukan oleh orang-orang tertentu yang berilmu tinggi dan yang do'anya mustajab (ampuh). Mereka telah memahami sebagian dari sunatullah tertentu (lahiriah dan batiniah), terutama yang terkait dengan do'anya itu sendiri.

Akhirnya, semuanya tetap kembali kepada "usaha", sekeras atau selama apapun usaha itu dilakukan, untuk mewujudkan isi sesuatu do'a. Namun pencapaian segala tujuan batiniahnya (yang positif) jauh lebih penting dan hakiki, daripada pencapaian lahiriahnya yang amat semu dan mudah menyesatkan.

Bagaimana peran Allah dalam mengkabulkan do'a-do'a?. Sekali lagi, tiap tindakan dan kehendak-Nya di alam semesta ini pasti melalui sunatullah. Tidak ada seorang manusiapun yang bisa menyatakan, bahwa do'anya 'pasti' akan bisa dikabulkan-Nya (bahkan termasuk para nabi-Nya), karena manusia pasti tidak akan pernah memahami atau menguasai semua sunatullah.

»

Do'a adalah sesuatu cara terapi batiniah yang diajarkan dalam agama-Nya.

Dengan berdo'a, setiap manusia melakukan sesuatu usaha secara batiniah (secara sadar ataupun tidak), untuk bisa mengubah berbagai keadaan batiniahnya 'sendiri' (amat tidak efektif bagi orang-lain), kecuali do'a yang dibacakan di hadapan orang-lain, untuk sekedar memberi pengajaran.

Walaupun lebih sulit dijelaskan, proses dan hasil dari do'a yang bersifat batiniah ini, juga diatur dalam sunatullah, serupa seperti halnya proses-proses lahiriah.

Agar berbagai keadaan batiniah itu betul-betul tercapai, dan juga agar do'a itu lebih memungkinkan bisa dikabulkan-Nya (di-ijabah), maka kandungan isi do'a itu justru semestinya betul-betul dipahami. Penting diketahui, do'a membentuk semangat batin (energi positif) yang sangat diperlukan, untuk mendukung berbagai usaha di dalam mencapai tujuan-tujuan lahiriah ataupun batiniah.

Selain semangat batin itu, do'a amat penting pula untuk membentuk sikap-sikap batiniah pada diri manusia, seperti:

~ Saat sebelum berusaha, bersabar dalam menghadapi segala bentuk keadaan pada diri sendiri dan lingkungan (terutama akibat cobaan atau ujian-Nya).
~ Saat sedang berusaha, ikhlas menerima secara apa adanya atas segala kehendak-Nya di alam semesta ini.
~ Saat akhir berusaha, bertawakal (berserah-diri) atas tiap hasil usaha kepada-Nya.
~ Saat setelah berusaha, bersyukur menerima segala apapun bentuk dari hasil pemberian-Nya.

 

Khusus pada tujuan-tujuan lahiriah, setelah berdo'a berbagai usaha yang sesuai tetap harus dilakukan oleh manusia itu sendiri. Proses semacam ini pula yang telah dilakukan oleh orang-orang tertentu yang berilmu tinggi dan yang do'anya mustajab (ampuh). Mereka telah memahami sebagian dari sunatullah tertentu (lahiriah dan batiniah), terutama yang terkait dengan do'anya itu sendiri.

Akhirnya, semuanya tetap kembali kepada "usaha", sekeras atau selama apapun usaha itu dilakukan, untuk mewujudkan isi sesuatu do'a. Namun pencapaian segala tujuan batiniahnya (yang positif) jauh lebih penting dan hakiki, daripada pencapaian lahiriahnya yang amat semu dan mudah menyesatkan.

Bagaimana peran Allah dalam mengkabulkan do'a-do'a?. Sekali lagi, tiap tindakan dan kehendak-Nya di alam semesta ini pasti melalui sunatullah. Tidak ada seorang manusiapun yang bisa menyatakan, bahwa do'anya 'pasti' akan bisa dikabulkan-Nya (bahkan termasuk para nabi-Nya), karena manusia pasti tidak akan pernah memahami atau menguasai semua sunatullah.

Dosa

»

Dosa adalah segala perbuatan yang melanggar perintah-Nya, atau segala perbuatan yang pasti akan bisa merugikan misalnya: pelakunya sendiri, orang-lain, alam, dsb (tepatnya, akan bisa merusak keseimbangan alam batiniah ruh pelakunya sendiri, serta merusak keseimbangan lingkungan di sekitarnya).

Beberapa jenis perbuatan dosa, antara-lain:

~

Kemusyrikan / Musyrik :

Menyekutukan Allah, atau menyembah Ilah-ilah selain Allah.

Bahwa hal-hal yang melampaui batas yang telah dilakukan oleh setiap manusia, pada dasarnya hampir pasti akan bisa melalaikan dirinya sendiri, keluarganya, tugasnya sebagai khalifah-Nya, juga bahkan bisa melalaikan Allah, Yang telah menciptakannya. Dalam Al-Qur'an juga disebut, kecintaan yang berlebihan pada harta, tahta dan wanita, juga suatu kemusyrikan secara batiniah (karena bisa dianggap pula sebagai Ilah-ilah selain Allah).

Sehingga Ilah-ilah selain Allah itu tidak hanya berupa patung berhala, orang atau makhluk-Nya yang dianggap suci, benda keramat, dsb, yang jelas-jelas tampak disembah (secara lahiriah). Namun manusiapun juga bisa menyembah harta, tahta dan wanita (secara batiniah).

Hakekat kedua macam penyembahan itupun juga relatif sama, tiap manusia menghabiskan amat banyak waktu, tenaga dan pikirannya kepada Ilah-ilah selain Allah itu. Serta tiap manusia menjadikan ilah-ilah selain Allah itu sebagai penuntun yang mengatur hidupnya, bukannya Allah semata.

~

Kekafiran :

Tidak mengikuti berbagai perintah Allah, ataupun melanggar berbagai larangan Allah, yang terdapat pada berbagai ajaran agama-Nya.

~

Kemurtadan :

Keluar dari agama yang sedang dianutnya sekarang, bisa pindah ke agama lainnya ataupun bisa menjadi ateis (tanpa beragama).

~

Kezaliman :

Menganiaya zat-zat ciptaan-Nya secara melampaui batas, seperti: diri sendiri, orang-lain, alam, dsb.

Allah melalui aturan-Nya (sunatullah) pasti akan menimpakan azab-Nya (secara lahiriah ataupun batiniah, di dunia ataupun di akhirat) bagi pelaku tiap perbuatan kezaliman.

