Bab VI Sifat ciptaan-Nya

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

"(Allah) Yang menciptakan,
dan menyempurnakan (tiap makhluk ciptaan-Nya)."
"dan Yang menentukan kadar (ukurannya, masing-masing).
Dan memberi petunjuk."
(QS. AL-A'LAA:87:2-3).

"Allah mengetahui apa yang dikandung oleh perempuan.
Dan kandungan rahim yang kurang sempurna, dan yang bertambah.
Dan segala sesuatu pada sisi-Nya (di Lauh Mahfuzh) ada ukurannya."
(QS. AR-RA'D:13:8).

"Dan tidak ada sesuatupun, melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya.
Dan Kami tidak menurunkannya, melainkan dengan ukuran tertentu."
(QS. AL-HIJR:15:21).

 

VI.

Sifat-sifat Ciptaan-Nya

Gambaran umum sifat-sifat zat ciptaan-Nya di alam semesta

Pada dasarnya 'sifat' zat ciptaan-Nya, adalah segala hal yang menunjukkan ciri khas atau karakteristik yang membedakannya secara lahiriah dan batiniah, dari zat-zat ciptaan-Nya lainnya. Segala sifat zat dikelompokkan menjadi 2 macam, yaitu: 'sifat pembeda-esensi-statis' dan 'sifat proses-perbuatan-dinamis'.

Kedua kelompok sifat zat ini bisa berubah-ubah atas berbagai perubahan 'keadaan' (lahiriah dan batiniah) pada tiap zat ciptaan-Nya. Walau kedua kelompok ini bisa berubah terhadap keadaannya, namun pada tiap keadaan yang persis sama, sifatnya pastilah "sama" pula.

'Sifat' dari sesuatu zat adalah segala sesuatu hal tentang zat itu (secara lahiriah dan batiniah), yang telah diketahui, dipahami ataupun dijelaskan oleh sesuatu hal selain zat itu sendiri, pada suatu keadaan tertentu (tetap sama, secara lahiriah dan batiniah). Sesuatu hal disebut 'sifat', jika hal itu terjadi secara terus-menerus, berulang-ulang atau konsisten pada jangka waktu tertentu saja ataupun selamanya (kekal).

Dari tingkat konsistensinya, maka ada sifat yang 'relatif' (tidak pasti terjadi, dari segala makhluk-Nya) dan sifat yang 'mutlak' (pasti terjadi, dari Allah). Lihat pula pada Gambar 18 berikut.

Gambar 18: Diagram umum sifat dan fitrah zat

Sifat pembeda (statis) dan sifat proses (dinamis)

"Sifat pembeda" adalah sifat-sifat yang langsung melekat dan tertanam secara internal pada sesuatu 'zat' ciptaan-Nya, pada keadaan tertentu. Lebih jelasnya, sifat ini bisa diketahui ketika sesuatu zat di dalam keadaan statis (tidaklah berbuat sesuatu hal, diam atau tidaklah berubah-ubah keadaannya). 'Sifat pembeda' ini bisa disebut juga 'sifat esensi' atau 'sifat statis' zat.

Sedangkan "sifat proses" adalah sifat zat ciptaan-Nya tentang prosesnya dalam berinteraksi dengan segala zat ciptaan-Nya lainnya (sejenis ataupun berlainan), maupun segala proses internal pada tiap zat ciptaan-Nya itu sendiri (termasuk proses perubahan pada "sifat pembeda"-nya). Sifat proses ini bisa diketahui ketika sesuatu zat di dalam keadaan dinamis (berbuat sesuatu hal, bergerak, atau berubah-ubah keadaannya). 'Sifat proses' ini bisa disebut juga 'sifat perbuatan' atau 'sifat dinamis' zat. Lihat pula pada Gambar 18 di atas.

Perbuatan zat ciptaan-Nya, yang bersifat mutlak dan relatif

Jika zat yang diamati adalah "zat Allah", maka seluruh "sifat proses atau sifat perbuatan-Nya" juga disebut sebagai 'Sunnah Allah' (sunatullah atau aturan-Nya), yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadiannya, yang bersifat 'pasti dan jelas', yang pasti berlaku ('mutlak') kepada segala zat ciptaan-Nya (nyata dan gaib, hidup dan mati) dan segala kejadian (lahiriah dan batiniah) di alam semesta ini.

Karena mustahil ada segala sesuatu selain Allah, Yang Maha berkuasa, yang bisa mengatur atau memaksa segala zat ciptaan-Nya. Maka perwujudan dari segala kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini, yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), justru hanya melalui Sunnah Allah atau sunatullah

Dari sudut pandang yang lainnya, segala sesuatu hal di alam semesta ini yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), adalah hal-hal yang diyakini oleh umat manusia, sebagai hasil perwujudan dari kehendak atau perbuatan Allah, Rabb-nya alam semesta, Yang Maha Esa. Segala hal semacam ini sering pula disebut sebagai 'kebenaran-Nya' (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya, atau ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis).

Hanyalah Allah Yang memiliki sifat-sifat 'mutlak' dan 'kekal', pada esensi zat Allah (sifat pembeda mutlak) ataupun pada perbuatan Allah (sifat proses mutlak). Dan hanya milik dan berasal dari Allah, segala sesuatu 'kebenaran mutlak'.

Maka sunatullah (Sunnah Allah), adalah sesuatu sebutan lain bagi hasil perwujudan dari segala perbuatan Allah di alam semesta ini (atau segala sifat proses mutlak dari Zat Allah). Juga sunatullah adalah sebagian dari segala kebenaran-Nya di alam semesta ini.

Segala sifat proses pada setiap zat ciptaan-Nya, yang bersifat tidak mutlak (tidak memaksa) dan tidak kekal, pasti hasil dari segala perbuatan makhluk-Nya. Juga tiap makhluk-Nya hanya memiliki sifat proses 'relatif'. Sehingga kebebasan segala zat makhluk-Nya di dalam berkehendak dan berbuat, bukanlah hal yang diatur dalam aturan-Nya (sunatullah), walau kebebasan ini memang pasti dibatasi-Nya pula.

Sedang setiap zat ciptaan-Nya selain makhluk-Nya (atau benda mati), yang justru tidak bisa berbuat sesuatu, dengan sendirinya juga sama sekali tidak memiliki sifat proses 'relatif'.

Sifat dari zat ciptaan-Nya, bukan sifat sesungguhnya

Walaupun sunatullah adalah sifat proses milik Zat Allah (hasil perwujudan dari segala perbuatan-Nya di alam semesta). Namun pada buku ini, sunatullah justru tetap dianggap sebagai sifat proses 'milik' tiap zat ciptaan-Nya. Selain karena sunatullah memang pasti berlaku atas segala zat ciptaan-Nya di alam semesta, juga segala zat ciptaan-Nya (termasuk seluruh umat manusia) justru pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala kehendak-Nya dan aturan-Nya (sunatullah), dengan ataupun tanpa disadari oleh manusia.

Juga karena sunatullah memang tidak berubah-ubah dan tetap melekat pada segala zat ciptaan-Nya, sejak saat awal penciptaan alam semesta sampai akhir jaman (berakhirnya alam semesta), dan tentunya karena sunatullah memang hanya bisa dipelajari oleh manusia, melalui segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', pada zat ciptaan-Nya dan segala kejadian (lahiriah dan batiniah) di alam semesta ini.

Contoh sederhana atas kepatuhan makhluk-Nya selain manusia kepada aturan-Nya, setelah bisa dipahaminya berbagai hal dari seekor singa yang amat liar dan ganas (karena berbagai hal ini memang relatif amat teratur dan bisa dipelajari), maka seorang pawang binatang bisa pula mengendalikan singa itu.

Sedang pada manusia misalnya, sama sekali tidak ada seorang manusiapun yang bisa menolak atau menghindari kematiannya. Juga para dokter bisa menyembuhkan berbagai penyakit lahiriah manusia, setelah melalui diagnosa-diagnosa tertentu yang relatif jelas.

Dari uraian di atas dijelaskan, bahwa segala zat ciptaan-Nya sama sekali tidak memiliki sifat-sifat 'mutlak' dan 'kekal' ("sifat yang sesungguhnya"), karena tiap zat ciptaan-Nya memiliki sifatnya sendiri yang justru bersifat 'relatif' (tidak konsisten, pada makhluk-Nya serta kebebasannya), atau bahkan tidak memiliki sifat 'relatif' (pada benda mati). Maka semua sifat lainnya pada segala zat ciptaan-Nya, justru telah diberikan-Nya (terutama "sifat proses" mutlak, aturan-Nya atau sunatullah tersebut di atas). Lihat pula pada Gambar 20 di bawah.

Akhirnya, segala zat makhluk-Nya (termasuk manusia), justru sama sekali tidak memiliki "sifat proses yang sesungguhnya". Segala kejadian yang diperbuat oleh tiap zat makhluk-Nya, memang tidak ada yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten).

Hal itu juga pada aspek esensi zat ciptaan-Nya, karena segala sesuatu yang diciptakan pada dasarnya tidak bersifat kekal (tiap esensi zat ciptaan-Nya tergantung kepada Zat, Yang telah menciptakannya). Namun Allah telah menjanjikan dalam Al-Qur'an, bahwa ruh manusia tetap akan bisa hidup kekal setelah Hari Kiamat (di Surga ataupun di Neraka), sebagai puncak dari balasan-Nya atas segala amal-perbuatan tiap manusia, selama di kehidupan dunia.

Padahal di lain pihak, hakekat dari tiap makhluk-Nya ada pada ruhnya, dan pada segala amal-perbuatannya, sedang pada ruhnya juga tercatat segala amal-perbuatannya itu. Maka justru ruh-ruh itulah yang akan tetap hidup kekal setelah Hari Kiamat (tanpa disertai oleh tubuh wadahnya). Kecuali jika dikehendaki-Nya hal lain yang akan terjadi, misalnya segala ruh makhluk-Nya dibinasakan-Nya atau dihancurkan-Nya seluruh alam semesta ini. Sekali lagi jika dikehendaki-Nya.

Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang catatan amalan pada tiap ruh makhluk-Nya.

Sedang sifat pembeda-statis-esensi yang sesungguhnya pada segala zat ciptaan-Nya (sifat pembeda mutlak), justru telah ditetapkan-Nya pada saat awal diciptakan-Nya alam semesta ini. Segala proses selanjutnya pada segala zat ciptaan-Nya sampai saat ini (telah sekitar milyaran tahun), justru diatur-Nya melalui sunatullah.

Pada akhirnya, sifat pembeda-statis-esensi dan proses-dinamis-perbuatan yang sesungguhnya (sifat mutlak dan kekal) pada segala zat ciptaan-Nya, pada dasarnya juga diciptakan-Nya. Sehingga sifat pada segala zat ciptaan-Nya yang diketahui oleh manusia, adalah gabungan antara "sifat yang sesungguhnya" (mutlak dan kekal, yang diciptakan-Nya) dan "sifat relatif" (yang diusahakan oleh segala makhluk-Nya).

Sifat-sifat-Nya dipahami dari sifat segala zat ciptaan-Nya

Bahwa 'sifat pembeda' pada Zat Allah, justru hampir tidak ada yang bisa diketahui oleh manusia, kecuali: Ada (wujud), Maha Esa, Maha gaib (Maha tersembunyi), Maha kekal, Maha awal, Maha akhir dan Maha hidup.

Bahkan sifat-sifat ini justru sama sekali tidak terkait langsung dengan 'sifat pembeda-statis-esensi' pada Zat Allah itu sendiri, yang memang berwujud 'Maha Gaib', dan Zat Allah juga sama sekali amat berbeda daripada segala jenis zat ciptaan-Nya. Bahkan sifat esensi Zat Allah mustahil bisa terjangkau oleh manusia, secara lahiriah (melalui mata) dan secara batiniah (melalui akal).

Seluruh sifat-Nya pada Asmaul Husna, pada dasarnya sesuatu hasil pemahaman nabi Muhammad saw, atas sifat proses dan pembeda yang sesungguhnya ('mutlak dan kekal') pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta ini, yang memang semata hanya hasil dari segala perbuatan-Nya (melalui sunatullah). Dan hanya Allah Yang memiliki sifat 'mutlak dan kekal'.

Segala hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadiannya di seluruh alam semesta, biasanya juga disebut dalam Al-Qur'an sebagai: (semuanya berupa sesuatu hal yang sama, hanya berbeda pada fokus dan konteks pemakaiannya)

~ Wajah-Nya (bentuk perwujudan dari semua sifat-Nya).
~ Tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta.
~ Ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di alam semesta.
~ Al-Qur'an atau kitab-kitab-Nya yang berwujud gaib, yang telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya.
~ Wahyu atau kalam Allah, dalam wujud yang sebenarnya.
~ Segala pengetahuan atau kebenaran-Nya di alam semesta.

 

Sederhananya, proses pemahaman atas sifat-sifat-Nya persis serupa dengan usaha untuk bisa mengetahui sifat-sifat zat ciptaan-Nya (termasuk manusia), namun ada perbedaannya antara-lain:

~ Hanya sifat 'perbuatan' Zat Allah Yang Maha Gaib, yang masih bisa diketahui oleh umat manusia, sedang sifat 'esensi' Zat Allah, Yang Maha Suci, justru mustahil bisa dijangkau dan diketahui.
~ Sifat-sifat-Nya hanya diketahui, 'melalui' segala hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', pada segala zat ciptaan-Nya dan kejadiannya di alam semesta (tidak langsung 'melalui' Zat Allah sendiri).
~ Sifat-sifat segala zat makhluk-Nya yang benar-benar hanya berasal dari hasil perbuatan makhluknya sendiri, justru pasti bersifat 'tidak mutlak' (tidak pasti, relatif) dan 'tidak kekal' (tidak konsisten).
~ Sifat-sifat-Nya bersifat gaib, amat sangat teratur, alamiah, halus, tidak kentara ataupun seolah-olah terjadi begitu saja.

 

Dari segala perbuatan-Nya bisa diketahui berbagai kehendak-Nya, lalu selanjutnya bisa diketahui berbagai sifat-Nya.

Lihat pula pada Gambar 19 dan Gambar 20 di bawah.

Gambar 19: Diagram umum proses pemahaman sifat-sifat-Nya

Gambar 20: Diagram umum sifat-Nya pada sifat zat ciptaan-Nya

Catatan dan permasalahan pemahaman atas sifat-sifat-Nya

Ada hal-hal yang relatif amat mengkuatirkan, yang terjadi pada sebagian besar kaum Muslimin di seluruh dunia (atau pada sebagian besar aliran-golongan-mazhab), adalah relatif amat sangat terbatasnya pemahaman umat tentang berbagai sifat-Nya. Padahal hal inilah satu-satunya wujud pengenalan umat manusia terhadap Allah, Tuhan Yang sesungguhnya, Yang Maha Esa dan Yang telah menciptakannya.

Amat ironisnya, keterbatasan pemahaman atau penafsiran umat Islam tentang sifat-sifat-Nya itu, yang justru telah bisa menimbulkan hampir semua perbedaan dan perselisihan di antara aliran-golongan-mazhab pemahaman dalam agama Islam. Padahal sesuatu perselisihan lebih logis, jika timbul dari perbedaan tentang sesuatu hal yang jelas bisa diketahui, sedang sifat-sifat-Nya adalah berbagai hal yang gaib, yang memang relatif amat sulit untuk dipahami. Sehingga relatif amat 'tidak wajar', jika hal ini menimbulkan perselisihan keras (semestinya justru saling berusaha memperbaiki pemahamannya masing-masing).

Padahal ada banyak ayat Al-Qur'an yang justru mengingatkan umat di dalam membicarakan tentang Allah (ataupun sifat-sifat-Nya), antara-lain: agar tidak mengada-ada ataupun tidak berdusta; agar tidak sibuk berdebat dan berselisih, namun justru melupakan berbuat amal-kebaikan; agar tidak melampaui batas; dsb. Bahkan ada ancaman dosa yang amat besar, bagi yang berdusta dan melampaui batas tentang hal ini (suatu bentuk kezaliman secara batiniah). 50)

Padahal nabi Muhammad saw sendiri telah menguraikan hal ini melalui sejumlah besar sifat-sifat-Nya pada Asmaul Husna (nama-nama terbaik yang hanyalah milik Allah). Juga padahal hampir setiap ayat dalam Al-Qur'an, ada disebutkan tentang sifat-sifat Allah (berupa "Yang Maha …"), sebagai pesan yang amat sangat penting dari nabi Muhammad saw, agar umat Islam bisa makin mengenal Allah, sesuai pengetahuan dan kemampuannya masing-masing sepanjang hidupnya.

Padahal di lain pihaknya, hanya kepada Allah mestinya setiap umat manusia menyembah dan mengabdikan dirinya, beserta seluruh kehidupannya. Sehingga amat ironis jika setiap umat Islam tidak mau berusaha keras agar bisa mengenal Allah (memahami sifat-sifat-Nya).

Berbagai contoh kekuatiran atas pemahaman setiap umat Islam tentang sifat-sifat-Nya, misalnya karena:

a. Adanya berbagai bentuk kemusyrikan (disengaja ataupun tidak), termasuk di kalangan umat Islam;
b. Adanya pemahaman yang menganggap, bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang relatif kurang sempurna, secara terpisah ataupun keseluruhan;
c. Belum dipahaminya secara utuh dan cukup mendalam atas setiap sifat-sifat-Nya pada Asmaul Husna;
d. Adanya pemahaman yang justru saling mempertentangkan antar sifat-sifat-Nya;
e. Adanya pemahaman yang relatif terlalu berlebihan atas sifat-sifat-Nya;
f. Adanya pemahaman yang menganggap, bahwa 'ada' sifat-sifat-Nya lainnya, yang bisa berlawanan dengan sifat-sifat-Nya pada Asmaul Husna;
g. Adanya pemahaman yang menganggap, bahwa sifat-sifat-Nya tidak seharusnya dipahami;
h. Adanya pemahaman yang menganggap, bahwa Allah tidak memiliki sifat-sifat;
i. Adanya pemahaman yang menganggap, bahwa Tuhan dari semua agama adalah sama; dsb;

 

Secara ringkas, berbagai kekuatiran itu diungkap dan dibahas, sebagai berikut:

Berbagai permasalahan pemahaman tentang sifat-sifat-Nya

a.

Adanya berbagai bentuk kemusyrikan (disengaja ataupun tidak), termasuk di kalangan umat Islam.

»

"Sifat" adalah gambaran tentang sesuatu zat, menurut sesuatu di luar zat itu sendiri. Jika salah-satu saja dari sifat-sifat zat itu yang telah cukup jelas diketahui, yang justru tidak diperhatikan atau diabaikan, maka hal inipun sama halnya dengan mengada-adakan sesuatu, yang berbeda dari zat itu sendiri.

Di dalam hal ini, pengabaian salah-satu saja dari sifat-sifat-Nya, justru sama halnya dengan mengada-adakan sesuatu 'Tuhan lain' yang berbeda dari Allah, Yang Maha Esa dan Maha sempurna, yang telah bisa dipahami oleh nabi Muhammad saw, dan telah digambarkannya pada Asmaul Husna.

Tindakan yang mengada-ada seperti itulah sebagai sumber utama timbulnya segala bentuk kemusyrikan dan politheisme. Di mana kesempurnaan setiap sifat-sifat-Nya sengaja dikurangi, agar bisa memenuhi berbagai kepentingan umat manusia sendiri (terutama setiap kepentingan yang bersifat duniawi).

