Pola penyampaian pengajaran-Nya sepanjang masa

Pola penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya sepanjang masa

Jarang terungkap bagaimana pola dan proses penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya
dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman. Padahal pemahaman atas hal ini amat diperlukan
dalam beragama. Uraian-uraian berikut mencoba mengungkapnya secara sistematis.

Pola penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya secara ringkas dan sederhananya, diawali dari usaha pencarian pengetahuan atau pemahaman tentang kebenaran-Nya, yang lalu disertai pula dengan usaha penyampaian pengetahuan itu, untuk bisa menjawab atau menyelesaikan persoalan kehidupan umat sehari-harinya. Hal ini juga telah diungkapkan secara cukup ringkas pada artikel/posting terdahulu "cara proses diturunkan-Nya wahyu", tentang hubungan antara pengetahuan dan wahyu pada para nabi-Nya.

Pola penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya semacam itu telah dilakukan dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman. Bahkan hal yang relatif serupa memang juga dilakukan tiap saatnya oleh tiap manusia, di dalam mencari pengetahuan untuk bisa menjawab atau menyelesaikan persoalan kehidupannya sehari-harinya. Sedangkan perbedaan antara para nabi-Nya dan keseluruhan umat manusia lainnya pada dasarnya justru hanya semata pada "kesempurnaan pengetahuan" yang diperoleh dari hasil usahanya masing-masing, dan juga tentunya di samping perbedaan kesempurnaan pengamalannya. Perbedaan kesempurnaan pengetahuan inilah yang telah membedakan antara 'wahyu-Nya' pada para nabi-Nya dan 'pengetahuan biasa' pada keseluruhan umat manusia lainnya. Kesempurnaan pengetahuan pada para nabi-Nya itu, khususnya karena telah tersusun relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhan, sebagai hasil dari segala usaha mereka sendiri, yang memang relatif amat keras dan setimpal.

Juga proses penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya melalui berbagai bentuk ajaran-ajaran agama-Nya (seperti: kitab suci Al-Qur'an, Sunnah / Hadits Nabi, hasil ijtihad dari para alim-ulama, dsb), pada dasarnya berupa proses yang berlangsung amat alamiah, dan juga relatif serupa dari jaman ke jaman. Walaupun dalam perkembangannya pada saat sekarang, proses inipun relatif masih jauh dari bentuk idealnya, seperti halnya yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya pada jaman dahulu.

Perbedaan prosesnya yang relatif amat mencolok misalnya, umat-umat Islam pada saat sekarang relatif amat sedikit mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" di alam semesta ini, namun sebagian terbesar pengetahuannya justru relatif hanya diperoleh dari mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tertulis", yang telah disampaikan oleh para nabi-Nya. Padahal proses perolehan pengetahuan ini, justru relatif 'berkebalikan' dari hal-hal yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya, yang relatif amat banyak mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" di alam semesta ini, sebaliknya relatif amat sedikit mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tertulis" dari para nabi-Nya terdahulu.
Di samping itu, pemahaman umat pada saat sekarang atas "ayat-ayat-Nya yang tertulis", juga relatif lebih banyak bersifat 'tekstual-harfiah', bukan berupa pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) yang bersifat universal, yang justru ada terkandung 'di balik' teks-teksnya. Padahal tiap nabi-Nya terkait memang menyusun Al-Kitab ("ayat-ayat-Nya yang tertulis"), berdasarkan segala pemahaman Al-Hikmah yang diperolehnya, khususnya dari hasil mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" di alam semesta ini, sekaligus sambil dituntun pula oleh para malaikat Jibril.

Adapun pola penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya secara lebih lengkapnya, telah diungkapkan pada "gambar diagram umum proses pengajaran-Nya sepanjang masa" berikut, serta disertai pula dengan berbagai penjelasannya pada tabel di bawahnya. Dari gambar itu cukup jelas tampak, bahwa urutan tahapan proses penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya (dari kiri ke kanan), menurut tiap perubahan jamannya (dari atas ke bawah), yaitu: jaman para nabi-Nya terdahulu (sebelum nabi Muhammad saw), jaman nabi Muhammad saw, jaman umat Islam terdahulu (setelah wafatnya nabi Muhammad saw) dan jaman sekarang ini, memang menunjukkan pola proses yang relatif amat serupa. Dan pola semacam ini tentunya mestinya juga berlaku bahkan sampai akhir jaman.

Gambar diagram umum proses pengajaran-Nya sepanjang masa

Secara umum, berbagai komponen dan sekaligus beserta urutan tahapan prosesnya, pada proses penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya, dalam gambar di atas, yaitu:

  • Bahan pengajaran dan tuntunan-Nya (beserta pemberiannya)

  • Penerima pengajaran-Nya (pencarian pengetahuan tentang kebenaran-Nya)

  • Pemahaman universal (perolehan Al-Hikmah / hikmah dan hakekat kebenaran-Nya)

  • Solusi persoalan aktual (penyampaian Al-Kitab, Sunnah / Hadits, Ijtihad, dsb)

  • Persoalan umat (pengamalan atas ajaran-ajaran agama-Nya)

Adapun berbagai catatan dan penjelasan penting bagi gambar di atas, antara lain:

Berbagai komponen pada proses penyampaian pengajaran dan
tuntunan-Nya sepanjang masa

Bahan pengajaran dan tuntunan-Nya (beserta pemberiannya)

 

Bahan pengajaran-Nya yang 'paling dasar' bagi segala makhluk ciptaan-Nya, adalah segala sesuatu hal yang ada tersedia di seluruh alam semesta ini (segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian lahiriah dan batiniah di dalamnya).

Sedangkan bahan tuntunan-Nya yang 'paling dasar' bagi segala makhluk ciptaan-Nya, adalah seluruh keadaan, sifat ataupun fitrah dasar yang suci-murni dan bersih dari dosa, yang sama-sama ditanamkan-Nya ke dalam tiap zat ruhnya masing-masing, pada saat awal penciptaan tiap zat ruh itu sendiri.
Tuntunan-Nya yang 'paling dasar' ini terutama berupa berbagai kebenaran-Nya yang relatif amat sederhana, yang ditanamkan-Nya ke dalam hati-nurani pada tiap makhluk ciptaan-Nya, terutama untuk cenderung berusaha mencari dan mengenal Allah, Tuhan Yang sebenarnya telah menciptakan dirinya dan alam semesta ini.

