Lampiran B Daftar istilah1

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

(tidak diurut menurut abjad, tetapi menurut keterkaitan isi kandungannya)

 

Daftar istilah dan keterangannya

Zat Allah

»

"Zat" Allah Yang Maha Gaib mustahil mampu dipahami dan dijangkau oleh manusia (dengan alat-alat indera lahiriah dan batiniahnya). Hal yang relatif serupa juga terjadi atas "zat-zat" ruh makhluk ciptaan-Nya (makhluk nyata dan gaib).

Walaupun tentang "zat" ruh para makhluk gaib, ada sebagiannya yang telah bisa diungkap oleh sejumlah para nabi-Nya (telah bisa mengetahui "wujud asli" mereka), walaupun hanya dalam bentuk segala 'suara bisikan' mereka pada alam batiniah ruh para nabi-Nya, melalui interaksi terang-terangan, dan bukan melalui interaksi terselubung seperti biasanya terjadi tiap saatnya dengan tiap manusia.

Sedang 'zat' Allah Yang Maha Suci, tersucikan dari segala sesuatu hal (sama sekali tersucikan dari alat-alat indera lahiriah dan batiniah pada segala zat makhluk-Nya).

Hakekat zat-zat gaib itu bahkan tidak akan bisa dijelaskan dengan teori-teori ilmu filsafat buatan manusia, karena ilmu filsafat hanya memakai bahasa dunia intuisi-nalar-logika manusia semata, atau bahasa sehari-hari dalam kehidupan manusia.

Sedang bahasa ilmu filsafat pada dasarnya bahasa untuk alam nyata (atau bersifat materialistik), bukan bahasa untuk hal-hal gaib.

Hal-hal gaib hanya bisa sesuai dijelaskan memakai bahasa agama, yang justru memerlukan keimanan atau keyakinan batiniah.

Bahkan dalam Al-Qur'an, sifat-sifat-Nya yang terkait secara 'tidak langsung' tentang 'zat' Allah, 'hanya' antara-lain: Ada (wujud), Maha Esa, Maha gaib (atau Maha tersembunyi), Maha kekal, Maha awal, Maha akhir dan Maha hidup.

'Sifat' sesuatu zat adalah segala sesuatu hal tentang zat itu ('esensi' dan 'tindakan' zatnya, secara lahiriah dan batiniah), yang telah bisa diketahui, dipahami atau dijelaskan oleh sesuatu selain zat itu sendiri.

Sedang sifat 'wujud' adalah sifat paling dasar dari sesuatu zat, yang terkait 'ada' ataupun 'tidak adanya' zat itu sendiri (dari adanya 'esensi' ataupun 'tindakan'-nya).

Bahkan sekali lagi, sifat-sifat-Nya di atas yang terkait dengan 'zat' Allah, juga sama sekali tidak berkaitan langsung dengan 'esensi' dari zat Allah itu sendiri, yang memang berwujud Maha gaib.

Hal yang masih bisa dipahami manusia tentang Allah adalah hakekat wujud zat Allah (disebut pula sebagai Fitrah Allah atau sifat-sifat terpuji Allah), dengan cara mempelajari berbagai hasil perwujudan secara lahiriah dan batiniah, dari segala 'tindakan' zat Allah di alam semesta ini. Hal ini berupa segala kejadian yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal' pada segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini, yang juga disebut sebagai "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya", "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "wajah-Nya", "firman, kalam atau wahyu-Nya yang sebenarnya", "Al-Qur'an berwujud gaib yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya" dan "segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta".

Sederhananya, sifat-sifat Zat Allah pasti amat berbeda daripada sifat-sifat segala zat ciptaan-Nya (termasuk segala zat makhluk-Nya, seperti: manusia, para makhluk gaib, dsb). Seperti halnya, mustahil ada robot yang persis sama dengan manusia pembuatnya atau mustahil ada suatu zat ciptaan yang persis sama dengan Penciptanya sendiri.

Adanya beberapa sifat-sifat-Nya pada Asmaul Husna, yang 'menyerupai' sifat-sifat manusia, karena pada dasarnya berupa gambaran manusia dari hasil pemahaman manusia tentang Allah (dalam hal ini pemahamannya nabi Muhammad saw), yang juga tentunya memang hanya bisa digambarkannya memakai bahasa manusia.

Sedang perwujudan yang sebenarnya dari sifat-sifat-Nya justru amat berbeda daripada sifat-sifat manusia.

Misalnya sifat-sifat-Nya Maha melihat dan Maha mendengar pada dasarnya juga relatif sama dengan sifat-Nya Maha mengetahui, justru bukan karena Allah memiliki 'mata' dan 'telinga' seperti pada manusia. Juga Allah memiliki firman-Nya justru bukan karena Allah memiliki 'mulut' seperti pada manusia.

Wajah-Nya /
Tanda-tanda kekuasaan-Nya /
Tanda-tanda kebesaran-Nya /
Tanda-tanda kemuliaan-Nya

»

Segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), pada segala zat ciptaan-Nya dan segala proses kejadian di seluruh alam semesta ini (lahiriah-nyata atau batiniah-gaib, makhluk hidup atau benda mati, dsb).

"Tanda-tanda kekuasaan-Nya" ini juga biasa disebut sebagai "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "segala kebenaran atau pengetahuan-Nya", "firman, kalam atau wahyu-Nya yang sebenarnya", "Al-Qur'an berwujud gaib, yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya" dan "wajah-Nya".

Berbagai sebutan ini pada dasarnya suatu hal yang sama, hanya berbeda konteks pemakaian masing-masingnya saja.

Maka kemanapun manusia menghadap (secara lahiriah dan batiniah), ia justru semestinya pasti bisa melihat atau menyaksikan "wajah-Nya".

Makna istilah "wajah-Nya" tidak ada hubungan sama-sekali dengan wujud, sosok atau esensi "zat" Allah. Lebih tepatnya berupa tanda-tanda yang diciptakan-Nya, agar manusia bisa mengenal Sang Penciptanya atau memahami sifat-sifat-Nya.

Segala tindakan-Nya dalam menciptakan seluruh alam semesta ini dan segala isinya, adalah perwujudan dari Fitrah Allah (sifat-sifat yang terpuji dan mulia pada zat Allah yang tergambar pada Asmaul Husna), seperti yang disebut pada surat AR-RUUM ayat 30 (QS.30:30).

Fitrah Allah /
Sifat Allah /
Nama Allah /
Wujud zat Allah

»

Berbagai sifat-Nya yang tergambar pada nama-nama yang terbaik, yang hanya milik Allah (Asmaul Husna), bisa dipahami oleh manusia dengan mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini (wajah-Nya).

Dalam buku ini, 'sifat' Allah dan 'nama' Allah dianggap sesuatu hal yang sama.

Segala tindakan-Nya dalam menciptakan seluruh alam semesta itu sendiri adalah perwujudan dari Fitrah Allah (pada QS.30:30). Maka manusia hanya bisa mengenal sifat-sifat Allah, Yang telah menciptakannya, dengan memahami "segala tindakan-Nya" di seluruh alam semesta ini (segala proses kejadian lahiriah dan batiniah, yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal' pada segala zat ciptaan-Nya).

Dengan ke-Maha Luas-an segala zat ciptaan-Nya, maka pengungkapan atas sifat-sifat-Nya juga bisa dilakukan dengan cara yang relatif amat berragam. Karena itulah relatif amat sedikit buku yang khusus membahas secara mendalam tentang Asmaul Husna, dan biasanya buku-buku itupun hanya memuat daftar Asmaul Husna saja. Juga tentunya pemahaman atas sifat-sifat-Nya adalah pemahaman tertinggi yang bisa dicapai oleh umat manusia (relatif hanya dimiliki oleh para nabi-Nya)

Dalam pembahasan buku ini pengungkapan atas sifat-sifat-Nya juga tidak dilakukan secara khusus, tetapi hanya secara kebetulan dan mengalir bersama pembahasan itu sendiri (terutama pada topik "Sunatullah").

