Bab VII.B Kitab-kitab tuntunan-Nya

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

"Katakanlah: "Barangsiapa menjadi musuh Jibril,
maka Jibril itu(lah yang justru) telah menurunkan (Al-Qur'an)
ke dalam hatimu (Muhammad), dengan seijin Allah.
(Al-Qur'an itu) membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya,
dan menjadi petunjuk, serta berita gembira
bagi orang-orang yang beriman"."
(QS. AL-BAQARAH:2:97).

"Apa saja ayat-ayat-Kami yang telah Kami nasakhkan,
atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, (setelah itu)
Kami datangkan yang lebih baik darinya, atau sebanding dengannya.
Tiadakah kamu mengetahui, bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QS. AL-BAQARAH:2:106).

 

VII.B.

Kitab-kitab Tuntunan-Nya (Kitab-kitab Tauhid)

Wahyu-Nya, pengetahuan dan pemahaman para nabi-Nya

'Wahyu-Nya' berupa sekumpulan kata atau kalimat yang telah diucapkan oleh para nabi-Nya, pada saat sedang berusaha menjawab ataupun mengatasi berbagai persoalan umatnya (atau menyampaikan pengajaran dan tuntunan-Nya). Kalimat itupun berasal dari rangkuman pemahamannya tentang berbagai hal yang dihadapi oleh umatnya, atas seluruh 'wahyu-Nya' (kalimat, petunjuk, kalam-Nya, dsb), yang telah diperolehnya dari malaikat Jibril, di dalam dada-hati-pikirannya.

Penekanan dari hal di atas adalah, seluruh 'wahyu-Nya' justru telah menjadi bagian dari seluruh pengetahuan atau pemahaman pada para nabi-Nya atas berbagai kebenaran-Nya. Serta penyampaian tiap 'wahyu-Nya' dilakukan setelah mereka telah bisa memiliki keyakinan yang relatif sangat mantap, mendalam dan sempurna atas keseluruhan pemahamannya. Hal ini juga serupa seperti halnya para ilmuwan yang menyampaikan teori atau rumus baru hasil temuannya, setelah sangat bisa diyakininya berbagai landasan ilmiahnya. 85)

Baca pula topik "Para nabi dan rasul utusan-Nya", atau topik "Makhluk hidup gaib", tentang cara-cara Wahyu-Nya disampaikan oleh para nabi-Nya, ataupun oleh malaikat Jibril. Dan juga tentang empat macam atau jenis wahyu-Nya.

"Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenar-benarnya. Dan janganlah kamu (Muhammad) tergesa-gesa membaca Al-Qur'an, sebelum disempurnakan diwahyukan-Nya kepadamu, dan katakanlah: 'Ya Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu-pengetahuan'." – (QS.20:114).

"Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelumnya, adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui." – (QS.12:3).

"Dan demikianlah, Kami wahyukan kepadamu (hai umat Muhammad) wahyu (Al-Qur'an), dengan perintah Kami. Sebelumnya, kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an), dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. …" – (QS.42:52).

Wahyu-Nya 'berdasar' ilham pada para nabi-Nya

Para nabi-Nya seperti halnya manusia biasa lainnya, juga pasti selalu mendapat berbagai godaan dari jin, syaitan ataupun iblis. Semua godaan inipun berupa pengajaran yang sangat keliru dan menyesatkan. Sebaliknya para nabi-Nya pasti selalu mendapat berbagai pengajaran yang mengandung nilai-nilai kebenaran-Nya, dari para malaikat-Nya (khususnya malaikat Jibril).

Semua bentuk pengajaran itu pada dasarnya menyatu di dalam pikiran manusia itu sendiri, berupa segala bentuk ilham (positif-baik-benar ataupun negatif-buruk-sesat). Maka relatif tidak jelas pula antara ilham-ilham yang benar dan yang sesat, serta tidak sederhana, seperti "Saya ini malaikat Jibril, bahwa Allah telah berfirman ….".

Penilaian atas berbagai pengajaran para makhluk gaib itu pasti tetap kembali kepada keyakinan batiniah (keimanan) para nabi-Nya itu sendiri. Namun sebaliknya pula, berbagai pengajaran itu justru bisa makin menambah kuat keyakinan mereka, dengan makin banyaknya hikmah dan hidayah-Nya yang telah mereka pahami, dari hasil segala bentuk pengajaran para makhluk gaib tersebut.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang cara interaksi antara manusia dan para makhluk gaib.

Tetapi sangat penting diketahui pula, justru bukan ilham-ilham dari para makhluk gaib (terutama malaikat Jibril) yang sering disebut-sebut sebagai 'wahyu-Nya'. Ilham-ilham itu justru hanya bahan-bahan dasar atau potongan-potongan kecil informasi, yang menyusun segala pengetahuan atau pemahaman tentang kebenaran-Nya dalam pikiran para nabi-Nya, yang lalu disebut sebagai 'wahyu-Nya'. Ringkasnya, ilham-ilham itu hanya mendasari penyusunan tiap 'wahyu-Nya'.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang ilham-ilham dari para makhluk gaib.

Pondasi keimanan para nabi-Nya dalam menerima Wahyu-Nya

Para nabi-Nya memiliki pondasi pemahaman atau keimanan batiniah yang sangat kuat, yang terbentuk secara bertahap sepanjang hidupnya, atas berbagai kebenaran-Nya. Khususnya akibat didukung pula oleh berbagai akhlak, budi-pekerti dan kebiasaannya yang sangat terpuji. Berdasar pondasi itulah mereka menilai berbagai pengajaran dari para makhluk gaib, sampai akhirnya merekapun bisa mengambil berbagai pelajaran positif yang baru (hikmah dan hidayah-Nya).

Sehingga tiap wahyu-Nya berupa sesuatu hikmah dan hidayah-Nya, dari pemahaman atas berbagai pengajaran secara batiniah dari para makhluk gaib (terutama malaikat Jibril), serta secara lahiriah atas segala hal yang bersifat mutlak dan kekal pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta ini (tanda-tanda kekuasaan-Nya).

Pemahaman lahiriah pada dasarnya sama (berjalan bersamaan) dengan proses pemahaman batiniah, karena sama-sama dituntun pula oleh para makhluk gaib. Bahkan segala pemahaman lahiriah itu pada akhirnya bermuara pada alam batiniah ruh para nabi-Nya di mana para makhluk gaib justru berada dan bertugas. Akhirnya, makin lama tiap pemahaman itu makin memperkuat dan menambah pemahaman (atau keimanan batiniah), yang telah ada sebelumnya pada para nabi-Nya.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang filter keimanan manusia atas pengajaran dari para makhluk gaib.

Integritas keimanan para nabi-Nya

Secara sekilas, perolehan 'wahyu-Nya' bagi para nabi-Nya itu tampak serupa dengan hasil perolehan 'hikmah dan hidayah-Nya' bagi manusia biasa umumnya, dari berbagai pelajaran dan pengalamannya. Namun perbedaan penting dan utamanya justru terletak pada integritas keimanan para nabi-Nya (integritas pemahaman atas kebenaran-Nya pada hikmah dan hidayah-Nya yang telah mereka peroleh, sekaligus diikuti pula dengan pengamalannya secara amat konsisten).

Selain telah mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia, perolehan pemahaman pada para nabi-Nya justru terkandung berbagai nilai kebenaran-Nya, tentang 'rumus kehidupan' lahiriah dan batiniah, yang relatif sangat mendalam dan sulit bisa dicapai oleh manusia biasa umumnya. Apalagi jika dilihat dari aspek integritas pemahamannya, atas berbagai kebenaran-Nya yang relatif 'sempurna' (relatif sangat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan).

Bahwa integritas keimanan itupun juga sangat didukung oleh segala budi-pekerti dan akhlak yang terpuji dari para nabi-Nya (wujud dari keimanan lahiriahnya), maka sangat konsisten aspek batiniah dan lahiriah. Sehingga bisa dikatakan, bahwa mereka telah terhindar dari berbagai perbuatan tercela ataupun dosa (termasuk dosa-dosa kecil). Dan mereka selalu sangat konsisten menerapkan segala keyakinannya itu, di dalam kehidupannya sehari-hari dengan berbuat berbagai amal-kebaikan, termasuk dalam melayani umat sepanjang hidupnya.

Baca pula topik "Para nabi dan rasul utusan-Nya".

Hubungan wahyu-Nya dan akal, menurut beberapa aliran

Pada Gambar 34 di bawah diberikan gambaran amat sederhana dan ringkas, tentang hubungan antara wahyu-Nya dan akal, menurut beberapa aliran teologi dalam agama Islam, serta menurut pembahasan buku ini. Amat jelas dari Gambar 34 itu, adanya pemisahan yang amat tegas antara wahyu-Nya dan akal, pada pemahaman semua aliran itu.

Hal yang sebaliknya dari pemahaman pada buku ini, hubungan antara wahyu-Nya dan akal (khususnya akal-pikiran para nabi-Nya), justru amat erat. Baca pula uraian pada topik di bawah.

Dari Gambar 34 dan keterangan pada tabel di bawahnya, jelas tampak, bahwa sebagian besar atau bahkan seluruh aliran, sebenarnya justru tidak memiliki pemahaman yang memadai, atas proses turunnya wahyu-Nya, ataupun atas peran akal-pikiran manusia. Tentunya pula seluruh aliran itupun belum benar-benar memahami hubungan, antara wahyu-Nya dan akal-pikiran para nabi-Nya.

Pada tabel tersebut juga jelas terungkap, bahwa seluruh aliran mencampur-adukkan, antara 'zat' dan 'isi' dari akal. Padahal zat akal para nabi-Nya persis sama dengan zat akal manusia biasa lainnya. Hal yang berbeda hanya 'isi' akalnya masing-masing (tingkat pemahaman tentang kebenaran-Nya yang dimilikinya masing-masing).

Sudut pandang hampir seluruh aliran itupun hanya diambil dari sisi 'umat' para nabi-Nya, bukan dari sudut pandang para nabi-Nya itu sendiri (dalam mencari pemahaman tentang kebenaran-Nya). Bahkan wahyu-Nya justru diturunkan-Nya melalui perantaraan 'akal-pikiran' para nabi-Nya.

Akhirnya, penafsiran mereka atas cakupan peranan wahyu-Nya dan akal, juga menjadi bercampur-aduk ataupun bermacam-macam. Padahal wahyu-Nya dan akal memiliki hubungan yang amat erat.

Hal yang relatif berbeda adalah, para nabi-Nya bisa memahami berbagai kebenaran-Nya relatif hanya melalui akalnya (relatif sedikit dari wahyu-Nya pada para nabi-Nya terdahulu). Sedang manusia biasa umumnya, selain melalui akalnya, justru juga relatif amat dipermudah oleh wahyu-Nya. Tentunya peranan akal justru untuk bisa memahami tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini.

Gambar 34: Skema hubungan aplikasi wahyu-Nya dan akal
(menurut beberapa aliran)

(dirangkum dari buku "Teologi Islam", Prof.Dr. Harun Nasution, 1986)

 

Keterangan gambar

Simbol-simbol yang dipakai:

~ A : Allah
~ M : Manusia

 

Beberapa bidang cakupan wahyu-Nya ataupun akal, yang diamati:

~ MT : Mengenal Tuhan
~ KMT : Kewajiban mengenal Tuhan
~ MBJ : Mengenal baik dan jahat
~ KMBJ : Kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi yang jahat

Hubungan wahyu-Nya dan akal menurut beberapa aliran teologi dalam agama Islam:

Wahyu-Nya dan akal betul-betul dianggap dua hal yang sama sekali tidak berhubungan. Selain itu, di antara aliran-aliran yang diamati, ada perbedaan atau pembagian fungsi wahyu-Nya dan akal manusia. Dari aliran Mu'tazilah yang relatif amat 'maju', yang menganggap semua ke-empat bidang cakupan yang diamati, bisa dicapai dengan akal saja (tanpa perlu wahyu-Nya sama sekali), sampai aliran Asy'ariah yang relatif amat 'konservatif', yang menganggap akal hanya bisa untuk mengenal Tuhan (MT).

Tentunya "maju" atau "konservatif"-nya pemikiran sesuatu aliran, tidak ada hubungannya dengan tingkat kebenaran pemikiran mereka. Hal ini hanya milik dan hak Allah, untuk menilai pemahaman yang paling benar.

Hubungan wahyu-Nya dan akal menurut pembahasan buku ini:

Hubungan antara wahyu-Nya dan akal justru amat erat, saling terkait dan saling mendukung, karena wahyu-Nya pada dasarnya serupa dengan hikmah dan hidayah-Nya, yang juga diberikan-Nya kepada manusia biasa umumnya. Prosesnya persis sama, berupa perolehan pemahaman (lahiriah dan batiniah) atas berbagai kebenaran-Nya, dengan menggunakan akal-pikiran.

Namun perbedaannya justru hanya pada kualitas keimanan tiap manusia yang menerimanya. Padahal keimanan itu sendiri meliputi pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya (keyakinan batiniah) dan pengamalannya (keyakinan lahiriah, melalui pikiran, perkataan dan perbuatan).

Perolehan pengetahuan atau pemahaman pada tiap manusia (pada aspek lahiriah dan batiniah, tentang hal-hal yang umum ataupun kebenaran-Nya, bagi orang yang awam ataupun para nabi-Nya, secara sadar ataupun tidak), pada dasarnya pasti hasil pengajaran, tuntunan dan ujian-Nya dari para makhluk gaib, melalui alam batiniah ruh tiap manusianya (alam pikirannya), yang berupa ilham-ilham yang benar ataupun sesat (seperti: memori-ingatan, pengetahuan, perasaan, bahasa, khayalan, dsb).

Pengajaran para makhluk gaib itupun terjadi tiap saatnya sepanjang hidup tiap manusianya (digambarkan melalui sejumlah besar lingkaran kecil berbentuk serupa spiral, yang melingkupi "garis pengetahuan akal").

Namun para makhluk gaib hanya mengikuti arah kecenderungan akal-pikiran manusianya, serta tidak memaksakan pemberian ilham kepada akal-pikiran manusia yang tidak siap menerimanya dan tidak mau berpikir. Juga para makhluk gaib hanya memakai tiap celah kelemahan (bagi ilham negatif) ataupun celah kekuatan (bagi ilham positif) dalam pikiran manusia, tiap saatnya.

Dengan makin sering belajar atau otak diasah, maka makin luas pula segala pengetahuan yang diperoleh. Proses yang sama pada para nabi-Nya ketika diberikan-Nya wahyu-Nya. Kekhususan pada para nabi-Nya dibanding pada manusia biasa umumnya adalah keimanan dan kemauan berpikir mereka yang amat tinggi, sehingga justru amat sedikit celah kelemahan di dalam pikiran mereka. Akhirnya, berbagai ilham negatif yang amat mengganggu penglihatan batinnya (dari jin, syaitan atau iblis), makin berkurang ataupun bisa lebih mudah diabaikannya.

Hal inilah yang membuat penglihatan batiniah mereka amat terang, sehingga pengetahuan tentang hal-hal batiniah yang bisa mereka miliki juga amat luas, misalnya hakekat seperti: wujud zat Allah, penciptaan alam semesta ini dan tujuannya, ruh, alam akhirat, dsb.

Padahal hampir semua ajaran-ajaran agama-Nya dalam kitab-kitab-Nya justru amat banyak mengandung aspek batiniah, termasuk 'di balik' segala aspek lahiriahnya (syariat, ritual ibadah, dsb).

