Bab VII.C Nabi terakhir, untuk seluruh manusia

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah (hanya sekedar),
bapak dari seorang laki-laki di antara kamu.
Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.
Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(QS. AL-AHZAB:33:40).

"Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad),
melainkan kepada umat manusia seluruhnya,
sebagai pembawa berita gembira, dan sebagai pemberi peringatan,
tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui."
(QS. SABA':34:28).

 

VII.C.

Nabi Terakhir, untuk Seluruh Umat Manusia

Syarat kenabian, bisa menjawab semua persoalan umat

Salah-satu syarat penting bagi kenabian, adalah mestinya bisa menjawab berbagai persoalan umatnya ataupun kaumnya. Karena para nabi-Nya merupakan 'tokoh panutan' bagi seluruh umat kaumnya, dan dengan segala persoalannya, dengan cara menyampaikan pengajaran dan tuntunan-Nya bagi umat kaumnya tentang segala kebenaran-Nya. Bahkan juga secara 'tidak langsung' bagi seluruh umat manusia pada jamannya masing-masing, yang pada dasarnya juga bisa mengamalkan ajaran-ajaran dari para nabi-Nya. Sedang ajaran-ajaran ini pada tingkat hikmah dan hakekat kebenaran-Nya memang bersifat 'unversal'.

Walau tentunya tidak semua persoalan bisa langsung terjawab, namun ada yang memerlukan waktu untuk bisa mencapai pemahaman dan pendalaman atas persoalannya, disesuaikan pula dengan berbagai hikmah dan hidayah-Nya yang telah diperoleh para nabi-Nya, ataupun dengan berusaha mendapat hikmah dan hidayah-Nya (petunjuk-Nya), yang baru dari Allah.

Serupa halnya dengan seorang guru ketika berusaha menjawab pertanyaan dari para muridnya dengan terlebih dahulu mengumpulkan berbagai pengetahuannya tentang topik pertanyaan terkait, di samping dengan berusaha membaca buku-buku terkait. Juga seperti halnya tiap umat manusia biasa umumnya, dalam mengatasi persoalannya.

Tentunya 'buku' yang dibaca oleh para nabi-Nya justru berupa tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini (atau ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis). Justru secara bersamaan, bahkan ikut 'dibacakan' pula oleh malaikat Jibril kepada mereka, melalui berbagai bisikan pada alam batiniah ruh mereka (alam pikirannya). Dan proses 'pembacaan' inipun biasanya terjadi pada saat proses bertafakur, dalam berusaha mencari pengetahuan tentang berbagai kebenaran-Nya.

Batas manusiawi para nabi-Nya dalam menjawab persoalan

Sebagai perbandingan, nabi Muhammad saw yang hidup pada abad ke-7, dalam kaumnya yang relatif masih primitif dan sederhana kehidupannya dibanding umat modern saat ini, dan dengan persoalan kehidupan umatnya yang relatif belum terlalu rumit pula. Maka secara manusiawi, Nabi masih bisa memahami dan menjawab relatif hampir 'semua' persoalan umat, dari seluruh pelosok wilayah dan negeri.

Namun beberapa saat, amat dekat menjelang wafatnya, bahkan justru nabi Muhammad saw masih merasa amatlah sangat kuatir, atas nasib umatnya setelah sepeninggalnya nanti. Hal ini bisa tampak pada salah-satu dari kata-kata terakhir Nabi yaitu "Ya, umati… umati…" ("Ya, umatku… umatku…"), karena segala pengajaran dan tuntunan-Nya yang telah disampaikan sepanjang hidupnya, masih dirasakannya relatif belum cukup sempurna untuk menuntun seluruh umat manusia, dalam menghadapi berbagai persoalannya pada masa mendatang dan bahkan sampai akhir jaman.

Tentunya kata-kata terakhir dari Nabi itu lebih menunjukkan betapa amat tingginya rasa kasih-sayang Nabi, kepada seluruh umat-umatnya, khususnya karena dalam Al-Qur'an sendiri telah dinyatakan pula, bahwa "Al-Qur'an telah sempurna diturunkan-Nya". Maka fokus kekuatiran Nabi tersebut pada dasarnya bukan karena 'kandungan isi' keseluruhan ayat Al-Qur'an yang belum sempurna, tetapi justru karena 'bentuk penyampaiannya' yang dirasakannya belum sempurna. Hal ini justru bisa menyebabkan umatnya kurang bisa memahami segala hal yang disampaikannya, seperti halnya pemahaman Nabi sendiri (amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan saling tidak bertentangan). 96)

Sebagai tambahan dalam pemahaman pada buku ini, kata-kata terakhir dari Nabi itu juga bisa menunjukkan, betapa amat tingginya kekuatiran Nabi terhadap tingkat pemahaman umat atas ajaran-ajaran yang telah disampaikannya. Karena pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) di dalam dada-hati-pikiran Nabi, memang relatif berbeda daripada Al-Kitab (Al-Hikmah yang telah terungkap), seperti melalui: kitab suci Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Nabi.

Dan tentunya Nabi amat kuatir, apakah umat bisa memahami segala rahasia atau Al-Hikmah di balik hal-hal yang disampaikannya. Sedang kitab suci Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Nabi itu sendiri hanya berupa berbagai 'rangkuman', atas keseluruhan Al-Hikmah yang telah diperolehnya sepanjang hidupnya melalui perantaraan malaikat Jibril. Namun tentunya kitab suci Al-Qur'an (beserta sunnah-sunnah Nabi) tetap suatu mu'jizat ataupun suatu hasil pencapaian tertinggi yang bisa diperoleh seseorang anak manusia, sepanjang sejarah umat manusia di sepanjang jaman. Sekaligus sebagai bahan pengajaran dan tuntunan-Nya bagi seluruh umat manusia, sampai akhir jaman.

Baca pula uraian di bawah, tentang Al-Qur'an adalah hasil pemahaman maksimal atas berbagai kebenaran-Nya.

Kelengkapan ajaran para nabi-Nya

Bahwa tidak mengherankan, apabila ajaran-ajaran yang dibawa oleh para nabi-Nya makin lama makin lengkap, sejak dari nabi Adam as sampai nabi Muhammad saw, karena kehidupan umat kaumnya masing-masing memang relatif makin berkembang (dari segi kuantitas dan kualitas, lahiriah dan batiniah).

Secara alamiah mudah dipahami pula, apabila makin lengkap kandungan isi kitab-kitab-Nya sejak dari Zabur (nabi Daud as), Taurat (nabi Musa as), Injil (nabi Isa as), sampai yang terakhir, Al-Qur'an (nabi Muhammad saw), karena ajaran-ajaran dalam kitab-kitab tauhid itu memang ditujukan sebagai tuntunan yang lengkap bagi kehidupan umat kaumnya, walaupun tanpa adanya kehadiran langsung para nabi-Nya terkait di tengah-tengah umatnya. 93) & 97)

Bahkan kitab suci Al-Qur'an khususnya, kelengkapannya juga tampak dari lama waktu diturunkan-Nya yang hampir sepanjang hidup nabi Muhammad saw, sejak saat bisa mencapai puncak kemantapan kenabiannya pada usia sekitar 40 tahun, sampai beberapa tahun saat menjelang wafatnya pada usia sekitar 63 tahun, sedang wafatnya Nabi pada usia sekitar 66 tahun.

Sehingga Al-Qur'an justru telah sempurna setelah selama kira-kira 23 tahun diturunkan-Nya. Lama waktu ini juga relatif jauh lebih lama daripada ketika diturunkan-Nya kitab-kitab-Nya yang lainnya di atas (Zabur, Taurat dan Injil).

