Bab VIII Penutup

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

"Kami berfirman: 'Turunlah kamu (Adam) dari surga itu!.
Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu,
maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku,
niscaya tidak perlu ada kekuatiran atas mereka,
dan tidak perlu (pula) mereka bersedih-hati'."
(QS. AL-BAQARAH:2:38).

"(Tidak demikian), dan bahkan barangsiapa yang berserah diri
kepada (kehendak) Allah, sedang ia berbuat kebaikan,
maka baginya (ada) pahala dari sisi Rabb-nya.
Dan tidak perlu ada kekuatiran terhadap mereka,
dan tidak perlu (pula) mereka bersedih-hati."
(QS. AL-BAQARAH:2:112).

"Sesungguhnya, orang-orang yang beriman,
mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat,
mereka mendapat pahala dari sisi Rabb-nya.
Tidak perlu ada kekuatiran terhadap mereka
dan tidak perlu (pula) mereka bersedih-hati."
(QS. AL-BAQARAH:2:277).

 

VIII.

Penutup

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha suci Allah Yang memiliki segala kemuliaan dan keagungan, Yang juga memiliki dan menciptakan segala sesuatu hal di seluruh alam semesta ini.

Ya Allah, aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak untuk disembah selain Engkau, dan nabi Muhammad saw adalah utusan-Mu.

Berkat segala petunjuk dan karunia-Mu, penulisan buku inipun terselesaikan. Segala puji bagi Allah, Yang dengan segala limpahan hikmah dan hidayah-Nya, maka amal-shaleh ini bisa pula dilakukan dengan cukup sempurna. Sedang kami hamba-Mu telah bisa ikut-serta menegaskan kembali berbagai risalah-Mu dalam kitab suci Al-Qur'an, yang telah Engkau sampaikan melalui hamba-Mu nabi Muhammad saw, sekaligus melalui perantaraan hamba-Mu yang amat mulia, Jibril.

Hanya Engkau pemilik segala kebenaran sedangkan hanya aku pemilik segala kekeliruan dan kesalahan pada buku ini. Karena itu aku memohon segala ampunan dan taubat kepada-Mu. Hanya kepada-Mu kami hamba-Mu pasti kembali dan semestinya berserah-diri.

Berbagai pemahaman praktis bagi kehidupan umat

Dari sejumlah pemahaman yang telah diperoleh pada buku ini, ada berbagai pemahaman yang bersifat 'praktis' bagi tiap umat Islam, di dalam menjalani kehidupannya sehari-hari di dunia fana ini, seperti yang diungkapkan sebagai berikut:

Berbagai pemahaman praktis bagi kehidupan umat

a.

Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala bentuk kehendak-Nya bagi seluruh alam semesta (bersifat 'mutlak' dan 'kekal'), yang pasti mustahil bisa ditolaknya, yang meringankan (rahmat-Nya) ataupun memberatkan (ujian-Nya), secara lahiriah dan batiniah.

Segala ujian-Nya sama-sekali tidaklah akan mengurangi ataupun menghalangi kesempatan bagi tiap manusia untuk bisa mendapat tempat tinggal di Surga, namun sebaliknya, segala rahmat-Nya sama-sekali tidaklah akan memudahkannya.

Segala kesulitan (ujian-Nya) ataupun segala kemudahan (rahmat-Nya) itu pada dasarnya sarana dari Allah, agar tiap manusia bisa terus-menerus memperoleh bahan pelajaran yang berlimpah-ruah untuk makin memahami berbagai kehendak-Nya di alam semesta dan makin memperbaiki kehidupannya sesuai kehendak-Nya itu.

Tentunya berbagai pemahaman itu telah amat dipermudah pula melalui rahmat-Nya yang lainnya, berupa segala pengajaran dan tuntunan-Nya yang telah disampaikan oleh para nabi-Nya (atau berupa ajaran-ajaran agama-Nya yang lurus).

Justru hal terpentingnya adalah 'proses berusaha' tiap manusia dalam usaha membangun kehidupan akhiratnya selama di dunia ini (kehidupan batiniah ruhnya, secara sadar ataupun tidak), yang sesuai keredhaan-Nya. Dan kehidupan akhirat inilah yang akan disempurnakan-Nya dan bersifat kekal di Hari Kiamat.

Segala perintah ataupun larangan yang diajarkan di dalam ajaran-ajaran agama-Nya, pada dasarnya bertujuan untuk membangun kehidupan akhirat yang lebih diredhai-Nya tersebut.

Dengan sarana akal-pengetahuan dan nafsu-keinginannya, justru tiap manusianya memiliki kebebasan dan kekuasaan sepenuhnya, untuk bisa mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

Terutama dengan membangun sikap-sikap sabar, ikhlas, tawakal dan syukur yang makin tinggi, agar makin mampu pula memikul tiap bentuk beban ujian-Nya.

b.

Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala sesuatu yang 'bukan' berasal dari segala hasil pengaruh (secara langsung ataupun tidak), dari segala usaha atau amal-perbuatannya sendiri, walaupun berbagai hal itu memang terasa memberatkan (sebagai sesuatu bentuk ujian-Nya).

Tiap manusia sama-sekali tidak akan dianiaya-Nya ataupun tidak akan menanggung segala beban dosa dari orang-lainnya. Serta ia hanya bertanggung-jawab atas tiap amal-perbuatannya sendiri.

Allah juga pastilah akan memperhitungkan tingkat keterpaksaan, beban tanggung-jawab dan tingkat kesadarannya dalam berbuat.

c.

Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala bentuk dan keadaan fisik-lahiriahnya.

Segala hal yang bersifat fisik-lahiriah pada kehidupan dunia fana ini hanya sesuatu bentuk ujian-Nya bagi tiap manusia, agar bisa diketahui-Nya keimanannya. Ujian-Nya justru juga demi tercapai keselamatan dan kemuliaannya sendiri yang makin tinggi (bukan demi kepentingan Allah), jika sebaik-baiknya bisa diatasinya.

Manusia pada dasarnya hanya dinilai atas kehidupan akhiratnya (kehidupan batiniah ruhnya), dari hasil segala amal-perbuatannya sendiri, bukan dinilai atas segala keadaan kehidupan lahiriahnya.

d.

Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala bentuk 'hasil' usahanya (lahiriah dan batiniah).

Demikian pula, manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala keadaan dan kemampuannya (lahiriah ataupun batiniah), ketika berbuat amal-kebaikan.

Hal yang paling pentingnya adalah 'proses' berusahanya dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan segala tuntunan ajaran agama-Nya (khususnya sesuai dengan hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), dan sesuai pula dengan keadaan dan kemampuan tiap umat.

Di mana 'proses' berusaha itupun lebih bersifat batiniah (tidak tampak kentara atau gaib), berikut aspek-aspek beban ujian-Nya, niat, tingkat kesadaran dan keterpaksaan di dalamnya, yang pada dasarnya semuanya juga ukuran-ukuran batiniah.

Suatu nilai amalan yang diberikan-Nya atas tiap amal-perbuatan manusia justru bersifat absolut, dan ditentukan-Nya berdasarkan kepada proses berusahanya, bukanlah berdasarkan kepada hasil usaha, keadaan ataupun kemampuannya.

Allah Yang Maha mengetahui bentuk balasan-Nya (nikmat atau hukuman-Nya, lahiriah dan batiniah), yang paling baik dan amat setimpal dengan tiap amal-perbuatan manusia.

e.

Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala bentuk amal-kebaikannya yang sekecil atau sesederhana apapun (sebesar biji zarrah sekalipun).

Tiap amal-kebaikan pasti dinilai-Nya, serta juga pasti diberikan balasan pahala-Nya yang dilipat-gandakan-Nya. Dan bahkan tiap amal-perbuatan memiliki sesuatu nilai amalan absolut, yang akan bisa memiliki pengaruh bagi seluruh alam semesta ini, ataupun memiliki pengaruh selama ribuan tahun, seperti pada tiap amal-perbuatan nabi Muhammad saw yang amat sederhana sekalipun.

f.

Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan jumlah nilai amalan dari suatu ataupun seluruh amal-perbuatannya.

Jauh lebih penting bagi tiap manusia, untuk terus-menerus makin memperbanyak segala amal-kebaikannya, serta sebaliknya makin mengurangi atau menghindari segala amal-keburukannya selama hidupnya, sesuai keadaan dan kemampuannya. Khususnya untuk menghindari dosa-dosa besar yang paling dilaknat-Nya.

Sedangkan hanya hak Allah Yang Maha mengetahui nilai amalan atas tiap amal-perbuatan manusia. Tidak ada seseorangpun yang bisa menilainya secara mutlak, bahkan termasuk para nabi-Nya.

Para nabi-Nya hanya bisa menilainya secara relatif, umum atau garis besarnya saja.

Bahkan tiap saatnya selama hidupnya di dunia ini, justru terbuka pintu taubat-Nya bagi tiap manusia, atas berbagai perbuatan dosa 'tertentu' yang telah dilakukannya.

Maka selain tiap perbuatan dosa yang sulit bisa dimaafkan-Nya (atau dilaknat-Nya), selama hidupnya di dunia, tiap manusia juga pasti diberikan-Nya kesempatan agar bisa berusaha memperbaiki keadaan batiniah ruhnya (atau mensucikan ruh), yang justru telah dirusak atau dikotori oleh berbagai perbuatan dosanya.

g.

Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala dosanya di masa lalunya, yang relatif tidaklah terlalu besar beban dosanya (relatif mudah bisa dimaafkan-Nya).

Sedang bukanlah kesempurnaan ataupun tanpa cacat-dosa sama sekali yang semestinya dicapai. Hal yang lebih penting lagi bagi tiap manusianya, justru bagaimana bisa makin banyak berusaha berbuat lebih baik dan benar daripada di masa-masa sebelumnya.