Dan istilah "Wujud zat Allah" lebih tepat diterjemahkan sebagai "perwujudan dari segala tindakan zat Allah di alam semesta ini". Jadi bukan "wujud" sebagai "rupa, sosok atau esensi" dari zat Allah, karena zat Allah memang bersifat Maha gaib.

Sedang dari pemahaman atas berbagai tindakan-Nya di alam semesta, tentunya lalu bisa diketahui berbagai kehendak-Nya bagi alam semesta, lalu selanjutnya bisa diketahui berbagai sifat-Nya dalam berbuat di alam semesta.

'Arsy-Nya /
Sisi-Nya /
Hadirat-Nya /
Hadapan-Nya

»

'Simbol' bagi tempat keberadaan Allah pada alam batiniah ruh 'tiap' zat makhluk-Nya (alam akhiratnya), yang amat sangat agung dan mulia, juga sekaligus sebagai 'simbol' bagi tempat keberadaan atau tercatatnya segala kebenaran-Nya di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), yang berupa kitab mulia (Lauh Mahfuzh).

'Arsy-Nya bukan tempat keberadaan 'zat' Allah yang sebenarnya. "Zat" Allah Yang Maha Suci tersucikan dari segala sesuatu hal (sama sekali tersucikan dari alat-alat indera lahiriah dan batiniah pada segala zat makhluk-Nya).

Ringkasnya, Allah berada di dalam hati-sanubari tiap zat makhluk-Nya (berupa pemahaman tentang Allah, lebih tepatnya lagi tentang berbagai kebenaran-Nya).

'Arsy-Nya hanya bisa "didekati" oleh hamba-hamba-Nya yang telah diberikan-Nya kemuliaan amat tinggi (seperti para nabi-Nya), namun tiap manusia mustahil bisa "meraih atau mencapainya" (hanya bisa 'amat dekat').

Jarak paling dekat ke sisi 'Arsy-Nya (tingkat keimanan tertinggi), yang bisa dicapai oleh umat manusia atas "sesuatu hal tertentu", di dalam teori ilmu-pengetahuan modern, disebut jarak alpha (α). Hal ini berupa pencapaian pemahaman atas tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) sebagai suatu tingkat pemahaman tertinggi yang bisa dicapai atas "sesuatu hal tertentu", secara amat obyektif dan mendalam. Dari jarak alpha ini sampai ke 'Arsy-Nya, disebut sebagai 'God Spot' (kesadaran tentang Tuhan).

Tingkat keimanan yang amat tinggi dan utuh, terdiri dari aspek pengetahuan atau pemahaman yang amat mendalam atas berbagai kebenaran-Nya dan aspek pengamalan yang amat konsisten atas segala pemahamannya itu, yang berupa pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah, cahaya kebenaran-Nya atau petunjuk-Nya), yang telah bisa dicapai oleh umat-umat yang dikehendaki-Nya.

Sehingga umat-umat itu telah bisa memahami dengan amat terang, atas berbagai hakekat kejadian di alam semesta ini.

Hal inipun menimbulkan suatu kenikmatan yang relatif luar biasa bagi mereka, yang relatif amat sulit pula diungkapkan.

Mereka juga justru "amat terlalu silau" terhadap cahaya kebenaran-Nya yang telah dipahaminya, maka terkadang ada sebagian dari mereka yang merasa telah "menyatu dengan Allah" (Wahdatul-Wujud), padahal tidak, bahkan mustahil terjadi.

Disebut 'mustahil', karena tiap umat manusia pada dasarnya hanya bisa memahami 'fenomena umum' secara lahiriah dan batiniah, atas berbagai kejadian di alam semesta ini, dan bukan mengetahui proses detail dari kejadian-kejadian itu, termasuk mustahil bisa mengetahui secara detail semua 'zat', yang ikut terlibat dalam proses-proses kejadian itu.

Juga sesuatu zat ciptaan mustahil bisa sebanding, setara ataupun sama dengan Penciptanya. Paling-paling hanya karena zat ciptaan itu memang sengaja diciptakan sedemikian canggih, sehingga bisa relatif 'amat mengenal' Penciptanya.

Tentunya 'mustahil', karena 'Arsy-Nya justru tidak terkait sama sekali dengan 'Zat' Allah sendiri, seperti yang disebut di atas.

Jadi 'kedekatan' antara Allah dan tiap makhluk-Nya pada dasarnya hanya berupa tingkat 'kedalaman' pengetahuan atau pemahaman makhluk-Nya itu, atas berbagai kebenaran-Nya (lahiriah dan batiniah), dengan menggunakan 'akal-pikirannya'.

Kebenaran-Nya /
Cahaya-Nya /
Rahasia-Nya

»

Dari sisi Allah, adalah segala hakekat 'sebelum' terciptanya seluruh alam semesta ini, 'saat' masih kokohnya alam semesta, dan 'setelah' berakhirnya alam semesta (dari "awal" sampai "akhir").

Dari sisi manusia, adalah pengetahuan atau pemahaman tentang berbagai hakekat kebenaran-Nya yang 'terwujud' di seluruh alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), seperti: wujud zat Allah (sifat-sifat-Nya); penciptaan alam semesta ini dan segala isinya, dan tujuannya; ketetapan-Nya, kehendak-Nya, aturan-Nya (sunatullah) atau sifat-sifat ciptaan-Nya; dsb.

Pengetahuan atau pemahaman hakekat paling tinggi yang bisa dicapai tiap umat manusia, dimiliki oleh para nabi-Nya (khususnya oleh nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir), yang sering disebut sebagai "wahyu-Nya". Secara alamiah, tentunya tingkat pencapaian pengetahuan atau pemahaman umat manusia pasti sesuai pula dengan perkembangan jamannya (atau ajaran nabi Muhammad saw relatif lebih lengkap dan mendalam daripada ajaran para nabi-Nya sebelumnya).

Lebih sederhananya lagi, hakekat 'kebenaran-Nya' adalah segala sesuatu proses kejadian di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah) yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), karena hal inilah yang diketahui dan diyakini oleh umat manusia, sebagai hasil perwujudan dari kehendak ataupun perbuatan-Nya di alam semesta.

Hanya Allah Yang memiliki sifat 'mutlak' dan 'kekal' tersebut. Dan tidak ada segala sesuatupun selain Allah, yang mampu berkuasa mutlak mengatur dan memaksa segala zat ciptaan-Nya, seperti kehendak atau perbuatan-Nya.

Terkadang disebut pula sebagai rahasia-Nya, karena pasti tidak semua kebenaran-Nya bisa diketahui oleh segala zat makhluk ciptaan-Nya.

Ilmu-Nya /
Pengetahuan-Nya

»

Relatif sama dengan Kebenaran-Nya. Namun biasanya terkait dengan aturan-Nya (sunatullah), yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), yang pasti mengatur segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini.

Sebagian amat sangat sedikit saja dari Ilmu-Nya, yang telah bisa diungkap dan diformulasikan menjadi berbagai ilmu-pengetahuan (lahiriah dan batiniah) temuan manusia, yang telah diperoleh secara 'amat obyektif' (dengan hanya memakai data-fakta-kenyataan-kebenaran secara apa adanya, tanpa ditambah dan dikurangi).

