Pola penyampaian pengajaran-Nya sepanjang masa


Pola penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya sepanjang masa

Jarang terungkap bagaimana pola dan proses penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya
dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman. Padahal pemahaman atas hal ini amat diperlukan
dalam beragama. Uraian-uraian berikut mencoba mengungkapnya secara sistematis.

Pola penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya secara ringkas dan sederhananya, diawali dari usaha pencarian pengetahuan atau pemahaman tentang kebenaran-Nya, yang lalu disertai pula dengan usaha penyampaian pengetahuan itu, untuk bisa menjawab atau menyelesaikan persoalan kehidupan umat sehari-harinya. Hal ini juga telah diungkapkan secara cukup ringkas pada artikel/posting terdahulu "cara proses diturunkan-Nya wahyu", tentang hubungan antara pengetahuan dan wahyu pada para nabi-Nya.

Pola penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya semacam itu telah dilakukan dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman. Bahkan hal yang relatif serupa memang juga dilakukan tiap saatnya oleh tiap manusia, di dalam mencari pengetahuan untuk bisa menjawab atau menyelesaikan persoalan kehidupannya sehari-harinya. Sedangkan perbedaan antara para nabi-Nya dan keseluruhan umat manusia lainnya pada dasarnya justru hanya semata pada "kesempurnaan pengetahuan" yang diperoleh dari hasil usahanya masing-masing, dan juga tentunya di samping perbedaan kesempurnaan pengamalannya. Perbedaan kesempurnaan pengetahuan inilah yang telah membedakan antara 'wahyu-Nya' pada para nabi-Nya dan 'pengetahuan biasa' pada keseluruhan umat manusia lainnya. Kesempurnaan pengetahuan pada para nabi-Nya itu, khususnya karena telah tersusun relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhan, sebagai hasil dari segala usaha mereka sendiri, yang memang relatif amat keras dan setimpal.

Juga proses penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya melalui berbagai bentuk ajaran-ajaran agama-Nya (seperti: kitab suci Al-Qur'an, Sunnah / Hadits Nabi, hasil ijtihad dari para alim-ulama, dsb), pada dasarnya berupa proses yang berlangsung amat alamiah, dan juga relatif serupa dari jaman ke jaman. Walaupun dalam perkembangannya pada saat sekarang, proses inipun relatif masih jauh dari bentuk idealnya, seperti halnya yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya pada jaman dahulu.

Perbedaan prosesnya yang relatif amat mencolok misalnya, umat-umat Islam pada saat sekarang relatif amat sedikit mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" di alam semesta ini, namun sebagian terbesar pengetahuannya justru relatif hanya diperoleh dari mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tertulis", yang telah disampaikan oleh para nabi-Nya. Padahal proses perolehan pengetahuan ini, justru relatif 'berkebalikan' dari hal-hal yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya, yang relatif amat banyak mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" di alam semesta ini, sebaliknya relatif amat sedikit mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tertulis" dari para nabi-Nya terdahulu.
Di samping itu, pemahaman umat pada saat sekarang atas "ayat-ayat-Nya yang tertulis", juga relatif lebih banyak bersifat 'tekstual-harfiah', bukan berupa pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) yang bersifat universal, yang justru ada terkandung 'di balik' teks-teksnya. Padahal tiap nabi-Nya terkait memang menyusun Al-Kitab ("ayat-ayat-Nya yang tertulis"), berdasarkan segala pemahaman Al-Hikmah yang diperolehnya, khususnya dari hasil mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" di alam semesta ini, sekaligus sambil dituntun pula oleh para malaikat Jibril.

Adapun pola penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya secara lebih lengkapnya, telah diungkapkan pada "gambar diagram umum proses pengajaran-Nya sepanjang masa" berikut, serta disertai pula dengan berbagai penjelasannya pada tabel di bawahnya. Dari gambar itu cukup jelas tampak, bahwa urutan tahapan proses penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya (dari kiri ke kanan), menurut tiap perubahan jamannya (dari atas ke bawah), yaitu: jaman para nabi-Nya terdahulu (sebelum nabi Muhammad saw), jaman nabi Muhammad saw, jaman umat Islam terdahulu (setelah wafatnya nabi Muhammad saw) dan jaman sekarang ini, memang menunjukkan pola proses yang relatif amat serupa. Dan pola semacam ini tentunya mestinya juga berlaku bahkan sampai akhir jaman.

