Sunatullah sebagai wujud perbuatan Allah

Lebih lengkap, sunatullah (Sunnah Allah) sebagai wujud perbuatan Allah

Segala perbuatan Allah di seluruh alam semesta ini (secara lahiriah dan batiniah), justru
terwujud 'melalui' sunatullah (Sunnah Allah). Walaupun perwujudan atau pelaksanaan
sunatullah memang dilakukan 'bukan langsung' oleh Allah sendiri. Namun terutama
dilakukan oleh tak-terhitung jumlah para malaikat-Nya di seluruh alam semesta,
dengan segala macam tugasnya masing-masing, dalam "mengatur segala
urusan-Nya". Berikut ini diungkap lebih lengkap tentang sunatullah.

Di dalam artikel/posting terdahulu "bagaimana cara Allah berbuat di alam semesta ini", telah diungkap hubungan secara langsung antara sunatullah (Sunnah Allah) dan segala perbuatan Allah di seluruh alam semesta ini, bahwa segala perbuatan Allah di seluruh alam semesta ini terwujudkan 'melalui' sunatullah (Sunnah Allah). Sekaligus telah diungkap pula peran dari para malaikat-Nya, dalam mewujudkan atau mengawal pelaksanaan sunatullah, yang memang dilakukan 'bukan langsung' oleh Allah sendiri.

Di dalam kitab suci Al-Qur'an, peran dari para malaikat-Nya seperti inipun disebut "membagi-bagi dan mengatur segala urusan-Nya di seluruh alam semesta ini, serta selalu mengerjakan segala perintah-Nya" (QS.51:4, QS.79:5, QS.97:4, QS.77:1, QS.77:3, QS.16:2, QS.13:11 dan QS.66:6).

Agar umat Islam bisa memperoleh gambaran yang makin jelas tentang sunatullah, sebagai bentuk perwujudan dari segala kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya di seluruh alam semesta ini, maka berikut inipun diungkap berbagai keterangan dan penjelasan amat penting tentang sunatullah, secara lebih lengkap, yang secara garis besarnya meliputi:

a. Sunatullah, bagian terpenting dari ilmu-pengetahuan-Nya.
b. Ilmu-pengetahuan manusia, wujud sunatullah.
c. Allah berbuat di alam semesta, melalui sunatullah.
d. Sunatullah berupa tak-terhitung aturan / rumus proses.
e. Sunatullah berlaku sesuai segala keadaan zat ciptaan-Nya
f. Sunatullah berlaku secara terselubung
g. Perkiraan kejadian, dengan memahami sunatullah.
h. Sunatullah tidak pernah berubah, sampai akhir jaman.
i. Seluruh proses pada sunatullah tidak saling bertentangan.
j. Sunatullah mengatur segala proses lahiriah & batiniah.
k. Sunatullah mengatur proses pemberian balasan-Nya
l. Alam semesta diciptakan-Nya, melalui sunatullah.
m. Sunatullah memiliki unsur pemaksaan (pasti berlaku).
n. Alam semesta tetap tegak-kokoh, karena berjalannya sunatullah.
o. Sunatullah menjaga keseimbangan alam semesta.
p. Tiap manusia bebas memanfaatkan sunatullah.
q. Allah mengutus para nabi-Nya, melalui sunatullah.
r. Allah menurunkan berbagai hal, melalui sunatullah.
s. Pengetahuan dan pengalaman, wujud sunatullah.
t. Do'a, usaha batiniah yang diatur oleh sunatullah.
u. Pelaksanaan sunatullah dikawal oleh tak-terhitung malaikat.

Uraian-uraian selengkapnya, yaitu:

Beberapa keterangan penting tentang sunatullah (aturan-Nya)

a.

Sunatullah, bagian terpenting dari ilmu-pengetahuan-Nya.

»

Ilmu-pengetahuan-Nya adalah segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), baik saat sebelum diciptakan-Nya alam semesta ini, saat masih tegak-kokohnya alam semesta ini, maupun saat setelah berakhirnya alam semesta ini (akhir jaman).

Segala ilmu-pengetahuan-Nya "di alam semesta ini" juga biasa disebut "segala kebenaran-Nya"; "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya"; "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis"; "Al-Qur'an dan kitab-Nya yang berbentuk gaib, yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya"; "wajah-Nya"; "firman, kalam, kalimat atau wahyu-Nya yang sebenarnya"; dsb.
Semua sebutan ini hanya berbeda fokus dan pemakaiannya saja, namun merujuk kepada hal yang sama, berupa "segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian (lahiriah dan batiniah) di alam semesta ini".

Sunatullah adalah bagian yang bersifat 'dinamis' dari ilmu-pengetahuan-Nya di alam semesta ini. Karena sunatullah memang hanya semata terkait dengan segala proses penciptaan dan segala proses kejadian lainnya (segala proses dinamis). Sunatullah itu sendiri tidak berubah-ubah, namun masukan dan keluaran prosesnya yang bisa selalu berubah-ubah secara 'dinamis' (segala keadaan lahiriah dan batiniah 'tiap saatnya'), dan tentunya sunatullah juga berjalan atau berlaku 'tiap saatnya'.

Sunatullah berupa tak-terhitung jumlah aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah), yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', yang tiap saatnya pasti selalu mengatur segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini (pada poin d di bawah).

Sebagian dari ilmu-pengetahuan-Nya lainnya (umumnya bersifat 'statis'), seperti:

Segala sifat pembeda-esensi-statis pada segala zat ciptaan-Nya (ciri khas statisnya masing-masing);
Segala keadaan lahiriah dan batiniah tiap saatnya pada segala zat ciptaan-Nya (qadla-Nya bagi masing-masingnya tiap saatnya);
Segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya, secara lahiriah dan batiniah (sebagian terbesarnya justru telah 'terkandung' pula dalam sunatullah);
Hakekat dan tujuan utama penciptaan alam semesta dan segala isinya ini (segala jenis zat ciptaan-Nya), termasuk tujuan kehidupan umat manusia;
Segala sesuatu hal pada saat sebelum terciptanya alam semesta ini, dan pada saat setelah berakhirnya alam semesta ini (akhir jaman);
Dan segala bentuk ketetapan dan kebenaran-Nya lainnya.

Khusus tentang ilmu-pengetahuan-Nya, yang berupa segala keadaan lahiriah dan batiniah tiap saatnya, pada segala zat ciptaan-Nya di atas (qadla-Nya bagi masing-masingnya tiap saatnya), justru hanya semata bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), segera sesaat setelah berlakunya sunatullah tiap saatnya, atas tiap zatnya. Serta kekekalan inipun justru bukan berupa kekekalan keadaannya sendiri, namun berupa kekekalan 'catatan' atas tiap kejadian perubahan keadaannya (Lauh Mahfuzh).

Baca pula topik "Takdir-Nya", tentang Penentuan takdir-Nya pasti melalui sunatullah, Kebebasan manusia dalam memilih takdir-Nya dan Kandungan isi kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya.

Pemahaman atas sunatullah justru amat penting untuk dimiliki oleh umat Islam, selain karena bagian dari ilmu-pengetahuan-Nya, juga karena sunatullah sebutan lain bagi segala kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini.
Dengan memahami sunatullah, umat tentunya juga relatif bisa memahami ajaran-ajaran agama-Nya, secara utuh dan mendalam. Sedangkan agama-Nya itu sendiri memang bentuk kehendak atau keredhaan-Nya bagi seluruh umat manusia.
Bahkan pemahaman atas sunatullah relatif paling dikuasai oleh para nabi-Nya, dibanding seluruh umat manusia lainnya di tiap jamannya, terutama karena mereka memang relatif amat sering mengamati dan mempelajari "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya" di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah).

Dengan sifat dinamisnya, tentunya sunatullah adalah bagian yang paling penting dari ilmu-pengetahuan-Nya. Sedangkan ilmu-pengetahuan-Nya yang bersifat statis di alam semesta ini, justru relatif mudah bisa diungkap oleh umat manusia, misalnya sifat-sifat pada: zat ruh, beserta elemen-elemennya (akal, nafsu, hati, hati-nurani, catatan amal, dsb); berbagai jenis Atom-materi; berbagai jenis energi; berbagai jenis benda langit; dsb. Sedangkan diketahui dalam "Urutan penciptaan alam semesta", bahwa 'Ruh', 'Materi terkecil' dan 'Energi', adalah elemen-elemen yang paling dasar, bagi penciptaan alam semesta dan segala isinya ini.

b.

Ilmu-pengetahuan manusia, wujud sunatullah.

»

Segala bentuk ilmu-pengetahuan (beserta segala teori dan rumus di dalamnya), yang dikenal dan dicapai oleh manusia, secara "amat obyektif" (sesuai dengan fakta-kenyataan-kebenaran secara apa adanya, tanpa ditambah dan dikurangi), pada dasarnya hanya semata hasil dari pengungkapan, atas sebagian amat sangat sedikit dari ilmu-pengetahuan-Nya (terutama sunatullah).

Bahkan nantinya, segala bentuk ilmu-pengetahuan yang belum dikenal, juga hanya hasil dari usaha mengungkap atau memformulasikan sunatullah, yang justru telah ditentukan atau ditetapkan-Nya, sebelum awal penciptaan alam semesta ini.
Dan segala bentuk ilmu-pengetahuan lainnya pada manusia, yang bukan hasil dari usaha mengungkap atau memformulasikan sunatullah, secara "amat obyektif", tentunya bukan bentuk ilmu-pengetahuan yang 'benar'. 53)

Ke-Maha Tinggi-an ilmu-pengetahuan-Nya terutama yang berupa sunatullah (lahiriah dan batiniah), mustahil bisa tercapai seluruhnya oleh umat manusia, atau tidak akan pernah terungkap tuntas sampai akhir jaman. Sehingga usaha dan penyempurnaan pemahaman atas sunatullah ataupun ilmu-pengetahuan-Nya, mestinya terus menerus selalu dilakukan, dari umat ke umat, dari jaman ke jaman.

Ilmu-pengetahuan Allah, Yang Maha Mengetahui bersifat 'mutlak' (pasti benar) dan 'kekal' (selalu benar). Sedangkan segala bentuk ilmu-pengetahuan manusia (bahkan termasuk para nabi-Nya), pasti bersifat 'relatif' (tidak mutlak benar), 'fana' (hanya benar dalam keadaan tertentu) dan 'terbatas' (tidak mengetahui segala sesuatu hal). Karena tiap manusia memang pasti memiliki segala kekurangan dan keterbatasan.
Namun tiap manusia justru bisa berusaha semaksimal mungkin, agar tiap bentuk ilmu-pengetahuannya bisa makin 'sesuai' atau 'mendekati' ilmu-pengetahuan Allah di alam semesta ini, dengan menggunakan akalnya secara relatif makin cermat, obyektif dan mendalam.

Usaha seperti ini justru juga telah dilakukan oleh para nabi-Nya. Sehingga seluruh pengetahuan mereka tentang pengetahuan atau kebenaran-Nya, terutama yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah), memang telah bisa tersusun relatif sempurna (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya). Hal ini yang justru telah mengakibatkan tiap pengetahuan mereka, bisa disebut 'wahyu-Nya'. Baca pula artikel/posting "Cara proses diturunkan-Nya wahyu".

Segala bentuk ilmu-pengetahuan manusia mestinya bisa dipilih terlebih dahulu, secara amat hati-hati, cermat dan selektif, sebelum dipakai atau diyakini, karena relatif bisa mudah menyesatkan, terutama pada agama, ajaran dan paham yang bersifat 'musyrik' dan 'materialistik', yang memang pasti tidak sesuai dengan kebenaran-Nya (mustahil berasal dari Allah dan tidak bersifat mendasar / hakiki).
Seperti misalnya pada teori-paham: teori evolusi Darwin; teori filsafat dan psikologi (Sigmund Freud, Karl Marx, dsb); paham materialisme, kapitalisme dan sosialisme, berikut segala teori kemasyarakatan dan ekonominya; paham feminisme barat; teori demokrasi dan HAM; ajaran agama-agama musyrik; dsb.

c.

Allah berbuat di alam semesta, melalui sunatullah.

»

Secara garis besarnya, hal-hal gaib bisa dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu: "gaib zat" dan "gaib perbuatan". "Gaib zat" ini meliputi: Zat Allah (ruh Pencipta) dan zat-zat makhluk-Nya (ruh-ruh makhluk ciptaan-Nya). Sedangkan hal-hal gaib yang di luar "gaib zat" ini, tentunya seluruhnya berupa "gaib perbuatan". Jika "gaib zat" menyangkut 'esensi' dari zat-zat gaib, maka "gaib perbuatan" menyangkut 'perbuatan' dari zat-zat gaib. 54)

Umat manusia mustahil bisa menjelaskan hakekat dari zat-zat gaib ("gaib zat"), karena mustahil mampu dijangkau dengan alat-alat indera ataupun akal-pikirannya. Bahkan salah-satu dari sifat Allah, adalah 'Maha Gaib', yang justru sama sekali tidak dimiliki oleh segala makhluk-Nya.
Dalam "interaksi secara terang-terangan" misalnya, manusia bahkan masih bisa mengetahui "wujud asli" dari para makhluk gaib (mengetahui 'sebagian' dari sifat zat ruhnya, seperti: usia, jenis kelamin dan bangsanya). Walaupun interaksi seperti ini hanya terjadi dalam keadaan tertentu, dan hanya pernah dialami oleh amat terbatas jumlah manusia (termasuk sebagian dari para nabi-Nya).

Baca pula topik "makhluk hidup gaib", tentang 'wujud asli' para makhluk gaib. Serta baca pula uraian-uraian, tentang keistimewaan akal-pikiran manusia.

Di lain pihaknya, manusia mustahil berinteraksi langsung dengan Zat Allah, karena pasti terhalang oleh segala 'tabir', atau pasti hanya melalui perantaraan wahyu dan para utusan-Nya (pada QS.42:51). Maka hampir tidak ada yang bisa diketahui oleh manusia, tentang 'esensi' dari Zat Allah, kecuali: Ada (wujud), Maha Esa, Maha Gaib (Maha Tersembunyi), Maha Kekal, Maha Awal, Maha Akhir dan Maha Hidup.
Bahkan sifat-sifat-Nya inipun 'tidak terkait langsung' dengan 'esensi' dari Zat Allah, namun hanya berupa gambaran-fenomena umum 'di sekitar' Zat Allah.

Namun keberadaan zat-zat gaib itu justru bisa dirasakan, diketahui atau dipahami, dari segala perbuatannya yang ada di alam semesta ini, karena alam semesta ini memang diciptakan-Nya, agar tiap makhluk-Nya bisa mengenal Allah, Tuhan Yang telah menciptakannya dan alam semesta ini, beserta segala kekuasaan, kemuliaan dan kesempurnaan-Nya. Juga sekaligus tentunya agar bisa menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Sehingga Allah, terutama melalui para malaikat-Nya, memang melakukan segala sesuatu perbuatan, agar tiap manusia bisa mengenal Allah. Segala perbuatan dari zat-zat gaib itu, yang disebut "gaib perbuatan" di atas.

