Lampiran D.B Perbandingan aliran B

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

B.

Kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah

Dalam uraian pembahasan pada poin A di atas, tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia, telah terungkap adanya perbedaan pemahaman yang relatif cukup tajam antar aliran-aliran yang dibahas, walaupun memang relatif lebih banyak ditemui sesuatu 'kesesuaian', yang bisa menghubungkan ke semua pemahaman itu.

Namun dalam pemahaman tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah, justru perbedaan menjadi lebih tajam lagi. Padahal pemahaman tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah ini, amat mempengaruhi dan mewarnai setiap bentuk pemahaman lainnya. Aliran-aliran yang ditinjau di sini juga serupa dengan pada poin A, yaitu: Mu'tazilah, Maturidiah Samarkand & Buchara dan Asy'ariah.

Ringkasnya dari perbandingan kuantitatif, antara pemahaman pada aliran-aliran itu, terhadap pemahaman pada buku ini, pada Tabel 25 lebih banyak kesesuaiannya (P=pro dan PC=pro dengan catatan), dan lebih sedikit pertentangannya (K=kontra) daripada pada Tabel 30

Pada Tabel 26 dan Tabel 27 di bawah ini akan diungkap suatu kesimpulan dan pernyataan lebih lengkap atas pemahaman dari aliran-aliran itu, tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah. Dan sekaligus disertakan pula hasil kesimpulan pemahaman pada buku ini, sebagai bahan perbandingan awalnya (pada Tabel 26 poin 5).

Tabel 26: Kemutlakan sifat-Nya, bagi aliran-aliran (kesimpulan)

No

Kesimpulan dari beberapa aliran, tentang
kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah

Aliran

1.

Tidak mutlak semutlak-mutlaknya

(di bawah aliran lain-lainnya)

Mu'tazilah /

Qadariah

2.

Mutlak

(antara aliran Maturidiah Buchara dan Mu'tazilah)

Maturidiah Samarkand

3.

Mutlak

(tidak semutlak pada aliran Asy'ariah)

Maturidiah Buchara

4.

Mutlak semutlak-mutlaknya

(di atas aliran lain-lainnya)

Asy'ariah

5.

Hakekat

:

Mutlak semutlak-mutlaknya

Perwujudan di alam semesta

:

Tidak mutlak semutlak-mutlaknya (melalui segala aturan yang pasti berlaku dan tidak berubah-ubah)

(paling atas ataupun di tengah aliran lainnya, tergantung dari sudut pandang, hakekat dan perwujudan bisa berbeda)

— pada buku ini —

(poin 1-4 dirangkum dari buku "Teologi Islam", Prof.Dr. Harun Nasution, 1986: 118-122)

Tabel 27: Kemutlakan sifat-Nya, bagi aliran-aliran (pernyataan)

Rangkuman ringkas pemahaman dari beberapa aliran,
tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah

Pernyataan-pernyataan dari aliran Mu'tazilah

Kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah:

Tidak mutlak semutlak-mutlaknya (di bawah aliran lain-lainnya)

Kekuasaan Allah tidak bersifat mutlak lagi, karena justru telah dibatasi oleh kebebasan, yang justru telah diberikan-Nya kepada tiap manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya.

Kekuasaan mutlak Allah dibatasi pula oleh sifat keadilan Allah.

Allah tidak bisa berbuat sekehendak-Nya.

Allah telah terikat pada norma-norma keadilan, yang jika dilanggar maka Allah bersifat tidak adil, bahkan zalim. Dan sifat tidak adil itu bukanlah sifat Allah.

Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah dibatasi pula oleh kewajiban-kewajiban Allah terhadap manusia.

Kekuasaan mutlak Allah-pun dibatasi pula oleh sifat atau hukum alam (Sunnah Allah) yang tidak pernah berubah.

Tiap benda mempunyai sifat atau hukum alamnya sendiri (gerak, diam, warna, rasa, panas, dingin, basah, kering, dsb). Sedang efek yang ditimbulkan tiap benda bukanlah perbuatan Allah, tetapi perbuatan Allah hanyalah menciptakan benda-benda yang mempunyai sifat tertentu.

Hukum alam (Sunnah Allah) yang mengatur perjalanan kosmos (seluruh alam semesta ini).

Segala sesuatu di alam semesta ini berjalan menurut Sunnah Allah.

Sunnah Allah dibuat oleh Allah sebegitu rupa sehingga sebab dan musabab di dalamnya memiliki hubungan yang erat.

Bagi tiap sesuatu jenis ciptaan-Nya, Allah menciptakan Sunnah tertentu.

Ada Sunnah yang tidak berubah-ubah, untuk mencapai kemenangan.

Keadaan seseorang (mukmin ataupun kafir), justru tidak memiliki pengaruh terhadap berlakunya Sunnah Allah itu. Sunnah Allah tidak kenal sesuatu pengecualian, termasuk bagi para nabi-Nya.

Sunnah Allah tidak berubah-ubah, dan Allah tidak menghendaki agar Sunnah Allah sekali-kali menyalahi sifat ciptaan-Nya.

Sunnah Allah tidak mengalami perubahan atas kehendak Allah sendiri, dengan demikian hal inipun merupakan batasan bagi kekuasaan dan kehendak mutlak pada Allah.

Allah tidak bersikap absolut dalam menjatuhkan hukuman dengan sekehendak-Nya. Allah ibaratnya Raja Yang konstitusionil, bukan Raja Yang absolut.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Asy'ariah

Kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah:

Mutlak semutlak-mutlaknya (di atas aliran lain-lainnya)

Allah tidak tunduk kepada siapapun.

Di atas Allah tidak ada sesuatu zat lain yang dapat membuat hukum, dan juga dapat menentukan apa yang boleh atau tidak boleh diperbuat oleh Allah.

Allah bisa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya di dalam kerajaan-Nya.

Tidak ada sesuatupun yang bisa mencela perbuatan-Nya. Sungguhpun segala perbuatan-Nya itu oleh akal manusia bersifat tidak baik dan tidak adil.