Dalam gambar di atas, pengetahuan (lahiriah ataupun batiniah) atas berbagai kebenaran-Nya yang disampaikan-Nya melalui para makhluk gaib (khususnya malaikat Jibril), justru makin menambah pengetahuan yang telah dimiliki oleh umat manusia yang dikehendaki-Nya (umat yang siap menerimanya dan mau berpikir).

Maka lingkaran-lingkaran kecil serupa spiral (pengajaran dari para makhluk gaib), justru makin mengantarkan akal makin mendekati pengetahuan tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia, yaitu pengetahuan dan pemahaman tentang ketuhanan (God Spot), ataupun hanya bisa mengantarkannya ke titik tertentu, sesuai batas kemampuan akal-pikiran masing-masing manusianya.

Pemahaman yang relatif sempurna tentang kebenaran-Nya yang bisa dimiliki oleh seorang manusia biasanya juga disebut sebagai "pemahaman kenabian", orangnya disebut "nabi-Nya". Dan tiap pemahaman itu sendiri (tiap hikmah dan hidayah-Nya) yang diperoleh telah pantas disebut "wahyu-Nya".

"Kesempurnaan" ini lebih terkait dengan amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangannya seluruh hikmah dan hidayah-Nya yang dimiliki, juga bisa menjawab segala persoalan yang paling penting, mendasar dan hakiki pada kehidupan umat kaumnya atau bahkan seluruh umat manusia.

Akhirnya, ke-empat bidang cakupan yang diamati di atas pada dasarnya justru dicapai dengan wahyu-Nya dan akal secara bersamaan, khususnya pada jaman para nabi-Nya.

Namun masalahnya, secara manusiawi di jaman sekarang ini tidak ada lagi manusia yang mampu dan memiliki kapasitas untuk menjawab semua persoalan umat manusia modern, secara 'sempurna'. Padahal prinsip utama kenabian adalah melayani dan menjawab segala persoalan umat yang paling penting, mendasar dan hakiki, agar pantas menjadi contoh suri-teladan dan panutan.

Bahkan menurut umat Islam, kenabian terakhir telah diyakini hanya ada pada nabi Muhammad saw.

Dengan sendirinya fungsi akal pada ke-empat bidang cakupan itu makin lama relatif makin berkurang (makin diperlukan ketaatan atas ajaran-ajaran agama). Di lain pihaknya, justru wahyu-Nya yang dibawa para nabi-Nya, amat sangat diperlukan bagi umat, sebagai sumber ilham paling utama bagi tiap perolehan hikmah dan hidayah-Nya. Terlebih lagi bagi mayoritas umat yang relatif sangat sulit bisa memahami tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah). Hal ini menjadi kewajiban para alim-ulama sampai akhir jaman, untuk tetap terus-menerus bisa mengungkap tiap Al-Hikmah dan mengajarkannya.

Walau kapasitas akal manusia modern relatif berkurang untuk memahami segala Al-Hikmah yang terkait kehidupannya, tetapi akal justru tetap perlu selalu dipakai, untuk memahami tiap wahyu-Nya ataupun tiap ajaran agama-Nya.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang proses diturunkan-Nya wahyu-Nya melalui perantaraan para makhluk gaib (terutama malaikat Jibril), atau lihat pula "Gambar 25: Diagram siklus proses sesaat pikiran manusia" dan "Gambar 13: Diagram sederhana proses perolehan wahyu".

Empat macam bentuk wahyu-Nya:

Dari uraian di atas, diketahui ada empat macam bentuk wahyu-Nya, yaitu:

~ Wahyu-Nya sebagai Fitrah Allah sendiri (sifat-sifat terpuji Allah).
~ Wahyu-Nya sebagai tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini (ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis), yang merupakan bentuk wahyu, kalam, sabda atau kalimat-Nya yang sebenarnya.
~ Wahyu-Nya sebagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), yang telah dipahami oleh para nabi-Nya, di dalam dada-hati-pikirannya.
~ Wahyu-Nya sebagai ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an dan kitab-kitab-Nya lainnya (Al-Kitab). Dan disebut pula sebagai "wahyu yang diwahyukan" – (QS.6:145, QS.42:52 dan QS.53:4).

 

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang 4 macam wahyu-Nya

Ringkasan:

Aliran

MT

KMT

MBJ

KMBJ

Mu'tazilah / Qadariah

Akal

Akal

Akal

Akal

Asy'ariah, Al-Ghazali

Akal

Wahyu

Wahyu

Wahyu

Maturidiah samarkand

Akal

Akal

Akal

Wahyu

Maturidiah buchara

Akal

Wahyu

Akal

Wahyu

–pembahasan di sini–

Akal & Wahyu

Akal & Wahyu

Akal & Wahyu

Akal & Wahyu

Hubungan wahyu-Nya dan akal, menurut pembahasan di sini

Bahwa akal adalah satu-satunya alat-sarana pada tiap manusia (termasuk para nabi-Nya), yang memiliki kemampuan untuk menilai, memilih dan memutus segala sesuatu halnya, termasuk segala bentuk informasi batiniah dari para makhluk gaib, yang berupa segala bentuk ilham yang positif dan negatif, pada alam batiniah ruh manusianya.

Para nabi-Nya tiap saatnya justru tidak hanya menerima segala ilham positif-baik-benar dari para malaikat (terutama malaikat Jibril), namun justru tiap saatnya para nabi-Nya juga menerima segala ilham negatif-buruk-sesat dari syaitan dan iblis.

Karena bentuk kehadiran para malaikat, jin, syaitan atau iblis, pada alam batiniah ruh tiap manusia, memang melalui cara-cara yang persis sama, yaitu melalui suara 'bisikan' mereka pada alam batiniah ruh tiap manusianya. Hal yang berbeda antar para makhluk gaib justru relatif hanya pada 'kandungan isi' dari suara 'bisikan'-nya.

Sederhananya, tiap manusia justru pasti bisa merasakan segala pikiran (ilham), yang benar ataupun yang sesat, tiap saatnya sepanjang hidupnya. Sedangkan segala bentuk ilham pada pikiran tiap manusia, memang hanya berasal dari para makhluk gaib. Dan tiap manusia pasti selalu mengalami interaksi secara 'terselubung' semacam itu, dengan para makhluk gaib (suara 'bisikan' mereka amat sangat halus).

Walau memang terdapat sejumlah amat terbatas manusia, yang juga sekaligus mengalami interaksi secara 'terang-terangan', dengan para makhluk gaib (para makhluk gaib menunjukkan 'wujud aslinya'), seperti yang telah dialami oleh sebagian dari para nabi-Nya.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang cara-cara para makhluk gaib berinteraksi dengan manusia.

Sehingga peran akal justru amat sangat penting, dalam proses turunnya wahyu-Nya dari malaikat Jibril, karena hanya akal-pikiran para nabi-Nya yang bisa memilih ataupun memisahkan, antara segala ilham yang positif-baik-benar dan yang negatif-buruk-sesat.

Tentunya dalam melaksanakan peranannya, akal tiap manusia didukung pula oleh segala pengetahuannya tentang kebenaran, yang telah tertanam sebelumnya pada hati-nuraninya. Dengan pengetahuan ini, akal memilih tiap ilham yang baru dari para makhluk gaib, yang bisa dianggap sebagai pengetahuan yang baru tentang kebenaran.

Tentunya segala pengetahuan tiap manusia tentang kebenaran pada hati-nuraninya, justru juga pasti berasal dari hasil olahan akalnya sebelumnya, dan segala pengetahuan inipun pasti akan terus-menerus bertambah sepanjang hidup manusianya (jika akalnya terus diasah).

Persoalannya, segala kebenaran pada hati-nurani tiap manusia pada dasarnya memang bersifat 'relatif', sedang segala kebenaran-Nya justru bersifat 'mutlak'. Namun ada suatu 'batas', yang bisa dianggap sebagai ukuran, bahwa kebenaran 'relatif' milik manusia telah relatif 'amat sesuai atau dekat' dengan kebenaran 'mutlak' milik Allah.

Pada pemahaman di sini, batas kesesuaian atau kedekatan itu berupa segala pemahaman manusia tentang kebenaran, yang tersusun dalam bangunan pemahaman yang relatif 'sempurna' (sangat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan seluruhnya), terutama tentang segala hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah).

Tiap pengetahuan pada bangunan pemahaman seperti itu, yang diketahui hanya dimiliki oleh para nabi-Nya, biasanya disebut sebagai suatu "wahyu-Nya", yang berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), di dalam hati-dada-pikiran para nabi-Nya.

Sedang wahyu-Nya yang berupa pengajaran dan tuntunan-Nya bagi umat, adalah hasil 'rangkuman' atas seluruh Al-Hikmah pada tiap nabi-Nya, yang bersifat sederhana, praktis-aplikatif dan aktual, untuk bisa menjawab berbagai keadaan, tantangan dan persoalan umat.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang empat macam bentuk wahyu-Nya.

Batas kesempurnaan itulah yang membedakan antara seluruh Al-Hikmah pada para nabi-Nya dan pada manusia biasa lainnya. Juga sekaligus menjadikan tiap pengetahuan para nabi-Nya itu bisa disebut sebagai 'wahyu-Nya'. Sedang tiap pengetahuan manusia biasa lainnya tetap hanya disebut sebagai 'Al-Hikmah' (tentunya jika memang sesuai dengan kebenaran-Nya).

Tiap wahyu-Nya tidak diturunkan-Nya dengan begitu saja dari 'langit', tanpa melalui proses tertentu yang jelas. Para nabi-Nya pasti memiliki suatu pemahaman yang relatif lengkap atas tiap wahyu-Nya, namun pemahaman ini tidak disampaikan seluruhnya kepada umatnya (relatif hanya tersimpan dalam hati-dada-pikirannya). Para nabi-Nya umumnya relatif hanya menyampaikan segala hal yang bersifat relatif amat ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual, sesuai keadaan, tantangan dan persoalan umat, pada tiap jamannya masing-masing.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang cara para makhluk gaib (termasuk malaikat Jibril), dalam memberi pengajaran dan ujian-Nya. Serta lihat pula pada "Gambar 13: Diagram sederhana proses perolehan wahyu".

Lebih lanjut, hubungan wahyu-Nya dan akal

Penting diketahui dari uraian di atas, bahwa perolehan wahyu-Nya (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, pada aspek lahiriah ataupun batiniah), juga melalui akal-pikiran para nabi-Nya. Tentunya tingkat keimanan mereka yang telah amat tinggi, yang bisa menjadikan akal-pikiran mereka relatif 'berbeda', daripada akal-pikiran manusia biasa. Hal ini pulalah yang menjadikan adanya perbedaan antara dalil Naqli dan dalil Aqli.

Walau hakekat kedua macam dalil itu sama, diperoleh dengan memakai 'akal'. Dalil Naqli berasal dari akal-pikiran para nabi-Nya, yang digunakan secara 'amat obyektif' (sesuai tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya, atau segala kebenaran-Nya di alam semesta).

Serupa uraian di atas, bahwa hanyalah akal satu-satunya sarana pada manusia (termasuk para nabi-Nya), yang memiliki kemampuan dan otoritas, untuk menilai, memilih dan memutuskan segala sesuatu informasi hasil tangkapan berbagai indera lahiriah dan batiniah (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, hati-kalbu, dsb), untuk dianggap sebagai suatu bahan pengetahuan, fakta, kenyataan ataupun kebenaran (secara lahiriah dan batiniah), walau juga pasti tetap bersifat 'relatif'.

Sehingga makna 'akal' dalam hal ini ditinjau dari segi hakekat sebenarnya, yang bersifat umum dan luas, bukanlah hanya akal dalam pengertian yang sempit dan sering dikenal, yaitu sebagai sarana untuk memahami segala bidang ilmu-pengetahuan temuan manusia (bidang ilmu-ilmu fisika, kimia, biologi, matematika, filsafat, psikologi, dsb), yang lebih banyak berupa pengetahuan atau pemahaman atas hal-hal yang bersifat lahiriah.

Akal pada dasarnya juga dipakai dalam hal-hal yang bersifat batiniah, yang justru banyak terdapat dalam ajaran-ajaran agama-Nya yang disampaikan oleh para nabi-Nya. Walaupun hal-hal batiniah itu memang relatif amat sulit dijelaskan, dirumuskan dan diformulasikan, berbeda daripada hal-hal lahiriah, yang telah amat banyak dirumuskan dalam ilmu-ilmu alam-fisik (ilmu-ilmu lahiriah).

Sekali lagi, wahyu-Nya adalah hasil dari pemahaman akal para nabi-Nya, melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena tidak ada alat-sarana lain pada manusia, untuk bisa mengenal Allah, atau untuk bisa memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini, selain 'akal'. Dan bahkan berbagai pengajaran dari para makhluk gaib, terutama malaikat Jibril (dari hasil berinteraksi secara terang-terangan ataupun terselubung), justru hanya bisa dinilai dengan 'akal'.

Ajaran-ajaran agama Islam pada dasarnya bukan hal-hal yang mistis-tahayul, yang sama sekali tidak memiliki berbagai penjelasan, melalui intuisi-nalar-logika akal sehat manusia. Pada dasarnya hanya masalah perbedaan pada batas kemampuan tiap manusianya saja untuk memahaminya, sehingga 'seolah-olah' ada kesan mistis-tahayul pada ajaran-ajaran agama (termasuk atas mu'jizat-mu'jizat para nabi-Nya).

Sebagian dari para alim-ulama dan cendikiawan Muslim pada berbagai aliran-mazhab-golongan, dari jaman dahulu sampai saat ini, telah mengabaikan (secara sengaja ataupun tidak), tentang kenyataan peranan akal-pikiran para nabi-Nya, pada saat diturunkan-Nya wahyu-Nya (seperti ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an). Bahkan mereka itu juga cenderung amat mempertentangkan antara wahyu-Nya dan akal.

Padahal para nabi-Nya adalah orang-orang yang paling tinggi ilmu-pengetahuannya dibandingkan seluruh umat kaumnya pada tiap jamannya masing-masing. Padahal mereka adalah orang-orang yang relatif amat banyak dan berusaha amat keras mengamati, mempelajari dan memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini. Serta mereka adalah orang-orang yang amat sering menyendiri untuk bisa bertafakur memikirkan penciptaan alam semesta ini.

Kemuliaan kitab suci Al-Qur'an tidak semestinya dijaga seperti itu (mempertentangkan antara wahyu-Nya dan akal), karena segala kemuliaan Al-Qur'an justru amat nyata pada bangunan seluruh hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalamnya (Al-Hikmah), yang tersusun relatif 'sempurna' (amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan). Serta bangunan pemahaman seperti inilah yang menjadi dasar utama suatu 'kenabian', berikut keseluruhan ajarannya.

Justru kewajiban yang semestinya dilakukan oleh para alim-ulama dan cendikiawan Muslim, adalah berusaha keras mengungkap sebanyak mungkin segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di balik teks ayat-ayat Al-Qur'an. Dan kemudian diajarkan kepada umat secara amat arif-bijaksana, dalam bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya (hasil ijtihad), yang bersifat relatif sederhana, praktis-aplikatif dan aktual.

