Bab V.C Benda nyata

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

"Sesungguhnya Rabb-kamu (hai manusia) ialah Allah,
Yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.
Lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy-Nya.
Dia menutupi malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat,
dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang
(yang juga pasti) tunduk kepada perintah-Nya.
Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah.
Maha suci Allah, Rabb semesta alam."
(QS. AL-A'RAAF:7:54).

"…. Dan Kami ciptakan besi, yang padanya terdapat kekuatan yang hebat,
dan berbagai manfaat bagi manusia.
Dan supaya Allah mengetahui,
siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya.
Padahal Allah tidak dilihatnya.
Sesungguhnya, Allah Maha Kuat, lagi Maha Perkasa."
(QS. AL-HADIID:57:25).

 

V.C.

Benda Mati Nyata

Gambaran umum semua benda mati di alam semesta

Segala hal yang bersifat 'nyata-fisik-lahiriah' di seluruh alam semesta ini, yang bisa ditangkap oleh alat-alat indera lahiriah manusia (termasuk pula dilihat melalui mikroskop, atau alat-alat lain), adalah "benda mati nyata" (biasa disebut "benda mati" atau "benda" saja).

Sedang "benda mati nyata" adalah zat ciptaan-Nya yang hanya tersusun dari Atom ataupun berbagai komponennya (partikel-partikel sub-atom), sebagai unsur-unsur yang paling elementer (paling kecil) pembentuk atau penyusun segala "benda mati nyata". Walau ada pula pemahaman lain, bahwa segala benda mati juga tersusun dari Ruh.

Baca pula topik "Ruh-ruh", tentang hubungan antara ruh dan benda mati.

Namun hal di atas bisa diperkecualikan pada segala makhluk hidup nyata, yang sebenarnya juga berupa sesuatu benda mati (tubuh wadahnya), yang telah ditiupkan-Nya dengan zat ruh kehidupan. Dan setelah zat ruh itu dikeluarkan-Nya, maka jasad tubuh itupun akhirnya bisa pula kembali disebut sebagai "benda mati nyata".

Bahkan cahaya, suara, panas, bau, udara, asap, listrik, magnet, dsb, yang tidak bisa diraba dengan tangan ataupun tidak kasat mata, juga termasuk "benda mati nyata", karena memang terkait langsung dengan atom dan berbagai komponennya. Walau hal-hal itu memang relatif amat jarang disebut sebagai 'benda', yang justru lebih diartikan sebagai "segala hal yang bisa dilihat atau diraba".

Secara umum, penciptaan atas segala hal yang bersifat fisik-lahiriah di alam semesta ini telah jauh lebih mudah, apabila dijelaskan dengan segala ilmu-pengetahuan modern pada saat ini. Karena hampir semua kejadian lahiriah telah bisa diungkap dan diformulasikan oleh para ilmuwan. Dengan kata lainnya, sunatullah dalam hal-hal lahiriah telah banyak yang bisa dipahami dan dikuasai oleh manusia.

Sebaliknya relatif belum banyak yang dipahami oleh manusia, dalam hal-hal batiniah, kecuali yang disebut dalam kitab-kitab agama. Di luar ini, hal-hal batiniah hanya diungkap secara relatif terbatas pada ilmu-ilmu psikologi dan filsafat, dengan berbagai keterbatasannya.

Maka uraian-uraian pada bab ini akan lebih mudah dipahami, jika dimiliki pula latar-belakang pengetahuan atau pemahaman yang cukup memadai, atas ilmu-ilmu fisik atau hukum-hukum alam (seperti ilmu-ilmu Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, dsb).

Dunia barat juga telah menerbangkan pesawat tanpa awak ke luar dari sistem Tata surya menuju ke ruang antar bintang, setelah pesawat serupa menjelajah ke planet Mars, komet dan ke Matahari, termasuk pesawat berawak ke Bulan. Kesemua hal ini juga bertujuan untuk bisa mempelajari berbagai kejadian di alam semesta ini.

Namun amat disayangkan pula, bahwa dunia barat justru amat mengabaikan kehidupan batiniah, yang justru jauh lebih hakiki bagi kehidupan manusia, terutama karena pemahaman masyarakat dunia barat, yang amat cenderung bersifat 'materialistik'.

Baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)".

 

 

V.C.1.

Proses penciptaan benda-benda mati

Perubahan energi alam semesta, sejak awal penciptaannya

Menurut hukum kekekalan energi, "bahwa energi tidaklah bisa dimusnahkan, tetapi energi hanyalah bisa diubah bentuknya ke bentuk lainnya". Sedangkan energi memiliki berbagai bentuk, seperti: energi gravitasi (potensial); energi panas (termal); energi gerak (kinetik); energi dalam (energi gerak partikel mikrokopis); energi suara; energi pegas; energi elektromagnetik; dsb.

Sehingga suhu alam semesta yang awalnya amat sangat panas (akibat "energi awal alam semesta"), telah berangsur-angsur menurun, karena hampir semua benda di alam semesta, bersifat menyerap energi panas dan mengubahnya ke bentuk energi lainnya, seperti diserap oleh berbagai atom, untuk mempercepat pergerakan proton dan elektronnya (berubah bentuk menjadi energi dalam).

Penyerapan energi panas juga bisa terjadi pada saat atom-atom saling berreaksi, agar bisa membentuk segala jenis senyawa-molekul, yang keadaannya lebih stabil. Maka semakin lama semakin berkurang pula, jumlah atom-atom bebas di alam semesta ini (atom-atom mandiri atau terpisah).

Kenyataannya pula saat ini, ruang angkasa yang berupa ruang hampa udara, kosong, dan menjadi bagian terbesar dari alam semesta ini, misalnya ada yang bersuhu sekitar -200 oC. Hal ini membuktikan, bahwa energi panas di alam semesta ini telah jauh berkurang (karena berubah ke bentuk energi lainnya), setelah milyaran tahun sejak awal penciptaan alam semesta ini, dari kabut ataupun dari sinar yang amat sangat panas, putih dan terang ("kabut atau sinar alam semesta").

Selain akibat adanya penyerapan energi secara mikro tersebut, berkurangnya energi panas ini juga karena berubah bentuk, antara-lain menjadi: energi gravitasi benda-benda di sekitar benda langit; energi gerak revolusi dan rotasi benda-benda langit; energi yang dipakai oleh segala makhluk hidup nyata, untuk hidup, berkembang dan melakukan segala aktifitas dalam kehidupannya; dsb.

Dengan makin berkurangnya panas atau suhu alam semesta ini, maka pergerakan bebas atom-atomnya, makin lama makin berkurang dan makin melambat. Serta makin banyak pula atom-atom yang telah mencapai keadaan suhu kestabilan relatifnya.

Pembentukan benda mati, setelah stabilnya keadaan energi

Sesuatu atom bisa disebut 'stabil', jika atom tersebut telah bisa berfungsi 'normal', sesuai sifat-sifat dasarnya, antara-lain, atom inipun mulai bisa berinteraksi secara 'normal' terhadap atom-atom lainnya, untuk membentuk molekul-senyawa. Hal ini akibat pergerakan semua proton dan elektronnya relatif stabil, sehingga usaha tiap atom untuk mengikat atom lainnya tetap bisa dipertahankan. Maka benda padat lebih stabil daripada benda cair (apalagi daripada gas), karena ikatan antar atom-atom pada benda padat memang jauh lebih kuat.

Juga pada keadaan suhu tertentu, tiap atom cenderung makin stabil, jika mengikat atom-atom jenis tertentu (sejenis atau berlainan), namun bisa kurang stabil, jika mengikat atom-atom jenis lainnya. Dan kestabilan semua ikatan itu tergantung kepada sifat-sifat tiap atomnya masing-masing.

Baca pula topik "Atom-atom".

Selanjutnya molekul-molekul bisa saling berinteraksi, untuk membentuk 'butir' benda mati (benda terkecil yang bisa dilihat mata telanjang). Pada akhirnya seluruh benda mati yang ada di sekeliling (misalnya: dari pasir sampai bintang), adalah campuran sekumpulan butir-butir benda (sejenis ataupun berlainan, sedikit ataupun banyak).

Apabila seluruh bendanya hanya terdiri dari sejenis atom saja, maka biasanya disebutkan sebagai benda "murni" (emas murni, besi murni, nitrogen murni, oksigen murni, dsb).

Akhirnya dengan berbagai jenis ataupun sifat atom, yang telah ataupun belum bisa dikenal oleh manusia, maka diciptakan-Nya segala jenis benda mati yang ada di seluruh alam semesta, yang amat sangat kaya ragamnya (khasanahnya).

Termasuk pula ada berbagai benda mati tertentu yang disebut sebagai "zat-zat organik", yang apabila bercampur dalam komposisi dan keadaan tertentu, akan bisa menjadi benih dasar tubuh wadah dari segala makhluk hidup nyata, dan lalu ditiupkan-Nya dengan ruh-ruh kehidupannya. Walau hanya Allah Yang berkuasa menciptakan segala makhluk, beserta ruh-ruhnya.