Boleh saja Allah melarang hal-hal yang telah diperintahkan-Nya, ataupun juga memerintahkan hal yang telah dilarang-Nya.

Allah bersikap adil dalam segala perbuatan-Nya.

Tidak ada suatu laranganpun bagi Allah.

Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.

Seluruh makhluk milik-Nya.

Perintah-Nya di atas segala perintah.

Allah memberi hukum menurut kehendak-Nya.

Allah dapat menyiksa orang yang berbuat baik, jika hal itu dikehendaki-Nya. Sebaliknya Allah dapat memberi upah kepada orang kafir, jika hal itupun juga dikehendaki-Nya.

Allah dapat meletakkan beban yang tak-terpikul pada diri manusia.

Sekiranya Allah mewahyukan bahwa berdusta adalah baik, maka berdusta itu mestilah baik, bukan buruk.

Allah tidak terikat kepada segala apapun, dan tidak terikat pada janji-janji, pada norma-norma keadilan, dsb.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Samarkand

Kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah:

Mutlak (antara aliran Maturidiah Buchara dan Mu'tazilah)

Kebebasan dalam kehendak dan perbuatan, ada pada manusia.

Allah tidak bersifat sewenang-wenang dalam menjatuhkan segala hukuman-Nya, tetapi berdasar kepada kebebasan pemakaian daya yang diberikan-Nya kepada manusia, untuk berbuat baik atau jahat.

Hukuman-hukuman Allah bersifat pasti terjadinya.

Adanya batasan-batasan pada kehendak dan kekuasaan-Nya, bukan dari zat selain Allah. Karena tidak ada sesuatu zatpun yang berkuasa di atas Allah, dan Allah di atas segala-galanya. Batasan-batasan justru itupun ditentukan oleh dan atas kehendak Allah sendiri.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Buchara

Kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah:

Mutlak (tidak semutlak pada aliran Asy'ariah)

Allah memang berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, dan juga menentukan segala-galanya menurut kehendak-Nya.

Tidak ada yang dapat menentang atau memaksa Allah.

Tidak ada larangan-larangan kepada Allah.

(dirangkum dari buku "Teologi Islam", Prof.Dr. Harun Nasution, 1986: 118-122)

Walau telah diuraikan secara lengkap dalam bab-bab buku ini, tetapi agar lebih jelas dan segar dalam ingatan. Maka pada Tabel 28 di bawah ini diuraikan kembali secara ringkas berbagai pemahaman hasil pembahasan pada buku ini (khususnya pada topik "Sunatullah (sifat proses)"), dengan fokus utamanya, tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah.

Tabel 28: Kemutlakan sifat-Nya, bagi pembahasan di sini

Pernyataan-pernyataan ringkas dari pembahasan di sini
tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

Kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah:

Hakekat

:

Mutlak semutlak-mutlaknya

Perwujudan di alam semesta

:

Tidak mutlak semutlak-mutlaknya

(paling atas atau di tengah aliran lain-lainnya, tergantung sudut pandang)

Kehendak dan kekuasaan mutlak Allah

Tidak ada perubahan dan batasan pada kehendak dan kekuasaan mutlak-Nya.

Kerajaan-Nya di atas atau meliputi segala kerajaan.

Tidak ada sesuatu zatpun yang berkuasa di atas Allah, yang misalnya:

a. Dapat menentang atau memaksa Allah.
b. Dapat menyela perbuatan-Nya.
c. Dapat membuat hukum, dan bisa menentukan apa yang boleh ataupun tidak boleh diperbuat oleh Allah.

Allah tidak tunduk atau terikat kepada segala sesuatu apapun.

Allah yang menentukan terhadap segala sesuatu.

Tidak ada suatu laranganpun bagi Allah.

Kehendak atau rencana Allah bagi alam semesta

Pada penciptaan alam semesta ini, ataupun pada segala yang ada atau terjadi di alam semesta ini, justru hanyalah perwujudan dari rencana, kehendak dan kekuasaan-Nya.

Di dalam kehendak atau rencana Allah yang terkait dengan penciptaan alam semesta, Allah sebelumnya telah pula menentukan dan menetapkan segala sesuatu hal, seperti: kehendak-Nya, tindakan-Nya, aturan-Nya (hukum-Nya, Sunnah Allah atau sunatullah), perintah dan larangan-Nya, pengajaran dan tuntunan-Nya, janji atau balasan-Nya, dsb.

Segala ketentuan, kehendak atau rencana-Nya bagi alam semesta ini tidak pernah berubah, sejak ditetapkan-Nya sampai akhir jaman.

Dan hal-hal itupun telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung.

Alam semesta diciptakan-Nya dengan maksud atau tujuan, yang sangat pasti dan jelas.

Sunatullah (Sunnah Allah, perbuatan, hukum atau aturan-Nya) pada aspek lahiriah dan batiniah di alam semesta

Sunatullah sama-sekali mustahil membatasi kekuasaan dan kehendak mutlak Allah, karena sunatullah itu sendiri justru bentuk perwujudan dari kekuasaan dan kehendak-Nya dalam penciptaan alam semesta ini.

Sunatullah (lahiriah dan batiniah) adalah wujud dari segala tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini.

Sunatullah terkadang disebut sebagai kehendak, ketetapan atau ketentuan-Nya di alam semesta ini, karena melalui sunatullah itu Allah justru mewujudkan segala kehendak, ketetapan atau ketentuan-Nya bagi alam semesta.

Sunatullah (lahiriah dan batiniah) tidak berubah-ubah, sejak ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta sampai akhir jaman, dan tercatat pula pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya.

Melalui sunatullah itulah Allah menciptakan alam semesta dan segala isinya.

Namun ada perkecualian terjadi pada penciptaan tak-terhitung jumlah dan jenis "Ruh" (hidup dan gaib) dan "Atom" (mati dan nyata, tepatnya materi 'terkecil'), sebagai zat-zat paling elementer penyusun seluruh alam semesta dan segala isinya ini, yang justru diciptakan-Nya tanpa proses sama-sekali (langsung jadi). Atom untuk 'sementara' bisa dianggap sebagai sistem materi 'penyusun' terkecil, sedang materi 'penyusun' terkecil yang sebenarnya mustahil bisa dijangkau dan diketahui oleh manusia (materi 'terkecil').