Hidayah-Nya

»

Suatu perolehan pengetahuan atau pemahaman atas berbagai hakekat kebenaran-Nya (lahiriah dan batiniah) oleh tiap umat manusia, dari hasil memahami berbagai 'pengajaran dan tuntunan-Nya' dengan menggunakan akalnya, sambil dituntun oleh malaikat Jibril (tidaklah hanya kepada para nabi-Nya saja).

Hidayah-Nya serupa dengan pahala-Nya, namun lebih khususnya pada hasil dari tindakan bertafakur untuk mencari ilmu-pengetahuan, dari mempelajari tanda-tanda kekuasaan-Nya atau ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di alam semesta.

Hikmah-Nya

»

Serupa dengan hidayah-Nya, namun dari hasil memahami berbagai 'cobaan atau ujian-Nya'.

Khususnya yang berupa godaan secara batiniah dari jin, syaitan dan iblis. Karena segala cobaan atau ujian-Nya secara lahiriah, pada akhirnya juga akan berwujud berupa pengaruh batiniah dari para makhluk gaib tersebut.

Petunjuk-Nya

»

Gabungan antara hikmah-Nya dan hidayah-Nya.

Pada tingkatan tertentu, tiap petunjuk-Nya bisa disebut pula sebagai "wahyu-Nya", yaitu pada tingkat dimana seluruh petunjuk-Nya yang telah dimiliki oleh seorang manusia (biasanya disebut nabi-Nya), telah tersusun relatif amat lengkap (sesuai perkembangan jaman), mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, terutama atas hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat kaumnya, dan bahkan bagi kehidupan seluruh umat manusia, sekaligus bisa menjawab segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umat.

Wahyu-Nya

»

Dari sisi Allah adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya atau ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di seluruh alam semesta ini, atau disebut juga Al-Qur'an (gaib). Sebagai Pengajaran dan Tuntunan-Nya bagi manusia, agar ia bisa mencari dan mengenal Allah, lalu agar bisa mengenal dan mengikuti jalan-Nya yang lurus.

Hal inilah bentuk dari wahyu atau kalam-Nya yang sebenarnya, dalam pengertian yang bersifat umum dan luas, namun juga bersifat gaib.

Dari sisi manusia adalah pemahaman atas ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis. Hal ini disampaikan-Nya kepada para nabi dan rasul utusan-Nya, melalui perantaraan malaikat Jibril pada alam batiniah ruh mereka (alam pikirannya). Dengan kata lain, para nabi-Nya diberikan-Nya hikmah dan hidayah-Nya (petunjuk-Nya), yang berupa pengetahuan dan pemahaman para nabi-Nya tentang berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (lahiriah dan batiniah).

Akhlak dan kebiasaan yang amat terpuji pada para nabi-Nya sepanjang hidupnya (pemahaman disertai dengan pengamalan yang amat utuh dan konsisten), yang membuat hikmah dan hidayah-Nya yang mereka peroleh, jauh lebih sempurna daripada manusia biasa lainnya, sehingga bisa disebut pula sebagai "wahyu-Nya".

Bahkan hikmah dan hidayah-Nya pada mereka telah amat utuh dan lengkap untuk menjawab segala persoalan mendasar pada umat kaumnya, bahkan pada seluruh umat manusia. Juga hikmah dan hidayah-Nya pada mereka telah amat mendalam, konsisten dan tidak saling bertentangan.

Lalu segala pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya disampaikan oleh sebagian para nabi-Nya ke dalam kitab-kitab-Nya, ataupun dibacakan saja kepada umat secara amat arif-bijaksana (menjadi berupa segala pengajaran dan tuntunan-Nya secara relatif sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual bagi kehidupan umatnya, khususnya kehidupan beragamanya):

Maka dalam Al-Qur'an disebut seperti "Al-Qur'an adalah wahyu yang diwahyukan.", pada ayat-ayat sebagai berikut:

~

"Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepada umatnya)," dan '"yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat (hujjahnya)," – (QS.53:4-5).

~

"Katakanlah: 'Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku (umat Muhammad), sesuatu …." – (QS.6:145).

~

"Dan demikianlah, Kami wahyukan kepadamu (hai umat Muhammad) wahyu (Al-Qur'an), dengan perintah Kami. Sebelumnya, …." – (QS.42:52).

~

"Dan tidak ada bagi seorang manusiapun, bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan perantaraan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat Jibril), lalu diwahyukan kepadanya (manusia itu) dengan seijin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi, lagi Maha Bijaksana." – (QS.42:51).

 

Dan dasar utama pemahaman seluruh para nabi-Nya adalah sama, yaitu tauhid "tiada ilah selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa", karena alam semesta yang mereka tempati, pahami dan diciptakan-Nya, memang sama.

Penting dicatat pula, bahwa tiap perolehan wahyu-Nya (tiap pengetahuan atau pemahaman atas hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), juga melalui akal-pikiran pada para nabi-Nya.

Tentunya keimanan mereka yang amat tinggi, yang membuat akal-pikiran mereka berbeda daripada manusia biasa, karena telah amat tinggi dan amat subyektif. Hal ini yang membuat adanya perbedaan antara dalil-dalil 'Naqli' dan dalil-dalil 'Aqli'. Walau hakekat kedua macam dalil pada dasarnya sama, dengan memakai "akal".

Sebagaimana diketahui, hanya akal satu-satunya sarana pada manusia (termasuk para nabi-Nya), yang memiliki "otoritas" dalam memilih dan memutuskan terhadap segala informasi dari hasil tangkapan berbagai indera lahiriah dan batiniah (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, hati, dsb), untuk dianggap sebagai pengetahuan yang 'relatif' benar (lahiriah dan batiniah). Dan akal juga dipakai tiap saatnya oleh umat yang amat awam sampai yang amat berilmu, di dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, dengan segala persoalannya.

Sehingga akal di sini dipandang dari segi hakekat yang sebenarnya, yang bersifat umum. Bukan hanya akal dalam pengertian yang sempit dan sering dikenal, yaitu sebagai alat untuk bisa memahami segala ilmu-pengetahuan temuan manusia (bidang ilmu fisika, kimia, biologi, matematika, filsafat, psikologi, dsb), yang lebih berupa pengetahuan dan pemahaman atas hal-hal yang bersifat lahiriah.

Akal pada dasarnya juga dipakai dalam hal-hal yang bersifat batiniah, seperti yang amat banyak terdapat pada berbagai ajaran agama-Nya, yang disampaikan oleh para nabi-Nya. Walaupun hal-hal batiniah itu amat sulit dijelaskan atau dirumuskan, seperti misalnya berbagai teori atau rumus dalam ilmu fisika.

Sekali lagi, wahyu-Nya adalah produk akal-pikiran para nabi-Nya. Karena sama sekali tidaklah ada sarana lain pada manusia, untuk bisa mengenal Allah ataupun untuk memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya, selain "akal". Bahkan segala bentuk pengajaran dan ujian-Nya dari para makhluk gaib, termasuk malaikat Jibril (dengan interaksi secara terang-terangan ataupun terselubung), justru hanya bisa dinilai dengan "akal".

Dan tiap ajaran agama pada dasarnya bukan hal yang mistis-tahayul, yang sama sekali tidak memiliki berbagai penjelasan melalui intuisi-nalar-logika akal-sehat manusia. Sebenarnya hanya masalah perbedaan batas kemampuan tiap umat manusia saja, dalam menjelaskannya.

Hampir semua para alim-ulama dan cendikiawan Muslim dari berbagai aliran dari jaman dahulu sampai sekarang, mengabaikan (secara sengaja ataupun tidak) atas kenyataan peranan akal-pikiran para nabi-Nya ketika diturunkan-Nya wahyu-Nya (seperti Al-Qur'an). Bahkan mereka cenderung pula mempertentangkannya.

