Bab IV.B Ruh-ruh

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

"Dia menciptakan manusia dari tanah kering, seperti tembikar,"
"Dia menciptakan jin dari nyala api."
(QS. AR-RAHMAAN:55:14-15).

"Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu itu (hai manusia),
melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa (ruh) saja.
Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar, lagi Maha Melihat."
(QS. LUQMAN:31:28).

"Allah memegang jiwa (ruh) ketika matinya.
Dan (memegang pula) jiwa yang belum mati di waktu tidurnya.
Maka Ia tahanlah jiwa yang telah ia tetapkan kematiannya.
Dan Dia melepaskan (kembali) jiwa yang lain (pada orang yang tertidur),
sampai waktu yang ditentukan (Hari Kiamat).
Sesungguhnya pada yang demikian itu,
terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah, bagi kaum yang berpikir."
(QS. AZ-ZUMAR:39:42).

 

IV.B.

Ruh-ruh

Ruh, elemen paling dasar penciptaan segala makhluk hidup

Ruh adalah elemen paling dasar bagi pembentukan segala jenis kehidupan zat makhluk-Nya di alam semesta, yaitu: "makhluk hidup nyata" (atau biasa disebut "makhluk hidup", seperti: manusia, hewan, tumbuhan dan sel) ataupun "makhluk hidup gaib" (atau biasa disebut "makhluk gaib", seperti: malaikat, jin, syaitan dan iblis).
Sedangkan benda mati (nyata ataupun gaib) adalah zat ciptaan-Nya yang 'umumnya' diketahui tidak memiliki ruh. Walaupun pada sebagian pemahaman, bahwa benda mati juga disebut sebagai sesuatu yang 'hidup' (memiliki ruh). Karena pada tingkat tertentu yang amat terbatas, benda mati juga dianggap memiliki sebagian kecil dari sifat-sifat makhluk hidup. Hal ini dibahas pada uraian bagian-bagian akhir di bawah, tentang hubungan antara ruh dan benda mati.

Dari istilah-istilah di atas seolah-olah tampak, bahwa makhluk gaib agak terabaikan sebagai makhluk hidup. Hal ini bisa dimengerti karena para makhluk gaib misalnya: tidak terlihat, tidak berwujud atau relatif tidak bertubuh wadah; sangat sulit dipahami langsung tindakan dan keberadaannya, dan juga hanya orang-orang tertentu ataupun para nabi-Nya yang telah mengetahui 'wujud aslinya' dsb.
Untuk mengembalikan fakta bahwa makhluk gaib justru pada dasarnyamerupakan makhluk hidup, maka tiap kata "makhluk" dalam seluruh buku ini semestinya dipahami sebagai "makhluk hidup" (nyata ataupun gaib). 12)

Energi, sarana penting penunjang kehidupan ruh

Dalam Al-Qur'an disebut, bahwa para jin diciptakan-Nya dari "api yang sangat panas" atau dari "nyala api", dan para iblis dari "api". Sedang dalam Hadits Nabi disebut, bahwa para malaikat diciptakan-Nya dari "cahaya". Namun dalam Al-Qur'an, istilah "api" juga dipakai sebagai kata ganti (atau sinonim) dari istilah-istilah seperti: "tenaga", "semangat" atau "magma di perut Bumi".
Maka sangat masuk akal jika disimpulkan, bahwa istilah "api" dan "cahaya" itu, adalah kata ganti dari istilah "energi", yang memang belum dikenal di dalam bahasa arab pada jaman nabi Muhammad saw dahulu. Sedangkan energi itu sendiri cukup banyak jenisnya, seperti: energi panas, energi gerak (energi kinetik), energi gravitasi (energi potensial), energi dalam, energi pegas, energi elektromagnetik, dsb.

Juga karena energi adalah sarana bagi ruh, agar bisa hidup dan beraktifitas. Walau energi yang dibutuhkan oleh tiap ruh amat sangat kecil. Sehingga ruh bisa berada dimana saja di seluruh alam semesta ini, selama pada tempat tersebut ada pula terdapat energi.
Segala jenis ruh (termasuk ruh manusia) juga diciptakan-Nya dari'energi' tersebut, bukan hanya pada ruh para makhluk gaib saja (iblis, syaitan, jin ataupun malaikat). Dan pengertian 'diciptakan-Nya ruh dari energi' di sini, atau lebih luas lagi diciptakan-Nya makhluk hidup dari air, tanah ataupun udara, bukanlah hal-hal bersifat terpisah-pisah (disebut dalam ayat-ayat yang terpisah-pisah). Tetapi semua hal-hal itu (energi, air, tanah atau udara), adalah unsur-unsur yang sangat diperlukan bagi pembentukan ataupun kehidupan tiap jenis "makhluk hidup nyata". Sedang "makhluk hidup gaib" tetap hanya memerlukan energi itu saja bagi kehidupannya. 14)

Baca pula uraian sifat-sifat ruh di bawah, tentang kebutuhan ruh akan energi.

Keadaan awal ruh saat penciptaannya, dan keadaan akhirnya

Sejak awal diciptakannya oleh Allah, semua jenis ruh (juga ruh manusia dan para makhluk gaib, dan bahkan iblis) justru "tinggal di surga" (pada penciptaan Adam). Sedang keadaan semua ruh itu masih sangat suci-murni, dan bersih dari dosa, sejak saat awal penciptaannya itu sampai tiap zat makhluk-Nya telah mulai berbuat dosa pertamanya (pada manusia biasanya terjadi di sekitar usia akil baliqnya).

Bahwa hakekat tiap makhluk-Nya (termasuk manusia), adalah terletak pada ruhnya. Sehingga segala sesuatu hal yang terkait dengan tiap makhluk-Nya di alam batiniah ruhnya (atau alam akhirat), seperti: pahala, beban dosa, dsb, mestinya terbawa bersama zat ruhnya, sedang tubuh wadahnya hanya sekedar alat-sarana sementara bagi keperluan zat ruhnya selama hidup di alam dunia yang fana ini.

Maka hanya zat ruh (tidak beserta tubuh wadahnya), yang akan dikumpulkan dan dipertemukan-Nya dekat di hadapan 'Arsy-Nya dan dihisab-Nya pada Hari Kiamat, kemudian diminta-Nya pertanggung-jawabannya atas segala amal-perbuatannya di dunia. Perwujudan dari segala amal-perbuatan tiap makhluk-Nya sepanjang hidupnya, adalah perubahan keadaan batiniah ruhnya, dari keadaan awalnya yang masih sangat suci-murni di atas, sampai keadaan akhirnya ketika meninggal dunia (sesuai dengan segala amal-perbuatannya). Setelah kematiannya itu, zat ruhnya pasti akan kembali ke hadapan 'Arsy-Nya.
Bahwa seluruh amal-perbuatan yang dianjurkan dalam ajaran-ajaran agama-Nya, adalah cara-cara untuk bisa menjaga kesucian, dan juga untuk bisa makin mensucikan ruh. Serta biasa disebut pula, agar manusia bisa "kembali ke fitrahnya yang murni-suci-mulia". 15)

Baca pula topik "Benda mati gaib (termasuk surga dan neraka)", tentang keadaan-keadaan batiniah ruh manusia. Serta tentang fitrah manusia pada uraian-uraian di bawah.

Keadaan awal ruh pada kelahiran anak manusia

Di dalam ajaran agama Islam justru tidak dikenal adanya "dosa turunan" dan "anak haram". Setiap anak manusia justru terlahir 'sama' (ruhnya sangat suci-murni dan bersih dari dosa). Tentunya tidak ada seorang bayipun ketika kelahirannya, yang telah menanggung segala beban dosa dari orang-tuanya ataupun semua orang-lainnya. Demikian pula tiap manusia pasti hanya menanggung beban dosa dan mendapat pahala-Nya, dari segala hasil amal-perbuatannya sendiri.

Terkait dengan hal di atas, bahwa sejak kelahirannya tiap bayi memang telah mendapat beratnya beban ujian-Nya yang berbeda-beda (lahiriah dan batiniah). Seperti ujian-ujian-Nya yang langsung dialami oleh tiap bayi-bayi yang terlahir: cacat (fisik ataupun mental); miskin keluarganya; tanpa mengenal ayah ataupun ibunya; lingkungan tempat tinggalnya yang penuh dengan segala kemungkaran; dsb.
Bahwa segala ujian-Nya bagi tiap manusia justru bukan suatu bentukazab, siksaan ataupun hukuman-Nya, atas dosa-dosa yang telah dilakukannya. Bahkan jika makin berat beban ujian-Nya, justru makin ringan beban dosa yang diterimanya atas setiap amal-keburukannya, yang dilakukannya ketika ia sedang mengalami ujian-Nya itu (asalkan dilakukan tanpa disengaja dan tanpa dalam keadaan terpaksa). 16)

Baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)", tentang amal-perbuatan manusia berikut ujian-Nya. Serta topik "Benda mati gaib", tentang berbagai keadaan batiniah ruh.

Gambaran umum keadaan awal dan akhir ruh makhluk-Nya

Seperti pada uraian-uraian di atas, bahwa hakekat dari tiap zatmakhluk-Nya terletak pada ruhnya (termasuk manusia), sedang tubuh wadah hanya sekedar alat atau sarana bagi keperluan ruhnya itu. Maka pada Gambar 6 di bawah, digambarkan pula secara sederhana, tentang adanya perubahan pada keadaan batiniah ruh tiap manusia, sejak dari keadaan awalnya yang masih sangat suci-murni dan bersih dari dosa saat ruhnya diciptakan-Nya, dan sampai keadaan akhirnya saat ruhnya kembali kepada-Nya di Hari Kiamat.

Sedang dipahami pula di sini, bahwa tiap zat-zat ruh makhluk-Nya selain manusia, relatif tidaklah banyak berubah berbagai keadaan batiniah ruhnya (keadaannya cenderung amat konstan), karena mereka itu pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah-Nya, ataupun kepada segala tugas-amanat yang diberikan-Nya.
Sehingga mereka justru selalu hidup kekal dan tinggal di Surga sejak ruhnya diciptakan-Nya, dan juga tidak mengalami segala bentuk ujian-Nya seperti halnya manusia ataupun segala makhluk hidup nyata lainnya. Dan para makhluk gaib relatif tidak memiliki tubuh lahiriah.

Di lain pihaknya, tiap manusia selalu mengalami segala bentuk ujian-Nya sepanjang hidupnya (lahiriah dan batiniah). Dan pada akhir hidupnya di dunia fana ini, jika ia dianggap-Nya telah relatif berhasil mengatasi segala ujian-Nya, dengan sebaik-baiknya sesuai penilaian-Nya, maka atas ijin-Nya, iapun bisa hidup kekal dan tinggal di Surga (di alam akhirat), setelah Hari Kiamat.
Sebaliknya jika ia tidak berhasil mengatasi segala ujian-Nya, maka atas ijin-Nya, iapun hidup kekal dan tinggal di Neraka.
Lihat pula pada "Gambar 1: Diagram tujuan penciptaan alam semesta", tentang perbedaan antara manusia dan berbagai makhluk-Nya lainnya.

Gambar 6: Diagram umum penciptaan dan keadaan ruh

Perumpamaan sederhana proses kehidupan dunia fana

Tiap manusia pastilah memiliki peran yang berbeda-beda (atau keadaannya berbeda-beda), pada suatu 'sandiwara' di arena panggung dunia ini, dengan Sang sutradaranya adalah Allah sendiri. Tergantung padanya apakah ia mau menjalani perannya itu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan arahan dari Sang sutradara (dengan mengikuti segala pengajaran dan tuntunan-Nya) ataupun tidak?.
Agar ia tidak ditertawai oleh para penontonnya (manusia lain ataupun para makhluk gaib di alam gaib), dan bahkan agar iapun tidak kehilangan karir panggungnya selamanya (agar tidak dilupakan-Nya). Agar ia memperoleh penghargaan dari Sang sutradara, yang setinggi-tingginya, dengan berbagai kemuliaan hidup kekal di Surga. Serta agar ia mendapatkan peran yang terbaik dan kekal, pada pentas panggung selanjutnya di akhirat.

Dan kehidupan dunia ini adalah "senda gurau" di mata Allah, karena penuh dengan segala cobaan atau ujian-Nya bagi tiap manusia. Namun sebaliknya, justru penuh dengan segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya bagi tiap manusia. Lagipula karena kehidupan dunia ini bersifat fana, dan bukan pula tujuan akhir dari diciptakan-Nya seluruh alam semesta dan segala isinya ini.
Namun dari tujuan penciptaan alam semesta, justru semestinya bukan sesuatu "senda gurau" di mata manusia, karena memiliki tujuan yang pasti, jelas dan benar (hak), terutama agar tiap umat manusia bisa mencari dan mengenal Allah Sang Penciptanya. Lalu ia agar juga bisa mengabdikan seluruh hidupnya kepada Allah, serta agar bisa kembali ke hadapan 'Arsy-Nya, dengan mendapatkan berbagai kemuliaannya.

Beberapa sifat khas ruh makhluk-Nya

Zat ruh ciptaan-Nya terdiri dari berbagai jenis, yang dibedakan oleh sifat-sifatnya yang khas, misalnya:

a. Gaib (tidak tampak dan tidak bisa diraba)
b. Wujud (ada)
c. Tidak memerlukan ruang (tidak berdimensi)
d. Memiliki akal (sempurna ataupun tidak)
e. Memiliki hati atau kalbu (indera batiniah)
f. Memiliki catatan amalan (memori-ingatan)
g. Memiliki hati-nurani (informasi atas kebenaran-Nya)
h. Memiliki nafsu (sempurna ataupun tidak)
i. Bisa memerlukan tubuh wadah
j. Memerlukan energi
k. Memiliki wilayah kekuasaan dan pengaruh.
l. Bisa saling berinteraksi
m. Memiliki tugas-amanat yang diberikan-Nya
n. Memiliki jenis kelamin dan bisa berkembang-biak
o. Tidak bisa menitis atau berreinkarnasi

 

Uraian-uraian selengkapnya, yaitu:

Tabel 3: Sifat-sifat ruh makhluk-Nya

Berbagai sifat dari zat-zat ruh makhluk-Nya

a.

Gaib (tidak tampak dan tidak bisa diraba)

»

Tiap ruh bersifat 'gaib' (tidak tampak dan tidak bisa diraba).
Sifat ruh inipun relatif paling mudah dan umum diketahui karena zat ruh memang bersifat gaib (tidak tampak dan tidak bisa diraba). Sehingga pengetahuan manusia tentang ruh, juga relatif amat sangat terbatas, dan relatif hanya para nabi-Nya yang lebih jelas bisa menerangkan hal ini, melalui kitab-kitab-Nya.

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit"." – (QS.17:85).

"…. Para rasul menjawab: 'Tidak ada pengetahuan kami (tentang hal gaib itu). Sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang gaib'." – (QS.5:109) dan (QS.6:50, QS.7:188, QS.11:31, QS.27:65, QS.53:35, QS.5:116).

"… Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu (tentang) hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya, di antara rasul-rasul-Nya. …" – (QS.3:179) dan (QS.72:26-27).

 

Sedang berbagai pembahasan pada buku ini tentang ruh, pada dasarnya kebanyakan hanya berdasar usaha menformulasi atau merangkum berbagai keterangan dan penjelasan dalam Al-Qur'an, di samping berdasar dari hasil penelitian sederhana, atas interaksi terang-terangan antara para makhluk gaib dan manusia.
Padahal para makhluk gaib itu diketahui sebagai makhluk hidup ciptaan-Nya yang berbentuk paling sederhana (atau relatif hanya berupa ruh), sedangkan makhluk hidup lainnya (makhluk hidup nyata), ruh-ruhnya justru memiliki tubuh wadah.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang interaksi 'terang-terangan' antara para makhluk gaib dan manusia. Serta uraian di bawah tentang tubuh wadah bagi ruh.

b.

Wujud (ada)

»

Tiap ruh bersifat 'wujud' (ada).
Sifat 'wujud' (ada) ini adalah sifat yang paling dasar atau paling sederhana dari sesuatu zat. Karena sifat ini menunjukkan 'perwujudan' atau 'keberadaan' dari zat itu sendiri. 'Perwujudan' dari sesuatu zat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: 'esensi' zat dan 'perbuatan' zat.
Sifat 'esensi' zat biasa disebut pula sifat 'statis-pembeda' zat. Sifat 'perbuatan' zat biasa disebut pula sifat 'dinamis-proses' zat. Dan hanya dari adanya 'salah satu' dari dua kelompok sifat-sifat ini, telah menunjukkan 'perwujudan' atau 'keberadaan' dari sesuatu zat. Tanpa ditunjukkan atau digambarkan melalui 'salah satu' dari dua kelompok sifat-sifat ini, maka sesuatu zat dianggap 'tidak ada'.
Baca pula topik "Sifat-sifat ciptaan-Nya".

Tanpa adanya pembagian sifat menjadi dua kelompok itu, yang membuat sebagian umat Islam sering keliru dalam menilai zat para makhluk gaib dan bahkan zat Allah. Karena umat-umat ini hanya terfokus pada sifat 'esensi' sesuatu zat, dalam menilai keberadaan zatnya, bahkan hanya pada sifat 'esensi' lahiriahnya.
Maka umat-umat ini telah keliru meyakini keberadaan zat para makhluk gaib dan bahkan zat Allah, karena ada para nabi-Nya yang 'dianggap' telah 'melihat' sosok wujud Allah dan para makhluk gaib. Padahal sosok wujud zat Allah dan para makhluk gaib justru mustahil bisa 'dilihat' secara lahiriah oleh manusia. Keberadaan zat Allah dan zat para makhluk gaib justru hanyalah bisa 'diketahui' ataupun 'dirasakan' melalui indera batiniah ruh manusia (hati), atas segala 'perbuatan' zat-zat gaib itu sendiri.

Dengan zat ruh yang bersifat 'gaib' dalam uraian di atas, maka sifat 'esensi' zat ruh relatif amat sangat sedikit yang bisa diketahui oleh umat manusia (bahkan termasuk para nabi-Nya). Namun ada relatif amat terbatas jumlah manusia sampai saat ini (termasuk sebagian dari para nabi-Nya), yang telah mengetahui hakekat 'wujud asli' dari para makhluk gaib (sifat 'esensi'-nya).
Sedang sifat 'perbuatan' zat ruh relatif lebih mudah bisa diketahui oleh umat manusia pada umumnya. Selain tiap manusia bisa mempelajari dirinya sendiri, bahkan juga tiap saatnya justru bisa merasakan segala godaan-bisikan-ilham (ysng positif-benar dan ysng negatif-sesat) dari para makhluk gaib dalam pikirannya.
Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang 'wujud asli' dan 'godaan-bisikan-ilham' dari para makhluk gaib.

Dan berbagai sifat 'perbuatan' zat ruh para makhluk gaib dalam melaksanakan segala perintah-Nya, bisa diketahui ataupun dirasakan dari segala kejadian di alam semesta ini, yang seolah-olah terjadi dengan 'begitu saja', amat sangat teratur, alamiah, halus, tidak kentara dan gaib, tetapi justru juga bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten). Hal ini biasanya lebih dikenal dengan 'hukum alam' (lahiriah), ataupun lebih umumnya lagi 'sunatullah' (lahiriah dan batiniah).
Baca pula topik "Sunatullah", tentang perwujudan dari segala perbuatan Allah di alam semesta, melalui perbuatan para makhluk gaib-Nya.

Maka keimanan atas keberadaan zat ruh (lebih khususnya atas keberadaan zat ruh para makhluk gaib), justru amat penting dalam ajaran agama Islam (justru bagian dari rukum iman).

"Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,", "(yaitu) mereka yang beriman kepada (hal-hal) yang gaib, …" – (QS.2:2-3).

"… Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan Hari Kemudian, maka sesungguhnya, orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." – (QS.4:136) dan (QS.2:285, QS.2:177, QS.2:98).

c.

Tidak memerlukan ruang (tidak berdimensi)

»

Tiap ruh tidak memerlukan ruang (tidak berdimensi).
Ada sebagian manusia yang beranggapan, bahwa tiap zat ruh tidak memerlukan ruang (tidak berdimensi). Akan tetapi ada pula yang beranggapan, bahwa tiap zat ruh masih memerlukan ruang, walau ruang yang diperlukannya relatif amat sangat kecil.

Anggapan terakhir ini timbul dari kenyataan, bahwa tiap zat ruh memerlukan energi bagi kehidupannya, walaupun energi yang diperlukan oleh tiap zat ruh, amat sangat sedikit. Ruh bisa berada di mana-mana seluruh di alam semesta ini (dalam wilayah energi gaya tarik gravitasi dari 'pusat alam semesta').
Terkait hal ini sering disebut di dalam Al-Qur'an, "bahwa para makhluk gaib diciptakan-Nya dari api, panas atau cahaya" (lebih umum lagi, dari energi). Tentunya segala zat ruh lainnya juga diciptakan-Nya dari energi (termasuk zat ruh manusia).

Maka suatu 'materi terkecil' yang bisa membawa energi, dianggap sebagai tempat (tubuh wadah) bagi keberadaan zat ruh, yang ukurannya jauh lebih kecil daripada atom dan elektron. Dan tanpa 'energi terkecil' ini tiap zat ruh dianggap tidak bisa hidup.
Baca pula uraian-uraian di bawah, tentang energi dan tubuh wadah bagi ruh.

Tentunya kedua anggapan itupun memiliki sudut pandang yang berbeda. Anggapan pertama terfokus hanya kepada 'ruang' bagi zat ruhnya sendiri, serta anggapan kedua kepada gabungan 'ruang' bagi zat ruh (hidup) dan tubuh wadahnya (benda mati).
Tentunya pula zat tubuh wadah yang dibicarakan di atas baru pada zat yang berukuran terkecil. Sedang zat tubuh wadah memiliki struktur hierarki, dari yang paling sederhana (berukuran relatif sangat kecil), sampai paling kompleks (berukuran relatif sangat besar). Seperti tubuh tiap manusia misalnya, yang terdiri dari milyaran sel-sel hidup.
Baca pula uraian-uraian di bawah, tentang hubungan antara ruh dan benda mati.

d.

