Lampiran D.A Perbandingan aliran A

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

 

Ada perbedaan yang relatif sangat tajam antar berbagai aliran teologi di dalam agama Islam, pada saat memahami atau menafsirkan ajaran-ajaran agama Islam (khususnya Al-Qur'an dan Hadits), bahkan terkadang saling bertentangan. Aliran-aliran teologi yang akan ditinjau dalam hal ini adalah Mu'tazilah, Qadariah, Maturidiah (Samarkand dan Buchara), Asy'ariah dan Jabariah.

Aliran Mu'tazilah seperti halnya dengan aliran Qadariah yang menganut paham keinginan bebas (free will), karena menurut mereka, "Manusia memiliki daya yang besar dan bebas, walau tidak bersifat mutlak, karena dibatasi oleh hukum alam". Sebaliknya dengan aliran Asy'ariah yang lebih dekat ke aliran Jabariah, yang berpaham "bahwa manusia adalah makhluk yang amat lemah". Sedang aliran Maturidiah Samarkand dan aliran Maturidiah Buchara berada di tengah, di antara kedua pemahaman itu.

Namun aliran Maturidiah Samarkand condong lebih dekat ke aliran Mu'tazilah, karena mereka menganut pula paham free will dan free act
di atas (kebebasan manusia dalam berkeinginan dan berbuat).

 

A.

Daya, kehendak dan perbuatan manusia

Di dalam pembahasan tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia, pada Tabel 21 dan Tabel 22 di bawah ini, diungkapkan suatu kesimpulan dan pernyataan lebih lengkapnya, atas pemahaman dari berbagai aliran tersebut. Sekaligus disertakan pula setiap kesimpulan atas pemahaman pada buku ini, atas topik yang sama, sebagai bahan perbandingan awalnya (pada Tabel 21 poin 6).

Tabel 21: Perbuatan manusia, bagi aliran-aliran (kesimpulan)

No

Manusia

Aliran

Kehendak

Daya

Perbuatan

1.

Manusia

Manusia

Manusia

Mu'tazilah / Qadariah

2.

Manusia

Manusia

Manusia

Maturidiah Samarkand

3.

Tuhan

Tuhan (efektif)

Manusia (amat lemah)

Tuhan (sebenarnya)

Manusia (kiasan)

Maturidiah Buchara

4.

Tuhan

Tuhan (efektif)

Manusia (tidak efektif)

Tuhan (sebenarnya)

Manusia (kiasan)

Asy'ariah

5.

Tuhan

Tuhan

Tuhan

Jabariah

6.

Manusia (sebenarnya)

Manusia (sebenarnya)

Manusia (sebenarnya)

— pada buku ini —

Tetapi diliputi atau dibatasi oleh kehendak Allah (lahir & batin) bagi alam semesta, melalui aturan-Nya (sunatullah).

Tetapi diliputi atau dibatasi oleh cobaan atau ujian-Nya secara lahir & batin, melalui aturan-Nya (sunatullah).

Tetapi diliputi atau dibatasi oleh perbuatan Allah (lahir & batin) di alam semesta, melalui aturan-Nya (sunatullah).

(poin 1-5 dirangkum dari buku "Teologi Islam", Prof.Dr. Harun Nasution, 1986: 116)

 

Tabel 22: Perbuatan manusia, bagi aliran-aliran (pernyataan)

Rangkuman ringkas pemahaman dari beberapa aliran
tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia

Pernyataan-pernyataan dari aliran Mu'tazilah

Manusia mempunyai daya yang besar lagi bebas (free will).

Manusia berkuasa atas perbuatannya.

Manusialah yang menciptakan segala perbuatannya (baik atau buruk, patuh atau tidak kepada Allah), atas kehendaknya sendiri.

Daya untuk mewujudkan kehendak telah ada dalam diri manusia, sebelum perbuatan dilakukan.

Perbuatan manusia bukanlah diciptakan oleh Allah pada diri manusia, tetapi manusia itu sendirilah yang mewujudkannya.

Perbuatan adalah hal yang dihasilkan dari daya yang baru.

Manusia adalah makhluk yang bebas memilih.

Kehendak untuk berbuat adalah kehendak manusia.

Kehendak dan daya manusia itu sendirilah yang mewujudkan perbuatannya, dan tidak turut campur kehendak dan daya Allah.

Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah.

Allah yang membuat manusia sanggup mewujudkan perbuatannya.

Allah yang menciptakan daya pada tiap diri manusia, dan pada daya itulah tergantung wujud perbuatannya.

Bukan Allah yang menciptakan perbuatan yang telah dilakukan manusia.

Tidak mungkin Allah bisa mewujudkan perbuatan yang telah diwujudkan oleh manusia.

Tidak mungkin dua daya bisa memberi efek pada suatu perbuatan yang sama.

Pada tiap perbuatan, hanya satu daya yang bisa memberi efek.

Daya manusialah dan bukan daya Allah yang mewujudkan perbuatan manusia. Dan daya Allah tidak mempunyai suatu bagian dalam perwujudan perbuatan manusia.

Tetapi perbuatan itu diwujudkan semata-mata oleh daya yang diciptakan-Nya dalam diri manusia.

Kemauan dan daya untuk mewujudkan perbuatan manusia, adalah kemauan dan daya manusia itu sendiri. Dan tidak turut campur dalamnya kemauan dan daya Allah.

Manusia mestinya berterima-kasih kepada manusia lain yang berbuat baik kepadanya. Sebaliknya manusia merasa tidak senang kepada manusia lain yang berbuat jahat kepadanya.

Jika tiap perbuatan baik atau buruk adalah perbuatan Allah, bukan perbuatan manusia. Maka rasa terima-kasih dan rasa tidak senangpun mestinya ditujukan kepada Allah, bukanlah kepada manusia.

Dan kedua hal ini bukan ditujukan kepada Allah.

Perbuatan manusia terjadi sesuai kehendak manusianya sendiri.

Jika manusia ingin berbuat sesuatu hal, maka perbuatan itu terjadilah. Jika sebaliknya tidak akan terjadi.

Jika perbuatan manusia adalah hasil perbuatan Allah, maka perbuatan setiap manusia tidak akan terjadi, walau ia menghendakinya. Atau perbuatan terjadi, walau ia tidak menghendakinya

Pada manusia yang berbuat jahat kepada manusia lainnya. Jika perbuatan manusia ialah hasil perbuatan Allah, maka Allah bersifat zalim.

Karena "(Allah), Yang membuat segala yang dijadikan-Nya baik" – (QS.32:7).

Maknanya bukan "semua perbuatan Allah merupakan kebajikan bagi manusia". Karena di antara perbuatan-perbuatan Allah, ada yang tidaklah merupakan kebajikan, seperti siksaan-Nya yang diberikan kepada manusia.

Tetapi maknanya adalah "semua perbuatan Allah adalah baik".

Perbuatan manusia bukanlah hasil dari perbuatan Allah. Termasuk karena ada perbuatan jahat dari manusia. Atau karena ada balasan Allah atas perbuatan manusia.

Karena "… sebagai upah atas apa yang mereka perbuat" – (QS.32:17).

Jika perbuatan manusia adalah perbuatan Allah, bukan perbuatan manusia. Maka pemberian balasan-Nya atas perbuatan manusia, tidak ada artinya.

Maka perbuatan manusia haruslah betul-betul perbuatan manusia.

Perbuatan manusia bukanlah perbuatan Allah, tetapi perbuatan manusia dalam arti yang sebenarnya (bukan kiasan).

Manusia adalah pencipta (khaliq) perbuatannya sendiri.

Kebebasan manusia tidaklah mutlak. Karena dibatasi oleh hal-hal yang tidak bisa dilawan oleh manusia itu sendiri, yaitu hukum alam.

Manusia tersusun antara lain dari materi. Sedang materi adalah terbatas, maka manusia juga bersifat terbatas.

Kehidupan manusia dilingkungi oleh hukum alam, yang diciptakan oleh Allah. Hukum alam tidak dapat berubah-ubah.

Manusia harus tunduk kepada hukum alam.

Kebebasan dan kekuasaan manusia sebenarnya sangat terbatas, dan terikat pada hukum alam. Kebebasan sebenarnya hanya memilih hukum alam mana, yang akan ditempuh dan diturutinya.

Hukum alam pada hakekatnya merupakan kehendak dan kekuasaan dari Allah, yang tidak dapat dilawan dan ditentang oleh manusia.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Asy'ariah

Manusia adalah makhluk lemah, dan banyak tergantung pada kehendak dan kekuasaan Allah, yang mutlak.

Dan manusia harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya kepada Allah.

Suatu perbuatan manusia timbul melalui daya yang diperolehnya dari Allah, dan daya itu diciptakan oleh Allah.

Sesuatu terjadi dengan perantaraan daya yang diciptakan, dengan demikian menjadi perolehan (kasb) bagi orang yang menggunakan daya itu, untuk bisa mewujudkan sesuatu perbuatan. Atau "kasb" ialah sesuatu bisa timbul dari al-muktasib (yang memperoleh daya), dengan perantaraan daya yang diciptakan.

Ada kompromi antara kelemahan dan kepasifan manusia (jika dibandingkan dengan kekuasaan mutlak Allah), dengan pertanggung-jawaban manusia atas perbuatan-perbuatannya.

Manusia bersifat pasif dalam perbuatannya.

Karena "Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat" – (QS.37:96).

Wa ma ta'malun artinya "perbuat" (bukan buat).

Perbuatan manusia diciptakan atau diwujudkan oleh Allah.

Tidaklah ada pembuat bagi kasb, kecuali Allah. Maka yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia, sebenarnya adalah Allah sendiri.

Penggerak sesuatu perbuatan adalah Allah, dan yang bergerak ialah manusia. Karena Allah tidak memiliki tubuh jasmani.

Atau pembuat suatu perbuatan ialah Allah, dan yang memperolehnya ialah manusia.

Hal yang bergerak bukanlah Allah, karena gerak menghendaki tempat yang bersifat jasmaniah, sedang Allah mustahil mempunyai bentuk jasmani.

Perbuatan Allah terwujud melalui manusia (makhluk bertubuh jasmani).