Kemuliaan kitab suci Al-Qur'an tidak harus dijaga seperti itu (memisahkan agama dan akal). Karena kemuliaan kitab suci Al-Qur'an justru terletak pada "kebenaran" tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya pada kandungan isi keseluruhannya, yang tersusun relatif amat lengkap (sesuai jamannya), mendalam, utuh, konsisten dan tidak saling bertentangan. Karena hal ini menjadi dasar utama suatu kenabian, berikut ajaran-ajarannya. Dan segala "kebenaran" mutlak hanyalah milik Allah.

Justru kewajiban yang semestinya bisa dilakukan oleh para alim-ulama dan para cendikiawan Muslim adalah mengungkap semaksimal mungkin setiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di balik teks ayat-ayat Al-Qur'an.

Kitab-Nya

»

Sekumpulan besar wahyu-Nya yang telah dibukukan oleh para nabi-Nya ataupun para pengikutnya, menjadi kitab-kitab tauhid, yaitu: Zabur (nabi Daud as), Taurat (nabi Musa as), Injil (nabi Isa as) dan terakhir Al-Qur'an (nabi Muhammad saw).

Kitab-kitab-Nya disebut juga ayat-ayat-Nya yang tertulis.

Dan tentunya sesuai perkembangan alamiah menurut jamannya, Al-Qur'an adalah kitab-Nya yang paling lengkap, mendalam dan paling sempurna.

Ayat-Nya

»

Ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta) dan ayat-ayat-Nya yang tertulis (tiap wahyu-Nya pada kitab-kitab-Nya).

Firman-Nya /
Sabda-Nya /
Kalam-Nya

»

Secara umum sama dengan wahyu-Nya.

Secara khususnya, berupa wahyu-Nya yang berbentuk 'ucapan' dari Allah.

Pengajaran-Nya /
Tuntunan-Nya /
Peringatan-Nya /
Larangan-Nya

»

Secara umum sama dengan petunjuk-Nya, yang bisa dimiliki pula oleh manusia biasa umumnya. Secara khusus sama dengan wahyu-Nya, yang tingkatannya lebih tinggi daripada petunjuk-Nya, dan justru hanya dimiliki oleh para nabi-Nya.

Pengajaran-Nya dianggap dalam pembahasan di sini lebih rendah "tingkatannya" daripada tuntunan-Nya. Karena sebagian dari berbagai pengajaran-Nya itu pada dasarnya untuk bisa mencapai perolehan tuntunan-Nya, yang berupa pengetahuan untuk bisa mengenal atau membedakan antara hal-hal yang baik dan buruk.

Tuntunan-Nya bersifat jauh lebih sederhana, praktis dan langsung bisa dipakai, daripada pengajaran-Nya yang bersifat lebih rumit dan kompleks.

Sedang peringatan atau larangan-Nya ialah tuntunan-Nya atas berbagai 'perbuatan' tertentu makhluk-Nya, yang harus diwaspadai, karena tidak sesuai dengan perintah ataupun keredhaan-Nya bagi kemuliaan manusia.

Pada hati-nurani dalam zat ruh tiap anak manusia yang baru terlahir, yang masih suci-bersih dan tanpa dosa, juga ditanam-Nya tuntunan-Nya yang paling mendasar atas "sebagian" kecil dari kebenaran-Nya (disebut fitrah-fitrah dasar).

Tuntunan-Nya yang paling minimal ini pada dasarnya tidak akan berkurang, hanya kepekaan batiniah manusia saja yang selalu berubah-ubah dalam 'memahaminya', terutama setelah ia dewasa atau akil-baliq.

Misalnya, tiap bayi manusia pasti takut kepada hal-hal yang tidak diketahuinya atau yang lebih besar darinya; pasti senang dengan kebaikan, keindahan, seni, dsb; pasti tidak menyukai kebatilan, keburukan; dsb.

Sejalan dengan perkembangan usia atau kedewasaannya, manusia makin banyak mendapat pula pengajaran dan tuntunan-Nya dari makaikat Jibril (manusia makin banyak memperoleh hikmah dan hidayah-Nya).

Sehingga pengetahuan atau pemahamannya atas berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya makin luas pula.

Misalnya, manusia makin memahami, bahwa ia hanya boleh takut kepada Yang Maha Besar, Allah, bukanlah kepada segala zat ciptaan-Nya lainnya; manusia jangan terlalu senang kepada keindahan atau kenikmatan duniawi, tetapi kepada keindahan kehidupan batiniahnya; makin bisa memahami berbagai kebaikan dan keburukan; dsb.

Laknat-Nya /
Kutuk-Nya

»

Sama dengan Peringatan-Nya dan Larangan-Nya, namun atas berbagai perbuatan tertentu makhluk-Nya (nyata dan gaib), yang amat menyesatkan manusia dan amat sulit membuatnya bisa kembali ke jalan-Nya yang lurus. Sehingga Laknat-Nya bersifat jauh lebih keras daripada Peringatan atau Larangan-Nya.

Misalnya: godaan dari iblis yang amat menyesatkan; segala perbuatan manusia yang melampaui batas ataupun yang menyekutukan Allah; dsb.

Disebut 'perbuatan', karena bukan 'zat' makhluk-Nya yang dilaknat-Nya, yang telah diciptakan-Nya sendiri. Namun justru yang berbahaya adalah, pengaruh berbagai perbuatan makhluk-Nya yang justru bisa menyesatkan manusia, untuk keluar dari jalan-Nya yang lurus.

Perintah-Nya /
Anjuran-Nya

»

Tuntunan-Nya tentang berbagai "perbuatan" tertentu yang perlu dilakukan oleh tiap manusia, agar ia bisa mendapatkan rahmat, pahala-Nya, dsb. Dan juga agar ia bisa mengikuti jalan-Nya yang lurus, untuk bisa kembali dekat ke hadapan 'Arsy-Nya.

Hal ini hanya semata demi kemuliaan manusia sendiri, sama sekali bukan demi kepentingan Allah, Yang tidak memerlukan segala sesuatu.

Maka Perintah atau Anjuran-Nya itu pada dasarnya tidak bersifat memaksa, kecuali pada makhluk-Nya yang pasti tunduk, patuh dan taat kepada-Nya (para malaikat).

Redha-Nya

»

Restu, keredhaan atau kerelaan-Nya atas tiap perbuatan manusia.

Tentunya hal ini terjadi segala perbuatan manusia yang mengikuti perintah-Nya. Sebaliknya segala perbuatan lainnya yang disebut pada segala larangan-Nya, justru tidak diredhai-Nya.

Nabi-Nya /
Rasul-Nya /
Utusan-Nya

»

Para pembawa berita gembira, pengajaran, tuntunan atau peringatan-Nya bagi umat kaumnya ataupun bahkan bagi seluruh umat manusia, setelah mereka bisa memperoleh sejumlah wahyu-Nya, melalui perantaraan malaikat Jibril.

Jumlah para nabi-Nya amat banyak, sejak dari nabi pertama nabi Adam as, sampai nabi terakhir nabi Muhammad saw, yang merupakan orang-orang yang berilmu-pengetahuan amat tinggi (ilmu-ilmu lahiriah dan terutama ilmu-ilmu batiniah) dan amat arif-bijaksana di kalangan kaumnya.

Namun hanya sedikit yang telah dikenal atau disebut dalam Al-Qur'an dan Hadits, sebagai contoh suri-teladan bagi umat manusia.

Sunatullah (Sunnah Allah) /
Aturan-Nya /
Hukum-Nya /
Tangan-Nya

»

Sunatullah (Sunnah Allah) adalah sebutan lain dari segala tindakan atau perbuatan-Nya di seluruh alam semesta ini. Hal ini serupa seperti 'Sunnah Nabi' untuk segala perkataan dan perbuatan nabi Muhammad saw.