~

Kemungkaran :

Melakukan berbagai bentuk keburukan.

~

Kefasikan / Kebohongan / Kedustaan :

Berkata tentang hal-hal yang tidak sebenarnya.

~

Fitnah :

Kebohongan yang amat berlebihan, dan berpengaruh amat besar pada nasib orang-lain.

~

Kemunafikan :

Berpaling dari berbagai kebenaran-Nya, yang justru telah jelas diketahui.

~

Kesombongan :

Merasa lebih baik atau hebat daripada orang-lain.

~

Riya :

Senang dipuji oleh orang-lain.

~

Riba / Makan riba :

Mengambil keuntungan (bunga) yang berlebihan (di luar kewajaran), dari uang atau harta yang dipinjamkan.

Dunia / Fisik / Lahiriah / Material / Nyata dan
Akhirat / Moral / Batiniah / Rohani-Spiritual / Gaib

»

Dunia / fisik / lahiriah / material / nyata adalah segala sesuatu hal yang terkait materi atau kebendaan yang bisa tampak dengan mata telanjang (atau dengan bantuan mikroskop) ataupun bisa diraba, dari yang amat sangat besar (galaksi) sampai yang amat sangat kecil (atom).

Atom adalah unsur penyusun utama atau paling elementer alam dunia-lahiriah (sistem unsur 'penyusun' terkecil, yang bisa diketahui atau dikenal oleh manusia), walau Atom juga bukanlah materi-benda yang 'terkecil' yang sebenarnya.

Akhirat / moral / batiniah / rohani-spiritual / gaib adalah segala sesuatu hal yang menyangkut aktifitas dalam zat ruh makhluk-Nya.

Ruh adalah unsur penyusun utama atau paling elementer kehidupan makhluk-Nya (kehidupan akhirat-batiniahnya). Zat ataupun aktifitas ruh ini, tidak tampak (gaib).

Fitrah

»

Fitrah adalah sifat-sifat dasar yang terpuji dan mulia pada sesuatu zat.

Gendam

»

Gendam adalah sesuatu bentuk hipnotis untuk memperdaya korbannya.

God Spot

»

God Spot adalah tingkat kesadaran atau pengetahuan tentang ketuhanan.

Biasanya kesadaran ini hanyalah bisa dicapai oleh para nabi-Nya, ataupun oleh orang-orang yang memiliki ilmu agama dan tingkat keimanan relatif amat tinggi.

Hari Kiamat

»

Hari Kiamat adalah saat berakhirnya kehidupan manusia di dunia, sebagai tempat manusia mengalami cobaan atau ujian-Nya, untuk mengetahui siapa di antara manusia yang beriman kepada-Nya ataupun yang tidak.

Sehingga Hari Kiamat juga sekaligus waktu saat terjadinya pembuktian atas segala kebenaran-Nya kepada tiap makhluk-Nya.

Ada pula umat Islam yang menganggap Hari Kiamat itu adalah kematian pada manusia itu sendiri (Hari Kiamat 'kecil'), dengan berbagai alasan seperti:

~ Tidak semua manusia dibinasakan-Nya pada Hari Kiamat.
~ Adanya manusia di Neraka, yang ingin kembali ke dunia, untuk berbuat lebih baik daripada saat kehidupannya di dunia sebelumnya, walau hal ini juga tidak diijinkan-Nya.
~ Manusia datang ke hadapan-Nya di Hari Kiamat, secara berbaris, bergolongan ataupun bertahap, sesuai dengan kematian manusia tiap saatnya.
~ Kedatangan Hari Kiamat dan kematian manusia yang sama-sama tiba-tiba, dan tidak ada yang tahu selain Allah, juga waktunya 'amat dekat'.
~ Orang-orang terdahulu mustahil harus menunggu lebih lama untuk bisa masuk Surga, atau mustahil lebih lama hidup di alam kubur, sampai saat setelah kedatangan kematian pada manusia yang terakhir.
~ Dan banyak lagi.

Hati-nurani

»

Hati-nurani adalah elemen atau sarana yang telah diciptakan-Nya pada ruh tiap manusia, yang mencatat segala tuntunan-Nya yang telah diperolehnya, atau kebenaran-Nya yang telah diketahuinya sepanjang hidupnya.

Saat awal kelahirannya, kandungan isi hati-nurani tiap ruh anak manusia semuanya sama (suci-murni dan tanpa dosa), yang berupa tuntunan-Nya (kesaksian) yang paling dasar atas "sebagian kecil" dari kebenaran-Nya.

Hati-nurani ini amat terkait dengan keyakinan batiniah setiap manusia, dan sebagai cermin batiniahnya dalam memantulkan cahaya kebenaran-Nya.

Hawa nafsu

»

Hawa nafsu adalah elemen atau sarana yang telah diciptakan-Nya pada ruh tiap manusia, yang mengandung semangat, keinginan atau kecenderungan kepada berbagai hal (keindahan, kenikmatan, kedudukan-kehormatan, kekayaan, pengetahuan, dsb).

Hanya manusia dari segala zat makhluk-Nya yang memiliki hawa nafsu relatif sempurna (segala zat makhluk-Nya lainnya memiliki hawa nafsu yang amat stabil), sebagai sesuatu bentuk paling utama atau muara terakhir dari segala cobaan atau ujian-Nya bagi manusia. Sedang segala zat makhluk-Nya selain manusia relatif tidak mengalami berbagai cobaan atau ujian-Nya. Mereka pasti tunduk, taat dan patuh kepada segala perintah-Nya (nafsu-keinginannya hanyalah semata demi mengabdi kepada-Nya).

Hawa nafsu adalah sarana yang paling sering dipakai oleh jin, syaitan dan iblis, untuk menggoda tiap manusia tiap saatnya, karena hawa nafsu itulah yang selalu mereka goyang-goyang atau aduk-aduk, agar keseimbangan batiniah ruh manusia menjadi goyah pula.

Namun hawa nafsu bukan hal yang harus dihilangkan, karena bisa menjadi sesuatu bentuk rahmat-Nya, jika manusia bisa memanfaatkannya untuk mendukungnya menuju ke arah berbagai kebaikan (sesuai keredhaan-Nya bagi manusia).

Sehingga kehidupan dunia ini pada dasarnya adalah ujian-Nya, apakah manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya?.

Hijrah

»

Usaha tiap manusia untuk mengubah kehidupan diri atau kaumnya secara drastis. Hal ini biasanya disebut bagi berbagai perubahan secara sadar ke arah kebaikan.