Karena memang relatif amat sangat sedikit umat manusia (seperti para nabi-Nya) yang benar-benar bisa memiliki kepribadian yang relatif sempurna (segala budi-pekerti, akhlak dan kebiasaan amat terpuji; ilmu agama yang amat lengkap dan mendalam; dsb).

Bahkan sebagian dari umat Islam yang memang banyak berbuat amal-kebaikan dan banyak beramal-ibadah pada saat ini bisa jadi justru bukanlah dicapainya melalui perjuangan yang relatif amat berat, namun relatif ringan saja. Karena berbagai ujian-Nya yang telah dilewati dan bisa diatasinya, juga relatif ringan. Dan juga ia secara kebetulan telah langsung terlahir sebagai seorang Muslim.

Sedang pada uraian poin d di atas diketahui, bahwa nilai dari tiap amal-perbuatan justru amat ditentukan berdasar 'proses berusaha' atau 'proses perjuangannya', dimana berbagai ujian-Nya meliputi proses itu, serta bukan ditentukan berdasar 'hasil usahanya'.

Bahkan seseorang yang terlahir sebagai kafir-musyrik, yang lalu telah bertaubat dan memeluk agama Islam, relatif jauh sebelum ia menjelang ajalnya, atas ijin-Nya, justru ia juga tetap bisa hidup kekal di Surga, karena tiap 'proses berusahanya' untuk mengubah keyakinannya memang relatif amat berat, dan ibaratnya ia seperti seorang bayi yang baru terlahir sebagai Muslim.

Sedang dalam agama Islam, seorang anak yang telah meninggal dunia sebelum mencapai usia akil-baliqnya, maka atas ijin-Nya, ia bisa langsung hidup di Surga, walau Surga pada tingkat yang relatif paling rendah (tingkat keimanannya relatif paling rendah).

Bahkan orang yang telah kafir-musyrik sejak lahirnya, jauh lebih ringan beban dosa-dosanya daripada seorang Muslim yang telah benar-benar berlaku 'murtad', ataupun para penganut 'ateisme'.

Bahkan sebagian dari para nabi-Nya pada awalnya justru seorang kafir-musyrik, sebelum bisa menemukan 'jalan-Nya yang lurus', beriman, mengabdikan dirinya dan seluruh kehidupannya kepada Allah, Tuhannya alam semesta yang sebenarnya.

h.

Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala bentuk 'prestasinya' di kehidupan dunia ini, yang berdasar segala ukuran lahiriah-fisik-duniawi, yang memang bersifat semu dan fana.

Segala ukuran lahiriah-fisik-duniawi (seperti: tahta-jabatan-karir, harta-kekayaan, dsb), sama sekali tidak terkait dengan keadaan kehidupan batiniah ruh tiap manusia (kehidupan akhirat), yang justru bersifat hakiki dan kekal.

Bahkan kehidupan dunia inipun hanya sarana bagi tiap manusia, agar makin banyak membangun kehidupan akhiratnya, sekaligus tempat tinggal sementara dalam rangka pengujian keimanannya (dengan segala bentuk ujian-Nya, lahiriah dan batiniah).

Secara lahiriah, tiap manusia memiliki keadaan, nasib atau jalan hidup yang amat berbeda. Sedang wujud ke-Maha Adil-an Allah justru bukan pada aspek lahiriah, tetapi pada aspek batiniah.

Di mana tiap manusia memang memiliki kesempatan yang sama, serta kebebasan dan kekuasaan sepenuhnya untuk bisa mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri (kehidupan akhiratnya).

i.

Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan panjang usia atau lama hidupnya di dunia ini.

Demikian pula, manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan kapan waktu kedatangan Hari Kiamat.

Asal pada akhir hidupnya, ia telah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman dan iapun telah relatif cukup banyak beramal-shaleh, bisa terhindari dari segala perbuatan dosa yang amat sulit bisa dimaafkan-Nya (paling dilaknat-Nya), dan ia telah banyak bertaubat atas dosa-dosanya, maka atas ijin-Nya, ia juga bisa hidup kekal di Surga (mendapat berbagai kemuliaan).

j.

Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala hal yang berada 'di luar' pengetahuan dan kekuasaannya.

Justru sama sekali tidak ada sesuatupun tanggung-jawab baginya, atas hal-hal tersebut.

k.

Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala sesuatu halnya dalam kehidupan beragamanya.

Agama-Nya yang lurus (terakhir agama Islam) tidak diturunkan-Nya untuk menjadi beban bagi tiap umat manusia, namun justru bertujuan agar ia bisa pula mendapat keselamatan dan kemuliaan dalam kehidupannya di dunia dan di akhirat.

Tiap manusia pasti akan dimintai-Nya pertanggung-jawaban atas tiap amal-perbuatannya, dan ia pasti diberikan balasan-Nya yang setimpal (nikmat atau hukuman-Nya), secara langsung (di dunia) serta secara tertunda atau tertangguhkan (di Hari Kiamat).

Karena manusia dan kehidupannya di dunia, memang diciptakan-Nya dengan tujuan yang pasti, jelas dan benar (haq).

l.

Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala tingkat kemampuan dan pengetahuannya dalam memahami ajaran-ajaran agama-Nya. Dengan segala tingkat pemahamannya, tiap manusia semestinya bisa mengikuti agama-Nya yang lurus.

Walaupun bersama dengan berjalannya waktu, iapun semestinya bisa makin lengkap dan mendalam memahami agama-Nya, agar bisa makin meningkat pula keimanan dan kemuliaannya sendiri.

Namun agama-Nya yang lurus (terakhir agama Islam) memiliki berbagai pondasi utama bagi kehidupan beragama tiap umatnya, terutama hal-hal yang disebutkan dalam 'dua kalimat syahadat', yaitu agar umat tidak menyekutukan Allah, dan juga menyakini nabi besar Muhammad saw adalah utusan Allah.

Tentunya pemahamannya juga tidak terlalu menyalahi berbagai pengajaran dan tuntunan-Nya dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Hadits), yang telah diketahuinya dengan cukup jelas dan terang, atas berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalamnya.

Fokus di sini justru terkait dengan kandungan isi ajaran agama-Nya, yang bisa memiliki banyak macam bentuk penafsiran, yang biasanya disebutkan sebagai masalah-masalah khilafiyah (hal-hal yang tidak begitu prinsipiil dalam kehidupan beragama).

Atas ijin-Nya dan sebagai wujud rahmat-Nya, penafsiran yang 'keliru' akan mendapat satu pahala-Nya, sedangkan yang 'benar' akan mendapat dua pahala-Nya.

Hubungan antara pengetahuan Allah dan pengetahuan manusia

Dari uraian-uraian pada buku ini bisa pula diungkap berbagai rangkuman Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), di balik teks ayat-ayat Al-Qur'an, tentang hubungan antara pengetahuan-Nya di seluruh alam semesta ini, dan pengetahuan manusia (termasuk para nabi-Nya), yang diuraikan secara ringkas pada tabel berikut.

Tabel 20: Hubungan antara pengetahuan Allah dan manusia

Catatan-catatan atas hubungan antara pengetahuan 'mutlak' Allah dan pengetahuan 'relatif' manusia

'Zat' Allah Maha Suci dan tersucikan dari segala sesuatu hal.

Termasuk tentunya 'Zat' Allah mustahil bisa 'dilihat' (melalui mata lahiriah) ataupun 'diketahui' (melalui mata batiniah), oleh segala sesuatu zat makhluk-Nya di dunia dan di akhirat.

Juga para nabi-Nya, para malaikat dan para makhluk gaib lainnya mustahil bisa melihat 'Zat' Allah. Sedangkan 'penglihatan' yang disebut dalam Al-Qur'an, hanya contoh-perumpamaan simbolik.

Lebih tepatnya misalnya, para nabi-Nya dan para malaikat justru hanya bisa menyaksikan ataupun memahami berbagai 'kebenaran-Nya' di alam semesta ini, dengan relatif amat terang dan jelas.

Hanya hakekat 'esensi' Zat Allah Yang Maha Gaib, yang mustahil terjangkau oleh akal zat makhluk-Nya. Segala hal lainnya sedikit-banyak masih bisa dijangkau oleh akalnya (termasuk hal-hal gaib lainnya), seperti halnya pada akal dan pengetahuan para nabi-Nya.

Akal zat makhluk-Nya bisa menjangkau segala sesuatu hal, selain tentang hakekat 'esensi' Zat Allah. Bahkan sebagian 'esensi' atau 'wujud asli' dari zat ruh para makhluk gaib justru telah diketahui oleh sejumlah amat terbatas manusia, dari jaman dahulu sampai saat ini (termasuk pula sebagian dari para nabi-Nya), yang pernah berinteraksi secara terang-terangan dengan para makhluk gaib.

Nilai kebenaran dari segala sesuatu informasi yang bisa diperoleh dari hasil tangkapan alat-alat indera lahiriah pada tiap manusia, 'jauh lebih rendah' nilainya daripada segala informasi dari hasil tangkapan indera batiniahnya, apabila akalnya telah dipakai secara relatif benar, amat teliti dan amat obyektif.

Segala zat makhluk-Nya pasti menghadapi berbagai 'tabir-hijab-pembatas' terhadap Allah (tepatnya, terhadap "segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta"). Bahkan juga termasuk pasti dihadapi oleh para nabi-Nya dan para malaikat-Nya.

Wujud dari tiap 'tabir' itupun pada dasarnya berupa tiap 'tingkat' kebenaran dan kedalaman pengetahuan 'relatif' milik zat makhluk-Nya, terhadap pengetahuan 'mutlak' milik Allah di alam semesta.

Segala zat makhluk-Nya pasti hanya bisa 'berhubungan' dengan Allah dari balik 'tabir', atau pasti melalui 'perantaraan' kalam-Nya (kalamullah, kalimat atau wahyu-Nya).

Lalu tiap manusia juga pasti melalui 'perantaraan' para makhluk gaib, yang tiap saatnya pasti selalu mengikuti, mengawasi ataupun menjaganya pada alam pikirannya (alam batiniah ruh atau alam akhiratnya), terutama dalam memberi segala jenis 'ilham-bisikan-godaan' (positif-benar-baik dan negatif-sesat-buruk).