Memiliki akal (sempurna ataupun tidak)

»

Ada ruh yang memiliki akal sempurna, ataupun tidak. 17)
Ruh-ruh yang memiliki akal yang sempurna, adalah ruh para makhluk gaib dan ruh manusia. Sedangkan zat-zat ruh jenis lainnya tidak memilikinya, tetapi mereka biasa disebut memiliki 'insting' atau 'naluri', yang relatif jauh lebih sederhana daripada akal manusia.
Sedang 'akal' adalah satu-satunya alat pada tiap zat ruh, yang memiliki kemampuan untuk memilih, mengolah, menelaah, menilai, menganalisa, mempelajari dan memutuskan, atas segala bentuk informasi yang telah diperoleh setiap makhluk sepanjang hidupnya, melalui segala indera lahiriah dan batiniahnya.

Di dalam Al-Qur'an, malaikat Jibril disebut dengan nama "Ar-Ruh Al-Amin" (ruh yang amat terpercaya), dan amat cerdas akalnya. Begitu pula halnya yang mudah diketahui oleh manusia, adalah amat cerdasnya jin, syaitan atau iblis, di dalam menggoda setiap manusia setiap saatnya sepanjang hidupnya.
Bisa mudah diketahui pula dari akal hewan yang kurang sempurna, karena hampir seluruh jenis hewan yang telah dikenal manusia, justru telah mampu ditundukkan ataupun dipeliharanya.

Baca pula topik "Sunatullah", tentang proses berpikir dan elemen-elemen pada tiap ruh manusia. Dan topik "Makhluk hidup gaib", tentang kecerdasan dan pengetahuan para makhluk gaib.

Namun ada pula anggapan lainnya, bahwa segala zat ruh pada dasarnya justru diciptakan-Nya secara 'persis sama' (segala kemampuan dari semua elemen pada setiap zat ruh, 'sama'). Hal yang berbeda hanyalah berupa perbedaan segala alat-sarana pada masing-masing tubuh wadah setiap zat makhluk-Nya (khususnya makhluk hidup nyata). Maka jika alat-sarana pada tubuh wadah sempurna maka kemampuan akalnya juga sempurna, seperti pada kesempurnaan otak dan alat-alat indera lahiriah setiap manusia. Sebaliknya hal ini kurang sempurna pada hewan dan tumbuhan.
Bahkan di lain pihak para makhluk gaib yang relatif tidak memiliki tubuh wadah sama sekali, akalnya justru amat cerdas. Hal ini sekaligus menunjukkan pula, bahwa pada tiap zat ruh ada terdapat alat penyimpan dan pengindera segala bentuk informasi, yang disebutkan sebagai 'catatan amalan' dan 'hati atau kalbu', dengan fungsinya masing-masing yang relatif serupa dengan otak dan alat-alat indera lahiriah di atas.
Baca pula uraian-uraian di bawah, tentang 'catatan amalan' dan 'hati atau kalbu'.

e.

Memiliki hati atau kalbu (indera batiniah)

»

Tiap zat ruh memiliki hati atau kalbu (indera batiniah atas segala bentuk informasi yang berasal dari luar diri makhluk).
Segala informasi yang telah diperoleh dari alat-alat indera lahiriah pada setiap manusia (atau setiap makhluk hidup nyata), pada dasarnya pastilah akan sampai atau diterima oleh 'hati atau kalbu', sebagai alat indera batiniah pada zat ruhnya. Karena alat-alat indera lahiriah, adalah cerminan 'sebagian' dari kemampuan alat indera batiniah pada zat ruhnya, untuk bisa menangkap atau mencerna berbagai hal dan kejadian lahiriah pula.
Serta segala informasi batiniah dari hasil tangkapan hati atau kalbu itu, lalu diterima oleh akal untuk bisa dipilih, diolah, dinilai, dianalisa dan diputuskan, sebagai suatu pengetahuan baru yang akan dipakai lebih lanjut oleh setiap makhluknya sendiri.
Baca pula topik "Sunatullah", tentang proses berpikir dan elemen-elemen pada setiap ruh manusia.

Sedang di lain pihak, para makhluk gaib yang relatif tidak memiliki tubuh wadah fisik-lahiriah (hanya berupa zat ruh), pada dasarnya hanya memiliki hati atau kalbu sebagai alat inderanya. Hati atau kalbu pada para makhluk gaib misalnya, yang dipakai untuk bisa membaca dan mengetahui segala bentuk pengetahuan (informasi batiniah), pada setiap manusia yang diikutinya.
Sebaliknya para makhluk gaib itu justru menyuplai segala bentuk ilham-bisikan-godaan (positif dan negatif) kepada setiap manusia yang mereka ikuti, melalui hati atau kalbu manusianya. Sehingga interaksi antara para makhluk gaib dan manusia, adalah interaksi dari hati ke hati yang sesungguhnya, walau interaksi ini bersifat 'searah' (para makhluk gaib pasti mengetahui segala isi pikiran manusia, sekecil dan sehalus apapun, sebaliknya tidak).
Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang interaksi antara para makhluk gaib dan manusia, secara terang-terangan dan secara terselubung.

Sedang interaksi antar makhluk hidup nyata justru tidak secara langsung dari hati ke hati, namun melalui alat-alat indera lahiriah terlebih dahulu (mata, telinga, hidung, lidah dan kulit), yang berupa misalnya: sentuhan-rabaan, bahasa lisan, tulisan dan bahasa tubuh, bebauan, rasa, dsb.
Tentunya setiap interaksi melalui alat-alat indera lahiriah, relatif pasti memiliki keterbatasan dan kekurangan, karena setiap informasi yang 'diberikan' (secara lahiriah), relatif belum tentu setiap dengan setiap informasi yang 'diterima' (secara batiniah).
Baca pula uraian-uraian di bawah, tentang interaksi antar zat ruh makhluk-Nya.

f.

Memiliki catatan amalan (memori-ingatan)

»

Tiap zat ruh memiliki catatan amalan (memori-ingatan atas tiap amal-perbuatan makhluk-Nya sendiri).
Segala hal yang telah bisa ditangkap oleh alat-alat indera (lahiriah dan batiniah), ataupun segala hal yang telah dipikirkan, diucapkan dan dilakukan, pada dasarnya pasti tercatat pula pada catatan amalan dalam tiap zat ruh makhluk-Nya sendiri.
Sehingga fungsi dari catatan amalan inipun relatif serupa dengan otak pada tubuh wadah fisik-lahiriah (di kepala). Walau catatan amalan inipun tidak akan musnah, jika tubuh wadah tiap makhluk hidup nyata mengalami kematian. Ringkasnya, catatan amalan justru bersifat kekal, bersama-sama dengan zat ruhnya.
Baca pula topik "Sunatullah", tentang elemen-elemen pada setiap ruh manusia. Dan topik "Benda mati gaib", tentang berbagai informasi batiniah yang tercatat dalam catatan amalan.

Catatan amalan ibaratnya serupa dengan alat penyimpan data pada komputer, yang hanya bisa 'sekali tulis', namun tidak bisa lagi diubah, dihapus ataupun diperbaiki. Serupa halnya kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, yang segala kandungan isinya juga bersifat kekal, segera setelah dicatat ke dalamnya.
Baca pula topik "Sunatullah", tentang kitab mulia (Lauh Mahfuzh).

Catatan amalan pada tiap manusia, juga akan dibukakan, dibacakan atau diberitakan oleh para malaikat Rakid dan 'Atid di Hari Kiamat, agar bisa mengungkap segala kebenaran-Nya yang terkait dengan segala amal-perbuatan manusianya, sekaligus agar bisa menjawab dan menyelesaikan tiap ketidak-tahuan, keraguan, persoalan dan perselisihan manusia.
Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang proses dibukakan kebenaran-Nya di Hari Kiamat.

g.

Memiliki hati-nurani (informasi atas kebenaran-Nya)

»

Tiap zat ruh memiliki hati-nurani (memori-ingatan atas berbagai kebenaran-Nya yang 'relatif' menurut tiap makhluk-Nya sendiri).
Seperti disebut di atas, bahwa segala informasi batiniah di dalam tiap zat ruh makhluk-Nya, justru dipilih, diolah, dianalisa, dinilai dan diputuskan oleh akalnya, untuk bisa dianggap sebagai suatu pengetahuan baru yang akan dipakainya lebih lanjut.
Dari segala pengetahuan baru itu ada pula sebagian yang mengandung nilai-nilai kebenaran. Tetapi segala kebenaran dari hasil olahan 'akal' ini justru pada dasarnya pasti bersifat 'relatif' dan 'subyektif' (menurut penilaian tiap makhluknya sendiri).
Baca pula topik "Sunatullah", tentang elemen-elemen pada setiap ruh manusia.

Segala kebenaran 'relatif' dan 'subyektif' inilah yang lalu tercatat pada hati-nurani dalam zat ruh masing-masing makhluk, yang bisa membentuk segala 'keyakinan batiniahnya'. Dan hati-nurani inilah yang telah menuntun tiap makhluk dalam menjalani kehidupannya di dunia dan di akhirat (jika hati-nurani dipakai).

Segala usaha untuk membersihkan atau mensucikan ruh, pada dasarnya justru bertujuan memperbaiki kandungan isi hati-nurani, agar tiap makhluk (termasuk manusia) juga bisa kembali ataupun bisa selalu berada ke jalan-Nya yang lurus (benar).
Lebih jelasnya, agar segala kebenaran 'relatif-subyektif' milik tiap manusia bisa semakin mendekati 'sebagian kecil' dari segala kebenaran 'mutlak-obyektif' milik Allah di alam semesta. Jika hal ini bisa tercapai, maka biasa disebut "manusianya telah semakin mendekati 'Arsy-Nya" (seperti pada para nabi-Nya).

Sebelum tiap manusia bisa semakin berpengetahuan (atau sebelum semakin sering menggunakan akalnya), pada hati-nurani tiap bayi manusia yang baru terlahir, justru telah diberikan-Nya segala kebenaran-Nya yang relatif amat sederhana dan mendasar, sebagai suatu bentuk tuntunan-Nya yang paling mendasar.
Ketika semakin bertambahnya pengetahuan tiap manusia, kandungan isi hati-nuraninya mestinya semakin disempurnakan sesuai keadaan, pengetahuan dan kemampuannya. Ringkasnya, sepanjang hidupnya tiap manusia mestinya semakin mempelajari dan memahami berbagai kebenaran-Nya di alam semesta. agar ia benar-benar bisa semakin dekat ke hadapan 'Arsy-Nya.

Maksimalnya agar segala pemahaman tentang kebenaran-Nya bisa relatif sangat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, seperti yang dimiliki oleh para nabi-Nya, khususnya atas hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah).
Aspek-aspek pemahaman inipun dianggap sebagai ukuran yang bisa menunjukkan bahwa segala kebenaran relatif milik tiap manusia telah relatif sesuai dengan berbagai kebenaran mutlak milik Allah di alam semesta, walaupun tetap mustahil bisa persis sama (segala pengetahuan manusia tetap amat terbatas).

h.

Memiliki nafsu (sempurna ataupun tidak)

»

Ada ruh yang memiliki nafsu sempurna, ataupun tidak. 18)
Hanya ruh manusia yang memiliki nafsu yang sempurna. Dengan sekaligus diberikan-Nya akal yang juga sempurna, yang membuat manusia menjadi makhluk yang relatif paling berkuasa di muka Bumi, dibanding segala jenis makhluk-Nya lainnya, atau membuat manusia dipilih sebagai khalifah-Nya di muka Bumi.
Dari gabungan Akal (pengetahuan atau kecerdasan untuk memilih) dan Nafsu (semangat atau keinginan untuk maju) yang sempurna justru menjadi modal paling utama bagi tiap manusia, untuk bisa memiliki kebebasan sepenuhnya di dalam mengatur kehidupannya (bebas berkehendak dan berbuat).

Selain sebagai nikmat-Nya, Akal dan Nafsu juga sebagai ujian-Nya bagi setiap umat manusia. Karena dengannya, manusia bisa memiliki kebebasan dalam memilih ataupun berkeinginan, untuk mau melakukan segala anjuran atau perintah-Nya, ataupun tidak, serta apakah manusia mau mendapatkan keredhaan-Nya, ataupun tidak.
Tetapi sebagai konsekuensi akhirnya, tiap manusia pasti akan dimintai-Nya pertanggung-jawabannya di Hari Kiamat, atas segala nikmat kelebihan yang telah diberikan-Nya tersebut.

Sedang zat-zat ruh makhluk selain manusia, justru tidak memiliki kebebasan dan keinginan seperti pada manusia, mereka hanya bersujud kepada-Nya, atau mereka pasti tunduk, patuh dan taat di dalam melaksanakan segala perintah-Nya. Lebih jelasnya, nafsu-keinginan mereka itu amat stabil, dan semata-mata hanya demi tujuan untuk bisa mengabdi kepada-Nya.
Bahkan jin, iblis atau syaitan justru ditugaskan-Nya untuk menggoda tiap manusia tiap saatnya sepanjang hidupnya, sebagai suatu bentuk ujian-Nya secara batiniah bagi manusia.
Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang tugas para makhluk gaib dalam memberikan pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah.

Zat ruh hewan juga termasuk yang tidak memiliki nafsu sempurna, sehingga mereka mudah dikendalikan atau dipelihara oleh manusia. Bahkan singa yang dikenal amat buas, justru tidak mau lagi memakan mangsa lainnya yang berada di dekatnya, saat ia sedang makan ataupun telah kenyang, karena memang hanya mengikuti naluri saja (lapar ataupun tidak).
Tidak ada suatu hewan yang bersifat serakah (atau tidak menumpuk-numpuk persediaan makanannya secara berlebihan di luar kebutuhannya), seperti halnya pada manusia. Jikalaupun ada persediaan, hal ini bisa terjadi hanya karena mangsanya memang kebetulan berukuran cukup besar dan tidaklah habis dalam sekali makan, ataupun karena adanya faktor 'musim makanan' (seperti menyimpan semua makanan yang hanya tersedia di musim panas untuk persediaan di musim dingin), tetapi tetap tidak berlebihan.

Baca pula topik "Sunatullah", tentang proses berpikir dan elemen-elemen pada setiap ruh manusia.

Serupa halnya dengan 'akal' di atas, ada pula anggapan lainnya, bahwa segala zat ruh pada dasarnya justru diciptakan-Nya secara 'persis sama' (segala kemampuan dari semua elemen pada tiap zat ruh, 'sama'). Perbedaan pada 'nafsu' justru hanya berupa perbedaan segala alat-sarana pada masing-masing tubuh wadah tiap zat makhluk-Nya, karena tubuh wadahnya justru amat menentukan segala 'nafsu-keinginan' yang bisa diwujudkan oleh tiap zat makhluk-Nya.
Baca pula uraian di bawah, tentang tubuh wadah.

i.

Bisa memerlukan tubuh wadah

»

Ada ruh yang memerlukan tubuh wadah (bisa menempati sesuatu tempat), ataupun tidak. 19)
Zat-zat ruh makhluk-Nya selain ruh para makhluk gaib, dianggap bersifat memerlukan sesuatu tubuh wadah, untuk hidup sempurna sebagai suatu makhluk yang utuh. Dengan cara, zat ruh menyatukan diri ke benih dasar tubuh wadahnya, ketika ia hidup dan tumbuh (ditiupkan-Nya ruh), dan lalu berpisah dengan tubuh wadahnya, ketika kematiannya (diangkat-Nya ruh).
Kehidupan dunia-lahiriah yang fana ini justru hanya suatu bentuk ujian-Nya bagi manusia. Sehingga pada saat ruhnya telah dibangkitkan dan dikumpulkan-Nya di Hari Kiamat, maka segala ruh manusia pasti 'hidup kembali' di alam akhirat (bersifat gaib dan kekal), kurang-lebih serupa dengan bentuk kehidupan para makhluk gaib pada saat ini.
Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang wujud kehidupan manusia di alam akhirat setelah Hari Kiamat.

Tiap zat ruh juga hanya bisa menyatu dengan jenis "benih dasar tubuh wadah tertentu" saja. Lalu tiap zat ruh itu juga pasti mengarahkan pembentukan tubuh wadahnya (yang sangat khas dan berragam), ketika benihnya tumbuh dewasa. Zat-zat ruh itu seperti dirigen, yang mengatur tiap sel, jaringan dan keseluruhan organ tubuhnya (secara sadar ataupun tidak). Zat ruh manusia misalnya, adalah 'induk' bagi sesuatu hierarki sejumlah milyaran ruh-ruh 'anak' lainnya (sampai ke ruh-ruh sel dalam tubuhnya).
Di dalam ilmu-pengetahuan modern hal ini sering disebut sebagai peranan dari sel kromosom ataupun sel DNA. Namun di balik hal tersebut justru zat ruhnya masing-masing yang menjadi pengendali sebenarnya atas tiap sel tersebut, ataupun pengendali utama dari kehidupan segala zat makhluk-Nya.

Contoh sederhananya, pada bayi manusia dan kera yang masih sangat suci-murni dan belum terlatih sama-sekali. Namun ruh bayi kera bisa menggerakkan ekornya, sedang pada ruh bayi manusia justru tidak ada kemauan atau sifat seperti itu. Begitu pula fungsi-fungsi lainnya.

Hal inipun secara tegas membantah teori Evolusi Darwin, terutama tentang kera yang dianggap sebagai nenek moyang dari manusia. Sekaligus cukup jelas bisa menunjukkan bahwa Darwin sama sekali tidak memahami ruh, yang mustahil bisa berevolusi. Seperti mustahil ruh bisa berevolusi, misalnya dari tidak berakal menjadi berakal, ataupun sebaliknya. Apalah jadinya jika sesuatu ketika, ruh manusia bisa berevolusi menjadi tidak berakal, karena dianggap bisa terjadi proses evolusi terhadap 'struktur' dari tiap zat ruh?.
Darwin dengan jelas telah mengabaikan kemuliaan umat manusia sebagai khalifah-Nya, nilai-nilai kemanusiaan dan juga mengabaikan kekayaan khasanah segala ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini, yang amat sangat kaya jenisnya.

Betul, bahwa tiap zat makhluk-Nya bisa berevolusi, tetapi hal ini justru hanya terjadi pada aspek lahiriahnya saja akibat dari pengaruh lingkungan lahiriahnya pula. Bahkan perubahan itupun amat sedikit sekali, dan juga relatif tidak mempengaruhi struktur tubuh lahiriah makhluk-Nya (hanya ada sedikit perubahan pada bentuk tubuhnya, namun bukan menjadi hilang ataupun muncul bagian-bagian struktur tubuhnya).
Bahkan pengaruh dari evolusi lahiriah juga mustahil bisa mempengaruhi ruh (aspek batiniah), khususnya struktur dan sifat ruhnya. Makin berkembangnya pengetahuan manusia pada setiap jamannya misalnya, justru bukan sesuatu bentuk proses evolusi, karena struktur zat ruhnya tidak berubah, tetapi hanya isi batiniah ruhnya saja yang bisa berubah (pengetahuannya bisa bertambah dan berkurang). Segala pengetahuan justru tidak bisa diwariskan atau diturunkan kepada anak-keturunan, tetapi hanya bisa dicapai dan dibangun oleh tiap manusianya sendiri sepanjang hidupnya.

Berbagai kelemahan Teori Evolusi Darwin itu juga telah dibantah dengan amat tuntas pada buku-buku karya penulis yang berkebangsaan Turki, Harun Yahya, misalnya buku: "Bantahan Terhadap Evolusionis", "Kekeliruan Evolusionis", "Keruntuhan Teori Evolusi melalui 20 Pertanyaan", "Kebohongan Terbesar dalam Sejarah Biologi: Darwinisme", "Fakta Penciptaan", dsb.
Baca pula topik "Makhluk hidup nyata".

Walau telah dipisahkan sifat-sifat ruh tentang nafsu dan tubuh wadah, tetapi pada dasarnya ke dua sifat ruh ini juga amat erat hubungannya, khususnya karena tubuh fisik-lahiriah adalah sarana amat penting pada segala makhluk hidup nyata, untuk bisa mewujudkan segala nafsu-keinginan duniawinya (biasa diringkas 'nafsu' saja).
Contoh sederhananya, mengenai hubungan antara nafsu-keinginan duniawi dan tubuh wadah bagi tiap ruh makhluk (atau antara 'nafsu' dan 'tubuh wadah'), misalnya:

Pada para makhluk gaib yang biasanya dianggap sama-sekali tidak memiliki tubuh wadah (relatif tetap berupa zat ruh saja) serta telah disebut di atas bahwa mereka tidak memiliki nafsu (tepatnya, nafsu mereka amat stabil).

Segala nafsu-keinginan 'duniawi' mereka memang tidak ada, sedang nafsu-keinginan mereka hanya semata-mata agar bisa mengabdikan diri dalam melaksanakan segala perintah-Nya, atau melaksanakan segala tugas atau amanat-Nya.

Pada hewan dan tumbuhan, berbagai alat-sarana pada tubuh wadahnya memang relatif terbatas, sehingga berbagai nafsu-keinginan duniawi memang relatif tidak bisa diwujudkannya, atau disebut nafsunya juga relatif amat terbatas (amat stabil).

Pada manusia, segala sarana pada tubuh wadahnya memang relatif paling sempurna, dibandingkan segala makhluk hidup nyata lainnya, sehingga berbagai nafsu-keinginan duniawinya yang bisa terwujudkan memang relatif paling sempurna pula. Disebut 'relatif', karena nafsu-keinginan duniawi antara tiap manusia sendiri juga bisa berbeda-beda.

Bahkan dalam ajaran agama-Nya, manusia justru dianjurkan untuk bisa menundukkan segala nafsu-keinginan duniawinya, agar ia bisa mendapatkan berbagai kemuliaan.

Pada pria yang telah 'dikebiri' alat untuk menyalurkan nafsu-keinginannya kepada wanita, makin lama bisa menyadari dan menghadapi keadaan tubuhnya, maka bisa makin menghilang pula nafsu-keinginannya itu.

Pada orang yang miskin, segala sarana pada tubuh wadahnya memang serupa dengan manusia lainnya akan tetapi berbagai fasilitas hidupnya di dunia (hartanya), yang bisa dimilikinya memang relatif terbatas, sehingga berbagai nafsu-keinginan duniawinya memang relatif terbatas pula yang bisa terwujud.