Untuk bisa mengenal Allah (tepatnya untuk bisa memahami berbagai sifat, kehendak, keredhaan, perbuatan ataupun kebenaran-Nya), segala makhluk ciptaan-Nya (bahkan termasuk para nabi-Nya dan para malaikat-Nya) memang hanya semata mencapainya dari mempelajari segala sesuatu hal di alam semesta ini. Juga tentunya termasuk untuk bisa mengenal "agama atau jalan-Nya yang lurus".

Wujud dari 'tabir-hijab-pembatas' antara Allah dan tiap makhluk-Nya memang hanya semata berupa 'tingkat kesempurnaan' pengetahuan pada tiap makhluk-Nya itu, tentang berbagai kebenaran-Nya di alam semesta ini.

Kebenaran-Nya di alam semesta ini adalah segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), yang memang pasti hanya semata hasil dari perbuatan Allah, Yang Maha Kuasa dan Maha Kekal. Sedangkan segala sesuatu hal yang selain dari itu, pasti hasil dari perbuatan segala makhluk-Nya.

Segala kebenaran-Nya di alam semesta ini juga biasa disebut sebagai: "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya", "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "Al-Qur'an (gaib) yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya", "kalam atau wahyu-Nya yang sebenarnya", "wajah-Nya", "segala pengetahuan-Nya", dsb. Semua sebutan ini hanya berbeda pada fokus dan konteks pemakaiannya, namun merujuk kepada sesuatu hal yang sama (hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal').

Para 'pengajar' yang paling utama, yang menjadi perantara bagi penyampaian segala bentuk bahan pengajaran dan tuntunan-Nya bagi seluruh umat manusia, adalah "para makhluk gaib", yang tiap saatnya pasti selalu mengikuti, mengawasi dan menjaga di alam batiniah ruh tiap manusianya (alam pikirannya).

Alat-sarana pada tiap manusia untuk bisa menerima segala bentuk bahan pengajaran dan tuntunan-Nya di alam semesta ini (termasuk dari para makhluk gaib), berupa alat-alat indera lahiriah (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, dsb) dan alat indera batiniahnya (hati / kalbu), tentunya dengan berusaha memperhatikan, mengamati, mencermati ataupun merasakan segala sesuatu hal di alam semesta ini.

Segala bahan pengajaran dan tuntunan-Nya yang telah bisa dicerna atau ditangkap oleh alat-alat indera lahiriah, pasti terkirim pula ke indera batiniah pada zat ruh tiap manusianya (hati / kalbunya). Sedangkan pada hati / kalbu tiap manusia, justru ada sejumlah para makhluk gaib, yang tiap saatnya pasti selalu memberikan segala bentuk ilham yang 'positif-benar-baik' (dari para malaikat, terutama para malaikat Jibril), dan yang 'negatif-sesat-buruk' (dari para iblis, syaitan dan jin).

Ilham atau segala informasi batiniah dari para makhluk gaib, juga sering disebut sebagai 'bisikan', 'godaan' atau 'inspirasi'. Sebagian dari ilham itu memang sesuai dengan informasi yang 'murni' dari hasil tangkapan alat-alat indera lahiriah pada tiap manusia. Namun ilham umumnya lebih dikaitkan dengan informasi 'tambahan' dan tidak 'murni' (positif ataupun negatif), yang diberikan oleh para makhluk gaib.

Selain ditugaskan-Nya sebagai 'penyuplai' informasi batiniah (pemberi segala bentuk ilham), para makhluk gaib juga ditugaskan-Nya sebagai 'penyalur', 'pencatat' dan 'pemeriksa' segala bentuk informasi batiniah, di alam pikiran tiap manusia.

Para makhluk gaib pada dasarnya justru ikut 'memperkaya' segala bentuk informasi batiniah di alam pikiran tiap manusia, sebelum bisa dipilih, diolah, dinilai dan diputuskan oleh akalnya, untuk bisa dianggap sebagai sesuatu pengetahuan atau kebenaran 'relatif' yang baru (harap lihat pula Gambar 26: Diagram detail proses berpikir manusia pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW").

Bahkan orang yang sedang 'malas ataupun tidak' berpikir sekalipun, justru alam pikirannya tetap berjalan terus, akibat isi pikirannya selalu 'diperkaya' oleh para makhluk gaib (saat melongo, melamun, mimpi, mengantuk, hilang kesadaran, dsb).

Sekali lagi amat penting diingatkan kembali, bahwa sebagian bahan pengajaran-Nya dari para makhluk gaib (segala bentuk ilham) justru bersifat 'negatif-sesat-buruk', yang bertujuan untuk mengenalkan manusia atas segala hal yang mestinya dihindari dan dijauhinya. Bentuk pengajaran-Nya semacam ini juga sering disebut sebagai 'ujian / cobaan-Nya' secara batiniah, dan tentunya bukan sebagai 'tuntunan-Nya'.
Dan juga bahwa para malaikat Jibril (para makhluk gaib yang memberikan ilham yang bersifat 'positif-benar-baik'), pada dasarnya juga tiap saatnya pasti selalu mengikuti di alam pikiran pada tiap manusia, bahkan juga termasuk pada manusia yang paling kafir sekalipun, serta bukan hanya semata pada para nabi-Nya.
Namun di antara keseluruhan umat manusia, para nabi-Nya yang memang relatif paling maksimal bisa memanfaatkan segala bentuk ilham yang 'positif-benar-baik' dari para malaikat Jibril, bagi penyusunan pengetahuannya (termasuk wahyu-Nya).

'Tuntunan-Nya' pada dasarnya berupa segala kebenaran 'relatif' yang diperoleh dari hasil pengajaran-Nya yang berbentuk relatif amat sederhana dan relatif bisa mudah diamalkan secara langsung. Maka tanpa perlu melalui analisa yang lama, rumit dan mendalam, tiap tuntunan-Nya misalnya bisa dipakai langsung untuk membedakan antara hal-hal yang 'relatif' benar dan yang 'relatif' sesat. Dan tiap kebenaran 'relatif' itu pada dasarnya tercatat ke dalam hati-nurani pada tiap manusia, yang justru membentuk keyakinan atau keimanannya dalam menilai segala sesuatu halnya.
Sedangkan segala bentuk pengajaran-Nya lainnya yang berbentuk relatif lebih rumit, pada dasarnya juga bertujuan akhir untuk bisa melengkapi, memperbaiki ataupun menyempurnakan segala kebenaran 'relatif' di dalam hati-nurani tersebut.

