Bab VI.A.3 Jalan-Nya yang lurus

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

VI.A.3.

Jalan-Nya yang lurus

Jalan-Nya yang lurus, jalan hidup yang diajarkan agama-Nya

"Jalan-Nya yang lurus" yang diperintahkan-Nya untuk diikuti, adalah berbagai keadaan yang perlu diusahakan ataupun dipilih oleh tiap umat manusia, agar bisa diterapkannya sejumlah sunatullah yang mengarahkannya, untuk memperoleh tingkat keimanan yang semakin tinggi. Berbagai anjuran atau perintah-Nya dalam ajaran-ajaran agama Islam, adalah cara-cara untuk bisa mencapai atau kembali mengikuti "jalan-Nya yang lurus" itu.

Pada akhirnya agar tiap manusia bisa memperoleh rahmat-Nya yang paling baik di kehidupan akhiratnya (surga). Namun juga dengan mengikuti "jalan-Nya yang lurus", secara sadar ataupun tidak, justru tiap manusia bisa memperoleh limpahan rahmat-Nya pada kehidupan dunia ini, yang sering disebut sebagai 'surga kecil' atau 'pahala-Nya', yang bersifat batiniah, hakiki dan kekal (bukan nikmat duniawi yang bersifat fisik-lahiriah, amat semu, mudah menyesatkan dan fana).

Tentunya hal-hal yang dimaksudkan dengan rahmat-Nya pada kehidupan dunia itu, terutama pada rahmat-Nya yang bersifat batiniah (atau pahala-Nya). Karena agama bukan diajarkan-Nya untuk mencari rahmat-Nya yang bersifat lahiriah-duniawi, namun agar tiap manusia bisa membangun segala keadaan batiniah ruhnya, sambil menghadapi hal-hal lahiriah di kehidupan dunia ini. Sedang keadaan batiniah ruh itu sendiri, adalah wujud dari keadaan kehidupan akhirat tiap manusia selama di dunia ini, dan juga pasti terus berlanjut setelah Hari Kiamat.

Sedangkan pencarian rahmat-Nya yang bersifat lahiriah (rejeki ataupun karunia-Nya), justru lebih ditujukan sebagai alat-sarana bagi tiap manusia, agar ia bisa menjalani kehidupan dunianya, dengan baik dan benar, sekaligus agar memperoleh sebanyak mungkin pahala-Nya (segala keadaan batiniah ruh yang makin positif).

Istilah "jalan yang lurus" juga sebutan lain dari istilah "Islam" (nama sebutan dari agama-Nya yang lurus dan terakhir). Maka istilah-istilah "jalan-Nya yang lurus", "agama-Nya yang lurus", "agama-Nya" ataupun "Islam", relatif bisa saling dipertukarkan pemakaiannya.

Pada hakekatnya "agama-Nya yang lurus" juga meliputi semua agama tauhid lainnya, ataupun seluruh ajaran yang telah disampaikan oleh semua nabi-Nya, karena tauhid dari para nabi-Nya itupun pada dasarnya 'sama', yaitu "tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa". Namun sebagai agama tauhid yang terakhir, maka semestinya apabila ajaran-ajaran agama Islam itulah yang paling lurus, lengkap, sempurna dan sesuai bagi seluruh umat manusia, sampai akhir jaman. Walau hal ini justru mustahil bisa dicapai, jika ajaran-ajarannya hanya dipahami secara 'tekstual-harfiah' (bukan secara 'hikmah dan hakekat').

Di lain pihaknya, agama-Nya atau agama tauhid yang lainnya (Yahudi dan Nasrani) justru ajaran-ajarannya telah banyak melenceng, dari ajaran-ajaran awalnya, yang telah disampaikan masing-masingnya oleh nabi Musa as (melalui kitab Taurat), dan nabi Isa as (melalui kitab Injil). Padahal kedua nabi-Nya ini beserta ajaran-ajarannya juga diakui dan dibenarkan dalam ajaran agama Islam.

Agama Yahudi misalnya telah melenceng dan berubah menjadi agama yang hanya bagi kaum 'Bani Israil' saja. Padahal agama-Nya mestinya justru bersifat universal (bagi seluruh umat manusia), sedang agama Nasranipun telah melenceng dan berubah menjadi agama yang menganut kemusyrikan (telah menganggap nabi Isa as sebagai Tuhan). Padahal hanya Allah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya", tentang para nabi-Nya dan kitab-kitab agama tauhid.

Gambaran sederhana berbagai jalan hidup vs keimanan

Dengan tingkat keimanan yang makin tinggi yang bisa dicapai dengan mengikuti "jalan-Nya yang lurus", yang jika dikaitkan dengan berbagai jalan hidup yang dijalani oleh manusia pada umumnya, maka digambarkan secara sederhana berbagai contoh jalan hidup manusia, pada Gambar 29 di bawah.

Beberapa catatan penting dari gambar tersebut, antara-lain:

~ God spot adalah keimanan, pemahaman atau kesadaran tertinggi tentang Tuhan (dekat ke 'Arsy-Nya yang sangat agung dan mulia).
~ Tingkat keimanan 'nol' (pada bayi yang baru lahir), adalah batas minimal bagi manusia untuk bisa masuk Surga.

Gambaran pengaruh pengajaran para makhluk gaib

Selanjutnya jika "Gambar 29: Skema beberapa contoh jalan hidup manusia" di bawah lebih diperbesar lagi, maka bisa digambarkan pula pengaruh dari segala bentuk pengajaran dan ujian-Nya dari para makhluk gaib bagi manusia. Dan pengaruh itu berupa berbagai ilham yang baik dan buruk dalam pikiran manusia, yang terjadi tiap saatnya sepanjang hidupnya, yang selalu mempengaruhi tingkat keimanannya (sebagai ujian-Nya secara batiniah).

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang penjelasan selengkapnya atas berbagai bentuk pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah dari para makhluk gaib bagi tiap manusia.

Gambar 29: Skema beberapa contoh jalan hidup manusia
(terkait dengan keimanan)

 

Keterangan gambar

Jalan hidup yang ditinjau di sini (serangkaian sunatullah yang dijalani), terkait dengan tingkat keimanan (kesadaran batiniah atas kebenaran-Nya), terhadap berbagai keadaan lahiriah manusia.

Keadaan lahiriah itu tergantung dari hal-hal yang akan ditinjau seperti: harta-kekayaan, tahta-jabatan-profesi, lingkungan-relasi, waktu-kesempatan, umur, keadaan tubuh (kecantikan), kesehatan, kebebasan, semangat, pendidikan-keahlian, dsb.

Lingkaran batas luar tingkat keimanan dan kesadaran.