Pembuat sebenarnya dalam al-kasb adalah Allah, sedang yang memperoleh perbuatan adalah manusia. Akan tetapi Allah tidak menjadi yang memperoleh perbuatan.

Karena al-kasb hanyalah terjadi dengan daya yang diciptakan. Sedang Allah mustahil mempunyai daya yang diciptakan.

Allah yang menjadi pembuat sebenarnya dari segala perbuatan manusia.

Manusia sebenarnya merupakan tempat berlakunya perbuatan Allah.

Al-kasb tidak bisa terjadi, kecuali melalui daya yang diciptakan di dalam diri manusia. Diperlukan tempat jasmani untuk berlakunya segala perbuatan Allah.

Segala perbuatan Allah mengambil tempat dalam diri manusia.

Al-kasb merupakan perbuatan paksaan, atau di luar kekuasaan manusia.

Manusia mesti (bukan terpaksa) berbuat suatu yang tidak bisa dielakkannya, untuk mewujudkan perbuatan Allah.

Manusia terpaksa melakukan sesuatu yang tidak dapat dielakkannya, walau bagaimanapun ia berusaha.

Pembuat sebenarnya dari tiap perbuatan manusia adalah Allah. Dan manusia hanyalah merupakan alat untuk berlakunya perbuatan Allah.

Manusia terpaksa melakukan apa yang dikehendaki Allah.

Perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Allah.

Perbuatan manusia ialah hasil perbuatan Allah.

Kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan mempunyai wujud.

Allah menghendaki segala hal yang mungkin dikehendaki.

Karena "kamu (hai manusia) tidak menghendaki, kecuali Allah yang menghendaki" – (QS.76:30), atau versi lainnya

"Dan (hai manusia) kamu tidak mampu (menempuh jalan-Nya itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya …" – (QS.76:30).

Manusia tidak bisa menghendaki sesuatupun, kecuali jika Allah menghendaki manusia supaya menghendaki sesuatu itu.

Kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Allah. Atau kehendak dalam diri manusia, tidak lain hanyalah kehendak Allah.

Daya berbeda dari diri manusia itu sendiri, karena manusia terkadang bisa berkuasa, terkadang bisa pula tidak berkuasa.

Daya tidak terwujud sebelum adanya perbuatan. Atau daya ada bersama-sama dengan perbuatannya. Dan daya itupun hanya akan ada untuk perbuatan yang terkait saja.

Orang yang dalam dirinya tidak diciptakan-Nya daya, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Daya untuk berbuat bukanlah daya manusia itu sendiri, tetapi daya Allah.

Namun manusia tidak kehilangan sifatnya sebagai pembuat.

Perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Allah.

Perbuatan manusia pada hakekatnya terjadi dengan perantaraan Allah.

Allah yang menciptakan perbuatan manusia, dan daya untuk berbuat dalam diri manusia.

Perbuatan manusia terjadi dengan daya Allah, bukan dengan daya manusia. Walau daya manusia berhubungan erat dengan perbuatan itu. Maka tidak bisa dikatakan, bahwa manusia yang menciptakan perbuatannya.

Perbuatan manusia disebut al-kasb.

Perbuatan agar bisa terwujud perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia), tetapi daya Allah yang paling dominan.

Daya manusia tidaklah efektif kalau tidak disokong oleh daya Allah.

Daya manusia turut serta dalam perwujudan perbuatan.

Manusia tidaklah sepenuhnya bersifat pasif.

Daya yang diciptakan itu tidak bersifat efektif.

Kemauan dan daya untuk berbuat, adalah kemauan dan daya dari Allah. Dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Allah, bukan perbuatan manusia.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Samarkand

Perbuatan manusia diciptakan oleh Allah.

Allah berbuat dengan menciptakan daya di dalam diri manusia, dan pemakaian daya itu merupakan perbuatan manusia.

Daya diciptakan bersama-sama dengan perbuatan (bukanlah sebelum adanya perbuatan).

Karena bukanlah manusia yang menciptakan daya dan perbuatannya.

Perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan manusia (bukan perbuatan Allah).

Balasan Allah berdasar pemakaian daya yang diciptakan oleh Allah. Kehendak manusialah dalam memakainya untuk kebaikan atau kejahatan.

Karena salah ataupun benarnya pilihan dalam memakai daya, maka manusia diberi hukuman atau upah.

Manusia bebas memilih, tetapi ia berada di bawah paksaan pemilik daya yang jauh lebih kuat dari dirinya.

Kehendak manusia sebenarnya adalah kehendak Allah.

Karena perbuatan manusia ialah wujud dari kehendak Allah, bukan kehendak manusia.

Manusia melakukan perbuatan baik ataupun buruk, atas kehendak Allah, tetapi tidak selamanya dengan kerelaan hati Allah.

Karena Allah tidak suka manusia yang berbuat jahat.

Kehendak manusia bukanlah kehendak bebas sepenuhnya, karena tidak boleh berbuat sesuatu yang tidak "dikehendaki" oleh Allah.

Tetapi kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "disukai" ataupun "tidak disukai" oleh Allah.

Kehendak dan daya manusia adalah kehendak dan daya sebenarnya, tetapi terbatas.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Buchara

Serupa aliran Maturidiah Samarkand, tentang kehendak manusia dalam berbuat.

Serupa aliran Maturidiah Samarkand, tentang kehendak dan kerelaan hati Allah.

Serupa aliran Maturidiah Samarkand, tentang daya diciptakan bersama-sama dengan perbuatannya (bukan sebelum adanya perbuatan), karena bukanlah manusia yang menciptakan perbuatannya

Perbuatan agar bisa terwujud perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia), tetapi daya Allah yang paling dominan.

Daya manusia tidak efektif dalam mewujudkan perbuatannya.

Perwujudan perbuatan perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia).

Manusia tidak mempunyai daya untuk menciptakan (perbuatannya).

Daya yang ada pada manusia bisa untuk melakukan perbuatan.

Hanya Allah yang dapat mencipta, termasuk menciptakan perbuatan manusia.

Manusia hanyalah bisa melakukan perbuatan, yang telah diciptakan oleh Allah baginya.

Perwujudan perbuatan terkandung dua perbuatan (Allah dan manusia).

Perbuatan Allah ini ialah menciptakan perbuatan manusia, bukan menciptakan daya manusia.

Perbuatan manusia meskipun diciptakan oleh Allah, tetapi bukanlah perbuatan Allah.

Manusia bebas dalam kehendak dan perbuatannya.

Manusia adalah pembuat dari perbuatan, dalam arti yang sebenarnya.

Tetapi kebebasan manusia kalaupun ada, kecil sekali.

(dirangkum dari buku "Teologi Islam", Prof.Dr. Harun Nasution, 1986: 102-117)

Walau telah diuraikan secara lengkap di dalam bab-bab buku ini, tetapi agar lebih jelas dan segar di ingatan, maka pada Tabel 23 di bawah ini diuraikan kembali secara ringkas berbagai pemahaman hasil pembahasan pada buku ini (khususnya pada topik "Sunatullah (sifat proses)"), dengan fokus utama, tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia.

Tabel 23: Perbuatan manusia, bagi pembahasan di sini

Rangkuman ringkas pemahaman pada pembahasan di sini
tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

Kehendak Allah dalam penciptaan alam semesta

Dalam kehendak atau rencana-Nya bagi penciptaan alam semesta, Allah justru telah menetapkan segala ketentuan atau ketetapan-Nya sebelum penciptaan alam semesta itu sendiri, seperti: kehendak-Nya, tindakan-Nya, aturan-Nya, pengajaran dan tuntunan-Nya, perintah dan larangan-Nya, dsb.

Segala ketentuan-Nya itu tidak berubah-ubah sampai akhir jaman, dan telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung.

Allah memang menghendaki segala hal dengan sekehendak-Nya. Dan tidak ada sesuatupun yang melawan bisa kehendak-Nya. Tetapi Allah justru berbuat sekehendak-Nya atas segala hal bagi alam semesta ini, justru hanyalah sebelum penciptaan alam semesta itu sendiri (atau sebelum ditetapkan-Nya, lalu tidak berubah-ubah sampai akhir jaman setelah ditetapkan-Nya).

Aturan-Nya (sunatullah) adalah wujud kehendak Allah di alam semesta

Sunatullah adalah wujud aturan, kehendak, tindakan dan perbuatan Allah (lahiriah & batiniah) di alam semesta ini, yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian pada segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini, yang tidak berubah-ubah.

Proses pada sunatullah itupun juga bersifat pasti terjadi (mutlak), jelas, pasti konsisten (kekal), amat sangat teratur, amat sangat alamiah, amat sangat halus atau tidak kentara (gaib), dan seolah-olah terjadi begitu saja.

Sunatullah pasti berlaku kepada segala zat ciptaan-Nya, sesuai segala keadaannya (lahiriah dan batiniah) serta sesuai jenis atau sifatnya masing-masing.

Maka sunatullah itu berlaku sama ("netral") kepada tiap jenis zat ciptaan-Nya. Misalnya pastilah berlaku sama kepada seluruh manusia, dari nabi Adam as sampai manusia terakhir di akhir jaman. Dan sama sekali tidak ada perkecualian bagi para nabi-Nya.

Segala proses (tak-terhitung proses) pada sunatullah, meliputi: aspek lahiriah ataupun batiniah, dari yang amat sangat sederhana ataupun amat sangat kompleks, pada diri zat ciptaan-Nya ataupun interaksi antar zat ciptaan-Nya, pada makhluk hidup ataupun benda mati, pada makhluk hidup nyata ataupun makhluk hidup gaib, dsb.

Wujud dari tiap perbuatan Allah yang melalui sunatullah itu, misalnya proses-proses: penciptaan segala jenis zat-zat ciptaan-Nya; turunnya segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya (ayat atau wahyu-Nya, kitab dan agama-Nya, para nabi-Nya, dsb); agar tetap kokoh dan seimbangnya alam semesta; agar segala jenis makhluk-Nya bisa hidup dan menjalani kehidupannya di dunia dan di akhirat; turunnya berlimpah-ruah rahmat dan karunia-Nya; pemberian segala bentuk balasan-Nya; dsb.

