Otentisitas teks kitab suci Al-Qur’an, tak-ternilai harganya


Otentisitas teks kitab suci Al-Qur’an, tak-ternilai harganya

Wacana untuk melakukan 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' atas kitab suci Al-Qur'an, yang
mulai berkembang di kalangan para cendikiawan Muslim, pada dasarnya sama halnya dengan berusaha mengulangi kesalahan sejarah, yang telah dilakukan oleh umat
Nasrani, yang menyusun banyak versi kitab Injil, dan bahkan bukan disusun
langsung oleh Yesus sendiri (nabi Isa as). Maka umat Islam tentunya
mestinya tidak melakukan kesalahan yang serupa pula.

Pada sebagian dari para cendikiawan Muslim dan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi agama Islam, telah mulai berkembang wacana 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' atas kitab suci Al-Qur'an. Para cendikiawan seperti ini boleh jadi tidak menyetujui pemahaman secara 'tekstual-harfiah' atas teks ayat-ayatnya. Juga boleh jadi hendak mencari solusi bagi segala persoalan pemahaman umat Islam atas kitab suci Al-Qur'an. Namun justru wacana 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' itu telah salah kaprah, dan tidak menempatkan 'kitab suci agama' sebagaimana semestinya.

Teks kitab suci Al-Qur'an yang terus-menerus tetap terjaga 'otentisitas'-nya, justru tak-ternilai harganya bagi pembentukan keyakinan beragama seluruh umat Islam ataupun bahkan seluruh umat manusia. Usaha 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' tersebut justru bisa menghancurkan salah-satu pondasi yang amat mendasar dalam keyakinan beragama. Juga bisa menimbulkan amat banyak persoalan yang menyangkut 'kitab suci', belum lagi segala persoalan lainnya yang menyertainya, yang bahkan barangkali belum diperhitungkan atau dibayangkan oleh para cendikiawan Muslim itu.

Perkembangan atas wacana itu tentunya amat mengecewakan dan mestinya segera dihentikan. Jika tujuan mereka itu memang hendak mencari solusi bagi segala persoalan pemahaman umat Islam atas kitab suci Al-Qur'an, tentunya mestinya bukan dengan usaha 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' atas kitab suci Al-Qur'an, namun mestinya dengan usaha memperbaiki langsung tiap pemahaman itu sendiri.

Segala bentuk pemahaman atas ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an, tidak akan pernah bersifat sakral sampai kapanpun, karena memang hanya semata milik dan berasal dari tiap pribadi-individu dan kelompok umat. Namun di lain pihaknya, kitab suci Al-Qur'an justru mestinya terus-menerus tetap dijaga kesakralannya, karena memang milik seluruh umat Islam ataupun bahkan seluruh umat manusia, dari umat yang paling awam sampai umat yang paling berilmu, serta tentunya langsung berasal dari nabi Muhammad saw sendiri.

Dengan adanya usaha 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' itu misalnya, tentunya kitab suci Al-Qur'an yang 'baru', yang akan dihasilkanpun, justru sama sekali tidak akan bersifat sakral. Khususnya karena bukan langsung berasal dari seorang nabi-Nya, yang memang memiliki pemahaman yang relatif sempurna tentang kebenaran-Nya (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya). Maka “apakah para cendikiawan Muslim penggagas wacana 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' itu, memang benar-benar telah memiliki kesempurnaan pemahaman seperti halnya pada para nabi-Nya (terutama nabi Muhammad saw)?. Jika keseluruhan pemahaman mereka belum relatif sempurna, atau bahkan hanya semata diilhami dari berbagai risalah para nabi-Nya (tidak membawa berbagai hal yang baru, dan tidak lebih baik daripada ajaran-ajaran para nabi-Nya), tentunya mereka juga belum pantas untuk menyusun sesuatu 'kitab suci'.

Para cendikiawan Muslim itu justru mestinya belajar dari pengalaman umat Nasrani (Kristiani), yang menyusun banyak versi kitab Injil, dan bahkan bukan disusun langsung oleh Yesus sendiri (nabi Isa as), yang juga sekaligus telah menimbulkan perpecahan dan perselisihan di kalangan umat Nasrani. Hal ini tentunya berbeda daripada perpecahan dan perselisihan di kalangan umat Islam, yang justru hanya berbeda pada tingkat pemahaman, namun tetap memakai kitab suci Al-Qur'an yang 'sama'. Segala perbedaan pemahaman di kalangan umat Islam, tentunya mestinya tidak menimbulkan perpecahan dan perselisihan yang relatif lebih keras dan parah, daripada apabila ada perbedaan kitab suci yang dipakai (mestinya tidak mudah saling mengkafirkan antar umat Islam sendiri).

Para cendikiawan Muslim itu mestinya jauh lebih baik, jika bisa menghasilkan kitab tafsir, kitab hikmah atau buku-buku keagamaan lainnya, untuk bisa makin memperbaiki tingkat pemahaman umat Islam, tentang tiap kebenaran-Nya. Namun sama sekali bukan dengan menyusun berbagai kitab suci Al-Qur'an yang 'baru', yang justru relatif tidak akan pernah selesai tuntas, bahkan sampai akhir jaman, melalui usaha-usaha 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi', dari jaman ke jaman. Dan juga lebih baik bagi para cendikiawan Muslim itu, untuk tetap beriman kepada kitab suci Al-Qur'an, walaupun barangkali mereka memang tidak menyetujui pemahaman secara 'tekstual-harfiah' atas ayat-ayatnya.