Di samping segala kebenaran yang paling dasar dan relatif amat sederhana, yang telah ditanamkan-Nya ke dalam hati-nurani pada tiap manusia, pada saat awal penciptaan zat ruhnya, selanjutnya tentunya tiap kebenaran 'relatif' lainnya justru hanya semata bisa diperoleh dari hasil olahan akal manusianya sendiri.
Dengan makin banyak menggunakan atau mengasah akalnya, tiap manusia bisa relatif makin menyempurnakan jumlah dan kualitas dari segala kebenaran 'relatif' yang telah dipahaminya (relatif makin meningkatkan keimanan batiniahnya), terutama jika akalnya digunakan dengan relatif obyektif, cermat dan mendalam.

Setelah para nabi-Nya dan alim-ulama menyampaikan segala kebenaran-Nya yang telah dipahaminya (dengan berbagai tingkat kesempurnaannya masing-masing), terutama melalui tiap kitab-Nya (Al-Kitab / kitab tauhid), Sunnah / Hadits dan hasil ijtihad, tentunya macam bentuk bahan pengajaran dan tuntunan-Nya bagi keseluruhan umat manusia lainnya juga relatif makin lengkap dan sempurna.
Dan bagi tiap nabi-Nya ataupun alim-ulama itu sendiri, tentunya sedikit-banyak juga bisa mendapatkannya dari para nabi-Nya ataupun alim-ulama yang terdahulu.

Lebih lengkapnya, tiap umat manusia tiap saatnya pasti selalu mendapat segala bentuk bahan pengajaran dan tuntunan-Nya tentang kebenaran-Nya, antara lain dari alam di sekitarnya dan segala kejadian di dalamnya, para makhluk gaib, kisah-kisah umat terdahulu, para nabi-Nya, para alim-ulama, seluruh umat manusia lainnya, dan bahkan juga dari diri manusianya sendiri.

Dan akhirnya, tiap makhluk ciptaan-Nya tiap saatnya pasti selalu mendapat segala bentuk bahan pengajaran dan tuntunan-Nya, bahkan juga termasuk bagi iblis dan manusia yang paling kafir sekalipun. Sehingga sama sekali tidak ada alasan baginya, untuk tidak bisa memahami suatupun kebenaran-Nya, kecuali hanya semata akibat dari kemunafikannya sendiri (mengingkari ataupun berpaling dari kebenaran-Nya).

Penerima pengajaran-Nya (pencarian pengetahuan tentang kebenaran-Nya)

 

Secara umum, penerima pengajaran dan tuntunan-Nya adalah "segala makhluk ciptaan-Nya" di seluruh alam semesta ini, terutama agar bisa mengenal Allah, Tuhan Yang sebenarnya telah menciptakannya, dan sekaligus agar bisa menyembah dan mengabdikan dirinya kepada-Nya, demi pencapaian keselamatan, kebahagiaan ataupun kemuliaannya masing-masing, sama sekali bukan demi kepentingan Allah, Yang Maha Berdiri sendiri dan Maha Tidak bergantung kepada segala sesuatu.
Namun secara khusus dalam gambar di atas, tentunya penerima pengajaran dan tuntunan-Nya hanya difokuskan kepada "seluruh umat manusia", sebagai makhluk ciptaan-Nya yang memang telah dipilih atau ditunjuk-Nya menjadi khalifah-Nya di muka bumi ini (di dunia).

Amat penting diketahui, bahwa tiap umat manusia (termasuk para mabi-Nya), justru sama sekali tidak menerima pengajaran dan tuntunan-Nya secara 'langsung' dengan begitu saja, dari Allah ataupun dari para malaikat-Nya (terutama para malaikat Jibril), namun justru pasti hanya semata diperolehnya melalui segala usahanya yang amat keras dan setimpal, sekaligus pula pasti melalui segala hasil olahan akalnya masing-masing. Hal ini tentunya di samping segala tuntunan-Nya yang paling dasar dan relatif amat sederhana, yang telah ditanamkan-Nya 'langsung' ke dalam hati-nurani pada tiap manusia, pada saat awal penciptaan zat ruhnya.

Padahal telah disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, bahwa Allah 'berkata-kata' atau berinteraksi dengan manusia, pasti hanya semata dari balik 'tabir-hijab-pembatas', ataupun pasti melalui perantaraan wahyu dan para utusan-Nya (pada QS.42:51). Sehingga sama sekali tidak ada interaksi 'langsung' antara Allah dengan tiap umat manusia (ataupun segala makhluk lainnya), bahkan termasuk pula dengan para utusan-Nya (para nabi-Nya dan para malaikat-Nya).

Interaksi antara Allah dan segala makhluk ciptaan-Nya justru pasti melalui perantaraan "alam semesta ini", sebagai bentuk wahyu-Nya yang paling awal, yang telah terwujud (harap baca pula artikel/posting terdahulu "empat macam bentuk wahyu"). Di samping itu, bagi tiap manusia juga pasti melalui perantaraan "para malaikat utusan-Nya".

Namun begitu, di alam semesta ini justru tiap saatnya pasti selalu bercampur-baur antara segala hasil dari perbuatan Allah (bersifat 'mutlak' dan 'kekal') dan perbuatan segala makhluk ciptaan-Nya (bersifat 'relatif' dan 'fana').
Juga para malaikat hanya sebagian dari sejumlah para makhluk gaib, yang tiap saatnya pasti selalu mengikuti di alam pikiran tiap manusianya (pasti ada pula para jin, syaitan dan iblis). Sehingga tiap saatnya pasti selalu bercampur-baur antara segala bentuk ilham yang 'positif-benar-baik' (dari para malaikat) dan segala bentuk ilham yang 'negatif-sesat-buruk' (dari para jin, syaitan dan iblis).

Untuk benar-benar bisa memahami tiap kebenaran-Nya di alam semesta ini, tentunya tiap manusia (termasuk para nabi-Nya) justru mestinya berusaha relatif amat keras dalam menggunakan akalnya, untuk bisa memisahkan antara hal-hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', daripada hal-hal yang bersifat 'relatif' dan 'fana', sekaligus pula untuk bisa memisahkan antara hal-hal yang 'positif-benar-baik', daripada hal-hal yang 'negatif-sesat-buruk'. Usaha yang amat keras semacam itu amat diperlukan, terutama karena perbedaan antara hal-hal tersebut justru bisa amat sangat halus (amat tidak jelas kentara), di samping tentunya karena sebagian darinya memang bersifat gaib atau tersembunyi.

