Otentisitas teks kitab suci Al-Qur’an, tak-ternilai harganya

Otentisitas teks kitab suci Al-Qur’an, tak-ternilai harganya

Wacana untuk melakukan 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' atas kitab suci Al-Qur'an, yang
mulai berkembang di kalangan para cendikiawan Muslim, pada dasarnya sama halnya dengan berusaha mengulangi kesalahan sejarah, yang telah dilakukan oleh umat
Nasrani, yang menyusun banyak versi kitab Injil, dan bahkan bukan disusun
langsung oleh Yesus sendiri (nabi Isa as). Maka umat Islam tentunya
mestinya tidak melakukan kesalahan yang serupa pula.

Pada sebagian dari para cendikiawan Muslim dan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi agama Islam, telah mulai berkembang wacana 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' atas kitab suci Al-Qur'an. Para cendikiawan seperti ini boleh jadi tidak menyetujui pemahaman secara 'tekstual-harfiah' atas teks ayat-ayatnya. Juga boleh jadi hendak mencari solusi bagi segala persoalan pemahaman umat Islam atas kitab suci Al-Qur'an. Namun justru wacana 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' itu telah salah kaprah, dan tidak menempatkan 'kitab suci agama' sebagaimana semestinya.

Teks kitab suci Al-Qur'an yang terus-menerus tetap terjaga 'otentisitas'-nya, justru tak-ternilai harganya bagi pembentukan keyakinan beragama seluruh umat Islam ataupun bahkan seluruh umat manusia. Usaha 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' tersebut justru bisa menghancurkan salah-satu pondasi yang amat mendasar dalam keyakinan beragama. Juga bisa menimbulkan amat banyak persoalan yang menyangkut 'kitab suci', belum lagi segala persoalan lainnya yang menyertainya, yang bahkan barangkali belum diperhitungkan atau dibayangkan oleh para cendikiawan Muslim itu.

Perkembangan atas wacana itu tentunya amat mengecewakan dan mestinya segera dihentikan. Jika tujuan mereka itu memang hendak mencari solusi bagi segala persoalan pemahaman umat Islam atas kitab suci Al-Qur'an, tentunya mestinya bukan dengan usaha 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' atas kitab suci Al-Qur'an, namun mestinya dengan usaha memperbaiki langsung tiap pemahaman itu sendiri.

Segala bentuk pemahaman atas ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an, tidak akan pernah bersifat sakral sampai kapanpun, karena memang hanya semata milik dan berasal dari tiap pribadi-individu dan kelompok umat. Namun di lain pihaknya, kitab suci Al-Qur'an justru mestinya terus-menerus tetap dijaga kesakralannya, karena memang milik seluruh umat Islam ataupun bahkan seluruh umat manusia, dari umat yang paling awam sampai umat yang paling berilmu, serta tentunya langsung berasal dari nabi Muhammad saw sendiri.

Dengan adanya usaha 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' itu misalnya, tentunya kitab suci Al-Qur'an yang 'baru', yang akan dihasilkanpun, justru sama sekali tidak akan bersifat sakral. Khususnya karena bukan langsung berasal dari seorang nabi-Nya, yang memang memiliki pemahaman yang relatif sempurna tentang kebenaran-Nya (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya). Maka “apakah para cendikiawan Muslim penggagas wacana 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' itu, memang benar-benar telah memiliki kesempurnaan pemahaman seperti halnya pada para nabi-Nya (terutama nabi Muhammad saw)?. Jika keseluruhan pemahaman mereka belum relatif sempurna, atau bahkan hanya semata diilhami dari berbagai risalah para nabi-Nya (tidak membawa berbagai hal yang baru, dan tidak lebih baik daripada ajaran-ajaran para nabi-Nya), tentunya mereka juga belum pantas untuk menyusun sesuatu 'kitab suci'.

Para cendikiawan Muslim itu justru mestinya belajar dari pengalaman umat Nasrani (Kristiani), yang menyusun banyak versi kitab Injil, dan bahkan bukan disusun langsung oleh Yesus sendiri (nabi Isa as), yang juga sekaligus telah menimbulkan perpecahan dan perselisihan di kalangan umat Nasrani. Hal ini tentunya berbeda daripada perpecahan dan perselisihan di kalangan umat Islam, yang justru hanya berbeda pada tingkat pemahaman, namun tetap memakai kitab suci Al-Qur'an yang 'sama'. Segala perbedaan pemahaman di kalangan umat Islam, tentunya mestinya tidak menimbulkan perpecahan dan perselisihan yang relatif lebih keras dan parah, daripada apabila ada perbedaan kitab suci yang dipakai (mestinya tidak mudah saling mengkafirkan antar umat Islam sendiri).

Para cendikiawan Muslim itu mestinya jauh lebih baik, jika bisa menghasilkan kitab tafsir, kitab hikmah atau buku-buku keagamaan lainnya, untuk bisa makin memperbaiki tingkat pemahaman umat Islam, tentang tiap kebenaran-Nya. Namun sama sekali bukan dengan menyusun berbagai kitab suci Al-Qur'an yang 'baru', yang justru relatif tidak akan pernah selesai tuntas, bahkan sampai akhir jaman, melalui usaha-usaha 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi', dari jaman ke jaman. Dan juga lebih baik bagi para cendikiawan Muslim itu, untuk tetap beriman kepada kitab suci Al-Qur'an, walaupun barangkali mereka memang tidak menyetujui pemahaman secara 'tekstual-harfiah' atas ayat-ayatnya.