Segala sesuatu 'kebenaran' yang amat obyektif, darimana dan bagaimanapun datangnya (siapapun yang menyampaikannya dan pada kitab manapun ditulis), pasti hanya milik dan berasal dari Allah. Maka masalah yang paling utama pada dasarnya bukan pada cara perolehan wahyu-Nya bagi para nabi-Nya, melalui 'akal' mereka ataupun tidak, tetapi pada 'tingkat kebenaran' dari seluruh kandungan isi wahyu-Nya yang mereka peroleh (berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya).

Penyampaian dan penulisan Wahyu-Nya secara bertahap

Penyampaian wahyu-Nya oleh para nabi-Nya justru dilakukan ayat per ayat ataupun secara bertahap, tergantung kepada keadaan dan persoalan umat kaumnya, yang sedang dihadapi ataupun dijawabnya. Lebih penting lagi, hal ini sesuai dengan tahap perolehan pemahaman tentang kebenaran-Nya atas sesuatu hal atau persoalannya. Walaupun berbagai pondasi dasar pemahaman mereka memang telah terbentuk, bahkan sebelum 'proklamir' kenabian mereka, terutama tentang segala hal yang amat mendasar (hakekat ketuhanan, ruh dan alam gaib, alam akhirat dan dunia, kehidupan manusia, dsb).

Terkait hal ini dalam Al-Qur'an disebut "nabi Muhammad saw pernah berjanji akan menjawab sesuatu persoalan umat pada keesokan harinya. Kemudian Allah menegur Nabi, karena Nabi ketika itu lupa menyebutkan, 'Insya Allah, dan mudah-mudahan Allah akan memberi kepadaku petunjuk (atau pemahaman)'" – (QS.18:23-24).

Sesuai dengan kemajuan budaya tulis-menulis masing-masing kaum, ada para nabi-Nya serta para pengikutnya yang mengumpulkan dan menuliskan wahyu-wahyu-Nya, pada media yang tersedia saat itu, seperti misalnya: batu tipis; pelepah kurma; tulang; kulit kayu; kulit dan tanduk binatang; dsb.

Selain itu, juga ada umat pengikut para nabi-Nya yang selalu menghapalkannya terus-menerus secara keseluruhan pada saat selesai diturunkan-Nya wahyu-Nya yang baru. Terkait kitab suci Al-Qur'an, penghapalan ini secara kebetulan amat didukung oleh budaya bangsa Arab, yang justru amat menyukai seni dan keindahan tata bahasa Al-Qur'an (selain amat tinggi nilai-nilai kebenaran-Nya di dalamnya). 86)

Pengaruh keadaan dan sifat manusiawi Nabi pada Al-Qur'an

Dengan cermat mengamati tiap ayat Al-Qur'an, secara tekstual bisa tampak relatif jelas, bahwa berbagai keadaan dan sifat manusiawi nabi Muhammad saw, ikut berperan penting dalam turunnya wahyu-wahyu-Nya itu. Hal ini justru juga bisa menunjukkan, bahwa proses diturunkan-Nya Al-Qur'an bersifat amat alamiah atau pasti mengikuti aturan-Nya (sunatullah).

Bahwa amat alamiah, apabila Nabi mestinya memakai bahasa (lisan dan tulisan), yang justru paling mudah dimengerti oleh umatnya sendiri. Juga Nabi mestinya mengambil bentuk hukum syariat, segala contoh dan perumpamaan, yang ada dalam kehidupan umatnya sehari-harinya (bahasa dan kebudayaan umatnya).

Selain proses diturunkan-Nya Al-Qur'an melalui budaya dan bahasa Arab, juga antara-lain: ada sejumlah pengulangan ayat secara persis sama, ataupun serupa namun sama maknanya; kisah para nabi-Nya sering diulang-ulang, namun dengan tingkat ketelitian dan fokus pembahasan yang berbeda-beda; ada berragam sebutan bagi Allah di dalam Al-Qur'an (Rabb, Aku, Engkau, Dia, Kami, Nya, dsb); dsb. 87)

Sebaliknya amat mustahil jika para nabi-Nya memakai bahasa, contoh dan perumpamaan yang universal, agar bisa langsung dipakai pula oleh umat manusia sampai akhir jaman. Justru menjadi tugas bagi umat dan alim-ulama pada tiap jamannya, untuk bisa memahami tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang sebenarnya, dalam ajaran-ajaran agama-Nya, secara utuh, wajar dan proporsional. Kemudian disampaikan kembali secara praktis-aplikasi dan aktual, sesuai dengan konteks keadaan umat tiap jamannya (melahirkan berbagai ijtihad).

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang berbagai keterbatasan bahasa tulisan, untuk mengungkapkan berbagai pemahaman batiniah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, atau wahyu-Nya).

Pembukuan kitab suci Al-Qur'an dan Hadits

Perumpamaan tentang pengulangan sebagai proses yang amat alamiah di atas, adalah persis seperti halnya seorang guru yang sering mengulang-ulang suatu materi pengajarannya kepada murid-muridnya yang berasal dari berbagai periode dan generasi, dengan menggunakan kata-kata yang sama, ataupun agak sedikit berbeda.

Sedangkan ayat-ayat Al-Qur'an disampaikan oleh nabi besar Muhammad saw, pada saat sedang memberi pengajaran dan tuntunan-Nya bagi umat-umatnya (selama sekitar 20 tahun). Lalu setelah Nabi memberi ijinnya, suatu wahyu-Nya bisa dicatat dan dihapal oleh para pengikutnya.

Ijin dari Nabi amatlah diperlukan, agar para pengikutnya bisa membedakan antara "wahyu-Nya" dan "penjabaran atas wahyu-Nya" (termasuk pengamalan atas wahyu-Nya, berupa Sunnah-sunnah Nabi). Bahkan untuk bisa menjaga kemurnian dari wahyu-wahyu-Nya, yang amat mungkin bisa bercampur-baur dengan hal-hal lain (penjabaran dan pengamalan wahyu-Nya ataupun berbagai ucapan lainnya), maka Nabi telah 'melarang' mencatat hal-hal lainnya selain wahyu-Nya itu. Apalagi Al-Qur'an pada saat itu belum berbentuk utuh dan sempurna.

Baca pula uraian di bawah, tentang wahyu-Nya sebagai suatu 'rangkuman' pemahaman para nabi-Nya, atas ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis yang ada di seluruh alam semesta ini (yang memang mustahil bisa ditulis ataupun dipahami semuanya, atau "tidak cukup dituliskan dengan tinta sebanyak beberapa samudera").

"Katakanlah: 'Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabb-ku, sungguh habislah lautan itu, sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Rabb-ku, meskipun Kami datangkan tambahan (tinta) sebanyak itu (pula)." – (QS.18:109).

 

Beberapa tahun menjelang Nabi wafat, seluruh wahyu-Nya di dalam Al-Qur'an telah sempurna diturunkan-Nya, walau sampai saat wafatnya Nabi, Al-Qur'an justru belum sempat dibukukan. Maka ada beberapa pengikut Nabi yang mengumpulkan seluruh wahyu-Nya itu, untuk dibuatkan kitab tertulis yang utuh dan lengkap (seperti halnya bentuknya saat ini), sedang sebelumnya masih tertulis terpisah pada berbagai macam media.

Proses pengumpulan ini amat didukung oleh banyaknya para pengikut yang telah menghapalnya, yang ketika itu ada sekitar ribuan orang. Sampai saat ini, ada tak-terhitung jumlah umat Islam penghapal Al-Qur'an, yang sekaligus menunjukkan salah-satu keistimewaan dari kitab suci Al-Qur'an daripada kitab suci agama-agama lainnya.

Berbagai keterangan atas sikap, perbuatan dan ucapan Nabi (selain dari wahyu-Nya) yang disebut 'Sunnah-sunnah Nabi', akhirnya juga bisa dibukukan oleh para pengikutnya, yang disebut kitab-kitab 'Hadits', terutama setelah tidak ada lagi kekuatiran, bahwa hal itupun akan bisa bercampur-baur dengan teks-teks kitab suci Al-Qur'an (yang telah dibukukan sebelumnya).

Hikmah pengulangan ayat-ayat Al-Qur'an

Walau pengulangan atas ayat-ayat Al-Qur'an, sebagai hal yang bersifat amat alamiah, namun justru telah membawa berbagai hikmah tersendiri, misalnya:

Mudah mengingat hal-hal yang amat penting dalam ajaran agama Islam (termasuk hal-hal yang amat perlu dilakukan oleh umat, dan hal-hal yang amat perlu dihindarinya).

Mudah dihapal, karena memiliki 'warna' yang berbeda-beda pada tiap pengulangannya. Walau ayat-ayatnya bisa serupa makna atau pemahamannya, namun justru dipakai kata-kata bahasa Arab yang berbeda-beda (sinonim), yang amat kaya dalam bahasa Arab.

Bahkan sampai sekarang ini belum ada buku atau kitab yang bisa menandingi keindahan bentuk seni, gaya ataupun tata bahasa Al-Qur'an, Lebih utama lagi tentunya, pada amat tingginya kemuliaan dan kebenaran kandungan isi Al-Qur'an itu sendiri.

Bahkan dengan metode tertentu, keseluruhan isi Al-Qur'an bisa dihapal oleh anak-anak kecil secara cepat. Hal inipun amat mudah dilihat, di dalam acara-acara lomba membaca dan menghapal Al-Qur'an (MTQ-Musabaqah Tilawatil Qur'an) pada negara-negara Islam, dari lomba tingkat desa sampai tingkat Internasional.

Relatif mudah dilakukan, saat ingin menjawab secukupnya dengan segera atas sesuatu persoalan, dengan bebas mengacu pada bagian mana saja dari Al-Qur'an yang paling disukai, biasa dibaca atau yang telah dihapal terlebih dahulu.

Karena pada sesuatu bagian Al-Qur'an (surat, juz, dsb), tidak ada penekanan khusus hanya pada hal-hal tertentu saja. Hampir semua topiknya bercampur-baur relatif merata (misalnya: tauhid, hal-hal gaib, hal-hal lahiriah-batiniah, kisah-kisah para nabi-Nya, anjuran dan larangan-Nya, dsb), walaupun masing-masing topiknya juga memiliki tingkat ketelitian dan fokus yang berbeda-beda.

Contohnya tentang kisah nabi Musa as: jumlah kumpulan ayat yang menceritakannya bisa berbeda-beda, dan terletak menyebar pada berbagai tempatnya; fokus masing-masing kumpulan ayat itu juga berbeda-beda (misalnya tentang: keimanan dan kenabiannya, mu'jizat atau pengetahuannya, akhlak atau budi-pekertinya; ujian atau cobaannya, para musuhnya, kekafiran kaumnya, perjalanan kehidupan kaumnya, dsb).

Sehingga pada bagian manapun Al-Qur'an dibaca, maka akan bisa diperoleh pengetahuan tentang hampir semua topik-topiknya itu. Tetapi tentunya, jika ingin bisa memahami Al-Qur'an secara utuh, mestinya juga membaca, menghapal dan mempelajari seluruhnya.

Al-Qur'an, Fitrah Allah pada penciptaan alam semesta

Dari berbagai uraian di atas diketahui, bahwa penciptaan alam semesta dan segala isinya, adalah perwujudan dari Fitrah Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang (QS.30:30). Sehingga dengan Fitrah Allah itu juga diciptakan-Nya berbagai bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya, yang juga merupakan hakekat yang sebenarnya dari Al-Qur'an yang berwujud gaib, yang telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuz) di sisi 'Arsy-Nya.

Al-Qur'an berwujud gaib itupun disebutkan sebagai "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" atau "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya", yang melekat pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian (lahiriah dan batiniah) di seluruh alam semesta ini. 88)

Tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya itu terkadang juga disebutkan sebagai "wajah-Nya", karena dalam segala hal yang ada di seluruh alam semesta ini terdapat sesuatu "gambar bayangan potret diri Allah" (atau tergambarkan semua sifat-Nya), agar umat manusia bisa mengenal Allah, Yang telah menciptakannya, serta bisa kembali dekat ke hadapan 'Arsy-Nya dengan mengikuti jalan-Nya yang lurus, sebagai keredhaan-Nya bagi kemuliaan manusia itu sendiri.

Terkait hal ini dalam Al-Qur'an disebut seperti, "kemana saja wajahmu menghadap, kamu akan bisa melihat-Ku" atau "Aku berada dimana saja dan Aku sangat dekat". Contoh sederhananya: tiap 'butir' atom ataupun udara di sekeliling, pasti tunduk dan mengikuti perintah-Nya. Hal ini tentunya juga menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Al-Qur'an (gaib), telah ada sejak awal penciptaan alam semesta

Al-Qur'an yang masih berwujud gaib itu justru telah ada sejak awal penciptaan alam semesta ini, serta telah tertulis pula pada induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, yang sangat agung dan mulia. Sedang Al-Qur'an (gaib) itu berupa segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya yang terkandung pada tanda-tanda kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini. Serta Al-Qur'an (gaib) itu juga disebutkan sebagai "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" (lahiriah dan batiniah). 89)

Serta bisa diibaratkan, bahwa Al-Qur'an (gaib) itu telah lama menunggu, untuk bisa dibaca oleh nabi Muhammad saw, para nabi-Nya lainnya, dan bahkan oleh keseluruhan umat manusia. Nabi selama hidupnya telah 'melihat' gambar wajah-Nya atau telah 'membaca' Al-Qur'an (gaib) itu, lalu Nabipun menggambarkan atau menuliskannya kembali ke dalam kitab suci Al-Qur'an, agar umat manusia selanjutnya bisa ikut pula 'melihat' (memahami) dengan makin jelas, atas wajah-Nya (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya).

Kitab suci Al-Qur'an, rangkuman pemahaman Nabi

Kitab suci Al-Qur'an pada dasarnya sesuatu 'rangkuman' dari keseluruhan pemahaman pada nabi Muhammad saw (berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), atas pengajaran dan tuntunan-Nya yang terdapat di seluruh alam semesta (atau ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis, lahiriah dan batiniah), yang telah diperolehnya sepanjang hidupnya, melalui perantaraan malaikat Jibril.

Kitab suci Al-Qur'an dalam wujudnya yang telah utuh seperti sekarang, keseluruhannya diturunkan-Nya selama sekitar 23 tahun (13 tahun di Mekah sebanyak 86 surat atau 4780 ayat, dan 10 tahun di Madinah sebanyak 28 surat atau 1456 ayat). 90)

Terkait 'rangkuman' itu, ataupun terkait perbedaan antara Al-Qur'an (gaib, atau ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis), dan kitab suci Al-Qur'an (ayat-ayat-Nya yang tertulis), dalam Al-Qur'an disebut, "tidak cukup tinta sebanyak laut dan samudera, untuk bisa menulis seluruh kalimat-kalimat-Nya (ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis)" (seperti pada QS.18:109 dan QS.31:27).

Hal inipun tampak jelas dari keterangan tentang sesuatu topik dalam Al-Qur'an, yang hanyalah terdiri dari beberapa ayat. Walaupun jika dikumpulkan dari keseluruhan ayat Al-Qur'an tentang topik yang sama, namun dari sudut pandangnya yang berbeda-beda, maka jumlah ayatnya bisa cukup banyak.

Padahal untuk bisa membahas secara lengkap suatu topiknya, para alim-ulama saat inipun, justru bisa mengungkapkannya, melalui sejumlah ribuan lembar tulisan. Apalagi jika hendak membahas pula keseluruhan topik dalam Al-Qur'an.