Juga bisa tanpa sengaja dikurangi, karena berbagai keterbatasan akal-pikiran manusia dalam memahami tentang Allah, Tuhannya alam semesta ini Yang sesungguhnya dan Yang Maha Esa.

Hal semacam itulah yang telah melahirkan ilah-ilah selain Allah, yang pada umumnya berwujud lahiriah (seperti: patung, berhala, benda keramat, orang ataupun makhluk-Nya yang dianggap suci, dewa-dewa, dsb), karena hanya wujud lahiriah itulah yang bisa dengan cukup mudah dijangkau oleh akal-pikiran pada sebagian dari umat manusia.

"Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu serukan selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu, lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar." – (QS.7:194).

 

Allah Yang Maha sempurna justru pasti bisa dianggap berkurang segala kemuliaan dan kesempurnaan-Nya, jika dipahami secara terpisah dan sepotong-sepotong. Apalagi jika dipahami melalui sesuatu wujud fisik-lahiriah, yang justru pasti ada mengandung segala keterbatasan, kekurangan dan kehinaan.

Tanpa disadari oleh para penganutnya justru kemusyrikan seperti ini amat mempengaruhi kesempurnaan segala aspek keyakinan, kehidupan dan nasib mereka. Lebih utamanya tentang kehidupan akhirat, sebagai tujuan akhir kehidupan segala zat makhluk-Nya, yang bersifat hakiki dan kekal.

Karena para penganut itupun pasti menghadapi kebingungan saat mengkaitkan antara kehidupan Tuhannya, yang berwujud fisik-lahiriah di dunia ini, dengan kehidupan Tuhannya di alam akhirat yang gaib. Selain tentunya banyak pula persoalan lainnya.

Baca pula poin i di bawah, untuk uraian lebih lengkapnya.

Bentuk kemusyrikan seperti ini (berupa penyembahan ilah-ilah selain Allah), adalah paling besar beban dosanya ataupun paling dilaknat-Nya, karena menyangkut kekeliruan tauhid (keliru dasar pemahaman manusia tentang ketuhanan), sehingga amat sering pula diingatkan dalam Al-Qur'an.

Dan hal inipun biasanya berbentuk berupa penyembahan secara fisik-lahiriah, melalui berbagai ritual ibadah.

Hal yang umumnya terjadi pada kemusyrikan seperti ini, akibat dari 'tidak adanya kesempurnaan' pada Tuhan Yang disembah, adalah para penganut kemusyrikan tidak bisa menggantungkan segala sesuatu hal kepada 'satu Tuhan' saja, karena Tuhannya memang tidak sempurna dalam segala halnya. Hal ini cenderung menimbulkan paham politheisme, atau perlunya 'banyak' Tuhan, yang dianggap relatif ideal pada setiap hal tertentu.

Misalnya sebagian dari sifat-Nya telah disederhanakan menjadi suatu dewa tertentu, dan akhirnya menjadi banyak dewa dengan sifat-sifat khasnya masing-masing.

Bentuk dari kemusyrikan yang relatif lebih ringan beban dosanya bukan menyangkut kelurusan tauhid, namun berupa kemusyrikan secara moral-batiniah. Hal ini pada dasarnya justru banyak pula terjadi pada umat Islam sendiri.

Hal ini memang tidak berupa penyembahan secara fisik-lahiriah, tetapi hampir serupa pengaruh dari setiap 'penyembahan' kepada ilah-ilah selain Allah secara batiniah ini (misalnya: harta, tahta, wanita, anak, keluarga, dsb), karena manusia pada dasarnya bisa pula menghabiskan hidupnya bagi ilah-ilah ini (waktu, tenaga & pikiran). Akhirnya, tempat bergantung dan penuntun hidupnya, bukan hanya Allah semata.

Bahkan pada tingkat yang amat parahnya, hal inipun justru akan membuat umat bisa melupakan Allah, Yang Maha Esa.

b.

Adanya pemahaman yang menganggap, bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang relatif kurang sempurna, secara terpisah ataupun keseluruhan;

»

Setiap anggapan atas adanya ketidak-sempurnaan sifat-sifat-Nya, pada dasarnya relatif serupa dengan kemusyrikan pada poin a di atas. Tetapi di sini, lebih terfokus pada anggapan dari umat Islam sendiri, yang memang belum utuh atau sempurna bisa memahami sifat-sifat Allah, Tuhan Yang disembahnya.

Setiap umat Islam memang benar-benar menyembah Allah, Yang Maha Esa, tetapi jika sifat-sifat-Nya (secara keseluruhan ataupun terpisah-pisah pada Asmaul Husna), dianggap bisa mengandung 'ketidak-sempurnaan', tanpa sengaja hal ini justru sedikit-banyak bisa membawa kepada ketidak-lurusan tauhidnya.

Hal inipun sedikit-banyak pasti akan mempengaruhi pemahaman umat Islam sendiri atas keseluruhan ajaran agama-Nya.

Sekali lagi, hal ini memang relatif serupa dengan kemusyrikan di atas, namun prosesnya justru relatif amat berbeda, karena umat Islam memang masih menyakini segala risalah yang disampaikan oleh nabi Muhammad saw, tentang Allah ataupun sifat-sifat-Nya.

Persoalannya justru bisa timbul, saat setiap umat Islam memiliki pemahaman yang berbeda-beda atas risalah-risalah itu, dan tentu saja bisa relatif berbeda pula daripada pemahaman Nabi sendiri.

Maka hal ini bisa disebut sebagai kemusyrikan yang relatif 'amat ringan' (atau relatif 'sedikit' berbeda daripada Allah, Tuhan alam semesta yang sebenarnya dan disembah oleh Nabi).

Kurang sempurnanya pemahaman umat terhadap setiap sifat-Nya secara terpisah memang relatif amat jarang terjadi, karena hampir setiap umat Islam relatif telah memahami makna istilah 'Maha' pada setiap sifat-Nya, yang menandakan sifat-sifat-Nya berada di luar batas-batas yang biasa dibayangkan oleh umat manusia pada umumnya, walau umat sendiri belum mendalam pemahamannya.

Juga sifat-sifat-Nya amat sangat berbeda ataupun amat jauh lebih sempurna daripada sifat-sifat pada segala zat ciptaan-Nya.

"…. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (dari segi zat dan sifat-sifatnya), dan Dia-lah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat." – (QS.42:11).

 

Namun kurang sempurnanya pemahaman umat terhadap 'seluruh' sifat-Nya, sebagai suatu 'kesatuan yang utuh', yang justru relatif sering terjadi, seperti misalnya: sifat-sifat-Nya justru dianggap bisa saling bertentangan ataupun berlawanan; sifat-Nya tertentu dianggap bisa lebih diutamakan atau penting daripada sifat-Nya lainnya; sifat-sifat-Nya dianggap selalu ada dalam segala hal dan segala aspeknya (secara bersama-sama ataupun terpisah), tanpa disesuaikan dengan konteks keberadaan sifat-sifat-Nya itu; dsb.

Baca pula uraian-uraian terkait pada poin-poin di bawah.

Tentunya ketidak-sempurnaan pemahaman yang dimaksudkan di atas, belum termasuk tidak benar-benar dipahaminya, atas setiap sifat-sifat-Nya. Serta sifat-sifat-Nya memang telah bisa 'diyakini' kesempurnaannya (keseluruhan ataupun terpisah), namun hanya dipahami secara garis besarnya saja (belum mendalam).

Bahkan para alim-ulama terdahulu ataupun saat ini, relatif amat jarang yang bisa mencapai pemahaman yang relatif mendalam tentang Allah ataupun sifat-sifat-Nya, sedang pemahaman seperti ini memang pemahaman yang paling tinggi (hanya dimiliki oleh para nabi-Nya, dan sejumlah amat terbatas umat lainnya).

c.

Belum dipahaminya secara utuh dan cukup mendalam atas tiap sifat-sifat-Nya pada Asmaul Husna.

»

Dari uraian pada poin-poin di atas, cukup jelas amat penting dan semestinya bagi setiap umat Islam, untuk bisa memahami seluruh sifat-Nya pada Asmaul Husna secara relatif utuh dan sempurna. Padahal hanyalah dengan aspek keutuhan inilah, maka Allah bisa dipahami oleh setiap umat Islam, relatif seperti halnya yang juga dipahami oleh nabi Muhammad saw.

Sekaligus agar tidak menimbulkan suatu kemusyrikan, atau umat tidak menyembah Allah Tuhan yang sesungguhnya (atau berbeda daripada Tuhan-nya nabi Muhammad saw, atau Tuhan-nya alam semesta ini), karena seluruh sifat-Nya pada Asmaul Husna justru suatu kesatuan yang utuh, yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Pemahaman secara relatif amat mendalam terhadap seluruh sifat-Nya itu memang bukanlah sesuatu keharusan di dalam beragama, tetapi hal paling utamanya, agar setiap umat Islam bisa memiliki 'keyakinan' yang kuat atas keutuhan seluruh sifat-Nya tersebut.

Telah cukup aman bagi umat Islam yang awam, agar menyakini terlebih dahulu segala hal tentang Allah, yang telah disampaikan oleh nabi Muhammad saw.

Namun jika umat ingin makin bisa meningkatkan keimanannya, maka semestinya umat makin bisa memperdalam pemahamannya tentang sifat-sifat-Nya (secara keseluruhan ataupun terpisah).

d.

Adanya pemahaman yang justru saling mempertentangkan antar sifat-sifat-Nya.

»

Sama-sekali tidak ada pertentangan antar seluruh sifat-Nya pada Asmaul Husna, bahkan hal ini mustahil terjadi, karena jika ada sesuatu pertentangan pada sifat-sifat-Nya, maka alam semesta ini justru mestinya telah kacau balau ataupun hancur-binasa (secara lahiriah dan batiniah).