“Dia-lah Yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur`an) kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi dari Al-Qur`an, dan yang lainnya (ayat-ayat) yang mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat, untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya, melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: `Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb-kami`. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya), melainkan orang-orang yang berakal.” – (QS.3:7).

Walaupun seluruh uraian-pembahasan dalam buku “Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW” dan dalam blog ini, pada dasarnya sejauh mungkin berusaha menghindari pemahaman secara 'tekstual-harfiah' atas ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Di lain pihaknya, justru keotentikan dan kesakralan teks kitab suci Al-Qur'an, adalah suatu yang mestinya terus-menerus tetap dipertahankan oleh tiap umat Islam yang beriman, bahkan tidak bisa ditawar-tawar, karena memang tak-ternilai harganya. Sebaliknya, tiap wacana dan usaha untuk melakukan 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' atas kitab suci Al-Qur'an, mestinya bisa sejauh mungkin dihindari, atau bahkan dihentikan dan dihilangkan, antara-lain karena:

Berbagai kelemahan pada usaha dekonstruksi dan
desakralisasi atas kitab suci Al-Qur'an

a.

Teks kitab suci adalah sumber dasar utama keyakinan umat beragama, yang tidak bisa tergantikan, dan mestinya tetap terjaga otentik dengan cara bagaimanapun, terutama untuk bisa menghindari timbulnya segala bentuk keraguan umat.
Sekali teks ayat kitab suci diubah, maka relatif mulai hancur pula pondasi yang paling dasar dan utama bagi keyakinan batiniah umat, atas agamanya.
Karena tiap kitab-Nya (Al-Kitab / kitab tauhid / “ayat-ayat-Nya yang tertulis”), adalah sumber pengajaran dan tuntunan-Nya yang paling lengkap dan sempurna, yang dimiliki oleh seluruh umat manusia di tiap jamannya.

b.

Tiap usaha perubahan atas teks-teks kitab suci, pada dasarnya sama halnya dengan membuka suatu 'kotak pandora', karena relatif pasti diikuti pula oleh berbagai usaha perubahan berikutnya, yang relatif tidak akan pernah selesai tuntas, bahkan sampai akhir jaman.

c.

Dengan telah berakhirnya jaman para nabi-Nya dahulu, justru keotentikan teks kitab-Nya menjadi suatu 'harga mati' (tidak bisa ditawar-tawar untuk diubah-ubah), karena teks kitab suci justru tak-ternilai harganya, dan bahkan barangkali juga amat sulit bisa dibayangkan nilainya oleh sebagian umat.

Hanya para nabi-Nya yang telah diberikan-Nya wahyu-Nya, sedangkan tiap wahyu-Nya yang berada di dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya (berupa tiap Al-Hikmah), adalah tiap pemahaman dalam satu-kesatuan bangunan pemahaman, yang seluruhnya berupa pemahaman Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), yang telah tersusun relatif 'sempurna' (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya).
Di antara seluruh umat manusia di tiap jamannya, memang hanya para nabi-Nya yang relatif 'paling lengkap dan sempurna' bisa memahami kebenaran-Nya.

Bahkan hanya semata para rasul-Nya (sebagian dari para nabi-Nya), yang memiliki kapasitas untuk menyusun kitab-Nya. Serta kitab suci Al-Qur'an adalah kitab-Nya yang paling akhir, lurus, lengkap dan sempurna.

Sedangkan setelah wafatnya nabi Muhammad saw, sebagai nabi / rasul-Nya yang terakhir, tentunya pemahaman seluruh umat manusia selanjutnya, secara alamiah pada dasarnya 'relatif' jauh di bawah kesempurnaan pemahaman Nabi, atas seluruh wahyu-Nya yang diperolehnya, dan telah terungkap melalui kitab suci Al-Qur'an.

Maka tiap hasil perubahan atas teks kitab suci, pada dasarnya juga pasti tetap bersifat 'relatif', walaupun makna tekstual-harfiahnya barangkali memang bisa menjadi lebih baik.

d.

Teks kitab suci memang relatif amat terbatas, untuk bisa mengungkap seluruh makna yang sebenarnya dimaksud pada wahyu-wahyu-Nya, yang berada di dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya (berupa Al-Hikmah).
Juga teks-teks kitab suci memang sengaja diringkas dan disederhanakan, agar relatif lebih mudah bisa dipahami dan diamalkan oleh umat pada umumnya.

Namun justru hanya melalui teks wahyu-Nya (berupa ayat Al-Kitab), yang relatif amat ringkas dan sederhana itu, tiap umat (termasuk umat yang awam) bisa 'mulai' berusaha memahami makna-makna yang sebenarnya di balik teks-teksnya.

Lalu umat yang awam bisa perlahan-lahan makin memperdalam pemahamannya, sejalan dengan makin bertambah luasnya pengetahuannya. Sehingga umat yang awam justru tidak dipaksa, untuk meloncat langsung ke tingkat pemahamannya umat yang berilmu tinggi (jika wahyu-Nya disampaikan secara mendalam).