Begitu pula halnya dengan berbagai nafsu-keinginan duniawi lainnya, pada dasarnya juga terkait langsung dengan berbagai keadaan lahiriah pada tubuh tiap makhluk itu sendiri, ataupun pada lingkungan di sekitarnya yang terkait. Sehingga nafsu-keinginannya itu memang masih mungkin bisa 'terwujud'.

Sedang sebaliknya, segala nafsu-keinginan duniawinya yang memang mustahil bisa terwujud atau mustahil bisa dijangkau (hanya berupa 'khayalan'), pada dasarnya justru bukan nafsu-keinginan yang 'sebenarnya'.
Juga karena segala nafsu-keinginan duniawi terakhir ini, jika justru diperturutkan beban dosanya relatif amat kecil, karena memang hanya berada dalam pikiran saja (belum diamalkan menjadi tiap perbuatan dosa yang beban dosanya relatif lebih besar). Walau 'berpikiran buruk' ini mestinya juga dihindari.

Nafsu-keinginan terakhir ini secara alamiah relatif akan bisa hilang dengan sendirinya, dengan berjalannya waktu.

 

Sekali lagi penting untuk diingat, bahwa makin sempurna nafsu tiap makhluk-Nya (atau makin sempurna tubuh wadahnya), maka makin besar pula beban ujian-Nya kepada dirinya. Karena berbagai nafsu-keinginan duniawi dan kehidupan dunia memang relatif menghambat tiap makhluk-Nya dalam mengabdikan diri kepada-Nya (adanya segala kesibukan saat mengurusi kehidupan dunia itu sendiri).
Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang keistimewaan manusia atas segala makhluk-Nya lainnya, yang bisa didapatkannya dari berbagai kekurangan atau kehinaannya (nafsu dan tubuhnya). Dan uraian-uraian di bawah, tentang zat ruh-ruh makhluk-Nya dan pengabdiannya kepada-Nya.

Namun ada catatan khusus, tentang berbagai anggapan di atas ataupun pada bagian lain pembahasan buku ini, bahwa para makhluk gaib adalah makhluk hidup yang relatif tidak memiliki tubuh wadah (relatif tetap berupa zat ruh saja).
Karena ada pula anggapan lainnya, bahwa para makhluk gaib tetap memiliki tubuh wadah, yaitu berupa materi atau benda mati, dari yang berukuran paling kecil (jauh lebih kecil daripada atom), sampai yang berukuran paling besar (pusat alam semesta). Dan benda mati yang paling kecil itu (disebut 'materi terkecil'), tentunya juga berupa materi pembawa energi yang paling kecil.
Baca pula topik "Atom-atom", tentang benda nyata terkecil yang sebenarnya.

Umat yang menyetujui anggapan terakhir ini menyakini, bahwa para makhluk gaib itulah yang telah ditugaskan-Nya agar bisa melaksanakan segala urusan Allah di seluruh alam semesta ini (atau mengawal pelaksanaan sunatullah lahiriah dan batiniah). Serta para makhluk gaib itu dianggap sebagai "para penggerak", atas segala sistem dan hierarkinya di alam semesta ini, dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks (alam semesta itu sendiri), dan mereka pasti tunduk, patuh dan taat melaksanakan segala perintah-Nya, atau melaksanakan segala amanat-Nya.
Maka bagi umat-umat ini, secara ringkasnya, benda mati bukan benar-benar benda mati, namun juga memiliki zat ruh di dalamnya. Zat ruh ini misalnya, yang telah bisa mengakibatkan terlaksananya hukum gravitasi, antar benda-benda mati. Adapun benda mati itu sendiri pada dasarnya hanya suatu makhluk hidup yang dianggap relatif amat sangat terbatas, di dalam berkehendak dan berbuat, karena segala alat-sarana pada zat tubuh wadahnya memang relatif amat sangat terbatas pula.
Baca pula uraian-uraian di bawah, tentang hubungan antara ruh (khususnya para malaikat) dan benda mati.

"Para penggerak" yang tak-terhitung jumlahnya itu tentu saja tidak hanya ikut menggerakkan pelaksanaan sunatullah pada aspek lahiriah (biasa disebut sebagai 'hukum alam'), namun juga menggerakkan pelaksanaan sunatullah pada aspek batiniahnya.
Karena segala hal yang bersifat batiniah, atau segala hal yang terdapat dalam alam pikiran tiap ruh makhluk, justru pasti mengikuti berbagai aturan tertentu. Bahkan pemahaman terhadap sunatullah pada aspek batiniah ini justru berperan paling penting di dalam ajaran-ajaran agama-Nya, serta terkait langsung dengan usaha pembangunan kehidupan akhirat tiap manusia (kehidupan batiniah ruhnya).
Baca pula topik "Sunatullah". Serta topik "Benda mati gaib", tentang hubungan antara kehidupan akhirat dan kehidupan batiniah ruh.

j.

Memerlukan energi

»

Tiap ruh memerlukan energi, agar tetap bisa hidup dan tetap bisa melakukan segala aktifitasnya.
Di seluruh alam semesta inipun ada terdapat energi, maka ruh-ruh bisa berada dimana saja. Sedang energi yang diperlukan oleh tiap ruh memang amat sangat kecil, bahkan jauh lebih kecil dari energi pada suatu atom dan pada partikel-partikel sub-atom.
Keberadaan energi di seluruh alam semesta relatif mudah dipahami, misalnya dari amat luasnya pengaruh energi gravitasi dari tiap pusat galaksi terhadap ratusan milyar bintang anggota gugusan bintangnya. Keadaan amat ideal 'tanpa energi' (bersuhu nol mutlak), yang justru belum terbukti ada di alam semesta ini, adalah keadaan seperti saat proton dan elektron pada suatu atom, bahkan tidak bisa bergerak sama-sekali.
Baca pula topik "Proses penciptaan bintang, planet dan benda-benda langit lainnya", tentang energi yang ada dimana-mana di alam semesta ini.

Tentunya berbagai jenis ruh yang memiliki tubuh wadah di atas, memerlukan energi yang relatif cukup besar pula sebagai makhluk utuh, misalnya untuk: kelangsungan hidupnya (tubuh wadahnya relatif tersusun dari sejumlah milyaran sel-sel hidup); perkembangan tubuh wadahnya; berbagai aktifitas fisik-lahiriah; berpikir; marah dan aktifitas pikiran lainnya (batiniah); dsb.

Selain itu pula, tiap jenis zat ruh tertentu justru hanya bisa menetap pada jenis benih dasar tubuh wadah tertentu, jika bisa terpenuhinya keadaan atau tingkat energi minimal tertentu pada benih dasar tersebut. Seperti halnya keadaan energi pada benih dasar tubuh wadahnya (dari hasil bercampurnya pasangan sel-sel generatif induknya), tepat saat ditiupkan-Nya dengan zat ruhnya.
Maka zat ruh itu pasti akan dikeluarkan, dicabut, diangkat atau dibangkitkan-Nya dari jasad tubuh wadahnya, yang memang telah membusuk di dalam kuburnya, jika tingkat energi minimal pada benih dasar tubuhnya telah tidak bisa terpenuhi (darahnya tidak bisa lagi menyuplai energinya yang masih tersisa). Dan zat ruh pada tiap makhluk hidup nyata yang telah wafat itupun, pasti akan kembali lagi ke hadapan 'Arsy-Nya.

Pembusukan jasad tubuh wadah manusia misalnya, bisa berlangsung selama puluhan ataupun ratusan hari, tergantung pada keadaan atau tingkat pengawetan tanah kuburannya. Sedang belum ada keterangan jelas tentang letak tepatnya dari sel "benih dasar" (letak dari zat ruh 'induk' suatu makhluk berada), setelah tubuh suatu makhluk hidup nyata menjadi utuh dan lengkap.
Sehingga saat kematian dari sel "benih dasar" itu, adalah saat kematian yang sebenarnya bagi tiap makhluk (saat diangkat-Nya ruh), tidak cukup hanya sekedar saat kematian secara teknis menurut definisi ilmu kedokteran (pada saat organ-organ penting tubuh telah tidak berfungsi).
Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang dibangkitkan-Nya ruh manusia di Hari Kiamat.

k.

Memiliki wilayah kekuasaan dan pengaruh

»

Tiap ruh memiliki suatu wilayah kekuasaan dan pengaruh (secara lahiriah dan batiniah, positif dan negatif).
Secara batiniah, suatu wilayah kekuasaan atau pengaruh tiap zat ruh (positif dan negatif), biasanya disebut sebagai 'aura', 'karisma', 'wibawa', dsb. Misalnya para nabi-Nya yang bisa pula berpengaruh kepada amat banyak jumlah pengikutnya. Demikian pula halnya dengan para pemimpin lainnya, dari para pemimpin negara sampai yang paling sederhana, hanya bagi dirinya sendiri.
Sedang secara lahiriah, wilayah kekuasaan atau pengaruh tiap zat ruh relatif jauh lebih terbatas (hanya wilayah yang dekat di sekitar atau sekeliling tubuh wadah tiap makhluknya sendiri). Misalnya pada manusia yang bisa membengkokkan sendok dari jarak jauh, ataupun yang bisa memiliki tenaga dalam.

l.

Bisa saling berinteraksi

»

Ada ruh-ruh makhluk hidup yang bisa saling berinteraksi secara langsung ataupun tidak, dengan ruh-ruh makhluk hidup lainnya (sejenis ataupun tidak, searah ataupun dua arah). 20)
Telah umum diketahui dalam Al-Qur'an, bahwa zat ruh-ruh makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan ataupun iblis) justru bisa berinteraksi dengan ruh manusia, seperti pada saat penyampaian wahyu-Nya oleh malaikat Jibril kepada para nabi-Nya. Hal yang paling mudah diketahui pula, pada saat para jin, syaitan atau iblis menggoda tiap manusia tiap saatnya sepanjang hidupnya.
Interaksi secara 'searah' dan 'terselubung' itu yang paling umum terjadi (berupa pengaruh segala pengajaran dan ujian-Nya dari para makhluk gaib kepada tiap manusia, bukan sebaliknya). Namun relatif sangat terbatas adanya keterangan lengkap (sangat jarang, dan di dalam hal-hal tertentu saja), tentang suatu interaksi secara 'dua arah' dan 'terang-terangan' (seperti ketika para nabi-Nya bisa mengetahui "wujud asli" dari para makhluk gaib, serta bisa berdialog langsung dengan mereka).
Baca pula topik "Makhluk hidup gaib" dan topik "Benda mati gaib", tentang cara dan alat-sarana para makhluk gaib, dalam berinteraksi dengan manusia.

Sedang interaksi antar para makhluk nyata (seperti hewan dan manusia; manusia dan manusia, dsb), relatif tidak bisa terjadi secara langsung antar ruhnya, tetapi terjadi melalui perantaraan tubuh wadah, sebagai alat-sarana yang dikendalikan oleh ruhnya masing-masing, misalnya melalui perkataan, sikap dan perbuatan ataupun melalui bahasa tulisan, lisan dan bahasa tubuh.

Tiap ruh sel juga bisa saling berinteraksi dengan ruh-ruh sel lain di sekitarnya (sejenis ataupun tidak). Hal inipun biasanya terjadi antar zat-zat ruh sel yang menyusun tubuh makhluk nyata. Manusia misalnya, tersusun dari sejumlah besar berbagai jenis sel, yang saling berinteraksi secara harmonis, seperti: sel darah, sel tulang, sel otak, sel kulit, sel otot, sel DNA, dsb.
Sel darah bisa membawa zat makanan bagi sel-sel lainnya ke hampir seluruh tubuh makhluk induknya. Juga sel membawa zat makanan ke sel lain di dekatnya.
Hasil interaksi antar zat ruh sel-sel itulah yang telah bisa membuat seluruh tubuh wadah makhluk nyata, bisa tumbuh dan berkembang. Sedang hubungan antara ruh sel dan tubuh sel itu sendiri, serupa seperti ruh tiap manusia pada saat mengendalikan tiap anggota badannya (eksternal ataupun internal), tetapi tentu saja dengan cara atau proses yang jauh lebih sederhana daripada ruh manusia 'induknya'.
Baca pula topik "Makhluk hidup nyata".

m.

Memiliki tugas-amanat yang diberikan-Nya

»

Tiap ruh makhluk-Nya memiliki tugas atau amanat tertentu, yang telah diberikan atau ditetapkan-Nya, baginya. 21)
Dari uraian-uraian terdahulu, bahwa hakekat utama dari penciptaan seluruh alam semesta ini, adalah penciptaan manusia dan proses penggodokannya. Dan hakekat manusia terletak pada ruhnya, sedang tubuh wadahnya hanya sekedar alat-sarana bagi segala keperluan ruhnya itu.

Dari pemahaman yang demikian, maka tiap ruh manusia memiliki tugas sebagai khalifah-Nya di dunia. Sehingga keadaan akhir pada tiap ruh manusia pasti akan dihisab-Nya pada Hari Kiamat sebagai hasil dari pelaksanaan tugas atau amanat-Nya itu. Di mana dimulai dari keadaan awal tiap ruh bayi manusia, yang sangat suci-murni dan bersih dari dosa, sampai keadaan akhirnya pada saat kematiannya.
Hasil dari tugas tiap manusia yang diberikan-Nya rahmat atau pahala-Nya yang paling besar (Surga), adalah dari seluruh usaha manusia itu sendiri yang dianggap-Nya berhasil melayani, membahagiakan atau mensucikan ruhnya, dengan cara berusaha maksimal mengikuti segala pengajaran dan tuntunan-Nya dengan sebaik-baiknya, ataupun mengikuti jalan-Nya yang lurus sesuai dengan keadaan, kemampuan, pengetahuan dan keimanannya.

Ruh-ruh selain ruh manusia, pada umumnya ditugaskan-Nya untuk mendukung berjalannya kehidupan manusia di dunia. Ruh para makhluk gaib justru bertugas memberi pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah di dalam proses penggodokan manusia (di kehidupan akhirat atau kehidupan batiniah ruh). Sebaliknya segala ruh makhluk hidup nyata lainnya justru bertugas memberi pengajaran dan ujian-Nya secara lahiriah (di kehidupan dunia).
Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang tugas para makhluk gaib dalam memberi pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah kepada tiap manusia.

n.

Memiliki jenis kelamin dan bisa berkembang-biak

»

Tiap ruh makhluk memiliki jenis kelamin, serta sebagiannya bisa berkembang-biak (dengan ataupun tanpa alat reproduksi).

Sifat 'berjenis kelamin' di sini (laki-laki dan perempuan, jantan dan betina, dsb), lebih difokuskan atau dikaitkan dengan sudut pandang, bahwa tiap ruh itu memiliki sifat batiniah yang maskulin ataupun feminin. Sehingga sifat ruh ini disebut sebagai 'jenis kelamin batiniah'.
Lebih tepatnya lagi, sifat ini adalah sifat suatu makhluk-Nya saat ia hanya berupa 'ruh', seperti saat ia belum ditiupkan-Nya ke dunia, serta saat ia telah diangkat-Nya (setelah kematian, setelah terlepas dari tubuh wadahnya). Juga seperti jenis kelamin dari para makhluk gaib yang wujudnya relatif hanya berupa ruh (relatif tidak memerlukan tubuh wadah, sebagai makhluk utuh).

Sedangkan sifat 'berkembang-biak' lebih terkait dengan, bentuk, keadaan dan keberadaan alat reproduksi pada tubuhnya masing-masing (alat untuk bisa melanjutkan keturunannya, atau alat untuk bisa berkembang biak). Sehingga sifat ruh ini disebut sebagai 'jenis kelamin lahiriah'.
Lebih tepatnya lagi, sifat ini adalah sifat suatu makhluk-Nya saat ruhnya masih menyatu dengan tubuh wadahnya (pada saat setelah ruh ditiupkan-Nya ke dunia), untuk bisa membentuk makhluk hidup nyata yang utuh.

Pemisahan antara jenis kelamin secara lahiriah dan secara batiniah ini perlu dilakukan, karena keduanya tidak selalu saling bersesuaian, atau bisa berbeda. Seperti diketahui pada manusia, ada yang tubuh fisiknya berupa laki-laki, namun bersifat feminin, dan sebaliknya, ada pula perempuan yang bersifat maskulin.

Dengan begitu hanya pada zat-zat ruh para makhluk gaib, manusia dan sebagian dari hewan, yang jelas diketahui memiliki jenis kelamin batiniah (maskulin dan feminin). Sedang tumbuhan dan sebagian dari hewan lainnya (seperti sel-sel), memang belum jelas diketahui jenis kelamin batiniahnya, karena memang belum ada manusia yang telah bisa mengetahuinya, ataupun belum jelas diterangkan pada kitab-kitab suci agama.

Khususnya pada para makhluk gaib, secara sekilas mudah bisa diketahui, bahwa para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis) memang mestinya serupa dengan manusia, yang selalu diikuti dan diberikannya segala pengajaran dan ujian-Nya. Walau mereka itu memang tetap bersifat gaib, serta manusia hanya bisa mendengar segala suara bisikan-ilham-godaan dari mereka, tetapi tanpa bisa melihat langsung wujudnya (gaib).
Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang wujud asli dari para makhluk gaib. Serta uraian lebih lanjut di bawah, tentang jenis kelamin dari para makhluk gaib.

Tentunya penilaian atas jenis kelamin dari tumbuhan dan hewan itu, lebih terkait dengan bentuk dan keberadaan alat-alat reproduksinya (berupa jenis kelamin fisik-lahiriahnya, bukan dari jenis kelamin batiniahnya). Sehingga penilaian atas hewan dan tumbuhan itu belum bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada tiap zat ruhnya masing-masing (jenis kelamin batiniahnya).

Namun secara teoretis pada pemahaman di sini, mestinya segala zat ruh diciptakan-Nya 'sama', sehingga segala makhluk-Nya mestinya berjenis kelamin (bersifat maskulin dan feminin, atau ada yang laki-laki dan yang perempuan), seperti halnya pada manusia. Namun ada yang memiliki alat-reproduksi dan ada pula yang tidak, serta ada yang bisa berkembang-biak dan ada pula yang tidak.
Hal ini tersirat secara implisit di dalam Al-Qur'an, "bahwa segala sesuatu diciptakan-Nya, secara berpasang-pasangan dan seimbang", seperti pada ayat-ayat berikut:

"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat akan kebesaran-Nya." − (QS.51:49) dan (QS.36:36, QS.13:3, QS.42:11, QS.43:12).

"(Allah) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah, sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang." − (QS.67:3).

 

Namun ada pendapat yang amat keliru dari sebagian para alim-ulama, yang justru berbeda dari pemahaman di atas, melalui pernyataan mereka, seperti "bahwa para malaikat tidak berjenis kelamin. Bukan laki-laki dan bukan perempuan".
Pernyataan ini justru tanpa berdasarkan pemahaman yang cermat dan mendalam, atas ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi, dan terutama lagi tanpa adanya pengalaman langsung di dalam berinteraksi secara terang-terangan dengan para makhluk gaib.

Di mana pernyataan dari para ulama itu diduga berdasar penafsiran mereka atas surat Al-Isra' ayat 40, yaitu "Maka apakah patut Rabb memilihkan bagimu anak-anak laki-laki, sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat?. Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (kebohongannya ataupun dosanya)." – (QS.17:40).
Juga bisa berdasar penafsiran atas ayat-ayat Al-Qur'an, yang kandungan isinya serupa, seperti: QS.6:100-101, QS.16:57-59, QS.37:149-159, QS.43:15-20, QS.52:38-41, QS.53:19-23 dan QS.53:26-28.

Perbedaan amat penting antara pernyataan para ulama di atas dan pemahaman di sini, khususnya terletak pada penafsiran atas kalimat, seperti "orang-orang kafir telah beranggapan keliru, bahwa para malaikat itu berjenis kelamin perempuan, sekaligus para malaikat itu adalah anak-anak Allah." (QS.37:149-159).
Semua umat Islam menyakini, "bahwa Allah Yang Maha Esa memang tidak beranak dan tidak diperanakan." − (QS.112:3) Namun penolakan atas anggapan keliru dari orang-orang kafir tersebut, juga tidak semestinya bisa langsung ditafsirkan sebagai 'kebalikannya', menjadi "para malaikat bukan berjenis kelamin perempuan", atau menjadi "para malaikat tidak berjenis kelamin. Bukan laki-laki dan bukan perempuan.".

Penafsiran terbalik ini justru keliru, jika dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur'an lainnya, antara-lain misalnya: QS.19:17-26, QS.11:69-81, QS.15:51, QS.15:62-64, QS.29:31-33, QS.51:24-34 dan QS.53:4-10. Karena di dalam ayat-ayat ini pada intinya disebut, "bahwa para malaikat adalah makhluk gaib, yang justru menyerupai manusia yang sempurna, dan berjenis kelamin". Dan tentu lebih jelas lagi, jika dimiliki pengalaman langsung di dalam berinteraksi secara terang-terangan dengan para makhluk gaib. Seperti halnya yang telah dialami oleh sebagian para nabi-Nya, ataupun sebagian amat terbatas umat manusia biasa lainnya.
Karena di dalam interaksi secara terang-terangan itu, para makhluk gaib terdengar jelas segala suara bisikannya pada alam batiniah ruh manusia (alam pikiran), sebagai suara seorang laki-laki ataupun perempuan. Persis seperti seseorang manusia yang mendengar suara bisikan, dari manusia lainnya di balik tembok (tanpa melihat langsung wujudnya).
Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang interaksi terang-terangan antara manusia dan para makhluk gaib.

Sehingga penafsiran atas sebagian isi surat Al-Isra' ayat 40 di atas, semestinya kurang-lebih menjadi "para nabi-Nya yang telah diutus-Nya ke tengah-tengah umat manusia memang harus berjenis kelamin laki-laki. Namun hal inipun tidak berarti, bahwa para utusan-Nya lainnya yang berupa para malaikat, 'pasti' harus berjenis kelamin perempuan, seperti halnya anggapan keliru dari orang-orang kafir di atas. Karena para malaikat sebenarnya, ada yang laki-laki dan ada pula yang perempuan".