“Dia-lah Yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur`an) kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi dari Al-Qur`an, dan yang lainnya (ayat-ayat) yang mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat, untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya, melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: `Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb-kami`. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya), melainkan orang-orang yang berakal.” – (QS.3:7).

Baca lebih lengkapnya

Iklan
Dipublikasi di Hikmah, Saduran buku | Tag , , , , , | 4 Komentar

Gambaran cara berinteraksi dengan makhluk gaib


Gambaran cara-cara berinteraksi dengan para makhluk gaib

Di dalam berkomunikasi melalui 'suara bisikan'-nya kepada manusia, pada dasarnya ada 2
macam cara berinteraksi dengan para makhluk gaib, yaitu: “interaksi secara terselubung”
dan “interaksi secara terang-terangan”. “Interaksi secara terselubung” pasti dialami oleh
tiap manusia tiap saatnya, sedangkan “interaksi secara terang-terangan” hanya dialami
oleh amat terbatas jumlah manusia, sampai saat ini. Berikut ini diungkap 'gambaran'
tentang kedua macam cara berinteraksi, bukan 'bagaimana' cara berinteraksinya.

Kata pengantar

Ada cukup banyak macam cara berinteraksi antara manusia dan para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis), yang dikemukakan dalam berragam sumber. Tetapi dalam artikel/posting sekarang dan juga buku “Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW“, hanya dikemukakan cara-cara berinteraksi dengan para makhluk gaib, yang melalui 'suara bisikan' mereka kepada manusia. Hal ini amat perlu dikemukakan, terutama karena amat berkaitan dengan proses penyampaian wahyu-Nya, dari para malaikat Jibril kepada para nabi-Nya, yang relatif cukup lengkap telah diuraikan dalam artikel/posting terdahulu “cara proses diturunkan-Nya wahyu kepada para nabi-Nya“.

Berkaitan dengan 'kejelasan' wujud 'suara bisikan' dari para makhluk gaib itu, maka interaksi antara mereka dan manusia, bisa dikelompokkan menjadi 2 macam cara, yaitu: “interaksi secara terselubung” dan “interaksi secara terang-terangan”. Kedua macam cara ini sama-sama hanya berupa interaksi secara batiniah, dimana mereka bisa berbicara atau berkomunikasi dengan tiap manusia, melalui 'suara bisikan' mereka pada alam batiniah ruh manusianya (alam pikirannya). Serta 'suara bisikan' mereka juga sama-sama mengandung hal-hal yang positif-benar-baik (dari para malaikat) dan negatif-sesat-buruk (dari para jin, syaitan dan iblis). Namun dalam “interaksi secara terang-terangan”, suara bisikan mereka 'amat jelas' (relatif sama seperti suara manusia biasa) dan komunikasinya berlangsung 'dua arah' (melalui 'hati-pikiran'-nya, manusia bisa berbicara kepada mereka, secara timbang-balik). Sedangkan dalam “interaksi secara terselubung”, suara bisikan mereka 'tidak jelas' (amat sangat halus) dan komunikasinya berlangsung 'searah' (hanya semata dari mereka, tidak secara timbang-balik).

Dalam “interaksi secara terselubung” khususnya, 'suara bisikan' mereka (bisikan / suara hati / kata hati), lebih tepat disebut 'godaan', 'ilham' atau 'inspirasi', terutama karena memang jauh lebih luas cakupannya, tidak hanya berupa 'suara' yang amat sangat halus, tetapi juga berupa segala 'bentuk informasi' yang terdapat dalam pikiran manusia, seperti: bunyian, gambar, rasa, emosi ataupun perasaan, pahala dan beban dosa, nafsu-keinginan, memori-ingatan, pemahaman atau pengetahuan, pemikiran, intuisi-logika, dsb. Sedangkan dalam “interaksi secara terang-terangan”, 'suara bisikan' mereka juga pada dasarnya lebih luas cakupannya, berupa segala 'bentuk informasi' yang terdengar jelas oleh telinga lahiriah manusia (segala suara dan bunyian). Di dalam interaksi secara batiniah, 'telinga' dan 'mata' tentunya berupa 'hati / kalbu', sebagai alat indera batiniah pada tiap zat ruh makhluk, dan sebagai tempat bagi para makhluk gaib dalam memberikan 'suara bisikan'-nya (ilhamnya).

Tiap ilham itu pada dasarnya berbentuk amat halus, singkat dan sederhana, namun juga bisa terbentuk rangkaian sejumlah ilham terkait (menjadi lebih jelas dan lama, seperti dalam isi khayalan, halusinasi dan mimpi). Juga 'godaan' lebih berkaitan dengan ilham yang bersifat negatif-sesat-buruk (dari para jin, syaitan dan iblis).

Harap baca pula topik “ilham-bisikan-godaan dari para makhluk gaib“, di samping lihat pula diagram proses berpikir manusia dan diagram elemen ruh dan fungsinya.