Bagi umat yang berilmu, tentunya bisa meningkatkan pemahamannya atas tiap kebenaran-Nya, melalui segala bahan bacaan lainnya dari berbagai bidang ilmu (ilmu agama dan non-agama), yang telah disusun oleh para alim-ulama dan para cendikiawan Muslim terdahulu.
Bahkan jika bahan-bahan itu memang belum memuaskannya, umat yang berilmu bisa pula mempelajari sendiri kitab suci Al-Qur'an, secara relatif amat cermat, obyektif, mendalam, utuh dan menyeluruh.

Maka amat tidak relevan bagi umat yang berilmu, untuk berusaha mengubah-ubah teks kitab suci, apalagi jika hanya untuk kepentingan dan kepuasan pribadinya.

e.

Agama-Nya bukan hanya milik dan hanya untuk umat yang relatif amat tinggi dan mendalam ilmu agamanya, tetapi justru milik dan untuk seluruh umat manusia.

Bahkan umat yang awam justru mayoritas jumlahnya dari seluruh umat beragama.
Maka teks kitab suci agama-Nya, mestinya bisa dipakai oleh seluruh umat manusia (dari umat yang paling awam sampai umat yang paling berilmu).

f.

Teks kitab suci yang tetap otentik, justru bisa makin mudah dihapal oleh tiap umat. Makin banyak umat yang menghapalnya, sebaliknya justru bisa makin terjaga keotentikannya, sekaligus makin terhindar dari segala perubahan dan campur tangan manusia.
Jika teks kitab suci diubah-ubah, dengan sendirinya hilang-musnah pula segala usaha dan potensi amat besar dari para penghapal kitab suci.

g.

Kitab suci adalah alat pemersatu seluruh umat penganut sesuatu agama, begitu pula bahasa yang dipakai di dalamnya, adalah bahasa pemersatu (lingua franca).

h.

Pemahaman atas makna-makna dalam tiap ajaran agama, hanya milik tiap pribadi-individu dan kelompok umat, dari hasil mempelajari teks kitab sucinya, dengan cara pandang yang berbeda-beda dan tanpa batas-ukuran (bersifat relatif). Maka pemahaman dan maknanya itupun tentunya justru pasti bersifat 'tidak sakral'.

Sebaliknya teks kitab suci justru bersifat 'sakral', karena dipakai oleh 'seluruh' umat, walaupun pemahaman dan makna secara tekstual-harfiahnya memang bentuk pemahaman dan makna yang relatif paling sederhana (langsung bisa terbaca dari teksnya, bahkan relatif tanpa perlu dipelajari sama sekali, dan cukup dihapal saja).

Sehingga usaha desakralisasi atas 'teks' kitab suci yang justru mestinya dihindari, yang amat berbeda daripada desakralisasi 'makna' di dalamnya. Tiap umat relatif bisa lebih bebas dalam memaknai tiap teks kitab suci, asalkan ia tidak terlalu melenceng jauh dari dasar-dasar pokok ajaran agama-Nya.

i.

Nilai kemudharatan dari tiap usaha mengubah-ubah teks kitab suci, justru amat jauh lebih besar, daripada segala keuntungan bagi umat yang mengubahnya (misalnya, bisa memiliki dan mengungkap pemahaman yang relatif jauh lebih mendalam, daripada sekedar pemahaman secara tekstual-harfiahnya).

Padahal nilai kemanfaatan dari keotentikan teks kitab suci justru telah amat sangat jelas, dan juga menyangkut kehidupan beragama seluruh umat manusia.
Sedangkan pemahaman umat atas tiap kebenaran-Nya, justru pasti tetap bersifat 'relatif' (mustahil bisa bersifat 'mutlak' atau 'pasti benar', yang hanya semata hak-milik Allah, Yang Maha Mengetahui). Dan tiap pemahaman umat juga hanya menyangkut umat itu sendiri (beserta umat-umat lainnya yang mengikutinya).

Pemahaman 'relatif', namun juga relatif paling lengkap dan sempurna tentang kebenaran-Nya, yang bisa dicapai oleh seluruh umat manusia di tiap jamannya, adalah pemahaman pada para nabi-Nya, yang sebagian darinya (hanya beberapa para nabi-Nya), telah pula mengungkapnya melalui kitab-kitab-Nya.
Sehingga pemahaman 'relatif' pada para nabi-Nya juga relatif paling dekat, terhadap kebenaran 'mutlak' milik Allah di alam semesta ini.

Maka pernyataan seperti “Al-Quran bisa dipandang sakral secara substansi, tetapi tulisannya tidak sakral.”, adalah pernyataan yang amat keliru dan aneh (terbalik).
Apa yang bisa disakralkan dari pemahaman atas 'substansi' Al-Quran, yang sama sekali tidak berbentuk atau gaib (berupa pemahaman)?. Jawabannya 'Tidak bisa'.
Bahkan pemahaman atas 'substansi' Al-Quran justru pasti tetap bersifat 'relatif' (tidak pasti benar), dan tentunya juga tidak akan pernah bersifat 'sakral'.
Bahkan juga “apa yang bisa disakralkan, dari seluruh pemahaman 'substansi' yang berada di dalam pikiran para nabi-Nya?”.