Makin mendekati ke arah titik pusat lingkaran, maka makin tinggi pula tingkat keimanan (batiniah). Sedang tiap sudut lingkarannya adalah posisi keadaan lahiriah tertentu yang akan ditinjau (dengan variasi keadaan yang berbeda-beda, seperti warna pelangi).

Sejak pada saat lahirnya sampai akil-baliq, tiap manusia berada pada tingkat keimanan "nol" (tingkat minimal untuk bisa masuk surga, karena belum ada usahanya yang cukup berarti ataupun yang bisa dipertanggung-jawabkannya, termasuk belum bisa untuk meningkatkan keimanannya). Hal yang relatif serupa juga dialami oleh orang yang hilang ingatannya sejak lahirnya.

Tingkat keimanan "nol" itu digambarkan oleh lingkaran terluar (I4).

Beberapa lingkaran batas tingkat keimanan itu, seperti:

I1 : Batas keimanan tertinggi (God spot / kesadaran tentang Tuhan, atau 'Arsy-Nya yang sangat agung dan mulia).
I2 : Batas bawah keimanan para nabi dan sahabat-sahabatnya.
I3 : Batas bawah keimanan para wali dan alim-ulama.
I4 : Batas bawah keimanan manusia biasa, atau batas keimanan nol (pada bayi yang baru lahir).

Garis jalan hidup manusia.

Jalan hidup tiap manusia pasti sangat berliku-liku, karena tergantung kepada keadaan, tingkat keimanan ataupun pilihan hidupnya. Selain itu, juga karena sifat manusiawinya, yang pasti memiliki segala kekurangan dan keterbatasan daya-kemampuannya, termasuk relatif sangat tidak konsisten dalam berbuat.

Pada tiap potongan kecil garis pada garis jalan hidup itu, terdapat titik-titik perubahan arah, dimana manusia telah mulai melakukan sesuatu usaha, untuk bisa mengubah keadaan dan keimanannya.

Makin panjang potongan garis ini, maka makin keras pula usaha yang harus dilakukan (atau makin tinggi daya-kemampuan diperlukan), juga makin banyak kesibukan yang menyertai usaha itu (makin banyak aspek yang dhadapi).

Maka panjang garis ini dibatasi oleh keterbatasan daya-kemampuan, dimana hal ini dipengaruhi oleh sifat manusiawi pada tiap manusia.

Beberapa contoh jalan hidup manusia, yaitu:

XA :

Orang yang kafir-musyrik sejak lahirnya, dan telah meninggal dalam keadaan kekafirannya itu, maka ia tidak akan mendapat surga.

Contohnya: orang-orang yang selalu berada dalam kekafirannya.

XB :

Orang yang kafir-musyrik sejak lahirnya, namun pada titik-titik tertentu dalam hidupnya, ia telah bisa mendapat hidayah-Nya, lalu bisa pula membawanya kembali ke jalan-Nya yang lurus (atau masuk Islam).

Contohnya: orang-orang kafir-musyrik yang telah bertaubat dan lalu ia masuk Islam.

XC :

Orang yang muslim sejak lahirnya, dan dengan usahanya yang 'cukup keras dan konsisten' untuk tingkatkan keimanannya. Sehingga iapun mendapat tempat yang cukup dekat di sisi 'Arsy-Nya.

Contohnya: para wali dan alim-ulama.

😄 :

Orang yang muslim sejak lahirnya, namun hampir tidak ada usaha cukup berarti untuk tingkatkan keimanannya. Sehingga iapun cukup banyak melakukan usaha yang sia-sia sepanjang hidupnya di dunia. Bahkan iapun cukup sering melakukan dosa-dosa kecil.

Contohnya: orang-orang biasa yang sangat awam.

XE :

Orang yang muslim sejak lahirnya, dan dengan usahanya yang 'sangat keras dan konsisten' untuk tingkatkan keimanannya. Sehingga iapun mendapat tempat yang sangat mulia dan dekat di sisi 'Arsy-Nya.

Contohnya: para nabi dan sahabat-sahabatnya.

XF :

Orang yang muslim sejak lahirnya, dan dengan usahanya yang 'cukup' untuk tingkatkan keimanannya. Namun pada titik-titik tertentu dalam hidupnya, setelah mencapai keimanan atau pengetahuan yang cukup memadai, justru ia berpaling arah memilih jalan kesesatan. Lalu iapun meninggal dalam keadaan kemusyrikan.

Contohnya: orang-orang munafik dan murtad.

XG :

Orang yang muslim sejak lahirnya, dan sesuai dengan segala 'kemampuan atau keterbatasan' yang dimilikinya, ia telah berusaha sebisanya untuk tingkatkan keimanannya sepanjang hidupnya di dunia ini. Kadang-kadang pula ia melakukan dosa-dosa kecil dan cukup besar. Namun akhirnya ia bisa bertaubat dengan sebenar-benarnya secara maksimal, untuk bisa menghapus dosa-dosanya itu.

Contohnya: orang-orang biasa pada umumnya.

Jalan-Nya yang lurus.

"Jalan yang lurus" terwakili oleh potongan-potongan kecil garis pada garis "jalan hidup", yang arahnya 'lebih cenderung' makin mendekati titik pusat lingkaran, yang merupakan perwujudan dari 'Arsy-Nya yang sangat agung dan mulia, tempat dimana segala kebenaran-Nya tercatat (God spot / kesadaran tentang Tuhan).

Sehingga jika garis itu makin 'cepat terarah' menuju mendekati ke titik pusat lingkaran, maka bisa disebutkan pula, bahwa makin "lurus" (benar) jalan hidup yang ditempuh.

Tentunya arah dari garis ini bisa berbeda-beda bagi tiap manusia, karena tergantung segala keadaannya masing-masing (dari sudut yang berbeda-beda).

Tiap manusia pasti memiliki kesempatan yang sama, untuk bisa menuju 'kembali' ke hadapan 'Arsy-Nya, dari arah jalan hidup yang berbeda-beda atau sesuai segala keadaannya masing-masing.

Pada tiap garis yang terarah lebih mendekati ke titik pusat lingkaran itu disebut pula manusia mendapat pahala-Nya (nikmat-Nya). Sedangkan pada tiap garis yang terarah menjauh, disebut manusianya mendapat beban dosa (hukuman-Nya). Pahala-Nya dan beban dosa bersifat batiniah (nikmat dan hukuman-Nya secara batiniah).

Pada dasarnya bisa pula dicapai secara bersamaan, antara tingkat keimanan yang makin tinggi, sekaligus pula segala keadaan lahiriah yang makin sesuai harapan atau keinginan. Namun secara manusiawi, ada pula keterbatasannya dalam mencapai kedua tujuan itu secara bersamaan, yaitu daya-kemampuan ataupun segala kesibukan yang diperlukannya.