“Interaksi secara terselubung” pasti selalu dialami oleh tiap manusia tiap saatnya, dari sejumlah para makhluk gaib yang memang selalu mengikuti, mengawasi dan menjaga tiap manusianya, terutama dalam memberikan segala bentuk bisikan-godaan-ilham, yang positif-benar-baik dan negatif-sesat-buruk. Sedangkan “interaksi secara terang-terangan” justru hanya dialami oleh amat terbatas jumlah manusia, sejak jaman dahulu sampai saat ini. Bahkan disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, bahwa sebagian dari para nabi-Nya justru telah mengalami “interaksi secara terang-terangan” ini, antara lain: nabi Ibrahim as, nabi Musa as, nabi Isa as, nabi Luth as, nabi Sulaiman as, nabi Muhammad saw, dsb.

Keseluruhan penjelasan di bawah ini sama sekali bukan untuk mengungkap, tentang 'bagaimana' cara untuk bisa ber-“interaksi secara terang-terangan” dengan para makhluk gaib. Hal semacam ini berada di luar lingkup pembahasan dalam artikel atau blog ini, serta sebaiknya diperoleh dari berbagai sumber lainnya. Namun artikel/posting sekarang hanya semata bertujuan untuk bisa mengungkap atau memberikan gambaran yang makin jelas, tentang hal-hal yang terjadi dalam kedua macam cara berinteraksi. Sehingga umat Islam diharapkan juga bisa makin jelas mengetahui, tentang berbagai kejadian yang sebenarnya dialami oleh nabi Muhammad saw, ketika menerima wahyu-Nya dari para malaikat Jibril. Sekaligus pula, agar bisa memperjelas uraian terkait dalam artikel/posting terdahulu.

Dan sebagai bahan perbandingan, pada bagian bawah artikel/posting sekarang, juga diungkapkan kembali sejumlah keterangan yang berkembang cukup luas di kalangan umat Islam, tentang keadaan dan kejadian 'luar biasa' yang pernah dialami oleh nabi Muhammad saw, ketika menerima wahyu-Nya. Sekaligus disertai pula dengan uraian pembahasannya, yang menurut pemahaman atau penilaian relatif dari penulis sendiri.

Baca lebih lengkapnya

Dipublikasi di Hikmah, Saduran buku | Tag , , , , , , , | 46 Komentar

Metode pencapaian pemahaman Al-Hikmah


Metode pencapaian pemahaman Al-Hikmah atas ajaran-ajaran agama-Nya (menggapai kembali Al-Hikmah pada para nabi-Nya, yang TERLUPAKAN)

Terlepas dari berragamnya definisi atas Al-Hikmah, yang berkembang di kalangan
umat Islam, definisi atas Al-Hikmah di sini, adalah pemahaman yang relatif tertinggi
tentang kebenaran-Nya, dengan segala dalil-alasan dan penjelasannya yang relatif
kokoh-kuat dan lengkap. Al-Hikmah dimiliki oleh seluruh para nabi-Nya, walaupun
hanya sebagiannya yang memiliki Al-Kitab. Uraian-uraian berikut mencoba
mengungkap metode-cara untuk mencapai pemahaman Al-Hikmah.

"Allah memberikan hikmah-Nya, kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah-Nya, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang-orang yang berakal." – (QS.2:269).

"Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Rabb kepadamu. …" – (QS.17:39).

"… . dan ingatlah nikmat-Nya kepadamu, yaitu Al-Kitab dan Al-Hikmah. Allah memberi pengajaran kepadamu, dengan apa yang diturunkan-Nya itu. …" – (QS.2:231).

"(Para nabi-Nya) Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmah dan kenabian. …" – (QS.6:89).

"Dan sesungguhnya, Al-Qur`an itu (tercatat) dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya), dan amat banyak mengandung hikmah." – (QS.43:4).

Ada berbagai definisi-pengertian atas Al-Hikmah yang berkembang luas di kalangan umat Islam, yang berbeda daripada pengertian yang dimaksud di sini. Al-Hikmah misalnya justru dikaitkan ataupun didefinisikan, dengan: Sunnah / Hadits Nabi; ilmu kebatinan, ilmu kanuragan dan ilmu pengobatan; pemahaman pada hanya sebagian kelompok umat Islam (kelompok Sufi, kelompok Syiah – Imamiyah dan Ismailiyah, dsb); kalimat bijaksana, kata mutiara dan petuah; dsb.

Namun definisi atas Al-Hikmah di sini, adalah pengetahuan atau pemahaman yang relatif paling tinggi tentang kebenaran-Nya, dengan segala dalil-alasan dan penjelasannya yang relatif kokoh-kuat dan lengkap, tentunya dengan berbagai tingkat kesempurnaannya. Al-Hikmah bisa dimiliki oleh siapapun (Muslim dan non-Muslim). Bahkan hukum gravitasi dan hukum kekekalan energi / massa, juga merupakan Al-Hikmah. Walaupun khususnya dalam kehidupan beragama, Al-Hikmah memang lebih banyak terkait dengan hal-hal gaib dan batiniah. Al-Hikmah juga biasanya disebut sebagai 'cahaya kebenaran-Nya' (nur ilahi), 'hikmah dan hakekat kebenaran-Nya', 'petunjuk-Nya' atau 'makrifat'.