Al-Qur'an, pemahaman maksimal atas kebenaran-Nya

Secara sekilas, memang seolah-olah bisa tampak adanya unsur subyektifitas pada 'pernyataan secara eksplisit' dari nabi Muhammad saw, tentang kenabiannya yang terakhir dalam Al-Qur'an ("nabi bagi seluruh umat manusia" dan "nabi penutup atas seluruh nabi"). Selain dari uraian-uraian di atas, hal inipun bisa dipahami pula sebagai suatu hal yang justru amat alamiah, dimulai dari fakta bahwa kemantapan kenabiannya diperolehnya pada usia sekitar 40 tahun.

Pada usia sekitar 40-an tahun, setiap manusia pada umumnya telah mencapai kematangan batiniahnya (psikologis), sehingga pada usia ini telah memahami relatif hampir semua hakekat yang terkait dengan kehidupannya sendiri. Bahkan para nabi-Nya itupun telah bisa memahami, misalnya tentang: hakekat ketuhanan; hakekat dan tujuan dari penciptaan alam semesta, serta kehidupan manusia di dalamnya; hakekat ruh dan alam gaib; hakekat alam akhirat; dsb.

Selanjutnya pada saat melewati usia kematangannya itu, maka setiap manusia mulai lebih sempurna menerapkan pemahamannya itu ke dalam kehidupan pribadi, keluarga, lingkungan sekitar, dan dalam kehidupan karirnya. Serta pada usia sekitar 50-an tahun, ia telah bisa mencapai puncak karirnya. Lalu pada sekitar usia 60-an tahun, ia telah bisa mencapai kesempurnaan hidup sebagai seorang manusia (ia telah melihat anak keturunannya tumbuh dewasa, ataupun ia telah memiliki cucu-cucu).

Hal serupa ini yang terjadi pada nabi Muhammad saw, ketika usianya sekitar 63 tahun (ketika ayat-ayat Al-Qur'an telah sempurna diturunkan-Nya). Dan ketika usianya sekitar 66 tahun, Nabipun wafat. Padahal setelah melewati usia sekitar 60-an tahun, setiap manusia juga biasanya justru mulai menghadapi berbagai kemunduran lahiriah dan batiniah, sampai saat wafat pada usia rata-rata sekitar 60 s/d 70 tahun.

Sehingga kitab suci Al-Qur'an adalah 'hasil pencapaian' Nabi sepanjang hidupnya bagi seluruh umat manusia, dimana terjadi proses pembentukan dan pemantapan kenabian sejak masa kecil s/d berusia 40 tahun, dan proses penyampaian Al-Qur'an sampai saat menjelang wafatnya (selama 23 tahun). Juga sepanjang hidupnya, Nabipun amat konsisten mengabdikan dirinya bagi kepentingan umatnya, selain bagi umat-umat dalam kehidupannya sehari-hari, bahkan juga bagi seluruh umat manusia sampai akhir jaman, melalui usahanya yang amat keras dalam menyampaikan kitab suci Al-Qur'an, sebagai suatu pengajaran dan tuntunan-Nya yang amat lengkap bagi seluruh umat manusia, dan juga melalui segala contoh suri-teladannya bagi umat.

Dengan demikian kitab semacam kitab suci Al-Qur'an ini bisa disebut sebagai hasil pencapaian yang telah amat maksimal, yang bisa dicapai oleh seorang anak manusia di dalam kehidupannya, setelah ia berusaha memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini.

Kemustahilan atas turunnya nabi dan kitab tauhid baru

Lalu bisa timbul suatu pertanyaan, seperti "bagaimana tentang manusia modern yang mulai belajar dari Al-Qur'an, dan lalu telah bisa meneruskan langkah-langkah nabi Muhammad saw?". Di mana telah diketahui, adanya hal-hal semacam ini yang menjadi dasar-alasan bagi kemunculan sejumlah 'nabi baru', di samping dasar-alasan lainnya.

Lebih jelasnya misalnya, orang itupun telah menghapal, amat memahami dan mengamalkan seluruh kandungan isi Al-Qur'an pada usia tertentu. Kemudian sampai akhir hidupnya, dan berdasar berbagai 'bisikan' dari malaikat Jibril, ia bisa menyempurnakan kandungan isi Al-Qur'an, dengan ataupun tanpa membuat kitab suci baru.

Ringkasnya, ia telah memiliki sesuatu pemahaman yang amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan atas seluruh hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang dipahaminya, yang minimal telah serupa pemahaman yang dimiliki oleh nabi Muhammad saw, atas seluruh wahyu-Nya dalam Al-Qur'an. Tentunya hal ini pada dasarnya hanyalah sebagai sesuatu bentuk "contoh kemungkinan" saja, yang barangkali bisa saja terjadi pada suatu saat nanti.

Lalu pertanyaan di atas juga bisa dilanjutkan menjadi seperti, "pantaskah orang seperti itu bisa disebut 'nabi baru'?".

Jawabannya 'jelas: tidak', karena setiap kenabian mengandung beberapa syarat, prinsip ataupun konsep tertentu. Sedang relatif amat sulit bisa diterima akal-sehat jika ada nabi-nabi baru, yang misalnya:

Berbagai kemustahilan atas kemunculan 'nabi-nabi baru'

Bisa memahami dan menjawab secara relatif lengkap atas segala tantangan dan persoalan umat manusia pada jaman modern saat ini (khususnya), ataupun umat sampai akhir jaman (umumnya).

Padahal kelengkapan ini adalah salah-satu dari dasar dan syarat yang utama bagi sesuatu kenabian, agar bisa diikuti dan menjadi contoh suri-teladan dan panutan bagi umatnya.

Padahal segala aspek kehidupan umat manusia, sejak jaman nabi Muhammad saw sampai sekarang, telah jauh semakin kompleks dan luas bidang cakupannya, dari segi kuantitas dan kualitasnya, lahiriah dan batiniahnya.

Padahal mustahil ada manusia saat ini (termasuk nabi-nabi baru itu), yang memiliki kemampuan dan kapasitas, dalam menguasai segala aspek kehidupan umat manusia modern.

Padahal amatlah jarang profesor yang paling pintar saat ini, yang bisa menguasai banyak bidang keahlian-keilmuan, seperti halnya para ilmuwan pada jaman dahulu.

Padahal Al-Qur'an telah amat lengkap merangkumnya (terutama dalam segala persoalan batiniah, yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan seluruh umat manusia, serta menjadi tujuan utama dari diturunkan-Nya agama-agama tauhid).

Padahal hal ini hanya bisa diatasi oleh sesuatu majelis ulama ahli ijtihad dan ahli tafsir, yang telah bisa menguasai berbagai bidang ilmu-pengetahuan (ilmu agama dan non-agama), bukanlah hanya diatasi oleh seorang 'nabi baru'.

Bisa mengabdikan seluruh hidupnya bagi seluruh umat manusia, untuk menyampaikan pengajaran dan tuntunan-Nya, dari seluruh pengetahuan atau pemahamannya atas tanda-tanda kekuasaan-Nya yang telah diperolehnya. Juga sekaligus sambil memberikan contoh suri-teladan bagi umatnya.

Padahal di era globalisasi saat ini (hubungan antar manusia telah mencapai lintas negara dan benua), tentunya 'lingkup' umat bagi nabi baru, adalah seluruh umat manusia di Bumi

Padahal umat manusia modern pada saat ini, ataupun umat Islam khususnya, yang jumlahnya telah mencapai milyaran orang, dari ratusan negeri pada 5 benua, juga mestinya bisa dilayaninya.

Padahal dasar utama kenabian lainnya, adalah pengabdian yang amat konsisten dan utuh bagi umatnya, sebagai perwujudan atas pengabdiannya kepada Allah. Maka bukan hanya sekedar berupa suatu pemahaman dan keyakinan pribadi semata, dan bukan pula hanya bagi umat yang dekat di sekitarnya saja.