Baca pula topik "Makhluk hidup nyata".

Atom-atom Oksigen (O) dan Hidrogen (H) misalnya, dalam keadaan panas masih berupa atom-atom 'bebas', dan berbentuk 'gas'. Tetapi jika suhu lingkungannya berada di bawah suhu ±20oC, maka atom-atom gas Oksigen dan Hidrogen itupun saling terikat (berreaksi) menjadi molekul uap air (H2O), yang juga masih tetap berbentuk gas. Kemudian di bawah suhu ±22oC, maka uap air bisa mulai mengembun membentuk butir air (berbentuk cairan). Kemudian jika di bawah suhu ±0oC, maka butir air membeku membentuk butir es (berbentuk padat).

 

V.C.2.

Proses penciptaan benda-benda langit

"Atom Pusat", cikal-bakal semua benda langit

Di alam semesta ini ada berbagai atom, yang disebutkan di sini sebagai 'atom-atom Pusat'. Atom Pusat ini memiliki massa jenis yang amat sangat besar, serta bisa stabil (berwujud padat) pada suhu yang amat sangat tinggi. Sehingga atom Pusat inipun memiliki gaya tarik gravitasi yang amat sangat besar pula, serta menjadi cikal-bakal bagi terbentuknya tiap benda langit, seperti: pusat galaksi, bintang, planet, satelit, dsb.

Benda-benda langit amat banyak macamnya, namun di dalam pembahasan pada buku ini hanya disebut beberapa saja, untuk contoh uraian ringkas prinsip proses kejadian atau penciptaannya.

Tentu saja atom-atom Pusat itupun memiliki massa jenis yang berragam, namun karena massa jenisnyapun memang termasuk yang relatif paling besar di alam semesta ini, maka pada pembahasan di sini tidak perlu dikelompokkan lagi menurut massa jenisnya.

Setelah suhu alam semesta ini turun mencapai suhu stabilnya sesuatu atom Pusat. Maka selama bergerak bebas atau acak melintasi alam semesta ini, atom Pusat inipun mulai mengikat atom-atom Pusat lainnya, yang bertumbukan ataupun berdekatan (bahkan bisa ratusan ataupun ribuan km, dengan gaya tarik gravitasinya yang amat besar itu). Maka mudah bisa dipahami pula, apabila antar atom-atom Pusat itulah yang paling cepat dan mudah saling bersatu ataupun berkumpul. Kemudian terbentuk berbagai molekul Pusat, butir benda Pusat dan benda Pusat (inti benda langit), seperti proses umum terjadinya benda, pada uraian-uraian di atas.

Setelah saling berinteraksinya antar atom-atom Pusat, di dalam wilayah jangkauan gaya tarik gravitasinya masing-masing, maka tiap benda Pusat itupun (atom, molekul, butir-butir benda Pusat), juga bisa 'menghisap' semua atom atau benda bebas lainnya, di dalam wilayah gaya tarik gravitasinya, yang akhirnya bisa membentuk segala macam benda langit.

Namun secara bersamaan, dengan semakin besar atau beratnya keseluruhan benda langit, maka semakin luas pula 'wilayah' yang bisa terpengaruh oleh gaya tarik gravitasinya, yang berupa suatu bola yang tidak terlihat (imajiner). Tetapi karena adanya interaksi antar benda-benda langit, maka bentuk wilayah ini tidak lagi berupa seperti suatu bola sempurna (agak bopeng pada berbagai bagiannya).

Sebagai suatu bintang, Matahari misalnya memiliki gaya tarik gravitasi sampai kepada planet Pluto (planet terjauh di dalam sistem Tata Surya), yang jaraknya 5,91 milyar km dari Matahari.

Perubahan ukuran benda langit

Ukuran tiap benda langit tergantung pada kekuatan gaya tarik gravitasinya. Juga tergantung pada kehadiran benda-benda langit di sekitarnya, karena benda-benda langit itu pasti saling 'berebut', untuk menarik semua atom bebas atau benda lainnya, yang berada di dalam jangkauan kekuatan gaya tarik gravitasinya masing-masing.

Fenomena di atas, diketahui banyak terjadi pada saat-saat awal perkembangan Bumi, misalnya dari adanya hujan-hujan meteor, yang diduga telah membunuh semua hewan purbakala (seperti Dinosaurus), puluhan juta tahun yang lalu. Hal ini juga ikut berperan membentuk kontur-kontur berkawah di permukaan Bumi ataupun bulan (tentunya berbeda daripada kontur kawah gunung berapi).

Jika ada benda langit berukuran kecil yang tidak bisa 'ditarik' oleh suatu benda langit lain yang berukuran lebih besar, serta kedua benda langit itu saling terkait jangkauan kekuatan gaya gravitasinya, maka benda langit berukuran kecil hanya akan bergerak mengitarinya, seperti: planet-planet mengitari Matahari; satelit yang mengitari suatu planet (misalnya Bulan yang mengitari Bumi); dsb.

Semakin lama ukuran tiap benda langitnya semakin stabil (atau semakin tidak mengalami perubahan besar). Demikian pula, semakin seimbang dan teratur pergerakan semua benda langitnya, sebagai hasil dari interaksi gaya tarik gravitasi antar benda-benda langit itu, setelah selama jutaan ataupun milyaran tahun, yang pada saat awalnya justru saling bergerak amat bebas.

Sekarang ini misalnya, jatuhnya meteor ke Bumi telah cukup jarang terjadi dan ukuran meteornya juga sangat kecil. Benda-benda langit itu juga telah memiliki pola gerakan yang tertentu dan teratur. Contohnya galaksi Bima sakti, Matahari dan Bumi tempat manusia berada, masing-masing memiliki gerakan tertentu terhadap pusat alam semesta ini, benda langit pusat orbitnya (gerak revolusi), dan terhadap pusatnya sendiri (gerak rotasi).

Baca pula topik "Awal penciptaan alam semesta, dan elemen dasarnya", tentang teori 'big light' dan teori 'big bang'.

Pengaruh ukuran benda langit terhadap jenis-jenisnya

Benda-benda langit itu ada banyak macamnya, misalnya: pusat galaksi, bintang, planet, satelit, komet, asteroid, meteor, dsb. Salah-satu faktor terpenting penyebab terbentuknya berbagai macam benda langit itu, adalah kekuatan gaya tarik gravitasinya masing-masing, yang sangat banyak dipengaruhi oleh ukuran dan sifat benda Pusatnya.

Di mana kekuatan gaya tarik gravitasi dari benda Pusatnya itu, biasanya sebanding dengan ukuran benda langit secara keseluruhan. Makin kuat gaya tarik gravitasinya, maka makin banyak pula benda lain di dekatnya, yang bisa terhisap ataupun terkumpul ke arah benda Pusat ini, dari atom-atom bebas, sampai benda-benda langit lain yang berukuran lebih kecil.

Seperti diuraikan pula di atas, gaya tarik gravitasi dan ukuran benda langit itupun saling mendukung, dari tingkat yang sangat tinggi pada awal pembentukan benda langit, sampai ke tingkat yang makin menuju kestabilan (bentuknya tidak banyak berubah lagi).

Ukuran keseluruhan benda langit itupun (serta ukuran benda Pusatnya), juga memiliki implikasi langsung terhadap bentuk fisik dan sifat benda langit itu sendiri. Menurut ukurannya, maka secara garis besar berbagai macam benda-benda langit bisa digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu:

 

V.C.2.a.

Berukuran besar (pusat galaksi dan bintang)

Bentuk umum dan susunannya

Bentuk fisik dari pusat galaksi dan bintang secara umum sama, yaitu berupa bola api raksasa, dan memiliki pola gerakan yang teratur. Walau demikian, pusat galaksi memiliki ukuran yang jutaan ataupun milyaran kali lipat lebih besar dari ukuran bintang. Sehingga pusat galaksi bisa menjadi induk atau pusat gerakan revolusi bagi sejumlah sangat banyak bintang, yang membentuk sesuatu sistem galaksi (atau gugusan bintang, yang bisa terdiri dari milyaran bintang). 33)

Galaksi Bima Sakti tempat Bumi berada, misalnya, memiliki sekitar 100 s/d 200 milyar bintang, dan Matahari adalah sebagai salah-satu anggotanya, yang bergerak mengitari pusat galaksi Bima Sakti, dengan periode revolusi 225 juta tahun sekali, dan dengan kecepatan revolusi 2.150 km/detik.

Bentuk pergerakannya

Gerakan revolusi bintang-bintang itu pada biasanya berbentuk lingkaran sempurna ataupun lingkaran ellipstis (agak sedikit lonjong), terhadap pusat galaksinya. Sedangkan gerakan pusat galaksi itu sendiri belum bisa dideteksi manusia, serta belum diketahui pula dimana atau terhadap apa pusat pergerakannya?.