Dalam melaksanakan fungsinya dengan sebenar-benarnya, terutama saat memilih, menelaah, menilai dan memutuskan tiap informasi yang diperoleh dari alat-alat indera lahiriah dan batiniahnya, akal tentunya mestinya bisa semaksimal mungkin memanfaatkan segala kebenaran 'relatif' di dalam hati-nuraninya, yang justru juga merupakan hasil olahan akal itu sendiri, sebelumnya.
Makin sempurna segala kebenaran 'relatif' yang telah dimiliki sebelumnya (makin tinggi tingkat keyakinan ataupun kepastiannya), yang sekaligus pula dimanfaatkan, maka relatif makin sempurna pula segala pilihan dan keputusan akal selanjutnya, termasuk dalam memperoleh tiap pengetahuan atau kebenaran 'relatif' yang baru.
Dan untuk bisa memanfaatkan isi hati-nuraninya, tentunya tiap manusia juga memerlukan kepekaan batiniah yang relatif amat tajam, sekaligus bisa menghindar dari segala perbuatan, sikap, perasaan dan nafsu-keinginan yang relatif berlebihan.

Proses penerimaan wahyu-Nya (pengetahuan tentang kebenaran-Nya) oleh para nabi-Nya, sama sekali bukan turun dengan begitu saja dari langit, namun justru melalui segala usaha yang relatif amat keras dan setimpal dari para nabi-Nya itu sendiri, melalui proses yang amat panjang (proses penciptaan alam semesta ini, proses kemunculan tiap nabi-Nya, proses pemantaban seluruh pengetahuan dan pengamalan tiap nabi-Nya, proses penyampaian kepada umat, dsb), dan juga melalui sejumlah sarana dan perantara (alam semesta ini, alat-alat indera para nabi-Nya, para makhluk gaib dan segala bentuk ilhamnya, akal dan hati-nurani para nabi-Nya, lisan dan tulisan para nabi-Nya, dsb).

Dan akhirnya, proses penerimaan dan perolehan wahyu-Nya pada para nabi-Nya adalah proses yang berlangsung alamiah, dan bahkan persis sama dengan proses pencarian dan perolehan pengetahuan pada keseluruhan umat manusia lainnya.
Sekali lagi, perbedaannya hanya semata pada tingkat kesempurnaan pengetahuan yang telah diperoleh, dari segala usahanya masing-masing yang setimpal, terutama dalam menggunakan akalnya. Perbedaan tingkat kesempurnaan pengetahuan semacam inilah yang juga sedikit-banyak bisa membedakan antara dalil-dalil 'naqli' dan dalil-dalil 'aqli', padahal justru sama-sama pasti melalui hasil olahan 'akal'.

Pemahaman universal (perolehan Al-Hikmah / hikmah dan hakekat kebenaran-Nya)

 

Pemahaman yang ideal tentang suatu kebenaran-Nya mestinya bersifat 'universal' (bisa melewati konteks waktu, ruang dan budaya), sehingga bisa dipakai kapanpun, dimanapun dan oleh siapapun, karena "agama-Nya yang lurus" memang justru diturunkan-Nya bagi seluruh umat manusia, bahkan sampai akhir jaman.
Seluruh pemahamannya juga mestinya relatif amat utuh, konsisten dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya, juga tentunya lebih ideal lagi, jika bisa relatif amat lengkap dan mendalam, seperti yang telah dimiliki oleh para nabi-Nya.

Seluruh pemahaman seperti itu relatif hanya bisa dicapai, jika tiap pemahamannya memang berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), sebagai tingkat pemahaman yang relatif paling tinggi tentang suatu kebenaran-Nya.
Tiap Al-Hikmah pada dasarnya bersifat relatif kompleks, rumit, mendalam, tidak praktis-aplikatif dan tidak aktual (universal), serta disertai pula dengan segala dalil-alasan dan penjelasannya yang relatif kokoh-kuat dan lengkap.

Namun ada persoalan dalam berusaha memahami tiap kebenaran-Nya, karena sumber bahan pengajaran dan tuntunan-Nya yang relatif 'paling lengkap dan sempurna', yang dimiliki oleh seluruh umat manusia saat ini, yang sekaligus pula relatif paling mudah bisa dipahaminya, adalah "ayat-ayat-Nya yang tertulis", yang telah diwariskan oleh para nabi-Nya (berupa Al-Kitab / kitab-Nya / kitab tauhid).
Sedangkan sumber bahan pengajaran dan tuntunan-Nya yang 'paling utama', adalah "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" di alam semesta ini ("tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya"), yang telah dipelajari dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman, namun justru juga relatif paling sulit bisa dipahami oleh seluruh umat manusia lainnya, terutama karena memang bersifat gaib atau tersembunyi.

Sehingga pada akhirnya, umat-umat Islam saat ini justru relatif jauh lebih banyak mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tertulis", daripada mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" di alam semesta ini. Hal ini justru relatif berkebalikan daripada hal-hal yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya, yang relatif jauh lebih banyak mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", daripada mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tertulis" dari para nabi-Nya terdahulu. Bahkan nabi Muhammad saw justru tidak bisa membaca dan menulis ('ummi' atau buta huruf).

Persoalan lainnya, karena secara alamiah, "ayat-ayat-Nya yang tertulis" pasti disampaikan oleh tiap nabi-Nya terkait, secara relatif ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual, sesuai dengan segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan umat, yang 'langsung' menerimanya (sesuai dengan konteks waktu, ruang dan budayanya), terutama agar umat relatif lebih mudah bisa memahami dan mengamalkannya.
Sedangkan sebaliknya, "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" di alam semesta ini justru mustahil bisa diungkap seluruhnya oleh umat manusia, bahkan sampai akhir jaman (mustahil bisa dituliskan dengan tinta sebanyak 'beberapa samudera'). Begitu pula, seluruh pemahaman tiap nabi-Nya atas "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", juga hampir mustahil cukup dituliskan hanya pada beberapa puluh kitab, sehingga sebagian terbesarnya relatif hanya bisa tersimpan di dalam dada-hati-pikirannya sendiri, ataupun sebagiannya hanya disampaikannya secara lisan, relatif hanya terbatas kepada umat-umatnya yang terdekat, yang telah relatif amat berilmu.
Di samping itu pula, tiap pemahaman dalam pikiran tentunya sedikit-banyak bisa berbeda daripada hasil pengungkapannya (melalui lisan, tulisan, sikap, perbuatan, dsb), terutama karena bahasa lisan, bahasa tulisan dan bahasa tubuh memang memiliki berbagai keterbatasan.