Sunatullah itu segala (tak-terhitung jumlah) aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah) atas segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini (makhluk hidup atau benda mati, nyata atau gaib).

Sunatullah mengatur segala proses internal pada tiap zat ciptaan-Nya, ataupun proses interaksi antar zat-zat ciptaan-Nya (sejenis ataupun berlainan).

Sunatullah pasti berlaku (mutlak), pasti konsisten (kekal) dan juga pasti sesuai dengan keadaan (lahiriah dan batiniah) pada tiap zat ciptaan-Nya tiap saatnya. Dan tentunya keadaan itu sendiri juga termasuk meliputi jenis atau sifat zatnya.

Pada tiap jenis zat ciptaan-Nya berlaku sekelompok sunatullah tertentu.

Sunatullah (sebagai satu kesatuan dari sejumlah tak-terhitung sunatullah) pasti berlaku sama terhadap "segala" zat ciptaan-Nya, bukan hanya pada zat-zat tertentu saja (sama sekali tidak mengenal pengecualian, bahkan termasuk pada para nabi-Nya).

Segala zat ciptaan-Nya pasti tunduk, patuh dan taat kepada sunatullah, secara sadar ataupun tidak, bahkan bagi orang yang paling kafir dan iblis sekalipun.

Sifat-sifat zat ciptaan-Nya dibagi menjadi: sifat pembeda-esensi-statis dan sifat proses-perbuatan-dinamis.

Sifat proses juga termasuk proses-proses yang mengubah sifat pembedanya, sesuai keadaan zat ciptaan-Nya setiap saatnya.

Maka sifat proses ini (yang mutlak dan kekal) juga termasuk bagian dari sunatullah.

Penciptaan alam semesta adalah perwujudan dari Fitrah Allah atau sifat-sifat terpuji Allah.

Maka segala pengaturan atau proses dalam sunatullah, diwarnai oleh sifat-sifat Allah.

Hukum alam (lahiriah) hanya sebagian saja dari sunatullah (lahiriah dan batiniah), yang mengatur perjalanan kosmos (alam semesta).

Seperti proses pada umumnya, maka sunatullah juga menghubungkan antara sebab dan musabab (lahiriah dan batiniah), secara langsung ataupun tidak.

Ada sunatullah untuk mencapai kemenangan lahiriah (di dunia) dan batiniah (di akhirat).

Ajaran-ajaran agama-Nya adalah berbagai cara untuk mengubah keadaan batiniah tiap umat manusia, agar berlakulah sunatullah yang mengantarkannya kepada kemenangan batiniah yang hakiki (relatif amat sedikit kepada kemenangan lahiriah-fisik-duniawi).

Tidak ada perubahan dan batasan dalam kehendak-Nya di alam semesta

Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, tetapi segala kehendak-Nya bagi seluruh alam semesta ini, justru telah ditetapkan-Nya sebelum awal penciptaan alam semesta itu sendiri, dan tidak akan berubah-ubah (kekal) sampai akhir jaman.

Maka Allah justru tidak berbuat sekehendak-Nya di alam semesta ini.

Allah pasti 'konsisten' (bukan tunduk atau terikat) kepada kehendak atau rencana Allah sendiri dalam penciptaan alam semesta ini, yang terkandung pula di dalamnya: segala kebaikan, janji, hukum atau aturan, norma keadilan, dsb.

Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah sama-sekali tidak dibatasi oleh segala sesuatu apapun, karena semuanya justru bagian atau contoh perwujudan dari kekuasaan dan kehendak-Nya, seperti misalnya:

~ Kebebasan manusia, yang telah diberikan-Nya dalam menentukan kehendak dan perbuatannya sendiri (diciptakan-Nya akal dan nafsunya).
~ Kewajiban-kewajiban atau janji-janji Allah terhadap manusia.
~ Sifat keadilan Allah.
~ Sifat atau hukum alam (bagian dari sunatullah), yang tidak pernah berubah.

Kebebasan pada manusia

Kebebasan dalam kehendak dan perbuatan, ada pada tiap manusia, dengan diberi-Nya 'akal' (pengetahuan dan kecerdasan) dan 'nafsu' (semangat dan keinginan).

Kebebasan manusia adalah bagian penting dari kehendak atau rencana Allah, dalam penunjukan manusia sebagai khalifah-Nya di muka Bumi (dunia).

Kebebasan, kehendak atau perbuatan tiap manusia diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan perbuatan Allah di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), yang melalui aturan-Nya (sunatullah).

Sunatullah mewujudkan ke-Maha Adil-an Allah

Sunatullah adalah "aturan atau rumus" proses kejadian, yang berlaku sama terhadap "segala" zat ciptaan-Nya. Dan Allah bukan menentukan segala "bentuk balasan-Nya", tetapi justru menentukan "rumus proses pemberian balasan-Nya" yang bersifat kekal.

Maka "mustahil" ada sesuatupun tindakan-Nya, yang misalnya: aniaya atau zalim, pilih-kasih, sewenang-wenang, sekehendak, tidak adil, tidak baik, dsb.

Sunatullah tentang proses pemberian balasan-Nya (nikmat atau hukuman-Nya, secara lahiriah dan batiniah) pasti setimpal dengan setiap amal-perbuatan manusia, juga pasti berlaku sama bagi setiap manusia (orang kafir atau beriman, orang jahat atau baik, fakir miskin atau konglomerat, orang cacat atau normal, dsb) dan bersifat mutlak dan kekal (pasti terjadi dan pasti konsisten).

Allah tidaklah sewenang-wenang (tidak bersikap absolut atau sekehendaknya) dalam memberi balasan-Nya (nikmat atau hukuman-Nya), melainkan justru pasti sesuai atau setimpal dengan tiap amal-perbuatan manusia (pasti adil).