Gambar diagram umum proses pengajaran-Nya sepanjang masa

Secara umum, berbagai komponen dan sekaligus beserta urutan tahapan prosesnya, pada proses penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya, dalam gambar di atas, yaitu:

  • Bahan pengajaran dan tuntunan-Nya (beserta pemberiannya)

  • Penerima pengajaran-Nya (pencarian pengetahuan tentang kebenaran-Nya)

  • Pemahaman universal (perolehan Al-Hikmah / hikmah dan hakekat kebenaran-Nya)

  • Solusi persoalan aktual (penyampaian Al-Kitab, Sunnah / Hadits, Ijtihad, dsb)

  • Persoalan umat (pengamalan atas ajaran-ajaran agama-Nya)

Baca lebih lengkapnya

Iklan
Dipublikasi di Hikmah, Saduran buku | Tag , , , , , , , | 1 Komentar

Cara proses diturunkan-Nya wahyu


Cara proses diturunkan-Nya wahyu kepada para nabi-Nya

Amat jarang atau bahkan hampir tidak ada penjelasan yang relatif cukup jelas dan memadai,
yang berkembang luas di kalangan umat Islam ataupun umat agama tauhid lainnya tentang
proses turunnya 'wahyu', sejak dari Allah langsung sampai diterima oleh umat manusia.
Penjelasan yang ada umumnya relatif masih amat ringkas dan berragam (tidak pasti).

Persoalan pemahaman atas wahyu

Definisi wahyu yang berkembang luas di kalangan umat Islam, misalnya "wahyu adalah perintah, sabda, kalam atau firman-Nya yang disampaikan kepada para nabi-Nya, melalui perantaraan malaikat Jibril, dalam bentuk, seperti: penampakan dan perkataan langsung dari malaikat Jibril, visi/penglihatan, ilham/inspirasi, mimpi, dsb". Namun amat ironisnya, justru amat kurang atau bahkan hampir tidak ada penjelasan lebih lanjut, yang relatif cukup lengkap dan mendalam dari para alim-ulama, tentang definisi itu sendiri.

Penjelasannya pada umumnya justru hanya berupa pengungkapan yang juga relatif amat terbatas, tentang berbagai kejadian luas-biasa yang dialami oleh nabi Muhammad saw, pada saat menerima wahyu. Padahal dalam definisi wahyu itu misalnya, mengandung banyak pertanyaan yang belum terjawab secara relatif cukup memadai, misalnya:

  • Apa hakekat yang sebenarnya dari kenabian dan malaikat Jibril, juga perantaraan, penampakan dan perkataan malaikat Jibril, visi / penglihatan, ilham / inspirasi dan mimpi?;

  • Jika 'ada', apa hubungan antara perkataan malaikat Jibril, visi / penglihatan, ilham / inspirasi dan mimpi?;

  • Bagaimana cara Allah berkehendak, bertindak ataupun berbuat di alam semesta ini?.

  • Bagaimana cara Allah memilih / menunjuk dan mengutus para utusan-Nya (para nabi-Nya dan para malaikat Jibril), termasuk cara para nabi-Nya memperoleh kenabiannya?;

  • Apa keistimewaan atau kelebihan yang sebenarnya pada para nabi-Nya, sehingga mereka bisa memperoleh kenabian dan wahyu-Nya?, serta apakah hal ini bukan bentuk perlakuan 'pilih kasih' Allah kepada mereka (tidak dialami oleh seluruh umat manusia lainnya)?;
    Jika Allah berlaku 'pilih kasih' kepada para nabi-Nya, apakah Allah memang berlaku adil kepada segala makhluk ciptaan-Nya?;

  • Bagaimana cara dan bentuk interaksi 'langsung' yang sebenarnya, antara Zat Allah dan segala zat makhluk ciptaan-Nya (termasuk para nabi-Nya dan para malaikat Jibril, sebagai utusan-Nya)?;

  • Bagaimana cara dan bentuk interaksi 'langsung' yang sebenarnya, antara para makhluk gaib dan seluruh umat manusia (termasuk antara para malaikat Jibril dan para nabi-Nya)?;

