Lampiran D.C Perbandingan aliran C

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

C.

Berbagai topik lainnya

Pada bagian ini akan dibahas perbandingan mengenai berbagai pemahaman atas topik-topik lainnya dari aliran-aliran terhadap hasil pemahaman pada buku ini. Aliran-aliran yang ditinjau di sini serupa pula dengan pada poin A ataupun B di atas, yaitu: aliran Mu'tazilah, Maturidiah (Samarkand dan Buchara) dan aliran Asy'ariah. Dan pada Tabel 31 berikut ini, diungkapkan pernyataan-pernyataan ringkas, atas pemahaman aliran-aliran mengenai berbagai topik, seperti:

~ Keadilan Allah
~ Kewajiban-kewajiban Allah
~ Berbuat baik dan terbaik
~ Beban di luar kemampuan manusia
~ Pengiriman rasul-rasul
~ Janji dan ancaman-Nya
~ Sifat Allah pada umumnya
~ Anthropomorphisme (sifat jasmani semu)
~ Melihat Allah
~ Sabda Allah (atau kalam Allah)
~ Konsep iman

 

Sementara hasil pemahaman pada pembahasan buku ini, yang terkait dengan topik-topik yang sama, telah diuraikan pula pada Tabel 32 di bawah.

Tabel 31: Berbagai topik, bagi aliran-aliran (pernyataan)

Rangkuman ringkas pemahaman dari beberapa aliran
tentang berbagai topik lainnya

Topik: Keadilan Allah

Pernyataan-pernyataan dari aliran Mu'tazilah

Keadilan Allah

Semua makhluk lainnya diciptakan-Nya untuk kepentingan manusia.

Manusia berakal sempurna, maka kalau ia berbuat sesuatu hal semestinya mempunyai tujuan. Manusia berbuat sesuatu hal untuk kepentingannya sendiri ataupun untuk kepentingan orang-lain.

Allah mempunyai tujuan dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Tetapi karena Allah, Yang Maha Suci dari sifat berbuat untuk kepentingan diri sendiri, maka justru perbuatan-perbuatan-Nya adalah untuk kepentingan maujud lain, selain Allah, yaitu manusia, sebagai makhluk-Nya yang tertinggi.

Keadilan erat hubungannya dengan hak, atau keadilan itu diartikan memberi seseorang akan haknya.

Allah Maha adil artinya bahwa segala perbuatan-Nya adalah baik.

Bahwa Allah tidak dapat berbuat buruk.

Bahwa Allah tidak dapat mengabaikan kewajiban-kewajiban-Nya terhadap tiap umat manusia.

Allah tidak dapat berbuat zalim dalam memberikan hukuman.

Allah tidak bisa menghukum anak-anak orang musyrik atas dosa orang-tuanya.

Allah tidak dapat meletakkan beban, yang tidak dapat dipikul oleh manusia.

Allah mestinya memberi upah kepada orang yang patuh kepada perintah-Nya, dan memberi hukuman kepada orang yang menentang perintah-Nya.

Keadilan juga artinya bahwa Allah berbuat semestinya, serta sesuai dengan kepentingan manusia.

Dan Allah memberi upah atau hukuman kepada setiap manusia, yang setimpal dengan tiap perbuatannya.

Tidaklah dapat dikatakan, bahwa Allah berdaya untuk berbuat zalim, berdusta, dan untuk tidak berbuat hal-hal yang terbaik bagi manusia.

Keadilan mengandung arti bahwa adanya kewajiban-kewajiban tertentu yang harus dihormati oleh Allah.

Keadilan bukan hanya berarti bahwa Allah memberi upah kepada orang yang berbuat baik, dan memberi hukuman kepada orang yang berbuat salah.

Paham "Allah berkewajiban berbuat yang terbaik bagi manusia" mengandung arti yang luas sekali, seperti: tidak memberi beban yang terlalu berat bagi tiap manusia; pengiriman para nabi dan rasul-Nya; memberi daya kepada manusia, untuk bisa melaksanakan kewajiban-kewajibannya; dsb, yang juga merupakan kewajiban-kewajiban Allah bagi manusia.

Keadilan menghendaki Allah, untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban itu.

Keadilan Allah adalah keadilan raja konstitusionil, yang kekuasaannya dibatasi oleh hukum, walau hukum itu adalah buatan Allah sendiri.

Allah mengeluarkan hukuman sesuai dengan hukum (atau bukanlah dengan sewenang-wenang).

Pernyataan-pernyataan dari aliran Asy'ariah

Keadilan Allah

Perbuatan-perbuatan-Nya tidak mempunyai tujuan, terutama dalam arti, tidak ada yang mendorong Allah untuk berbuat sesuatu.

Perbuatan-perbuatan-Nya memang menimbulkan kebaikan dan keuntungan bagi manusia, tetapi kebaikan dan keuntungan itu tidaklah menjadi pendorong bagi Allah untuk berbuat.

Allah berbuat semata-mata hanya karena kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya, bukan karena kepentingan manusia ataupun karena tujuan lain.

Keadilan artinya, "menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya, yaitu mempunyai kekuasaan mutlak terhadap harta yang dimiliki, serta memakainya sesuai dengan kehendak dan pengetahuan pemilik".

Keadilan mengandung arti bahwa Allah mempunyai sesuatu kekuasaan mutlak terhadap makhluk-Nya, dan bisa berbuat sekehendak-Nya di kerajaan-Nya.

Ketidak-adilan sebaliknya berarti "menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya yang sebenarnya, yaitu berkuasa mutlak terhadap hak-milik orang-lain".

Allah bisa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, meskipun bisa tidak adil menurut pandangan manusia.

Allah tidaklah berbuat salah, jika Allah memasukkan seluruh manusia ke dalam Surga, dan tidaklah bersifat zalim, jika Allah memasukkan seluruh manusia ke dalam Neraka.

Perbuatan salah dan tidak adil adalah perbuatan yang melanggar hukum. Dan karena di atas Allah tidak ada undang-undang atau hukum, maka perbuatan Allah tidak pernah bertentangan dengan hukum. Dengan demikian Allah tidak bisa dikatakan bersifat tidak adil.

Ketidak-adilan bisa timbul hanya jika seseorang melanggar hak orang-lain, dan jika seseorang mestinya berbuat sesuai dengan perintah, namun ia melanggar perintah itu. Perbuatan yang demikian tidak mungkin ada pada Allah.

Allah sebagai pemilik yang berkuasa mutlak, Allah bisa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap makhluk-Nya.

Allah bisa saja menyakiti anak-anak kecil pada Hari Kiamat, bisa menjatuhkan hukuman bagi orang mukmin, dan bisa memasukkan orang kafir ke dalam Surga. Sekiranya hal ini dilakukan Allah, maka Allah tidaklah berbuat salah, atau Allah tetap masih berbuat adil.

Upah yang diberi-Nya hanyalah merupakan rahmat, sedang hukuman tetap merupakan keadilan-Nya.

Allah tidak berkewajiban memberikan pahala.

Allah bisa memberi upah kepada manusia, jika itu dikehendaki-Nya dan bisa memberi hukuman, jika itu pula dikehendaki-Nya. Bahkan bisa menghancurkan manusia, jika itu dikehendaki-Nya. Meskipun demikian Allah tetap bersifat adil.

Keadilan Allah adalah keadilan raja absolut, yang memberi hukuman menurut kehendak mutlak-Nya. Dan Allah tidak terikat pada sesuatu kekuasaan, kecuali kekuasaan-Nya sendiri.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Samarkand

Keadilan Allah

Karena menganut paham free will (kebebasan berkeinginan), free act (kebebasan berbuat) serta adanya batasan bagi kekuasaan mutlak pada Allah, maka aliran Maturidiah samarkand lebih dekat ke aliran Mu'tazilah daripada ke Asy'ariah. Walau tendensi aliran Maturidiah samarkand tentang kepentingan manusia, lebih kecil daripada tendensi aliran Mu'tazilah. Karena kekuatan yang diberikan aliran Maturidiah samarkand kepada akal, serta batasan kekuasaan mutlak pada Allah, lebih kecil daripada aliran Mu'tazilah.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Buchara

Keadilan Allah

Aliran Maturidiah buchara lebih dekat dengan sikap aliran Asy'ariah, namun ada berbagai perbedaan, termasuk karena aliran Maturidiah buchara menganut paham masyi'ah dan redha.

Tidak ada tujuan yang mendorong Allah untuk menciptakan kosmos ini.

Allah bisa berbuat sekehendak hati-Nya.

Keadaan Allah Yang Maha bijaksana tidaklah berarti bahwa di balik perbuatan-perbuatan-Nya terdapat hikmat-hikmat.

Alam semesta tidak diciptakan-Nya untuk kepentingan manusia.

Meskipun manusia bisa berbuat buruk atas kehendak-Nya, tetapi perbuatan itu tidak diredhai-Nya.

Karena menentang keredhaan-Nya, tidak bisa dikatakan bahwa Allah bersifat tidak adil, kalau Allah memberi hukuman kepada orang yang berbuat buruk.

Topik: Kewajiban-kewajiban Allah

Pernyataan-pernyataan dari aliran Mu'tazilah

Kewajiban-kewajiban Allah

Allah mempunyai kewajiban-kewajiban kepada manusia, yaitu kewajiban untuk berbuat baik dan terbaik bagi manusia.

Allah berkewajiban: menepati janji-janji-Nya, mengirim para utusan-Nya untuk memberi petunjuk kepada manusia, memberi rejeki kepada manusia, dsb.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Asy'ariah

Kewajiban-kewajiban Allah

Allah sama sekali tidak mempunyai kewajiban-kewajiban kepada tiap manusia, ataupun kepada segala sesuatu.

Segala perbuatan-Nya tidak bersifat wajib (ja'iz) dan tidak satupun daripadanya yang bersifat wajib.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Samarkand

Kewajiban-kewajiban Allah

Ada kewajiban-kewajiban bagi Allah, sekurang-kurangnya kewajiban untuk bisa menepati janji-janji-Nya, tentang pemberian upah dan pemberian hukuman.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Buchara

Kewajiban-kewajiban Allah

Aliran Maturidiah buchara sepaham dengan sikap dari aliran Asy'ariah, tentang tidak adanya kewajiban-kewajiban bagi Allah.

Topik: Berbuat baik dan terbaik

Pernyataan-pernyataan dari aliran Mu'tazilah

Berbuat baik dan terbaik

Kewajiban Allah untuk berbuat baik, bahkan yang terbaik bagi manusia.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Asy'ariah

Berbuat baik dan terbaik

Allah tidak berkewajiban untuk berbuat baik, bahkan apalagi yang terbaik bagi manusia.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Samarkand

Berbuat baik dan terbaik

Aliran Maturidiah samarkand tidak sepaham dengan sikap aliran Mu'tazilah.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Buchara

Berbuat baik dan terbaik

Aliran Maturidiah buchara tidak sepaham dengan sikap aliran Mu'tazilah.

Topik: Beban di luar kemampuan manusia

Pernyataan-pernyataan dari aliran Mu'tazilah

Beban di luar kemampuan manusia

Allah mustahil memberi beban yang tidak dapat dipikul oleh manusia.

Allah akan dianggap bersifat tidak adil, jika memberi beban yang terlalu berat kepada manusia.

Perbuatan manusia terwujud dengan daya manusia yang terbatas, dan bukan dengan daya Allah yang tak-terbatas. Maka kalau Allah memberi beban yang tak-terpikul kepada manusia, maka perbuatan manusia itu akan sia-sia belaka.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Asy'ariah

Beban di luar kemampuan manusia

Allah bisa memberi beban yang di luar kemampuan manusia, atau Allah dapat meletakkan pada manusia, suatu beban yang tidak dapat dipikulnya.

Tetapi manusia masih akan dapat melaksanakan beban yang tak-terpikul itu, karena yang mewujudkan tiap perbuatan manusia, sebenarnya bukanlah daya manusia yang terbatas, tetapi daya Allah yang tak terbatas.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Samarkand

Beban di luar kemampuan manusia

Aliran Maturidiah samarkand lebih dekat dengan sikap aliran Mu'tazilah, dan tidak setuju dengan sikap aliran Asy'ariah.

Allah tidak membebani manusia dengan kewajiban-kewajiban yang tidak dapat dipikulnya, seperti disebut dalam Al-Qur'an. Dan manusialah sebenarnya yang mewujudkan segala perbuatannya, dan bukan Allah.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Buchara

Beban di luar kemampuan manusia

Aliran Maturidiah buchara hampir serupa dengan sikap aliran Asy'ariah.

Tidaklah mustahil bahwa Allah bisa meletakkan pada tiap manusia, kewajiban-kewajiban yang tidak bisa dipikulnya. Dan daya Allah yang tak-terbatas, yang sebenarnya mewujudkan perbuatan manusia.

Topik: Pengiriman rasul-rasul

Pernyataan-pernyataan dari aliran Mu'tazilah

Pengiriman rasul-rasul

Akal bisa mengetahui tentang alam gaib. Maka pengiriman para nabi-Nya tidak begitu penting.

Fungsi wahyu lebih banyak bersifat memperkuat dan menyempurnakan hal-hal yang telah diketahui manusia melalui akalnya.

Pengiriman para nabi dan rasul-Nya tidak bersifat wajib, tetapi menjadi salah-satu kewajiban Allah, untuk berbuat baik dan terbaik bagi manusia.

Karena akal tidak bisa mengetahui segala sesuatu hal yang harus diketahui oleh manusia, tentang Allah dan alam gaib.

Tanpa pengiriman para nabi-Nya (tidak bersifat wajib), manusia tidak akan bisa memperoleh hidup baik dan terbaik di dunia maupun di akhirat nanti.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Asy'ariah

Pengiriman rasul-rasul

Pengiriman para nabi-Nya mempunyai arti yang besar. Karena umat manusia banyak bergantung pada wahyu-Nya untuk mengetahui Allah dan alam gaib. Bahkan juga untuk mengetahui hal-hal yang bersangkutan dengan kehidupan duniawi manusia.

Meskipun penting, tetapi pengiriman para nabi-Nya tidak bersifat wajib. Karena Allah tidak mempunyai kewajiban-kewajiban apa-apa terhadap manusia.

Akibat tidak baik, tidak menjadi persoalan, jika Allah tidak mengutus para nabi-Nya kepada umat manusia, kehidupan mereka mengalami kekacauan (karena tanpa wahyu-Nya manusia tidak akan bisa membedakan perbuatan baik dan buruk). Karena Allah bisa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, dan tiap perbuatan manusia adalah perbuatan Allah.

Tidak ada masalah, jika Allah menghendaki manusia hidup dalam kekacauan. Karena Allah tidak berbuat untuk kepentingan manusia.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Samarkand

Pengiriman rasul-rasul

Aliran Maturidiah samarkand banyak sepaham dengan sikap aliran Mu'tazilah.

Pengiriman para nabi-Nya bersifat wajib. Karena Allah mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap manusia.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Buchara

Pengiriman rasul-rasul

Dengan paham tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Allah, maka aliran Maturidiah buchara serupa dengan sikap aliran Asy'ariah.

Pengiriman para nabi-Nya tidak bersifat wajib, dan bersifat mungkin. Karena Allah tidak mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap manusia.

Topik: Janji dan ancaman-Nya

Pernyataan-pernyataan dari aliran Mu'tazilah

Janji dan ancaman-Nya

Dalam perbuatan-perbuatan-Nya, terdapat perbuatan untuk menepati janji-Nya dan menjalankan ancaman-Nya, yang sesuai dengan dasar keadilan.

Allah bersifat tidak adil, jika tidak menjalankan ancaman-Nya untuk memberi hukuman kepada orang yang berbuat jahat. Karena hal ini akan membuat Allah mempunyai sifat berdusta.

Tidak menepati janji-Nya dan tidak menjalankan ancaman-Nya adalah keadaan yang bertentangan dengan kemaslahatan atau kepentingan manusia.

Karena itulah, menepati janji-Nya dan menjalankan ancaman-Nya adalah wajib bagi Allah.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Asy'ariah

Janji dan ancaman-Nya

Allah tidak mempunyai kewajiban-kewajiban. Karena itu Allah tidak mempunyai kewajiban untuk menepati janji-Nya dan menjalankan ancaman-Nya. Seperti janji dan ancaman-Nya yang disebut dalam Al-Qur'an dan Hadits, yaitu "siapa yang berbuat baik akan masuk surga, dan siapa yang berbuat jahat akan masuk neraka".

Bagi aliran Asy'ariah, kata "siapa" di atas memiliki arti "sebagian", bukanlah "semua orang".

Misalnya pada ayat tentang "barang siapa yang menelan harta anak yatim piatu dengan cara tidak adil, maka ia sebenarnya menelan api masuk ke dalam perutnya", mengandung arti bahwa bukan "semua", tetapi ancaman-Nya bagi hanya "sebagian" orang yang menelan harta anak yatim piatu. Sedang yang sebagian lainnya bisa terlepas dari ancaman-Nya, atas dasar kekuasaan dan kehendak mutlak Allah.

Allah boleh saja melanggar janji-janji-Nya.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Samarkand

Janji dan ancaman-Nya

Aliran Maturidiah samarkand sepaham dengan sikap aliran Mu'tazilah.

Upah dan hukuman Allah tidak boleh tidak mesti terjadi kelak.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Buchara

Janji dan ancaman-Nya

Aliran Maturidiah buchara tidak seluruhnya serupa dengan sikap pada aliran Asy'ariah. Karena kekuasaan dan kehendak Allah tidaklah betul-betul mutlak seperti menurut aliran Asy'ariah, tetapi ada kompromi dengan keadilan Allah. Khususnya karena adanya beberapa kewajiban Allah.

Tidak mungkin Allah melanggar janji-Nya untuk memberi upah kepada orang yang berbuat baik, tetapi sebaliknya bukan tidak mungkin Allah membatalkan ancaman-Nya untuk memberi hukuman kepada orang yang berbuat jahat.

Nasib orang yang berdosa besar ditentukan oleh kehendak mutlak Allah. Jika Allah berkehendak untuk memberi ampun kepada orang yang berdosa, Allah akan memasukkannya ke dalam Surga, bukan ke dalam Neraka. Dan jika Allah berkehendak untuk memberi hukuman baginya, Allah akan memasukkannya ke dalam Neraka, buat sementara atau buat selama-lamanya.

Bukanlah tidak mungkin Allah memberi ampun kepada seseorang, tetapi di lain pihak tidak memberi ampun kepada orang-lain, yang berbuat dosa yang sama.

Allah wajib menepati janji-Nya untuk bisa memberi upah kepada orang yang berbuat baik, atau tidak mungkin Allah melanggar janji-Nya.

Topik: Sifat Allah pada umumnya

Pernyataan-pernyataan dari aliran Mu'tazilah

Sifat Allah pada umumnya

Paham tentang sifat-sifat-Nya yang kekal, sama artinya dengan kemusyrikan atau politheisme, maka Allah tidak mempunyai sifat.

Tidak berarti Allah tidak mengetahui, tidak berkuasa, tidak hidup, dsb.

Allah tetap mengetahui, berkuasa, hidup, dsb, tetapi bukanlah sifat dalam arti yang sebenarnya.