Bisa menyatukan seluruh umatnya nabi Muhammad saw (umat Islam), untuk bisa meneruskan ajaran-ajarannya.

Padahal tanpa kemampuan seperti itu, sama halnya dengan telah sengaja berusaha menghancurkan ataupun memecah-belah umat Islam (atau justru membawa berbagai kemudharatan baru).

Padahal para pemimpin umat ataupun ulama terkemuka yang ada saat ini (pada seluruh aliran pemahaman atas Al-Qur'an ataupun Sunnah Nabi), hanya berhasil menyatukan segelintir umat saja.

Bisa membawa risalah-risalah yang bisa 'lebih terang', daripada hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam Al-Qur'an, atas hal-hal mendasar bagi kehidupan umat manusia, yang telah diperoleh dan disampaikan oleh nabi Muhammad saw sepanjang hidupnya.

Padahal tiap manusia hanya bisa melihat 'wajah-Nya' yang sama di alam semesta ini (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya).

Padahal tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya (ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis) tersebut memang mustahil bisa dituliskan semuanya oleh manusia. Maka topik-topik 'di luar' hal-hal yang amat penting, mendasar dan hakiki, yang telah disampaikan oleh Nabi, lebih tepat disebutkan sebagai sesuatu pengembangan atau penafsiran baru atas ajaran-ajaran agama-Nya (agar aplikasinya sesuai perkembangan tiap jamannya). Sedang hal ini justru tidak perlu kemunculan nabi-nabi baru, jika mereka memang tidak bisa membawa berbagai hal baru yang relatif amat mendasar.

Padahal di balik teks ayat-ayat Al-Qur'an, ada berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, yang justru bersifat 'universal' dan relatif amat sulit terbantahkan, yang sama-sekali belum berhasil diungkap semuanya.

Terutama dengan masih adanya pertentangan pemahaman antar aliran-mazhab-golongan, walau hal ini memang juga bagian dari fitrah manusia, dalam cenderung saling berselisih.

Namun mestinya ada sesuatu aliran pemahaman yang bisa relatif memuaskan menengahi persoalan pemahaman pada semua aliran (pemahamannya relatif ideal atau relatif sulit terbantahkan, dari segala aspeknya).

Padahal untuk mengungkap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di balik teks ayat-ayat Al-Qur'an, menjadi tugas-amanat penting bagi umat Islam pada tiap jamannya (khususnya melalui Majelis alim-ulama), dengan menyusun bangunan pemahaman Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), yang relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan (relatif makin mendekati tingkat pemahamannya Nabi).

Lalu berdasar dari berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya itu, bisa dirumuskan berbagai penerapan aktualnya (berijtihad), yang sesuai segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umat, pada tiap jamannya.

Bukannya menghabiskan energi untuk membuat kitab-kitab suci baru (seperti halnya pada beberapa nabi baru).

Bisa menghilangkan segala ambisinya untuk bisa mendapatkan segala kenikmatan duniawi: kekayaan, kedudukan, kemasyhuran, kehormatan, kewibawaan, dsb, karena hal-hal ini memang bukan ciri khas para nabi-Nya, Bahkan nabi Muhammad saw misalnya, hidup dalam kezuhudan atau kesederhanaan.

 

Bahkan amat tidak wajar, apabila dalam kalangan umat Islam khususnya, bisa diakuinya kemunculan nabi-nabi baru (setelah nabi Muhammad saw). Apalagi jika nabi-nabi baru itupun hanya baru saja mendapat sesuatu suara 'bisikan' (berinteraksi terang-terangan dengan para makhluk gaib), namun telah berani langsung menyatakan dirinya sebagai 'nabi atau utusan-Nya'.

Padahal ada banyak umat manusia lainnya (Muslim atau non- Muslim), yang juga telah pernah mendengar suara 'bisikan' seperti itu, walau prosentasenya memang relatif amat sedikit, jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan umat manusia di dunia. Namun mereka ini justru tidak ikut menyatakan diri sebagai 'nabi atau utusan-Nya'.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang cara berinteraksi antara manusia dan para makhluk gaib.

Apabila nabi-nabi baru itupun hanya sekedar membawa bentuk penafsiran baru atas ayat-ayat Al-Qur'an, maka mereka ini lebih tepat disebut sebagai ulama ahli ijtihad dan ahli tafsir, bukan seorang 'nabi'. Apalagi jika mereka inipun menyampaikan ajaran-ajaran, yang justru bertentangan dengan berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalam Al-Qur'an, maka mereka juga bukan orang yang beriman.

Baca pula uraian-uraian di atas, tentang kelengkapan ajaran para nabi-Nya, khususnya terkait dengan kitab-kitab tauhid yang ada.

Gambaran teoretis tentang kenabian terakhir

Selain dari hal-hal di atas, berikut ini ditunjukkan pula sesuatu gambaran sederhana secara teoretis, tentang konsep kenabian terakhir (pada Gambar 37 berikut), dengan berdasar acuan utama, yaitu:

Para nabi-Nya mengemban tugas-amanat paling utama, untuk bisa melayani seluruh umat manusia dalam wilayah jangkauannya pada tiap jamannya masing-masing, sebagai wujud dari pengabdian diri mereka kepada Allah.
Jumlah seluruh umat manusia telah jauh makin bertambah, sedang jangkauan wilayah hubungan antar umat manusia juga makin luas (dalam era golobalisasi saat ini, meliputi hampir seluruh penduduk Bumi), yang mestinya juga bisa dilayani oleh seorang nabi.
Persoalan seluruh umat manusia tiap jamannya makin lama bahkan makin kompleks dan luas, sedangkan kehidupan umat manusia di jaman para nabi-Nya (dari jamannya nabi Adam as, sampai nabi Muhammad saw), justru masih relatif sederhana.
Tiap umat manusia pasti memiliki berbagai keterbatasan (termasuk pula seorang nabi), untuk bisa melayani seluruh umat manusia dan segala persoalannya, di masa sekarang dan masa mendatang.
Pengetahuan lahiriah manusia telah makin berkembang, sedangkan segala pengetahuan batiniahnya yang mendasar justru relatif tidak banyak berkembang atau berubah, sejak awal terciptanya manusia.

 

Gambar 37: Skema teoretis sederhana, kenabian terakhir

 

Keterangan gambar

Garis N (garis kenabian) atau garis T (garis jumlah persoalan umat )

Garis perkembangan jumlah semua persoalan (lahiriah dan batiniah) sesuatu kaum ataupun seluruh umat manusia, sejak nabi Adam as sampai akhir jaman. Garis inipun sesuai pula dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman suatu kenabian (garis kenabian), yang semestinya bisa dipakai untuk menjawab atau mengatasi hampir 'semua' persoalan yang amat mendasar dan hakiki.

Karena para nabi-Nya (dengan tingkat kenabiannya masing-masing), adalah tokoh-tokoh panutan bagi umat kaumnya, yang telah dianggap bisa menjawab semua persoalan umatnya itu. Dan sebaliknya, mereka tidak akan mau diakui sebagai "nabi utusan-Nya" oleh umatnya, jika ada beberapa saja persoalan umatnya yang amat mendasar dan hakiki, yang tidak bisa dijawabnya dengan cukup memadai atau memuaskan (secara langsung ataupun tidak).

Terkait dengan hal itu, bahwa kitab-kitab tauhid yang disampaikan-Nya melalui beberapa nabi-Nya itu merupakan pengajaran dan tuntunan-Nya yang lengkap bagi kehidupan umat, walaupun nabi-nabi yang terkait telah tiada atau wafat.