Wahyu atau kalam-Nya yang 'sebenarnya' adalah 'alam semesta'.

Lebih khusus lagi juga biasa disebut sebagai "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di seluruh alam semesta ini" "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya" "Al-Qur'an atau kitab-Nya yang berwujud gaib, yang tercatat di Lauh Mahfuzh" "segala pengetahuan atau kebenaran-Nya" "wajah-Nya" dsb.

Kesemua sebutan ini hanya berbeda pada konteks pemakaiannya saja, walau pada dasarnya sesuatu hal yang 'sama', berupa segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadiannya di seluruh alam semesta ini, lahiriah dan batiniah.

Maka di alam semesta ini ada tak-terhitung jumlah hal-hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', yang memang hanya hasil perbuatan Allah, Tuhannya alam semesta ini. Sedang sifat-sifat 'mutlak' dan 'kekal' memang hanya milik Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Semua hal itu memang sengaja hendak ditunjukkan-Nya, agar tiap zat makhluk-Nya bisa mencari dan mengenal Allah, Tuhan yang sebenarnya telah menciptakannya, dan juga agar bisa menyembah dan mengabdikan dirinya kepada-Nya.

Segala pengetahuan atau kebenaran-Nya di seluruh alam semesta tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya (pada alam gaib). Segala pengetahuan-Nya ini juga bersifat kekal sejak dicatatkannya.

Dan segala pengetahuan-Nya yang tercatat di Lauh Mahfuzh pada dasarnya terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu:

a.

Pengetahuan-Nya yang bersifat 'non-kronologis' (tak-terkait waktu).

Berupa seluruh ketetapan, ketentuan, hukum atau aturan-Nya (juga termasuk sunatullah, Sunnah Allah atau sifat perbuatan Allah di alam semesta).

Pengetahuan-Nya ini sama sekali tidak terkait dengan peranan segala zat makhluk-Nya, dan sama sekali tidak terkait dengan segala keadaan tiap zat ciptaan-Nya tiap saatnya.

Pengetahuan-Nya ini bersifat mutlak (pasti terjadi) dan kekal (pasti konsisten, tidak berubah), sejak awal terciptanya alam semesta, sampai saat berakhirnya (akhir jaman). Juga bersifat universal, amat umum dan luas cakupannya.

Pengetahuan-Nya ini pasti bisa diketahui-Nya, saat 'sebelum', 'sedang' dan 'setelah' terjadinya sesuatu hal (bisa diketahui-Nya kapan saja), karena memang pasti tidak berubah-ubah dan diciptakan-Nya.

b.

Pengetahuan-Nya yang bersifat 'kronologis' (terkait waktu).

Berupa segala keadaan tiap zat ciptaan-Nya tiap saatnya.

Pengetahuan-Nya ini terkait dengan peran segala zat makhluk-Nya tiap saatnya.

Pengetahuan-Nya ini bersifat kekal (tidak berubah), hanyalah sejak 'setelah' terjadinya sesuatu hal (setelah zat makhluk-Nya berbuat sesuatu, ataupun setelah sesuatu keadaan zat ciptaan-Nya berubah). Juga bersifat aktual, amat khusus dan terbatas cakupannya.

Pengetahuan-Nya inipun justru diketahui-Nya hanyalah segera 'setelah' terjadinya sesuatu hal (bukanlah saat 'sebelum' dan 'sedang' terjadinya), karena memang tidaklah diciptakan-Nya. Allah hanyalah menciptakan aturan-Nya atau sunatullah, yang mengatur tiap proses perubahan keadaan tiap zat ciptaan-Nya, yang berubah-ubah mengikuti keadaan lingkungan sekitarnya ataupun diubah-ubah oleh segala zat makhluk-Nya.

Pengetahuan-Nya ini adalah wujud dari kebebasan yang telah diberikan-Nya kepada zat makhluk-Nya di dalam berkehendak dan berbuat (dengan diciptakan-Nya akal dan nafsunya).

'Arsy-Nya yang amat mulia dan agung, merupakan 'simbol' bagi tempat keberadaan segala pengetahuan ataupun kebenaran-Nya di alam semesta. Namun 'Arsy-Nya bukan 'kursi-tahta' atau tempat keberadaan yang sebenarnya bagi 'Zat' Allah.

Lebih jelasnya, 'Arsy-Nya berada pada alam batiniah ruh tiap zat makhluk-Nya (dalam dada-hati-pikirannya), dan bersifat gaib.

Maka Allah berada dalam dada-hati-pikiran tiap zat makhluk-Nya. Sekali lagi, hal ini tentunya bukan tentang keberadaan 'Zat' Allah, namun hanyalah berupa pemahaman tentang Allah, sifat-sifat-Nya ataupun tiap kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta.

Dengan berbagai keterbatasan ilmu-pengetahuannya, tidak semua zat makhluk-Nya bisa 'mendekati' 'Arsy-Nya. Hanya orang-orang yang relatif amat keras memanfaatkan 'akal'-nya dalam mencari pemahaman tentang tiap kebenaran-Nya, yang bisa berada amat 'dekat' di sisi 'Arsy-Nya (terutama para nabi-Nya).

Dengan segala pengetahuan-Nya di alam semesta ini yang Maha Tinggi dan Maha Luas, maka segala pengetahuan-Nya atau ayat-Nya yang tak-tertulis justru mustahil bisa dipahami dan dituliskan keseluruhannya oleh umat manusia (tidak cukup dituliskan dengan "tinta sebanyak beberapa samudera").

Segala zat makhluk-Nya hanyalah bisa memahami tentang Allah (tepatnya, tentang kebenaran atau pengetahuan-Nya), dari segala hasil usahanya setelah mengamati, meneliti ataupun mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta (atau segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal').

Hal seperti itulah yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya, sedang umat manusia lainnya justru telah relatif amat dipermudah dalam memahaminya, setelah diilhami dari segala pemahaman para nabi-Nya, yang telah terungkap melalui ajaran-ajaran mereka (melalui ayat-ayat-Nya yang tertulis, terucap atau terungkap, Al-Kitab).

Hanyalah 'benar' (haq) yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', sebagai satu-satunya bukti, bahwa sesuatu halnya bisa disebut berasal dari Allah (ayat, wahyu, tulisan, catatan, keterangan, ucapan, berita, dsb), dimanapun hal itu tertulis, bagaimanapun cara disampaikan serta siapapun yang menyampaikannya, karena sesuatu kebenaran 'mutlak' dan 'kekal' memang hanya hak-milik Allah semata.

Begitu pula halnya dengan berbagai ajaran para nabi-Nya (tulisan, lisan, sikap dan contoh perbuatan), sehingga para pengikut awal mereka misalnya, bisa amat menyakini dan taat mengikutinya.

Walaupun para pengikut itu belum bisa memahami secara lengkap dan mendalam, tetapi berdasarkan berbagai pengalaman dan akal-sehatnya, mereka justru telah cukup mengakui dan merasakan atas adanya kebenaran dalam kandungan isi ajaran-ajaran tersebut.

Segala sesuatu kebenaran yang bisa dipahami oleh tiap manusia, secara manusiawi pada dasarnya pasti bersifat 'relatif' (tidak pasti, tidak konsisten ataupun subyektif), bahkan termasuk pemahaman pada para nabi-Nya.

Tetapi jika pemahamannya diperoleh dengan relatif amat obyektif dan telah tersusun relatif 'sempurna' (amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhan), maka kebenaran yang dipahaminya bisa relatif 'amat mendekati' kebenaran-Nya di alam semesta ini (bersifat 'mutlak' dan 'kekal').

Seluruh pemahaman yang telah relatif 'sempurna', terutama atas hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat kaumnya, dan bahkan bagi kehidupan seluruh umat manusia, justru telah bisa dimiliki oleh para nabi-Nya.

Kesempurnaan seluruh pemahaman itulah yang telah menjadikan 'tiap' pemahaman para nabi-Nya (Al-Hikmah) dan juga 'tiap' hasil pengungkapannya (Al-Kitab), justru bisa disebutkan sebagai suatu 'wahyu-Nya'.

Sedang pemahaman dan hasil pengungkapan oleh umat manusia umumnya, yang justru relatif amat rendah kesempurnaannya dan banyak diilhami dari pemahaman para nabi-Nya, masing-masing tetap hanya disebutkan sebagai 'Al-Hikmah' dan 'ijtihad'.

Sunatullah (Sunnah Allah atau aturan-Nya), adalah sesuatu bentuk perwujudan dari segala kehendak, perbuatan atau tindakan-Nya di alam semesta (lahiriah dan batiniah). Sunatullah merupakan salah-satu dari ilmu atau pengetahuan-Nya yang paling penting.

Sunatullah itu berupa segala aturan atau rumus proses kejadian di alam semesta, yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'. Sunatullah pasti berlaku dan pasti mengatur segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta, sesuai segala keadaan tiap zatnya tiap saatnya.

Sunatullah adalah salah-satu dari segala ketentuan atau ketetapan-Nya yang justru telah diciptakan-Nya 'sebelum' awal penciptaan alam semesta ini, serta semuanya telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya.

Segala bentuk pengetahuan manusia (juga termasuk pengetahuan tentang Allah dan berbagai kebenaran-Nya), sebagian terbesarnya justru hanya hasil dari pengungkapan atas berbagai rumus proses lahiriah dan batiniah pada sunatullah (sifat-sifat perbuatan-proses-dinamis yang 'mutlak' dan 'kekal', pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta ini, yang memang hanya hasil dari perbuatan-Nya).

Sebagian amat sedikit lainnya, justru dari hasil pengungkapan atas kekayaan khasanah segala zat ciptaan-Nya di alam semesta (sifat-sifat esensi-statis-pembeda pada segala zat ciptaan-Nya, yang juga telah ditetapkan-Nya pada awal penciptaan alam semesta ini).

Pengetahuan yang 'tertinggi' bagi tiap manusia atas tanda-tanda kekuasaan-Nya, pada dasarnya justru berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah, cahaya kebenaran-Nya), yang justru semestinya bersifat 'universal' (bisa melewati batas ruang, waktu dan konteks budaya), dan diperoleh secara 'amat obyektif', seperti pada pengetahuan yang telah dimiliki oleh seluruh para nabi-Nya.

Tiap pengetahuan Al-Hikmah inilah wujud 'hijab' terdekat tentang 'sesuatu hal', antara Allah dan manusia pemilik pengetahuannya (jarak terdekat antara pengetahuan 'mutlak' Allah dan pengetahuan 'relatif' manusia).

Kenabian adalah 'keseluruhan' pengetahuan yang berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), yang telah bisa dicapai oleh para nabi-Nya, yang telah tersusun relatif 'sempurna' (amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhan), khususnya atas hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia.

Kenabian juga mestinya disertai pengamalan yang amat konsisten atas segala pengetahuannya itu (khususnya dalam melayani umat, sebagai wujud dari pengabdian diri kepada-Nya).

Wahyu-Nya yang diterima oleh para nabi-Nya, pada hakekatnya bukanlah berupa 'ilham-bisikan' dari para makhluk gaib (terutama malaikat Jibril), akan tetapi justru berupa pengetahuan hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), setelah 'akal' para nabi-Nya bisa mengolah dan menilai dengan amat yakin, pasti dan obyektif, atas segala bentuk 'ilham-bisikan' dari para makhluk gaib itu.

Karena segala bentuk ilham itu justru tidak jelas, atau pasti selalu bercampur-baur antara ilham-ilham yang mengandung nilai-nilai positif-benar-baik (dari para malaikat, khususnya malaikat Jibril), dan ilham-ilham yang negatif-sesat-buruk (dari syaitan dan iblis).

Hanya akal para nabi-Nya yang justru berperan menyusun segala bentuk ilham-bisikan itu (masih berbentuk mentah dan tidak jelas) menjadi tiap wahyu atau petunjuk-Nya yang utuh dan sempurna.

Segala bentuk ilham dari para makhluk gaib pada dasarnya hanya memancing, mengaduk dan mengikuti kecenderungan arah pikiran tiap manusia, yang selalu mereka ikuti, awasi dan jaga.

Namun justru hanya 'akal' manusianya yang menyusun keyakinan batiniahnya untuk menilai tiap ilham itu sebagai sesuatu informasi batiniah yang relatif 'benar' ataupun yang relatif 'sesat'.

Segala bentuk ilham itu ibaratnya, kata-kata yang ditawarkan oleh para makhluk gaib, untuk mengisi kata-kata yang masih kosong dalam suatu kalimat yang belum lengkap, yang dimiliki oleh tiap manusia. Juga ibaratnya, data-data yang benar dan sesat bagi suatu pengetahuan yang belum lengkap, dalam pikiran tiap manusia.

Sedangkan hanya 'akal' manusianya sendiri yang memilih, menilai dan memutuskan sebagian dari kata-kata atau data-data itu, yang dianggap 'relatif' paling benar dan sesuai bagi pengetahuannya.

Nilai tiap zat makhluk-Nya di hadapan Allah terletak pada segala 'amal-perbuatannya', sesuai dengan tugas-amanat yang diberikan-Nya, bukan pada zat, nama, sosok dan bentuk makhluk-Nya.

Manusia ditugaskan atau diamanatkan-Nya sebagai khalifah-Nya di muka Bumi (dunia), sedang para makhluk gaib ditugaskan-Nya untuk memberi pengajaran dan ujian-Nya secara 'batiniah' kepada tiap umat manusia. Sehingga jin, syaitan dan iblis pada dasarnya justru sengaja diciptakan dan ditugaskan-Nya, untuk bisa menguji keimanan tiap umat manusia.

Selain karena 'sosok' para makhluk gaib memang berwujud 'gaib' (tidak bisa dilihat dan diraba), nama dan sosok mereka memang bukan sesuatu hal yang cukup penting. Namun paling pentingnya bagi manusia, justru hal-hal yang disampaikannya (segala bentuk ilham yang benar untuk diikuti, dan yang sesat untuk dihindari).

Nama sebutan 'Jibril' misalnya, hanya sebutan 'simbolik' bagi tiap makhluk gaib, yang suatu saat sedang menyampaikan hal-hal yang mengandung nilai-nilai kebenaran-Nya (sebagai pengajaran-Nya). Namun makhluk gaib yang sama bisa menyampaikan hal-hal yang mengandung kesesatan pada saat lainnya (sebagai ujian-Nya).

Tiap makhluk gaib itu bisa menjadi malaikat, jin, syaitan dan iblis pada saat yang berbeda-beda. Hal ini justru serupa halnya dengan perilaku manusia, yang memang cenderung 'tidak konsisten' (bisa berbuat benar dan juga berbuat sesat). Namun berbeda daripada manusia, para makhluk gaib itu justru amat tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah-Nya. Kebenaran dan kesesatan isi ilham-bisikan mereka justru hanya menurut penilaian dan sudut pandang relatif manusia, tetapi bukan menurut penilaian mutlak Allah. Hal ini hanya sebagai pengajaran-Nya secara batiniah bagi manusia.

Hal ini bisa lebih jelas diketahui, ketika manusia telah berinteraksi secara terang-terangan dengan para makhluk gaib itu.

Hanya 'akal' satu-satunya pengendali segala sesuatu hal pada tiap zat ruh makhluk-Nya (termasuk hati-nurani dan perasaannya).

Sedang hanya 'akal' satu-satunya sarana pada tiap zat makhluk-Nya, yang bisa memilih, menganalisa, mempelajari, mengiterasi, mengintegrasi, mengolah, memproses, menghitung, menilai serta memutuskan segala bentuk informasi batiniah dalam pikirannya, untuk dipakainya sebagai bahan bagi penyusunan pengetahuannya (termasuk pengetahuan tentang tiap kebenaran-Nya).

Allah pasti hanya memberi petunjuk-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang mau menggunakan 'akal'-nya, walaupun akalnya itu hanya sekedar menyakini, bahwa 'ada' nilai-nilai kebenaran-Nya dalam ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh para nabi-Nya, ataupun bahkan hanya sekedar menyakini, bahwa para nabi-Nya memiliki sifat-sifat yang amat terpuji. dan juga amat bisa dipercaya (selalu berkata benar).

Lalu umat-umat itu mengikuti ajaran-ajaran tersebut, walau belum memahaminya secara utuh, lengkap dan mendalam.

Tentunya makin baik, jika makin melengkapi dan mendalaminya secara langsung, agar keyakinan batiniah umat (pemahaman) juga makin meningkat di samping keyakinan lahiriahnya (pengamalan) atas ajaran-ajaran tersebut.

Wahyu-Nya yang 'disampaikan' oleh para nabi-Nya kepada umat (Al-Kitab), melalui lisan, tulisan, sikap dan contoh-perbuatannya, adalah segala hasil rangkuman atas seluruh pengetahuan mereka, yang berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah).

Tiap Al-Kitab pada dasarnya justru bersifat relatif amat sederhana, ringkas, tidak saling terkait, terpisah, praktis-aplikatif dan aktual, sesuai dengan keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umat manusia pada tiap jamannya masing-masing (atau sesuai dengan konteks ruang, waktu dan budaya).

Sedang tiap Al-Hikmah pada dasarnya bersifat relatif amat rumit, lengkap, mendalam, saling terkait, utuh, tidak praktis-aplikatif dan tidak aktual, khususnya karena tiap Al-Hikmah bersifat 'universal' (bisa melewati batas ruang, waktu dan konteks budaya).

Sehingga tiap Al-Hikmah tentang 'sesuatu hal', relatif 'sama' dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman. Misalnya tauhid seluruh pra nabi-Nya sama, yaitu "tiada tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa", sebagai suatu hasil pemahaman terakhir dan maksimal, dari segala usaha manusia dalam mencari dan mengenal Allah, Tuhan Yang sebenarnya menciptakannya dan seluruh alam semesta ini.

Pemahaman selain tauhid itu (masih mengandung kemusyrikan), pasti bukan hasil usaha pencarian yang terakhir dan maksimal.

Wahyu-Nya (Al-Hikmah) yang telah diterima oleh para nabi-Nya dari malaikat Jibril, 'sedikit-banyak' juga bisa memiliki perbedaan atas wahyu-Nya (Al-Kitab) yang telah mereka sampaikan kepada umat-umatnya, melalui tulisan, lisan, sikap dan contoh perbuatan (seperti wahyu-Nya dalam kitab suci Al-Qur'an, beserta Sunnah-sunnah Nabi sebagai contoh pengamalan dan penjelasannya).

Sedang tiap pemahaman atau isi pikiran manusia memang 'bisa' relatif berbeda daripada berbagai bentuk hasil pengungkapannya. Khususnya karena tiap pemahaman yang berupa Al-Hikmah justru mestinya bersifat 'universal', sedang tiap hasil pengungkapannya yang berupa Al-Kitab sebaliknya mestinya bersifat 'aktual'.

Para malaikat-Nya (terutama malaikat Jibril) bisa ikut mengusung dan bisa berada 'amat dekat' di sekitar 'Arsy-Nya, karena mereka itu memang 'amat sangat cerdas' akalnya (berpengetahuan amat tinggi). Sehingga mereka justru juga bisa memberi segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya kepada para nabi-Nya (melalui alam batiniah ruh atau alam pikiran para nabi-Nya).

Nabi Muhammad saw dalam peristiwa "Isra' Mi'raj", justru telah bisa berada 'amat dekat' ke hadapan 'Arsy-Nya, karena pada saat itulah Nabi memang sedang relatif banyak memperoleh berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), yang juga 'amat tinggi' nilai kemuliaannya.