  • Apakah malaikat Jibril pasti hanya mendatangi orang-orang tertentu saja (hanya para nabi-Nya)?, apakah jin, syaitan atau iblis juga pernah mendatangi para nabi-Nya?, serta kapan saja kedatangan mereka?;

  • Apa perbedaan penampakan wujud dari para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis)?, serta bagaimana cara para nabi-Nya bisa mengetahui, bahwa makhluk yang mendatanginya memang malaikat Jibril?;

  • Apa perbedaan antara perkataan dari para malaikat Jibril, dibandingkan dari para jin, syaitan dan iblis?;

  • Jika visi / penglihatan, ilham / inspirasi dan mimpi juga dihasilkan oleh para makhluk gaib, apa perbedaan antara hal-hal yang berasal dari para malaikat Jibril, dibandingkan dari para jin, syaitan dan iblis?;

  • Jika wahyu-Nya memang diturunkan-Nya berupa perkataan, visi / penglihatan, ilham / inspirasi dan mimpi dari para malaikat Jibril, bagaimana cara proses turunnya masing-masing secara lengkap?;

  • Bagaimana cara para nabi-Nya bisa mengetahui, bahwa hal yang disampaikan oleh malaikat Jibril memang wahyu-Nya (bukan hal lainnya)?, atau apa ukuran sebenarnya yang menunjukkan, bahwa sesuatu hal memang pasti berasal dari Allah?;

  • Jika wahyu-Nya memang hanya semata 'didiktekan' langsung oleh para malaikat Jibril kepada para nabi-Nya, bagaimana cara proses pendiktean itu tetap bisa berlangsung, misalnya pada saat tiap nabi-Nya sendiri sama sekali belum memiliki segala pengetahuan dan pengalaman, yang terkait dengan segala sesuatu hal di dalam wahyu-Nya itu?, serta bagaimana cara proses pendiktean melalui visi / penglihatan, ilham / inspirasi dan mimpi?;

  • Jika 'ada', apa saja perbedaan antara wahyu-Nya yang diterima oleh para nabi-Nya dari para malaikat Jibril, daripada wahyu-Nya yang diterima oleh umatnya dari para nabi-Nya?;

  • Jika 'ada' transformasi perubahan 'bentuk' wahyu-Nya (sabda, kalam atau firman-Nya), apa saja macam bentuk wahyu-Nya, dari bentuk awalnya yang sebenarnya 'langsung' dari Allah, sampai ke bentuk akhirnya yang biasa dikenal oleh umat manusia saat ini (termasuk ayat-ayat Al-Qur'an)?;
    Sebaliknya jika 'tidak ada' transformasi perubahan 'bentuk' wahyu-Nya, apakah ayat-ayat Al-Qur'an pada saat ini adalah bentuk wahyu-Nya yang sebenarnya 'langsung' dari Allah, terutama pada isi dan susunannya?;

  • Apa kaitan yang sebenarnya antar seluruh wahyu dan kitab-Nya dari para nabi-Nya, sehingga nabi Muhammad saw bahkan juga ikut membenarkan seluruh wahyu dan kitab-Nya dari para nabi-Nya yang terdahulu?, serta kenapa bisa terjadi perbedaan antar wahyu dan kitab-Nya (makin baru, relatif makin sempurna)?;

  • Jika 'ada', apa peranan akal dan keyakinan hati-nurani pada para nabi-Nya, dalam proses turunnya wahyu dan kitab-Nya?, serta apa kaitan antara akal dan keyakinan hati-nurani pada tiap umat manusia?;

  • Jika 'ada', apa hubungan antara wahyu-Nya dan pengetahuan pada para nabi-Nya?;

  • Jika wahyu-Nya berupa pengetahuan pada para nabi-Nya, apa saja perbedaannya daripada pengetahuan pada umat manusia biasa lainnya, terutama pada isi, susunan dan cara perolehannya?;

  • Dan berbagai pertanyaan terkait lainnya;

Dan semua persoalan atau pertanyaan di atas pada dasarnya mempertanyakan cara proses diturunkan-Nya wahyu secara relatif lebih mendalam, ilmiah, terstruktur ataupun sistematis, sejak dari Allah langsung sampai diterima oleh umat manusia saat ini. Hal ini sekali lagi terutama karena hampir tidak ada penjelasan yang relatif cukup memadai dari para alim-ulama sampai saat ini. Sedangkan penjelasan yang ada umumnya relatif hanya mengutip berbagai keterangan yang cukup ringkas dari kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi, tanpa disertai pula dengan penelitian dan pengkajian yang cukup mendalam.