Sunatullah berupa segala aturan atau rumus proses kejadian atas segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta. Sunatullah pasti berlaku (mutlak), tidak akan pernah berubah (kekal), jumlahnya tak-terhitung, dan sebagai salah-satu ketetapan-Nya yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya.

Segala zat ciptaan-Nya (makhluk hidup atau benda mati, nyata atau gaib) pastilah tunduk pada Sunatullah, secara sadar ataupun tidak. Bahkan bagi orang yang amat kafir dan iblis sekalipun.

Disebut "tangan-Nya", karena segala perbuatan Allah di alam semesta ini, pasti melalui atau memakai sunatullah. Sedang pelaksanaan sunatullah dikawal oleh tak-terhitung jumlah para malaikat, yang pasti tunduk, patuh dan taat kepada-Nya.

Makna hukum-Nya di sini berbeda dari hukum syariat, yang diperintahkan-Nya bagi tiap umat nabi-Nya. Hukum syariat disusun oleh manusia (para nabi-Nya, sesuai dengan petunjuk atau wahyu-Nya yang diperolehnya), hanya mengatur umat-umat yang memiliki kesadaran atau beriman (tidak memaksa); relatif bisa berubah-ubah sesuai dengan keadaan tiap umat kaumnya; jumlahnya terbatas; dsb.

Sedang hukum, aturan-Nya atau sunatullah justru mengatur seluruh alam semesta

Ketetapan-Nya /
Ketentuan-Nya

»

Segala sesuatu hal yang terkait dengan alam semesta ini, yang ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta itu sendiri, misalnya: aturan-Nya (sunatullah); sifat-sifat tiap zat ciptaan-Nya; tujuan penciptaan seluruh alam semesta ini; segala kehendak dan rencana-Nya; segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya; dsb.

Segala Ketetapan-Nya itu telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dan bersifat kekal (atau tidak berubah-ubah) sejak ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta ini, sampai saat berakhirnya (akhir jaman).

Sebelum ditetapkan-Nya, segala sesuatu hal justru dipilih atau ditetapkan dengan sekehendak-Nya. Sedang setelahnya, Allah sama sekali tidak berbuat sekehendak-Nya di alam semesta ini.

Tindakan-Nya /
Perbuatan-Nya /
Kehendak-Nya

»

Segala tindakan atau perbuatan Allah di alam semesta, bersifat pasti berlaku atau terjadi (mutlak) dan pasti konsisten (kekal). Khususnya segala kehendak dan perbuatan Allah di seluruh alam semesta ini, yang pasti terwujud melalui aturan-Nya (sunatullah). Sunatullah adalah sesuatu kesatuan dari sejumlah tak-terhitung aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah) yang pasti dan jelas, yang telah ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta ini.

Segala tindakan atau perbuatan Allah (yang bisa dipahami manusia melalui segala "rumus proses kejadian" di alam semesta) yang disebut dalam Al-Qur'an, seperti: berbicara, mendengar, melihat, memegang, berkehendak, bertindak, dsb, tentunya amat berbeda daripada perbuatan segala makhluk-Nya.

Bahwa segala tindakan-Nya itu selain pasti dan jelas itu, juga tidak pernah berubah, berlaku sama untuk segala ciptaan-Nya (sesuai sifat dan keadaan tiap zat ciptaan-Nya), amat sangat konsisten, teratur, alamiah, halus dan tidak kentara, dan seolah-olah terjadi begitu saja.

Namun tindakan-Nya juga "tidak" terjadi begitu saja seperti sulap. Tindakan-Nya terhadap sesuatu hal melalui firman-Nya "Jadilah, maka terjadilah hal itu", justru melalui proses yang pasti dan jelas, seperti ketika Allah menciptakan alam semesta ini selama milyaran tahun; ketika Allah menciptakan bayi manusia selama sekitar 9 bulan, termasuk proses tambahannya selama belasan tahun, untuk pembentukan benih-benih pada tubuh ibu dan bapaknya (sejak bayi sampai dewasa); dsb.

Bagaimana hubungan antara sebagian perbuatan-Nya dengan segala perbuatan manusia?. Hubungan itu juga justru amat sangat dekat dan saling terkait. Karena seperti halnya segala proses yang ada di alam semesta, yang terdiri dari masukan (input), aturan (rumus berjalannya proses) dan keluaran (output).

Maka tiap perbuatan manusia pada dasarnya hanyalah berusaha memilih berbagai variabel masukan prosesnya, sesuai dengan kemampuannya tiap saatnya. Namun tanpa sadar, dengan usaha itu tiap manusia sebenarnya juga memilih salah-satu dari berbagai rumus proses (sunatullah), yang "sesuai" dengan berbagai variabel atau keadaan awal itu.

Akhirnya dengan rumus proses yang terpilih itu, Allah bertindak ("didukung" oleh para malaikat-Nya) untuk melaksanakan berlakunya rumus proses itu. Sehingga diperoleh berbagai nilai variabel atau keadaan baru, sebagai hasil keluaran akhir prosesnya.

Hasil akhir inipun merupakan bentuk "takdir-Nya sementara" tiap saatnya. Qadar atau Takdir-Nya yang sering disebut manusia adalah hasil susunan dari sejumlah tak-hitung "takdir-Nya sementara" itu sepanjang hidup manusia. "Takdir-Nya sementara" itulah yang disebut Qadla-Nya.

Maka pada tiap perbuatan manusia (lahiriah dan batiniah, baik dan buruk), justru Allah Yang menentukan rumus proses kejadian dan hasil akhirnya, sesuai segala keadaan awal yang terbentuk akibat dari usaha manusia itu sendiri, serta pengaruh lingkungan sekitarnya (sebagai ujian-Nya).

Sehingga tiap perbuatan manusia (bahkan tiap detiknya) pasti selalu akan disertai, diikuti atau diliputi oleh perbuatan Allah.

Namun bukan berarti Allah telah menganiaya manusianya, jika hasil perbuatan itu membawa keburukan, atau sebaliknya, bukan pula karena Allah telah pilih-kasih kepada hamba-hamba-Nya yang disukai-Nya. Justru semuanya hanya tergantung pada hasil usaha dan pilihan manusia itu sendiri (dengan nafsu dan akalnya, yang diciptakan-Nya).

Karena sunatullah (atau tindakan-Nya) tidak pernah berubah dan berlaku sama kepada segala zat ciptaan atau makhluk-Nya, sejak awal penciptaan alam semesta sampai akhir jaman.

Seperti inilah yang dimaksudkan dengan, tindakan-Nya dalam menentukan "takdir-Nya" atas tiap zat ciptaan-Nya. Jadi pada dasarnya, Allah "bukanlah" bertindak menentukan berbagai nasib manusia sepanjang hidupnya, tetapi Allah hanya menentukan segala rumus proses di alam semesta ini (sunatullah).

Semua istilah "kehendak-Nya" dalam pembahasan di sini, lebih dimaknai sama dengan tindakan-Nya secara "umum", bukanlah hanya tindakan-Nya secara khusus sebagai wujud kasih-sayang Allah bagi manusia.

Karena dalam Al-Qur'an, ada pula kehendak-Nya untuk memberi hukuman dan azab-Nya, kepada manusia yang telah berbuat berbagai keburukan dan kezaliman. Sehingga terlalu sempit jika dibatasi hanya pada kehendak-Nya dalam memberi nikmat, pahala, rahmat dan karunia, hikmah dan hidayah-Nya, dsb.

Maka segala definisi tindakan, perbuatan atau kehendak-Nya pada pembahasan di sini lebih bersifat "netral", luas, umum dan berlaku sama untuk segala ciptaan-Nya (sesuai sifat dan keadaan tiap zat ciptaan-Nya), termasuk dalam pemberian nikmat dan hukuman-Nya itu sebagai wujud dari ke-Maha Adil-an Allah.