Tetapi pada suatu titik tertentu (titik B) garis kenabian − N tidak lagi berimpitan (menyatu) dengan garis jumlah persoalan umat − T.

Maka sampai suatu "titik atau masa tertentu", garis kenabian itupun pasti bisa berhenti, karena secara manusiawi, tiap manusia (termasuk pula para nabi-Nya) pasti ada memiliki segala keterbatasan kapasitas dan kemampuan dalam memahami dan mengatasi semua persoalan umatnya, yang sampai sekarang ini telah berkembang dengan relatif amat pesat.

Batas "masa tertentu" itu bisa pula dipahami dari ajaran dalam kitab-Nya yang tersusun sepanjang hidup nabi pembawanya. Sehingga jika masa penyusunan kitab-Nya itu telah mencapai usia rata-rata kematian tiap manusia, maka bisa dikatakan pula bahwa ajaran-ajarannya adalah hasil pemahaman paling tinggi dan lengkap yang bisa dicapai seorang manusia, atas tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta (berbagai kebenaran-Nya), sehingga kitab-Nya seperti ini dan nabi pembawanya adalah kitab dan nabi-Nya yang 'terakhir'.

Dan "masa tertentu" itulah yang membatasi kehadiran 'nabi-nabi baru' setelah aabi Muhammad saw, yang diyakini oleh umat Islam sebagai nabi 'terakhir' yang diutus-Nya untuk 'seluruh umat manusia'.

Al-Qur'an diturunkan-Nya, pada saat Nabi telah mencapai tingkat kematangan kenabiannya pada usia sekitar 40 tahun. Lalu Al-Qur'an sempurna diturunkan-Nya, pada saat Nabi berusia sekitar 63 tahun, menjelang wafatnya pada usia sekitar 66 tahun.

Maka Al-Qur'an telah diturunkan-Nya selama sekitar 23 tahun. Sedang telah diketahui pula, bahwa tidak ada kitab-kitab-Nya lainnya yang diturunkan-Nya lebih lama daripada Al-Qur'an.

Titik-titik N1, N2, …, Nn (titik batas atau puncak kemampuan tiap nabi-Nya)

Titik-titik yang berada pada garis N, adalah batas kemampuan atau kapasitas tiap umat manusia (pengetahuan lahiriah dan batiniahnya), dalam memahami dan mengatasi semua persoalan mendasar pada umat kaumnya (khususnya), atau seluruh umat manusia (umumnya) sesuai dengan jamannya, yang hanya dimiliki oleh para nabi-Nya (dengan tingkat pemahaman kenabiannya).

Misalnya: titik N1 / A : batas kemampuan nabi pertama (nabi Adam as)
titik Nn / B : batas kemampuan nabi terakhir (nabi Muhammad saw)

 

Para nabi-Nya adalah manusia yang berpengetahuan dan berkeimanan relatif paling tinggi di antara kalangan kaumnya. Dengan sendirinya nabi Muhammad saw sebagai nabi-Nya yang terakhir, juga berpengetahuan relatif lebih tinggi, lengkap ataupun lebih sempurna daripada para nabi-Nya lainnya.

Hal inipun sesuai dengan perkembangan jaman atau perkembangan kaumnya, dimana selisih waktu antara diturunkan-Nya seorang nabi terhadap seorang nabi berikutnya bisa sampai ratusan tahun. Misalnya selisih waktu antara nabi Isa as (nabi kedua terakhir) dan nabi Muhammad saw (nabi yang terakhir) ada sekitar 580 tahun, sehingga jelas bisa dibayangkan perubahan perkembangan masing-masing umatnya para nabi-Nya, yang telah relatif jauh berbeda pula.

Sedang umat manusia lainnya pada masing-masing jamannya, relatif berada di bawah titik-titik tersebut. Secara berurutan makin menurun kemampuannya, misalnya yaitu: dari para sahabat atau pengikut langsung nabi; para tabiin (sahabatnya para sahabat); para tabiit-tabiin (sahabatnya para tabiin); para wali, sampai manusia biasa pada umumnya.

Dan para nabi dan rasul-Nya itupun telah diutus-Nya agar bisa menyampaikan pengajaran dan tuntunan-Nya kepada umat kaumnya, ataupun bahkan kepada seluruh umat manusia. Dengan kata lain, secara sederhananya mereka telah menyampaikan berbagai pengetahuan (lahiriah dan batiniah) yang telah bisa dimilikinya kepada umat manusia lainnya, di samping sekaligus memberikan berbagai contoh pengamalan atas berbagai pengetahuannya tersebut.

Garis L (garis batas kemampuan seorang manusia)

Garis batas tertinggi kemampuan atau kapasitas pengetahuan (lahiriah dan batiniah) yang bisa dimiliki oleh seorang manusia, sesuai tiap perkembangan jamannya, dalam mengatasi seluruh persoalannya sendiri dan umat kaumnya.

Sehingga sejak dari jamannya nabi Muhammad saw sampai akhir jaman, kemampuan manusia dalam mengatasi keseluruhan persoalannya makin lama makin berkurang pula. Walau jumlah pengetahuannya sendiri memang terus-menerus bertambah, sesuai dengan perkembangan penemuan segala bidang ilmu-pengetahuan sepanjang masa.

Hal inipun amatlah sesuai dengan kenyataan, bahwa persoalan umat manusia tumbuh jauh lebih cepat daripada kemampuan tiap manusia dalam mengatasi seluruh persoalannya. Contoh sederhananya, umat manusia modern saat ini hanya menguasai sebagian spesialisasi bidang keilmuan tertentu saja.

Sehingga garis L ini juga suatu gambaran atas perkembangan pengetahuan pada nabi Muhammad saw, apabila 'diumpamakan' beliau masih hidup terus sampai akhir jaman.

Secara sederhananya, hal inipun bisa memberi suatu gambaran, bahwa nabi Muhammad saw yang juga sebagai seorang manusia biasa, dengan segala keterbatasannya. Sehingga secara manusiawi, Nabi juga tidak akan bisa lagi (tidak memiliki kapasitas), untuk menjawab seluruh persoalan umat manusia modern (lahiriah dan batiniah), terutama yang amat mendasar dan hakiki.

Daerah arsiran A1 (daerah kemampuan seorang manusia)

Daerah yang berada di bawah garis L, sekaligus pula di bawah garis N, justru berupa suatu daerah tempat posisi-posisi titik persoalan umat manusia, yang relatif 'telah' mampu dijawab hanya oleh 'seorang' manusia saja.

Di mana tiap titik itu justru hanya untuk bisa menunjukkan batas atau puncak maksimal kemampuan yang dimiliki seorang manusia, walau tidak diungkap lama waktu dari proses kemampuan itu bisa diperoleh. Misalnya titik Nn adalah gambaran kemampuan yang telah dimiliki oleh nabi Muhammad saw, setelah disempurnakan-Nya ajaran agama Islam yang disampaikannya (Al-Qur'an).

Daerah arsiran A2 (daerah di luar kemampuan seorang manusia)

Daerah yang berada di atas garis L (dan sekaligus pula di atas garis N), justru berupa suatu daerah tempat posisi-posisi titik persoalan umat manusia, yang relatif 'belum' bisa dijawab hanya oleh seorang manusia saja.

Akhirnya timbul pertanyaan, "bagaimana ajaran nabi Muhammad saw dalam kitab suci Al-Qur'an dan dalam berbagai Hadits Nabi akan bisa menjawab semua persoalan umat manusia sampai akhir jaman?".

Di dalam menghadapi hal ini, justru nabi Muhammad saw telah membukakan pintu Ijtihad (Ijma', Qiyas, Istihsan, dsb). Sehingga semua persoalan umat manusia modern semestinya bisa diatasi melalui suatu "majelis ulama" pada tiap jaman dan negeri, yang terdiri dari para ahli ijtihad atau ahli tafsir.