Walau begitu, segala penjelasan atas cara proses diturunkan-Nya wahyu yang telah diungkapkan di bawah ini, tentunya juga bukan bentuk penjelasan atau pemahaman yang pasti benar. Namun minimalnya, penulis telah berusaha mengungkapkan hasil pengkajian yang dilakukan semaksimal mungkin secara relatif cukup mendalam, ilmiah, terstruktur dan sistematis. Tentunya segala penjelasan inipun tetap terbuka bagi tiap kritik dan saran, terutama bagi pencapaian pemahaman yang makin sempurna tentang kebenaran-Nya.

Baca lebih lengkapnya

Dipublikasi di Hikmah, Saduran buku | Tag , , , , | 9 Komentar

Wahyu dan kitab-Nya memiliki 4 macam bentuk


Wahyu dan kitab-Nya masing-masing memiliki 4 macam bentuk

Secara tak-langsung disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, bahwa wahyu-Nya minimal
memiliki 2 macam bentuknya, melalui ayat-ayat QS.6:145, QS.42:51-52 dan QS.53:4-6,
yang menyatakan seperti "wahyu yang diwahyukan". Namun apabila ditelaah lebih
mendalam lagi, bisa diketahui bahwa wahyu-Nya memiliki 4 macam bentuk.
Hal yang serupa tentunya terjadi pada Al-Qur'an dan kitab-Nya lainnya.

"Katakanlah: 'Tiadalah aku (Muhammad) peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, …" – (QS.6:145).

"Dan tidak ada bagi seorang manusiapun, bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan cara mengutus seorang utusan (Jibril), lalu diwahyukan kepadanya dengan seijin-Nya apa yang Dia kehendaki. …" dan "Dan demikianlah, Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) wahyu, dengan perintah Kami. …" – (QS.42:51-52).

"Ucapannya (Muhammad) tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyu-kan,", "yang diajarkan kepadanya oleh yang amat kuat (dalil-hujjahnya)" dan "yang mempunyai akal yang cerdas (Jibril). …" – (QS.53:4-6).

Ayat-ayat QS.6:145, QS.42:51-52 dan QS.53:4-6 itu secara tak-langsung tampak menunjukkan, bahwa bentuk wahyu-Nya yang pertama adalah bentuk yang disampaikan atau diwahyukan oleh para malaikat Jibril kepada para nabi-Nya, dan bentuk wahyu-Nya yang kedua adalah bentuk yang disampaikan atau diucapkan oleh para nabi-Nya kepada umatnya masing-masing.

Walaupun umat tentunya bisa membantah, bahwa ayat-ayat itu tidak menunjukkan 2 macam bentuk wahyu-Nya, karena salah-satunya hanya kata kerja ('diwahyukan'). Atau umatpun juga bisa beranggapan, bahwa wahyu-Nya yang diwahyukan oleh para malaikat Jibril, bentuknya persis sama dengan wahyu-Nya yang diucapkan oleh para nabi-Nya.

Namun dari kenyataan sederhana, bahwa seluruh wahyu-Nya saat ini telah berupa 'teks' ayat-ayat kitab-Nya, dan para malaikat Jibril juga tidak menyampaikan wahyu-Nya dalam bentuk 'teks', maka umat semestinya bisa memahami adanya perbedaan berbagai bentuk wahyu-Nya. Bahkan jika umat telah cukup mendalam memahami bagaimana cara proses para malaikat Jibril menyampaikan wahyu-Nya kepada para nabi-Nya, dan lebih lengkapnya lagi bagaimana cara proses turunnya wahyu-Nya, sejak dari Allah langsung, sampai diterima oleh umat para nabi-Nya, melalui beberapa sifat, penyampai, perantara, sarana dan sasaran penyampaiannya, maka umat semestinya juga bisa mengetahui adanya 4 macam bentuk wahyu-Nya.