Tidak ada sesuatupun perbuatan-Nya itu yang bersifat tidak baik dan tidak adil, karena penilaian tentang baik, adil atau semacamnya, hanyalah untuk sesuatu yang relatif dan berubah-ubah.

Tetapi segala perbuatan-Nya di alam semesta ini (melalui sunatullah), bersifat mutlak dan kekal (pasti terjadi dan pasti konsisten).

Penilaian semacam itu sama halnya dengan mempertanyakan berbagai rencana Allah, tentang penciptaan seluruh alam semesta dan segala isinya ini.

Balasan-Nya bagi orang kafir dan orang beriman

Keadaan keimanan manusia tiap saatnya (niat atau kesadaran), yang menyertai tiap amal-perbuatannya, justru pasti berpengaruh sangat besar terhadap proses berlakunya sunatullah batiniah.

Tetapi justru sebaliknya keadaan keimanan itupun tidak banyak berpengaruh terhadap sunatullah lahiriah, karena keimanan itu relatif hanya bisa mewujud pada salah-satu aspek lahiriah saja, yaitu energi atau daya lahiriah (semangat menegakkan kebenaran).

Orang kafir dan orang beriman sama-sama bisa pula memperoleh karunia, rejeki atau rahmat-Nya secara lahiriah.

Tetapi orang kafir justru jauh lebih terbatas dalam memperoleh pahala atau rahmat-Nya secara batiniah.

Karena orang kafir bisa berbuat baik (bersifat umum atau muamalah), tetapi pondasi paling utama keadaan batiniahnya mengandung cacat (tauhidnya tidak lurus).

Perintah-perintah-Nya

'Hakekat' dari tiap perintah-Nya dalam ajaran agama-Nya justru bersifat 'universal' (bisa melewati batas waktu, ruang, budaya, dsb), tidak pernah berubah sampai akhir jaman.

Tetapi dalam aplikasi atau penerapan aktualnya, justru penafsiran atas segala perintah-Nya harus disesuaikan dengan jaman, tempat ataupun budaya umat manusia. Maka perintah-Nya yang disampaikan oleh para nabi-Nya, seolah-olah tampak berubah-ubah atau berbeda-beda, walaupun hikmah dan hakekatnya justru tetap sama atau serupa.

"Wahyu adalah wahyu yang dibacakan" (atau wahyu-Nya yang disampaikan oleh para nabi-Nya kepada umatnya), adalah penafsiran atau pemahaman atas wahyu-Nya yang diterimanya dari malaikat Jibril, sesuai dengan konteks jaman, tempat ataupun budaya umat kaum tiap para nabi-Nya.

Jika penafsiran atau penerapan atas perintah-Nya, telah tidak sesuai dengan "hikmah dan hakekat" yang terkandung pada perintah-Nya itu, maka penafsiran atau penerapan itu sendiri justru mestinya disesuaikan pula.

Allah mustahil mewahyukan agar berdusta, kecuali demi kebaikan bagi seluruh umat manusia secara obyektif, justru bukan secara subyektif-relatif menurut tiap manusianya.

Perintah-Nya di atas segala perintah, namun hal ini hanya sesuai dari segi 'hikmah dan hakekat' yang terkandung pada perintah-Nya, dengan tujuan utama demi kebaikan.

Bahkan tergantung kepada tiap manusianya sendiri untuk mau mengikuti perintah-Nya ataupun tidak, setelah diberikan-Nya kebebasan (dengan akal dan nafsunya), sebagai suatu bentuk ujian-Nya baginya.

Segala perintah-Nya justru tidak bersifat 'memaksa', walaupun seolah-olah 'memaksa' bagi umat yang memang benar-benar ingin meningkatkan keimanannya.

Beban cobaan atau ujian-Nya

Allah mustahil menyiksa orang yang berbuat baik, yang ada hanyalah berbagai macam beban cobaan atau ujian-Nya (lahiriah dan batiniah), yang justru pastilah selalu dialami oleh seluruh umat manusia tiap saatnya, untuk menguji keimanannya masing-masing.

Tetapi Allah pasti menyiksa orang yang berbuat 'baik' di kehidupan akhiratnya, terutama pada Hari Kiamat, atas tiap perbuatan dosanya yang belum dimaafkan-Nya (taubatnya atas dosanya itu belum diterima-Nya). Hanya Allah Yang Maha mengetahui 'baik' atau 'buruk'-nya seseorang (atas 'suatu' atau 'seluruh' amal-perbuatannya selama di dunia).

Segala ujian-Nya justru "tidak sama" dengan siksaan atau hukuman-Nya, walau seolah-olah terasa sama-sama menyiksa, menyulitkan, memberatkan atau menyengsarakan.

Ujian-Nya justru sama sekali bukan hasil pengaruh dari segala perbuatan manusia yang mengalaminya (secara langsung ataupun tidak), maka iapun justru tidak bertanggung-jawab atas ujian-Nya, sebaliknya siksaan-Nya dari hasil perbuatan dosanya.

Allah mustahil memberi beban ujian-Nya yang tidak mampu dipikul oleh tiap manusia.

Segala beban ujian-Nya pada dasarnya hanyalah ukuran bersifat 'batiniah', atau hanya berupa jarak perbedaan antara nafsu-keinginan 'batiniah' dan segala keadaan lahiriah yang sedang dihadapi, terwujud atau tercapai. Tiap manusia justru memiliki kebebasan, kekuasaan dan otoritas sepenuhnya untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri (kehidupan akhiratnya). Segala ujian-Nya secara 'lahiriah' pastilah akan bermuara atau berakhir menjadi segala ujian-Nya secara 'batiniah' pada alam batiniah ruh manusia.

 

Dari Tabel 28 tersebut, berbagai hasil pembahasan pada buku ini sekilas terlihat tampak 'hampir' sesuai, dengan pemahaman pada aliran Mu'tazilah, terutama karena sama-sama terfokus pada peranan sangat penting Sunnah Allah (sunatullah). Namun jika dicermati atau ditinjau pada uraian lengkapnya, justru ternyata amat berbeda.