'Allah mengetahui' artinya Allah mengetahui dengan perantaraan pengetahuan, dan pengetahuan itu adalah Allah sendiri.

Pengetahuan Allah adalah Allah sendiri, yaitu zat dan esensi Allah.

Allah mengetahui dengan melalui esensinya.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Asy'ariah

Sifat Allah pada umumnya

Allah mempunyai sifat-sifat.

Tidak teringkari bahwa Allah mempunyai sifat, karena tampak dari perbuatan-perbuatan-Nya.

Allah mengetahui, menghendaki, berkuasa, dsb.

Allah mempunyai pengetahuan, kemauan dan daya.

Pengetahuan, hayat, kemauan, pendengaran, penglihatan dan sabda dari Allah adalah kekal.

Sifat-sifat-Nya tidak sama (berlainan) dengan esensi Allah, tetapi berwujud dalam esensi itu sendiri.

Sifat-sifat-Nya bukanlah Allah, tetapi tidak berbeda pula dari Allah.

Sifat-sifat-Nya tidak berbeda (terpisah) dari Allah, maka adanya sifat-sifat-Nya tidak membawa kepada paham banyak yang kekal.

"Sifat" mengandung arti tetap, kekal dan kuat, sedang "keadaan" mengandung arti berubah-ubah dan lemah.

Allah mesti mempunyai sifat-sifat yang kekal.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Samarkand

Sifat Allah pada umumnya

Aliran Maturidiah samarkand tidak sepaham dengan sikap aliran Mu'tazilah.

Sifat-sifat-Nya bukanlah Allah, tetapi tidak berbeda pula dari Allah.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Buchara

Sifat Allah pada umumnya

Allah mempunyai sifat-sifat.

Sifat-sifat-Nya kekal melalui kekekalan yang terdapat di dalam esensi Allah, bukan melalui kekekalan sifat-sifat itu sendiri.

Allah bersama-sama sifat-sifat-Nya kekal, tetapi sifat-sifat itu sendiri tidaklah kekal.

Topik: Anthropomorphisme (sifat jasmani semu)

Pernyataan-pernyataan dari aliran Mu'tazilah

Anthropomorphisme (sifat jasmani semu)

Allah bersifat immateri, maka Allah tidak memiliki sifat-sifat jasmani. Atau Allah tidak bisa memiliki badan materi, karena itu Allah tidak memiliki sifat-sifat jasmani.

Tiap gambaran dalam Al-Qur'an bahwa Allah memiliki sifat-sifat jasmani, harus diberikan interpretasi lain, seperti: 'tahta kerajaan' artinya 'kekuasaan', 'mata' artinya 'pengetahuan', 'muka' artinya 'esensi', 'tangan' artinya 'kekuasaan'.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Asy'ariah

Anthropomorphisme (sifat jasmani semu)

Tidak setuju dengan adanya anthropomorphisme (sifat jasmani semu), karena Allah memiliki sifat-sifat jasmani yang sama dengan sifat-sifat jasmani manusia.

Allah memiliki mata, muka, tangan dsb, tetapi tidaklah sama dengan yang ada pada manusia.

Berbagai gambaran dalam Al-Qur'an tentang mata, muka atau tangan Allah tidak boleh diberikan interpretasi lain. Seperti Allah memiliki dua tangan, tidak boleh diartikan rahmat atau kekuasaan-Nya.

Allah hidup dengan hayat, tetapi hayat yang tidak sama dengan hayat pada manusia. Allah memiliki dua tangan, tetapi tangan yang tidak sama dengan tangan manusia.

Allah memiliki mata dan tangan, yang tidak bisa diberi gambaran atau definisi, Atau tidak diketahui bagaimana bentuknya. Karena manusia adalah lemah, dan akal manusia tidak sanggup memberi interpretasi lebih jauh tentang sifat-sifat jasmani Allah, yang disebut dalam Al-Qur'an.

Dalam Al-Qur'an dinyatakan bahwa Allah memiliki tangan, dan manusia harus menerima hal itu. Manusia tidaklah bisa mengetahuinya, adalah karena Allah Maha Kuasa.

Allah bisa memiliki, bahkan juga menciptakan hal-hal yang tidak bisa dipahami akal manusia yang lemah.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Samarkand

Anthropomorphisme (sifat jasmani semu)

Aliran Maturidiah samarkand sepaham dengan sikap aliran Mu'tazilah.

Tangan, muka, mata dan kaki Allah adalah kekuasaan Allah.

Allah tidaklah memiliki badan, sungguhpun tidak sama dengan badan jasmani. Karena badan tersusun dari substansi dan kejadian (accident).

Manusia berhajat pada anggota badan, karena tanpa anggota badan manusia menjadi lemah. Adapun Allah tetap Maha kuasa, walau tanpa anggota badan.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Buchara

Anthropomorphisme (sifat jasmani semu)

Aliran Maturidiah buchara tidak sepaham dengan sikap aliran Asy'ariah.

Tangan Allah adalah sifat, dan bukanlah anggota badan Allah, yaitu sifat yang sama dengan sifat-sifat lain seperti: pengetahuan, daya dan kemauan.

Topik: Melihat Allah

Pernyataan-pernyataan dari aliran Mu'tazilah

Melihat Allah

Allah bersifat immateri, maka Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala.

Allah tidak mengambil tempat, maka tidak bisa dilihat.

Juga kalau Allah memang bisa dilihat dengan mata kepala, maka Allah akan bisa dilihat sekarang juga dalam alam ini. Dan tidak ada orang yang melihat Allah di alam ini.

Dalam Al-Qur'an "Wajah-wajah yang pada ketika itu berseri-seri memandang kepada Tuhan-nya." – (QS.75:22,23).

Kata "nazar" tidak berarti "ru'yah", tetapi "nazara" berarti memandang atau menunggu.

Dalam Al-Qur'an "Tuhanku, perlihatkanlah diri-Mu kepadaku. Sabda Tuhan: 'Engkau tidak akan bisa melihat diri-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap tinggal di tempatnya, niscaya engkau akan melihat diri-Ku'. Ketika Tuhan-nya tampak bagi gunung itu, maka iapun hancur, dan Musa jatuh pingsan." – (QS.7:143).

Permintaan untuk melihat Allah sebenarnya bukan datang dari nabi Musa as, tetapi dari para pengikutnya yang belum juga mau percaya.

Dan permintaan itu diajukan nabi Musa as, untuk mematahkan pertengkaran dan kekerasan kepala mereka.

Allah dalam ayat ini telah menegaskan "lan tarani", yaitu "sekali-kali engkau tidak akan bisa melihat Saya". Dengan kata lain Allah tidak akan bisa dilihat.

Sebutan "istaqarra makanah" atau tetap di tempatnya pada ayat di atas, dimaksudkan bahwa tidak bergerak sewaktu bukit itu digoncang oleh Allah.

Dengan kata lain nabi Musa as akan bisa melihat Allah, jika bukit Sinai tetap diam atau tidak bergerak.

Diam dan bergerak ialah dua hal yang bertentangan dan tidak bisa berkumpul pada satu masa di satu tempat.

Dan bukit bukit Sinai memang tergoncang, karena ditimbulkan oleh manifestasi kekuasaan Allah pada gunung itu.

Dengan demikian ayat di atas, sebenarnya menjelaskan bahwa Allah tidak bisa dilihat.

Menurut hadits, "manusia akan melihat Allah di hari Kiamat sebagaimana mereka melihat bulan purnama" ditolak karena Allah tidak bundar, tidak mengambil tempat dan tidak menyinarkan cahaya, karena itu tidak bisa dilihat sebagaimana bulan bisa dilihat. Juga karena hadits ini tidak bisa diterima (perawinya sangat lemah).

Dalam Al-Qur'an "Penglihatan tidak bisa menangkap-Nya, tetapi Dia bisa menangkap penglihatan. Dia adalah Maha Halus dan Maha Tahu." – (QS.6:103).

Allah tidak bisa ditangkap penglihatan. Atau Allah tidak akan bisa dilihat.

Menurut hadits, "bukankah Tuhan itu cahaya, bagaimana aku bisa melihat-Nya".

Pernyataan-pernyataan dari aliran Asy'ariah

Melihat Allah

Allah akan bisa dilihat oleh manusia dengan mata kepalanya di akhirat nanti.

Allah berkuasa mutlak dan pasti bisa mengadakan apa saja. Sebaliknya akal manusia lemah dan pasti tidak selamanya sanggup memahami perbuatan dan ciptaan-Nya.

Atau meskipun sesuatu hal bisa bertentangan dengan pendapat akal manusia, maka hal itu bisa dibuat dan diciptakan-Nya.

Maka melihat Allah yang bersifat immateri, tidaklah mustahil. Dan tiap manusia akan bisa melihat Allah (di akhirat).

Hal yang tidak bisa dilihat hanyalah yang tidak mempunyai wujud, dan yang mempunyai wujud mesti bisa dilihat. Allah berwujud dan karena itu bisa dilihat.

Manusia bisa melihat kejadian (accident), karena manusia bisa membedakan antara putih dan hitam, dan antara bersatu dengan bercerai. Maut juga bisa dilihat, dengan melihat orang mati. Maka kalau kejadian bisa dilihat, Allah bisa pula dilihat.

Dalam Al-Qur'an "Wajah-wajah yang pada ketika itu berseri-seri memandang kepada Tuhan-nya." – (QS.75:22,23).

Kata "nazirah" dalam ayat ini tidak bisa diartikan memikirkan, karena akhirat bukanlah tempat berpikir.

Juga tidak bisa berarti menunggu, karena "wujuh" yaitu muka atau wajah tidak bisa menunggu, dan yang menunggu ialah manusia.

Maka kata "nazirah" mesti berarti melihat dengan mata.

Dalam Al-Qur'an "Tuhanku, perlihatkanlah diri-Mu kepadaku. Sabda Tuhan: 'Engkau tidak akan bisa melihat diri-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap tinggal di tempatnya, niscaya engkau akan melihat diri-Ku'. Ketika Tuhan-nya tampak bagi gunung itu, maka iapun hancur, dan Musa jatuh pingsan." – (QS.7:143).

Kalau Allah tidak bisa dilihat, maka nabi Musa as tidak akan meminta supaya Allah memperlihatkan diri-Nya. Dan nabi Musa as akan melihat Allah, kalau bukit Sinai tetap pada tempatnya. Membuat bukit Sinai tetap di tempatnya termasuk dalam kekuasaan Allah, dan oleh karena itu Allah bisa dilihat.

Menurut hadits, "manusia akan melihat Allah di hari Kiamat sebagaimana mereka melihat bulan purnama".

Dalam Al-Qur'an "Penglihatan tidak bisa menangkap-Nya, tetapi Dia bisa menangkap penglihatan. Dia adalah Maha Halus dan Maha Tahu." – (QS.6:103).

Atau menurut hadits, "bukankah Tuhan itu cahaya, bagaimana aku bisa melihat-Nya".

Maksud ayat dan hadits di atas, ialah Allah tidak bisa dilihat di dunia, dan bukan di akhirat.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Samarkand

Melihat Allah

Aliran Maturidiah samarkand sepaham dengan sikap aliran Asy'ariah. Dan sama pula dengan aliran Maturidiah buchara.

Allah bisa dilihat, karena Allah mempunyai wujud. Dan sungguhpun Allah tidak mempunyai bentuk, tidak mengambil tempat dan tidak terbatas.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Buchara

Melihat Allah

Aliran Maturidiah buchara sepaham dengan sikap aliran Asy'ariah. Dan sama pula dengan aliran Maturidiah samarkand.

Allah bisa dilihat, karena Allah mempunyai wujud. Dan sungguhpun Allah tidak mempunyai bentuk, tidak mengambil tempat dan tidak terbatas.

Topik: Sabda Allah (atau kalam Allah)

Pernyataan-pernyataan dari aliran Mu'tazilah

Sabda Allah (atau kalam Allah)

Kalau sabda, kalam atau Al-Qur'an merupakan sifat, sabda mesti kekal. Tetapi sebaliknya sabda adalah tersusun, oleh karena itu mesti diciptakan dan tidak bisa kekal.

Maka sabda bukanlah sifat, tetapi perbuatan Allah.

Al-Qur'an bukan bersifat kekal, tetapi bersifat baru dan diciptakan oleh Allah. Karena Al-Qur'an tersusun dari bagian-bagian berupa ayat dan surat, ayat yang satu mendahului yang lain, dan surat yang satu mendahului yang lain.

Jika pada sesuatu ada sifat terdahulu dan sifat yang datang kemudian, maka membuat sesuatu itu tidak bisa bersifat qadim (kekal) atau tidak bermula. Karena sesuatu yang tidak bermula, tidak didahului oleh apapun.

Dalam Al-Qur'an "Kitab yang ayat-ayatnya dibuat sempurna dan terperinci." – (QS.11:1).

Menurut ayat ini, ayat-ayat Al-Qur'an dibuat sempurna dan kemudian dibagi-bagi. Maka Al-Qur'an yang tersusun tidak bisa bersifat qadim (kekal).

Dalam Al-Qur'an "bukankah menciptakan dan memerintahkan segala ciptaan-Nya di alam semesta hanyalah kepunyaan-Nya (hak Allah)." – (QS.7:54).

Dan dalam Al-Qur'an "Jika Kami menghendaki sesuatu, maka Kami bersabda 'terjadilah'." – (QS.16:40).

Keadaan dipisahnya "perintah" (amr) dan "ciptaan" (khalq), tidak menunjukkan keduanya berlainan jenis.

Kata-kata "perintah" (amr) dan "ciptaan" (khalq) adalah sejenis, dan oleh karena itu amr atau sabda Allah adalah diciptakan dan tidak kekal.

Sedang kalau yang dimaksud dengan kata "kun", ialah kata yang tersusun dari huruf-huruf, maka mestinya bersifat baru.

Kalau yang dimaksud arti yang dikandungnya, maka tidak ada keterangan dalam ayat tersebut, bahwa itulah yang dimaksud.

Lebih lanjut lagi, kata "kun" tidak mempunyai efek, karena kalau mempunyai efek, hal itu haruslah menimbulkan efek, baik bagi Allah ataupun bagi manusia yang mengucapkannya. Jadi bukanlah kata "kun" yang menciptakan sesuatu, sehingga tidak perlu timbul tak berkesudahan itu.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Asy'ariah

Sabda Allah (atau kalam Allah)

Sabda adalah sifat, dan sebagai sifat Allah mestinya kekal.

Sabda adalah arti atau makna abstrak dan tidak tersusun.

Sabda bukanlah hal yang tersusun dari huruf dan suara.

Sabda yang tersusun disebut sabda hanya dalam arti kiasan.

Sabda yang sebenarnya ialah apa yang terletak di balik yang tersusun itu.

Sabda yang tersusun dari huruf dan suara bukanlah sabda Allah.

Sabda dalam arti abstrak inilah yang bisa bersifat kekal, dan bisa menjadi sabda Allah.

Al-Qur'an bukanlah suatu hal yang tersusun dari huruf, suara, ayat dan surat, maksudnya dalam arti atau makna abstrak itu.

Al-Qur'an adalah sabda Allah dan bersifat kekal. Sedang dalam arti huruf, suara, ayat dan surat yang ditulis dan dibaca, adalah Al-Qur'an yang bersifat baru serta diciptakan, dan bukanlah sabda Allah.

Dalam Al-Qur'an "Di antara tanda-tanda-Nya ialah terjadinya langit dan bumi atas perintah-Nya." – (QS.30:25).

Perintah Allah mempunyai wujud dalam bentuk sabda Allah. Atau Perintah Allah adalah sabda Allah.

Dalam Al-Qur'an "bukankah menciptakan dan memerintahkan segala ciptaan-Nya di alam semesta hanyalah kepunyaan-Nya (hak Allah)." – (QS.7:54).

Menurut ayat ini, perintah dan ciptaan dipisahkan. Atau perintah bukan ciptaan.

Perintah atau sabda Allah bukanlah diciptakan, tetapi bersifat kekal.

Dalam Al-Qur'an "Jika Kami menghendaki sesuatu, maka Kami bersabda 'terjadilah'." – (QS.16:40).

Menurut ayat ini, ciptaan terjadi dengan kata atau sabda Allah "kun".

Kalau sabda Allah tidak bersifat kekal, maka kata "kun" mestilah bersifat baru. Kata "kun" ini tidak akan berwujud, jika tidak didahului kata "kun" yang lain. Dan kata "kun" yang lain ini, didahului oleh kata "kun" yang lain pula.

Sehingga terjadi rentetan kata-kata "kun" yang tidak mempunyai kesudahan.

Hal ini adalah mustahil, oleh karena itu kata "kun" atau sabda Allah mestilah bersifat kekal.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Samarkand

Sabda Allah (atau kalam Allah)

Aliran Maturidiah samarkand sepaham dengan sikap aliran Asy'ariah. Dan sama pula dengan aliran Maturidiah buchara.

Sabda Allah atau Al-Qur'an adalah kekal. Al-Qur'an adalah sifat kekal dari Allah, satu, tidak terbagi, tidak bahasa Arab ataupun Syriak. Tetapi diucapkan oleh manusia dalam ekspresi berlainan.

Hal yang tersusun dan disebut Al-Qur'an bukanlah sabda Allah, tetapi lebih merupakan tanda dari sabda Allah. Dan hal itu disebut sabda Allah dalam arti kiasan.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Buchara

Sabda Allah (atau kalam Allah)

Aliran Maturidiah buchara sepaham dengan sikap aliran Asy'ariah. Dan sama pula dengan aliran Maturidiah samarkand.

Sabda Allah atau Al-Qur'an adalah kekal. Al-Qur'an adalah sifat kekal dari Allah, satu, tidak terbagi, tidak bahasa Arab ataupun Syriak. Tetapi diucapkan oleh manusia dalam ekspresi berlainan.

Hal yang tersusun dan disebut Al-Qur'an bukanlah sabda Allah, tetapi lebih merupakan tanda dari sabda Allah. Dan hal itu disebut sabda Allah dalam arti kiasan.

Topik: Konsep iman

Pernyataan-pernyataan dari aliran Mu'tazilah

Konsep iman.

Iman bukanlah tasdiq (menerima apa yang dikatakan atau disampaikan orang sebagai benar), tetapi sesuatu hal yang lebih tinggi dari itu.

Iman dalam arti mengetahuipun belumlah cukup.

Orang yang mengetahui tentang Allah, tetapi melawan kepada-Nya, bukanlah orang yang mukmin.

Iman bukanlah tasdiq, bukan pula ma'rifah, tetapi 'amal yang timbul sebagai akibat dari mengetahui tentang Allah.

Iman adalah pelaksanaan perintah-perintah-Nya, bukan hanya yang wajib saja, tetapi juga yang sunnat.

Iman juga adalah menjauhi dosa-dosa besar.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Asy'ariah

Konsep iman.

Akal manusia tidak bisa sampai kepada kewajiban mengetahui tentang Allah, maka iman tidak bisa merupakan ma'rifah atau 'amal.

Manusia hanya mengetahui kewajiban itu hanya melalui wahyu.