Sederhananya dalam hal "gaib perbuatan" itu, relatif hanya masalah kemampuan dan waktu tiap manusia untuk bisa memahaminya, karena segala perbuatan-Nya di alam semesta ini (melalui segala perbuatan dari para malaikat-Nya, secara lahiriah dan batiniah), justru bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah). Maka "gaib perbuatan" itupun pasti mengikuti logika-nalar, aturan atau rumus proses, yang 'pasti' dan 'jelas', walaupun memang juga bersifat amat sangat halus, tidak kentara atau gaib (tersembunyi). Dan segala perbuatan-Nya ini yang juga biasa disebut 'sunatullah' (Sunnah Allah / aturan-Nya).
Baca pula poin u di bawah (pelaksanaan sunatullah dikawal oleh para malaikat).

Di samping karena bersifat gaib di atas, persoalan amat pentingnya juga ada pada sunatullah, yang 'tak-terhitung' jumlah aturan atau rumus prosesnya, yang tidak akan pernah bisa dikuasai semuanya oleh manusia (relatif hanya bisa sebagian amat sangat sedikit saja). Sehingga hal-hal yang terjadi di alam semesta ini, 'seolah-olah' tampak amat sulit bisa dipahami, tidak teratur, tidak pasti dan tidak jelas.

Hal-hal yang mustahil bisa dijelaskan atau dinalar, adalah hakekat dari Zat Allah dan sebagian hakekat dari zat ruh-ruh makhluk-Nya. Juga "gaib zat" ini memang relatif tidak perlu dan tidak ada manfaatnya untuk dinalar. Bahkan tidak ada satupun ayat kitab suci Al-Qur'an, yang menerangkan hal ini (kecuali sifat-sifat 'tidak langsung' tentang esensi dari Zat Allah di atas). Hal-hal yang disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, hanya berupa "gaib perbuatan" (perbuatan: Allah, ruh para makhluk gaib, ruh manusia, dsb), yang memang mestinya masih bisa dinalar.

Pengungkapan atas "gaib perbuatan" ini telah semaksimal mungkin dilakukan, melalui seluruh pembahasan pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", terutama berdasar segala keterangan dari kitab suci Al-Qur'an, di samping berdasar ilmu-pengetahuan dan pengalaman rohani-batiniah-spiritual langsung.

Dalam mengenal tiap manusia ataupun makhluk-Nya lainnya, dengan menilai segala tindakan atau perbuatannya, yang bersifat relatif jelas, sering, teratur, konsisten atau tidak berubah-ubah, maka relatif bisa diketahui atau dinalar, tentang berbagai kehendak dan sifatnya dalam berbuat (sifat perbuatannya).
Hal yang serupa pula dalam berusaha mengenal Allah, Yang Maha Gaib dan Yang segala perbuatan-Nya di alam semesta ini, memang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah).

Istilah "wujud Zat Allah", yang tergambar dalam Asmaul Husna, juga yang dipakai dalam buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", mestinya dipahami sebagai "perwujudan dari perbuatan Zat Allah", Fitrah Allah atau sifat-sifat Allah, tetapi bukan sebagai "wujud atau sosok Zat Allah". Karena segala perbuatan Allah, ketika menciptakan seluruh alam semesta ini dan segala isinya (termasuk umat manusia), adalah hasil perwujudan dari Fitrah Allah tersebut (pada QS.30:30).

Sedangkan hanya semata apa yang "ada" dan "terjadi" di alam semesta ini, yang bisa dilihat, dirasakan dan dipelajari oleh umat manusia (bahkan juga termasuk para nabi-Nya), tentang Allah dan sifat-sifat-Nya.

Pada Asmaul Husna hanya ada 2 jenis kata, yaitu kata "kerja" (Maha Menjaga, Maha Memelihara, Maha Mengatur, Maha Mengetahui, dsb) dan kata "sifat" (Maha Esa, Maha Mulia, Maha Tinggi, Maha Luas, Maha Suci, Maha Adil, dsb).

Pada Asmaul Husna yang berupa kata 'sifat', hanya bisa dipahami dari mempelajari 'sifat-sifat' dari segala 'hasil' perbuatan Allah di alam semesta ini ("tanda-tanda kekuasaan-Nya"). Sedangkan Asmaul Husna yang berupa kata 'kerja', tentunya justru langsung menerangkan tentang perbuatan Allah.
Akhirnya, "wujud Zat Allah" dan "Fitrah Allah" (sifat-sifat terpuji Allah), adalah "gaib perbuatan", yang mestinya masih bisa dinalar oleh akal-pikiran manusia.

d.

Sunatullah berupa tak-terhitung aturan / rumus proses.

»

Sunatullah berupa tak-terhitung jumlah aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah), yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), yang tiap saatnya pasti selalu mengatur segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini, sesuai dengan segala keadaan lahiriah dan batiniah tiap saatnya pada tiap zat ciptaan-Nya (bersifat 'alamiah').
Dengan sendirinya sunatullah juga bersifat 'universal' (tidak berubah-ubah, sejak awal penciptaan alam semesta ini, sampai akhir jaman) dan bersifat 'adil' (pasti berlaku sama bagi segala zat ciptaan-Nya).

Lebih jelas lagi, sifat-sifat sunatullah disebut 'mutlak', 'kekal', 'alamiah', 'universal' dan 'adil', karena "segala proses pada sunatullah memang pasti terjadi / berlaku secara persis 'sama', atas segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini, sejak awal penciptaannya sampai akhir jaman, jika segala keadaan lahiriah dan batiniahnya masing-masing memang persis 'sama'".

"…Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.", "Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi, tentang apa yang telah ditetapkan-Nya baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunatullah (sunnah Allah) bagi nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku," – (QS.33:37-38) dan (QS.7:37, QS.35:11, QS.57:22).

Dengan sifat-sifatnya yang 'mutlak' dan 'kekal' itu, tentunya sunatullah juga bisa disebut 'aturan, hukum, ketentuan atau ketetapan-Nya'. Bahkan sunatullah juga memang bagian dari ketentuan atau ketetapan-Nya, yang telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, sejak awal penciptaan alam semesta ini.

Sunatullah sebagai aturan atau hukum-Nya, untuk mengatur seluruh alam semesta ini, tentunya berbeda daripada 'aturan atau hukum syariat', untuk bisa mengatur umat manusia yang beriman kepada ajaran-ajaran agama-Nya. Terutama karena sunatullah bersifat 'memaksa' ('mutlak'), 'kekal' dan 'netral' (bisa menguntungkan dan merugikan bagi tiap makhluk-Nya). Sedangkan aturan atau hukum syariat justru bersifat 'tidak memaksa' (berupa anjuran atau keredhaan-Nya untuk diikuti oleh tiap umat, bagi kepentingannya sendiri, bukan demi kepentingan Allah), 'fana' (sesuai keadaan kehidupan umat) dan mestinya bersifat 'menguntungkan' (bisa membawa keselamatan, kebahagiaan dan kemuliaan bagi tiap umat).

Tentunya hanya sebagian amat sangat sedikit dari segala aturan atau rumus proses pada sunatullah (dari rumus yang amat sederhana, sampai yang amat rumit), yang telah relatif bisa diketahui atau dikenal oleh manusia. Apalagi sunatullah itu sendiri memang bersifat gaib (tersembunyi), dan antar rumus-rumusnya itu justru juga bisa saling terkait, secara amat kompleks dan sempurna.

Pertanyaannya, "siapa yang melaksanakan tak-terhitung jumlah rumus proses pada sunatullah?", "apa bentuk tiap rumus proses itu?" dan "apa yang membaca segala keadaan tiap saatnya pada tiap zat ciptaan-Nya?". Jawabannya masing-masing "tak-terhitung jumlah para malaikat-Nya (sebagai pengawal utama pelaksanaan sunatullah)", "segala fitrah dasar pada zat ruh tiap malaikat-Nya", dan "alat indera batiniah pada tiap malaikat-Nya (hati / kalbu)".
Baca pula poin u di bawah (pelaksanaan sunatullah dikawal oleh para malaikat).

'Tiap' aturan atau rumus proses pada Sunatullah memiliki input-masukan, yang berupa segala data-variabel, yang bisa menunjukkan segala 'keadaan awal' (lahiriah dan batiniah), pada tiap zat ciptaan-Nya dan pada zat-zat yang terkait lainnya di sekitarnya, sebelum prosesnya sendiri mulai berlaku. Sehingga 'keadaan atau hasil akhir' dari prosesnyapun akan bisa berbeda, jika salah-satu saja dari data variabel input atau keadaan awalnya juga berbeda.
Namun pada segala 'keadaan awal' yang persis sama, maka segala 'keadaan atau hasil akhir' (qadla-Nya) dari berlakunya sunatullah, juga pasti persis sama.

Amat banyak variabel keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya (lahiriah dan batiniah), sehingga relatif tidak ada manusia yang bisa memastikan hasil akhir dari tiap proses pada sunatullah, karena manusia pasti tidak mengetahui segala keadaan pada tiap zatnya secara lengkapnya (segala variabel dan harganya), dan tidak mengetahui tiap rumus proses sesungguhnya yang berlaku pada sunatullah itu sendiri.

Lihat pula pada "Gambar 21: Diagram sederhana fungsi sunatullah" dan "Gambar 22: Diagram siklus proses sesaat fungsi sunatullah".

Namun seperti halnya pada tiap penemuan dari segala bidang ilmu-pengetahuan pada manusia, yang berdasar segala pengalaman empirik fisik-lahiriah tertentu, maka relatif bisa diduga, diuji dan diukur tiap data-variabel-fakta atau faktor, yang dianggap amat dominan pengaruhnya bagi sesuatu proses pada sunatullah, yang relatif amat sederhana. Sedangkan berbagai variabel lainnya sering disebut "faktor X" (faktor yang tidak diketahui).

Di dalam hal-hal batiniah, "faktor X" ini justru relatif lebih dominan pengaruhnya ataupun lebih banyak jumlahnya, karena segala keadaan batiniah memang relatif sulit bisa dijelaskan dan diukur (relatif hanya bisa dirasakan dan diyakini), lalu dalam hal inipun tiap manusia cenderung berserah-diri kepada Allah (bertawakal). Sebaliknya dalam hal-hal fisik-lahiriah seperti pada ilmu-ilmu pasti-fisik-alam, segala variabelnya justru relatif jauh lebih mudah untuk bisa diduga dan diukur.

Salah-satu contoh sederhana hasil pengungkapan atas sunatullah pada ilmu fisika, adalah hukum gravitasi, seperti "gaya gravitasi antara dua buah benda, berbanding lurus dengan massa kedua benda itu, dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antar pusat kedua benda" (menurut Newton), dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan simbol variabel:
Fg : gaya gravitasi
K : konstanta gravitasi
m1 & m2 : massa jenis benda 1 dan 2
r : jarak antar pusat benda 1 dan 2

Rumus yang telah umum dipakai selama berabad-abad di dalam ilmu fisika ini, juga hasil 'pendekatan' empirik dan praktis atas proses pada sunatullah, yang tentunya juga bukan rumus gravitasi yang paling benar. Selain karena rumusnya sendiri belum tentu benar, juga karena adanya sejumlah faktor yang memang telah amat disederhanakan, misalnya:

Harga konstanta gravitasi (K) tertentu hanya bisa berlaku pada keadaan tertentu, misalnya di permukaan laut. Namun harga K yang sama, justru belum tentu bisa berlaku misalnya: di luar angkasa, di pusat Bumi, di permukaan bulan, dsb.
Harga massa jenis kedua benda (m1 dan m2), adalah harga-harga pendekatan, selain karena adanya batasan dari ketelitian alat pengukurnya. Juga proses pengukurannya tidak akan bisa sepenuhnya menghilangkan pengaruh udara ataupun benda-benda lain di sekitarnya, karena amat tidak praktis untuk mengukur massa sesuatu benda, dalam keadaan paling idealnya (dalam ruang hampa udara, dan tanpa pengaruh benda-benda lain di sekitarnya).
Harga jarak antar pusat kedua benda (r), juga suatu harga pendekatan, karena kedua bendanya dianggap atau diidealkan sebagai benda titik (amat kecil) dan bersifat homogen. Hal ini bukan seperti halnya benda-benda nyata pada umumnya, yang memiliki berragam bentuk, ukuran dan distribusi unsur-unsurnya (tidak homogen).

Dengan ke-Maha Luas-an lingkup-cakupan sunatullah (sebagai satu kesatuan dari tak-terhitung jumlah rumus prosesnya), maka manusia biasanya memilah-milah sejumlah rumus proses yang dikenalnya pada sunatullah, menjadi relatif jauh lebih sederhana (seperti halnya rumus gravitasi di atas). agar lebih mudah diformulasikan untuk bisa menjawab tiap persoalan tertentu, yang berdasar hasil dari berbagai pengalaman empirik tertentu pula.
Pada akhirnya, rumus proses pada sunatullah yang diterapkan bisa berbeda-beda, jika tiap keadaan (internal dan eksternal, lahiriah dan batiniah) yang telah melatar-belakangi suatu pengalaman empirik tertentu, juga berbeda cukup 'signifikan'. Rumus proses tertentu pada sunatullah yang telah disederhanakan, tentunya hanya bisa berlaku cukup memadai, pada 'lingkup-wilayah' keadaan tertentu saja.

Misalnya, sesuatu rumus gravitasi tertentu hanya memadai pada keadaan tertentu pula, seperti: berlaku pada jarak 0 s/d 100 m di atas permukaan laut; ukuran kedua benda relatif kecil; jarak antar kedua benda tidak terlalu dekat ataupun jauh (relatif setara dengan ukuran kedua bendanya); kedua benda berbentuk seperti bola; relatif homogen (distribusi unsur-unsur pada kedua benda relatif merata); dsb.

Pengungkapan atas sunatullah, melalui pemilah-milahan, pembatasan ataupun penyederhanaan di atas tentunya melahirkan anggapan, bahwa sunatullah adalah satu kesatuan dari tak-terhitung jumlah aturan atau rumus proses, yang relatif sederhana, yang masing-masingnya hanya mengatur suatu proses tertentu saja.
Juga bisa ada anggapan lain, bahwa sunatullah adalah suatu 'matriks' yang amat sangat besar, kompleks dan sempurna, yang terdiri dari segala variabel keadaan dan rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah), bagi segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini.