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang keterbatasan bahasa lisan / tulisan dalam proses penyampaian wahyu-Nya.

Dengan sendirinya, pemahaman secara tekstual-harfiah semata atas ajaran-ajaran agama-Nya (terutama kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi), justru sedikit-banyak bisa berbeda daripada hal-hal yang sebenarnya dimaksud oleh Nabi. Apalagi dalam kitab suci Al-Qur'an misalnya, memang amat banyak mengandung segala contoh-perumpamaan simbolik (pada QS.17:89, QS.18:54, QS.30:58, QS.39:27, QS.59:21, QS.29:43, QS.13:17, QS.14:25, QS.14:45, dan QS.24:35), terutama agar penjelasan atas hal-hal yang gaib dan batiniah bisa relatif ringkas dan sederhana. Tiap contoh-perumpamaan simbolik pada dasarnya hanya semata berupa analogi-pendekatan atas hal yang sebenarnya, namun juga bukan hal yang keliru sama sekali, sehingga mestinya dipahami secara amat cermat dan juga tidak secara tekstual-harfiah.

Bahkan amat jelas telah disebut dalam kitab suci Al-Qur'an sendiri, bahwa kitab suci Al-Qur'an penuh dengan Al-Hikmah (pada QS.3:58, QS.36:2, QS.43:4, QS.10:1, dan QS.31:2). Bahwa wahyu-Nya justru diturunkan-Nya berupa Al-Hikmah ke dalam dada-hati-pikiran pada para nabi-Nya (pada QS.17:39, QS.44:4, QS.2:97, dan QS.26:192-194). Dan juga bahwa seluruh para nabi-Nya telah mendapat Al-Hikmah (pada QS.3:48, QS.3:81, QS.3:164, QS.4:54, QS.4:113, QS.5:110, QS.6:89, QS.12:22, QS.19:12, QS.21:74, QS.21:79, QS.26:83, QS.28:14, QS.31:12, QS.38:20, QS.43:63, QS.62:2, QS.2:129, QS.2:151, QS.2:231, QS.2:251, QS.2:269, dan QS.3:79).

Dalam berusaha mengungkap kembali tiap Al-Hikmah, yang terkandung 'di balik' teks ajaran-ajaran agama-Nya (kitab suci Al-Qur'an, Sunnah / Hadits Nabi, dan hasil ijtihad dari para alim-ulama), tentunya umat Islam perlu mempelajari segala keterangan, catatan atau risalah yang terkait, antara lain: tafsir dan terjemah kitab suci Al-Qur'an; catatan atas turunnya ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an (Asbabun Nuzul); catatan sejarah umat-umat pada jaman Nabi, termasuk budaya dan bahasanya; kisah-kisah para nabi-Nya dan umat terdahulu; dsb.
Lebih pentingnya lagi, umat Islam juga perlu sambil mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" yang terkait di alam semesta ini, dari pengamatan langsung, dari berbagai sumber informasi ataupun dari berbagai bidang ilmu-pengetahuan.
Hal ini terutama agar makin diketahui, segala konteks waktu, ruang dan budaya umat, tepat ketika tiap ajaran itu sedang disampaikan oleh Nabi, sekaligus agar makin diketahui tentang tiap ajaran itu dari segala aspek dan sudut pandangnya.
Dengan bahan atau informasi yang relatif lengkap seperti ini, diharapkan makin bisa diperoleh makna-makna di dalam tiap ajaran itu, yang relatif amat 'mendekati' makna-maksa yang sebenarnya dimaksud oleh Nabi (Al-Hikmah pada Nabi).

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang metode-metode perolehan Al-Hikmah.

Namun amat disayangkan, di kalangan umat Islam juga berkembang luas berbagai pengertian Al-Hikmah, yang berbeda daripada pengertian yang dimaksud di sini. Karena Al-Hikmah justru dikaitkan ataupun didefinisikan, misalnya dengan: Sunnah / Hadits Nabi; ilmu kebatinan, kanuragan ataupun pengobatan; pemahaman pada hanya sebagian kelompok umat Islam (kelompok Sufi, kelompok Syiah – Imamiyah dan Ismailiyah, dsb); kata mutiara ataupun petuah; dsb.
Padahal tiap Al-Hikmah adalah pengetahuan atau pemahaman yang relatif paling tinggi tentang suatu kebenaran-Nya, dengan segala dalil-alasan dan penjelasannya yang relatif kokoh-kuat dan lengkap (dengan berbagai tingkat kesempurnaannya).
Al-Hikmah bisa dimiliki oleh siapapun (Muslim ataupun non-Muslim). Bahkan hukum gravitasi dan hukum kekekalan energi / massa, juga merupakan Al-Hikmah, walaupun dalam kehidupan beragama, Al-Hikmah memang lebih banyak terkait dengan hal-hal yang gaib dan batiniah.
Serta Al-Hikmah juga biasa disebut sebagai 'cahaya kebenaran-Nya' (nur ilahi), 'petunjuk-Nya', 'hikmah dan hidayah-Nya' ataupun 'makrifat'.

Dan akhirnya, tiap Al-Hikmah yang telah diperoleh mestinya bersifat 'universal' (bisa melewati konteks waktu, ruang dan budaya), sehingga bisa dipakai kapanpun, dimanapun dan oleh siapapun. Karena tiap Al-Hikmah memang mestinya bisa relatif amat sesuai atau mendekati kebenaran mutlak milik Allah di alam semesta ini ("ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis"), yang tentunya pasti bersifat 'universal'. Sehingga tiap Al-Hikmah tentang sesuatu hal, juga mestinya relatif sama (tidak berubah), dari nabi ke nabi, dari umat ke umat, dan dari jaman ke jaman, karena memang dari hasil mempelajari alam semesta yang sama, secara relatif mendalam.
Contoh sederhananya, tauhid seluruh para nabi-Nya juga sama, yaitu "tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa", dari hasil pemahaman mereka yang mendalam tentang Allah, Tuhan Yang telah menciptakan alam semesta dan segala isinya ini.

Solusi persoalan aktual (penyampaian Al-Kitab, Sunnah / Hadits, Ijtihad, dsb)

 

Berdasarkan segala pemahaman Al-Hikmah yang bersifat 'universal' yang telah diperoleh, terutama lagi jika telah tersusun secara relatif sempurna (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan), terutama tentang segala hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan seluruh umat manusia (hal-hal yang gaib dan batiniah), lalu bisa 'dirangkum' tentang berbagai hal tertentu bagi usaha penerapannya, untuk bisa menjawab atau mengatasi persoalan kehidupan umat, serta tentunya juga disampaikan kepada umat secara arif dan bijaksana, melalui: lisan, tulisan, sikap dan contoh-perbuatan.

Tentunya sebagai suatu bahan pengajaran dan tuntunan-Nya bagi seluruh umat manusia, bentuk penyampaiannya juga mestinya bersifat relatif amat sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, sesuai dengan segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan umat di tiap negeri dan jamannya. Terutama tentunya agar sebagian terbesar umat (umat yang relatif awam atau kurang berilmu), juga relatif lebih mudah bisa memahami dan mengamalkannya.

Hal ini tentunya relatif berkebalikan daripada tiap pemahaman Al-Hikmah, yang umumnya bersifat relatif kompleks, rumit, mendalam, tidak praktis-aplikatif dan universal (tidak aktual), dengan segala dalil-alasan dan penjelasannya yang relatif amat kokoh-kuat dan lengkap. Sehingga tiap Al-Hikmah juga umumnya disampaikan relatif hanya terbatas kepada umat-umat yang relatif amat berilmu.

Amat penting diketahui kembali, bahwa segala bentuk penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya, mestinya berdasarkan 'kesempurnaan' seluruh pengetahuan atau pemahaman tentang kebenaran-Nya, terutama karena memang relatif amat terkait dengan nasib dan kehidupan beragama seluruh umat manusia.
Secara alamiah, pada jaman dahulu, saat dimana kehidupan umat manusia relatif masih amat sederhana, kesempurnaan pemahaman seperti itu memang masih bisa dimiliki hanya oleh 'seorang' manusia (tiap nabi-Nya). Namun setelah jaman para nabi-Nya telah berakhir pada nabi Muhammad saw, saat dimana kehidupan umat manusia telah mulai relatif amat kompleks, rumit dan luas, maka kesempurnaan pemahaman seperti itu relatif hanya bisa dicapai secara 'kolektif'. Terutama melalui sejumlah para alim-ulama dengan berbagai bidang keilmuan dan spesialisainya masing-masing, pada 'Majelis alim-ulama' di tiap negeri dan jamannya.

Sehingga penyampaian tiap hasil ijtihad, sebagai salah-satu dari bentuk bahan pengajaran dan tuntunan-Nya, tentunya mestinya hanya semata dilahirkan dan dilakukan oleh Majelis alim-ulama, sebaliknya mestinya bukan oleh tiap alim-ulama secara perseorangan. Dan cukup berragam sebutan bagi hasil ijtihad ini, sejak jaman dahulu sampai sekarang, antara lain: Ijma', Qiyas, Istihsan, Fatwa, dsb.

Sedangkan bentuk bahan pengajaran dan tuntunan-Nya yang disampaikan oleh para nabi-Nya, umumnya disebut sebagai 'Al-Kitab' (kitab-Nya / kitab tauhid) dan 'Sunnah-sunnah' para nabi-Nya. Keduanya juga berupa hasil pengungkapan yang berdasarkan segala pemahaman Al-Hikmah, yang tersimpan di dalam dada-hati-pikiran pada tiap nabi-Nya terkait.
Sehingga dari 'sumbernya' (segala pemahaman Al-Hikmah), dari 'sifatnya' (relatif amat sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual) dan dari 'tujuannya' (untuk bisa menjawab persoalan kehidupan umat manusia), maka tiap Al-Kitab dan Sunnah-sunnah pada dasarnya juga bentuk 'hasil ijtihad', walaupun memang justru berasal langsung dari tiap nabi-Nya terkait.

Lebih lengkapnya, tiap Al-Kitab dan Sunnah-sunnah adalah bentuk hasil ijtihad dari tiap nabi-Nya, yang sekaligus telah tersusun relatif 'lengkap dan sempurna' secara keseluruhannya. Sedangkan segala hasil ijtihad dari para alim-ulama, umumnya relatif hanya mencakup sebagian kecil aspek saja, dari kehidupan umat manusia.
Lebih lanjutnya lagi, tiap Al-Kitab relatif lebih terfokus untuk bisa menjawab persoalan 'pemahaman' umat tentang kebenaran-Nya, sedangkan Sunnah-sunnah relatif lebih terfokus untuk bisa menjawab persoalan 'pengamalannya'.
Sehingga penyusunan Al-Kitab juga sengaja mendapat perhatian yang lebih tinggi dari tiap nabi-Nya terkait, daripada penyusunan kitab Hadits (catatan tertulis atas Sunnah-sunnah), karena Al-Kitab memang menyangkut dasar-dasar pokok bagi keseluruhan ajaran agama-Nya yang disampaikannya.

Namun sekali lagi seperti telah diungkap pula di atas, bahwa proses penyampaian bahan pengajaran dan tuntunan-Nya yang dilakukan oleh para alim-ulama saat ini (terutama penyampaian hasil ijtihad), relatif masih jauh dari bentuk idealnya, seperti halnya yang telah dilakukan dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman.
Hal ini terutama karena pemahaman pada para alim-ulama saat ini, antara lain:

  • Relatif sebagian terbesarnya masih berupa pemahaman secara tekstual-harfiah, atas teks "ayat-ayat-Nya yang tertulis" dari para nabi-Nya (Al-Kitab, terutama kitab suci Al-Qur'an), sebaliknya bukan berupa pemahaman Al-Hikmah yang bersifat universal (bisa melewati konteks waktu, ruang dan budaya).

  • Relatif belum didukung ataupun belum berasal dari hasil mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" di alam semesta ini ("tanda-tanda kekuasaan dan kemuliaan-Nya").

  • Relatif belum tersusun secara sempurna (relatif belum lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya).

  • Segala dalil-alasan dan penjelasannya relatif hanya semata bersandarkan pada teks ayat-ayat Al-Kitab, sekaligus pula relatif sama sekali tanpa bersandarkan pada hasil perkembangan segala bidang ilmu-pengetahuan modern saat ini.