Hukum Kausalitas

»

Hukum Kausalitas atau hukum sebab-akibat, pada dasarnya adalah hanya sesuatu ungkapan atau sebutan lain daripada sunatullah (berlaku pada aspek lahiriah dan batiniah).

Namun hukum Kausalitas itu lebih sering dikaitkan dengan sunatullah pada aspek lahiriah. karena aspek lahiriah memang jauh lebih mudah diukur dan diformulasikan oleh manusia.

Ikhlas,
Tawakal / berserah-diri,
Syukur dan
Sabar

»

Sabar adalah sikap yang amat diperlukan dalam menghadapi cobaan atau ujian-Nya (secara lahiriah dan khususnya batiniah), yang pasti dialami tiap saatnya oleh tiap manusia, terutama dengan menahan nafsu-keinginan yang berlebihan ataupun yang relatif sulif akan bisa diwujudkan.

Ikhlas adalah sikap menerima apa adanya segala kehendak-Nya di seluruh alam semesta ini, yang tidak pernah berubah sejak awal penciptaan alam semesta sampai akhir jaman. Juga menerima apa adanya segala perintah dan larangan-Nya dalam ajaran-ajaran agama-Nya, demi pencapaian kemuliaan manusianya sendiri di dunia ataupun di akhirat.

Tawakal adalah sikap berserah-diri kepada-Nya atas segala hasil usaha. Karena hanya Allah Yang Maha mengetahui proses pemberian balasan-Nya atas tiap usaha manusia tiap saatnya (melalui sunatullah).

Syukur adalah sikap menerima apapun bentuk pemberian-Nya. Karena hanya Allah Yang Maha mengetahui, apa balasan-Nya yang setimpal dan terbaik atas tiap usaha manusia.

Ilah

»

Ilah adalah segala sesuatu yang disembah atau yang dijadikan penuntun hidup oleh manusia, secara lahiriah ataupun batiniah.

Sehingga tidak hanya berupa penyembahan secara lahiriah (Allah, berhala, benda keramat, makhluk gaib, dsb), yang jelas-jelas tampak melalui berbagai ritual ibadah, tetapi juga berupa penyembahan secara batiniah (uang-harta-kekayaan, tahta-jabatan-kedudukan, wanita-hawa nafsu, dsb).

Manusia menghabiskan sebagian besar tenaga, waktu dan pikirannya pada "ilah", secara sadar ataupun tidak. Dan "ilah" atau sesembahan inipun amat mewarnai hampir seluruh kehidupan manusianya.

Imam Mahdi

»

Hal yang umumnya diketahui, Imam Mahdi adalah seorang Muslim yang akan diturunkan-Nya 'beberapa tahun sebelum' akhir jaman, setelah diturunkan-Nya nabi Isa as, untuk bisa meneruskan ajaran nabi Muhammad saw dan juga untuk bisa membawa kemenangan bagi umat Islam atas umat-umat agama lainnya.

Namun dalam pembahasan di sini, ternyata diketahui bahwa pemahaman ini amat lemah atau amat meragukan, dengan alasan-alasan seperti:

~

Nabi Muhammad saw tidak pernah mengajarkan kultus individu kepada segala makhluk-Nya, bahkan kepada diri Nabi sendiri.

Sedang pada pemahaman atas diturunkan-Nya Imam Mahdi pada akhir jaman ini, justru sesuatu bentuk kultus individu yang amat luar biasa kepada seorang manusia, yang bahkan belum ada wujud sosoknya dan juga belum jelas waktu kedatangannya.

~

Kemenangan bagi tiap umat manusia yang beriman justru telah dijanjikan oleh Allah di Hari Kiamat.

~

Kemenangan yang hakiki bukan pada aspek lahiriah (duniawi), tetapi justru pada aspek batiniah (akhirat); dsb;

 

Bahkan pemahaman atas turunnya Imam Mahdi di akhir jaman itu sangat kuat diduga, karena dipengaruhi oleh ajaran agama lain, khususnya dipengaruhi oleh adanya kekeliruan pemahaman tentang diturunkan-Nya nabi Isa as di akhir jaman. Padahal kebangkitan nabi Isa as "pada" Hari Kiamat (bukan "pada" akhir jaman dan bukan "sebelum" akhir jaman), pada dasarnya persis sama dengan kebangkitan "hidup kembali" semua manusia lainnya "pada" Hari Kiamat.

Lalu seolah-olah harus ada tokoh dari kalangan umat Islam sendiri (Imam Mahdi), untuk bisa 'menyaingi' turunnya nabi Isa as, yang lebih dianggap sebagai 'milik' umat Nasrani atau Kristiani (atau menyaingi kemenangan umat Nasrani di akhir jaman).

Jahiliyah

»

Jahiliyah adalah berbagai keadaan pada kehidupan masyarakat yang telah penuh dengan penyimpangan, kemungkaran, kebatilan, kezaliman, dsb, terutama yang telah terjadi pada jaman para nabi-Nya dahulu.

Ka'bah

»

Ka'bah adalah pusat atau kiblat 'simbolik' bagi umat agama Islam, yang berupa batu biasa berukuran besar, berwarna hitam, berbentuk kubus sederhana, yang berada pada tengah-tengah Masjidil Haram di Kota Mekah-Saudi Arabia.

Ka'bah mengandung berbagai simbol bagi umat Islam, terutama sebagai simbol bagi 'Arsy-Nya, juga sebagai simbol yang penting bagi persatuan di kalangan umat yang berasal dari berbagai bangsa di dunia.

Selain sebagai simbol-simbol itu, Ka'bah itu tidak mempunyai arti apa-apa. Dan Ka'bah juga tidak sama dengan berhala, bahkan hal ini tampak jelas dari gambar Ka'bah pada sajadah, yang bisa diinjak-injak dengan kaki.

Hati /
Kalbu

»

Kalbu atau hati adalah elemen atau sarana yang telah diciptakan-Nya pada ruh tiap manusia, yang berfungsi sebagai indera batiniah (menerima segala informasi dari luar diri manusianya, atau dari alat-alat indera lahiriahnya), juga sekaligus mencatat segala informasi batiniah tentang tingkat kesukaan atau perasaan atas segala sesuatu hal.

Kalbu atau hati adalah kandungan isi dari zat ruh. Jika zat ruh diibaratkan kotak, maka kalbu atau hati adalah isi kotaknya.

Kebatilan

»

Sama dengan keburukan.

Kemudharatan

»

Kemudharatan adalah segala perbuatan yang membawa kerugian atau keburukan bagi manusia pelakunya (dari yang sangat ringan sampai yang sangat berat, lahiriah dan batiniah).

