Bab VI.A.1 Penerapan fungsi sunatullah

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

VI.A.1.

Berbagai penerapan fungsi sunatullah

Gambaran sederhana fungsi sunatullah

Hal yang paling umum diketahui 'serupa' dengan sunatullah di dalam ilmu-pengetahuan modern adalah "Hukum Kausalitas" (hukum sebab akibat) ataupun "Hukum alam". Tentu saja sunatullah jauh lebih luas aspeknya, karena menyangkut aspek 'lahiriah-fisik-material' dan aspek 'batiniah-moral-spiritual'.

Sedang "Hukum Kausalitas" relatif hanya menyangkut hal-hal yang biasa dirumuskan oleh umat manusia saja (aspek 'lahiriah-fisik-material'), karena aspek lahiriah itu memang relatif mudah dibuktikan secara ilmiah (relatif mudah diukur, disimulasikan dan diulang-ulang proses kejadiannya). Sunatullah yang relatif hanya terbatas pada aspek lahiriah-fisik-material itupun sering disebut sebagai "Hukum alam".

Tentunya "Sunatullah lahiriah" atau "Hukum alam" di seluruh alam semesta ini, relatif masih amat sedikit yang telah bisa dipahami oleh manusia, karena manusia relatif masih hanya terbatas memahami hal-hal lahiriah, yang berada relatif dekat di sekitar planet Bumi saja.

Gambaran sederhana tentang fungsi, aturan atau rumus proses pada sunatullah, yang menghubungkan antar segala keadaan awal dan keadaan akhir pada tiap zat ciptaan-Nya, sebagai hasil dari berlakunya proses pada sunatullah, atau sebagai suatu bentuk balasan-Nya, telah ditunjukkan pada Gambar 21 berikut.

Gambar 21: Diagram sederhana fungsi sunatullah

Pada dasarnya hanya segala zat makhluk-Nya (gaib dan nyata), yang bisa mengubah-ubah segala keadaan awal pada dirinya ataupun pada tiap ciptaan-Nya lainnya. Khusus pada para makhluk gaib, hal yang telah umum diketahui bahwa mereka tiap saatnya selalu berusaha mengubah-ubah atau mempengaruhi segala keadaan batiniah ruh tiap manusia, dengan memberikan segala pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah, sedang segala zat ciptaan-Nya yang berupa benda mati relatif sama sekali tidak bisa mengubah-ubah keadaannya sendiri.

Proses berusaha tiap makhluk-Nya untuk bisa mengubah-ubah berbagai keadaannya sendiri, justru telah diatur pula oleh sunatullah. Sunatullah memang pasti mengatur segala proses kejadian di seluruh alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), sesuai dengan segala keadaan tiap zat ciptaan-Nya, yang hanya bisa diubah-ubah oleh makhluk-Nya, setelah diawali dari segala keadaan tiap zatnya, yang justru diberikan atau ditetapkan-Nya, sejak 'awal' penciptaan alam semesta ini.

Sejak penetapan awal itu, justru sama sekali tidak ada peranan ataupun intervensi dari Allah, dalam mengubah-ubah segala keadaan tiap zat ciptaan-Nya. Kecuali Allah hanya berbuat melalui sunatullah, sesuai ataupun setimpal dengan segala keadaan yang telah diusahakan oleh segala zat makhluk-Nya, sekaligus untuk diberikan-Nya segala bentuk balasan-Nya bagi zat terkait (lahiriah dan batiniah).

Sederhananya, sejak awal penciptaan itu justru alam semesta relatif hanya berjalan secara 'otomatis', mengikuti sunatullah (aturan-Nya), dan sesuai dengan amal-perbuatan segala zat makhluk-Nya.

Gambaran penerapan fungsi sunatullah

Pada Gambar 22, Gambar 23 dan Gambar 25 berikut telah pula ditunjukkan penerapan atau peranan sunatullah dalam setiap perbuatan manusia, setiap saatnya sepanjang hidupnya. Ketiga gambar itu pada prinsipnya relatif serupa.

Namun pada Gambar 22 lebih terfokus pada proses perubahan atas segala keadaan awal (lahiriah dan batiniah) pada setiap manusia, dari segala hasil usahanya sendiri, dan dari hasil pengaruh lingkungan di sekitarnya, sehingga bisa berlaku sesuatu sunatullah tertentu, yang 'terpilih otomatis' sesuai dengan segala keadaan awalnya itu.