Agar lebih jelasnya bagi perbandingan hasil pemahaman pada buku ini terhadap tiap aliran tersebut, maka pada Tabel 29 berikut ini dibahas secara ringkas pernyataan dari tiap alirannya (yang disebutkan pula pada Tabel 27 di atas), agar lebih bisa terungkapkan berbagai perbedaan ataupun titik temunya.

Pada setiap pernyataan dari sesuatu aliran, yang sesuai dengan pemahaman pada buku ini diberi tanda "P" (pro), yang sesuai namun dengan suatu catatan tertentu diberi tanda "PC" (pro-catatan), sedang apabila bertentangan diberi tanda "K" (kontra).

Tabel 29: Kemutlakan sifat-Nya, bahas pernyataan aliran-aliran

(P = pro; PC = pro dengan catatan; K = kontra)

Pembahasan atas pernyataan-pernyataan dari aliran-aliran,
tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah,
dengan memakai pemahaman pada buku ini

Pembahasan atas pernyataan aliran Mu'tazilah

K

Sunnah Allah tidak mengalami perubahan atas kehendak Allah sendiri, maka hal ini merupakan batasan bagi kekuasaan dan kehendak mutlak pada Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Sunnah Allah (sunatullah) justru sama-sekali tidak membatasi kekuasaan dan kehendak mutlak Allah.

»

Sunatullah adalah salah-satu contoh perwujudan dari kekuasaan dan kehendak mutlak Allah (hanya terkait dengan penciptaan alam semesta ini).

»

Sunatullah justru merupakan bagian dari rencana atau kehendak Allah dalam penciptaan alam semesta ini, di samping berbagai ketetapan-Nya lainnya.

»

Sunatullah adalah wujud dari tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini.

PC

Allah tidak bisa berbuat sekehendak-Nya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Allah tidak berbuat sekehendak-Nya di alam semesta, karena alam semesta ini justru diciptakan-Nya dengan maksud atau tujuan yang 'pasti' dan 'jelas'.

»

Segala kehendak-Nya dalam penciptaan alam semesta justru telah ditetapkan-Nya sebelum penciptaan itu sendiri, serta tidak berubah sampai akhir jaman.

K

Keadaan seseorang (mukmin ataupun kafir), justru tidak memiliki pengaruh terhadap berlakunya Sunnah Allah itu. Sunnah Allah tidak kenal sesuatu pengecualian, termasuk bagi para nabi-Nya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Keadaan batiniah manusia (seperti: mukmin atau kafir) justru berpengaruh besar terhadap berlakunya sunatullah secara batiniah, namun memang relatif tidak berpengaruh terhadap sunatullah secara lahiriah.

»

Sunatullah sebagai satu kesatuan dari sejumlah tak-terhitung sunatullah, yang berlaku sama terhadap "segala" zat ciptaan-Nya, bukan pada zat-zat tertentu saja (tidak mengenal pengecualian, termasuk para nabi-Nya).

P

Sunnah Allah dibuat oleh Allah sebegitu rupa sehingga sebab dan musabab di dalamnya memiliki hubungan yang erat.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Sunatullah itu memang dibuat oleh Allah sebegitu rupa sehingga sebab dan musabab (lahiriah dan batiniah) di dalamnya memiliki hubungan yang erat (secara langsung ataupun tidak).

»

Sunatullah adalah segala aturan atau rumus proses kejadian atas segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini. Proses pada sunatullah mengubah berbagai keadaan awal manusia menjadi berbagai keadaan akhir tiap saatnya, yang setimpal dengan segala usaha manusianya sendiri.

K

Kekuasaan Allah tidak bersifat mutlak lagi, karena justru telah dibatasi oleh kebebasan, yang justru telah diberikan-Nya kepada tiap manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah sama-sekali tidak dibatasi oleh kebebasan manusia, yang memang sengaja telah diberikan-Nya dalam menentukan kehendak dan perbuatannya (diciptakan-Nya akal dan nafsu).

»

Kebebasan manusia adalah bagian dari kehendak atau rencana Allah dalam penunjukan manusia sebagai khalifah-Nya di muka Bumi (dunia).

K

Kekuasaan mutlak Allah dibatasi pula oleh sifat atau hukum alam (Sunnah Allah) yang tidak pernah berubah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah justru sama-sekali tidak dibatasi oleh sifat atau hukum alam (sebagian dari sunatullah), yang tidak pernah berubah.

»

Sifat atau hukum alam justru salah-satu contoh perwujudan dari kekuasaan dan kehendak mutlak Allah (hanya terkait dengan penciptaan alam semesta ini).

K

Kekuasaan mutlak Allah dibatasi pula oleh sifat keadilan Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah justru sama-sekali tidak dibatasi oleh sifat keadilan Allah.

»

Sifat keadilan Allah adalah kemutlakan sifat Allah lainnya, yaitu Maha Adil.

»

Kemutlakan semua sifat Allah tidak semestinya saling dipertentangkan, apalagi tidak semestinya membandingkan dengan sifat dan perbuatan manusia.

K

Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah dibatasi pula oleh kewajiban-kewajiban Allah terhadap manusia.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah justru sama-sekali tidak dibatasi oleh kewajiban-kewajiban Allah terhadap manusia.

»

Kewajiban-kewajiban Allah terhadap manusia adalah kemutlakan sifat Allah lainnya, antara-lain yaitu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

»

Kemutlakan semua sifat Allah tidak semestinya saling dipertentangkan, apalagi tidak semestinya membandingkan dengan sifat dan perbuatan manusia.

PC

Sunnah Allah tidak berubah-ubah, dan Allah tidak menghendaki agar Sunnah Allah sekali-kali menyalahi sifat ciptaan-Nya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Sunatullah (lahiriah dan batiniah) memang tidak berubah-ubah sejak ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta sampai akhir jaman.

»

Tetapi sunatullah justru diciptakan-Nya melekat sebagai sifat proses-dinamis-perbuatan yang 'mutlak' dan 'kekal' pada segala zat ciptaan-Nya, sekaligus untuk mengaturnya. Sifat ini bukanlah hasil perbuatan segala zat makhluk-Nya, tetapi hasil perbuatan Allah.