Kenabian

»

Kenabian adalah suatu tingkat pengetahuan atau pemahaman paling tinggi yang mampu dicapai oleh manusia atas berbagai kebenaran-Nya, sekaligus disertai dengan pengamalannya yang amat konsisten.

Segala pengetahuan atau pemahaman pada suatu kenabian telah tersusun dengan relatif 'sempurna', yaitu relatif sangat lengkap (sesuai perkembangan jamannya), mendalam (seluruhnya berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan keseluruhannya.

Tentunya pemahaman (keimanan batiniah) para nabi-Nya, juga disertai dengan keimanan lahiriahnya yang amat konsisten (pengamalannya melalui pikiran, sikap, perkataan dan perbuatan). Selain agar umat mau mengikuti pemahaman mereka, dan juga agar umat bisa menjadikan mereka sebagai contoh panutan.

Dengan berbagai unsur itu (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh, dan tidak saling bertentangan keseluruhan pemahamannya, dan juga amat konsisten pengamalannya), maka integritas keimanan para nabi-Nya relatif jauh lebih tinggi dan utuh (lahiriah dan batiniah), daripada manusia biasa umumnya.

Sehingga perolehan pengetahuan atau pemahaman (hikmah dan hidayah-Nya) pada para nabi-Nya atas kebenaran-Nya itu juga "pantas" disebutkan sebagai "wahyu-Nya", atau disebut berasal langsung dari Allah.

Sedang pada manusia biasa umumnya 'tetap' disebut sebagai hikmah dan hidayah-Nya saja (atau Al-Hikmah).

Walau prinsip proses perolehannya pada para nabi-Nya dan pada manusia biasa umumnya, persis sama (juga melalui para makhluk gaib, khususnya malaikat Jibril).

Namun untuk menjaga amat tingginya nilai kemuliaan wahyu-wahyu-Nya itu, maka perolehan pada manusia biasa umumnya juga tidak pernah disebutkan berasal dari malaikat Jibril.

Dan dari aspek kelengkapan di atas, maka tentunya kedalaman pengetahuan atau pemahaman pada tiap nabi-Nya amat berbeda-beda dalam menjawab persoalan kaum ataupun umatnya masing-masing, karena sesuai dengan perkembangan kehidupan umat kaumnya.

Namun kesamaan pemahaman pada para nabi-Nya adalah mereka bisa menjawab persoalan umat kaumnya (ataupun seluruh umat manusia) yang sangat mendasar, khususnya tentang ketuhanan.

Sehingga tauhid merekapun sama, yaitu "tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa", dari hasil pemahaman mereka yang amat mendalam atas tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini, yang sama pula.

Khasanah

»

Khasanah adalah kekayaan variasi jenis sesuatu hal.

Khilafah /
Kekhalifahan

»

Khilafah / kekhalifahan adalah sistem kemasyarakatan, kenegaraan atau sistem pemerintahan, dan berikut sistem hukumnya, yang berdasarkan agama.

Dan pimpinan tertinggi negara dan umat disebut 'khalifah'.

Khilafiyah

»

Khilafiyah adalah berbagai hal dalam ajaran-ajaran agama-Nya yang bisa memiliki banyak bentuk penafsiran.

Biasanya hal-hal atau masalah-masalah khalifiyah ini bukanlah hal-hal yang terlalu prinsipiil atau penting dalam kehidupan beragama. Dan tiap umat justru masih bisa mengamalkannya sesuai dengan keyakinan atau pemahamannya masing-masing.

Lauh Mahfuzh

»

Lauh Mahfuzh adalah kitab mulia yang berada di sisi 'Arsy-Nya (di alam gaib), yang berbentuk gaib, yang tercatat di dalamnya segala kebenaran-Nya di seluruh alam semesta ini.

Lauh Mahfuzh pada dasarnya suatu kitab 'simbolik', bukan kitab yang sebenarnya.

Malaikat Jibril /
Ruhul Kudus

»

Ruhul Kudus adalah nama sebutan lain untuk malaikat Jibril.

Sangat sedikit malaikat Jibril disebutkan dengan Ruhul Kudus. Dalam Al-Qur'an, hal inipun terutama hanya disebut dalam kaitannya dengan kisah-kisah tentang nabi Isa as. Khususnya tentang nabi Isa as yang diperkuat-Nya dengan Ruhul Kudus.

Maksud istilah "diperkuat-Nya" ini pada dasarnya adalah, adanya interaksi secara terang-terangan antara nabi Isa as dan Ruhul Kudus dalam proses penyampaian wahyu-Nya. Hal yang sama juga dialami nabi Muhammad saw, beberapa nabi-Nya lainnya, ataupun bahkan sejumlah sangat terbatas manusia sampai sekarang.

Malaikat,
Jin,
Syaitan dan
Iblis

»

Malaikat, jin, syaitan dan iblis adalah nama-nama sebutan untuk berbagai jenis para makhluk gaib-Nya.

Dari segi lahiriah, tiap manusia mendapat pengajaran dan ujian-Nya dalam proses penggodokannya di dunia, dari segala hal yang ada (nyata atau terlihat) di seluruh alam semesta ini, termasuk pula semua manusia lainnya.

Demi kesempurnaan proses penggodokan itu, maka tiap manusia mestinya pula mendapat pengajaran dan ujian-Nya dari segi batiniahnya. Hal terakhir inilah yang menjadi tugas utama bagi para makhluk gaib-Nya itu.

Seperti halnya pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah itu sendiri yang lengkap kepada tiap manusia, maka tugas para makhluk gaib dibagi-bagi, secara ringkas yaitu:

~

Malaikat :

Memberikan pengajaran mengenai kebaikan (sebagai pelajaran), yaitu dalam hal menyampaikan berbagai kebenaran-Nya kepada tiap manusia, terutama lagi menyampaikan wahyu-wahyu-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya;

Perbedaan antara perolehan para nabi-Nya daripada manusia biasa adalah keutuhan dan kelengkapan berbagai kebenaran-Nya yang telah diperolehnya, karena adanya integritas keimanan para nabi-Nya, yang amat tinggi.

~

Syaitan:

Memberikan pengajaran mengenai segala keburukan (sebagai ujian).

~

Iblis :

Serupa dengan syaitan, namun jauh lebih buruk.

~

Jin :

Memberikan pengajaran mengenai segala hal-hal yang bersifat umum, mengenai berbagai kejadian di alam semesta ini, walaupun terkadang bisa menyesatkan, dengan mengajarkan hal yang bertentangan dengan aturan-Nya (sunatullah).