Namun bagaimana ke-Maha Adil-an Allah kepada manusia, akibat 'dianiaya atau dizalimi' oleh keadaan, lingkungan atau manusia lainnya, atau segala sesuatu yang terjadi bukan akibat amal-perbuatan manusia itu sendiri?.

Hal ini disebut sebagai cobaan atau ujian-Nya kepada manusianya, yang justru amat menentukan "nilai amalan sebenarnya" yang diberikan-Nya atas tiap amal-perbuatannya saat 'sedang' menghadapi cobaan atau ujian-Nya tersebut.

Rencana-Nya

»

Segala rencana Allah, terutama segala ketetapan atau ketentuan-Nya yang terkait dengan penciptaan alam semesta ini dan segala isinya.

Kalimat-Nya /
Risalah-Nya

»

Cukup bervariasi cakupannya, kadang-kadang disebut untuk hal-hal yang serupa dengan ayat-Nya, wahyu-Nya, tindakan-Nya ataupun perintah-Nya.

Namun kalimat-Nya di sini dianggap lebih sesuai bagi ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis (tanda-tanda kekuasaan-Nya, atau Al-Qur'an berbentuk gaib), terutama karena lebih umum cakupannya, walau pada dasarnya sama.

Dari hal-hal di atas, kalimat-Nya justru bisa dikelompokkan berupa 'tindakan-Nya langsung', dan berupa 'keterangan tentang tindakan-Nya' di alam semesta.

Keputusan-Nya

»

Tindakan-Nya dalam mengadili atau memutuskan segala sesuatu perkara makhluk-Nya, ataupun dalam memberikan balasan-Nya.

Aturan atau rumus proses pemberian segala keputusan-Nya atau balasan-Nya itu bersifat kekal atau tidak pernah berubah-ubah (melalui sunatullah).

Kekuasaan-Nya

»

Segala sesuatu hal yang pasti berlaku bagi tiap zat ciptaan-Nya, yang tidak ada sesuatupun yang bisa menghalangi (berlaku mutlak), seperti halnya: aturan-Nya (sunatullah) atau tindakan-Nya, balasan-Nya, dsb.

Takdir-Nya /
Qadar-Nya /
Qadla-Nya

»

Segala hasil akhir setiap saatnya yang telah ditentukan-Nya atas tiap zat ciptaan-Nya (nyata dan gaib, hidup dan mati) di seluruh alam semesta, melalui berlakunya segala aturan atau rumus proses kejadian yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal' setiap saatnya (atau sunatullah).

Hasil akhir setiap saatnya itu adalah 'takdir-takdir kecil' sebagai hasil dari tak-terhitung rangkaian perbuatan setiap makhluk-Nya sepanjang hidupnya (atau jalan hidup), yang pasti pula melalui tak-terhitung rangkaian aturan-Nya (sunatullah) yang telah dijalaninya.

Dan sesuatu hal hanyalah bisa disebut takdir-Nya, justru saat "setelah" hal itu terjadinya, bukan "sebelum" terjadinya segala keadaan atas tiap zat ciptaan-Nya.

Sehingga justru terdapat sejumlah besar 'takdir-takdir kecil', yang menyusun takdir akhir sampai suatu saat tertentu ataupun sampai saat sekarang ini.

Qadla-Nya adalah takdir-takdir kecil tersebut, yang merupakan takdir-takdir yang bersifat sementara yang bisa selalu 'dipilih' (tepatnya berbeda pada waktu lainnya).

Dan tiap masing-masing sunatullah itu telah pasti hasilnya, sesuai dengan segala keadaan awal setiap saatnya (lahiriah dan batiniah), sebagai input-masukan bagi rumus proses pada sunatullah.

Namun manusia tetaplah bisa berusaha dan memilih rangkaian sunatullah (jalan hidup) yang diinginkannya (memilih takdir-Nya), yang tersedia tiap saatnya baginya, sesuai dengan keadaan dan kemampuannya.

Dengan cara tiap saatnya berusaha dan memilih berbagai keadaan awal (di samping berbagai keadaan awal lainnya dari hasil pengaruh lingkungan, sebagai ujian-Nya), sebelum berlakunya rumus proses pada sunatullah.

Sering disebut dalam Al-Qur'an, tentang 'tindakan-Nya' dalam menentukan takdir-Nya bagi tiap zat ciptaan-Nya, terutama bagi tiap manusia (seperti jodoh, rejeki, kematian, dsb), karena segala tindakan-Nya di alam semesta ini, memang pastilah melalui aturan-Nya (sunatullah).

Agama-Nya /
Agama-Nya yang lurus /
Jalan-Nya yang lurus

»

Dari sisi Allah adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya atau ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di seluruh alam semesta ini, atau disebut juga Al-Qur'an (gaib), sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya bagi manusia, agar ia bisa mencari dan mengenal Allah, lalu agar bisa mengenal dan mengikuti jalan-Nya yang lurus.

Dari sisi manusia adalah agama-agama tauhid (Yahudi, Nasrani, dan terakhir Islam) dari hasil pemahaman para nabi-Nya terkait secara relatif 'sempurna', atas ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, terutama atas hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia).

Hal ini berupa kumpulan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para nabi-Nya terkait, yang berdasar pada petunjuk atau wahyu-Nya, yang perlu diikuti oleh umat manusia, agar ia bisa mendapat pahala-Nya yang paling baik (surga besar) di Hari Kiamat, sekaligus agar bisa mendapat surga-surga kecil di dunia ini, Ringkasnya, agar bisa mendapat keselamatan dan kemuliaan di dunia dan di akhirat.

Namun Islam adalah agama tauhid yang terakhir, yang tentunya pasti lebih lengkap dan sempurna pula, dan agama yang paling diredhai-Nya.

Sebagian ajaran agama-agama tauhid pada kitab-kitab tauhid selain Al-Qur'an, juga secara alamiah tidak terlindungi dari campur tangan manusia (di luar para nabi-Nya yang menyampaikannya), terutama karena usia ajaran-ajarannya telah ratusan tahun sebelum diturunkan-Nya Al-Qur'an; ajaran-ajarannya kurang lengkap dan kurang sesuai bagi kehidupan umat yang terus berkembang; dokumentasinya relatif lebih sederhana; dsb.

Ijin-Nya

»

Ijin Allah atas setiap perbuatan makhluk-Nya, yang "tidak terlalu melampaui batas" (tidak berbuat zalim, atau tidak berusaha 'menentang' aturan-Nya).

Jika sebaliknya, maka makhluk-Nya itupun akan tertimpa azab-Nya melalui aturan-Nya (sunatullah).

Karena sesuatu kezaliman bisa menimbulkan kerusakan yang relatif amat parah secara lahiriah dan batiniah, akibat menganiaya berbagai zat ciptaan-Nya (diri sendiri, orang-lain, alam, dsb) secara melampaui batas.

Perbuatan yang diijinkan-Nya itu bisa bersifat positif (dengan keredhaan-Nya) ataupun negatif (tanpa keredhaan-Nya), tergantung pada niat dan cara ketika hal itu dilakukan.

Siapanpun bisa memperoleh ijin-Nya (orang beriman ataupun orang kafir, malaikat ataupun iblis), hanya kecuali bagi orang-orang yang berbuat zalim.