Namun jika diperhatikan kembali, bahwa pelaksanaan sunatullah terutama dikawal oleh tak-terhitung jumlah para malaikat-Nya. Maka 'tiap' rumus proses pada sunatullah, pada dasarnya 'sama' antar tiap malaikat-Nya, dan berupa segala 'fitrah dasar' pada zat ruh tiap malaikat-Nya, yang bisa saling berinteraksi, dan juga bisa menyeseaikan hasil prosesnya, dengan segala keadaan lahiriah dan batiniah tiap saatnya, pada dirinya dan pada lingkungan di sekitarnya.
Segala 'fitrah dasar' itu adalah bentuk 'kecerdasan' dasar yang kompleks, lengkap dan sempurna, yang telah ditanamkan-Nya pada zat ruh ataupun pada pikiran tiap malaikat-Nya (termasuk pula manusia dan segala makhluk-Nya lainnya), pada saat awal penciptaan zat ruhnya masing-masing.

e.

Sunatullah berlaku sesuai segala keadaan zat ciptaan-Nya.

»

Sebagai suatu ketetapan-Nya yang sempurna, maka tiap rumus proses kejadian pada sunatullah, tentunya pasti mempertimbangkan segala keadaan lahiriah dan batiniah pada tiap zat ciptaan-Nya, yang tiap saatnya juga pasti mempengaruhi input-masukan bagi proses itu, termasuk segala keadaan yang paling sederhana atau kecil sekalipun. Seperti disebut pada poin d di atas, hal ini merupakan sifat 'alamiah' dari sunatullah.
Segala keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya bisa meliputi: aspek internal (dalam diri tiap zat ciptaan-Nya) dan eksternal (pengaruh lingkungan di sekitarnya); aspek lahiriah (nyata-fisik-material) dan batiniah (gaib-moral-spiritual); aspek statis (tidak berubah-ubah) dan dinamis (berubah-ubah tiap saatnya); dsb.

Tentunya tiap 'jenis' zat ciptaan-Nya mengalami 'sekumpulan' rumus proses tertentu pada sunatullah, yang relatif berbeda-beda antar 'jenis' zat. Karena 'jenis' itu sendiri menunjukkan berbagai keadaan tertentu pada zat ciptaan-Nya (ciri khas), yang justru membedakannya daripada keadaan pada jenis-jenis zat lainnya. Segala jenis zat ciptaan-Nya, antara-lain: makhluk hidup dan benda mati; makhluk hidup nyata dan gaib; manusia (pria dan wanita), hewan (jantan dan betina) dan tumbuhan; sel; dsb.

Juga seperti disebut pada poin d di atas, bahwa segala keadaan tiap saatnya pada tiap zat ciptaan-Nya, dibaca atau ditangkap oleh alat-alat indera lahiriah (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, dsb) dan alat indera batiniah (hati / kalbu), pada tiap makhluk-Nya, yang memang dipakai untuk bisa mengamati atau mengetahui segala sesuatu hal di alam semesta ini.

Pelaksanaan sunatullah memang diwujudkan atau dikawal terutama oleh para malaikat, namun pada dasarnya juga oleh segala makhluk-Nya lainnya (bahkan termasuk para iblis dan manusia yang paling kafir dan ateis sekalipun).
Baca pula poin u di bawah (pelaksanaan sunatullah dikawal oleh para malaikat).

Para makhluk gaib tentunya tidak memiliki alat-alat indera lahiriah, namun justru mereka hanya semata memiliki alat indera batiniah (hati / kalbu), pada zat ruhnya.
Juga perlu diketahui, bahwa segala informasi yang ditangkap oleh alat-alat indera lahiriah pada makhluk nyata (termasuk manusia), justru juga pasti diterima oleh hati / kalbunya. Bahkan alat-alat indera lahiriahnya hanya 'cerminan' sebagian dari kemampuan alat indera batiniahnya (hati / kalbu). Bentuk informasi batiniah pada hati / kalbu juga relatif lebih lengkap dan sempurna, daripada bentuk informasi pada alat-alat indera lahiriah.

Hati / kalbu adalah satu-satunya alat-sarana untuk bisa saling bertukar-menukar informasi atau saling berinteraksi antar para makhluk gaib di alam ruh / arwah, termasuk pula pada interaksi antara manusia dan para makhluk gaib di alam dunia.
Dan pada saat zat ruh tiap makhluk nyata (termasuk manusia), telah terpisah dari tubuh wadah fisik lahiriahnya (dicabut atau diangkat-Nya pada saat kematiannya), maka alat inderanya juga hanya semata berupa hati / kalbu.

f.

Sunatullah berlaku secara terselubung.

»

Tentunya mudah dipahami, jika segala kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini (melalui sunatullah), justru bersifat 'terselubung' (tersembunyi atau gaib). Selain karena Zat Allah sendiri memang Maha gaib, karena pelaksanaan sunatullah terutama dikawal oleh para malaikat, dan juga karena Allah justru tidak berhendak, untuk tampak seolah-olah ikut campur-tangan 'langsung' atas tiap makhluk-Nya, dalam menjalani kehidupannya (semuanya tetap berjalan 'alamiah'). Walaupun hal sebaliknya tentunya pasti amat mudah bagi Allah.

Terutama lagi kepada manusia, dalam menjalani segala proses penggodokan di kehidupan dunia fana ini (proses pengujian keimanannya sebagai khalifah-Nya). Padahal tiap manusia telah diberikan-Nya 'akal' dan 'nafsu-keinginan', agar bisa memiliki kebebasan dalam berkehendak dan berbuat, serta agar bisa memilih jalan hidup yang lebih diinginkan atau diharapkannya sendiri.

Dengan tujuan yang paling utamanya, "agar Allah bisa mengetahui, siapa di antara manusia yang beriman dan yang kafir kepada-Nya". (pada QS.3:166-167, QS.5:94 , QS.47:31, QS.2:143 dan QS.18:12).

Sedangkan jika tiap perbuatan-Nya tampak 'jelas atau kentara', ataupun jika Allah ikut campur-tangan 'langsung' mengatur hal-hal yang terjadi di alam semesta ini, tentunya hampir bisa dipastikan, bahwa seluruh umat manusia pasti akan beriman kepada-Nya (pengujian keimanannya mustahil bisa berjalan atau pasti sia-sia).
Seperti misalnya, jika Allah berlaku pilih-kasih terhadap umat manusia, dengan 'terang-terangan' relatif jauh lebih banyak memberi rahmat-Nya, kepada hamba-hamba-Nya yang disukai-Nya (beriman kepada-Nya). Hal inipun relatif pasti akan menjadikan seluruh umat manusia menjadi beriman, karena memang pasti ada keuntungan langsung dan jelas dari keimanannya. Dan tentunya proses pengujian keimanan itu sendiri justru relatif pasti akan kehilangan maknanya.

Namun Allah justru berkehendak, agar segala sesuatu halnya berjalan 'murni' dan 'alamiah', sesuai dengan segala amal-perbuatan atau usaha dari tiap manusianya sendiri. Sedangkan atas tiap amal-perbuatan manusia, Allah justru pasti memberi balasan-Nya secara 'adil' atau 'setimpal' (lahiriah dan batiniah), namun juga secara 'terselubung' di dunia dan di akhirat (beban dosa / hukuman-Nya dan pahala / nikmat-Nya). Baca pula poin k di bawah (proses pemberian balasan-Nya).

Kesempurnaan proses pengujian keimanan tiap manusia juga akan lebih nyata, jika tiap manusia mestinya mencari, mengenal atau memahami sendiri Allah, Tuhan Yang telah menciptakannya dan alam semesta ini, melalui pemahaman atas "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya" di alam semesta ini ("ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", lahiriah dan batiniah), termasuk melalui pemahaman atas segala kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya, yang 'terselubung' atau 'gaib' (amat sangat alamiah, halus, tidak kentara, dan seolah-olah terjadi begitu saja).

Walaupun begitu, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang justru telah pula menurunkan segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya, misalnya melalui para nabi dan kitab-Nya ("ayat-ayat-Nya yang tertulis"). Agar tiap manusiapun bisa relatif lebih mudah mengenal Allah, ataupun memahami kebenaran-Nya.

Tentunya penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya juga dilakukan-Nya secara 'terselubung', kepada para nabi-Nya (bahkan juga kepada seluruh umat manusia), karena dilakukan-Nya melalui perantaraan wahyu dan para malaikat utusan-Nya (terutama para malaikat Jibril). Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya", tentang proses penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya secara lebih lengkap. Serta artikel/posting "Cara proses diturunkan-Nya wahyu".

g.

Perkiraan kejadian, dengan memahami sunatullah.

»

Makin luas ilmu-pengetahuan pada tiap manusia (khususnya relatif makin banyak bisa memahami berjalannya berbagai rumus proses pada sunatullah, termasuk pula keterkaitan fungsi antar rumus prosesnya), maka akan relatif makin mendalam pula kemampuannya, untuk memperkirakan peristiwa atau kejadian di alam semesta ini, yang telah ataupun yang belum terjadi. 55)

Bahkan walaupun perkiraan itu hanya diperoleh, berdasar satu ataupun beberapa fakta yang relatif sederhana. Hasil perkiraan itu bahkan bisa menembus batas 'ruang' dan 'waktu', karena segala kejadian di alam semesta ini pasti tunduk atau pasti mengikuti sunatullah (aturan-Nya), yang memang berjalan pasti teratur atau konsisten ('mutlak' dan 'kekal'). Sekilas memang 'seolah-olah' tampak tidak teratur, karena saling terkaitnya tak terhitung jumlah rumus proses pada sunatullah, serta amat banyaknya variabel keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya.

Penguasaan ilmu-pengetahuan, lebih khususnya lagi tentang hal-hal fisik-lahiriah, relatif hampir semuanya telah bisa diungkap oleh para ilmuwan modern (melalui berbagai ilmu pasti-fisik-alam). Namun sebaliknya amat sedikit terungkap tentang hal-hal batiniah, karena memang relatif amat sulit untuk dirumuskan (relatif hanya terungkap melalui ilmu-ilmu filsafat dan psikologi), di samping tentunya terungkap melalui ajaran-ajaran agama-Nya.
Seperti halnya pada keimanan, yang relatif amat sulit bisa diungkap melalui bahasa ilmiah, namun relatif hanya bisa melalui bahasa agama. Pengetahuan yang relatif tertinggi tentang hal-hal gaib dan batiniah, di antara seluruh umat manusia di tiap jamannya, umumnya diyakini hanya dimiliki oleh para nabi-Nya.

Istilah 'perkiraan' ini relatif amat berbeda daripada istilah 'ramalan', yang lebih bersifat mistis-tahayul (tanpa memiliki landasan intuisi-nalar-logika). Sehingga ramalan shio (kambing, ayam, kelinci, dsb) ataupun ramalan rasi bintang (leo, aries, pisces, dsb), justru tidak dikenal dan dilarang dalam ajaran agama Islam.

Kemampuan 'perkiraan' itu bisa makin kuat, dengan cara terus-menerus mengasah akal-pikiran (dalam hal-hal batiniah, dengan cara banyak melakukan perjalanan batiniah-rohani-spiritual). Dengan amat luasnya cakupan sunatullah (lahiriah dan batiniah), maka amat luas pula bidang cakupan yang bisa diperkirakan.
Namun perlu diketahui pula, bahwa makin luas aspek yang ditinjau, maka makin besar pula pengaruh "faktor X" (faktor yang tidak diketahui, pada poin d di atas), karena memang makin banyaknya hasil interaksi antar segala hal yang ditinjau, yang membuatnya makin sulit diperkirakan.

Contoh sederhana bentuk perkiraan misalnya: karakter pribadi seseorang dari raut muka ataupun caranya berjalan; cuaca, beserta intensitas dan waktu turunnya air hujan; saat meletusnya gunung berapi; lokasi potensial yang kaya dengan bahan tambang dan minyak bumi (di dalam tanah dan di dasar laut); nilai proyek yang akan dilaksanakan; perkiraan oleh para nabi-Nya, atas kejadian-kejadian sejak saat awal penciptaan alam semesta ini sampai saat terakhirnya (akhir jaman); dsb.

Khusus pada perkiraan oleh para nabi-Nya, atas kejadian-kejadian di alam semesta ini, tentunya telah berdasar pemahaman yang amat lengkap dan mendalam atas sunatullah, sehingga tingkat keyakinan dan kepastiannya juga telah amat tinggi.

h.

Sunatullah tidak pernah berubah, sampai akhir jaman.

»

Sunatullah tidak pernah berubah-ubah (kekal), sejak saat awal penciptaan alam semesta ini, sampai saat terakhirnya (akhir jaman). Mustahil ada kekuasaan pada sesuatu zat selain Zat Allah (termasuk tiap makhluk ciptaan-Nya), yang justru bisa mengubah dan merusak sunatullah. Juga mustahil ada sesuatu zat selain Zat Allah, yang bisa meniru berjalan atau berlakunya segala proses pada sunatullah (mustahil bisa berbuat seperti Allah).

Contoh sederhananya, pada segala keadaannya yang persis 'sama', maka sampai akhir jaman, suatu bola tetap akan jatuh ke bawah (ke permukaan bumi), jika bola itu dilepaskan dari ketinggian dekat di atas permukaan bumi, dengan berlakunya sunatullah yang berupa hukum gaya gravitasi, seperti pada uraian poin d di atas. Namun pada segala keadaan yang persis 'sama' pula, tidak ada suatu kekuasaanpun yang bisa membuat bola terangkat ke atas (kecuali oleh Allah sendiri, walaupun Allah justru juga tidak berkehendak mengubah-ubah sunatullah atau aturan-Nya).

Tiap makhluk-Nya justru hanya bisa memanfaatkan sunatullah, dengan berusaha memilih agar bisa berlaku rumus proses lainnya pada sunatullah, agar tercapai tujuan yang lebih diinginkannya, daripada hasil dari rumus proses yang sedang berlaku. Usaha 'memilih' ini pada dasarnya berupa usaha mengubah-ubah "berbagai keadaan awal", sesaat sebelum berlaku suatu rumus proses pada sunatullah, yang 'otomatis terpilih' sesuai dengan segala keadaan awalnya (lahiriah dan batiniah).
Lihat pula pada "Gambar 22: Diagram siklus proses sesaat fungsi sunatullah".

Contoh sederhana usaha pemanfaatan sunatullah, misalnya untuk: mengobati segala bentuk penyakitnya (lahiriah dan batiniah); membuat alat-perkakas, hujan buatan, bom nuklir dan segala bentuk produk teknologi lainnya (lahiriah), bagi segala sarana keperluan kehidupannya; melayarkan kapal; menerbangkan pesawat; dsb.
Bahkan termasuk pula segala usaha umat manusia, dalam mengikuti ajaran-ajaran agama-Nya, yang memang amat penting bagi usaha pencapaian keselamatan dan kebahagiaan kehidupannya di dunia, serta lebih pentingnya lagi bagi kehidupannya di akhirat (kehidupan batiniah ruh atau pikirannya).

i.

Seluruh proses pada sunatullah tidak saling bertentangan.