Hampir segala halnya di alam semesta ini justru diatur-Nya melalui sunatullah, kecuali kebebasan makhluk-Nya dalam berkehendak dan berbuat.

Tiap makhluk-Nya bebas sepenuhnya dalam berkehendak. Tetapi walau tiap makhluk-Nya juga bebas berbuat (mewujudkan kehendaknya), pada dasarnya ia justru hanya memanfaatkan sunatullah (daya dan perbuatan-Nya), secara sadar ataupun tidak, sesuai pengetahuan dan kemampuannya.

Dan sunatullah amat sangat berperan pada daya dan perbuatan manusia, tiap saatnya sepanjang hidupnya.

Segala jenis zat ciptaan-Nya (nyata dan gaib, makhluk hidup dan benda mati) pasti tunduk dan mengikuti sunatullah (kehendak atau perbuatan-Nya).

Karena sunatullah, kehendak atau perbuatan-Nya bersifat memaksa (mutlak). Sedang perintah, larangan atau anjuran-Nya tidak bersifat memaksa. Tetapi segala benda mati pasti tunduk kepada perintah-Nya, karena memang relatif sama sekali tidak memiliki kebebasan.

Hukum alam adalah sunatullah pada aspek lahiriah saja (pada benda mati).

Sedang sunatullah juga pada aspek batiniah (pada ruh makhluk).

Kehendak dan daya manusia, hanya diciptakan-Nya secara umum saja

Kehendak dan daya manusia memang diciptakan-Nya, tetapi "secara umum" saja, dengan diberikan-Nya pada manusia yaitu: 'akal' (pengetahuan dan kecerdasan untuk memilih) dan 'nafsu' (semangat dan keinginan untuk bergerak).

Selain daya batiniah di atas, manusia juga diciptakan-Nya daya lahiriah pada segala jenis zat ciptaan-Nya yang fisik-lahiriah-nyata di alam semesta ini, yang justru bisa dimanfaatkannya, Juga diciptakan-Nya daya lahiriah pada tubuh manusia itu sendiri.

Daya batiniah manusia itu juga bisa ditingkatkan dengan sebanyak mungkin mencari pengetahuan dan pengalaman.

Sedang daya lahiriah bisa diperoleh dengan memanfaatkan segala zat ciptaan-Nya tersebut (mencari karunia atau rejeki-Nya). Juga dengan memaksimalkan daya lahiriah pada tubuhnya sendiri (menjaga kesehatan).

Kehendak dan daya manusia bukanlah kehendak dan daya Allah

Kehendak dan daya manusia adalah kehendak dan daya manusia sebenarnya, dalam berkehendak dan berbuat.

Kehendak manusia justru sama sekali tidaklah menyatu dengan kehendak Allah. Dan kehendak manusia bukanlah kehendak Allah.

Tetapi manusia dianjurkan-Nya agar bisa makin bersikap ikhlas dan tawakal (berserah diri) terhadap segala kehendak-Nya di alam semesta ini, karena tiap kehendak-Nya memang bersifat mutlak atau tidak bisa ditolaknya.

Sedang kehendak manusia bersifat amat sangat relatif.

Perbuatan manusia adalah wujud dari kehendak manusia, bukanlah kehendak Allah. Tetapi kehendak Allah 'meliputi' atau 'melingkupi' perbuatan manusia.

Karena ada kehendak Allah untuk memberi balasan-Nya yang amat setimpal (lahiriah dan batiniah, nikmat dan hukuman-Nya) atas tiap perbuatan manusia setiap saatnya. Dan ada kehendak Allah untuk meringankan manusia dalam melakukan perbuatannya (baik atau buruk, dengan atau tanpa keredhaan-Nya).

Kalau Allah mengatur kehendak tiap manusia, maka pastilah seluruh manusia dibuat-Nya beriman kepada-Nya. Pasti tidak perlu dibuat-Nya berbagai cobaan atau ujian-Nya. Dan pastilah tidak ada tanggung-jawab tiap manusia atas tiap perbuatannya.

Kebebasan manusia dalam berkehendak dan berbuat

Kehendak dan perbuatan tiap manusia adalah kehendak dan perbuatan yang bebas sepenuhnya, termasuk kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "disukai" ataupun "tidak disukai" oleh Allah (kebaikan ataupun keburukan).

Manusia bebas pula untuk tidak melaksanakan sesuatu perbuatan.

Kebebasan manusia memang bagian dari rencana atau kehendak Allah sendiri dengan diciptakan-Nya 'akal' dan 'nafsu' pada tiap manusia, yang memang dikehendaki-Nya untuk diberikan-Nya kepada manusia, sebagai khalifah-Nya (penguasa) di muka Bumi, sekaligus untuk bisa menguji keimanan manusia.

Dengan akal dan nafsunya itulah, manusia diuji-Nya agar bisa mencari dan mengenal Allah, Yang Menciptakannya, lalu agar ia bisa kembali atau dekat ke hadapan 'Arsy-Nya, dengan berusaha bisa mengikuti jalan-Nya yang lurus, demi kemuliaan manusia sendiri, bukan demi kepentingan Allah.

'Arsy-Nya adalah simbol tempat tercatatnya segala kebenaran atau pengetahuan-Nya (termasuk segala kemuliaan dan keagungan-Nya), bukan tempat kedudukan 'zat' Allah.

Kehendak dan daya manusia "diliputi" oleh kehendak dan daya Allah

Tetapi kehendak dan daya manusia yang bisa terwujud, justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah (lahiriah & batiniah) di alam semesta ini, melalui aturan-Nya (sunatullah), yang tidak berubah-ubah.

Tetapi kehendak dan daya Allah justru terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk bisa bebas mengatur kehidupannya.

Dalam wilayah yang diatur oleh aturan-Nya itu (sunatullah), masih amat sangat luas kebebasan bagi tiap manusia dalam berkehendak, mengatur dan mencapai kehidupan yang lebih diinginkannya. Terutama dalam berusaha membangun kehidupan akhirat (kehidupan batiniah ruh), yang diajarkan agama-Nya.

Karena untuk bisa mengatur kehidupannya, manusia tidaklah perlu memiliki kebebasan yang berlebihan, seperti: bisa terbang antar bintang atau planet, bisa lenyap, bisa masuk ke perut Bumi, bisa bergaul bebas dengan para makhluk gaib, bisa selalu menang perang atas orang kafir, bisa mudah kaya dan bahagia, dsb.

Tentang perbuatan baik dan buruk manusia, Allah hanya mengatur, misalnya: agar manusia bisa mengenal hal yang baik dan buruk (dengan diciptakan-Nya akal); agar orang-orang beriman (berbuat baik) dan orang-orang kafir (berbuat buruk) tidak leluasa mencapai kemenangan; agar orang-orang yang berbuat baik pasti memperoleh nikmat-Nya, sedang orang-orang yang berbuat buruk pasti memperoleh hukuman-Nya, di dunia dan di akhirat; dsb.

Manusia sangat bebas berkehendak atau berbuat, walau tetap terbatas dalam wilayah aturan-Nya, dan sesuai keadaan dan daya-kemampuannya.

Dan mustahil ada manusia (atau segala sesuatupun selain Allah) yang bisa berada di luar batas wilayah aturan-Nya itu.

Serta mustahil ada sesuatupun yang bisa melawan kehendak Allah. Tentunya batas wilayah itu hanya bisa dicapai dengan kekuasaan dan oleh Allah sendiri.

Bahkan jika tiap manusia mencoba melampaui batas tertentu (berbuat aniaya, zalim atau berbuat amat berlebihan), walau sebenarnya masih sangat jauh di bawah batas tertinggi wilayah aturan-Nya, maka ia akan tertimpa azab-Nya, karena alam cenderung melawannya (melalui aturan-Nya atau sunatullah), untuk menjaga keseimbangan.

Dan hal-hal yang tidak melampaui batas itupun biasanya disebut mendapat ijin-Nya, walaupun hal itu bisa bersifat positif dan negatif (dengan ataupun tanpa keredhaan-Nya bagi manusia).

Kekuasaan manusia terutama pada alam batiniahnya

Kehendak dan daya manusia "relatif" besar untuk bisa hidup di dunia ini.

Kehendak dan daya manusia secara lahiriah memang amat sangat terbatas, sebaliknya kehendak dan daya secara batiniah amat sangat besar untuk bisa mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

Karena daya batiniah ini hanyalah milik manusia itu sendiri, dan dengan akal dan nafsu-keinginannya, manusia memiliki otoritas sepenuhnya untuk bisa mengaturnya.

Karena itu pulalah, setiap manusia seperti apapun keadaan lahiriahnya, tetap memiliki kesempatan yang luas dan sama untuk bisa mendapat Surga di alam akhiratnya (alam batiniah ruhnya).

Contoh sederhananya, fakir-miskin dan konglomerat pasti sama-sama bisa tersenyum atau berbahagia dalam hal-hal tertentu dalam kehidupannya masing-masing.

Allah Yang Maha mengetahui keadaan setiap manusia (lahiriah dan batiniah), dan nilai amalan atau balasan-Nya yang setimpal atas tiap perbuatan manusia.

Maka secara umum mustahil ada manusia dewasa yang "tidak bisa berbuat apa-apa" (atau tidak memiliki daya sama sekali), khususnya secara batiniah, kecuali orang gila.

Tetapi bagi orang-orang yang "tidak bisa berbuat apa-apa", "tidak berdaya", ataupun tidak bisa diminta pertanggung-jawaban atas segala perbuatannya, seperti: anak yang belum akil-baliq ataupun orang cacat mental (gila) sampai saat wafatnya, maka atas ijin-Nya, mereka pasti mendapat Surga di akhirat.

Tiap perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh daya dan perbuatan Allah

Pada perwujudan setiap perbuatan manusia terkandung dua daya dan dua perbuatan (dari Allah dan manusia).

Daya yang mewujudkan suatu perbuatan manusia adalah daya yang sedang terpakai dalam berbuat. Tetapi daya awalnya bisa terwujud sebelum adanya perbuatan.