Baca pula topik "Pemahaman agama dan kitab tuntunan-Nya di jaman modern ini".

Kemustahilan atas turunnya nabi Isa as & Imam Mahdi

Berkaitan hal di atas, maka pemahaman tentang akan turunnya nabi Isa as ataupun Imam Mahdi pada akhir jaman, justru merupakan sesuatu kemustahilan. Bahkan kebangkitan "hidup kembali nabi Isa as pada Hari Kiamat", yang disebut dalam Al-Qur'an (bukan 'pada' akhir jaman, juga bukan 'dekat' sebelum akhir jaman), justru persis sama dengan kebangkitan tiap manusia lainnya pada Hari Kiamat.

Lebih khususnya lagi, bahkan sama dengan kebangkitan nabi Yahya as. Tetapi amat ironis dan anehnya, 'keistimewaan' nabi Yahya as ini justru amat jarang disebut-sebut. 98)

"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku (Isa) dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali"." – (QS.19:33).

"Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia (Yahya) dilahirkan, dan pada hari ia meninggal, dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali." – (QS.19:15).

 

Namun kebangkitan nabi Isa as pada Hari Kiamat itu memang memiliki sesuatu kekhususan, sehingga disebut secara khusus pula di dalam Al-Qur'an. Selain bertindak sebagai saksi bagi umatnya, seperti halnya para nabi-Nya lainnya, jauh lebih pentingnya lagi, nabi Isa as justru bertindak sebagai saksi bagi sebagian dari umatnya, yang telah 'menyekutukannya' dengan Allah (nabi Isa as dianggap Tuhan). 99)

Dengan sendirinya, sesuatu kemustahilan pula tentang adanya pemahaman, atas turunnya Imam Mahdi pada akhir jaman. Karena lahirnya pemahaman ini dalam kalangan umat Islam amat dipengaruhi dari adanya kekeliruan pemahaman atas turunnya nabi Isa as tersebut. Maka seolah-olah mestinya ada tokoh dari dalam kalangan umat Islam sendiri (Imam Mahdi), untuk bisa 'menyaingi' turunnya nabi Isa as, yang lebih dianggap sebagai milik dari umat Nasrani (agar umat Islam relatif bisa menyaingi kemenangan umat Nasrani pada akhir jaman).

Namun pemahaman atas kedatangan Imam Mahdi, selanjutnya justru telah menimbulkan efek yang amat buruk, yaitu banyak dipakai sebagai alat pembenaran atas kedatangan nabi-nabi baru (setelah nabi Muhammad saw), sampai akhir jaman. Padahal sesuatu pengkultusan atas makhluk justru amat ditentang dalam agama Islam. Seperti yang justru telah terjadi atas Imam Mahdi, yang bahkan terjadi sebelum ada orangnya dan belum diketahui wujudnya. Hal ini justru menimbulkan amat banyak mistis-tahayul lebih lanjut yang amat menyesatkan.

Ramalan atas kedatangan nabi Muhammad saw dalam Injil

Dengan kedalaman ilmunya atau petunjuk-Nya, tidak terlalu mengherankan jika dalam Injil, nabi Isa as memberi ramalan atas akan datangnya pembawa pengajaran dan tuntunan-Nya (nabi baru), yang bisa menjawab persoalan umat manusia dengan relatif lebih lengkap.

Sedang nabi Isa as sendiri menyadari, bahwa seluruh persoalan umat manusia 'di masa depan' justru makin kompleks (relatif terhadap jamannya sendiri), yang belum cukup untuk bisa diatasi hanya dengan ajaran-ajaran yang telah dibawanya, yang memang hanya khusus bagi kalangan Bani Israil. Apalagi kalangan Bani Israil itu sendiri bahkan telah amat keras menentang kehadirannya sebagai seorang 'nabi-Nya', dari usaha mereka dalam melakukan penyaliban atas nabi Isa as.

Hal yang relatif serupa pula (adanya ramalan atas kedatangan nabi baru, yang berikutnya), terjadi pada nabi Daud as melalui kitab Zabur, ataupun nabi Musa as melalui kitab Taurat. 100)

Alasan lain kemustahilan turunnya nabi Isa as & Imam Mahdi

Selain dari berbagai uraian di atas, kemustahilan atas turunnya nabi Isa as ataupun Imam Mahdi pada akhir jaman, sebagai pemimpin spiritual global untuk seluruh umat manusia, serta atas turunnya nabi-nabi baru (setelah nabi Muhammad saw), juga antara-lain karena:

Berbagai kemustahilan atas turunnya nabi Isa as &
Imam Mahdi, pada akhir jaman

a.

Nabi atau rasul-Nya adalah sosok yang bisa dianggap oleh para pengikutnya, sebagai manusia yang relatif sempurna (dibanding manusia lainnya), dan memiliki kedudukan sosial-politik yang relatif paling tinggi di lingkungan para pengikutnya. Apalagi mereka justru menjadi utusan Allah di muka Bumi (dunia). 101)

Hal ini justru amat mudah melahirkan 'kultus individu' kepada seorang nabi-Nya. Padahal ajaran agama Islam mengajarkan umat, agar jauh lebih memperhatikan kebenaran kandungan isi sesuatu ajaran (ayat) daripada siapa sosok pembawanya, walau sosoknya memang juga ikut menunjang hal-hal yang dibawanya (atau sosoknya menjadi contoh suri-teladan dan pengamalan langsung atas ajaran-ajarannya).

Di dalam agama Islam memang ada anjuran-Nya, agar umat bisa banyak mendo'akan (bersyalawat) dan memberi suatu penghargaan amat tinggi kepada para nabi-Nya, yang telah berjasa menyampaikan berbagai risalah kebenaran-Nya. Hal ini juga hanya semata agar bisa menjaga kemuliaan ajaran-ajaran mereka, justru bukan agar memuliakan sosok ataupun pribadi para nabi-Nya.

Pemahaman dari sekelompok umat yang menyakini atas kedatangan nabi Isa as dan Imam Mahdi pada akhir jaman, justru telah tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Islam itu sendiri, karena amat jelas tampak pengkultusan yang amat luar-biasa kepada mereka, yang amat diidamkan sebagaimana halnya mitos "ratu adil". Bahkan amat ironisnya, pengkultusan justru terjadi amat jauh sebelum mereka terbukti hadir ke dunia ini, dan sosoknyapun sama sekali belum diketahui.

Padahal pengkultusan atas makhluk telah susah-payah berusaha dihapus oleh nabi Muhammad saw sendiri, misalnya dengan mengharamkan umat Islam untuk menampilkan gambar sosok dirinya, bahkan juga mengharamkan atas semua gambar sosok manusia, hewan dan makhluk gaib. Begitu pula ada larangan untuk memakai aksesoris tubuh (kalung, gelang, dsb) yang menampilkan nama atau sosok Nabi, dan banyak lagi upaya lainnya semacam ini oleh Nabi.

Karena hal ini bisa berdampak amat buruk, seperti yang terjadi pada umat Nasrani, yang bahkan telah menganggap nabi Isa as sebagai Tuhan. Dan pada umat Nasrani atau jemaat Ahmadiah misalnya, juga selalu mempertontonkan foto ataupun sosok nabi Isa as dan Mirza Ghulam Ahmad.

b.