»

Seluruh rumus proses pada sunatullah justru mustahil bisa saling bertentangan, baik antar segala rumus proses yang belum, maupun yang telah bisa dikenal, dipahami atau diungkap oleh manusia (berupa segala bentuk ilmu-pengetahuan yang amat obyektif pada manusia).
Ilmu-pengetahuan pada manusia yang dimaksud, misalnya segala hukum alam yang telah dikenal ataupun dipakai oleh manusia, selama berabad-abad (memang telah relatif teruji atau terbukti), pada berbagai bidang ilmu, seperti: Fisika, Kimia, Biologi, Astronomi, Geologi, Matematika, dsb.

Bahwa mustahil ada dua ataupun lebih proses yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku), yang berlangsung secara bersamaan pada sesuatu hal yang sama, yang bisa saling bertentangan.

Misalnya pada ilmu fisika terdapat teori yang telah relatif terbukti berlaku benar, selama berabad-abad, seperti "suatu massa (benda mati atau materi) mustahil bisa dimusnahkan, namun hanya bisa diubah-ubah bentuk dan strukturnya".
Sejak diciptakan-Nya, tiap benda mati nyata hanya bisa 'hancur' atau 'terurai' menjadi benda-benda yang relatif paling kecil ukurannya (misalnya berupa 'atom' ataupun 'materi terkecil'). Namun semua atom penyusun benda asalnya mustahil bisa 'hilang' dan 'musnah' dengan begitu saja (hanya tidak bisa tampak oleh mata telanjang, karena atom memang amat kecil ukurannya). Melalui proses yang relatif lama dan rumit, justru semua atom itu bisa kembali membentuk benda-benda nyata (bisa terlihat kembali).

Implikasi penerapan teori itu, seperti: mustahil ada sesuatu benda yang hilang pada sesuatu tempat, lalu langsung muncul begitu saja pada tempat lainnya, seperti sulap; mustahil sosok tubuh Adam diciptakan-Nya di Surga, lalu pindah begitu saja ke Bumi, setelah diturunkan-Nya dari Surga (padahal sosok tubuh Adam memang hanya diciptakan-Nya saat di Bumi, dan bukan di Surga); mustahil 'Isra mi'raj berupa sesuatu perjalanan tubuh fisik-lahiriah nabi Muhammad saw (padahal sebenarnya berupa perjalanan batiniah); dsb.

Baca pula topik "Makhluk hidup nyata", tentang penciptaan Adam dari tanah di permukaan Bumi dan kesimpulan sekitar penciptaan manusia "pertama". Serta topik "Jalan-Nya yang lurus", tentang kembalinya Nabi ke hadapan 'Arsy-Nya pada 'Isra Mi'raj

Tentunya ada pula sebagian dari berbagai bidang ilmu itu, yang masih mengandung hal-hal yang bersifat teoretis dan belum terbukti kebenarannya, terutama dalam hal-hal batiniah (seperti ilmu psikologi dan filsafat). Juga ada yang telah relatif terbukti dalam hal-hal yang amat sederhana, tetapi terlalu dipaksakan diterapkan dalam hal-hal yang lebih luas dan kompleks.

Contoh paling terkenalnya, adalah teori evolusi Darwin (ilmu biologi). Dalam tingkat yang amat sederhana dan terbatas, memang bisa terjadi evolusi pada tubuh fisik-lahiriah manusia dan hewan. Namun justru terlalu dipaksakan, seperti "manusia adalah hasil proses evolusi dari kera ataupun simpanse". Padahal teori evolusi Darwin justru belum terbukti, khususnya tentang asal-muasal kehidupan.

Begitu pula halnya dengan pemaksaan teori Big Bang (ilmu astronomi), yang justru melahirkan berbagai tahayul di jaman modern (memakai teori-teori yang misterius dan belum terbukti, seperti: 'inflasi', 'energi vakum', 'materi yang hilang', 'energi gelap', 'materi gelap', dsb).

Segala proses kejadian 'fisik-lahiriah' di alam semesta ini, pada dasarnya relatif hampir tidak ada yang bisa disebut 'luar-biasa', karena proses-proses pada sunatullah dalam hal fisik-lahiriah ini, relatif hampir sebagian besarnya telah bisa diungkap oleh manusia. Kecuali tentunya jika berlaku segala proses pada sunatullah, yang belum bisa dipahami oleh manusia. Namun segala proses yang 'baru' inipun mestinya tetap "tidak saling bertentangan", dengan tiap ilmu-pengetahuan yang relatif amat obyektif dan terbukti kebenarannya, yang telah ada pada manusia.

Menurut ilmu-pengetahuan modern sekarang ini kejadian fisik-lahiriah, seperti: tsunami, gempa bumi, gunung meletus, meteor jatuh, dsb, adalah berbagai kejadian 'biasa' (pada jaman dahulu justru masih dianggap 'luar-biasa').
Baca pula poin q dan poin r di bawah, tentang mu'jizat pada para nabi-Nya, yang di jaman dahulu telah dianggap 'luar-biasa', tetapi di jaman sekarang ini sebagiannya justru telah bisa dijelaskan oleh manusia.

j.

Sunatullah mengatur segala proses lahiriah & batiniah.

»

Sunatullah pasti mengatur segala proses (lahiriah dan batiniah, bersifat 'mutlak' dan 'kekal'), sejak awal penciptaan alam semesta sampai akhir jaman, pada segala sistem dan sub-sistem yang terdapat di alam semesta ini, dari yang paling sederhana, sampai paling kompleks, misalnya: sel dan manusia yang berkembang biak; elektron dan planet yang berrotasi; ruh-ruh yang bersatu (hidup) ataupun berpisah (mati) dari tubuh wadahnya; ruh para makhluk gaib yang berinteraksi dengan makhluk nyata (atau sebaliknya); timbulnya perasaan pada manusia dan makhluk lainnya; atom dan benda langit yang saling berinteraksi; gaya tarik-menarik (gravitasi) dan tolak-menolak antar materi-benda; dsb.

Sunatullah mengatur segala proses interaksi antar segala macam zat ciptaan-Nya di alam semesta ini (makhluk hidup dan benda mati, nyata dan gaib), ataupun segala proses kejadian yang dialami oleh tiap zat ciptaan-Nya itu sendiri (berupa segala proses perubahan keadaan internal dan eksternalnya).
Segala proses lahiriah yang diatur oleh sunatullah, adalah segala proses interaksi antar materi-benda, dari materi yang berukuran paling kecil ('materi terkecil'), sampai benda-benda langit. Sedangkan segala proses batiniah, adalah segala proses yang terjadi pada alam pikiran tiap makhluk-Nya (alam batiniah ruhnya).

Namun tentunya ada pula 'sebagian' dari segala proses lahiriah dan batiniah di alam semesta ini, yang relatif 'tidak diatur' oleh sunatullah, karena memang merupakan bagian dari kebebasan, yang justru telah diberikan-Nya kepada tiap makhluk-Nya (dengan diciptakan-Nya 'akal' dan 'nafsu-keinginannya').

Lebih jelasnya lagi, segala proses yang relatif 'tidak diatur' oleh sunatullah, pada dasarnya berlangsung dalam selang waktu hanya 'amat sesaat' (hanya seper sekian detik, ataupun secepat perubahan arah pikiran tiap manusia), sebelum berlakunya sunatullah tiap saatnya. Dimana dalam selang waktu ini, tiap makhluk-Nya justru memiliki kebebasan, untuk bisa memilih dan mengubah berbagai keadaan awalnya (lahiriah dan batiniah), yang menjadi input-masukan bagi proses pada sunatullah, yang lalu menentukan segala keadaan akhirnya tiap saatnya, secara setimpal (qadla atau balasan-Nya baginya tiap saatnya).

Baca pula poin k di bawah (proses pemberian balasan-Nya).

Lama waktu berlakunya sunatullah juga hanya 'amat sesaat' saja, sehingga pasti selalu saling bergantian atau berselang-seling, secara amat sangat cepat, antara perbuatan 'amat sesaat' tiap makhluk-Nya (dalam memilih dan mengubah berbagai keadaan awalnya), dan perbuatan 'amat sesaat' Allah (melalui sunatullah, dalam menentukan segala keadaan akhirnya), yang pasti selalu 'menyertai' di belakang. Pergantian ini berlangsung amat sangat cepat, sehingga memang relatif amat sulit bisa dibedakan antara perbuatan tiap makhluk-Nya dan perbuatan Allah, yang masing-masingnya pada dasarnya terpotong-potong atau terpisak-pisah menjadi sejumlah perbuatan, yang amat singkat atau sesaat, yang tersusun membentuk suatu rangkaian yang berselang-seling dan kontinu.

Dengan lama waktu berlakunya sunatullah yang justru hanya 'amat sesaat', maka qadla-Nya (keadaan atau hasil tiap saatnya dari proses pada sunatullah) juga sering disebut "keputusan atau ketetapan-Nya yang mustahil bisa diubah-ubah lagi", dan memang tidak ada waktu lagi untuk mengubahnya.

Baca pula poin p di bawah (cara memanfaatkan sunatullah), serta uraian-uraian tentang perbuatan makhluk-Nya bukan perbuatan Allah, penentuan takdir-Nya melalui sunatullah dan kebebasan manusia dalam memilih takdir-Nya.

k.

Sunatullah mengatur proses pemberian balasan-Nya.

»

Sunatullah (aturan-Nya) juga termasuk mengatur proses pemberian segala bentuk balasan-Nya 'tiap saatnya', secara 'langsung', 'adil' dan 'setimpal' (pahala-Nya, beban dosa, nkmat-Nya, siksaan-Nya, azab-Nya, rahmat-Nya, rejeki-Nya, dsb), atas tiap amal-perbuatan manusia 'tiap saatnya', ketika manusianya sedang hidup di dunia. Walaupun bentuk balasan-Nya yang terakhir dan telah disempurnakan-Nya, juga pasti diberikan-Nya sejak Hari Kiamat (sejak saat kematian tiap manusia).

Proses pemberian segala bentuk balasan-Nya (secara lahiriah dan batiniah), justru melalui rumus proses yang bersifat 'pasti' dan 'jelas' (minimalnya bagi Allah dan bagi tiap umat manusia yang telah memahami sunatullah), yang di dalamnya memang dipertimbangkan segala keadaan batiniah pada tiap manusianya, yang justru amat mempengaruhinya dalam berbuat, seperti: niat (tauhid, maksud-tujuan dan dalil-alasan), tingkat kesadaran atau pengetahuan, tingkat keimanan, beban tanggung-jawab, tingkat keterpaksaan, beban ujian-Nya, dsb. Di samping tentunya juga dipertimbangkan segala keadaan fisik-lahiriah, pada diri manusianya sendiri dan pada lingkungan di sekitarnya.

Proses pemberian segala bentuk balasan-Nya, pasti berlaku 'adil' atau 'setimpal' (pasti sesuai dengan tiap amal-perbuatan manusia). 51).

Bahkan tiap proses pemberian balasan-Nya melalui sunatullah, mustahil bersifat 'tidak adil' dan 'sewenang-wenang'. Karena segala sesuatu bisa disebut 'tidak adil', jika pemberiannya bersifat relatif, tidak pasti terjadi, fana, tidak konsisten ataupun berubah-ubah. Seperti halnya sifat perbuatan manusia, ataupun sifat aturan dan perundang-undangan buatan manusia.
Sebaliknya pemberian balasan-Nya melalui sunatullah, justru bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah).

Walaupun bersifat 'mutlak', Allah juga tidak bisa disebut bersikap atau berlaku 'sewenang-wenang', karena sunatullah justru bersifat 'kekal'. Bahkan sunatullah itu telah ditetapkan-Nya sebelum awal penciptaan alam semesta ini (bahkan sebelum penciptaan umat manusia di dalamnya), dan tidak akan berubah-ubah, bahkan sampai akhir jaman. Maka Allah justru mustahil bisa disebut bersikap 'sewenang-wenang', kepada tiap umat manusia (ataupun segala makhluk-Nya lainnya).

Sebenarnya tiap balasan-Nya pada saat di dunia, justru telah 'sempurna' (telah 'adil' atau 'setimpal'). Namun akibat adanya segala kekurangan dan keterbatasan pada tubuh fisik-lahiriahnya, menjadikan tiap manusia relatif amat sulit memahami tiap balasan-Nya, yang 'sebenarnya' justru terjadi pada alam batiniah ruhnya masing-masing (alam pikiran atau alam akhiratnya). Juga keberadaan tubuh fisik-lahiriah telah relatif amat menyibukkan tiap manusia, dan sekaligus relatif amat melalaikan kehidupan akhiratnya (kehidupan batiniah ruh atau pikirannya).
Baca pula artikel/posting "Jagalah hati-pikiran", tentang hubungan antara alam akhirat, alam batiniah ruh dan alam pikiran.

Setelah ruh tiap manusia telah terpisah dari tubuh fisik-lahiriahnya di Hari Kiamat (saat kematiannya), maka tiap balasan-Nya justru baru benar-benar mulai terasa 'sempurna' ('adil' atau 'setimpal'), bahkan juga atas pahala-Nya dan beban dosa yang sebesar biji zarrah sekalipun (amat sangat kecil atau sederhana sekalipun). Maka tiap balasan-Nya sejak Hari Kiamat, biasanya disebut "telah disempurnakan-Nya". Karena tiap manusia memang telah mulai menjalani kehidupannya di alam akhirat, yang murni dan sebenarnya (tidak bercampur-baur lagi dengan kehidupan fisik-lahiriahnya di alam dunia, beserta segala kesibukan fisik-lahiriah-duniawinya).

Sekali lagi, tiap balasan-Nya justru pasti diberikan-Nya 'tiap saatnya', ketika tiap amal-perbuatan 'sedang' dilakukan oleh manusia pelakunya, selama hidupnya di dunia. Bahkan tiap balasan-Nya 'tiap saatnya', pada dasarnya sebutan lain dari 'qadla-Nya', sebagai hasil dari segala proses pada sunatullah, 'tiap saatnya'. Karena melalui tiap amal-perbuatannya 'tiap saatnya', manusia pelakunya pada dasarnya berusaha mengubah-ubah berbagai keadaannya, sesaat sebelum berlakunya sunatullah, yang menentukan 'qadla-Nya' baginya (balasan-Nya), 'tiap saatnya'.
Baca pula poin j di atas (sunatullah mengatur segala proses lahiriah & batiniah).

Penting diketahui, balasan-Nya yang benar-benar terasa 'adil' atau 'setimpal' bagi tiap manusia, pada dasarnya berupa balasan-Nya secara batiniah (termasuk berupa pahala-Nya dan beban dosa). Karena segala keadaan batiniah di alam pikiran tiap manusia (alam batiniah ruhnya), memang hanya semata kekuasaan dan otoritas sepenuhnya pada manusianya sendiri, untuk bisa mengatur, mengubah ataupun membangunnya, melalui segala amal-perbuatannya di dunia (lahiriah dan batiniah).
Segala makhluk-Nya lainnya sama sekali tidak bisa mengaturnya, dan bahkan Allah juga tidak berkehendak mengaturnya. Namun Allah hanya semata mengaturnya, saat ditanamkan-Nya segala keadaan, sifat atau fitrah dasar, yang suci-murni dan bersih dari dosa, pada zat ruh manusianya (saat awal penciptaan zat ruhnya itu). Hal inipun sebagai bentuk paling awal ke-Maha Adil-an Allah.