Namun para makhluk gaib itupun tidak bisa berkembang-biak, karena tidak memiliki tubuh wadah. Mereka itu justru bisa berada dimana-mana di seluruh alam semesta ini, seperti halnya keberadaan energi itu sendiri. Mereka itu diciptakan-Nya secara 'langsung' tanpa proses yang lama dan rumit, seperti halnya pada penciptaan segala makhluk hidup nyata.

Dari ilmu biologi diketahui, bahwa manusia dan sebagian hewan berkelamin tunggal, sedang pada tumbuhan dan sebagian hewan lainnya justru berkelamin ganda (hermaprodit). Hal yang lebih khusus terjadi pada sel, yaitu: tidak berjenis kelamin atau tidak memiliki alat-alat reproduksi, tetapi sel bisa berkembang-biak dengan cara membelah diri.
Sekali lagi seperti diuraikan di atas, pengetahuan tentang jenis kelamin dari ilmu biologi itu tentunya lebih terkait dengan 'jenis kelamin lahiriahnya' (bentuk, keadaan dan keberadaan alat reproduksinya). Sedang dalam pembahasan di sini, istilah 'jenis kelamin' khususnya lebih terkait dengan 'jenis kelamin batiniah' zat ruhnya (maskulin atau feminin).

o.

Tidak bisa menitis atau berreinkarnasi

»

Ruh dari makhluk lama yang telah wafat, juga tidak bisa menitis kembali (berreinkarnasi), ke dalam tubuh wadah makhluk baru yang terlahir kemudian. Konsep penitisan ataupun reinkarnasi ini sama sekali tidak dikenal dalam ajaran agama Islam.
Hakekat tiap manusia ada pada ruhnya, sehingga segala hal yang terkait dengan tiap manusia pada alam batiniah ruhnya, seperti: pahala, beban dosa, dsb, pasti terbawa bersama ruhnya. Termasuk pasti terbawa pula pada saat ruh diangkat atau dicabut-Nya dari tubuh wadahnya, untuk dikumpulkan-Nya kembali ke hadapan 'Arsy-Nya di Hari Kiamat. Serta pada ruh juga terdapat segala catatan amalan tiap manusianya.
Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang pada ruh tersimpan segala informasi batiniah tiap makhluk-Nya.

Bagi tiap agama yang menganut konsep penitisan (seperti Hindu dan Budha), maka tiap manusia masa kini (makhluk baru) adalah hasil gabungan dari manusia masa kini dan para manusia terdahulu (para makhluk lama), yang telah meninggal dunia dan ruhnya turun menitis kembali ke dunia (berreinkarnasi).
Tentunya bagi penganut reinkarnasi, manusia (makhluk) masa kini justru ikut menanggung segala beban dosa (sekaligus menerima segala pahala) dari para manusia (makhluk) terdahulu, yang terbawa oleh ruhnya. Hal inipun justru akan bisa berakibat kepada lenyapnya nilai-nilai kemanusiaan dan lenyapnya segala tanggung-jawabnya atas segala amal-perbuatannya.

Di samping itu mustahil ada seorang anak manusia yang bisa amat pintar, akibat langsung memiliki pengetahuan dari ruh manusia terdahulu yang telah wafat, ruh para dewa, ruh para makhluk gaib, dsb. Padahal faktanya, pengetahuan tiap manusia hanya diperoleh dari pengalamannya sendiri sepanjang hidupnya.
Kalaupun ada sejumlah amat terbatas umat manusia yang berpengalaman supranatural tertentu, yang telah diketahui bisa berhubungan dengan ruh para makhluk gaib, ataupun ruh orang yang telah wafat. Pada dasarnya hal ini bukan sesuatu penitisan ataupun reinkarnasi ('menggantikan' zat ruhnya semula), tetapi hanya berupa sesuatu 'hasil interaksi' (keadaan batiniah ruhnya hanya mengikuti ruh lain yang terhubungi), yang bersifat 'sesaat atau sementara' saja. Sedang 'zat' ruh awalnya sendiri tetaplah berada pada tempatnya semula.

Keraguan atas penitisan kembali atau reinkarnasi itu bisa ditelaah pula dari beberapa pertanyaan atau keraguan berikut:

Apakah Hari Kiamat, Surga atau Neraka dikenal oleh para penganut penitisan?
Padahal pada Hari Kiamat, tiap zat makhluk-Nya pasti harus bertanggung-jawab atas tiap amal-perbuatannya di dunia ini, dan pasti akan medapat balasan yang terakhir, setimpal dan sempurna dari Tuhannya.

Sampai kapan ruh akan bisa berganti tubuh terus-menerus? Kemudian dimanakah letak nilai-nilai kemanusiaan dari tiap pribadinya?
Padahal tiap pribadi memiliki nilai dan tanggung-jawab di hadapan Tuhan, atas tiap amal-perbuatannya masing-masing.

Bagaimana tanggung-jawab tiap makhluk lama, atas segala dosanya?
Padahal ruh makhluk lama itu telah menitis ke dalam tubuh makhluk baru, dan pada ruh itu justru terkandung pula segala beban dosa dan pahala dari semua makhluk terkait.

Apakah dosa-dosa dari makhluk lama akan ditanggung oleh makhluk baru?
Padahal tiap ruh terkandung pula segala beban dosa (ataupun pahala) dari makhluk lama, yang sama-sekali bukan dari hasil perbuatan makhluk baru tersebut.

Jikalau dosa tiap makhluk terus-menerus bertumpuk di dalam sesuatu zat ruh yang sama, apakah masih ada makhluk yang bisa mendapat surga?
Padahal mustahil ada suatu makhluk yang sama-sekali tidak memiliki sesuatu dosa (sekecil apapun). Maka beban dosanya pasti akan terus-menerus bertambah pada ruhnya.

Bagaimana cara menghapus dosa?
Padahal tiap zat ruh telah terkumpul pula segala beban dosa (ataupun pahala) dari makhluk baru dan para makhluk lama.

Apakah makhluk lama yang dahulu telah berbuat dosa, akan menjadi suatu makhluk baru yang lebih buruk (lebih terhina, seperti hewan)?. Seperti apakah bentuk dari makhluk yang berikutnya, ataupun makhluk yang terakhirnya?.
Padahal ruh manusia amat berbeda daripada ruh-ruh makhluk lainnya (seperti: para makhluk gaib, hewan, tumbuhan, dsb), terutama karena tiap ruh manusia memiliki sekaligus, nafsu dan akal yang sempurna (atau tubuh wadahnya sempurna).
Begitu pula perbedaan sifat-sifat ruh lainnya, pada uraian di atas. Keadaan batiniah dan lahiriah juga mustahil bisa sesuai.

Apakah kehidupan di dunia fana ini hanya suatu bahan senda gurau, bagi para penganut penitisan itu?
Karena mereka 'selalu' merasa memiliki harapan untuk bisa mendapatkan surga melalui segala amalan pada beberapa fase kehidupan di dunia.
Padahal satu fase kehidupan dunia ini saja semestinya cukup lama bagi manusia, untuk bisa memahami tujuan diciptakan-Nya kehidupannya sendiri. Lalu ia bisa menjalaninya sesuai tujuan tersebut, sebagai keredhaan-Nya bagi umat manusia.

Padahal Tuhan, Yang Maha mengetahui segala keadaan tiap manusia (secara lahiriah dan batiniah) dalam kehidupannya sampai ketika wafatnya. Sehingga Tuhan pasti bisa langsung memutuskan nasib akhirnya di kehidupan akhiratnya (tinggal di Surga ataupun di Neraka), segera setelah segala amalannya terputus (saat wafatnya ataupun saat Hari Kiamat).

 

Penitisan dan reinkarnasi juga amat berbeda dengan cara interaksi pada uraian poin e di atas, tertama dalam interaksi dan pengaruh searah dari para makhluk gaib kepada manusia (bukan sebaliknya). Bahkan interaksi seperti ini bersifat amat halus dan seolah-olah tidak berarti sama-sekali, karena tiap manusia (dari manusia biasa pada umumnya dan sampai para nabi-Nya) selama hidupnya pasti selalu mendapat pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah dari para makhluk gaib (dari malaikat sampai iblis).
Sehingga pengaruh para makhluk gaib itu pada dasarnya tidak memiliki "warna" sama sekali atau netral. Justru tergantung kepada otoritas dan kesadaran manusia sendiri untuk mengikuti segala bentuk pengaruh positif atau negatif dari mereka. Sedang pada penitisan dan reinkarnasi, "warna" itu justru mestinya amat jelas (ke arah tertentu), karena zat ruhnya memang sama.

Perbedaan amat penting lainnya, para penganut penitisan dan reinkarnasi itu tampaknya tidak memiliki pemahaman yang jelas, tentang pencatatan segala amalan manusia pada zat ruhnya (termasuk di dalamnya pahala dan beban dosa). Karena mereka itu terkadang menyakini misalnya, ada sejumlah manusia tertentu yang telah memiliki segala keistimewaan, akibat dari menitisnya ruh para dewa kepadanya (atau dalam ruhnya telah terbawa pula berbagai keistimewaan pada para dewa itu).
Tetapi di lain pihaknya, jika dikaitkan dengan pahala dan beban dosa tiap manusianya, pemahaman mereka justru tampak amat membingungkan, seperti halnya yang diungkapkan melalui berbagai pertanyaan di atas.
Baca pula uraian-uraian lebih lengkap di bawah, tentang penitisan dan reinkarnasi.

Hal yang lebih penting lagi, dalam Al-Qur'an disebutkan seperti "Ada orang-orang kafir yang telah dimasukkan-Nya ke Neraka, yang ingin kembali ke dunia, setelah mereka mengetahui segala bukti kebenaran-Nya. Mereka berjanji akan berbuat baik di kehidupan dunia berikutnya, tetapi hal ini tidak diijinkan-Nya, dan mereka justru tetap kekal tinggal dan hidup di Neraka" (pada QS.2:167, QS.7:53, QS.14:44, QS.23:99, QS.23:107, QS.26:102, QS.6:27-28, QS.32:12, QS.39:58 dan QS.42:44).
Hal ini jelas membuktikan, bahwa setelah wafatnya setiap manusia pasti bisa langsung diputuskan-Nya segala balasan-Nya atas segala amal-perbuatannya, untuk kemudian ia hidup kekal di Surga ataupun di Neraka, berdasar segala amal-perbuatannya itu. Dan ia tidak bisa kembali lagi ke kehidupan dunia.
Baca pula topik "Benda gaib mati", tentang Hari Kiamat 'kecil' adalah hari kematian pada setiap manusia (setiap manusia memiliki Hari Kiamatnya masing-masing).

 

Baca pula lebih lanjut tentang sifat-sifat ruh itu, pada topik "Benda mati gaib", "Sunatullah (sifat proses)" ataupun topik-topik yang terkait lainnya.

Reinkarnasi, pengertian dan berbagai keraguan atasnya

Berikut ini diuraikan lebih lengkap lagi tentang penitisan atau reinkarnasi. Uraian ini diperlukan, karena adanya sebagian umat Islam yang sedikit-banyak telah ikut terpengaruh pula oleh ajaran-ajaran dari agama Hindu dan Budha. Sehingga mereka telah ikut pula mengakui ataupun membenarkan atas adanya penitisan atau reinkarnasi tersebut, melalui berbagai penafsiran mereka terhadap beberapa ayat Al-Qur'an. Padahal penitisan atau reinkarnasi itu justru sama sekali tidak pernah diajarkan dalam ajaran-ajaran agama Islam.

Dari sarana layanan internet yang disebut, "Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas" (http://id.wikipedia.org/wiki/reinkarnasi), bisa dikutip berbagai uraian tentang pengertian dari penitisan atau reinkarnasi, seperti:

Pengertian reinkarnasi pada agama Hindu dan Budha

Pengertian umum

»

Reinkarnasi (dari bahasa Latin untuk "lahir kembali" atau "kelahiran semula") atau t(um)itis, merujuk kepada kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil perbuatannya terdahulu.

Terdapat dua aliran utama yaitu pertama, mereka yang mempercayai bahwa manusia akan terus-menerus lahir kembali. Kedua, mereka yang mempercayai bahwa manusia akan berhenti lahir semula pada suatu ketika apabila mereka melakukan kebaikan yang mencukupi atau apabila mendapat kesadaran agung (Nirvana) atau menyatu dengan Tuhan (moksha). Agama Hindu menganut aliran yang kedua.

Kelahiran kembali adalah suatu proses penerusan kelahiran di kehidupan sebelumnya.

Reinkarnasi dalam agama Budha

»

Dalam agama Budha dipercayai bahwa adanya suatu proses kelahiran kembali (Punabbhava). Semua makhluk hidup yang ada di alam semesta ini akan terus menerus mengalami tumimbal lahir selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat kesucian Arahat. Alam kelahiran ditentukan oleh karma makhluk tersebut; bila ia baik akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderitakan.
Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka Kamma yang artinya karma pada detik kematiannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikiran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya ia akan terlahir di alam yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung dari karma masing-masing.

Reinkarnasi dalam Hinduisme (atau agama Hindu)

»

Dalam agama Hindu, filsafat reinkarnasi mengajarkan manusia untuk sadar terhadap kebahagiaan yang sebenarnya dan bertanggung-jawab terhadap nasib yang sedang diterimanya. Selama manusia terikat pada siklus reinkarnasi, maka hidupnya tidak luput dari duka. Selama jiwa terikat pada hasil perbuatan yang buruk, maka ia akan berreinkarnasi menjadi orang yang selalu duka. Dalam filsafat Hindu dan Budha, proses reinkarnasi memberi manusia kesempatan untuk menikmati kebahagiaan yang tertinggi. Hal tersebut terjadi apabila manusia tidak terpengaruh oleh kenikmatan maupun kesengsaraan duniawi sehingga tidak pernah merasakan duka, dan apabila mereka mengerti arti hidup yang sebenarnya.

Dalam filsafat agama Hindu, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Pada saat manusia hidup, mereka banyak melakukan perbuatan dan selalu membuahkan hasil yang setimpal. Jika manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya. Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya yang belum sempat dinikmati. Selain diberi kesempatan menikmati, manusia juga diberi kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya (kualitas).

Jadi, lahir kembali berarti lahir untuk menanggung hasil perbuatan yang telah dilakukan. Dalam filsafat ini, bisa dikatakan bahwa manusia dapat menentukan baik-buruk nasib yang ditanggungnya pada kehidupan yang selanjutnya. Ajaran ini juga memberi optimisme kepada manusia. Bahwa semua perbuatannya akan mendatangkan hasil, yang akan dinikmatinya sendiri, bukan orang-lain.

Yang bisa berinkarnasi itu bukanlah hanya jiwa manusia saja. Semua jiwa makhluk hidup memiliki kesempatan untuk berinkarnasi dengan tujuan sebagaimana di atas (menikmati hasil perbuatannya di masa lalu dan memperbaiki kualitas hidupnya).

Proses reinkarnasi

»

Pada saat jiwa lahir kembali, ruh yang utama kekal namun raga kasarlah yang rusak, sehingga ruh harus berpindah ke badan yang baru untuk menikmati hasil perbuatannya. Pada saat memasuki badan yang baru, ruh yang utama membawa hasil perbuatan dari kehidupannya yang terdahulu, yang mengakibatkan baik-buruk nasibnya kelak. Ruh dan jiwa yang lahir kembali tidak akan mengingat kehidupannya yang terdahulu, agar tidak mengenang duka yang bertumpuk-tumpuk di kehidupan lampau. Sebelum mereka berreinkarnasi, biasanya jiwa pergi ke surga atau ke neraka.

Dalam filsafat agama yang menganut faham reinkarnasi, neraka dan surga adalah suatu tempat persinggahan sementara sebelum jiwa memasuki badan yang baru. Neraka merupakan suatu pengadilan agar jiwa lahir kembali ke badan yang sesuai dengan hasil perbuatannya dahulu. Dalam hal ini, manusia bisa berreinkarnasi menjadi makhluk berderajat rendah seperti hewan, dan sebaliknya hewan mampu berreinkarnasi menjadi manusia setelah mengalami kehidupan sebagai hewan selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Sidang neraka juga memutuskan apakah suatu jiwa harus lahir di badan yang cacat atau tidak.

Akhir proses reinkarnasi

»

Selama jiwa masih terikat pada hasil perbuatannya yang terdahulu, maka ia tidak akan mencapai kebahagiaan yang tertinggi, yakni lepas dari siklus reinkarnasi. Maka, untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi tersebut, ruh yang utama melalui badan kasarnya berusaha melepaskan diri dari belenggu duniawi dan harus mengerti hakekat kehidupan yang sebenarnya. Jika tubuh terlepas dari belenggu duniawi dan jiwa telah mengerti makna hidup yang sesungguhnya, maka perasaan tidak akan pernah duka dan jiwa akan lepas dari siklus kelahiran kembali. Dalam keadaan tersebut, jiwa menyatu dengan Tuhan (Moksha).

 

Walau harus diakui pula, bahwa berbagai sumber keterangan dari internet, bukanlah berbagai keterangan yang telah cukup kredibel (kurang bisa dipercaya), tentang sesuatu hal, karena belumlah tentu disediakan oleh pihak-pihak yang paling berkompeten di bidangnya. Tetapi untuk sementara, berbagai keterangan tentang reinkarnasi pada tabel di atas tetap dipakai hanya sebagai acuan awal pada buku ini.
Dan umat diharapkan bisa pula menyesuaikannya, apabila ada suatu perbaikan pada berbagai keterangan dari media internet di atas. Dengan melakukan suatu analisa-kajian secara cermat dan kritis atas berbagai keterangan itu, kurang-lebih seperti dalam tabel berikut.

Dari uraian ringkas atas pengertian penitisan atau reinkarnasi di atas justru telah bisa menimbulkan sejumlah besar pertanyaan, yang pada dasarnya makin jelas menampakkan adanya berbagai keraguan, kelemahan dan kesesatan di sekitar teori atau filsafat tentang penitisan atau reinkarnasi, seperti misalnya:

Berbagai keraguan atas konsep reinkarnasi

Apakah sebagian ataupun seluruh hasil dari perbuatan tiap makhluk (karmanya), harus bisa dinilai dan diukur secara fisik-lahiriah-duniawi (sebagai ukuran keadilan-Nya), sehingga harus kembali hidup lagi ke dunia (harus berreinkarnasi)?.
Padahal tubuh fisik-lahiriah hanyalah alat yang dipakai, untuk mewujudkan segala keadaan batiniah ruhnya, atau tubuh hanyalah tunduk kepada perintah ruhnya. Padahal hakekat tiap makhluk ada pada ruhnya, serta hakekat nilai tiap makhluk di hadapan Tuhan justru ada pada segala perbuatannya.
Padahal 'proses berusaha' (bersifat batiniah) pada tiap perbuatan makhluk, jauh lebih penting daripada 'hasil usahanya' (bersifat lahiriah dan batiniah). Dan 'proses berusaha' inilah yang pasti akan tercermin pada keadaan batiniah ruhnya, serta pasti akan dipakai-Nya, dalam penentuan besar balasan-Nya yang setimpal.

Apakah segala keadaan lahiriah dan batiniah pada tiap makhluk terdahulu, sebagai hasil dari segala perbuatannya (karmanya), bisa disetarakan atau setimpal dengan segala keadaan lahiriah dan batiniah pada makhluk yang baru, sebagai hasil dari sesuatu reinkarnasi (walau jenis makhluk dan bentuk tubuhnya bisa berbeda)?.
Padahal berbagai keadaan batiniah, pada manusia yang terlahir kembar saja (jenis dan tubuhnya sama), justru sering berbeda. Apalagi jika jenis dan tubuhnya juga berbeda (dari manusia ke manusia lainnya, dari manusia ke hewan, dsb).
Padahal segala keadaan batiniah ruh pada tiap bayi yang baru terlahir, semestinya sama-sama suci-murni dan bersih dari dosa.

Apakah tidak dikenal adanya kehidupan akhirat (kehidupan batiniah tiap ruh, atau kehidupan spiritual pada tiap makhluk), yang bersifat kekal atau abadi?.
Padahal pada pencapaian keadaan 'Moksha' (pencapaian kebahagiaan batiniah yang tertinggi dan abadi, setelah ia bisa melepaskan diri dari belenggu duniawi dan ia bisa memahami hakekat kehidupan yang sebenarnya), justru dinilai dan diukur secara batiniah. Padahal keadaan batiniah ruh tidak sesuai, jika diukur kembali secara lahiriah.

Apakah hanya para biksu atau para pendeta saja, yang bisa berhasil mencapai kehidupan yang sempurna (bisa mencapai Moksha)?.
Padahal segala keadaan batiniah pada tiap ruh makhluk mustahil dinilai dan diukur secara fisik-lahiriah-duniawi, seperti halnya berdasar gelar-gelar lahiriah berupa biksu atau pendeta tersebut.
Padahal tiap umat manusia bisa memiliki tingkat kebahagiaan batiniah dan tingkat pemahaman kehidupan yang berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan, keadaan dan kemampuannya masing-masing. Padahal Tuhan Maha adil atas tiap makhluk-Nya.

Bagaimana cara tiap zat ruh bisa menemukan tubuh barunya, yang secara tepat bisa sesuai dengan karmanya terdahulu?.
Padahal pengetahuan manusia tentang ruh, amat sangat terbatas. Begitu pula halnya dengan pengetahuan manusia tentang karma. Hanya Tuhan Yang Maha mengetahui segala sesuatu hal. Dan Tuhan memiliki aturan yang pasti dan jelas dalam berbuat.

Apa hubungan antara karma dari semua makhluk terdahulu, dan karma yang sedang dibangun oleh makhluk terakhir?.

Kapankah karma dari semua makhluk yang terdahulu telah bisa selesai terbentuk sempurna pada makhluk terakhir (berapa lama atau berapa kali fase kehidupan), dan kapankah karma dari makhluk terakhir telah mulai bisa dibangun?.

Apakah kedua karma (dari semua makhluk terdahulu dan dari makhluk terakhir) justru memang harus digabungkan atau berjalan bersamaan?.