Namun secara teoretis dari berbagai uraian di atas, justru bisa diperkirakan, bahwa pola pergerakan pusat galaksi semestinya serupa bintang, tetapi barangkali berrevolusi terhadap "pusat alam semesta".

Struktur umum lapisannya

Bola api itupun terjadi, karena benda Pusatnya memiliki gaya tarik yang amat sangat kuat, maka sangatlah banyak pula benda-benda lain yang bisa terkumpul di sekeliling benda Pusat ini. Padahal benda-benda yang ditarik atau dimampatkan amat kuat seperti itu, akan bisa menimbulkan tekanan yang amat sangat besar. Selanjutnya hal inipun menimbulkan suhu atau panas yang amat sangat tinggi pula.

Bahkan suhu yang amat sangat tinggi ini bisa mencapai titik lebur atau titik uap, dari hampir semua benda pada lapisan-lapisan di sekeliling benda Pusat, sehingga pada sebagian besar permukaannya justru tersusun dari cairan ataupun gas. Walau benda Pusatnya sendiri tetap berbentuk padat, karena titik leburnya yang amat sangat tinggi.

Suhu pada inti pusat dari Matahari misalnya, sekitar 14 juta oC, sedang pada permukaan terluarnya sekitar 5.500 oC. Dan Bumi lebih padat 4 sampai 5 kali daripada Matahari.

Proses pembentukan energi panas radiasi pada bintang

Selain akibat dari tekanan yang amat sangat besar itu, suhu di permukaannya bisa bertahan tetap tinggi, juga karena terjadi ledakan nuklir dan hidrogen, yang bisa menimbulkan energi panas radiasi yang amat sangat besar. Hal ini sebagai hasil dari reaksi berantai thermo-fusi nuklir antar segala atom atau unsurnya, yang sangat kaya dengan zat-zat bahan bakar nuklir, yang telah 'terkumpulkan' sejak dahulu.

Sedangkan reaksi nuklir itu terjadi akibat dari amat tingginya pergerakan bebas atom-atomnya (karena suhunya yang amat tinggi), yang juga amat memungkinkan tumbukan amat cepat antar atomnya, sehingga terjadi reaksi pembelahan atom secara berantai dan alamiah. Hal inipun akhirnya ditiru oleh manusia untuk membuat bom nuklir.

Pada Matahari misalnya, reaksi thermo-fusi nuklir bisa terjadi pada suhu sekitar 14 juta oC, dengan mengubah 4 atom Hidrogen (H), menjadi 1 atom Helium (He), dimana tiap detiknya 'terbakar' 600 juta kg Hidrogen.

Sumber energi bagi kehidupan di sekitarnya

Pancaran (radiasi) energi panas dari segala ledakan nuklir yang terjadi pada pusat galaksi ataupun bintang, justru amat penting sekali sebagai sumber utama energi bagi segala kehidupan makhluk pada planet-planet di dalamnya. Seperti energi panas radiasi sinar Matahari yang sangat penting bagi kehidupan di planet Bumi.

Adakah kehidupan seperti manusia pada planet-planet lainnya (pada bintang-bintang yang lainnya), yang keadaannya serupa dengan di Bumi (sesuai bagi kehidupan makhluk)?. Sejauh ini belum ada yang mengetahui, tentang adanya makhluk angkasa luar tersebut.

Uraian sederhana atas peran energi panas pada bintang, adalah tumbuhan secara umum tidak bisa hidup dan tumbuh besar, bila tidak mendapat energi panas sinar Matahari (secara langsung ataupun tidak) untuk terjadinya proses fotosintesa pada daunnya. Sedangkan manusia dan hewan hidup dari memakan tumbuhan (secara langsung ataupun tidak), yang di dalamnya ada terkandung energi untuk perkembangan tubuhnya, maupun untuk melakukan segala aktifitas kehidupannya.

Sementara ruh sebagai dasar yang paling penting (elementer) pembentuk kehidupan segala makhluk, selain mendapatkan energi dari tubuh wadahnya (bagi makhluk nyata), bahkan bisa hidup dari energi yang ada di seluruh alam semesta ini (bagi makhluk gaib).

Tiap zat ruh, termasuk zat ruh para makhluk gaib, justru hanya memerlukan energi yang amatlah sangat sedikit saja untuk bisa hidup, sehingga ruh-ruh bisa terdapat dimana-mana di alam semesta ini.

Keadaan energi di alam semesta

Bahkan ruang angkasa yang berupa ruangan hampa udara atau kosong di antara benda-benda langit, yang bersuhu sangatlah dingin sekitar -200 oC, justru masih dianggap panas (masih memiliki energi panas). Sedang keadaan tanpa energi atau beku 'mutlak' hanya terjadi pada keadaan yang mencapai "suhu nol mutlak" menurut skala derajat Kelvin (0 oK = -273 oC). Hal ini seperti keadaan dimana atom-atom bahkan relatif tidak bisa bergerak sama-sekali.

Secara teoretis, keadaan "suhu nol mutlak" itu (0 oK) tidak ada di seluruh alam semesta ini, karena misalnya pastilah ada cahaya (atau energi) dari bintang yang sampai padanya. Dan pada prakteknya, para ilmuwan tidaklah pernah bisa meniru atau mensimulasikan keadaan "suhu nol mutlak" itu, tetapi hanya bisa berusaha mendekatinya. Skala 0 oK (nol mutlak) itu justru pada dasarnya hanya hasil perkiraan secara teoretis saja, serta belum menunjukkan "suhu nol mutlak sebenarnya".

Keberadaan energi di ruang angkasa itu juga jauh lebih mudah dipahami, dengan mengetahui amatlah sangat luasnya pengaruh energi gaya tarik gravitasi benda-benda langitnya. Energi gaya tarik gravitasi Matahari misalnya, mencapai planet terluarnya (Pluto) yang berjarak 5,91 milyar km. Bahkan komet dalam sistem tata surya ini, ada yang jarak lintasan terjauhnya dari Matahari jauh melebihi lintasan Pluto.

Lebih jauh lagi, dengan memahami pengaruh dari pusat-pusat galaksi, yang bisa meliputi ratusan milyar bintang. Ringkasnya lagi, tiap ada benda sekecil apapun, maka di situ pula pastilah ada energi.

Bintang mati dan "black hole" (lubang hitam)

Dari hasil pengamatan para ilmuwan, ada pula bintang-bintang yang diketahui telah mati (tidak memiliki sinar lagi). Bintang-bintang mati inipun secara umum lebih dikenal sebagai "lubang hitam" (Black Hole), yang memiliki gaya tarik gravitasi yang sangat tinggi, sehingga sinar yang melewatinya, bahkan bisa sedikit berbelok arah (tidak lurus sempurna).

Pada beberapa tulisan, bintang mati tersebut bisa berbeda dari "lubang hitam" (Black Hole), karena bisa berupa "bintang Neutron". Namun dipahami di sini, bahwa keduanya pada dasarnya relatif serupa (relatif hanya berbeda pada ukuran dan sifat benda Pusatnya).

Bintang mati itu bisa terjadi, karena pada tiap adanya ledakan nuklir di permukaannya, sebagian dari unsur-unsurnya akan terpancar ke luar, lalu ukurannyapun akan berangsur-angsur semakin berkurang pula. Pada akhirnya semakin berkurang jumlah dari ledakan nuklirnya, karena berbagai macam unsur-unsurnya yang justru bisa menimbulkan terjadinya ledakan nuklir, ikut berkurang pula sampai 'habis'.

Sementara unsur-unsur yang terpancar itu justru 'tertangkap' oleh benda-benda langit di sekitarnya. Serta tidak ada lagi atom-atom bebas ataupun benda-benda langit kecil di sekitarnya, yang masih bisa 'dikumpulkan' oleh bitang mati atau "lubang hitam" (Black Hole) itu.

Semakin lama ukuran dari Matahari sebenarnya juga semakin berkurang, walau umurnya diperkirakan masih ratusan ribu tahun lagi. Amat kuat dugaan, bahwa saat inilah (Matahari menjadi bintang mati) sebagai akhir dari kehidupan umat manusia di Bumi ini (akhir jaman), jika umat manusia memang belum bisa pindah untuk hidup di planet-planet pada bintang-bintang lainnya (di luar sistem Tata surya).