Sedangkan segala keadaan fisik-lahiriah pada tiap manusia, justru selain bisa amat berbeda-beda sejak awal kelahirannya, dan juga bisa amat dipengaruhi oleh segala keadaan fisik-lahiriah pada lingkungan di sekitarnya, sepanjang hidupnya.
Sehingga balasan-Nya secara lahiriah (termasuk berupa rejeki-Nya), umumnya terasa tidak 'adil' atau tidak 'setimpal', walaupun sebenarnya justru tetap 'adil' atau 'setimpal' (pasti sesuai dengan 'gabungan' segala keadaan fisik-lahiriah, pada diri tiap manusianya dan pada lingkungan di sekitarnya).
Bahkan balasan-Nya secara lahiriah sama sekali tidak berbeda, bagi orang yang beriman dan bagi orang yang kafir (sama sekali tidak terkait dengan keimanan), jika segala keadaan dan usahanya masing-masing, secara lahiriah memang sama.

Dengan berusaha membangun atau memiliki kepekaan batiniah yang relatif amat kuat, tiap umat Islam mestinya bisa memahami ke-Maha Adil-an Allah, atas tiap amal-perbuatan manusia (terutama pada aspek batiniah, dan bukan pada aspek lahiriah), yang justru terjadi 'tiap saatnya'.
Sehingga Allah justru pasti berlaku adil, berapapun lama usia hidup tiap manusia di dunia. Hal ini juga sekaligus membantah konsep reinkarnasi, yang menganggap 'tertunda'-nya ke-Maha Adil-an Tuhan, sampai berbagai fase kehidupan dunia.

Bahkan dengan memahami bentuk balasan-Nya, yang telah ditimbulkan oleh tiap amal-perbuatan umat manusia (baik dan buruk, seperti: pahala-Nya, beban dosa, nkmat-Nya, siksaan-Nya, azab-Nya, rahmat-Nya, rejeki-Nya, dsb), maka tiap umat Islam juga bisa memahami tiap kehendak, keredhaan, anjuran dan perintah-Nya, dan sebaliknya bisa memahami tiap larangan dan laknat-Nya, beserta tingkat prioritas dan kepentingannya, secara 'relatif' (besar pahala-Nya dan beban dosa).

Proses pemahaman seperti itu, bahkan juga telah dilakukan oleh para nabi-Nya, dalam mengenal "agama atau jalan-Nya yang lurus" di alam semesta ini, sebagai suatu bentuk keredhaan-Nya bagi keselamatan, ketentraman, kebahagiaan dan kemuliaan tiap makhluk-Nya di alam semesta ini, serta sama sekali bukan demi kepentingan Allah, Yang tidak memerlukan segala sesuatu dari makhluk-Nya.
Lalu sebagian dari para nabi-Nya, menyampaikan segala hasil pemahamannya itu (beserta pemahaman atas segala hal lainnya), secara relatif lengkap dan sempurna, melalui Al-Kitab (kitab-Nya / kitab tauhid), bagi para umat penganut agama-Nya (agama tauhid), ataupun bahkan bagi seluruh umat manusia.

l.

Alam semesta diciptakan-Nya, melalui sunatullah.

»

Segala aturan atau rumus proses kejadian pada unatullah, yang berjalan dengan harmonis, teratur, konsisten, sinergis dan sempurna, yang membuat terciptanya alam semesta dan segala isinya ini, hanya dari dua elemen yang paling dasar, yaitu: "zat Materi terkecil" (nyata dan mati) dan "zat Ruh" (gaib dan hidup).
Sedangkan elemen yang paling dasar ketiga, "Energi", justru bukan berupa zat, tetapi berupa potensi yang telah diberikan-Nya pada tiap zat, saat penciptaannya.

Baca pula artikel/posting "Urutan penciptaan alam semesta (sejak dari elemen-elemen paling dasarnya, sampai akhir jaman)". Serta topik "Benda mati nyata" dan topik "Ruh-ruh", tentang sifat-sifat atom dan ruh.

Pada berbagai sumber lainnya, jumlah elemen dasar itu disebut empat ataupun lima, yaitu: "air, api, angin dan tanah", ataupun "air, api, angin, tanah dan logam". Namun ke-empat dan ke-lima elemen dasar itu justru sebenarnya hanya berasal dari "atom-materi" dan "energi". Namun "atom" dan "materi terkecil" memang tidak tampak dengan mata telanjang, sehingga belum diketahui oleh orang-orang terdahulu, yang telah merumuskan kumpulan elemen tersebut. Serupa pula halnya dengan "ruh", sebagai elemen dasar penyusun kehidupan makhluk-Nya, yang memang bersifat gaib (relatif amat sulit bisa diketahui dan dijelaskan).

Dengan tak-terhitung jumlah dua macam elemen yang paling dasar itu ("Materi terkecil" dan "Ruh") dan didukung oleh "Energi", diciptakan-Nya amat sangat berragam seluruh khasanah zat ciptaan-Nya, yang terdapat di alam semesta ini (nyata dan gaib, hidup dan mati), misalnya: dari anak sampai harta, dari atom sampai galaksi, dari sel sampai dinosaurus, dari malaikat sampai iblis, dari cecak sampai komodo, dari lumut sampai pohon beringin, dari udara sampai besi, dsb.
Sekali lagi, penciptaan itu hanya dengan zat penyusun segala benda mati ("Materi terkecil") dan zat penyusun segala kehidupan ("Ruh"). Juga hanya melalui sunatullah, yang mengatur segala proses interaksi antar zat, dan segala proses pada tiap zat itu sendiri, maka telah diciptakan-Nya seluruh khasanah zat ciptaan-Nya.

Bahkan juga diciptakan-Nya pasangan keseimbangan atas segala zat ciptaan-Nya, seperti: maskulin-feminin; jantan-betina; pria-wanita; pahala-dosa; surga-neraka; bumi-langit; nyata-gaib; hidup-mati; dunia-akhirat; baik-buruk; kebenaran-kebatilan; tua-muda; petunjuk-kesesatan; cacat-normal; tinggi-rendah; hitam-putih; kaya-miskin; besar-kecil; luas-sempit; bersih-kotor; licin-kasar; buram-mengkilap; dsb.
Masih amat banyak pula hal-hal lainnya di antara tiap pasangan keseimbangan itu, sehingga tidak betul-betul "hitam-putih", namun justru ada segala tingkat warna kelabu misalnya. Hal ini bahkan amat berragam seperti halnya warna pelangi, yang semuanya justru telah menunjukkan ke-Maha Luas-an segala zat ciptaan-Nya.

Ada hal amat penting pada zat ruh, yang justru telah membentuk segala dinamika, simetrisitas, ketidak-sempurnaan, ketidak-lengkapan dan keseimbangan pada segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini, karena zat-zat ruh diciptakan-Nya bersifat 'maskulin' dan 'feminin' (dengan berbagai tingkat dominan atau kekuatan).
Dan sifat-sifat 'maskulin' dan 'feminin' ini, adalah bagian dari segala 'fitrah dasar', yang telah ditanamkan-Nya pada tiap zat ruh, pada saat awal penciptaannya.

Contoh lebih jelasnya, sifat-sifat ini misalnya membentuk: elektron dan proton; kutub benda langit dan magnet; gaya tarik-menarik (gravitasi) dan gaya tolak-menolak; jenis kelamin (pria & wanita, jantan & betina); simetrisitas bentuk tubuh makhluk nyata; dsb, serta termasuk pula tentunya membentuk segala pasangan kesimbangan di atas.

"(Rabb) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah, sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?." – (QS.67:3).

Segala sesuatu hal di alam semesta diciptakan-Nya serba ada tersedia, sebagai ke-Maha Luas-an rahmat-Nya bagi seluruh umat manusia (demi kepentingan kehidupannya di dunia fana ini). Sekaligus sebagai bahan pelajaran yang amat berlimpah-ruah pula bagi tiap manusia, agar bisa mengenal Allah, dan sekaligus agar bisa kembali dekat ke hadapan 'Arsy-Nya (bisa meraih segala kemuliaan), setelah menyembah dan mengabdi kepada-Nya.

m.

Sunatullah memiliki unsur pemaksaan (pasti berlaku).

»

Sunatullah memiliki sifat atau unsur 'memaksa' (serupa aturan atau perundang-undangan buatan manusia), misalnya untuk bisa: menjaga keteraturan tatanan kehidupan segala makhluk-Nya di alam semesta ini; menjaga keseimbangan di alam semesta ini, agar tidak ada sesuatupun makhluk-Nya yang bisa mendominasi atau memiliki kekuasaan yang amat melampaui batas; dsb.
Pemaksaan atau pembatasan melalui sunatullah, termasuk untuk bisa menjamin keseluruhan alam semesta ini (termasuk kehidupan umat manusia di dalamnya), bisa tetap tegak-kokoh sampai akhir jaman. Baca pula poin n dan poin o di bawah.

Tanda-tanda yang relatif mudah dipahami oleh manusia, tentang kedatangan akhir jaman, bahkan juga telah 'ditunjukkan-Nya' melalui sunatullah, dengan adanya berbagai bintang yang telah 'mati' (kehilangan sinarnya), yang juga dikenal sebagai 'lubang hitam' (black hole) dan 'bintang neutron'. Tentunya Matahari, sebagai bintang terpenting bagi sumber energi kehidupan di Bumi, suatu saat pasti akan 'mati' pula, yang diperkirakan masih sekitar puluhan atau ratusan ribu tahun lagi. Saat inipun tentunya akhir jaman, jika umat manusia memang belum bisa pindah bertempat tinggal ke planet-planet lain di luar sistem Tata surya (Matahari).

Alam semesta ini pasti ada batas akhirnya atau tidak kekal (termasuk kehidupan fisik-lahiriah-duniawi seluruh umat manusia di dalamnya).
Baca pula topik "Benda mati nyata", tentang 'bintang mati' ataupun 'lubang hitam' (black hole). Serta artikel/posting terdahulu "Urutan penciptaan alam semesta", tentang keadaan alam semesta ini di akhir jaman.

Walaupun memang memaksa dan membatasi, namun sunatullah justru mengatur segala sesuatu hal di alam semesta ini, secara amat sangat cermat, lengkap dan sempurna. Sehingga tiap manusia justru masih tetap memiliki kesempatan dan kebebasan yang relatif amat luas, untuk bisa menjalani, mengatur dan mencapai tujuan kehidupan yang lebih diinginkannya. Semuanya hanya semata tergantung kepada usaha tiap manusianya sendiri, sesuai dengan segala keadaan, kemampuan dan pengetahuannya masing-masing.

Contoh sederhananya, manusia bisa bebas menendang dan memukul bola ke segala arah, sesuai keinginannya. Namun Allah melalui sunatullah juga telah mengatur, agar manusia hanya bisa melempar bola, sejauh jarak yang terbatas saja. Namun pukulan dan tendangan itu telah cukup, untuk bisa memenuhi kebutuhan manusia dalam kehidupannya, misalnya untuk bermain sepak bola, bola voli, dsb.

Kesempatan dan kebebasan yang amat luas itu, justru jauh lebih jelas tampak pada aspek batiniahnya (aspek lahiriahnya memang relatif terbatas). Karena aspek batiniah ini, adalah wujud kehidupan di alam pikiran tiap manusia (alam batiniah ruhnya), dimana manusianya sendiri memang memiliki kekuasaan dan otoritas sepenuhnya, untuk bisa mengatur dan membangunnya, bagaimanapun segala keadaan fisik-lahiriahnya. Misalnya tiap manusia relatif pasti bisa mencapai segala kebahagiaan batiniah, dalam kehidupannya di dunia, walaupun memiliki berbagai kekurangan dan keterbatasan pada tubuh fisik-lahiriahnya.
Kehidupan fisik-lahiriah-duniawi yang fana ini memang bentuk ujian-Nya bagi tiap manusia, di samping juga sekaligus untuk bisa mendukung tiap usahanya, dalam membangun kehidupan batiniah ruhnya (kehidupan akhiratnya), yang kekal.

Ajaran-ajaran agama-Nya adalah berbagai cara yang telah dianjurkan-Nya, untuk bisa membangun kehidupan akhirat yang makin baik. Terutama agar tiap manusia bisa menjaga keseimbangan dirinya, mengikuti dan ikut menjaga keseimbangan di lingkungan sekitarnya, secara lahiriah dan batiniah. Dan juga sekaligus agar bisa mencapai keadaan kehidupannya, yang selamat, aman, tentram dan bahagia.

Dengan mengikuti ajaran-ajaran agama-Nya, tiap manusia mestinya relatif bisa menjaga keharmonisan dengan irama lingkungannya. Sehingga tiap manusia relatif tidak merusak keseimbangan dirinya (tidak menimbulkan pertentangan lahiriah dan batiniah), relatif tidak merusak segala keseimbangan di lingkungan sekitarnya (tidak menjadi biang kerusakan), ataupun relatif tidak berbuat dosa, kezaliman, melampaui batas atau berlebihan.
Terkait dengan hal ini, bahkan nabi Muhammad saw diutus-Nya, untuk menjadi "rahmat-Nya bagi alam semesta ini" (membawa keseimbangan, keselamatan, ketentraman dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia di alam semesta ini).

Bagaimana bagi tiap manusia yang telah mencoba "melawan sunatullah" ataupun "menantang takdir-Nya", secara positif (berbuat kebaikan) dan negatif (berbuat dosa, keburukan, kezaliman, melampaui batas atau berlebihan)?.
Sunatullah dan takdir-Nya justru mustahil bisa diubah, dilawan atau ditantang, karena memang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku). Namun seperti uraian poin j di atas, bahwa 'sesaat' sebelum berlakunya sunatullah (sebelum qadla atau takdir 'sesaat' ditetapkan-Nya), justru ada kesempatan dan kebebasan 'sesaat' bagi tiap makhluk-Nya, untuk memilih dan mengubah berbagai keadaannya.
Maka istilah "melawan sunatullah" dan "menantang takdir-Nya", jauh lebih tepat disebut "usaha memilih dan mengubah keadaan" atau "usaha memilih takdir-Nya".

Penting diketahui pula, tiap amal-kebaikan yang dilakukan secara melampaui batas atau berlebihan, justru juga suatu bentuk kezaliman, karena telah bisa merusak keseimbangan di alam semesta ini (menimbulkan kemudharatan). Sehingga tiap amal-kebaikan sekalipun, mestinya tetap dilakukan secara amat arif-bijaksana.

Tentunya pasti ada segala bentuk balasan-Nya secara setimpal, bagi tiap manusia yang telah berbuat dosa, keburukan, kezaliman, melampaui batas atau berlebihan (telah merusak keseimbangan lahiriah dan batiniah di alam semesta ini, yaitu pada: dirinya, orang atau makhluk lain, alam sekitar, dsb), dari yang amat ringan sampai amat berat. Dan segala balasan-Nya itu adalah bentuk paksaan dan batasan dari Allah (melalui sunatullah), agar tiap manusia memang bisa selalu terus-menerus kembali menjaga dan memperbaiki keseimbangan di alam semesta ini.

n.