Mirza Ghulam Ahmad

»

Mirza Ghulam Ahmad adalah nama seseorang yang telah dianggap sebagai nabi oleh penganut aliran Ahmadiah.

Mistis /
Mistik

»

Mistis / mistik adalah segala sesuatu hal yang relatif tanpa memiliki penjelasan melalui intuisi-nalar-logika akal-sehat manusia.

Dalam agama Islam pada dasarnya tidak dikenal hal-hal yang mistis atau mistik seperti ini, karena ajaran-ajarannya justru "amat jelas dan terang" kebenaran-Nya. Tentunya belum seluruh umat Islam memiliki "penglihatan" (pemahaman) yang amat terang atas berbagai cahaya kebenaran-Nya dalam ajaran-ajaran agama-Nya, seperti halnya kejelasan pemahaman yang dimiliki oleh para nabi-Nya.

Bahkan ajaran-ajaran agama Islam pada dasarnya tidak ada yang bertentangan dengan segala ilmu-pengetahuan modern yang diperoleh secara "amat obyektif".

Sederhananya, hanya tinggal masalah waktu, kemampuan dan usaha keras tiap umat Islam saja, untuk bisa memiliki pengetahuan atau pemahaman atas berbagai hikmat dan hakekat kebenaran-Nya, seperti yang diperoleh para nabi-Nya.

Maka mistisisme ajaran-ajaran agama Islam, mestinya hanya berupa pemahaman atas amat tingginya nilai-nilai kemuliaan kebenaran-Nya di dalamnya, yang relatif sulit dijangkau, tetapi sama sekali bukan karena berada di luar akal sehat manusia.

Mujahid dan
Jihad

»

Jihad adalah segala bentuk tindakan perjuangan dalam usaha menegakkan ajaran agama-Nya yang lurus (Islam) dalam berbagai bidang (dalam setiap diri, keluarga, bertetangga, bermasyarakat ataupun bernegara). Serta lebih luasnya perjuangan dalam menegakkan setiap kebenaran-Nya.

Jihad paling utama adalah melawan hawa nafsu, sebagai hakekat utama dari kehidupan di dunia ini, yang memang penuh dengan cobaan atau ujian-Nya. Serta jihad dalam melawan segala bentuk kezaliman atas umat dan agama Islam, secara proporsional dan dilakukan dengan sebenar-benarnya.

Mujahid adalah orang-orang yang melaksanakan jihad.

Mu'jizat

»

Mu'jizat adalah peristiwa atau kejadian (lahiriah atau batiniah) yang tampak amat luar-biasa, terutama dari sudut pandang umat pada jaman terjadinya, sebagai hasil dari berlakunya sunatullah tertentu pada para nabi-Nya.

Dengan pengetahuan yang telah dimiliki umat manusia modern sekarang, sebagian dari mu'jizat para nabi-Nya terdahulu justru tidak tampak luar-biasa lagi, apalagi yang berbentuk lahiriah. Jadi keluar-biasaan itu tergantung pada jamannya. Dan mu'jizat berasal dari pengetahuan dan pengalaman tertentu pada para nabi-Nya.

Hal ini menerangkan, tentang tidak adanya mu'jizat dari nabi Muhammad saw, selain mu'jizatnya yang paling luar-biasa, kitab suci Al-Qur'an. Umat pada jaman nabi Muhammad saw telah jauh lebih berkembang daripada umat para nabi-Nya lainnya, maka relatif sulit bisa timbul suatu kejadian yang bisa dianggap luar-biasa oleh umat-umat Nabi.

Bahkan pengetahuan tentang hal-hal lahiriah, Nabi juga meminta pendapat para sahabat. Seperti ketika Nabi menyetujui pendapat salah seorang panglima perang Islam, agar membuat parit pertahanan di lokasi yang berbeda daripada yang semula diusulkan oleh Nabi.

Keluar-biasaan atau mu'jizat kitab suci Al-Qur'an justru terletak pada kelengkapan, kedalaman, keutuhan, konsistensi dan tidak saling bertentangan seluruh hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam kandungan isinya.

Segala 'hakekat' kebenaran-Nya semuanya berada pada alam gaib-batiniah-akhirat pada Kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, bukan pada alam nyata-lahiriah-dunia, yang sangat semu dan fana.

Sedang hampir semua isi Al-Qur'an terkandung hal-hal bersifat batiniah, dan aspek-aspek lahiriahnya (ritual ibadah fisik, syariat, dsb) justru hanya untuk mendukung pencapaian nilai-nilai batiniah di baliknya.

Mu'jizat Nabi Muhammad saw bukanlah pula berupa mu'jizat yang bisa tampak, karena ilmu lahiriah jika keliru pemakaiannya, hasilnya bisa tidak dibenarkan-Nya (atau menjadi tidak luar biasa lagi).

Seperti mu'jizat pada nabi Musa as yang disebut sebagai "sihir". Mu'jizat seperti ini sebenarnya bukanlah sihir, tetapi hanya ilmu-pengetahuan biasa (seperti pesulap atau ilusionis sekarang), tujuannyapun hanya untuk bisa menunjukkan ketinggian ilmunya, agar umat mengakui berbagai kebenaran-Nya yang dibawanya.

Istilah "sihir" bahkan sampai sekarang, juga dipakai untuk hal-hal yang relatif sulit dijelaskan (terutama pada masyarakat yang masih tradisional).

"Musa berkata: 'Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini', padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan'." – (QS.10:77).

 

Misalnya mu'jizat beberapa nabi-Nya yang disebut bisa menghidupkan kembali orang mati, pada dasarnya bukanlah benar-benar bisa menghidupkan orang mati. Tetapi para nabi-Nya itu justru mempunyai suatu kemampuan tertentu untuk bisa menyadarkan kembali orang yang sedang pingsan, mati suri, koma atau sekarat (cukup lama tidak bisa berreaksi apa-apa).

Bahkan kemampuan para nabi-Nya inipun justru jauh lebih sederhana daripada kemampuan para dokter di jaman modern sekarang.

Dan padahal para nabi-Nya itu justru tidak bisa menghidupkan orang mati yang telah lama dikuburkan, ataupun telah hancur di dalam tanah.

Hal-hal semacam inilah yang terjadi pada berbagai mu'jizat lahiriah lain dari para nabi-Nya. Bahwa dasar terjadinya setiap mu'jizat adalah, pengetahuan yang cukup baik tentang sunatullah lahiriah tertentu (bisa terjadi berulang) ataupun pengalaman tertentu tanpa sengaja (tak-berulang).