Arti 'akhir jaman' itu sendiri amat relatif dan sulit bisa ditentukan, karena hanya Allah Yang Maha mengetahui waktu kedatangan 'akhir jaman' itu (atau Hari Kiamat 'besar'), bahkan para nabi-Nya tidak ada yang tahu. Dan dalam Al-Qur'an ada digambarkan perbedaan kerangka waktu Allah dan manusia, misalnya disebut "sehari menurut Allah setara dengan ribuan tahun menurut manusia". 102)

Sehingga waktu kedatangan akhir jaman atau Hari Kiamat besar yang bisa disebut "tiba-tiba", "amat cepat", dsb, juga dalam kerangka waktu Allah, sehingga lebih bersifat 'simbolik'. Lebih pentingnya lagi, kedatangannya itupun juga pasti mengikuti sunatullah, seperti halnya pada penciptaan alam semesta selama "milyaran tahun".

Para nabi-Nya hanyalah mengetahui tanda-tanda saat sebelum kedatangan Hari Kiamat, yang lebih cenderung sebagai sesuatu peringatan dan pesan moral yang amat penting, agar umat amat berhati-hati dan berusaha semaksimal mungkin, agar bisa menghindari terjadinya hal-hal yang disebut pada tanda-tanda itu.

Ringkasnya, waktu saat kedatangan akhir jaman atau Hari Kiamat 'besar' itu sendiri justru tidak jelas. Lalu apa perlunya menunggu dan mengangankan sesuatu hal (Imam Mahdi), jika waktu kedatangan dan sosoknya saja tidak jelas.

Bahkan ada sebagian dari umat Islam yang berpendapat bahwa Hari Kiamat 'kecil' adalah saat kematian pada tiap umat manusia, sehingga makin mustahil atas turunnya nabi Isa as dan Imam Mahdi pada akhir jaman tersebut (Hari Kiamat 'besar').

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang pemahaman adanya Hari Kiamat 'besar' (akhir jaman, kematian seluruh umat manusia) dan Hari Kiamat 'kecil' (kematian tiap manusia).

"Mereka tidak menunggu, kecuali kedatangan Hari Kiamat kepada mereka, dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya." – (QS.43:66).

c.

Allah tidak menciptakan alam semesta, agar seluruh umat manusia menjadi beriman, amat mudah bagi Allah jika menghendaki hal demikian. Namun pada Hari Kiamat itu, tiap manusia justru dihisab dengan amat adil dan secara apa adanya sesuai segala amal-perbuatannya di dunia ini, lalu diberikan balasan-Nya yang amat setimpal. 103)

Sehingga amat tidak relevan atas adanya pemimpin global di akhir jaman, yang bisa meluruskan semua agama, ataupun yang bisa memenangkan orang-orang beriman atas orang-orang kafir.

Bahkan amatlah perlu ditanyakan, seperti apakah bentuk kemenangan yang diidamkan oleh sekelompok umat, yang akan dijanjikan dan dibawakan oleh pemimpin spiritual global itu?.

"… . Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi Allah hendak menguji kamu, terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada-Nya-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu, segala apa yang telah kamu perselisihkan tersebut," – (QS.5:48).

d.

Para nabi-Nya diutus-Nya dengan tujuan utama, agar bisa memberi pengajaran dan tuntunan-Nya bagi umat manusia, dan selanjutnya agar tiap umat juga bisa mendapat kemuliaan yang tinggi dan dekat di sisi-Nya pada kehidupan akhiratnya.

Hal inipun bahkan sama sekali tidak bertujuan, agar bisa memenangkan orang-orang beriman terhadap orang-orang kafir pada kehidupan dunia ini. 104)

"Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul-Kami hanyalah menyampaikan (petunjuk) dengan terang." – (QS.64:12).

"Jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah: 'Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab, terhadap apa yang kamu kerjakan'." – (QS.26:216).

"Katakanlah: 'Kamu tidak akan ditanya (bertanggung-jawab) tentang dosa yang kita perbuat, dan kami tidak akan ditanya (pula), tentang apa yang kamu perbuat'." – (QS.34:25).

"Dan ingatlah, ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: 'Sesungguhnya aku tidak bertanggung-jawab, terhadap apa yang kamu sembah," – (QS.43:26).

e.

Di jaman modern sekarang ini telah tidak ada lagi perang atau pertentangan agama, yang bersifat frontal dan tegas, seperti pada jaman perang salib. Biasanya hanya ada perang ideologi atau sistem nilai yang amat halus, yang lebih mengarah kepada adu otak, pendapat atau argumentasi. 105)

Bahkan hasil akhir dari pertentangan semacam inipun biasanya diserahkan kembali kepada keyakinan masing-masing, karena memang relatif amat sulit untuk bisa diilmiahkan atau diperdebatkan. Bahkan solusi akhirnya pada umumnya berupa, "untukmu agamamu, untukku agamaku" – (QS.109:6).

Peperangan pada kaum Muslim pada dasarnya hanya terjadi, jika ada suatu penganiayaan atau kezaliman yang amat berlebihan atas kaum Muslim, bukan hanya sekedar agar bisa meraih kemenangan lahiriah (seperti: luas wilayah, kekuasaan atau kejayaan, jumlah umat Islam, dsb).

Apakah pemimpin spiritual global itu ahli debat agama yang ulung, yang bisa menjawab segala persoalan ideologi ataupun agama di atas, agar bisa mengarahkan semua manusia modern kepada agama-Nya yang lurus dan terakhir (Islam)?.

f.

Umat manusia di jaman modern ini amat berbeda daripada umat di jamannya para nabi-Nya, yang relatif primitif dan sederhana, sehingga kekafiran di jaman modern ini relatif amat tidak kentara (bentuk dan pelakunya). Bahkan terbungkus dengan relatif amat rapi oleh nilai-nilai budaya global yang telah diakui oleh sebagian besar umat manusia, misalnya: hak asasi manusia (HAM), demokrasi, kapitalisme, dsb.

Bahkan orang-orang kafir terkadang bisa terlihat jauh lebih Islami daripada umat Islam sendiri, dalam hal-hal yang umum seperti: menjaga kebersihan; berkasih-sayang; saling menolong dan membantu orang-lain; bersedia mendengar orang-lain dan bertoleransi; sopan-santun; dsb.

Sehingga amat 'tidak manusiawi', jika persoalan kekafiran semacam ini bisa diatasi hanya oleh seorang manusia saja (pimpinan spiritual global itu).

Apakah pemimpin global itu ideolog yang ulung, yang bisa mengatasi tiap ideologi global, yang bersifat amat sekuler dan materialistik-duniawi?.

g.

Secara alamiah, telah tidak ada lagi pemimpin global di jaman modern ini, yang bisa diakui dan ditaati oleh banyak bangsa di dunia, apalagi tiap agama juga bisa memiliki banyak aliran yang memiliki pemahamannya masing-masing atas agamanya, beserta kepemimpinan umatnya masing-masing. 106)

Bahkan tidak ada sesuatu aliran yang bisa berhak mengaku paling benar dibandingkan aliran lainnya. Maka hampir mustahil ada pimpinan spiritual global yang bisa ditunjuk sebagai pimpinan bagi semua alirannya, dari sesuatu aliran tertentu atau bahkan dari kalangan non-aliran.

Kemenangan hakiki orang beriman, pada kehidupan akhiratnya

Bentuk kemenangan yang sebenarnya atau hakiki bagi orang yang beriman atas orang yang kafir pada dasarnya berupa kemampuan untuk menemukan makna yang sebenarnya tentang kehidupan dunia, lebih khususnya dengan mengikuti berbagai ajaran agama-Nya dalam rangka untuk membangun kehidupan akhiratnya masing-masing. Agar orang yang beriman bisa menjalani kehidupan dunianya dengan lebih bermakna dan benar, sekaligus bisa menjalani kehidupan akhiratnya di Hari Kiamat dengan mendapat kemenangan yang paling besar (Surga). Kemenangan pada kehidupan akhirat jauh lebih penting, mendasar dan hakiki daripada kemenangan pada kehidupan fisik-lahiriah-dunia yang justru amat sementara, semu dan mudah menyesatkan. 104) & 107)

Pemahaman secara mendalam atas hakekat kehidupan akhirat semestinya bisa dimiliki oleh orang yang beriman. Bahwa kehidupan akhirat itu berlangsung secara bersamaan (paralel), dengan kehidupan dunianya ini (bukan hanya di Hari Kiamat), karena kehidupan akhirat adalah kehidupan batiniah ruh tiap manusianya sendiri.

Apabila kehidupan akhirat itu justru bisa tertata dengan lebih baik, maka kehidupan dunia juga cenderung lebih teratur dan tercapai, walau dengan berbagai cara yang tidak melampaui batas, yang justru mendasari timbulnya tiap jenis perbuatan dosa, seperti: kemusyrikan, kezaliman, kekafiran, kemunafikan, kemungkaran, kesombongan dan riya, kefasikan dan kebohongan, kebatilan, dsb. 108)

Dalam sesuatu masyarakat yang telah melupakan ataupun tidak beriman kepada kehidupan akhirat, umumnya diakibatkan oleh amat kuatnya dominasi dari kehidupan duniawi, serta umumnya berbentuk masyarakat yang berbudaya sekuler-materialistik. Hal ini lalu ditandai dengan kehilangan berbagai nilai moral-batiniah-spiritual keagamaan, yang selanjutnya juga bisa menimbulkan berbagai penyakit sosial.

Berbagai penyakit sosial itu, misalnya: sex bebas (perzinahan massal), dan manusia ibarat obyek pemenuhan hawa nafsu; eksploitasi manusia atas manusia lainnya; kehilangan nilai-nilai tradisional dalam keluarga; tingkat bunuh diri dan kriminalitas yang amat tinggi; aborsi, perkawinan sejenis, pornografi dan perjudian merajalela; segala jenis hawa nafsu duniawi yang amat diperturutkan; dsb.

"Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk. …" – (QS.16:60).

"Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan (syaitan) itu, mereka merasa senang kepadanya, dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan." – (QS.6:113).

"Dan sesungguhnya, orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus).", "Andaikata mereka Kami belas kasihani, dan Kami lenyapkan kemudharatan yang mereka alami, benar-benar mereka akan terus-menerus terombang-ambing dalam keterlaluan mereka." – (QS.23:74-75).

"Apakah dia (orang kafir) mengada-adakan kebohongan tentang Allah, ataukah ada padanya penyakit gila?. (Tidak), tetapi orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, berada dalam siksaan dan kesesatan yang jauh." – (QS.34:8).

Pertanyaan lanjutan atas turunnya nabi Isa as & Imam Mahdi

Selanjutnya bagi sekelompok kalangan umat Islam yang telah menyakini, atas turunnya nabi Isa as ataupun Imam Mahdi pada akhir jaman, ataupun atas turunnya nabi-nabi baru, amat perlu diajukan pula beberapa pertanyaan berikut:

Berbagai keraguan tambahan atas turunnya nabi Isa as &
Imam Mahdi, pada akhir jaman

a.

Apakah perlu dan relevansinya bagi sekelompok kalangan umat Islam, yang berusaha menunggu kedatangan nabi Isa as ataupun Imam Mahdi yang begitu diidam-idamkan di akhir jaman, dalam kaitannya dengan ajaran-ajaran agama Islam yang ada saat ini?. Apakah ada sebagian ajaran agama Islam yang dianggap tidak sempurna, atau memang hanya sekedar ada kekurangan pada tataran penafsiran dan penerapannya di kalangan umat saja?.

Padahal kelompok itupun masih memeluk atau menyakini kebenaran ajaran agama Islam.

Padahal kelangsungan dan kemuliaan tiap ajaran agama Islam, sama sekali tidak berkaitan dengan turunnya mereka itu. Tegaknya agama Islam justru tergantung kepada tiap pribadi umat Islam itu sendiri, dalam berusaha mengkokohkan tiang-tiang agamanya pada dirinya sendiri ataupun pada lingkungannya (memberi pengajaran).

b.

Apakah tidak berlebihan menunggu kedatangan nabi Isa as dan Imam Mahdi di akhir jaman ataupun perlu adanya nabi-nabi baru, hanya untuk melakukan pembaharuan penafsiran atas Al-Qur'an dan Hadits, agar tetap bisa cocok untuk diterapkan sesuai dengan perkembangan jamannya?.

Padahal justru bisa dilakukan oleh sekelompok ulama ahli ijtihad dan ahli tafsir pada saat ini (dalam Majelis ulama), dan bahkan hampir mustahil bisa dicapai hanya oleh seorang manusia saja, karena seluruh persoalan umat manusia saat ini sampai pada akhir jaman, relatif amat luas dan kompleks.

Padahal masih amat banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang belum ditelaah dan dipahami pada tataran hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, dan bukan sekedar hanya pemahaman pada tataran tekstual-harfiahnya.

Padahal kriteria sesuatu kenabian amat tinggi bagi manusia biasa, dan juga memiliki implikasi yang amat penting dan luas bagi kehidupan para pengikutnya.

c.

Adakah pemimpin global yang bisa mengubah seluruh umat manusia di seluruh dunia, "sepanjang hidupnya"? (seperti halnya yang dianggap akan terjadi pada Imam Mahdi).

Padahal nabi Muhammad saw yang dianggap sebagai nabi yang terbesar sepanjang sejarah umat manusia, sepanjang hidupnya justru hanya bisa mengubah daerah jazirah Arab saja. Dan bahkan Islam lalu bisa berkembang ke seluruh penjuru dunia, justru setelah Nabi sendiri telah wafat.

Padahal pengakuan sebagian umat kaumnya atas Nabi sebagai utusan-Nya memerlukan waktu puluhan tahun, dan bisa mengubah daerah Arab juga dua puluhan tahunan. Belasan tahun pada awal kenabiannya, Nabi justru belum bisa diterima oleh masyarakat Mekah. Belasan tahun kemudian, setelah Nabi berhijrah ke Medinah dan menang pada sejumlah peperangan, baru Nabi bisa mengubah bangsa Arab.

d.

Apakah harapan kelompok itu terhadap kedatangan nabi Isa as ataupun Imam Mahdi, sebagai "ratu adil", yang diidamkan atau diharapkan di akhir jaman?.

Padahal diketahui pula, tiap manusia pasti memiliki segala keterbatasan dan kekurangan, termasuk tentunya pada nabi Isa as ataupun Imam Mahdi tersebut.

Padahal ada Allah Yang Maha adil dan Maha kuasa, sebagai tempat bagi tiap manusia untuk menggantungkan segala nasib dan harapannya, Yang pasti amat teliti perhitungan-Nya atau pasti amat adil hisab-Nya dan juga Yang telah menjanjikan balasan surga bagi orang yang beriman, sebaliknya neraka bagi orang yang kafir.

e.

Apakah sejarah ataupun nasib dari agama Islam tergantung kepada sejarah seorang umat manusia (Imam Mahdi), ataupun kepada ada turunnya Imam Mahdi pada akhir jaman? (seperti halnya agama Nasrani, kepada penyaliban dan kebangkitan Yesus).

Padahal segala proses diturunkan-Nya agama-Nya yang lurus, justru sama sekali tidak terkait dengan sejarah umat manusia (termasuk para nabi-Nya), bahkan menyatu dengan Fitrah Allah ataupun segala kehendak-Nya bagi alam semesta ini.

Para nabi-Nya adalah umat-umat yang justru 'kebetulan' telah memahami ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis yang ada di alam semesta ini, dengan relatif jauh lebih sempurna dibandingkan seluruh umat kaumnya pada tiap jamannya masing-masing. Segala pemahaman masing-masing para nabi-Nya telah tersusun relatif 'sempurna' (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan).