Sedangkan pada Gambar 23 (ataupun pada Gambar 24) telah ditunjukkan lebih lengkapnya, atas hal-hal yang terkait dengan setiap perbuatan manusia setiap saatnya (misalnya: perbuatan Allah melalui sunatullah, niat, tingkat kesadaran, beban ujian-Nya, beban tanggung-jawab, tingkat keimanan, tingkat keterpaksaan, dsb). Walaupun bukan Allah yang menciptakan setiap perbuatan manusia (hanya manusianya sendiri yang menciptakan atau memulai setiap perbuatannya), namun Allah yang mewujudkan atau menyelesaikan setiap perbuatan manusia (melalui para malaikat-Nya, yang mengawal pelaksanaan sunatullah).

Gambar 24 juga persis serupa dengan Gambar 23, namun lebih khusus tentang sumber daya (lahiriah dan batiniah) dan pemakaiannya bagi terlaksananya setiap perbuatan manusia, serta kaitannya dengan daya dan perbuatan Allah.

Pada Gambar 25 lebih khususnya ditunjukkan setiap perbuatan manusia dalam berpikir dengan memakai akalnya, sekaligus mengatur kehidupan batiniah ruhnya. Di mana setiap manusia bahkan memiliki kebebasan dan otoritas sepenuhnya untuk mengaturnya. Juga termasuk usaha setiap manusianya dalam mencari pengetahuan atau pemahaman atas tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta (pada aspek lahiriah dan batiniah).

Dalam proses berpikir itu sama sekali tidak ada daya dari luar, yang bisa memaksa dan mengatur akal-pikiran setiap manusia, kecuali hanya berupa segala bentuk 'tawaran' informasi-ilham tambahan bagi akal, dari para makhluk gaib-Nya (di samping segala bentuk informasi yang sebenarnya, dari indera-indera lahiriah). Sedang segala 'tawaran' dari para makhluk gaib-Nya itu, justru pasti tetap hanya kembali pada keputusan dan pilihan akal manusianya sendiri, untuk mau mengikuti segala 'tawaran' itu ataupun tidak.

Dalam hal ini, usaha berpikir setiap manusianya pada dasarnya justru amat dibantu dan diperkaya oleh sejumlah makhluk gaib, yang pasti selalu mengikuti, mengawasi dan menjaga setiap manusia setiap saatnya. Sedang di lain pihaknya, setiap manusia pada dasarnya relatif amat malas untuk mau berpikir.

Para makhluk gaib justru juga selalu berusaha merangsang dan mengaduk-aduk pikiran manusia, dengan membisikkan segala bentuk ilham positif-benar-baik (dari para malaikat) dan negatif-sesat-buruk (dari para iblis, syaitan atau jin), bahkan pada saat manusianya justru relatif sedang 'tidak berpikir' (pada saat melongo, melamun, mimpi, mengantuk, dsb).

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang cara malaikat Jibril menyampaikan wahyu-Nya, serta tentang ilham-ilham dari para makhluk gaib.

Akhirnya tertinggal kepada keyakinan batiniah manusia, untuk bisa menilai segala bentuk informasi dari alat-alat indera lahiriah dan batiniahnya (mata, telinga, lidah, kulit, hidung, hati atau kalbu, dsb), dengan memakai akal ataupun hati-nuraninya. Lihat pula Gambar 26 di bawah.

Baca pula topik "Awal Penciptaan Alam Semesta, dan Elemen Dasarnya", tentang sifat-sifat ruh (hubungan antara 'akal' dan keyakinan batiniah manusia pada hati-nuraninya).

Gambar 22: Diagram siklus proses sesaat fungsi sunatullah

Hal yang paling pokok dari Gambar 23 berikut, bahwa setiap perbuatan manusia pastilah selalu dibantu atau disertai oleh perbuatan-Nya (melalui sunatullah), sebagai rahmat ataupun balasan-Nya.

Gambar 23: Diagram siklus proses sesaat perbuatan manusia

Hal yang paling pokok dari Gambar 24 berikut, bahwa daya bagi setiap perbuatan manusia pastilah selalu dibantu atau disertai oleh daya Allah (melalui sunatullah), sebagai rahmat-Nya.

Gambar 24: Diagram pemakaian daya pada perbuatan manusia

Gambar 25: Diagram siklus proses sesaat pikiran manusia

Gambar 26: Diagram detail proses berpikir manusia

Lebih lanjut, proses berpikir manusia

Lebih detail daripada Gambar 25 di atas, bahkan pada Gambar 26 ditunjukkan secara sederhana perkiraan fungsi atau kerja sebagian dari alat-sarana batiniah dan lahiriah, yang umumnya terkait langsung dengan proses berpikir setiap manusia, khususnya yang terkait dengan proses pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya di alam semesta ini (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya).