Al-Hikmah semacam ini bahkan telah dimiliki oleh seluruh para nabi-Nya, namun amat disayangkan, justru telah relatif amat dilupakan oleh umat Islam. Terutama karena umat Islam relatif amat jarang mengungkap kembali nilai-nilai universal, yang terkandung dalam ajaran-ajaran agama Islam (tiap Al-Hikmahnya). Umat Islam pada umumnya hanya 'berhenti' pada keterangan dari ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an, yang menyatakan, "Islam, kitab suci Al-Qur'an dan nabi Muhammad saw, adalah agama, kitab dan nabi-Nya untuk seluruh umat manusia" (seperti QS.5:3, QS.2:132, QS.3:19, QS.3:85, QS.68:52, QS.3:138, QS.34:28 dan QS.16:89), dalam menunjukkan aspek universalitas dari ajaran agama Islam. Dan sekaligus pula, umat Islam hanya 'berhenti' pada pemahaman secara 'tekstual-harfiah' semata atas ajarannya (pemahaman yang persis seperti isi atau bunyi teks-teksnya), yang dianggapnya juga bersifat universal (pasti bisa sesuai dipakai bahkan sampai akhir jaman).

"Apakah pemahaman secara 'tekstual-harfiah' ini benar-benar bisa menjawab atau menjelaskan segala sesuatu hal di dalam ajaran-ajaran agama Islam, secara relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh, tidak saling bertentangan dan tuntan?, juga termasuk apakah pemahaman semacam ini benar-benar bersifat universal, dan bagi seluruh umat manusia?.

Maka penulispun lalu amat terpancing untuk menyusun buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (Al-Hikmah yang terlupakan): Tindakan-Nya pada penciptaan manusia dan alam semesta ini, melalui Sunatullah, untuk mengungkap sebagian nilai-nilai universal yang terkandung di dalam kitab suci Al-Qur'an ('di balik' isi teks ayat-ayatnya), yang sekaligus pula dikembangkan ataupun dijelaskan lebih detail, dengan berbagai bidang ilmu-pengetahuan yang telah berkembang saat ini.

Kebenaran atau pengetahuan milik Allah di alam semesta ini, adalah segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), dengan sendirinya juga bersifat 'universal' (bisa melewati batas waktu, ruang dan budaya), yang justru hanya semata hasil dari perbuatan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Kekal. Sebaliknya segala kebenaran atau pengetahuan milik manusia, ataupun segala hasil perbuatan makhluk ciptaan-Nya, pasti bersifat 'relatif' dan 'fana'.

Namun apabila telah menggunakan akalnya secara relatif amat obyektif, cermat dan mendalam, maka suatu kebenaran atau pengetahuan 'relatif' milik manusia, pada dasarnya juga bisa 'mendekati' kebenaran atau pengetahuan 'mutlak' milik Allah di alam semesta ini. Kebenaran atau pengetahuan 'relatif' milik manusia seperti ini disebut sebagai 'Al-Hikmah' (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), yang tentunya mestinya juga bersifat 'universal'. Sehingga tiap Al-Hikmah bisa dipakai dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun. Selain itu, Al-Hikmah umumnya juga bersifat relatif amat kompleks, rumit, mendalam, tidak praktis-aplikatif dan tidak aktual (universal).

Dalam kitab suci Al-Qur'an sering disebut bersamaan, antara: 'ilmu-pengetahuan', 'Al-Hikmah', 'Al-Kitab' dan 'kenabian' (pada QS.6:89, QS.3:79, QS.3:48, QS.3:81, QS.29:27, QS.57:26, QS.2:129, QS.2:151, QS.2:231, QS.2:251, QS.3:164, QS.4:54, QS.4:113, QS.5:110 dan QS.62:2). Juga sekaligus disebut, bahwa seluruh para nabi-Nya memiliki Al-Hikmah, walaupun hanya sebagiannya yang memiliki Al-Kitab. Bahkan disebut, bahwa wahyu telah diturunkan-Nya berupa Al-Hikmah, oleh para malaikat Jibril, ke dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya (pada QS.17:39, QS.26:192-194, QS.2:97, QS.25:32 dan QS.29:49). Selain itu juga disebut, bahwa kitab suci Al-Qur'an banyak mengandung hikmah (pada QS.44:2-4, QS.43:4, QS.3:58, QS.36:2, QS.31:2 dan QS.10:1).

Namun begitu, ada persyaratan kesempurnaan tertentu, agar tiap Al-Hikmah bisa disebut 'wahyu'. Dalam pemahaman di sini, persyaratan ini adalah seluruh Al-Hikmahnya mestinya telah tersusun relatif sempurna (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya), terutama tentang segala hal yang paling penting, mendasar dan hakiki, bagi kehidupan seluruh umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah). Karena wahyu memang hadir untuk bisa menjawab secara relatif sempurna, atas segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan umat manusia. Serta penting diketahui, bahwa wahyu dan kenabian telah berakhir secara 'alamiah' pada nabi Muhammad saw. Sehingga tiap Al-Hikmah pada umat manusia setelahnya, bukan disebut 'wahyu', namun tetap hanya disebut 'Al-Hikmah'.

Baca pula artikel/posting terdahulu "cara proses diturunkan-Nya wahyu", dan "pola penyampaian pengajaran-Nya sepanjang masa", tentang hubungan antara malaikat Jibril, akal, pengetahuan, Al-Hikmah, Al-Kitab, wahyu dan kenabian pada para nabi-Nya.

Dalam berusaha mencapai pemahaman Al-Hikmah, tentunya bahan patokan-acuan yang paling utama mestinya kitab suci Al-Qur'an ("ayat-ayat-Nya yang tertulis"), sebagai kitab pengajaran dan tuntunan-Nya yang paling akhir, lengkap dan sempurna, yang masih dimiliki oleh seluruh umat manusia. Di samping itu, tentunya juga bisa sambil mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" yang ada di alam semesta ini ("tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya").

Sedangkan dalam berusaha mengungkap kembali tiap Al-Hikmah, yang terkandung dalam teks ajaran-ajaran agama Islam (khususnya kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi), diperlukan metode-cara antara lain:

  • Menguasai bahasa Arab.

  • Kumpulkan segala keterangan dan penjelasan terkait.

  • Berpengetahuan dan berwawasan amat luas.

  • Pisahkan hal-hal gaib dan bukan.

  • Hindari pemahaman secara tekstual-harfiah.

  • Pisahkan hal-hal sebenarnya dan contoh-perumpamaan simbolik.

  • Hilangkan konteks ruang, waktu dan budaya.

  • Berdasar ilmu-pengetahuan yang obyektif.

  • Hindari penafsiran agama dengan ilmu filsafat.

  • Kurangi bergantung kepada pemikiran dari umat terdahulu.

  • Hilangkan segala bentuk dogma.

  • Pisahkan pemahaman atas kisah-kisah para nabi-Nya terdahulu.

  • Pahami perbedaan antara Sunnah Nabi dan Hadits Nabi.

  • Harus konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan.

  • Berdiskusi dengan orang yang berilmu agama tinggi.

  • Banyak mempelajari pemahaman yang berbeda-beda.

  • Memiliki bangunan pemahaman atas ajaran agama-Nya.

  • Persiapkan sikap-sikap mental tertentu sebelumnya.

Baca lebih lengkapnya

Dipublikasi di Hikmah, Saduran buku | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

QS.3:190-191: Zikir + Tafakur


Mengingat Allah (zikir), sekaligus memikirkan kebenaran-Nya (tafakur)

Belumlah cukup hanya semata berusaha untuk bisa selalu mengingat Allah (berzikir),
sambil berdiri, duduk atau berbaring. Namun mestinya juga sekaligus disertai dengan
berusaha memikirkan (bertafakur), tentang tiap kebenaran-Nya di alam semesta ini.
Jika berzikir cenderung untuk bisa ‘menjaga’ keimanan, maka bertafakur
cenderung untuk bisa ‘meningkatkan’ keimanan.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal," − (QS.3:190)


"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah (berzikir), sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, serta mereka memikirkan (bertafakur) tentang penciptaan langit dan bumi, (seraya berkata): 'Ya Rabb-kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." − (QS.3:191)

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ


الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Inna fii khalqis-samaawaati wal ardhi waakhtilaafillaili wannahaari li-aayaatin auliil albaab(i)


Al-ladziina yadzkuruunallaha qiyaaman waqu'uudan wa'ala junuubihim wayatafakkaruuna fii khalqis-samaawaati wal ardhi rabbanaa maa khalaqta hadzaa baathilaa subhaanaka faqinaa 'adzaabannaar(i)

Dipublikasi di Qur'an | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Teori ‘Big Light’ vs teori ‘Big Bang’ (4): Perbandingan


Teori 'Big Light' vs teori 'Big Bang' (4): Perbandingan

Sebagai konsep kosmogoni alternatif bagi teori 'Big Bang' dan bagi konsep-konsep
kosmogoni lainnya, tentunya teori 'Big Light' mestinya juga bisa membawa berbagai
perbaikan dan kelebihan. Berikut ini diungkap perbandingan antara kedua teori,
sekaligus pula menunjukkan berbagai kelebihan dari teori 'Big Light'.

Seri artikel "Teori Big Light vs teori Big Bang", yaitu:

Perbandingan antara teori 'Big Light' dan teori 'Big Bang'

Dalam beberapa artikel/posting terkait terdahulu "Pengantar", "Urutan penciptaan alam semesta" dan "Model alam semesta", memang hanya amat sekilas diungkap tentang berbagai kelebihan dari teori 'Big Light' terhadap teori 'Big Bang', sekaligus pula tentang berbagai kelemahan dari teori 'Big Bang'. Padahal pengungkapan atas hal ini justru menjadi tujuan dari seluruh penulisan artikel/posting terkait, khususnya untuk menawarkan teori 'Big Light', sebagai konsep kosmogoni alternatif dari kalangan umat Islam (minimalnya dari penulis sendiri), untuk menggantikan teori 'Big Bang'. Apalagi amat jarang adanya konsep kosmogoni (konsep kosmologi pada awal penciptaan alam semesta ini), yang berkembang dan berasal dari kalangan umat Islam, khususnya yang berdasarkan ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Padahal konsep kosmogoni justru amat terkait dengan keyakinan umat Islam dalam beragama, karena menyangkut penciptaan alam semesta ini, oleh Allah Tuhannya alam semesta ini yang sebenarnya.