Mu'jizat merupakan sesuatu tanda bahwa para nabi-Nya memiliki kelebihan dan keistimewaan dari segi keilmuan (lahiriah), dibanding manusia lain pada jamannya, khususnya agar umat mau mengikuti berbagai ajaran yang dibawanya. Bahwa mu'jizat juga bukanlah hal yang mistis. Kesan mistis itu hanya ada, karena belum bisa dijelaskan, termasuk karena tidak ada penjelasan lengkap tentang ilmu di balik mu'jizat dari para nabi-Nya itu sendiri.

Muslim,
Mukmin dan
Mukhlis

»

Muslim adalah orang-orang yang menganut agama Islam.

Mukmin adalah umat Muslim yang beriman.

Mukhlis adalah umat Muslim yang Mukmin, tetapi juga sekaligus memiliki tingkatan keikhlasan yang relatif amat tinggi.

Mustajab dan
Ijabah

»

Ijabah adalah do'a-do'a yang dikabulkan-Nya.

Mustajab adalah do'a-do'a yang ampuh dari umat-umat Islam tertentu yang tingkat keimanan atau pengetahuannya amat tinggi, sehingga 'hampir' pasti dikabulkan-Nya.

Mutasyabihat dan
Muhkamat

»

Dua macam pembagian kelompok ayat-ayat Al-Qur'an jika ditinjau dari sudut pandang kejelasan maknanya.

Ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang terang dan tegas maknanya.

Ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang banyak artinya dan susah ditentukan maknanya, terutama tentang hal-hal gaib, yang "hanya" Allah Yang Maha mengetahuinya.

Penting diketahui pula bahwa "jelas" atau "terangnya" suatu ayat mestinya bukan hanya karena jelas makna tekstual-harfiahnya, tetapi justru karena jelas hikmah dan hakekat kebenaran-Nya. Sangat banyak hal-hal yang bersifat simbolik dan perumpamaan di dalam Al-Qur'an, khususnya dalam memberi penjelasan tentang hal-hal yang gaib. Juga teks ayat pada dasarnya pasti diliputi konteks ruang, waktu dan budaya umat, ketika ayat itu disampaikan Sehingga teks mustahil bisa bersifat universal, atau mustahil bisa bebas dari konteks ruang, waktu dan budaya.

Maka walau teksnya jelas, tetapi pengertian atau makna yang sebenarnya belum tentu sama seperti bunyi teks tersebut.

Perawi

»

Perawi adalah orang-orang dari jaman dahulu sampai jaman sekarang, yang telah meneruskan berbagai catatan dan keterangan tentang Sunnah-sunnah Nabi, berupa kitab-kitab hadits. Tentu saja termasuk pula orang-orang yang langsung membuat catatan dan keterangan itu sendiri.

Biasanya mereka itu memiliki naskah-naskah kuno yang berupa kitab-kitab hadits.

Sedang pembuat awal kitab-kitab hadits itu adalah orang-orang yang amat dekat dengan nabi Muhammad saw (istri, keluarga ataupun sahabat Nabi), sampai yang jauh dan amat jauh (hanya pernah bertemu Nabi, atau bahkan hanya mendengar tentang Nabi).

Pohon Khuldi

»

Pohon Khuldi adalah suatu jenis pohon di Surga yang dilarang oleh Allah, untuk dimakan buahnya oleh Adam dan Hawa, pada saat mereka masih berada di Surga.

Tentunya pohon Khuldi itu hanyalah suatu contoh-perumpamaan simbolik semata, karena Surga itu sendiri berada pada alam akhirat yang gaib. Persis seperti halnya berbagai perumpamaan tentang Surga, yang berupa taman yang amat indah dengan mata-mata air dan pohon-pohon kurma di dalamnya.

Reinkarnasi dan
Penitisan

»

Reinkarnasi adalah pemahaman dalam beberapa agama tertentu (seperti Hindu dan Budha), bahwa ruh-ruh umat manusia yang telah wafat, bisa menyatu (menitis) kembali ke benih dasar tubuh wadah anak manusia yang akan terlahir.

Penitisan serupa dengan reinkarnasi, selain dari ruh-ruh manusia terdahulu yang telah wafat, namun juga dari ruh dewa, ruh makhluk gaib, dsb.

Reinkarnasi atau penitisan justru tidak dikenal dalam ajaran agama Islam, karena hakekat tiap manusia adalah pada ruhnya. Sehingga segala keadaan yang terkait dengan manusia (kehidupan alam batiniah ruhnya), pasti akan terbawa bersama ruhnya sampai Hari Kiamat.

Dan ruh tiap bayi manusia yang baru terlahir, semuanya sama-sama suci-murni dan bersih dari dosa-dosa, sehingga mustahil bisa memiliki berbagai kelebihan ataupun kekurangan dari 'makhluk lama'-nya (pada reinkarnasi atau penitisan).

Sedang pada reinkarnasi atau penitisan itu, nilai-nilai kemanusiaan dan tanggung-jawabnya juga menjadi tidak jelas, serta tiap bayi manusia bisa memiliki berbagai kelebihan ataupun kekurangan dari 'makhluk lama'.

Ruh /
Jiwa /
Nyawa

»

Ruh / jiwa / nyawa adalah suatu unsur yang paling elementer pembentuk kehidupan dari segala jenis makhluk-Nya.

Pada masing-masing jenis makhluk-Nya, ruhnya memiliki sifat atau jenis yang berbeda-beda (tepatnya tergantung sifat atau jenis tubuh wadahnya).

Terdapat berbagai jenis ruh, antara-lain: ruh makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis), ruh manusia (pria dan wanita), berragam ruh tumbuhan, berragam ruh hewan (jantan dan betina), berragam ruh sel, dsb.

Rukun

»

Rukun adalah urutan atau tahapan sesuatu proses.

Biasanya dipakai pada berbagai urutan proses pelaksanaan suatu syariat atau ibadah tertentu, terutama demi kehikmatan dan ketertibannya.

Misalnya rukun islam, rukun shalat, rukun wudlu, rukun haji, dsb.

Sahabat Nabi,
Tabiin dan
Tabiit-tabiin

»

Sahabat Nabi adalah orang-orang yang hidup pada jaman nabi Muhammad saw, yang ikut berjuang bersama-sama Nabi dalam berusaha menggembangkan dan menegakkan ajaran agama Islam, pada awal perkembangannya.

Tabiin (sahabat dari sahabat Nabi) adalah orang-orang yang hidup setelah wafatnya Nabi, yang ikut berjuang menegakkan agama-Nya bersama para sahabat Nabi, ataupun yang belajar langsung dari para sahabat.