Data-data umum bintang Matahari

Data-data umum Matahari

~

Umur Matahari

4,7 milyar tahun

~

Diameter pusat Matahari

175.000 km

~

Diameter ekuator Matahari

1.392.000 km

~

Massa Matahari

1,98649 x 1027 ton
= 332.946 x massa Bumi
= 99% isi tata surya

~

Volume Matahari

1.303.600 x volume Bumi

~

Gravitasi Matahari

27,90 x gravitasi Bumi

~

Kerapatan Matahari

1.409 x kerapatan air

~

Suhu permukaan Matahari

5.500 oC

~

Suhu pusat Matahari

14 juta oC

~

Jarak rata-rata dari Matahari ke Bumi

149.598.500 km

~

Jarak rata-rata dari Matahari ke pusat Bima sakti

30.000 thn cahaya

~

Periode revolusi Matahari mengitari pusat Bima sakti

225.000.000 thn
(= 1 thn kosmis)

~

Kecepatan Matahari mengitari pusat Bima sakti

2.150 km/detik

~

Periode rotasi Matahari rata-rata

25,380 hari

~

Lama waktu cahaya Matahari sampai ke Bumi

499,012 detik
(= 8,3 menit)

(dirangkum dari buku "Almanak jagad raya", Widjiono Wasis, 1991)

 

V.C.2.b.

Berukuran sedang (planet dan satelit)

Bentuk umum dan susunannya

Bentuk fisik planet dan satelit secara umumnya serupa, berupa bola padat dan dingin, serta memiliki pola gerakan yang cukup teratur. Planet secara umum relatif lebih besar daripada satelit. Serta keduanya merupakan anggota dari sistem bintang, tetapi satelit juga anggota dari sistem planet.

Misalnya, matahari memiliki 9 buah planet, yang diurut makin menjauh dari Matahari, yaitu: Merkurius, Venus, Mars, Bumi, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto. Bumi ini bergerak mengitari matahari pada periode revolusi 365,256 hari sekali, pada kecepatan revolusinya rata-rata 29,79 km/detik.

Bentuk pergerakannya

Karena planet dan satelit ukurannya relatif sangat besar, maka bisa memiliki interaksi gaya tarik gravitasi yang cukup kuat terhadap bintangnya dan planet-planet lainnya, sehingga kecepatan pergerakan revolusi planet dan satelit relatif lebih stabil. Serta gerakannya secara umum berbentuk lingkaran yang sempurna ataupun lingkaran ellipstis (agak lonjong).

Terkait hal ini, satelit yang justru berukuran tidak terlalu jauh di bawah planet (misalnya Bulan kira-kira ¼ x planet Bumi), biasanya terperangkap ke dalam pengaruh kuatnya gaya gravitasi suatu planet yang terdekat dengannya, dan berrevolusi mengitari planet itu.

Bentuk awalnya

Proses awal pembentukan planet ataupun satelit, relatif serupa seperti bintang, yaitu berupa bola api (seperti Matahari saat ini), tetapi ukuran awalnya justru jauh lebih kecil daripada bintang, karena benda Pusatnya memiliki ukuran dan gaya gravitasi yang memang jauh lebih kecil, sehingga tekanan dan suhunyapun juga jauh lebih kecil.

Suhu yang seperti itu juga tidak memungkinkan adanya reaksi bagi terjadinya ledakan nuklir pada planet (sebaliknya pada bintang dan pusat galaksi), Akibat suhu yang relatif cukup dingin pada planet misalnya, maka permukaannya ataupun bagian-bagian lapisan lainnya, makin mudah dan makin banyak pula yang membeku menjadi padat.

Misalnya, suhu pada pusat Bumi sekarang ini sebesar 3.000 oC sampai 7.000 oC, sedang pada permukaan terluarnya sebesar ±22 oC. Sebagai contoh, atom Besi (Fe) memiliki titik leleh ±1536 oC dan titik uap ±3000 oC. Suhu permukaan terluar Matahari sekitar 5.500 oC.

Proses pendinginan dan pembentukan lapisan permukaan

Pendinginan pemukaannyapun telah makin dipercepat, dengan terjadinya hujan yang terus-menerus, ketika atmosfir benda langitnya telah makin dingin pula, dimana atom-atom gas Oksigen (O) dan gas Hidrogen (H) yang ada di atmosfirnya, bisa berreaksi membentuk air hujan. Namun pada awalnya, air hujan justru juga langsung menguap kembali ke atmosfirnya (udara), setelah mendinginkan permukaannya yang memang masih relatif panas.

Siklus air hujan seperti itu berlangsung sangat lama dan terus-menerus, (diperkirakan bisa berlangsung sekitar ribuan ataupun jutaan tahun), sampai suhu pemukaannya tidak bisa lagi menguapkan semua airnya, karena suhunya makin dingin dan menuju keseimbangan. Dan akhirnya intensitas terjadinya air hujan makin berkurang pula, sampai seperti keadaan air hujan saat ini di Bumi.

Baca pula topik "Proses penciptaan air dan lautan".

Siklus air hujan yang sangat lama itu justru membentuk lapisan tanah atau pasir di permukaan Bumi, karena siklus panas dan dingin yang berulang terus-menerus, yang telah membuat terpecah-belahnya benda-benda padat di lapisan permukaan Bumi, bahkan bisa berubah menjadi debu yang sangat halus (menjadi tanah).

Hal inipun juga menjelaskan, mengapa makin besar dan padat benda, jika makin dekat ke arah pusat Bumi, serta jika makin dekat ke dasar laut, karena makin lama terjadinya siklus air hujan yang dialami lapisan Buminya, makin halus pula ukuran butir bendanya. Selain itu, jika makin rendah ketinggian permukaan Bumi, makin cepat pula saat berhentinya siklus air hujannya, karena airpun cenderung terkumpul di sana (seperti pada: samudera, lautan, danau, rawa, sungai, kali, dsb).

Keadaan-keadaan tidak adanya siklus air hujan

Namun ada pula berbagai keadaan yang membuat relatif tidak bisa terjadi sebagian dari siklus air hujan, seperti yang telah diuraikan di atas, yaitu:

Bintang relatif terlalu dekat (planet merkurius s/d mars)

Pengaruh pancaran energi panas radiasi bintang relatif amat besar, sehingga seluruh atmosfir planetnya menjadi relatif terlalu panas, dan tidak memungkinkan terjadi reaksi pembentukan uap dan butir air, yang biasa terjadi pada suhu di bawah titik embun air (±20 oC). Bahkan panas itu justru bisa membakar atom-atom gas Hidrogen, sehingga relatif tidak tersedia unsur-unsur untuk pembentukan air.

Bintang relatif terlalu jauh (planet jupiter s/d pluto)

Pengaruh pancaran energi panas radiasi bintang relatif tidak terlalu besar, sehingga siklus air hujannya hanya terjadi pada awal proses pembentukan planetnya saja, karena setelah permukaannya telah cukup dingin, lalu seluruh airnya justru berubah menjadi es, yang beku dan dingin.

 

Penting diketahui, bahwa adanya air dan siklusnya itulah yang membuat bisa terjadinya kehidupan makhluk hidup nyata pada planet Bumi ini. Namun tidak terjadi pada planet-planet lain di dalam sistem Tata Surya misalnya, karena makhluk hidup nyata memang mustahil bisa hidup tanpa air (sebagian besar tubuh manusia juga dari air).

Keadaan akhir setelah proses pendinginan

Pada berbagai benda langit yang berukuran relatif cukup besar, walau permukaannya telah cukup dingin, namun lapisan terdalam di sekitar benda Pusatnya (di dalam perutnya), tetap mengalami tekanan dan suhu yang amat tinggi. Sehingga unsur-unsur pada isi perutnya itu tetap bisa melebur dan mendidih, serta berbentuk relatif serupa dengan cairan magma gunung berapi.

Sejauh yang diketahui pada saat ini, semua bagian lapisan pada satelit justru telah membeku, juga relatif tidak ada aktifitas di dalam perutnya, seperti yang menimbulkan gunung berapi di Bumi.

Baca pula topik "Proses penciptaan gunung, pulau dan benua" di bawah, tentang pergolakan isi perut Bumi.