Hanya kehendak manusia sendirilah yang mengawali, menciptakan atau memicu daya dan perbuatannya (pemakaian daya). Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan tiap perbuatan manusia (perbuatan Allah pasti selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, sekaligus untuk memberi balasan-Nya tiap saatnya.

Dengan akal-pikiran dan daya-kemampuannya yang ada, tiap manusia pasti memiliki kesempatan yang relatif amat luas untuk bisa meningkatkan atau menciptakan daya-kemampuannya (justru dengan memanfaatkan sunatullah), misalnya: tenaga fisik atau kesehatan; uang atau harta; pengetahuan dan pengalaman; waktu atau kesempatan; semangat batin (psikis); kebebasan; dsb.

Secara sadar ataupun tidak, melalui perbuatannya tiap manusia pada dasarnya justru memanfaatkan daya Allah, dengan berusaha memilih berbagai keadaannya (keadaan awal) agar berlaku suatu sunatullah tertentu yang secara otomatis "terpilih" berdasarkan segala keadaan awal itu, yang lalu menentukan keadaan akhirnya (balasan-Nya), yang setimpal dengan pemakaian daya manusia itu sendiri.

Disebut "sadar", jika manusianya sendiri memahami berbagai keadaan dan sunatullah tertentu yang terkait dengan perbuatannya, melalui pengetahuan dan pengalamannya.

Segala keadaan akhir hasil sunatullah itu disebut juga takdir-Nya yang bersifat sesaat atau sementara (qadla-Nya, takdir kecil), yang justru menyusun takdir-Nya yang terakhir (qadar-Nya) pada saat tertentu ataupun pada akhir hidupnya.

Sesuai keadaan dan kemampuannya, manusia setiap saatnya bebas berusaha memilih takdir-Nya yang lebih dikehendakinya, dengan terus berusaha mengubah atau memilih berbagai keadaannya.

Usaha-usaha memilih takdir-Nya yang lebih baik juga sering disebut "berhijrah".

Dan takdir-Nya tentang suatu hal, justru bukan ditentukan 'sebelum' terjadinya, karena tiap saatnya manusia justru bisa berusaha memilih-milihnya.

Dan perbuatan Allah yang bersifat global dan netral (sunatullah) pasti selalu menyertai tiap perbuatan manusia (ataupun makhluk-Nya lainnya), terutama sekaligus untuk bisa memberi balasan-Nya tiap saatnya.

Tiap perbuatan manusia bukanlah perbuatan Allah

Tiap perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

Manusia yang justru menciptakan berbagai keadaan awalnya, tetapi Allah yang justru mewujudkan berbagai keadaan akhirnya berdasarkan berbagai keadaan awalnya itu, melalui aturan-Nya (sunatullah).

Manusia yang memulai, lalu Allah yang mengakhiri tiap perbuatan manusia.

Manusia berkuasa atas perbuatannya, tetapi manusia justru tidak berkuasa atas "hasil" perbuatannya, yang memang hanya ditentukan oleh Allah.

Tidak ada sama-sekali peran tiap manusia (pasif) dalam memastikan dan mewujudkan hasil akhir dari perbuatannya. Tetapi dengan pengetahuan dan pengalamannya, justru manusia bisa "memperkirakan" hasil akhir tersebut.

Tanpa dipicu oleh kehendak dan daya manusia, sesuatu perbuatan manusia tidak bisa terjadi. Sedangkan tanpa disertai oleh kehendak dan daya Allah (melalui sunatullah), sesuatu perbuatan manusia juga tidak ada artinya ataupun tidak ada hasil akhirnya (tidak ada balasan-Nya).

Tiap perbuatan manusia mustahil mewujud tanpa disertai oleh perbuatan Allah (hampir berlangsung bersamaan, tetapi dilakukan tepat di belakang tiap perbuatan manusia).

Perbuatan manusia bukanlah perbuatan Allah, tetapi perbuatan hanya Allah yang selalu menyertai untuk mewujudkan perbuatan manusia.

Maka pada tiap perbuatan manusia mestinya dipisahkan antara manusia yang mulai melaksanakan, memicu atau 'menciptakan' perbuatannya dan Allah Yang 'mewujudkan' hasil perbuatannya.

Sangatlah tidak relevan untuk mencari daya dan perbuatan yang paling dominan dan efektif, antara daya manusia dan daya Allah, karena keduanya memang bukanlah hal yang bisa dibandingkan. Daya manusia memang amat sangat tidak berarti dibanding dengan daya Allah, namun justru bisa memicu pemanfaatan daya Allah.

Daya manusia dalam mewujudkan perbuatannya sendiri

Daya manusia yang diciptakan manusia dan dipakainya dalam berbuat (daya murni) belumlah tentu sama dengan daya yang mewujudkan tiap perbuatannya dan setimpal dengan besar balasan-Nya (daya aktual).

Tetapi daya aktual tetap amat berhubungan erat dengan daya murninya. Karena daya aktual adalah daya murni yang dikoreksi oleh berbagai keadaan lahiriah dan batiniah dalam pemakaian daya murni itu (besar beban ujian-Nya, niat, kesadaran, keimanan, beban tanggung-jawab, keterpaksaan, dsb).

Sehingga daya aktual bisa berlipat ganda ataupun lebih kecil daripada daya murninya.

Hanya para rasul-Nya di antara umat manusia, yang diketahui relatif mendalam bisa merumuskan pemakaian daya itu (lahiriah dan batiniah), seperti halnya pada berbagai hukum syariat dalam ajaran mereka (perintah dan larangan-Nya).

Daya manusia bersifat aktif, sedang daya Allah bersifat pasif, karena hanya mengikuti sesuai segala keadaan yang dipilih dan diusahakan oleh manusianya sendiri, ataupun segala keadaan pada segala zat ciptaan-Nya di sekitarnya (lahiriah dan batiniah).

Tetapi manusia justru bersifat pasif dalam menentukan "hasil atau keadaan akhir" dari perbuatannya, karena ditentukan oleh Allah (melalui sunatullah). Sedang manusia justru aktif menentukan "keadaan awal" sebelum berlakunya proses pada sunatullah.

Pengaruh ujian-Nya kepada daya dan perbuatan manusia

Manusia memang seolah-olah tampak "dipaksa", "tidak efektif", "tidak berdaya" atau "tidak berkuasa", karena adanya segala bentuk pengaruh ujian-Nya.

Ujian-Nya pada dasarnya bukanlah "langsung" berasal dari Allah, tetapi dari pengaruh segala zat ciptaan-Nya yang saling berinteraksi di alam semesta ini, yang terkait secara langsung ataupun tiidak, dengan tiap manusianya.

Maka ujian-Nya adalah murni pengaruh dari luar diri manusia yang mengalami ujian-Nya, serta justru sama-sekali tidak berhubungan (langsung ataupun tiidak) dengan hasil segala perbuatan manusianya.

Daya, kehendak dan perbuatan Allah jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan oleh manusia (melalui aturan-Nya atau sunatullah). Bahkan ruang lingkup "daya paksa" dari kehendak dan daya Allah melalui sunatullah, juga jauh lebih besar, umum dan luas sifatnya daripada segala besar beban ujian-Nya bagi manusia.

Mustahil ada sesuatupun yang sanggup menghadapi daya Allah, sedangkan manusia justru mestinya sanggup memikul tiap berat beban ujian-Nya.

Hal paling pentingnya adalah ujian-Nya secara batiniah dari para makhluk gaib-Nya, karena "beban ujian-Nya" justru pada dasarnya lebih terkait dengan aspek batiniah.

Dengan mengatur berbagai keadaan alam batiniah ruhnya, maka tiap manusia pada dasarnya bisa meringankan pula berat beban ujian-Nya yang dirasakannya, terutama dengan membina sikap-sikap, seperti: sabar, ikhlas, tawakal dan syukur.

Cobaan atau ujian-Nya sama sekali bukanlah pengaruh langsung dari daya Allah. Daya Allah misalnya, justru digunakan dalam penciptaan seluruh alam semesta ini.

Nilai amalan tiap perbuatan manusia

Daya-kemampuan manusia pada akhirnya hanya dipengaruhi oleh keadaan-keadaan dirinya dan lingkungan di sekitarnya (rahmat ataupun ujian-Nya). Dengan sendirinya, daya juga dipengaruhi oleh sunatullah yang saling terkait dan sedang berlaku kepada keduanya (diri dan lingkungannya).

Walau seolah-olah tampak berpengaruh, tetapi lingkungan sekitar justru sama-sekali tidak mempengaruhi nilai amalan yang diberikan-Nya atas tiap perbuatan manusia.

Nilai amalan itu pada dasarnya justru bersifat mutlak-absolut, yang hanya diketahui dan ditentukan oleh Allah.

Setelah diberikan-Nya, nilai amalan itupun sama sekali tidak tergantung oleh keadaan, manusia atau makhluk-Nya lainnya (do'a dan laknatnya), ruang, waktu, ataupun oleh segala sesuatu selain Allah.

Nilai amalan suatu perbuatan justru bukan dinilai dari "hasil"-nya (lahiriah dan batiniah), melainkan dinilai dari beratnya "proses berusahanya" (batiniah).

Dan hanya kehendak dan daya manusia yang justru berpengaruh terhadap nilai amalan (atau besar balasan-Nya) atas setiap perbuatannya sendiri. Bahkan tidak ada pengaruh secara langsung dari daya, kehendak atau perbuatan Allah.

Karena daya, kehendak atau perbuatan Allah yang terkait dengan perbuatan manusia (melalui sunatullah), justru lebih bersifat netral, jauh lebih luas, umum, dan juga berlaku sama untuk seluruh umat manusia.

Walau ujian-Nya tidak berasal "langsung" dari Allah, tetapi Allah tetap ikut bertanggung-jawab atas tiap ujian-Nya, karena merupakan bagian dari rencana-Nya, lebih khususnya

karena ujian-Nya adalah sarana Allah untuk bisa menguji keimanan tiap makhluk-Nya.

Pahala-Nya justru makin dilipat-gandakan-Nya atas tiap amal-kebaikan manusia yang dilakukan ketika ia sedang mengalami ujian-Nya yang makin berat, sebaliknya beban dosa makin berkurang atas tiap amal-keburukannya.