Apakah sekali fase kehidupan saja telah cukup, bagi terwujudnya seluruh karma yang telah dilalui?.

Apakah bentuk kehidupan baru di dunia ini (secara lahiriah dan batiniah), yang benar-benar bisa sesuai dengan seluruh karma yang telah dilalui?.
Padahal pencapaian karma yang terakhir saja (pada saat sesuatu makhluk telah mencapai kematiannya sebelumnya), justru memerlukan satu fase kehidupan ataupun sepanjang kehidupannya.

Jika dikenal adanya akhir jaman (saat seluruh makhluk dimatikan-Nya), apakah bentuk keadilan-Nya bagi berbagai makhluk, yang seluruh karmanya belum sempat terwujud?.
Padahal akhir jaman itu pastilah terjadi. Sederhananya misalnya jika sistem tata surya ini telah mencapai kehancuran ataupun Matahari telah kehilangan sinarnya, dan umat manusia belum bisa tinggal di luar sistem tata surya.

Apakah Tuhan tidak berkuasa memberikan balasan yang setimpal, segera setelah selesainya sesuatu perbuatan baik ataupun buruk dilakukan, setiap saatnya? atau kenapa pemberian balasan-Nya bisa tertunda-tunda, sampai harus diberikan-Nya pada fase-fase kehidupan berikutnya?.
Padahal Tuhan pastilah Maha berkuasa.
Padahal pasti ada perubahan keadaan batiniah ruh yang 'relatif' amat setimpal, yang bisa dirasakan tiap saatnya oleh pelakunya sendiri (walaupun pasti 'mutlak' setimpal dari Tuhan), ketika sesuatu perbuatan sedang dilakukannya (baik ataupun buruk).
Dan perubahan keadaan batiniah ruh pasti sebanding dengan berbagai keadaan batiniah manusianya dalam berbuat, seperti: niat, tingkat kesadaran atau pengetahuan, beban ujian-Nya, tingkat keterpaksaan, beban tanggung-jawab, tingkat keimanan, dsb.

Apakah manusia memang harus menikmati segala hasil perbuatannya, yang belum sempat dinikmatinya sampai wafat, pada fase-fase kehidupan dunia berikutnya?.
Padahal segala bentuk kenikmatan fisik-lahiriah-duniawi pada dasarnya bersifat amat sementara, semu dan menyesatkan. Sedangkan segala kenikmatan rohani-batiniah-spiritual pada dasarnya bersifat kekal, nyata dan hakiki.
Padahal ada kehidupan akhirat di Surga, yang bersifat kekal, sebagai tempat terakhir bagi manusia, untuk menikmati segala hasil kebaikannya selama di dunia. Sebaliknya di Neraka, untuk menanggung segala hasil keburukannya.
Padahal Tuhan Yang Maha kuasa dan Maha mengetahui pasti bisa langsung memberikan balasan-Nya yang setimpal, bagi tiap kebaikan ataupun keburukan, hanya sesaat saja setelah dilakukan oleh suatu makhluk.

Apakah pemberian balasan-Nya di Surga dan Neraka belumlah cukup sempurna, sehingga ruh makhluk harus berreinkarnasi ke dunia?.
Padahal balasan-Nya secara batiniah di Surga dan Neraka, jauh lebih sempurna daripada balasan-Nya secara lahiriah di dunia. Serta segala penderitaan batiniah sebagai akibat hasil keburukan manusianya sendiri, jauh lebih sulit disembuhkan daripada segala penderitaan lahiriahnya. Hal serupa dengan segala kebahagiaan batiniah.

Apakah kehidupan dunia ini lebih sempurna daripada kehidupan di Surga dan Neraka (sehingga surga dan neraka disebut sebagai tempat tinggal sementara, sebelum berreinkarnasi ke dunia)?.
Padahal kehidupan dunia ini penuh dengan segala keterbatasan, kekurangan, kehinaan dan bersifat sementara (fana), sedang kehidupan batiniah ruh di surga dan neraka, justru tak-terbatas, sempurna dan bersifat abadi (kekal).

Di manakah tempat tinggal terakhir bagi tiap ruh makhluk, yang telah bisa mencapai moksha? Jika tinggal di Surga dan Neraka yang bersifat abadi (kekal), apakah ada perbedaannya dengan Surga dan Neraka, sebagai tempat tinggal sementara bagi ruh-ruh makhluk, sebelum berreinkarnasi ke dunia?.
Padahal apabila ada perbedaan Surga dan Neraka semacam itu, justru bisa amat membingungkan, serta terkesan terlalu mengada-ada dan terlalu dipaksakan.

Apakah tiap makhuk yang terlahir kurang sempurna secara fisik-lahiriah-duniawi di dunia (cacat, miskin, jelek, tanpa ayah-ibu, dsb) adalah suatu makhluk yang telah berdosa, atau telah menanggung segala beban dosa para pendahulunya. Sedang sebaliknya, tiap makhuk yang terlahir cukup sempurna, telah langsung mendapat berbagai kemuliaan dan kebahagiaan, atau telah menerima segala hasil kebaikan para pendahulunya?.
Padahal segala ukuran yang bersifat fisik-lahiriah-duniawi, sama sekali tidak bisa menggambarkan segala keadaan batiniah ruh pada tiap makhluk, yang sebenarnya dan bersifat kekal.
Padahal segala keadaan batiniah ruh pada tiap bayi yang baru terlahir, semestinya sama-sama suci, murni dan bersih dari dosa. Sedang perbedaannya hanya berupa berbagai ujian-Nya atas masing-masingnya sejak lahirnya. Dan ujian-Nya justru bukan hukuman-Nya baginya, karena memang bukan hasil dari perbuatannya sendiri.
Padahal Tuhan Yang Maha adil pasti berlaku adil kepada tiap makhluk-Nya. Dan di hadapan Tuhan, nilai atau kedudukan tiap makhluk pasti hanya tergantung kepada segala amal-perbuatannya (bukan pada 'hasil usahanya', namun pada 'proses berusahanya'), serta bukan kepada segala ukuran yang bersifat fisik-lahiriah-duniawi.
Padahal kehidupan dunia ini hanya sarana Tuhan, untuk bisa menguji keimanan tiap makhluk-Nya. Bahkan makin berat beban ujian-Nya, maka makin besar pula balasan pahala-Nya, atas tiap amal-kebaikannya dalam keadaan sedang mendapat ujian-Nya. Sebaliknya justru makin kecil beban dosa, atas tiap amal-keburukannya.

Apakah ujian-Nya dianggap sebagai suatu bentuk hukuman-Nya?.
Padahal ujian-Nya amat berbeda daripada hukuman-Nya. Tiap ujian-Nya adalah segala sesuatu hal, yang sama sekali bukan berasal dari hasil perbuatan sesuatu makhluk, yang mengalami ujian-Nya itu. Sedang sebaliknya, hukuman-Nya benar-benar berasal dari hasil perbuatan makhluk itu sendiri. Walau ujian-Nya dan hukuman-Nya memang seolah-olah terasa serupa (memberatkan, merugikan, menyiksa ataupun menghinakan, bagi tiap makhluk yang mengalaminya).
Padahal tiap makhluk yang mengalami ujian-Nya, sama sekali tidak bertanggung-jawab, atas adanya ujian-Nya tersebut.

Apakah Tuhan lebih pilih kasih kepada para manusia yang lahir terlebih dahulu (bisa mendapatkan kesempatan yang lebih banyak, untuk bisa berreinkarnasi dan memperbaiki dirinya), sebaliknya Tuhan kurang adil ataupun kurang mengasihi kepada para manusia yang lahir terakhir?.
Padahal Tuhan Yang Maha adil pasti berlaku adil kepada tiap makhluk-Nya, kapanpun ia terlahir dan berapapun lama usia hidupnya di dunia. Karena tiap makhluk hanya bertanggung-jawab atas segala perbuatannya sendiri sepanjang hidupnya. Dan tiap makhluk justru sama sekali tidak bertanggung-jawab atas keadaan nasibnya, yang merupakan hasil pengaruh dari segala sesuatu hal di lingkungan sekitarnya (di luar dirinya), yang biasa disebut pula sebagai ujian-Nya.

Jika seluruh makhluk pada awalnya diciptakan-Nya sekaligus secara bersamaan (agar Tuhan bisa dianggap tetap berlaku adil, dalam memberi waktu kesempatan berreinkarnasi yang sama), bagaimana bentuk keadilan-Nya lainnya?.
Padahal jenis dan tubuh paling awal segala makhluk pasti relatif tidak sama atau tidak seragam (tumbuhan, hewan, manusia, cacat atau tidak, sehat atau tidak, dsb).

Apakah tiap ukuran yang bersifat nyata-fisik-lahiriah atau duniawi, bisa bercampur atau bisa disetarakan, dengan ukuran yang bersifat gaib-moral-batiniah?.
Padahal kedua macam ukuran ini justru amat berbeda, baik sifat maupun wujudnya.

Apakah tiap manusia tidak memiliki cukup waktu, untuk bisa relatif memadai, dalam memahami tujuan kehidupan dunia ini (minimal pemahaman secukupnya tentang berbagai persoalan dalam kehidupannya sehari-hari), pada jangka waktu satu fase kehidupan saja?.
Padahal sebagian manusia (terutama para nabi-Nya) justru bisa memahami hampir seluruh aspek kehidupan manusia (terutama aspek-aspek yang paling penting, hakiki dan mendasar), dengan relatif sempurna (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan), hanya pada usia kenabian mereka yang sekitar 40 tahunan. Sekaligus pula pengamalan mereka yang amat konsisten.
Padahal bukan pemahaman tentang seluruh hakekat kehidupan, yang paling penting, tetapi justru bagaimana tiap manusia bisa menjalani kehidupannya dengan sebaik-baiknya, sesuai keadaan, kemampuan dan pemahamannya masing-masing.
Padahal pemahaman amat tinggi tentang hakekat kehidupan, tidak menjamin segala perbuatan tiap manusia pasti menjadi lebih baik (jika tidak konsisten dalam pengamalannya). Pemahaman (ilmu, batiniah) dan pengamalan (amal, lahiriah) semestinya bisa menjadi satu kesatuan yang utuh.
Padahal manusia yang tidak bisa 'secukupnya' memahami tujuan kehidupannya (dalam satu fase kehidupan saja), sama halnya dengan telah berbuat sia-sia, telah terlalu banyak bersenda-gurau, atau telah melalaikan kehidupan itu sendiri. Sedang ada berbagai pengajaran dan tuntunan-Nya yang disampaikan melalui para nabi-Nya ataupun para malaikat-Nya, juga bisa diperoleh melalui pengkajian langsung atas tiap proses-kejadian di alam semesta ini (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya).

Apakah perbedaan antara setiap makhluk yang bisa lebih cepat mencapai Moksha, terhadap setiap makhluk yang lebih lambat mencapainya (lebih banyak waktu yang diperlukan, untuk terus-menerus berreinkarnasi)?.
Padahal jika hanya berbeda pada jumlah hukuman-Nya di dunia (tidak kekal) dan di Neraka (yang juga dianggap tidak kekal), maka tiap hukuman ini pada dasarnya bersifat tidak kekal, bahkan tidak akan terasa, dan akan mudah terlupakan begitu saja. Dan tiap hukuman ini pada akhirnya juga hampir tidak ada gunanya.
Padahal tiap perbuatan buruk makhluk semestinya benar-benar mendapat hukuman-Nya, secara setimpal dan bersifat kekal, jika makhluk belum benar-benar bertaubat. Karena Tuhan menciptakan alam semesta ini, bukanlah sebagai tempat bersenda-gurau atau bermain-main bagi segala makhluk-Nya, namun justru memiliki tujuan yang pasti, jelas dan benar, terutama untuk menguji keimanannya masing-masing.

Apakah dalam tiap ruh makhluk tidak terdapat segala catatan amal-perbuatannya sendiri (sehingga ruh yang berreinkarnasi dianggap tidak akan bisa mengingat kehidupannya yang terdahulu)? Atau apakah Tuhan tidak memiliki catatan amalan tersebut, bagi tiap perbuatan makhluk ciptaan-Nya?.
Padahal sesuai kenyataan dan sesuai kesadarannya, tiap manusia sepanjang hidupnya pastilah tidak akan bisa melupakan sama sekali, segala perbuatan baik dan buruk yang telah pernah dilakukannya. Dan jika manusia telah benar-benar bertaubat, atas suatu keburukan, maka ia bisa makin mengurangi beban dosa dari keburukannya itu.
Padahal Tuhan pasti memiliki catatan amalan bagi tiap perbuatan makhluk-Nya (agar Tuhan benar-benar bisa memberikan hukuman-Nya yang setimpal, sempurna dan kekal di Hari Kiamat).

Apakah Surga dan Neraka bukanlah tempat tinggal yang kekal?.
Padahal mestinya ada suatu tempat tinggal terakhir dan bersifat kekal, bagi tiap makhluk, sebagai tempat di mana Tuhan bisa memberikan hukuman yang setimpal, sempurna dan kekal, atas segala perbuatan tiap makhluk sepanjang hidupnya di dunia.

Jika manusia bisa berreinkarnasi menjadi hewan, apakah setiap perbuatan hewan bisa dinilai, ataupun bisa disetarakan dengan perbuatan manusia, di dalam berbuat baik ataupun buruk? Dan bagaimana cara hewan bisa memperbaiki dirinya, agar bisa terlahir kembali sebagai manusia (makhluk yang paling sempurna)?.
Padahal hewan adalah makhluk yang jauh lebih sederhana daripada manusia (hewan hanya mengikuti naluri, amat terbatas akalnya dan amat terbatas kemampuannya dalam mewujudkan segala keinginannya, dsb).
Padahal hewan hanya makhluk yang diciptakan-Nya, untuk bisa dimanfaatkan oleh manusia, bagi segala kebutuhan dan kepentingan hidupnya.

Apakah badan yang terbaik ataupun terburuk (sebagai hukuman-Nya yang terbaik ataupun terburuk)?.
Padahal segala sesuatu hal yang bersifat fisik-lahiriah-duniawi justru bersifat amat terbatas. Bahkan tiap penyakit fisik-lahiriah-duniawi relatif mudah disembuhkan. Maka hukuman-Nya secara fisik-lahiriah-duniawi pasti bersifat amat terbatas, dan mustahil bisa sebanding dengan bentuk hukuman-Nya yang sebenarnya secara batiniah (setimpal, sempurna dan kekal), atas tiap perbuatan makhluk.

Apakah jiwa makhluk benar-benar akan bisa menyatu dengan Tuhan? Jika bisa, apakah berupa penyatuan 'keadaan batiniah' ruh (pengetahuan relatif suatu makhluk bisa amat mendekati pengetahuan mutlak Tuhan), ataukah penyatuan 'zat' ruhnya (zat ruh suatu makhluk bisa menyatu dengan zat ruh Tuhan)?.
Padahal segala hal yang dimiliki oleh setiap makhluk, amat sangat terbatas dan bersifat relatif. Sedang segala milik Tuhan justru tak-terbatas dan bersifat mutlak. Maka segala pengetahuan relatif suatu makhluk hanya bisa relatif 'amat mendekati', atas sebagian amat sedikit dari pengetahuan mutlak Tuhan.
Padahal zat ruh makhluk mustahil bisa menyatu dengan zat ruh Tuhan, ataupun suatu makhluk ciptaan-Nya mustahil bisa menjadi Tuhan, Yang menciptakan makhluk itu.

Apakah tiap manusia benar-benar bisa melepaskan diri dari belenggu duniawi, dan benar-benar bisa mengerti hakekat kehidupan yang sebenarnya?.
Padahal segala pengetahuan manusia tentang hakekat kehidupan amat sangat terbatas dan bersifat relatif. Sedangkan segala pengetahuan Tuhan justru tak-terbatas dan bersifat mutlak.
Padahal manusia itu sendiri justru masih tetap memiliki tubuh fisik-lahiriah-duniawi.
Padahal kehidupan dunia adalah sesuatu yang semestinya harus dihadapi (tidak ditinggalkan sama sekali), dengan memanfaatkan segala pemahaman tentang hakekat kehidupan, yang telah bisa dimiliki dengan sebaik-baiknya (sesuai keredhaan-Nya).
Padahal manusia mustahil bisa mengingkari fitrahnya (sifat-sifat dasarnya). Hal yang paling penting justru pada bagaimana cara menggunakan fitrah itu, dengan sebaik-baiknya. Maka persoalan kehidupan dunia misalnya: bukan pada ada atau tidaknya nafsu kepada harta, tetapi pada cara memperoleh dan menggunakan harta itu, dengan sebaik-baiknya; bukan pada ada atau tidaknya nafsu kepada lawan jenis, tetapi pada cara menggunakan nafsu itu, dengan sebaik-baiknya; dsb.

 

Berbagai keraguan di atas, juga bisa ikut melengkapi berbagai keraguan lainnya yang telah diungkapkan pada Tabel 3 di atas, tentang reinkarnasi.

Nabi Isa as dan Ruhul kudus (malaikat Jibril)

Pemahaman umat Kristiani tentang Yesus Kristus (atau nabi Isa as) dan Ruh Kudusnya, pada dasarnya amat serupa dengan konsep penitisan atau reinkarnasi di atas. Bahkan sampai saat ini pula, setiap umat Kristiani sebenarnya masih bingung menjelaskan tentang konsep Trinitas yang mereka anut, "Tiga tuhan (Bapak, Anak dan Ruh Kudus) tetapi satu" (esensinya satu, tetapi eksistensinya berbeda-beda). Maka ringkasnya, umat Kristiani kurang mengerti tentang Tuhannya sendiri.

Dan konsep Trinitas itu bahkan justru tidak diajarkan langsung oleh Yesus, tetapi baru muncul hampir 3 abad setelah wafatnya Yesus (lebih tepatnya pada Konsili gereja di Nicea pada tahun 325 Masehi). Ada pula yang menyebutkan, bahwa istilah 'Trinitas' pertama kalinya dipakai oleh Tertulian pada abad ke-2. Walau sebagian umat Kristiani bersikeras berpendapat, bahwa konsep Trinitas atau Tritunggal justru diajarkan langsung oleh Yesus, ataupun tersirat secara 'implisit' dalam Al-Kitab (kitab Injil).
Sedang pemahaman di sini, ajaran paling pokok suatu agama, seperti halnya Trinitas, mestinya justru tersirat secara 'eksplisit' (tegas dan jelas), dan mestinya disebut berulang-ulang dalam kitab sucinya. Bahkan istilah "Tuhan Anak" tidak disebut dalam kitab Injil perjanjian lama dan baru (hanya ada istilah "Anak-anak Tuhan"). Maka Trinitas justru tidak diajarkan langsung dalam kitab Injil.

Berdasar konsep Trinitas di atas "esensi atau zat Tuhan satu, tetapi eksistensi atau keberadaan Tuhan berbeda-beda", kuat dugaan di sini, bahwa Ruh Kudus dianggap oleh umat Kristiani sebagai sebutan bagi zat ruh Tuhan Bapak (Allah), saat sedang turun ke dunia (namun belum bertubuh), dan setelah 'menitis' ke tubuh wadah Yesus (nabi Isa as), lalu Yesus disebut sebagai Tuhan Anak. Bahkan Siti Maryam, ibu tanpa ayah dari Yesus sendiri, dianggap sebagai "Ibunya Tuhan".
Namun ada pula dugaan lain, bahwa Tuhan Anak itu dianggap sebagai Logos atau Firman ciptaan Tuhan Bapak, yang telah dibawa turun ke dunia ini oleh Ruh Kudus, dan 'menitis' ke tubuh Yesus, lalu Yesus disebut pula sebagai Tuhan Anak. Di samping itu, ada berbagai dugaan lainnya dari kalangan umat Kristiani sendiri.

Selain penyembahan nabi Isa as itu amat ditentang oleh agama Islam, sebagai sesuatu kemusyrikan. Pemahaman tentang Ruhul kudus (malaikat Jibril) itupun sangat berbeda dengan yang disebutkan dalam Al-Qur'an, melalui berbagai ayat-ayat sebagai berikut:

Berbagai keterangan tentang Nabi Isa as dan
Ruhul kudus (malaikat Jibril), dalam Al-Qur'an

"Kami memperkuatnya (nabi Isa as) dengan Ruhul kudus (malaikat Jibril)" – (QS.2:87) dan (QS.2:253, QS.5:110).

"Katakanlah: 'Ruhul kudus (malaikat Jibril) telah menurunkan Al-Qur'an itu dari Rabb-mu dengan benar (haq), untuk …'." – (QS.16:102).

"Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiup ke dalam (rahim)nya ruh dari Kami, dan Kami jadikan dia dan anaknya (sebagai) tanda yang besar bagi semesta alam." – (QS.21:91).

"…. Sesungguhnya, Al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan-Nya dan (diciptakan-Nya dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. …." – (QS.4:171).

"Sesungguhnya, misal (kejadian) 'Isa di sisi Allah, adalah seperti (kejadian) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: 'Jadilah', maka jadilah dia." – (QS.3:59).

"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya (Adam), dan telah meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu (para malaikat) kepadanya dengan bersujud." – (QS.15:29).

"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya, ruh-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu (hai manusia) pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." – (QS.32:9).

 

Dari beberapa ayat Al-Qur'an di atas bisa disimpulkan lebih lanjut berbagai hal, antara-lain:

Berbagai kesimpulan pemahaman tentang Nabi Isa as dan
Ruhul kudus (malaikat Jibril)

a.

Ruhul kudus (malaikat Jibril) yang telah "memperkuat nabi Isa as" itu, jenis ruhnya sama dengan ruh yang telah "menurunkan Al-Qur'an kepada nabi Muhammad saw".

Disebut "jenis" ruh, karena malaikat Jibril adalah sebutan bagi tak-terhitung jumlah malaikat, yang mendapat amanat atau tugas yang sama dari Allah, dalam menyampaikan kebenaran-Nya.

Bahkan juga sama dengan malaikat Jibril yang telah memberikan pengajaran dan tuntunan-Nya kepada setiap umat manusia biasa umumnya. Perbedaannya hanyalah pada tingkat nilai pengajaran-Nya yang mampu dipahami oleh setiap manusia itu sendiri (atau tingkat terang-gelapnya segala cahaya kebenaran-Nya yang bisa dilihatnya). Jelasnya hanya ada perbedaan perolehan pemahaman para nabi-Nya (karena usaha dan tingkat keimanannya yang amat tinggi), jika dibandingkan perolehan manusia biasa umumnya.