Alam semesta tetap tegak-kokoh, karena berjalannya sunatullah.

»

Hanya semata dengan pasti berjalan atau berlakunya 'seluruh' aturan atau proses pada sunatullah, secara konsisten dan sinergis, maka alam semesta ini justru bisa tetap tegak-kokoh seperti sekarang (secara lahiriah dan batiniah), bahkan sampai 'setelah' akhir jaman (tentunya dengan segala keadaannya yang bisa berbeda atau berubah). Sebaliknya, jika ada satu aturan atau proses saja pada sunatullah yang tidak berjalan, maka seluruh alam semesta ini akan bisa kacau balau, tidak akan bisa berjalan sebagaimana semestinya, dan bahkan akan bisa hancur-binasa. 56)

Bayangkan apa jadinya misalnya: jika hukum gaya gravitasi ataupun hukum kekekalan massa dan energi tidak ada; jika iblis bisa berkuasa mengendalikan manusia, ataupun sebaliknya; jika manusia bisa berkuasa mengendalikan manusia lainnya, dengan bebasnya; jika ruh bisa bolak-balik atau pindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya, seperti yang diyakini para penganut penitisan atau reinkarnasi ruh (terutama tentang keadaan akhir batiniah ruh); jika tiap perbuatan dosa (amal-keburukan) tidak mendapat balasan atau hukuman-Nya; jika tiap manusia bisa hidup kekal di alam dunia (tidak mengalami kematian tubuh fisik-lahiriahnya); jika Allah justru bisa berbuat tidak baik, tidak adil, pilih-kasih, sekehendak, sewenang-wenang, semena-mena, zalim ataupun aniaya; dsb.

Juga mustahil alam semesta ini tetap tegak-kokoh, jika ada ilah atau tuhan selain Allah, yang kekuasaannya bisa sebanding atau setara dengan kekuasaan Allah, yang sekaligus bisa mengganggu berjalannya salah satu saja, dari segala aturan atau rumus proses pada sunatullah.

o.

Sunatullah menjaga keseimbangan alam semesta.

»

Sunatullah pasti menjaga segala keseimbangan yang terdapat di alam semesta ini.
Jika ada sesuatu hal yang telah merusak sesuatu keseimbangan di alam semesta ini, secara melampaui batas atau berlebihan (berbuat dosa atau kezaliman), dari yang amat ringan sampai amat berat, maka melalui sunatullah, Allah justru pasti berbuat setimpal, untuk mengembalikan keseimbangan, serta sekaligus pasti menghukum hal yang telah merusaknya (secara lahiriah dan terutama batiniah).

Perlu diketahui, bahwa Allah sama sekali bukan menjaga keseimbangan, dengan mengembalikan segala halnya kembali kepada segala keadaan awalnya semula. Namun Allah justru menjaga keseimbangan, dengan membentuk keseimbangan yang baru, beserta segala keadaannya yang juga baru (lahiriah dan batiniah).

Pada tiap aksi pasti ada pula reaksi yang berlawanan, yang sesuai dengan besarnya pengaruh dari aksi tersebut. Hal serupa ini juga telah umum dikenal dalam teori ilmu-fisika, tentang gaya aksi-reaksi.

Namun keseimbangan sebagai wujud dari ke-Maha Adil-an Allah, hanya tampak lebih jelas jika diperhatikan keseluruhan aspeknya (aspek lahiriah dan terutama aspek batiniah). Bahkan hakekat utama dari ke-Maha Adil-an Allah, justru terletak pada alam batiniah ruh tiap makhluk-Nya (alam pikiran atau alam akhiratnya), sama sekali bukan terletak pada alam fisik-lahiriah-duniawi, yang memang fana, terbatas, semu dan mudah menyesatkan.

Contoh sederhananya antara-lain:

Betapapun hebatnya kaum kafir secara fisik-lahiriah, mereka tidak akan pernah bisa mengalahkan kaum Mukmin. Karena pencarian mereka yang berlebihan atas hal-hal fisik-lahiriah, justru memiliki segala pengaruh amat buruk. Hal terpentingnya, kaum kafir pasti mengalami kerusakan rohani-moral-spiritual (melemah keyakinan batiniah), ketika mereka telah terlalu mengagungkan hal-hal duniawi. Padahal amat banyak beban dosa, yang bisa timbul dari pencarian berlebihan atas hal-hal duniawi itu.
Padahal dasar utama timbulnya tiap kekafiran, adalah tiap manusia terlalu berlebihan, dalam memperturutkan segala nafsu-keinginan duniawinya.

Pada sesuatu kezaliman (berlaku melampaui batas atau berlebihan, dalam menganiaya diri sendiri, orang atau makhluk lain, alam sekitar, dsb) pasti ada azab-Nya. Jika hutan dieksploitasi berlebihan misalnya, maka pasti timbul azab-Nya yang berupa banjir; erosi dan longsor; kematian; dsb. Namun azab-Nya yang lebih utama, justru pada alam batiniah ruh para pelakunya.
Sedangkan bagi 'para korbannya', kezaliman itu sendiri adalah suatu bentuk ujian-Nya, yang 'sebenarnya' sama sekali tidak merugikannya, walaupun memang memberatkannya. Karena pasti ada segala bentuk keringanan dan pahala-Nya, bagi orang-orang yang sedang mengalami ujian-Nya.

Allah pasti akan mengutus para nabi dan rasul-Nya ataupun orang-orang yang arif-bijaksana, untuk membawa segala pengajaran dan tuntunan-Nya (untuk membawa perbaikan), kepada kaum yang banyak melakukan segala bentuk kemungkaran, dari lingkup kalangan kaum itu sendiri.

p.

Tiap manusia bebas memanfaatkan sunatullah.

»

Secara sadar ataupun tidak, melalui segala bentuk perbuatannya tiap saatnya (baik dan buruk), tiap manusia justru pasti selalu memanfaatkan sunatullah. Karena 'di belakang' tiap perbuatan manusia tiap saatnya, justru pasti selalu diikuti atau disertai secara setimpal, oleh perbuatan Allah (melalui sunatullah).
Maka dalam kitab suci Al-Qur'an, sunatullah juga sering disebut 'rahmat-Nya'. Karena sunatullah memang membantu atau memudahkan tiap manusia, dalam menjalani kehidupannya. Dimana tiap manusia hanya memerlukan daya yang amat kecil dalam berbuat, namun pasti selalu ada daya Allah, Yang Maha Besar, yang membantunya 'di belakang'-nya.

Contoh sederhananya, nelayan yang memasang layar kapalnya, namun justru Allah Yang meniupkan angin dan membawakan kapalnya itu ke tempat tujuannya.
Baca pula Pengaruh daya atau perbuatan Allah bagi manusia.

Tiap saatnya tiap zat ciptaan-Nya pasti sedang menjalani bersamaan, berbagai proses pada sunatullah (lahiriah dan batiniah). Serta hasil akhir dari tiap proses itu tergantung kepada segala keadaan lahiriah dan batiniah, pada tiap zatnya. 57)

Tiap saatnya pula, tiap makhluk-Nya justru bisa berusaha memilih dan mengubah berbagai keadaannya, sesuai keinginan dan kemampuannya, untuk mengubah satu ataupun beberapa harga variabel input-masukan dari tiap proses tertentu pada sunatullah, ataupun dengan 'memilih' proses-proses lainnya (jika bisa mengubah keadaannya secara cukup signifikan). Perubahan keadaan itu memang mestinya diusahakan cukup berarti atau signifikan, agar takdir-Nya atau nasibnya (sebagai hasil output-kelaran dari proses pada sunatullah), juga bisa berubah cukup berarti ataupun drastis (agar segala usahanya relatif tidak terlalu sia-sia).

Lihat pula "Gambar 22: Diagram siklus proses sesaat fungsi sunatullah".

Contoh terkenal dari perubahan drastis itu, adalah peristiwa pergi berhijrahnya nabi Muhammad saw, bersama-sama dengan sejumlah para pengikutnya, dari kota Mekah, dimana Nabi telah amat sulit untuk mengembangkan diri dan berdakwah kepada umat, menuju ke kota Madinah, sebagai usaha Nabi untuk bisa mengubah keadaan dirinya dan umat-umatnya.

Tiap manusia mestinya cukup pintar dalam memahami hal-hal seperti: segala keadaan terkait pada lingkungan di sekitarnya; segala keadaan pada dirinya sendiri; segala proses pada sunatullah tentang persoalan yang dihadapinya; segala variabel yang cukup penting dan dominan pada proses-proses itu; keterkaitan sesuatu proses pada sunatullah dengan proses-proses lainnya; dsb, agar relatif maksimal bisa memanfaatkan sunatullah.

Namun dengan segala keterbatasan ilmunya, tiap manusia relatif tidak memiliki kemampuan dan pemahaman yang amat lengkap semacam itu, tentang berbagai persoalan dan keadaannya dalam kehidupannya. Pada akhirnya, tiap manusia juga cenderung akan berserah diri atau bertawakal kepada-Nya, atas segala nasib kehidupannya, setelah ia sendiri memang telah berusaha relatif maksimal.

Untuk menolong tiap manusia, agar bisa mengubah keadaan atau nasibnya (lahiriah dan terutama batiniah), menjadi relatif jauh lebih baik dan hakiki, maka telah pula diturunkan-Nya berbagai bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya, terutama melalui ajaran-ajaran agama-Nya. Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya".

Dan sejumlah tak-terhitung proses memilih dan usaha tiap manusia sepanjang hidupnya di dunia, agar bisa mengubah takdir-Nya atau nasibnya, biasanya dikenal sebagai "jalan hidupnya". Sedangkan segala cara yang telah dianjurkan-Nya melalui ajaran-ajaran agama-Nya, untuk tujuan yang sama, namun dengan cara yang lebih diredhai-Nya bagi tiap manusia, biasanya dikenal sebagai "jalan-Nya yang lurus".
Baca pula topik "Usaha dan jalan hidup makhluk-Nya" dan "Jalan-Nya yang lurus".

q.

Allah mengutus para nabi-Nya, melalui sunatullah.

»

Justru hanya melalui sunatullah, saat Allah memilih, menunjuk atau mengutus para nabi-Nya, dan juga saat Allah menurunkan agama Islam dan kitab suci Al-Qur'an (agama dan kitab-Nya yang terakhir), bagi seluruh umat manusia. Lebih luasnya lagi, saat Allah menurunkan para malaikat utusan-Nya, dan juga saat menurunkan segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya (termasuk pula berbagai agama dan kitab-Nya lainnya).
Dengan kata lain, proses-proses ini justru berlangsung 'alamiah', dan sebenarnya bukan proses-proses yang luar-biasa (tidak melalui cara-cara yang berada di luar nalar akal-sehat manusia). Namun segala 'usaha' yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya dan 'hasil usaha' mereka, yang justru memang luar-biasa.
Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya".

Tidak ada seorang manusiapun yang telah berjalan ataupun hidup di muka bumi (di dunia), tanpa disertai dengan sesuatu pengajaran dan tuntunan-Nya, bahkan juga termasuk manusia yang paling kafir dan ateis sekalipun.
Sedangkan tuntunan-Nya yang paling dasar, berupa segala "fitrah dasar" pada hati-nurani tiap manusia (di dalamnya termasuk fitrah untuk berusaha mencari Allah, Tuhan Yang telah menciptakannya ataupun mencari kebenaran-Nya). Serta pengajaran-Nya yang paling dasar, berupa "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" di seluruh alam semesta ini ("tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya").

Bahkan tiap tarikan napas atau tiap saatnya sepanjang hidup tiap manusia, Allah juga mengutus para makhluk gaib baginya (terutama para malaikat Jibril), untuk memberi segala pengajaran dan tuntunan-Nya secara batiniah (menyampaikan nilai-nilai kebenaran-Nya, dan berupa ilham-ilham yang positif-benar-baik).
Baca pula topik "makhluk hidup gaib".

Segala pengajaran dan tuntunan-Nya itu tentunya diberikan-Nya, terutama agar tiap manusia bisa mengenal Allah, Tuhan Yang telah menciptakannya ataupun bisa memahami kebenaran-Nya. Segala pengajaran dan tuntunan-Nya di seluruh alam semesta ini, juga disebut "agama atau jalan-Nya yang lurus", yang telah dipelajari dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman, dan bahkan juga bisa dipelajari oleh segala makhluk-Nya (para makhluk gaib, tumbuhan, hewan, manusia, dsb).
Setelah sebagian dari para nabi-Nya (para rasul-Nya) bisa memahami "agama atau jalan-Nya yang lurus" itu, secara relatif lengkap dan sempurna, lalu mereka juga menyampaikannya kepada seluruh umat manusia, melalui beberapa agama dan kitab-Nya. Baca pula topik "Jalan-Nya yang lurus".

Agama Islam dan kitab suci Al-Qur'an, adalah agama dan kitab-Nya yang terakhir. Sedangkan seluruh aspek kehidupan nabi Muhammad saw ("Sunnah-sunnah Nabi", yang berupa tulisan, lisan, sikap dan perbuatannya), yang telah menyampaikan kitab suci Al-Qur'an, juga telah menjadi contoh-contoh pengamalan langsung atas ayat-ayatnya. Sehingga Nabi justru disebut "contoh hidup Al-Qur'an".

Sebagai agama-Nya yang terakhir, tentunya ajaran-ajaran agama Islam (kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah-sunnah Nabi), adalah sumber pengajaran dan tuntunan-Nya yang paling mudah, aman, lurus (benar), lengkap dan sempurna, bagi seluruh umat manusia. Terutama agar tiap manusia bisa menjalani kehidupannya sesuai dengan kehendak atau keredhaan Allah, Tuhan Yang telah menciptakannya. Dan sekaligus pula agar tiap manusia bisa mencapai keselamatan, ketentraman, kebahagiaan dan kemuliaan, selama hidupnya di dunia dan terutama di akhirat.

r.

Allah menurunkan berbagai hal, melalui sunatullah.

»

Justru hanya melalui sunatullah, saat Allah berkehendak, bertindak atau berbuat menurunkan segala hal, seperti: siksa atau azab; mu'jizat; qadla dan qadar (takdir); rejeki; jodoh; kematian; pengajaran dan tuntunan; para malaikat; wahyu, ayat dan kitab; nabi dan rasul; ruh (penciptaan segala makhluk hidup nyata); karunia, rahmat dan hidayah; berkah; cobaan atau ujian; syafaat; balasan (nikmat dan siksaan); dsb. 58)

Uraian atas hal-hal yang diturunkan-Nya itu, misalnya:

Siksa atau azab-Nya:
Baca pula uraian-uraian di bawah, tentang proses diturunkan atau ditimpakan-Nya siksa atau azab-Nya.