P

Segala sesuatu di alam semesta ini berjalan menurut Sunnah Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Segala sesuatu proses atau kejadian di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah) pasti berjalan menurut atau mengikuti sunatullah.

K

Hukum alam (Sunnah Allah) yang mengatur perjalanan kosmos (seluruh alam semesta ini).

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Hukum alam (lahiriah) hanyalah sebagian dari sunatullah (lahiriah dan batiniah), yang mengatur perjalanan kosmos (alam semesta).

P

Bagi tiap sesuatu jenis ciptaan-Nya, Allah menciptakan Sunnah tertentu.

K

Tiap benda mempunyai sifat atau hukum alamnya sendiri (gerak, diam, warna, rasa, panas, dingin, basah, kering, dsb). Sedang efek yang ditimbulkan tiap benda bukanlah perbuatan Allah, tetapi perbuatan Allah hanyalah menciptakan benda-benda yang mempunyai sifat tertentu.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Bagi tiap jenis zat ciptaan-Nya, Allah memang menciptakan sekelompok aturan atau rumus proses kejadian tertentu pada sunatullah (sekelompok sunatullah yang amat kecil atau sederhana, yang menyusun sunatullah sebagai sesuatu kesatuan segala aturan atau rumus proses kejadian di seluruh alam semesta).

Lebih tepatnya, sunatullah pasti berlaku sesuai segala keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta (lahiriah dan batiniah). Sedang 'jenis' zat itu sendiri justru termasuk bagian dari 'keadaan'-nya tersebut.

»

Sunatullah (lahiriah) juga pasti mengatur misalnya: gerak, diam, warna, rasa, panas, dingin, basah, kering, dsb, beserta segala efek-efeknya.

»

Sunatullah adalah wujud tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini.

Sunatullah disebut pula sifat proses-dinamis-perbuatan Allah di alam semesta.

»

Tetapi sunatullah justru diciptakan-Nya melekat sebagai sifat proses-dinamis-perbuatan yang 'mutlak' dan 'kekal' pada segala zat ciptaan-Nya, sekaligus untuk mengaturnya. Sifat ini bukanlah hasil perbuatan segala zat makhluk-Nya, tetapi hasil perbuatan Allah.

Sedang sifat proses-dinamis-perbuatan pada zat-zat ciptaan-Nya yang berasal dari hasil perbuatan segala zat makhluk-Nya justru bersifat 'relatif' dan 'fana', yang pada dasarnya hanya memanfaatkan perbuatan Allah.

PC

Allah telah terikat pada norma-norma keadilan, yang kalau dilanggar Allah bersifat tidak adil, bahkan zalim. Dan sifat tidak adil itu bukan sifat Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Allah menciptakan alam semesta ini berdasarkan Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji dan termulia Allah), yang tergambar pada Asmaul Husna, termasuk Maha adil.

Dan tidak ada perubahan atas Fitrah Allah itu.

»

Sunatullah sebagai wujud tindakan-Nya di alam semesta, berupa segala aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah), yang berlaku sama atas segala zat ciptaan-Nya. Sunatullah juga mengandung norma-norma keadilan.

Allah bukanlah menentukan "bentuk" balasan-Nya, tetapi menentukan "rumus proses pemberian" balasan-Nya yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal' (sunatullah). Maka mustahil ada tindakan-Nya yang misalnya: aniaya atau zalim, pilih-kasih, sewenang-wenang, sekehendaknya, tidak adil, tidak baik, dsb.

PC

Allah tidak bersikap absolut dalam menjatuhkan hukuman dengan sekehendak-Nya. Allah ibaratnya Raja Yang konstitusionil, bukan Raja Yang absolut.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Allah tidak menjatuhkan hukuman dengan sekehendak-Nya di alam semesta.

»

Sunatullah sebagai wujud tindakan-Nya di alam semesta, justru bersifat 'mutlak' dan 'kekal', berupa segala aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah), yang berlaku sama atas segala zat ciptaan-Nya. Dan tidak ada perubahan atas sunatullah itu (tidak ada perubahan segala kehendak-Nya).

Allah bukanlah menentukan "bentuk" balasan-Nya, tetapi menentukan "rumus proses pemberian" balasan-Nya (sunatullah) yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'. Maka segala balasan atau hukuman-Nya mustahil bisa dibandingkan dengan segala bentuk hukuman manusia, yang justru bersifat 'relatif' dan 'fana'.

»

Sifat absolut mutlak (pasti terjadi) pada Allah yang sekaligus kekal (pasti konsisten, atau tidak berubah) mustahil bisa dibandingkan dengan sifat absolut relatif dan fana (tidak kekal) pada segala makhluk.

P

Ada Sunnah yang tidak berubah-ubah, untuk mencapai kemenangan.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Ada sunatullah yang tidak berubah-ubah untuk mencapai kemenangan.

»

Ajaran-ajaran agama-Nya adalah cara-cara untuk mengubah keadaan batiniah manusia, agar berlaku sunatullah yang mengantarkannya kepada kemenangan batiniah yang hakiki (amat sedikit kepada kemenangan lahiriah-fisik-duniawi).

Pembahasan atas pernyataan aliran Asy'ariah

PC

Allah tidak tunduk kepada siapapun.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Allah tidak tunduk kepada segala sesuatupun.

Allah hanya tunduk (konsisten) kepada kehendak atau rencana Allah sendiri dalam penciptaan alam semesta, sebagai perwujudan dari Fitrah Allah sendiri pula (sifat-sifat terpuji Allah). Dan tidak ada perubahan atas Fitrah Allah itu.

PC

Tidak ada suatu laranganpun bagi Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Tidak ada suatu laranganpun bagi Allah.

»

Namun dalam kehendak atau rencana Allah bagi penciptaan alam semesta ini, Allah telah pula menentukan atau menetapkan banyak hal sebelum penciptaan itu sendiri (kehendak dan tindakan-Nya, hukum dan aturan-Nya, pengajaran dan tuntunan-Nya, dsb).

