Bab II Hakekat penciptaan

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi,
untuk kamu (hai manusia).
Dan Dia berkehendak (menciptakan) langit,
lalu dijadikan-Nya tujuh langit!.
Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."
(QS. AL-BAQARAH:2:29).

"Dan Dialah yang menjadikan kamu (hai manusia)
(sebagai) penguasa-penguasa (khalifah) di bumi.
Dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat.
Untuk mengujimu, tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Sesungguhnya Rabb-mu amat cepat siksaan-Nya.
Dan sesungguhnya, Dia Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang."
(QS. AL-AN'AAM:6:165).

 

II.

HAKEKAT PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

Tujuan utama penciptaan alam semesta, pengujian khalifah-Nya

'Hakekat utama' dari penciptaan seluruh alam semesta ini oleh Allah, adalah perwujudan dari Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji Allah, seperti: Maha Esa, Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Sempurna, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dsb), yang tergambar pada nama-nama terbaik yang hanyalah milik Allah (Asmaul Husna), yang banyak disebut dalam kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi.
Penjelasan terhadap penciptaan seluruh alam semesta ini, dan diturunkan-Nya agama-Nya, sebagai sesuatu perwujudan dari Fitrah Allah, dapat dilihat pula pada "Gambar 1: Diagram tujuan penciptaan alam semesta", pada "Gambar 2: Diagram umum penciptaan alam semesta" dan pada "Gambar 33: Diagram hubungan Fitrah Allah dan agama Islam". 4)

Adapun wujud 'tujuan utama' dari adanya penciptaan seluruh alam semesta, adalah adanya proses penciptaan manusia dan berbagai 'proses penggodokannya'. Dan pemilihan manusia oleh Allah sebagai khalifah-Nya (penguasa) di dunia ini (di muka Bumi), adalah sesuatu bentuk ujian-Nya bagi manusia. Di mana dunia fana ini sebagai suatu 'tempat pengujian' bagi tiap umat manusia (kawah penggodokannya).
Ujian-Nya itupun bertujuan untuk mengetahui, siapakah yang "beriman dan bertaqwa" kepada Allah, Sang Pencipta alam semesta ini?, atau siapakah yang mau mengikuti "jalan-Nya yang lurus"?, atau siapakah yang telah bisa memanfaatkan segala nikmat kebebasan dan kekuasaannya sebagai khalifah-Nya itu dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan keredhaan-Nya?. 5)

Karena adanya berbagai ujian-Nya dalam penciptaan manusia itu (proses penggodokan manusia), maka dalam Al-Qur'an disebutkan "penciptaan langit dan bumi, lebih besar daripada sekedar penciptaan manusia" – (QS.40:57). Sehingga bukan hanya sekedar diciptakan-Nya tubuh fisik-lahiriah manusia semata, tetapi ada pula tujuan utama yang amat sangat penting, di balik penciptaan manusia dan alam semesta itu sendiri. Di mana jika manusia bisa cukup baik mengatasi ujian-Nya di dunia ini, maka atas ijin-Nya, ia bisa mendapat segala kemuliaan, dan jika sebaliknya, ia justru bisa mendapat segala kehinaan.

Sedangkan penciptaan segala zat ciptaan-Nya lainnya di alam semesta (selain manusia), adalah untuk bisa mendukung pelaksanaan proses penggodokan seluruh umat manusia, mendukung berjalannya kehidupan di dunia, serta sekaligus pula sebagai suatu bahan pelajaran dan petunjuk yang amat sangat berlimpah bagi manusia. 6)

Pada akhirnya, keputusan-Nya tentang hasil akhir dari proses penggodokan manusia pasti akan diberikan-Nya di Hari Kiamat, yaitu siapa yang dianggap-Nya telah 'lulus ujian-Nya', ataupun yang tidak?, ataupun siapa yang akan diijinkan-Nya agar bisa hidup kekal di Surga (dengan segala kemuliaannya), dan sebaliknya siapa yang hidup kekal di Neraka (dengan segala kehinaannya)?. 5)