Maka orang yang sedang mengalami ujian-Nya, sebenarnya mendapat "keuntungan atau keringanan" yang banyak dari Allah. Walaupun dari sudut pandang manusia, ia memang seolah-olah mendapat "siksaan, kerugian atau beban".

Pada dasarnya hanya daya manusia (lahiriah dan batiniah), yang "aktif" menciptakan, memicu atau memulai tiap perbuatannya sendiri.

Maka manusia pada dasarnya bukan makhluk yang lemah, bahkan telah ditunjuk-Nya sebagai khalifah-Nya (penguasa) di muka Bumi ini. Bahkan orang-orang yang Mukhlis relatif amat mampu mengatasi berbagai bentuk cobaan atau ujian-Nya.

Kemustahilan Allah berbuat zalim atau tidak adil

Dengan tiap perbuatan Allah yang melalui segala aturan atau rumus proses kejadian (aturan-Nya atau sunatullah), yang bersifat kekal (pasti konsisten atau tidak berubah), maka mustahil ada perbuatan Allah dalam memberikan balasan-Nya, yang misalnya: aniaya atau zalim, pilih-kasih, sewenang-wenang, sekehendak, tidak adil, tidak baik, dsb, seperti pada segala perbuatan manusia yang justru relatif amat tidak konsisten.

Juga segala balasan-Nya atas tiap perbuatan manusia, justru pasti setimpal dengan perbuatan itu sendiri (lahiriah dan batiniah). Walau hanya Allah Yang Maha mengetahui besar balasan-Nya yang setimpal tersebut (nikmat atau hukuman-Nya).

Bahkan hukuman-Nya adalah peringatan-Nya bagi manusia, agar ia tidak mengulang-ulang perbuatan buruknya, yang juga demi kebaikan dan kemuliaan manusia itu sendiri.

Begitu pula segala yang diciptakan-Nya di alam semesta ini, semuanya demi kebaikan manusia, agar manusia bisa mendapatkan Surga di Hari Kiamat, jika manusia itu sendiri memang menghendakinya.

Manusia dalam berterima-kasih kepada Allah dan manusia lainnya

Manusia mestinya berterima-kasih kepada manusia lain yang berbuat baik kepadanya (secara langsung atau tidak, sadar atau tidak), ataupun sebaliknya atas keburukannya.

Karena kebaikan manusia lainnya itu justru telah ikut memperbaiki atau memudahkan berbagai keadaannya (atau manusia lainnya itu telah memberi atau membawa berkah).

Begitu pula maksud anjuran-Nya, agar umat banyak bersyalawat bagi para nabi-Nya, karena telah amat berjasa menyampaikan tiap kebenaran-Nya (amat memudahkan umat dalam memahaminya), sekaligus agar umat bisa pula menjaga kemuliaan ajaran-ajaran para nabi-Nya.

Walau begitu nilai amalan atas tiap berkah pengajaran ataupun syafaat itu hanya milik dari orang yang membawanya, justru sama sekali tidak menambah nilai amalan pada orang yang menerimanya, karena tetap tergantung apakah ia mau mengamalkannya menjadi segala amal-kebaikan ataupun tidak, dari adanya pengajaran atau syafaat itu.

Seperti diketahui di atas, pada dasarnya perbuatan manusia lainnya itu (baik dan jahat) juga pasti disertai atau diliputi oleh perbuatan Allah.

Sedang perbuatan Allah itu berlaku sama untuk setiap manusia, dan bahkan bersifat "netral" jika dikaitkan dengan pemberian nikmat atau hukuman-Nya (murni sesuai hasil perbuatan manusianya sendiri).

Maka respon tiap manusia atas perbuatan Allah, juga berbeda daripada responnya atas perbuatan manusia lainnya di atas.

Kalaupun manusia harus berterima-kasih kepada Allah, konteksnya amat jauh berbeda dari hal di atas (misalnya Allah telah amat sangat banyak atau selalu memberinya kesempatan untuk bisa memuliakan dirinya sendiri).

Amat terlalu sederhana, jika perbuatan Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Adil, disamakan atau disetarakan dengan perbuatan manusia (baik dan jahat).

Perbuatan Allah berbeda dari perbuatan makhluk-Nya

Perbuatan Allah (melalui sunatullah) bukan diwujudkan oleh manusia, ataupun bukan terwujud melalui manusia.

Bukan manusia yang amat sangat kecil atau "tidak ada" artinya ini, yang mewujudkan kehendak dan perbuatan Allah, Yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Allah justru sama-sekali tidak memerlukan bantuan dari segala makhluk-Nya.

Dalam berbuat Allah justru tidak melalui atau tidak memerlukan tubuh jasmani (tangan, kaki, telinga, mata, dsb, pada zat Allah sendiri ataupun pada segala zat ciptaan-Nya), tetapi relatif terjadi begitu saja pada segala zat ciptaan-Nya (pada atom dan ruh).

Amat tidak relevan untuk membandingkan perbuatan Allah dan perbuatan segala zat makhluk ciptaan-Nya (termasuk manusia ataupun para makhluk gaib).

Perbandingan seperti ini dalam Al-Qur'an semata-mata sebagai perumpamaan bagi umat, agar lebih mudah memahaminya, bukan hakekat sebenarnya.

Zat Allah amat berbeda dalam segala halnya dari segala zat ciptaan-Nya.

Manusia hanya bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri

Hanya manusia yang sepenuhnya bertanggung-jawab atas tiap perbuatannya sendiri, walaupun besarnya tanggung-jawab itu juga tergantung kepada aspek-aspek, misalnya: besar beban ujian-Nya, tingkat keterpaksaan, beban tanggung-jawab, niat dan tingkat kesadaran (keimanan) manusianya dalam berbuat.

Tanggung-jawab manusia yang 'makin rendah', jika misalnya berada pada:

~ Berat beban ujian-Nya dalam berbuat yang makin tinggi, dan atau
~ Tingkat keterpaksaannya dalam berbuat yang makin tinggi (dari tekanan keadaan atau manusia lain di sekitarnya), dan atau
~ Tingkat kesadarannya dalam berbuat yang makin rendah.

 

Begitu pula hal-hal lainnya dan juga hal-hal sebaliknya.

Tentu saja, hanyalah Allah Yang Maha Mengetahui besar sebenarnya tanggung-jawab manusia atas tiap perbuatannya, juga besar jumlah gabungan dari berbagai aspek itu.

 

Dari Tabel 21 di atas, hasil pembahasan pada buku ini sekilas seolah tampak sesuai dengan pemahaman dari aliran-aliran Mu'tazilah ataupun Maturidiah Samarkand, tetapi di dalam uraian selengkapnya sebenarnya berbeda (pada Tabel 22 dan Tabel 23). Dengan sendirinya lebih berbeda lagi daripada pemahaman aliran-aliran lainnya, seperti: Maturidiah Buchara, Asy'ariah dan Jabariah, yang memang agak jauh berseberangan daripada pemahaman pada buku ini.

Agar lebih jelas dalam perbandingan antara hasil pemahaman pada buku ini terhadap pemahaman tiap aliran itu, maka pada Tabel 24 berikut, dibahas secara ringkas berbagai pernyataan dari tiap aliran (yang disebut pada Tabel 22 di atas), agar lebih terungkap berbagai perbedaan ataupun titik temunya.

Pada setiap pernyataan dari suatu aliran, yang sesuai dengan hasil pemahaman pada buku ini diberikan tanda "P" (pro), yang sesuai namun dengan sesuatu catatan tertentu diberikan tanda "PC" (pro-catatan), sebaliknya jika bertentangan diberikan tanda "K" (kontra).

Tabel 24: Perbuatan manusia, bahas pernyataan aliran-aliran

(P = pro; PC = pro dengan catatan; K = kontra)

Pembahasan atas pernyataan-pernyataan dari aliran-aliran,
tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia,
dengan memakai pemahaman pada buku ini

Pembahasan atas pernyataan aliran Mu'tazilah

PC

Manusia mempunyai daya yang besar lagi bebas (free will).

PC

Manusia berkuasa atas perbuatannya.

P

Manusialah yang menciptakan segala perbuatannya (baik atau buruk, patuh atau tidak kepada Allah), atas kehendaknya sendiri.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Kehendak dan daya manusia dalam berbuat memang 'relatif' besar. Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

»

Manusia berkuasa atas perbuatannya, tetapi tidak berkuasa atas "hasil" perbuatannya, yang ditentukan oleh Allah melalui sunatullah, sehingga manusia justru amat perlu bertawakal atau berserah-diri kepada-Nya.

»

Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya, termasuk kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "disukai" atau "tidak disukai" oleh Allah, ataupun bahkan untuk tidak berbuat.

»

Hanya kehendak manusia yang menciptakan, memicu, mengawali atau memulai perbuatannya.

PC

Daya untuk mewujudkan kehendak telah ada dalam diri manusia, sebelum perbuatan dilakukan.

PC

Perbuatan manusia bukanlah diciptakan oleh Allah pada diri manusia, tetapi manusia itu sendirilah yang mewujudkannya.

PC

Perbuatan adalah hal yang dihasilkan dari daya yang baru.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Daya 'aktual' yang mewujudkan sesuatu perbuatan adalah daya yang sedang terpakai dalam berbuat, dari dalam diri manusia dan dari pengaruh lingkungan. Tetapi daya 'awal'-nya justru bisa telah terwujud (secara lahiriah dan batiniah), sebelum adanya perbuatan.

»

Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

»

Manusia yang menciptakan perbuatannya (mengusahakan berbagai keadaan awalnya), tetapi Allah yang mewujudkan perbuatannya itu (menentukan segala keadaan akhirnya), setimpal sesuai keadaan awal itu.

Segala keadaan akhir tiap saatnya ini disebut juga 'qadla-Nya' atau takdir kecil, sesaat atau sementara.

»

Daya manusia yang diciptakan manusia (daya awal atau daya murni) belum tentu sama dengan daya yang setimpal dengan balasan-Nya (daya aktual). Tetapi daya aktual berhubungan erat dengan daya awal. Karena daya aktual adalah daya awal yang dikoreksi oleh beberapa faktor batiniah (beban ujian-Nya, tingkat keterpaksaan, beban tanggung-jawab, niat dan tingkat kesadaran, dsb).