Tabiit-tabiin (sahabat dari sahabat dari sahabat Nabi) adalah orang-orang yang hidup setelah wafatnya para sahabat Nabi, yang ikut berjuang menegakkan agama-Nya bersama para tabiin, ataupun yang belajar langsung dari para tabiin.

Sangkakala

»

Sangkakala adalah sesuatu terompet yang akan ditiup oleh malaikat Israfil pada Hari Kiamat.

Tiupan sangkakala itu sebagai simbol tanda kedatangan kebinasaan atau kematian manusia pada Hari Kiamat (tiupan pertama), dan sebagai simbol dibangkitkan-Nya 'hidup kembali' manusia dari alam kubur (tiupan kedua).

Siratal Mustaqim

»

Hal yang umumnya diketahui, "Jembatan siratal mustaqim" adalah suatu jembatan pada Hari Kiamat, yang lebarnya hanya seukuran dengan rambut yang dibelah tujuh, sebagai satu-satunya tempat yang harus dilewati untuk menuju ke Surga. Sedang di bawah jembatan itu terdapat Neraka (jurang yang amat sangat dalam, dengan api yang berkobar-kobar di dalamnya). Dan pada orang-orang yang tingkat keimanannya tinggi, ia akan mudah dan cepat bisa melalui jembatan itu, sebaliknya pada orang-orang yang tidak beriman, ia akan mudah terpleset dan jatuh ke dalam jurang itu.

Secara sekilas, tampak jelas bahwa pemahaman di atas hanyalah berupa suatu perumpamaan, karena mustahil ada manusia yang bisa melalui jembatan itu.

Tetapi dalam pembahasan di sini, keadaan filter pada batin manusia, terhadap berbagai bentuk pengajaran dari para makhluk gaib itu diperumpamakan dengan "jembatan siratal mustaqim" tersebut. Perumpamaan itu hanyalah untuk bisa menggambarkan betapa amat sangat halus, tipis atau tidak kentara perbedaan antara kebenaran (hak) dan kebatilan (atau antara kebaikan dan keburukan). Sehingga suatu kesalahan (dosa) kecil, yang sengaja dan terus-menerus dilakukan, juga bisa menjerumuskan manusia ke api neraka.

Dosa kecil semacam itu cenderung akan melahirkan berbagai dosa lainnya (kecil ataupun besar, sengaja ataupun tidak), karena dalam batin pelakunya telah terbentuk pondasi 'keyakinan baru', yang relatif membenarkan dosa kecil di atas, sekaligus melupakan pondasi awalnya. Pergeseran keyakinan secara perlahan-lahan itu juga bisa berlangsung terus-menerus sepanjang hidup, dan akhirnya tanpa disadari telah bisa menjerumuskan pelakunya ke jalan yang menyesatkan.

Tingkat keimanan (kemampuan melewati 'jembatan siratal mustaqim') berwujud keyakinan dalam alam batiniah ruh manusia, untuk bisa memfilter (memisahkan) antara hal-hal yang benar (hak) dari yang batil itu. Semakin tinggi tingkat keimanan manusia, maka semakin mudah pula baginya untuk mengenali dan membedakan sesuatu kebatilan, yang bentuknya bisa amat sangat halus, tipis atau tidak kentara bagi mata batin manusia (kalbu).

Tentunya wujud keimanan itu bukan hanya sebatas pemahaman atas kebenaran-Nya (dalam pemikiran), namun yang jauh lebih penting lagi adalah mengamalkan setiap pemahaman itu sesuai keadaan dan kemampuan.

Surga dan
Neraka

»

Dua macam bentuk balasan-Nya (nikmat dan hukuman-Nya) melalui alam batiniah ruh manusia (alam akhiratnya), terutama di Hari Kiamat, saat diberikan-Nya bentuk balasan-Nya yang terakhir atas segala amal-perbuatan tiap manusia selama di dunia.

Maka Surga di Hari Kiamat sering juga disebut sebagai nikmat, rahmat atau pahala-Nya yang paling baik, sedang Neraka disebut sebagai siksaan, azab atau hukuman yang paling buruk.

Dan pada dasarnya, dalam kehidupan duniapun telah ada "surga kecil" dan "neraka kecil", juga pada alam batiniah ruh manusia. Namun hal ini lebih sering disebut sebagai pahala-Nya dan beban dosa.

Syafaat

»

Syafaat adalah hasil pengaruh secara batiniah (baik ataupun buruk) kepada tiap manusia, akibat pelajaran dan pengajaran dari makhluk-Nya yang lain (atau 'sesuatu', seperti berhala dan Ilah-ilah selain Allah).

Syafaat berlaku sesuai dengan ijin-Nya atau aturan-Nya (sunatullah).

Dan karena syafaat justru melalui perantara makhluk-Nya atau sesuatu hal, maka jarang pula disebut dengan 'syafaat-Nya'.

Berhala atau segala benda mati lainnya, sebenarnya tidak bisa memberi syafaat, tetapi manusia sendirilah yang membuat, mengada-ada dan mengambil pelajaran darinya.

Dalam pengertian "syafa'at baik", pengajaran itu dari para makhluk-Nya yang memiliki kemuliaan tinggi (misalnya: para ulama, nabi dan malaikat). Hal paling utama yaitu syafa'at atau pengajaran tentang tauhid "tiada ilah selain Allah, Yang Maha Esa".

Dalam pengertian "syafa'at buruk", pengajaran itu misalnya dari: berhala, syaitan dan iblis, orang kafir, dsb.

"Syafaat baik" hanya diperhitungkan-Nya atau hanya memiliki manfaat, jika umat telah mengamalkan kebenaran-Nya dalam tiap pengajaran itu, dalam kehidupannya sehari-hari.

Sehingga "syafaat baik" bukanlah berbentuk nilai amalan tambahan, yang otomatis diberikan kepada umat Islam saat penghisaban di Hari Kiamat, yang bisa meringankan acaman hukuman-Nya bagi umat.

Tetapi tetap harus telah melekat langsung ke dalam amal-perbuatan setiap umat pada kehidupannya di dunia. Dengan sendirinya, hal yang sebaliknya yang justru terjadi pada "syafaat buruk", atau telah melekat pada berbagai perbuatan dosa umat, yang mustahil bisa diterima-Nya syafaat baginya.

Sehingga "syafaat baik" akan tidak diterima-Nya di Hari Kiamat, justru jika belum diamalkan, karena telah selesainya segala amal-perbuatan tiap manusia, sejak kematiannya, bersamaan pula dengan selesainya segala ujian-Nya kepadanya.