Di lain pihaknya, secara sekilas tampak, bahwa relatif sebagian besar kalangan umat Islam justru ikut pula mengakui atau membenarkan teori 'Big Bang', ataupun minimalnya hanya bersikap diam dan tidak memberi kritikan terhadap teori 'Big Bang'. Padahal secara sekilas tampak pula, bahwa teori 'Big Bang' masih mengandung amat banyak pertanyaan dan keraguan, termasuk pertanyaan yang menyangkut letak peranan Tuhan, dalam proses penciptaan alam semesta ini. Sedangkan para pendukung utama dari teori 'Big Bang', pada awalnya banyak yang berasal dari kalangan penganut ateis.

Dalam ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an pada dasarnya telah ada tersedia bahan yang cukup bagi umat Islam, khususnya bagi para alim-ulama dan para ilmuwan Muslim, agar secara bersama-sama bisa menyusun sesuatu konsep kosmogoni yang Islami. Hubungan antara ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an dan proses penciptaan alam semesta ini, sejak saat paling awal penciptaannya, sampai saat paling akhirnya (akhir jaman), pada dasarnya telah relatif cukup jelas, seperti halnya yang telah ditunjukkan dalam artikel/posting terdahulu "Urutan penciptaan alam semesta". Persoalannya pada dasarnya hanya semata tertinggal kepada kemauan para alim-ulama dan para ilmuwan Muslim, untuk mau mengungkapnya secara relatif lebih mendalam, dengan segala ilmu-pengetahuan yang dimilikinya.

Dalam tabel berikut ditunjukkan perbandingan antara teori 'Big Light' dan teori 'Big Bang', dalam berbagai aspek pembandingnya, sambil sekaligus pula ditunjukkan berbagai kelebihan dari teori 'Big Light'. Adapun berbagai aspek pembanding itu, antara lain:

  • Keadaan sebelum penciptaan alam semesta.

  • Bentuk awal alam semesta.

  • Bentuk akhir alam semesta.

  • Teori-teori pendukung.

  • Keberadaan 'pusat alam semesta'.

  • Adanya proses ekspansi alam semesta.

  • Laju ekspansi awal 'kritis'.

  • Percepatan ekspansi alam semesta.

  • Umur alam semesta.

  • Pergerakan galaksi-galaksi.

  • Amat berlimpahnya elemen-elemen purba di alam semesta.

  • Adanya radiasi gelombang mikro latar kosmik.

  • Proses evolusi dan distribusi galaksi.

  • Sifat alam semesta yang 'homogen' dan 'isotropi'.

  • Keberadaan singularitas pada proses penciptaan alam semesta

  • Penjelasan dan peranan 'ruh' kehidupan.

  • Keberadaan peranan Tuhan.

Baca lebih lengkapnya

Dipublikasi di Hikmah, Saduran buku | Tag , , , , , , , | 1 Komentar

Teori ‘Big Light’ vs teori ‘Big Bang’ (3): Model alam semesta


Teori 'Big Light' vs teori 'Big Bang' (3): Model alam semesta

Sebagai sesuatu teori atau konsep, tentunya teori 'Big Light' mestinya memiliki berbagai
landasan teori, rumusan, logika, definisi, cakupan, dsb, atas segala hal yang terkait di
dalamnya. Walaupun teori 'Big Light' memang bukan dibangun berdasarkan
model matematik, seperti pada teori 'Big Bang'. Berikut ini diungkap
model alam semesta ini menurut teori 'Big Light'.

Seri artikel "Teori Big Light vs teori Big Bang", yaitu:

Model alam semesta ini menurut teori 'Big Light'

Dalam artikel/posting terdahulu "teori 'Big Light' vs teori 'Big Bang' (1): Pengantar" dan dalam "teori 'Big Light' vs teori 'Big Bang' (2): Urutan penciptaan alam semesta", telah dikenalkan secara cukup ringkas, tentang teori 'Big Light', beserta urutan penciptaan alam semesta ini. Berikut ini akan diungkap model alam semesta ini menurut teori 'Big Light', yang di dalamnya disertakan berbagai landasan teori, rumusan, logika, definisi, cakupan, dsb, yang telah digunakan. Sekali lagi, model alam semesta ini sama sekali bukan dibangun berdasarkan model matematik, seperti pada teori 'Big Bang'. Namun justru hanya semata dibangun berdasarkan berbagai fenomena atau kejadian di alam semesta ini, dan bahkan hanya memakai berbagai logika dan teori fisika yang relatif amat sederhana. Maka dalam model inipun, umat Islam misalnya tidak akan menemukan perkiraan umur alam semesta ini, ataupun perkiraan lama waktu tiap proses penciptaannya, seperti pada teori 'Big Bang'.