Dan 4 macam bentuk wahyu-Nya ini sama sekali bukan menunjukkan kesejajaran dan alternatif bentuknya, namun menunjukkan adanya hierarki dan proses 'transformasi perubahan bentuknya', dari bentuk awal yang langsung dari Allah sendiri, sampai bentuk akhir yang biasa dikenal oleh umat manusia saat ini.

Ringkasnya, 4 macam bentuk wahyu-Nya yaitu: wahyu-Nya di antara seluruh sifat Allah (berupa "tiap Fitrah Allah"), wahyu-Nya di alam semesta ini (berupa "tanda-tanda kekuasaan dan kemuliaan-Nya"), wahyu-Nya di dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya (berupa "tiap 'Al-Hikmah'"), dan wahyu-Nya di dalam semua Al-Kitab / kitab-Nya / kitab tauhid (berupa "tiap ayat 'Al-Kitab'"). Tiap bentuk wahyu-Nya inipun telah diungkap pula pada tabel dan gambar berikut, serta tentunya memiliki sifat-sifat, penyampai, perantara, sarana dan sasaran penyampaiannya masing-masing. Dan semua bentuk wahyu-Nya ini sama-sama berupa hal-hal yang menunjukkan kebenaran-Nya di alam semesta ini.

Baca lebih lengkapnya

Dipublikasi di Hikmah, Saduran buku | Tag , , , , , | 5 Komentar

Teori ‘Big Light’ vs teori ‘Big Bang’ (1): Pengantar


Teori 'Big Light' vs teori 'Big Bang' (1): Pengantar

Teori 'Big Light' adalah konsep kosmologi pada awal penciptaan alam semesta ini
(konsep kosmogoni), yang dikembangkan berdasar ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an.
Dimana alam semesta ini diawali dari suatu sinar yang amat sangat panas,
putih dan terang ("sinar alam semesta" atau 'Big Light').

Seri artikel "Teori Big Light vs teori Big Bang", yaitu:

Hampir amat jarang disebut, dikemukakan atau dikembangkan konsep kosmogoni di kalangan umat Islam (konsep kosmologi pada awal penciptaan alam semesta ini), yang berasal langsung dari ajaran-ajaran agama Islam. Bahkan hal yang umum terjadi, justru sebagian besar umat Islam mengakui teori 'Big Bang', yang telah dikembangkan oleh para ilmuwan barat, termasuk dengan mengaitkan antara teori 'Big Bang' dan ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Dan teori 'Big Bang' memang telah dikenal amat luas di seluruh dunia.

Di lain pihak, teori 'Big Light' tentunya relatif tidak pernah dikenal, karena memang baru dikembangkan oleh "pengelola blog ini", atau minimal belum diketahui ada teori yang serupa sampai saat ini. Teori 'Big Light' ini pada dasarnya kelanjutan atau pengembangan lebih detail atas konsep kosmogoni Islam, yang disebut dalam kitab suci Al-Qur'an.

Konsep kosmogoni Islam justru relatif amat berbeda daripada teori 'Big Bang'. Pada teori 'Big Bang', alam semesta ini diawali dari suatu 'bola raksasa' yang amat sangat padat dan panas, yang meliputi seluruh materi di alam semesta ini. Sedangkan dalam kitab suci Al-Qur'an, alam semesta ini diawali dari suatu 'kabut' yang amat sangat panas. Sehingga seluruh benda langit pada awalnya masih menyatu atau melebur ('bersatu-padu'), dalam bentuk 'kabut' (pada QS.41:11 dan QS.21:30), bukan 'padatan' ataupun 'cairan'.

Konsep kosmogoni Islam relatif lebih maju daripada teori 'Big Bang', selain karena telah diungkap lebih dahulu sekitar 13 abad sebelumnya, juga karena dalam teori 'Big Bang' justru dinyatakan, bahwa 'bola padat raksasa' itu meledak hancur-lebur menjadi partikel-partikel yang amat kecil, lalu terbentuk menjadi 'kabut'. Juga bentuk segala benda dalam keadaannya yang relatif paling panasnya, memang berupa 'gas' (asap atau kabut), ataupun lebih panasnya lagi, berupa 'cahaya' (pada teori 'Big Light'). Dan bentuk awal ini tentunya hanya salah-satu dari perbedaan antara kedua konsep ataupun teori itu.