Data-data umum planet Bumi

Data-data umum Bumi

~

Umur Bumi

4,7 milyar tahun

~

Diameter pusat Bumi

5.800 km

~

Diameter ekuator Bumi

12.753,74 km

~

Diameter kutub Bumi

12.711,1 km

~

Massa Bumi

5,976 x 1021 ton

~

Volume Bumi

4,183 x 1012 km2

~

Gravitasi di permukaan Bumi

9,86

~

Kerapatan Bumi

5.517 x kerapatan air

~

Tekanan pusat Bumi

3,7 juta Atm
(= 50.320.000 gram/cm2)

~

Suhu permukaan Bumi rata-rata

22 oC

~

Suhu pusat Bumi

3.000 s/d 7.000 oC

~

Periode revolusi Bumi mengitari matahari

365,256 hari

~

Kecepatan orbit Bumi mengitari matahari rata-rata

29,79 km/detik

~

Periode rotasi Bumi

23 jam 56 menit 04 detik

(dirangkum dari buku "Almanak jagad raya", Widjiono Wasis, 1991)

Data-data umum satelit planet pada sistem tata surya

Planet dan satelitnya di tata surya

~

Merkurius

:

~

Venus

:

~

Mars

:

Phobos, Deimos

~

Bumi

:

Bulan

~

Jupiter

:

Io, Europa, Ganymede, Calisto, Amalthea, Hestia, Hera, Poseidon, Hades, Demeter, Pan, Adrastea, dsb

~

Saturnus

:

Mimas, Enceladus, Tethis, Dione, Rhea, Titan, Huperion, Lapetus, Phoebe, Janus

~

Uranus

:

Ariel, Umbriel, Titania, Oberon, Miranda

~

Neptunus

:

Triton, Nereid

~

Pluto

:

Charon

(dirangkum dari buku "Almanak jagad raya", Widjiono Wasis, 1991)

Data-data umum satelit Bumi (bulan)

Data-data umum Bulan

~

Umur Bulan

4,7 milyar tahun

~

Diameter ekuator Bulan

3.475,6 km

~

Massa Bulan

0,0123 x massa Bumi

~

Volume Bulan

0,0203 x volume Bumi

~

Gravitasi di permukaan Bulan

0,1653 x gravitasi Bumi

~

Kerapatan Bulan

3.342 x kerapatan air

~

Suhu permukaan ekuator Bulan siang

127 oC

~

Suhu permukaan ekuator Bulan malam

-173 oC

~

Suhu permukaan kutub Bulan

-153 oC

~

Jarak rata-rata dari Bulan ke Bumi

384.400 km

~

Periode revolusi Bulan mengitari Bumi

27,321661 hari

~

Kecepatan orbital Bulan mengitari Bumi rata-rata

3.680 km/jam

~

Periode rotasi Bulan

27,321661 hari

(dirangkum dari buku "Almanak jagad raya", Widjiono Wasis, 1991)

 

V.C.2.c.

Berukuran kecil (komet, asteroid, meteor, dsb)

Bentuk umum dan pergerakannya

Bentuk fisik komet, asteroid dan meteor secara umum serupa, berupa seperti bebatuan padat, dingin dan tanpa pola bentuk yang jelas (kira-kira serupa dengan kerikil raksasa berbentuk tak-beraturan). Jika diurutkan ukurannya secara semakin mengecil, yaitu: komet, asteroid dan meteor.

Komet, asteroid dan meteor adalah berbagai benda langit yang berukuran relatif kecil yang berupa reruntuhan dari benda-benda langit lain, yang lebih besar ukurannya di atas (khususnya planet dan satelit), yang telah saling berbenturan pada awal perkembangannya (pada saat tahap awal proses pembentukan formasi sistem-sistem benda langit).

Komet berukuran relatif lebih kecil daripada planet (dari segi berat massa keseluruhannya, walau volumenya bisa relatif lebih besar daripada planet), maka interaksi gaya gravitasinya relatif amat lemah terhadap bintang ataupun planet, sehingga kecepatan revolusinya juga amat jauh bervariasi, tergantung jaraknya dari bintang.

Semakin dekat jaraknya terhadap bintang, semakin tinggi pula kecepatan komet. Pada akhirnya, lintasan komet berbentuk lingkaran ellipstis yang relatif amat lonjong, sehingga lintasan komet bisa lebih jauh daripada planet. Meski begitu pergerakan orbit komet masih tetap berpusat pada sesuatu bintang.

Sedang pola pergerakan meteor dan asteroid masih relatif acak, belum stabil dan lintasannya saling berpotongan. Jumlah dari asteroid dan meteor juga tak terhitung, dan berserakan di ruang antariksa.

Dengan ukurannya yang lebih besar dari meteor, maka asteroid jauh lebih terpengaruh oleh medan gaya tarik gravitasi bintang, planet ataupun antar asteroid, sehingga pergerakannya lebih stabil daripada meteor. Ada asteroid-asteroid yang biasanya berkumpul pada daerah-daerah kesimbangan pengaruh medan gaya tarik gravitasi antara suatu bintang dan planet-planet di dalamnya. Tetapi ada pula asteroid yang berada pada daerah pengaruh suatu planet dan satelit-satelitnya.

Di lain pihaknya, meteor tidak memiliki pola pergerakan yang jelas. Jika ada benda-benda langit lain yang lebih besar dan lewat di dekatnya, maka pergerakan meteor akan bisa sedikit berbelok arah, ataupun justru jatuh menabraknya. Apabila ukuran meteor yang jatuh relatif kecil, maka seluruh meteor itupun akan hancur menjadi debu, setelah menabrak atmosfir suatu benda langit, dengan kecepatan yang sangat tinggi (relatif melebihi kecepatan suara).

Tabrakan itupun menimbulkan percikan api dan terkadang bisa tampak pada malam harinya, sehingga meteor disebut sebagai 'bintang jatuh'. Dan apabila ukuran meteornya relatif besar, maka sisa pecahan meteor itu (yang disebut 'meteorit') akan jatuh ke permukaan benda langit terkait, dan membentuk semacam suatu kawah.

Kasus khusus pada komet

Pada komet terdapat sesuatu kekhususan, karena ukuran benda Pusatnya relatif amat kecil, dan kecepatan orbitnya relatif amat tinggi, maka unsur-unsur di permukaannya tidak terkumpul rapat, dan terdiri dari selubung kabut dan debu (disebut sebagai 'koma'). 'Koma' inilah yang membentuk semacam sesuatu ekor, yang menjurai memanjang di belakang jalur arah pergerakan dari komet.

Dan ukuran 'koma' yang menyelimuti komet bisa berkembang beberapa kali lipat lebih besar daripada ukuran planet, walau 'koma' tetap terkumpul dalam pengaruh gaya gravitasi komet. Ketika komet mendekati Matahari, maka energi panas radiasi sinar matahari (biasa disebut sebagai 'angin matahari'), justru bisa mengakibatkan 'koma' tersebut terionisasi dan bercahaya, sehingga komet sering pula disebut sebagai "bintang berekor".

Dalam sistem Tata surya telah dikenal 100 buah komet periode jangka pendek (periode revolusi <200 tahun), yang sebagian besarnya (70 buah), berperiode revolusi 3 sampai 9 tahun. Serta ada pula 484 buah komet periode jangka panjang (periode revolusi ribuan sampai jutaan tahun). Namun ada banyak pula komet yang belum terdeteksi, karena orbit terdekatnya relatif amat jauh dari Bumi, cahayanya amat redup, ataupun ukurannya amat kecil.

Penutup tentang proses penciptaan benda-benda langit

Tentang proses penciptaan Bumi dan Langit (bintang, galaksi dan segala benda langit lainnya), yang telah diuraikan ringkas di atas, misalnya disebut dalam ayat Al-Qr'an berikut:

"Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap (kabut), lalu Dia berkata kepadanya (langit) dan kepada bumi: 'Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku (masing-masing dihadirkan atau dibentuk-Nya), dengan suka hati atau terpaksa'. Keduanya menjawab: 'Kami datang dengan suka hati'." – (QS.41:11).

"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui, bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya (masing-masing dibentuk-Nya). Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?." – (QS.21:30).

 

Dialog antara Allah dengan Bumi dan Langit pada ayat di atas tentunya bukanlah sesuatu dialog yang sebenarnya, akan tetapi sesuatu perumpamaan tentang proses penciptaan Bumi dan dan segala benda langit lainnya yang masih bersatu-padu dalam wujud awalnya, berupa 'asap atau kabut alam semesta', sampai berwujud seperti sekarang ini, selama milyaran tahun.

Penting diketahui pula, bahwa segala kehendak-Nya di seluruh alam semesta ini terwujud melalui sunatullah, sedang tiap benda mati itu pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah-Nya (bersifat anjuran), dan juga kepada segala kehendak-Nya (bersifat memaksa). Namun justru tiap makhluk-Nya hanyalah pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala kehendak-Nya, namun memiliki kecenderungan untuk melanggar perintah-Nya. Hal ini khususnya dengan adanya kebebasan makhluk-Nya dalam berkehendak dan berbuat, karena diberikan-Nya 'akal' (sarana pengetahuan atau kecerdasan untuk bisa memilih) dan 'nafsu' (sarana semangat atau keinginan untuk bisa berkembang).

Tentu saja ada banyak pula jenis benda-benda langit lainnya yang belum dibahas di atas, seperti: "pusat alam semesta" supernova; cluster; quasar; nebula; lubang hitam dan berbagai jenis bintang; gas dan debu; dsb. Namun pada buku ini memang tidak bertujuan untuk membahasnya secara lengkap dan mendalam, tetapi minimal hanyalah bertujuan memberi gambaran secara garis besar, umum dan sederhana, atas proses-proses penciptaan benda-benda laingit.

Namun jika umat telah memahami berbagai sunatullah lahiriah (ilmu-ilmu fisik dan alam), maka berbagai proses penciptaan benda-benda laingit pada dasarnya justru relatif sederhana kejadiannya.

"Dan kepunyaan-Nya-lah, siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk." – (QS.30:26).

"Maka apakah mereka mencari agama yang lain, dari agama Allah, padahal kepada Allah-lah berserah diri (tunduk), segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. Dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan." – (QS.3:83) dan (QS.2:116, QS.13:15).

 

"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan, untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kaum yang memahami(nya).", "dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini, dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda (kekuasaan-Nya) bagi kaum yang mengambil pelajaran." – (QS.16:12-13) dan (QS.7:54, QS.31:29).

 

V.C.3.

Proses penciptaan Bumi (tambahan)

Bumi pada awal perkembangannya

Pada topik "Proses penciptaan benda-benda langit" di atas, telah diuraikan secara ringkas dan sederhana tentang berbagai proses awal dari pembentukan planet Bumi ini. Selanjutnya, Bumi juga terus mengalami berbagai proses perkembangan lainnya, sepanjang usianya sampai saat sekarang ini.

Dari topik tersebut, bahwa Bumi ini pada awalnya berupa bola api, serupa dengan matahari saat ini, namun dengan ukuran yang jauh lebih kecil. Menurut sifat alamiahnya, semakin jauh dari pusat Bumi, semakin ringan pula unsur-unsur yang menyelimuti atau melapisinya. Karena semakin ringan, suatu benda cenderung akan mengambang ke permukaan yang semakin tinggi, apalagi jika permukaan bola api itu masih terdiri dari cairan dan gas.

Perkiraan secara ringkas dan sederhana tentang urutan lapisan-lapisan Bumi, yang masih berupa bola api itu, yaitu:

No

Keterangan lapisan

Wujud unsur & massa jenisnya

1. Pusat/inti amat sangat panas padat sangat berat
2. Cairan sangat panas cair berat
3. Cairan panas cair ringan (permukaan)
4. Udara panas gas berat
5. Udara agak panas gas ringan

Bumi pada perkembangan terakhirnya

Selanjutnya setelah seluruh permukaan Bumi ini telah semakin mendingin seperti keadaannya saat ini, maka perkiraan tentang urutan lapisan-lapisan Bumi di atas juga mengalami perubahan, menjadi:

No

Keterangan lapisan

Wujud unsur & massa jenisnya

1. Pusat/inti amat sangat panas padat sangat berat
2. Cairan sangat panas cair berat
3. Cairan panas cair ringan
4. Padatan agak panas padat berat
5. Padatan dingin padat ringan (permukaan)
6. Udara dingin gas berat
7. Udara sangat dingin gas ringan

 

Urutan lapisan-lapisan Bumi di atas juga relatif serupa dengan keadaan umumnya saat ini. Tetapi di atas permukaan awalnya itu, lalu ada pula lapisan-lapisan lainnya yang terbentuk belakangan, karena:

Benda-benda langit kecil lainnya yang telah menabrak permukaan Bumi, sepanjang usia Bumi.
Adanya berbagai pengaruh, seperti misalnya: gerakan revolusi dan rotasi Bumi yang telah menimbulkan berragam iklim dan cuaca, serta terjadinya siklus air dan udara; reaksi kimia unsur-unsur di permukaan; dsb.
Air di permukaan dan di bawah tanah.
Sisa-sisa fosil makhluk hidup yang telah mati.
Pergolakan isi perut Bumi dan unsur-unsur dalam perut Bumi yang keluar ke permukaan (magma dan lava gunung berapi).
Pergeseran lapisan kerak Bumi yang menimbulkan gempa; dsb.

 

"Dia-lah Yang menjadikan bumi sebagai lahan tempat tinggalmu, dan langit sebagai atapnya. Dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan air hujan itu, segala buah-buahan sebagai rejeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." – (QS.2:22) dan (QS.15:20, QS.16:13, QS.27:61, QS.40:64, QS.43:10, QS.71:19, QS.78:6, QS.67:15, QS.67:24).

"Dia-lah Allah, Yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. Dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh tingkat langit!. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.", "Ingatlah, ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah (penguasa) di muka bumi'. Mereka berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan di muka bumi, dan akan menumpahkan darah (saling membunuh). Padahal (telah Engkau ciptakan) kami yang senantiasa selalu bertasbih, dengan memuji Engkau, dan mensucikan Engkau'. Rabb berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengetahui, apa yang tidak kamu ketahui'." – (QS.2:29-30) dan (QS.27:62, QS.35:39, QS.43:60).

"Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi. Dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu, tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Rabb-mu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya, Dia Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." – (QS.6:165) dan (QS.38:26).

"Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi, setelah mereka, supaya kamu memperhatikan bagaimana kamu berbuat." – (QS.10:14) dan (QS.18:7, QS.45:22).

 

V.C.4.

Proses penciptaan gunung, pulau dan benua

Pergolakan isi perut Bumi

Sebagaimana halnya suatu cairan yang sedang mendidih, maka lapisan cairan panas dalam perut Bumi juga selalu bergejolak, karena segala jenis unsurnya yang ringan dan bisa menguap, akan cenderung berusaha naik ke atas. Pada awal perkembangannya permukaan padat Bumi masih relatif tipis, sehingga masih mudah terdorong-dorong ke atas oleh adanya gejolak atas pemanasan isi perut Bumi tersebut, yang mengakibatkan permukaan Bumi cenderung menjadi bergelombang.

Pergolakan isi perut Bumi, adalah hal yang paling utama yang membentuk kontur pada permukaan Bumi, bukan akibat dari tabrakan benda-benda langit lainnya. Pola kontur akibat tabrakan ini juga amat khas, berupa kawah yang amat luas, rendah, datar dan berbentuk bulat, sedang pola seperti ini justru relatif jarang terjadi di permukaan Bumi. Bahkan pola hasil dari tabrakan inipun tidak sama dengan pola kontur kawah gunung berapi (relatif sempit, tinggi atau dalam, tidak rata dan tidak berbentuk bulat).

Secara teoretis bagian-bagian terrendah pada permukaan Bumi, adalah bagian-bagian yang paling kuat dan padat, sehingga relatif sulit terdorong ke atas, ketika ada gejolak isi perut Bumi. Hal inilah yang mengakibatkan relatif tidak adanya terjadi suatu bentuk serupa gunung di dasar laut. Kalaupun ada hanyalah gunung di dekat permukaan laut (termasuk gunung yang telah tenggelam oleh air laut).

Hal itu juga karena bagian-bagian permukaan yang terrendah, lebih dahulu mengalami proses pendinginan dibanding bagian-bagian lainnya (dataran tinggi), karena adanya air yang terkumpul di bagian terrendah itu, sehingga di sana mengalami siklus cuaca dan temperatur yang relatif lebih singkat. Padahal siklus seperti ini dalam waktu yang lama, bisa menghancurkan tiap logam dan bebatuan yang sangat keras sekalipun. Maka pada dataran terrendah (misalnya dasar samudera dan lautan), biasanya relatif terdiri dari bebatuan yang keras.

Proses ringkas pembentukan gunung

Bahkan berbagai bagian permukaan Bumi yang relatif paling lemah akan bisa mudah terdorong naik cukup tinggi ke atas, yang bisa membentuk berbagai gunung dan bukit. Dalam skala yang jauh lebih besar, pada proses pembentukan gunung ataupun pada saat terjadinya gejolak isi perut Bumi, secara bersamaan pula bisa mengakibatkan pembentukan berbagai pulau dan benua.

Lebih lanjutnya lagi, bagian paling atas atau puncak daripada gunung menjadi cukup tipis, lemah dan mudah retak, akibat terlalu jauh terdorong ke atas. Akhirnya, puncak seperti inipun telah menjadi jalan keluar (saluran), bagi cairan panas isi perut Bumi (magma), yang bergejolak dan terdorong naik ke atas. Gunung seperti ini yang biasa dikenal sebagai "gunung berapi". Dan cairan magma yang telah keluar ke permukaan Bumi, dan telah dingin dan membeku disebut "lava".

Proses ringkas pembentukan pulau dan benua

Sebenarnya hampir tidak ada hal yang istimewa pada proses pembentukan pulau dan benua ini, karena persis serupa dengan proses pada tiap gunung, ataupun proses pembentukan dataran-dataran tinggi di permukaan Bumi, akibat pergolakan isi perut Bumi, perbedaannya relatif hanya pada ketinggian dataran dan luas cakupan wilayahnya.

Pemisahan antara benua Asia dan benua Australia (dari adanya patahan di sepanjang pantai selatan Indonesia, dari pulau Sumatera s/d pulau Papua, serta patahan di Philipina), sekaligus pemisahan antara benua Asia dan benua Afrika (dari adanya patahan di sepanjang Laut Merah), diduga terjadi ketika pembentukan gunung tertinggi di dunia (gunung Himalaya / Everest di Nepal ±8800 m), dan gunung-gunung lainnya di sekitarnya. Juga pemisahan antara benua Eropa dan benua Amerika (dari adanya patahan di ujung timur Rusia, serta patahan di ujung barat dan selatan Alaska), diduga terjadi ketika pembentukan gunung McKinley di Alaska (±6000 m), dan gunung-gunung lainnya di sekitarnya. Begitu pula kejadian-kejadian yang serupa pada proses pembentukan atau pemisahan benua pada tempat lainnya.