Orang beriman akan cenderung memilih untuk lebih menyibukkan diri dalam meningkatkan keimanannya (memakmurkan kehidupan akhiratnya). Namun juga tidak melupakan kehidupan dunianya, yang justru sangat diperlukan dalam mendukungnya untuk bisa makin banyak beramal-ibadah. Segala usaha duniawi itu tentunya tidak dilakukannya secara berlebihan (hanya secukupnya sesuai keperluannya saja).

 

Manusia yang berkebebasan memilih jalan hidupnya (dengan nafsu dan akalnya), tiap saatnya pula secara sadar ataupun tidak, pada dasarnya ia memilih-milih salah-satu dari segala ilham tersebut, yang dianggap sesuai dengan keinginannya, walau pengaruh dan pilihan itu belum tentu sesuai dengan keredhaan-Nya bagi manusianya. Pengaruh berbagai bentuk pengajaran atau ujian-Nya dari para makhluk gaib itu, bisa ditunjukkan secara sederhana pada Gambar 30 di bawah.

'Nafsu' (semangat atau keinginan untuk berkembang) telah ditunjukkan dengan 'panjang-pendek' tiap sepotong garis jalan hidup. Makin panjang garisnya, makin besar pula usaha dan semangat yang diperlukan, untuk mengubah jalan hidup. Sedang 'akal' (pengetahuan atau kecerdasan untuk memilih) telah ditunjukkan dengan 'arah sudut' tiap sepotong garis jalan hidup. Dengan memanfaatkan akalnya, tiap manusia (secara sadar ataupun tidak), pada dasarnya memilih salah-satu dari berbagai ilham baru hasil pengajaran dari para makhluk gaib, yang kemudian diolah dan diputuskan, berdasarkan pengetahuan dan keyakinannya yang telah terbangun sebelumnya sepanjang hidupnya.

Proses memilih dan berusaha itu juga bahkan berlangsung tiap saatnya sepanjang hidup tiap manusia. Sedangkan hasil akhir dari tiap proses itu ditentukan-Nya melalui rumus-rumus proses kejadian yang pasti dan jelas (atau melalui sunatullah), sesuai dengan segala keadaan yang dipilih dan diusahakan oleh manusianya sendiri.

Gambar 30: Skema pengaruh pengajaran para makhluk gaib
(terkait dengan keimanan)

 

Keterangan gambar

Gambaran keadaan yang terjadi "sesaat sebelum" tiap manusia akan memilih jalan hidupnya (rangkaian sunatullah yang akan dijalani), yang terkait dengan tingkat keimanan (kesadaran batiniah tentang berbagai kebenaran-Nya), atas segala pengaruh pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah dari para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis).

Beberapa tanda pada gambar, yaitu:

A : Titik atau lingkaran sebagai sesuatu batas tingkat keimanan tertinggi, yang mampu dicapai manusia (God spot / kesadaran tentang Tuhan, atau 'Arsy-Nya yang sangat agung dan mulia).
B : Titik posisi keadaan dan keimanan sekarang, atau posisi terakhir dari jalan hidup.
C : Lingkaran yang berpusat di titik A dan berpotongan dengan titik B, sebagai batas tingkat keimanan yang sama seperti sekarang.
D : Rangkaian beberapa potongan garis yang berkelok-kelok tetapi saling terhubung sampai berakhir di titik B, sebagai gambaran proses-proses jalan hidup yang telah dijalani sebelumnya.
E : Garis dari titik B ke titik A, sebagai arah jalan hidup yang paling lurus, benar atau paling dekat, untuk bisa menuju ke 'Arsy-Nya.

Berbagai bentuk pengajaran dari para makhluk gaib.

Makin mendekati ke titik A (God spot / kesadaran tentang Tuhan) atau makin ke arah daerah dalam lingkaran C, maka hasil pengaruh pengajaran 'positif' dari para makhluk gaib (terutama malaikat Jibril), jika telah diamalkan, justru akan bisa makin meningkatkan keimanan manusianya.

Pengajaran mereka kepada tiap manusia terjadi tiap saatnya sepanjang hidup manusianya (tiap titik jalan hidup), yang berupa segala bentuk ilham-bisikan-godaan (benar-baik-positif dan sesat-buruk-negatif) ke dalam pikiran tiap manusianya (berupa ingatan, pemikiran dan pemahaman atas berbagai hal).

Kecenderungan arah pemikiran itu (ilham-ilham) digambarkan oleh sejumlah garis lurus berpanah yang ditarik keluar dari titik B, menuju ke segala arah. Panjang-pendeknya garis yang bervariasi, menunjukkan perbedaan besarnya kekuatan pengaruh dari masing-masing ilham itu.

Tiap sudut arah garis adalah gambaran dari celah-celah kekuatan ataupun kelemahan di dalam pikiran manusianya yang dipakai oleh para makhluk gaib, dengan memberikan berbagai alternatif (ilham) yang menguntungkan ataupun merugikan bagi manusianya.

Bahkan segala kecenderungan arah pemikiran tiap manusia (ilham-ilham), amat kuat diyakini semuanya berasal dari para makhluk gaib. Sedang manusia hanya tinggal memilih saja salah-satu atau beberapa dari ilham-ilham itu (pemahaman, pemikiran, pengetahuan, intuisi-logika, memori-ingatan, segala perasaan, dsb), agar bisa dipakainya sebagai bahan atau pengetahuan dalam menentukan arah kehidupannya (ke arah positif ataupun negatif).

Bentuk pengajaran para makhluk gaib yang amat sangat halus.

Pengajaran mereka itu bisa terjadi melalui interaksi secara terang-terangan (mereka menampakkan 'wujud aslinya'), dengan sejumlah amat terbatas umat manusia, ataupun secara terselubung (bisikan mereka amat sangat halus dan tidak kentara), dengan 'seluruh' umat manusia. Namun prinsip kedua cara interaksi itupun sama, mereka itulah yang telah "memancing-mancing" timbulnya segala bentuk ilham. Karena amat sangat halus bisikan mereka, bahkan manusia biasanya menganggap semuanya hanya dari hasil pikirannya sendiri.

Hal yang amat penting pula, bahwa pengajaran mereka itupun pasti mengikuti kecenderungan keadaan dan kesiapan manusia dalam menerima pengajaran, sehingga pengajaran terasa amat sangat tidak memaksa. Serta manusia tidak mencurigai, bahwa hal itu adalah hasil intervensi pengaruh dari luar. Dan tidak menyebabkan manusia mudah memahaminya atau mudah menolaknya.