Kehendak Allah dalam penciptaan alam semesta

'Skenario sederhananya' menurut pemahaman pada buku ini, Allah Yang memiliki segala kemuliaan dan kekuasaan, berkehendak menciptakan suatu zat makhluk-Nya yang bisa mengenal Allah, Yang telah menciptakannya dan Yang Maha gaib (Maha tersembunyi). Juga sekaligus Allah berkehendak menunjukkan tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya kepada zat makhluk-Nya tersebut. Di dalam hal ini zat makhluk-Nya tersebut adalah 'manusia'.
Sedangkan kehendak-Nya tersebut mustahil bisa terwujud, jika makhluk yang akan diciptakan-Nya itupun pasti tunduk, patuh dan taat kepada Allah. Karena hal itu akan amat mudah dipahami dan dikenal oleh segala jenis zat makhluk-Nya, jika jelas-jelas diketahuinya bahwa ada 'Suatu' Yang Maha berkuasa, Yang mengendalikannya atau pasti harus ditaatinya (seperti, tiap bentuk balasan-Nya relatif 'amat jelas').
Selain itu, kehendak-Nya juga mustahil terwujud, jika makhluk tersebut berada di alam yang sama dengan Allah (alam gaib atau alam akhirat). Lebih tepatnya, makhluk tersebut mestinya berada pada alam yang memiliki berbagai keterbatasan dan kekurangan. Tiap kemuliaan dan kekuasaan-Nya mustahil akan benar-benar bisa tampak jelas dan sempurna, jika segala sesuatu zat makhluk-Nya pasti tunduk kepada-Nya. Tiap kemuliaan dan kekuasaan-Nya itu semestinya hanya akan amat 'nyata dan sempurna' terbukti, jika bisa dikenal oleh sesuatu zat makhluk-Nya, yang mulai bisa mengenal Allah dari titik "nol" (sejak dilahirkan atau dihidupkan-Nya, hanya ada fitrah-fitrah dasar minimal, untuk bisa mencari dan mengenal Allah, ataupun tiap kebenaran-Nya).

Atas kehendak-Nya pula manusia mestinya makhluk yang bisa memiliki kebebasan secukupnya, di dalam berkehendak dan berbuat, mestinya berada pada alam yang lain (alam nyata), dan mestinya juga memiliki kemampuan secukupnya, agar bisa mengenal Allah (fitrah-fitrah dasarnya). Serta diciptakan-Nya alam semesta dan segala isinya ini, sebagai bahan pelajaran yang amat berlimpah-ruah bagi manusia.
Pada tiap ruh manusia juga telah diciptakan-Nya 'akal' (sarana pengetahuan atau kecerdasan untuk bisa memilih) dan 'nafsu' (sarana semangat atau keinginan untuk bisa berkembang). Segala kebebasan dan kekuasaan yang hanya diberikan-Nya bagi manusia seperti itulah (lebih sempurna daripada segala makhluk-Nya lainnya), hakekat dari terpilihnya manusia sebagai khalifah-Nya di muka Bumi ini.

Dengan sendirinya Allah telah melalukan segala hal, agar bisa memperkenalkan diri kepada makhluk ciptaan-Nya yang baru tersebut (manusia), dengan menunjukkan Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji, murni dan sebenarnya pada Allah), secara 'amat sangat halus'. Namun selalu pasti terjadi ('mutlak') dan pasti konsisten ('kekal'), melalui segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di seluruh alam semesta ini. Sesuatu zat mustahil bisa dikenal sifatnya, jika segala hal tentang zat itu justru berlaku tidak konsisten dan tidak pasti, apalagi tentang Zat Allah.