PC

Manusia adalah makhluk yang bebas memilih.

PC

Kehendak untuk berbuat adalah kehendak manusia.

PC

Kehendak dan daya manusia itu sendirilah yang mewujudkan perbuatannya, dan tidak turut campur kehendak dan daya Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya, termasuk kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "disukai" atau "tidak disukai" oleh Allah, ataupun bahkan untuk tidak berbuat.

»

Hanya kehendak dan daya manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu perbuatannya. Sedang hanya kehendak dan daya Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

»

Tanpa dipicu oleh kehendak dan daya manusia, perbuatan manusia tidak terjadi, sedang tanpa disertai oleh kehendak dan daya Allah (melalui sunatullah), perbuatan manusia juga tidak ada artinya, tidak ada hasil wujud ataupun tidak ada hasil akhirnya (balasan-Nya).

»

Secara sadar ataupun tidak melalui perbuatannya, manusia justru sebenarnya memanfaatkan daya Allah (melalui sunatullah), dengan terjadinya perubahan berbagai keadaannya (awal) sehingga berlaku sunatullah tertentu, yang menentukan keadaan akhirnya tiap saatnya (balasan-Nya atau qadla-Nya).

P

Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah.

PC

Allah yang membuat manusia sanggup mewujudkan perbuatannya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

»

Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu perbuatannya. Sedang hanya Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

PC

Allah yang menciptakan daya pada tiap diri manusia, dan pada daya itulah tergantung wujud perbuatannya.

PC

Bukan Allah yang menciptakan perbuatan yang telah dilakukan manusia.

K

Tidak mungkin Allah bisa mewujudkan perbuatan yang telah diwujudkan oleh manusia.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Daya manusia memang diciptakan-Nya, tetapi "secara umum" saja, dengan diberikan-Nya, 'akal' (pengetahuan dan kecerdasan) dan 'nafsu' (semangat dan keinginan) kepada tiap manusia.

»

Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

K

Tidak mungkin dua daya bisa memberi efek pada suatu perbuatan yang sama.

Pada tiap perbuatan, hanya satu daya yang bisa memberi efek.

PC

Daya manusialah dan bukan daya Allah yang mewujudkan perbuatan manusia. Dan daya Allah tidak mempunyai suatu bagian dalam perwujudan perbuatan manusia.

Tetapi perbuatan itu diwujudkan semata-mata oleh daya yang diciptakan-Nya dalam diri manusia.

PC

Kemauan dan daya untuk mewujudkan perbuatan manusia, adalah kemauan dan daya manusia itu sendiri, tidak turut campur dalamnya kemauan dan daya Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Tiap perbuatan manusia perlu dua daya, yaitu daya manusia sebagai pemicu, dan daya Allah yang mewujudkannya, yang setimpal dengan perbuatan manusia itu sendiri (ataupun setimpal dengan pemakaian daya).

»

Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

»

Daya yang "menciptakan" perbuatan (daya manusia) berbeda dengan daya yang "mewujudkan" perbuatan (daya Allah).

»

Tanpa dipicu oleh kehendak dan daya manusia, perbuatan manusia tidak terjadi, sedang tanpa disertai oleh kehendak dan daya Allah (melalui sunatullah), perbuatan manusia juga tidak ada artinya, tidak ada hasil wujud ataupun tidak ada hasil akhirnya (balasan-Nya).

»

Secara sadar ataupun tidak melalui perbuatannya, manusia justru sebenarnya memanfaatkan daya Allah (melalui sunatullah), dengan terjadinya perubahan berbagai keadaannya (awal) sehingga berlaku sunatullah tertentu, yang menentukan keadaan akhirnya tiap saatnya (balasan-Nya atau qadla-Nya).

PC

Manusia mestinya berterima-kasih kepada manusia lain yang berbuat baik kepadanya. Sebaliknya manusia merasa tidak senang kepada manusia lain yang berbuat jahat kepadanya.

Jika tiap perbuatan baik atau buruk adalah perbuatan Allah, bukan perbuatan manusia. Maka rasa terima-kasih dan rasa tidak senangpun mestinya ditujukan kepada Allah, bukanlah kepada manusia. Dan kedua hal ini bukan ditujukan kepada Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Manusia mestinya berterima-kasih kepada manusia lain yang berbuat baik kepadanya (secara langsung atau tidak, sadar atau tidak), ataupun sebaliknya. Karena kebaikan manusia lain itu telah ikut memperbaiki keadaannya (manusia lain itu memberi atau membawa berkah).

»

Kalaupun manusia harus berterima-kasih kepada Allah, konteksnya sangat jauh berbeda dari hal di atas, karena amat sangat tidak relevan untuk membandingkan antara perbuatan Allah dan perbuatan manusia.

PC

Perbuatan manusia terjadi sesuai kehendak manusianya sendiri.

PC

Jika manusia ingin berbuat sesuatu hal, maka perbuatan itu terjadilah. Jika sebaliknya tidak akan terjadi.

PC

Jika perbuatan manusia adalah hasil perbuatan Allah, maka perbuatan setiap manusia tidak akan terjadi, walau ia menghendakinya. Atau perbuatan terjadi, walau ia tidak menghendakinya

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

»

Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

»

Tanpa dipicu oleh kehendak dan daya manusia, perbuatan manusia tidak terjadi, sedang tanpa disertai oleh kehendak dan daya Allah (melalui sunatullah), perbuatan manusia juga tidak ada artinya, tidak ada hasil wujud ataupun tidak ada hasil akhirnya (balasan-Nya).

PC

Pada manusia yang berbuat jahat kepada manusia lainnya.

Jika perbuatan manusia ialah hasil perbuatan Allah, maka Allah bersifat zalim.

Karena "(Allah), Yang membuat segala yang dijadikan-Nya baik" – (QS.32:7).

Maknanya bukan "semua perbuatan Allah merupakan kebajikan bagi manusia", karena di antara perbuatan-perbuatan Allah, ada yang tidaklah merupakan kebajikan, seperti siksaan-Nya yang diberikan kepada manusia.

Tetapi maknanya adalah "semua perbuatan Allah adalah baik".

PC

Perbuatan manusia bukanlah hasil dari perbuatan Allah. Termasuk karena ada perbuatan jahat dari manusia. Atau karena ada balasan Allah atas perbuatan manusia.

Karena "… sebagai upah atas apa yang mereka perbuat" – (QS.32:17).

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

»

Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu perbuatannya. Sedang hanya Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

»

Segala perbuatan Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), terwujud melalui aturan-Nya (sunatullah), yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian di seluruh alam semesta ini, yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'.

»

Perbuatan Allah dalam memberikan balasan-Nya juga tidak bisa dikategorikan menjadi "baik dan jahat", seperti halnya perbuatan manusia, karena sunatullah justru telah ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta itu sendiri.

»

Amat sangat tidak relevan untuk membandingkan antara perbuatan Allah dan perbuatan manusia.

»

Ayat di atas tidak relevan dipakai, karena dimaksudkan untuk membicarakan tentang kesenpurnaan segala "wujud" makhluk ciptaan-Nya. Sedang konteks di sini lebih luas lagi, yaitu tentang "tujuan" penciptaan itu sendiri.

PC

Jika perbuatan manusia adalah perbuatan Allah, bukan perbuatan manusia. Maka pemberian balasan-Nya atas perbuatan manusia, tidak ada artinya.

Maka perbuatan manusia haruslah betul-betul perbuatan manusia.

PC

Perbuatan manusia bukanlah perbuatan Allah, tetapi perbuatan manusia dalam arti yang sebenarnya (bukan kiasan).

PC

Manusia adalah pencipta (khaliq) perbuatannya sendiri.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

»

Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

PC

Kebebasan manusia tidaklah mutlak. Karena dibatasi oleh hal-hal yang tidak bisa dilawan oleh manusia itu sendiri, yaitu hukum alam.

Manusia tersusun antara-lain dari materi. Sedang materi adalah terbatas, maka manusia juga bersifat terbatas.

PC

Kehidupan manusia dilingkungi oleh hukum alam, yang diciptakan oleh Allah. Hukum alam tidak dapat berubah-ubah.

Manusia harus tunduk kepada hukum alam.

PC

Kebebasan dan kekuasaan manusia sebenarnya sangat terbatas, dan terikat pada hukum alam. Kebebasan sebenarnya hanya memilih hukum alam mana, yang akan ditempuh dan diturutinya.

PC

Hukum alam pada hakekatnya merupakan kehendak dan kekuasaan dari Allah, yang tidak dapat dilawan dan ditentang oleh manusia.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya. Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

»

Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

»

Sunatullah adalah wujud dari segala kehendak, tindakan, perbuatan dan kekuasaan Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian di seluruh alam semesta, yang mutlak dan kekal.

»

Hukum alam adalah sunatullah pada aspek lahiriah saja.

»

Segala zat ciptaan-Nya pasti tunduk dan mengikuti sunatullah.

Pembahasan atas pernyataan aliran Asy'ariah

PC

Manusia adalah makhluk lemah, dan banyak tergantung pada kehendak dan kekuasaan Allah, yang mutlak.

Dan manusia harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya kepada Allah.

K

Suatu perbuatan manusia timbul melalui daya yang diperolehnya dari Allah, dan daya itu diciptakan oleh Allah.

K

Sesuatu terjadi dengan perantaraan daya yang diciptakan, dengan demikian menjadi perolehan (kasb) bagi orang yang menggunakan daya itu, untuk bisa mewujudkan sesuatu perbuatan. Atau "kasb" ialah sesuatu bisa timbul dari al-muktasib (yang memperoleh daya), dengan perantaraan daya yang diciptakan.

K

Ada kompromi antara kelemahan dan kepasifan manusia (jika dibandingkan dengan kekuasaan mutlak Allah), dengan pertanggung-jawaban manusia atas perbuatan-perbuatannya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

»

Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya. Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

»

Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

»

Daya manusia memang diciptakan-Nya, tetapi "secara umum" saja, dengan diberikan-Nya, 'akal' (pengetahuan dan kecerdasan) dan 'nafsu' (semangat dan keinginan) kepada tiap manusia.