Sedangkan teks dan mushaf kitab suci Al-Quran justru mestinya tetap disakralkan, sebagai “ayat-ayat-Nya yang tertulis” (Al-Kitab / kitab-Nya), yang paling akhir, lurus, lengkap dan sempurna, yang dimiliki oleh seluruh umat manusia.
Sehingga relatif paling aman dan mudah bagi tiap umat manusia, untuk bisa memahami kebenaran-Nya di alam semesta ini (“ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis”), dengan 'memulai' mempelajarinya dari kitab suci Al-Quran.

Walaupun tiap umat manusia (terutama umat-umat yang amat berilmu), tentunya juga bisa langsung (ataupun sambil) mempelajarinya dari “ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis” itu, yang justru bersifat mutlak, kekal, universal, alamiah dan gaib (tersembunyi), seperti halnya yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya.

j.

Amat aneh bisa timbul pernyataan, seperti “otentisitas kitab suci Al-Quran perlu digugat”, dari sebagian kecil kalangan ahli ilmu agama, khususnya hanya karena makna secara teksual-harfiah atas bunyi teks ayat-ayat Al-Qur'an, dianggap tidak sesuai dengan makna yang sebenarnya (Al-Hikmah).

Padahal “ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis” yang ada di alam semesta ini, “mustahil bisa dituliskan dengan tinta sebanyak beberapa samudera”. Maka kitab-kitab-Nya (termasuk kitab suci Al-Qur'an), adalah bentuk 'hasil rangkuman' atas keseluruhan pemahaman pada para nabi-Nya, dari hasil mempelajari “ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis” (sambil dituntun oleh para malaikat Jibril), terutama tentang segala hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah), seperti: Allah Yang Maha Pencipta, tujuan penciptaan alam semesta dan kehidupan makhluk, ruh, alam gaib dan akhirat, Hari Kiamat, dsb.
Bahkan teks hasil rangkuman inipun telah diringkas dan disederhanakan, agar umat bisa relatif mudah memahami dan mengamalkannya.

Sehingga dari teks ayat-ayat Al-Qur'an yang ringkas dan sederhana itu, tentunya tidak bisa 'langsung' diperoleh makna-makna yang sebenarnya, kecuali dengan mempelajarinya terlebih dahulu, secara relatif amat cermat, obyektif, mendalam, utuh dan menyeluruh.

Padahal ukuran otentisitas dari tiap teks tertulis, justru amat sederhana, bahwa teks itu memang berasal dari seseorang (ditulisnya sendiri ataupun tidak), yang diperkuat oleh sejumlah saksi.
Dan kitab suci Al-Quran jelas-jelas langsung berasal dari nabi Muhammad saw, walaupun memang ditulis oleh berbagai pengikutnya, dengan berragam format atau bentuknya (adanya berragam mushaf Al-Quran).

k.

Amat aneh bisa timbul suatu pernyataan, seperti “Al-Qur'an adalah perangkap bangsa Arab Quraisy”, atau “orang yang mensakralkan Al-Qur'an telah berhasil terperangkap siasat bangsa Arab Quraisy”.

Padahal kelahiran nabi Muhammad saw sebagai orang Arab, diturunkan-Nya kitab suci Al-Qur'an melalui bangsa Arab, ataupun penulisan kitab suci Al-Qur'an dengan menggunakan bahasa Arab, justru sama sekali bukan kehendak bangsa Arab.

Padahal kitab suci Al-Qur'an mestinya disakralkan, karena di dalamnya memang terkandung segala kebenaran-Nya, yang amat tinggi nilai kemuliaannya.
Hal ini amat berbeda dengan pensakralan Al-Qur'an, pada pernyataan sebagian ahli ilmu agama di atas, yang sebenarnya bukan suatu bentuk pensakralan, tetapi akibat adanya 'pemaksaan' kepada bentuk pemahaman secara tekstual-harfiah, oleh sebagian dari para alim-ulama.

Dari pernyataan di atas, 'seolah-olah' bangsa Arab Quraisy telah sengaja berusaha mengambil keuntungan, melalui 'pemaksaan' pemahaman secara tekstual-harfiah.
Hal ini sama sekali tidak beralasan, karena ada segala bentuk pemahaman yang berkembang di kalangan umat (bangsa Arab ataupun non-Arab), seperti: amat maju dan amat tradisional, amat utuh dan parsial, amat mendalam dan sederhana, secara tekstual-harfiah dan hakekat, dsb.

Padahal tidak ada satupun 'keuntungan' yang disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, yang khusus diberikan-Nya hanya bagi bangsa Arab, selain tentang: nabi Muhammad saw dari bangsa Arab, pemakaian bahasa Arab, ibadah haji ke Kota Mekah, dan shalat menghadap ke Ka'bah.
Dan hal-hal selain dari itu, diyakini relatif hanya disebut dalam hadits-hadits 'palsu'.

l.