Hal ini pulalah penjelasan atas "mengapa para nabi-Nya bisa mencapai tingkat keimanan yang sangat tinggi", karena makin utuh keimanan seseorang (makin konsisten antara pikiran, perkataan dan perbuatan), makin tinggi pula nilai tiap pengajaran selanjutnya, yang akan bisa diperolehnya.

Melalui cara yang amat sangat halus, tidak kentara dan tidak memaksa itulah yang membuat pengajaran mereka amat sangat efektif, dalam mempengaruhi manusia secara batiniah ke arah kebaikan (sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya) ataupun ke arah keburukan (sebagai cobaan atau ujian-Nya).

Pengelompokan bentuk pengajaran para makhluk gaib.

Beberapa pengelompokan dari bentuk ilham-ilham itu, seperti:

I1 :

Berbagai ilham positif-baik-benar yang diajarkan oleh para malaikat, terutama pengajaran dan tuntunan-Nya oleh malaikat Jibril.

I2a & I2b :

Berbagai ilham 'agak' positif-baik-benar ataupun 'agak' negatif-buruk-sesat yang diajarkan oleh para jin.

I3a & I3b :

Berbagai ilham negatif-buruk-sesat yang diajarkan oleh para syaitan.

I4 :

Berbagai ilham 'sangat' negatif-buruk-sesat yang diajarkan oleh para iblis.

Selain ilham I1, bentuk ilham-ilham lainnya berupa godaan yang relatif bisa sangat menyesatkan, sebagai cobaan atau ujian-Nya secara batiniah.

Pengajaran bagi para nabi-Nya dari malaikat Jibril (atau penyampaian wahyu-wahyu-Nya).

Pada dasarnya tiap manusia biasa umumnya, juga pasti mendapat pengajaran positif (petunjuk) dari malaikat Jibril, seperti halnya bagi para nabi-Nya. Dan sekaligus pula tiap manusia pasti mendapat pengajaran negatif (godaan) dari jin, syaitan dan iblis.

Namun yang membedakan adalah keadaan dan kesiapan para nabi-Nya yang jauh lebih baik dalam menerima segala pengajaran positif (hidayah-Nya), bahkan bisa mengambil hikmah-Nya dari segala godaan iblis dan syaitan, karena tingkat keimanan para nabi-Nya yang amat tinggi, dari hasil tingkat pemahaman dan pengamalan yang amat tinggi (sering bertafakur dan beramal-ibadah).

Hal itu tampak dari segala akhlak dan kebiasaan positif yang telah dilakukan secara amat keras dan konsisten oleh para nabi-Nya itu, sepanjang hidupnya, sehingga terbentuk filter keyakinan yang amat kuat dalam memilah-milah segala pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah dari para makhluk gaib, melalui interaksi secara terang-terangan ataupun terselubung.

Wahyu-Nya berupa pengetahuan pada para nabi-Nya.

Penyampaian wahyu-Nya oleh malaikat Jibril justru tidak seperti "Hai Rasul-Nya, Allah telah berfirman kepadamu …", namun justru dari pemahaman dan keyakinan kuat yang telah dimiliki sebelumnya oleh para nabi-Nya, yang telah membuat mereka bisa menilai, "apakah berbagai pengajaran yang baru saja diperolehnya, berasal langsung dari Allah (atau mengandung suatu kebenaran-Nya), ataukah bukan?".

Sehingga tiap pengetahuan atau pemahaman yang berupa hidayah-Nya yang telah mereka peroleh dari hasil pengajaran malaikat Jibril, sekaligus pula hikmah-Nya dari hasil pengajaran jin, syaitan dan iblis, makin memperkuat segala pemahaman yang telah mereka miliki. Pemahaman pada para nabi-Nya telah bisa disebut sebagai "wahyu-Nya", karena integritas keimanan mereka (konsistensi), dan keutuhan petunjuk atau kebenaran-Nya yang telah mereka miliki, dan juga amat lengkap, sehingga amat sulit dicapai manusia biasa.

Bahkan hikmah dan hidayah-Nya pada para nabi-Nya bisa menjawab hampir semua persoalan yang amat penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat kaumnya, ataupun bahkan persoalan umat manusia keseluruhannya.

Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya", tentang pemahaman yang lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan.

Sedang tiap hikmah dan hidayah-Nya yang diperoleh manusia biasa umumnya, "tidak" pantas disebut sebagai 'wahyu-Nya'. Juga tidak pernah disebut, bahwa manusia biasa juga mendapat pengajaran dari malaikat Jibril.

Hal ini dibedakan, semata-mata bertujuan untuk menjaga kemuliaan wahyu-wahyu-Nya.

Hal ini juga untuk menjaga, agar tiap manusia tidak mudah mengaku-aku telah mendapat wahyu-Nya, padahal ia sebenarnya tidak bisa memahami ataupun tidak bisa menjawab segala persoalan umat manusia yang amat penting, mendasar dan hakiki. Serta jika ia bisa menjawab berbagai persoalan tertentu, ia hanya mengikuti hasil pemahaman orang-lain (terutama para nabi-Nya), juga ia tidak memahami segala dasar pemikiran di balik timbulnya pemahaman itu.

Oleh karena itu, maka tidak dibenarkan ada orang yang mengaku-aku sebagai nabi baru, hanya sekedar karena telah hapal kitab suci Al-Qur'an, kitab-kitab Hadits ataupun kitab-kitab lainnya, ditambah dengan adanya "bisikan" yang didengarnya dari para makhluk gaib. Padahal ia belum bisa memahami secara lengkap, mendalam, konsisten utuh dan tidak saling bertentangan, atas segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, di balik teks-teks kitab suci Al-Qur'an.

Baca pula topik "Nabi Terakhir, untuk Seluruh Umat Manusia", tentang kemustahilan adanya nabi baru, setelah nabi Muhammad saw.

Jalan-Nya yang lurus dan "kembali" ke hadapan 'Arsy-Nya

Tiap manusia memiliki keadaan ataupun 'jalan hidup' berbeda-beda, namun tiap usaha yang bisa dilakukannya untuk bisa mencapai 'jalan-Nya yang lurus' pada hakekatnya sama, yaitu dengan mengikuti semua yang diajarkan dalam ajaran agama-Nya (Islam), atau agar tiap manusia bisa beriman dan bertaqwa kepada Allah. Karena tiap ajaran agama Islam (agama tauhid terakhir), adalah cara-cara yang paling aman, lengkap, sempurna dan lurus (benar), untuk bisa kembali dekat ke hadapan 'Arsy-Nya. Dalam hal ini tiap umat Islam juga pasti bisa memiliki kesempatan yang persis sama.