Bahasa kitab suci Al-Qur'an, "bahasa pertengahan"

Selain itu perlu diketahui pula, bahwa bahasa tulisan ataupun lisan pada penyampaian ayat-ayat Al-Qur'an adalah bahasa yang telah sengaja disusun, agar relatif mudah dipahami oleh seluruh umat yang membacanya. Termasuk kitab suci Al-Qur'an bisa cocok dipelajari, oleh umat yang tingkat pemahamannya relatif amat sederhana (umat-umat yang awam), serta juga oleh umat yang tingkat pemahamannya relatif amat mendalam (para alim-ulama atau umat-umat yang relatif cukup berilmu).

Bahasa tulisan yang dipakai dalam Al-Qur'an, telah amat arif-bijaksana dirangkum dan disederhanakan oleh nabi Muhammad saw (relatif berbeda jika dibandingkan dengan hasil pemahamannya), atas segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya selengkapnya, yang telah diperolehnya.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang berbagai keterbatasan bahasa tulisan, untuk mengungkapkan berbagai pemahaman batiniah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, atau wahyu-Nya).

Dengan penyampaian semacam itu, tiap umat bisa memahami kitab suci Al-Qur'an sesuai tingkat pengetahuan ataupun keimanannya masing-masing. Namun tentunya, menjadi tugas dan kewajiban utama bagi para alim-ulama, untuk bisa membimbing atau menuntun umat kepada pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, secara amat arif-bijaksana pula (karena relatif amat mudah menimbulkan berbagai fitnah).

Kearifan inipun justru amat diperlukan, terutama karena tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya memang bisa relatif agak berbeda daripada hal-hal yang dibaca dan diketahui oleh umat, dari teks-teks dalam kitab-kitab agamanya. Padahal dalam kitab-kitab itu justru bisa ditemukan banyak contoh-perumpamaan simbolik, yang bukan suatu fakta-kenyataan yang sebenarnya. Hal ini biasanya dipakai agar bisa memudahkan penjelasan atas hal-hal gaib. Sedang segala pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya juga termasuk mengungkap fakta-kenyataan sebenarnya, di balik segala contoh-perumpamaan simbolik.

Perbedaan "penglihatan" manusia atas cahaya kebenaran-Nya

Seluruh umat manusia (seperti halnya para nabi-Nya), berdasar fitrahnya mestinya bisa melihat wajah-Nya, atau bisa mengenal Allah, melalui hati-nuraninya sebagai suatu tuntunan-Nya yang paling dasar, ataupun melalui segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta (lahiriah dan batiniah), sebagai bentuk pengajaran-Nya yang paling dasar (berupa tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya).

Para nabi-Nya itupun telah memiliki penglihatan, penyaksian atau pemahaman atas berbagai cahaya kebenaran-Nya, yang jauh lebih terang dan jelas daripada manusia biasa pada umumnya, akibat cermin batiniah ruh para nabi-Nya yang amat bersih, yang bisa terbentuk dari segala akhlak, budi-pekerti dan kebiasaan mereka yang amat terpuji, ataupun dari tingkat keimanan mereka yang amat tinggi (pemahaman-batiniah dan pengamalan-lahiriah). Sementara itu mereka bahkan telah menjadi contoh suri-teladan dan panutan bagi seluruh umat manusia, dari jaman dahulu sampai sekarang ataupun di masa mendatang.

Namun relatif kurang relevan membanding-bandingkan tingkat keimanan antar para nabi-Nya, karena keimanan itu sendiri memang lebih bersifat batiniah dan personal-pribadi.

Baca pula uraian-uraian di atas, tentang wujud dari integritas keimanan para nabi-Nya, serta lihat pula pada Tabel 11.

"Penglihatan" dengan keimanan atau pengetahuan

Keimanan yang utuh adalah suatu gabungan antara keyakinan batiniah (pemahaman) serta keyakinan lahiriahnya (pengamalan). Dan keimanan paling tinggi berwujud pengetahuan atau pemahaman yang relatif 'sempurna' (amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan), atas segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), dan juga disertai pengamalan atas segala pemahaman itu secara amat konsisten dalam kehidupan sehari-harinya.

Maka di dalam Al-Qur'an amat banyak disebut istilah 'iman', 'ilmu' dan 'amal'. Pengetahuan itupun banyak dikaitkan dengan: akal, pikiran, ilmu, membaca, melihat, mengamati, mendengar, memahami, mempelajari, mengetahui, dsb. Serta banyak pula disebut di dalam Al-Qur'an, atas segala keutamaan bagi umat yang berilmu-pengetahuan.

Tetapi dalam pemakaian sehari-harinya, 'keimanan' umumnya lebih dikaitkan dengan keyakinan dari pemahaman atas hal-hal yang bersifat batiniah, dan dengan pengamalan atas tiap ajaran agama-Nya. Sebaliknya 'pengetahuan' justru lebih dikaitkan dengan pemahaman atas hal-hal lahiriah (penguasaan atas ilmu-ilmu temuan manusia).

Padahal segala bentuk 'pemahaman' atas hal-hal yang bersifat batiniah dan lahiriah, juga berupa 'pengetahuan', tidak ada kaitannya dengan sulit ataupun tidaknya untuk dilihat, diukur, diformulasikan, dipahami atau dijelaskan. Pemahaman pada para nabi-Nya atas hal-hal yang bersifat batiniah dan gaib misalnya, pada dasarnya juga berupa 'pengetahuan'. 'Sulit' dan 'mustahil' bisa dipahami ataupun dijangkau oleh akal manusia biasa umumnya, adalah dua hal yang 'berbeda'.

Padahal pemahaman atas hal-hal yang bersifat lahiriah, justru amat penting untuk mendukung pemahaman atas hal-hal batiniahnya. Bahkan pemahaman atas hal-hal lahiriah bisa pula makin mengungkap hal-hal batiniah dan gaib dalam berbagai ajaran agama-Nya (berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam teks ayat-ayat Al-Qur'an), dan akhirnya juga bisa makin meningkatkan keimanan itu sendiri.

Bahkan sebagian besar tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya justru terkandung di dalam hal-hal lahiriah-fisik-nyata di seluruh alam semesta ini, bahkan para nabi-Nya bisa memahami agama-Nya yang lurus (memperoleh wahyu-Nya), setelah banyak mengamati dan mempelajari dengan amat tekun, terhadap berbagai kejadian lahiriah dan batiniah di alam semesta ini.Tiap wahyu-Nya tidak turun dengan begitu saja dari langit (tidak diberikan-Nya dengan begitu saja, tanpa ada keinginan dan usaha yang amat keras dari para nabi-Nya).

Pemisahan antara 'agama' dan 'akal' (antara agama dan ilmu-pengetahuan, antara keimanan dan pemahaman), justru diyakini amat kuat berperan, atas kemunduran ilmu-pengetahuan di kalangan kaum Muslim, terutama karena sebagian besar umat Islam "kurang berani mengungkap" ajaran-ajaran agama, dengan akal dan pengetahuannya. Padahal kitab suci Al-Qur'an itu sendiri adalah sesuatu sumber ilmu-pengetahuan yang amat kaya (secara lahiriah dan batiniah).

Baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)", tentang 'gaib zat' yang mustahil bisa dicapai oleh manusia dan 'gaib tindakan' yang masih bisa dijelaskan dengan ilmu-pengetahuan (dengan intuisi-nalar-logika akal-pikiran).

Gambaran perbedaan keimanan antara umat berilmu & tidak

Seperti disebut di atas, keimanan yang utuh adalah gabungan dari keyakinan batiniah (pemahaman) dan juga keyakinan lahiriahnya (pengamalan). Maka pemahaman atas berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam tiap ajaran agama Islam (bukan hanya sekedar pemahaman makna tekstual-harfiahnya), justru amat diperlukan untuk makin meningkatkan keimanan umat.

Pemahaman itu bisa diperoleh dari banyak menguasai segala bidang ilmu-pengetahuan (ilmu agama dan non-agama, dalam aspek lahiriah dan batiniah), terutama yang bersifat amat obyektif (berdasar fakta-kenyataan secara apa adanya tanpa ditambah ataupun dikurangi). Serta amat didukung pula oleh pengetahuan praktis atau pengalaman langsung yang utuh dan lengkap atas hal-hal batiniah-rohani-spiritual.

Pada Gambar 35 berikut ini ditunjukkan secara sederhana dan umum, mengenai perbedaan keimanan antara umat berilmu dan umat awam, dalam memahami tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini (ayat-ayat-Nya yang 'tak-tertulis', ataupun yang telah terungkap melalui ayat-ayat-Nya yang 'tertulis').

Gambar 35: Skema umum perbedaan keimanan umat berilmu & tidak

Al-Qur'an berasal langsung dari Allah

Di dalam Al-Qur'an memang ada sejumlah pengaruh sifat-sifat manusiawi pada nabi Muhammad saw ataupun pengaruh budaya Arab, tetapi dengan mencermati segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya pada kandungan isinya (bukan makna tekstual-harfiahnya), yang amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh ataupun tidak saling bertentangan secara keseluruhan; mengandung hal-hal gaib dan batiniah yang amat tinggi nilai kemuliaan dan kebenarannya; dsb, cukup jelas, bahwa Al-Qur'an adalah wahyu dan kitab yang diturunkan langsung oleh Allah.

Baca pula uraian di bawah, tentang segala kebenaran 'mutlak' hanya milik Allah 91)

Khusus tentang hal-hal gaib, hal ini justru menunjukkan telah amat tinggi dan terangnya pengetahuan, pemahaman, penglihatan atau penyaksian, yang telah dimiliki oleh nabi Muhammad saw, atas segala cahaya kebenaran-Nya (Nur Ilahi, Al-Hikmah atau petunjuk-Nya), yang hanya diberikan-Nya bagi orang-orang yang 'dikehendaki-Nya'.

Pemahaman Nabi yang cukup banyak atas hal-hal gaib itu juga sekaligus menunjukkan telah amat tinggi dan mendalamnya tingkatan pemahaman kenabiannya. 92)

"Benar", bukti utama sesuatu hal berasal dari Allah

Segala hal di seluruh alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) ataupun 'kekal' (pasti konsisten) adalah hal-hal yang diyakini oleh manusia, sebagai hasil perwujudan kehendak dan perbuatan Allah, karena sifat-sifat 'mutlak' dan 'kekal' itu hanyalah milik Allah. Tidak ada sesuatupun selain Allah, yang bisa berkuasa mengatur dan memaksa segala zat ciptaan-Nya seperti segala perbuatan-Nya. Segala hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal' ini juga sering disebut sebagai 'kebenaran-Nya' atau 'pengetahuan-Nya'.

Maka segala 'kebenaran', darimanapun datangnya atau dalam kitab manapun tertulis, pasti hanya milik dan berasal dari sisi Allah, sebagai suatu bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya bagi seluruh umat manusia. Seperti halnya yang ditegaskan pada Rukun Iman di dalam agama Islam, yaitu "Percaya kepada nabi-nabi dan kitab-kitab-Nya" (berbagai kebenaran-Nya bisa disampaikan oleh berbagai orang, dan bisa dituliskan dalam berbagai kitab). Dan tentunya kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran 'relatif' milik manusia, yang telah amat sesuai dengan kebenaran 'mutlak' milik Allah, dari pemahaman secara 'amat obyektif' atas tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini.

Dengan sendirinya, para nabi-Nya yang juga orang-orang yang amat berilmu, lurus, amat arif-bijaksana dan telah memperoleh banyak hikmah dan hidayah-Nya, tentu saja pasti bisa saling mengikuti atau saling mengakui kebenaran pemahaman ataupun ajaran, yang justru telah disampaikan oleh para nabi-Nya lainnya, yang sejaman ataupun yang terdahulu sebelum mereka.

Persis serupa halnya dengan para ilmuwan saat ini, yang saling mengikuti dan membenarkan rumus-rumus temuan dari para ilmuwan lainnya, setelah mereka juga menguji dan memahami, bahwa rumus-rumus itu memang 'benar'. Namun perbedaannya, rumus-rumus dari para ilmuwan ini biasanya hanya berupa hasil pengungkapan atas ilmu atau pengetahuan-Nya di alam semesta, yang bersifat lahiriah saja.

Memang ada pula yang bersifat batiniah, seperti: teori-paham HAM dan demokrasi; teori-teori filsafat dan psikologi (Karl Marx, Sigmund Freud, dsb); teori-paham materialisme, kapitalisme ataupun sosialisme, berikut teori kemasyarakatan dan ekonominya; paham dan teori feminisme barat; dsb. Namun teori-paham ini umumnya bersifat sekuler, dan juga hampir semuanya mengandung hal-hal yang bersifat materialistik, maka amatlah sangat diragukan bisa mengandung nilai-nilai kebenaran-Nya.

Sedang 'rumus-rumus' dari para nabi-Nya menyangkut aspek lahiriah dan terutama aspek batiniah yang amat lengkap, atas berbagai kebenaran-Nya, terutama berupa pemahaman tentang 'rumus-rumus' kehidupan seluruh umat manusia dan berbagai aspeknya, bahkan juga pemahaman tentang Allah, Tuhannya alam semesta yang sebenarnya, Yang Maha Esa dan Yang menciptakan kehidupan manusia itu sendiri

Dari sisi manusia, kebenaran-Nya adalah sesuatu pengetahuan atau pemahaman yang amat obyektif atas tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya, yang ada terkandung pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di seluruh alam semesta (ayat-ayat-Nya yang tertulis dan tak-tertulis, fisik-lahiriah-nyata dan moral-batiniah-gaib). Walau segala pengetahuan manusia pasti tetap bersifat 'relatif' (bahkan juga termasuk pengetahuan para nabi-Nya). Sedang dari sisi Allah, segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta (atau tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya), justru bersifat 'mutlak' dan 'kekal'.

Pembenaran Al-Qur'an atas para nabi dan kitab-Nya

Tidak mengherankan, apabila dalam kitab suci Al-Qur'an, juga terdapat pembenaran ataupun pengakuan terhadap kitab-Nya (kitab tauhid) selain Al-Qur'an, yaitu: Zabur (kepada nabi Daud as), Taurat (kepada nabi Musa as), dan Injil (kepada nabi Isa as), karena para nabi-Nya itu memang telah pula bisa melihat dan memahami tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya yang 'sama' di alam semesta ini.

Semua kitab-Nya (dalam bentuk 'aslinya' yang memang belum termodifikasi oleh berbagai campur tangan manusia, selain para nabi-Nya yang terkait), juga sesuatu kumpulan ayat atau wahyu-Nya, dan kitab tuntunan bagi umat-umat agama tauhid, yaitu: Yahudi, Nasrani dan Islam. 93)

Begitu pula, pembenaran dalam Al-Qur'an terhadap para nabi-Nya sebelum diutus-Nya nabi Muhammad saw, sejak nabi Adam as, karena para nabi-Nya itu merupakan pembawa berita gembira atau kebenaran-Nya. Dan bahkan dalam ajaran-ajaran agama Islam, mereka semuanya juga dianggap sebagai orang-orang yang amat beriman dan bertaqwa kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. 94)

Al-Qur'an ada empat macam bentuknya

Dari berbagai uraian di atas, dan dari hakekat perwujudannya, pada dasarnya Al-Qur'an memiliki 4 macam bentuk atau jenis, yang bisa ditunjukkan pada tabel berikut (dan Gambar 36 di bawah):

(baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang 4 macam bentuk wahyu-Nya)

Tabel 18: Empat macam bentuk dari Al-Qur'an

Empat macam bentuk dari 'Al-Qur'an'

1.

Al-Qur'an sebagai Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji Allah)

»

Al-Qur'an sebagai Fitrah Allah sendiri (atau sifat-sifat terpuji dan termulia pada zat Allah), yang memang telah dipilih-Nya, untuk ditunjukkan-Nya kepada segala zat ciptaan-Nya di alam semesta (terutama kepada manusia sebagai khalifah-Nya di muka Bumi).

Al-Qur'an jenis ini tentunya juga bersifat Maha kekal dan Maha gaib, sesuai dengan sifat-sifat-Nya dan belumlah berwujud sama-sekali (belum ditunjukkan-Nya, atau alam semesta belum diciptakan-Nya). Serta masih berupa kehendak atau rencana-Nya bagi alam semesta (segala rencana-Nya dalam pemberian segala pengajaran dan tuntunan-Nya bagi umat manusia).

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama-Nya (sebagai perwujudan dari) Fitrah Allah, Yang telah menciptakan manusia (dan alam semesta ini) menurut Fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada Fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus. Tetapi kebanyakan umat manusia tidak mengetahuinya," – (QS.30:30).

 

Ayat tersebut memang tidak langsung mengaitkan antara Al-Qur'an dan Fitrah Allah. Tetapi diketahui pula, kitab suci Al-Qur'an adalah kitab-Nya terakhir yang menuntun umat penganut agama Islam (agama-Nya yang lurus dan terakhir).

2.

Al-Qur'an sebagai tanda-tanda kemuliaan-Nya

»

Al-Qur'an sebagai tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini (atau ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis), sebagai suatu hasil perwujudan dari Fitrah Allah.

Al-Qur'an jenis ini adalah suatu hasil perwujudan dari Al-Qur'an jenis pertama di atas (Fitrah Allah, atau sifat-sifat terpuji Allah), melalui penciptaan alam semesta ini.

Al-Qur'an jenis ini (ataupun kitab-Nya lainnya), bersifat kekal (namun hanya sebatas kekekalan alam semesta), gaib dan universal. Dan telah tercatat pada Kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, serta telah berwujud (namun tersembunyi dalam berbagai hal di alam semesta). Juga Al-Qur'an jenis ini mustahil akan bisa diungkap dan ditulis seluruhnya oleh umat manusia.

Al-Qur'an jenis inilah bentuk dari kalimat, firman, sabda atau wahyu-Nya yang sebenarnya, yang 'sebagian' darinya telah dipelajari dan dipahami oleh para nabi-Nya (dari nabi Adam as sampai nabi Muhammad saw), dengan relatif 'sempurna' (relatif sangat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan juga tidak saling bertentangan secara keseluruhannya), khususnya tentang segala persoalan yang paling penting, mendasar dan hakiki, bagi umat manusia pada jaman masing-masing para nabi-Nya.

Bahkan Al-Qur'an jenis ini bisa dipelajari dan dipahami pula oleh tiap manusia biasa umumnya, tentunya dengan tingkat kelengkapan dan kedalaman pemahaman masing-masing.

Baca pula topik "Sunatullah", tentang cara memahami tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya.

"Dan sesungguhnya, Al-Qur'an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilai kemuliaannya), dan sangat banyak pula mengandung hikmah." – (QS.43:4) dan (QS.56:78, QS.85:22).

 

"Dan sesungguhnya, telah Kami tulis di dalam (kitab) Zabur, setelah (Kami tulis ke dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai (bagi) hamba-hamba-Ku yang shaleh." – (QS.21:105).

"Apakah kamu tidaklah mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi. Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). …." – (QS.22:70).

3.

Al-Qur'an sebagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah)

»

Al-Qur'an sebagai segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), yang telah dipahami oleh nabi Muhammad saw, dari hasil mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini (pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya).

Al-Qur'an jenis ini adalah berbagai hasil pemahaman atas Al-Qur'an jenis kedua di atas (ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis, atau tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya).

Al-Qur'an jenis ini bersifat fana (hanya sebatas usia nabi Muhammad saw), gaib dan universal. Dan tercatat dalam dada-hati-pikiran Nabi setelah dituntun pula oleh malaikat Jibril, telah berwujud dan terungkap (sebagai pengetahuan pada Nabi). Suatu kenabian adalah keseluruhan pemahaman Al-Hikmah yang telah tersusun relatif 'sempurna' (relatif sangat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan juga tidak saling bertentangan), yang disertai pengamalannya yang sangat konsisten.

Hal yang persis serupa terjadi pada para nabi-Nya lainnya (semuanya mendapat Al-Hikmah), terutama pada para penyampai kitab-kitab-Nya (kitab tauhid, atau ayat-ayat-Nya yang tertulis).

"Sebenarnya, Al-Qur'an itu adalah ayat-ayat-Kami yang nyata, di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat-Kami, kecuali orang-orang yang zalim." – (QS.29:49).

 

"Katakanlah: 'Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkan (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan seijin-Nya. (Kitab yang) membenarkan apa (kitab-kitab-Nya) yang sebelumnya, dan menjadi petunjuk serta menjadi berita gembira bagi orang-orang yang beriman'." – (QS.2:97).

4.

Al-Qur'an sebagai kitab suci Al-Qur'an (Al-Kitab)

»

Al-Qur'an sebagai kitab suci Al-Qur'an, yang telah biasa dikenal oleh umat Islam saat ini (Al-Kitab), yang disampaikan oleh nabi Muhammad saw, berdasarkan kepada segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) yang telah bisa dipahaminya (hasil pengungkapan atau penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya).

Al-Qur'an jenis ini adalah segala hasil pengungkapan atas Al-Qur'an jenis ketiga di atas (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya atau Al-Hikmah), dan biasa disebut sebagai 'Al-Kitab'.

Al-Qur'an jenis ini bersifat fana (sebatas usia kertas kitab suci Al-Qur'an, ataupun sebatas tingkat aktualitasnya atas segala keadaan umat) dan berwujud nyata. Serta juga biasanya disebut "wahyu-Nya yang diwahyukan, disampaikan atau dibacakan".

Teks-teks kitab suci Al-Qur'an itu pada dasarnya bersifat temporer sesuai dengan keadaan umat pada saat disampaikannya (dibatasi oleh konteks ruang, waktu dan budaya), yaitu: di sekitar Jazirah Arab, di sekitar jaman Nabi dan terkait dengan budaya bangsa Arab.

Karena hampir mustahil Al-Qur'an bisa pula disampaikan menggunakan bahasa universal (bagi umat manusia sampai akhir jaman), yang pasti akan sulit dipahami atau dimengerti oleh umat pada jaman Nabi, ataupun umat pada jaman-jaman lainnya.

Namun hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), di balik teks ayat-ayat Al-Qur'an, jika sesuai dengan pemahaman Nabi, justru mestinya bersifat 'universal' (melewati batas ruang, waktu dan budaya), atau bisa terpakai dimanapun, kapanpun dan oleh bangsa manapun.

"Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya, (yang) membenarkan kitab yang telah diturunkan-Nya sebelumnya. Dan (Dia) menurunkan Taurat dan Injil." – (QS.3:3).

 

"Dan sesungguhnya, Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur'an) kepada mereka, yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami. (Untuk) menjadi petunjuk dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman." – (QS.7:52).

"Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu bisa (mudah) memahaminya." – (QS.12:2).

"Dan demikianlah, Kami wahyukan kepadamu (hai umat Muhammad) wahyu (Al-Qur'an), dengan perintah Kami. Sebelumnya, kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an), dan tidak pula mengetahui, apakah iman itu. …" – (QS.42:52).

 

Sehingga pernyataan "Al-Qur'an itu bersifat qadim (kekal) dan bukanlah makhluk", ataupun sebaliknya "Al-Qur'an adalah diciptakan-Nya atau bersifat baru" adalah dua pernyataan yang sama-sama 'benar' (hanya berbeda sudut pandangnya saja).

Maka umat Islam semestinya tidak perlu berselisih, dalam hal yang disebutkan sebagai "fitnah Khaiqil Qur'an" itu, karena Al-Qur'an pada dasarnya memang memiliki 4 macam bentuk, termasuk ada yang bersifat qadim (kekal), fana, baru, gaib dan nyata.

Walau begitu, Al-Qur'an sangat tidak tepat disebut 'makhluk' (semestinya 'ciptaan'). Justru kehidupan umat manusialah yang selalu terus berkembang, sehingga perlunya segala penafsiran (atau ijtihad), atas segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam kandungan isi teks Al-Qur'an, bagi penerapan aktualnya yang paling tepat dan sesuai dengan segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan di dalam kehidupan umat manusia pada tiap jamannya.

Sehingga berbagai wahyu-Nya yang diperoleh para nabi-Nya, seolah-olah berubah atau berbeda (disebut pula "diganti-Nya, dengan ayat-ayat-Nya yang lebih baik"). Padahal segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya justru bersifat 'universal' dan mestinya tidak berubah-ubah. maka hanya 'teks' ayat-ayat-Nya saja yang justru bisa berubah-ubah makin baik, dari kitab-Nya ke kitab-Nya lainnya.

"Apa saja ayat-ayat-Kami yang telah Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, (setelah itu) Kami datangkan yang lebih baik darinya, atau sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui, bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." – (QS.2:106).

 

Akhirnya, kitab-kitab tauhid itu sendiri (termasuk kitab suci Al-Qur'an), pada dasarnya sesuatu bentuk "ijtihad" dari para nabi-Nya, agar bisa menjawab atau mengatasi segala kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan umatnya, pada tiap jamannya masing-masing.

Sedang umat manusia pada tiap jamannya (khususnya melalui Majelis ulamanya), semestinya berusaha memahami tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di balik teks ayat-ayat Al-Qur'an, secara utuh, konsisten dan tidak saling bertentangan. Lalu agar Majelis ulama bisa melahirkan berbagai "ijtihad" baru, sesuai dengan keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan umat, pada tiap jamannya.

Gambar 36: Diagram empat macam bentuk Al-Qur'an

Tentunya berbagai 'ijtihad baru' itu mestinya hanya dilakukan sewajarnya saja dan juga tidak mestinya semuanya serba baru, karena ada banyak pula berbagai hal dalam kehidupan umat pada jaman Nabi, yang relatif serupa dengan kehidupan umat pada saat ini, khususnya pada berbagai hukum syariat yang 'wajib' ataupun yang relatif sangat tegas aturan 'halal-haramnya'.

Al-Qur'an bukan produk budaya manusia

Makna dari istilah 'budaya', yaitu "nilai-nilai (budi) dari hasil daya-upaya suatu masyarakat". Lalu ada sebagian dari kalangan umat Islam yang beranggapan, bahwa karena kitab suci Al-Qur'an antara-lainnya terdiri dari bahasa, huruf dan kertas, yang merupakan berbagai hasil budaya manusia, maka mereka juga beranggapan, bahwa "kitab suci Al-Qur'an adalah produk budaya manusia"

Anggapan itupun tentu saja sangat dangkal dan keliru, karena mustahil ada sesuatu hal yang diturunkan-Nya kepada manusia, yang tidak berwujud 'budaya', bahkan hal seperti ini pasti selalu melibatkan campur tangan manusia. Karena Allah bersifat Maha gaib atau Maha tersembunyi, begitu pula segala tindakan-Nya di alam semesta (segala kejadian yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', namun juga Maha halus).

Satu-satunya bukti bahwa segala sesuatu hal (catatan, tulisan, ayat, keterangan, ucapan, dsb) pasti berasal dari Allah, justru hanyalah karena hal itu "benar" (atau haq). Suatu kebenaran justru bisa tertulis di manapun, bisa disampaikan dengan cara bagaimanapun, serta bisa disampaikan oleh siapapun, karena berbagai kebenaran yang bersifat 'mutlak', 'kekal' dan 'universal' memang hanya milik Allah. Segala nilai kebenaran-Nya justru sama sekali tidak ada hubungannya dengan sesuatu bentuk ciptaan-Nya (malaikat, para nabi-Nya, bahasa, huruf, kertas, dsb), tetapi menyatu dengan keseluruhan alam semesta.

Bahkan setelah kitab suci Al-Qur'an diturunkan-Nya, justru sangat banyak membawa perubahan bagi kehidupan dan budaya pada masyarakat Arab yang sebelumnya penuh dengan kesesatan, kebatilan, kezaliman ataupun penyelewengan. Maka kitab suci Al-Qur'an justru sama sekali bukan produk budaya manusia.

Lebih jelasnya lagi, segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam Al-Qur'an pasti hanya bisa disampaikan sesuai dengan keadaan budaya dan kehidupan umat sehari-hari, pada waktu disampaikannya, yang tentunya bersifat positif ataupun netral (seperti: bahasa, keadaan alam, perkembangan kehidupan umat Nabi, dsb).

Serta mustahil Al-Qur'an bisa disampaikan melalui pengajaran dan tuntunan-Nya, yang justru sulit dipahami atau sulit dilaksanakan oleh umat sehari-harinya pada jaman Nabi. Bahkan dengan sendirinya, juga mustahil Al-Qur'an bisa disampaikan sekaligus bisa sesuai untuk seluruh umat manusia di seluruh muka Bumi, di segala jaman dan bagi segala suku-bangsa.

Misalnya pada daerah Arab yang penuh dengan padang pasir, selain disyariatkan agar umat bisa berwudlu dengan air, maka pada keadaan tertentu justru dibolehkan berwudlu dengan debu atau tanah. Tentunya semestinya perlunya ada sesuatu ijtihad (di luar hal-hal yang telah diajarkan Nabi), bagi berbagai umat yang justru kesulitan dengan air, debu dan tanah itu.

Seperti bagi suku Eskimo di daerah kutub, yang semata hanya penuh dengan es (juga tidak ada debu); sehingga sangat terlalu dingin untuk bisa berwudlu dengan air es, yang justru mudah membuat umat menjadi sakit ataupun mati; sulit melepas pakaian penghangat; dsb. Dan tentunya.sangat repot jika harus memanaskan air untuk berwudlu.

Padahal Al-Qur'an sendiri menyatakan,

"… lalu kamu tidak bisa memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." – (QS.5:6).

 

Sedang hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam ayat QS.5:6 itu bukan pada cara dan sarana yang dipakai untuk berwudlu (air, debu dan tanah), namun justru pada hal-hal yang bisa 'membersihkan' dan 'tidak menyulitkan', apapun cara dan sarananya, sesuai keadaan tiap umat. Tentunya dalam keadaan biasa atau memungkinkan, maka air, debu dan tanah sebaiknya dipakai.

Perlunya ada perubahan syariat melalui ijtihad di atas bukanlah mengikuti kemauan ataupun budaya manusia, namun justru mengikuti berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya. Dan tentunya mustahil dinyatakan, bahwa ajaran agama Islam hanya bisa sesuai bagi bangsa-bangsa tertentu, tetapi misalnya tidak bisa sesuai bagi suku Eskimo di atas, ataupun bagi umat-umat lainnya yang relatif sulit melaksanakan syariat yang disebut dalam 'teks-teks' Al-Qur'an dan Hadits.

Tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam ajaran agama Islam mestinya bisa sesuai bagi seluruh umat manusia, karena bersifat 'universal' (bisa melewati batas ruang, waktu dan budaya), sebaliknya syariat justru mestinya disesuaikan dengan tempat, jaman dan budaya umat, yang diberlakukannya syariat itu.

Sekali lagi, kitab suci Al-Qur'an bukan produk budaya, walau 'teks' ayat-ayatnya memang justru sangat terkait dengan manusia dan budayanya. Dan alam semesta ini bukan diciptakan oleh manusia, atau bukan produk budaya, sedang segala kebenaran-Nya justru berada dan menyatu dengan keseluruhan alam semesta ini.

Al-Qur'an bukan kitab sastra

Dari segi bentuk, barangkali sebagian dari teks kitab suci Al-Qur'an serupa dengan suatu hasil karya sastra, karena keindahan tata-bahasanya. Hal ini biasanya terjadi hanya pada surat-surat Al-Qur'an yang pendek, seperti adanya ayat-ayat suatu surat yang diulang-ulang untuk menimbulkan penekanan tertentu, atau pada awal dan akhir ayat dipakai kata-kata yang memiliki bunyi sama, ataupun memiliki segala perumpamaan yang menarik.

Namun dari segi isi, kitab suci Al-Qur'an sangat jauh berbeda dari sesuatu karya sastra. Isi karya sastra pada umumnya justru jauh lebih mementingkan keindahan tata bahasanya, daripada kebenaran isi kandungannya. Bahkan umumnya terkandung segala fakta, kenyataan atau kebenaran yang sangat sederhana dan aktual yang terjadi dalam masyarakat, yang disembunyikan atau dibungkus menggunakan kata-kata yang tersusun menarik. Sehingga pembaca menjadi tertarik untuk mengungkap makna-makna tersembunyi di dalamnya (tidak langsung tampak akibat permainan kata-katanya, semakin tersembunyi semakin menarik). Karya sastra juga banyak mengandung segala khayalan.

Fakta, kenyataan atau kebenaran itupun juga biasanya bersifat relatif menurut manusia, bukanlah mengandung nilai-nilai kebenaran-Nya yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', seperti dalam Al-Qur'an.

Dalam posisi di tengah, di antara Al-Qur'an dan karya sastra umumnya itu, ada pula karya puisi dari para sufi. Puisi para sufi itu memang sesuatu bentuk karya sastra. Namun di balik kata-katanya itu disembunyikannya berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (atau makrifat), yang telah bisa mereka pahami. Namun tentu saja, seluruh hikmah dan hakekat kebenaran-Nya pada mereka itu relatif jauh dari kesempurnaan yang telah dimiliki oleh para nabi-Nya (sangat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan).

Para sufi itu biasanya menyembunyikan berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, agar menghindari fitnah dan kemudharatan di kalangan umat yang awam, sehingga relatif hanya bisa dipahami dan ditujukan kepada umat yang berilmu tinggi saja. Sedang tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam teks ajaran agama-Nya, bisa sangat berbeda daripada makna tekstual-harfiahnya, yang biasanya dipahami langsung oleh sebagian besar umat, dari teks-teksnya.

Juga kebenaran kandungan isi kitab suci Al-Qur'an jauh lebih penting daripada keindahan tata-bahasanya. Walau penyampaian tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalamnya memang telah sangat disederhanakan, agar bisa relatif mudah dipahami dan diamalkan oleh umat yang awam sekalipun, misalnya dengan memakai segala bentuk contoh-perumpamaan simbolik atas hal-hal gaib dan batiniah.

Dengan sendirinya, segala kebenaran-Nya yang disampaikan oleh Nabi, secara tertulis (Al-Qur'an), lisan ataupun contoh perbuatan (sunnah-sunnah Nabi), sedikit-banyak pasti lebih sederhana bentuknya daripada pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang terkait di dalam dada-hati-pikiran Nabi.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang keterbatasan bahasa lisan dan tulisan dalam penyampaian wahyu-Nya.

Contoh sederhananya, Nabi telah mencapai pemahaman yang relatif sangat lengkap dan mendalam atas seluruh nama atau sifat-Nya pada Asmaul Husna, namun hal inipun mustahil bisa cukup dijelaskan secara utuh dan lengkap melalui kitab suci Al-Qur'an, barangkali perlu satu atau beberapa buku tersendiri bagi penjelasan selengkapnya.

Tentang Asmaul Husna itu, bahkan Imam Ghazali misalnya perlu mengungkapnya dengan cukup lengkap dalam bukunya setebal ±140 halaman berjudul "Al-Maqsad Al-Asna". Tentunya pemahaman Nabi atas hal-hal gaib seperti ini, pasti jauh lebih sempurna lagi (lebih lengkap dan mendalam).

Sedang di lain pihak, selain sifat-sifat-Nya itu justru banyak hal penting lainnya yang terkait dengan seluruh aspek kehidupan umat manusia, yang juga mestinya disampaikan pada kitab suci Al-Qur'an. Sehingga penjelasan atas sifat-sifat-Nya itu justru hanya bisa disebut secara sangat sederhana dan ringkas. Hal inipun bahkan hanya tentang beberapa sifat-Nya saja, sebagian lainnya justru melalui Hadits Nabi.

Dari pemakaian bahasa yang sangat sederhana, sangat mudah dipahami, serta mengandung nilai-nilai kebenaran-Nya yang bersifat 'mutlak', 'kekal' dan 'universal' di balik teks-teks sederhana itu, maka kitab suci Al-Qur'an justru sangat jauh berbeda daripada berbagai ciri khas suatu karya sastra pada umumnya.

"dan Al-Qur'an itu bukanlah perkataan orang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya." – (QS.69:41).

"Dan Kami tidaklah mengajarkan syair kepadanya (Muhammad), dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran, dan suatu kitab yang memberikan penerangan," – (QS.36:69).

"Bahkan mereka berkata (pula): '(Al-Qur'an adalah khayalan atau) mimpi-mimpi yang kalut, justru diada-adakannya, bahkan ia (Muhammad) sendiri seorang penyair, …'." – (QS.21:5).

"Atau mereka (orang kafir) mengatakan: 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya (Al-Qur'an)'. Sebenarnya mereka tidak beriman." "Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Qur'an itu, jika mereka orang-orang yang benar." – (QS.52:33-34).

"Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat." "Tidakkah kamu melihat, bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah," "dan bahwasanya, mereka suka mengatakan, apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?," – (QS.26:224-226).

"dan mereka (orang kafir) berkata: 'Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami, karena seorang penyair gila?'." "Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran, dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya)." – (QS.37:36-37).

"Bahkan mereka (orang kafir) mengatakan: 'Dia (Muhammad) adalah seorang penyair, yang …'." – (QS.52:30).

Otentisitas teks kitab suci Al-Qur'an, tak-ternilai harganya

Walau keseluruhan pembahasan pada buku ini pada dasarnya sejauh mungkin berusaha menghindari pemahaman 'tekstual-harfiah' atas ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Di lain pihak, justru keotentikan dan kesakralan teks kitab suci Al-Qur'an, adalah suatu yang mestinya dipertahankan oleh tiap umat Islam yang beriman, dan juga tidak bisa ditawar-tawar.

Sebaliknya tiap wacana ataupun usaha dekonstruksi kitab suci Al-Qur'an mestinya sejauh mungkin dihindari, antara-lain karena:

Berbagai kelemahan pada usaha dekonstruksi dan
desakralisasi atas kitab suci Al-Qur'an

a.

Teks kitab suci adalah sumber dasar utama keyakinan umat, yang tidak bisa tergantikan dan harus tetap terjaga otentik dengan cara bagaimanapun, terutama untuk bisa menghindari timbulnya segala bentuk keraguan di kalangan umat.

Sekali teks ayat kitab suci diubah, maka hancurlah pondasi paling dasar dan utama bagi keyakinan batiniah tiap umat.

Karena tiap kitab-Nya adalah suatu sumber pengajaran dan tuntunan-Nya yang paling sempurna, yang bisa dimiliki oleh seluruh umat manusia pada tiap jamannya.

b.

Tiap usaha perubahan teks kitab suci, sama halnya dengan membuka sesuatu 'kotak pandora', karena pasti diikuti oleh berbagai usaha perubahan berikutnya, yang relatif tidak akan pernah selesai tuntas sampai akhir jaman.

c.

Dengan telah berakhirnya jamannya para nabi-Nya dahulu, justru keotentikan teks kitab-Nya menjadi sesuatu 'harga mati' (tidak bisa ditawar-tawar untuk diubah-ubah), karena teks kitab suci amat tak-ternilai harganya, dan bahkan juga amat sulit bisa dibayangkan nilainya oleh sebagian umat.

Karena hanya kepada para nabi-Nya itulah yang diberikan-Nya wahyu-Nya, sedang tiap wahyu-Nya adalah tiap pemahaman dalam kesatuan bangunan pemahaman yang berupa segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang tersusun relatif 'sempurna' (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan).

Serta di antara seluruh umat manusia pada tiap jamannya, memang hanya para nabi-Nya yang paling memahami berbagai kebenaran-Nya secara relatif 'sempurna'.

Maka hanya para nabi-Nya yang memiliki kapasitas untuk menyusun kitab-Nya. Dan kitab suci Al-Qur'an adalah kitab-Nya yang terakhir dan paling sempurna.

Sedang setelah wafatnya nabi Muhammad saw sebagai nabi yang terakhir, tentunya pemahaman umat selanjutnya pada dasarnya 'relatif' jauh di bawah kesempurnaan pemahaman Nabi, atas kitab suci Al-Qur'an.

Maka tiap hasil perubahan teks kitab suci, juga pada dasarnya pasti tetap bersifat 'relatif', walau makna tekstual-harfiahnya barangkali memang bisa menjadi lebih baik.

d.

Teks kitab suci memang relatif amat terbatas, untuk bisa mengungkap makna sebenarnya dari tiap wahyu-Nya di dada-hati-pikiran para nabi-Nya (berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya). Juga teks-teks kitab suci memang sengaja disederhanakan, agar relatif lebih mudah bisa dipahami dan diamalkan oleh umat pada umumnya.

Namun justru hanya melalui teks wahyu-Nya yang relatif sederhana itulah, tiap umat (terutama umat yang awam) bisa 'mulai' berusaha memahami makna sebenarnya di balik teks-teksnya.

Agar umat yang awam bisa perlahan-lahan makin mendalam pemahamannya, sejalan dengan makin bertambah luasnya pengetahuannya. Juga agar umat tidak merasa dipaksa, untuk meloncat ke tingkat pemahamannya umat yang berilmu tinggi.

Bagi umat yang berilmu, ia bisa meningkatkan pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya, melalui segala bahan bacaan lainnya dari berbagai bidang ilmu (ilmu agama dan non-agama), yang dibuat oleh para alim-ulama dan cendikiawan terdahulu.

Maka amat sangat tidak relevan bagi umat yang berilmu, untuk berusaha mengubah-ubah teks kitab suci, apalagi hanya untuk kepentingan kepuasan pribadinya semata.

e.

Agama-Nya bukan hanya milik ataupun hanya untuk umat yang relatif amat tinggi dan mendalam ilmu agamanya saja, tetapi milik ataupun untuk seluruh umat manusia.

Bahkan umat yang awam justru jumlahnya mayoritas dari seluruh umat beragama.

Demikian pula teks kitab suci agama-Nya, semestinya bisa dipakai oleh seluruh umat manusia (dari umat yang amat awam sampai umat yang amat berilmu).

f.

Teks kitab suci yang tetap otentik, justru makin mudah dihapal oleh tiap umat. Makin banyak umat yang menghapalnya, justru makin bisa terjaga keotentikannya, ataupun makin terhindar dari segala perubahan dan campur tangan manusia.

Jika teks kitab suci diubah-ubah, dengan sendirinya hilang-musnah pula segala usaha dan potensi amat besar dari para penghapal kitab suci.

g.

Teks kitab suci adalah alat pemersatu seluruh umat penganut sesuatu agama, begitu pula bahasa yang dipakai adalah bahasa pemersatu (lingua franca).

h.

Pemahaman atas makna tiap ajaran agama hanya milik tiap pribadi umat, dari hasil memahami teks-teks kitab sucinya, dengan cara pandang yang berbeda-beda dan tanpa batas-ukuran (bersifat relatif). Maka pemahaman dan maknanya itulah yang justru bersifat 'tidak sakral'.

Sebaliknya teks kitab suci justru bersifat 'sakral', karena dipakai oleh 'seluruh' umat, walaupun makna-makna tekstual-harfiahnya memang suatu bentuk pemahaman dan makna yang relatif paling sederhana.

Sehingga usaha desakralisasi 'teks' kitab suci yang justru semestinya dihindari, yang amat berbeda daripada desakralisasi 'makna' di dalamnya. Tiap umat pasti bisa relatif lebih bebas dalam memaknai tiap teks kitab suci, asalkan ia tidak terlalu melenceng jauh dari dasar-dasar pokok ajaran agama-Nya.

i.

Nilai kemudharatan dari tiap usaha mengubah-ubah teks kitab suci, justru amat sangat jauh lebih besar, daripada segala keuntungan bagi umat yang mengubahnya (bisa memiliki dan mengungkap pemahaman yang jauh lebih mendalam, daripada sekedar memahami makna tekstual-harfiahnya).

Padahal nilai kemanfaatan dari keotentikan teks kitab suci justru telah amat sangat jelas, dan juga menyangkut kehidupan beragama seluruh umat manusia.

Sedang tiap pemahaman umat atas berbagai kebenaran-Nya pada dasarnya pasti tetap bersifat 'relatif' (tidak akan pernah bersifat 'mutlak'), sampai dibukakan-Nya pada Hari Kiamat. Dan tiap pemahaman juga hanya menyangkut umatnya sendiri, ataupun beberapa umat lainnya yang mengikutinya.

Pemahaman 'relatif' namun juga paling sempurna, yang bisa dicapai umat manusia pada tiap jamannya adalah pemahaman pada para nabi-Nya, yang sebagian darinya telah pula menyampaikan kitab-kitab-Nya.

Maka pernyataan seperti "Al-Quran bisa dipandang sakral secara substansi, tetapi tulisannya tidak sakral.", adalah suatu yang amat keliru dan aneh (terbalik).

Apa yang bisa disakralkan dari 'substansi' Al-Quran, yang sama sekali tidak memiliki bentuk atau gaib?. 'Tidak bisa', bahkan tiap pemahaman 'substansi' pasti tetap bersifat 'relatif' sampai Hari Kiamat. Dan tentunya juga tidak akan pernah 'sakral'.

Teks atau mushaf kitab suci Al-Quran justru mestinya tetap disakralkan, karena 'hanya' dari teks-teks itulah, umat-umat yang amat berilmu sekalipun justru bisa jauh lebih sempurna memahami hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalamnya.

j.

Amat aneh bisa timbul pernyataan seperti "otentisitas kitab suci Al-Quran perlu digugat" pada sebagian kecil kalangan ahli ilmu agama, khususnya hanya karena makna teksual-harfiah pada teks ayat-ayat Al-Qur'an, dianggap tidak sesuai dengan makna yang sebenarnya (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya).

Padahal ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis yang ada di alam semesta ini, "mustahil bisa dituliskan dengan tinta sebanyak beberapa samudera". Maka kitab-kitab-Nya (juga termasuk kitab suci Al-Qur'an) pada dasarnya suatu bentuk 'rangkuman' pemahaman atas sebagian dari ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis, yang telah mampu dipahami para nabi-Nya (melalui perantaraan malaikat Jibril), terutama tentang berbagai hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia (Pencipta, tujuan penciptaan alam semesta dan kehidupan makhluk, alam gaib dan akhirat, dsb).

Bahkan teks hasil rangkuman inipun telah amat disederhanakan, agar umat bisa relatif mudah memahami dan mengamalkan berbagai pengajaran dan tuntunan-Nya.

Padahal ukuran otentisitas tiap teks tertulis amat sederhana, bahwa teks itu memang berasal dari seseorang (ditulisnya sendiri ataupun tidak), yang diperkuat oleh sejumlah saksi. Dan kitab suci Al-Quran jelas-jelas berasal dari nabi Muhammad saw.

k.

Amat aneh bisa timbul suatu pernyataan seperti "Al-Qur'an adalah perangkap bangsa Arab Quraisy" atau "orang yang mensakralkan Al-Qur'an telah berhasil terperangkap siasat bangsa Arab Quraisy".

Padahal kelahiran nabi Muhammad saw sebagai orang Arab, ataupun diturunkan-Nya kitab suci Al-Qur'an melalui bangsa Arab, juga bukan kehendak bangsa Arab Quraisy.

Padahal kitab suci Al-Qur'an semestinya disakralkan, karena di dalamnya terkandung berbagai kebenaran-Nya, yang amat tinggi nilai dan kemuliaannya. Hal ini amat berbeda dengan pensakralan Al-Qur'an pada pernyataan sebagian ahli ilmu agama di atas, yang sebenarnya bukan suatu bentuk pensakralan, tetapi suatu pemaksaan kepada bentuk pemahaman secara tekstual-harfiah oleh sebagian alim-ulama.

Dari pernyataan di atas, 'seolah-olah' bangsa Arab Quraisy telah sengaja berusaha mengambil keuntungan dari pemahaman secara tekstual-harfiah itu.

Hal ini sama sekali tidak beralasan, karena ada segala bentuk pemahaman yang berkembang di kalangan umat (bangsa Arab ataupun non-Arab), seperti: dari yang amat maju ataupun sampai yang amat tradisional, amat utuh ataupun parsial, amat mendalam ataupun sederhana, dan pemahaman secara tekstual ataupun hakekat.

Dan padahal tidak ada sesuatupun keuntungan yang disebut dalam Al-Qur'an, yang khusus diberikan-Nya hanya bagi bangsa Arab Quraisy, selain tentang ibadah haji ke Mekah. Hal-hal selain itu diyakini hanya disebut dalam hadits-hadits 'palsu'.

l.

Bahasa, huruf dan kertas memang hanya alat-sarana hasil budaya, tetapi makna-makna yang disampaikan oleh para nabi-Nya di dalam teks kitab suci agama-Nya (kitab-kitab tauhid), tidak berarti dengan sendirinya juga hasil budaya. Bahkan pada saat turunnya agama dan kitab-Nya, justru amat banyak membawa perubahan pada kehidupan dan budaya umat kaumnya para nabi-Nya.

Alat penyampaian (wadahnya) pasti tetap berbeda daripada makna yang disampaikan (isinya). Jika tidak dipisah antara wadah dan isi seperti itu (antara sumber dan hasil, antara awal dan akhir, dsb), maka segala sesuatu hal yang ada pada manusia justru pasti bisa disebut 'produk budaya manusia'.

Padahal segala kebenaran di alam semesta ini justru yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal' hanya milik dan berasal dari Allah semata, bagaimanapun cara penyampaiannya, pada kitab manapun tertulis ataupun siapapun penyampainya.

Segala kebenaran 'mutlak' dan 'kekal' seperti itu sama sekali berada di luar kekuasaan manusia, juga sama sekali tidak terkait dengan perbuatan dan budaya manusia.

Maka pernyataan seperti "Al-Quran adalah produk budaya manusia." adalah sesuatu yang amat keliru dan aneh. Sedangkan segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya 'di balik' teks ayat-ayat Al-Al-Qur'an justru bersifat 'mutlak', 'kekal' dan 'unversal'.

Apakah ada sesuatu hal yang diturunkan-Nya kepada manusia, yang tidak berwujud 'budaya'?. 'Tidak ada', semuanya pasti selalu melibatkan campur tangan manusia. Sedang Allah bersifat Maha gaib atau Maha tersembunyi, demikian pula segala tindakan-Nya di alam semesta ini (berupa segala proses kejadian yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', namun juga Maha halus).

Orang beriman mestinya tidak mengeluarkan pernyataan seperti itu, karena diragukan apakah ia beriman kepada hal-hal gaib (Allah, para malaikat, dsb).

Baca pula uraian di atas, tentang Al-Qur'an bukan produk budaya manusia.

m.

Hasil budaya dengan nilai-makna yang bersifat relatif dan temporer di dalamnya, amat berbeda daripada hasil budaya dengan nilai-makna yang bersifat 'mutlak', 'kekal' dan 'universal' di dalamnya. Walau semua nilai-makna ini memang berada di balik hal-hal yang tampak, dan sekaligus hasil buatan manusia.

n.

Hanya dari teks kitab suci, seluruh umat bisa mendapatkan pengajaran dan tuntunan-Nya, dengan relatif sempurna.

Walau tiap umat memiliki tingkat kedalaman pemahaman yang berbeda-beda atas kitab sucinya, dari yang amat sederhana sampai yang amat mendalam. Di samping itu juga bisa berbeda-beda tingkat kebenaran dan tingkat integritas pemahamannya.

Pemahaman yang paling 'sempurna' adalah amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan keseluruhannya, seperti pada para nabi-Nya.

Bukan suatu kewajiban bagi seorang umat kepada umat lainnya, agar mau mengikuti pemahamannya (walau dianggapnya lebih benar dan lebih mendalam). Dalam agama Islam, kewajiban itu hanya semata memberi pengajaran (akan diikuti ataupun tidak).

o.

Secara batiniah justru pasti berkurang nilai penghargaan seorang umat terhadap segala nilai-makna luhur dalam teks kitab suci, jika ia sendiri menginjak-injak teksnya.

Walau memang diawali hanya karena ia tidak menyetujui dan tidak menghargai makna tekstual-harfiahnya, serta karena kekecewaannya kepada sebagian umat lainnya, yang justru memahami agama hanya sebatas makna tekstual-harfiah kitab sucinya.

Ibarat sederhananya, terlalu berlebihan jika seorang mahasiswa menginjak-injak buku pelajaran bagi siswa SD, SLTP atau SLTA, hanya karena buku itu telah tidak sesuai lagi baginya. Padahal ia hanya bisa menjadi mahasiswa setelah membaca buku itu, yang juga tetap diperlukan oleh para siswa yunior.

Begitu pula, mestinya si mahasiswa tidak memaksakan diri mengajari siswa-siswa SD, jika buku-buku teks SD terasa terlalu sederhana baginya. Justru ia mestinya mengajari siswa-siswa yang lebih tinggi tingkatan ilmunya.

p.

Kekecewaan sebagian alim-ulama kepada alim-ulama lain, yang bersifat konservatif dan ortodoks, yang semata hanya memahami agama sebatas makna tekstual-harfiah dari tiap ajarannya, sama sekali bukan sesuatu alasan, untuk bisa langsung mengubah-ubah teks kitab sucinya.

Walau kekecewaan ini memang amat beralasan, karena makna tekstual-harfiah dari teks ayat-ayat kitab suci adalah hasil pemahaman yang relatif paling sederhana. Khususnya karena penyampaian tiap teks tertulis memang amat tergantung kepada konteks ruang, waktu dan budaya umat, ketika disampaikan.

Sedang makna yang sebenarnya atau hikmah dan hakekat kebenaran-Nya mestinya bersifat 'universal' (melewati batas ruang, waktu dan budaya).

Makna tekstual-harfiah itu justru amat perlu untuk dipakai sebagai pengajaran awal dan sementara bagi umat-umat yang awam. Dari segi pengamalannya, justru terus-menerus bisa lebih diperbaiki, melalui ijtihad para alim-ulama pada tiap jamannya, terutama untuk makna tekstual-harfiah yang telah tidak sesuai lagi bagi pengamalannya.

Masing-masing alim-ulama memiliki wilayah dakwahnya tertentu yang sesuai (ada bagi umat yang awam, dan juga ada bagi umat yang berilmu, pada segala tingkatannya).

Asalkan tiap alim-ulama tidak bersikap berlebihan, seperti tidak merasa paling benar sendiri, dan terus-menerus mau membuka diri menerima kebenaran, sedangkan para alim-ulama lainnya tidak amat mudah dituduhnya sebagai sesat, tanpa satupun dalil-alasan yang jelas, maka atas ijin-Nya, tiap alim-ulama semacam ini pada dasarnya telah berada pada jalan-Nya yang lurus atau benar.

q.

Ada banyak cara bagi tiap umat, untuk mengungkap segala bentuk pemahaman yang dimilikinya, tanpa harus berusaha mengubah-ubah teks kitab suci Al-Qur'an, seperti melalui pintu 'ijtihad' ataupun melalui pembuatan buku-buku, untuk menyampaikan segala pemahaman yang dimiliki.

Ijtihad adalah cara yang amat cerdas yang diajarkan dalam agama Islam, sebagai sarana bagi umat yang telah berilmu relatif tinggi dalam hal-hal agama, agar ajaran agama-Nya terus-menerus tetap bisa aktual sesuai dengan segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umat pada tiap jamannya, sampai akhir jaman.

Namun karena hasil ijtihad ini menyangkut kehidupan beragama seluruh umat Islam, maka mestinya juga hanya dilahirkan melalui Majelis alim-ulama pada tiap jamannya.

Dan penyampaian tiap hasil pemahaman ataupun ijtihad ini mestinya dilakukan secara amat hati-hati dan amat arif-bijaksana, agar tidak pula melahirkan segala fitnah ataupun kemudharatan, yang jauh lebih banyak daripada kebaikannya.

r.

Hampir tidak ada para alim-ulama terkemuka terdahulu, yang berusaha mengubah-ubah teks kitab suci Al-Qur'an.

s.

Mestinya tiap umat tetap beriman kepada kitab-kitab-Nya, walau tiap umat bisa memiliki pemahaman yang relatif berbeda-beda, atas teks ayat-ayatnya (QS.3:7).

t.

Agama Islam amat berbeda daripada agama-agama lainnya yang telah mengandung kemusyrikan, karena tiap bentuk kemusyrikan justru mustahil diajarkan-Nya.

Segala bentuk kemusyrikan justru pasti berasal dari manusia sendiri. Dengan sendirinya, agama-agama musyrik dan bersifat materialistis, juga pada dasarnya hasil buatan dan hasil campur-tangan manusia, yang umumnya demi memenuhi berbagai kepentingan lahiriah-fisik-duniawinya.

Walau ada pula agama-agama musyrik, yang bukan demi memenuhi kepentingan tertentu, namun hanya karena amat terbatasnya pemahaman para penyampainya, atas berbagai kebenaran-Nya (khususnya pada keterbatasan pengetahuannya atas hal-hal gaib dan batiniah), sehingga pemahamannya cenderung menjadi bersifat materialistik.

Sehingga agama bagi sebagian para penganut kemusyrikan itu, umumnya tidak lebih dari suatu alat-sarana untuk bisa mendapat legitimasi moral, kolektif dan resmi, atas tiap bentuk pemenuhan nafsu kesenangan duniawinya.

Akhirnya kebenaran, kesakralan, integritas, validitas dan keotentikan teks kitab sucinya, bukan hal-hal yang terlalu penting bagi mereka, kalau perlu mereka mengubah-ubah teks kitab sucinya, sesuai keadaan dan kebutuhannya pada tiap jamannya.

Namun amat ironisnya, dengan tanpa malu-malu dan ragu-ragu, justru teks-teks kitab suci yang telah diubah-ubahnya itu tetap mereka sebut sebagai 'wahyu-Nya'.

u.

Tiap usaha perubahan teks-teks kitab suci, sama halnya dengan makin memisahkan (menambah jarak), antara teks kitab suci dan wahyu-Nya. Karena tiap wahyu-Nya bukan suatu hal yang berdiri sendiri dan terpisah, namun justru suatu kesatuan yang utuh dan lengkap, atas seluruh wahyu-Nya dalam suatu kitab-Nya.

Tiap wahyu-Nya adalah tiap hasil pengungkapan oleh nabi penyampainya, dari suatu kesatuan seluruh pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, yang telah tersusun dengan relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, yang diperolehnya melalui perantaraan malaikat Jibril.

Suatu kitab suci juga bukan hanya sebatas teks kitabnya saja, tetapi suatu kesatuan yang amat utuh, serta terkait amat erat dengan segala penjelasannya (seperti sunnah-sunnah Nabi) ataupun segala catatan tentang konteks keadaan dan sejarah pada saat penyampaiannya (bahasa, waktu, tempat, budaya, dsb).

Karena dengan hal-hal inilah teks ayat kitab suci bisa lebih dipahami kembali makna sebenarnya di baliknya (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya).

Maka tiap usaha perubahan teks-teks ayat kitab suci, justru pasti akan mengubah pula segala hal lainnya yang terkait (ayat-ayat lainnya, segala penjelasannya, segala catatan konteks keadaan dan sejarah penyampaiannya, dsb).

Lebih parahnya lagi, hasil dari tiap perubahan teks kitab suci itu pasti mengakibatkan nilai-nilai di dalamnya perlahan-lahan makin bergeser jauh dari nilai-nilai kebenaran-Nya, seperti ketika disampaikan oleh para nabi-Nya kepada umatnya.

v.

Jika teks kitab suci akan diubah-ubah, agar makna tekstual-harfiahnya bisa dianggap menjadi relatif jauh lebih baik, ataupun relatif lebih mendekati berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (makna-makna sebenarnya). Maka hampir bisa dipastikan, bahwa kitab suci itu justru akan bisa berubah wujud menjadi puluhan buku tebal, yang bisa jauh lebih banyak dan tebal daripada kitab-kitab tafsir yang ada saat ini.

Lebih utamanya lagi hampir bisa dipastikan, bahwa umat tidak akan bisa memperoleh pengajaran dan tuntunan-Nya, yang amat mudah bisa dipahami dan diamalkannya (praktis-aplikatif dan aktual), dari kitab suci yang 'baru' itu.

Karena dalam kitab suci 'baru' itu justru berisi berbagai nilai-nilai kebenaran-Nya yang bersifat 'universal' (bisa melewati batas ruang, waktu dan budaya), yang relatif hanya bisa dipahami oleh umat-umat yang berilmu amat tinggi, dan bahkan sama sekali relatif tidak bisa diamalkan oleh umat, dalam kehidupannya sehari-hari.

Bahkan justru kitab suci 'baru' itupun jauh lebih hebat dan ilmiah, daripada seluruh buku ilmu-pengetahuan yang pernah dibuat oleh umat manusia sepanjang masa.

Termasuk pasti jauh lebih hebat dan ilmiah, misalnya daripada buku yang dibuat oleh ilmuwan terkenal dunia seperti Albert Einstein. Karena Albert Einstein hanya bisa berhasil mengungkap sebagian amat sangat sedikit saja dari ilmu-Nya, dan bahkan juga hanya atas hal-hal yang bersifat lahiriah.