Akhirnya, syafaat justru bukan terkait dengan 'orang' yang menerimanya, tetapi dengan tiap 'amal-kebaikan' orang tersebut selama di dunia.

Syahadat

»

Syahadat adalah sesuatu perjanjian manusia terhadap Allah, dengan mengucapkan suatu kalimat tertentu yang harus dilakukan saat seseorang baru mulai menganut agama-Nya, dan harus di hadapan sejumlah saksi tertentu.

Bagi bayi anak manusia yang baru lahir, biasanya ucapan perjanjian itu dilakukan oleh orang-tuanya, dan otomatis pula ia menganut agama orang-tuanya.

Kalimat syahadat dalam agama Islam, adalah "'Asyhadu Allah ilaha illallah, Wa 'asyhadu anna Muhammadar rasullullah" (Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi, bahwa Muhammad itu utusan Allah).

Syariat

»

Syariat adalah berbagai kegiatan lahiriah yang diperintahkan dalam ajaran agama-Nya, sebagai wujud dari pengamalan langsung atas keimanan kepada-Nya, sebaliknya ada pula berbagai kegiatan lahiriah yang justru dilarang untuk dilakukan.

Sehingga syariat cenderung berbentuk berbagai aturan atau hukum.

Berbagai hukum syariat biasanya dikelompokkan menjadi hal-hal, seperti: wajib, sunnah, mubah, makruh ataupun haram.

Tafakur

»

Tafakur adalah segala usaha tiap manusia untuk bisa membentuk kesadaran atau pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya di seluruh alam semesta ini. Dengan melakukan pemikiran secara mendalam untuk mengingat atau mencari hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), berdasar segala pengetahuan dan pengalaman yang telah dimilikinya (lahiriah dan batiniah).

Taklid /
Taklik

»

Taklid / taklik adalah keimanan atas sesuatu hal, tetapi tanpa berdasar berbagai pengetahuan atau pemahaman yang mendalam tentang hal itu.

Pada tingkat awal, ketika pengetahuan dan pemahaman umat masih amat rendah, maka keimanan secara taklid atas berbagai ajaran agama memang terkadang cukup diperlukan, terutama dengan mengikuti hasil pengajaran dari orang-orang yang telah diyakininya. lurus atau benar.

Tapi ketika pengetahuan dan pemahaman umat telah makin berkembang, maka keimanan secara taklid ini menjadi makin tidak relevan.

Apalagi jika hal-hal yang telah diimani, bukan berupa pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, tetapi hanya makna tekstual-harfiah dari ajaran-ajaran itu.

Setiap umat pada dasarnya bisa langsung berhubungan dengan Allah ataupun bisa ikut memahami berbagai kebenaran-Nya, tanpa perlu perantara sama sekali. Dalam agama Islam, tidak dikenal perantara bagi Allah di dunia.

Bahkan para nabi-Nya bukanlah 'perantara' manusia dengan Allah, tetapi mereka adalah utusan-Nya 'penyampai' pengajaran dan tuntunan-Nya.

Tasawuf dan
Sufi

»

Tasawuf adalah sesuatu cara dalam agama untuk bisa memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang makin mendalam tentang berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, terutama dengan menempuh suatu perjalanan rohani tertentu (suluk), untuk mensucikan keadaan batiniah ruh.

Sufi adalah orang-orang yang mempraktekkan Tasawuf.

Taubat

»

Taubat adalah permintaan maaf oleh seorang manusia kepada Tuhannya, atas dosa-dosa yang telah dilakukannya dan berharap bisa dihapuskan-Nya. Setelah permintaan maaf itu yang berupa pernyataan tegas rasa penyesalan melalui pikiran atau perkataan, lalu tidak mengulangi melakukan perbuatan dosa terkait. Serta penting pula untuk berbuat amal-kebaikan tertentu yang bisa 'menutupi' atau mengurangi beban dosa terkait.

Tauhid

»

Tauhid adalah landasan utama pemahaman atau keyakinan suatu agama tentang Tuhan yang disembah oleh agama itu, khususnya lagi tentang ke-Esa-an-Nya.

Biasanya tauhid terkandung dalam kalimat Syahadat (suatu kalimat pada perjanjian awal bagi penganut suatu agama).

Tauhid dalam agama Islam, misalnya "tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa', "Allah Maha Kuasa", "Allah Maha Mendengar", "Allah tidak beranak dan tidak diperanakan", dsb.

Zakat

»

Zakat adalah ibadah wajib pada saat tertentu bagi umat Islam yang telah mampu, dengan memberi sebagian tertentu dari harta-kekayaannya (harta diam ataupun bergerak) kepada kaum fakir-miskin ataupun orang-orang-lainnya yang lebih membutuhkan (amil, musafir, mu'allaf, dsb).

Banyak jenis zakat dan berbagai syarat-ketentuannya dalam ajaran Islam.

Zarrah /
Biji zarrah

»

Zarrah adalah simbol benda terkecil yang mampu diketahui manusia (pada konteks jaman Nabi). Di dalam Al-Qur'an, biasanya untuk menggambarkan hal-hal yang paling sederhana (pengetahuan, perbuatan, amal-kebaikan dan keburukan, dosa dan pahala, dsb).

Pada jaman nabi Muhammad saw, benda terkecil itu berupa biji-bijian dari tanaman pohon "zarrah". Sedangkan di jaman sekarang, benda terkecil itu berupa atom, elektron, proton, neutron, dsb, atau biasanya 'atom' saja.

Zikir

»

Zikir adalah segala usaha setiap manusia untuk mengingat!ingat Allah dan segala kebenaran-Nya. Biasanya sambil menyebut-sebut berbagai nama Allah, dengan ataupun tanpa memakai tasbih. Biasanya ada pula penyebutan nama-nama Allah itu dilakukan pada jumlah tertentu.

Pada dasarnya, tujuan utama dari tindakan berzikir justru bukanlah hanya sekedar penyebutan lafazh nama-nama Allah itu, namun lebih penting lagi adalah sambil bertafakur untuk bisa memahami berbagai makna di dalam bacaannya.

 

Keterangan tabel:

Semua definisi istilah di atas diturunkan berdasarkan dari seluruh pemahaman pada buku ini. Maka pengertian ataupun uraiannya bisa tampak berbeda dari definisi pada sumber-sumber lainnya.

Sehingga tiap definisi istilah di atas, sebaiknya agar dicermati lebih mendalam.

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s