Tentunya hal inipun banyak berasal dari perkiraan semata, atas kejadian yang dianggap logis pada alam pikiran manusia. Karena hal ini memang relatif amat sulit bisa dipahami, selain karena tidak jelas dan lengkap disebut dalam Al-Qur'an. Maka hal-hal tentang ruh, jiwa, nafsu, hati, kalbu, hati nurani ataupun akal, bahkan juga masih sering diperdebatkan di kalangan para alim-ulama samapi saat ini.

Khusus tentang adanya dua istilah 'hati' pada Gambar 26 itu, maka 'hati' atau 'kalbu' bagi pemahaman di sini, dianggap berfungsi sebagai 'indera', sedangkan 'hati-nurani' dianggap berfungsi sebagai 'informasi' dasar penuntun hidup manusia (segala kebenaran 'relatif').

Seperti halnya Gambar 25, juga pada Gambar 26 ditunjukkan peranan amat penting dari ruh para makhluk gaib, dalam berinteraksi dengan ruh setiap manusia, untuk memberi pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah, terutama memanfaatkan setiap informasi dari alat-alat indera (lahiriah dan batiniah), nafsu dan memori-ingatan manusianya (pengetahuan dan pengalamannya).

Sekaligus ditunjukkan pula bahwa para makhluk gaib itu justru sama sekali tidak bisa melangkahi segala keputusan akal manusia (ruh para makhluk gaib hanya berperan di luar wilayah keputusan akal).

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang cara para makhluk gaib berinteraksi dengan ruh setiap manusia.

Akal, pengendali satu-satunya ruh makhluk-Nya

Dari Gambar 26 di atas, telah bisa pula diubah lebih lanjut lagi menjadi Gambar 27, sekedar agar bisa lebih jelas menunjukkan posisi keberadaan sebagian dari elemen pada Gambar 26 (pada ruh atau pada tubuh lahiriah-fisik manusia), serta hakekat fungsi yang lebih tepatnya dari masing-masing elemennya.

Menurut pemahaman pada buku ini, elemen-elemen pada tiap ruh manusia pada dasarnya terbagi menjadi 4 fungsi, yaitu:

Fungsi umum dari elemen-elemen pada ruh manusia

Alat penerima informasi

»

Hati atau kalbu adalah indera batiniah ruh, yang menerima segala informasi dari segala indera lahiriah pada tubuh fisik manusianya (mata, lidah, kulit, telinga, hidung, dsb).

Termasuk pula menerima tiap informasi yang justru telah sedikit disimpangkan ke arah positif dan negatif, dari para makhluk gaib (segala bentuk ilham-bisikan-godaan).

Hati atau kalbu ini pada dasarnya alat penyimpanan satu-satunya atas segala informasi yang berasal dari luar tiap manusianya.

Hati atau kalbu juga bisa disebut sebagai alat penyimpanan tiap informasi batiniah tentang tingkat kesukaan atau perasaan atas segala sesuatu hal.

Alat penyimpan informasi

»
a.

Nafsu adalah alat penyimpanan tiap informasi tentang tingkat keinginan atau kemauan atas segala sesuatu hal.

b.

Hati nurani adalah alat penyimpanan tiap informasi tentang segala sesuatu hal yang telah 'dianggap' sebagai kebenaran-Nya (tentunya bersifat 'relatif' menurut tiap manusianya).

Jika bisa semakin sesuai dengan tiap kebenaran-Nya di alam semesta ini yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', maka disebut juga "semakin dekat ke 'Arsy-Nya", karena pada 'Arsy-Nya itulah tercatat segala kebenaran-Nya di alam semesta ini.

c.

Catatan amal adalah alat penyimpanan tiap informasi tentang segala sesuatu halnya, yang telah dilakukan oleh tiap anggota badan (perkataan dan perbuatan), dan oleh tiap akal-pikiran manusianya.

Segala proses pencatatan tiap informasi inilah yang dilakukan oleh para malaikat Rakid dan 'Atid, tiap saatnya selama di dunia, termasuk pula mengungkapkannya pada Hari Kiamat, ataupun pada waktu-waktu lainnya di kehidupan akhirat.

Alat pengolah informasi

»

Akal adalah alat satu-satunya untuk bisa memilih, menganalisa, mempelajari, menghitung, menilai, memproses, mengiterasikan, mengintegrasikan, mengolah ataupun memutuskan tiap informasi untuk bisa dianggap sebagai suatu 'pengetahuan baru' yang akan diproses ataupun dipakai lebih lanjut lagi.

Segala informasi tentang proses batiniah pada akal (atau proses berpikir), pasti tercatat pula pada 'catatan amal'.

Segala informasi pengetahuan tentang keinginan atau kemauan atas segala sesuatu hal, tercatat pada 'nafsu'.