Hal itupun amatlah berbeda daripada teori yang berkembang di kalangan ilmuwan barat, bahwa semua benua pada awalnya dianggap menyatu, lalu berpisah perlahan-lahan selama berabad-abad. Bahkan sejak jaman dahulu para ilmuwan barat telah menerbitkan peta-peta kuno, tentang proses pemisahan itu (telah tertera berbagai samudera).

Perbedaan yang dimaksudkan adalah, bahwa pemisahan benua pada peta-peta itu, menurut para ilmuwan barat justru terjadi 'setelah' terbentuknya lautan ataupun 'setelah' terjadinya proses pendinginan di permukaan Bumi. Juga berpisah secara perlahan-lahan, akibat adanya proses pergeseran permukaan Bumi selama berabad-abad, yang relatif sama dengan proses pergeseran sampai saat ini, ketika terjadi gempa.

Sebaliknya dipahami di sini, bahwa pemisahan benua terjadi 'sebelum' adanya lautan atau 'sebelum' adanya proses pendinginan di permukaan Bumi. Hal ini terjadi ketika lapisan permukaan Bumi ini masih relatif lembek dan amat panas suhunya. Lalu ketika itu diikuti pula oleh penambahan ukuran Bumi, akibat dari tabrakan benda-benda langit kecil. Sejalan dengan semakin besarnya ukuran Bumi, berbagai bagian atau lempeng permukaan Bumi yang relatif telah cukup padat, lalu mengambang dan bergerak saling menjauh, di atas lapisan Bumi yang masih berupa cairan di bawahnya, Jadi fokus utama pemisahan benua bukan pada pergeseran perlahan-lahan permukaan Bumi, yang justru pengaruhnya sangat kecil dan terbatas (seperti pada berbagai peristiwa gempa tektonik sampai saat ini), namun justru pada proses penambahan ukuran Bumi ketika Bumi masih berupa bola yang masih relatif amat panas dan relatif belum terbentuk lautan.

Gunung sebagai "pelindung" Bumi

Dalam Al-Qur'an disebut "gunung adalah pelindung Bumi dari kegoncangan". Lebih jelas lagi, gunung berapi yang saluran kawahnya sampai ke dalam perut Bumi itu, menjadi "pelindung" bagi kawasan permukaan Bumi lainnya di sekitar gunung. Karena setiap ada gejolak dalam perut Bumi, akan bisa menimbulkan gempa di permukaannya, yang lebih sering disebut sebagai gempa 'tektonik'.

Dengan adanya saluran kawah, maka gejolak isi perut Bumi itu bisa 'bergerak' mengalir ke daerah gunung berapi, sehingga gempanya berubah menjadi gempa 'vulkanik', yang relatif jauh lebih lemah dan terbatas, yang hanyalah terjadi pada kawasan di sekitar gunung berapi saja. Sedang kawasan permukiman penduduk yang umumnya berada pada daerah dataran rendah dan juga letaknya relatif jauh dari gunung berapi, akhirnya menjadi lebih aman dari bencana gempa. 34)

"Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi, supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan, agar kamu mendapat petunjuk," – (QS.16:15) dan (QS.31:10, QS.21:31, QS.78:7, QS.79:32).

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah, Yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." – (QS.27:88) dan (QS.41:10, QS.50:7).

"Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung (mengokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut?. Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui." – (QS.27:61).

 

V.C.5.

Proses penciptaan air dan lautan

Atmosfir Bumi dan kandungannya

Dengan makin dinginnya seluruh alam semesta ini, atau lebih utamanya lagi telah terbentuknya permukaan Bumi yang padat, seperti pada uraian-uraian di atas, maka makin dingin pula lapisan udara yang menyelimuti Bumi (atmosfir Bumi).

Di mana atom-atom gas yang sangat berragam di atmosfir itu (beserta prosentasenya), misalnya: Nitrogen (N, ±78%), Oksigen (O, ±21%), Hidrogen (H), Karbon (C), Helium (He), Flour (F), dan Neon (Ne), yang berasal dari atom-atom bebas pada "kabut alam semesta", yang telah berhasil bisa dikumpulkan oleh Bumi, sejak saat-saat awal perkembangannya.

Proses pembentukan air

Pada keadaan awalnya yang masih amat panas, atom-atom gas Oksigen (O) dan Hidrogen (H) masih berupa atom-atom bebas. Tetapi setelah suhu atmosfir semakin mendingin sampai berada di bawah titik kondensasi uap air (±22oC), mulai bisa terjadi reaksi antara atom-atom gas Oksigen (O) dan Hidrogen (H), untuk membentuk molekul uap air (H2O), yang juga masih berbentuk gas. Sekumpulan amat besar uap-uap air di udara (di atmosfir), telah umum dikenal sebagai "awan".

Selanjutnya jika terjadi keadaan atmosfir yang sedikit lebih dingin lagi (di bawah titik embun air, ±20oC), maka bisa terjadi reaksi pengembunan pada uap-uap air, yang membentuk butir-butir air (telah berupa cairan). Dan butir-butir air yang telah menjadi lebih berat dari udara ataupun gas-gas asalnya itu, akhirnya jatuh ke permukaan Bumi sebagai "air hujan".

Baca pula keterangan-keterangan pada "Gambar 15: Skema umum siklus air" di bawah.

Proses awal pembentukan lautan, dan siklus air hujan

Pada saat awal perkembangan Bumi ini, air hujan terjadi terus-menerus (diperkirakan bisa berlangsung ribuan ataupun jutaan tahun), karena air hujan cepat menguap kembali ke atmosfir (udara), setelah mendinginkan permukaan Bumi yang relatif telah padat, namun juga relatif masih cukup panas.

Akhirnya intensitas air hujannya makin lama makin berkurang pula, setelah tercapainya keseimbangan suhu pada permukaan Bumi (karena makin dingin, dan tidak lagi bisa menguapkan semua airnya). Atmosfirpun makin dingin pula, serta makin rendah daerah terjadinya awannya, sampai setinggi seperti sekarang. Demikian pula siklus air hujannya telah makin mencapai keadaannya yang relatif normal.

Air hujan yang bisa menetap pada permukaan Bumi, dan telah terkumpul selama ribuan tahun pada bagian-bagian permukaan Bumi yang paling rendah, sekarang biasa dikenal sebagai: samudera, lautan, danau, rawa, sungai, dsb. Dan sebagian dari airnya juga telah berubah menjadi dataran dan gunung-gunung es pada daerah kutub utara dan kutub selatan planet Bumi.

Gambar 15: Skema umum siklus air

 

Keterangan gambar

A.

Penguapan air

Apabila energi panas radiasi sinar Matahari telah bisa mengakibatkan suhu permukaan danau / lautan, telah mencapai di atas titik uap airnya (±100 oC, khususnya pada lapisan yang amat tipis di permukaannya), maka unsur-unsur pembentuk air itu akan terurai. Sehingga atom gas Oksigen (O) dan Hidrogen (H) sebagai unsur-unsur utamanya, akan menguap naik ke atmosfir.

Sementara itu, makin tinggi atmosfir makin dingin pula suhu udaranya, karena makin kecil pula pengaruh energi panas sinar Matahari, yang terpantul oleh permukaan tanah atau danau / lautan. Selain itu, karena kerapatan udaranya menjadi makin kecil (makin tipis), sehingga makin sedikit pula energi panas sinar Matahari yang terserap oleh atom-atom di udara.

Sehingga di ketinggian tertentu terdapat bagian atmosfir yang suhunya lebih rendah dari titik kondensasi uap air (±20 oC). Pada titik ini, atom gas Oksigen (O) dan Hidrogen (H) bisa berreaksi untuk membentuk molekul uap air (H2O). Sekumpulan amat besar dari molekul uap air itu biasa dikenal sebagai "awan".

Namun molekul uap air ini masih sangat ringan dan berbentuk gas, sehingga tetap mengambang di udara.

B.

Perpindahan awan

Menurut sifatnya, air danau / lautan lebih mudah menyerap panas sinar Matahari daripada permukaan tanah (maka air laut bisa relatif lebih dingin daripada permukaan tanah). Sehingga udara di atas danau / lautan relatif lebih dingin daripada udara di atas permukaan tanah, yang membuat kerapatan udara di atas permukaan tanah menjadi lebih tipis, karena adanya penguapan (terutama lagi pada daerah pegunungan).

Sedangkan udara cenderung bergerak dari daerah dengan kerapatan udara tinggi, ke daerah dengan kerapatan udara yang relatif lebih rendah.

Sehingga awan yang penuh dengan molekul-molekul uap air itupun justru bergerak dari daerah perairan ke arah daratan atau pegunungan, yang udaranya lebih tipis.

C.