Tiap zat makhluk-Nya mustahil bisa 'mencapai' 'Arsy-Nya, tetapi hanya bisa 'mendekatinya' (pasti selalu ada 'hijab' antara Allah dan tiap zat makhluk-Nya).

Tingkat kedekatan ini berupa jarak perbedaan antara pengetahuan 'mutlak' milik Allah di alam semesta ini dan pengetahuan 'relatif' milik tiap zat makhluk-Nya.

Di samping itu, tingkat kedekatan ini hanya menyangkut 'sesuatu' hal atau aspek saja, sedang tiap 'hijab' justru terdapat pada tiap hal atau aspek dari segala pengetahuan-Nya di alam semesta ini.

Pengetahuan para nabi-Nya atas hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), pada dasarnya juga pasti bersifat 'relatif'.

Namun keseluruhan Al-Hikmah pada mereka itu justru relatif amat sempurna dan amat tinggi nilainya, jika dibanding dengan segala bentuk pengetahuan pada seluruh umat manusia lainnya, terutama pada jaman masing-masing para nabi-Nya.

Juga secara alamiahnya, segala pengetahuan nabi Muhammad saw sebagai nabi-Nya yang 'terakhir', yang terungkapkan melalui Al-Qur'an dan Sunnah-sunnah Nabi, relatif lebih sempurna dan tinggi nilainya, daripada segala pengetahuan para nabi-Nya terdahulu.

Tugas utama umat Islam pada tiap jamannya (khususnya melalui Majelis alim-ulama), justru agar berusaha mengungkap kembali segala Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), 'di balik' teks ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi, secara relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan.

Lalu agar bisa disampaikan kepada umat pada umumnya, secara amat arif dan bijaksana, khususnya melalui segala bentuk 'ijtihad' yang bersifat sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, agar umat justru relatif lebih mudah memahami dan mengamalkannya, sesuai dengan keadaan, kemampuan dan pengetahuannya.

Sedang penyampaian Al-Hikmah relatif lebih cocok hanya kepada umat-umat yang berilmu-pengetahuan relatif amat tinggi saja.

Pengungkapan segala Al-Hikmah itu perlu dilakukan, agar ajaran-ajaran agama Islam yang semestinya bersifat universal, bisa tetap aktual sampai akhir jaman. Hal ini justru mustahil tercapai melalui pemahaman secara tekstual-harfiah semata atas ajaran-ajarannya.

Segala tindakan Allah bersifat mutlak, kekal dan amat alamiah

Segala tindakan-Nya di alam semesta, yang juga biasa disebut sebagai 'sunatullah' (Sunnah Allah), berupa segala aturan atau rumus proses kejadian di alam semesta, yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), serta amat sangat alamiah, halus, tidak kentara ataupun seolah-olah terjadi begitu saja.

Sesuai dengan sifat-Nya, segala tindakan-Nya di seluruh alam semesta ini disebut pula bersifat 'Maha Halus'. Apabila dipahami jauh semakin mendalam lagi, maka pada sunatullah itu (atau sifat proses-dinamis-perbuatan 'Zat' Allah), terkandung pula hampir semua sifat-sifat-Nya pada Asmaul Husna (nama-nama terbaik yang hanya milik Allah), terutama pada sifat-sifat-Nya yang berupa kata 'kerja' (Maha memelihara; Maha memberi; Maha menentukan; dsb), ataupun berupa kata 'sifat pekerjaan' (Maha kuasa; Maha kokoh; Maha pengampun; Maha suci, Maha mulia, Maha adil, dsb).

Amat sedikit sifat-sifat-Nya lainnya yang berupa sifat esensi-statis-pembeda 'Zat' Allah (seperti: Wujud atau ada, Maha Esa, Maha gaib, Maha awal, Maha akhir dan Maha kekal, dsb), walaupun sifat-sifat inipun justru tidak terkait langsung tentang Zat Allah.

Ke-Maha Halus-an segala tindakan-Nya itulah yang berusaha diungkapkan semaksimal mungkin, melalui keseluruhan pembahasan pada buku ini. Hal inipun amat diperlukan, karena keadaan kehidupan beragama sebagian kalangan umat Islam telah cukup memprihatinkan, terutama karena banyak berkembangnya hal-hal yang bersifat 'mistis-tahayul' pada pemahaman umat, dalam memahami tentang Allah, sifat dan tindakan Allah, Yang Maha Gaib.

Persoalan inipun mudah dimengerti bisa muncul, karena segala tindakan Allah di alam semesta ini, memang bersifat 'Maha Halus', sehingga relatif amat sulit dipahami oleh sebagian besar umat Islam, terutama bagi umat yang amat awam. Buku ini diharapkan cukup bisa membantu umat Islam, dalam memahami berbagai tindakan Allah di alam semesta ini, termasuk pula memahami berbagai tindakan ataupun kejadian pada zat-zat ruh makhluk-Nya, yang juga bersifat gaib.

Sifat 'mistis' pada ajaran-ajaran agama-Nya semestinya berupa pengertian atas 'amat tingginya' nilai kemuliaan dari tiap kebenaran-Nya di dalamnya, sehingga sebagian kalangan umat Islam relatif sulit bisa memahami atau menjangkaunya. Tetapi justru semestinya bukan berupa sifat 'mistis' yang mengandung berbagai 'tahayul'. Hal inipun umumnya sebagai efek dari pemaksaan suatu pemahaman, atas hal-hal yang belum diketahui dengan jelas. Bahkan pemahaman seperti inipun amat sulit bisa diterima oleh akal sehat manusia pada umumnya.

Perbedaan pemahaman umat, suatu rahmat-Nya

Pada dasarnya setiap pemahaman yang bersifat 'mistis tahayul' juga bukan persoalan penting, jika tidak dipaksakan diajarkan sebagai kebenaran-Nya. Pemahaman semacam inipun pasti makin menghilang sejalan dengan bertambahnya pengetahuan umat (telah makin banyak menggunakan akal sehatnya), atau telah makin sempurna pemahaman umat atas ajaran-ajaran agama-Nya (makin meningkat keimanannya).

Setiap 'contoh-perumpamaan' dalam Al-Qur'an, justru amatlah berbeda daripada suatu 'tahayul'. Setiap 'contoh-perumpamaan' pada dasarnya tetaplah 'contoh-perumpamaan', mustahil bisa menjadi suatu kebenaran-Nya yang jelas dan nyata. Lebih jelas lagi, setiap 'contoh-perumpamaan' hanyalah sebagai sarana pengajaran-Nya secara 'tidak langsung', agar umat telah cukup bisa merasakan bentuk analogi dari setiap fakta-kenyataan yang sebenarnya di baliknya. Hal ini biasanya terjadi dalam segala pengajaran-Nya atas hal-hal gaib dan batiniah.

Setiap umat Islam tidak dipaksakan untuk memahami hikmah dan hakekat kebenaran-Nya tentang hal-hal gaib dan batiniah, secara relatif amat mendalam. Telah cukup bagi setiap umat Islam, apabila ia bisa mengikuti segala hal yang diajarkan atau dicontohkan oleh Nabi. Walau secara perlahan-lahan, umat semestinya bisa memahami secara makin mendalam atas hal-hal yang diajarkan oleh Nabi tersebut.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui setiap pemahaman yang paling benar, pengamalan yang paling baik, ataupun siapa yang paling beriman. Serta hanya Allah, Yang Maha mengetahui nilai amalan dari setiap amal-perbuatan manusia, yang dilakukannya berdasarkan segala pemahaman yang telah dimilikinya.

Jika masih menyakini, "bahwa tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dan juga nabi Muhammad saw adalah utusan Allah", serta masih menggunakan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi sebagai dasar ajarannya, maka semua aliran-golongan-mazhab dengan segala bentuk pemahamannya, pada dasarnya justru masih saling bersaudara seiman dan seaqidah.

Namun persoalan yang amat memprihatinkan justru muncul, saat ada aliran-golongan-mazhab di kalangan umat, yang telah terlalu fanatik ataupun berlebihan dalam memaksakan setiap pemahamannya, yang sebenarnya belumlah betul-betul dipahaminya. Apalagi jika telah sampai menimbulkan suatu pertentangan keras dengan aliran lainnya, dan bahkan telah saling mengkafirkan antar umat Islam sendiri.

Perbedaan pemahaman atau penafsiran itu justru suatu bentuk kekayaan rahmat-Nya, dan bukanlah suatu dasar bagi timbulnya setiap perselisihan di kalangan umat. Jauh lebih baik bagi setiap aliran, agar selalu terus-menerus berusaha untuk berintrospeksi diri, mengkaji dan memperbaiki penafsirannya sendiri, karena penafsiran itu sendiri pada dasarnya mengikuti perkembangan jaman, kehidupan dan pengetahuan umat. Setiap umat pada setiap jamannya pasti memiliki penafsirannya masing-masing atas setiap ajaran agama-Nya, sesuai penerapan aktual yang dianggapnya paling tepat bagi kehidupannya sehari-hari.

Sedangkan setiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, di balik teks ayat kitab suci Al-Qur'an yang ditafsirkan, pada dasarnya justru mestinya bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), serta juga bersifat 'universal' (bisa melewati batas ruang, waktu dan konteks budaya). Maka pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya relatif tidak berubah-ubah terhadap perkembangan segala jaman (pasti berlaku sama bagi umat terdahulu, di masa sekarang dan umat di masa mendatang, bahkan sampai akhir jaman).

Cakupan pemahaman atas ayat Al-Qur'an pada buku ini

Dari tingkat pemahaman pada buku ini dan juga dari bangunan pemahamannya yang telah bisa terbentuk, yang justru telah meliputi ±2900 ayat Al-Qur'an pada Lampiran E (atau ±46% dari keseluruhan 6236 ayat-ayatnya), syukur Alhamdulillah, bisa dianggap relatif belum ditemukan pemahaman yang saling bertentangan pada buku ini.