Segala informasi pengetahuan tentang kesukaan atau perasaan atas segala sesuatu hal, tercatat pada 'hati atau kalbu'.

Dan segala informasi pengetahuan tentang kebenaran relatif dan subyektif menurut manusianya, tercatat pada 'hati nurani'.

Alat pelaksana keputusan

»

Akal adalah alat yang memerintahkan tiap anggota badan untuk berbuat sesuatu hal, berdasar pengetahuan yang telah diperoleh dari hasil pengolahan segala informasi batiniah pada tiap ruh.

 

Gambar 27: Diagram sederhana elemen ruh dan fungsinya

Dari pemahaman pada buku ini, 'akal' adalah satu-satunya 'pengendali' pada tiap ruh zat makhluk-Nya (bukan hanya manusia). Sedang elemen-elemen ruh lainnya pada dasarnya hanyalah alat-alat penerima dan penyimpan informasi batiniah pada ruh makhluk-Nya, dengan segala macam bentuknya, yang dipakai dan diolah oleh 'akal'.

Bahkan ada pula anggapan lain, bahwa seluruh alat penyimpan informasi batiniah pada hakekatnya juga sama, yaitu 'catatan amal'. Sehingga 'hati atau kalbu', 'nafsu' dan 'hati-nurani' dianggap sebagai sebutan lain bagi 'catatan amal' tersebut. Hal yang berbeda hanyalah jenis kelompok informasinya (pikiran dan amal-perbuatan, keinginan atau kemauan, kesukaan atau perasaan, kebenaran, dsb). Maka elemen pada tiap zat ruh pada dasarnya justru hanya terdiri dari 'catatan amal' (penyimpan informasi) dan 'akal' (pengolah informasi).

Pada pemahaman buku ini, bahwa segala informasi batiniah itu juga termasuk dalam kelompok "benda mati gaib" ciptaan-Nya, seperti halnya: memori-ingatan, intuisi-logika, ilmu-pengetahuan, pahala dan dosa, surga dan neraka, nafsu, hati-nurani, hati-perasaan, bahasa, dsb.

Tentunya hal-hal yang diciptakan-Nya hanya segala 'sarana-prasarana' bagi penyimpanan dan pengolahan informasinya, bukanlah 'kandungan isi' dari informasinya sendiri. Kalaupun ada, 'kandungan isi' informasi yang diciptakan-Nya pada alam batiniah ruh manusia, justru hanya berupa 'fitrah-fitrah dasar' tiap makhluk-Nya pada awal penciptaannya. Selanjutnya segala 'kandungan isi' informasi batiniah itu diubah-ubah sendiri oleh tiap makhluk-Nya, sepanjang hidupnya.

Baca pula topik "Benda mati gaib".

Elemen-elemen ruh, menurut para alim-ulama

Di antara sejumlah alim-ulama, alim-ulama terkemuka seperti Imam Al-Ghazali telah diketahui cukup jelas membahas tentang 'ruh' dan elemennya, walau relatif berbeda daripada pemahaman pada buku ini (seperti yang ditunjukkan pada Gambar 26 dan Gambar 27 di atas).

Pemahaman dari Imam Al-Ghazali atas hal-hal yang berkaitan dengan elemen-elemen pada ruh manusia, serta pada proses berpikir manusia misalnya, telah diungkap pada tabel berikut. Di mana Imam Al-Ghazali telah membagi-bagi tingkatan ruh-ruh cahayawi manusia (tingkatan pemahaman atas berbagai cahaya kebenaran-Nya), menjadi:

Berbagai tingkatan ruh-ruh cahayawi manusia

No

Ruh cahayawi manusia dan keterangannya

1.

Ruh Inderawi:

Menerima tiap keterangan yang dikirim oleh panca indera (lahiriah).

Di Gambar 26 disetarakan dengan 'hati' atau 'kalbu' (indera batiniah).

2.

Ruh Khayali (imajinatif):

Merekam tiap keterangan yang dikirim oleh panca indera (lahiriah). Dan menyimpannya rapat-rapat, untuk kemudian menyampaikannya ke ruh Aqli (inteligensi), pada saat dibutuhkan.

Di Gambar 26 disetarakan dengan 'otak' (memori sementara pada tubuh lahiriah) ataupun 'catatan amal' (memori tetap pada zat ruh).

3.

Ruh Aqli (akal, inteligensi):

Bisa menyerap makna-makna di luar indera (lahiriah) dan khayal. Dan jangkauan penyerapannya adalah pengetahuan-pengetahuan dharuri (aksiomatis) dan universal.

Di Gambar 26 disetarakan dengan 'akal' (mengolah informasi).