Sesuai sifat manusiawi yang penuh dengan segala kekurangan, maka tiap manusia mustahil bisa 'mencapai' 'Arsy-Nya, sampai akhir hidupnya, karena pada 'Arsy-Nya itulah terletak segala kebenaran dan kemuliaan-Nya. Sedang tiap manusia mustahil bisa memahami segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (bentuk pemahaman atas ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis), dan hanya Allah Yang Maha mengetahui.

Namun tiap manusia bisa berusaha makin 'mendekati' 'Arsy-Nya itu. Orang-orang yang bisa mencapai paling dekat ke sisi 'Arsy-Nya, adalah orang-orang yang paling beriman di antara umat manusia (misalnya: para nabi-Nya, para sahabat nabi, para wali, dsb), karena mereka itu telah bisa memahami sebagian amat kecil saja dari cahaya kebenaran-Nya (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), secara relatif sempurna (konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan).

Walau demikian, cahaya kebenaran-Nya yang mereka miliki (khususnya para nabi-Nya), juga telah sangat lengkap dan mendalam, untuk bisa menjadi pengajaran dan tuntunan-Nya, bagi umatnya pada jamannya masing-masing. Tentunya telah cukup untuk bisa menjawab segala tantangan dan persoalan yang paling mendasar dan hakiki, bagi kehidupan umat kaumnya, ataupun bahkan bagi seluruh umat manusia (khususnya ajaran-ajaran dari nabi Muhammad saw).

Dua macam "kembali" ke hadapan 'Arsy-Nya

Telah dijanjikan-Nya, bahwa pada Hari Kiamat, tiap manusia akan dikumpulkan-Nya langsung ataupun 'kembali' ke hadapan 'Arsy-Nya, agar dimintai-Nya pertanggung-jawab dan diberi-Nya keputusan atas segala amal-perbuatannya masing-masing selama pada kehidupan dunia. Sehingga 'kembali' di sini juga bersifat memaksa dan bertujuan sebagai pembuktian akhir atas segala kebenaran-Nya. Sekaligus pula sebagai pemberian hasil akhir, atas proses penggodokan manusia di dunia. Di sini 'zat' tiap ruh yang 'kembali' (berkebalikan dari proses diturunkan atau ditiupkan-Nya ruh, atau dihidupkan-Nya manusia).

Sehingga jelas, bahwa 'kembali' pada Hari Kiamat itu berbeda daripada 'kembali' ketika manusianya masih berada di dunia. Di mana 'kembali' inipun berupa kesadaran tiap manusianya sendiri, untuk bisa lebih mengenal dan lebih mendekatkan dirinya kepada-Nya, dengan berusaha mengikuti berbagai ajaran agama-Nya yang lurus. Di sini 'keadaan batiniah' tiap ruh yang 'kembali', karena memang sengaja dipersiapkan oleh manusianya, untuk bisa menghadapi 'kembali' pada Hari Kiamat, dengan sebaik-baiknya.

Tentunya sesuai makna dari istilah 'keadaan' itu sendiri, maka pada kembali 'keadaan batiniah' ruh di dunia, justru bersifat 'sesaat' (temporer), tergantung kepada tingkat keimanan tiap manusianya tiap saatnya. Sedang diketahui suatu keimanan atau keyakinan yang utuh, semestinya meliputi 2 aspek: aspek batiniah (pemahaman) dan aspek lahiriah (pengamalan), yang saling konsisten.

'Kembali' yang terkait pemahaman (batiniah), justru terjadi ketika manusia melakukan 'tafakur', untuk bisa memahami berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya. Dan seperti halnya pengetahuan, maka 'kembalinya' pemahaman secara batiniah ini biasanya bersifat relatif permanen, setelah diperolehnya tiap pemahaman itu sendiri.

Hal inilah yang terjadi ketika peristiwa 'Isra Mi'raj-nya nabi Muhammad saw, ataupun pada para 'Sufi', ketika sedang mengalami 'penyatuan diri dengan Allah' (wahdat-ul-wujud). Hal ini juga terjadi pada orang-orang yang beriman lainnya, pada uraian di bawah.

Sedang 'kembali' yang terkait pengamalan (lahiriah), terjadi ketika tiap manusianya telah bisa amat konsisten mengamalkan segala pemahamannya, sesuai dengan amalan-amalan yang diajarkan dalam ajaran agama-Nya. Maka 'kembalinya' pengamalan secara lahiriah ini biasanya bersifat relatif berubah-ubah, tergantung kepada keadaan dan kemampuan lahiriah tiap manusianya, tiap saatnya.

'Kembali'-nya tiap zat ruh pada Hari Kiamat di atas bersifat kekal, dimana tiap ruh manusia telah hidup kekal di Surga ataupun di Neraka, serupa dengan kehidupan para makhluk gaib pada saat ini di alam akhirat ataupun alam ruh.

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang proses kebangkitan 'zat' ruh, dan tentang wujud kehidupan akhirat di Hari Kiamat.

Kembalinya Nabi ke hadapan 'Arsy-Nya pada 'Isra Mi'raj

Contoh yang sangat dikenal oleh umat Islam, tentang 'keadaan batiniah' ruh yang 'kembali' ke hadapan 'Arsy-Nya, adalah peristiwa 'Isra Mi'raj, yaitu sesuatu perjalanan batiniah-moral-spiritual yang luar biasa yang dialami oleh Nabi besar Muhammad saw. Pada perjalanan batiniahnya ini, Nabi telah bisa memahami dengan relatif sangat jelas dan terang atas berbagai hal, seperti:

~ Berbagai keadaan kehidupan akhirat di Surga dan di Neraka;
~ Berbagai bentuk balasan-Nya atas suatu amal-perbuatan manusia (nikmat ataupun hukuman-Nya);
~ Berbagai keadaan ketaqwaan dan ibadah para nabi-Nya terdahulu kepada Allah;
~ Berbagai keadaan atau tingkatan para makhluk gaib-Nya;
~ Berbagai hubungan antara aktifitas tubuh lahiriah dan keadaan batiniahnya (terutama tentang ritual ibadah shalat); dsb.

 

Bahkan Nabipun bisa berada sangat dekat ke 'Arsy-Nya (bisa memahami dengan sangat jelas dan terang, atas berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya atau cahaya kebenaran-Nya), sehingga Nabi juga diliputi oleh 'cahaya-Nya yang amat sangat terang'. Hal inipun bisa dicapai oleh Nabi, karena berbagai akhlak dan budi-pekertinya yang sangat terpuji dan lengkap. Sehingga keadaan batiniah ruh Nabi sangat bersih-jernih (cermin batiniahnya), dan juga bisa memantulkan berbagai cahaya kebenaran-Nya dengan sangat jelas dan terang.

Perjalanan batiniah Nabi ketika peristiwa 'Isra Mi'raj ini pada dasarnya puncak tertinggi dari sejumlah besar usaha Nabi, di dalam bertafakur sepanjang hidupnya (khususnya yang biasanya dilakukan oleh Nabi di gua Hira). Semacam rangkaian terakhir yang utuh dan lengkap, atas berbagai hasil bertafakur yang diperoleh Nabi selama ini (berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), dari hasil mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini.

"Maha Suci Allah, Yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad), pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar, lagi Maha Melihat." – (QS.17:1).

"Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia." – (QS.23:116).

"Sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar firman (atau wahyu-Nya yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)," "yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi-Nya, Yang mempunyai 'Arsy," "yang ditaati di sana (di alam malaikat), lagi dipercaya." – (QS.81:19-21).

Kembalinya para Sufi & orang beriman ke hadapan 'Arsy-Nya

'Kembali'-nya 'keadaan batiniah' ruh (pemahaman) ke dekat 'Arsy-Nya itu juga terjadi pada para 'Sufi', yang sedang mengalami 'penyatuan diri dengan Allah' (wahdat-ul-wujud), ataupun yang juga terjadi pada orang-orang yang beriman lainnya. Hal ini pada dasarnya berupa perolehan pemahaman yang sangatlah mendalam atas berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, ketika bertafakur.

Ttiap msnusia yang mengalaminya 'seolah-olah' merasa telah menyatu ataupun memahami dengan relatif sangat dekat atas berbagai kehendak dan tindakan-Nya di alam semesta ini. Dengan kata lainnya, berbagai pemahamannya telah relatif sangat dekat 'menyatu' (sesuai), dengan berbagai kebenaran-Nya di alam semesta ini.

Hal ini bukan suatu 'penyatuan zat' yang sebenarnya (zat diri umat dan zat Allah), tetapi justru hanya suatu penyaksian yang relatif sangat terang dan jelas, atas tiap cahaya kebenaran-Nya. Cahaya-Nya juga sangat menyilaukan bagi umat yang mengalami (mencapai suatu pemahaman), sehingga ia seolah-olah merasa telah 'menyatu' dengan 'Arsy-Nya (simbol tempat segala kebenaran-Nya tercatat).

Padahal umat itu hanya 'sangat dekat' saja ke 'Arsy-Nya, atau berbagai kebenaran yang telah bisa dipahaminya pasti tetap bersifat 'relatif', sedang tiap kebenaran-Nya bersifat 'mutlak'. Selain itu pula, 'seluruh' kebenaran-Nya pasti mustahil bisa dipahaminya. Dan padahal 'Arsy-Nya bukan kursi yang sebenarnya tempat Zat Allah berada.

Hal inipun disebutkan sebagai perolehan kesadaran ketuhanan (God spot), suatu kesadaran atau pemahaman yang tertinggi yang bisa dicapai oleh tiap manusia (umat-umat yang dikehendaki-Nya), atas tiap cahaya kebenaran-Nya (Nur Ilahi, hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, Al-Hikmah atau petunjuk-Nya).

Bagi tiap manusia biasa pada umumnya, pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya itu juga bisa dicapai, tetapi hal itu terjadi bersamaan dengan makin tingginya tingkat keimanannya (atau makin terang dan mendalam pemahamannya atas tiap cahaya kebenaran-Nya, sekaligus makin konsisten pengamalannya). Sehingga segala keadaan batiniah ruh umat telah sangat bersih (cermin batiniahnya), dan bisa sangat terang dan jelas memantulkan tiap cahaya kebenaran-Nya.

Pada dasarnya proses perolehan pemahaman pada tiap manusia serupa pula seperti pada para nabi-Nya, namun perbedaannya hanya pada 'tingkat terangnya' keseluruhan cahaya kebenaran-Nya yang bisa diperoleh. Karena para nabi-Nya itu telah memiliki pemahaman yang tersusun relatif sangat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan atas berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, yang menyangkut seluruh aspek kehidupan umat kaumnya, ataupun bahkan kehidupan seluruh umat manusia. Juga disertai pengamalan yang sangat konsisten sepanjang hidup mereka, khususnya lagi dalam melayani dan menjadi contoh suri-teladan bagi umat.

Sedangkan pencapaian pemahaman pada tiap manusia lainnya, justru sangat terbantu dari wahyu-wahyu-Nya yang telah disampaikan oleh para nabi-Nya. Juga secara alamiahnya, makin lama pasti makin berkurang kapasitas dan kemampuan tiap manusia, dalam memahami kehidupannya sendiri dan kehidupan umat kaumnya, sejalan dengan tantangan dan persoalan umat sehari-harinya, yang makin kompleks.

Pada akhirnya tiap manusia modern saat ini relatif makin sulit bisa menyamai tingkat pemahaman pada para nabi-Nya, terlebih-lebih lagi dalam hal pengamalannya.

Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya", dan terutama sub-topik "Nabi terakhir, untuk seluruh umat manusia".

Kemustahilan 'penyatuan' diri manusia dan Allah

Pada sebagian aliran tasawuf telah berkembang sesuatu paham "penyatuan diri setiap manusia (hamba-Nya) dengan Allah" (wahdat-ul-wujud, hulul, ittihad atau wushul). Seperti sedikit disebut di atas, bahwa hal ini bukan sesuatu 'penyatuan zat' yang sebenarnya (zat diri manusia dan zat Allah), tetapi hanya sesuatu bentuk 'penyaksian' atau 'pengetahuan' yang relatif amat terang dan jelas atas berbagai cahaya kebenaran-Nya.

Serta bukan pula 'penyatuan pengetahuan' yang sesungguhnya, karena pengetahuan 'relatif' milik setiap umat manusia pasti memiliki jarak tertentu dari pengetahuan 'mutlak' milik Allah. Di samping itu, segala pengetahuan-Nya di seluruh alam semesta ini pastilah mustahil bisa dikuasai atau dipahami semuanya oleh umat manusia.

Segala bentuk "penyatuan antara manusia dan Allah" adalah sesuatu yang mustahil terjadi, dibantah lebih lengkap sebagai berikut:

Kemustahilan penyatuan antara manusia dan Allah

Bahwa Pencipta mustahil serupa dengan segala sesuatu hal yang diciptakannya (dalam hal zat, pengetahuan, kekuasaan, dsb).

Bahwa Zat Allah Yang Maha gaib mustahil bisa dijangkau oleh alat-alat indera lahiriah dan batiniah manusia (mata, hati, dsb). Zat Allah Maha tersucikan dari segala sesuatu hal.

Bahwa segala pengetahuan Allah di seluruh alam semesta (segala kebenaran-Nya), mustahil bisa dijangkau seluruhnya oleh umat manusia. Belum termasuk segala pengetahuan Allah, tentang hal-hal yang berada di luar atau tidak berkaitan dengan alam semesta (sebelum adanya ataupun setelah berakhirnya alam semesta).

Bahwa berbagai pengetahuan Allah di alam semesta ini (berbagai kebenaran-Nya) yang masih bisa dijangkau oleh manusia, justru mustahil bisa diketahuinya dengan 'pasti' (mutlak), tetapi hanya sesuatu 'gambaran fenomena umum' ataupun 'pendekatan relatif' yang bisa diketahui oleh manusia.

Pada tingkat inilah yang telah dicapai oleh para nabi-Nya, karena mereka memang paling memahami tentang berbagai kebenaran-Nya, dibanding seluruh umat manusia lainnya pada setiap kaum dan jamannya, terutama tentang hal-hal gaib dan batiniah, yang justru paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia (ketuhanan; tujuan dari penciptaan alam semesta dan kehidupan segala zat makhluk-Nya; ruh dan para makhluk gaib; kehidupan akhirat; surga; neraka; akhlak; amal-ibadah; dsb).

Segala pemahaman para nabi-Nya justru pasti bersifat 'relatif', namun juga relatif 'sempurna' (relatif sangat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan).

 

Akhirnya, hal yang sebenarnya terjadi pada para sufi, tentang paham "penyatuan antara manusia dan Allah", semata hanya sesuatu perasaan 'sangat dekatnya' pengetahuan para sufi itu dengan sebagian sangat sedikit dari segala pengetahuan Allah di alam semesta ini (atau segala kebenaran-Nya).

Bisa disebut pula bahwa pengetahuannya para sufi hanya bisa 'makin mendekati' pengetahuannya para nabi-Nya. Paham "penyatuan antara manusia dan Allah" itu juga pada dasarnya suatu hal yang telah cukup berlebihan, karena segala sesuatu hal pada manusia justru pasti bersifat relatif dan fana, bahkan juga termasuk pada para nabi-Nya (tidak 'mutlak' dan 'kekal' seperti halnya sifat-sifat Allah).

Ka'bah sebagai simbol "kembali" ke hadapan 'Arsy-Nya

Sangat penting bagi umat Islam, agar selalu mengingat tentang dua macam "kembali" di atas, disimbolkan dengan kiblat bagi agama Islam, yang disebut Ka'bah, yang berupa batu biasa berukuran besar, berwarna hitam dan berbentuk kubus, yang berada di tengah-tengah Masjidil Haram di kota Mekah – Saudi Arabia.

Ka'bah merupakan 'simbol' tujuan kehidupan manusia adalah 'kembali' menghadap ke hadapan 'Arsy-Nya, yaitu bagi 'zat' ruh dan 'keadaan batiniah' ruh. Dan Ka'bah juga sebagai 'simbol' dari tempat kedudukan Allah ('Arsy-Nya), tempat dimana seluruh umat manusia dan segala sesuatu urusannya pasti akan kembali.

Pada 'kembali batiniahnya', disimbolkan melalui ibadah shalat yang selalu menghadap ke Ka'bah, dimanapun tiap umat Islam berada di muka Bumi ini (jika memungkinkan), namun sebaliknya, hal itupun bisa dilakukan secara batiniah saja (seperti: saat sakit, tidak tahu arah kiblat, dsb). Hal ini melambangkan tiap umat Islam semestinya selalu menyembah dan mengabdikan diri kepada-Nya, bagaimanapun segala keadaan kehidupannya (lahiriah dan batiniah).

Sedang 'kembali zatnya', disimbolkan melalui ibadah haji ke kota Mekah, sebagai ibadah paling puncak bagi umat Islam yang telah mampu. Ritual 'thawaf' dalam berhaji, agar mengitari Ka'bah sambil berusaha menyentuhnya, melambangkan bahwa umat Islam mestinya berusaha maksimal, untuk bisa menjadi orang yang paling dekat di sisi 'Arsy-Nya di Hari Kiamat (atau disebut orang yang paling beriman), ketika 'zat' ruhnya masing-masing telah kembali kepada-Nya.

Dari keseluruhan agama di dunia ini, hanya agama Islam yang paling menampakkan kefanatikannya pada peran sangat penting dan simbolik sesuatu kiblat agama. Bahkan minimalnya 5 kali sehari umat diwajibkan untuk bisa beribadah shalat dengan menghadap ke Ka'bah. Tentunya Ka'bah juga sesuatu simbol penting persatuan di kalangan umat Islam, yang berasal dari berbagai bangsa di seluruh dunia.

Selain sebagai simbol-simbol di atas, maka Ka'bah justru tidak mempunyai arti apa-apa (hanya berupa batu kubus, besar, hitam dan sederhana), serta Ka'bah juga tidak sama dengan berhala. Bahkan hal inipun bisa tampak jelas dari gambar Ka'bah pada sajadah (permadani kecil untuk alas di waktu shalat), yang bisa diinjak atau sejajar dengan telapak kaki.

Hal itupun karena tempat kedudukan Allah yang sebenarnya ('Arsy-Nya), justru berada di alam batiniah ruh tiap manusia (dalam hatinya, bukanlah pada Ka'bah). Sekali lagi, tentunya hal ini bukanlah tempat kedudukan 'Zat' Allah yang sebenarnya, namun hanya berupa kesadaran tertinggi dalam hati-nurani tiap manusia, tentang Allah.

Keadaan manusia saat kembali ke hadapan 'Arsy-Nya

Orang yang beriman yang telah berusaha maksimal, di dalam mengikuti jalan-Nya yang lurus, yang memang sangat mengharapkan 'pertemuannya langsung' dengan Allah, Yang Maha Pencipta, maka mereka itu menghadapi kedatangan Hari Kiamat (sebagai Hari saat kembalinya tiap ruh makhluk kepada-Nya), dengan perasaan gembira.

Seperti halnya ketentraman batiniah pada sejumlah orang yang beriman, saat mereka menjelang ajalnya.