Segala ketentuan-Nya itu justru bersifat mutlak dan kekal sampai akhir jaman, dan telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya.

PC

Di atas Allah tidak ada sesuatu zat lain yang dapat membuat hukum, dan juga dapat menentukan apa yang boleh atau tidak boleh diperbuat oleh Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Di atas Allah tidak ada segala sesuatu hal lain yang dapat membuat hukum, dan dapat menentukan apa yang boleh atau tidak boleh diperbuat oleh Allah.

»

Hanya Allah sendiri yang menentukan segala sesuatu hal bagi alam semesta ini (termasuk hukum-Nya dan perbuatan-Nya). Segala ketentuan-Nya itu justru bersifat mutlak dan kekal, sejak ditetapkan-Nya sampai akhir jaman

PC

Tidak ada sesuatupun yang bisa mencela perbuatan-Nya. Sungguhpun segala perbuatan-Nya itu oleh akal manusia bersifat tidak baik dan tidak adil.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Tidak ada sesuatupun yang bisa mencela perbuatan-Nya. Dan tidak ada sesuatupun perbuatan-Nya yang bersifat tidak baik dan tidak adil.

»

Sunatullah sebagai wujud tindakan-Nya di alam semesta, justru bersifat 'mutlak' dan 'kekal', berupa segala aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah), yang berlaku sama atas segala zat ciptaan-Nya. Dan tidak ada perubahan atas sunatullah itu.

Maka mustahil ada tindakan-Nya, yang misalnya: aniaya atau zalim, pilih-kasih, sewenang-wenang, sekehendaknya, tidak adil, tidak baik, dsb, seperti tindakan manusia yang justru bersifat 'relatif' dan 'fana'.

K

Boleh saja Allah melarang hal-hal yang telah diperintahkan-Nya, ataupun juga memerintahkan hal yang telah dilarang-Nya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

'Hakekat' dari tiap perintah-Nya dalam ajaran agama-Nya justru bersifat 'universal' (bisa melewati batas waktu, ruang, budaya, dsb) dan 'kekal' (tidak berubah sampai akhir jaman).

Tetapi dalam aplikasi atau penerapan aktualnya, justru penafsiran atas segala perintah-Nya harus disesuaikan dengan jaman, tempat dan budaya manusia. Maka perintah-Nya melalui para nabi-Nya seolah-olah tampak berubah-ubah atau berbeda-beda, walau hikmah dan hakekatnya justru tetap sama.

»

Jika penafsiran atas perintah-Nya telah tidak sesuai "hikmah dan hakekat" yang terkandung di dalamnya, maka penafsiran itu sendiri justru mestinya diperbaiki.

»

"Wahyu adalah wahyu yang dibacakan" (atau wahyu-Nya yang disampaikan oleh para nabi-Nya kepada umatnya), adalah penafsiran atau pemahaman atas wahyu-Nya yang diterimanya dari malaikat Jibril, sesuai dengan konteks jaman, tempat dan budaya umat kaum tiap para nabi-Nya.

K

Sekiranya Allah mewahyukan bahwa berdusta adalah baik, maka berdusta itu mestilah baik, bukan buruk.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Allah mustahil mewahyukan agar berdusta, kecuali demi kebaikan bagi seluruh manusia secara obyektif, bukan secara subyektif-relatif menurut tiap manusia.

PC

Perintah-Nya di atas segala perintah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

'Hakekat' dari tiap perintah-Nya dalam ajaran agama-Nya justru bersifat 'universal' (bisa melewati batas waktu, ruang, budaya, dsb) dan 'kekal' (tidak berubah sampai akhir jaman), walau dalam penerapan aktualnya, justru segala perintah-Nya harus disesuaikan dengan jaman, tempat dan budaya umat.

PC

Allah tidak terikat kepada segala apapun, dan tidak terikat pada janji-janji, pada norma-norma keadilan, dsb.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Allah tidak terikat kepada segala sesuatu apapun.

Tetapi Allah hanya terikat kepada janji-janji, norma-norma keadilan, dan hal-hal lainnya, yang justru telah ditetapkan oleh Allah sendiri sebelum penciptaan alam semesta, sebagai bagian dari kehendak atau rencana-Nya bagi alam semesta, serta sebagai perwujudan dari Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji Allah).

PC

Allah bisa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya di dalam kerajaan-Nya.

PC

Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.

PC

Allah memberi hukum menurut kehendak-Nya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, termasuk dalam memberi segala bentuk hukuman-Nya.

»

Namun segala kehendak, hukum ataupun aturan-Nya (sunatullah) justru kekal (tidak berubah), sejak sebelum penciptaan alam semesta sampai akhir jaman. Alam semesta diciptakan-Nya dengan maksud-tujuan yang 'pasti' dan 'jelas'.

K

Allah dapat menyiksa orang yang berbuat baik, jika hal itu dikehendaki-Nya. Sebaliknya Allah dapat memberi upah kepada orang kafir, jika hal itupun juga dikehendaki-Nya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Allah mustahil menyiksa orang yang berbuat baik, yang ada hanya segala bentuk cobaan atau ujian-Nya (lahiriah dan batiniah), yang justru pasti selalu dialami oleh tiap manusia tiap saatnya, untuk menguji keimanannya.

»

Sunatullah tentang proses pemberian balasan-Nya (upah lahiriah dan batiniah) pasti setimpal atas tiap amal-perbuatan manusia, juga pasti berlaku sama bagi tiap manusia (orang kafir atau beriman, orang jahat atau baik, fakir miskin atau konglomerat, orang cacat atau normal, dsb),

»

Perbedaan antara orang kafir dan orang beriman, adalah keadaan batiniah (niat atau kesadaran) yang menyertai tiap amal-perbuatannya. Orang kafir juga pasti bisa memperoleh karunia, rejeki atau rahmat-Nya secara lahiriah, tetapi orang kafir pasti tidak memperoleh pahala atau rahmat-Nya secara batiniah.