Wahyulah yang mengatakan dan menerangkan kepada manusia, bahwa ia berkewajiban untuk mengetahui tentang Allah, dan manusia harus menerima kebenaran berita itu.

Iman adalah tasdiq.

Batasan iman adalah menerima sebagai benar khabar tentang adanya Allah, termasuk tasdiq tentang rasul-rasul dan berita yang mereka bawa.

Tasdiq tidak sempurna jika tidak disertai dengan pengetahuan.

Iman hanyalah tasdiq, dan pengetahuan tidak timbul, kecuali setelah datang khabar yang dibawa oleh wahyu yang bersangkutan.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Samarkand

Konsep iman.

Aliran Maturidiah samarkand lebih dekat dengan sikap aliran Mu'tazilah.

Iman mestilah lebih dari tasdiq, yaitu ma'rifah atau 'amal. Karena akal manusia bisa sampai kepada kewajiban mengetahui tentang Allah.

Islam adalah mengetahui Allah dengan tidak bertanya bagaimana bentuk-Nya. Iman adalah mengetahui tentang Allah dalam ke-Tuhan-an-Nya. Ma'rifah adalah mengetahui tentang Allah dengan segala sifat-Nya. Dan tauhid adalah mengenal tentang Allah dalam ke-Esa-an-Nya.

Pernyataan-pernyataan dari aliran Maturidiah Buchara

Konsep iman.

Aliran Maturidiah buchara sepaham dengan sikap aliran Asy'ariah.

Akal manusia tidak bisa sampai kepada kewajiban mengetahui tentang adanya Allah, maka iman tidak bisa mengambil bentuk ma'rifah atau 'amal, tetapi justru haruslah merupakan tasdiq.

Batasan iman ialah menerima dalam hati dengan lidah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa tidak ada yang serupa dengan Allah.

(dirangkum dari buku "Teologi Islam", Prof.Dr. Harun Nasution, 1986: 123-149)

Tabel 32: Berbagai topik, bagi pembahasan di sini

Rangkuman ringkas pemahaman pada pembahasan di sini
tentang berbagai topik lainnya

Topik: Keadilan Allah

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

Keadilan Allah

Allah justru mempunyai tujuan yang pasti dan jelas dalam menciptakan seluruh alam semesta dan segala isinya ini, terutama untuk bisa menunjukkan segala kemuliaan dan kekuasaan-Nya kepada umat manusia, sebagai khalifah-Nya (penguasa) di muka Bumi (di dunia).

Hal itu agar manusia bisa mencari dan mengenal Allah, lalu agar manusia bisa kembali ke dekat sisi 'Arsy-Nya yang sangat mulia dan agung, dengan mengenal dan sekaligus mengikuti jalan-Nya yang lurus (Islam), sebagai keredhaan-Nya bagi umat manusia.

"Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, dan agar dibalasi tiap-tiap diri, terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan." – (QS.45:22).

"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan (tujuan) yang benar dan ada waktu yang ditentukan. Dan …." – (QS.30:8).

"Kami tiada menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan (tujuan) yang benar, dan dalam waktu yang ditentukan. Dan …." – (QS.46:3).

"Dia menciptakan langit dan bumi, dengan (tujuan) yang benar (haq). Dia …." – (QS.39:5).

Segala jenis zat makhluk-Nya lainnya (bahkan segala zat ciptaan-Nya) diciptakan-Nya untuk kepentingan umat manusia, seperti: sebagai sarana bagi manusia untuk bisa menjalani dan mencapai kehidupan yang diinginkannya di dunia dan di akhirat; sebagai bahan pelajaran yang amat berlimpah ruah untuk bisa mengenal dan meraih keredhaan Allah; sebagai sarana Allah untuk menguji keimanan manusia; dsb.

"Dia-lah Allah, Yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk (kepentingan) kamu. Dan …." – (QS.2:29).

"Tidakkah kamu perhatikan, sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu, apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan …." – (QS.31:20).

"Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut, (untuk) membawa apa yang berguna bagi manusia. Dan …." – (QS.2:164).

"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an), untuk manusia, dengan membawa kebenaran. Siapa …." – (QS.39:41).

Manusia berbuat untuk kepentingannya sendiri, ataupun untuk kepentingan orang-lain. Tetapi dari segala perbuatannya itu (baik ataupun buruk) hanyalah ia sendiri yang memperoleh balasan-Nya (nikmat atau hukuman-Nya).

Dan makin banyak orang terpengaruh (baik ataupun buruk) atas perbuatannya, maka makin besar pula balasan-Nya itu (dilipat-gandakan-Nya).

"Katakanlah: '…, bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan …," – (QS.2:139).

"Barangsiapa yang kafir, maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu. Dan barangsiapa yang beramal shaleh, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (kehidupan akhiratnya)," – (QS.30:44).

"Dan sesungguhnya, mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain, dari pengaruh perbuatannya pada orang-lain) disamping beban-beban mereka sendiri, dan …." – (QS.29:13).

"Barangsiapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya. Dan barangsiapa yang memberikan syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) darinya. …." – (QS.4:85).

'Akal' adalah satu-satunya sarana pada manusia, yang memiliki otoritas untuk memilih atau menentukan segala sesuatu hal sebagai pengetahuan, dari segala hasil tangkapan alat-alat indera lahiriah dan batiniah manusianya.

Walau pengetahuan manusia pada dasarnya bersifat subyektif menurut tiap manusia itu sendiri. Namun jika diperoleh secara amat cermat dan mendalam, dari mempelajari dan memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya (atau ayat-ayat-Nya yang tak tertulis) yang ada di seluruh alam semesta, maka pengetahuan manusia itupun bisa menjadi bersifat amat obyektif (relatif amat sesuai dengan berbagai kebenaran-Nya yang bersifat universal).

Pengetahuan yang bersifat amat obyektif inilah yang biasa disebut "hikmah dan hidayah kebenaran-Nya" (Al-Hikmah). Amat banyak keutamaan yang disebut dalam Al-Qur'an, tentang orang yang berilmu-pengetahuan, berpikir atau memakai akalnya, dsb.

Dan pengetahuan atau pemahaman ini hanyalah menjadi utuh, jika disertai dengan pengamalannya melalui sikap, perkataan dan perbuatan.

Akal (pengetahuan dan kecerdasan untuk memilih) dan nafsu (semangat dan keinginan untuk berkembang) adalah modal utama bagi setiap manusia, untuk menjadi khalifah-Nya (penguasa) di muka Bumi.

Justru hanya manusia yang diciptakan-Nya diciptakan-Nya akal dan nafsu yang relatif sempurna secara bersamaan, sehingga manusia bisa bebas dalam berkehendak dan berbuat.

Sedangkan segala zat makhluk-Nya lainnya (nyata dan gaib) tidak memiliki nafsu (lebih tepatnya, nafsunya amat stabil), sehingga mereka justru pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah-Nya.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang ketundukan para makhluk gaib (termasuk iblis) kepada Allah, untuk memberi pengajaran dan ujian-Nya bagi manusia, tiap saat sepanjang hidupnya.

Tidak ada yang mendorong Allah untuk berbuat sesuatu. Dan "dorongan" dari dan oleh Allah sendiri justru hanya terjadi ketika Allah merencanakan penciptaan alam semesta, dengan Maha sempurna menetapkan atau sekehendak-Nya mengatur segala sesuatu hal yang menyangkut alam semesta.

Setelah penciptaan alam semesta dimulai, justru tidak ada perubahan pada segala kehendak atau perbuatan-Nya di alam semesta ini, atau Allah justru tidak berbuat sekehendak-Nya di alam semesta ini.

Bahkan segala kehendak dan perbuatan-Nya di alam semesta ini telah ditentukan atau ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta itu sendiri, dan kekal (tidak berubah) sampai akhir jaman. Juga tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya

"Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah." – (QS.33:62).

"Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku, sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu." – (QS.48:23).

"…. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang …." – (QS.10:64).

Segala kehendak dan perbuatan-Nya (lahiriah dan batiniah) di alam semesta bersifat pasti dan jelas, yang hanya melalui segala aturan-Nya atau sunatullah, yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian atas segala zat-zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta.

Sunatullah (Sunnah Allah, hukum, aturan-Nya) adalah perwujudan ataupun 'sebutan' lain dari segala kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta.

Proses pada sunatullah bersifat mutlak (pasti terjadi) dan kekal (pasti konsisten atau tidak berubah), juga berlaku setiap saat, amat sangat jelas, teratur, alamiah, halus atau tidak kentara (gaib), dan seolah-olah terjadi begitu saja.

Proses pada sunatullah berlaku setiap saat dan pasti sesuai dengan keadaan (internal dan eksternal, lahiriah dan batiniah) dan tiap zat ciptaan-Nya.

Keadaan internal adalah keadaan yang melekat pada zat ciptaan-Nya.

Pada manusia keadaan internalnya pada saat berbuat, meliputi: niat, tingkat kesadaran, tingkat keimanan, tingkat keterpaksaan, beban tanggung-jawab, dsb.

Keadaan eksternal adalah keadaan lingkungan sekitar, yang ikut berpengaruh (secara langsung ataupun tidak) kepada zat ciptaan-Nya. Keadaan eksternal ini sering dikenal sebagai cobaan atau ujian-Nya (lahiriah dan batiniah).

Tiap manusia dengan pengetahuan dan kemampuannya, tiap saatnya bisa pula memilih atau berusaha mengubah berbagai keadaannya (lahiriah dan batiniah), atau bisa berusaha memilih nasib atau takdir-Nya baginya.

"…. Sesungguhnya Allah tidaklah mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka telah mengubah keadaan, yang ada pada diri mereka sendiri. Dan …." – (QS.13:11).

Keadilan Allah adalah keadilan Maha raja konstitusionil, yang kekuasaannya mengikuti (bukan dibatasi) hukum-Nya, aturan-Nya atau sunatullah. Walau hukum itu diciptakan-Nya sendiri.

"(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya. Niscaya …." – (QS.4:13).

"…. Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Rabb-mu. Dan …." – (QS.2:149).

"Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya, dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, sedang ia kekal (tinggal) di dalamnya. Dan baginya siksaan-Nya yang menghinakan." – (QS.4:14).

Tiada kemuliaan bagi segala sesuatu hal yang berlaku tidak konsisten atau cenderung melanggar segala ketetapan (hukum, aturan) yang telah dibuatnya sendiri. Sedangkan Allah Yang Maha suci justru penuh dengan segala keagungan dan kemuliaan.

"Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu, Yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." – (QS.55:27).

"Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang ditetapkan." – (QS.15:4).

Keadilan pada dasarnya hanyalah relevan diperdebatkan, pada peristiwa hukum yang bersifat temporer dan sesaat, dan pada otoritas hukum yang tidak kekal.

Sedangkan segala perbuatan-Nya di alam semesta ini justru bersifat mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah), Dan Allah memang bersifat Maha Kekal.

Maka keadilan Allah menjadi sangat tidak relevan untuk diperdebatkan, karena keadilan Allah telah menjadi bagian dari kehendak atau rencana Allah sebelum penciptaan alam semesta.

Mempertanyakan sifat Allah Yang Maha Adil, justru sama artinya dengan meragukan kesempurnaan rencana Allah dalam menciptakan alam semesta itu sendiri.

Keadilan Allah telah terkandung di dalam sunatullah, tentang proses pemberian segala bentuk balasan-Nya (nikmat atau hukuman-Nya), secara lahiriah dan batiniah, yang pasti setimpal dengan tiap perbuatan manusia.

"Di hari (Kiamat) itu, Allah akan memberi mereka balasan, yang setimpal menurut semestinya, dan …." – (QS.24:25).

"Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta tentang Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya. Orang-orang itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). …." – (QS.7:37).

"Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian, dari apa yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya." – (QS.2:202).

Begitu pula amat tidak relevan untuk memperdebatkan perbuatan-Nya, yang misalnya adil, tidak zalim, tidak aniaya atau tidak sewenang-wenang terhadap manusia; perbuatan-Nya baik bagi manusia; pelaksanaan janji, ancaman dan kewajiban-Nya terhadap manusia pasti terjadi atau pasti tidak dilupakan-Nya; Allah berbuat semestinya, serta sesuai dengan kepentingan manusia; dsb.

Karena semua itu memang pasti terjadi dan tidak berubah, bukanlah sebaliknya.

"…. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna, terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (tidak akan menanggung beban-beban dosa orang-lain)." – (QS.2:281).

"…. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji-Nya." – (QS.3:9).

Daya, kehendak dan perbuatan manusia bukanlah daya, kehendak dan perbuatan Allah, tetapi daya, kehendak dan perbuatan Allah pasti selalu menyertai 'di belakang' tiap perbuatan manusia, untuk sekaligus memberi balasan-Nya setimpal tiap saatnya.

Manusia berbuat baik atau buruk atas kehendak manusia itu sendiri.

Tiap manusia benar-benar harus dan hanya bertanggung-jawab atas hasil dari tiap perbuatannya sendiri.

Manusia sama sekali tidak dianiaya-Nya, ataupun sama sekali tidak menanggung dosa-dosa manusia lainnya (yang sama sekali tidak terkait dengan perbuatannya).

Balasan-Nya (lahiriah dan batiniah) atas tiap perbuatan manusia, pasti setimpal dengan perbuatan itu sendiri.

Namun hanya hak Allah Yang Maha mengetahui besarnya balasan-Nya yang setimpal tersebut, termasuk setimpal sesuai dengan beratnya beban ujian-Nya.

Bentuk balasan-Nya yang paling hakiki adalah balasan-Nya yang berbentuk batiniah, karena langsung terkait dengan kehidupan akhirat manusia (kehidupan batiniah ruh).

"…. Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan, tentang apa yang ia kerjakan dengan setimpal, sedang mereka tidak dianiaya." – (QS.3:161).

"Di hari (Kiamat) itu, Allah akan memberi mereka balasan, yang setimpal menurut semestinya, dan …." – (QS.24:25).

"Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (nikmat dan kemuliaan) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." – (QS.32:17).

"…. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi-Nya sebagai balasan yang paling baik, dan yang paling besar pahalanya. Dan …." – (QS.73:20).

Allah mustahil menghukum anak orang musyrik (yang belum akil-baliq), akibat dosa-dosa orang-tuanya. Dan Allah mustahil dapat menyakiti anak-anak kecil (yang belum akil-baliq) di Hari Kiamat.

Pada anak-anak yang belum akil-baliq itu, tidak ada sesuatu alasanpun untuk meminta pertanggung-jawaban atas tiap perbuatannya, karena mereka justru sama-sekali tidak memiliki kesadaran dalam berbuat (belum bisa membedakan baik dan buruk).

Bahkan setiap ruh anak manusia terlahir secara sangat suci-murni dan sangat bersih dari dosa. Sehingga tiap manusia pastilah masuk ke dalam Surga, jika meninggal dalam keadaan belum akil-baliq (belum dewasa).

"Itu adalah umat yang lalu, baginya apa yang telah diusahakannya, dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak dimintai pertanggung-jawaban, atas apa yang telah mereka kerjakan." – (QS.2:134).

"… . Kamu tidak memikul tanggung-jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung-jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang …." – (QS.6:52).

Allah mustahil bisa memasukkan seluruh manusia ke dalam Surga, dan Allah mustahil memasukkan seluruh manusia ke dalam Neraka.

Karena tujuan diciptakan-Nya alam semesta sangat jelas, yaitu untuk menguji keimanan tiap umat manusia. Sedang secara manusiawi, mustahil manusia diciptakan-Nya hanya beriman ataupun hanya kafir "seluruhnya".

"…. Akan tetapi mereka (cenderung selalu) berselisih. Maka ada di antara mereka yang beriman, dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. …." – (QS.2:253).

Allah pasti memberi upah kepada orang yang patuh kepada perintah-Nya, dan Allah juga pasti memberi hukuman kepada orang yang menentang perintah-Nya.

Upah atau hukuman-Nya secara lahiriah pastilah sama antara hasil dari tiap perbuatan lahiriah yang sama dari orang beriman dan dari orang kafir (segala keadaan lainnya persis sama, yang berbeda hanya pelakunya).

Hal yang berbeda justru upah atau hukuman-Nya secara batiniah.

Karena landasan batiniah pada orang kafir dalam berbuat mengandung cacat (terutama kecacatan tauhidnya, yang mendasari seluruh kehidupan tiap manusia).

"…. Dan Allah memberi rejeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, tanpa batas (kepada orang yang kafir ataupun yang beriman)." – (QS.2:212).

"…. Dan Engkau beri rejeki, kepada siapa yang Engkau kehendaki, tanpa dihisab (tanpa dibatasi, ditunda-tunda dan sesuai dengan usahanya)'." – (QS.3:27).

Ke-Maha Adil-an Allah yang terkait dengan keimanan ataupun kekafiran tiap manusia, sesungguhnya justru bukanlah berada pada aspek lahiriah, tetapi pada aspek batiniah, yang memang cenderung relatif jauh lebih sulit dipahami oleh manusia umumnya.

Balasan-Nya pada aspek lahiriah, justru tidak terlalu terkait dengan keimanan manusia. Sederhananya, secara lahiriah penampilan orang beriman dan orang kafir, tidak tampak berbeda, demikian pula hasil usaha lahiriahnya.

"Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertaqwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi-Nya adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui." – (QS.2:103).

"…. Dan apa-apa yang kamu usahakan untuk kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya dari sisi-Nya. Sesungguhnya, Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan." – (QS.2:110).

Hanya hak Allah atau hanya Allah Yang Maha mengetahui siapa sebenarnya di antara manusia yang beriman ataupun yang kafir.

Penilaian Allah ini belum tentu sesuai dengan penilaian relatif-subyektif manusia.

Keimanan atau kekafiran memiliki berbagai tingkatan yang amat sangat luas.

Dan relatif tidak ada seorangpun manusia dewasa yang bersih dari dosa-dosa, termasuk dosa-dosa kecil. Sebaliknya relatif tidak ada yang tidak pernah melakukan kebaikan sebesar biji zarrah sekalipun.

Walau dalam Al-Qur'an terdapat gambaran atau ukuran secara umum tentang keimanan atau kekafiran, dan juga ada batasan-batasan tertentu.

Tetapi keimanan atau kekafiran bukanlah penilaian sesaat dan mudah tampak, juga meliputi seluruh kehidupan tiap manusia sejak akil-baliq sampai wafatnya, termasuk adanya taubat dan tingkat kesadaran atau tanggung-jawab manusia dalam berbuat, yang juga tidak tampak (bersifat gaib).

Maka bukanlah hal yang penting untuk mengurus keimanan ataupun kekafiran orang lain, kecuali untuk tujuan "ber-amar ma'ruf nahi munkar".

Bahkan pada akhirnya (di Hari Kiamat), tiap manusia sesungguhnya justru hanya mengurus atau mempertanggung-jawabkan tiap amal-perbuatannya sendiri.

"Dan sesungguhnya, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya, Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta." – (QS.29:3).

"Katakanlah: 'Tiap-tiap orang berbuat, menurut keadaannya masing-masing'. Maka Rabb-mu lebih mengetahui, siapa yang lebih benar jalannya." – (QS.17:84).