Dari sini bisa dipahami pula, bahwa iblis misalnya pada dasarnya tidak memiliki kekuasaan sama sekali untuk memaksa manusia (sama sekali tidak memiliki unsur penganiayaan atau kezaliman), karena tiap manusia pasti tetap memiliki otoritas sepenuhnya, untuk memilih mengikuti pengaruh iblis ataupun tidak. Sehingga jin, syaitan dan iblis pada dasarnya "hanyalah sekedar" bisa menggoda atau menguji keimanan manusia. Walau "pengaruh perbuatan" mereka itu tetap harus dilaknat, agar manusia selalu mewaspadainya.

Karena itulah jin, syaitan dan iblis juga Al-Qur'an disebut telah mendapatkan ijin-Nya untuk menggoda manusia.

Justru perbuatan orang-orang yang berbuat zalim, yang pengaruhnya jauh lebih berbahaya, karena pengaruh iblis telah berwujud langsung secara lahiriah, dan biasanya juga amat mempengaruhi berbagai zat ciptaan-Nya lainnya di sekitarnya.

Balasan-Nya

»

Berbagai 'hadiah' (positif & negatif, lahiriah & batiniah, di dunia & di akhirat) yang setimpal dari Allah kepada setiap makhluk-Nya, semata berdasar atas hasil dari tiap amal-perbuatan makhluk-Nya itu sendiri.

Misalnya berupa: pahala-Nya, rejeki-Nya, karunia-Nya, rahmat-Nya, hikmah dan hidayah-Nya, azab-Nya, beban dosa, dsb.

Termasuk 'hadiah' terakhir di Hari Kiamat, berupa Surga (rahmat-Nya atau pahala-Nya yang paling baik) dan Neraka (azab-Nya yang paling buruk).

Pemberian segala macam "hadiah" ini juga melalui aturan-Nya (sunatullah).

Hukuman-Nya /
Siksaan-Nya

»

Balasan-Nya yang bersifat negatif (di dunia & di akhirat), seperti: azab-Nya, beban dosa, dsb, dari hasil berbagai amal-keburukan makhluk-Nya. Hal ini sama sekali bukan karena Allah menganiayanya.

Di Hari Kiamat, hukuman atau siksaan-Nya ini biasanya cukup disebutkan sebagai 'Neraka' (azab-Nya yang paling buruk).

Dan ujian-Nya sama sekali bukan suatu bentuk hukuman atau siksaan-Nya (walau seolah-olah terasa sama-sama memberatkan atau menyiksa), karena ujian-Nya justru sama sekali tidak terkait langsung ataupun tidak, dengan tiap amal-perbuatan makhluk-Nya yang mengalaminya.

Nikmat-Nya /
Penghargaan-Nya

»

Balasan-Nya yang bersifat positif ataupun netral (secara lahiriah & batiniah, di dunia & di akhirat), seperti: pahala-Nya, rejeki-Nya, rahmat-Nya, hikmah dan hidayah-Nya, dsb, dari hasil berbagai amal-perbuatan makhluk-Nya, selain amal-keburukan.

Di Hari Kiamat, nikmat atau penghargaan-Nya ini biasanya cukup disebut sebagai 'Surga' (rahmat atau pahala-Nya yang paling baik).

Rahmat-Nya /
Karunia-Nya

»

Serupa dengan nikmat-Nya, yang bisa memudahkan ataupun meringankan tiap makhluk-Nya dalam menjalani kehidupannya (lahiriah & batiniah, di dunia & di akhirat).

Tetapi pemakaian rahmat-Nya ini bisa bersifat positif (dengan keredhaan-Nya) ataupun negatif (tanpa keredhaan-Nya), tergantung kepada niat dan cara berusaha memperolehnya, terutama lagi kepada cara pemakaiannya. Siapanpun justru bisa memperolehnya (orang beriman ataupun orang kafir).

Namun karunia-Nya lebih sering dikaitkan dengan rejeki-Nya (rahmat-Nya secara lahiriah).

Pahala-Nya

»

Balasan-Nya yang bersifat batiniah dan positif.

Kebalikan dari beban dosa (batiniah dan negatif).

Dosa /
Beban dosa

»

Balasan-Nya yang bersifat batiniah dan negatif.

Kebalikan dari Pahala-Nya (batiniah dan positif).

Namun tidak pernah disebut "Dosa-Nya", karena memang bukan suatu keredhaan-Nya untuk memberinya kepada makhluk-Nya.

Rejeki-Nya

»

Rahmat-Nya yang bersifat lahiriah, bisa positif atau negatif.

Biasanya dikaitkan dengan uang, harta atau kekayaan, tetapi terkadang pula terkait dengan tahta, jabatan atau kekuasaan duniawi.

Berkah-Nya

»

Hasil keuntungan bagi tiap makhluk-Nya (lahiriah dan khususnya batiniah), akibat 'hasil pengaruh' dari berbagai amal-kebaikan ataupun pengajaran dari makhluk-Nya lainnya.

Berlaku sesuai dengan ijin-Nya, kehendak-Nya ataupun pada puncaknya sesuai dengan aturan-Nya (sunatullah).

Ujian-Nya /
Cobaan-Nya

»

Segala kesulitan (lahiriah dan batiniah) yang dihadapi makhluk-Nya, yang diberikan oleh Allah secara tidak langsung (atau bagian dari rencana-Nya), untuk menguji manusia, siapa yang beriman dan yang kafir kepada-Nya.

Disebut 'tidak langsung', karena ujian-Nya pada dasarnya hanyalah berupa hasil interaksi (langsung ataupun tidak) dari segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini (nyata-lahiriah & gaib-batiniah, makhluk hidup & benda mati).

Proses kedatangannya melalui aturan-Nya (sunatullah), yang pasti dialami dan berlaku dan sama untuk tiap manusia (tanpa pilih kasih).

Para nabi-Nya pasti selalu pula menghadapi berbagai bentuk cobaan atau ujian-Nya, namun mereka relatif telah bisa diatasinya (terutama secara batiniah).

Azab-Nya

»

Hukuman-Nya yang amat setimpal bagi makhluk-Nya, atas tiap amal-keburukannya sendiri, yang telah amat melampaui batas (berbuat kezaliman).

Azab-Nya disebut juga hukuman-Nya yang paling berat, di dunia ataupun di akhirat. Maka azab-Nya berupa Neraka pada Hari Kiamat, pada dasarnya hanyalah karena umat telah menzalimi dirinya sendiri pada kehidupannya di dunia.

Jaminan-Nya /
Janji-Nya

»

Segala sesuatu hal yang bisa diharapkan oleh segala makhluk-Nya dari Allah, yang pasti akan dipenuhi-Nya.

Seperti misalnya: segala balasan-Nya yang amat setimpal atas tiap amal-perbuatan makhluk-Nya pasti diberikan oleh Allah (lahiriah & batiniah, di dunia & akhirat); pasti akan datangnya di Hari Kiamat, untuk membuktikan ke-Maha Adil-an Allah, berikut diberikan-Nya Surga dan Neraka; segala hakekat dan kebenaran-Nya, pasti akan dibukakan-Nya pada Hari Kiamat, untuk menyelesaikan segala bentuk perselisihan antar makhluk-Nya; semua aturan-Nya (sunatullah) tetap pasti berlaku; dsb.

Khalifah-Nya

»

Manusia, yang telah diberi tugas atau amanat oleh Allah untuk berkuasa di dunia (menjadi Khalifah-Nya di muka Bumi).

Hal ini justru berwujud berupa kekuasaan pada tiap manusia, untuk bisa bebas sepenuhnya memilih dan mengatur keadaan alam batiniah ruhnya sendiri (alam akhiratnya), selama dalam kehidupan dunianya.

Hal ini dengan diberikan-Nya nikmat kelebihan berupa 'akal' (kebebasan memilih) dan 'nafsu' (semangat atau keinginan) kepada tiap manusia. Hanya manusia yang memiliki akal dan nafsu yang 'sempurna' secara bersamaan.