Mu'jizat-Nya:
Baca pula uraian-uraian di bawah, tentang proses diturunkan atau dilimpahkan-Nya mu'jizat-Nya.

Qadla dan qadar-Nya (takdir-Nya), rejeki, jodoh dan kematian:
Baca pula topik "Takdir-Nya", serta uraian-uraian tentang jodoh dan rejeki dan kematian.

Para malaikat-Nya:
Baca pula topik "Makhluk hidup gaib".

Pengajaran & tuntunan, wahyu, ayat, kitab dan para nabi & rasul-Nya:
Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya". Serta artikel/posting "Cara proses diturunkan-Nya wahyu".

Ruh-Nya (penciptaan segala makhluk hidup nyata):
Baca pula topik "Makhluk hidup nyata".

Cobaan atau ujian-Nya:
Baca pula uraian tentang cobaan atau ujian-Nya, bukan siksaan-Nya.

Syafaat-Nya:
Baca pula topik "Benda mati gaib (termasuk Surga dan Neraka)", tentang syafaat, dan tidak diterima-Nya segala syafaat di Hari Kiamat.

s.

Pengetahuan dan pengalaman, wujud sunatullah.

»

Wujud dari pemahaman atas sunatullah juga biasanya disebut 'pengetahuan' dan 'pengalaman'. Baca pula uraian poin b di atas.

Dalam masyarakat awam, 'pengetahuan' biasanya dikenal sebagai 'pengalaman' (bersifat sederhana, aplikatif dan terbatas). Sedangkan pengetahuan biasanya lebih dihubungkan, dengan hal-hal yang diperoleh dari lembaga pendidikan atau sekolah (bersifat kompleks, teoretis dan amat luas). Selain itu pula, pengalaman biasanya tidak memerlukan pemikiran yang tajam, luas dan rumit, sehingga relatif mudah bisa dipahami, dikuasai atau diterapkan, oleh orang-orang yang awam sekalipun.
Namun pengetahuan dan pengalaman pada dasarnya sama-sama berupa hasil pemahaman atas sunatullah atau aturan-Nya. Dari perbedaan sifat keduanya, maka pemanfaatannya ke dalam tiap amal-perbuatan, tentunya bisa jauh lebih sempurna hasil yang diperoleh, jika pengetahuan dan pengalaman bisa dimiliki sekaligus.

Dalam hal-hal batiniah-moral-spiritual khususnya, justru 'pengalaman' yang paling penting. Karena hal-hal batiniah memang bersifat gaib (tersembunyi), yang relatif amat sulit untuk bisa dirumuskan dan dijelaskan. Pemahaman atas hal-hal gaib dan batiniah, juga relatif amat sulit bisa diperoleh dari pengetahuan teoretis di sekolah (bersifat seragam, massal dan waktu terbatas), termasuk pula di sekolah-sekolah agama. Di samping itu, hal-hal gaib dan batiniah juga amat menyangkut keyakinan pribadi tiap umat. Dan lulusan sekolah agama justru berupa "pengajar agama", namun bukan pasti berupa "orang beriman".

Ajaran-ajaran agama-Nya justru amat banyak menekankan nilai-nilai batiniah. Maka dalam beragama, amat perlu dimilikinya segala bentuk pengalaman rohani-moral-spiritual, agar umat bisa memahami tiap Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), di balik teks-teks ajarannya. Bahkan tiap praktek atau ritual amal-ibadah dalam ajaran-ajaran agama-Nya, adalah suatu cara agar umat bisa memahami nilai-nilai batiniah (rohani-moral-spiritual), di balik tiap amalan fisik-lahiriahnya, secara perlahan dan bertahap.
Serta tiap praktek-ritual amal-ibadah juga umumnya amat sederhana bentuknya, sehingga umat yang paling awam sekalipun mestinya bisa mengikuti, mengamalkan dan memahami agama-Nya. Dan agama-Nya memang bukan hanya semata bagi para alim-ulama dan umat-umat yang berilmu saja.

Kenabian pada para nabi-Nya pada dasarnya hanya bisa dicapai, karena mereka itu memang telah memahami nilai-nilai batiniah, hakekat dan tujuan dari penciptaan alam semesta dan kehidupan segala makhluk-Nya di dalamnya. Sedangkan mereka itu telah menjalani langsung segala pengalaman rohani-moral-spiritual, yang relatif amat banyak, luas dan lengkap, juga termasuk yang telah bisa membentuk segala akhlak, budi-pekerti dan kebiasaan positif, secara konsisten sepanjang hidupnya.

Selain para nabi-Nya itu memiliki segala pengalaman rohani-moral-spiritual yang relatif amat lengkap, mereka juga memiliki segala pengetahuan yang relatif jauh lebih tinggi, daripada seluruh umat manusia lainnya di kalangan kaumnya masing-masing. Hal inipun bisa tampak jelas dari mu'jizat yang mereka miliki. Serta logika sederhananya, umat relatif pasti tidak akan mau mengikuti orang-orang, yang justru tidak lebih berpengalaman dan berpengetahuan daripada dirinya sendiri.

Juga segala pengetahuan yang dimiliki oleh para nabi-Nya, telah bisa tersusun relatif sempurna (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhan), terutama tentang hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah).
Tentunya khusus dalam hal-hal lahiriah, amat tidak relevan jika pengetahuan pada para nabi-Nya, untuk dibanding dengan pengetahuan pada umat manusia modern saat ini, yang memang telah berkembang amat pesat dan jauh lebih lengkap.

Namun dengan segala pengetahuannya tentang bagaimana cara Allah berbuat di alam semesta ini, para nabi-Nya justru bisa 'memperkirakan' berbagai kejadian lahiriah, sejak saat awal penciptaan alam semesta ini, sampai saat terakhirnya (akhir jaman). Bahkan hal seperti ini justru relatif amat sulit bisa dicapai, oleh para ilmuwan modern saat ini, yang paling pintar sekalipun. Baca pula poin g di atas.

t.

Do'a, usaha batiniah yang diatur oleh sunatullah.

»

Do'a pada dasarnya berupa metode-cara terapi batiniah, yang diajarkan-Nya dalam ajaran-ajaran agama-Nya. Dengan berdo'a, tiap umat pada dasarnya melakukan sesuatu usaha batiniah (secara sadar ataupun tidak), agar bisa mengubah segala keadaan batiniahnya yang terkait. Walaupun memang relatif lebih sulit untuk bisa dijelaskan, proses dan hasil dari hal-hal yang bersifat batiniah ini, justru juga diatur dalam sunatullah, serupa seperti halnya pada proses dan hasil lahiriahnya.

Agar tiap keadaan batiniah itupun betul-betul tercapai, dan juga agar do'a itu bisa lebih memungkinkan untuk dikabulkan-Nya (di-ijabah-Nya), maka kandungan isinya mestinya betul-betul bisa dipahami. Penting diketahui, tiap do'a mestinya bisa membentuk semangat batiniah (energi positif), yang justru diperlukan untuk bisa mendukung segala usahanya, dalam mencapai tujuan-tujuan lahiriah dan batiniah. Padahal diketahui, bahwa tubuh fisik-lahiriah hanya alat-sarana bagi ruh, ataupun pasti hanya semata tunduk, patuh dan taat mengikuti segala perintah ruh, berdasar segala keadaan batiniah pada ruh itu sendiri.

Selain untuk bisa membentuk semangat batiniah, do'a juga amat penting untuk bisa membentuk sikap-sikap batiniah, dalam diri tiap manusianya, seperti misalnya:

Saat sebelum berusaha, agar tiap manusia bisa bersabar dalam menghadapi segala keadaannya (lahiriah dan batiniah), terutama yang berasal dari segala bentuk cobaan atau ujian-Nya.
Saat sedang berusaha, agar tiap manusia bisa berikhlas menerima apa adanya, atas segala kehendak-Nya di alam semesta ini, yang memang mustahil bisa ditolak dan dihindarinya. Juga atas segala kehendak-Nya melalui ajaran-ajaran agama-Nya, bagi kepentingannya sendiri (berupa keredhaan-Nya).
Saat selesai berusaha, agar tiap manusia bisa berserah-diri (bertawakal) dan meminta pertolongan kepada-Nya, atas tiap hasil usahanya.
Saat setelah berusaha, agar tiap manusia bisa bersyukur menerima apapun bentuk pemberian-Nya, dari tiap usahanya.

Khusus pada pencapaian tujuan-tujuan lahiriah, setelah berdo'a tentunya segala usaha yang sesuai mestinya tetap dilakukan, oleh tiap manusia itu sendiri. Proses seperti ini pula, yang justru dilakukan oleh orang-orang tertentu yang berilmu agama tinggi, yang do'a-do'anya dianggap "mustajab" (ampuh). Di samping mereka itu sendiri memang juga telah bisa memahami, sebagian dari rumus proses lahiriah dan batiniah pada sunatullah, khususnya yang terkait dengan do'a-do'a tersebut.

Akhirnya, semuanya mestinya tetap kembali pada 'usaha', sekeras ataupun selama apapun usaha itu mestinya dilakukan, untuk bisa mewujudkan kandungan isi suatu do'a. Namun usaha pencapaian tujuan-tujuan batiniahnya justru jauh lebih penting, hakiki dan kekal, daripada pencapaian tujuan-tujuan lahiriahnya yang amat semu, mudah menyesatkan dan fana.
Baca pula topik "Usaha dan jalan hidup makhluk ciptaan-Nya"

Apa peran Allah dalam mengkabulkan do'a hamba-hamba-Nya?. Sekali lagi, segala kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya di seluruh alam semesta ini, justru pasti melalui sunatullah (aturan-Nya), termasuk tentunya dalam mengkabulkan do'a hamba-hamba-Nya, setelah hamba-hamba-Nya itu sendiri telah melakukan segala usaha yang setimpal (lahiriah dan batiniah).
Bahkan tidak ada seorangpun yang bisa menyatakan (termasuk para nabi-Nya), bahwa tiap do'anya pasti akan dikabulkan-Nya, karena tiap umat manusia memang mustahil bisa memahami seluruh proses lahiriah dan batiniah pada sunatullah (hanya bisa memahami sebagian amat sangat sedikit darinya).

u.

Pelaksanaan sunatullah dikawal oleh tak-terhitung malaikat.

»

Segala kehendak, tindakan atau perbuatan Allah di alam semesta ini, dalam blog ini dan dalam buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", biasa disebut 'melalui' sunatullah (aturan-Nya), karena Allah memang tidak langsung turun tangan, dalam mengurus segala zat ciptaan-Nya dan segala sesuatu hal lainnya di alam semesta ini. Namun pelaksanaan sunatullah justru diwujudkan atau dikawal oleh tak-terhitung jumlah makhluk-Nya di seluruh alam semesta ini (bahkan juga termasuk oleh para iblis dan manusia yang paling kafir dan ateis sekalipun), dengan disadari ataupun tidak.

Lebih jelasnya lagi, segala bentuk perbuatan tiap makhluk-Nya tiap saatnya, pada dasarnya bisa terdiri dari: perbuatan 'bebas' dan perbuatan 'tak-bebas'. Perbuatan 'bebas' berasal dari segala 'kebebasan', yang telah diberikan-Nya kepada tiap makhluk-Nya (dengan diciptakan-Nya 'akal' dan 'nafsu-keinginannya'). Sedangkan perbuatan 'tak-bebas' berasal dari segala 'fitrah dasar', yang telah ditanamkan-Nya pada zat ruh tiap makhluk-Nya, pada saat awal penciptaan zat ruhnya itu sendiri.

Ringkasnya, ada berbagai perbuatan yang 'bebas' dilakukan oleh tiap makhluk-Nya itu sendiri, serta ada pula berbagai perbuatan yang justru 'tak-bebas' dan 'pasti' dilakukannya, dalam berbagai keadaan tertentu (secara sadar ataupun tidak). Maka segala bentuk perbuatan yang 'tak-bebas' dan 'pasti' dilakukan oleh segala makhluk-Nya di alam semesta ini, yang justru mewujudkan segala perbuatan Allah.

Contoh sederhana bagi berbagai perbuatan yang 'tak-bebas' dan 'pasti' dilakukan oleh tiap manusia, melalui fitrah-fitrah seperti: pasti menghirup udara (bernapas); pasti mencari makanan, bagi pemenuhan energinya; pria relatif pasti berlaku maskulin, dan sebaliknya wanita relatif pasti berlaku feminin; pasti menyukai dan mendekati lawan jenisnya; pasti jengkel atau marah jika diganggu oleh orang lain; pasti sedih jika kehilangan miliknya; pasti menyukai keindahan dan kebaikan; pasti berkehendak untuk mencari Allah, Tuhan Yang telah menciptakannya ataupun mencari kebenaran-Nya; dsb. Hal-hal yang serupa pada dasarnya juga pasti terjadi pada tiap makhluk-Nya lainnya (nyata dan gaib).

Namun untuk bisa 'meringkas' dan 'menyederhanakan' penjelasan atas hal itu, maka di dalam kitab suci Al-Qur'an biasanya disebut, bahwa perwujudan atas segala perbuatan Allah di alam semesta ini (pelaksanaan sunatullah), justru dilakukan ataupun dikawal oleh tak-terhitung jumlah para malaikat-Nya, dalam "mengatur segala sesuatu urusan Allah di alam semesta ini". Termasuk karena para malaikat-Nya memang pasti tunduk, patuh dan taat kepada perintah-Nya. Serta jumlah para malaikat-Nya memang tak-terhitung kali jumlah makhluk nyata (termasuk seluruh umat manusia). Maka dengan sendirinya, peranan dari para malaikat-Nya dalam pelaksanaan sunatullah memang amat jauh lebih dominan, dibanding segala makhluk nyata, dan sekaligus meliputi seluruh alam semesta ini.

Bahkan tiap 'materi terkecil' pada tubuh fisik-lahiriah tiap makhluk nyata, justru ditempati dan dikendalikan oleh tiap malaikat-Nya. Tiap 'materi terkecil' ini jauh lebih kecil daripada segala partikel sub-atom, atom ataupun sel, karena memang berupa penyusun terkecil bagi segala benda mati. Dari ukurannya, maka 'materi terkecil' adalah benda nyata, yang sekaligus bersifat gaib (mustahil bisa dideteksi oleh manusia). Para iblis, syaitan dan jin tentunya juga menempati 'materi terkecil'. Dan tubuh fisik-lahiriah tiap manusia (dan makhluk nyata lainnya), pada dasarnya tersusun secara hierarki, dan dikendalikan oleh tak-terhitung jumlah para makhluk gaib, namun tentunya tiap ruh manusianya sendiri sebagai hierarki tertinggi dan pengendali utamanya.