"Katakanlah: 'Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi; dan perbuatan dosa, (yang) melanggar hak manusia (dengan) tanpa alasan yang benar; mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu; dan mengada-adakan tentang Allah, (dengan) apa saja yang tidak kamu ketahui'." – (QS.7:33).

"Dan jikalau Rabb-mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia, supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya." – (QS.10:99).

Allah tidak dapat meletakkan beban ujian-Nya, yang tidak dapat dipikul oleh manusia.

Karena kekuasaan tiap manusia (sebagai khalifah-Nya) sesungguhnya berada pada aspek batiniah, dimana manusia berkuasa dan bebas sepenuhnya untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

Dan kata "beban" pada dasarnya hanyalah menyangkut aspek batiniah.

Sedang pada aspek lahiriah, kekuasaan manusia memang amat terbatas.

Baca pula uraian topik "Beban di luar kemampuan manusia" di bawah.

"…. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekedar kesanggupannya. Dan …," – (QS.6:152).

Topik: Kewajiban-kewajiban Allah

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

Kewajiban-kewajiban Allah

Segala perbuatan-Nya di seluruh alam semesta ini (melalui sunatullah, lahiriah dan batiniah) bersifat mutlak (pasti terjadi) dan kekal (pasti konsisten atau tidak berubah), juga berlaku setiap saat, amat sangat jelas, teratur, alamiah, halus atau tidak kentara (gaib), dan seolah-olah terjadi begitu saja.

Pelaksanaan sunatullah dikawal oleh tak-terhitung jumlah para malaikat.

"dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan(-Nya di dunia)," – (QS.79:5).

"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril, dengan ijin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan(-Nya di dunia)." – (QS.97:4).

Pada segala kehendak atau rencana Allah dalam penciptaan alam semesta, memang terkandung pula segala kewajiban-Nya kepada manusia, yaitu kewajiban untuk berbuat baik dan terbaik bagi manusia, yang dipilih-Nya sebagai khalifah-Nya.

"Allah berfirman: 'Ini adalah jalan yang lurus. Kewajiban Aku-lah (untuk menjaganya)." – (QS.15:41).

"Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk," – (QS.92:12).

"Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman." – (QS.10:103).

"…. Dan Kami selalu berkewajiban (untuk) menolong orang-orang yang beriman." – (QS.30:47).

"kemudian sesungguhnya, kewajiban Kami-lah (untuk) menghisab mereka." – (QS.88:26).

 

Segala perbuatan Allah dalam melaksanakan segala kewajiban-Nya itu, juga telah terkandung pada sunatullah (segala aturan atau rumus proses kejadian di alam semesta).

Maka petunjuk atau pertolongan-Nya itu tidaklah datang begitu saja, bahkan hanyalah bisa terjadi, melalui segala hasil usaha tiap manusianya sendiri.

Tetapi segala perbuatan Allah di alam semesta inipun (melalui sunatullah) juga kurang tepat jika dinilai sebagai bersifat 'wajib' ataupun 'tidak wajib'. Karena sunatullah justru bersifat mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah).

Juga manusia hanyalah hak Alah, dan hanyalah zat ciptaan-Nya.

Sedang kata "kewajiban" yang dikenal oleh manusia, justru bersifat sesaat dan seolah-olah memaksa sesuatu, agar pada saatnya, ia mesti memberi kepada sesuatu yang lainnya yang berhak, sesuatu hak yang terhutang darinya.

Ringkasnya, istilah 'wajib' ataupun 'tidak wajib' hanya sesuai diterapkan kepada hal-hal yang bersifat tidak mutlak (tidak pasti terjadi) dan tidak kekal (berubah-ubah), seperti halnya segala perbuatan makhluk.

Segala kewajiban-Nya juga terlalu amat sangat ringan (tidaklah ada artinya) bagi Allah untuk bisa melaksanakannya, melalui aturan-Nya (sunatullah), yang bahkan ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta itu sendiri.

Dan kemudian pelaksanaan sunatullah itu dikawal oleh tak-terhitung jumlah ruh para malaikat.

"Allah, tidak ada ilah melainkan Dia, Yang Hidup kekal, lagi terus-menerus mengurus (segara zat ciptaan-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya (segala) apa yang di langit dan di bumi. …. Kursi Allah (tempat keberadaan Allah) meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi, lagi Maha Besar." – (QS.2:255).

"Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah), melainkan Dia. Yang hidup kekal, lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya." − (QS.3:2).

"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan-Nya) …" − (QS.35:1).

"dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan(-Nya di dunia)," − (QS.51:4).

"dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan(-Nya di dunia)," − (QS.79:5).

"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril, dengan ijin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan(-Nya di dunia)." − (QS.97:4).

Dan pada kewajiban-kewajiban-Nya lainnya, seperti: menepati janji-janji-Nya, mengutus para nabi dan rasul-Nya untuk memberi petunjuk kepada manusia, memberi rejeki kepada manusia, dsb, juga telah diatur dalam sunatullah yang bersifat amat sangat alamiah tersebut.

Baca pula topik "Para nabi dan rasul utusan-Nya", tentang mengirim para nabi dan rasul-Nya. Dan baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)", tentang pemberian janji-Nya (balasan-Nya berupa upah dan hukuman) ataupun rejeki-Nya kepada manusia.

Segala kewajiban-Nya kepada umat manusia justru sama sekali bukanlah hal yang bertentangan ataupun mengurangi kehendak dan kekuasaan mutlak-Nya.

Kalau Allah terang-terangan menampak kekuasaan-Nya sesungguhnya, maka manusia tidak akan sempat melihatnya, karena seluruh alam semesta ini telah hancur terlebih dahulu, ataupun seluruh manusia pasti akan beriman kepada-Nya.

Bahkan tidak ada sesuatupun zat ciptaan-Nya yang bisa mengetahui berbagai kesempurnaan dan kemuliaan-Nya, jika Allah berbuat "sekehendak-Nya".

Allah hanyalah berbuat sekehendak-Nya, ketika merencanakan segala sesuatu halnya, 'sebelum' penciptaan alam semesta ini.

Dan justru Allah berkehenadak menyembunyikan secara samar-samar segala kekuasaan-Nya dari manusia, agar bisa menguji keimanannya, agar ia bisa mencari dan mengenal Tuhan Yang menciptakannya, dan agar ia bisa kembali dekat di sisi 'Arsy-Nya.

"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh, yang mencatat segala kehendak dan ketetapan-Nya itu)." – (QS.13:39).

"Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi, dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh), sebelum Kami menciptakannya. …." – (QS.57:22).

Setelah awal penciptaan alam semesta itu justru Allah hanyalah duduk di 'Arsy-Nya, sedang segala proses kejadian atas segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta, hanyalah berjalan "otomatis" dengan diatur-Nya melalui sunatullah, yang pelaksanaannya dikawal oleh tak terhitung jumlah para malaikat.

"Sesungguhnya Rabb-kamu adalah Allah Yang menciptakan langit dan bumi (dan apa yang ada di antara keduanya) dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. …." – (QS.10:3) dan (QS.13:2, QS.25:59, QS.32:4, QS.57:4).

 

Berbagai proses yang seolah-olah tampak "tidak otomatis" (tidak mutlak dan tidak kekal) hanyalah segala hasil dari perbuatan makhluk-Nya, terutama manusia yang telah diberikan-Nya kebebasan dalam berkehendak dan berbuat.

Tetapi di luar segala kebebasan makhluk-Nya (yang tetap dibatasi oleh sunatullah), segala proses lainnya (lahiriah dan batiniah) pada tiap manusia sebenarnya tetap berjalan "otomatis", dengan atau tanpa disadari oleh manusia itu sendiri.

Contoh sederhananya: makanan pada saat dicerna oleh alat-alat pencernaan manusia; kuku saat tumbuh; air mata keluar, saat sedang sedih; manusia bebas melempar bola ke segala arah, tetapi jauhnya lemparan diatur-Nya; dsb.

"dan bahwasanya Dialah yang (telah) menjadikan orang tertawa dan menangis," – (QS.53:43).

"Dialah yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan …." – (QS.10:22).

"Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha." – (QS.25:47).

"Dialah yang meniupkan angin, (sebagai) pembawa khabar gembira, dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (air hujan); dan Kami turunkan dari langit, air yang amat bersih," – (QS.25:48).

"Allah-lah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai, dan sebagiannya untuk kamu makan." – (QS.40:79).

Topik: Berbuat baik dan terbaik

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

Berbuat baik dan terbaik

Kewajiban Allah untuk berbuat baik, bahkan yang terbaik bagi manusia.

Tetapi hal ini kurang tepat atau kurang relevan disebutkan sebagai "kewajiban". Dan lebih tepatnya, hal ini sebagian dari kehendak atau rencana Allah dalam penciptaan alam semesta ini, sebagai perwujudan dari Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji Allah).

Baca pula topik "Keadilan Allah" di atas.

Bahkan siksaan, hukuman atau azab-Nya (lahiriah dan batiniah) bagi seorang manusia selama di dunia ini, justru juga demi kebaikan manusia itu sendiri, ataupun sebagai bahan pelajaran bagi segala manusia lainnya.

Terutama agar tiap manusia bisa memahami hal-hal yang merugikan, membinasakan, merusak, menghinakan atau mengurangi kemuliaannya sendiri, agar kemudian ia tidak mengulanginya lagi dan bahkan makin memperbaikinya, di lain waktu.

"Kecuali mereka yang telah bertaubat, dan mengadakan perbaikan dan menyatakannya (secara tegas rasa penyesalannya). Maka terhadap mereka itulah, Aku menerima taubatnya. Dan Akulah Yang Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang." – (QS.2:160).

"Maka barangsiapa bertaubat. setelah melakukan kejahatan itu. dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya, Allah (telah) menerima taubatnya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." – (QS.5:39).

"…. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." – (QS.2:222).

Cobaan atau ujian-Nya (lahiriah dan batiniah) sesungguhnya bukanlah bentuk siksaan atau hukuman-Nya, walau seolah-olah sama-sama terasa "menyiksa" manusia.

Baca pula topik "Beban di luar kemampuan manusia", tentang ujian-Nya.

"Tiap-tiap yang berjiwa (ruh pada tubuh makhluk hidup nyata pasti) akan merasakan mati. Kami (pasti) akan menguji kamu, dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." – (QS.21:35).

"Dan (ingatlah), ketika Kami selamatkan kamu (Bani Israil) dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya. Mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki, dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Rabb-mu." – (QS.2:49).

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu (hai manusia), dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar," – (QS.2:155).

Topik: Beban di luar kemampuan manusia

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

Beban di luar kemampuan manusia

Allah tidak akan meletakkan beban ujian-Nya, yang tidak dapat dipikul oleh manusia.

Padahal tiap manusia telah ditunjuk-Nya atau mendapat amanat-Nya sebagai khalifah-Nya (penguasa) di muka Bumi (di dunia).

"…. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekedar kesanggupannya. Dan …," – (QS.6:152).

"…. Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekedar kesanggupannya. …." – (QS.7:42).

"…. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan (sebatas) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan, setelah kesempitan." – (QS.65:7).

Kekuasaan manusia sebagai khalifah-Nya, sesungguhnya berada pada aspek batiniah, dimana tiap manusia bebas berkehendak dan berkuasa sepenuhnya untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

Sedang pada aspek lahiriah, kekuasaan manusia memang amat terbatas.

Dan makna 'beban' ujian-Nya itupun pada dasarnya lebih terkait dengan aspek batiniah. Sedang pada alam batiniah ruh tiap manusia inilah jin, syaitan dan iblis, tiap saatnya selalu menggoda keimanan tiap manusia, terutama dengan mempermainkan nafsu manusia. Beban ujian-Nya adalah hawa nafsu-keinginan yang terhambat atau tidak terpenuhi.

Dengan mengatur alam batiniah ruhnya sendiri, maka tiap manusia justru bisa meringankan pula berat beban ujian-Nya yang dirasakannya, terutama dengan membina sikap-sikap, seperti: sabar, ikhlas, tawakal dan syukur.

Bahkan orang-orang yang Mukhlis, yang telah memiliki tingkat keikhlasan amat tinggi, mereka bisa mengatasi berbagai cobaan atau ujian-Nya (godaan iblis).

"Dan bersabarlah kamu, bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari, dengan mengharap keredhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka, (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang, yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." – (QS.18:28).

Cobaan atau ujian-Nya pada dasarnya bukanlah pengaruh yang berasal langsung dari Allah, melainkan hasil pengaruh dari saling berinteraksinya segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta (nyata dan gaib, makhluk hidup dan benda mati), secara langsung ataupun tidak.

Kalaupun mau disebut berasal dari Allah, adalah ujian-Nya yang timbul pada manusia sejak lahirnya (diciptakan-Nya), yang berupa berbagai bentuk cacat bawaan. Hal inipun pada dasarnya hanyalah karena pasangan sel benih dari kedua induknya yang memang mengandung cacat.

Pasti mustahil ada sesuatupun yang sanggup menghadapi pengaruh langsung dari daya Allah. Sedang manusia mestinya masih sanggup memikul beratnya beban ujian-Nya, dengan menerima secara apa adanya atas segala kehendak-Nya atau segala kejadian di alam semesta, yang mustahil bisa ditolaknya (berikhlas diri).

Walau tidak berasal langsung dari Allah, tetapi Allah tetap merasa ikut bertanggung-jawab atas beratnya beban ujian-Nya bagi manusia, karena hal ini termasuk bagian dari rencana Allah dalam menguji keimanan manusia.

Maka Allah menyesuaikan pemberian nilai amalan ataupun balasan-Nya atas tiap amal-perbuatan manusia (baik atau buruk), yang telah dilakukan ketika ia sedang mengalami berbagai beban ujian-Nya.

Lebih jelasnya, pada sunatullah tentang rumus proses pemberian balasan-Nya, juga telah diperhitungkan pengaruh dari segala keadaan yang menyangkut ujian-Nya.

Sederhananya, jika semakin berat beban ujian-Nya, maka pahala-Nya semakin berlipat ganda atas tiap amal-kebaikan. Sebaliknya justru beban dosa agak berkurang atas tiap amal-keburukan.

Seperti pada berbagai dosa tertentu yang masih bisa ditolerir, ketika dikerjakan sedang dalam keadaan amat sangat terpaksa (ada ujian-Nya).

"Sesungguhnya, Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya), sedang ia tidak menginginkannya, dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." – (QS.2:173).

Dan nilai amalan suatu perbuatan justrulah bukan dinilai dari "hasil"-nya (lahiriah dan batiniah), melainkan dinilai dari beratnya "proses berusaha"-nya (batiniah).

Bahkan nilai amalan ini bersifat pasti dan absolut (kekal), sama sekali tidak tergantung pada waktu dan ruang, juga tidak tergantung pada laknat ataupun do'a manusia. Jumlah nilai amalan absolut inilah yang dijumlah (dihisab-Nya) dengan amat cepat di Hari Kiamat.

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal, lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu, serta lebih baik untuk menjadi harapan (untuk masuk surga)." – (QS.18:46).

Maka pada dasarnya manusia sama sekali tidak perlu kuatir, dengan segala hal yang tidak terkait sama sekali dengan hasil perbuatannya sendiri (langsung ataupun tidak).

Serta ia sama sekali tidak perlu kuatir, dengan segala macam bentuk ujian-Nya.

Juga manusia sama sekali tidak perlu kuatir, dengan segala bentuk hasil dari segala perbuatannya. Hal yang jauh lebih penting adalah ia selalu berusaha berbuat yang terbaik, sesuai dengan keadaan dan kemampuannya selama kehidupannya, sesuai dengan keredhaan-Nya bagi manusia.

Sebaliknya, ia juga selalu berusaha memperbaiki segala kesalahannya.

Sederhananya, atas ijin-Nya, seorang fakir-miskin yang hidup tinggal di kolong jembatan di Jakarta, bisa lebih mulia di mata Allah, daripada seorang konglomerat Arab yang tiap hari shalat di Masjidil Haram. Namun bisa juga sebaliknya.

Tiap manusia bagaimanapun keadaannya, pasti memiliki kesempatan yang sama untuk bisa masuk Surga ataupun untuk bisa berada dekat di sisi 'Arsy-Nya.

Asalkan manusia tidak berbuat melampaui batas-batas tertentu, yang diajarkan dalam ajaran-ajaran agama-Nya, terutama tidak menyekutukan Allah.

"Katakanlah: 'Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing'. Maka Rabb-mu lebih mengetahui, siapa yang lebih benar jalannya." – (QS.17:84).

"Katakanlah: 'Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui," – (QS.39:39).

"Katakanlah: 'Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan." – (QS.6:135).

Bagaimana orang yang menjadi gila, setelah ia dewasa?, yang bukan akibat dari kecelakaan yang merusak sistem syaraf otaknya, karena orang ini pada dasarnya telah dianggap gagal memikul segala beban ujian-Nya kepadanya.

Bagi orang yang sejak lahir ataupun setelah dewasa, terkena cacat mental ("gila" atau kerusakan sistem syaraf otaknya), maka atas ijin-Nya, mereka akan langsung masuk Surga.

Karena hal ini justru sama sekali tidak terkait dengan hasil perbuatannya sendiri. Dan ia bukanlah termasuk orang yang bisa dianggap telah gagal dalam menjalani kehidupannya di dunia.

Sedang bagi orang yang gila, tetapi secara fisik otaknya tidak cacat sama sekali (otaknya bekerja relatif normal, tetapi ia kehilangan orientasi kehidupannya atau kehilangan keimanannya), maka atas ijin-Nya, mereka itu akan langsung masuk Neraka.

Orang ini tertimpa azab-Nya secara batiniah di dunia, akibat dari hasil segala perbuatannya sendiri, yang justru telah amat melemahkan keimanannya sendiri.

Dengan jenis orang gila yang terakhir ini yang relatif sangat sedikit jumlahnya, maka hal inipun juga merupakan bukti nyata, bahwa pada dasarnya manusia masih sanggup memikul segala beban ujian-Nya.

Maka tidaklah ada sesuatu alasanpun bagi manusia untuk perlu berputus-asa, karena sesungguhnya Allah justru telah relatif amat sangat banyak memberi segala keringanan ataupun kesempatan, untuk selalu bisa memperbaiki kehidupannya (secara lahiriah dan terutama secara batiniah), termasuk amat terbuka lebar pintu taubat-Nya, bagi orang yang benar-benar yang mau bertaubat.

"…. Sesungguhnya tiada berputus-asa dari rahmat-Nya, melainkan kaum yang kafir'." – (QS.12:87).

"Ibrahim berkata: 'Tidak ada orang yang berputus-asa dari rahmat Rabb-nya, kecuali orang-orang yang sesat'." – (QS.15:56).

"Mereka menjawab: 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus-asa'." – (QS.15:55).

"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku, yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (terlalu memperturutkan hawa nafsu berlebihan). Janganlah kamu terputus-asa dari rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." – (QS.39:53).

Justru hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya (pemakaian daya). Sedangkan hanya daya dan perbuatan Allah yang justru mengatur mewujudkan tiap perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" tiap perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, sekaligus untuk memberi balasan-Nya tap saatnya.

Perbuatan manusia bukanlah perbuatan Allah, tetapi perbuatan Allah justru pasti selalu menyertai tiap perbuatan manusia, untuk mewujudkannya atau memberi balasan-Nya.