Bahasa, huruf dan kertas memang hanya alat-sarana hasil budaya, tetapi makna-makna yang disampaikan oleh para nabi-Nya di dalam teks kitab suci agama-Nya (kitab-kitab-Nya), tidak berarti dengan sendirinya juga hasil budaya. Bahkan pada saat turunnya agama dan kitab-Nya, justru amat banyak membawa perubahan besar, bagi kehidupan dan budaya umat kaumnya para nabi-Nya.

Alat penyampaian (wadahnya) pasti tetap berbeda daripada makna yang disampaikan (isinya). Jika tidak dipisah antara wadah dan isi seperti itu (antara sumber dan hasil, antara awal dan akhir, dsb), maka segala sesuatu hal yang ada pada manusia, justru pasti bisa disebut 'produk budaya manusia'.

Padahal segala kebenaran di alam semesta ini justru yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', serta hanya milik dan berasal dari Allah semata, bagaimanapun cara penyampaiannya, pada kitab manapun tertulis ataupun siapapun penyampainya.
Segala kebenaran 'mutlak' dan 'kekal' seperti itu sama sekali berada di luar kekuasaan manusia, termasuk sama sekali tidak terkait dengan perbuatan dan budaya manusia.

Maka pernyataan seperti “Al-Quran adalah produk budaya manusia.”, adalah pernyataan yang amat keliru dan aneh. Sedangkan segala Al-Hikmah, yang terkandung 'di balik' teks ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an justru pada dasarnya bersifat 'mutlak', 'kekal' dan 'unversal'.

Apakah ada sesuatu hal yang diturunkan-Nya kepada manusia, yang tidak berwujud 'budaya'?. Jawabannya 'Tidak ada'. Semuanya pasti selalu melibatkan campur tangan manusia. Di lain pihak, Allah bersifat Maha Halus, Maha Gaib (tersembunyi), begitu pula segala tindakan-Nya di alam semesta ini, berupa segala proses kejadian yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten).

Orang beriman mestinya tidak mengeluarkan pernyataan seperti itu, karena diragukan apakah ia beriman kepada hal-hal gaib (Allah, para malaikat, ruh, takdir-Nya, Hari Kiamat, alam akhirat, dsb).

Harap baca pula topik “Kitab-kitab Tuntunan-Nya (Kitab-kitab Tauhid)“, tentang Al-Qur'an bukan produk budaya manusia.

m.

Hasil budaya dengan nilai-makna yang bersifat 'relatif' dan 'temporer' di dalamnya, amat berbeda daripada hasil budaya dengan nilai-makna yang bersifat 'mutlak', 'kekal' dan 'universal' di dalamnya. Walaupun semua nilai-makna ini memang pasti berada di balik hal-hal yang tampak, dan sekaligus hasil buatan manusia.

n.

Hanya dari teks kitab suci, seluruh umat manusia bisa mendapat pengajaran dan tuntunan-Nya, dengan relatif paling lengkap dan sempurna.
Walaupun tiap umat tentunya bisa memiliki tingkat kedalaman pemahaman yang berbeda-beda atas kitab sucinya, dari yang amat sederhana sampai yang amat mendalam. Di samping itu, juga bisa berbeda-beda tingkat kebenaran dan tingkat integritas pemahamannya.

Pemahaman yang relatif paling sempurna tentang kebenaran=Nya, adalah pemahaman yang relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya, seperti hanlnya pada para nabi-Nya.

Sama sekali bukan kewajiban bagi tiap umat kepada umat lainnya, untuk 'memaksa' mau mengikuti pemahamannya (walaupun dianggapnya relatif lebih benar dan lebih mendalam sekalipun). Dalam agama Islam, kewajiban itu hanya semata berusaha memberi pengajaran tentang kebenaran=Nya (akan diikuti ataupun tidak), seperti hanlnya yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya, dari jaman ke jaman.

o.

Secara batiniah, justru relatif pasti berkurang pula nilai penghargaan seorang umat, terhadap segala nilai-makna yang amat luhur dan mulia, yang terkandung di dalam teks kitab suci, jika ia sendiri menginjak-injak teksnya.

Walaupun hal itu dilakukannya, misalnya hanya karena ia tidak menyetujui dan tidak menghargai makna-makna secara tekstual-harfiahnya, termasuk karena kekecewaannya kepada sebagian umat lainnya, yang justru hanya memahami ajaran-ajaran agama secara tekstual-harfiah.

Ibarat sederhananya, terlalu berlebihan jika seorang mahasiswa menginjak-injak buku pelajaran bagi siswa SD, SLTP atau SLTA, hanya karena buku itu telah tidak sesuai lagi baginya. Padahal ia relatif hanya bisa menjadi mahasiswa, setelah membaca buku itu, yang juga masih diperlukan oleh seluruh para siswa yunior.

Begitu pula, mestinya si mahasiswa tidak memaksakan diri untuk mengajari siswa-siswa SD, jika buku-buku teks SD terasa terlalu sederhana baginya. Justru ia mestinya mengajari siswa-siswa yang lebih tinggi tingkatan ilmunya.

p.

Kekecewaan sebagian alim-ulama kepada alim-ulama lain, yang bersifat konservatif atau ortodoks, yang hanya semata memahami ajaran-ajaran agama secara tekstual-harfiah, sama sekali bukan alasan, untuk perlu mengubah-ubah teks kitab sucinya.