  • Relatif banyak yang mengandung 'mistis-tahayul', yang tanpa memiliki dalil-alasan yang bisa diterima oleh akal sehat.

Dengan sendirinya, segala hasil ijtihad yang dilahirkannya tentunya juga bersifat tekstual-harfiah, di samping bersifat relatif kaku (tidak dinamis), tidak rasional (tidak memiliki dalil-alasan yang kokoh-kuat, yang bisa diterima oleh akal sehat), serta tidak praktis-aplikatif dan tidak aktual (tidak menyelesaikan persoalan umat).

Padahal telah disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, bahwa "ayat-ayat-Nya yang tertulis" bersifat dinamis, atau bisa berubah makin baik, dari nabi ke nabi (pada QS.2:106), bahwa bagi tiap-tiap masa ada kitab-Nya masing-masing (pada QS.13:38-39), bahwa tiap-tiap umat ada syariatnya masing-masing (pada QS.22:67) dan juga bahwa tiap-tiap umat ada kiblatnya masing-masing (pada QS.2:148). Hal ini terutama karena segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan umat di tiap negeri dan jamannya, memang berragam, berbeda-beda ataupun berubah-ubah. Sekaligus pula disebut 'makin baik', karena secara alamiah, "ayat-ayat-Nya yang tertulis" yang lebih baru diturunkan-Nya, memang relatif lebih sesuai dan sempurna, untuk bisa menyelesaikan persoalan kehidupan umat, yang telah berkembang makin kompleks.

Bahkan pelaksanaan shalat misalnya, juga berragam dan dinamis, sesuai dengan berbagai keadaan umat, antara lain: kepentingan (wajib dan sunnah); waktu (harian, bulanan, tahunan, dsb); aktifitas (variasi waktu dan jumlah rakaat shalat wajib); kemampuan (variasi jumlah rakaat shalat malam); kesehatan (variasi tata-cara shalat bagi umat yang sehat, cacat, sakit, dsb); tempat (lapangan, rumah, surau, mushala, mesjid, dsb); jumlah (sendiri dan berjamaah); maksud-tujuan (shalat wajib, shalat malam, shalat hajat, shalat jenazah, dsb); jenis kelamin (berbagai keterbatasan kaum wanita); kesibukan (shalat jama' dan qashar); dsb.
Dan hal yang relatif serupa, tentunya juga terjadi pada pelaksanaan segala ketentuan syariat yang lainnya dalam ajaran-ajaran agama-Nya, yang memang mestinya bersifat dinamis (tidak kaku), serta mestinya bisa sesuai dengan segala keadaan, pengetahuan dan kemampuan pada masing-masing umat.

Maka "apakah segala ketentuan syariat bagi umat Islam pada jaman Nabi, pada jaman sekarang ini, pada abad ke-30, pada abad ke-80 ataupun pada akhir jaman, mestinya harus benar-benar sama?". Jawabannya tentunya mestinya, 'Tidak'.

Namun walaupun bersifat dinamis, segala ketentuan syariat tentunya juga tidak seluruhnya harus diubah-ubah, karena ada berbagai ketentuan syariat yang relatif terus-menerus bisa tetap aktual (pada sebagian ataupun seluruh aspeknya masing-masing), bahkan sampai akhir jaman. Hal seperti ini terutama berlaku bagi berbagai ketentuan syariat yang bersifat 'wajib', ataupun bagi berbagai ketentuan syariat lainnya, sesuai dengan maksud-tujuan, tingkat kepentingan dan aktualitasnya.
Misalnya telah disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, bahwa bagi tiap-tiap umat telah disyariatkan-Nya untuk menyembelih kurban (pada QS.22:34).
Sehingga tidak mengherankan, jika ada berbagai ketentuan syariat yang relatif sama, pada semua agama tauhid (Yahudi, Kristiani / Nasrani dan terakhir Islam), dari jaman ke jaman kemunculannya masing-masing. Di samping tentunya ada pula banyak ketentuan syariat yang baru (bertambah) dan hilang (berkurang), sesuai dengan perkembangan keadaan kehidupan masing-masing umat pengikutnya.

Dan akhirnya, dengan segala kemajuan keadaan kehidupan umat manusia modern saat ini, yang telah amat kompleks, rumit dan luas, secara alamiah tentunya Majelis alim-ulama di tiap negeri dan jamannya, juga hampir mustahil bisa 'sekaligus' melahirkan segala bahan pengajaran dan tuntunan-Nya (berupa segala hasil ijtihad), yang relatif lengkap dan sempurna, baik untuk bisa menjawab segala persoalan pemahaman umat tentang kebenaran-Nya, maupun persoalan pengamalannya, seperti halnya yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya (berupa Al-Kitab dan Sunnah / Hadits).
Tentunya telah memadai bagi Majelis alim-ulama saat ini, untuk bisa melahirkan hasil ijtihad secara bertahap, sesuai dengan segala persoalan aktual yang sedang berkembang luas di kalangan umat, baik berupa hasil ijtihad yang baru sama sekali, maupun bagi perbaikan atas hasil ijtihad yang terdahulu, dan juga baik bagi penyempurnaan pemahaman umat tentang kebenaran-Nya, maupun bagi penyempurnaan pengamalannya.

Persoalan umat (pengamalan atas ajaran-ajaran agama-Nya)

 

Usaha pengamalan atas ajaran-ajaran agama-Nya oleh tiap umat manusia, tentunya bertujuan utama untuk bisa menjawab atau mengatasi segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan aktual dalam kehidupan beragamanya sehari-harinya, terutama tentang segala hal yang paling penting, mendasar dan hakiki (hal-hal yang gaib dan batiniah).

Namun sebagian terbesar dari keseluruhan umat manusia justru merupakan umat-umat yang relatif awam atau kurang mendalam ilmu agamanya, sehingga merekapun tentunya relatif kurang bisa memahami segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalannya, yang sebenarnya paling penting, mendasar dan hakiki, bagi keselamatan, kebahagiaan ataupun kemuliaannya sendiri.

Maka pada jaman dahulu, jika ada persoalan yang belum dijawab atau diatasi sendiri oleh umat, lalu umat umumnya meminta petunjuk dari para nabi-Nya. Sedangkan pada jaman modern saat ini, hal yang serupa bisa diperoleh dari tiap alim-ulama secara perseorangan, dan lebih utamanya lagi mestinya dari Majelis alim-ulama.