Padahal seluruh sifat-Nya pada Asmaul Husna itu, adalah bentuk pemahaman nabi Muhammad saw, atas tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini (bersifat mutlak dan kekal, pada aspek lahiriah dan batiniah). Sedangkan mustahil ada dua ataupun lebih sifat yang mutlak dan kekal, yang bisa saling bertentangan.

Dalam hal ada terjadinya suatu pertentangan pada sifat-sifat-Nya, menurut pemahaman pada seorang umat, justru umat itu sendiri yang mestinya mencermati kembali dengan jauh lebih teliti, atas pemahamannya tersebut.

Apakah pemahaman umat itu telah berdasarkan pada dalil-alasan yang kuat (bukan sekedar berdasarkan dugaan atau asumsi)?.

Biasanya pertentangan di atas bisa muncul, karena adanya suatu penafsiran yang terlalu berlebihan, atas sebagian dari sifat-sifat-Nya, seperti yang diuraikan pada poin e di bawah.

Jika sifat-sifat-Nya yang telah ditafsirkan secara berlebihan itu, dikaitkan dengan berbagai sifat-Nya yang lainnya, hal ini justru biasanya akan terjadi suatu saling pertentangan. Hal ini mestinya mustahil terjadi, bahkan telah dibantah secara 'tidak langsung' di dalam Al-Qur'an (baca pula uraian pada topik di bawah)

"Maka apakah mereka (umat manusia) tidak memperhatikan Al-Qur'an?. Kalau kiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi-Nya, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." – (QS.4:82).

e.

Adanya pemahaman yang relatif terlalu berlebihan atas sifat-sifat-Nya.

»

Dalam hal ini sifat Allah Maha berkuasa dan Maha berkehendak, yang relatif sering menjadi bahan perdebatan amat tajam sampai saat ini, pada berbagai aliran teologi dalam agama Islam, seperti yang diungkap di Lampiran D, tentang kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya.

Segala kekuasaan dan kehendak-Nya ataupun seluruh sifat-Nya, yang semuanya 'mutlak' dan 'kekal', memang bukan pasti bisa tampak 'nyata' dan 'jelas' bagi setiap manusia, tetapi justru pasti tampak 'gaib' dalam segala halnya (amat sangat halus, alamiah, tidak terlihat kentara dan seolah-olah terjadi begitu saja).

Hanya sejumlah umat manusia yang telah berkemampuan ilmu-pengetahuan relatif amat tinggi (termasuk para nabi-Nya), yang telah memahami sifat-sifat-Nya dengan relatif amat jelas, yang terkandung dalam hal-hal lahiriah dan batiniah di alam semesta.

"Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau. Sesungguhnya, Allah Maha halus, lagi Maha mengetahui." – (QS.22:63).

 

Bahkan sebagian dari para nabi-Nya justru telah bisa memahami (memperkirakan), kejadian-kejadian sejak awal penciptaan alam semesta ini sampai akhir jaman, seperti yang disebut-sebut dalam Al-Qur'an, karena kejadian-kejadian di alam semesta memang ada yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', sebagai hasil dari segala perbuatan-Nya, namun juga bersifat 'gaib' (amat sangat halus).

Maka tidaklah semestinya, jika ada umat-umat yang amat terlalu memaksakan pendapat atau pemahamannya tentang Allah (atau sifat-sifat-Nya), tanpa dasar pengetahuan yang relatif mendalam.

Dalam mengatasi berbagai pendapat seperti ini, hal paling mudah dilakukan adalah, jika ada pemahaman atas suatu sifat-Nya, yang telah bertentangan dengan sifat-sifat-Nya lainnya, 'dalam sesuatu hal tertentu', maka pemahaman itupun pasti keliru (tidak benar).

"Di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, dan …" – (QS.22:3).

 

Hal yang penting diketahui pula, bahwa segala kehendak ataupun perbuatan-Nya di alam semesta ini, justru bersifat 'mutlak' dan 'kekal', maka justru mustahil terjadi, "Allah berbuat sekehendak-Nya di alam semesta ini".

Sesuatu zat yang bisa berbuat 'sekehendaknya', perbuatannya itu justru tidak bersifat 'kekal' (berubah-ubah sesuai kehendaknya), di samping itu justru tidak menunjukkan kemuliaan sifat zatnya sendiri (berlaku plin-plan atau tidak konsisten).

Sedang Allah berbuat 'sekehendak-Nya', justru hanya 'sebelum' diciptakan-Nya alam semesta ini (saat memilih dan menentukan segala sesuatu halnya, yang terkait penciptaan alam semesta itu sendiri).

Bahkan jika Allah berbuat 'sekehendak-Nya' setelah penciptaan itu, justru alam semesta pasti telah kacau balau ataupun hancur-binasa.

f.

Adanya pemahaman yang menganggap, bahwa 'ada' sifat-sifat-Nya lainnya, yang bisa berlawanan dengan sifat-sifat-Nya pada Asmaul Husna.

»

Amat tidak relevan jika sifat-sifat-Nya ataupun segala perbuatan-Nya dinilai bersifat, seperti: tidak baik; tidak adil; bisa berdusta; bisa melanggar janji; tidak konsisten; sekehendaknya; sewenang-wenang; zalim atau aniaya; dsb.

Sedang hal-hal ini amat berlawanan dengan sifat-sifat-Nya pada Asmaul Husna, seperti misalnya: Maha pengasih dan penyayang; Maha suci dan mulia; Maha adil, pengampun dan bijaksana; Maha kekal dan kuat; Maha menentukan dan menetapkan; Maha memelihara dan menjaga; dsb.

Penilaian seperti itu hanyalah relevan untuk hal-hal yang bersifat relatif, tidak pasti terjadi (tidak mutlak) ataupun tidak konsisten (tidak kekal), seperti yang biasanya terjadi pada setiap makhluk.

Bahkan penilaian seperti itupun semestinya mustahil bisa terjadi, karena justru akan bisa menghilangkan berbagai kemuliaan dan kesempurnaan-Nya.

Justru orang-orang yang menilai sifat-sifat-Nya seperti itu, yang harus memperbaiki kembali kebenaran penafsirannya, atas setiap perbuatan-Nya di seluruh alam semesta ini, yang memang Maha Halus, bukan justru memaksakan penafsirannya yang amat keliru dan subyektif dalam menilai tentang Allah.

Juga ada ancaman dosa yang amat besar bagi umat yang berdusta dan melampaui batas tentang Allah (atau sifat-sifat-Nya), karena hal ini sesuatu bentuk kezaliman (merusak keyakinan umat Islam lainnya atas berbagai kebenaran-Nya, atau menyesatkannya).

"…, dan kamu menyangka tentang Allah, dengan bermacam-macam purbasangka." – (QS.33:10) dan (QS.3:154).

"… . Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan tentang Allah, apa yang tidak kamu ketahui?." – (QS.10:68) dan (QS.2:169, QS.6:140, QS.7:28, QS.7:33, dst)

"Dan bahwasanya, orang yang kurang akal dari kami dahulu, selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas tentang Allah," – (QS.72:4) dan (QS.4:171).

"… . Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta tentang Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." – (QS.6:144) dan (QS.3:75, QS.3:78, QS.3:94, QS.4:50, QS.5:103, QS.6:21, QS.6:93, dst)

g.

Adanya pemahaman yang menganggap, bahwa sifat-sifat-Nya tidak seharusnya dipahami

»

Hal inipun 'kebetulan' diketahui pada suatu aliran dalam agama Islam, yang pemahamannya, seperti "bahwa Allah bisa berbuat sekehendaknya, termasuk bisa menurunkan sesuatu wahyu yang melarang umat, untuk mengetahui hal-hal tentang Allah".

Alam semesta ini justru sengaja diciptakan-Nya, agar setiap umat manusia bisa mengenal Allah, Tuhan-nya semesta alam, dengan segala kemuliaan dan kekuasaan-Nya. Juga bisa mengenal agama atau jalan-Nya yang lurus, agar bisa kembali dekat ke hadapan 'Arsy-Nya, dengan mendapat kemuliaan yang tinggi, dsb.

Maka sesuatu kemustahilan, jika ada anjuran-Nya agar manusia tidak perlu memahami sifat-sifat-Nya (tidak mengenal Allah).

Berbagai uraian di atas, justru membuktikan hal yang sebaliknya.

Anjuran yang lebih tepatnya barangkali, agar umat manusia tidak memaksakan dirinya, untuk bisa memahami tentang hal-hal gaib (termasuk tentang Allah dan sifat-sifat-Nya), tanpa sesuatu dasar ilmu-pengetahuan yang relatif amat memadai.

Sebelum memiliki pengetahuan yang memadai, lebih aman bagi umat yang awam, untuk menyakini terlebih dahulu hal-hal yang telah disampaikan oleh nabi Muhammad saw.

Pada dasarnya 'akal' bisa mengetahui tentang segala bentuk hal-hal yang gaib, yang berupa gaib 'tindakan' (segala tindakan atau perbuatan dari zat-zat gaib) di alam semesta, justru karena segala tindakan itupun memang ingin ditunjukkan-Nya kepada manusia, walaupun memang hanyalah para nabi-Nya dan umat-umat yang berilmu amat tinggi, yang diketahui telah bisa memahaminya.

Tetapi 'akal' manusia mustahil bisa sanggup menjangkau tentang gaib 'zat' (zat Allah dan zat ruh-ruh makhluk-Nya).

Sedang gaib 'tindakan' itu pada dasarnya bersifat pasti, jelas dan amat sangat teratur (mengikuti suatu aturan tertentu, aturan-Nya atau sunatullah), walau juga bersifat amat sangat halus dan tidak kentara (gaib), begitu pula para pelakunya yang memang tidak tampak (zat-zat gaib). Sehingga ada kejadian-kejadian di seluruh alam semesta ini, yang seolah-olah otomatis terjadi begitu saja, namun relatif amat pasti dan amat konsisten.