Di masa mendatang dan atas ijin-Nya, bangunan pemahaman pada buku ini diharapkan makin berkembang dan bahkan bisa meliputi keseluruhan ayat-ayat Al-Qur'an. Termasuk pula pengembangan atas topik-topik pembahasannya yang belum ada ayat-ayat Al-Qur'an yang terkait di Lampiran E itu, walaupun sebagian pembahasannya memang tidak ada keterangannya langsung, tegas dan jelas dalam Al-Qur'an.

Bahkan masih terdapat ayat-ayat terkait yang justru diletakkan langsung pada topik-topik pembahasannya (belumlah dipindahkan ke Lampiran E), terutama pada ayat-ayat yang bertanda "(QS.xx:yy)".

Catatan umum bagi pemahaman atas ajaran agama-Nya

Pada umumnya, catatan-catatan amat penting dari keseluruhan pembahasan pada buku ini, yang justru perlu diperhatikan oleh setiap umat, terutama agar segala sesuatu halnya mestinya tetap ditempatkan sebagaimana semestinya, seperti misalnya:

Catatan-catatan bagi pemahaman atas ajaran-ajaran agama-Nya

a.

Pemahaman umat Islam atas ajaran agama Islam mestinya utuh, konsisten dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhannya, bahkan lebih baik lagi jika makin lengkap dan mendalam. Hal ini tentunya diharapkan, agar makin mendekati seluruh pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya pada nabi Muhammad saw, walau ukuran-ukuran kedekatan ini memang tetap bersifat relatif.

Tanpa ukuran-ukuran ini (khususnya tidak saling bertentangan) sama halnya dengan adanya pemahaman pada umat terkait, yang masih keliru ataupun belum memadai atas ajaran agama-Nya.

b.

Segala hal gaib mestinya tetap bersifat gaib, serta mustahil bisa berubah menjadi bersifat nyata-fisik-lahiriah (mustahil akan bisa tampak dan diraba oleh alat-alat lahiriah manusia).

Sedangkan segala hal gaib (sifat esensi dan perbuatan dari zat-zat gaib) hanya bisa diketahui atau dipahami melalui mata batiniah ruh pada setiap manusia (akal, hati / kalbu, hati nurani, dsb).

c.

Segala contoh-perumpamaan simbolik dalam teks-teks ayat Al-Qur'an, mestinya justru mustahil dipakai sebagai fakta-kenyataan yang sebenarnya (terutama dalam hal-hal gaib dan batiniah).

Hal-hal gaib misalnya, relatif amat sulit bisa dijelaskan dengan bahasa manusia sehari-harinya (hanya bisa dengan bahasa agama ataupun keyakinan) dan juga relatif amat sulit bisa dipahami oleh manusia biasa pada umumnya.

Maka bagi hal-hal gaib justru hanya bisa dipakai segala contoh-perumpamaan simbolik, sebagai suatu analogi-pendekatan, agar umat relatif lebih mudah memahaminya secara tidak langsung.

d.

Satu-satunya bukti bahwa sesuatu hal berasal dari Allah (tulisan, catatan, ayat, keterangan, ucapan, berita, dsb), mestinya hanyalah karena hal itu 'benar' (haq), dimanapun tertulis, bagaimanapun caranya disampaikan dan siapapun yang menyampaikannya.

Hal itupun biasanya disebut sebagai fakta, kenyataan, dsb.

Sedang suatu hal itu sendiri bisa disebut 'benar', karena bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), walau juga bersifat Maha Halus (amat tidak kentara dan tersembunyi).

Serta segala kebenaran 'mutlak' memang hanyalah milik Allah.

Tentunya hal inipun berbeda daripada 'benar' menurut penilaian 'relatif' manusia, dan kebenaran 'relatif' manusia bisa mendekati kebenaran 'mutlak' Allah, jika diperoleh secara 'amat obyektif'.

e.

Ajaran agama Islam mestinya mustahil bersifat 'mistis-tahayul' (sama-sekali tidak bisa dijelaskan dengan melalui intuisi-logika-nalar akal-sehat manusia). Justru sebaliknya, ajaran agama Islam mestinya sama sekali tidak akan bertentangan dengan akal-sehat manusia (akal yang dipakai secara amat obyektif).

Segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) di dalam ajaran-ajaran agama Islam mestinya pasti bisa dijelaskan (mudah ataupun sulit dipahami oleh manusia biasa umumnya).

Mustahil ada sesuatu hal yang muncul dengan begitu saja sebagai 'kebenaran-Nya' di alam semesta, tanpa sesuatupun dalil-alasan.

Walaupun kebenaran-Nya pada awalnya memang hanyalah bisa dipahami oleh sejumlah manusia yang berilmu amat tinggi saja, namun setiap manusia lainnya pada dasarnya mestinya juga bisa memahaminya, jika ia mau berusaha keras belajar.

Serta pemahaman atas hal-hal gaib dan batiniah memang relatif amat rumit, ataupun relatif hanya bisa dipahami setelah dimiliki cukup banyak pengalaman batiniah-rohani-spiritual.

f.

Makna dari ayat-ayat Al-Qur'an secara tektual-harfiah mestinya bisa memiliki suatu 'jarak' (jauh ataupun dekat) daripada makna yang sebenarnya 'di balik' teks ayat-ayat itu (Al-Hikmah, hikmah dan hakekat kebenaran-Nya).

Setiap pemahaman atau keyakinan batiniah (terutama berupa Al-Hikmah) relatif bisa berbeda daripada setiap hasil pengungkapan lahiriahnya (tulisan, lisan, sikap dan contoh perbuatan).

Makna yang sebenarnya dari setiap ayat Al-Qur'an (Al-Hikmah) mestinya bersifat universal, sedangkan makna tektual-harfiahnya justru bersifat aktual, tergantung kepada perkembangan keadaan dan budaya umat, saat teks ayat itu disampaikan kepada umat.

g.

Dalam segala sesuatu halnya setiap umat Islam mestinya 'tidak berlebihan' dalam beragama.

Setiap umat Islam mestinya tidak memaksakan suatu pemahaman kepada umat Islam lainnya, karena hanya hak Allah Yang Maha mengetahui pemahaman yang paling benar.

Segala hal yang 'berlebihan' itulah yang telah melahirkan hampir semua aliran-mazhab-golongan di dalam agama Islam, sekaligus telah pula menimbulkan hampir semua perbedaan, pertentangan dan perselisihan antar kalangan umat Islam sendiri.

Mestinya umat Islam bisa saling bekerja-sama, agar bisa semakin mendekati berbagai pemahaman Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), seperti yang telah dimiliki oleh Nabi. Juga agar bisa saling berlomba-lomba berbuat amal-kebaikan dan sekaligus pula bisa menghindari segala amal-keburukan (perbuatan dosa).

h.

Sebutan 'orang kafir' mestinya hanya bisa dibatasi kepada orang-orang yang memang keliru tauhidnya (orang yang kafir-musyrik, yang jelas-jelas tampak menyembah ilah-ilah selain Allah).

Maka sebutan 'orang kafir' itu mestinya hanya membatasi antara orang-orang yang telah mengucapkan 'dua kalimat syahadat' dan menyakininya, terhadap orang-orang yang tidak.

Selain dari kemusyrikan itu, kekafiran justru bisa pula dilakukan oleh umat Islam sendiri, maka kata 'kafir' mestinya lebih tertuju kepada sesuatu 'perbuatan' (bersifat relatif temporer-sementara) dan bukan kepada 'orang' pelakunya (bersifat relatif permanen).

Jika label 'kafir' itu amat mudah ditujukan kepada 'orang', maka akan bisa memiliki pengaruh amat besar bagi orangnya, dan amat mudah memecah-belah umat Islam sendiri.

Padahal hampir tidak ada manusia saat ini, yang pribadinya telah sempurna seperti para nabi-Nya, yang relatif telah terbebas dari kesesatan untuk berbuat kekafiran atau melanggar perintah-Nya, yang sebesar biji zarrah sekalipun (amat kecil atau sederhana).

Pada kekafiran dari umat Islam sendiri (berbuat dosa-dosa kecil dan besar, selain dari kemusyrikan), maka umat terkait mestinya tidak dianggap sebagai 'orang kafir', tetapi Muslim yang sedang tersesat, khilaf ataupun sedang berkurang keimanannya.

i.

Pernyataan seperti "kembali ke Al-Qur'an dan Hadits" mestinya tidak mudah dipakai, untuk menyembunyikan kurang dimilikinya pemahaman yang cukup memadai atas ajaran-ajaran di dalam Al-Qur'an dan Hadits itu sendiri, sehingga menjadi suatu pemaksaan untuk kembali ke makna 'tekstual-harfiah' semata.

Kitab suci Al-Qur'an sama sekali tidak diturunkan-Nya di dalam bentuk 'teks', tetapi justru di dalam bentuk segala 'pemahaman' Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya) di dalam dada-hati-pikiran nabi Muhammad saw, yang telah bisa diperolehnya sambil dituntun oleh malaikat mulia Jibril. Teks-teks wahyu-Nya dalam Al-Qur'an memiliki segala penjelasannya melalui Sunnah-sunnah Nabi, tetapi ada pula yang belum sempat dijelaskan oleh Nabi (terutama bagi hal-hal yang relatif amat rumit). 113)

Sehingga pernyataan "kembali ke Al-Qur'an dan Hadits" itupun mestinya menjadi "kembali ke makna-makna yang sebenarnya di balik teks-teks Al-Qur'an dan Hadits (makna-makna yang berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya)".

j.

Umat Islam mestinya tidak perlu saling berselisih tentang "fitnah khaiqil Qur'an" (perselisihan atas bentuk atau wujud Al-Qur'an), karena Al-Qur'an justru memiliki 4 macam bentuk:

1.

Al-Qur'an sebagai Fitrah Allah sendiri (sifat-sifat terpuji dan mulia pada Zat Allah), yang hendak ditunjukkan-Nya.

Al-Qur'an ini bersifat Maha kekal dan Maha gaib.

2.