Apalagi ilmu-ilmu batiniah yang banyak disebut dalam Al-Qur'an, yang relatif jauh lebih rumit daripada ilmu-ilmu lahiriah, karena menyangkut hal-hal gaib dan batiniah.

Apakah para penggagas kitab suci Al-Qur'an yang 'baru' ataupun para penggagas dekonstruksi dan desakralisasi kitab suci Al-Qur'an akan mampu mewujudkan hal ini?.

'Amat sangat diragukan', dan bahkan amat sangat tidak bermanfaat bagi umat pada umumnya, karena justru tidak bersifat sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual.

Akan jauh lebih baik dan jauh lebih bermanfaat, bagi para penggagas dekonstruksi dan desakralisasi kitab suci Al-Qur'an itu, untuk bisa menjadi ahli tafsir ataupun ahli ijtihad dalam Majelis alim-ulama, agar bisa menerapkan berbagai pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang telah dimilikinya, daripada berusaha mengubah-ubah teks kitab suci Al-Qur'an.

w.

Dalam Al-Qur'an cukup banyak disebut bersama antara 'Al-Kitab' dan 'Al-Hikmah' (seperti: QS.2:129, QS.2:151, QS.2:231, QS.3:48, QS.3:79, QS.3:81, QS.3:164, QS.4:54, QS.4:113, QS.5:110, QS.6:89, QS.19:12, QS.33:34 dan QS.62:2). Padahal 'Al-Kitab' itulah yang dimaksud dengan kitab-kitab-Nya (kitab-kitab suci agama tauhid).

Dari pemisahan 'Al-Kitab' dan 'Al-Hikmah' ini telah cukup jelas menunjukkan, bahwa segala pemahaman yang lebih mendalam bagi tiap umat yang berilmu justru bukan diperoleh dari 'Al-Kitab', tetapi dari 'Al-Hikmah'.

Walau segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) yang dimiliki oleh Nabi memang amat tidak memadai, jika hanya disejajarkan dengan 'sunnah-sunnah Nabi' ataupun 'hadits-hadits Nabi', karena tiap 'Al-Hikmah' memang relatif amat rumit dan sulit untuk bisa dijelaskan dengan contoh, bahasa lisan dan tulisan sekalipun, dan justru biasanya hanya bisa tersimpan dalam dada-hati-pikiran saja.

x.

Dan mudah-mudahan usaha dekonstruksi ataupun desakralisasi kitab suci Al-Qur'an yang disebut-sebut di atas, yang telah terjadi pada sebagian kalangan ahli ilmu agama itu, justru semata-mata hanya terjadi pada tataran 'pemahaman atau makna', dan sama sekali bukan pada tataran 'teks atau musyaf' kitab suci Al-Qur'an, apalagi dengan menginjak-injak teksnya.

 

"Mereka menukar ayat-ayat-Nya dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia lain) dari jalan-Nya. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu." – (QS.9:9) dan (QS.3:199, QS.2:41, QS.5:44).

Allah pasti memelihara Al-Qur'an

Dari uraian-uraian di atas seolah-olah dirasakan, bahwa proses pemeliharaan kitab suci Al-Qur'an juga masih amat tergantung kepada segala usaha umat Islam sendiri, dengan cara menjaga keotentikan dan kemuliaan teks kitab suci Al-Qur'an, termasuk pula dengan berusaha memperbanyak jumlah umat yang menghapalnya.

Sehingga seolah-olah proses usaha pemeliharaan kitab suci Al-Qur'an oleh tiap umat Islam itu, selain memang tak-ternilai harganya, namun tetap saja tampak bersifat 'relatif', seperti pada saat misalnya: jumlah penghapal Al-Qur'an telah makin berkurang; usaha penerbitan Al-Qur'an bisa terhambat oleh berbagai halnya; ada sekelompok kecil umat Islam yang berusaha melakukan desakralisasi Al-Qur'an; dsb.

Namun ada hal penting yang barangkali telah dilupakan oleh sebagian umat Islam, bahwa pemeliharaan kitab suci Al-Qur'an justru selalu dilakukan oleh Allah sendiri, seperti yang disebut dalam Surat Al-Hijr ayat 9 (QS.15:9).

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya, Kami benar-benar memeliharanya." – (QS.15:9).

 

Disebut 'dilupakan', karena sebagian umat Islam telah kurang memperhatikan, bahwa Al-Qur'an memiliki bentuk lainnya yang telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya. Dan Al-Qur'an yang berbentuk gaib ini biasanya juga disebut sebagai: tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya; ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis; kalam atau wahyu-Nya yang sebenarnya; wajah-Nya; dan juga disebut segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di seluruh alam semesta.

"Dan sesungguhnya, Al-Qur'an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilai kemuliaannya), dan amat banyak mengandung hikmah." – (QS.43:4) dan (QS.56:78, QS.85:22).

 

Sehingga 'Al-Qur'an gaib' itulah yang justru sebenar-benarnya akan 'menjaga' kitab suci Al-Qur'an, bahkan 'Al-Qur'an gaib' itulah yang telah 'dibaca' (atau dipelajari) oleh para nabi-Nya dari jaman ke jaman, dan menjadi semua wahyu dan kitab-Nya. Hal ini bahkan bisa pula dipelajari oleh umat manusia biasa yang berilmu relatif tinggi.

Sehingga tiap umat Islam semestinya memahami pula, bahwa dalam teks kitab suci Al-Qur'an terkandung nilai-nilai kebenaran-Nya yang bersifat mutlak, kekal dan universal (yang tidak lapuk oleh hujan dan panas, yang tidak tergantung kepada sejarah dan budaya manusia, yang selalu terjaga kesucian dan kemuliaannya, dsb). Dan nilai-nilai kebenaran-Nya itu biasanya juga disebut sebagai 'hikmah dan hakekat kebenaran-Nya' (Al-Hikmah), yang mestinya bisa diungkap dari balik teks-teks Al-Qur'an, agar umat benar-benar bisa ikut serta memelihara kitab suci Al-Qur'an.

Padahal hanya berdasar hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalamnya itulah, Al-Qur'an akan tetap bisa aktual sampai akhir jaman, dengan dilahirkannya segala ijtihad yang bersifat sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, sesuai keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umat pada tiap jamannya, dari Majelis alim-ulama.

Baca pula topik "Pemahaman atas agama dan kitab-Nya di jaman modern", tentang metode pencapaian hikmah dan hakekat kebenaran-Nya.

Lebih lanjutnya lagi, berbagai kebenaran-Nya di seluruh alam semesta ini yang makin banyak bisa terungkap oleh umat-umat yang berilmu pada tiap jamannya (para ilmuwan Muslim atau non-Muslim), dengan berbagai ilmu-pengetahuan yang 'amat obyektif', justru akan makin bisa membuktikan seluruh kebenaran kandungan isi kitab suci Al-Qur'an. Sekali lagi bukan kebenaran pada tataran makna tektual-harfiah ayat-ayat Al-Qur'an, namun pada tataran hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalamnya.

Hal inilah cara Allah memelihara kitab suci Al-Qur'an, karena memang semestinya tidak ada jarak, antara tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di balik teks ayat-ayat Al-Qur'an dan tiap kebenaran-Nya terkait di alam semesta ini. Makin lama semestinya kitab suci Al-Qur'an justru makin diyakini atau diimani oleh umat Islam khususnya, dan bahkan oleh tiap umat manusia umumnya, sejalan dengan makin bisa jelas terungkapnya berbagai kebenaran-Nya di alam semesta.

Wahyu-Nya, hasil ilmu-pengetahuan yang 'paling benar'

Amat mudah dipahami pula jika para nabi-Nya, dari tiap-tiap jaman, suku-bangsa dan negeri, yang telah bisa memahami berbagai kebenaran-Nya, justru saling mengakui atau membenarkan ajaran atau kitab yang mereka bawa, bahkan ada beberapa di antara para nabi-Nya yang telah bisa meramalkan kedatangan nabi-Nya lainnya berikutnya.

Segala kebenaran-Nya sama sekali tidak terkait dengan sejarah umat manusia (pada umat dan kitab manapun disampaikan, dan oleh siapapun penyampainya), namun justru telah menyatu bersama alam semesta itu sendiri. Sehingga hanya tinggal diungkap 'kapanpun' saja oleh umat manusia.

Namun setelah berakhir jaman para nabi-Nya, tentunya akan jauh lebih mudah bagi tiap manusia untuk berusaha bisa mengungkap berbagai kebenaran-Nya, dengan dimulai diilhami dari kitab suci Al-Qur'an, sebagai kitab-Nya yang terakhir dan paling sempurna. Tentu saja juga terutama dari usaha pengungkapan oleh umat Islam sendiri.

Hal yang paling utama yang mestinya diyakini oleh tiap umat Islam, bahwa sama sekali tidak ada sesuatupun jarak, antara kitab suci Al-Qur'an dan segala ilmu-pengetahuan, yang telah diperoleh secara 'amat obyektif' (ilmu agama dan non-agama, lahiriah dan batiniah).

Ilmu-ilmu seperti ini mestinya tidak akan pernah 'menyatakan diri' sebagai ilmu yang 'paling benar' (yang boleh ada mestinya hanya 'lebih benar', karena segala hal dari manusia pasti bersifat 'relatif'). Hanya 'wahyu' atau 'ilmu' dari para nabi-Nya, yang berhak disebut sebagai 'paling benar' (hal yang 'hak' dan berasal dari Allah).

Karena keseluruhan wahyu-Nya dari seorang nabi-Nya, adalah penyampaian hasil pemahamannya, atas seluruh hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, yang telah berhasil diperolehnya secara amat lengkap (sesuai dengan jamannya), mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, dari mengamati, meneliti dan mempelajari tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta, terutama tentang hal-hal yang paling mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia (ketuhanan; tujuan penciptaan alam semesta ini dan kehidupan segala makhluk-Nya; ruh dan para makhluk gaib; kehidupan akhirat; surga; neraka; akhlak; amal-ibadah; dsb). Maka tiap nabi-Nya paling mengetahui atas hal-hal itu dibanding seluruh umat manusia pada tiap kaum dan jamannya.

Kehidupan dunia ini bersifat sementara (fana), maka pada tiap wahyu-Nya relatif sedikit mengandung ilmu-ilmu pada aspek lahiriah, sebaliknya aspek batiniahnya. Juga ilmu-ilmu lahiriah terus bertambah maju sesuai perkembangan kehidupan lahiriah manusia, bahkan hal-hal lahiriah ini banyak yang belum ada, pada jaman para nabi-Nya.

Sedang ilmu-ilmu batiniah pada wahyu-Nya justru relatif tidak banyak berkembang dari jaman ke jaman, dari nabi ke nabi (hanyalah relatif makin lengkap dan mendalam), karena hal-hal batiniah, yang paling mendasar dan hakiki pada kehidupan manusia, memang relatif hampir tidak berubah. Walau memang relatif amat sangat sedikit umat manusia yang bisa memahaminya, seperti halnya para nabi-Nya.

Alat sederhana untuk menguji wahyu-Nya, bagi orang awam

Hal-hal di bawah, bisa dipakai bagi penerapan praktis, yang amat sederhana dan cepat, terutama bagi umat-umat yang awam dalam menilai sesuatu keterangan ataupun pendapat (yang sumbernya jelas ataupun tidak), yang disebut oleh seseorang sebagai kebenaran-Nya.

Sebagai alat pengukur sederhana untuk membuktikan, bahwa hal-hal itu berasal dari Allah, maka minimal keterangan itupun harus mengandung salah-satu dari maksud untuk:

Doktrin : pengajaran.
Teguran : menghukum, memarahi dan menunjukkan kesalahan.
Koreksi : memperbaiki kesalahan.
Instruksi : melatih dan mengajar cara hidup yang benar.
Janji : balasan di dunia dan di akhirat, atas tiap perbuatan baik dan buruk.

 

Selanjutnya pada waktu lainnya yang lebih leluasa, tentu saja semestinya dibanding secara langsung, dengan keterangan yang terkait pada berbagai ajaran agama-Nya.

Alat pengukur di atas khususnya ditujukan untuk bisa menguji kebenaran-Nya pada kitab-kitab tauhid yang terdahulu, di dalam usaha menjaring ayat-ayatnya dari hasil campur tangan manusia (selain nabi-Nya terkait) dan usaha pemenuhan kepentingan duniawinya. Misalnya ayat-ayat yang mengandung teks-teks porno, yang sama sekali tidak mendidik dan tidak berguna, namun justru relatif amat menarik bagi para penganut agama-agama tertentu. Pada akhirnya diharapkan umat Islam bisa relatif lebih siap, ketika mendiskusikan kitab-kitab tauhid.

Islam dan Al-Qur'an, agama dan kitab-Nya yang terakhir

Bahwa agama Islam dan kitab suci Al-Qur'an, adalah agama dan kitab tauhid terakhir yang telah diturunkan-Nya bagi seluruh umat manusia. Dan bahwa segala proses diturunkan-Nya ayat, wahyu, kitab dan agama-Nya, justru melalui aturan-Nya (sunatullah), atau melalui proses-proses yang amat pasti, jelas dan alamiah. 95)

Baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)".

Sehingga segala mistis-tahayul tentang hal-hal ini, semestinya juga bisa makin dihilangkan, atau bahkan bisa dihapus, karena segala mistis-tahayul ini justru amat merusak proses pengajaran atas agama Islam dan kitab suci Al-Qur'an. Bahkan umat Muslim sendiri ataupun umat non-Muslim justru bisa bersikap 'antipati' atas tiap pengajaran semacam itu, yang memang sulit bisa diterima oleh akal-sehatnya.

"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, termasuk Yakub. (Ibrahim berkata): 'Hai anak-anakku!. Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka janganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama Islam (agama yang lurus)'." – (QS.2:132) dan (QS.12:101).

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa. Dan janganlah sekali-kali kamu mati, melainkan dalam keadaan beragama Islam." – (QS.3:102).

"Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam), sebelum Allah mendatangkan suatu hari (Hari Kiamat), yang tak dapat ditolak (kedatangannya). Pada hari itu mereka terpisah-pisah." – (QS.30:43).

"…Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-redhai Islam itu jadi agamamu. …" – (QS.5:3).

"Sesungguhnya, agama (yang diredhai) di sisi-Nya hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberikan Al-Kitab (kaum Yahudi dan Nasrani), kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka (kepada agama-Nya yang terakhir, Islam). Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat-Nya, sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." – (QS.3:19).

"Barangsiapa mencari agama, selain daripada agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi." – (QS.3:85).

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. …" – (QS.2:143).

 

"(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk, serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa." – (QS.3:138) dan (QS.17:106, QS.45:20).

"Dan Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat (manusia)." – (QS.68:52).

"(Al-Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Ilah Yang Maha Esa, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran." – (QS.14:52).

"… (yaitu) bulan saat awal diturunkan-Nya Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). …" – (QS.2:185).

"Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad), dengan sebenarnya, (yang) membenarkan kitab yang telah diturunkan-Nya sebelumnya. Dan (Dia juga) menurunkan Taurat dan Injil.", "sebelumnya, untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Dan Dia menurunkan Al-Furqaan. Sesungguhnya, orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat-Nya, akan memperoleh siksaan-Nya yang berat. Dan Allah Maha Perkasa, lagi mempunyai balasan (pahala dan siksaan-Nya)." – (QS.3:3-4) dan (QS.16:44, QS.39:41).

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s