Dengan sendirinya tentunya, kehadiran Allah mestinya tampak 'amat sangat halus' bagi tiap umat manusia, agar kehendak-Nya dalam penciptaan manusia bisa terwujud (untuk bisa menguji keimanannya). Maka pada dasarnya manusia diciptakan-Nya dengan tujuan utamanya agar ia bisa mengenal Allah Yang telah menciptakannya, ataupun bisa mengetahui berbagai kemuliaan dan kekuasaan-Nya. Lalu agar ia bisa kembali dekat ke hadapan 'Arsy-Nya, dengan mengikuti "jalan-Nya yang lurus", sebagai keredhaan-Nya bagi kemuliaan manusia sendiri.
Dengan cara yang 'amat sangat halus', Allah memberikan pula segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya bagi umat manusia, agar bisa memahami 'jalan-Nya yang lurus' tersebut (terutama melalui para nabi atau utusan-Nya), agar manusia tidak kehilangan arah-tujuannya, saat menjalani kehidupannya di dunia ini. Pengajaran-Nya yang paling dasar adalah ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis yang terdapat di seluruh alam semesta ini (atau tanda-tanda kekuasaan-Nya), sedang tuntunan-Nya yang paling dasar adalah hati-nurani pada tiap namusia.

Setelah selesai diciptakan-Nya alam semesta, maka Allah lalu kembali ke 'Arsy-Nya. Menurut pemahaman pada buku ini, penciptaan itu sendiri awalnya berwujud penciptaan segala ketetapan-Nya (segala 'perangkat lunak', non-zat ciptaan-Nya) bagi alam semesta ini. Lalu diikuti pula dengan penciptaan tak-terhitung jumlah, jenis dan sifat zat paling elementer penyusun seluruh alam semesta ini, yaitu: 'Atom' (nyata, benda mati) dan 'Ruh' (gaib, makhluk hidup).
Sedangkan segala proses dan kejadian yang selanjutnya (segala kehendak, perbuatan atau tindakan-Nya di alam semesta ini), adalah melalui sunatullah, yang juga salah-satu dari ketetapan-Nya yang telah ditetapkan-Nya sebelum penciptaan zat-zat elementer di alam semesta. Di mana pelaksanaan sunatullah itu dikawal oleh tak-terhitung jumlah para malaikat, dengan tugasnya masing-masing dalam melaksanakan segala urusan Allah di alam semesta. Termasuk menyampaikan segala pengajaran dan tuntunan-Nya (wahyu-Nya) kepada para nabi-Nya.

Pada dasarnya seluruh alam semesta ini justru berjalan secara otomatis, dengan mengikuti segala aturan atau rumus proses kejadian (aturan-Nya atau sunatullah), yang Maha sempurna dan lengkap, yang tidak pernah berubah-ubah sampai akhir jaman. Dan sunatullah itupun mengatur segala sesuatu proses, sesuai dengan segala keadaan tiap zat ciptaan-Nya, dari keadaan yang statis (menetap pada zat ciptaan-Nya) sampai keadaan yang dinamis (yang dipilih oleh para makhluk hidup), dari lahiriah sampai batiniah, dari materi sampai ruh, dari makhluk hidup nyata sampai makhluk hidup gaib, dsb.
Dengan hanya bermodal akal dan nafsunya, tiap manusia bisa memahami segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya, bisa mencari jalan-Nya yang lurus, serta bisa berusaha memilih keadaannya, untuk menperoleh takdir-Nya yang lebih diredhai-Nya, agar kehidupannya di dunia tidak sia-sia, seperti usaha sangat keras para nabi-Nya dalam memahami berbagai kebenaran-Nya. Sedang manusia biasa lainnya telah amat dipermudah, dengan cukup hanya mengikuti ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh para nabi-Nya. Umat tidak harus benar-benar memahami segala kebenaran-Nya secara lengkap dan mendalam untuk bisa mengikuti agama-Nya. Tentunya makin baik jika umat bisa pula memiliki pemahaman yang makin memadai tentang agama-Nya.