»

Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

»

Walau ujian-Nya bukan "langsung" berasal dari Allah (tetapi dari pengaruh segala zat ciptaan-Nya yang saling berinteraksi di alam semesta), tetapi Allah tetap merasa ikut bertanggung-jawab atas segala ujian-Nya, sebagai bagian dari rencana-Nya, karena ujian-Nya adalah sarana Allah untuk bisa menguji keimanan hamba-hamba-Nya.

»

Pahala-Nya makin berlipat-ganda atas tiap amal-kebaikan, yang dilakukan saat mengalami ujian-Nya yang makin berat. Sebaliknya beban dosa makin berkurang atas tiap amal-keburukannya.

»

Manusia bertanggung-jawab sepenuhnya atas tiap perbuatannya.

»

Manusia bukanlah makhluk lemah, bahkan telah ditunjuk-Nya sebagai khalifah-Nya (penguasa) di muka Bumi. Bahkan bagi orang-orang yang Mukhlis mereka bisa melewati berbagai cobaan atau ujian-Nya.

PC

Manusia bersifat pasif dalam perbuatannya.

Karena "Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat" – (QS.37:96).

Wa ma ta'malun artinya "perbuat" (bukan buat).

Atau versi lainnya, "Padahal Allah-lah Yang menciptakan kamu, dan apa yang kamu perbuat itu (patung-patung yang kamu pahat)'." – (QS.37:96).

K

Perbuatan manusia diciptakan atau diwujudkan oleh Allah.

Tidaklah ada pembuat bagi kasb, kecuali Allah. Maka yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia, sebenarnya adalah Allah sendiri.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Hanya manusia yang aktif menciptakan, memulai atau memicu perbuatannya. Sedang hanya perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

»

Manusia hanya bersifat pasif dalam menentukan 'hasil atau keadaan akhir' dari perbuatannya, karena ditentukan oleh Allah. Sedang manusia justru aktif menentukan berbagai 'keadaan awal' sebelum berlakunya proses pada sunatullah.

»

Wa ma ta'malun lebih tepat artinya "buat" (bukan perbuat).

K

Hal yang bergerak bukanlah Allah, karena gerak menghendaki tempat yang bersifat jasmaniah, sedang Allah mustahil mempunyai bentuk jasmani.

K

Perbuatan Allah terwujud melalui manusia (makhluk bertubuh jasmani).

K

Pembuat sebenarnya dalam al-kasb adalah Allah, sedang yang memperoleh perbuatan adalah manusia. Akan tetapi Allah tidak menjadi yang memperoleh perbuatan.

Karena al-kasb hanyalah terjadi dengan daya yang diciptakan. Sedang Allah mustahil mempunyai daya yang diciptakan.

K

Allah yang menjadi pembuat sebenarnya dari segala perbuatan manusia.

K

Manusia sebenarnya merupakan tempat berlakunya perbuatan Allah.

K

Al-kasb tidak bisa terjadi, kecuali melalui daya yang diciptakan di dalam diri manusia. Diperlukan tempat jasmani untuk berlakunya segala perbuatan Allah.

K

Segala perbuatan Allah mengambil tempat dalam diri manusia.

K

Penggerak sesuatu perbuatan adalah Allah, dan yang bergerak ialah manusia. Karena Allah tidak memiliki tubuh jasmani.

Atau pembuat suatu perbuatan ialah Allah, dan yang memperolehnya ialah manusia.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

»

Perbuatan Allah bukan diwujudkan oleh manusia, ataupun bukan terwujud melalui manusia.

»

Segala perbuatan Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), terwujud melalui aturan-Nya (sunatullah), yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian di seluruh alam semesta ini, yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'.

»

Sangat berbeda, bahkan tidak bisa dibandingkan antara perbuatan Allah dan perbuatan segala zat makhluk ciptaan-Nya (termasuk manusia ataupun para makhluk gaib).

»

Allah berbuat tidak melalui atau tidak memerlukan tubuh jasmani.

K

Al-kasb merupakan perbuatan paksaan, atau di luar kekuasaan manusia.

K

Manusia mesti (bukan terpaksa) berbuat suatu yang tidak bisa dielakkannya, untuk mewujudkan perbuatan Allah.

K

Manusia terpaksa melakukan sesuatu yang tidak dapat dielakkannya, walau bagaimanapun ia berusaha.

K

Pembuat sebenarnya dari tiap perbuatan manusia adalah Allah. Dan manusia hanyalah merupakan alat untuk berlakunya perbuatan Allah.

K

Manusia terpaksa melakukan apa yang dikehendaki Allah.

K

Perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Allah.

PC

Perbuatan manusia ialah hasil perbuatan Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

»

Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya, termasuk kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "disukai" atau "tidak disukai" oleh Allah, ataupun bahkan untuk tidak berbuat.

Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

»

Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

»

Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

»

Segala perbuatan Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), terwujud melalui aturan-Nya (sunatullah), yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian di seluruh alam semesta ini, yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'.

»

Perbuatan Allah bukan diwujudkan oleh manusia, ataupun bukan terwujud melalui manusia.

»

Sangat berbeda, bahkan tidak bisa dibandingkan antara perbuatan Allah dan perbuatan segala zat makhluk ciptaan-Nya (termasuk manusia ataupun para makhluk gaib).

»

Allah berbuat tidak melalui atau tidak memerlukan tubuh jasmani.

»

Walau ujian-Nya bukan "langsung" berasal dari Allah (tetapi dari pengaruh segala zat ciptaan-Nya yang saling berinteraksi di alam semesta), tetapi Allah tetap merasa ikut bertanggung-jawab atas segala ujian-Nya, sebagai bagian dari rencana-Nya, karena ujian-Nya adalah sarana Allah untuk bisa menguji keimanan hamba-hamba-Nya.

»

Pahala-Nya makin berlipat-ganda atas tiap amal-kebaikan, yang dilakukan saat mengalami ujian-Nya yang makin berat. Sebaliknya beban dosa makin berkurang atas tiap amal-keburukannya.

PC

Kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan mempunyai wujud.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Hanya kehendak dan daya manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu perbuatannya. Sedang hanya kehendak dan daya Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

PC

Allah menghendaki segala hal yang mungkin dikehendaki. Karena "kamu (hai manusia) tidak menghendaki, kecuali Allah yang menghendaki" – (QS.76:30), atau versi lainnya

"Dan (hai manusia) kamu tidak mampu (menempuh jalan-Nya itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya …" – (QS.76:30).

PC

Manusia tidak bisa menghendaki sesuatupun, kecuali jika Allah menghendaki manusia supaya menghendaki sesuatu itu.

K

Kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Allah. Atau kehendak dalam diri manusia, tidak lain hanyalah kehendak Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Allah memang menghendaki segala hal yang mungkin dikehendaki. Dan tidak ada sesuatupun yang melawan kehendak Allah. Tetapi kehendak Allah dalam penciptaan alam semesta, justru telah ditetapkan-Nya sebelum awal penciptaan alam semesta itu sendiri, dan kekal (tidak berubah) sampai akhir jaman.

»

Segala kehendak Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), terwujud melalui aturan-Nya (sunatullah), yang kekal (tidak berubah).

»

Kehendak manusia tidak menyatu dengan kehendak Allah. Dan kehendak manusia bukanlah kehendak Allah.

»

Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya, termasuk kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "disukai" atau "tidak disukai" oleh Allah, ataupun bahkan untuk tidak berbuat.

Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

»

Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

»

Ayat di atas dimaksudkan, bahwa "manusia tidak akan bisa menempuh jalan-Nya, jika manusia itu sendiri tidak berusaha mencari hikmah dan hidayah-Nya, lalu mengamalkannya", atau segala sesuatu hanya bisa diperoleh melalui usaha. Di mana segala proses berusaha itu diatur oleh Allah, melalui aturan-Nya (sunatullah).

PC

Daya berbeda dari diri manusia itu sendiri, karena manusia terkadang bisa berkuasa, terkadang bisa pula tidak berkuasa.

PC

Daya tidak terwujud sebelum adanya perbuatan. Atau daya ada bersama-sama dengan perbuatannya.

Dan daya itupun hanya akan ada untuk perbuatan yang terkait saja.

K

Orang yang dalam dirinya tidak diciptakan-Nya daya, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

K

Daya untuk berbuat bukanlah daya manusia itu sendiri, tetapi daya Allah.

Namun manusia tidak kehilangan sifatnya sebagai pembuat.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Daya yang mewujudkan perbuatan adalah daya yang sedang terpakai dalam berbuat. Tetapi daya awalnya bisa terwujud sebelum adanya perbuatan.

»

Daya manusia memang diciptakan-Nya, tetapi "secara umum" saja, dengan diberikan-Nya, 'akal' (pengetahuan dan kecerdasan) dan 'nafsu' (semangat dan keinginan) kepada tiap manusia.

»

Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

»

Manusia seolah-olah tampak "tidak berdaya" atau "tidak berkuasa", karena adanya pengaruh lingkungan sekitarnya (ujian-Nya), bukan dipengaruhi oleh daya Allah. Tetapi nilai amalan suatu perbuatan justru bukan pada "hasil" (lahiriah), melainkan pada "proses berusaha"-nya (batiniah).

»

Kehendak dan daya manusia adalah kehendak dan daya sebenarnya. Secara lahiriah manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri. Maka secara umum mustahil ada orang-orang dewasa yang "tidak bisa berbuat apa-apa".

»

Tetapi bagi orang-orang yang "tidak bisa berbuat apa-apa", atau segala perbuatannya tidak bisa diminta pertanggung-jawaban, seperti: anak yang belum akil-baliq atau orang gila, ketika mereka wafat, maka mereka akan mendapat Surga di akhirat nanti.

K

Perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Allah.

PC

Perbuatan manusia pada hakekatnya terjadi dengan perantaraan Allah.

K

Allah yang menciptakan perbuatan manusia, dan daya untuk berbuat dalam diri manusia.

PC

Perbuatan manusia terjadi dengan daya Allah, bukan dengan daya manusia. Walau daya manusia berhubungan erat dengan perbuatan itu. Maka tidak bisa dikatakan, bahwa manusia yang menciptakan perbuatannya.