4.

Ruh Pemikiran:

Mengambil ilmu-ilmu aqli (akal) yang murni, lalu melakukan berbagai penyesuaian dan penggabungan. Lalu membuat berbagai kesimpulan menjadi berupa berbagai pengetahuan yang amat berharga.

Di Gambar 26 disetarakan pula dengan 'akal' (mengolah informasi).

5.

Ruh Suci Kenabian: (diduga di sini berupa ruh malaikat Jibril)

Menyingkap hal-hal gaib dan hukum-hukum akhirat, serta sejumlah pengetahuan tentang kerajaan langit, Bumi dan bahkan ketuhanan. Semua ini tidak mampu dijangkau oleh ruh akal dan ruh pemikiran.

Di Gambar 26 disetarakan dengan 'hati-nurani' (informasi kebenaran).

Tetapi konteksnya amat berbeda, karena 'Ruh Suci Kenabian' ini menurut Imam Al-Ghazali, hanya khusus bagi para nabi-Nya dan sebagian para wali (sama-sekali tidak dimiliki oleh manusia biasa pada umumnya).

Hal ini mestinya mustahil terjadi, karena para nabi-Nya pada 'zat'-nya (lahiriah dan batiniah) justru juga 'manusia biasa'.

Mustahil ada zat ruh 'tambahan' ('Ruh Suci Kenabian') yang hanya khusus bagi para nabi-Nya, yang justru berupa suatu bentuk ke-tidak adil-an Allah.

Kekhususan para nabi-Nya justru pada relatif amat sempurnanya segala cahaya kebenaran-Nya yang telah bisa dipahaminya (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan keseluruhan pemahamannya, serta relatif amat konsisten pengamalannya), karena 'hati-nurani' (cermin batiniah) mereka yang amat jernih, dari segala hasil usaha mereka sendiri yang amat keras dan setimpal.

(dirangkum dari buku "Misykat cahaya-cahaya", Imam Al-Ghazali, 1993: 80-82)

Penting untuk diketahui, bahwa urutan atau tingkatan ruh-ruh cahayawi manusia di dalam tabel di atas, telah tersusun sesuai dengan terangnya 'cahaya' (tingkat kebenaran) dari informasi atau keterangan pada tiap ruhnya (ruh inderawi, ruh khayali-imajinatif, ruh aqli-akal-inteligensi, ruh pemikiran dan ruh suci kenabian).

Maka tingkatan itupun pada dasarnya belum bisa menunjukkan daftar elemen ruh, ataupun hubungan fungsional antar tiap elemen ruh, seperti halnya pada Gambar 26. Barangkali Imam Al-Ghazali justru telah menuliskan pada bukunya yang lainnya, tentang hal ini.

Namun dalam tabel di atas telah cukup tampak, bahwa seolah-olah wilayah pengendalian 'akal' dianggap amat terbatas (akal hanya dianggap sebagai salah-satu dari seluruh pengendali pada tiap zat ruh manusia). Sedang pemahaman pada buku ini, bahwa akal adalah satu-satunya pengendali pada tiap ruh makhluk-Nya.

Tampak pula dalam tabel di atas, bahwa tiap elemen pada ruh manusia juga disebut oleh Imam Al-Ghazali, sebagai 'ruh'. Tentu saja khusus pada 'ruh suci kenabian', yang justru dianggap hanya dimiliki oleh para nabi-Nya (tidak ada pada tiap ruh manusia biasa lainnya).

Menurut pemahaman pada buku ini, penyebutan tiap elemen pada ruh manusia sebagai 'ruh', bukan sesuatu hal yang tepat, karena ruh adalah elemen paling dasar pembentuk kehidupan tiap makhluk-Nya, dan sekaligus pula, ruh adalah hakekat dari tiap makhluk-Nya.

Maka relatif aneh jika pada tiap ruh manusia ada pula berbagai ruh yang 'hidup', ataupun berbagai pengendali secara terpisah-pisah, tanpa sesuatu 'pengendali' tunggal, walau berada pada suatu zat ruh yang sama. Sehingga agak aneh misalnya: jika ruh inderawi tidak bisa dikendalikan atau bisa berbeda daripada keinginan ruh manusianya, jika ruh khayali bisa tidak selaras dengan ruh pemikiran, dsb.

Mungkin Imam Al-Ghazali mendefinisikan kata 'ruh', sebagai 'sesuatu hal tertentu' pada alam batiniah ruh manusia (alam akhirat), tanpa memandangnya sebagai suatu hal yang 'hidup', ataupun suatu pengendali yang terpisah.