Segala gaib 'tindakan' itu semestinya memang bisa dipahami oleh akal manusia, karena Allah dan para makhluk gaib-Nya memang ingin, agar manusia bisa mengenal Allah, Yang menciptakannya, melalui segala tindakan dan kejadian itu.

Tetapi Allah memang sengaja untuk tidak terang-terangan dalam menunjukkan kekuasaan-Nya, karena justru bertujuan untuk bisa menguji keimanan setiap manusia. Jika kekuasaan-Nya tampak jelas dan nyata, justru seluruh umat manusia pasti beriman.

h.

Adanya pemahaman yang menganggap, bahwa Zat Allah tidak memiliki sifat-sifat.

»

Dasar pemahaman dari sesuatu aliran ini adalah, semua sifat-Nya semestinya kekal. Tetapi hal inipun akan menimbulkan banyak yang kekal, karena semua sifat-Nya itu kekal. Padahal hanyalah Allah sendiri yang kekal. Maka pemahaman tentang sifat-sifat-Nya yang kekal dianggap sesuatu bentuk kemusyrikan. Akhirnya lahir anggapan lainnya, bahwa Allah semestinya tidak memiliki sifat-sifat.

Hal ini adalah salah-satu bukti kelemahan dan keterbatasan ilmu filsafat, dalam menjelaskan suatu hal, terutama hal-hal yang gaib (ketuhanan, ruh, alam akhirat atau alam batiniah, dsb), karena ilmu filsafat hanyalah memakai bahasa dunia intuisi-nalar-logika manusia semata, ataupun bahasa kehidupan nyata umat manusia sehari-hari. Sehingga ilmu filsafat itu justru mustahil bisa sesuai untuk menjelaskan ketuhanan, alam gaib dan alam batiniah ruh manusia, termasuk dari adanya logika-logika filsafat yang terlalu dipaksakan.

Kelemahan yang terpenting dari anggapan di atas, yaitu adanya pemisahan antara 'zat' dan 'sifat' zatnya. Padahal kedua hal itu justru mustahil bisa dipisahkan, karena "sifat adalah gambaran atas sesuatu zat, menurut sesuatu di luar zat itu sendiri".

Pemaksaan penerapan filsafat di dalam hal-hal batiniah atau gaib, biasanya cenderung akan melahirkan berbagai teori-paham yang bersifat 'materialistik' (seperti: HAM, demokrasi, materialisme, kapitalisme, sosialisme, feminisme barat, dsb).

Agama-agama yang sering menerapkan ilmu filsafat pada ajaran-ajarannya, biasanya juga bersifat materialistik dalam memahami Tuhannya (seperti adanya berbagai sesembahan yang berwujud lahiriah). Dan hal ini jelas sesuatu bentuk kemusyrikan.

Selain itu pula, ilmu filsafat relatif mudah digunakan, untuk bisa 'membengkokkan' intuisi-logika pikiran, sehingga ajaran-ajaran agama yang musyrik itu, secara sekilas seolah-olah tampak bisa diterima oleh akal-sehat (seolah-olah sesuai dengan kebenaran).

Baca pula poin a
di atas tentang kemusyrikan.

Penjelasan tentang hal-hal gaib dalam Al-Qur'an hanya memakai segala bentuk 'perumpamaan', yang pada dasarnya tetaplah bukan berupa segala penjelasan dan fakta-kebenaran yang sebenarnya.

Tujuan paling utamanya, agar secara batiniah, justru umat relatif cukup bisa merasakan suatu 'analogi-pendekatan' atas tiap fakta-kebenaran yang sebenarnya (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya atau Al-Hikmah), melalui segala perumpamaan itu.

Sehingga penjelasan tentang hal-hal gaib dalam Al-Qur'an, tanpa harus melalui segala penjelasan dan fakta-kebenaran yang relatif sangat rumit, terutama bagi umat-umat yang awam.

Khusus penjelasan tentang esensi 'zat' Allah, bahkan justru tanpa memakai segala analogi yang bersifat materialistik.

Bahkan sifat-sifat-Nya yang langsung ataupun tidak, terkait 'zat' Allah, hanyalah seperti: Maha Gaib (Maha Tersembunyi), Maha Hidup, Maha Kekal, Maha Awal, Maha Akhir dan wujud (ada).

Sifat 'wujud' ini bukanlah karena 'zat' Allah bisa dilihat (secara lahiriah), ataupun bisa diketahui (secara batiniah), di dunia dan di akhirat, karena Allah Yang Maha Suci dan tersucikan dari segala sesuatu hal. Serta setiap manusia pasti menghadapi segala 'hijab-tabir-pembatas' terhadap 'zat' Allah (termasuk para nabi-Nya).

Sifat 'wujud' hanyalah sifat paling dasar dari segala sesuatu zat, yang menunjukkan zatnya memang 'ada' (esensi atau perbuatan zatnya). Keberadaan 'zat' Allah justru pasti hanya diketahui oleh manusia, dari keberadaan segala hasil 'perbuatan' Allah di alam semesta ini, pada aspek lahiriah dan batiniah. Sedang 'esensi' zat Allah justru pasti mustahil bisa diketahui dan dijangkaunya.

i.

Adanya pemahaman yang menganggap, bahwa Tuhan dari semua agama adalah sama.

»

Pemahaman ini telah berkembang cukup luas pada saat ini, yang diduga bisa muncul karena perkembangan semua agama di dunia telah mengalami 'stagnasi', atau menuju ke keadaan yang relatif amat stabil, khususnya dari segi jumlah para pengikutnya.

Hal inipun berbeda dari keadaan pada jaman dahulu dimana para pengikut agama-agama besar biasa pergi menjelajah ke seluruh penjuru dan pelosok dunia, untuk bisa menyebarkan agamanya, khususnya kepada umat manusia yang belum beragama, ataupun masih menganut agama-agama tradisional dan primitif.

Maka teori-paham yang menyamakan hakekat wujud ketuhanan, menjadi suatu metode baru untuk menyebarkan agama, sekaligus mempertahankan jumlah pengikutnya sendiri. Hal ini sebenarnya amat menyesatkan, serta sesuatu usaha yang mengabaikan begitu saja perbedaan tauhid dari setiap agama. Sedangkan pemahaman atas ketuhanan (tauhid), justru menjadi dasar yang paling utama dari munculnya semua agama, yang memang berbeda-beda.

Betul, memang hampirlah semua penganut agama pada dasarnya menyakini, adanya suatu Zat yang amat ideal, yang dianggapnya sebagai Tuhan. Namun fakta-kenyataannya, segala keterbatasan pengetahuan manusia justru mempengaruhi pemahaman tentang Tuhan, yang melahirkan agama-agama berdasarkan setiap bentuk pemahaman dan tingkat keidealan Tuhan, yang berbeda-beda.

Baca pula uraian-uraian di bawah, tentang berbagai hijab-tabir-pembatas antara manusia dan Allah.

Persoalan yang paling utama, suatu perbedaan pemahaman yang relatif amat kecil saja atas sifat-sifat-Nya, yang berasal dari para pembawa agama-agama, secara sengaja (ada segala kepentingan pembawanya) dan tanpa sengaja (ada keterbatasan pengetahuan pembawanya), justru telah bisa melahirkan agama baru. Bahkan pada beberapa agama, bisa lahir akibat dari segala kepentingan dan keterbatasan pengetahuan pada para umat penganut agama itu sendiri (pemahaman umat berbeda dari pembawa asalnya).

Bahkan perbedaan pemahaman atas sifat-sifat-Nya itu justru bisa amat mempengaruhi segala aspek keyakinan, kehidupan ataupun nasib umat penganutnya. Lebih khusus lagi, amat mempengaruhi terhadap kehidupan akhirat umat, yang justru bersifat hakiki dan kekal, sebagai tujuan akhir dari kehidupannya di dunia fana ini.

Hal ini justru amat penting, sehingga antar umat beragama juga bisa saling berperang dan saling menuduh sebagai 'kafir'. Dan hal-hal ini memang paling mudah tampak di permukaan.

Namun di balik itu ada hal-hal yang jauh lebih penting lagi, yang lahir akibat dari perbedaan tentang Tuhan, Yang disembah oleh setiap umat beragama.

Contoh sederhananya: "Tuhan Yang berkuasa" amatlah berbeda daripada "Tuhan Yang Maha berkuasa". Pada tipe Tuhan yang pertama, hal ini misalnya bisa terjadi pada berbagai ragam jenis Fir'aun (para raja, para diktator dan tiran, penguasa imperium, dsb), yang telah disembah oleh umat berbagai agama tradisional, pada jaman dahulu.

Dalam hal Tuhan tipe pertama ini, Tuhan tidaklah benar-benar berkuasa 'mutlak'. Karena pada saat berada di luar pengetahuan Tuhannya, umatnya bahkan bisa berkehendak dan berbuat, yang tidak sesuai keinginan Tuhannya, 'tanpa' ada balasan sama sekali dari Tuhannya. Juga Tuhan tipe ini sama sekali tidak berkuasa, dalam segala sesuatu halnya.

Secara sengaja ataupun tidak, umat-umat pengikut agama yang menyembah Tuhan tipe seperti ini, cenderung relatif amat mudah berbuat segala bentuk kekafiran, tanpa ada hukuman sama-sekali dari Tuhannya.

Pada Tuhan tipe kedua ("Tuhan Yang Maha berkuasa"), seperti Yang dianut ataupun diyakini oleh umat Islam, justru merupakan Tuhan Yang Maha berkuasa atas segala sesuatu halnya di seluruh alam semesta ini, serta juga Tuhan Yang Maha mengetahui atas segala sesuatu halnya (lahiriah dan batiniah).