Sebaliknya,. orang yang tidak beriman (musyrik, kafir, fasik, zalim, dsb) akan kalang-kabut atau mengalami kegoncangan hebat di Hari Kiamat. Selain karena kedatangan Hari Kiamat itu telah terbukti, padahal dahulunya selalu mereka dustakan dan abaikan. Juga karena mereka telah berpaling dari setiap kebenaran-Nya, atau telah menjauhi "jalan-Nya yang lurus" yang telah diperintahkan-Nya kepada seluruh umat manusia. Sehingga mereka itu justru tidak siap, untuk "kembali" ke hadapan 'Arsy-Nya di Hari Kiamat itu. 62)

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang 'kembali' dan kegoncangan lahiriah dan batiniah di Hari Kiamat.

Sedang 'kembalinya' keadaan batiniah ruh ke hadapan 'Arsy-Nya selama kehidupan di dunia pada uraian di atas, bisa menimbulkan suatu kenikmatan yang luar biasa bagi manusianya, yang sangat sulit diungkapkan (para Sufi menyebutnya keadaan ekstase), terutama lagi karena manusia bisa "sangat dekat" (bukan "mencapai") ke hadapan 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung.

Pada sebagian dari umat, hal ini disertai pula dengan luluhnya keseluruhan jiwa-raga, dan hanyut dalam tangis, karena alam batiniah ruhnya larut dalam cahaya keagungan dan kemuliaan-Nya. Menurut Imam Al-Ghazali, hal ini adalah tingkat pencapaian pemahaman yang tertinggi bagi tiap manusia, dalam memahami cahaya kebenaran-Nya (pada Tabel 11).

Para nabi-Nya adalah manusia yang telah mencapai tingkatan ini, bahkan jauh lebih tinggi dari manusia lainnya pada tiap jamannya masing-masing. Umat manusia biasa lainnya relatif hanya memahami sebagian kecil saja, dari seluruh cahaya kebenaran-Nya yang mereka peroleh (wahyu-wahyu-Nya).

Hal yang lebih penting lagi, bahwa hal-hal di atas masih pada tataran pemahaman, sedang keimanan yang makin tinggi semestinya disertai pula dengan pengamalannya yang makin konsisten, berdasar pemahamannya atas berbagai kebenaran-Nya itu. Bahkan para nabi-Nya justru juga telah melayani umatnya sepanjang hidupnya.

Umat manusia yang dikehendaki-Nya

Siapakah "umat ataupun manusia yang dikehendaki-Nya" itu?. Mungkin sebagian dari umat akan menjawabnya dengan mudah, "para nabi-Nya". Namun jawaban inipun kurang tepat, karena "umat yang dikehendaki-Nya" pada dasarnya relatif amat berbeda daripada "umat pilihan-Nya" ataupun "nabi, rasul atau utusan-Nya".

Bahkan justru dalam Al-Qur'an, "umat yang dikehendaki-Nya" juga disebut bagi umat yang antara-lain: ditunjuki ataupun disesatkan-Nya, diberikan-Nya Surga ataupun Neraka; diazab ataupun dirahmati-Nya; dilapangkan ataupun disempitkan-Nya rejekinya; dsb. Sehingga jawaban atas pertanyaan di atas bisa amat luas, tergantung kepada hal-hal yang sedang ditinjau. 63)

Makna dari "umat yang dikehendaki-Nya" yang lebih tepatnya adalah, "bahwa pada umat itu berlaku sunatullah (aturan-Nya) tentang suatu hal tertentu". Sedang perwujudan kehendak dan tindakan Allah di seluruh alam semesta, justru terlaksana melalui sunatullah tersebut (Sunnah Allah atau perbuatan Allah), yang berlaku mutlak dan kekal, sejak saat awal ditetapkan-Nya (sebelum penciptaan alam semesta).

Dan sunatullah berlaku sesuai dengan segala keadaan tiap zat ciptaan-Nya, yang telah diberikan-Nya pada saat awal diciptakan-Nya (justru hanyalah keadaan awal 'Atom' dan 'Ruh'), dan segala keadaan selanjutnya yang diusahakan diubah-ubah oleh segala makhluk-Nya.

Maka sebutan "umat yang dikehendaki-Nya" itu pada dasarnya justru serupa dengan "umat yang mengkehendakinya", atas sesuatu hal yang terjadi pada diri umatnya sendiri. Karena tiap umat manusia bisa berusaha mengubah-ubah berbagai keadaannya sendiri, walau seluruh keadaannya memang juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya yang terkait, dan bahkan keadaan di alam semesta (yang meringankan sebagai rahmat-Nya, dan yang memberatkannya sebagai ujian-Nya).

Namun karena segala keadaannya yang tidak diusahakan oleh umat itu sendiri, pada dasarnya pasti tidak mempengaruhi besar nilai balasan-Nya atas tiap amal-perbuatannya (pasti setimpal), maka "umat yang dikehendaki-Nya atas sesuatu hal, tentunya hanya jika umat itu sendiri memang menghendaki dan mengusahakan hal itu".

Penting pula diketahui dan dicermati, bahwa setiap kehendak-Nya justru melalui setiap proses yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', maka Allah justru tidak berbuat 'sekehendak' di alam semesta ini.

Baca pula uraian-uraian di atas, tentang sifat-sifat-Nya dan hakekat setiap perbuatan manusia.

"Kemudian Kami tundukkan kepadanya (Sulaiman), angin, yang berhembus dengan baik, menurut ke arah mana saja yang dikehendakinya," – (QS.38:36).

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a, apabila ia berdo'a kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." – (QS.2:186).

"… . Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur." – (QS.3:145).

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

2 Balasan ke Bab VI.A.3 Jalan-Nya yang lurus

  1. Ping balik: Manusia Dan Agama | saiful runardi

  2. Anonim berkata:

    sy mau menggarisbahawi kemusyrikan itu.. menurut kepercayaan nasrani Tuhan yesus atau yang disebut nabi isa menurut ajaran islam adalah anak Allah yang dikandung oleh roh kudus melali bunda Maria /mariam. Maria dikatakan perawan karena tidak pernah melakukan keintiman seperti manusia layaknya. kesuciannya masih tetap utuh sampai setelah yesus lahir dan itu melalui kuasa Yang ilahi.. karena dia adalah satu-satunya putera Allah yang tunggal maka Ia memiliki ketuhanan dalam dirinya yang telah Allah berikan… jadi semua agama itu baik adanya dan kalau memang anda adalah islam yang baik maka jangan sesekali memojokkan agama lain,, setiap punya ajarannya masing2 .. pertanyaan sy apakah anda sudah benar menguasai setiap ajaran-ajaran-Nya dalam alquran? jadi dulu mecari-cari kelamahn agama lain untuk kepentingan anda sendiri,,,sy juga belajar tentang agama islam.tentunya juga ada kekurangan ,itu menurut pandangan sy saya ..ia kan? jadikan lupakan sj anggapan2 yang mendiskriminasikan agama lain..

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s