Model alam semesta ini menurut teori 'Big Light', telah dibangun dari konsep dasar, bahwa penciptaan seluruh alam semesta ini dimulai dari penciptaan berbagai elemennya yang paling dasar, yang menyusun segala sesuatu zat ciptaan-Nya di dalamnya. Hal inipun telah ditunjukkan dalam gambar skema dasar teori 'Big Light' di bawah ini, serta sekaligus ditunjukkan proses penciptaannya (proses penciptaan yang paling awalnya). Urutan nomor poin pada gambar itu (poin 1 s/d 4), relatif menunjukkan urutan proses penciptaannya.

Seluruh alam semesta dan segala isinya ini justru hanya diciptakan-Nya dengan 3 elemen yang paling dasar, yaitu: 'Materi terkecil' (mati dan nyata), 'Ruh' (hidup dan gaib) dan 'Energi', masing-masingnya berupa poin 2, 3 dan 4 pada gambar di bawah. Hal inipun tentunya di samping segala aturan dan ketetapan-Nya (poin 1), yang telah diciptakan-Nya sebelumnya, yang memang pasti mengatur segala proses interaksi antar elemen tersebut. Urutan proses penciptaan di atas pada dasarnya hanya berupa pertimbangan logis semata, tetapi pada kenyataannya, segala 'Aturan-Nya', 'Materi terkecil', 'Ruh' dan 'Energi' bahkan justru bisa diciptakan-Nya secara bersamaan dan sekaligus keseluruhannya.

Terlebih lagi karena keempatnya memang amat saling terkait, seperti: 'ruh' perlu 'materi' sebagai tubuh wadahnya ataupun sarana menjalani kehidupan dunia (nyata-fisik-lahiriah); 'ruh' perlu 'energi' untuk bisa hidup dan beraktifitas; 'materi' perlu 'energi' untuk perubahan strukturnya; 'materi' perlu 'ruh' untuk menggerakkannya; 'energi' perlu 'ruh' untuk mengubah bentuknya; 'energi' perlu 'materi' sebagai tempatnya merambat; dsb. Serta 'aturan-Nya' justru tertanam sebagai 'fitrah dasar' pada tiap zat 'ruh' makhluk-Nya. Sehingga keempatnya pada dasarnya satu-kesatuan pada sesuatu hal yang sama.

Gambar skema sederhana penciptaan elemen dasar alam semesta

Model alam semesta ini menurut teori 'Big Light', telah diungkap pada tabel berikut. Sedangkan model terkait menurut teori 'Big Bang', tentunya bisa amat mudah didapatkan dari banyak sumber lainnya, seperti pada media internet Wikipedia (teori 'Big Bang', model standar 'Big Bang' − Lambda-CDM, urutan proses 'Big Bang', sejarah teori 'Big Bang', dsb). Perbedaan di antara kedua model itu akan diuraikan lebih lengkap dalam artikel/posting berikutnya, atau bisa dibaca pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", tentang perbandingan antara teori 'Big Bang' dan teori 'Big Light', di samping topik-topik terkait lainnya.

Pembahasan atau penjelasan atas model alam semesta ini menurut teori 'Big Light', dalam tabel berikut antara lain mencakup:

  • Definisi alam semesta

  • Jumlah alam semesta

  • Pusat alam semesta

  • Ruang, luas dan posisi alam semesta

  • Penyusun alam semesta

  • Hubungan antar elemen penyusun alam semesta

  • Aturan bagi segala proses kejadian di alam semesta

  • Kerapatan materi di alam semesta

  • Ruang vakum di alam semesta

  • Penciptaan atau pembentukan alam semesta

  • Bentuk awal dan akhir alam semesta

  • Siklus alam semesta

  • Perluasan atau ekspansi alam semesta

  • Umur alam semesta

  • Kehidupan di alam semesta

  • Berakhirnya alam semesta ('akhir jaman')

  • Hal-hal lain

Baca lebih lengkapnya

Dipublikasi di Hikmah, Saduran buku | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Teori ‘Big Light’ vs teori ‘Big Bang’ (2): Urutan penciptaan alam semesta


Teori 'Big Light' vs teori 'Big Bang' (2): Urutan penciptaan alam semesta

Amat jarang atau bahkan hampir tidak ada penjelasan yang berkembang luas di kalangan
umat Islam tentang urutan penciptaan alam semesta ini, selain dari hal-hal yang disebut
secara amat ringkas dalam kitab suci Al-Qur'an. Berikut ini diungkap urutan penciptaan
alam semesta ini menurut teori 'Big Light', beserta ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an
yang mendukungnya. Di samping itu juga diungkap urutan menurut
teori 'Big Bang', sebagai bahan perbandingannya.

Seri artikel "Teori Big Light vs teori Big Bang", yaitu:

Urutan penciptaan alam semesta ini menurut teori 'Big Light'

Dalam artikel/posting terdahulu "teori 'Big Light' vs teori 'Big Bang' (1): Pengantar" telah dikenalkan secara cukup ringkas, tentang teori 'Big Light'. Berikut ini akan diungkap urutan penciptaan alam semesta ini menurut teori 'Big Light', beserta ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an yang dianggap mendukungnya, minimal menurut penilaian relatif penulis. Dalam artikel/posting sekarang, pengungkapan atas urutan penciptaan alam semesta ini sengaja lebih didahulukan, terutama agar umat Islam bisa langsung mengetahui hubungan antara teori 'Big Light', dengan ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Sedangkan landasan teori beserta segala dalil-alasannya, yang digunakan untuk mendukung teori 'Big Light', akan diuraikan lebih lengkap dalam artikel/posting berikutnya ataupun bisa dibaca pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", tentang teori 'Big Light' dan model alam semestanya, di samping topik-topik terkait lainnya.