Sunatullah, Sunnah Allah dalam penciptaan alam semesta

Bahwa "sunatullah" (Sunnah Allah, hukum-Nya, aturan-Nya atau ketentuan-Nya), adalah wujud dari segala kehendak dan tindakan-Nya di alam semesta ini. Karena dalam berkehendak atau bertindak, Allah mustahil berlaku melanggar aturan-Nya (sunatullah), yang telah ditetapkan-Nya sendiri, sejak 'sebelum' penciptaan alam semesta ini. Sunatullah telah tercatat pula pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung. Serta sunatullah tidak akan berubah-ubah dan pasti tetap berlaku, sejak ditetapkan atau dicatatkan-Nya, sampai akhir jaman. 7)

Segala kehendak-Nya dalam hal penciptaan alam semesta dan segala isinya ini, terutama dalam hal penciptaan manusia, juga pastilah selalu mengikuti sunatullah tersebut (berupa segala aturan atau rumus proses tertentu). Pada kerangka ini pulalah bagi penafsiran firman-Nya "jadilah", saat Allah menciptakan alam semesta ini, beserta kehidupan manusia di dalamnya (sekitar 6 – 7 milyar tahun). Maka kata "jadilah" itu sama sekali tidak menggambarkan sesuatu proses, yang "langsung jadi" (seperti sulap). Kata "jadilah" itu hanya untuk 'meringkas', suatu proses penciptaan yang amat rumit dan panjang, untuk bisa dijelaskan dengan lisan dan tulisan. Penciptaan manusia misalnya memerlukan waktu sekitar 9 bulan, juga dengan berbagai tahapan yang cukup rumit (dari atom, tanah, benih induknya, janin, orok sampai menjadi bayi).
Dan jika penciptaan alam semesta ini disebut "6 hari" dalam Al-Qur'an, maka lebih tepat jika ditafsirkan sebagai "6 tahapan" atau "6 hari menurut Allah" (bukan 6 hari menurut ukuran manusia).

Tidak ada kejadian di alam semesta ini dari segala perbuatan-Nya, yang terjadi tiba-tiba begitu saja (seperti sulap), melainkan justru melalui segala proses yang "pasti dan jelas". Hanya saja masalahnya, manusia pada dasarnya tidak bisa memahami semua rumus prosesnya, sehingga seolah-olah "tidak pasti dan tidak jelas". Bagi segala proses yang 'belum' bisa diungkapkan dan dijelaskan oleh manusia, biasanya disebutkan sebagai "hanya ilmu dan rahasia Allah". 8)

Gambar 1: Diagram tujuan penciptaan alam semesta

Gambar 2: Diagram umum penciptaan alam semesta

Gambaran umum tujuan penciptaan alam semesta

Pada Gambar 1 di atas digambarkan secara relatif sederhana tentang tujuan penciptaan alam semesta ini, yaitu agar Allah menguji keimanan manusia, serta pada Gambar 2 digambarkan tentang segala tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini, sebagai perwujudan dari Fitrah Allah. Hal paling kentara dari Gambar 1 itu adalah, adanya pemisahan yang amat tegas antara 'khalifah-Nya'(manusia) dan 'non-khalifah-Nya' (zat-zat ciptaan-Nya selain manusia). Orientasi tegas ini berdasar pada berbagai uraian di atas, bahwa 'manusia' adalah fokus yang paling utama dari tujuan diciptakan-Nya alam semesta ini.

Sehingga segala zat ciptaan-Nya selain manusia 'hanya' sarana bagi Allah, untuk bisa: menguji manusia (secara lahiriah dan batiniah), bisa mendukung kehidupannya di dunia ini, serta bahan pelajaran dan petunjuk yang amat berlimpah-ruah bagi umat manusia. Hal ini tentu saja agar tiap manusia bisa mencari dan mengenal Allah, dan juga bisa memahami tujuan diciptakan-Nya alam semesta ini.

Sedang Gambar 2 di atas lebih berkaitan dengan gambaran atas hubungan antara Fitrah Allah, dengan tujuan umum penciptaan alam semesta ini. Di mana Fitrah Allah itu 'tercermin' melalui tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya, yang ada di seluruh alam semesta ini.

Penutup tentang hakekat dan tujuan penciptaan alam semesta

Berdasar uraian-uraian di atas telah bisa disimpulkan, bahwa hakekat dan tujuan dari penciptaan alam semesta ini, pada dasarnya sesuatu kehendak-Nya untuk bisa menunjukkan segala kemuliaan dan kekuasaan-Nya kepada segala makhluk-Nya di alam semesta ini.
Lebih utama lagi kepada manusia, yang telah ditunjuk ataupun dipilih-Nya sebagai khalifah-Nya di dunia (dengan berbagai kelebihan dan kekuasaannya). Di lain pihak, melalui penunjukan itu justru Allah hendak menguji keimanan tiap manusia, dengan segala bentuk ujian-Nya di dunia fana ini (lahiriah dan batiniah), agar ia bisa mencari dan mengenal Allah Yang sebenarnya menciptakannya, dan mengadikan hidupnya demi mendapat keredhaan-Nya, dengan cara mengikuti tiap pengajaran dan tuntunan-Nya melalui ajaran-ajaran dari para nabi-Nya bagi keselamatannya pada kehidupan dunia. Serta agar ia bisa kembali amat dekat ke hadapan 'Arsy-Nya, dengan mendapat limpahan segala kemuliaan dan hidup kekal di Surga pada kehidupan akhiratnya.

Maka segala zat ciptaan-Nya selain manusia, yang ditugaskan-Nya untuk bisa menguji keimanan manusia, mendukung berjalannya kehidupan manusia di dunia ini, ataupun sebagai bahan pelajaran bagi manusia, pada dasarnya mereka telah mendapat segala kemuliaannya, langsung dari sisi-Nya. Sedangkan manusia mestinya mencari sendiri kemuliaannya dengan berbagai nikmat dan kelebihan yang justru telah diberikan-Nya. Walaupun manusia juga bisa jauh lebih mulia, ataupun sebaliknya bisa jauh lebih hina, dari segala zat ciptaan-Nya lainnya.

Sehingga adanya penciptaan alam semesta inipun, justru suatu alat-sarana bagi segala zat ciptaan-Nya selain manusia untuk bisa pula menunjukkan segala ketundukan, ketaatan dan kepatuhannya kepada Allah. Apalagi mereka itupun telah memahami atau mengetahui pula secara langsung atas berbagai bukti kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta (dimana para makhluk gaib 'diumpamakan' telah bisa melihat langsung Allah di Surga).
Allah Maha Adil kepada segala zat ciptaan-Nya (dari makhluk hidup sampai benda mati, dari makhluk hidup nyata sampai makhluk hidup gaib, dari malaikat sampai iblis, dari sel sampai manusia, dari benda nyata sampai benda gaib, dari atom sampai bintang, dsb), sesuai dengan 'tugas-amanat' dan 'amal-perbuatannya' masing-masing.

"Dan kamu (hai Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat, berkumpul di sekeliling 'Arsy, bertasbih sambil memuji Rabbnya. dan diberi putusan di antara hamba-hamba-Nya, dengan adil dan diucapkan: 'Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam'." – (QS.39:75).

"Hanya kepada-Nya-lah kamu semua akan kembali, sebagai janji yang benar dari Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makh-luk pada permulaannya, kemudian mengulanginya kembali (berkembang-biak, menghidupkan dan mematikan), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman, dan yang mengerjakan amal shaleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas, dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka." – (QS.10:4).

"Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal shaleh dan ia dalam keadaan beriman. Maka ia tidak (perlu) kuatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya), dan tidak (pula) akan pengurangan haknya." – (QS.20:112).

"Bukankah Allah (adalah) Hakim yang seadil-adilnya?." – (QS.95:8).

 

Namun perlu diketahui pula, bahwa 'skenario' amat sederhana pada topik "Kehendak Allah dalam penciptaan alam semesta" di awal bab ini, pada dasarnya suatu hasil rangkuman pemahaman pada buku ini. Dalam Al-Qur'an tentunya tidak ada keterangan yang amat runut dan langsung seperti itu, namun dalam Al-Qur'an justru banyak ayat-ayat yang mendukung 'skenario' tersebut, walau secara terpisah-pisah.
Khususnya pada ayat-ayat Al-Qur'an, yang kandungan isinya secara langsung ataupun tidak menyangkut hal-hal seperti:

~

Allah Yang memiliki segala kemuliaan dan kekuasaan, juga ingin menunjukkannya kepada segala zat makhluk-Nya, melalui tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini.
Hal ini tak lain tak bukan tentunya pasti ditujukan, agar segala zat makhluk-Nya bisa mengenal Allah, Yang telah menciptakannya.

Bahkan hampir setiap ayat-ayat Al-Qur'an, disebut sifat-sifat-Nya ('Maha ….'). Hal ini tentunya pasti bukan disampaikan oleh Nabi, hanya sekedar untuk dibaca-baca setiap saatnya, namun sekali lagi, agar setiap manusia bisa memahami sifat-sifat-Nya tersebut (agar bisa mengenal Allah).

~

Manusia mulai mengenal Allah dari titik "nol" sejak lahirnya, atau hanya diberi-Nya fitrah-fitrah dasar, agar bisa mengenal Allah.

~

Manusia dipilih-Nya sebagai khalifah-Nya di muka Bumi.

~

Tiap manusia pasti diberi-Nya 'akal dan nafsu', agar bisa memiliki kebebasan dalam berkehendak dan berbuat. Walaupun akibatnya, justru manusia juga bisa bebas untuk tunduk, patuh dan taat pada segala perintah-Nya ataupun tidak. Di lain pihaknya, para malaikat justru amat tunduk, patuh dan taat pada segala perintah-Nya.

~

Tiap manusia justru pasti tunduk, patuh dan taat pada tiap aturan-Nya (sunatullah), yang berlaku mutlak dan kekal, juga amat sangat teratur, alamiah, halus, tidak kentara dan seolah terjadi begitu saja. Sunatullah adalah salah-satu ketetapan-Nya, yang diciptakan-Nya 'sebelum' penciptaan alam semesta, dan tercatat di Lauh Mahfuzh.

~

Tiap manusia pasti diberi-Nya segala jenis cobaan atau ujian-Nya (lahiriah dan terutama batiniah), untuk menguji keimanannya.

~

Tiap manusia pasti diberi-Nya berbagai pengajaran dan tuntunan-Nya, melalui ayat-ayat-Nya yang 'tertulis' ataupun 'tak-tertulis', agar manusia tidak kehilangan arah-tujuan ketika berjalan di muka Bumi ini, dan juga bisa kembali ke jalan-Nya yang lurus.

~

Ada alam gaib-batiniah-akhirat dan alam nyata-lahiriah-dunia.

~

Dsb.

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

11 Balasan ke Bab II Hakekat penciptaan

  1. Anonim berkata:

    emang ngerti apa luuuuh…bego – mah bego aja…jgn sok merasa bisa padahal mah salah…!

  2. waluyo berkata:

    trimakasih tambah pintar baca artikel.l ini

  3. Eza berkata:

    Syukron , Pak sangat gamblang dan jelas konklusinya. Ijin share yak .

  4. irwan herman berkata:

    alhm
    terima kasih atas penjelasanny
    smgo bpk dbrikn kesehatan
    amin

  5. Gusti Dindi berkata:

    Pak Syarif, izin copy yah..saya mau belajar atas artikel yang bapak share di blog.Terima kasih sebelumnya..

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s