Walaupun kekecewaan ini memang amat beralasan, karena makna secara tekstual-harfiah dari teks ayat-ayat kitab suci, adalah hasil pemahaman yang relatif paling sederhana. Termasuk karena penyampaian tiap teks tertulis memang amat tergantung kepada konteks ruang, waktu dan budaya umat, ketika disampaikan.
Sedangkan makna yang sebenarnya (Al-Hikmah) mestinya bersifat 'universal' (bisa melewati batas ruang, waktu dan budaya).

Makna secara tekstual-harfiah itu justru masih amat perlu untuk dipakai, sebagai pengajaran awal dan sementara bagi umat-umat yang awam. Lalu secara alamiah, pemahaman dan maknanya juga relatif akan makin sempurna, sejalan dengan makin bertambahnya pengetahuan umat.
Dari segi pengamalannya, justru terus-menerus bisa diperbaiki, melalui hasil-hasil ijtihad dari para alim-ulama di tiap negeri dan jamannya, terutama atas tiap makna secara tekstual-harfiah yang telah tidak sesuai lagi bagi pengamalannya.

Masing-masing alim-ulama memiliki wilayah dakwah tertentu yang sesuai (ada bagi umat yang awam dan bagi umat yang berilmu, dengan berbagai tingkatannya).

Asalkan tiap alim-ulama tidak bersikap berlebihan; tidak merasa paling benar sendiri; terus-menerus mau membuka diri menerima tiap kebenaran-Nya; dan para alim-ulama lainnya tidak amat mudah dituduhnya sebagai sesat (tanpa satupun dalil-alasan yang jelas dan kuat), maka atas ijin-Nya, tiap alim-ulama semacam ini telah berada pada jalan-Nya yang lurus atau benar.

q.

Ada banyak cara bagi tiap umat, untuk mengungkap segala bentuk pemahaman yang dimilikinya, tanpa harus berusaha mengubah-ubah teks kitab suci Al-Qur'an, misalnya melalui pintu 'ijtihad' ataupun melalui pembuatan buku-buku, untuk menyampaikan segala pemahaman yang dimiliki.

Ijtihad adalah sarana yang amat cerdas yang diajarkan dalam agama Islam, yang bisa dipakai oleh para alim-ulama dan umat-umat yang telah relatif tinggi ilmu agamanya, agar ajaran-ajaran agama-Nya bisa terus-menerus tetap aktual, sesuai dengan segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan umat manusia, di tiap negeri dan jamannya, bahkan sampai akhir jaman.
Namun karena tiap hasil ijtihad menyangkut kehidupan beragama seluruh umat, maka mestinya juga hanya dilahirkan oleh Majelis alim-ulama di tiap negeri dan jamannya.
Tentunya paling ideal, jika tiap hasil ijtihad terlahir berdasar seluruh pemahaman Al-Hikmah terkait, yang telah tersusun relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya.

Dan penyusunan dan penyampaian tiap hasil penafsiran atau ijtihad ini, mestinya dilakukan secara amat hati-hati dan arif-bijaksana, agar tidak pula melahirkan segala fitnah dan kemudharatan, yang jauh lebih banyak daripada kebaikannya.

r.

Relatif hampir tidak ada para alim-ulama terkemuka terdahulu, yang pernah berusaha mengubah-ubah teks kitab suci Al-Qur'an.

s.

Mestinya tiap umat tetap beriman kepada kitab-kitab-Nya, walaupun tiap umat bisa memiliki tingkat pemahaman yang relatif amat berbeda-beda, atas teks ayat-ayatnya (QS.3:7).

t.

Agama Islam amat berbeda daripada agama-agama lainnya yang telah mengandung kemusyrikan, karena tiap bentuk kemusyrikan justru mustahil diajarkan-Nya.

Segala bentuk kemusyrikan justru pasti berasal dari manusia sendiri. Dengan sendirinya, agama-agama musyrik dan bersifat materialistik, juga pada dasarnya hasil buatan dan hasil campur-tangan manusia, yang umumnya demi pemenuhan berbagai nafsu-keinginan dan kepentingan lahiriah-fisik-duniawinya.
Walaupun ada pula agama-agama musyrik, yang bukan disengaja demi pemenuhan nafsu-keinginan dan kepentingan tertentu, namun karena relatif amat terbatasnya pemahaman pada para penyampainya, atas kebenaran-Nya di alam semesta ini (terutama keterbatasan pemahamannya atas hal-hal gaib dan batiniah), sehingga pemahamannya juga cenderung menjadi bersifat materialistik.

Agama bagi sebagian para penganut kemusyrikan itu, umumnya tidak lebih dari suatu alat-sarana untuk bisa mendapat legitimasi moral, kolektif dan resmi, atas berbagai bentuk pemenuhan nafsu-keinginan dan kepentingan duniawinya.
Lalu kebenaran, kesakralan, integritas, validitas dan keotentikan teks kitab sucinya, relatif bukan hal-hal yang terlalu penting bagi mereka, kalau perlu teks kitab sucinya diubah-ubahnya, sesuai keadaan dan kebutuhannya di tiap jamannya.