Sekali lagi, penyebutan 'ruh-ruh' itu dianggap kurang tepat, atau sama sekali bukan ruh-ruh di dalam zat ruh manusia. Justru hanya zat ruh manusianya sendiri yang mengendalikannya (dengan akalnya), dan telah membuatnya seolah-olah 'hidup'.

Bahkan penyebutan 'ruh-ruh' itu oleh Imam Al-Ghazali, juga tetap kurang tepat, jika dikaitkan dengan adanya berbagai peranan ruh para makhluk gaib di alam batiniah ruh manusia, misalnya hubungan antara 'Ruh Suci Kenabian' dan malaikat Jibril. Karena peranan para makhluk gaib justru relatif amat terbatas (hanya pemberi dan penyalur informasi), dan bukan pengendali utama atas berbagai proses pada ruh tiap manusia (termasuk para nabi-Nya).

Para makhluk gaib itu terutama hanya menyimpangkan segala informasi yang akan diterima oleh indera batiniah ruh manusia (hati atau kalbu), dengan segala ilham positif-benar-baik dan negatif-sesat-buruk (bisikan-godaan). Di mana ilham-ilham ini merupakan berbagai informasi 'tambahan', yang mereka berikan untuk menyertai berbagai informasi yang sebenarnya (atau murni), dari berbagai indera lahiriah dan dari hasil pikiran tiap manusianya sendiri.

Dan peranan para makhluk gaib lainnya pada dasarnya hanya menyalurkan segala informasi batiniah yang telah diterima, diolah dan diproses oleh akal manusianya sendiri, misalnya malaikat Rakid dan 'Atid yang mencatat tiap amal-perbuatan manusia. Para makhluk gaib sama sekali tidak bisa melewati, melangkahi ataupun membatasi daya kendali dan keputusan akal. Walau mereka memang bisa 'mengelabui' akal, yang tidak dipakai secara maksimal dan benar (tanpa memiliki keyakinan kuat), dengan cara memberi berbagai informasi yang keliru (ilham-bisikan-godaan yang negatif-sesat-buruk dari iblis dan syaitan).

Lebih penting lagi, 'Ruh Suci Kenabian' dalam tabel di atas, pada dasarnya tidak ada, karena proses diberikan-Nya kenabian itu, justru melalui 'akal-pikiran' para nabi-Nya, persis serupa pada proses berpikir manusia biasa pada umumnya. Perbedaan antar tiap manusia hanyalah pada segala 'keadaan' alam batiniah ruh (tingkat keimanan), yang memang telah diusahakannya sendiri. Dan 'keadaan' tiap zat ruh tentunya amat berbeda dari 'esensi' zat ruhnya.

Tentunya para nabi-Nya itu telah memiliki kesadaran tinggi, untuk mengatur alam batiniah ruhnya (membangun alam akhiratnya), sehingga cermin batiniah ruh merekapun (hati-nuraninya), telah amat terang dalam menerima pantulan cahaya kebenaran-Nya. Justru Allah Maha adil, sehingga mustahil Allah bersikap 'pilih-kasih' hanya bagi umat-umat tertentu, tanpa adanya usaha yang setimpal dari umat-umat itu sendiri (termasuk para nabi-Nya).

Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya", tentang diturunkan-Nya wahyu, nabi ataupun kitab-Nya. Dan baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang cara berinteraksi antara manusia dan para makhluk gaib.

Sunatullah batiniah, paling penting dalam beragama

Sederhananya, sunatullah pada aspek lahiriah hanya mengatur kehidupan lahiriah manusia di dunia, sedangkan pada aspek batiniah justru mengatur kehidupan batiniah di akhirat (kehidupan batiniah ruh tiap manusia). Padahal segala keadaan batiniah ruh inilah yang justru akan tetap kekal setelah Hari Kiamat, pada saat ruhnya telah kembali berkumpul di hadapan 'Arsy-Nya.

Sedang kehidupan lahiriah di dunia ini hanyalah bersifat 'fana' (sementara), atau hanya sekitar 0 s/d 100 tahun usia tiap manusianya. Di mana kehidupan dunia ini hanya semata-mata diciptakan-Nya, agar tiap manusianya bisa pula sambil membangun kehidupan akhiratnya masing-masing, agar bisa mencapai segala kemuliaannya yang makin banyak, di samping bersifat hakiki dan kekal.

Sehingga segala pengetahuan atau pemahaman atas sunatullah pada aspek batiniahnya itulah, yang justru jauh lebih penting di dalam kehidupan beragama. Bahkan hampir semua ajaran dalam kitab-kitab-Nya (khususnya kitab suci Al-Qur'an), justru mengandung pengajaran dan tuntunan-Nya, agar bisa memperbaiki dan membangun kehidupan akhirat tiap manusia (kehidupan batiniah ruhnya).