Baca lebih lengkapnya

Dipublikasi di Hikmah, Saduran buku | Tag , , , , , , , | 5 Komentar

Jagalah hati-pikiran = sempurnakanlah kehidupan akhirat selama di dunia


Jagalah hati-pikiran = sempurnakanlah kehidupan akhirat selama di dunia

"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia.
Sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (QS.30:7).
Cukup jelas, kehidupan akhirat adalah aspek batiniah dari kehidupan dunia,
serta berupa kehidupan di alam batiniah ruh tiap makhluk-Nya (alam pikiran).

Relatif cukup jarang umat Islam yang telah memahami, "bahwa kehidupan akhirat adalah aspek batiniah dari kehidupan dunia saat ini", seperti disebut secara tidak langsung pada surat AR RUUM ayat 7 di atas (QS.30:7). Karena umat Islam pada umumnya relatif hanya memahami, bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan manusia sejak Hari Kiamat. Dan aspek batiniah dari kehidupan dunia ini tentunya berada di alam batiniah pada tiap zat ruh makhluk-Nya (alam batiniah ruh atau alam pikirannya).

Maka kehidupan akhirat tiap makhluk-Nya (kehidupannya di alam akhirat) justru berlangsung sepanjang usia zat ruhnya sendiri, dan tiap makhluk-Nya justru pasti memiliki kehidupan dan alam akhiratnya masing-masing (kehidupan dan alam pikirannya). Dengan sendirinya, kehidupan dunia tiap makhluk-Nya justru hanya 'sebagian' dari panjang waktu kehidupan akhiratnya (hanya sepanjang zat ruhnya sedang menyatu dengan tubuh fisik-lahiriahnya di alam dunia). Dan hal yang serupa pula dengan kehidupan tiap makhluk-Nya di alam rahim dan di alam kubur (hanya bagian-bagian lain dari kehidupan akhiratnya).

Namun begitu memang amat wajar pula, apabila kehidupan akhirat sering dikaitkan dengan kehidupan manusia sejak Hari Kiamat. Karena sejak Hari Kiamat (saat zat ruhnya kembali ke hadapan-Nya), tiap manusia memang mulai menjalani kehidupan akhiratnya yang sebenarnya atau murni (tidak lagi bercampur-baur dengan kehidupan fisik-lahiriah-duniawinya), serta memang telah tidak ada lagi segala kesibukan fisik-lahiriah-duniawinya, yang bisa menjadikannya 'lalai' terhadap kehidupan akhiratnya.

Padahal tiap manusia mestinya tidak 'lalai' terhadap kehidupan akhiratnya 'selama' di kehidupan dunia ini, dan juga sekaligus mestinya tidak 'menukar' kehidupan akhiratnya dengan kehidupan dunia. Padahal justru hanya semata selama di kehidupan dunia ini, tiap manusia bisa membangun, memperbaiki atau menyempurnakan kehidupan akhiratnya, melalui segala amal-kebaikannya. Sedangkan sejak Hari Kiamat, segala amalan justru telah terputus (tidak diterima, diperhitungkan atau dipertimbangkan-Nya lagi). Dan kehidupan akhirat tiap manusia sejak Hari Kiamat, hanya semata kelanjutan dari kehidupan akhirat yang telah dibangunnya selama di kehidupan dunia saat ini.

Baca lebih lengkapnya

Dipublikasi di Hikmah, Saduran buku | Tag , , , , , , , | 3 Komentar

Allah Maha Adil, berapapun usia hidup manusia


Allah Maha Adil, berapapun usia hidup tiap manusia

Apabila umat manusia telah cukup memahami alam batiniah ruh (alam pikiran),
ke-Maha Adil-an Allah justru bisa diketahui terjadi tiap saatnya, karena balasan-Nya
secara setimpal atau adil (nikmat dan siksaan-Nya, lahiriah dan terutama batiniah),
memang diberikan-Nya tiap saatnya atas tiap amal-perbuatan manusia.

Allah Maha Adil kepada tiap manusia, berapapun panjang usia hidupnya di dunia ini. Makin panjang usia hidup seseorang, relatif makin banyak dosa yang telah dilakukannya. Namun makin banyak pula tersedia waktu baginya, untuk bisa memperbaiki dosa-dosanya (dengan bersungguh-sungguh bertaubat kepada-Nya).