"…. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat." – (QS.2:85).

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan (dari hasil pengaruh) syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu, agar kamu mendapat keberuntungan." – (QS.5:90).

"…. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. …." – (QS.6:70).

"Dan sekali-kali, mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat aniaya (terutama karena menghinakan dirinya sendiri)." – (QS.2:95).

Topik: Pengiriman rasul-rasul

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

Pengiriman rasul-rasul

Akal manuisa mestinya dapat mengetahui tentang segala bentuk alam gaib, yaitu yang berupa gaib "tindakan" (segala tindakan dari zat-zat gaib). Tetapi mustahil akal sanggup menjangkau gaib "zat" (zat Allah dan zat ruh-ruh makhluk-Nya).

Karena pada dasarnya, gaib "tindakan" itu bersifat amat sangat teratur, jelas terjadinya dan mengikuti aturan tertentu (aturan-Nya atau sunatullah). Walau juga bersifat amat sangat halus dan tidak kentara (gaib).

Begitu pula, akibat para pelakunya tidak tampak (gaib), sehingga ada berbagai kejadian di alam semesta ini, seolah-olah terjadi begitu saja.

Segala gaib "tindakan" itu mestinya memang bisa dipahami oleh akal manusia, karena Allah dan para makhluk gaib-Nya memang berkehendak agar manusia bisa mencari dan mengenal Allah Yang menciptakannya, melalui segala tindakan tersebut.

Tetapi Allah juga tidak terang-terangan menampak segala kekuasaan-Nya, ataupun tidak "menunjukkan" diri-Nya (bukan "menampakkan"), justru bertujuan untuk bisa menguji keimanan tiap manusia.

Baca pula topik "Kewajiban-kewajiban Allah"
di atas, tentang tujuan dari Allah untuk sengaja menyembunyikan kekuasaan-Nya.

Mustahil manusia bisa melihat "zat" Allah, di dunia ataupun di akhirat, dengan mata lahiriah (mata fisik) ataupun mata batiniah (akal), karena memang tidak akan sanggup.

Bahkan manusia pasti mustahil bisa sanggup 'melihat' (dengan indera-indera lahiriahnya) ataupun 'memahami' (dengan indera-indera batiniahnya) atas segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini.

Bukanlah hal yang penting bagi manusia, untuk bisa 'melihat' "zat" Allah.

Hal yang jauh lebih penting untuk dilakukan oleh tiap manusia (ataupun untuk diperdebatkan), adalah agar ia bisa makin jelas "merasakan" kehadiran-Nya dalam kehidupannya tiap saatnya (pada tiap tarikan napasnya, pada tiap detak jantungnya, pada tiap pandangan mata lahiriah dan batiniahnya, dsb). Juga ia agar bisa makin jelas mengenal Allah Yang telah menciptakannya (memahami sifat-sifat-Nya).

Karena hal ini merupakan salah-satu hal penting, yang menunjukkan bahwa manusia telah makin berhasil sebagai makhluk ciptaan-Nya. Dan atas ijin-Nya, hal ini akan bisa amat mewarnai setiap usahanya selanjutnya, untuk semakin mengabdikan dirinya kepada Allah, sampai akhir hidupnya.

Pengiriman para nabi dan rasul-Nya justru amat sangat penting.

Wahyu-Nya dari para nabi-Nya justru amat sangat penting, bukanlah karena diperbandingkan dengan kemampuan akal manusia biasa pada umumnya.

Bahkan wahyu-Nya juga merupakan pemahaman para nabi-Nya atas tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), dengan menggunakan "akal" mereka (terutama dalam hal-hal batiniah), setelah sambil dituntun oleh malaikat Jibril.

"Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar, hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (ciptaan-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan-Nya), supaya kamu menyakini pertemuan(mu) dengan Rabb-mu." – (QS.13:2).

"Dan Dia-lah Rabb Yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupi malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kaum yang memikirkan." – (QS.13:3).

 

Bahkan setiap wahyu-Nya pada dasarnya serupa dengan setiap hikmah dan hidayah-Nya yang bisa dicapai oleh tiap manusia, juga dengan menggunakan akalnya.

Tetapi tiap wahyu-Nya justru amat sangat penting (ataupun amat berbeda), karena tiap wahyu-Nya justru bagian dari suatu kesatuan seluruh wahyu-Nya pada seorang nabi-Nya, yang berupa bangunan pemahaman Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya) yang telah tersusun relatif 'sempurna' (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangannya), yang diperoleh seorang nabi-Nya melalui perantaraan malaikat Jibril, terutama atas hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia.

Tiap wahyu-Nya justru tidak berdiri sendiri atau tidak terpisah dari seluruh wahyu-Nya pada seorang nabi-Nya.

Kedalaman dan kelengkapan pengetahuan atau pemahaman pada para nabi-Nya itupun termasuk: tentang Allah dan hal-hal gaib; tujuan diciptakan-Nya alam semesta ini dan kehidupan manusia di dalamnya; seluruh aspek dan persoalan kehidupan umat pada jamannya masing-masing; dsb.

Selain itu juga amat konsisten antara pemahaman (keyakinan batiniah) dan pengamalannya (keyakinan lahiriah) pada para nabi-Nya, melalui sikap, akhlak, perkataan dan perbuatannya sehari-hari, juga sambil mengabdikan hampir seluruh kehidupannya bagi umat, terutama dalam memberi pengajaran dan tuntunan-Nya.

Keimanan atau keyakinan yang lengkap dan utuh (lahiriah dan batiniah) dan amat tinggi ini, amat sulit dicapai oleh manusia biasa pada umumnya.

Berbagai faktor di atas yang membuat tiap hikmah dan hidayah-Nya pada para nabi-Nya, pantas disebut sebagai sesuatu "wahyu-Nya", atau yang membuat kemuliaan atau keistimewaan wahyu-Nya mereka menjadi bernilai amat tinggi. Serta mengantarkan mereka kepada kenabiannya, dan sebagai panutan bagi umat.

Demi menjaga kemuliaan wahyu-Nya inilah, maka manusia biasa tidak disebut dituntun pula oleh malaikat Jibril. Padahal proses perolehan wahyu-Nya persis sama dengan proses perolehan hikmah dan hidayah-Nya bagi manusia biasa umumnya.

Wahyu-Nya (secara keseluruhan) justru amat sangat penting sebagai tuntunan yang lengkap bagi kehidupan seluruh umat manusia, terutama untuk membangun kehidupan batiniahnya (kehidupan akhiratnya), yang jauh lebih hakiki daripada kehidupan duniawi.

Kehidupan dunia fana ini semata-mata hanyalah sarana untuk membangun kehidupan batiniah ruhnya tiap manusia, yang justru tetap kekal, bahkan setelah Hari Kiamat (setelah disempurnakan-Nya nikmat dan hukuman-Nya).

Wahyu-Nya memang mengilhami, memperkuat dan menyempurnakan hal-hal yang bisa diketahui atau dipahami oleh manusia melalui akalnya.

Bahkan wahyu-Nya dan akal mustahil bisa saling bertentangan, jika pengetahuan atau pemahaman melalui akalnya tersebut, benar-benar diperoleh secara amat obyektif, dari memahami secara mendalam atas tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta.

Dan perbandingan antara wahyu-Nya dan akal ini mestilah pada tataran pemahaman hikmah dan hakekat dalam kandungan isi wahyu-Nya (ayat-ayat Al-Qur'an), bukan pada tataran makna tekstual-harfiahnya.

Mustahil "hikmah dan hakekat" wahyu-Nya bisa bertentangan dengan akal-sehat manusia, kecuali jika akal manusia memang belum mampu memahaminya.

Hal paling baik adalah wahyu-Nya diikuti, sambil perlahan-lahan juga bisa dipahami makna yang sebenarnya di dalamnya. Tingkat kesadaran atau pemahaman dalam berbuat suatu amal-kebaikan, justru amat mempengaruhi nilai amalannya.

"… . Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu berpikir," – (QS.2:219).

"Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua (Musa dan Harun), sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui'." – (QS.10:89).

"Dan janganlah kamu mengikuti, apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya; sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya." – (QS.17:36).

"Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti, kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak(lah) sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." – (QS.10:36).

"Apabila dikatakan kepada mereka: 'Marilah mengikuti apa yang diturunkan-Nya dan mengikuti Rasul'. Mereka menjawab: 'Cukuplah untuk kami apa yang kamu dapati bapak-bapak kami mengerjakannya'. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa, dan tidak (pula) mendapat petunjuk." – (QS.5:104) dan (QS.2:170).

Juga peran wahyu-Nya justru makin lama makin penting, karena persoalan umat manusia jauh makin kompleks setelah jaman nabi Muhammad saw, yang justru mustahil mampu diatasi semuanya hanya oleh seorang manusia saja dengan menggunakan akal dan kemampuannya.

Hal inilah dasar dari disebutnya nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir.

Bahkan sejak itu, peran tiap nabi-Nya mestilah atau hanyalah bisa dilanjutkan oleh sesuatu 'Majelis' para alim-ulama pada tiap jamannya yang berkewajiban mewarisi segala ajaran para nabi-Nya, dengan melahirkan berbagai Ijtihad sesuai dengan perkembangan umat dan jamannya masing-masing.

Dan peran wahyu-Nya juga tetaplah amat sangat penting, karena agama-Nya bukanlah hanya milik para alim-ulama ataupun orang-orang yang berilmu saja, tetapi milik seluruh umat manusia (termasuk umat yang sangat awam).

Tidak pada semestinya, jika sekelompok ahli ilmu agama (teolog) menyatakan, bahwa wahyu-Nya atau pengiriman para nabi-Nya itu tidaklah begitu penting, hanyalah karena mereka bisa memahami beberapa hikmah dan hidayah-Nya, yang lebih terang daripada manusia biasa lainnya.

Atau hanyalah karena pengiriman para nabi-Nya justru terjadi secara amat sangat alamiah, sebagaimana suatu kehendak jaman ataupun kodrat alam semata.

Padahal agama-Nya bukanlah hanya milik mereka saja. Padahal wahyu-Nya adalah dasar utama dari agama-Nya, yang telah mereka anut pula.

Padahal pengetahuan atau pemahaman mereka, justru banyak diilhami oleh wahyu-wahyu-Nya dari para nabi-Nya.

"Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama (untuk) kamu semua (hai manusia), agama yang satu. Dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertaqwalah kepada-Ku." – (QS.23:52).

"(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk, serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa." – (QS.3:138).

"Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira, dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." – (QS.34:28).

Pengiriman para nabi dan rasul-Nya memang demi kebaikan umat manusia.

Tetapi pengiriman para nabi-Nya kuranglah tepat disebut bersifat wajib, atau disebut sebagai salah-satu kewajiban Allah.

Karena diturunkan-Nya agama-Nya yang lurus, yang disampaikan oleh para nabi-Nya, justru merupakan perwujudan dari Fitrah Allah dan rencana Allah, untuk memberikan segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya bagi tiap umat manusia, sebagai khalifah-Nya.

Hal ini agar manusia tidaklah berjalan di muka Bumi, tanpa arah tujuan, atau tidaklah hanya dengan bermodalkan daya dan akalnya semata, tanpa dituntun-Nya sama sekali.

Dan dengan Fitrah Allah ini pula (sifat-sifat terpuji Allah), Allah menciptakan manusia dan seluruh alam semesta ini.

Sifat-sifat Allah itu (pada Asmaul Husna) tergambar melalui segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta, yang disebut sebagai: "tanda-tanda kekuasaan-Nya", "ayat-ayat-Nya yang tak tertulis", ataupun "Al-Qur'an berbentuk gaib, yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya".

Juga disebut sebagai "wajah-Nya", karena hanya segala hal yang ada di alam semesta itulah, satu-satunya yang bisa dikenal atau dipahami oleh manusia tentang Allah, dengan memakai alat-alat indera lahiriah dan batiniahnya, setelah dinilai oleh akalnya.

Bahkan penyampaian wahyu-Nya kepada para nabi-Nya oleh malaikat Jibril, bukanlah seperti, "Hai Rasul-Nya, Allah telah berfirman kepadamu …", "Saya Jibril, Allah telah berfirman kepadamu …" atau semacamnya.

Namun justru pemahaman atau keyakinan kuat yang telah dimiliki sebelumnya oleh para nabi-Nya, yang membuat mereka bisa menilai (dengan akalnya), berbagai pengajaran yang baru diperolehnya dari para makhluk gaib (termasuk malaikat Jibril), apakah berasal dari Allah (mengandung nilai-nilai kebenaran-Nya), ataupun bukan.

Bahkan manusia sama sekali tidak bisa mengetahui, siapa yang 'membisikkan' sesuatu hal dengan amat halus, ke dalam pikirannya (berupa ilham-ilham positif atau negatif), karena para makhluk gaib itu memang tidak tampak.

Justru "nilai" dari hal-hal yang dibisikkan itulah, yang bisa membedakan antara malaikat, jin, syaitan dan iblis.

Jika hal yang dibisikkan mengandung nilai-nilai kebenaran-Nya, maka pembisik atau penyampainya disebut malaikat Jibril. Dan hal inipun makin memperkuat pemahaman atau keyakinan yang ada sebelumnya, sampai akhirnya telah bisa mengantarkan para nabi-Nya kepada kenabiannya.

"dia (Al-Qur'an) dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)," – (QS.26:193).

"ke dalam hatimu (Muhammad), agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan," – (QS.26:194).

"Katakanlah: "Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkan (Al-Qur'an) ke dalam hatimu, dengan seijin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya, dan menjadi petunjuk, serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman"." – (QS.2:97).

"Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Rabb-mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk, serta khabar gembira, bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)"." – (QS.16:102).

Hanya akal, satu-satunya alat pada tiap manusia, untuk menilai tingkat "kebenaran" dari segala informasi lahiriah dan batiniah, yang ditangkap oleh berbagai alat inderanya itu, termasuk untuk menilai atau memahami: tanda-tanda kekuasaan-Nya, wahyu-Nya, Al-Qur'an, Hadits, ucapan orang-lain, bisikan para makhluk gaib, dsb.

Berbagai manusia tertentu (juga termasuk para makhluk gaib) justru bisa dengan amat mudah mengaku-aku, bahwa sesuatu keterangan adalah kebenaran-Nya, wahyu-Nya, Sunnah Nabi (hadits), dsb.

Maka mestilah telap dipakai akal-sehat dan pemahaman atau keyakinan yang telah ada sebelumnya, untuk bisa menilai kebenaran keterangan tersebut.

"Sebenarnya, Al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata, di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami, kecuali orang-orang yang zalim." – (QS.29:49).

"Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah adalah orang-orang yang pekak dan tuli (atas kebenaran-Nya), yang tidak mengerti apa-apapun." – (QS.8:22).

Topik: Janji dan ancaman-Nya

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

Janji dan ancaman-Nya

Dalam segala perbuatan-Nya di alam semesta ini (melalui aturan-Nya atau sunatullah), juga terkandung ke-Maha Adil-an Allah, dalam menepati janji-Nya (untuk memberi berbagai nikmat-Nya), dan menjalankan ancaman-Nya (untuk memberi berbagai hukuman-Nya), di dunia dan di akhirat.

Segala perbuatan-Nya sama sekali tidaklah relevan, jika dibandingkan dengan sifat adil atau tidak konsistennya manusia.

Karena segala "rumus proses" pemberian balasan-Nya (nikmat dan hukuman-Nya) dalam sunatullah, justru bersifat pasti berlaku (mutlak) dan tidak berubah-ubah (kekal), sejak ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta sampai akhir jaman.

Maka amat tidak relevan, jika segala perbuatan-Nya bisa dinilai bersifat: tidak baik, tidak adil, tidak konsisten, bisa berdusta, zalim atau aniaya, sewenang-wenang, sekehendak-Nya, melanggar janji-janji-Nya, dsb.

Penilaian semacam ini hanyalah relevan untuk hal-hal yang relatif, tidak pasti terjadinya (tidak mutlak) ataupun bisa berubah-ubah (tidak kekal), seperti yang biasanya terjadi pada manusia.

Bahkan hal-hal seperti itupun mustahil terjadi, karena justru bisa mengurangi atau menghilangkan segala kemuliaan dan kesempurnaan-Nya.

Segala kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya ataupun sifat-sifat mutlak-Nya lainnya, bukanlah pasti 'tampak nyata' bagi manusia, tetapi justru pasti 'tampak gaib' dalam segala halnya (amat sangat halus dan tidak kentara).

Dan sama-sekali tidak ada pertentangan antar semua sifat-Nya (pada Asmaul Husna), bahkan semua sifat-Nya merupakan satu kesatuan yang utuh, yang justru amat keliru atau amat berbahaya, jika hanya diperhatikan sebagian saja darinya.

Sifat-sifat adalah gambaran tentang sesuatu zat, menurut sesuatu di luar zat itu sendiri. Jika salah-satu saja dari sifat-sifat zat itu telah diabaikan atau tidak diperhatikan, maka tindakan ini sama saja dengan mengada-adakan sesuatu, yang berbeda dari zat itu sendiri.

Dalam hal ini sama saja dengan mengada-adakan "Tuhan lain", yang berbeda dari yang diketahui oleh nabi Muhammad saw (Allah Yang Maha sempurna).

Hal seperti itulah sumber utama dari timbulnya berbagai bentuk kemusyrikan (politheisme). Dan biasanya kesempurnaan sifat-sifat Tuhan, dikurangi untuk memenuhi berbagai kepentingan manusia (terutama berbagai kepentingannya yang bersifat duniawi, pada pembawa ataupun umat penganut kemusyrikan).

Justru manusia yang harus menilai kembali kebenaran penafsirannya atas segala perbuatan-Nya yang memang Maha Halus. Juga bukannya justru memaksakan penilaian amat subyektifnya, dalam menilai tentang Allah.

"Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau. Sesungguhnya, Allah Maha Halus, lagi Maha Mengetahui." – (QS.22:63).

"Di antara manusia, ada yang membantah tentang Allah, tanpa ilmu pengetahuan, dan …" – (QS.22:3).

Dalam Al-Qur'an dan Hadits, yaitu "siapa yang berbuat baik akan masuk surga, dan siapa yang berbuat jahat akan masuk neraka" dan "barang siapa yang menelan harta anak yatim piatu dengan cara tidak adil, maka ia sebenarnya menelan api masuk ke dalam perutnya".

Betul, sesuai pemahaman aliran Asy'ariah, bahwa kata "siapa" di atas memiliki arti "sebagian orang", bukan "semua orang".

Tetapi penilaian akhir tentang siapa yang berbuat baik atau jahat itu bukanlah ukuran atau konteks yang bersifat "sesaat" pada tiap kebaikan atau keburukan, melainkan justru diukur pada "sepanjang hidup" tiap manusia sampai wafatnya, untuk memperoleh balasan-Nya yang terakhir pula (Surga dan Neraka).

Ada pintu taubat yang bisa dilalui oleh tiap manusia sepanjang hidupnya, walau ada pula taubat yang tidak akan diterima-Nya (bagi dosa-dosa besar tertentu).

Konteks tentang "Surga atau Neraka" adalah hasil seluruh kehidupan manusia, sedangkan konteks tentang "sesuatu perbuatan" hanyalah sesaat tertentu saja dalam kehidupan manusia.

Maka ayat Al-Qur'an dan Hadits di atas juga amat sangat tidak relevan, untuk menilai bahwa Allah bisa berbuat sekehendak-Nya, atau bisa melanggar janji-janji-Nya (dalam memberi nikmat atau hukuman-Nya).

Bagi tiap perbuatan manusia memang pasti terdapat balasan-Nya yang setimpal. Tetapi balasan-Nya secara lahiriah justru tidak berbeda kepada orang yang berbuat baik ataupun orang yang berbuat jahat, dari sesuatu perbuatan yang sama (segala keadaannya sama pula, kecuali pelakunya yang berbeda).

Justru balasan-Nya secara batiniah yang berbeda bagi orang-orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat jahat (atau bagi orang beriman dan orang kafir).

Hanya hak Allah atau hanya Allah Yang Maha mengetahui besar balasan-Nya yang setimpal itu (lahiriah dan batiniah). Bahkan para nabi-Nya tidak memiliki pengetahuan dengan amat jelas tentang hal ini. Pengetahuan para nabi-Nya hanyalah bersifat umum dan relatif (seperti: pahalanya xx kali pahala daripada …).

Sesungguhnya nilai amalan atas setiap perbuatan manusia bersifat pasti dan absolut, sama sekali tidak tergantung waktu, ruang ataupun tidak tergantung laknat ataupun do'a manusia. Jumlah nilai amalan absolut inilah yang dijumlah (dihisab-Nya) dengan amat cepat di Hari Kiamat.

Seperti halnya segala bentuk balasan-Nya lainnya, balasan-Nya secara batiniah pasti mengubah keadaan-keadaan batiniah ruh pelakunya, tiap saatnya saat sesuatu amal-perbuatan sedang dilakukan (baik dan buruk).

Keadaan-keadaan batiniah ruh inilah yang bisa diusahakan untuk diperbaiki (disucikan) sepanjang hidup tiap manusia, melalui usaha bertaubat di atas.

Dan hasil dari diterima-Nya taubat inilah yang bisa membatalkan ancaman-Nya, untuk memberi hukuman kepada orang yang berbuat jahat.

"…. Dan Allah memberi rejeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, tanpa batas (kepada orang yang kafir ataupun yang beriman)." – (QS.2:212).

"…. Dan Engkau beri rejeki, kepada siapa yang Engkau kehendaki, tanpa dihisab (tanpa dibatasi, ditunda-tunda dan sesuai dengan usahanya)'." – (QS.3:27).

Keadaan-keadaan batiniah pada orang yang telah berbuat dosa-dosa besar, ada yang masih bisa diperbaiki, tetapi ada pula yang amat sulit diperbaiki (sulit untuk kembali ke jalan-Nya yang lurus, seperti pada kemusyrikan berat).

Hal ini sering disebut sebagai dijadikan-Nya buta, bisu, tuli atau pekak mata batiniah manusianya atas tiap kebenaran-Nya.

Tetapi kemusyrikan misalnya, amat luas cakupan dan tingkatannya, bukanlah hanya yang jelas-jelas tampak "menyembah" Ilah-ilah selain Allah, karena Ilah-ilah ini justru ada banyak bentuknya, seperti: berhala atau patung, orang suci, benda keramat, benda langit, nafsu (harta, tahta, wanita), anak atau keluarga, dsb.

Maka kemusyrikan juga ada yang paling berat sampai yang paling ringan.

Bentuk kemusyrikan berat adalah manusia jelas hanya menyembah kepada Ilah-ilah selain Allah (seperti: berhala atau patung, orang suci, benda keramat, benda langit, dsb).

Bentuk kemusyrikan menengah adalah manusia jelas menyembah kepada Allah, tetapi juga jelas masih menyembah kepada Ilah-ilah selain Allah (seperti: orang suci, benda-benda keramat, dsb).

Bentuk kemusyrikan ringan adalah manusia jelas hanya menyembah kepada Allah, tetapi tanpa sadar juga "menyembah" ilah-ilah batiniah (seperti: harta, tahta, wanita, anak atau keluarga, dsb).

Dan pada ketiga bentuk kemusyrikan itu, juga terdapat banyak variasinya.

Uraian berbagai kemusyrikan di atas, sekilas menggambarkan, tentang amat luasnya cakupan dan tingkatan sesuatu dosa tertentu.

Namun dalam berbagai ajaran agama Islam, juga terdapat berbagai penjelasan tentang batasan pada dosa-dosa yang amat sulit diperbaiki.

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati, yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga, yang dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." – (QS.22:46).

"Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat-Rabb-mereka, mereka tidaklah menghadapinya (kecuali) sebagai orang-orang yang tuli dan buta." – (QS.25:73).

"Mereka tuli, bisu, dan buta (terhadap kebenaran-Nya), maka tidaklah mereka akan dapat kembali (ke jalan yang benar)," – (QS.2:18).

Surga dan Neraka memiliki banyak sekali tingkatan. Beberapa tingkatan yang disebut dalam Al-Qur'an, hanyalah pengelompokkan secara umum, sebagai contoh gambaran.

"Dan bagi orang yang takut (pada) saat menghadap Rabb-nya, ada dua surga." – (QS.55:46).

"Dan selain daripada (dua) surga itu, ada dua surga lagi." – (QS.55:62).

Sekali lagi Surga dan Neraka justru memiliki banyak sekali tingkatan, bahkan jauh lebih banyak dari yang disebut dalam Al-Qur'an, yang hanya sebagai contoh pengelompokkan secara umum dan perumpamaan simbolik.

Sehingga tidak perlu untuk disebut, bahwa Allah akan memasukkannya ke dalam Surga atau Neraka, buat sementara atau buat selama-lamanya, karena semuanya pasti buat selama-lamanya (kekal).

Adanya keterangan tentang tinggal "sementara" di Surga ataupun di Neraka, diduga karena:

a.

Konteks Surga dan Neraka di sini adalah keadaan batiniah tiap ruh manusia selama di dunia (atau kehidupan akhiratnya selama di dunia).

Tinggal sementara di Surga adalah orang itu awalnya beriman, lalu murtad dan meninggal dunia dalam keadaan kafir. Dalam arti yang lainnya, ia terlalu menikmati Surga duniawi, tetapi melupakan kehidupan akhiratnya.

Tinggal sementara di Neraka adalah ia awalnya kafir-musyrik, lalu masuk Islam dan meninggal dunia dalam keadaan beriman. Dalam arti yang lainnya, ia telah bersusah payah membangun kehidupan akhiratnya di dunia, dan juga tidak melampaui batas dalam kehidupan dunia fananya.

Konsep "tinggal sementara" di sini cukup mudah diterima oleh akal-sehat, dan cukup sering disebut dalam Al-Qur'an.

b.

Konteks Surga dan Neraka di sini adalah adanya berbagai ayat dalam Al-Qur'an, tentang janji dan ancaman-Nya untuk memberi Surga atau Neraka, pada sesuatu amal-perbuatan tertentu.

Maka konsep "tinggal sementara" itu adalah hasil kompromi dari adanya ayat-ayat tersebut.

Tetapi konsep "tinggal sementara" di sini cukup sulit bisa diterima oleh akal-sehat, karena sepanjang hidupnya tiap manusia umumnya jarang yang sama sekali bersih dari dosa, sebaliknya juga jarang yang tidak pernah melakukan kebaikan.

Sehingga ia bisa pula pernah "beberapa kali" dijanjikan-Nya dengan Surga, sebaliknya juga pernah "beberapa kali" diancaman-Nya dengan Neraka.

Akhirnya, konsep "tinggal sementara" di sini bisa menimbulkan beberapa pertanyaan ataupun keraguan, seperti:

~ Apakah penghisaban "masih ada artinya", karena tidak langsung selesai menimbang sekaligus "seluruh" amal-perbuatan tiap manusianya?;
~ Di manakah tempat tinggal pertama kali ataupun terakhir kalinya?; Juga apakah lolos lebih dahulu saat melewati Sirath?;
~ Apakah ada pindah tempat tinggal secara besar-besaran jutaan manusia dari Surga ke Neraka, ataupun sebaliknya (bisa beberapa kali pula)?;
~ Berapa lama masing-masing "tinggal sementara" di Surga dan di Neraka, sementara tempat tinggal terakhirnya mestinya bersifat kekal?; dsb

 

Hal yang lebih masuk akal adalah, "segala nilai amalan" yang dikumpulkan oleh tiap manusia sepanjang hidupnya, dijumlah-Nya (dihisab-Nya) di Hari Kiamat. Lalu dari jumlah nilai amalan itulah ditentukan-Nya langsung bentuk janji atau ancaman-Nya yang sesungguhnya (Surga ataupun Neraka), atau ditentukan-Nya langsung tempat tinggalnya yang terakhir, untuk selama-lamanya (tidak perlu ada lagi "tinggal sementara" semacam ini).

 

"Itu hanyalah kesenangan (duniawi yang) sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam. Dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya." – (QS.3:197).

"…. Katakanlah: 'Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu (di dunia). Sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka'." – (QS.39:8).

Allah bisa memberi ampunan kepada seseorang, tetapi di lain pihak tidak bisa memberi ampunan kepada orang-lain, yang telah berbuat dosa yang sama.

Tetapi "ampunan" sama-sekali tidak ada kaitannya dengan pemberian balasan-Nya, yang diberikan-Nya tepat pada saat perbuatan dosa itu selesai dilakukan (kedua orang ini pasti tetap mendapat balasan-Nya yang sama).

"Ampunan" justru hanya terkait dengan berbagai balasan-Nya atas perbuatan lainnya, sebagai usaha bertaubat manusia atas dosa-dosanya sebelumnya.

"Sama saja bagi mereka, kamu mintakan atau tidak kamu minta (ampunan) bagi mereka, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." – (QS.63:6).

"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, Yang tidak tampak oleh mereka (karena Maha gaib), mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar." – (QS.67:12).

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa," – (QS.3:133).

Topik: Sifat Allah pada umumnya

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

Sifat Allah pada umumnya

Allah justru sangat jelas mempunyai sifat-sifat, yang disebutkan pada berbagai nama-nama terbaik yang hanya milik Allah (Asmaul Husna).

Bahkan ribuan kali disebut dalam Al-Qur'an (seperti "Yang Maha …").

Sifat pasti melekat pada suatu zat (esensi), atau mustahil ada sifat tanpa ada zatnya. Mustahil ada zat tanpa memiliki sifat, kecuali zat itu memang tidak ada.

Karena itu sifat suatu zat yang paling dasar dan minimal adalah "ada" atau "wujud".

Tetapi 'sifat' pasti tetap berbeda dengan 'zat' atau 'esensi'.

Karena sifat hanyalah hasil penilaian atau pemahaman atas esensi dan segala tindakan sesuatu zat, oleh segala sesuatu di luar zat itu sendiri.

Maka paham tentang banyak sifat-sifat-Nya yang kekal, sama sekali bukanlah suatu kemusyrikan atau politheisme, jika sifat-sifat itu hanyalah milik "satu" zat saja, yaitu Zat Allah, Yang Maha kekal dan Maha Sempurna.

Tetapi kemusyrikan justru bisa timbul, jika manusia hanyalah mengakui atau menyakini sebagian dari sifat-sifat Zat Allah, karena manusia itu sama saja dengan menyembah sesuatu yang "bukan" atau "lain dari" Zat Allah sendiri.

Hakekat sesuatu zat akan berkurang (berbeda dari zat yang sesungguhnya), jika hanya salah-satu saja dari sifat-sifatnya telah diabaikan (tidak diperhatikan).

Zat Tuhan atau Allah sesungguhnya mesti disembah karena memiliki "segala" kesempurnaan dan kemuliaan-Nya, bukan secara sebagian-sebagian.

Contoh yang amat dikenal adalah kisah ketika nabi Ibrahim as sedang mencari Tuhan-nya, Yang Maha sempurna.

Dan agama Islam amat mengharamkan kemusyrikan itu (dilaknat-Nya), karena segala Ilah selain Allah pasti banyak memiliki kekurangan, yang akhirnya pasti akan mengantarkan penyembahnya kepada kebinasaan ataupun kehinaan.

Semua sifat-Nya pada Asmaul Husna adalah dalam arti yang sebenarnya.

Persoalannya adalah semua sifat-Nya itu 'tampak gaib' (amat sangat halus dan tidak kentara) 'tergambar' dalam segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di seluruh alam semesta, yang bersifat mutlak dan kekal (tanda-tanda kekuasaan-Nya), sebagai hasil perwujudan dari segala perbuatan-Nya di alam semesta.

Maka sifat-sifat-Nya yang sesungguhnya amat nyata dan jelas terjadinya itu hanyalah bisa dirasakan secara batiniah, atau hanyalah bisa dinalar dengan logika-intuisi akal pikiran manusia secara batiniah pula (ditangkap dengan mata batiniah manusia, kalbu dan akal).

Semua sifat-Nya pada hakekatnya bersifat kekal, dan disebut juga sebagai Fitrah Allah.

Tetapi "perwujudan" dari sifat-sifat Allah, yang bisa diketahui oleh manusia di alam semesta (khususnya yang diketahui oleh nabi Muhammad saw, dan disebut dalam Asmaul Husna), tidaklah bersifat kekal, jika dikehendaki-Nya alam semesta ini justru dihancurkan-Nya di akhir jaman (atau saat manusia terakhir wafat).

"Perwujudan" dari sifat-sifat-Nya itu diciptakan-Nya, sehingga bisa hancur-binasa (tidak kekal). Dan konteks kekekalannya (tidak berubah-ubah) hanya sejak awal penciptaan alam semesta, sampai akhir jaman (hanya sebatas usia alam semesta).

Setelah kedatangan Hari Kiamat (berakhirnya kehidupan dunia fana ini), ataupun setelah dibukakan-Nya segala hakekat kebenaran-Nya, maka manusia relatif "bisa" benar-benar "memahami" sifat-sifat-Nya yang sesungguhnya dan kekal itu.

"Allah Maha mengetahui", karena segala zat ciptaan-Nya (nyata & gaib, benda mati & makhluk hidup) dari yang paling kecil sampai yang paling besar, pasti berada dalam kekuasaan-Nya.

Maka segala zat ciptaan-Nya itu pasti pula berada dalam pengetahuan-Nya. Mustahil sesuatu bisa dikuasai, tanpa diketahui. Pengetahuan adalah bagian yang amat penting dari kekuasaan.

Pertanyaannya hanyalah, apakah Allah 'selalu' (tiap saat) menguasai setiap zat ciptaan-Nya, ataukah hanya pada saat-saat tertentu saja (bisa ada sesaat saja, tanpa dikuasai-Nya)?.

Allah Yang Maha Pencipta, pastilah "selalu" (tiap saat) menguasai tiap zat ciptaan-Nya, termasuk pada manusia yang diberikan-Nya berbagai kebebasan.

Bahkan tiap atom dan tiap ruh pada tubuh manusia, berada di bawah kekuasaan-Nya (pasti tunduk kepada segala perintah-Nya). Juga kebebasan atau kekuasaan manusia sama sekali tidak ada artinya dibandingkan dengan kekuasaan-Nya. Maka hal ini mustahil bisa mengurangi kekuasaan-Nya, apalagi kebebasan atau kekuasaan manusia memang sengaja diberikan-Nya.

Maka Allah Yang Maha mengetahui segala hal atas setiap zat ciptaan-Nya.

"Dia-lah Allah, Yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. Dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh tingkat langit!. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." – (QS.2:29).

"Sesungguhnya bagi Allah, tidak ada suatupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit." – (QS.3:5).

"…. Tidak luput dari pengetahuan Rabb-mu, biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." – (QS.10:61).

Terkait pengetahuan-Nya tentang tiap zat ciptaan-Nya di atas, bahkan berbagai iblis, syaitan, jin dan malaikat, yang justru pasti selalu mengikuti tiap manusia, tiap saatnya sepanjang hidupnya, tentunya pasti mengetahui pula segala keadaan atau pengalaman pada manusia yang diikutinya.

Bahkan para makhluk gaib itu sangat cerdas untuk mengolah segala keadaan manusia untuk bisa menggodanya (memberi ujian-Nya) ataupun sebaliknya untuk bisa memberi pengajaran-Nya, yang berupa segal bentuk ilham-bisikan-godaan (negatif-sesat-buruk ataupun positif-benar-baik), ke dalam pikiran tiap manusianya.

Termasuk adanya para malaikat Rakid dan 'Atid yang mencatat tiap amal-perbuatan baik dan buruk pada tiap manusianya.

Padahal di lain pihak, para makhluk gaib justru sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas alam batiniah ruh manusia (alam pikiran), karena manusia (dengan akalnya) tetap memiliki otoritas sepenuhnya, untuk mengatur alam batiniah ruhnya sendiri.

Maka para makhluk gaib itu pada dasrnya hanya bisa "mengganggu" dan "mengetahui" segala keadaan pada alam batiniah ruh manusia, tetapi tidak bisa menguasainya.

Pada orang yang kesurupan misalnya, pada dasarnya bukanlah karena "dikuasai" oleh para makhluk gaib, tetapi hanyalah karena akal manusia itu sendiri yang tidak dipakai semestinya untuk mengendalikan dirinya (kehilangan kesadarannya).

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat, yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka …." – (QS.13:11).

"Sesungguhnya, syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabb-nya." – (QS.16:99).

"Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir, untuk menghasud mereka membuat maksiat dengan sungguh-sungguh," – (QS.19:83).

"agar Dia menjadikan apa yang dimaksudkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, dan (orang-orang) yang kasar hatinya. Dan …," – (QS.22:53).

Keadaan adalah segala keterangan terukur tentang sifat zat (seperti: berat dan warna adalah sifat, sedang 5 kg, 2 ons, biru dan merah adalah keadaan). Maka "keadaan" dan "sifat" bukanlah dua hal yang bisa diperbandingkan.

Secara umum, sifat adalah ciri khas yang membedakan sesuatu zat dari zat lainnya, pada sesuatu saat tertentu. Serta sifat adalah gambaran atau definisi tentang sesuatu zat, yang dibuat oleh segala sesuatu di luar zat itu sendiri.

Dan sifat tergantung kepada:zatnya, hal-hal apa yang ingin ditunjukkan oleh zat itu sendiri kepada segala sesuatu di luar zat itu sendiri, dan tentunya juga pada hal-hal apa yang bisa diamati atau diketahui oleh segala sesuatu tentang zat itu.

Sifat terdiri dari dua jenis, yaitu:

~

Sifat statis : (atau sifat esensi-pembeda)

Sifat ini bisa diketahui ketika zat tidak melakukan apa-apa (diam, tidak melakukan sesuatu proses apapun atau segala keadaannya tidak berubah-ubah). Sifat ini amat jelas melekat pada zatnya, berupa gambaran langsung tentang wujud atau sosok zatnya.

Tentang Zat Allah, amat sedikit sifat jenis ini yang diketahui, karena memang Allah Maha gaib atau Maha tersembunyi. Bahkan mustahil bisa diketahui hal-hal yang terkait langsung dengan Zat Allah (hanya bisa diketahui hal-hal yang tidak langsung terkait).

~

Sifat dinamis : (atau sifat perbuatan-proses)

Sifat ini bisa diketahui ketika zat melakukan sesuatu hal (bergerak, melakukan satu atau banyak proses atau berbagai keadaannya berubah-ubah).

Tentang Zat Allah, sifat jenis ini meliputi hampir semua sifat-Nya pada Asmaul Husna. Khusus tentang sifat-Nya Yang Maha gaib atau Maha tersembunyi, di sini bukanlah langsung tentang Zat Allah, tetapi tentang segala perbuatan-Nya yang memang tersembunyi, amat halus, alamiah dan seolah-olah terjadi begitu saja.

Dan pada dasarnya, semua sifat-Nya pada Asmaul Husna adalah gambaran yang dipahami nabi Muhammad saw dari segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta ini, yang bersifat mutlak dan kekal (tanda-tanda kekuasaan-Nya).

Ringkasnya, semua sifat-Nya itu adalah gambaran atas hasil dari segala perbuatan-Nya di alam semesta ini, yang bisa dijangkau oleh manusia (nabi Muhammad saw).

 

Maka dari sisi manusia, semua sifat-Nya pada Asmaul Husna bisa disebut kekal, jika perbuatan-Nya di alam semesta ini tidaklah berubah-ubah, sejak manusia yang pertama lahir sampai manusia yang terakhir wafat (ataupun selama alam semesta masih tegak-kokoh).

Tetapi umat Islam menyakini bahwa Allah bersifat Maha Kekal, dan penciptaan alam semesta adalah perwujudan dari Fitrah Allah. Sedang fitrah itu sendiri, adalah sifat-sifat yang tidak berubah-ubah tentang sesuatu zat.

Maka Fitrah Allah adalah kesatuan dari semua sifat-Nya pada Asmaul Husna. Dengan sendirinya, semua sifat-Nya itu juga tidak berubah-ubah (kekal).

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama-Nya (sebagai perwujudan dari) Fitrah Allah, Yang telah menciptakan manusia (dan seluruh alam semesta ini) menurut Fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada Fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya," – (QS.30:30).

Topik: Anthropomorphisme (sifat jasmani semu)

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

Anthropomorphisme (sifat jasmani semu)

Zat Allah bersifat immateri atau gaib, dan Allah mustahil mempunyai sifat-sifat lahiriah ataupun tubuh jasmani lahiriah-fisik-nyata.

Segala hal gaib pastilah tetap bersifat gaib, seperti: ruh, para makhluk gaib, alam kubur, alam akhirat (termasuk surga dan neraka), dsb.

Tidak ada sesuatu kemuliaan dan kesempurnaanpun pada segala sesuatu hal yang memiliki sifat-sifat lahiriah ataupun tubuh jasmani lahiriah. Bahkan manusiapun terlahir dari benih jasmani yang hina (air mani).

Dan kekuasaan sesuatu zat sama sekali tidak ada hubungannya dengan wujud zatnya, apalagi dengan tolak ukur keberadaan tubuh jasmani lahiriah. Segala hal lahiriah justru pasti memiliki segala keterbatasan, kekurangan dan bahkan kehinaan.

Manusia justru juga diuji-Nya di kehidupan dunia, yang penuh dengan segala ketidak-sempurnaan dan kehinaan, justru agar ia bisa berusaha meraih kemuliaan di kehidupan akhiratnya (kehidupan batiniah ruhnya, yang gaib).

Hanya manusia yang diuji-Nya semacam ini, dengan diberikan-Nya akal dan nafsu yang sempurna, untuk bisa memiliki kebebasan dalam berkehendak dan berbuat.

Sedang segala makhluk ciptaan-Nya lainnya, justru pasti tunduk, patuh dan taat kepada Allah, bahkan termasuk iblis.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang tugas-tugas yang diberikan-Nya kepada para makhluk gaib, untuk memberi pengajaran dan ujian-Nya kepada manusia secara batiniah.

Namun jika manusia bisa benar-benar berhasil menjalani kehidupan dunianya, sesuai dengan keredhaan-Nya bagi manusia, maka manusia justru bisa jauh lebih mulia daripada segala makhluk ciptaan-Nya lainnya, bahkan termasuk di atas para malaikat yang paling mulia sekalipun.

Bahkan para malaikat juga 'bersujud' (tunduk) kepada manusia. Walau begitu perbandingan inipun tidaklah penting atau tidaklah berguna pada kehidupan di akhirat, karena manusia sendiri amat berragam dari yang berhati setengah iblis, sampai yang berhati setengah malaikat.

Berbagai gambaran di dalam Al-Qur'an bahwa Allah terkait sifat-sifat jasmani, pastilah memiliki interpretasi lain, seperti: "tahta kerajaan" artinya "kekuasaan", "mata" artinya "pengetahuan", "muka" artinya "tanda-tanda kekuasaan-Nya", "tangan" artinya "sunatullah", "dua tangan" artinya "sunatullah lahiriah dan batiniah", "kursi atau 'Arsy-Nya" artinya "amat tingginya kedudukan kemuliaan dan kebenaran-Nya", dsb.

Bahwa segala gambaran atau penjelasan dalam Al-Qur'an tentang hal-hal yang gaib, seperti di atas, pada dasarnya hanyalah berupa contoh-perumpamaan, agar umat jauh lebih mudah untuk memahami atau membayangkannya secara tidak langsung.

Segala contoh-perumpamaan simbolik mustahil bisa dianggap sebagai fakta-kenyataan-kebenaran yang sebenarnya.

"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia. Dan tiada yang memahaminya, kecuali orang yang berilmu." – (QS.29:43).

"…. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia, supaya mereka berpikir." – (QS.59:21).

"Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia, dalam Al-Qur'an, setiap macam perumpamaan, supaya mereka dapat pelajaran." – (QS.39:27).

"…. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia, supaya mereka selalu ingat." – (QS.14:25).

"Dan sesungguhnya, telah kami buat dalam Al-Qur'an ini, segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan …." – (QS.30:58).

"Dan sesungguhnya, Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur'an ini, bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah." – (QS.17:89, QS.18:54).

"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa, ialah (seperti taman yang) mengalir sungai-sungai di dalamnya, (pohon-pohon yang) buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah …." – (QS.13:35).

Bahwa Zat ataupun sifat Allah amat sangat berbeda daripada zat ataupun sifat segala zat ciptaan-Nya.

Bahkan Zat ataupun sifat Allah amat sangat berbeda daripada zat ataupun sifat para makhluk gaib-Nya, yang juga sama-sama gaib.

Karena ada manusia yang pernah mengetahui ('melihat' dengan mata batiniah) berbagai penampakan "wujud asli" para makhluk gaib itu, seperti yang telah dialami oleh beberapa nabi-Nya, ataupun sejumlah amat terbatas manusia pada berbagai jaman sampai sekarang.

Sebaliknya mustahil ada manusia yang bisa mengetahui "wujud asli" Zat Allah, di dunia ataupun di akhirat, karena memang mustahil akan sanggup.

Bahkan manusiapun misalnya: mustahil sanggup mengetahui segala benda mati ciptaan-Nya (nyata-fisik-lahiriah) yang ada di seluruh alam semesta ini, mustahil mengetahui bagaimana ujung langit lahiriah; mustahil mengetahui apa materi-partikel terkecil yang sebenarnya yang ada di dalam atom; dsb.

Zat Allah juga mustahil mampu dijangkau oleh nalar-intuisi-logika akal pikiran manusia (lahiriah dan batiniah), bahkan termasuk para nabi-Nya.

Walau jangkauannya amat sangat luas, tetapi akal pikiran tiap manusia (juga termasuk para nabi-Nya) hanyalah bisa menjangkau segala hasil 'tindakan' Zat Allah di alam semesta ini (tanda-tanda kekuasaan-Nya).

Dan dari tanda-tanda kekuasaan-Nya itulah manusia bisa memahami berbagai sifat Allah pada Asmaul Husna (bisa mengenal Allah). Dari berbagai tindakan sesuatu zat, maka bisa dipahami berbagai kehendak zat itu, lalu selanjutnya juga bisa dipahami berbagai sifat zat itu

"Dan sesungguhnya, Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (kebenaran-Nya) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan-Nya), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat-Nya). Mereka itu sebagai binatang ternak (amat bodoh), bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." – (QS.7:179).

Topik: Melihat Allah

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

Melihat Allah

Zat Allah bersifat immateri atau gaib, dan Allah mustahil bisa dilihat dengan mata (mata lahiriah) ataupun mustahil bisa diketahui dengan akal (mata batiniah) manusia, di dunia ataupun di akhirat.

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata (dari segala zat ciptaan-Nya), sedang Dia dapat melihat segala penglihatan (zat ciptaan-Nya) itu dan Dia-lah Yang Maha Halus, lagi Maha Mengetahui." – (QS.6:103).

 

Tetapi "keberadaan" Zat Allah ataupun segala hal yang gaib lainnya (seperti: ruh; para makhluk gaib; alam kubur; alam akhirat, termasuk surga dan neraka; dsb), justru bisa dirasakan atau dipahami dengan mata batiniah manusia (intuisi-nalar-logika akal-pikiran batiniah) selama di kehidupan dunianya.

Sedang kehidupan akhirat yang kekal di Hari Kiamat, pada dasarnya hanyalah kelanjutan dari kehidupan akhirat yang telah dibangun (secara sadar ataupun tidak) oleh manusia selama di dunia (kehidupan batiniah ruh manusia).

Lebih tepatnya kehidupan akhirat di Hari Kiamat, terbentuk setelah dibukakan-Nya segala hakekat cahaya kebenaran-Nya, setelah dihisab-Nya segala amal-perbuatan tiap manusia, dan setelah disempurnakan-Nya segala nikmat dan hukuman-Nya bagi tiap manusia.

Kehidupan di Hari Kiamat, bukanlah berbentuk kehidupan duniawi-jasmaniah-fisik-lahiriah "kedua" setelah kehidupan dunia saat ini, tetapi berbentuk berupa kehidupan batiniah pada tiap ruh manusia (seperti kehidupan para malaikat di Surga saat ini).

Maka tidak ada lagi mata lahiriah, ataupun segala hal jasmaniah-fisik-lahiriah lainnya di Hari Kiamat.

Penglihatan manusia kepada Allah di dunia dan di akhirat, adalah penglihatan batiniah. Juga tetaplah bukan berupa penglihatan kepada "Zat" Allah.

Dalam Al-Qur'an, "Dan tidak ada bagi seorang manusiapun, bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan perantaraan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat Jibril), lalu diwahyukan kepadanya (manusia itu) dengan seijin-Nya, apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi, lagi Maha Bijaksana." – (QS.42:51).

Jelas pada ayat ini, bahwa untuk "berbicara" dengan Allah sekalipun, manusia hanya bisa melakukannya secara tidak langsung ataupun hanya bisa melalui perantara, maka lebih mustahil bagi manusia, untuk bisa "melihat" langsung Zat Allah sesungguhnya.

Dalam Al-Qur'an "Tuhanku, perlihatkanlah diri-Mu kepadaku (Musa). Sabda Tuhan: 'Engkau tidak akan dapat melihat diri-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap tinggal di tempatnya, niscaya engkau akan melihat diri-Ku'. Ketika Tuhannya tampak bagi gunung itu, maka iapun hancur, dan Musa jatuh pingsan." – (QS.7:143).

Nabi Musa as tidak berhasil melihat Allah, karena puncak gunung Sinai justru memang hancur lebur.

Bahkan nabi Musa as dan sejumlah pengikutnya terjatuh pingsan, karena letusan gunung Sinai itu (bukan pingsan karena telah melihat Allah).

Dalam Al-Qur'an "Wajah-wajah yang pada ketika itu (di hari Kiamat) berseri-seri memandang kepada Tuhan-nya." – (QS.75:22,23).

Atau dalam Al-Qur'an "Penglihatan tidak dapat menangkap-Nya, tetapi Dia dapat menangkap segala penglihatan. Dia adalah Maha Halus dan Maha Tahu." – (QS.6:103).

Atau menurut hadits, "manusia akan melihat Allah di hari Kiamat sebagaimana mereka melihat bulan purnama".

Atau menurut hadits, "bukankah Tuhan itu cahaya, bagaimana aku dapat melihat-Nya".

Berbagai kata "melihat" di atas bukanlah berarti memandang atau melihat, tetapi berarti memahami segala kebesaran dan kemuliaan-Nya (atau segala cahaya kebenaran-Nya, yang amat sangat terang), setelah dibukakan-Nya segala hakekat kebenaran-Nya pada Hari Kiamat.

Tetapi hal ini tidaklah membutakan "mata batiniah" (seperti melihat bulan purnama), sebagaimana halnya mata lahiriah manusia yang bisa menjadi buta, ketika melihat langsung cahaya matahari.

Dan hal ini berkebalikan dari keadaan "mata batiniah" orang-orang kafir yang telah dibuat-Nya buta, bisu, tuli atau pekak terhadap cahaya kebenaran-Nya, pada kehidupan di dunia ataupun di akhirat.

Penglihatan batiniah yang amat sangat terang di atas, justru menimbulkan kebahagiaan yang sempurna bagi orang-orang yang beriman, yang amat jauh lebih tinggi (tidak sebanding) daripada segala kebahagiaan yang dialami oleh manusia selama di dunia.

Pada dasarnya, tidak ada hambatan sama-sekali bagi akal-pikiran manusia untuk bisa memahami segala perbuatan-Nya dan segala perbuatan dari zat ciptaan-Nya di alam semesta. Dan amat banyak keutamaan bagi orang yang berilmu, yang disebut-sebut dalam Al-Qur'an.

Bahkan pada dasarnya, hanya hakekat "zat" gaib (zat Allah dan zat ruh-ruh makhluk-Nya) yang mustahil mampu dijangkau oleh akal-pikiran manusia.

Bahkan nabi Muhammad saw bisa memahami alam akhirat di Surga dan di Neraka, atau berada dekat di sisi 'Arsy-Nya, ketika Nabi mengalami perjalanan batiniah-rohani-spiritual yang luar biasa ('Isra Mi'raj).

Persoalannya hanyalah karena berbagai keterbatasan jasmaniah-fisik-lahiriah manusia, termasuk: waktu atau umur, ruang, kesibukan atau perkembangan jaman yang makin meningkat, kapasitas tampung otak atau akal, dsb.

Padahal wahyu-wahyu-Nya pada nabi Muhammad saw, juga perolehan yang maksimal bagi seorang manusia (diperoleh hampir sepanjang hidup Nabi).

Berbagai batasan seperti itulah yang berakibat adanya disebut dalam Al-Qur'an, bahwa nabi Muhammad saw adalah "nabi terakhir" bagi seluruh umat manusia.

Sederhananya, umat di jaman modern sekarang (ataupun setelah jaman Nabi), kemungkinan besar hanyalah bisa mencapai "sebagian kecil" saja, dari yang telah diperoleh Nabi. Makin lama makin sulit untuk menyamai kelengkapan dan keutuhan perolehan Nabi.

Sederhananya lagi, berapa umat di jaman sekarang, yang benar-benar secara mendalam mengenal Allah? (benar-benar memahami tiap sifat-sifat-Nya pada Asmaul Husna, bukan hanya menyakini, tetapi bisa menjelaskan bukti-buktinya).

Akal-pikiran Nabi tentang hal-hal batiniah, amat sulit bisa dicapai oleh manusia biasa pada umumnya, karena mesti didukung oleh pengetahuan dan keimanan yang amat tinggi.

Segala perbuatan Allah di alam semesta ini, termasuk penciptaan segala zat ciptaan-Nya pasti tidak bertentangan dengan aturan-Nya (sunatullah). Bahkan sunatullah (Sunnah Allah) justru sebutan lain dari segala perbuatan Allah tersebut.

Jika ada sesuatu hal yang dibuat atau diciptakan-Nya dianggap bertentangan dengan akal-sehat manusia, maka pastilah manusia itu sendiri yang belum bisa mencapainya (belum memahami bagaimana Allah berbuat melalui sunatullah).

Sifat wujud Allah maksudnya adalah "Allah itu ada". Dan sifat "wujud" ini sama sekali tidak berhubungan atau tidak menunjukkan adanya 'bentuk-sosok' lahiriah dari zat Allah.

Segala sesuatu hal yang tidak berwujud, maka hal itu bukanlah sesuatu zat. Zat itu 'ada' atau 'berwujud', jika ada sifat 'esensi' dan sifat 'perbuatan' zatnya.

Satu-satunya sifat Allah (pada Asmaul Husna) yang terkait dengan bentuk Zat Allah, hanyalah Maha gaib atau Maha tersembunyi (tidak ada sifat-sifat yang lain).

Zat Allah sama sekali tidak dapat dilihat di dunia ataupun di akhirat. Tetapi "keberadaan" Zat Allah hanya dapat "dirasakan", melalui mata batiniah manusia (nalar-intuisi-logika akal pikiran batiniah), dengan berusaha memahami berbagai hasil perbuatan Allah di alam semesta ini (tanda-tanda kekuasaan-Nya).

"…. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami, silih berganti, agar mereka memahami(nya)." – (QS.6:65).

"Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang berakal," – (QS.3:190).

Manusia memang bisa melihat atau memahami kejadian (accident), sebagai hasil perbuatan (lahiriah dan batiniah) dari sesuatu zat.

Tetapi tidak dengan sendirinya manusia pasti bisa pula melihat zatnya, karena zat ada yang berbentuk gaib (tak tampak) dan nyata (tampak).

Padahal tidak bisa terlihat, ketika Allah menggiring awan atau menurunkan air hujan. Padahal sebaliknya manusia jelas bisa melihat langsung dengan matanya, ketika awan berarakan atau turunnya air hujan itu.

Allah sama sekali berbeda dari segala makhluk ciptaan-Nya (nyata atau gaib), termasuk berbeda dari segi zat, tindakan ataupun sifatnya.

Topik: Sabda Allah (atau kalam Allah)

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

Sabda Allah (atau kalam Allah)

Pada dasarnya, segala sesuatu hal yang bisa dilihat ataupun dipahami oleh manusia (dengan mata lahiriah dan mata batiniahnya), untuk bisa mencari atau mengenal Allah, justru 'hanya' melalui segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di seluruh alam semesta ini, khususnya yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'.

Segala hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal' itu disebut pula sebagai: "wajah-Nya", "tanda-tanda kekuasaan-Nya", "ayat-ayat-Nya yang tak tertulis", "segala pengetahuan atau kebenaran-Nya" ataupun "Al-Qur'an berbentuk gaib, yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya".

"Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan), dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi, setelah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)." – (QS.16:65).

"Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang Mukmin." – (QS.29:44).

"Dan sesungguhnya, Al-Qur'an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya), dan amat banyak mengandung hikmah." – (QS.43:4).

"Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi. Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). …." – (QS.22:70).

"Tiada sesuatupun yang gaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." – (QS.27:75).

"Dan kepunyaan-Nya-lah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah (ada) wajah-Nya. Sesungguhnya, Allah Maha Luas (tanda-tanda kekuasaan-Nya), lagi Maha Mengetahui." – (QS.2:115).

Berbagai hal tentang sesuatu zat, antara-lain: esensi zat itu sendiri, perbuatannya, hasil perbuatannya dan sifatnya (penilaian tentang zat itu oleh segala suatu selain zat itu sendiri, dengan memahami 'esensi' wujudnya dan hasil 'perbuatan'-nya).

Maka sabda-Nya, kalam-Nya, risalah-Nya, kalimat-Nya, ayat-Nya, wahyu-Nya atau Al-Qur'an (gaib, tak tertulis) pada dasarnya adalah hasil perbuatan Allah, dan bukanlah sifat Allah. Tetapi semua itu memang juga gambaran perwujudan dari sifat-sifat terpuji Allah (Fitrah Allah).

Dalam Al-Qur'an, "Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepada umatnya)," (pada QS.53:4, QS.6:145, QS.42:52 dan QS.42:51).

Maka pada dasarnya ada empat macam bentuk wahyu-Nya, yaitu:

~ Wahyu-Nya sebagai Fitrah Allah sendiri (sifat-sifat-Nya yang terpuji, gaib), yang hendak ditunjukkan kepada segala zat ciptaan-Nya.
~ Wahyu-Nya sebagai tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini (ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis), yang justru suatu bentuk wahyu, kalam, sabda atau kalimat-Nya sebenarnya (gaib dan universal).
~ Wahyu-Nya sebagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah, gaib).
~ Wahyu-Nya sebagai ayat-ayat kitab-Nya (Al-Kitab, nyata, lisan atau tertulis). Dan disebut "wahyu yang diwahyukan" (pada QS.6:145, QS.42:52 dan QS.53:4).

Sesuatu sabda-Nya atau wahyu-Nya adalah hasil pemahaman para nabi-Nya (setelah dituntun oleh malaikat Jibril), setelah mengamati dengan cermat atas adanya berbagai keteraturan pada tanda-tanda kekuasaan-Nya itu (lahiriah dan batiniah), yang memang hendak ditunjukkan oleh Allah kepada manusia.

Hal ini terutama agar manusia bisa mengenal Allah, Yang telah menciptakannya.

Persis seperti pada para ilmuwan modern, ketika berhasil menemukan teori atau rumus ilmiah tertentu, melalui pengalaman empirik lahiriah tertentu pula.

Sedang para nabi-Nya justru menemukan berbagai "rumus" batiniah, melalui berbagai pengalaman moral-spiritual-rohani-batiniah yang relatif lengkap, mendalam dan luas.

Khususnya tentang ketuhanan, ruh, para makhluk gaib, alam gaib atau alam akhirat, rumus-rumus kehidupan seluruh umat manusia (lahiriah dan terutama batiniah), dsb.

"Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat, lagi Maha Perkasa." – (QS.22:74).

"…. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami), supaya kamu memikirkannya." – (QS.57:17) dan (QS.10:24).

"…. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui (atau kepada kaum yang yakin)." – (QS.2:118) dan (QS.6:97,98, QS.10:5).

"…. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (para Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikannya)." – (QS.5:75).

Karena sabda-Nya merupakan hasil pemahaman para nabi-Nya atas segala hasil perbuatan Allah di alam semesta, maka sabda-Nya pada dasarnya tidak bersifat kekal mutlak, seperti halnya Zat Allah (hanya sebetas umur atau kekekalan alam semesta ini).

Tetapi jika dikaitkan lebih jauh bahwa agama-Nya yang lurus (yang diajarkan dalam Al-Qur'an) dan penciptaan alam semesta ini, adalah perwujudan dari Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji Allah).

Maka sabda-Nya, agama-Nya yang lurus atau Al-Qur'an (gaib, tak tertulis) itu bersifat Maha kekal, sesuai dengan Fitrah Allah atau sifat-sifat terpuji Allah yang bersifat mutlak dan kekal.

Ringkasnya, Al-Qur'an memiliki 4 macam bentuk, yaitu:

~

Al-Qur'an sebagai Fitrah Allah (Maha gaib, Maha kekal, tak tertulis, universal).

~

Al-Qur'an sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta (gaib, kekal sementara, tak tertulis, universal, tercatat di Lauh Mahfuzh).

~

Al-Qur'an sebagai segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang telah dipahami nabi Muhammad saw (gaib, tidak kekal, tak tertulis, universal, tercatat di hati-dada-pikiran Nabi).

~

Al-Qur'an sebagai kitab suci Al-Qur'an yang telah disampaikan oleh nabi Muhammad saw (nyata, tidak kekal, kitab tertulis, tidak universal atau sebagiannya tergantung konteks waktu, ruang dan budaya).

Tetapi pada tataran pemahaman hikmah dan hakekatnya (bukan tekstual-harfiah), justru bersifat universal (tidak tergantung konteks waktu, ruang dan budaya).

 

Maka segala ajaran dalam Al-Qur'an, pada dasarnya manusia bisa mencari dan mengenal Allah, Yang menciptakannya, dan akhirnya agar bisa kembali dekat ke sisi 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung, dengan mengikuti agama-Nya yang lurus, sebagai keredhaan-Nya bagi manusia, demi kepentingan, keselamatan dan kemuliaan manusianya sendiri yang makin tinggi (sama sekali bukan demi kepentingan Allah).

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama-Nya (sebagai perwujudan dari) Fitrah Allah, Yang telah menciptakan manusia (dan alam semesta) menurut Fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada Fitrah Allah. (Itulah) agama-Nya yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya," – (QS.30:30).

"Dan sesungguhnya, Al-Qur'an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungan-jawaban." – (QS.43:44).

"Sesungguhnya telah kami turunkan kepadamu sebuah kitab (Al-Qur'an), yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya." – (QS.21:10).

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an), pada malam kemuliaan (lailatul qadar)." – (QS.97:1).

Pada dasarnya sabda, kalam ataupun ayat-ayat Al-Qur'an (gaib, tak tertulis) justru tidak tersusun, tetapi tergantung kepada perolehan pemahaman pada para nabi-Nya.

Kalaupun Al-Qur'an (nyata, kitab tertulis) tampak tersusun, hal ini hanya karena nabi Muhammad saw memang telah menyusunnya, dengan berbagai tujuan-alasan tertentu.

Susunan Al-Qur'an justru sama sekali tidak ada hubungannya dengan sifat kekekalan Al-Qur'an.

Dalam Al-Qur'an, "Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya, kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya, adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui." – (QS.12:3).

Dan dalam Al-Qur'an, "Kitab (Al-Qur'an) yang ayat-ayatnya dibuat sempurna dan terperinci." – (QS.11:1).

Ayat-ayat ini pada dasarnya hanya menjelaskan tahapan proses perolehan wahyu-Nya pada nabi Muhammad saw, yang memang diperoleh hampir sepanjang hidupnya (sehingga juga bisa sempurna dan terperinci).

Tetapi ayat-ayat ini juga sama sekali tidaklah ada hubungannya dengan sifat kekekalan Al-Qur'an.

Sabda-Nya pada Al-Qur'an (gaib, tak tertulis) di sisi 'Arsy-Nya dan sabda-Nya yang terkait pada kitab suci Al-Qur'an (nyata, kitab tertulis) justru hanya sama kandungannya, jika pemahamannya pada tataran hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah).

Seperti halnya pemahaman yang diperoleh nabi Muhammad saw, atas tuntunan dari malaikat Jibril, yang justru bukan pemahaman pada tataran tekstual-harfiah. Kitab suci Al-Qur'an memang diturunkan-Nya bukan berupa teks-teks tertulis, tetapi justru berupa segala pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya di dalam hati-dada-pikiran Nabi.

Sabda yang tersusun ataupun tertulis, yang berupa pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalamnya (Al-Hikmah), juga merupakan sabda-Nya.

"Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah," – (QS.36:2).

"Pada malam (diturunkan-Nya Al-Qur'an) itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah," – (QS.44:4).

"Demikianlah (kisah 'Isa), Kami membacakannya kepadamu sebagian dari bukti-bukti (kekuasaan-Kami) dan (membacakan) Al-Qur'an yang penuh hikmah." – (QS.3:58).

Sabda-Nya ada yang telah tersusun (nyata, kitab tertulis), ada pula yang tidak tersusun (gaib, tak tertulis).

Sabda-Nya tidak hanya berbentuk perintah-Nya, tetapi segala perintah-Nya pasti merupakan sabda-Nya.

Dalam Al-Qur'an "bukankah menciptakan dan memerintahkan segala ciptaan-Nya di alam semesta hanyalah kepunyaan-Nya (hak Allah)." – (QS.7:54).

Segala hal yang terkait dengan alam semesta ini (atau segala hal yang diciptakan-Nya), pada dasarnya pasti tidak bersifat kekal (pasti berawal dan berakhir).

Tetapi segala sesuatu hal dari Allah (aturan atau sunatullah, ketentuan, sabda, perintah, kehendak, tindakan, perbuatan, anjuran, peringatan, pengajaran dan tuntunan, dsb) justru juga 'kekal' (tidak berubah-ubah) selama alam semesta ini masih ada (sejak ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta, sampai akhir jaman).

Maka dari sudut pandang manusia, segala hal itu juga bisa dianggap bersifat 'kekal' (tidak berubah-ubah), karena umur kehidupan umat manusia memang jauh lebih singkat daripada umur alam semesta.

Topik: Konsep iman

Pernyataan-pernyataan dari pemahaman pada buku ini

Konsep iman.

Keimanan tertinggi adalah amat konsisten menyatu atau sesuainya keyakinan batiniah tertinggi (pemahaman) dan keyakinan lahiriah tertinggi (pengamalan melalui sikap, perkataan dan perbuatan).

Keyakinan batiniah tertinggi adalah suatu pemahaman, pengetahuan, kesadaran atau pemikiran yang amat mendalam pada tingkat hikmah dan hakekat kebenaran-Nya atas ajaran-ajaran agama-Nya (terutama Al-Qur'an dan Hadits), secara konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan keseluruhannya.

Keyakinan lahiriah tertinggi adalah suatu pengamalan berdasar pemahaman itu melalui sikap, perkataan dan perbuatan (akhlak atau kebiasaan positif) secara amat konsisten dalam kehidupan sehari-harinya, termasuk memberikan berkah atau pengajaran dan peringatan-Nya bagi umat di lingkungan sekitar.

Dalam pengertian yang umumnya dikenal, keyakinan batiniah disebut sebagai "ilmu", sedang keyakinan lahiriah disebut sebagai "amal". Sedang "iman" adalah gabungan antara "ilmu" dan "amal".

Di antara umat manusia pada setiap jamannya, para nabi-Nya adalah orang-orang yang diketahui memiliki tingkat keimanan yang paling tinggi.

"Dan barangsiapa datang kepada Rabb-nya (di Hari Kiamat), dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal shaleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia)," – (QS.20:75).

"…. Tetapi orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal-amal shaleh, merekalah itu yang memperoleh balasan yang berlipat-ganda, disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (kemuliaannya di dalam surga)." – (QS.34:37).

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka, pada tempat-tempat yang tinggi (kemuliaannya) di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal (tinggal) di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal," – (QS.29:58).

Keimanan paling dasar adalah pemahaman atas tauhid, "tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa".

Keimanan paling rendah adalah pemahaman tanpa pengamalan. Maka pemahaman atau pengetahuan semata belumlah cukup.

Tetapi pengamalan tanpa pemahaman, juga amat tidak kokoh dan mudah bisa tersesatkan ataupun tergoyahkan.

Keimanan paling tinggi bukanlah tasdiq semata (menerima apa yang dikatakan atau disampaikan orang sebagai benar), bahkan termasuk disampaikan oleh para nabi-Nya.

Tasdiq hanyalah diperlukan bagi umat-umat yang masih awam atas ajaran-ajaran agama-Nya.

Pemahaman dan pengamalan secara sekaligus (tasdiq, ma'rifah dan sekaligus disertai amal), tetaplah yang terbaik.

Sebutan-sebutan Muslim, Mukmin, Mukhlis, dsb, semestinya bukan sebutan dari seseorang atau sesuatu kelompok kepada orang atau kelompok lainnya, apalagi sebutan diri ataupun kelompok sendiri. Tetapi sebutan itu semestinya hanya sebagai klasifikasi, untuk keperluan pengajaran atas ajaran-ajaran agama-Nya.

Sebutan-sebutan itu hanyalah hak Allah untuk memakainya kepada manusia, karena hanyalah hak Allah, untuk menentukan keimanan seseorang.

Orang yang mengetahui tentang Allah ataupun tentang berbagai kebenaran-Nya, tetapi justru melawan atau melanggar perintah-Nya, bisa tetap Mukmin atau bisa juga bukan.

Hal yang paling tepat, adalah tiap pelanggaran perintah-Nya itu pasti akan mengurangi tingkat keimanan umat, jika ia belum melakukan kemusyrikan.

Semua penilaian itu justru serba relatif, karena perintah-Nya juga relatif (dari pemahaman tekstual-harfiah sampai pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya). Keimanan juga cakupannya amat luas (dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi).

Dan hal-hal ini hanyalah hak Allah Yang Maha mengetahui, untuk menilainya.

Sama sekali bukanlah hak dan kewajiban manusia untuk menghakimi keimanan seseorang. Tugas manusia hanyalah saling mengingatkan antar sesama, demi kebaikan.

Hukum pada dasarnya hanyalah untuk bisa mengatur interaksi antara dua orang, ataupun lebih, termasuk interaksi antara tiap individu dengan masyarakatnya. Dan sama sekali tidak ada hukuman bagi keyakinan atau keimanan seseorang.

"…. karena sesungguhnya, tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka." – (QS.13:40).

"Bukanlah kewajibanmu, (untuk) menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah, Yang memberi petunjuk (memberi taufik-hidayah, kepada) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan …." – (QS.2:272).

"…. Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat-Nya). Dan …." – (QS.3:20).

Iman adalah berusaha melaksanakan segala perintah-Nya dan menghindari segala larangan-Nya (wajib dan sunnat).

Tetapi keimanan cakupannya amat luas (dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi), maka definisi iman di atas hanyalah anjuran, agar manusia bisa mencapai keimanan yang makin tinggi. Karena kalau benar-benar dipakai sebagai definisi, maka hampir "tidak ada" manusia yang benar-benar beriman (sama sekali tidak memiliki dosa sebesar biji zarrah sekalipun).

Larangan paling utama yang tidak dimaafkan-Nya adalah kemusyrikan.

Hanyalah akal satu-satunya sarana pada tiap manusia (termasuk para nabi-Nya), untuk mengetahui tentang Allah, sifat-sifat-Nya dan berbagai kebenaran-Nya, dengan berusaha memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini.

Persoalannya adalah, kemampuan akal tiap umat justru sangat berbeda. Maka peranan wahyu-Nya justru sangat penting sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya bagi tiap umat manusia, agar mempermudah umat untuk mengenal Allah dan jalan-Nya yang lurus, serta agar umat bisa kembali dekat di sisi 'Arsy-Nya.

Dan tiap umat semestinya benar-benar bisa memahami berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalam ajaran-ajaran agama-Nya, lalu mengamalkannya, jika ingin makin mendekati berbagai kemuliaan yang diperoleh para nabi-Nya.

Tasdiq, ma'rifah dan amal hanyalah berbagai proses pencapaian keimanan yang makin tinggi, 'bukanlah' hal-hal yang perlu dipertentangkan dengan iman, juga 'bukanlah' definisi dari iman itu sendiri.

Mustahil ada wahyu-Nya yang melarang manusia, untuk mengetahui tentang Allah. Justru seluruh alam semesta ini diciptakan-Nya, hanyalah agar manusia bisa mencari dan mengenal Allah Yang menciptakannya (beserta segala kemuliaan dan kekuasaan-Nya).

Bahkan hampir tiap ayat dalam Al-Qur'an, ada disebut tentang sifat-sifat Allah (Yang Maha …), yang keseluruhannya tergambar pada Asmaul Husna.

Maka justru sangatlah aneh, jika ada sesuatu anjuran untuk tidak memahami sifat-sifat Allah (untuk tidak mengenal Allah).

Para nabi-Nya adalah manusia-manusia biasa yang melihat "wajah-Nya" atau "tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah) ", yang justru persis sama halnya, seperti yang bisa dilihat pula oleh seluruh umat manusia lainnya.

Perbedaannya adalah para nabi-Nya itu memiliki kemauan dan usaha yang amat keras sepanjang hidupnya (jauh melebihi manusia lain pada jamannya masing-masing), untuk bisa memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya (segala kebenaran-Nya di alam semesta).

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun (hai Muhammad), dan tidak (mengutus pula) seorang nabi, melainkan apabila ia (rasul atau nabi itu) mempunyai sesuatu keinginan (yang kuat guna mengetahui kebenaran-Nya). Syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginannya. (Namun) Allah menghilangkan apa yang dimaksud oleh syaitan itu (untuk melindunginya), dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana," – (QS.22:52).

 

Sehingga seluruh hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) yang diperoleh para nabi-Nya, justru relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan. Disebut "lengkap", selain karena bisa menjawab 'seluruh' persoalan mendasar umat kaumnya pada jamannya, juga karena mereka amat konsisten mengamalkannya dalam kehidupannya sehari-hari, melalui sikap, perkataan dan perbuatan.

Kelengkapan dan keutuhan itulah yang membuat tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) pada para nabi-Nya, pantas disebut sebagai "wahyu-Nya". Dan membuat mereka disebut sebagai nabi atau rasul-Nya, yang menjadi panutan bagi umat manusia pada tiap jamannya masing-masing.

"Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengannya) dan sebagiannya (lagi) Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan …." – (QS.2:253).

Wahyu-Nya adalah pengetahuan atau pemahaman para nabi-Nya atas tanda-tanda kekuasaan-Nya, maka tidak penting apakah pengetahuan umat diperoleh 'sebelum' ataupun 'setelah' umat membaca wahyu-Nya yang terkait.

Persoalannya bukanlah pada urutan perolehannya, tetapi wahyu-Nya adalah acuan dasar yang paling mudah, aman dan benar bagi umat, untuk menilai kebenaran pengetahuan yang diperolehnya sendiri ('sebelum'), ataupun sebagai acuan awal untuk memahami hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di balik teks-teks wahyu-Nya ('setelah').

 

Dari uraian pada Tabel 31 dan Tabel 32 di atas, secara garis besar, keseluruhan pemahaman pada buku ini semakin sulit bisa dicari kedekatannya terhadap pemahaman pada beberapa aliran yang telah ditinjau, yaitu: Mu'tazilah, Maturidiah (Samarkand dan Buchara) dan Asy'ariah. Sangatlah banyak perbedaan yang telah ditemukan, antara pemahaman pada buku ini dibandingkan dengan ke semua aliran itu. Begitu pula sangatlah banyaknya perbedaan pemahaman antar aliran-aliran itu sendiri.

Hal ini relatif bisa mudah dipahami, karena berbagai landasan pemahaman pada masing-masing aliran telah berbeda sejak awalnya, seperti yang telah dibahas pada poin A (tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia) dan poin B (tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah), dalam Lampiran D ini pula di atas.

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s