Dan amat ironisnya, dengan tanpa malu-malu dan ragu-ragu, teks kitab suci yang telah diubah-ubahnya itu, justru tetap mereka sebut sebagai 'wahyu-Nya'.

u.

Tiap usaha perubahan atas teks kitab suci, sama halnya dengan makin memisahkan (menambah jarak), antara teks kitab suci dan wahyu-Nya. Karena tiap wahyu-Nya justru tidak berdiri sendiri dan terpisah, namun satu kesatuan yang utuh dan lengkap, dengan keseluruhan wahyu-Nya dalam suatu kitab-Nya.

Tiap wahyu-Nya yang berupa ayat kitab-Nya (Al-Kitab / kitab tauhid), adalah tiap 'hasil rangkuman' atas hal tertentu oleh tiap nabi-Nya terkait, berdasar seluruh pemahaman Al-Hikmah di dalam dada-hati-pikirannya, yang telah tersusun dengan relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya, yang diperolehnya melalui perantaraan malaikat Jibril.

Suatu kitab suci juga bukan hanya sebatas teks kitabnya saja, tetapi satu kesatuan yang amat utuh dan erat, dengan segala penjelasan atas contoh pengamalannya (seperti Sunnah / Hadits Nabi) dan juga dengan segala catatan konteks keadaan dan sejarah pada saat penyampaiannya (bahasa, waktu, tempat, budaya, dsb).
Karena dengan hal-hal ini, teks ayat kitab suci bisa lebih dipahami kembali makna yang sebenarnya (Al-Hikmah), yang terkandung di balik teks-teksnya.

Maka tiap usaha perubahan atas teks-teks ayat kitab suci, justru relatif pasti akan bisa mengubah pula segala hal terkait lainnya (ayat-ayat lainnya, segala contoh dan penjelasannya, segala catatan konteks keadaan dan sejarah penyampaiannya, dsb).

Lebih parahnya lagi, hasil dari tiap perubahan atas teks kitab suci itu, relatif pasti bisa mengakibatkan nilai-nilai di dalamnya, secara perlahan-lahan bergeser makin menjauh dari nilai-nilai kebenaran-Nya (makin berbeda daripada nilai-nilai yang disampaikan langsung oleh para nabi-Nya, kepada umatnya masing-masing).

v.

'Jika' teks kitab suci memang akan diubah-ubah, misalnya agar makna-makna secara tekstual-harfiahnya bisa dianggap menjadi relatif jauh lebih baik, ataupun relatif lebih mendekati makna-makna yang sebenarnya (Al-Hikmah).
Maka kitab suci yang 'baru' justru hampir bisa dipastikan, akan berubah wujud menjadi puluhan buku tebal (menjadi kitab-kitab Hikmah), yang relatif jauh lebih banyak dan tebal, daripada kitab-kitab tafsir yang ada saat ini.

Lebih utamanya lagi, umat hampir bisa dipastikan tidak akan memperoleh bahan pengajaran dan tuntunan-Nya, yang relatif amat mudah bisa dipahami dan diamalkannya (praktis-aplikatif dan aktual), dari kitab suci yang 'baru' itu.
Karena dalam kitab suci yang 'baru' itu justru berisi nilai-nilai kebenaran-Nya yang bersifat 'universal' (bisa melewati batas ruang, waktu dan budaya), yang relatif hanya bisa dipahami oleh umat-umat yang berilmu amat tinggi, dan bahkan relatif tidak bisa diamalkan langsung oleh umat, dalam kehidupannya sehari-hari.

Bahkan kitab suci yang 'baru' itupun justru lebih hebat dan ilmiah, daripada seluruh buku ilmu-pengetahuan yang pernah dibuat oleh umat manusia sepanjang masa.
Termasuk pasti lebih hebat dan ilmiah, misalnya daripada buku yang dibuat oleh ilmuwan terkenal dunia seperti Albert Einstein. Karena Albert Einstein relatif hanya berhasil bisa mengungkap hal-hal yang bersifat lahiriah.
Sedangkan ilmu-ilmu batiniah yang banyak disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, justru relatif jauh lebih rumit daripada ilmu-ilmu lahiriah, karena menyangkut hal-hal gaib dan batiniah, yang tidak bisa diukur dan dibuktikan secara empirik, namun hanya bisa dirasakan dan diyakini secara batiniah.

Al-Kitab (kitab-Nya) bersifat relatif amat ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual (tidak universal), serta Al-Hikmah bersifat relatif amat rumit, kompleks, mendalam, tidak praktis-aplikatif dan tidak aktual (universal). Maka relatif amat sulit untuk menyatukan Al-Kitab dan Al-Hikmah, dalam satu atau beberapa buku.

Jauh lebih baik dan bermanfaat, bagi para penggagas dekonstruksi dan desakralisasi atas kitab suci Al-Qur'an, untuk menjadi ahli tafsir atau ahli ijtihad dalam Majelis alim-ulama, agar bisa menerapkan berbagai pemahaman Al-Hikmah yang telah dimilikinya, daripada berusaha mengubah-ubah teks kitab suci Al-Qur'an.

w.