Bahkan termasuk pula dalam segala ajaran yang mengandung aspek lahiriah (segala macam ritual-fisik ibadah, ataupun segala amal-kebaikan yang dianjurkan-Nya dan amal-keburukan yang dilarang-Nya), justru agar bisa tercapai berbagai nilai batiniah di baliknya, dari hasil segala pengalaman rohani-spiritual ketika beramal-ibadah. Dan agama-Nya justru bukan diajarkan-Nya, agar tiap manusia bisa meraih segala kekayaan dan kenikmatan duniawi, yang memang bersifat fana (sementara), amat semu dan mudah menyesatkan.

Tentunya sunatullah pada aspek batiniah (berwujud ilmu-ilmu batiniah pada manusia) juga bersifat 'netral', seperti halnya sunatullah pada aspek lahiriah (ilmu-ilmu lahiriah, dari segala ilmu-pengetahuan fisik temuan manusia). Semuanya kembali tergantung kepada segala bentuk cara 'perolehan' dan 'pemakaian' atas segala pengetahuannya. Dari cara 'perolehan' dan 'pemakaian' ilmu-pengetahuan itulah yang menjadikannya seolah-olah bersifat 'negatif' dan 'positif'.

Ilmu-ilmu batiniah yang bersifat negatif itu, seperti: sihir, ilmu hitam, santet, gedam, guna-guna, dsb, dan yang bersifat netral, seperti: feng shui, semedi, yoga, dsb. Dan tentunya tiap 'hasil penerapan' dari ilmu-ilmu batiniah yang bersifat positif, amat banyak bisa ditemukan pada ajaran-ajaran agama-Nya (segala amal-ibadah atau syariat).

Dan tentunya pula, pemahaman atas ilmu-ilmu batiniah hanya dimiliki oleh umat-umat yang berilmu relatif tinggi (seperti para nabi-Nya). Sedang bagi umat-umat yang awam, telah cukup baginya untuk bisa merasakan segala pengalaman batiniah-rohani-spiritual, dari hasil mengamalkan segala ritual-fisik ibadah yang dianjurkan dalam ajaran-ajaran agama-Nya, yang memang berwujud relatif amat sederhana.

Umat tidak perlu memaksakan dirinya, untuk harus memahami ilmu-ilmu batiniah di dalamnya, sebelum ia memiliki atau menguasai ilmu-ilmu agama secara cukup mendalam. Terutama karena ilmu-ilmu batiniah itu justru relatif berbeda daripada hal-hal yang biasanya telah diketahui oleh umat, dari berbagai teks ajaran agama-Nya.

Lihat pula pada Gambar 35, tentang pengamalan atas ajaran-ajaran agama oleh umat berilmu dan umat awam.

Penjelasan lebih detail atas tiap jenis ilmu-ilmu batiniah, telah berada di luar wilayah pembahasan pada buku ini, terutama karena ilmu-ilmu batiniah relatif amat luas aspeknya, selain itu pula bersifat relatif amat halus, peka dan rumit.

Pada dasarnya proses pemahaman atas sunatullah pada aspek batiniah ini, serupa dengan sunatullah pada aspek lahiriahnya. Hanya saja tiap keadaan batiniah yang berpengaruh, relatif sulit diukur (tidak ada alat ukurnya, hanya dengan perasaan dan keyakinan), serta relatif sulit pula untuk dirumuskan, dipahami ataupun dijelaskan.

Pemahaman atas sunatullah lahiriah umumnya diperoleh dari mengamati, meneliti atau mempelajari berbagai pengalaman empirik lahiriah tertentu. Di samping tentunya, secara tidak langsung melalui berbagai buku dan tulisan ilmiah. Sedang pemahaman atas sunatullah batiniah, umumnya hanya bisa diperoleh melalui berbagai pengalaman empirik batiniah tertentu, yang biasanya disebut pengalaman batiniah-rohani-spiritual, karena memang relatif amat sulit dijelaskan melalui buku dan tulisan. Biasanya hanya melalui segala ritual amal-ibadah, yang juga tidak langsung menjelaskan ilmu-ilmu batiniah terkait.

Syariat, ijtihad Nabi dari pemahaman atas sunatullah batiniah

Segala hukum, aturan atau ketentuan syariat, pada tiap ajaran agama Islam, pada dasarnya bentuk perwujudan lahiriah yang bersifat praktis-aplikatif dan aktual dari tiap pemahaman nabi Muhammad saw terhadap sunatullah pada aspek batiniahnya (ilmu-ilmu batiniah, atau segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya pada aspek batiniah).