Kaitan antara Ruhul kudus dan nabi Isa as disebut 3 kali (pada QS.2:87, QS.2:253 dan QS.5:110), dan hanya disebut sekali saja terkait dengan diturunkan-Nya Al-Qur'an (pada QS.16:102). Dan lebih lanjutnya istilah 'Ruhul kudus' itu tidak dipakai lagi, tetapi langsung disebut sebagai 'malaikat Jibril' dan sebutan lainnya.

Perkiraan terlogis dari penyebutan kaitan khusus, antara Ruhul kudus dan nabi Isa as, adalah bahwa nabi Isa as-lah yang pertama mengungkap dengan lebih jelas tentang adanya interaksi 'terang-terangan' antara para malaikat (para makhluk gaib) dan manusia, daripada pengungkapan oleh para nabi-Nya sebelumnya, seperti: nabi Ibrahim as, nabi Luth as, nabi Musa as, dsb.

Bahkan sejak penyampaian agama Nasrani oleh nabi Isa as, amat luas penggambaran para malaikat itu sebagai perempuan dewasa, anak-anak dan bayi perempuan yang bersayap. Walau gambaran ini tidak tepat benar, terutama karena ada malaikat yang berupa laki-laki, orang-tua, dsb. Dan tentunya para malaikat itupun pasti bersifat gaib (tidak memiliki tubuh dan tidak bisa dilihat).
Baca pula uraian pada Tabel 3 di atas, tentang sifat-sifat ruh dan jenis kelamin para makhluk gaib.

Bahkan sampai saat ini, ada pula sejumlah amat terbatas manusia biasa, yang bisa berinteraksi secara terang-terangan dengan para malaikat (para makhluk gaib). Seperti yang umumnya diketahui, terjadi pada beberapa orang yang menganggap dirinya sebagai nabi-nabi baru, setelah mereka mendengar sesuatu "bisikan" dari para makhluk gaib. Kasus terbaru seperti ini di Indonesia, adalah pada orang yang bernama Ahmad Musadeq dan Lia Eden.
Dan tentunya ada pula sebagian manusia yang telah mendengar suara "bisikan" dari para makhluk gaib, namun tidak serta-merta ikut mengaku-aku dirinya sebagai seorang nabi.

Sehingga dalam Al-Qur'an, istilah "Ruhul kudus" hanya dipakai pada kisah-kisah tentang nabi Isa as saja. Serta kemudian tidak lagi dianggap sebagai sesuatu hal yang 'istimewa' atau berbeda. Karena pada dasarnya 'setiap' manusia memang justru juga pasti diikuti oleh malaikat Jibril, dalam menyampaikan segala bentuk ilham tentang kebenaran-Nya, walaupun kebenaran yang bersifat relatif. Sebaliknya juga pastilah diikuti oleh jin, syaitan dan iblis, dalam menyampaikan segala kesesatan setiap saatnya.

Dan tentunya agar bisa menjaga amat tingginya nilai kemuliaan dari wahyu-Nya, yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada para nabi-Nya, maka di dalam Al-Qur'an, manusia biasa lainnya tidak pernah langsung dikaitkan dengan malaikat Jibril. Karena seluruh kebenaran-Nya yang telah dipahaminya, memang relatif jauh dari kesempurnaan seperti yang dimiliki oleh para nabi-Nya.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang proses penyampaian wahyu-Nya oleh malaikat Jibril secara 'terselubung' dan 'terang-terangan'. Dan juga tentang 'wujud asli' dari para makhluk gaib.

b.

"Ruhul kudus (malaikat Jibril)" tidak sama, ataupun sama sekali tidak berkaitan dengan "ruh yang ditiupkan-Nya ke dalam rahim Maryam (ibunda nabi Isa as)".

Bahkan ayat-ayat Al-Qur'an yang menyebutkan, tentang ke dua hal inipun, berbeda atau terpisah (dalam kumpulan ayat-ayat di atas). Terkait hal ini di dalam Al-Qur'an, malaikat Jibril hanya disebutkan "menyampaikan berita gembira kepada Maryam, atas akan kelahiran anaknya". Serta sama sekali tidak pernah disebut, bahwa "ruh yang menyampaikan berita" juga sama dengan "ruh yang ditiupkan-Nya ke rahim Maryam".

Dari berbagai uraian tentang sifat-sifat ruh pada Tabel 3 di atas, disebutkan bahwa ruh para makhluk gaib itu memiliki sifat yang relatif berbeda daripada ruh manusia. Makna "Ruhul kudus yang memperkuat nabi Isa as", bukan berarti "Ruhul kudus ditiupkan-Nya ke dalam rahim Maryam", namun "Ruhul kudus yang telah berinteraksi secara terang-terangan dengan nabi Isa as".
Seperti halnya ketika malaikat Jibril berinteraksi secara terang-terangan dengan sebagian dari para nabi-Nya (bahkan termasuk nabi Muhammad saw), ataupun dengan sejumlah sangat terbatas manusia biasa lainnya.

c.

Jenis ruh-Nya yang dipakai saat diciptakan-Nya nabi Isa as, nabi Adam as ataupun seluruh manusia lainnya, adalah 'sama'. Proses kejadian tiap manusia pada dasarnya juga 'sama', yaitu dari hasil pencampuran pasangan sel generatif manusia (sel sperma dan sel indung telur). Perbedaannya hanyalah ada pada berbagai keadaan khusus tertentu dalam proses kejadiannya (lihat pula uraian pada Tabel 7).

Khusus tentang kejadian penciptaan nabi Isa as (yang disebut dalam Al-Qur'an, sebagai suatu tanda kekuasaan-Nya yang besar, bagi semesta alam ini), proses pencampuran sel-sel generatif itu terjadi "tanpa disengaja", atau tanpa melalui hubungan kelamin. Sehingga disebut, bahwa nabi Isa as tanpa memiliki bapak, atau Siti Maryam masih perawan saat melahirkan nabi Isa as.

Serupa itu pula tentang penciptaan nabi Adam as, pencampuran sel-sel generatifnya terjadi "tanpa disengaja" atau tanpa melalui hubungan kelamin. Namun di sini semakin khusus lagi, karena sel-sel generatifnya justru bisa terbentuk dan bercampur secara alamiah pada tanah permukaan Bumi.
Baca pula topik "Makhluk hidup nyata", tentang proses kejadian manusia pertama (Adam) dan seluruh umat manusia selanjutnya (anak-anak keturunan Adam).

d.

Penitisan (inkarnasi) atau penitisan kembali (reinkarnasi) justru sama sekali tidak dikenal dalam agama Islam. Berbagai keraguan atas hal-hal ini telah pula diuraikan pada Tabel 3 dan pada topik pembahasan di atas, tentang reinkarnasi.

Ruh zat Allah ataupun segala ruh zat makhluk lainnya mustahil bisa menitis ke tubuh suatu zat makhluk. 'Esensi' zat Allah Maha Suci dari segala sesuatu halnya (mata dan akal makhluk mustahil menjangkau 'esensi' zat Allah, dan hanya menjangkau berbagai hasil 'perbuatan' zat Allah di alam semesta ini), dan Allah Yang Maha Pencipta mustahil bisa setara dengan segala ciptaan-Nya. Dan juga tiap zat makhluk memiliki jiwa atau zat ruhnya masing-masing, beserta nilai, eksistensi, tugas dan tanggung-jawabnya.

e.

Istilah 'logos' berasal dari filsafat Yunani kuno, dengan makna "sesuatu ruh yang menjadi perantara antara Tuhan dan Manusia", yang justru juga sama sekali tidak dikenal dalam agama Islam.

Sedang menurut para teolog Kristiani, "'logos' dari Tuhan yang hidup adalah sesuatu zat pengikat bagi segala sesuatu hal di alam semesta, menjaga segala hal tetap bersatu dan mengikat segala bagiannya, serta mencegahnya dari kehancuran dan pemisahan". 'Logos' itu dianggap telah membentuk alam semesta, dan disebut pula sebagai 'Tuhan Anak', yang telah menitis ke tubuh Yesus. Lalu Yesus dianggap pula sebagai'logos' atau 'Tuhan Anak'.

Dalam agama Islam, justru tidak dikenal sesuatu hal yang serupa dengan 'logos'. Hanya ada dikenal sunatullah (Sunnah Allah atau aturan-Nya), yang pasti mengatur segala zat ciptaan-Nya di alam semesta. Sunatullah itu justru bukan berupa sesuatu 'zat' ataupun 'ruh', namun berupa segala aturan atau rumus proses kejadian lahiriah dan batiniah, yang bersifat mutlak dan kekal, yang pasti mengatur segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini.
Sunatullah adalah perwujudan dari segala kehendak dan tindakan Allah di alam semesta. Maka sunatullah bisa disebut pula sebagai sifat-Nya dalam berbuat di alam semesta. Pelaksanaan sunatullah dikawal oleh tak-terhitung jumlah zat ruh makhluk ciptaan-Nya (terutama para malaikat).

Tentunya sunatullah sama sekali bukan 'Tuhan', 'Tuhan Anak', 'Anak Tuhan' ataupun 'logos'. Terutama karena sunatullah atau aturan-Nya memang bukan 'zat' ataupun 'ruh'. Juga sangat aneh jika umat Kristiani menyamakan 'logos' dengan firman-Nya atau kalimat-Nya, yang juga bukan 'zat'. Firman, kalimat atau wahyu-Nya yang dimaksud pada dasarnya justru berupa aturan-Nya atau sunatullah (mengatur alam semesta), yang juga berbeda daripada firman, kalimat atau wahyu-Nya yang disampaikan-Nya melalui para nabi-Nya (mengatur orang-orang yang beriman).
Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang 4 macam bentuk wahyu-Nya

Sehingga lebih aneh lagi, jika umat Kristiani menganggap Yesus sebagai titisan dari 'logos'. Terutama karena amat dipertanyakan, bagaimana peranan Yesus sebagai 'logos' dalam penciptaan alam semesta yang justru terjadi tiap saat sampai saat ini, terlebih lagi saat Yesus masih hidup di dunia ini.

Istilah-istilah seperti ruh, firman, kalimat, wahyu-Nya dan segala '…-Nya' lainnya, semestinya tetap dimaknai sebagai kepunyaan ataupun ciptaan. Bahkan hal-hal itu tidak terkait langsung dengan zat Allah, tetapi hanya hasil dari kesempurnaan pemahaman para nabi-Nya atas tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta (atau atas sunatullah atau segala perbuatan-Nya di alam semesta).

 

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan tentang Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya, Al-Masih Isa putera Maryam itu adalah utusan Allah dan (diciptakan-Nya dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu mengatakan: '(Ilah itu) tiga', berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya, Allah Ilah Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara." − (QS.4:171).

Hati-nurani dan fitrah ruh manusia

Uraian di sini khusus berbicara tentang hati-nurani dan fitrah manusia. Karena memang tidak banyak yang bisa diketahui, dari hati-nurani dan fitrah pada segala zat-zat makhluk-Nya, 'selain' manusia. Kecuali yang dipahami di sini, bahwa mereka itu tidak memiliki nafsu (tepatnya nafsunya 'stabil', atau keinginannya semata-mata hanyalah untuk mengabdi kepada-Nya). Dan secara fitrahnya, mereka itu pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah dan kehendak-Nya.

Hati-nurani adalah informasi pengetahuan atau kesaksian yang amat mendasar atas kebenaran-Nya, yang terdapat di dalam kalbu ruh manusia. Isi hati-nurani 'sama' pada tiap anak manusia yang baru lahir sebagai tuntunan-Nya yang paling dasar. Ibarat pantulan dari sebagian amat kecil cahaya kebenaran-Nya (nur ilahi) pada cermin (kalbu ruh manusia), yang masih sangat suci-murni dan bersih dari dosa tersebut.
Setelah dewasa, tiap manusia cenderung makin banyak berbuat dosa, yang makin menambah debu-debu pada cermin itu, yang bisa menghalangi pantulan berbagai cahaya kebenaran-Nya. Namun jika ia bertaubat, dan taubatnya itu dikabulkan-Nya, maka tiap debu itu telah dibersihkan-Nya. Di lain pihak, makin dewasa juga bisa makin banyak pengetahuan atau pemahamannya atas berbagai kebenaran-Nya. Maka pantulan cermin itu juga bisa makin terang, atau tingkat keimanannya bisa makin tinggi. Pengetahuan ini bukanlah untuk bisa membersihkan debu pada cermin, namun hanyalah untuk bisa mengasah cerminnya.
Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya".

Dalam kalbu tiap zat ruh manusia, juga diletakkan-Nya fitrah-fitrah dasar manusia, berupa segala kecenderungan ataupun sifat dasar manusia dalam menyikapi segala sesuatu hal, seperti misalnya:

Ingin mencari dan mengenal Tuhan, Yang telah menciptakannya, setelah bisa memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya di lingkungan sekitarnya, ataupun di alam semesta ini.
Ingin menyembah dan mengabdikan diri dan kehidupannya kepada Tuhannya, agar bisa mendapatkan keredhaan-Nya (atau agar bisa kembali dekat kepada-Nya).
Cenderung menyukai hal-hal seperti: makanan; harta-kekayaan; tahta-jabatan; wanita (atau lawan jenisnya); kebaikan; keamanan; kebahagiaan; ketentraman; kenyamanan; keharmonisan; berkasih-sayang; kenikmatan; kebersihan; keindahan; kepintaran; berteman dan bergaul (bersosial), ataupun berselisih; dihormati dan dihargai; kemerdekaan; dsb.
Cenderung tidak menyukai hal-hal seperti: hidup sendiri; kehinaan dan penghinaan; keburukan dan kebatilan; kesusahan, kemelaratan atau kemiskinan; tidak dihormati dan tidak dihargai; kebodohan; penindasan; dsb.

 

Dalam Al-Qur'an, segala fitrah dasar manusia di atas memang sama sekali tidak disebut dengan istilah 'fitrah', tetapi dengan istilah 'cenderung', 'suka', 'biasa', dsb. Hal ini justru terjadi, karena manusia merupakan makhluk yang memang sangat tidak konsisten (sangat sulit bisa memiliki sifat yang pasti dan tetap, yang terpuji ataupun tidak). Dalam Al-Qur'an, istilah 'fitrah' hanya dinisbatkan kepada Allah.
Padahal di lain pihak, sifat adalah gambaran tentang suatu zat, yang digambarkan oleh pengamat di luar zat itu sendiri. Sedang fitrah adalah sifat-sifat yang terpuji pada suatu zat. Maka jika ada perilaku manusia yang berlalu tidak konsisten, atau ada mengandung dualisme, perilaku itupun tidak bisa disebut sebagai sifatnya. Kalaupun disebut sifatnya, maka hal inipun hanya sifat yang relatif temporer atau sesaat, dalam jangka-jangka waktu tertentu saja.
Baca pula topik "Sifat-sifat ciptaan-Nya".

Sedang penyebutan berbagai fitrah dasar manusia di atas, lebih bertujuan untuk menunjukkan adanya segala potensi secara 'umum', pada diri tiap manusia, dengan diciptakan-Nya 'akal' dan 'nafsu' pada tiap ruhnya masing-masing. Sehingga berbagai fitrah dasar itu bukan gambaran atau sifat secara 'khusus' dan menetap pada seseorang.

Pertentangan dalam fitrah manusia, sebagai ujian-Nya

Sekilas pada fitrah-fitrah manusia itu seolah-olah ada sejumlah pertentangan di dalamnya, yang merupakan sesuatu bentuk ujian-Nya bagi tiap manusia, sebagai perwujudan dari adanya nafsu, yang hanya dimiliki oleh manusia (lebih tepatnya, nafsu pada segala zat makhluk-Nya selain manusia, justru bersifat stabil). Sesuatu hawa nafsu yang 'diperturutkan' biasanya karena terlalu ingin memenuhi sesuatu fitrah tertentu, yang pasti mengurangi ataupun merusak fitrah-fitrah lainnya.
Pada umumnya hal ini menyangkut nafsu duniawi yang cukup berlebihan yang bisa merusak keseimbangan batiniah ruh manusianya. Keseimbangan batiniah ruh ini justru paling sering diganggu oleh iblis ataupun syaitan, dengan memanfaatkan hawa nafsu manusianya, tetapi sebaliknya, keseimbangan batiniah ruh ini justru menjadi tujuan utama dari segala usaha untuk menjaga dan memperbaikinya, melalui ajaran-ajaran agama-Nya (biasanya disebut pula sebagai usaha pembentukan 'akhlak' yang terpuji dan mulia).

Melalui segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya yang telah diajarkan dalam agama-Nya, setiap manusia diarahkan-Nya, agar bisa makin menyelaraskan antar fitrah-fitrah dasarnya itu. Sehingga ia bisa menghilangkan setiap pertentangan batinnya, yang pada akhirnya bisa membawa ketentraman batin. Serta biasa disebut pula, "agar ia bisa memurnikan dan mensucikan ruhnya", atau "agar ia bisa kembali ke fitrah-fitrahnya yang murni-suci-mulia".
Akhirnya, istilah "fitrah" dari sesuatu zat, yang biasa dikenal secara umum dan luas, lebih terkait dengan sifat-sifat yang terpuji dan mulia yang dimiliki oleh zat itu sendiri. Namun karena hanyalah Allah Yang bersifat mutlak dan kekal, sebaliknya setiap manusia cenderung berlaku tidak pasti, tidak konsisten atau mudah berubah, maka sekali lagi, istilah "fitrah" justru hanya tepat dinisbatkan kepada Allah.

"…. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan (sebaliknya) boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. …." – (QS.2:216).

Fitrah dasar manusia, untuk mengenal Tuhannya

Penganut ateisme pada dasarnya semestinya tidak ada, karena mustahil manusia dewasa tidak bisa mengenal Tuhannya, Yang telah menciptakannya. Lebih tepatnya, mustahil manusia dewasa tidak bisa mengetahui sama sekali, salah-satu saja dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Bahkan manusia yang paling primitif sekalipun, juga mempunyai Tuhan (minimal mengakui sesuatu yang relatif amat ideal, yang mesti disembah). Meskipun Tuhan Yang disembah, memang berbeda-beda.
Walaupun kesempurnaan pengenalan tiap manusia atas Allah, Tuhannya yang sebenarnya, sangatlah berbeda-beda, dari yang sangat sederhana (seperti para penganut paham Animisme atau Dinamisme pada jaman dahulu), sampai sangat sempurna (seperti para penganut agama tauhid yang terakhir, Islam). Bagi umat Islam, semua manusia yang tidak menyembah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Berkuasa dan Maha Sempurna, dianggap sebagai orang-orang yang kafir-musyrik.
Baca pula topik "Sifat-sifat ciptaan-Nya", tentang kelompok manusia yang terhijab dari mengenal Allah.

Maka 'ateisme' pada dasarnya hanyalah suatu 'pengingkaran' manusia, atas kehadiran Tuhan. Terutama akibat kerusakan keyakinan batiniahnya sendiri yang relatif telah rusak parah, yang umumnya bisa timbul akibat dari kecintaan yang melampaui-batas ataupun berlebihan atas kenikmatan lahiriah-duniawi, ataupun akibat berbagai perbuatan dosa besar yang telah dilakukannya.
Sehingga mereka itupun telah melupakan Allah, karena terlalu disibukkan oleh urusan duniawinya, serta mereka juga mustahil benar-benar bisa kembali mengabdi kepada Allah, karena keadaan batiniah ruhnya yang relatif telah rusak parah, dan relatif amat sulit untuk bisa 'kembali' mengikuti jalan-Nya yang lurus (benar). Indera batiniah ruh mereka biasa disebut telah buta, bisu, tuli atau pekak, atas berbagai kebenaran-Nya, sehingga mereka benar-benar telah tersesat.

Sebaliknya Allah telah melupakan mereka di dunia ataupun di akhirat. Orang-orang yang menganut ateisme bahkan jauh lebih besar dosanya daripada dosa dari orang yang berbuat kemusyrikan, karena pada kemusyrikan masih ada ketaatan atau ketundukan kepada sesuatu yang dianggap sempurna dan ideal (ilah-ilah selain Allah). Walaupun secara sadar ataupun tidak oleh para penganut kemusyrikan itu sendiri, bahwa ilah-ilah mereka bukanlah Ilah Yang sebenarnya, yaitu Allah, Tuhannya alam semesta, Yang Maha Esa dan Maha Kuasa
Sedangkan pada ateisme, para penganutnya benar-benar murni sepenuhnya hanya tunduk kepada hawa nafsu pribadinya. Dan bahkan paham ateisme itu memang 'dipilih' ataupun dilakukan dengan 'penuh kesengajaan' oleh para penganutnya. Padahal di lain pihak, salah-satu fitrah dasar setiap manusia, adalah untuk mencari dan mengenal Allah, Tuhan Yang sebenarnya telah menciptakannya.

Taubat atau penebusan dosa, untuk membersihkan ruh

Amat ironisnya justru dosa-dosa besar seperti itu (kemusyrikan dan ateisme) amat ditolerir di dalam agama Kristiani, yang menganut paham seperti, "penebusan segala dosa para umat Kristiani oleh Yesus (nabi Isa as) pada Hari Kiamat", ataupun pada agama-agama lainnya yang menganut paham serupa itu.
Hal itulah yang menjadikan orang-orang yang kafir dan amat kafir, untuk cenderung bersedia mau mengikuti agama-agama seperti itu, karena segala jenis dosanya pasti bisa mudah ditebusnya (bahkan tidak harus ditebusnya sendiri). Serta mereka juga akan bisa mendapat perlindungan moral dan resmi dari agamanya itu dengan relatif amat mudah, atas segala kekafirannya.