Dalam memberi petunjuk, pengajaran atau tuntunan bagi umat, tentunya Majelis alim-ulama juga mestinya bertindak 'aktif', untuk bisa mengumpulkan seluruh persoalan aktual yang sedang berkembang luas di kalangan umat, lalu berusaha mencarikan segala jawaban ataupun solusinya, 'sesuai' dengan ajaran-ajaran agama-Nya dari para nabi-Nya (walaupun tidak harus persis sama), yang memang diyakini telah tersusun relatif paling lengkap dan sempurna.
Sebaliknya Majelis alim-ulama mestinya tidak berlaku 'pasif', hanya semata bisa menunggu adanya laporan, pengaduan ataupun permintaan dari umat.
Hal ini serupa seperti halnya yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya, dengan amat rajin mengunjungi umat-umatnya di berbagai pelosok dan negeri, walaupun memang ada pula umat-umatnya yang justru langsung mendatangi para nabi-Nya.

Persoalan yang paling mendasar dalam kehidupan umat manusia, adalah 'persoalan batiniah', karena memang langsung terkait dengan kehidupan akhiratnya, sebagai tujuan yang terakhir dari diciptakan-Nya kehidupan segala makhluk-Nya di seluruh alam semesta ini (di dunia). Bahkan segala persoalan lahiriah juga pada akhirnya pasti berujung atau bermuara kepada berbagai persoalan batiniah yang terkait.
Dan kehidupan akhirat tiap umat bisa makin baik, jika segala persoalan batiniahnya juga bisa makin dikurangi, selama hidupnya di dunia ini.

Dan harap baca pula artikel/posting terdahulu "Jagalah hati-pikiran = sempurnakan kehidupan akhirat selama di dunia", tentang hubungan antara alam batiniah ruh (alam pikiran) dan alam akhirat.

Maka dalam sebagian dari ajaran-ajaran agama-Nya justru berupa 'tuntunan-Nya' (tidak hanya semata berupa 'pengajaran-Nya'), sehingga umat yang paling awam sekalipun juga bisa langsung mengamalkannya (tanpa harus memahaminya terlebih dahulu), terutama untuk bisa membangun atau makin memperbaiki kehidupan akhiratnya. Sehingga tuntunan-Nya semacam ini umumnya bersifat lahiriah (bagi penyempurnaan pengamalan). Segala keredhaan, anjuran, perintah, peringatan dan larangan-Nya pada dasarnya juga termasuk bagian dari tuntunan-Nya semacam ini.

Sedangkan pengajaran-Nya lebih bertujuan untuk bisa mengatasi segala persoalan pemahaman umat tentang kebenaran-Nya. Walaupun pada akhirnya, segala pengajaran-Nya juga pasti makin menyempurnakan segala tuntunan-Nya, yang telah dipahami oleh umat. Tuntunan-Nya yang berasal dari hasil pengajaran-Nya, umumnya bersifat batiniah (bagi penyempurnaan pemahaman).

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang perbedaan antara pengajaran-Nya dan tuntunan-Nya.

Serta keseluruhan bentuk tuntunan-Nya pada dasarnya juga bisa terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu: tuntunan-Nya yang bersifat 'langsung' dan yang bersifat 'tak-langsung', jika dikaitkan dengan pengaruhnya bagi pembangunan kehidupan akhirat. Tuntunan-Nya yang bersifat 'langsung' umumnya berupa pembentukan segala akhlak, budi-pekerti atau sikap yang positif-terpuji.
Sedangkan tuntunan-Nya yang bersifat 'tak-langsung' umumnya berupa pelaksanaan segala ritual dan amal-ibadah fisik-lahiriah. Walaupun pada akhirnya, segala tuntunan-Nya yang bersifat 'tak-langsung' ini, juga pasti berubah menjadi sejumlah tuntunan-Nya yang bersifat 'langsung'. Karena pembentukan akhlak yang terpuji memang puncak yang terakhir, dari hasil pelaksanaan segala ritual dan amal-ibadah. Sementara pembentukan akhlak yang terpuji, adalah wujud langsung dari usaha pembangunan kehidupan akhirat (usaha mengatasi persoalan batiniah).

Akhlak atau sikap batiniah terhadap sesuatu hal, bisa kepada: Allah; diri-sendiri; keluarga (orang-tua, istri-suami, anak & sanak-saudara); tetangga; teman; lawan jenis; pemimpin; para nabi-Nya; alim-ulama; guru; semua makhluk lainnya (nyata & gaib); makanan; harta; alam; dsb. Dan akhlak juga amat banyak macamnya, yang telah disebut dalam ajaran-ajaran agama-Nya, baik yang positif-terpuji (perlu dimiliki dan membawa keselamatan-kebahagiaan-kemuliaan), maupun yang negatif (perlu dihindari dan membawa kecelakaan-kesengsaraan-kehinaan).

Dan akhirnya, dengan telah terbentuknya segala akhlak yang terpuji, pada dasarnya hampir semua persoalan umat manusia (lahiriah dan terutama batiniah), justru relatif pasti bisa teratasi atau terselesaikan.
Namun segala bentuk persoalan juga pasti selalu datang silih-berganti (sebagai suatu bentuk ujian-Nya), maka segala akhlak yang terpuji tentunya mestinya bisa terus-menerus dijaga, dilatih ataupun dipupuk.
Serta dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini, terutama amat diperlukan berbagai akhlak, seperti: 'sabar' (bisa menghadapi segala ujian-Nya), 'ikhlas' (bisa menerima apa adanya segala kehendak-Nya), 'tawakal' (bisa berserah diri kepada-Nya dalam berusaha) dan 'syukur' (bisa menerima segala pemberian-Nya).

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang sabar, ikhlas, tawakal dan syukur.

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang gambaran umum proses penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya sepanjang masa, di samping dari topik-topik terkait lainnya dalam buku ini, termasuk untuk mengetahui lebih lengkap, ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an yang telah mendukung berbagai dalil-alasan bagi tiap penjelasan atau pemahaman di atas.

Wallahu a'lam bishawwab.

Artikel / buku terkait:

Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

Tentang Syarif Muharim

Alumni Teknik Mesin (KBK Teknik Penerbangan) - ITB - angkatan 1987 Blog: "islamagamauniversal.wordpress.com"
Tulisan ini dipublikasikan di Hikmah, Saduran buku dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s