Sehingga tidak terlalu mengherankan, jika dasar-dasar pokok ajaran para nabi-Nya bisa 'sama' (terutama tauhidnya "Tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa"), karena ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di alam semesta (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya), yang mereka pelajari juga relatif 'sama'.

Proses perolehan pemahaman pada para nabi-Nya, bahkan berlangsung amat alamiah dan lama (relatif sepanjang hidup mereka), bahkan para alim-ulama dan umat-umat biasa pada saat inipun, relatif belum tentu telah memiliki pemahaman atas agama-Nya yang lurus, seperti yang telah dimiliki oleh para nabi-Nya.

Sesuatu kemustahilan dan tahayul yang amat luar biasa, jika seorang Imam Mahdi bisa memiliki kemampuan seperti para nabi-Nya, secara tiba-tiba begitu saja. Apalagi jika nasib agama Islam justru dianggap amat tergantung kepadanya.

f.

Apakah ada disebut 'Imam Mahdi' dalam Al-Qur'an? ('tidak ada').

Padahal gambaran tentang turunnya Imam Mahdi itu justru amat luar-biasa, dan seolah-olah ikut menentukan nasib agama dan umat Islam (pada poin e di atas). Jika hal itu benar, maka hal yang dianggap amat penting seperti ini tentunya mestinya juga tercantum secara eksplisit, jelas dan bahkan berulang-ulang dalam Al-Qur'an.

Pengutusan nabi terakhir, proses alamiah

Telah bisa disimpulkan, bahwa pernyataan di dalam Al-Qur'an tentang nabi Muhammad saw sebagai nabi yang terakhir untuk seluruh umat manusia, adalah hal yang amat alamiah dan wajar, bahkan bukan semata-mata hanya suatu pengakuan dan keyakinan subyektif sepihak, dari para nabi-Nya sendiri (khususnya nabi Muhammad saw), ataupun dari masing-masing pengikut dari para nabi-Nya ataupun umat agama tertentu (khususnya Islam), tanpa berbagai dasar alasan yang jelas.

Bahwa nabi Muhammad saw adalah nabi dan rasul-Nya yang terakhir, atau nabi penutup dari keseluruhan para nabi-Nya, sejak nabi Adam as. Bahwa segala proses diutus-Nya nabi Muhammad saw bagi keseluruhan umat manusia, juga melalui aturan-Nya (sunatullah) yang bersifat amat alamiah. 109)

Baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)".

Sehingga segala mistis-tahayul tentang hal-hal ini, semestinya justru bisa makin dihilangkan, atau bahkan bisa dihapus, karena segala mistis-tahayul ini justru amat merusak proses pengajaran atas agama Islam dan kitab suci Al-Qur'an. Terutama karena umat Muslim sendiri dan umat non-Muslim justru bisa bersikap 'antipati' atas segala bentuk pengajaran semacam itu, yang memang sulit bisa diterima oleh akal-sehatnya.

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah (hanya sekedar), bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." – (QS.33:40).

"Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira, dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." – (QS.34:28).

"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu (Muhammad), maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi." – (QS.4:79).

 

"… Dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi, atas seluruh umat manusia. …" – (QS.16:89).

"Dan berjihadlah kamu (hai orang-orang yang beriman) di jalan-Nya, dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam (ber)agama, suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian (sebagai) orang-orang muslim, dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini, supaya Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu, dan supaya kamu semua menjadi saksi atau segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." – (QS.22:78).

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

10 Balasan ke Bab VII.C Nabi terakhir, untuk seluruh manusia

  1. Anonim berkata:

    :)suatu pelajaran buat saya..terimah kasih

  2. Ping balik: Manusia Dan Agama | saiful runardi

  3. Anonim berkata:

    Ya Allah, setelah membaca tulisan ini jangan kau buat aku berpaling dari hadits nabi-Mu, Sungguh, Bukhari benar, Muslim benar, Tarmidzi benar, dan juga imam-imam yang Engkau beri hidayah benar. Engkau beri hidayah siapa-siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau sesatkan siapa-siapa yang Engkau kehendaki. Sungguh, Engkau maha berkuasa atas segala sesuatu. Amin.

    • Syarif Muharim berkata:

      Subhanallah,

      Hal-hal yg termuat dalam artikel di atas, lahir berdasarkan keyakinan saya pribadi, dari hasil mengkaji Al-Qur’an dan Hadits. Dan saya merasa wajib menyampaikannya.
      Namun tentunya saya tidak bisa memaksakan pemahaman / keyakinan saya tsb, kepada umat Islam lainnya. Silahkan tiap umat memilih dan menganut, apa2 yg sesuai dengan pemahaman / keyakinannya masing2.

      Selain itu, penolakan saya terhadap Paham Mahdiyyah, juga didukung oleh:
      – Keterangan2 tentang Imam Mahdi tidak terdapat dalam Al-Qur’an.
      – Keterangan2 tentang Imam Mahdi tidak terdapat dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.
      – Hadist2 Mahdiyyah penuh kontroversial (saling berbeda / berragam isinya, antar sumber yang berbeda).
      – Paham Mahdiyyah semula muncul dari kalangan Syi’ah.
      – Paham Mahdiyyah bukan berasal dari ucapan Anas Ibn Malik, ataupun Hasan al-Basri.
      – Beberapa ulama yg menolak paham Mahdiyyah, seperti: ‘Ibn
      Khaldun, Syaikh Muhammad Darwisy, Sayid Rasyid Ridha, Muhammad Farid Wajdi, dsb.
      – Paham Mahdiyyah amat dipengaruhi oleh berbagai kepentingan politik dari tiap kelompok umat.
      – Paham Mahdiyyah amat kuat mengandung tahayul dan khultus individu thd Imam Mahdi.
      – Dsb.

      Ulasan yang cukup lengkap tentang Imam Mahdi, bisa dibaca pada http://media.isnet.org/islam/Mahdi/index.html.

      Namun bgmnapun, sgla kesempurnaan dan kebenaran pasti hanya semata milik Allah. Sdgkan sgla kekhilafan, kekurangan, kekeliruan, kesalahan dan keterbatasan pasti hanya semata milik makhluk2 ciptaan-Nya, termasuk saya pribadi.

      Wallahu a’lam… Salam…

  4. Thepeace Zq berkata:

    “dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam (ber)agama, suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim..” salam saudara, apakah yang dimaksudkan dengan petikan ini ?

  5. Rinal berkata:

    Anda tidak yakin hadits rasul SAW?padahal perintah taat kpd rasul (sunnah) disebut di quran.apakah tata cara,bacaan dll shalat seluruh umat islam tidak mengikuti sunnah hadits?apakah quran menerangkan cara salat,puasa,zakat dll?

    Thepeace zq : belajar tasfir quran itu hrs dg ulama yg lbh mengerti, biar ga salah tafsir, insyaallah ulama selalu memegang dalil nash yg shahih.allahualambisawab

  6. anonim berkata:

    Al mahdi itu bukan nabi terakhir tp al mahdi meneruskan kembali syariat dan sunnah rasul.banyak hadits yg berkata diakhir jaman isa bin maryam akan turun menyadarkan umat nasranì dan shalat di belakang al mahdi kurang tahu hadits itu dhoif atw shaih

    • Syarif Muharim berkata:

      Betul, memang seperti itulah keterangan terkait al-Mahdi yang berkembang luas.
      Juga Al-Mahdi itu memang bukan Nabi Terakhir, tapi sengaja dimasukan ke sub-bab “Nabi Terakhir” ini, krn ada sedikit keterkaitannya. ….. Salam….

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s