Secara ringkasnya, konsep taubat pada agama Kristiani (atau Nasrani) misalnya, amat ringan dan tidak jelas. Atas dasar alasan apa, sehingga nabi Isa as yang telah dianggap sebagai Tuhan, justru bisa menanggung segala dosa pada para pengikutnya? Apakah kehidupan dunia ini hanyalah sekedar 'senda-gurau' saja bagi mereka, sehingga mereka tidak perlu bertanggung-jawab sepenuhnya atas segala amal-perbuatannya?.
Kalau Yesus (nabi Isa as) memang Tuhan misalnya, mestinya tanpa perlu disalib dan kapan saja selama hidupnya, justru ia bisa saja menghapus segala dosa umatnya. Bahkan ia mestinya tidak akan panik dan tidak ketakutan, seperti saat ia disalib. Juga bahkan amat sulit bisa dipahami, jika nasib agama Kristiani hanya tergantung pada "sejarah penyaliban Yesus". Padahal "agama-Nya yang lurus" (agama tauhid) justru mestinya bersifat 'universal', dan tidak tergantung pada sejarah umat manusia (tetap serupa dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman).
Tampak jelas, bahwa konsep penebusan dosa ini adalah hasil olahan manusia (para pengikut Yesus), agar bisa menjadi iklan yang amat menarik bagi agama Kristiani (atau agama-agama sejenis), dalam mencari sebanyak mungkin penganutnya.

Sedang dalam agama Islam, tiap perbuatan dosa hanya semata bisa ditebus oleh pelakunya sendiri (bukan oleh orang-lain, kyai, wali, rahib, rabbi, pastor, pendeta, orang-orang suci, para nabi dan rasul, para makhluk gaib, ruh-arwah orang mati, dsb), hanya dengan cara pelakunya mau bersungguh-sungguh bertaubat kepada-Nya, ketika di kehidupan dunianya. Sedang di Hari Kiamat, segala taubat tidak akan diterima atau dikabulkan-Nya lagi (segala amalan telah terputus).
Secara mutlak tiap manusia harus bertanggung-jawab atas tiap amal-perbuatannya sendiri. Ia tidak akan dirugikan atau dianiaya-Nya, serta tidak akan menanggung segala beban dosa dari orang-lainnya.

Ada batasan-batasan tertentu di dalam agama Islam, agar bisa dimaafkan, diterima ataupun dikabulkan-Nya taubat manusia, atas tiap perbuatan dosanya, secara umum, yaitu: memohon ampunan kepada-Nya; menyatakan penyesalannya dengan jelas; tidak lagi mengulangi perbuatan dosa itu; dan berbuat berbagai amal-kebaikan tertentu yang bisa mengurangi tiap beban dosa yang telah diperolehnya
Juga perbuatan dosa yang relatif bisa dimaafkan-Nya, antara-lain: dosa-dosa kecil; dosa-dosa yang tidak disengaja ataupun disadari betul; dosa-dosa yang belum ada ketentuan ataupun hukum syariatnya; dsb. Sedang perbuatan dosa-dosa besar relatif amat sulit, untuk bisa dimaafkan-Nya, karena berbagai perbuatan dosa besar mengakibatkan keadaan batiniah ruh pelakunya relatif telah rusak cukup parah. Maka diperlukan usaha yang relatif khusus pula untuk bisa membersihkan ruh, sebelum benar-benar tidak bisa 'kembali' lagi ke jalan-Nya yang lurus, atau sebelum telah tersesat jauh. Dan dosa-dosa besar itu biasa disebut dalam Al-Qur'an, bisa menjadikan mata hati manusianya buta, tuli, pekak dan bisu atas berbagai kebenaran-Nya.
Baca pula topik "Benda mati gaib", tentang jenis-jenis perbuatan dosa, taubat dan syafaat.

Tauhid, sebagai fitrah dasar manusia

Batasan yang paling penting dan mendasar bagi diterima-Nya tiap taubat, adalah kelurusan tauhidnya. Sehingga orang yang musyrik (para penyembah ilah-ilah selain Allah) dan ia meninggal dunia dalam keadaan kemusyrikannya itu, termasuk tidak bisa dimaafkan-Nya atas tiap perbuatan dosanya (taubatnya tidak diterima-Nya). Hal yang lebih tegas lagi, bagi orang yang murtad (keluar dari agama Islam).
Hal itu karena tauhid adalah pondasi yang amat mendasar bagi tiap manusia. Di mana segala amal-perbuatannya dalam kehidupannya (baik dan buruk), pasti akan berpatokan kepada tauhidnya itu (secara langsung ataupun tidak). Misalnya manusia pasti akan berharap suatu balasan yang baik dari Tuhannya, atas tiap amal-kebaikannya. Sedang sebaliknya, manusia pasti akan memiliki ketakutan tertentu, terhadap balasan yang buruk dari Tuhannya, atas tiap amal-keburukannya.

Tentunya, jika Tuhan Yang disembah oleh berbagai manusia, juga berbeda-beda, maka berbagai manusia itupun akan berbeda-beda pula sikapnya dalam menyikapi suatu perbuatan tertentu. Karena amat tergantung kepada tingkat pemahaman manusianya, terhadap tingkat kekuasaan dan pengetahuan Tuhannya atas tiap makhluk-Nya, dalam memberi balasan-Nya atas sesuatu perbuatan makhluk-Nya.
Jika Tuhannya makin sempurna dalam memberi balasan-Nya, maka para penyembahnyapun pasti makin menjaga tiap perbuatannya, dari segala hal yang tidak disukai oleh Tuhannya. Di lain pihak, jika makin kurang sempurna kekuasaan dan pengetahuan Tuhannya, maka bisa dipastikan, bahwa makin banyak pula jumlah perbuatan makhluk-Nya yang tidak dianggap sebagai perbuatan dosa.

Sehingga amat mudah bisa dipahami, jika tauhidnya para nabi-Nya pada dasarnya sama, yaitu "tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa". Karena suatu tauhid juga merupakan bagian yang paling penting dari fitrah dasar tiap ruh manusia, sebagai puncak terakhir dari segala hasil pencarian dan pengenalan hamba-hamba-Nya itu, atas Tuhannya Yang sebenarnya, Yang Maha berkuasa, Yang Maha mengetahui dan Yang menciptakan dirinya dan seluruh alam semesta ini, yaitu Allah. Hal ini berasal dari segala hasil usaha mereka yang relatif amat keras, dalam mengamati, mempelajari dan memahami tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini, yang juga sama.
Bagi umat Islam, orang-orang yang tidak menyembah Allah, disebutkan sebagai kaum 'musyrik' (kaum yang menyembah ilah-ilah selain Allah). Dalam Al-Qur'an, kaum 'musyrik' juga biasa disebutkan sebagai kaum yang banyak bersenda-gurau di kehidupan dunia ini, karena mereka memang banyak menghalalkan segala perbuatan, yang sesungguhnya termasuk perbuatan dosa (Tuhan mereka memang tidak memiliki kekuasaan dan pengetahuan mutlak, untuk bisa menghakimi segala perbuatan dosa ini).

Maka kesempurnaan tauhid itu amat sangat ditekankan dalam ajaran agama Islam. Serta tiap umat Islam semestinya bisa memahami, bahwa Allah, Tuhan yang disembahnya memang pasti memiliki segala kesempurnaan, seperti yang telah tergambar melalui nama-nama yang terbaik dan hanya milik Allah (Asmaul Husna). Juga tiap umat Islam semestinya bisa memahami, bahwa Allah Yang Maha Esa dan Maha Suci, amat sangat berbeda daripada segala sesuatu halnya, yang masih bisa dijangkau oleh segala alat indera lahiriah dan batiniahnya. Serta 'esensi' Zat Allah justru tersucikan dari segala sesuatu halnya.
Sehingga ajaran agama Islam amat mengharamkan, atas segala bentuk sesembahan atau ilah-ilah selain Allah (patung, berhala, benda keramat, orang atau makhluk-Nya yang dianggap suci, dsb), karena segala sesembahan ini hanya zat ciptaan-Nya, yang sama sekali tidak memiliki sebagian kecil saja dari segala ke-Maha-sempurnaan-Nya.
Baca pula topik "Sifat-sifat ciptaan-Nya", tentang permasalahan pemahaman atas sifat-sifat-Nya, serta tentang kelompok manusia yang terhijab dari mengenal Allah.

Berbagai jenis ruh makhluk-Nya

Dengan berbagai sifat ruh di atas, maka bisa disebutkan pula berragam zat ruh-ruh ciptaan-Nya, antara-lain: ruh para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis, pria & wanita), ruh manusia (pria & wanita), ruh tumbuhan, ruh hewan (jantan & betina), ruh sel, dsb.

Dari amatlah sangat banyaknya jenis makhluk hidup, dari tiap-tiap kelompok besar itu (makhluk gaib, manusia, hewan, tumbuhan, sel, dsb), maka bisa dipastikan, bahwa ruh itu amatlah sangat banyak pula variasi jenisnya, karena ruh justru amat berperan mengendalikan sifat-sifat tiap makhluk-Nya.
Sedangkan tiap jenis makhluk hidup nyata memiliki sifat-sifat yang khas, dengan sendirinya, ruh juga bisa mengendalikan sifat-sifat berbagai benda mati, sebagai tempatnya melekat atau menyatu (tubuh wadahnya). Baca pula uraian-uraian di bawah ini.

Tetapi ada pula pemahaman lainnya, bahwa 'zat' ruh pada tiap makhluk-Nya (makhluk hidup gaib dan makhluk hidup nyata), pada dasarnya memiliki sifat-sifat dasar yang 'sama' (seperti sifat-sifat ruh pada Tabel 3 di atas). Hal yang telah membedakan antar segala jenis zat makhluk ciptaan-Nya yang amatlah sangat berragam, justru hanya pada perbedaan tubuh wadahnya masing-masing.

Seperti diketahui, tubuh wadah pada tiap makhluk hidup nyata, hanyalah alat-sarana yang bisa mewujudkan segala kehendak ruhnya, dan tubuh wadah itu juga pasti tunduk kepada segala perintah ruhnya. Sehingga dengan sendirinya, jika tubuh wadah pada berbagai makhluk berbeda, maka segala kehendak dari ruhnya yang bisa terwujudkanpun pasti berbeda pula. Akhirnya bentuk dan kemampuan tubuh wadahnya justru amat mempengaruhi perwujudan segala kehendak dari ruhnya. Sifat-sifat zat ruh pada berbagai makhluk tentunya justru bisa tampak berbeda-beda pula bagi manusia, jika tubuh wadahnya berbeda-beda.

Maka menurut pemahaman di atas, jenis dan sifat zat ruh yang membawa kehidupan bagi segala makhluk ciptaan-Nya (malaikat, jin, syaitan, iblis, manusia, tumbuhan, hewan, dsb), pada dasarnya 'sama'. Sekali lagi hanya berbeda pada tubuh wadahnya masing-masing, dan tentunya, para makhluk gaib adalah makhluk yang biasanya dianggap tidak memiliki tubuh wadah (relatif hanya berupa ruh).
Walau ada pula anggapan lain, bahwa para makhluk gaib tetap memiliki tubuh wadah, yang berupa materi atau benda mati, dari yang berukuran paling kecil (jauh lebih kecil daripada atom), sampai yang berukuran paling besar (seluruh alam semesta). Karena anggapan ini menyakini, bahwa para makhluk gaib itulah yang telah diperintahkan-Nya, untuk melaksanakan segala urusan Allah di seluruh alam semesta ini (sebagai 'penggerak' pelaksanaan sunatullah lahiriah dan batiniah).
Baca pula uraian pada Tabel 3 di atas, tentang catatan khusus atas tubuh wadah para makhluk gaib-Nya. Serta uraian-uraian berikut, tentang hubungan antara ruh dan benda mati.

Lebih lanjut, hubungan antara ruh dan benda mati

Apabila ditelaah lebih lanjut lagi dari berbagai uraian di atas, bisa diperoleh beberapa kesimpulan ringkas, sebagai berikut:

Berbagai keadaan terkait tentang 'benda mati' dan 'ruh'

a.

Tiap jenis atom memiliki sifat-sifat yang khas. Atom bisa saling berinteraksi (berreaksi) dengan atom-atom lainnya (sejenis atau tidak), untuk bisa membentuk senyawa-molekul, dari molekul yang paling sederhana (1 atau 2 jenis atom), sampai yang paling kompleks (amat banyak jenis dan jumlah atomnya).

Molekul sederhana, misalnya: karbondioksida − CO2, uap air − H2O, metanol − CH4, asam sulfat − H2SO4, Amonia − NH3, natriumklorida − NaCl, asam klorida − HCl, dsb.
Molekul kompleks, misalnya zat-zat organik (karbohidrat, lemak, protein, dsb).

b.

Tubuh wadah setiap makhluk-Nya terdiri dari sekumpulan amat sangat besar atom-atom.

Seperti atom-atom: Karbon-C, Oksigen-O, Kalsium-Ca, Besi-Fe, Fosfor-P, dsb.

c.

Ruh jenis tertentu relatif hanya bersatu (ditiupkan-Nya), dengan benih tertentu saja (benih dasar tubuh wadahnya).

Seperti ruh manusia, yang hanya bisa bersatu dengan benih dari hasil bercampurnya sel sperma (dari pria dewasa) dan sel indung telur (dari wanita dewasa).
Serta ruh tumbuhan, dengan benih dari hasil bercampurnya sel putik dan sel tumpang sari.
Dan akhirnya ruh-ruh sel, dengan benih dari hasil bercampurnya berbagai zat organik, dengan komposisi dan keadaan tertentu.

d.

Tiap ruh mengendalikan segala sistem dan perkembangan tubuh wadahnya (secara sadar ataupun tidak).

Tanpa dikendalikan oleh ruh, mustahil tubuh yang amat sangat kompleks pada tiap makhluk hidup nyata justru bisa berkembang begitu saja dengan sendirinya (otomatis atau kebetulan), dalam waktu yang relatif amat singkat.

Seperti ruh manusia, yang bisa mengendalikan berbagai anggota badan, dan perkembangan seluruh tubuhnya.

e.

Tubuh amat kompleks pada tiap makhluk hidup nyata terdiri dari sejumlah amat besar makhluk hidup nyata, yang lebih kecil dan sederhana.

Dan seluruh makhluk hidup nyata yang sederhana itu bisa saling berinteraksi dan berkerja-sama dengan dikendalikan oleh tiap ruh makhluk hidup nyata yang lebih kompleks lagi. Sampai akhirnya dikendalikan oleh 'ruh induk' pada hierarki tertingginya.

Seperti tubuh manusia, yang hierarkinya terdiri dari milyaran sel, berbagai jaringan, sampai berbagai organ tubuh.

f.

Tiap jenis ruh juga memiliki kesempurnaan dan keterbatasannya masing-masing, dari ruh yang relatif paling sederhana (ruh sel), sampai ruh yang relatif paling sempurna (ruh manusia).

g.

Ada berbagai senyawa-molekul (yang berupa benda mati), yang bisa memiliki struktur dan sifat yang sangat kompleks. Molekul seperti ini biasanya terdapat pada tubuh makhluk hidup nyata (berbagai senyawa atau zat organik).

Amat mustahil senyawa organik ini bisa dibentuk melalui segala reaksi kimia, yang biasanya dilakukan para ilmuwan modern di laboratorium. Sebaliknya pada tubuh makhluk hidup nyata, justru berbagai senyawa organik ini bisa terbentuk dengan relatif sangat mudah, dan dalam waktu singkat.

 

Dari poin-poin di atas akhirnya bisa disimpulkan lebih lanjut, bahwa ada kesesuaian antara Atom (penyusun benda mati) dan Ruh (penyusun makhluk hidup), dalam berbagai hal sebagai berikut:

Berbagai kesimpulan terkait hubungan antara
'benda mati' dan 'ruh'

a.

Ruh dan Atom memiliki sifat-sifat yang khas.

b.

Bisa saling 'berinteraksi' (ruh), atau saling 'berreaksi' (atom).

c.

Ruh dan Atom membutuhkan energi.
Pada atom, misalnya energi untuk pergerakan revolusi atau orbit tiap elektronnya tiap saatnya, juga untuk saling berinteraksi. Dan pada tiap ada materi-benda (sekecil apapun ukurannya, termasuk atom dan patikel sub-atom), pasti ada pula energi.

Pada ruh, misalnya energi untuk hidup, tumbuh dan beraktifitas. Dan ruh hanya bisa hidup, jika ada energi.

d.

Ruh dan Atom bertingkat 'kesempurnaan' sifat-sifatnya.

Pada atom, tingkat kesempurnaannya ditentukan misalnya, oleh jumlah dan variasi kombinasi elektron dan protonnya. Dan atom Hidrogen adalah atom yang paling sederhana.
Bahkan menurut para ilmuwan modern, bahwa semua jenis atom bisa terbentuk atau berasal dari atom-atom Hidrogen, melalui perubahan energi. Karena tiap perubahan energi pasti sebanding dengan perubahan struktur materi terkait, ataupun sebaliknya.

Pada ruh, misalnya berbeda-beda tingkat kesempurnaan akal dan nafsunya, ataupun tingkat kemampuaannya dalam berkehendak dan berbuat.

e.

Ruh dan Atom memiliki suatu hierarki struktur, dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks, yang meningkat secara bertahap (di Gambar 8).

Pada atom, misalnya dari hanya sebuah atom saja, sampai pada zat-zat organik yang sangat kompleks (banyak jumlah dan jenis atomnya, serta relatif sangat panjang ikatan antar atomnya).

Pada ruh, tubuh tiap manusia misalnya dari sel, jaringan, organ sampai tubuh utuh-lengkap.

f.

Semakin kompleks strukturnya, sebagai hasil interaksi berbagai komponen penyususnnya, maka pada setiap tahapan perubahan strukturnya, menjadi struktur-struktur baru yang lebih kompleks, akan bisa timbul sifat-sifat 'baru' yang khas, yang justru sangat berbeda dari gabungan sifat-sifat setiap komponen asalnya.
Sifat-sifat dari setiap komponen asalnya menjadi relatif kurang dominan lagi, bagi sifat-sifat keseluruhan.struktur barunya.

g.

Tidak ada suatu teori manusiapun yang bisa menjelaskan tentang segala proses pembentukan struktur yang amat kompleks, seperti pada zat-zat organik (benda mati), apalagi pada makhluk hidup.

 

Akhirnya dari berbagai uraian di atas, terutama bahwa "Ruh jenis tertentu hanyalah bisa bersatu dengan benih dasar (benda mati) tertentu saja", lalu berkembang dugaan amat kuat "bahwa tiap struktur zat benda mati (dari yang berwujud paling sederhana sampai paling kompleks), pada dasarnya 'melekat' suatu jenis ruh tertentu, terutama pada tiap struktur zat benda mati, yang telah mulai memiliki sifat-sifat 'baru'. Ringkasnya, tiap ruh sebagai suatu pengendali atau penggerak atas tiap struktur zat benda mati, Serta tiap ruh terkait itupun pastilah akan kembali kepada-Nya, ketika tiap struktur tubuhnya telah rusak".
Persis seperti halnya, ruh tiap manusia pastilah akan kembali kepada-Nya, ketika jasad tubuhnya telah rusak di dalam kuburannya. Sementara sebelumnya, struktur tubuh tiap manusia berkembang, dari sel janin, berbagai jaringan dan organ, sampai menjadi tubuh manusia dewasa, yang relatif utuh, lengkap dan sempurna.
Baca pula contoh gambaran atas pemahaman ini, pada uraian-uraian di bawah.

Tentu saja, ruh pada zat benda mati itupun memiliki sifat-sifat yang amatlah sangat terbatas (jauh lebih sederhana daripada ruh sel), sehingga tiap benda mati tidak tampak 'hidup' bagi manusia. Namun jika dipahami bahwa tiap benda mati memiliki berbagai sifat dinamis, yang membuat bisa terjadinya 'hukum alam' (atau sunatullah), maka tiap benda mati pada dasarnya juga bisa dianggap 'hidup' (atau lebih tepatnya juga memiliki ruh).
Sedang sesuatu zat ciptaan-Nya disebut 'hidup', pada dasarnya antara lain karena: bisa tumbuh, bisa berkembang-biak dan memiliki 'kebebasan' dalam berbuat (dari yang paling sederhana sampai paling sempurna). Maka ruh pada tiap benda mati adalah ruh-ruh yang tidak bisa tumbuh dan berkembang-biak ataupun hampir tidak bisa memiliki 'kebebasan'. Dan disebut pula dalam Al-Qur'an, bahwa segala benda mati pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah-Nya.

"…. Dan matahari, bulan dan bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam." – (QS.7:54).

"Mereka (orang-orang yang kafir) berkata: 'Allah mempunyai anak'. Maha Suci Allah, bahkan segala yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya (atau ciptaan-Nya). Dan semuanya tunduk kepada Allah." – (QS.2:116).

 

Dan tiap ruh pada benda mati itulah (ruh pengendali ataupun penggerak bagi tiap sistem atom), yang diduga sebagai ruh "malaikat Mikail", yang telah ditugaskan-Nya untuk "menurunkan air hujan", serta lebih luasnya lagi, yang mengatur segala urusan Allah di alam semesta ini, khususnya dalam mengawal terlaksananya segala 'hukum alam' (atau sunatullah pada aspek lahiriahnya). Sedangkan pada aspek batiniah, sunatullah terlaksana melalui ruh-ruh para malaikat lainnya, termasuk pula melalui ruh-ruh segala makhluk hidup nyata itu sendiri.
Pemahaman ini dianggap sesuai tingkatan hijab antara manusia dan Allah, menurut Imam Al-Ghazali pada Tabel 11 poin C.2.

Namun suatu pemahaman yang relatif amat ekstrim ini (benda mati yang memiliki ruh), belum diterapkan secara luas pada seluruh pembahasan buku ini. Sementara diketahui pula, bahwa segala tak-terhitung ruh ciptaan-Nya (berada di bawah perintah dan kekuasaan-Nya), yang ikut menggerakkan seluruh makrokosmos (alam semesta).

"dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi atau mengatur urusan(-Nya di dunia)," – (QS.51:4) dan (QS.79:5).

"Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan dan menyebarkan (segala rahmat-Nya) dengan seluas-luasnya," – (QS.77:1) dan (QS.77:3).