Lebih lanjutnya lagi, Allah pada dasarnya hanya semata menyampaikan segala perintah-Nya kepada segala makhluk-Nya (termasuk para malaikat-Nya), bagi terwujudnya proses pelaksanaan sunatullah 'tiap saatnya' (lahiriah dan batiniah). Bahkan segala perintah-Nya itu bukan diberikan-Nya 'tiap saatnya', namun justru hanya semata diberikan-Nya 'sekali' saja (pada saat awal penciptaan zat ruhnya masing-masing), dengan ditanamkan-Nya langsung segala 'fitrah dasar' pada tiap zat ruhnya itu. Maka segala perintah-Nya itu justru hanya semata berupa segala 'fitrah dasar', di dalam hati-nurani pada tiap zat ruh makhluk-Nya. Serta segala 'fitrah dasar' ini bersifat kekal (tidak berubah-ubah), sejak ditanamkan-Nya.

Allah dan 'Arsy-Nya memang berada di dalam hati-nurani tiap makhluk-Nya. Walaupun hal ini sama sekali tidak terkait dengan keberadaan Zat Allah, namun hanya semata berupa pemahaman tentang Allah dan kebenaran-Nya.

"dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat,", "dan mendahului dengan kencang,", "dan mengatur (segala) urusan(-Nya)." – (QS.79:3-5) dan (QS.51:4).

"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril, dengan ijin Rabb-nya, untuk mengatur segala urusan(-Nya di dunia)." – (QS.97:4).

"Demi malaikat-malaikat yang diutus(-Nya) untuk membawa kebaikan dan menyebarkan (segala rahmat-Nya) dengan seluas-luasnya," – (QS.77:1) dan (QS.77:3).

"Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu, dengan perintah-Nya, kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, …" – (QS.16:2).

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat, yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah-Nya. …" – (QS.13:11).

"… (Neraka) Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." – (QS.66:6).

"Sesungguhnya Rabb-kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan(-Nya). …" – (QS.10:3) dan (QS.10:31, QS.13:2, QS.32:5).

Juga perlu diketahui hal-hal terkait lainnya, seperti:

  • Kandungan isi hati-nurani adalah bentuk tuntunan-Nya yang paling dasar bagi tiap makhluk-Nya, dalam menjalani kehidupannya di alam semesta ini. Selain dari kandungan isi hati-nurani yang telah ditanamkan-Nya langsung (berupa segala 'fitrah dasar'), juga bisa berupa segala pengetahuan atau kebenaran relatif, yang berasal dari segala hasil olahan akal tiap makhluk-Nya, sepanjang hidupnya. Jika akalnya makin sering digunakan dengan benar (relatif cermat, obyektif dan mendalam), tentunya segala kebenaran relatif dalam hati-nuraninya, bisa terus-menerus menumpuk makin sempurna (keyakinan hati-nuraninya makin kuat).

  • Tubuh wadah fisik-lahiriah tiap tiap makhluk nyata pasti tunduk, patuh dan taat kepada perintah ruhnya (kepada pilihan dan keputusan akalnya).

  • Segala perbuatan tiap makhluk-Nya (secara lahiriah dan batiniah), justru pasti dikendalikan oleh pilihan dan keputusan akalnya, berdasar segala informasi atau keadaan di alam batiniah ruhnya (alam pikirannya). Akalnya terkadang didukung pula oleh keyakinan hati-nuraninya (jika isi hati-nurani dipakai oleh akalnya).

  • Tiap makhluk-Nya memiliki kebebasan, kemampuan dan kekuasaan batiniah yang amat sempurna. Karena alam batiniah ruhnya (alam pikirannya), memang berada dalam kekuasaan dan otoritas sepenuhnya pada tiap makhluk-Nya itu sendiri, serta relatif sama sekali tidak bisa diatur-atur oleh segala makhluk-Nya lainnya. Bahkan Allah memang tidak berkehendak, untuk mengatur-atur alam pikiran tiap makhluk-Nya. Kecuali Allah hanya semata mengaturnya pada saat paling awal penciptaannya, dengan menanamkan segala keadaan, sifat atau fitrah dasar, yang suci-murni dan bersih dari dosa, pada zat ruhnya. Akal-pikiran tiap makhluk-Nya hanya semata tidak bisa menjangkau tentang Zat Allah, Yang Maha Gaib dan Maha Suci, serta tersucikan dari segala sesuatu halnya.

  • Para makhluk gaib relatif tidak memiliki tubuh wadah fisik-lahiriah (tubuhnya hanya berupa 'materi terkecil'). Sehingga kebebasan, kemampuan dan kekuasaan fisik-lahiriah pada 'tiap' makhluk gaib justru paling terbatas. Namun jika 'seluruh' tak-terhitung jumlah para makhluk gaib saling bekerja-sama secara sinergis, justru mereka bisa menggerakkan seluruh alam semesta ini. Sedangkan kebebasan, kemampuan dan kekuasaan tubuh wadah fisik-lahiriah pada umat manusia justru relatif paling sempurna, walaupun juga masih amat terbatas.

  • Dengan kebebasan, kemampuan dan kekuasaan tubuh wadah fisik-lahiriahnya yang paling terbatas, maka segala nafsu-keinginan fisik-lahiriah-duniawi pada 'tiap' makhluk gaib juga relatif paling rendah, dibanding segala makhluk-Nya lainnya, dan sekaligus akalnya paling tidak terganggu oleh segala nafsu-keinginan. Bahkan nafsu-keinginan mereka hanya semata untuk mengabdi kepada-Nya, dan sekaligus mereka pasti tunduk, patuh dan taat kepada perintah-Nya.

  • Para makhluk gaib adalah makhluk-Nya yang memang amat cerdas akalnya (bisa mengetahui segala isi pikiran tiap manusia, yang amat sangat halus sekalipun; bisa mengajari para nabi-Nya; bisa amat pandai menggoda tiap manusia; dsb). Sehingga mereka justru paling memahami tiap kebenaran-Nya, dibanding segala makhluk-Nya lainnya, dan sekaligus keyakinan hati-nuraninya juga paling kuat.

  • Seperti disebut di atas, bahwa tubuh tiap makhluk nyata (termasuk manusia) justru tersusun secara hierarki, dan dikendalikan oleh tak-terhitung jumlah para makhluk gaib, dengan tiap ruh makhluk nyata itu sendiri sebagai hierarki yang tertinggi dan sekaligus pengendali utamanya.

  • Sejumlah para makhluk gaib (para malaikat, jin, syaitan dan iblis) tiap saatnya pasti selalu mengikuti, mengawasi dan menjaga tiap manusia, serta sekaligus pula menempati atau bertugas di alam batiniah ruh manusianya (alam pikirannya). Termasuk mereka bertugas memberi segala pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah (memberi ilham-ilham yang positif-benar-baik dan yang negatif-sesat-buruk); mencatatkan dan membacakan tiap amal-perbuatannya (baik dan buruk, lahiriah dan batiniah); menyalurkan segala informasi batiniahnya; dsb.

  • Segala isi pikiran tiap manusia tiap saatnya, pada dasarnya terdiri dari: segala informasi yang murni dari alat-alat indera fisik-lahiriahnya, dan segala informasi tambahan dari para makhluk gaib (segala bentuk ilham). Namun saat alat-alat indera fisik-lahiriahnya relatif sedang beristirahat (saat melongo, melamun, mengantuk, tidur, hilang kesadaran, dsb), tentunya segala bentuk ilham dari para makhluk gaib justru paling dominan dalam pikirannya (khayalan, mimpi, dsb).

Dari uraian-uraian di atas, maka sunatullah pada aspek lahiriah, diwujudkan atau dikawal terutama oleh tak-terhitung jumlah para malaikat di seluruh alam semesta ini, yang menempati dan mengendalikan tiap materi-benda. Di dalam kitab suci Al-Qur'an, para malaikat ini juga disebut 'malaikat Mikail', yang memang bertugas menurunkan air hujan dan membagi-bagikan rejeki-Nya.

Sedangkan sunatullah pada aspek batiniah, diwujudkan atau dikawal oleh sejumlah para makhluk gaib (para malaikat, jin, syaitan dan iblis, termasuk para malaikat Jibril), yang menempati alam pikiran tiap manusia (dan makhluk nyata lainnya), yang terutama bertugas memberi segala bentuk ilham (memberi bahan pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah), tiap saatnya.

Penting diketahui pula, bahwa berbagai uraian di atas, relatif hanya terfokus kepada umat manusia, sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini (di dunia). Padahal berbagai uraian tentang sunatullah tersebut, mestinya juga berlaku terhadap segala makhluk-Nya lainnya. Karena sunatullah memang mengatur segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini, secara universal. Walaupun tentunya diperlukan sedikit penyesuaian atas berbagai uraian, bagi segala makhluk-Nya lainnya.

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang Sunatullah (sifat proses) dan Beberapa keterangan penting lain tentang sunatullah, di samping dari topik-topik terkait lainnya dalam buku ini.

Wallahu a'lam bishawwab.

Artikel / buku terkait:

Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

Tentang Syarif Muharim

Alumni Teknik Mesin (KBK Teknik Penerbangan) - ITB - angkatan 1987 Blog: "islamagamauniversal.wordpress.com"
Pos ini dipublikasikan di Hikmah, Saduran buku dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Sunatullah sebagai wujud perbuatan Allah

  1. Sobirin Nur berkata:

    Sangat menarik bagi saya kajian ini. Dalam kajian ini antara alam ghaib dan alam nyata bertemu dalam satu titik. Dalam kajian sains persoalannya harus emphiris. Jika gravitasi telah diungkap oleh Newton dengan rumusnya pada poin d, bagaimana mengungkap keberadaan ruh, malaikat, setan, iblis dan menjelaskannya secara ilmiah, paling tidak dapat diterima logika?

    • Syarif Muharim berkata:

      Sebenarnya tdk semua hal nyata-fisik-lahiriah bisa dibuktikan melalui pengujian empiris terutama krn pasti adanya keterbatasan alat ukur buatan manusia. Gravitasi bahkan juga termasuk hal gaib dan nyata sekaligus, krn materi yg menimbulkan gaya gravitasi memang amat sangat kecil ukurannya (partikel mediator gaya gravitasi), dan hampir mustahil bisa dideteksi oleh manusia. Namun toh manusia bisa mempercayai adanya gravitasi.
      Maka dlm hal-hal tertentu, solusi plg tepatnya mestinya gabungan antara pengujian empiris dan pendekatan konseptual-filosofis. Dimana pendekatan konseptual-filosofis dipakai utk mencari ‘benang merah’ antara segala hasil pengujian empiris dan hal-hal yg tdk dpt diuji.
      Sdgkan ttg keberadaan ruh cukup mdh dipahami, dgn adanya kehidupan makhluk. Juga dari adanya interanksi secara ‘terang-terangan’ antara manusia dan para makhluk gaib. Dimana para makhluk gaib adalah makhluk yg relatif hanya berupa zat ruh (relatif tanpa tubuh fisik-lahiriah).
      Bahkan umat manusia yg paling primitif sekalipun, jg telah umum diketahui meyakini keberadaan arwah-ruh.
      Tentunya keberadaan para makhluk gaib juga bisa diamati atau dibuktikan, melalui risalah dari para nabi-Nya ataupun dari sejumlah amat terbatas umat manusia sampai saat ini, yg pernah berinteranksi secara ‘terang-terangan’ dgn para makhluk gaib.
      Baca pula topik https://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/bd_4b/ dan artikel https://islamagamauniversal.wordpress.com/2011/11/19/gambaran-cara-berinteraksi-dengan-makhluk-gaib/.

      • Sobirin Nur berkata:

        Terima kasih, berarti kalau demikian, makhluk gaib berada pada dimensi yang sama dengan dimensi manusia. Walau materinya berbeda tetapi masih tetap pada bidang yang sama. Artinya berdampingan, jika ingin membuktikan makhluk gaib, yang kita teliti alam nyata, karena ada hubungan korelasi dengan alam gaib. Biasanya pengajian yang didapat selama ini adalah alam gaib adalah sesuatu yang tidak dapat diteliti oleh pengalaman emphiris, jadi jika kita hendak meyakini adanya alam gaib kita harus beriman dulu pada berita kenabian, atau percaya dulu pada sesuatu yang diluar emphiris yang dicerap indra kita. Kita harus percaya hadits, harus percaya kitab suci. Singkatnya alam gaib berada pada dimensi sama sekali lain, maka untuk mengetahuinya kita harus melepas segala macam perangkat dan teori ilmu pengetahuan (sains) yang kita miliki.

        • Syarif Muharim berkata:

          Selain ttg ‘esensi’ Zat Allah, Yang Maha Gaib dan Maha Suci (tersucikan dari segala sesuatu hal, trmsuk mustahil bisa dijangkau oleh alat-alat indera dan akal-pikiran tiap makhluk, di dunia dan di akhirat). Sebenarnya segala hal gaib lainnya (trmsuk ttg ‘perbuatan’ Zat Allah di alam semesta), mestinya masih bisa dijangkau oleh akal-pikiran manusia. Terutama krn segala hal gaib semacam ini memang hanya semata terdapat dlm segala sesuatu hal di alam semesta ini, tempat manusia berada. Juga para nabi-Nya memang hanya manusia biasa, dari segi zatnya (tdk ada alat-sarana khusus atau tambahan pd tubuhnya, utk memahami hal-hal gaib ataupun utk menerima wahyu).
          Persoalan sebenarnya hanya karena hal-hal gaib itu memang ‘tersembunyi’ secara amat sangat halus, dalam berbagai hal di alam semesta. Maka dlm berusaha memahami hal-hal gaib, memang diperlukan segala pengetahuan dan pengalaman rohani-batiniah-spiritual yg relatif amat luas dan mendalam, seperti milik para nabi-Nya, yg amat sulit bisa dicapai oleh sebagian terbesar umat manusia biasa lainnya. Lalu sebelum umat manusia biasa inipun bisa memahaminya sendiri, ia mestinya perlu mengimani terlebih dahulu ajaran-ajaran para nabi-Nya.
          Sedangkan para makhluk gaib sebenarnya berada pd dimensi yg sama dengan manusia (lebih luasnya berada pd alam semesta yg sama). Bahkan sebelum zat ruh manusia ditiupkan-Nya ke tubuh wadah fisik-lahiriahnya dan setelah zat ruhnya dicabut-Nya dari jasad tubuhnya, kehidupan manusia di alam ruh atau alam arwah, justru persis seperti kehidupan para makhluk gaib saat ini.
          Adapun seolah-olah adanya perbedaan ‘dimensi’ antara kehidupan manusia dan para makhluk gaib, hal ini krn manusia memang lebih mudah memahami kehidupan fisik-lahiriahnya, daripada kehidupan batiniahnya. Sebaliknya manusia memang lebih mudah memahami para makhluk gaib pada kehidupan batiniahnya, daripada kehidupan fisik-lahiriahnya. Dimana secara fisik-lahiriah, zat ruh segala makhluk memang amat sangat kecil ukurannya (tdk memerlukan ruang / mustahil bias dideteksi oleh manusia / gaib).
          Sedangkan secara batiniah, misalnya tiap saatnya para makhluk gaib selalu memberi segala bentuk ilham (benar & sesat), ke dlm pikiran tiap manusia.

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s