Sedang kekuasaan atau perbuatan manusia secara lahiriah relatif sangat terbatas (walau pada dasarnya tetap relatif lebih berkuasa atas segala makhluk lainnya).

Penunjukan sebagai khalifah-Nya ini, sebenarnya juga sesuatu cobaan atau ujian-Nya bagi manusia. Apakah tiap manusia memang bisa membuktikan kesempatan besar yang diberikan-Nya di atas segala makhluk-Nya lainnya, untuk bisa meraih kemuliaannya?.

Maka setelah Hari Kiamat atau setelah kematiannya, kekuasaan dan kenikmatan sebagai khalifah-Nya itu dengan sendirinya telah berakhir, karena manusia telah harus mempertanggung-jawabkan pula tiap amal-perbuatannya di dunia, setelah manusia diberikan-Nya nikmat kelebihan ataupun amanat dari Allah seperti itu, yang tidak dimiliki oleh segala zat makhluk-Nya lainnya.

Segala zat makhluk-Nya selain manusia justru relatif hanya bertugas mendukung proses penggodokan manusia secara lahiriah dan batiniah, sekaligus mendukung kehidupan manusia di dunia ini, dan menjadi bahan pengajaran-Nya yang amat melimpah ruah bagi manusia.

Mereka juga tidak mengalami cobaan atau ujian-Nya seperti pada manusia, karena hanya manusia yang memiliki nafsu, dan tepatnya nafsu mereka amat stabil. Nafsu-keinginan mereka hanya semata demi mengabdi kepada Allah. Dan mereka pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah dan amanat-Nya.

Ciptaan-Nya /
Kepunyaan-Nya /
Milik-Nya

»

Segala sesuatu hal yang diciptakan oleh Allah (nyata-lahiriah dan gaib-batiniah), khususnya yang terkait dengan penciptaan alam semesta ini, seperti: segala sesuatu "zat" yang ada di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah, mati dan hidup, nyata dan gaib); segala aturan-Nya (sunatullah) yang mengatur segala proses di alam semesta ini; segala pengajaran dan tuntunan-Nya; segala kebenaran-Nya; dsb.

Maka ciptaan-Nya bisa berupa 'zat' dan 'non-zat', namun ciptaan-Nya umumnya lebih dikaitkan dengan "zat-zat" nyata ataupun gaib.

Makhluk-Nya /
Makhluk gaib-Nya /
Makhluk hidup-Nya /
Malaikat-Nya /
Hamba-Nya

»

Segala "zat" ciptaan-Nya yang memiliki ruh-Nya (dengan atau tanpa tubuh wadah, nyata atau gaib), yaitu: makhluk nyata (manusia, hewan, tumbuhan dan sel) dan makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis).

Ruh-Nya

»

Zat paling dasar pembentuk kehidupan makhluk-Nya, dan bersifat gaib.

Terdiri dari berbagai jenis dan sifatnya masing-masing (tergantung kepada jenis dan sifat dari tubuh wadah masing-masing makhluk-Nya).

Ada ruh yang bersifat memerlukan tubuh wadah, agar bisa hidup sebagai makhluk-Nya yang utuh dan lengkap (makhluk nyata), ada pula yang tidak (makhluk gaib), karena relatif tetap berbentuk ruh saja.

Amanat-Nya /
Tugas dari-Nya

»

Tiap zat Makhluk-Nya dan bahkan tiap zat ciptaan-Nya, memiliki tugas-tugasnya masing-masing yang diberikan oleh Allah, sejak awal penciptaan alam semesta.

Selain manusia, segala zat ciptaan-Nya pasti tunduk dan mengikuti segala perintah-Nya. Dan mereka mendapat tugas untuk mendukung kehidupan manusia dan mendukung tegak-kokohnya alam semesta ini. Sekaligus bertugas memberi bahan pengajaran dan tuntunan-Nya yang amat melimpah ruah bagi manusia, secara lahiriah dan batiniah, agar bisa mengenal Allah, dan agar bisa mengabdi kepada Allah.

Sedangkan manusia (dengan nikmat kelebihan nafsu dan akal yang sempurnanya) mendapat tugas sebagai khalifah-Nya di muka Bumi (penguasa di dunia), sekaligus ia pasti diuji oleh Allah, apakah ia mau beriman dan mengikuti tiap perintah-Nya ataupun tidak, setelah ia mendapat nikmat kelebihan itu?.

Hisab-Nya /
Penilaian-Nya /
Perhitungan-Nya

»

Proses penimbangan (penghisaban) atas nilai amal-perbuatan tiap manusia oleh Allah pada Hari Kiamat, untuk menentukan, apakah jumlah nilai amal-kebaikannya lebih banyak daripada nilai amal-keburukannya.

Seperti disebut dalam Al-Qur'an, proses penghisaban ini berlangsung amat sangat cepat.

Setelah dibukakan-Nya segala kebenaran-Nya, maka sekaligus pula semakin jelas terjawab segala ketidak-tahuan, keraguan dan perselisihan manusia, dan "otomatis" pula, tiap manusia menjadi tahu dengan jelas, nilai amal-kebaikan (pahala) atau keburukan (beban dosa) dari tiap amal-perbuatannya.

Hal ini sering disebut dalam Al-Qur'an sebagai disempurnakan-Nya segala pahala dan beban dosa tiap manusia, sebesar biji zarrah sekalipun. Dan hal ini berupa disempurnakan-Nya keadaan batiniah ruh manusia sesuai dengan segala pahala dan beban dosa yang telah diperolehnya selama di dunia.

Nilai tiap amal-perbuatan itu ditimbang atau dihisab-Nya jumlahnya dengan sangat adil, tanpa manusia dianiaya-Nya (tanpa menanggung beban-beban dosa manusia lainnya). Dari jumlah nilai amalan hasil timbangan itu, maka jelas bisa diketahui, apakah nilai amal-kebaikannya lebih banyak daripada amal-keburukannya.

Jika nilai amal-kebaikannya lebih banyak, maka ia akan mendapat pahala-Nya yang terbaik (Surga), dan jika sebaliknya, ia akan mendapat siksaan-Nya yang terburuk (Neraka). Surga dan Neraka memiliki berbagai tingkatan.

 

Keterangan tabel:

Semua definisi istilah di atas diturunkan berdasarkan dari seluruh pemahaman pada buku ini. Maka pengertian ataupun uraiannya bisa tampak berbeda dari definisi pada sumber-sumber lainnya.

Sehingga tiap definisi istilah di atas, sebaiknya agar dicermati lebih mendalam.

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

2 Balasan ke Lampiran B Daftar istilah1

  1. Roni Syah berkata:

    yang anehnya,.Allah menciptakan manusia sempurna,.mendengar,melihat,berbicara,.memiliki akal dan fikiran,.tiba2 kita merasa jauh lebih sempurna dengan mengatakannya sebagai ” zat “..lalu,.dengan ” zat ” apa nabi musa bercakap cakap di lembah thuwa,.apakah ” zat ” mampu rthidup dan berdiri sendiri..

    • Syarif Muharim berkata:

      Terima kasih atas koreksinya. Saya biasanya menyebutkan “Zat” / “ZAT” bagi Allah. Sedangkan bagi ciptaan-Nya, saya biasanya menyebutkan “zat” (huruf kecil semua).
      Tampaknya saya tidak cukup teliti, memeriksa sendiri 1000 lebih halaman ‘buku’ ini.

      Keyakinan saya, Nabi Musa as mustahil bercakap-cakap langsung dgn Zat Allah. Mestinya beliau hanya bisa bercakap-cakap melalui malaikat utusan-Nya.

      Allah Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri.

      Wallahu a’lam. Salam…

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s