Dalam kitab suci Al-Qur'an cukup banyak disebut bersamaan antara 'Al-Kitab' dan 'Al-Hikmah' (seperti: QS.2:129, QS.2:151, QS.2:231, QS.3:48, QS.3:79, QS.3:81, QS.3:164, QS.4:54, QS.4:113, QS.5:110, QS.6:89, QS.19:12, QS.33:34 dan QS.62:2).
'Al-Kitab' itu juga biasa disebut 'kitab-kitab-Nya' atau 'kitab-kitab tauhid'.

Dari pemisahan 'Al-Kitab' dan 'Al-Hikmah' ini secara sekilas telah menunjukkan, bahwa segala pemahaman yang lebih mendalam bagi tiap umat yang berilmu, justru bukan diperoleh dari 'Al-Kitab', tetapi dari 'Al-Hikmah'.

Namun persoalannya, Al-Hikmah yang seutuhnya dan sebenarnya pada Nabi (segala pemahaman tentang kebenaran-Nya, dalam pikiran Nabi), yang mendasari penyampaian kitab suci Al-Qur'an (Al-Kitab) dan Sunnah-sunnah Nabi, justru sebagian terbesarnya hanya tersimpan di dalam dada-hati-pikiran Nabi.
Sedangkan hanya sebagian kecilnya yang telah pula disampaikannya, relatif hanya terbatas kepada umat-umat yang amat berilmu. Al-Hikmah pada Nabi tentunya hilang bersama dengan wafatnya Nabi.

Namun bagi seluruh umat manusia (terutama bagi umat-umat yang relatif amat berilmu), justru Nabi juga telah menyampaikan Al-Hikmahnya, secara tersirat atau tersembunyi, 'di balik' teks ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an itu sendiri. Sehingga dengan mempelajari kitab suci Al-Qur'an secara utuh dan menyeluruh, umat-umat yang berilmu juga relatif bisa meraih kembali berbagai Al-Hikmah pada Nabi.

Al-Hikmah pada Nabi itu, relatif telah dilupakan oleh sebagian umat Islam saat ini, dan bahkan hanya semata menyamakannya begitu saja, dengan 'Sunnah-sunnah Nabi' ataupun 'Hadits-hadits Nabi' (catatan tertulis atas Sunnah-sunnah Nabi). Padahal sifat-sifat Al-Hikmah berbeda daripada Sunnah Nabi.

Mudah-mudahan, wacana dekonstruksi dan desakralisasi atas kitab suci Al-Qur'an yang disebut-sebut di atas, yang baru mulai berkembang pada sebagian dari kalangan para cendikiawan Muslim ataupun para ahli ilmu agama, justru hanya semata-mata terjadi pada tataran 'pemahaman dan makna', serta sama sekali bukan pada tataran 'teks dan musyaf' kitab suci Al-Qur'an, Juga bukan dengan menginjak-injak teks-teksnya, dan bukan dengan “menukarkan ayat-ayat-Nya dengan harga yang rendah atau sedikit”, yang disebut dalam ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an berikut.

“Mereka menukar ayat-ayat-Nya dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia lain) dari jalan-Nya. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.” – (QS.9:9) dan (QS.3:199, QS.2:41, QS.5:44).

Dan harap baca pula buku “Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW“, untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang otentisitas teks kitab suci Al-Qur'an, tak-ternilai harganya, di samping dari topik-topik terkait lainnya dalam buku ini.

Wallahu a'lam bishawwab.

Artikel / buku terkait:

Resensi buku: “Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW”

Buku on-line: “Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW”

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): “Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW” (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): “Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW” (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): “Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW” dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

Tentang Syarif Muharim

Alumni Teknik Mesin (KBK Teknik Penerbangan) - ITB - angkatan 1987 Blog: "islamagamauniversal.wordpress.com"
Pos ini dipublikasikan di Hikmah, Saduran buku dan tag , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Otentisitas teks kitab suci Al-Qur’an, tak-ternilai harganya

  1. Anonim berkata:

    Ass mas syarif….. sy rasa pada tataran pemahaman & makna alquran yg perlu terus dikembangkan agar ALQURAN bs eksis di segala waktu ( ini yg dimaksud para cendikiwan kita skg ) bukan pada teks2 ayat saja..

    • Syarif Muharim berkata:

      Wa ‘alaikum salam,
      Saya sepakat. Bahkan idealnya, jika pemahaman & makna dari ayat2 Al-Qur’an telah bisa bersifat universal, sehingga bisa melewati batas waktu, ruang dan budaya.
      Sedangkan teks2 asli Al-Qur’an mestinya tetap dipertahankan, sbgai acuan bersama yg plg awal dan mendasar, bagi keseluruhan umat Islam di muka Bumi, dalam berusaha mencari sgla pemahaman & makna yg universal tsb.
      Terima kasih atas masukannya.

  2. Anonymous berkata:

    mana gambar nya sihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

    • Syarif Muharim berkata:

      Harus diakui, mmg kurang menarik tanpa adanya gambar.
      Namun selama penyusunan blog ini, hal tsb mmg kurang sempat terpikirkan, krn artikel2nya cukup banyak, panjang dan serius. Apalagi relatif sulit dan tdk banyak waktu, utk menemukan gambar2 yg sesuai dgn tema tiap artikelnya.
      Mudah2an ke depan gambar2 bisa disertakan. Terima kasih.

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s