Al-Qur'an sebagai ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis yang ada di seluruh alam semesta ini (atau tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya), dan sebagai perwujudan dari Fitrah Allah.

Al-Qur'an ini bersifat kekal, gaib dan universal.

3.

Al-Qur'an sebagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang telah dipahami oleh Nabi, dari segala hasil usahanya di dalam mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya.

Al-Qur'an ini bersifat fana, gaib dan universal.

4.

Al-Qur'an sebagai kitab suci Al-Qur'an, yang biasa dikenal umat Islam pada saat ini, yang telah disampaikan oleh Nabi, dari segala hasil rangkuman atas seluruh pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang diperolehnya.

Al-Qur'an ini bersifat fana, nyata dan aktual. Namun segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) atau makna yang sebenarnya 'di balik' teks ayat-ayatnya justru bersifat universal (melewati batas ruang, waktu dan budaya).

 

Maka pernyataan seperti "Al-Qur'an bersifat qadim (kekal) dan bukan makhluk" dan "Al-Qur'an adalah diciptakan-Nya (bersifat baru)" adalah dua pernyataan yang relatif 'benar', namun hanya berbeda sudut pandangnya saja.

k.

Kelangsungan dan kemuliaan ajaran agama Islam mestinya justru sama sekali tidak tergantung kepada sejarah umat manusia, juga termasuk sejarah para nabi-Nya, para khalifah, para sahabat, para perawi hadits, para ulama terdahulu, para wali, dsb.

Agama-Nya yang lurus (terakhir agama Islam) hasil perwujudan Fitrah Allah dalam penciptaan alam semesta ini, sehingga agama Islam justru menyatu dengan alam semesta itu sendiri.

Bahkan seluruh para nabi-Nya justru bisa memiliki tauhid yang 'sama', yaitu "tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa", dari hasil pemahaman mereka yang amat mendalam atas tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini, yang juga 'sama'.

Mestinya tetap usaha umat Islam sendiri pada setiap jamannya, yang bisa menegakkan dan memuliakan setiap kebenaran-Nya di dalam ajaran-ajaran agama Islam. Nilai atau tingkat 'kebenaran' dari hal-hal yang disampaikan justru mestinya relatif jauh lebih penting daripada 'sosok' para penyampainya.

l.

Proses perolehan setiap wahyu-Nya pada para nabi-Nya mestinya 'serupa' dengan perolehan setiap hikmah dan hidayah-Nya pada manusia biasa umumnya.

Bahkan justru 'serupa' pula dengan segala usaha setiap manusia setiap saatnya, dalam mempelajari dan mencari solusi atas segala persoalan kehidupannya sehari-hari, dengan memakai akalnya.

Perbedaan antar manusia pada dasarnya justru hanya 'perbuatan' dan 'hasil dari perbuatan' yang telah diusahakan masing-masing, di samping pengaruh keadaan lingkungan (lahiriah dan batiniah).

Para nabi-Nya justru manusia biasa pada 'zatnya' dan juga Allah tidak pilih-kasih hanya kepada para nabi-Nya. Proses diutus-Nya para nabi-Nya justru proses yang amat alamiah, dari usaha yang amatlah keras dan setimpal dalam memahami dan mengamalkan setiap kebenaran-Nya, sampai mereka bisa pula meraih kenabian, yang amatlah sulit bisa dicapai oleh manusia biasa lainnya.

m.

Dalam beragama mestinya tidak ada suatu 'kultus individu' atas sosok dan pribadi segala zat makhluk-Nya (termasuk para nabi-Nya, para sahabat, para khalifah, para tabiin, para tabiit tabiin, para perawi hadits, para imam, para malaikat, dsb).

Proses diutus-Nya para nabi-Nya misalnya, mestinya tidak perlu dianggap sebagai "umat-umat pilihan" secara terlalu berlebihan (tidak perlu dikhultuskan, ditahayulkan, apalagi dipertuhankan), karena prosesnya justru memang berlangsung amatlah alamiah.

Padahal Allah Yang Maha Adil justru 'tidak pilih kasih' kepada setiap manusia (bahkan termasuk pula para nabi-Nya). Segalanya justru hanya berdasar usaha masing-masing untuk meningkatkan keimanannya (berusaha bisa makin mendalam memahami setiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, sekaligus makin konsisten mengamalkan pemahamannya itu).

Juga proses diutus atau dipilih-Nya para nabi-Nya adalah proses yang amatlah alamiah. Sedang dari segi 'zat'-nya (segala sarana lahiriah dan batiniahnya), para nabi-Nya adalah 'manusia biasa' (memiliki akal dan nafsu; perlu makan dan tidur; berjalan dengan kaki; pergi ke pasar; dsb).

Hal yang berbeda hanyalah pada apa yang telah diusahakan oleh setiap manusia, agar bisa meraih berbagai kemuliaannya sendiri, dan bisa mengajarkan orang-lain untuk bisa pula meraihnya.

Tentunya penghargaan yang sewajarnya mestinya tetap diberikan bagi para nabi-Nya dan para penyampai kebenaran-Nya lainnya.

n.

Ajaran-ajaran agama Islam mestinya bersifat 'universal', maka hasil pemahaman atas ajarannya mestinya bisa dipakai kapanpun, dimanapun dan oleh siapapun, jika telah bisa dipahami berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalamnya (Al-Hikmah).

Dari berbagai pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, maka umat Islam pada setiap jamannya (melalui Majelis ulama) mestinya terus-menerus berijtihad mencari penerapan aktual bagi setiap aturan syariat, agar sesuai tantangan dan persoalan umat.

Hal inipun bukan "syariat mengikuti keinginan manusia", tetapi justru "syariat dan manusia mengikuti kebenaran-Nya".

o.

Agama-Nya yang lurus dan terakhir (Islam) mestinya selaras dan mengikuti irama alam semesta (bukan irama keinginan manusia), karena diciptakan-Nya seluruh alam semesta ini dan diturunkan-Nya agama-Nya yang lurus adalah perwujudan dari Fitrah Allah.

Agama Islam mestinya memang bersifat amat alamiah, dan juga mestinya sesuai dengan "fitrah dasar manusia yang sebenarnya" (murni-suci-mulia), bahkan setiap umat Islam mestinya juga bisa menjaga keseimbangan alam semesta (bisa menjadi "rahmatan lil alamin" atau "rahmat bagi alam semesta").

p.

Segala amal-ibadah yang telah disyariatkan dalam ajaran-ajaran agama Islam, mestinya bertujuan utama untuk bisa membentuk berbagai pengalaman rohani-batiniah-spiritual, pada setiap umat Islam yang mengamalkannya. Sehingga secara langsung ataupun perlahan-lahan umat mestinya justru merasakan atau memahami nilai-nilai batiniah di balik segala amal-ibadah itu.

Dari pemahaman atas berbagai nilai batiniah itulah mestinya bisa membentuk berbagai macam akhlak dan kebiasaan terpuji, dalam kehidupan sehari-hari setiap umat. Hal inilah yang biasa disebut pula sebagai usaha pembangunan kehidupan akhirat (kehidupan batiniah ruh), mensucikan atau membersihkan ruh, dsb.

Dan kehidupan akhirat yang dibangun oleh setiap umat selama di kehidupan dunia ini pasti akan disempurnakan-Nya, dan atas ijin-Nya, pasti akan kekal bersama zat ruhnya setelah Hari Kiamat.

q.

Para alim-ulama sebagai pewaris tugas dan ajaran para nabi-Nya, secara bersama-sama melalui majelis alim-ulama, mestinya bisa mengungkap dan memahami hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), 'di balik' teks ajaran-ajaran agama Islam (Al-Kitab), secara relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan.

Setelah jaman para nabi-Nya, usaha seperti itu secara manusiawi hampir mustahil bisa dicapai melalui pengetahuan pada seorang ataupun beberapa orang alim-ulama saja, sedangkan jaman terus-menerus makin berkembang, serta amat luasnya cakupan segala bidang ilmu-pengetahuan dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi.

Berbagai Al-Hikmah yang berupa pemahaman terhadap nilai-nilai batiniah di dalam setiap ketentuan atau hukum syariat, yang juga bentuknya amat jelas sekalipun (seperti shalat, puasa, haji, dsb), justru belum benar-benar dipahami oleh sebagian besar umat.

Ketidak-pahaman inilah yang justru membentuk jarak perbedaan antara pelaksanaan setiap amal-ibadah terhadap sikap atau akhlak setiap umat Islam dalam kehidupannya sehari-hari.

Tanpa dipahaminya segala Al-Hikmah terkait yang pada dasarnya justru bersifat 'universal', maka sebagian ajaran-ajaran agama-Nya (termasuk hasil ijtihad dari para alim-ulama dalam Majelis ulama), hampir pasti mustahil bisa tetap bersifat praktis-aplikatif dan aktual sampai akhir jaman.

Pembukuan Al-Hikmah, yang bersifat mendalam, lengkap, rumit dan universal, sebagai bentuk pengajaran bagi umat-umat yang berilmu, mestinya bisa dipisahkan daripada pembukuan Al-Kitab (termasuk Hadits dan Ijtihad), yang bersifat sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, sebagai tuntunan bagi seluruh umat manusia, sesuai keadaan dan perkembangan jamannya.

Penulisan setiap hasil ijtihad misalnya, mestinya ada disertai pula dengan catatan riwayat kelahiran atau perubahannya, khususnya waktu, setiap keadaan terkait dan tentunya setiap dalil-alasannya.

Sedang penulisan setiap Al-Hikmah, cukup hanya disertai dengan segala dalil-alasannya (dalil naqli dan dalil aqli).

r.

Kitab suci Al-Qur'an (ataupun kitab-kitab-Nya lainnya) mestinya ditempatkan pada tempat atau konteks yang semestinya, antara-lain misalnya:

1.