Namun agar umat bisa langsung memperoleh gambaran ringkas tentang teori 'Big Light', berikut berbagai elemen yang paling dasar, yang telah digunakan-Nya pada proses penciptaan alam semesta ini, dan sekaligus proses penciptaannya (proses penciptaan yang paling awalnya), maka terlebih dahulu dianggap perlu ditunjukkan pula gambar berikut. Urutan nomor poin pada gambar itupun (poin 1 s/d 4), relatif menunjukkan urutan proses penciptaannya.

Seluruh alam semesta dan segala isinya ini justru hanya diciptakan-Nya dengan 3 elemen yang paling dasar, yaitu: 'Materi terkecil' (mati dan nyata), 'Ruh' (hidup dan gaib) dan 'Energi', masing-masingnya berupa poin 2, 3 dan 4 pada gambar berikut. Hal inipun tentunya di samping segala aturan dan ketetapan-Nya (poin 1), yang telah diciptakan-Nya sebelumnya, yang memang pasti mengatur segala proses interaksi antar elemen tersebut. Sedangkan proses penciptaan yang paling awalnya atas elemen-elemen yang paling dasar tersebut, berikut urutannya, telah dijelaskan pula pada tabel di bawahnya (poin 1). Namun urutan itu pada dasarnya hanya berupa pertimbangan logis semata, pada kenyataannya, segala 'Aturan-Nya', 'Materi terkecil', 'Ruh' dan 'Energi' bahkan justru bisa diciptakan-Nya secara bersamaan dan sekaligus keseluruhannya, pada saat paling awalnya. Terlebih lagi karena keempatnya memang amat saling terkait, yang telah ditunjukkan melalui garis dan panah penghubung pada gambar. Serta hubungan atau interaksi ini seluruhnya pasti diatur oleh 'Aturan-Nya' (poin 1 di tengah-tengah gambar).

Gambar skema sederhana penciptaan elemen dasar alam semesta

Urutan penciptaan alam semesta ini menurut teori 'Big Light', sejak saat yang paling awalnya (saat alam semesta belum ada), sampai saat yang paling akhirnya (akhir jaman), telah diungkap pada tabel berikut. Sedangkan urutan terkait menurut teori 'Big Bang', juga telah diungkap di bagian bawah artikel/posting sekarang. Dengan membandingkan urutan dan penjelasannya, tentunya umat semestinya bisa menemukan sejumlah besar perbedaan di antara kedua teori, di samping juga ada kesamaan pada sejumlah aspek tertentu.

Urutan penciptaan alam semesta ini menurut teori 'Big Light', secara ringkasnya yaitu:

  • Jaman penciptaan           (awal keberadaan materi, ruh dan energi)

  • Jaman sub-atom             (penampakan "sinar alam semesta")

  • Jaman atom                     (pembentukan elemen purba)

  • Jaman inti-pusat             (pembentukan "kabut alam semesta")

  • Jaman bola api                 (pembentukan benda langit)

  • Jaman interaksi               (tabrakan antar benda langit)

  • Jaman kestabilan            (pembentukan formasi benda langit)

  • Jaman perluasan             (ekspansi alam semesta)

  • Jaman 'supernova'          (langit 'terbelah')

  • Jaman 'black hole'           ('kematian' benda langit)

  • Jaman kegelapan            ('kematian' alam semesta)

  • Jaman kehancuran         ("jika dikehendaki-Nya")

Sedangkan urutan terkait menurut teori 'Big Bang', yaitu:

  • Kejadian 'Big Bang'

  • Kejadian 1 x 10-36 detik setelah 'Big Bang'.

  • Keadaan tingkat energi amat tinggi, kejadian 1 detik setelah 'Big Bang'.

  • Pembentukan elemen-elemen dasar, kejadian 3 menit setelah 'Big Bang'.

  • Pendinginan alam semesta, kejadian 5 x 105 tahun setelah 'Big Bang'.

  • Kelahiran bintang dan galaksi, kejadian 1 x 109 tahun setelah 'Big Bang'.

  • Jaman quasar, kejadian 3 x 109 tahun setelah 'Big Bang'.

  • Awal terjadinya Supernova, kejadian 6 x 109 tahun setelah 'Big Bang'.

  • Kelahiran Matahari, kejadian 5 x 109 tahun sebelum saat ini.

  • Tabrakan antar galaksi, kejadian 3 x 109 tahun ke depan.

  • Galaksi lenyap, kejadian 1 x 1011 tahun ke depan.

  • Jaman bntang berakhir, kejadian 1 x 1012 tahun ke depan.

  • Jaman degenerasi, kejadian 1 x 1037 tahun ke depan.

  • Jaman 'black hole', kejadian 1 x 10100 tahun ke depan.

  • Jaman kegelapan, kejadian lebih dari 1 x 10100 tahun ke depan.

Baca lebih lengkapnya

Dipublikasi di Hikmah, Saduran buku | Tag , , , , , , , | 15 Komentar