Segala aturan syariat itu ditetapkan, pada dasarnya untuk bisa mengatasi segala persoalan batiniah, yang amat penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan tiap manusia (kehidupan akhirat atau kehidupan batiniah ruhnya). Sehingga segala aturan syariat pada dasarnya suatu bentuk 'ijtihad', walau memang berasal langsung dari Nabi sendiri.

Lihat pula pada Gambar 40, tentang proses pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya dari pengajaran-Nya sepanjang masa.

Ilmu-ilmu batiniah itu diperoleh setelah Nabi menjalani segala pengalaman rohani-moral-spiritual yang relatif lengkap dan mendalam sepanjang hidupnya, melalui segala usahanya yang sangat keras dalam memelihara akhlak dan budi pekertinya yang sangat terpuji. Sehingga dari berbagai pengalaman itu, Nabi memiliki kepekaan batiniah yang sangat tinggi (cermin batiniahnya sangat jernih untuk bisa menerima dan memantulkan berbagai cahaya kebenaran-Nya).

Dengan sendirinya, ilmu-ilmu batiniah pada Nabi justru telah sangat tinggi pula, yang relatif sangat sulit bisa dicapai oleh manusia biasa pada umumnya ('sangat sulit' berbeda dari 'mustahil').

Hal inilah yang membuat suatu ketentuan syariat, hanya bisa disampaikan atau diajarkan oleh 'rasul-Nya', sedang para 'nabi-Nya' hanya meneruskan syariat dari para rasul-Nya terdahulu (para rasul-Nya relatif lebih tinggi segala pemahamannya tentang kebenaran-Nya daripada para nabi-Nya). Juga dari segala pengalaman rohani-moral-spiritual yang telah relatif lengkap dan mendalam, Nabi sebagai salah seorang rasul-Nya, telah bisa memahami keterkaitan antara berbagai olah-gerak tubuh fisk-lahiriah manusia yang relatif sangat sederhana sekalipun, dengan berbagai keadaan batiniahnya yang bisa ikut pula terpengaruh.

Termasuk tentu saja, Nabi telah bisa memahami pula berbagai pengaruh dari para makhluk gaib terhadap kehidupan batiniah ruh tiap manusia (kehidupan akhiratnya), dari hasil segala pengalaman rohani-moral-spiritualnya dalam berinteraksi secara terang-terangan dengan para makhluk gaib (termasuk malaikat Jibril).

Baca pula topik "Para nabi dan rasul utusan-Nya", tentang perbedaan antara nabi-Nya dan rasul-Nya. Serta topik "Makhluk hidup gaib", tentang cara berinteraksi antara manusia dan para makhluk gaib.

Contoh yang sangat dikenal oleh umat Islam, adalah lahirnya ketentuan syariat yang berupa shalat wajib 5 waktu bagi umat Islam, setelah Nabi selesai menjalani pengalaman batiniah-rohani-spiritual yang sangat luar-biasa, yang biasa disebut peristiwa "'Isra Mi'raj".

Tentunya pada peristiwa 'Isra Mi'raj itu, Nabi khususnya bisa memahami pula segala aspek yang terkait dengan ibadah shalat wajib 5 waktu tersebut (tujuan lahiriah dan batiniah; bacaan; waktu; jumlah rakaat; olah-gerak tubuh; kiblat; wajib dan sunnah; rukun dan tertib; wudlu dan tayamum; dsb). Hal ini tentunya di luar pencapaian segala hikmah dan hakekat lainnya selama peristiwa 'Isra Mi'raj itu.

Tiap hukum, aturan atau ketentuan syariat pada dasarnya pasti mengandung berbagai tujuan batiniah, yang mestinya bisa dicapai oleh tiap umat Islam (secara sadar ataupun tidak), yang telah mengikuti dan mengamalkannya, agar pelaksanaannya tidak menjadi sia-sia.

Dari berbagai pengalaman batiniah-rohani-spiritual itulah pada akhirnya bertujuan untuk bisa membentuk segala akhlak terpuji, yang dengan sendirinya, agar bisa memperbaiki dan membangun kehidupan akhirat tiap umat itu sendiri (kehidupan batiniah ruhnya).

Lihat pula pada Gambar 35, tentang hubungan antara syariat dan tujuan batiniahnya, secara sederhana dan ringkas.

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

3 Balasan ke Bab VI.A.1 Penerapan fungsi sunatullah

  1. emji berkata:

    Bagus sekali bukunya akhi! apa sudah terbit dan sudah di edarkan?bisa pesan langsung ke penerbit?mhon di balas ke e_mail sy.tks

  2. Ping balik: Manusia Dan Agama | saiful runardi

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s