K

Perbuatan manusia disebut al-kasb.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

»

Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

PC

Perbuatan agar bisa terwujud perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia), tetapi daya Allah yang paling dominan.

K

Daya manusia tidaklah efektif kalau tidak disokong oleh daya Allah.

PC

Daya manusia turut serta dalam perwujudan perbuatan.

K

Manusia tidaklah sepenuhnya bersifat pasif.

K

Daya yang diciptakan itu tidak bersifat efektif.

K

Kemauan dan daya untuk berbuat, adalah kemauan dan daya dari Allah. Dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Allah, bukan perbuatan manusia.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Perbuatan agar bisa terwujud perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia).

»

Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

»

Tidak relevan untuk mencari yang paling dominan, karena tanpa dipicu oleh kehendak dan daya manusia, perbuatan manusia tidak terjadi, sedang tanpa disertai oleh kehendak dan daya Allah (melalui sunatullah), perbuatan manusia juga tidak ada artinya, tidak ada hasil wujud ataupun tidak ada hasil akhirnya (balasan-Nya).

»

Manusia hanya bersifat pasif dalam menentukan 'hasil atau keadaan akhir' dari perbuatannya, karena ditentukan oleh Allah. Sedang manusia justru aktif menentukan berbagai 'keadaan awal' sebelum berlakunya proses pada sunatullah.

»

Manusia seolah-olah tampak "tidak efektif", "tidak berdaya" atau "tidak berkuasa", karena adanya pengaruh lingkungan sekitarnya (ujian-Nya), bukan dipengaruhi oleh daya Allah. Tetapi nilai amalan suatu perbuatan justru bukan pada "hasil" (lahiriah), melainkan pada "proses berusaha"-nya (batiniah).

Pembahasan atas pernyataan aliran Maturidiah Samarkand

K

Perbuatan manusia diciptakan oleh Allah.

PC

Allah berbuat dengan menciptakan daya di dalam diri manusia, dan pemakaian daya itu merupakan perbuatan manusia.

K

Daya diciptakan bersama-sama dengan perbuatan (bukanlah sebelum adanya perbuatan).

Karena bukanlah manusia yang menciptakan daya dan perbuatannya.

P

Perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan manusia (justru bukan perbuatan Allah).

PC

Balasan Allah berdasar pemakaian daya yang diciptakan oleh Allah. Kehendak manusialah dalam memakainya untuk kebaikan atau kejahatan.

P

Karena salah ataupun benarnya pilihan dalam memakai daya, maka manusia diberi hukuman atau upah.

PC

Manusia bebas memilih, tetapi ia berada di bawah paksaan pemilik daya yang jauh lebih kuat dari dirinya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya. Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

»

Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

»

Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

»

Daya manusia memang diciptakan-Nya, tetapi "secara umum" saja, dengan diberikan-Nya, 'akal' (pengetahuan dan kecerdasan) dan 'nafsu' (semangat dan keinginan) kepada tiap manusia.

»

Daya diciptakan bersama-sama dengan perbuatan (bukan sebelum adanya perbuatan). Lebih tepatnya, daya yang mewujudkan perbuatan itu adalah daya yang sedang terpakai dalam berbuat.

»

Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

»

Balasan Allah berdasarkan pemakaian daya. Dan kehendak manusialah dalam memakainya untuk kebaikan atau kejahatan.

»

Hanya para nabi-Nya di antara manusia, yang dikehendaki-Nya (berilmu, berpengetahuan, memakai akal-pikirannya, dsb), yang diketahui paling mampu dalam merumuskan pemakaian daya itu (lahiriah dan batiniah), melalui berbagai hukum syariat dalam ajaran mereka (perintah dan larangan-Nya).

»

Namun manusia seolah-olah tampak dipaksa, karena adanya pengaruh lingkungan sekitarnya (ujian-Nya), bukan dipengaruhi oleh daya Allah. Tetapi nilai amalan suatu perbuatan justru bukan pada "hasil" (lahiriah), melainkan pada "proses berusaha"-nya (batiniah).

K

Kehendak manusia sebenarnya adalah kehendak Allah.

Karena perbuatan manusia ialah wujud dari kehendak Allah, bukan kehendak manusia.

K

Manusia melakukan perbuatan baik ataupun buruk, atas kehendak Allah, tetapi tidak selamanya dengan kerelaan hati Allah.

Karena Allah tidak suka manusia yang berbuat jahat.

PC

Kehendak manusia bukanlah kehendak bebas sepenuhnya, karena tidak boleh berbuat sesuatu yang tidak "dikehendaki" oleh Allah.

Tetapi kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "disukai" ataupun "tidak disukai" oleh Allah.

PC

Kehendak dan daya manusia adalah kehendak dan daya sebenarnya, tetapi terbatas.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Kehendak manusia adalah kehendak manusia sebenarnya, bukan kehendak Allah. Dan perbuatan manusia adalah wujud dari kehendak manusia, bukan kehendak Allah.

»

Kebebasan manusia memang bagian dari rencana atau kehendak Allah, dengan diciptakan-Nya akal dan nafsu pada tiap manusia, sekaligus untuk menguji keimanannya.

»

Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya, termasuk kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "disukai" atau "tidak disukai" oleh Allah, ataupun bahkan untuk tidak berbuat.

Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

»

Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

»

Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

Pembahasan atas pernyataan aliran Maturidiah Buchara

Serupa aliran Maturidiah Samarkand, tentang kehendak manusia dalam berbuat.

Serupa aliran Maturidiah Samarkand, tentang kehendak dan kerelaan hati Allah.

Serupa aliran Maturidiah Samarkand, tentang daya diciptakan bersama-sama dengan perbuatannya (bukan sebelum adanya perbuatan), karena bukanlah manusia yang menciptakan perbuatannya

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

Lihat pada pembahasan bagi aliran Maturidiah di atas.

PC

Perbuatan agar bisa terwujud perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia), tetapi daya Allah yang paling dominan.

K

Daya manusia tidak efektif dalam mewujudkan perbuatannya.

P

Perwujudan perbuatan perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia).

K

Manusia tidak mempunyai daya untuk menciptakan (perbuatannya).

P

Daya yang ada pada manusia bisa untuk melakukan perbuatan.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Hanya daya manusia yang aktif dan efektif menciptakan, memulai atau memicu perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang aktif dan efektif mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, sekaligus untuk memberi balasan-Nya.

»

Tidak relevan untuk mencari yang paling dominan, karena tanpa dipicu oleh daya manusia, perbuatan manusia tidak terjadi, sedang tanpa disertai oleh daya Allah (melalui sunatullah), perbuatan manusia juga tidak ada artinya, tidak ada hasil wujud ataupun tidak ada hasil akhirnya (balasan-Nya).

»

Secara sadar ataupun tidak melalui perbuatannya, manusia justru sebenarnya memanfaatkan daya Allah (melalui sunatullah), dengan terjadinya perubahan berbagai keadaannya (awal) sehingga berlaku sunatullah tertentu, yang menentukan keadaan akhirnya tiap saatnya (balasan-Nya atau qadla-Nya).

»

Daya manusia bersifat aktif, sedang daya Allah bersifat pasif, hanya mengikuti sesuai segala keadaan manusia yang dipilih dan diusahakan oleh manusia itu sendiri, ataupun segala keadaan (lahiriah dan batiniah) zat ciptaan-Nya.

»

Manusia seolah-olah tampak "tidak efektif", karena adanya pengaruh lingkungan sekitarnya (ujian-Nya), bukan dipengaruhi oleh daya Allah. Tetapi nilai amalan suatu perbuatan justru bukan pada "hasil" (lahiriah), melainkan pada "proses berusaha"-nya (batiniah).

K

Hanya Allah yang dapat mencipta, termasuk menciptakan perbuatan manusia.

K

Manusia hanyalah bisa melakukan perbuatan, yang telah diciptakan oleh Allah baginya.

PC

Perwujudan perbuatan terkandung dua perbuatan (Allah dan manusia).

Perbuatan Allah ini ialah menciptakan perbuatan manusia, bukan menciptakan daya manusia.

PC

Perbuatan manusia meskipun diciptakan oleh Allah, tetapi bukanlah perbuatan Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

»

Perwujudan perbuatan terkandung dua perbuatan (Allah dan manusia).

»

Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

PC

Manusia bebas dalam kehendak dan perbuatannya.

Manusia adalah pembuat dari perbuatan, dalam arti yang sebenarnya.

Tetapi kebebasan manusia kalaupun ada, kecil sekali.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya. Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

»

Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

 

Tabel 25: Perbuatan manusia, bagi aliran-aliran (kuantitatif)

(P = pro; PC = pro dengan catatan; K = kontra)

Perbandingan kuantitatif antara aliran-aliran dan pembahasan
di sini, tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia

Aliran Mu'tazilah (2 K; 24 PC; 2 P) :

PC, PC, P, PC, PC, PC, PC, PC, PC, P, PC, PC, PC, K, K, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC

Aliran Asy'ariah (28 K; 12 PC; 0 P) :

PC, K, K, K, PC, K, K, K, K, K, K, K, K, K, K, K, K, K, K, K, PC, PC, PC, PC, K, PC, PC, K, K, K, PC, K, PC, K, PC, K, PC, K, K, K

Aliran Maturidiah Samarkand (4 K; 5 PC; 2 P) :

K, PC, K, P, PC, P, PC, K, K, PC, PC

Aliran Maturidiah Buchara (4 K; 4 PC; 2 P) :

PC, K, P, K, P, K, K, PC, PC, PC

 

Dari Tabel 21 s/d Tabel 24 di atas berikut berbagai uraiannya, secara sekilas dan garis besarnya terungkap, bahwa terdapat berbagai perbedaan antara ke semua aliran itu dengan hasil pemahaman pada pembahasan buku ini. Namun apabila ditinjau dari aspek 'kedekatan' pemahaman pada buku ini terhadap aliran-aliran itu (khusus tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia), maka secara berurutan, yaitu: aliran Mu'tazilah (atau Qadariah), Maturidiah Samarkand, Maturidiah Buchara dan aliran Asy'ariah (Jabariah).

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s