Sehingga sama sekali mustahil ada sesuatu hal yang terlepas dari kekuasaan dan pengetahuan-Nya. Walau berbagai kalangan umat Islam sendiri memang masih memperdebatkan tentang hakekat dari kekuasaan dan pengetahuan-Nya itu, terutama jika dikaitkan dengan 'kebebasan manusia', akibat mereka memang belum bisa mendekati pemahamannya nabi Muhammad saw tentang Allah.

Begitu pula setiap bentuk perbedaan pemahaman lainnya tentang sifat-sifat-Nya pada Asmaul Husna. Jika ada salah-satu saja dari sifat-sifat-Nya dikurangi ataupun diabaikan, sama halnya dengan mengurangi berbagai kemuliaan dan kesempurnaan-Nya.

Sehingga amat sangat penting bagi setiap umat Islam, untuk bisa menjaga kelurusan dan kesempurnaan tauhidnya, terutama "tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa". Dan dari sifat "Maha Esa" ini, mestinya justru berkembang keyakinan dan pemahaman atas semua sifat-Nya lainnya pada Asmaul Husna secara 'utuh' (tidak terpisah-pisah atau tidak sepotong-sepotong).

Baca pula poin a
di atas tentang kemusyrikan, dan adanya ilah-ilah selain Allah secara batiniah.

Hal yang cukup sering dipakai, sebagai jargon-slogan pada teori-paham penyamaan ketuhanan ataupun penyamaan agama di atas, misalnya "agama kita sama-sama menganut Tuhan Yang Maha Esa, yang juga berada di atas 'langit' sana" ataupun "tiap agama pada dasarnya pastilah sama-sama mengajarkan kebaikan kepada seluruh umat manusia".

Berbagai jargon-slogan yang relatif amat menyesatkan itu, pada dasarnya suatu usaha untuk menyembunyikan atau mengaburkan 'kemusyrikan' pada agama-agama tertentu. Sedang setiap bentuk kemusyrikan amat diharamkan dalam agama Islam, serta beban dosanya amatlah besar.

Setiap perbuatan dari orang-orang musyrik justru memang bukan ditujukan untuk bisa mengabdi kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Sempurna, sehingga segala amal-kebaikan mereka justru tidak diterima-Nya (tidak mendapat pahala-Nya, atau sia-sia).

"… . Mereka itu (orang-orang musyrik), amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat. Dan mereka itulah orang-orang yang merugi." – (QS.9:69).

"Yaitu orang-orang (kafir) yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka, bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." – (QS.18:104).

"Tidaklah pantas, orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui, bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka itu kekal (tinggal) di dalam neraka." – (QS.9:17).

"… . Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya (agama Islam), lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat. Dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal (tinggal) di dalamnya." – (QS.2:217).

"Barangsiapa mencari agama, selain daripada agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (segala amalan) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi." – (QS.3:85).

 

Hal yang penting pula diketahui, bahwa kesempurnaan dari suatu agama relatif amatlah berbeda daripada kesempurnaan dari para umat pengikutnya, karena manusia memang pasti bersifat relatif, sedang agama-Nya justru bersifat universal.

Dalam menilai sesuatu agama, relatif tidak relevan apabila dinilai ataupun dibandingkan dari segala hal yang terjadi pada para umat pengikutnya. Hanyalah para nabi-Nya yang telah menyampaikan ajaran agama-Nya, yang telah diketahui relatif 'sempurna', atau relatif telah terjaga dari setiap perbuatan dosa. Di lain pihaknya, para umat pengikutnya relatif 'jauh' dari kesempurnaan tersebut.

Maka pernyataan seperti, "banyak kebaikan yang dilakukan para pengikut berbagai agama, namun ada pula kekurangan mereka, maka berbagai agama itu relatif serupa, dan semua bisa diikuti", adalah pernyataan yang amat tidak relevan dan menyesatkan.

Kelompok manusia yang terhijab dari mengenal Allah

Terkait dengan persoalan pemahaman umat manusia terhadap sifat-sifat-Nya di atas, dalam bukunya yang berjudul "Misykat cahaya-cahaya" (hal.: 95-114), Imam Al-Ghazali telah pula mengelompokkan tingkatan pencapaian manusia di dalam memahami cahaya kebenaran-Nya. Dengan sendirinya, hal ini berupa sesuatu tingkatan hijab (tabir, pembatas atau penutup) yang dihadapi oleh manusia, dalam mengenal Allah (atau dalam memahami sifat-sifat-Nya).

Tingkatan manusia yang terkait hijab terhadap Allah itu dibagi oleh Imam Al-Ghazali menjadi 4 kelompok, yaitu:

~ Manusia yang terhijab oleh kegelapan murni semata-mata.
~ Manusia yang terhijab oleh cahaya, yang tercampuri pula dengan kegelapan.
~ Manusia yang terhijab oleh cahaya murni semata-mata.
~ Manusia yang menjalani pendakian atau mi'raj terakhir.

 

Sedang uraian atas tiap kelompok itu secara ringkas diungkap pada Tabel 11 berikut.

Tabel 11: Tingkatan hijab antara manusia dan Allah

Berbagai tingkatan 'hijab' antara manusia dan Allah

A.

Manusia yang terhijab oleh kegelapan murni

»

Berupa orang-orang mulhid (atau ateis) yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Sehingga kehidupan dunia lebih diutamakannya.

Mereka bisa dibagi menjadi:

1.

Orang yang menyimpulkan bahwa alam (nature) adalah penyebab terwujudnya segala sesuatu (bukan Allah).

2.

Orang yang disibukkan oleh urusan dirinya sendiri, dan tidak sempat memikirkan Ilah atau Tuhan Penyebab kejadian dirinya dan alam semesta ini.

Hijabnya adalah diri dan hawa nafsunya sendiri, yang telah tertanam sifat-sifat amat rendah dan gelap. Mereka dibagi lagi menjadi:

a)

Orang yang beranggapan bahwa tujuan utama hidup adalah pemenuhan ambisi, pelampiasan kesenangan duniawi dan pemuasan hawa nafsu (seks, makanan, minuman dan pakaian). Keberhasilan duniawi adalah puncak kebahagiaannya.

b)

Orang yang beranggapan bahwa tujuan utama hidup adalah pemenuhan sifat hewani-buas (penaklukan, penguasaan, penangkapan dan pencabutan nyawa). Pengejaran buruannya adalah puncak kebahagiaannya.

c)

Orang yang beranggapan bahwa tujuan utama hidup adalah kekayaan dan kemakmuran, karena harta-benda adalah sarana pemuasan hawa nafsu.

Harta-benda ditimbun bagi dirinya sendiri, setelah dicarinya dengan segala daya-upaya sepanjang hidupnya (dengan membanting tulang dan menantang segala macam bahaya).

d)

Orang yang beranggapan bahwa tujuan utama hidup adalah besarnya pamor pribadi, luas kemasyhuran, serta penambahan jumlah pengikut dan pengaruh.

B.

Manusia yang terhijab oleh cahaya, yang tercampuri pula dengan kegelapan

»

Mereka ini dibagi menjadi:

1.

Orang-orang yang terhijab oleh cahaya yang tercampur kegelapan inderawi. Mereka dibagi lagi menjadi:

a)

Kaum Penyembah Berhala.

Mereka mengetahui bahwa ada Tuhan, yang mestinya lebih diutamakan di atas dirinya sendiri, dan yang jauh lebih mulia dan berharga dari segalanya.

Hijabnya adalah kegelapan indera. Mereka ini menyembah ilah berupa patung yang sangat indah dari emas, permata, dsb.

b)

Orang yang percaya mempunyai Tuhan, dan Tuhan adalah 'hal yang paling indah dari segala sesuatu'.

Hijabnya adalah cahaya keindahan, disertai kegelapan indera. Tuhan mereka berupa 'keindahan mutlak dan alami' (bukan buatan manusia), seperti kuda bagus, pohon indah, wanita cantik, dsb.

c)

Orang yang beranggapan bahwa Tuhan bersifat nurani zatnya (cahayawi), cemerlang bentuknya, berkuasa, berwibawa dan tidak mungkin bisa didekati.

Hijabnya adalah cahaya kecemerlangan dan kekuasaan, disertai kegelapan indera. Tuhan mereka berupa 'api'.

d)

Orang yang beranggapan bahwa Tuhan bersifat mulia dan tinggi, sangat indah, cemerlang, serta.manusia berada di bawah kekuasaannya.

Hijabnya adalah cahaya keindahan, kecemerlangan, kemuliaan, ketinggian dan kekuasaan, disertai kegelapan indera. Tuhan mereka berupa planet, bintang, dsb.

e)

Orang yang beranggapan bahwa Tuhan tidak terkait suatu yang kecil-besar dalam 'jawahir nuraniah'-nya (substansi cahayawinya).

Hijabnya adalah cahaya kebesaran, disertai kegelapan indera. Tuhan mereka berupa 'matahari', yang dianggap terbesar dari semuanya.

f)

Orang yang beranggapan bahwa tidak patut ada sekutu bagi Tuhan dalam kecahayaan.

Mereka menyembah "cahaya mutlak" yang menghimpun segala cahaya (kebaikan), lalu disebut sebagai Tuhan seru sekalian alam semesta.

Tetapi segala kejahatan di dunia ini, mereka anggap tidak pantas dinisbatkan kepada Tuhan, dan dianggap ada pertentangan antara Tuhan cahaya-kebaikan (Yazdan) dan Tuhan kegelapan-keburukan (Ahraman), dalam menguasai alam semesta. Maka mereka menggangap ada dua Tuhan.

2.

Orang-orang yang terhijab oleh sebagian dari cahaya yang disertai oleh kegelapan khayali.

Mereka bisa melampaui indera, tetapi juga tidak mampu melampaui daya khayal. Maka ia menyembah "sesuatu Maujud yang duduk di atas 'Arsy (singgasana)".

Kelompok tingkat terrendahnya beranggapan bahwa Tuhan berjisim (bertubuh).