Terjadinya air hujan

Setelah awan telah banyak terkumpul dengan tebal di atas daratan ataupun pegunungan, maka awan telah cukup bisa menutupi atau bisa menghambat tembusnya panas sinar Matahari ke daerah di bawah awan, sehingga suhu di daerah itu menjadi relatif lebih dingin, begitu pula bagian permukaan bawah awan itu sendiri.

Apabila suhu di situ telah berada di bawah titik embun uap air (±22 oC), maka molekul-molekul uap air pada awan bisa mulai mengembun atau membentuk butir-butir air, yang akhirnya bisa jatuh ke Bumi sebagai air hujan, karena berat jenisnya lebih tinggi daripada udara (gas). Bahkan bisa berbentuk hujan es, jika suhu atmosfirnya relatif lebih dingin lagi.

D.

Perpindahan air ke danau atau lautan

Akhirnya air kembali mengalir ke danau / lautan, melalui sungai dan kali, setelah sebagiannya dipakai oleh manusia, untuk minum, mandi, cuci atau kebutuhan lainnya sehari-harinya, yang kemudian terbuang melalui got-got, terresap ke dalam tanah, dsb.

Sumber air di Bumi menurut ilmuwan barat, keliru

Berkaitan dengan sumber keberadaan air, pada teori yang telah berkembang cukup luas di kalangan ilmuwan barat, bahwa air di Bumi justru berasal dari air (berupa es) pada komet dan meteor, yang telah menabrak Bumi pada awal pembentukan Bumi (lebih tepatnya setelah permukaan Bumi relatif dingin).

Lebih lanjutnya, teori di atas terkait teori lainnya, bahwa atom-atom gas Oksigen (O) dan Hidrogen (H) di Bumi dianggap telah habis menguap atau terbakar, karena permukaan Bumi pada awalnya masih amat panas. Sebaliknya sebagai reruntuhan dari hasil tabrakan benda-benda langit yang telah relatif dingin (khususnya planet dan satelit), maka komet dan meteor dianggap masih bisa 'menyimpan' air atau es.

Padahal teori itupun bertentangan dengan fakta, bahwa semua benda langit pada awalnya justru berupa bola api yang relatif amat panas. Jika di Bumi dianggap tidak ada air, maka pasti tidak ada pula pada komet dan meteor, karena komet dan meteor justru berasal dari benda-benda langit lainnya, yang proses pembentukannya semestinya relatif serupa seperti Bumi.

Bahkan pada Matahari yang amat sangat panas itu, juatru juga terdapat atom-atom gas Oksigen (O) dan gas Hidrogen (H). Atom gas Hidrogen (H) khususnya, keberadaannya bisa memungkinkan terjadi ledakan nuklir yang terus-menerus di Matahari, sampai saat ini.

Seluruh atom gas yang telah 'dikumpulkan' oleh Bumi sejak jaman dahulu tidaklah menghilang atau habis, karena masih panasnya permukaan Bumi, namun hanya menguap jauh di atas atmosfir Bumi (atmosfir Bumi justru hanya mengembang). Mustahil atom-atom gas itu bisa keluar dengan begitu saja dari jangkauan gaya tarik gravitasi Bumi. Setelah permukaan Bumi ataupun atmosfirnya telah mendingin, maka atom-atom gas itupun akan makin menurun letak ketinggiannya (atmosfir Bumi makin menipis ketebalannya, sampai seperti keadaan saat ini).

Hal itu juga makin bisa memungkinkan bagi terbentuknya air hujan, lalu menjadi lautan dan samudera. Maka proses pembentukan air justru semestinya juga bisa terjadi di Bumi, tanpa harus 'dibantu' oleh komet dan meteor.

Padahal prosentase dari air ataupun es pada komet dan meteor itupun sangat sedikit dibandingkan seluruh volumenya sendiri. Berapa banyak jumlah komet dan meteor yang harus jatuh menabrak Bumi, untuk membentuk berbagai samudera dan es di kutub, yang meliputi 70% permukaan Bumi ini?. Padahal pula, tanda-tanda bekas tabrakan meteor yang telah diketahui, jumlahnya relatif amat sedikit dan relatif amat kecil ukurannya.

Padahal tabrakan-tabrakan komet dan meteor ke Bumi, justru terjadi dengan relatif amat dahsyatnya dan menyerupai suatu ledakan nuklir, yang bisa 'menghabiskan' pula air atau esnya. Sehingga teori-teori para ilmuwan barat itu sendiri justru saling kontradiktif, karena di satu pihak, mereka menganggap bahwa amat panasnya permukaan Bumi pada jaman dahulu, justru telah membakar habis atom-atom gas Oksigen (O) dan Hidrogen (H) pada atmosfir Bumi. Di lain pihaknya, mereka itu menganggap bahwa ledakan yang amat dahsyat atas komet dan meteor yang menabrak ke Bumi, justru 'tidak' membakar habis air atau es pada komet dan meteor tersebut. Hal ini tentunya di samping berbagai kontradiksi lainnya, yang sebagiannya telah disebut di atas.

Siklus umum air hujan di masa sekarang

Setelah terjadinya keseimbangan di seluruh alam semesta (ada keadaan yang relatif konstan dalam jangka waktu yang relatif lama), khususnya keadaan Bumi yang seperti saat sekarang ini, maka siklus air hujannya telah mencapai tingkat keseimbangan pula. Namun dalam perkembangan aktualnya, siklus air saat inipun masih mungkin sedikit berubah, termasuk dengan telah diketahui makin kuatnya dampak dari penipisan lapisan ozon di daerah kutub, yang justru amat penting bagi perlindungan Bumi dari pengaruh buruk radiasi sinar Matahari. Hal ini menimbulkan pemanasan global di atmosfir dan permukaan Bumi.

Pemanasan global menyebabkan volume air laut ataupun tinggi permukaan laut akan cenderung makin meningkat, akibat melelehnya sebagian dari gunung-gunung es pada daerah kutub utara dan selatan Bumi, walau secara umum, siklus air hujan relatif akan tetap serupa seperti pada Gambar 15. Sedang perbedaan yang amat mungkin terjadi berupa curah hujan yang semakin tinggi pada daerah-daerah tertentu (semakin banyak banjir dan longsor), akan tetapi sebaliknya semakin rendah curah hujan pada daerah-daerah lainnya (semakin panas dan kering). Tentunya ada banyak pula dampak-dampak lainnya.

Siklus air hujan, penunjang penting kehidupan di Bumi

Seperti pada uraian-uraian di atas, bahwa terjadinya siklus air yang terus berkelanjutan di Bumi, adalah faktor yang amatlah penting bagi terjadinya kehidupan di Bumi. Bahkan siklus air itu pulalah yang mengakibatkan air kembali menjadi bersih dan sehat untuk diminum, padahal air telah terus-menerus dipakai bagi kehidupan makhluk-Nya. Dan proses terjadinya siklus air itupun juga diatur dalam sunatullah, yang pelaksanaannya dikawal oleh para malaikat (terutama malaikat Mikail, yang bertugas menurunkan air hujan).

Tentunya siklus air bersih yang biasanya terjadi secara alamiah dan normal itupun akan bisa terganggu, jika terjadi pencemaran air dan udara yang telah relatif cukup parah, dari berbagai ulah manusia sendiri. Pada negara-negara barat yang industrinya telah amat maju misalnya, justru polusi dari hasil industri telah menimbulkan sesuatu 'hujan asam' (berupa air hujan yang telah bercampur dengan sejumlah bahan kimia hasil industri). Dan 'hujan asam' itu tentunya telah tidak sehat lagi untuk diminum langsung, bahkan akan terasa sedikit panas dan perih, jika mengenai mata.

"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya." – (QS.15:22).

"Dia-lah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu." dan "Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman: zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda (kekuasaan-Nya) bagi kaum yang memikirkan." – (QS.16:10-11).

"(Kami) Yang telah menjadikan bagi kamu bumi sebagai hamparan (tempat hidupmu, dan Yang telah menjadikan bagi kamu di bumi itu jalan-jalan (wilayah-wilayah), dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu, berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam." – (QS.20:53).

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tumbuh-tumbuhan, yang darinya makan(an bagi) binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?." – (QS.32:27).

 

"Dan tiada sama (antara) dua laut. Laut yang ini tawar, segar, sedap diminum (danau), dan laut yang lain asin, lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu, kamu dapat memakan daging yang segar, dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan, yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut, supaya kamu dapat mencari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur." – (QS.35:12).

"Dia membiarkan dua lautan mengalir, yang keduanya kemudian bertemu,", "antara keduanya ada batas, yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (air tawar dan air asin)" – (QS.55:19-20).

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

4 Balasan ke Bab V.C Benda nyata

  1. aray0ne berkata:

    Pencerahan yg sangat bagus pak, boleh ijin untuk share?

  2. abi sudarno berkata:

    alhamdulillah,,barokhallahu…pak Syarif Muharim mhn izin untuk share………

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s