P

Seluruh makhluk milik-Nya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Segala makhluk (nyata dan gaib) dan benda mati di seluruh alam semesta ini hanyalah ciptaan dan milik-Nya, dan berada di bawah kekuasaan-Nya.

K

Allah dapat meletakkan beban yang tak-terpikul pada diri manusia.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Allah mustahil memberi beban ujian-Nya yang tidak mampu dipikul oleh tiap manusia.

»

Makna "beban" itu pada dasarnya lebih terkait dengan aspek batiniah. Dengan kebebasan, kekuasaan dan otoritas sepenuhnya untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri, maka tiap manusia justru mestinya bisa pula mengatur berat beban ujian-Nya yang dirasakannya.

Pembahasan atas pernyataan aliran Maturidiah Samarkand

PC

Kebebasan dalam kehendak dan perbuatan, ada pada manusia.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Kebebasan dalam berkehendak dan berbuat ada pada manusia, dengan telah diberikan-Nya 'akal' dan 'nafsu'.

Namun kebebasan, kehendak dan perbuatan manusia juga diliputi atau dibatasi oleh segala kehendak dan perbuatan Allah di seluruh alam semesta ini (lahiriah dan batiniah, melalui sunatullah atau aturan-Nya).

PC

Allah tidak bersifat sewenang-wenang dalam menjatuhkan segala hukuman-Nya, tetapi berdasar kepada kebebasan pemakaian daya yang diberikan-Nya kepada manusia, untuk berbuat baik atau jahat.

P

Hukuman-hukuman Allah bersifat pasti terjadinya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Allah tidak sewenang-wenang dalam memberikan segala balasan-Nya (nikmat atau hukuman-Nya), tetapi pasti setimpal dengan tiap amal-perbuatan manusia. Rumus pemberian balasan-Nya (sunatullah) justru bersifat 'mutlak' dan 'kekal'.

P

Allah bersikap adil dalam segala perbuatan-Nya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Allah bersikap adil dalam segala perbuatan-Nya.

»

Sunatullah sebagai wujud tindakan-Nya di alam semesta, justru bersifat 'mutlak' dan 'kekal', berupa segala aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah), yang berlaku sama atas segala zat ciptaan-Nya. Dan tidak ada perubahan atas sunatullah itu.

Maka mustahil ada tindakan-Nya, yang misalnya: aniaya atau zalim, pilih-kasih, sewenang-wenang, sekehendaknya, tidak adil, tidak baik, dsb, seperti tindakan manusia yang justru bersifat 'relatif' dan 'fana'.

PC

Adanya batasan-batasan pada kehendak dan kekuasaan-Nya, bukan dari zat selain Allah. Karena tidak ada sesuatu zatpun yang berkuasa di atas Allah, dan Allah di atas segala-galanya. Batasan-batasan justru itupun ditentukan oleh dan atas kehendak Allah sendiri.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Tidak ada sesuatu halpun yang berkuasa di atas Allah, tetapi tidak ada batasan-batasan pada kehendak dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini.

»

Segala sesuatu yang ada atau terjadi di seluruh alam semesta ini justru hanya perwujudan dari kehendak dan kekuasaan Allah sendiri (Fitrah Allah), yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'.

Pembahasan atas pernyataan aliran Maturidiah Buchara

P

Tidak ada yang dapat menentang atau memaksa Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Tidak ada sesuatu halpun yang dapat menentang atau memaksa Allah. Juga tidak ada sesuatu halpun yang berkuasa di atas Allah.

P

Tidak ada larangan-larangan kepada Allah.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Tidak ada larangan-larangan terhadap Allah.

PC

Allah memang berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, dan juga menentukan segala-galanya menurut kehendak-Nya.

 

Menurut pemahaman pada buku ini:

»

Allah memang berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya dan menentukan segala sesuatu halnya menurut kehendak-Nya. Tetapi hal ini justru hanya terjadi 'sebelum' penciptaan alam semesta, saat Allah menetapkan segala sesuatu halnya.

Setelah ditetapkan-Nya, segala kehendak atau perbuatan-Nya di alam semesta (melalui sunatullah), justru kekal (tidak berubah) sampai akhir jaman.

»

Terkait dengan perbedaan antar kitab-kitab-Nya dari beberapa para nabi-Nya, pada dasarnya terkait dengan sunatullah (salah-satu dari ketetapan-Nya), yang justru pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan lahiriah dan batiniah tiap saatnya pada segala zat ciptaan-Nya.

Maka perbedaan antar kitab-kitab-Nya justru bersifat sangat alamiah mengikuti perkembangan kehidupan umat yang menerima ajaran-ajarannya (waktu, ruang dan budaya). Di samping tentunya juga perkembangan pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya, dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman.

 

Tabel 30: Kemutlakan sifat-Nya, bagi aliran-aliran (kuantitatif)

(P = pro; PC = pro dengan catatan; K = kontra)

Perbandingan kuantitatif antara aliran-aliran dan pembahasan
di sini, tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah

Aliran Mu'tazilah (8 K; 4 PC; 4 P) :

K, PC, K, P, K, K, K, K, PC, P, K, P, K, PC, PC, P

Aliran Asy'ariah (4 K; 6 PC; 4 P) :

PC, PC, PC, PC, K, K, PC, PC, PC, PC, PC, K, P, K

Aliran Maturidiah Samarkand (0 K; 3 PC; 2 P) :

PC, PC, P, P, PC

Aliran Maturidiah Buchara (0 K; 1 PC; 2 P) :

P, P, PC

 

Dari uraian pada Tabel 26 s/d Tabel 29 di atas, kedekatan secara garis besar atas pemahaman pada buku ini dan aliran-aliran itu, secara berurutan, yaitu: Maturidiah samarkand, Maturidiah buchara, Asy'ariah dan Mu'tazilah. Hal ini ternyata berbeda dengan urutan pada poin A (tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia), terutama ada pergeseran yang makin menjauh antara pemahaman pada buku ini dan pada aliran Mu'tazilah, padahal pada poin A telah relatif amat dekat.

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s