Kelompok tingkat tertingginya menafikan bentuk jisim Tuhan, kecuali tentang bersemayamnya Tuhan di suatu arah tertentu yang bisa ditunjuk atau dikhayalkan, yakni "di atas".

3.

Orang-orang yang terhijab oleh cahaya-cahaya Ilahiah yang disertai oleh segala kesimpulan akal, berdasar perkiraan analogis yang keliru (diliputi kegelapan).

Mereka menyembah Tuhan yang bersifat hidup, mendengar, berkuasa dan berhendak, mengetahui, serta tersucikan dari mendiami arah manapun. Tetapi mereka memahami sifat-sifat ini sesuai dengan sifat-sifat manusiawi pada manusia.

Ada mereka yang menyatakan, bahwa firman-Nya terdiri dari huruf dan suara. Ada yang menyatakan, bahwa firman-Nya berupa "bisikan hati" (tanpa huruf dan tanpa suara).

Berbagai pemahaman seperti ini telah berwujud berbagai aliran-mazhab yang cukup terkenal dalam agama Islam.

C.

Manusia yang terhijab oleh cahaya-cahaya murni

»

Merekapun terdiri dari berbagai aliran, yang bisa dibagi lagi menjadi:

1.

Orang-orang yang benar-benar memahami makna sifat-sifat-Nya berdasar pentahkikan (bukti). Mereka sadar, bahwa sifat-sifat kalam (firman), iradah (kehendak), qudrah (kemampuan, kecakapan), ilm (pengetahuan) dsb, pada Allah, tidak sama dengan sifat-sifat manusia.

Sehingga mereka enggan mendefinisikan Allah dengan sifat-sifat itu, kecuali tentang hubungan antara Allah dan zat ciptaan-Nya (seperti: Allah adalah Yang menggerakkan dan mengatur alam semesta ini).

2.

Orang-orang yang sadar tentang adanya kemajemukan di alam semesta ini, dan bahwa "penggerak" alam semesta ini adalah para malaikat, yang tak-terhitung jumlahnya.

Maka ar-Rabb (Tuhan Yang Maha pengatur dan pemelihara) adalah Penggerak jisim (benda) yang paling utama, dan wajib dinafikan dari segala kemajemukan.

3.

Orang-orang yang telah beranggapan bahwa perbuatan malaikat "menggerakkan benda-benda secara langsung" mestinya suatu bentuk ibadat, ketundukan, kepatuhan dan ketaatan hamba-Nya kepada-Nya.

Maka Ar-Rabb adalah Al-Mutha' (yang ditaati oleh segala penggerak), atau Penggerak utama atas segala hal dengan segala tingkatan bagiannya, dengan mengeluarkan perintah-perintah (bukanlah dengan menanganinya secara langsung).

D.

Manusia yang menjalani pendakian / mi'raj terakhir

»

Mereka ini berada di akhir perjalanan (al-washilun), karena telah memahami sesuatu rahasia tersembunyi, bahwa al-Mutha' itupun (yang ditaati oleh segala penggerak) masih berlawanan dengan sifat Keesaan murni dan Kesempurnaan mutlak.

Mereka beralih dari 'Yang menggerakkan lelangit' serta 'Yang memerintahkan penggerakannya' ke sesuatu Maujud Yang Maha Qudus dan Yang Maha tersucikan dari segala hal yang bisa terjangkau oleh mata lahiriah dan batiniah makhluk-Nya.

Ada kelompok yang mengalami sesuatu keadaan yang menyebabkan terbakarnya segala hal yang pernah diserap oleh penglihatannya, lalu ia terlarut dan luluh, sambil menatap 'Keindahan' dan 'Kekudusan', di samping menatap dirinya sendiri, dalam 'keindahan yang diraihnya', dengan mencapai ke Hadhrat Ilahiyah (amat dekat ke hadapan 'Arsy-Nya Allah, Yang Maha Mengetahui).

Ada pula kelompok "yang khusus di antara yang khusus" (khawas-ul-khawas), yang telah terbakar, terlarut dan luluh sama sekali, atau tenggelam ke gelombang 'Kekuatan Keagungan'. Perhatiannya semata hanya kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Benar (dirinya sendiri dan segala hal lainnya tertinggalkan).

Dalam keadaan batiniah amat luar biasa dan halus ini (dzauq & haal), merekapun mengalami keadaan Ittihad (menyatu dengan-Nya, berupa penyatuan 'batiniah' namun bukan penyatuan 'zat'). Dan mereka telah meraih makrifat tentang kekudusan, serta pensucian sifat keagungan Allah sesuci-sucinya.

Termasuk di antara mereka adalah para nabi-Nya.

(dirangkum dari buku "Misykat cahaya-cahaya", Imam Al-Ghazali, 1993: 95-114)

"Allah, Pelindung bagi orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal (tinggal) di dalamnya." – (QS.2:257).

"Alif laam raa. (Al-Qur'an ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu, supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita, kepada cahaya terang-benderang atas ijin Rabb-mereka, (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Maha Perkasa, lagi Maha Terpuji." – (QS.14:1).

 

Akhirnya dari tabel di atas bisa disimpulkan, "bahwa wujud atau hakekat dari 'hijab-tabir-pembatas' antara setiap manusia (ataupun setiap makhluk-Nya) terhadap Zat Allah, pada dasarnya berupa segala bentuk 'pengetahuan' tentang berbagai kebenaran-Nya di seluruh alam semesta ini (pada aspek lahiriah dan batiniah, serta bersifat mutlak dan kekal).".

Dan setiap lapisan 'hijab-tabir-pembatas' itupun pada dasarnya berupa setiap 'tingkat kebenaran' pengetahuan pada makhluk-Nya, dari hasil mengamati, mempelajari dan memahami tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaaan-Nya di alam semesta. Lapisan terrendahnya disebut di atas berupa pengetahuan pada orang yang terhijab oleh kegelapan murni. Sedang lapisan tertingginya berupa pengetahuan pada orang-orang yang menjalani pendakian atau mi'raj terakhir (termasuk para nabi-Nya). Tentunya jumlah lapisan 'hijab' inipun justru sangat banyak dan ada pada 'setiap' tingkatan pengetahuan atas sesuatu hal tertentu.

Makin tinggi tingkat kebenaran dari seluruh pengetahuan pada seorang manusia, maka ia bisa disebut pula makin dekat ke hadapan 'Arsy-Nya. Sedang 'Arsy-Nya adalah 'simbol' tempat beradanya atau tercatatnya segala sesuatu kebenaran-Nya (tempat kitab mulia dan nyata, 'Lauh Mahfuzh'), bukanlah tempat keberadaan yang sebenarnya bagi 'zat' Allah, ataupun bukanlah 'kursi Allah' yang sebenarnya.

Seperti ketika peristiwa Isra' Mi'raj, nabi Muhammad saw telah bisa berada sangat dekat ke hadapan 'Arsy-Nya, karena Nabi ketika itu memang sedang memperoleh petunjuk-Nya, yang nilai kemuliaannya sangat tinggi, yang berupa berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah). Hal ini tentunya bisa tercapai setelah Nabi sambil dituntun pula oleh malaikat mulia Jibril.

Sifat-sifat-Nya tersebar dalam segala hal di alam semesta

Seperti pada berbagai uraian di atas, bahwa seluruh sifat-Nya pada Asmaul Husna terdapat pada segala halnya di alam semesta, dari hasil berbagai pemahaman nabi Muhammad saw, setelah mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta.

Namun hal yang perlu diketahui pula oleh umat Islam, bahwa 'setiap' sifat-Nya pastilah mustahil bisa terdapat pada "segala halnya". Juga jika ada terdapat pada "sesuatu halnya", maka pastilah mustahil bisa terdapat pada "segala aspeknya". Maka konteks keberadaan sifat-sifat-Nya semestinya bisa dipahami dengan jelas.

Ringkasnya, seluruh sifat-Nya pada Asmaul Husna 'tersebar' dalam segala hal dan segala aspeknya di seluruh alam semesta ini.

Pada suatu 'hal' bisa terdapat berbagai macam 'aspek', seperti misalnya dalam hal perbuatan manusia, aspek-aspeknya antara-lainnya bisa berupa:

~ Siapa yang mulai berkehendak dan berbuat.
~ Daya siapa yang untuk memicu, memulai atau mengawali berbuat, serta daya siapa yang mewujudkannya.
~ Siapa yang bertanggung-jawab, siapa yang menuntutnya dan apa bentuk dari tanggung-jawabnya.
~ Siapa yang menerima efeknya dan apa bentuknya.
~ Apa saja segala keadaan awal dan keadaan akhirnya.
~ Siapa yang menyiapkan segala keadaan awalnya.
~ Siapa yang memberikan segala keadaan akhirnya.
~ Bagaimana proses pemberian segala keadaan akhirnya.
~ Siapa yang menilainya dan apa bentuk penilaiannya. dsb.

 

Dengan memilah-milahnya seperti itu, maka akan makin bisa diperkirakan pada aspek mana saja peranan Allah pada sesuatu halnya (tidaklah mesti pada semua aspeknya), serta pada aspek mana peranan makhluk-Nya, walau tanpa perlu dijelaskan secara lengkap peranan-peranan itu, beserta proses detailnya (cukup jika hanya bisa dipahami secara garis besarnya saja).

Maka memang Allah Maha kuasa dan Maha menentukan atas 'sesuatu hal', namun tidaklah mesti pada 'segala aspek'-nya. Misalnya pada setiap amal-perbuatan manusia, antara-lain:

~

Aturan-Nya pasti membatasi setiap hal yang bisa dilakukan oleh manusia.

~

Hanyalah daya dan perbuatan Allah yang menjadikan manusia bisa mewujudkannya (manusia pada dasarnya hanyalah memanfaatkan daya dan perbuatan Allah, secara sadar ataupun tidak).

Maka segala keadaan atau hasil akhirnya, justru hanya ditentukan oleh Allah.

~

Aturan-Nya mengatur setiap proses pemberian balasan-Nya yang setimpal (lahiriah dan batiniah), 'setiap saatnya' pada saat sedang dilakukan sampai saat selesainya dilakukan.

Maka Allah tidaklah berbuat sekehendak saat menentukan segala pemberian balasan-Nya (ada aturan-Nya yang jelas).

Segala balasan-Nya sekaligus pula sebagai bentuk tanggung-jawab setiap manusia, dan bentuk penilaian dari Allah yang setimpal (dan tercatat di Lauh Mahfuzh). Dsb.

 

Namun hanyalah kebebasan kehendak dan daya manusia yang memicu, memulai atau mengawali setiap perbuatannya, serta hanyalah usaha manusia yang menyiapkan berbagai keadaan awal sebelum dan selama perbuatannya dilakukan. Hal ini tentunya di samping berbagai keadaan awal dari pengaruh lingkungan di sekitarnya (sebagai sesuatu bentuk rahmat ataupun ujian-Nya).

Pemilahan yang serupa mestinya juga dilakukan atas segala hal lainnya di alam semesta. Sedang dari segala hal itulah, terutama yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal' (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya), bahkan nabi Muhammad saw bisa memahami seluruh sifat-Nya pada Asmaul Husna

Sifat-sifat-Nya yang 'seolah-olah' saling bertentangan

Dengan adanya amat besar jumlah ataupun bentuk hijab (tabir, pembatas atau penutup), antara cahaya kebenaran-Nya dan manusia, maka ada sebagian dari sifat-sifat-Nya yang seolah-olah dianggap bisa saling bertentangan, menurut penilaian 'relatif' manusia. Padahal jika telah dipahami hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), maka seluruh sifat-Nya pada Asmaul Husna mustahil saling bertentangan.

Bukti yang sederhananya bahwa setiap sifat-Nya justru bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten). Padahal dua hal yang bersifat mutlak dan kekal, yang 'seolah-olah' ada tampak saling bertentangan, bahkan mustahil bisa saling bertemu secara bersamaan pada "sesuatu hal dan sesuatu aspeknya". Sekali lagi seperti uraian di atas, konteks penempatan atau keberadaan setiap sifat-Nya semestinya bisa benar-benar dipahami dengan jelas.

Hal ini justru membuktikan, bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dan mustahil ada sesuatu zat yang bisa memiliki suatupun sifat 'mutlak' dan 'kekal', selain milik Zat Allah sendiri (mustahil ada sesuatu zat yang bisa menyaingi kemutlakan kekuasaan Allah).

Bahwa alam semesta ini justru mustahil bisa tetap tegak-kokoh sampai saat ini, jika ada banyak Tuhan Yang bisa memiliki kekuasaan yang setara, tetapi juga bisa saling bertentangan dalam mengatur alam semesta ini secara bersama-sama.

Contoh secara sederhananya, pada saat Allah sedang memberi hukuman kepada seseorang manusia, atas sesuatu amal-keburukannya (sesuai dengan sifat-Nya, Maha memberi balasan atau Maha memberi hukuman), maka pada saat yang 'sama', mustahil bisa diketahui sifat-Nya Maha pengampun dan penyayang. Karena konteks pengampunan-Nya justru hanya bisa terjadi 'setelah' manusianya berbuat sesuatu hal yang lain, yaitu bertaubat dengan sebenar-benarnya kepada-Nya.

Maka hal yang paling penting diketahui dalam hal ini, bahwa sifat-Nya mestinya bisa benar-benar dipahami konteks keberadaannya, dalam sesuatu halnya di seluruh alam semesta ini. Serta mestinya bisa makin mendekati pemahaman nabi Muhammad saw, tentang seluruh sifat-Nya pada Asmaul Husna, agar bisa membuktikan, bahwa seluruh sifat-Nya memang mustahil bisa saling bertentangan.

Berbagai contoh dari sifat-sifat-Nya yang 'seolah-olah' secara sekilas tampak saling bertentangan, antara-lain ditunjukkan pada Tabel 12 berikut.

Tabel 12: Beberapa sifat-Nya yang seolah-olah saling bertentangan

Beberapa pasangan sifat-sifat-Nya,
yang sekilas 'seolah-olah' tampak saling bertentangan

Al-Qaabidl (Yang Maha Menyempitkan)

Al-Maani' (Yang Maha Menghalangi)

Al-Baasith (Yang Maha Memperluas)

Al-Waasi' (Yang Maha Memperluas)

Al-Awwal (Yang Maha Awal)

Al-Mubdi' (Yang Maha Memulai)

Al-Fattaah (Yang Maha Pembuka)

Al-Aakhir (Yang Maha Akhir)

Al-Mu'izz (Yang Maha Memuliakan)

Ar-Raafi' (Yang Maha Mengangkat derajat)

Al-Muta'aaliy (Yang Maha Meninggikan)

As-Salam (Yang Maha Memberi Keselamatan)

Al-Mudzill (Yang Maha Menghinakan)

Al-Khaafidl (Yang Maha Merendahkan)

Al-Muqtadir (Yang Maha Kuasa)

Al-'Aziz (Yang Maha Kuasa)

Al-Qadiir (Yang Maha Menentukan atau Maha berkehendak)

Al-Muhiith (Yang Maha Menguasai)

Al-Maalik (Yang Maha Menguasai dan Memiliki)

Al-'Adl (Yang Maha Adil)

Al-Muqsith (Yang Maha Adil)

Al-Hakam (Yang Maha Bijaksana)

Al-Hakiim (Yang Maha Bijaksana)

Al-Muhaimin (Yang Maha Memelihara)

Al-Hafiidh (Yang Maha Menjaga)

Adh-Dhaarr (Yang Maha Memberi Hukuman)

Al-Muntaqim (Yang Maha Memberi Balasan)

Adz-Dzuntiqaam (Yang Maha Menetapkan Pembalasan)

Al-Ghafuur (Yang Maha Pengampun)

Al-Ghaffaar (Yang Maha Pengampun)

Ar-Rahiim (Yang Maha Penyayang)

Al-'Afuww (Yang Maha Pengampun)

Ar-Ra'uuf (Yang Maha Melimpahkan Kasih Sayang)

Al-Muhyi (Yang Maha Menghidupkan)

Al-Mumiit (Yang Maha Mematikan)

Al-Baathin (Yang Maha Gaib)

Az-Zhahir (Yang Maha Nyata)

Adh-Dhahir (Yang Maha Menjelaskan)

An-Nuur (Yang Maha Penerang)

Al-Khabiir (Yang Maha Memberi Kabar)

Al-Jabbaar (Yang Maha Perkasa)

Al-Qahhar (Yang Maha Perkasa)

Al-Lathiif (Yang Maha Halus)

Al-Badii' (Yang Maha Pencipta Keindahan)

Al-Muqaddim (Yang Maha Mendahulukan)

Al-Muakhkhir (Yang Maha Mengemudiankan)

Al-Baari' (Yang Maha Mengadakan)

Al-Mu'iid (Yang Maha Mengembalikan)

Penutup tentang sifat-sifat ciptaan-Nya

Dari uraian di atas, bahwa penciptaan seluruh alam semesta ini dan segala isinya, juga mengikuti atau melalui sunatullah, yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian yang 'pasti' dan 'jelas', serta bersifat amat sangat teratur, alamiah, halus, tidak kentara, dan juga seolah-olah terjadi begitu saja. Lebih ringkasnya, sunatullah itu justru bersifat 'mutlak' dan 'kekal'. Sedang dalam Al-Qur'an juga disebut, bahwa penciptaan alam semesta ini dan kehidupan umat manusia di dalamnya, adalah hasil perwujudan dari Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji Allah) (pada QS.30:30).

Hal inilah yang dimaksud dalam Al-Qur'an bahwa tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya bisa dipelajari oleh umat manusia, dari segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di seluruh alam semesta. Karena pada sunatullah itulah (mengatur segala proses penciptaan atau kejadian atas segala zat ciptaan-Nya), justru terkandung di dalamnya segala proses yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', yang menunjukkan tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya, serta tentunya sekaligus pula menunjukkan seluruh sifat-Nya pada Asmaul Husna.

Sedang dari sifat 'pembeda' pada segala zat ciptaan-Nya, yang pada dasarnya hanya tersusun dari Atom-materi dan Ruh, khususnya justru menunjukkan kekayaan khasanah segala zat ciptaan-Nya, yang sangat kaya jenis dan sifatnya.

Maka tinjauan pembahasan pada bab ini lebih terfokus kepada sifat-sifat zat ciptaan-Nya, yang justru telah diberikan-Nya sejak awal penciptaan alam semesta ini (yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal').

Sifat-sifat inipun lebih dikenal sebagai sifat-sifat alamiah pada setiap zat ciptaan-Nya, yang sama sekali justru bukan hasil pengaruh dan peranan dari segala zat makhluk-Nya.

 

Judul bab & sub-bab berikutnya dan keterangan ringkasnya

×

Sunatullah (sifat proses).

Semua sifat khas tiap ciptaan-Nya, tentang proses yang bisa dialaminya pada berbagai keadaan tertentu. Termasuk semua proses interaksi antar zat-zat ciptaan-Nya. Dan diuraikan lagi pada sub-bab sebagai berikut:

~

Berbagai penerapan fungsi sunatullah

~

Usaha dan jalan hidup makhluk ciptaan-Nya

~

Jalan-Nya yang lurus

~

Takdir-Nya

×

Sifat pembeda ciptaan-Nya (ciri khas).

Semua sifat khas tiap zat ciptaan-Nya, yang melekat dan bisa membedakannya dari zat-zat ciptaan-Nya lainnya (secara statis). Termasuk perubahan sifat ini terhadap perubahan keadaannya.

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s