Sebagai dasar paling tinggi ajaran agama Islam, kitab suci Al-Qur'an mestinya dijadikan patokan yang paling utama. Dasar ajaran lainnya, yaitu Sunnah-sunnah Nabi (atau Hadits-hadits Nabi) dan segala hasil Ijtihad para alim-ulama (Ijma', Qiyas, Istihsan, Fatwa, dsb), mestinya masing-masing secara terurut berada di bawah Al-Qur'an.

Jika ada isi hadits Nabi misalnya, yang bertentangan dengan Al-Hikmah dalam Al-Qur'an, maka hadits Nabi itu mestinya diragukan kebenarannya, ataupun dinyatakan sebagai 'hadits palsu'. Penilaian ini amat tidak cukup, hanya dengan menilai sifat atau pribadi para perawi hadits-haditsnya. Apalagi amat mudah menisbatkan ataupun mengatas-namakan suatu hadits kepada seorang perawi, yang sekaligus relatif sulit diperiksa.

Begitu pula dasar-dasar ajaran lainnya, yang mestinya selalu mengacu ataupun berpatokan kepada dasar-dasar ajaran, yang lebih tinggi tingkatannya, terutama pada tataran pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah).

2.

Usaha memuliakan dan mengamalkan kitab suci Al-Qur'an mestinya tetap dilakukan secara benar, tepat, wajar ataupun proporsional. Segala isi kitab suci Al-Qur'an memang sabda ataupun firman Allah, yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada nabi Muhammad saw, lalu Nabi menyampaikannya kepada seluruh umat manusia.

Namun umat (terutama para alim-ulamanya) mestinya makin bisa memahami, misalnya:

~ Bagaimana cara Allah berkehendak dan berbuat di alam semesta ini?;
~ Apa bentuk-bentuk dari sabda, firman, kalam atau wahyu Allah (dari bentuk awal yang sebenarnya, sampai bentuk akhirnya yang diterima oleh umat)?;
~ Apa hakekat dari kebenaran-Nya, pengetahuan-Nya, ayat-ayat-Nya, ataupun tanda-tanda kekuasaan-Nya?;
~ Apa hakekat dari malaikat Jibril itu?;
~ Bagaimana cara dipilih dan diutus-Nya para nabi-Nya?;
~ Bagaimana cara wahyu-Nya bisa sampai kepada malaikat Jibril, para nabi-Nya, dan kepada umat para nabi-Nya?;
~ Apa hakekat dan tujuan diturunkan-Nya agama dan kitab-Nya?; dsb;

 

Hal-hal di atas perlu dipahami, agar usaha memuliakan dan mengamalkan Al-Qur'an makin bisa dilakukan secara benar.

Dan semua jawabannya relatif telah cukup memadai dibahas dan diungkap dalam bab-bab pembahasan pada buku ini.

3.

Kitab suci Al-Qur'an mestinya selalu dijaga keotentikannya, dan dihindari dari usaha dekonstruksi dan desakralisasi.

Kitab suci Al-Qur'an adalah sumber pengajaran dan tuntunan-Nya yang paling lengkap, sempurna dan tak-ternilai harganya walaupun umat justru bisa memahaminya dengan cara yang berbeda-beda, sesuai tingkat pemahamannya masing-masing. Perbedaan seperti ini adalah suatu bentuk kekayaan rahmat-Nya. Hanya hak Allah, Yang Maha mengetahui pemahaman yang paling benar.

Namun rahmat-Nya hampir pasti akan amat jauh berkurang, apabila perbedaan umat disebabkan oleh perbedaan kitab suci Al-Qur'an yang masing-masing dipakai. Seperti halnya yang telah terjadi pada agama lain yang memiliki beberapa kitab suci, yang sedikit-banyak berbeda-beda isinya, tetapi dengan nama-nama dasar kitab sucinya relatif sama.

4.

Kitab suci Al-Qur'an sebagai kitab yang terakhir diturunkan-Nya, mestinya dipahami dengan tepat posisi keberadaannya di antara kitab-kitab-Nya lainnya (Jabur, Taurat dan Injil).

Terutama dengan memahami perbedaan dan kesamaan antara kitab-kitab-Nya itu dan bagaimana cara diturunkan-Nya, juga termasuk dengan memahami perbedaan dan kesamaan antara para nabi-Nya.

Hal ini diperlukan agar pemahaman tentang kitab-kitab-Nya dan para nabi-Nya, bisa makin tepat dan proporsional. Bukan hanya berupa pemahaman yang sepihak dari masing-masing penganutnya. Dan pada puncaknya, agar umat Islam sendiri juga bisa makin meyakini kitab suci Al-Qur'an.

 

Pada akhirnya, semuanya terpulang kembali kepada keyakinan batiniah setiap umat, agar bisa memilih pemahaman yang dianggapnya paling mendekati hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, di dalam setiap ajaran agama Islam, sesuai keadaan, kemampuan dan pengetahuannya masing-masing, sebagai sesuatu bentuk kekayaan rahmat-Nya.

Asalkan setiap umat Islam tidaklah berbuat hal-hal yang terlalu berlebihan ataupun melampaui batas dalam beragama, termasuk tetap menempatkan segala sesuatu hal sebagaimana mestinya (seperti yang diungkap di atas). Segala sesuatu yang berlebihan dalam pemahaman atas setiap kebenaran-Nya dalam ajaran-ajaran agama-Nya, justru juga termasuk suatu bentuk kezaliman secara batiniah (menyesatkan umat).

"Katakanlah: 'Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Rabb-kami dan Rabb-kamu, bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati," – (QS.2:139).

"wajib atasku (Musa, untuk) tidak mengatakan sesuatu tentang Allah, kecuali yang hak (benar). …." – (QS.7:105).

"Sesungguhnya, syaitan itu hanya menyuruh kamu, untuk berbuat jahat dan keji. Dan (menyuruh kamu) mengatakan tentang Allah, apa yang tidak kamu ketahui." – (QS.2:169).

 

Setiap pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (atau Al-Hikmah) mestinya disampaikan secara amat arif-bijaksana kepada umat-umat yang awam, karena setiap pemahaman Al-Hikmah inipun relatif amat berbeda daripada hal-hal yang umumnya mereka pahami langsung dari 'teks-teks' ajaran agama Islam. Sehingga penyampaian Al-Hikmah relatif mudah melahirkan berbagai fitnah di kalangan umat.

Akan lebih baik lagi apabila setiap pemahaman Al-Hikmah itu bisa disampaikan langsung ke dalam bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya yang telah bersifat relatif sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual (ke dalam bentuk hasil ijtihadnya).

Adapun penulisan dan penyampaian Al-Hikmah pada buku ini justru relatif 'terpaksa' pula dilakukan secara langsung, karena adanya berbagai hal yang telah cukup memaksa. Termasuk pula karena setiap penyampaian Al-Hikmah (sebagai hasil pembahasan dari ilmu tauhid, ilmu kalam atau ilmu ushuluddin) oleh para alim-ulama dari berbagai aliran-mazhab-golongan pada kalangan umat Islam, hampir tidak ada yang dianggap bisa menjawab segala sesuatu halnya (terutama dasar-dasar aqidah Islam), secara tuntas dan memuaskan. Bahkan hal-hal ini tetap terus menjadi polemik dan kontroversi, sejak dari jaman dahulu (sejak setelah wafatnya nabi Muhammad saw), sampai saat ini, seperti diungkap di Lampiran D (perbandingan aliran-aliran teologi Islam).

Penyampaian Al-Hikmah pada buku inipun sekaligus bertujuan agar semaksimal mungkin bisa menghilangkan segala 'mistis-tahayul' (tanpa suatupun dalil-alasan yang bisa diterima oleh akal sehat), yang justru juga telah amat banyak berkembang dalam kehidupan beragama umat Islam.

Hal yang penting diketahui, bahwa segala bentuk pemahaman (termasuk pada buku ini), hanyalah sebagian saja dari keimanan yang utuh, karena hanyalah aspek batiniah saja. Sedang keimanan mestinya disertai pula dengan pengamalannya (aspek lahiriah) secara konsisten, melalui berbagai bentuk amal-ibadah, beserta berbagai akhlak, budi-pekerti dan kebiasaan positif, dalam kehidupan sehari-harinya.

Penyempurnaan akhlak umat manusia itulah, hal yang menjadi tujuan utama diutus-Nya nabi besar Muhammad saw, karena segala 'akhlak terpuji' adalah puncak terakhir dari segala hasil amal-ibadah yang dilakukan oleh setiap umat Islam, agar bisa mencapai kehidupan akhiratnya yang jauh lebih baik (kehidupan batiniah ruhnya), di dunia fana ini ataupun di Hari Kiamat (kekal dan telah disempurnakan-Nya).

Dan akhirnya, seperti halnya do'a Imam Al-Ghazali "kumohon Anda bersedia memohonkan ampunan bagiku, daripada tersesatnya pena dan tergelincirnya kakiku. Karena keberanian untuk mengarungi lautan rahasia-rahasia Ilahi, adalah sesuatu tindakan yang relatif amat berbahaya. Usaha untuk bisa menyingkap cahaya-cahaya di persada tinggi, di balik berbagai 'hijab', adalah langkah yang tidaklah mudah. Segala puji bagi Allah Rabbul 'Alamin, dan shalawat untuk Sayyidina Muhammad beserta keluarganya yang baik-baik dan tersucikan.".

"Ya Rabb-kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan (Al-Qur'an), dan telah kami ikuti Rasul (Muhammad), karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran segala kandungn isi Al-Qur'an)." – (QS.3:53).

"Dan apabila mereka (para ahli kitab) mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (dalam Al-Qur'an), yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri). Seraya berkata: 'Ya Rabb-kami, kami telah beriman, maka catatkanlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran segala kandungan isi Al-Qur'an)." – (QS.5:83).

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

3 Balasan ke Bab VIII Penutup

  1. Sukinah Kemi berkata:

    Subhanallah, semoga Allah mempermudah hambaNya yang telah mempermudah orang lain untuk belajar Islam

  2. Anonim berkata:

    amiin ya robball alamiinnn …

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s