Juga makin panjang usia hidup seseorang, relatif makin tinggi tingkat kesadarannya dalam berbuat (relatif makin banyak jumlah pengajaran dan tuntunan-Nya yang telah bisa diperolehnya), serta juga relatif makin besar daya-kemampuannya dalam berbuat (relatif makin luas dan kuat pengaruhnya kepada orang lainnya). Namun relatif makin tinggi pula beban tanggung-jawabnya atas tiap amal-perbuatannya (relatif makin besar balasan-Nya). Dimana relatif makin besar pahala-Nya (nikmat-Nya) atas tiap amal-kebaikannya, serta relatif makin besar beban dosa (siksaan-Nya) atas tiap amal-keburukannya. Dan tentunya hal-hal yang relatif sebaliknya apabila makin pendek usia hidupnya.

Atas ijin-Nya, anak-anak yang telah meninggal dunia saat belum usia akil-baliqnya misalnya (belum melakukan dosa pertamanya), justru ia relatif pasti bisa langsung masuk surga. Anak-anak yang belum mencapai usia akil-baliqnya itu memang relatif sama sekali belum memiliki kesadaran dan tanggung-jawab dalam berbuat. Juga karena tiap manusia justru terlahir dengan segala 'keadaan dan fitrah dasar', yang suci-murni dan tanpa dosa. Hal yang relatif serupa bagi orang-orang yang cacat mental, yang sama sekali bukan hasil dari segala amal-perbuatannya sendiri (bukan tertimpa azab-Nya).

Baca lebih lengkapnya

Dipublikasi di Hikmah, Saduran buku | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Agama Islam = agama universal


Agama Islam = agama universal

Agama Islam adalah agama universal, yang sesuai dengan
segala kebenaran-Nya di seluruh alam semesta ini.

Barangkali sebagian dari umat Islam terkadang telah melupakan, atau seluruh umat manusia lainnya bahkan kurang memahami, misalnya:

  • Bahwa agama Islam adalah agama universal, yang sesuai segala kebenaran-Nya di alam semesta ini;

  • Bahwa agama Islam adalah agama yang melewati batas waktu, ruang dan konteks budaya (bisa berlaku kapanpun, dimanapun dan bagi siapapun di alam semesta ini);

  • Bahwa agama Islam adalah agama yang menyertai atau mengikuti perjalanan alam semesta ini, bahkan sampai akhir jaman.

  • Bahwa agama Islam adalah bentuk rahmat Allah bagi alam semesta ini (terutama bagi seluruh umat manusia);

  • Bahwa agama Islam adalah agama milik seluruh umat manusia di alam semesta ini (sama sekali bukan semata milik bangsa Arab ataupun umat Islam), agar sama-sama bisa kembali ke "agama atau jalan-Nya yang lurus";

  • Bahwa agama Islam adalah salah-satu agama tauhid, yang juga hasil pengungkapan atas "agama atau jalan-Nya yang lurus" yang terdapat di alam semesta ini, yang telah dipelajari dari nabi ke nabi dan bahkan dari umat ke umat, dari jaman ke jaman;

  • Bahwa agama Islam adalah agama tauhid terakhir, yang juga paling lurus, lengkap dan sempurna dibanding agama-agama tauhid lainnya (Yahudi dan Nasrani);

  • Bahwa agama Islam adalah terlahir berdasar segala pemahaman nabi Muhammad saw yang amat lengkap dan sempurna, dari mempelajari "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya" di alam semesta ini, sekaligus sambil dituntun oleh malaikat Jibril;

Namun pertanyaan atau persoalan utamanya:

  • Bagaimana bentuk Agama Islam atau Agama Islam semacam apa, yang bisa ideal atau sempurna seperti di atas (bisa berlaku 'universal' dan juga sekaligus tetap selalu berlaku 'aktual', bahkan sampai akhir jaman)?.

  • Apakah pemahaman dan pengamalan umat saat ini atas ajaran agama Islam, telah berbentuk ideal atau sempurna?;

  • Apakah umat telah bisa memahami ajaran agama Islam, sesuai pemahaman Nabi atas wahyu-Nya yang diperolehnya (memahami secara relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan)?;

  • Apakah umat telah benar-benar mengenal agama Islam?;

Baca lebih lengkapnya

Dipublikasi di Hikmah, Saduran buku | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar