Bab VI.A.4 Takdir-Nya

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

VI.A.4.

Takdir-Nya

Takdir-Nya, definisi umum dan persoalan pemahamannya

Perdebatan tentang Qadar atau Takdir (predestination), beserta kaitannya dengan kebebasan manusia dalam berkehendak dan berbuat (freewill dan freeact), hampir tidak pernah selesai dengan tuntas pada kalangan umat Islam, khususnya setelah wafatnya Nabi. Bahkan hal inipun telah menimbulkan berbagai aliran-mazhab-golongan, dengan segala dasar alasannya masing-masing, yang seolah-olah relatif 'ada mengandung' berbagai kebenaran.

Adanya perselisihan pemahaman inipun menunjukkan, bahwa masing-masing aliran itu hanya memandang aspek-aspek tertentu saja, dari segala kehendak-Nya bagi alam semesta ini (termasuk qadar atau takdir-Nya). Dan hampir semuanya belum memiliki pemahaman yang relatif utuh dan menyeluruh, terutama yang terkait dengan "bagaimana Allah berkehendak dan bertindak di alam semesta ini, termasuk dalam menentukan qadar atau takdir-Nya, bagi tiap makhluk-Nya".

Padahal keimanan kepada Qadar atau Takdir itu adalah salah-satu dari 'Rukun Iman' dalam agama Islam (rukun yang terakhir dari enam rukun, yaitu iman kepada: Allah swt, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, Hari Kiamat, qadar dan qadla-Nya), yang semestinya telah bisa dipahami dengan baik oleh tiap umat Islam.

Padahal pemahaman adalah salah-satu aspek penting keimanan (selain pengamalannya), dan justru para alim-ulama dari jaman dahulu sampai sekarang, umumnya belum ada yang memiliki penjelasan yang memadai atau memuaskan, tentang Qadar atau Takdir-Nya itu.

Dalam buku "Ensiklopedia Islam AL-KAMIL" disebut antara-lain:

Definisi umum dan keimanan kepada takdir-Nya

Definisi Qadar atau Takdir:

"Qadar adalah pengetahuan Allah tentang segala sesuatu yang ingin Dia wujudkan atau terjadi pada makhluk-Nya, alam semesta, kejadian dan segala sesuatu. Ketentuan tersebut tercatat dalam kitab mulia (Lauh Mahfuzh). Qadar merupakan rahasia Allah atas ciptaan-Nya yang tidak dapat diketahui sekalipun oleh malaikat terdekat maupun para nabi yang diutus-Nya.".

Definisi iman kepada Qadar atau Takdir:

"Iman kepada Qadar adalah membenarkan dengan keyakinan yang kuat, bahwa semua yang terjadi meliputi perkara yang baik maupun buruk, serta segala sesuatu merupakan Qadha (keputusan) dan Qadar (takdir).".

Aspek-aspek keimanan kepada Qadar atau Takdir:

1. Beriman bahwa Allah Ta'ala Maha mengetahui segala sesuatu halnya.
2. Beriman bahwa Allah menuliskan ke dalam Lauh Mahfuzh tentang takdir atas segala makhluk-Nya, yang isi tulisannya tidak berubah kecuali atas perintah-Nya.
3. Beriman bahwa segala sesuatunya terjadi atas kehendak (maryiah) dan keinginan (iradah) Allah.
4. Beriman bahwa Allah Pencipta segala sesuatu.

Takdir-Nya menurut pemahaman di sini, dan definisinya

Dari seluruh pembahasan pada buku ini, telah bisa diperoleh berbagai pemahaman yang terkait dengan takdir-Nya, seperti:

Berbagai pemahaman terkait tentang takdir-Nya

Maha suci Allah, Allah justru mustahil bisa mengetahui hasil akhir dari tiap pilihan atau putusan dari akal makhluk tiap saatnya (salah-satu dari amat sangat banyak pilihan), 'sebelum' selesai diputuskan oleh makhluknya sendiri.

Hal inilah wujud dari kebebasan yang diberikan-Nya bagi tiap makhluk dalam berkehendak dan berbuat. Namun kebebasan ini tetap amat sangat terbatas, jika dibanding dengan ke-Maha Luas-an alam dunia ataupun alam semesta, yang diciptakan-Nya ini.

Allah Maha mengetahui segala keadaan tiap zat ciptaan ataupun makhluk-Nya tiap saatnya, tetapi hanya keadaan 'setelah' diubah-ubah oleh segala makhluk-Nya (bukan 'sebelumnya'), terutama terkait dengan kehendak dan perbuatan makhluk-Nya, yang telah diberikan-Nya kebebasan (melalui diciptakan-Nya akal dan nafsunya).

Segala kebenaran-Nya di seluruh alam semesta ini, yang telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya adalah hal-hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten atau tidak pernah berubah sejak dicatatkannya).

Dari segala kebenaran-Nya itu termasuk di dalamnya segala ketetapan atau ketentuan-Nya bagi alam semesta, yang justru telah diciptakan-Nya sebelum penciptaannya, seperti sunatullah atau Sunnah Allah (sifat perbuatan zat Allah di alam semesta). Baca pula uraian di bawah, tentang kitab mulai (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya.

Segala perbuatan-Nya di seluruh alam semesta ini (sunatullah, lahiriah dan batiniah) bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten). Sehingga juga bersifat jelas prosesnya (amat sangat teratur), juga amat sangat alamiah, halus, tidak kentara dan seolah-olah terjadi begitu saja.

Sunatullah berupa segala aturan atau rumus proses kejadian, yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', yang pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan tiap saatnya pada tiap zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini.

Sehingga sunatullah disebut juga 'aturan-Nya'.

'Hukum alam' hanya terkait dengan segala aturan-Nya, yang mengatur segala proses 'lahiriah' di alam semesta ini, yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'.

Sedang 'sunatullah' lebih luas daripada 'hukum alam' itu, karena terkait pula dengan segala proses 'batiniah'.

Kebebasan tiap manusia (lahiriah dan batiniah) pasti dibatasi pula oleh suatu kumpulan aturan tertentu yang disebut 'hukum alam' (lahiriah), atau lebih tepatnya lagi disebut 'sunatullah' (lahiriah dan batiniah).

Allah 'tiap saatnya' pasti memberi balasan-Nya di dunia dan di akhirat, yang amat setimpal dengan tiap amal-perbuatan makhluk-Nya, dan pasti tidak dianiaya-Nya (tidak menanggung segala beban dosa makhluk-Nya lainnya).

Sehingga tiap balasan-Nya bukan hanya diberikan-Nya 'setelah' makhluk-Nya selesai melakukan tiap perbuatannya, tetapi justru diberikan-Nya 'tiap saatnya' selama proses perbuatan itu sedang dilakukan (saat berbagai keadaannya sedang diubah-ubah).

Hanya kehendak manusia yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedangkan hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mengakhiri atau mewujudkan perbuatan manusia (Allah 'tiap saatnya' pasti selalu menyertai 'di belakang' tiap perbuatan manusia), yang setimpal dengan usaha atau perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberikan balasan-Nya 'tiap saatnya'.

Memang manusia yang menciptakan berbagai keadaan awalnya, tetapi Allah Yang mewujudkan segala keadaan akhirnya, yang setimpal dengan segala keadaan awal itu (melalui sunatullah). Semua keadaan itu meliputi aspek lahiriah dan batiniah.

Tentunya di antara segala keadaan awal itu, ada pula berbagai keadaan awal dari pengaruh lingkungan kepada tiap manusianya (bahkan dari pengaruh seluruh alam semesta), yang jika terasa memberatkan disebut 'ujian-Nya' (sebaliknya 'rahmat-Nya').

Sebaliknya, tiap perbuatan manusia pada dasarnya memiliki pengaruh bagi seluruh alam semesta, dari segala keadaan akhir yang terwujud atau bisa diusahakannya.

Secara sadar ataupun tidak, tiap manusia (atau makhluk-Nya) pada dasarnya hanya memanfaatkan sunatullah (perbuatan Allah) dalam tiap perbuatannya.

Tiap makhluk-Nya pada saat melakukan sesuatu perbuatan, pada dasarnya ia hanya 'memulai' melakukan sesuatu yang relatif sangat sederhana (baik ataupun buruk). Sedangkan ada 'daya dan perbuatan' dari Allah (melalui sunatullah), yang justru 'mewujudkan' perbuatan itu tiap saatnya (sebagai suatu bentuk rahmat ataupun balasan-Nya atas tiap perbuatan makhluk-Nya), walau juga belum tentu suatu keredhaan-Nya.

Perbuatan manusia bukanlah perbuatan Allah, sehingga tiap manusia pasti harus bertanggung-jawab atas tiap amal-perbuatan di dunia ini ataupun akan ditangguhkan-Nya sampai Hari Kiamat, karena memang hanya manusianya sendiri yang menciptakan, memulai atau memicu tiap perbuatannya.

Tiap amal-perbuatan makhluk-Nya bisa meliputi 2 aspek, yaitu: sebab dan akibat (keadaan awal dan akhir, yang memulai dan yang mewujudkan, dsb).

Maka hanya tiap makhluk-Nya yang menjadi penyebab, yang menciptakan berbagai keadaan awal, atau yang memulai tiap amal-perbuatannya sendiri.

Sedang hanya Allah, Yang memberi akibat bagi makhluk-Nya (memberi balasan-Nya), Yang menciptakan segala keadaan akhirnya, atau Yang mewujudkan tiap amal-perbuatan makhluk-Nya.

Ujian-Nya sama sekali berbeda daripada hukuman-Nya ataupun siksaan-Nya. Karena ujian-Nya sama sekali tidak ada hubungannya (secara langsung ataupun tidak), dengan segala hasil pengaruh dari tiap amal-perbuatan makhluk-Nya, yang mengalami ujian-Nya itu. Ujian-Nya semata hanya hasil pengaruh dari luar diri makhluk-Nya itu.

Namun tiap beban ujian-Nya justru amat berpengaruh atas 'nilai amalan' dari tiap amal-perbuatan makhluk-Nya, yang dilakukan ketika ia sedang mengalami ujian-Nya itu (termasuk besar nikmat / pahala-Nya ataupun besar hukuman-Nya / beban dosa yang diberikan-Nya), sebagai wujud dari ke-Maha adil-an-Nya.

 

Dari poin-poin di atas, maka bisa diambil kesimpulan, sebagai berikut:

Rangkuman dan definisi khusus tentang takdir-Nya
(menurut pemahaman pada buku ini)

Rangkuman tentang Qadla dan Qadar-Nya (Takdir-Nya):

Qadla-Nya merupakan segala keadaan 'tiap saatnya' yang telah ditentukan-Nya atas tiap zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini, melalui berlakunya sunatullah 'tiap saatnya', yang setimpal sesuai segala keadaan pada tiap zat itu (lahiriah dan batiniah), yang diubah-ubah oleh segala makhluk-Nya yang terkait.

Qadar atau Takdir-Nya adalah sejumlah besar Qadla-Nya yang telah membentuk segala keadaan atau hasil 'akhir' pada tiap zat ciptaan-Nya pada saat tertentu ataupun saat terakhirnya sekarang ini. Ringkasnya, Qadar-Nya adalah Qadla-Nya yang terakhir (keadaan, hasil atau nasib yang terakhir), sampai pada waktu yang ditinjau.

Sehingga Qadla-Nya disebut juga sebagai takdir-takdir kecil yang bersifat sementara, atau masih bisa diusahakan 'terpilih' takdir-takdir kecil lainnya, di lain waktu.

Dan karena jarak waktu antara dua Qadla-Nya amat sangat sempit, atau jarak yang paling sempit antara dua usaha yang berbeda oleh tiap manusia, untuk mengubah keadaannya (lahiriah dan batiniah). Maka Qadla-Nya disebut juga sebagai "ketentuan-Nya yang tidak bisa dipilih lagi oleh manusia". Sedang Qadar-Nya masih bisa 'dipilih-pilih' (dari sesuatu Qadar-Nya ke Qadar-Nya yang lain).

Maka Qadla dan Qadar-Nya (Takdir-Nya) pada dasarnya adalah dua hal yang sama. Namun Qadar atau Takdir-Nya dianggap di sini, lebih cocok dipakai pada keadaan yang terakhir saja (keadaan sekarang). Sedangkan Qadla-Nya pada segala keadaan lainnya (sebelumnya).

Perbedaan antara Qadla dan Qadar-Nya hanyalah pada konteks waktunya saja, dan dengan sendirinya juga pada tiap keadaan tertentu yang sedang ditinjau (jodoh, rejeki, kematian, dsb).

Hal yang relatif jarang disebut atau diketahui, bahwa takdir-Nya atas tiap zat ciptaan-Nya, justru ditentukan-Nya 'tiap saatnya', ketika berbagai keadaan zat itu telah mulai berubah (sekecil apapun perubahannya), sebelum terjadinya takdir-Nya itu.

Hal ini justru bukan ditentukan-Nya 'sebelum' terjadinya perubahan keadaan itu. Apalagi bukan telah ditentukan takdir-Nya saat Hari Kiamat, bahkan bukan pula takdir-Nya untuk besok, sejam ataupun sedetik lagi.

Apa jadinya, jika takdir-Nya tiap saatnya justru telah ditentukan-Nya 'sebelumnya'?. Pasti manusia dan segala makhluk-Nya lainnya persis seperti 'robot'.

Kunci paling utama dari Qadar atau Takdir-Nya justru terletak pada peran dari aturan-Nya (sunatullah atau Sunnah Allah), yang merupakan suatu sebutan lainnya dari "sifat dinamis-proses-perbuatan' Allah di seluruh alam semesta ini (bersifat 'mutlak' dan 'kekal')". Tentunya sunatullah inipun juga merupakan perwujudan dari segala kehendak-Nya bagi seluruh alam semesta

Definisi khusus tentang Qadla dan Qadar-Nya (Takdir-Nya):

"Qadar atau Takdir-Nya adalah keadaan atau hasil akhir, dari tak-terhitung jumlah proses pada sunatullah atau aturan-Nya, yang 'telah' dijalani oleh tiap zat ciptaan-Nya, sejak awal diciptakan-Nya, sampai pada suatu saat tertentu yang ditinjau."

"Qadla-Nya adalah tiap keadaan atau hasil akhir 'sesaat' (takdir kecil), sebagai penyusun suatu takdir-Nya."

 

Maka pengetahuan atau ilmu-Nya yang dimaksud dari definisi pada buku "Ensiklopedia Islam AL-KAMIL" di atas, bukanlah takdir-Nya, tetapi sunatullah (atau aturan-Nya), yang merupakan salah-satu ketentuan-Nya, dan berupa segala aturan atau rumus proses penentuan takdir-Nya tiap saatnya, bagi tiap zat ciptaan-Nya.

Dan ketentuan, pengetahuan atau ilmu-Nya yang telah tercatat dalam kitab mulia (Lauh Mahfuzh), bukanlah data-data tentang takdir-Nya (sederhananya seperti: "si A nantinya akan menjadi X, di tempat Y pada waktu Z"). Bayangkan saja apa jadinya, jika takdir-Nya berupa hal-hal sederhana semacam ini. Sementara takdir-Nya bersifat mutlak (pasti terjadi). Segala zat makhluk-Nya pasti menjadi seperti "robot" (tidak memiliki kebebasan berkehendak dan berbuat sama sekali).

Pada ilmu-pengetahuan modern, tiap proses penentuan takdir-Nya itu persis seperti proses 'integrasi' dalam bidang ilmu matematika (dengan batas atau limit waktu integrasinya, yaitu sejak awal suatu zat diciptakan-Nya, sampai suatu saat tertentu yang ditinjau).

Baca pula berbagai uraian di bawah, untuk pemahaman lebih lengkapnya, ataupun topik-topik lain terkait pada buku ini.

Perbandingan berbagai pendapat terkait takdir-Nya

Berikut diuraikan secara ringkas, tentang hal-hal yang terkait dengan takdir-Nya, menurut berbagai pendapat ataupun pemahaman, khususnya yang kurang pas, kurang utuh ataupun keliru maknanya, yang dianggap telah cukup mewakili segala pendapat yang telah luas berkembang pada kalangan umat Islam, berikut pembahasannya sesuai pemahaman pada buku ini, antara-lain:

Berbagai pendapat terkait tentang takdir-Nya, dan
pembahasannya menurut pemahaman pada buku ini

Berbagai pendapat berikut dirangkum dari buku "Cakrawala Tasawuf", Khan Sahid Khaja Khan, BA., 1987: halaman 147-153

a.

-Anonim-: "Kebebasan manusia dalam berkehendak, dicurigai sebagai hasil pengaruh ajaran Kristiani". (hal: 147)

»

Tiap manusia justru bebas sepenuhnya dalam berkehendak dan berbuat, dengan telah diberikan-Nya akal dan nafsu. Namun tiap manusia juga tetap dibatasi atau diliputi oleh kehendak dan perbuatan Allah di alam semesta (melalui sunatullah).

Hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran agama lain.

b.

Hasan Basri: "Tiap tindakan manusia hanya atas kehendak manusianya sendiri, bukan atas kehendak Allah". (hal: 147)

Aliran Mu'tazilah dan aliran syiah: "Tuhan tidak campur-tangan pada segala tindakan manusia". (hal: 148)

»

Daya dan perbuatan-Nya justru pasti selalu campur-tangan tiap saatnya (lebih tepatnya pasti selalu 'menyertai' di belakang), untuk mewujudkan tiap perbuatan manusia (sebagai suatu bentuk rahmat dan balasan-Nya), yang setimpal sesuai dengan segala keadaan yang telah diusahakan oleh manusianya sendiri.

Tetapi Allah memang sama sekali tidak campur-tangan dalam memulai, memicu atau mencipta tiap perbuatan manusia (hanya semata atas kehendak dan daya-upaya manusianya sendiri).

Allah hanya berkehendak memberi pengajaran dan tuntunan-Nya, secara amat sangat halus dan tidak memaksa, agar tiap perbuatan manusia itu sambil disertai pula dengan usaha untuk memuliakan dirinya sendiri (agar tidak menjadi sia-sia).

c.

Aliran Qadariyah: "Segala perubahan terjadi karena tuntunan Ilahi, dan dalam tiap tindakan manusia selalu ada terdapat campur-tangan Tuhan". (hal: 148)

»

Daya dan perbuatan-Nya (melalui sunatullah) memang tiap saatnya pasti selalu 'menyertai' atau bercampur-tangan, 'di belakang' tiap perbuatan manusia (baik atau buruk), untuk mewujudkannya sekaligus untuk memberi balasan-Nya tiap saatnya (dengan ataupun tanpa keredhaan-Nya).

Tetapi balasan-Nya tiap saatnya itu justru hanya setimpal, sesuai dengan segala keadaan (lahiriah dan batiniah), yang telah diusahakan oleh manusianya sendiri (dengan kebebasannya dalam berkehendak dan berbuat).

»

Segala tuntunan-Nya bukan sesuatu yang memaksa, namun hanya anjuran demi kemuliaan manusia sendiri, jika dikuti. Sehingga segala perubahan kurang tepat atau tidak relevan, jika dihubungkan dengan tuntunan-Nya.

Lebih tepatnya, segala perubahan pasti mengikuti segala kehendak-Nya, melalui sunatullah atau aturan-Nya, yang justru bersifat memaksa (mutlak atau pasti terjadi). Segala zat ciptaan-Nya pasti tunduk kepada kehendak atau aturan-Nya.

d.

Abul Hasan al-Asy'ari: (hal: 148)

~

"Tuhan akan berbuat yang terbaik (aslah) bagi makhluk-Nya".

~

"Al-Qur'an tidak diciptakan".

~

"Manusia dengan matanya akan dapat melihat Tuhan".

~

"Tidak ada pencipta perbuatan buruk".

»

Allah pasti berbuat yang terbaik bagi tiap makhluk-Nya, sebagai rencana-Nya dalam penciptaan alam semesta ini. Tetapi segala perbuatan-Nya di seluruh alam semesta ini (melalui sunatullah), justru tidak pernah berubah (kekal), sejak awal penciptaan alam semesta sampai akhir jaman, serta pasti berlaku sama dan adil bagi segala zat ciptaan-Nya.

Sehingga usaha mempertanyakan kebaikan segala perbuatan-Nya, sama halnya dengan mempertanyakan ke-Maha Sempurna-an segala kehendak atau rencana-Nya bagi alam semesta ini, yang justru bersifat kekal. Hal di atas tentunya juga bukan 'terbaik', menurut penilaian relatif dan subyektif dari tiap manusia.

Allah tidak mengurus tiap makhluk-Nya 'satu persatu', tetapi Allah mengurus 'seluruh' zat ciptaan-Nya, secara seragam dan Maha Adil (melalui sunatullah).

Bahkan hukuman-Nya bagi manusia atas tiap amal-perbuatannya, justru demi kebaikan manusia itu sendiri, karena ia akan menjadi mengetahui hal-hal yang bisa merugikannya, lalu agar di lain waktu, ia bisa menghindarinya.

Begitu pula ujian-Nya (bukan suatu hukuman atau siksaan-Nya), agar tiap manusia bisa memperbaiki sikap-sikap batiniahnya. Sedang hukuman-Nya lebih terarah, agar manusia bisa memperbaiki amal-amal lahiriahnya.

»

Al-Qur'an memiliki 4 macam bentuk, yaitu:

(baca pula topik "Kitab-kitab tuntunan-Nya")

1. Al-Qur'an sebagai Fitrah Allah sendiri (sifat-sifat-Nya yang terpuji).
2. Al-Qur'an sebagai tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini (ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis).
3. Al-Qur'an sebagai segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), yang telah dipahami oleh nabi Muhammad saw, dalam dada-hati-pikirannya.
4. Al-Qur'an sebagai kitab suci Al-Qur'an (Al-Kitab).

Maka Al-Qur'an pada dasarnya justru diciptakan-Nya, dan bahkan juga diciptakan oleh nabi Muhammad saw dan dibantu oleh para pengikutnya.

Satu-satunya bukti, bahwa segala sesuatu hal memang berasal dari Allah hanya karena hal itu "benar" (bersifat mutlak dan kekal), dan bukan "benar" yang bersifat relatif dan subyektif menurut penilaian tiap manusia. Dan sama sekali bukan tergantung kepada bagaimana kebenaran-Nya itu disampaikan, siapa penyampainya ataupun apa alat-sarana penyampaiannya.

Keyakinan umat Islam atas "kebenaran seluruh" kandungan isi Al-Qur'an, jauh lebih penting. Keyakinan yang kuat bisa dicapai, dengan berusaha memahami kembali segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), 'di balik' teks ayat-ayat Al-Qur'an, dengan semaksimal mungkin agar mendekati pemahaman Nabi. Bukan hanya dari keyakinan atas pribadi Nabi, yang mulia dan terpuji.

»

Manusia mustahil bisa melihat (melalui mata lahiriah) dan memahami (melalui mata batiniah), di dunia dan di akhirat, tentang 'zat' Allah, karena mustahil bisa sanggup. Padahal manusia juga pasti mustahil bisa sanggup melihat dan memahami segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini (nyata dan gaib).

Bahkan para malaikat dan para nabi-Nya pasti akan menghadapi segala tabir, hijab atau pembatas, terhadap 'zat' Allah.

Manusia hanya bisa memahami cahaya kebenaran-Nya (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, Al-Hikmah), sebagai pengetahuan yang tertinggi tentang Allah.

»

Pencipta sesuatu perbuatan buruk (dan baik), tentu saja makhluk pelakunya.

Istilah 'pencipta' tetap hanya istilah buatan manusia, bukan sesuatu yang mesti dinisbatkan atau dikaitkan dengan Allah. Tergantung kepada hal-hal 'apa' yang diciptakan, serta konteks yang ditinjau.

Dalam konteks yang paling tinggi, luas dan umum, tentu saja hanya Allah Pencipta segala sesuatu hal di alam semesta ini (zat dan non-zat ciptaan-Nya).

Sedang makhluk-Nya hanya bisa mencipta, dengan memanfaatkan hal-hal yang telah diciptakan-Nya tersebut.

Istilah 'pencipta' bisa disebut pula kepada tiap makhluk-Nya yang telah memulai, mengawali atau memicu sesuatu hal.

Ada manusia-manusia pencipta roket, televisi, korek api, dsb.

e.

Aliran Sunni (Ahlus-sunnah wal jama'ah): "Kekuatan untuk berbuat baik dan buruk datangnya dari Allah semata". (hal: 148)

»

Daya-kekuatan dan perbuatan Allah (melalui sunatullah), justru hanya pasti selalu 'menyertai' tiap saatnya, 'di belakang' tiap perbuatan manusia (baik dan buruk), untuk mewujudkannya atau memberikan balasan-Nya tiap saatnya (dengan ataupun tanpa keredhaan-Nya), secara setimpal sesuai dengan hal-hal yang justru telah diusahakan oleh manusianya sendiri.

Daya-kekuatan dan perbuatan Allah (melalui sunatullah), selain hanya 'menyertai' di atas, justru bersifat 'mutlak' dan 'kekal', sehingga juga bersifat 'netral' (mustahil bisa dinilai baik ataupun buruk). Hal sebaliknya, tiap daya-kekuatan dan perbuatan manusia yang justru mencipta, memulai atau memicu tiap perbuatannya, dan sekaligus membuatnya bisa menjadi baik ataupun buruk.

Tiap perbuatan manusia (baik ataupun buruk) justru pasti selalu melibatkan daya-kekuatan manusia itu sendiri (untuk memulainya) dan daya-kekuatan Allah (untuk mewujudkannya), serta bukan daya-kekuatan Allah semata. Karena tentunya terlalu 'jauh' jika daya-kekuatan manusia, disebut pula sebagai hasil dari daya-kekuatan Allah, dengan diciptakan-Nya akal dan nafsu pada tiap manusia.

Dengan akal dan nafsunya, justru tiap manusia sepanjang hidupnya bisa membangun daya-kekuatannya sendiri.

f.

Sir Hamilton: "Kemerdekaan tidak terkandung dalam kekuatan, untuk melaksanakan apa yang kita inginkan, namun dalam kekuatan untuk mengingini apa yang kita inginkan". (hal: 149)

»

Sedikit betul. Karena pengaturan alam batiniah ruh (mengatur segala keinginan), jauh lebih paling penting dan hakiki, daripada melaksanakan segala keinginan.

»

Manusia memiliki kebebasan dan kekuatan sepenuhnya (amatlah sangat luas), untuk berkehendak dan berbuat, secara lahiriah dan terutama batiniah. Walau hal lahiriahnya memang relatif dibatasi-Nya (melalui sunatullah), hanya 'secukupnya' bagi segala kebutuhannya untuk bisa menjalani kehidupan dunianya.

Atas ijin-Nya, pada dasarnya hanya hakekat 'esensi' zat Allah, yang mustahil terjangkau oleh akal-pikiran manusia, sebagai pengendali satu-satunya di alam batiniah ruhnya. Sedang hal-hal lainnya sedikit-banyak masih bisa dijangkau oleh tiap manusianya.

Sehingga tiap manusia memiliki kebebasan dan kekuatan sepenuhnya, untuk bisa mengatur kehidupan batiniah ruhnya (kehidupan akhiratnya, kekal dan hakiki).

'Perbuatan batiniah' dari akal-pikiran itu adalah memilih, mengatur, mengolah, menghitung, menilai dan memutuskan segala informasi (termasuk 'kehendak batiniah'), untuk dianggapnya sebagai suatu pengetahuan.

Sedang kebebasan dan kekuatan lahiriah memang relatif amat terbatas, untuk bisa diatur oleh manusia. Namun jika ia bisa mengatur kehidupan batiniah ruhnya dengan 'benar' (sesuai jalan-Nya yang lurus), justru ia 'semestinya' bisa pula menyelesaikan segala persoalan kehidupan lahiriah-duniawinya.

g.

Prof. Bain: "Makna sejati dari kebebasan adalah tiadanya dorongan dari luar. Tiap hal yang dapat dipandang sebagai akibat dari pengaruh motif untuk bertindak, dan tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang lain, semuanya adalah bebas.". (hal: 149)

»

Kebebasan sejati dan mutlak hanyalah hak-milik Allah.

»

Manusia memang memiliki kebebasan dan kekuasaan sepenuhnya (amat sangat luas), untuk berkehendak dan berbuat, khususnya dalam mengatur kehidupan batiniah ruhnya (kehidupan akhiratnya, yang kekal dan hakiki).

Tetapi alam semesta ini diciptakan-Nya dengan sesuatu tujuan yang jelas dan benar (hak). Maka tiap makhluk-Nya pasti akan mendapat balasan-Nya (nikmat ataupun hukuman-Nya), yang setimpal dengan tiap amal-perbuatannya.

Sehingga manusia tidak bisa hidup 'sebebas-bebasnya', tetapi dianjurkan atau disarankan-Nya (atau pasti didorong-Nya dengan amat sangat halus dan tanpa paksaan), agar manusia mau memilih dan mengikuti jalan-Nya yang lurus, demi kemuliaannya sendiri (dan bahkan bukan demi kepentingan Allah, Yang tidak memerlukan segala sesuatu hal).

h.

Necessitarianism: "Ada sesuatu yang Luhur, yang mengendalikan kehendak kita dan memperlakukan kita sekehendak-Nya". (hal: 149)

»

Allah justru sama sekali tidak mengendalikan kehendak dan perbuatan manusia. Bahkan tiap manusia bisa bebas berkehendak dan berbuat, untuk bisa menjadi setengah malaikat (amat mulia) ataupun menjadi setengah iblis (amat hina).

Walau tiap makhluk-Nya pasti akan mendapat balasan-Nya (nikmat ataupun hukuman-Nya), yang setimpal dengan tiap amal-perbuatannya, karena alam semesta ini diciptakan-Nya dengan suatu tujuan yang jelas dan benar (hak)

Tetapi Allah justru sama sekali 'tidak' berbuat sekehendak-Nya, karena segala kehendak-Nya bagi alam semesta ini (melalui sunatullah), justru 'tidak berubah' (kekal) sejak awal diciptakan-Nya (bahkan sebelum ada segala makhluk-Nya).

i.

-Anonim- (semua agama yang ber-Tuhan): "Tuhan memiliki Kehendak, dan Dia akan mengarahkan dunia sebagaimana yang dikehendaki-Nya". (hal: 149)

-Anonim- (Islam): "Islam berarti berserah kepada segala kehendak Tuhan. Karena itu kehendak manusia harus disesuaikan dengan kehendak Tuhan.". (hal: 149)

»

Allah memiliki berbagai kehendak dalam penciptaan alam semesta ini (melalui sunatullah).

Namun tiap kehendak-Nya justru bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), sejak ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta ini, sampai akhir jaman, karena alam semesta ini memang diciptakan-Nya dengan suatu tujuan yang jelas dan benar (hak).

»

Allah justru tidak berbuat sekehendak-Nya di alam semesta ini. Kehendak-Nya (melalui sunatullah) juga bersifat netral, amat tinggi, umum dan luas cakupannya.

Mustahil kehendak makhluk (bersifat relatif dan berubah-ubah) bisa disetarakan atau disejajarkan dengan kehendak-Nya (bersifat mutlak dan kekal).

»

Terkait dengan tiap makhluk-Nya (terutama manusia), justru Allah berkehendak memberinya kebebasan berkehendak dan berbuat (dengan telah diberikan-Nya, akal dan nafsu pada tiap ruh manusia).

Sehingga Allah memang berkehendak mengatur dan mengarahkan seluruh alam semesta ini, tetapi justru bukan mengatur kebebasan manusia.

Namun dengan amat sangat halus dan tidak memaksa, Allah hanya 'mengarahkan' tiap manusia, dengan 'tiap saatnya' memberi balasan-Nya (nikmat dan hukuman-Nya, lahiriah dan terutama batiniah), atas tiap amal-perbuatannya (baik dan buruk), agar manusia bisa mengenal dan mengikuti 'agama-Nya yang lurus', sebagai keredhaan-Nya, dan demi kemuliaannya sendiri.

Tetapi keredhaan-Nya justru relatif berbeda daripada kehendak-Nya.

Ringkasnya, Allah memang berkehendak memberi pengajaran dan tuntunan-Nya, tetapi justru sekaligus pula berkehendak memberi cobaan atau ujian-Nya, bahkan iblis dan syaitan adalah bagian dari kehendak-Nya, untuk bisa menguji manusia.

Sehingga kehendak-Nya tidak terkait sama sekali, dengan tujuan untuk membuat manusia menjadi beriman. Terlalu mudah bagi Allah, jika dikehendaki-Nya begitu (atau "menjadikan umat yang satu").

»

Tiap umat manusia semestinya berserah-diri (bertawakal), atas segala kehendak-Nya bagi alam semesta ini, dan bagi segala makhluk-Nya.

»

Dan sikap berserah-diri (bertawakal) itu memiliki dua bentuk, yaitu:

~ Bertawakal menghadapi tiap kehendak-Nya, yang berupa aturan-Nya atau sunatullah, yang bersifat mutlak (pasti terjadi) dan kekal (pasti konsisten). Sunatullah mustahil bisa ditolak dan dihindari oleh segala zat ciptaan-Nya di alam semesta (nyata dan gaib, makhluk hidup dan benda mati).
~ Bertawakal menghadapi tiap kehendak-Nya, yang berupa segala pengajaran dan tuntunan-Nya, sebagai keredhaan-Nya bagi manusia, dan telah berupa ajaran-ajaran 'agama-Nya yang lurus' dari para nabi-Nya. Hal ini justru masih bisa dipilih-pilih, untuk diikuti ataupun tidak oleh tiap manusia.

Maka sikap tawakal bentuk pertama, justru relatif paling berat, karena memang mustahil bisa dihindari. Sedang sikap tawakal bentuk kedua relatif ringan, karena umat masih bisa mengikuti agama-Nya, sesuai keadaan dan kemampuannya masing-masing (agama-Nya sama sekali bukan untuk memberatkan umat manusia). Sikap tawakal bentuk kedua ini lebih ditujukan, untuk bisa lebih 'konsisten' mengikuti tiap ajaran agama-Nya, demi kemuliaan manusianya sendiri.

j.

-Anonim-: "Bahwa selama pengembaraan di alam mitsal, maka jasad tak akan bisa mendapat siksa dan pahala, atas perbuatan yang dilakukannya.". (hal: 149)

»

Siksa dan nikmat-Nya yang paling utama adalah pada alam batiniah ruh tiap manusia (alam akhiratnya), bukan pada alam lahiriah-fisik-duniawi (pada jasadnya).

Orang yang banyak berpikir, berkata ataupun berbuat maksiat, tubuh lahiriahnya bahkan justru bisa tetap sehat-sehat saja.

Tetapi segala keburukan secara batiniah, tentunya tetap memiliki beban dosa. Tiap godaan syaitan tetap merusak alam batiniah ruh, jika 'disetujui atau dinikmati' (meski memang mustahil bisa dihindari), walaupun beban dosanya relatif kecil. Namun jika telah diamalkan secara lahiriah, beban dosanya justru makin besar.

Dalam pengembaraan di alam mitsal, lebih baik berdasarkan pengetahuan yang cukup memadai, agar penuh kesadaran (bertafakur), bukan berkhayal atau melamun yang tidak ada gunanya.

Namun ada pula dosa yang cukup besar dari pengembaraan di alam mitsal (alam pikiran), seperti misalnya pada timbulnya sikap yang amat keliru, berburuk-sangka ataupun curiga terhadap Allah.

Dipahami di sini, siksa-Nya bisa berpengaruh secara lahiriah dan batiniah. Tetapi 'pahala-Nya' adalah nikmat-Nya secara batiniah. Sedang nikmat-Nya secara lahiriah, lebih tepat disebut 'rejeki atau karunia-Nya' (tidak ada pahala lahiriah).

k.

-Anonim-: "Banyak ayat Al-Qur'an yang menyatakan, bahwa manusia bukanlah agen yang bebas. Tetapi sebaliknya banyak pula ayat yang menunjukkan, bahwa manusia adalah agen yang bebas. Jika manusia menghindari ketetapan (takdir) yang telah ditetapkan baginya, dan akan ditinggalkan pada mereka, yang ingin mencari jalannya sendiri". (hal: 150)

»

Manusia adalah agen yang bebas, karena telah diberikan-Nya kebebasan dan kekuasaan sepenuhnya, untuk berkehendak dan berbuat. Namun manusia bukan agen bebas 'mutlak', karena ada aturan-Nya (sunatullah) bagi alam semesta ini, yang justru juga membatasi atau meliputi kebebasan manusia.

Kedua hal ini justru bukan hal yang saling bertentangan, karena kebebasan manusia memang bukan wilayah yang diatur dalam sunatullah.

Walau dibatasi-Nya, masih relatif amat sangat luas kebebasan bagi tiap manusia, untuk bisa mengatur dan menjalani kehidupannya (secara lahiriah dan batiniah).

»

Manusia mustahil bisa 'menghindari' takdir-Nya, tetapi hanya bisa 'memilih-milih' takdir-Nya, dengan 'tiap saatnya' mengubah-ubah berbagai keadaan awal sebelum berlakunya sunatullah, yang menentukan takdir atau keadaan akhirnya 'tiap saatnya' (qadla-Nya), yang setimpal sesuai dengan segala keadaan awalnya itu.

Secara sadar ataupun tidak, melalui tiap perbuatannya, manusia pada dasarnya hanya memilih dan memanfaatkan berbagai sunatullah yang akan dilaluinya. Karena hanya manusia yang memulai perbuatannya, namun hanya Allah yang mewujudkannya (melalui sunatullah), sekaligus untuk memberi balasan-Nya.

»

Mustahil ada "mencari jalannya sendiri", karena sepanjang hidupnya, tiap manusia justru hanya menjalani serangkaian tak-terhitung jumlah sunatullah, melalui segala perbuatannya (lahiriah dan batiniah, baik dan buruk). Manusia justru tiap saatnya sama sekali tidak bisa lepas dari sunatullah (bersifat mutlak dan kekal).

l.

Syeh Muhiyuddin ibn 'Arabi: "Takdir adalah sesuatu yang bersifat pasti dan tidak dapat berubah. Dan segala sesuatu untuk mewujud hanya memerlukan sabda-Nya: 'Jadi, maka jadilah'.". (hal: 151 dan 153)

Syeh 'Abdul Karim Jili: "Takdir adalah sesuatu yang bersifat dapat berubah.". (hal: 153)

»

Tiap takdir-Nya memang bersifat pasti dan tidak berubah.

Tetapi takdir-Nya atas suatu zat justru bukan ditentukan-Nya, jauh 'sebelum' terjadinya, tetapi 'hanya sesaat saja' segera setelah keadaan zatnya telah berubah.

Sedang 'tiap saatnya', keadaan tiap zat ciptaan-Nya bisa berubah-ubah, sebelum berlakunya sunatullah, yang menentukan takdir atau keadaan akhirnya 'tiap saatnya' (qadla-Nya), yang setimpal sesuai dengan segala keadaan awalnya.

Dan qadar atau takdir-Nya pada 'suatu saat' atas tiap zat ciptaan-Nya, justru tersusun dari tak-terhitung jumlah takdir kecil (qadla-Nya), yang telah dialami oleh zat itu, sejak awal diciptakan-Nya.

»

Qadar atau takdir-Nya tidak berubah-ubah, tetapi segala keadaan yang menentukan takdir-takdir kecil atau qadla-Nya itulah, yang bisa diubah-ubah oleh segala zat makhluk-Nya, ataupun berubah secara alamiah dari hasil interaksi antar zat.

Bahkan qadla-Nya tidak berubah-ubah, karena memang hanya berlangsung 'sesaat' saja. Ringkasnya, tiap zat makhluk-Nya bisa 'memilih-milih' takdir-Nya, dengan mengubah-ubah berbagai keadaannya, 'sebelum' takdir-Nya ditentukan.

»

Sabda-Nya 'Jadi, maka jadilah' di atas bukan untuk hal yang terjadi begitu saja, tetapi justru melalui segala aturan atau rumus proses kejadian yang bersifat 'pasti' dan 'jelas' (sunatullah), yang proses kejadiannya bisa selesai selama milyaran tahun, ataupun hanya selama seper sekian detik saja.

'Jadilah' pada penciptaan manusia misalnya, memerlukan waktu ± 9 bulan.

Sabda-Nya 'jadilah' itu biasanya hanya dipakai, untuk meringkas penjelasan atas proses yang relatif amat sulit, untuk bisa dijelaskan secara ringkas kepada umat.

Berbagai pendapat berikut dirangkum dari buku "Qadla dan Qadar", Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, 2006: halaman 361-407.

m.

Aliran Jabariyah: "Segala perbuatan manusia adalah perbuatan Allah. Manusia sama sekali tidak punya andil di dalamnya". (hal: 363)

Aliran Qadariyah: "Segala perbuatan tertentu manusia, hanyalah khusus dinisbatkan kepada manusia saja, bukan kepada Allah". (hal: 362)

Aliran Sunni (Ahlus-sunnah wal jama'ah): "Perbuatan manusia adalah milik-Nya, dan berada di bawah kekuasaan-Nya.". (hal: 363)

»

Perbuatan manusia bukanlah perbuatan ataupun milik Allah, karena tiap manusia pasti dimintai-Nya pertanggung-jawabannya, atas tiap amal-perbuatannya.

Sehingga 'segala' perbuatan manusia hanyalah semata-mata dinisbatkan kepada manusia pelakunya saja (bukan hanya perbuatan tertentu saja).

Lebih tepatnya, segala perbuatan manusia pada dasarnya semata-mata hanya memilih dan memanfaatkan daya dan perbuatan Allah (melalui sunatullah, secara sadar ataupun tidak).

Karena tiap manusia yang memulai perbuatannya (berusaha mengubah berbagai keadaannya), sedang hanyalah Allah Yang mewujudkan perbuatannya itu, yang setimpal dengan segala keadaan yang diusahakan oleh manusianya sendiri.

Sehingga Allah sama sekali tidak memiliki tanggung-jawab, atas tiap perbuatan manusia, selain dari menciptakan aturan-Nya (sunatullah), yang tiap saatnya pasti mengatur dan pasti berlaku sama kepada segala zat ciptaan-Nya (segala zat ciptaan-Nya pasti berada di bawah kekuasaan-Nya).

»

Manusia bersama Allah memiliki andil-peran pada tiap perbuatan manusia, namun dengan cara yang berbeda. Ringkasnya hanya manusia yang mencipta, memulai atau memicu perbuatannya, sedang hanya Allah yang mengakhiri atau mewujudkannya, sekaligus untuk memberi balasan-Nya yang setimpal.

»

Bagaimana perbuatan para nabi-Nya misalnya, yang telah diutus-Nya untuk menyampaikan pengajaran dan tuntunan-Nya?.

Prosesnya justru tetap sama saja, dan tetap proses yang amat sangat alamiah.

Namun kekhususan di sini adalah karena para nabi-Nya memang menyampaikan berbagai kebenaran-Nya, dari segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), yang telah mereka pahami dari mempelajari tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini. Padahal segala kebenaran (yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'), hanya milik dan berasal dari Allah.

Dengan usaha yang amat keras, maka berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya pada para nabi-Nya telah amat lengkap (sesuai konteks tiap jamannya), mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan keseluruhannya (atau telah mencapai tingkat pemahaman 'kenabian'), dan mereka juga telah pantas disebut 'nabi utusan-Nya', sedang tiap pemahamannya bisa disebut 'wahyu-Nya'.

Sama sekali tidak ada suatu perlakuan khusus dari Allah kepada para nabi-Nya. Semuanya semata dari hasil usaha amat keras mereka yang setimpal, dalam mencari, memahami dan sekaligus mengamalkan tiap kebenaran-Nya.

Kalaupun seolah ada perlakuan khusus itu, karena memang ada balasan-Nya tertentu yang setimpal bagi tiap manusia, jika tingkat keimanannya telah amat tinggi (pemahamannya amat sempurna dan pengamalannya amat konsisten).

n.

Aliran Qadariyah: "Ketaatan dan kemaksiatan tergantung kepada kehendak Allah. Dan hal ini terkait dengan pemberian pahala-Nya (balasan-Nya), bukan terkait permulaan perbuatan. Karena Allah bisa memberikan hukuman dan pahala kepada hamba-Nya sekehendak-Nya. Dan Allah juga memberikan hukuman dengan cara menciptakan kemaksiatan dan ketaatan, sebagai kebijaksanaan yang adil dari-Nya. Tidaklah mungkin Allah menciptakan kekufuran dan kemaksiatan dalam diri seorang hamba, sebagai sesuatu permulaan tanpa adanya sebab.". (hal: 373-375)

Aliran Sunni (Ahlus-sunnah wal jama'ah): "Segala sesuatu hal tergantung kepada ketetapan dan kehendak-Nya." (hal: 374-375)

»

Segala sesuatu hal memang pasti tergantung kepada ketetapan dan kehendak-Nya, tetapi tidak pada seluruh aspek dari tiap halnya.

Maka mestinya bisa dipahami, apa hakekat dari ketetapan dan kehendak-Nya, dan bagaimana proses berlakunya tiap ketetapan dan kehendak-Nya, atas segala sesuatu halnya.

Bayangkan, apa jadinya jika ketetapan dan kehendak-Nya, yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) tersebut, berlaku pukul rata (atau berlaku atas seluruh aspek, pada segala sesuatu halnya), maka justru mustahil akan ada kehidupan makhluk-Nya, karena segala makhluk-Nya pasti seperti benda mati ataupun robot saja.

Pada sesuatu halnya ada memiliki berbagai aspek. Tiap perbuatan manusia misalnya, memiliki berbagai aspek seperti:

~ Apa saja keadaan awal dan keadaan akhirnya.
~ Siapa yang menyiapkan keadaan awalnya.
~ Siapa yang memberikan keadaan akhirnya.
~ Bagaimana proses pemberian keadaan akhirnya.
~ Siapa yang berkehendak dan berbuat.
~ Siapa yang bertanggung-jawab, siapa yang menuntutnya dan apa bentuk tanggung-jawabnya.
~ Siapa yang memiliki daya-daya untuk berbuat.
~ Siapa yang menerima efek perbuatannya, dan apa bentuk efeknya.
~ Siapa yang menilainya, dan apa bentuk penilaiannya; dsb.

Dengan memilah-milahnya seperti ini, maka bisa diperkirakan dan dipahami pada aspek mana saja peranan Allah, pada sesuatu halnya (tidak mesti pada seluruh aspeknya), serta pada aspek mana saja peranan tiap makhluk-Nya (subyek dan obyek perbuatan). Walau pemahaman itu tanpa perlu disertai penjelasan secara lengkap dan detail, tetapi cukup logika atas tiap peranannya.

Tanpa adanya pemahaman seperti itu justru bisa berakibat amat fatal dan keliru, misalnya:

~ Bisa muncul anggapan, bahwa Allah bisa berbuat sekehendak-Nya di alam semesta ini (Allah bisa berbuat adil ataupun tidak, baik ataupun tidak, zalim ataupun tidak, dsb).
~ Allah bisa menghukum bayi yang baru lahir.
~ Allah bisa menetapkan takdir-Nya bagi tiap manusia di Hari Kiamat.
~ Allah bisa memasukkan seluruh manusia ke Surga ataupun seluruh manusia ke Neraka.
~ Allah bisa mewahyukan agar manusia berbuat dusta, ataupun bertentangan dengan wahyu sebelumnya.
~ Allah bisa pilih kasih kepada manusia, terutama kepada para nabi-Nya. dsb.
»

Segala ketetapan dan kehendak-Nya bagi alam semesta ini (termasuk bagi umat manusia), justru tidak pernah berubah (kekal), sejak saat awal penciptaan alam semesta ini (bahkan sebelum ada manusia), sampai akhir jaman.

Allah justru sama sekali tidak berbuat 'sekehendak-Nya' di alam semesta ini. Istilah 'sekehendak' hanya sesuai, untuk sesuatu hal yang bersifat 'tidak mutlak' (relatif, tidak pasti terjadi) dan 'tidak kekal' (tidak konsisten, bisa berubah-ubah).

Allah berbuat 'sekehendak-Nya' justru hanya sebelum penciptaan alam semesta ini, pada saat Allah merencanakan, menentukan atau menetapkan segala sesuatu halnya bagi alam semesta ini, dengan Maha Sempurna, sebelum tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya.

»

Segala 'balasan-Nya' (nikmat dan hukuman-Nya) atas tiap amal-kebaikan dan keburukan manusia, amat keliru disebut 'ketaatan' dan 'kemaksiatan'. Bahkan rumus proses pemberian balasan-Nya (sunatullah) justru bersifat 'mutlak (pasti terjadi), 'kekal' (pasti konsisten) dan 'netral' (pasti setimpal).

Amat keliru jika perbuatan-Nya dinilai 'baik' dan 'buruk' oleh manusia (atau dinilai zalim, sekehendak, sewenang, aniaya, tidak adil, tidak baik, dsb).

Selain karena memang hanya Allah Yang berhak menilai segala sesuatu halnya, juga karena segala kehendak dan perbuatan-Nya bersifat 'kekal' (pasti konsisten, tidak berubah). Menilai perbuatan-Nya, sama halnya dengan menilai kembali ke-Maha Sempurna-an segala kehendak dan rencana-Nya bagi alam semesta ini.

'Ketaatan' dan 'kemaksiatan' itu hanya sesuai dinisbatkan atau dikaitkan kepada perbuatan manusia itu sendiri (yang memulainya), bukan kepada perbuatan Allah (yang mewujudkannya, serta sekaligus memberi balasan-Nya).

Allah sama sekali tidak menciptakan segala ketaatan dan kemaksiatan tersebut. Hanya manusianya sendiri yang mengakibatkan tiap perbuatannya bisa menjadi suatu kebaikan ataupun keburukan (manusia semata penyebabnya).

o.

Aliran Qadariyah: "Allah menciptakan pada diri manusia, iradah (kehendak) dan masyi'ah (keinginan) untuk berbuat. Tetapi pengadaan ini sifatnya tidak permanen, seperti ketika Allah mengadakan petunjuk dan iman bagi yang berhak.". (hal: 375)

Aliran Sunni (Ahlus-sunnah wal jama'ah): "Allah memberikan kepada hamba-Nya masyi'ah, qudrah dan iradah, yang memungkinkannya untuk berbuat sesuatu. Allah mengharuskan pemberian anugerah petunjuk dan keimanan kepada orang-orang mulia. Dan Allah tahan anugerah bagi orang-orang tidak layak untuk memperolehnya. Sehingga kekuatan iradah dan masyi'ah-Nya berpaling kepada kebalikannya …." (hal: 375)

»

Iradah dan masyi'ah hanya diberikan-Nya 'langsung', saat awal diciptakan-Nya akal dan nafsu ('zat' dan 'isinya' sama atau seragam pada tiap ruh bayi manusia, amat suci-bersih dan tanpa dosa). Justru selanjutnya, hanya usaha tiap manusianya sendiri sepanjang hidupnya, yang telah mengasah akalnya dan telah mengendalikan nafsunya (membangun iradah dan masyi'ahnya).

Secara umum iradah dan masyi'ah tiap manusia pada dasarnya bersifat permanen, selama zat ruh manusianya memang masih ada. Karena mustahil akal dan nafsunya bisa hilang-lenyap. Hal yang tidaklah permanen justru 'besarnya' iradah dan masyi'ah, yang telah diusahakan oleh manusianya sendiri Juga tidak ada kaitannya sama sekali dengan Allah (iradah dan masyi'ah-Nya), serta bahkan bukan diubah-ubah dan diada-adakan oleh Allah.

»

Bukan keharusan bagi Allah agar bisa memberi anugerah petunjuk dan keimanan kepada orang-orang tertentu (umat-umat yang layak, berhak atau dikehendaki-Nya). Lebih tepatnya, keharusan bagi Allah adalah memberi segala bentuk balasan-Nya yang layak atau setimpal, atas tiap usaha atau amal-perbuatan manusia, sebagai salah-satu janji-Nya bagi tiap umat manusia.

Maka fokus utamanya bukan pada ada ataupun tidaknya pemberian petunjuk, dan bukan pula pada siapa orang yang diberikan-Nya petunjuk, tetapi pada ada ataupun tidaknya 'usaha' tiap manusianya dalam mencari petunjuk. Petunjuk pasti diberikan-Nya, jika ada usaha yang setimpal dari siapapun manusianya.

Umat yang layak atau berhak diberikan-Nya petunjuk, justru hanya umat yang memang menghendaki dan telah melakukan usaha yang setimpal.

Segala keistimewaan pada para nabi-Nya justru diberikan-Nya, karena mereka memang telah berusaha amat keras untuk mencari petunjuk dan meningkatkan keimanannya. Dan Allah Maha Adil kepada segala makhluk-Nya, atau Allah sama sekali tidak berlaku pilih kasih hanya kepada para nabi-Nya, ataupun umat-umat manusia lainnya yang keimanannya amat tinggi saja.

Allah sama sekali tidak berbuat sekehendak-Nya di alam semesta ini, tetapi pasti mengikuti aturan-Nya atau sunatullah, yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten, tidak berubah-ubah).

Mestinya umat Islam dan para alim-ulama lebih mencermati kembali ayat-ayat Al-Qur'an yang terkait dengan kehendak-Nya. Apakah kehendak-Nya bisa berubah-ubah atau justru mengikuti segala proses yang amat teratur dan konsisten?.

Bahkan jika segala keistimewaan para nabi-Nya diberikan-Nya tanpa karena adanya usaha yang setimpal dari mereka sendiri, justru mereka sama sekali bukan pribadi-pribadi yang 'istimewa' dan 'mulia'.

p.

Aliran Qadariyah: "Sebab-sebab kebaikan dan keburukan itu bukan dari Allah, tetapi mutlak dari diri manusia itu sendiri.". (hal: 380)

Aliran Sunni (Ahlus-sunnah wal jama'ah): "Semua kebaikan datangnya dari Allah, dan semua keburukan dan kejahatan itu berasal dari diri manusia itu sendiri.". (hal: 380)

»

Tiap perbuatan manusia (baik dan buruk) sama sekali bukan perbuatan ataupun berasal dari Allah, tetapi perbuatan manusia yang sebenarnya. Bahkan sama sekali tidak ada paksaan dari Allah, ketika manusia berbuat sesuatu.

Segala 'sebab' dari tiap perbuatan manusia justru hanyalah berasal dari manusia pelakunya sendiri. Jika ada paksaan dari sesuatu zat ciptaan-Nya lainnya (ujian-Nya), tentunya tingkat keterpaksaan pasti diperhitungkan-Nya, untuk mengukur segala sebabnya, berikut tingkat tanggung-jawab dari masing-masingnya.

Namun segala 'akibat' tiap saatnya dari tiap perbuatan manusia, justru hanya diwujudkan ataupun berasal dari Allah (melalui sunatullah).

Harus dipisahkan antara awal dan akhir (sebab dan akibat), antara manusia yang berkehendak dan memulai berbuat, dengan Allah Yang mengakhiri atau mewujudkan tiap amal-perbuatan manusia (baik dan buruk), sekaligus untuk memberi balasan-Nya yang setimpal 'tiap saatnya'.

Bahkan tiap amal-kebaikan manusia juga bukanlah berasal dari Allah.

Lebih tepatnya, Allah semata-mata hanya memberi pengajaran dan tuntunan-Nya kepada manusia (amat sangat halus dan tidak memaksa), agar manusia berbuat segala amal-kebaikan, demi keselamatan dan kemuliaannya sendiri. Namun tiap manusia justru tetap bebas memilih untuk mau mengikutinya ataupun tidak.

Penentuan takdir-Nya, pasti melalui sunatullah

Fokus utama dari penentuan takdir-Nya bukan pada penentuan hasil, nasib atau keadaan akhir, atas sesuatu hal yang dialami oleh tiap manusia (atau makhluk-Nya), "sebelum" hal itu terjadi. Namun justru terkait dengan pasti berlakunya sunatullah atas tiap manusia, berdasar segala keadaan awalnya tiap saatnya. Juga kepastian atas hasil, nasib atau keadaan akhir (takdir-Nya), karena telah berlakunya sunatullah (aturan atau ketentuan-Nya), tiap saatnya atas tiap manusia.

Lebih sederhananya, apabila telah diketahui keadaan pada saat tertentu tentang sesuatu halnya (atau diketahui keadaan awal, sebagai 'sebab'), maka pasti bisa ditentukan-Nya sebelumnya, keadaan akhir nantinya (sebagai 'akibat'), jika suatu sunatullah telah selesai berlaku. Dengan sunatullah itulah cara atau tindakan-Nya, dalam menentukan takdir-Nya bagi manusia, 'tiap saatnya'.

Lihat pula pada "Gambar 21: Diagram sederhana fungsi sunatullah".

Kebebasan manusia dalam memilih takdir-Nya

Dengan akalnya, tiap manusia justru diberikan-Nya kebebasan untuk memilih (secara sadar ataupun tidak), sebagian dari sejumlah besar sunatullah, yang akan bisa dilaluinya (yang ada tersedia baginya, sesuai keadaan dan kemampuannya). Kesadaran itu amat tergantung kepada tingkat pengetahuan dan pengalaman pada tiap manusianya.

Bahkan Allah pasti menghargai tiap usaha manusia, di dalam mengubah keadaan atau nasibnya, ke arah yang lebih baik, yang justru menjadi hakekat dari penciptaan dan penunjukan manusia, sebagai khalifah-Nya (penguasa), di muka Bumi. Di mana manusia diberikan-Nya akal, sehingga ia bisa bebas memilih jalan hidupnya.

Namun begitu, manusia justru tetap dituntun-Nya, agar ia mau memilih jalan-Nya yang lurus. Tinggal kepada pilihan tiap manusia, apakah ia ingin mendapat keredhaan-Nya, Sang Penciptanya, dengan mengikuti jalan-Nya yang lurus itu, ataupun tidak?.

Maka amat ironis, jika nasib tiap manusia justru disebut "telah ditakdirkan-Nya 'sebelumnya'", seperti yang dipahami oleh sebagian umat Islam. Kehidupan di dunia ini pasti mati, karena manusia justru tidak akan mau lagi berusaha akibat telah dipahaminya, bahwa pada akhirnya pasti semua usahanya akan amat sia-sia, jika berbeda antara harapannya dan takdir-Nya. Juga ia akan diam saja, dan dibiarkannya Allah berbuat segala sesuatu halnya baginya.

Padahal di lain pihaknya, tiap manusia pasti akan dimintai-Nya pertanggung-jawaban di Hari Kiamat, atas segala amal-perbuatannya, juga sekaligus sama-sekali bukan tanggung-jawab Allah, bahkan tiap perbuatan manusia bukanlah perbuatan Allah. Hanya manusia sendiri yang menciptakan perbuatannya, walau memang hanya Allah, Yang mewujudkannya, sekaligus memberi balasan-Nya yang setimpal.

Pemahaman tentang nasib tiap manusia telah ditakdirkan atau ditentukan-Nya sebelumnya, justru keliru. Pada dasarnya bahwa Allah hanya telah menentukan segala rumus proses kejadian di seluruh alam semesta (aturan-Nya atau sunatullah), yang jelas dan pasti berlakunya. Namun tiap manusia justru memiliki kebebasan, untuk bisa berusaha memilih dan memanfaatkan sunatullah (secara sadar ataupun tidak), agar bisa memperoleh takdir-Nya yang diharapkannya (diredhai-Nya ataupun tidak).

Lihat pula pada "Gambar 22: Diagram siklus proses sesaat fungsi sunatullah".

Lebih lanjut, kebebasan manusia dalam memilih takdir-Nya

Seperti misalnya, jika sunatullah X 'telah' mengubah keadaan seseorang dari keadaan A ke keadaan B, maka bisa dikatakan, bahwa ia telah ditakdirkan-Nya untuk menghadapi keadaan B. Sudut pandang di sini, adalah pada saat keadaan B 'telah' tercapai.

Namun sebaliknya justru keliru jika dikatakan, bahwa ia telah ditakdirkan-Nya, untuk menghadapi keadaan B, padahal justru masih berada di keadaan A. Karena ia masih bisa melakukan sejumlah usaha lainnya, untuk mengubah keadaannya, misalnya dari keadaan A ke keadaan C, sehingga bukanlah sunatullah X yang justru akan berlaku, melainkan sunatullah lainnya (yang hasilnya belum tentu keadaan B).

Lihat pula pada Gambar 28 di atas.

Kesimpulannya, keadaan akhir manusia tentang sesuatu hal, bisa disebutkan sebagai takdir-Nya, justru hanyalah jika hal itu 'telah' terjadi, dan bukanlah 'sebelumnya'. Demikian pula atas hal-hal yang cukup sering disebutkan, bahwa takdir-Nya telah ditentukan-Nya bagi tiap manusia, seperti: rejeki, jodoh, dan kematian (baca pula uraian-uraian terkait di bawah).

Hal yang ditentukan atau dicatat-Nya pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh), bukan 'hasil akhir' (takdir-Nya) tiap saatnya, namun justru berupa sunatullah atau aturan-Nya yang pasti mengatur segala 'proses' pemberian balasan-Nya, termasuk pemberian takdir-Nya tiap saatnya tersebut. Lihat pula pada Tabel 17 di bawah.

Juga ditentukan-Nya tentang pasti berlaku atau berjalannya tiap sunatullah pada serangkaian besar sunatullah, yang mengarahkan tiap manusia ke sesuatu takdir tertentu. Namun sepanjang hidupnya manusia tetap bisa berusaha, agar terpilih rangkaian sunatullah lainnya (atau 'jalan hidup' lainnya), sehingga justru akan bisa diperolehnya takdir-Nya yang lain pula. Tiap manusia tidak bisa 'mengubah-ubah' takdir-Nya (yang telah terjadi), namun ia justru bisa 'memilih-milih' takdir-Nya (yang akan terjadi). 64)

Kandungan isi kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya

"Kitab mulia" (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung, dalam Al-Qur'an disebut pula dengan "Kitab" (saja), "Kitab di sisi-Nya", "Kitab yang nyata", "Kitab yang terpelihara", "Induk kitab yang nyata", "Ummul-Kitab" ataupun "Induk Al-Kitab".

Tentu saja kitab mulia (Lauh Mahfuzh) itupun berwujud gaib, sebagaimana halnya dengan 'Arsy-Nya itu sendiri, yang juga berada di alam gaib.

Dalam pemahaman pada buku ini, segala hal yang tertulis atau tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh), adalah segala kebenaran-Nya di seluruh alam semesta ini. Namun dalam Al-Qur'an, segala hal yang dicatat itu disebutkan antara-lain berupa:

a. Pengetahuan-Nya.
b. Ketetapan, ketentuan ataupun aturan-Nya.
c. Ancaman balasan-Nya.
d. Catatan amal-perbuatan makhluk-Nya.
e. Kitab-kitab-Nya dalam wujud gaibnya.

 

Uraian yang lebih lengkapnya tentang hal-hal itu, diungkapkan pada tabel berikut.

Tabel 17: Berbagai hal dalam Kitab mulia (Lauh Mahfuzh)

Berbagai hal yang tercatat dalam Kitab mulia (Lauh Mahfuzh)
di sisi 'Arsy-Nya, dalam Al-Qur'an

a.

Pengetahuan-Nya

»

"Dan pada sisi-Nya-lah, kunci-kunci semua yang gaib. Tak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." – (QS.6:59).

 

"Kamu tidak berada dalam suatu keadaan, dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur'an, dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu, di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Rabb-mu, biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." – (QS.10:61).

 

"Dan tidak ada sesuatu binatang melatapun di bumi, melainkan Allah-lah Yang memberi rejekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu, dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." – (QS.11:6).

 

"Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi. Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah." – (QS.22:70).

 

"Dan orang-orang yang kafir berkata: 'Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami'. Katakanlah: 'Pasti datang, demi Rabb-ku Yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya Kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi dari-Nya seberat zarrahpun, yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)'," – (QS.34:3).

 

Rangkuman tiap ayat:

QS.6:59 :

~ Pengetahuan-Nya tentang hal-hal gaib ("kunci-kunci semua yang gaib").
~ Pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu hal di Bumi ataupun di alam semesta ini ("apa yang ada di daratan dan di lautan").
~ Pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu hal yang amat sederhana dan amat detail sekalipun ("sehelai daun yang gugur; jatuhnya sebutir biji; suatu yang basah atau yang kering").

QS.10:61 :

~ Pengetahuan-Nya tentang segala keadaan tiap makhluk-Nya ("tidak berada dalam suatu keadaan").
~ Pengetahuan-Nya tentang segala amal-perbuatan tiap makhluk-Nya ("tidak membaca; tidak mengerjakan suatu pekerjaan").
~ Pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu hal yang amat sederhana dan amat kecil sekalipun di alam semesta ini ("biarpun sebesar zarrah di Bumi ataupun di langit; dan yang lebih kecil ataupun yang lebih besar").

QS.11:6 :

~ Pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu hal pada tiap makhluk-Nya di Bumi ataupun di alam semesta ini ("tidak ada sesuatu binatang melatapun di Bumi; tempat diamnya dan tempat penyimpanannya").

QS.22:70 :

~ Pengetahuan-Nya tentang segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini, dan segala keadaannya ("apa saja yang ada di langit dan di Bumi").

QS.34:3 :

~ Pengetahuan-Nya tentang hal-hal gaib ("mengetahui yang gaib").
~ Pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu hal yang amat sederhana dan kecil sekalipun di Bumi ataupun di alam semesta ini ("tidak ada tersembunyi dari-Nya seberat zarrahpun, yang ada di langit dan di Bumi; dan yang lebih kecil ataupun lebih besar").

b.

Ketetapan, ketentuan ataupun aturan-Nya

»

"Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta tentang Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya. Orang-orang itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). …." – (QS.7:37).

 

"Allah mengetahui apa yang dikandung oleh perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya (di Kitab Lauh Mahfuzh) ada ukurannya." – (QS.13:8).

 

"Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung, dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan pengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang, dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (telah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah." – (QS.35:11).

 

Rangkuman tiap ayat:

QS.7:37 :

~ Ketentuan atau aturan proses pemberian balasan-Nya, bagi orang-orang yang berbuat dosa ("memperoleh bagian yang telah ditentukan untuknya").

QS.13:8 :

~ Ketentuan atau aturan proses penciptaan tiap makhluk-Nya ("mengetahui apa yang dikandung; yang kurang sempurna dan yang bertambah; dan ada ukurannya").

QS.35:11 :

~ Ketentuan atau aturan proses penciptaan tiap makhluk-Nya ("dari tanah, ataupun dari air mani, sampai menjadi laki-laki dan perempuan dewasa; mengandung dan melahirkan; dan tidak dipanjangkan dan tidak dikurangi umurnya").

c.

Ancaman balasan-Nya

»

"Tidak ada sesuatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum Hari Kiamat, atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras (di Hari Kiamat). Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)." – (QS.17:58).

 

"Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi, dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." – (QS.57:22).

 

Rangkuman tiap ayat:

QS.17:58 :

~ Aturan proses pemberian balasan-Nya di dunia ("membinasakannya sebelum Hari Kiamat"), dan di akhirat ("azab yang sangat keras").

QS.57:22 :

~ Aturan proses pemberian balasan-Nya secara lahiriah ("sesuatu bencana yang menimpa di Bumi"), dan secara batiniah ("pada dirimu sendiri").

d.

Catatan amal-perbuatan makhluk-Nya

»

"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati, dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan, dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan, dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)." – (QS.36:12).

 

"Dan sesungguhnya, Rabb-mu benar-benar mengetahui, apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan." dan "Tiada sesuatupun yang gaib di langit dan di bumi, melainkan (semua tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." – (QS.27:74-75).

 

Rangkuman tiap ayat:

QS.36:12 :

~ Segala amal-perbuatan makhluk-Nya ("apa yang telah mereka kerjakan")
~ Segala hasil atau pengaruh dari amal-perbuatan makhluk-Nya ("bekas-bekas yang mereka tinggalkan")

QS.27:74-75 :

~ Segala isi pikiran makhluk-Nya ("apa yang disembunyikan hati mereka")
~ Segala amal-perbuatan makhluk-Nya ("apa yang mereka nyatakan").
~ Segala amal-perbuatan ruh-ruh makhluk-Nya di alam semesta ("sesuatupun yang gaib di langit dan di Bumi").

e.

Kitab-kitab-Nya dalam wujud gaibnya

»

"Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu, dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul (untuk) mendatangkan suatu ayat (mu'jizat), melainkan dengan ijin-Nya. Bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu)." dan "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)." – (QS.13:38-39).

 

"Dan sesungguhnya, Al-Qur'an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya), dan amat banyak mengandung hikmah." – (QS.43:4).

 

"sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia," dan "pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh)," – (QS.56:77-78).

 

"Bahkan yang didustakan mereka itu, ialah Al-Qur'an yang mulia," dan "yang tersimpan dalam Lauh Mahfuzh." – (QS.85:21-22).

 

"Dan sesungguhnya, telah Kami tulis di dalam (kitab) Zabur, setelah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai (bagi) hamba-hamba-Ku yang shaleh." – (QS.21:105).

 

Rangkuman tiap ayat:

QS.13:38-39 :

~ Adanya perubahan dari kitab-Nya yang satu ke kitab-Nya yang lain, dari jaman ke jaman, dari kitab Zabur, Taurat, Injil, sampai kitab terakhir Al-Qur'an. ("menghapuskan dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya").
~ Adanya Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh), yang berupa ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di seluruh alam semesta (atau tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya), yang menjadi dasar acuan pokok bagi seluruh kitab-kitab-Nya.

QS.43:4, QS.56:77-78, QS.85:21-22 dan QS.21:105 :

~

Kitab-kitab-Nya dalam wujud gaibnya, yaitu: Zabur, Taurat, Injil dan terakhir Al-Qur'an, yang pada dasarnya berupa ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di seluruh alam semesta (atau tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya).

Setelah ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis telah dipelajari oleh manusia (juga termasuk para nabi-Nya), maka ada yang menjadi Al-Hikmah dalam hati-dada-pikiran para nabi-Nya, lalu ada yang menjadi Al-Kitab (kitab-kitab-Nya).

Pengetahuan-Nya, yang bersifat mutlak dan relatif

Jika dirangkum lebih lanjut lagi dari Tabel 17 di atas, bahwa berbagai hal yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh), antara-lain meliputi:

Rangkuman atas hal-hal yang tercatat dalam
Kitab mulia (Lauh Mahfuzh)

a. Segala hal gaib ('esensi' dan 'perbuatan' zat-zat gaib, berupa zat ruh-ruh makhluk-Nya). Dan juga 'perbuatan' Zat Allah (namun tidak ada tentang 'esensi' Zat Allah).
b. Segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta, beserta segala keadaannya.
c. Segala hal yang paling sederhana, paling detail dan paling kecil sekalipun di alam semesta ini.
d. Segala amal-perbuatan makhluk-Nya (perbuatan, perkataan dan pikiran), beserta segala hasil atau pengaruhnya.
e. Segala ketentuan, ketetapan, hukum atau aturan-Nya bagi alam semesta.
f. Segala ketentuan atau aturan proses penciptaan zat ciptaan-Nya (makhluk hidup dan benda mati, nyata dan gaib).
g. Segala ketentuan atau aturan proses pemberian balasan-Nya di dunia dan di akhirat, secara lahiriah dan batiniah.
h. Segala ayat-Nya yang tak-tertulis (ada yang dipahami manusia dan menjadi Al-Hikmah pada para nabi-Nya, lalu sebagiannya ada yang menjadi Al-Kitab. kitab-Nya atau kitab tauhid).

 

Berbagai hal di atas pada dasarnya segala pengetahuan-Nya di seluruh alam semesta (atau segala kebenaran-Nya), dengan berbagai ragam bentuknya. Hal yang justru amat sering diabaikan oleh sebagian besar kalangan umat Islam, bahwa berdasar "bentuknya", maka segala pengetahuan-Nya pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) itu, bisa dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu: "segala hukum, aturan, ketetapan atau ketentuan-Nya", dan juga "segala keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya tiap saatnya".

Sedang berdasar "sifatnya", maka segala pengetahuan-Nya itu bisa dibagi pula menjadi 2 kelompok besar, yaitu: segala yang bersifat 'non-kronologis' dan yang bersifat 'kronologis'. Pengelompokan sifat pengetahuan-Nya inipun ternyata bersesuaian dengan pengelompokan bentuk pengetahuan-Nya di atas. Hal ini diuraikan lebih lengkap, pada tabel berikut.

Pengelompokan umum atas pengetahuan-Nya

Pengetahuan-Nya yang bersifat 'non-kronologis'.

»

Segala pengetahuan-Nya yang sama sekali tidaklah terkait peran makhluk-Nya, ataupun tidaklah terkait keadaan zat ciptaan-Nya 'tiap saatnya', seperti:

~

Segala keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini, yang 'hanya' dari hasil peran Allah.

Pemahaman di sini, tiap keadaan semacam ini justru hanya ditetapkan-Nya pada 'awal' penciptaan alam semesta ini, dan segala keadaan berikutnya, hanyalah dari hasil interaksi antar zat-zat cptaan-Nya, dan terutama hasil peran makhluk-Nya.

Segala keadaan yang paling dasar dan awal inipun, misalnya: segala keadaan pada tiap atom (atau materi 'terkecil'), segala fitrah dasar pada hati-nurani tiap zat ruh makhluk-Nya (suci murni dan bersih dari dosa), dsb.

~

Segala hal gaib, yang berupa 'esensi' dari zat-zat gaib (zat ruh-ruh makhluk-Nya), bukan berupa 'perbuatan' dari zat-zat gaib itu (bukan pula hasil perbuatannya dalam berpikir).

~

Segala ketentuan, ketetapan, hukum ataupun aturan-Nya bagi alam semesta, yang ditetapkan-Nya sebelum penciptaannya (seperti: aturan bagi proses penciptaan tiap zat ciptaan-Nya; aturan proses pemberian segala balasan-Nya di dunia dan di akhirat, secara lahiriah dan batiniah; dsb).

~

Segala ayat-Nya yang tak-tertulis (ada yang dipahami oleh manusia dan menjadi segala Al-Hikmah pada para nabi-Nya, lalu sebagiannya ada yang menjadi Al-Kitab).

 

Pengetahuan-Nya ini bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten, tidak berubah), sejak awal terciptanya seluruh alam semesta, sampai akhir jaman. Juga bersifat universal, amat umum dan luas cakupannya.

Pengetahuan-Nya ini pasti bisa diketahui-Nya, sebelum, sedang dan setelah terjadinya sesuatu hal (atau bisa diketahui-Nya kapan saja), karena memang tidak berubah-ubah dan diciptakan-Nya.

Dan ringkasnya, bentuk pengetahuan semacam ini berupa segala hukum, aturan, ketetapan atau ketentuan-Nya, akan tetapi justru bukan berupa segala keadaan zat ciptaan-Nya tiap saatnya.

Segala keadaan 'awal' segala zat-zat cptaan-Nya (esensi dari zat-zat ruh makhluk-Nya dan zat-zat materi benda mati), juga bagian dari ketentuan-Nya tersebut. Demikian pula halnya dengan ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis (kitab-kitab-Nya yang berbentuk gaib di Lauh Mahfuzh), yang akhirnya menjadi ajaran-ajaran agama-Nya yang lurus juga telah ditentukan-Nya sejak awal terciptanya seluruh alam semesta ini (perwujudan dari Fitrah Allah).

Khusus tentang agama-Nya yang lurus, adanya perbedaan pada tingkat pemahaman tiap manusia (terutama para nabi-Nya), yang menjadikannya seolah-olah tampak berubah-ubah (semakin baik dan sempurna, dari nabi ke nabi). Padahal segala ayat-Nya yang tak-tertulis di seluruh alam semesta ini, justru tetap sama (tanda-tanda kekuasaan-Nya, bersifat mutlak dan kekal).

Pengetahuan-Nya yang bersifat 'kronologis'.

»

Segala pengetahuan-Nya yang justru terkait peran makhluk-Nya, ataupun terkait keadaan zat ciptaan-Nya tiap saatnya, seperti:

~

Segala keadaan tiap zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta, dari hasil peran makhluk-Nya, tiap saatnya.

~

Segala amal-perbuatan tiap makhluk-Nya (pikiran, perkataan dan perbuatan), beserta segala hasil atau pengaruhnya.

 

Pengetahuan-Nya ini bersifat kekal (tidak berubah), hanya sejak saat setelah terjadinya sesuatu hal (setelah makhluk-Nya berbuat sesuatu, ataupun setelah sesuatu keadaan ciptaan-Nya berubah), atau sejak saat setelah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh). Juga bersifat aktual, amat khusus dan terbatas cakupannya.

Pengetahuan-Nya ini justru diketahui-Nya hanya 'segera setelah' terjadinya sesuatu hal (bukan saat 'sebelum dan sedang' terjadi), karena memang bukan diciptakan oleh Allah. Allah hanya telah menciptakan aturan-Nya atau sunatullah, yang mengatur proses perubahan keadaan segala zat ciptaan-Nya, yang berubah secara alamiah mengikuti keadaan pada lingkungan sekitarnya, ataupun diubah-ubah oleh segala zat makhluk-Nya.

Pengetahuan-Nya inipun adalah wujud dari kebebasan yang telah diberikan-Nya pada tiap zat makhluk-Nya, di dalam berkehendak dan berbuat (dengan diberikan-Nya akal dan nafsu).

Dan ringkasnya, bentuk pengetahuan semacam ini berupa segala keadaan zat ciptaan-Nya tiap saatnya, tetapi justru bukan berupa segala hukum, aturan, ketetapan atau ketentuan-Nya.

Segala amal-perbuatan makhluk-Nya pada dasarnya usaha untuk mengubah berbagai keadaan lahiriah dan batiniah, pada makhluk pelakunya sendiri, atau pada zat-zat ciptaan-Nya yang terkait.

 

Pemisahan pengetahuan-Nya menjadi dua kelompok di atas, justru amat diperlukan, agar umat bisa menilai sesuatu halnya dengan lebih proporsional, tepat dan benar, seperti misalnya:

~

Allah 'bukanlah' menentukan bagaimana, dimana ataupun kapan kematian datang kepada tiap makhluk nyata, yang justru bersifat 'kronologis'.

Tetapi justru Allah menentukan seperti "tiap-tiap zat ciptaan-Nya yang berjiwa atau tubuh masih menyatu dengan ruhnya, pasti akan menghadapi kematian (ruhnya pasti akan diangkat-Nya kembali).".

Karena pengetahuan-Nya yang paling utama atas hal ini, adalah adanya 'ketentuan-Nya' tentang 'batas usia', bagi tiap jenis tubuh wadah makhluk nyata.

~

Allah 'bukanlah' menentukan bagaimana, dimana ataupun kapan rejeki diberikan-Nya kepada tiap makhluk-Nya, yang justru lebih bersifat 'kronologis'.

Tetapi justru Allah menentukan seperti "tiap-tiap zat makhluk-Nya yang memang telah berusaha mencari rejeki, pasti akan diberikan-Nya tanpa hisab dan tanpa batas.".

Karena pengetahuan-Nya paling utama atas hal ini, adalah adanya 'ketentuan-Nya' tentang 'rumus proses pemberian' rejeki-Nya, bagi tiap makhluk-Nya. Rumus inipun tergantung kepada berbagai keadaan yang diusahakan oleh makhluk-Nya itu sendiri.

~

Allah 'bukanlah' menentukan bagaimana, dimana ataupun kapan jodoh diberikan-Nya kepada tiap makhluk-Nya, yang justru lebih bersifat 'kronologis'.

Tetapi justru Allah menentukan seperti "tiap-tiap zat makhluk-Nya yang mau berusaha mencari jodoh, pasti akan diberikan-Nya tanpa hisab.".

Karena pengetahuan-Nya paling utama atas hal ini, adalah adanya 'ketentuan-Nya' tentang 'rumus proses pemberian' jodoh bagi tiap makhluk-Nya. Rumus inipun tergantung kepada berbagai keadaan yang diusahakan oleh makhluk-Nya itu sendiri. Dsb.

 

Baca pula uraian-uraian di bawah, tentang penentuan takdir-Nya yang berupa jodoh, rejeki dan kematian.

Takdir-Nya tentang jodoh dan rejeki

Seperti pada uraian-uraian di atas, bahwa tiap zat ciptaan-Nya (juga selain makhluk-Nya) bisa memiliki "jalan hidup" masing-masing (atau serangkaian sunatullah), sepanjang hidupnya. Tentu saja, "jalan hidup" tiap zat ciptaan-Nya yang berlalu-lalang di alam semesta ini, pada suatu ketika ada yang bisa saling bertemu dan bersesuaian.

Hal seperti inilah makna takdir-Nya tentang jodoh dan rejeki. Pada pengertian jodoh secara umum, adalah "jalan hidup" dua orang ataupun lebih, yang bisa saling bertemu, bersesuaian ataupun berjodoh (misalnya: sahabat, teman, dsb). Begitu pula halnya jodoh dalam arti pasangan hidup (suami-istri).

Sedangkan pada takdir-Nya tentang rejeki, justru "jalan hidup" seseorang dan hartanya, yang bisa saling bertemu atau bersesuaian. 65)

Sekali lagi dari uraian di atas, bahwa pada tiap materi-benda mati, "jalan hidupnya" pasti bukan bisa dipilih-pilihnya sendiri, tetapi justru bisa dipilihkan oleh segala makhluk hidup nyata. Di luar hal ini, "jalan hidupnya" hanyalah mengikuti segala keadaannya tiap saatnya, dari hasil interaksi dengan tiap benda di sekitarnya (tepatnya melalui sunatullah, yang dikawal oleh tak-terhitung jumlah para malaikat).

Tiap materi-benda mati tidak bisa memilih segala keadaannya, maka sering disebut di dalam Al-Qur'an, "bahwa tiap benda mati pasti tunduk, patuh dan taat kepada tiap perintah-Nya (bukan hanya kepada tiap kehendak-Nya)". Sedang tiap makhluk-Nya bisa memilih untuk tunduk ataupun tidak pada tiap perintah-Nya (walau pasti ada balasan-Nya baginya, atas tiap pilihannya itu). Namun tiap makhluk-Nya pasti tunduk, patuh dan taat pada tiap kehendak-Nya (melalui sunatullah).

Takdir-Nya tentang kematian

Pada takdir-Nya tentang kematian, bisa dipengaruhi oleh aspek internal dan eksternal tubuh makhluk nyata. Secara alamiah, kondisi internal tubuh 'pastilah' akan mengalami penyusutan, sejalan dengan bertambahnya usia. Penyusutan inipun amat dipengaruhi oleh berbagai keadaan alam sekitarnya (pencemaran udara, air dan tanah, makanan, iklim, dsb). Kondisi internal ini relatif sulit diubah oleh manusia, atau relatif tidak banyak pengaruh perubahannya.

Hal inilah yang membuat adanya berbagai perkiraan, tentang usia rata-rata kematian para lansia pada sesuatu negara (misalnya pada usia 66 tahun, ataupun usia lainnya). Sedang proses penyusutan atau penuaan itu pada dasarnya mengikuti sesuatu aturan atau rumus proses tertentu (sunatullah), dengan input-masukannya seperti pada berbagai keadaan alam di atas.

Kondisi eksternalnya yang bisa menimbulkan kematian, relatif 'lebih mudah' bisa diusahakan untuk dihindari. Dengan lebih banyak berusaha untuk meningkatkan kewaspadaan, terhadap segala hal yang membahayakan tubuh. Tentunya kewaspadaan seperti itupun sulit bisa selalu terjaga tiap saatnya, termasuk pula akibat dari segala pengaruh lingkungan sekitar, yang amat bervariasi dan sulit diperkirakan ("jalan hidup" berbagai zat ciptaan-Nya saling bertemu, termasuk berbagai zat yang bisa menimbulkan kematian itu).

Dengan segala perubahan keadaan internal dan eksternal itulah ditakdirkan atau ditentukan-Nya kematian, bagi tiap makhluk hidup nyata. Hal ini justru pasti terjadinya, karena tidak ada makhluk hidup nyata yang bisa terhindar dari kematian.

Secara lebih ringkas, bahwa tiap zat ruh yang telah ditiupkan-Nya ke 'tubuh wadah' tiap makhluk hidup nyata (dihidupkan-Nya), suatu saat pasti akan dikeluarkan, diangkat atau dibangkitkan-Nya dari tubuh wadahnya, untuk kembali ke hadapan 'Arsy-Nya. 66)

"Tiap-tiap yang berjiwa (ruh pada tubuh makhluk hidup nyata) akan merasakan mati. …." – (QS.3:185) dan (QS.21:35, QS.29:57).

"Sesuatu yang bernyawa (berjiwa atau berruh pada tubuh wadah makhluk hidup nyata) tidak akan mati, melainkan dengan ijin Allah, sebagai suatu ketetapan yang telah ditentukan waktunya. …." – (QS.3:145).

Manusia memilih takdir-Nya, dari usaha dan kemampuannya

Pada dasarnya, kunci utama kehendak dan tindakan-Nya dalam menentukan takdir-Nya atas manusia, adalah aturan-Nya (sunatullah). Sedang dalam Al-Qur'an juga disebut, "tiap-tiap umat atau kaum bisa mengubah nasibnya, melalui daya-upaya umat atau kaum itu sendiri".

Lihat pula Gambar 31 dan uraian lebih lengkapnya di bawah.

"…. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan, yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya. Dan …." – (QS.13:11).

"Katakanlah: 'Siapakah yang bisa melindungi kamu dari (takdir) Allah, jika Dia menghendaki bencana atasmu, atau menghendaki rahmat untuk dirimu'. …." – (QS.33:17).

 

Gambar 31: Skema sederhana proses pemilihan takdir/qadar-Nya

Gambaran sederhana proses pemilihan takdir-Nya

Dari memperbesar "Gambar 28: Skema pemilihan jalan hidup (rangkaian sunatullah)", serta dikaitkan dengan "Gambar 30: Skema pengaruh pengajaran para makhluk gaib", tentang proses pemilihan sesuatu hal di dalam pikiran tiap manusia, setelah diilhami oleh para makhluk gaib, yang lalu telah diikuti ataupun diamalkannya, menjadi segala bentuk amal-perbuatan baik atau buruk, maka bisa disusunlah gambaran sederhana tentang proses pemilihan takdir-Nya (Gambar 31 berikut), sekaligus gambaran hakekat dari tiap perbuatan manusia.

Tentunya dalam hal ini, dari Gambar 30 lebih terfokus tentang adanya proses pemilihan itu sendiri, bukan tentang nilai-nilai kebaikan atau keburukan dari tiap amal-perbuatannya.

Hal penting diketahui dari Gambar 31, bahwa lamanya waktu proses 'pemilihan' takdir-Nya bahkan bisa berlangsung dengan amat cepat (hanya seper sekian detik) serta juga bisa amat lama. Tentunya proses-proses ini meliputi takdir-Nya, secara lahiriah dan batiniah.

Sekali lagi seperti halnya dari uraian-uraian di atas, bahwa tiap perbuatan manusia, tiap saatnya justru pasti selalu disertai perbuatan Allah (melalui sunatullah, sebagai salah-satu dari ketetapan-Nya), agar bisa mewujudkannya, sekaligus untuk bisa memberi balasan-Nya yang setimpal dengan segala hal yang telah diusahakan oleh manusianya itu sendiri. Hanya manusia yang memulai atau mengawali perbuatannya (berusaha mengubah berbagai keadaan awalnya), namun pasti hanya Allah Yang mewujudkan perbuatannya (menentukan segala keadaan akhirnya tiap saatnya atau Qadla-Nya). Qadar-Nya adalah Qadla-Nya yang terakhir (sampai pada suatu saat tertentu yang ditinjau).

Allah tidak tahu pilihan manusia, sebelum terjadi

Maha Suci Allah. Bahwa adanya kebebasan pada tiap manusia (diberikan-Nya akal), telah jelas bisa menunjukkan, bahwa Allah pada dasarnya justru tidak mengetahui hasil akhir tiap pilihan manusia tiap saatnya, Allah juga tidak mengetahui segala proses kejadian atas tiap manusia, 'sebelum' prosesnya terjadi, ataupun Allah tidak mengetahui 'nasib akhir' dari tiap manusia. Bahkan cukup banyak ayat-ayat dalam Al-Qur'an, yang menyebutkan seperti "Agar Allah mengetahui …". Karena hal-hal itu memang terkait erat dengan tiap peran dari manusia dan makhluk-Nya lainnya, dengan kebebasannya itu. 67)

"…, melainkan agar Kami mengetahui, siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. …." – (QS.2:143).

'"… Dan agar Allah mengetahui, siapa orang-orang yang beriman." – (QS.3:166).

 

Namun amat perlu diketahui pula, bahwa kebebasan yang telah diberikan-Nya kepada tiap manusia ataupun zat makhluk-Nya lainnya, justru berada di dalam daerah-wilayah yang amat sangat sempit dan terbatas, apabila dibandingkan dengan wilayah berlakunya sunatullah (sifat 'perbuatan' Zat Allah), yang Maha Luas dan Tinggi.

Bahkan kebebasan segala zat makhluk-Nya justru diliputi pula oleh sunatullah. Bahkan lebih jauhnya lagi, tiap usaha atau perbuatan segala zat makhluk-Nya (lahiriah dan batiniah), pada dasarnya justru hanya memanfaatkan sunatullah (satu ataupun lebih sunatullah, secara sadar ataupun tidak).

Juga dari Gambar 22 s/d Gambar 25 cukup jelas bisa tampak, bahwa tiap daya dan perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh daya dan perbuatan-Nya (melalui sunatullah), sebagai rahmat atau nikmat-Nya, untuk memudahkan manusia dalam menjalani kehidupannya.

Tetapi sekali lagi, tiap daya dan perbuatan manusia juga bukan daya dan perbuatan Allah. Serta bukan Allah Yang menciptakan tiap daya dan perbuatan manusia, karena Allah relatif hanya menciptakan-Nya akal dan nafsu pada tiap manusia, serta menciptakan-Nya segala aturan-Nya (sunatullah), yang pasti mengatur segala zat ciptaan-Nya dan segala proses kejadian di alam semesta ini.

Hanya manusia sendiri yang 'menciptakan dan memulai' tiap daya dan perbuatannya, sedang pasti hanya daya dan perbuatan Allah, yang mengikuti dan menyelesaikan tiap daya dan perbuatan manusia (melalui sunatullah, yang dikawal oleh tak-terhitung para malaikat).

Baca pula uraian di atas, tentang tiap perbuatan makhluk-Nya bukanlah perbuatan Allah.

Akhirnya, segala proses kejadian di alam semesta ini sampai akhir jamannya, yang berada di luar wilayah kebebasan tiap makhluk-Nya (yang amat sangat terbatas, tetapi masih amat sangat luas untuk menjalani kehidupannya, pada Gambar 32), pasti telah diketahui oleh Allah Yang Maha mengetahui, karena segala proses itupun memang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten).

Sedang segala pengetahuan Allah, yang terkait dengan segala hasil peranan atau hasil perbuatan makhluk-Nya, yang pada dasarnya bersifat 'relatif' (tidak pasti terjadi ataupun tidak konsisten), seperti misalnya keimanan ataupun kekafiran tiap manusia, justru bukan hal-hal yang telah diketahui dan ditentukan-Nya, 'sebelum' terjadinya hal itu tiap saatnya, karena tiap manusianya memang telah diberikan-Nya segala kebebasan dalam berkehendak dan berbuat.

Baca pula uraian di atas, tentang segala pengetahuan Allah, yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh).

Penutup tentang Sunatullah (sifat proses)

Sekali lagi penting diketahui kembali, bahwa sifat-sifat proses pada segala zat ciptaan-Nya yang dibahas di sini, pada dasarnya hanya tiap sifat yang mutlak dan kekal, yang telah langsung ditetapkan atau diberikan-Nya, pada saat awal penciptaan seluruh alam semesta ini (sunatullah, Sunnah Allah, atau sifat 'perbuatan' Zat Allah).

Sedang segala sifat proses-dinamis-perbuatan, yang langsung berasal dari tiap makhluk-Nya, justru bersifat 'relatif' dan 'temporer', yang pada dasarnya untuk mengubah-ubah berbagai keadaan awalnya sendiri ataupun lingkungannya, sebelum berlakunya suatu sunatullah, yang mewujudkan sifatnya itu (menentukan segala keadaan akhirnya), secara setimpal sesuai dengan segala keadaan awalnya itu.

Gambar 32: Skema sederhana wilayah kebebasan manusia

Tiap perbuatan makhluk-Nya pada dasarnya hanya suatu usaha secara sadar ataupun tidak, untuk bisa memilih ataupun memanfaatkan berbagai sunatullah yang bisa dijalaninya, yang tersedia baginya pada sesuatu saat tertentu, sesuai dengan segala keadaan, pengetahuan dan kemampuannya.

Tiap usaha atau perbuatan manusia pada dasarnya mengubah-ubah berbagai keadaan awalnya, sebelum berlakunya suatu sunatullah yang menentukan segala keadaan akhirnya. Tiap usaha itu juga sama halnya dengan usaha untuk 'memilih-milih' suatu sunatullah dari tak-terhitung jumlah sunatullah, yang sesuai dengan segala keadaan awal tersebut (sunatullah terpilih secara 'otomatis' dan berlaku setimpal).

Lebih jelasnya lagi, sunatullah terdiri dari tak-terhitung jumlah aturan, rumus atau fungsi 'keadaan' (state function), yang mencakup segala rumus proses kejadian dan juga mencakup segala keadaan pada segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini. Sehingga sunatullah relatif serupa dengan suatu 'matriks', yang segala rumus proses dan segala variabel keadaannya, amat sangat kompleks dan sempurna.

Sedang pada berbagai uraian di atas, tiap 'rumus proses' justru terkadang disebut pula sebagai suatu 'sunatullah', sehingga sunatullah sebagai sesuatu kesatuan, dianggap terdiri dari sejumlah tak-terhitung sunatullah yang jauh lebih sederhana dan sempit cakupannya.

Namun segala keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya tiap saatnya pada dasarnya justru pasti selalu berubah-ubah, dari hasil usaha segala makhluk-Nya di sekitarnya, ataupun dari tiap perubahan keadaan di alam semesta, yang terus-menerus berlangsung secara 'otomatis' atau 'alamiah', sejak awal penciptaannya (dari segala hasil interaksi antar zat-zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta).

Maka tiap perbuatan manusia pada dasarnya semestinya bisa mengikuti ataupun harmonis dengan 'irama' alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), agar ia bisa memperoleh keselamatan hidup di dunia ini. Dan ajaran agama-Nya pada dasarnya mengajarkan berbagai amalan, yang perlu dilakukan oleh tiap umat, agar ia bisa menempuh jalan keselamatan itu (jalan-Nya yang lurus), terutama agar bisa mengatur berbagai keadaan kehidupan batiniah ruhnya (kehidupan akhiratnya).

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

2 Balasan ke Bab VI.A.4 Takdir-Nya

  1. Cek Jen berkata:

    Ada analogi klasik : Penumpang bebas berbuat apa saja dalam pesawat. Tp hanya Pilot/Masinis yg menjalankan pesawat/kereta. Ada kerangka Absolut dan Relatif.

    • Syarif Muharim berkata:

      Sepakat.
      Dlm bahasa saya, bhwa kebebasan sgla makhluk pasti diliputi oleh aturan-Nya (sunnatullah / hukum alam), scra lahiriah dan batiniah, yg berlaku absolut / mutlak.
      Tanpa dipisahkannya kerangka Absolut dan Relatif tsb, yg telah menjadikan perdebatan ttg takdir-Nya, justru relatif tidak pernah tuntas sampai saat ini.
      Terima kasih.

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s