Gambaran sederhana benda mati dengan ruh

Perumpamaan sederhana atas pemahaman yang relatif ekstrim di atas (benda mati yang dianggap memiliki ruh), misalnya tiap atom Oksigen (O) dan atom Hidrogen (H) masing-masingnya memiliki ruh, yang memiliki sifat-sifat yang khas (tentunya sifat-sifat dari tiap atom tersebut). Tetapi ketika kedua atom ini bertemu (terkondensasi), justru memancing ruh 'molekul uap air', untuk menyatu (ditiupkan-Nya ruh) kepada 'tubuh' hasil bersatunya kedua atom itu, yang disebut molekul uap air (H2O). Di mana ruh 'molekul uap air' inipun membawa sifat-sifat 'baru', yang berbeda dari sifat-sifat kedua atom penyusunnya.

Tetapi jika karena keadaan tertentu, molekul uap air itu terurai kembali menjadi atom-atomnya (menguap), maka ruh 'molekul uap air' keluar dari tubuhnya itu (diangkat-Nya ruh). Hal-hal inipun persis serupa dengan berbagai proses pada makhluk nyata, dari sel sampai manusia (dihidupkan dan dimatikan-Nya). Dan perumpamaan ini juga secara sederhana ditunjukkan pada Gambar 7 berikut.

Baca pula topik "Makhluk hidup nyata".

Gambaran sederhana struktur benda mati dengan ruh

Pada Gambar 8 berikut ditunjukkan secara amat sederhana tiap perubahan struktur benda (termasuk tubuh makhluk hidup nyata), dari bentuknya yang paling sederhana, berupa atom dan tubuh sel, sampai pada puncaknya, struktur yang paling kompleks yang justru meliputi 'seluruh alam semesta' ini (ataupun lebih tinggi lagi, jika ada).

Sehingga seluruh sistem alam semesta ini misalnya, memiliki sesuatu "ruh" yang menjadi pengendali atau penggeraknya. Imam Al-Ghazali telah mengelompokkan sebagian umat Islam, yang memiliki pemahaman bahwa Ar-Rabb
adalah Al-Mutha' (yang ditaati oleh tiap penggerak), atau Penggerak utama atas segala sesuatu halnya dengan segala tingkatan bagiannya, pada segala zat ciptaan-Nya, dengan cara mengeluarkan segala perintah kepada segala penggerak di bawahnya (segala ruh ciptaan-Nya, pada Tabel 11 poin C.3).

Walau menurut Imam Al-Ghazali, kelompok umat Islam yang memiliki pemahaman seperti ini dianggap belum mencapai tingkatan hijab yang tertinggi.

Pemahaman yang lebih tingginya menurut pemahaman relatif pada buku ini, yang tentunya 'belum tentu' telah mencapai tingkatan hijab yang tertinggi, menurut klasifikasi dari Imam Al-Ghazali, adalah "segala perintah-Nya kepada segala penggerak bagi berjalannya segala proses di seluruh alam semesta ini (segala zat ruh ciptaan-Nya, bahkan termasuk zat ruh tiap manusia), pada dasarnya hanyalah berupa segala 'fitrah dasar' pada tiap zat ruh ciptaan-Nya. Dan segala 'fitrah dasar' inipun justru hanyalah diberikan ataupun ditetapkan-Nya 'sekali' saja (saat awal diciptakan-Nya tiap zat ruh itu sendiri)".
Dengan sendirinya segala perintah-Nya itu bukan diberikan-Nya 'setiap saatnya', namun justru hanya diberikan-Nya 'sekali' saja. Segala penggerak juga bukan hanya berupa tak-terhitung jumlah para malaikat-Nya, namun justru juga termasuk seluruh umat manusia, dan bahkan para jin, syaitan dan iblis (lengkapnya segala makhluk ciptaan-Nya). Dan tentunya tiap zat ruh makhluk-Nya juga memiliki wilayah kendali atau kekuasaannya masing-masing (amat sempit ataupun luas, ke arah positif ataupun negatif, dsb). Baca pula uraian di bawah.

Gambar 7: Skema sederhana hubungan antara ruh dan benda

Gambar 8: Skema sederhana perkembangan struktur benda

Ruh-ruh dan pengabdiannya kepada-Nya

Sesuai dengan pemahaman di atas, tentang benda mati yang memiliki ruh, yang relatif belumlah diterapkan pula secara luas dalam pembahasan pada buku ini (relatif adanya sedikit perbedaan daripada pemahaman umum pada buku ini), yaitu tentang adanya pemahaman yang lebih lanjut ataupun lebih tinggi tentang ruh. Terutama berkaitan dengan sifat Maha adil Allah kepada segala jenis zat ciptaan-Nya, dan juga berkaitan dengan pengabdian segala ruh kepada-Nya.

Pemahaman ini diungkap pada tabel sebagai berikut:

Berbagai pemahaman lanjutan tentang segala jenis ruh,
dan pengabdiannya kepada-Nya

Bahwa segala jenis ruh makhluk-Nya pada dasarnya sama, pada zat, sifat ataupun pada kemampuannya.

Bahwa segala ruh pada dasarnya pasti memiliki keinginan (fitrah dasar), untuk selalu terus-menerus tunduk, taat dan patuh kepada Allah, Yang telah menciptakannya.

Bahwa alam dunia ataupun alam semesta ini sengaja diciptakan-Nya, sebagai sarana bagi setiap ruh untuk bisa memiliki kesempatan, agar semakin bisa mengabdikan diri kepada-Nya, sekaligus agar bisa memperoleh kemuliaan yang semakin tinggi pula (bisa semakin dekat di sisi 'Arsy-Nya).

Namun ruh-ruh itupun justru harus menjalani kehidupannya di dunia ini, yang penuh dengan segala bentuk keterbatasan, kekurangan dan kehinaan tubuh-fisik-lahiriahnya (misalnya dari tanah lumpur yang hitam, atau dari air yang hina-mani), sebagai suatu bentuk ujian-Nya.

Dan jika suatu ruh dianggap telah bisa mengatasi segala ujian-Nya ini, dengan sebaik-baik menurut penilaian Allah, maka ia bisa memperoleh kemuliaan yang semakin tinggi pula, sesuai tingkat beban ujian-Nya. Namun sebaliknya, justru ia bisa memperoleh kehinaan di bawah ruh-ruh lainnya.

Hal inilah yang membuat manusia, bisa menjadi "hina seperti kera" (pada QS.2:65, QS.5:60 dan QS.7:166).

Bahwa ruh-ruh pada dasarnya berlomba-lomba turun ke dunia ini, agar mereka bisa mencari kemuliaannya sendiri yang semakin tinggi, dengan mencari segala 'ladang tugas atau amanat-Nya' yang ada di dunia ini.

Dari turun menjadi ruh bagi segala jenis benda mati (atom s/d galaksi dan pusat alam semesta ini), sampai menjadi ruh bagi segala jenis makhluk hidup nyata (sel s/d manusia), ataupun pada tempat-tempat di luar itu, bahkan tanpa menunda-nunda dan memilih-milih lagi tempatnya, untuk bisa langsung melaksanakan amanat-Nya.
Termasuk turun ke alam batiniah ruh setiap manusia (pada para makhluk hidup gaib), untuk bisa memberi segala bentuk pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah.

Bahwa dengan berbeda-bedanya letak tempat diturunkan-Nya, maka setiap ruh menghadapi tingkat beban ujian-Nya yang berbeda-beda pula, misalnya, dari yang relatif paling ringan (para makhluk gaib), sampai yang relatif paling berat (manusia).

Bahwa segala ujian-Nya itu pada dasarnya, adalah hal-hal yang justru bisa melalaikan setiap ruh dari fitrah sucinya semula, untuk bisa tunduk, taat dan patuh kepada Allah.

Bahwa sifat-sifat tiap ruh pada benda mati ataupun pada makhluk nyata, memang bisa tampak berbeda-beda, karena dibatasi oleh semua alat-sarana pada tubuh wadahnya masing-masing (tempat ditiupkan-Nya ruh), dari yang relatif paling sederhana (para makhluk gaib), sampai yang relatif paling lengkap (manusia, khalifah-Nya di dunia).

Bahkan sebagian dari para makhluk gaib justru dianggap tanpa tubuh wadah sama-sekali, atau 'hanya' menempati alam batiniah ruh manusia, dan sebagiannya lagi pada segala jenis benda mati, seperti pada uraian topik di atas.

Kelengkapan alat-sarana pada tubuh wadah, juga dengan sendirinya tentunya mencerminkan kesempurnaan nafsu-keinginan setiap ruhnya yang bisa terwujudkan (kebebasan dalam berkehendak dan berbuat). Makin lengkap kelengkapan ataupun kebebasan itu, makin besar pula beban ujian-Nya (ruh makin mudah lupa kepada-Nya), karena ruh makin disibukkan oleh segala urusan tubuh fisik-lahiriahnya.

Sedangkan akal pada setiap ruh, pada dasarnya semua sama sempurnanya. Namun kelengkapan alat-sarana pada tubuh wadahnya itulah yang juga telah bisa membatasi segala kemampuan dan pilihan akalnya, yang bisa terwujudkan.

Bahwa ruh pada para makhluk gaib yang tidak pernah memiliki tubuh sendiri, ataupun tubuhnya paling sederhana (benda-benda mati), dengan sendirinya juga paling ringan menghadapi segala ujian-Nya, namun mereka itulah yang justru paling tinggi tingkat pengabdiannya kepada Allah (paling tunduk, patuh dan taat).

Bahkan dalam Al-Qur'an disebutkan, bahwa 'tasbih' mereka kepada Allah, justru yang paling banyak berkumandang di seluruh langit, daripada segala ruh lainnya.

Bahwa setelah selesainya pengabdiannya di dunia itu, ruh-ruh langsung kembali ke hadapan 'Arsy-Nya (tidak bisa kembali lagi ke dunia, atau pasti menjalani kehidupan akhirat), karena ia harus mempertanggung-jawabkan segala amal-perbuatannya selama di dunia, sesuai tugas-amanat yang diberikan-Nya kepadanya.

Karena itu pulalah, pada dasarnya tidak ada ruh ataupun arwah, dari makhluk hidup nyata yang telah mati, yang bergentayangan (atau arwah penasaran). Hal ini hanya suatu tahayul manusia saja, untuk menjawab hal-hal tertentu (karena ia dianggap masih memiliki berbagai urusannya di dunia ini, yang perlu diselesaikannya terlebih dahulu). Wallahu a'lam bishawwab.

Dan hanya kepada-Nya-lah segala sesuatu urusan dikembalikan.

 

Sekali lagi, berbagai pemahaman di atas relatif sedikit berbeda dari pemahaman awalnya, yang diterapkan dalam seluruh pembahasan pada buku ini. Berbagai pemahaman 'awal' dan pemahaman 'lanjutan' pada buku ini, diungkap secara ringkas pada tabel berikut.

Perbandingan antara pemahaman awal pada buku ini
dan pemahaman lanjutan, tentang segala jenis ruh

No

Pemahaman awal

Pemahaman lanjutan

1.

Tiap jenis ruh memiliki sifat dan kemampuan yang berbeda-beda, sekaligus membawa sifat-sifat yang baru pada tubuh wadahnya.

Segala zat ruh pada dasarnya memiliki sifat dan kemampuan yang sama. Hanya adanya perbedaan pada alat-sarana ataupun kemampuan tubuh wadahnya, yang seolah-olah telah pula membedakan sifat zat-zat ruhnya masing-masing.
Juga tiap zat ruh bukanlah membawa sifat-sifat baru, bagi tiap makhluk-Nya, namun sekali lagi, memang hanya karena ada perbedaan pada tubuh wadahnya masing-masing. Sesuai tubuh wadahnya, ruhnya memang juga menjadi penggeraknya.

2.

Hanya manusia yang menghadapi ujian-Nya.

Segala zat makhluk-Nya pastilah mengalami ujian-Nya. Hanya adanya perbedaan pada alat-sarana ataupun kemampuan tubuh wadahnya (sekaligus perbedaan tugas-amanat yang diberikan-Nya), yang menjadikan berbagai jenis dan beban ujian-Nya bagi tiap jenis zat makhluk-Nya, juga berbeda-beda.

Sedang manusia yang memang memiliki tubuh wadah yang paling sempurna, dan ditugaskan sebagai khalifah-Nya di muka Bumi, memang mendapat ujian-Nya yang relatif paling berat.

3.

Tiap benda mati tidak memiliki ruh.

Tiap benda mati juga memiliki ruh. Hanya saja benda mati justru memiliki sarana dan kemampuan tubuh wadah yang amat terbatas, sehingga kebebasan dan kemampuan ruh pada benda mati, dalam berkehendak dan berbuat, juga amat terbatas.

Dan ruh-ruh pada benda mati itulah yang dipahami telah bisa mengakibatkan terlaksananya 'hukum alam' (lahiriah), ataupun lebih luasnya lagi, bagi terlaksananya 'sunatullah' (lahiriah dan batiniah).

4.

Nafsu-keinginan manusia paling sempurna.

Sedangkan makhluk lainnya tidak memiliki nafsu-keinginan (tepatnya, nafsu-keinginannya sangat stabil, hanya semata untuk bisa mengabdi kepada Allah).

Nafsu-keinginan justru pada dasarnya amat terkait dengan sarana dan kemampuan tubuh wadah tiap jenis makhluk-Nya, karena keinginan atau kehendak tiap makhluk justru hanya bisa diwujudkan, jika memang ada alat-sarana lahiriah yang sesuai.

Sehingga segala zat makhluk-Nya pasti memiliki nafsu-keinginan. Namun kesempurnaan nafsu-keinginannya masing-masing, pasti sesuai pula dengan tingkat kesempurnaan sarana dan kemampuan tubuh wadahnya.

Karena manusia memang memiliki tubuh wadah yang paling sempurna, maka nafsu-keinginannya yang bisa diwujudkannya, memang relatif paling sempurna pula.
Sedang para makhluk gaib yang memang memiliki tubuh wadah yang paling sederhana, maka segala nafsu-keinginannya juga paling stabil (hanya untuk mengabdi kepada-Nya).

5.

Hanya akal manusia & para makhluk gaib, yang paling sempurna.

Sedangkan makhluk lainnya hanya memiliki 'naluri', yang jauh lebih rendah kesempurnaannya daripada akal manusia.

Akal pada segala zat ruh makhluk-Nya, pada dasarnya memiliki kemampuan yang sama-sama sempurna. Tetapi dalam melaksanakan fungsinya, kemampuan akal yang bisa terwujud justru amat tergantung kepada jenis dan jumlah informasi yang bisa diolahnya.

Karena manusia memang memiliki jenis dan jumlah alat indera lahiriah yang relatif paling lengkap dan sempurna, maka kemampuan akal manusia juga relatif paling sempurna.

Berbagai makhluk hidup nyata, memang ada yang memiliki alat indera lahiriah (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, dsb), yang lebih sempurna daripada manusia (lebih tajam atau peka). Namun tiap kelebihan atau terlalu terfokus pada suatu alat indera, relatif pasti akan mengabaikan atau mengurangi kemampuan alat-alat indera lainnya.
Maka sebagai satu-kesatuan, seluruh alat indera lahiriah manusia tetap yang relatif paling sempurna dan paling seimbang.

Para makhluk gaib memang memiliki tubuh wadah yang paling sederhana. Namun karena mereka justru selalu mengikuti manusia (pada alam batiniah ruh manusianya), maka mereka justru selalu mengetahui pula segala hal yang diketahui oleh manusia yang diikutinya (mereka secara tidak langsung, ikut meminjam pemakaian alat-alat indera lahiriah manusia).

Di samping itu pula, karena nafsu-keinginan para makhluk gaib itu jauh lebih stabil daripada segala jenis makhluk-Nya lainnya, maka pemakaian akal mereka juga paling tidak terhambat atau terganggu oleh segala bentuk nafsu-keinginan. Dan kemampuan akal merekapun bisa relatif lebih maksimal atau lebih sempurna, daripada kemampuan akal manusia (mereka relatif lebih cerdas daripada manusia).

Lihat pula pada Gambar 26, tentang hubungan antara akal dan nafsu manusia, termasuk pengaruh para makhluk gaib pada alam pikiran manusia (alam batiniah ruh atau alam akhiratnya).

Sehingga tidak mengherankan apabila para malaikat Jibril yang amat cerdas itu, misalnya bisa memberi segala pengajaran dan tuntunan-Nya kepada para nabi-Nya.

6.

Hanya manusia yang memiliki kebebasan. di dalam berkehendak dan berbuat.

Sedangkan segala makhluk lainnya hanya semata taat, tunduk dan patuh kepada segala perintah-Nya.

Kebebasan tiap zat makhluk-Nya pada dasarnya terkait jumlah pilihan informasi, yang tersedia bagi akalnya untuk bisa diolah. Serta kehendaknya terkait nafsu-keinginan yang dimilikinya. Sedang perbuatannya terkait sarana dan kemampuan tubuh wadahnya dalam mewujudkannya. Pada puncaknya, kebebasan, kehendak dan perbuatan tiap zat makhluk-Nya, semuanya tergantung kepada tubuh wadahnya masing-masing.

Sehingga segala zat makhluk-Nya justru memiliki kebebasan, dalam berkehendak dan berbuat. Namun tingkat kebebasan, serta jenis dan jumlah kehendak dan perbuatannya, tergantung kepada tingkat kesempurnaan tubuh wadahnya.

Manusia yang memang memiliki tubuh wadah paling sempurna, maka kebebasan, kehendak dan perbuatannya juga paling lengkap dan sempurna. Namun hal ini (terutama nafsu-keinginannya yang paling sempurna), justru juga telah membuat manusia relatif paling tidak tunduk, taat dan patuh kepada segala perintah-Nya.

Sebaliknya para makhluk gaib justru relatif paling taat, tunduk dan patuh kepada segala perintah-Nya. Sedang segala makhluk-Nya lainnya ketaatan, ketundukan dan kepatuhannya kepada segala perintah-Nya, relatif berada di antara manusia dan para makhluk gaib.

Di samping itu pula, ketaatan, ketundukan dan kepatuhan para makhluk gaib itu, terutama sangat didukung oleh akal mereka yang memang amat cerdas. Sehingga kesaksian atau pemahaman mereka tentang berbagai kebenaran-Nya, juga telah sangat nyata, jelas dan terang. Dan relatif tidak ada nafsu-keinginan mereka, untuk menentang segala perintah-Nya.

Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang kemustahilan dari kekafiran syaitan dan iblis kepada Allah (kekafiran hanya simbolik).

 

Secara ringkasnya, perbedaan antara pemahaman pada tabel di atas dan pada buku ini, terletak pada pemahaman atas perbedaan sifat ruh pada segala jenis makhluk-Nya. Pada buku ini, perbedaan sifat-sifat zat ruh makhluk-Nya relatif amat tegas. Sedangkan pada tabel di atas, perbedaannya relatif amat halus atau perlahan-lahan, tergantung kepada perubahan keadaan tubuhnya (lihat pula Gambar 9 di bawah)

Berbagai pemahaman lainnya, selain dari hal-hal yang disebut pada poin-poin di atas, pada dasarnya relatif tetap sama. Pemahaman 'awal' dan pemahaman 'lanjutan' di atas pada dasarnya relatif tidak saling bertentangan secara keseluruhannya. Sekali lagi, hanyalah ada perbedaan pada perubahan sifat zat ruh yang dipisahkan secara amat tegas (pemahaman 'awal') dan amat halus (pemahaman 'lanjutan').

Berbagai hasil pemahaman 'lanjutan' pada tabel-tabel di atas ditunjukkan secara amat sederhana melalui Gambar 9 berikut ini. Dan tentunya letak horisontal garis sumbu kesempurnaan tubuh fisik (batas antara dengan dan tanpa tubuh fisik) relatif tergantung kepada definisi atas tubuh wadah yang sebenarnya pada para makhluk gaib.

Gambar 9: Skema sederhana pengabdian ruh-ruh kepada-Nya

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

17 Balasan ke Bab IV.B Ruh-ruh

  1. imam berkata:

    mohon ijin share artikel: Bab IV.B Ruh-ruh
    Buku: “Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW”

    • Syarif Muharim berkata:

      Silahkan di-share. Mdh2n bisa bermanfaat bagi umat.

      • imamturmudhi berkata:

        terimakasih banyak atas diperkenankannya, Jazakumullah. Amin. Salam ta’aruf.

        • Syarif Muharim berkata:

          Amiin. Buku “Menggapai” mmg sengaja sy serahkan kpd umat, utk disebarkan scra bebas.Insya Allah, hal ini akan bisa terus-menerus berjalan. Krn rasa2x amat berat utk menahan2 a mengkomersialkan pengetahuan ttg kebenaran-Nya. Walau penilaian atas tkt kebenaran isi buku ini, tentunya pasti kembali kpd keyakinan msg2 umat.
          Salam kenal kembali.

  2. Anonymous berkata:

    terimah ksih atas ilmu@

  3. Anonymous berkata:

    saya pernah mendapat info
    1. cara membangkitkan ruh dengan cara dilakukan pewarisan yaitu dengan iztikap dan berzikir sesuai tuntunan yang diberikan,
    2. ada juga tuntunan dilakukan dengan cara memutuskan hukum darah / karma , dimana kita diumpamakan bahwa segala hidup kita sekarang ini karena akibat perbuatan orang2 terdahulu kita (diwariskan) . dengan membangkitkan ruh diharapkan kita bisa jadi bersih dengan adanya ritual zikir dan berkurban, dimana dalam pelaksanaan kurban itu berupa kambing dan dibagikan ke orang miskin
    dalam tuntunan ini ada cara pemutusan hukum darah atw hukum karma dengan sr sukuran motong kambing habis itu kambingnya langsung dikasihin ke yatim piatu semua dimana wktunya itu ditentukan ga bs kapan saja tp nunggu petunjuk dengan cr itikaf nt turun jadwal dari sang guru, dimana dia akan mendapatkan berupa tulisan dikapan tttg semua kejelekan org yng akan di putuskan hukum darahnya.tulisannya tsb akan di tuliskan dikain kapan lalu kain itu nanti disimpn dibwah leher kambing yng akandi potong.lebih kurangnya seperti itu..mohon masukannya

  4. Bala Rama berkata:

    Assalamualaikum Wrwb, salam Kenal Pa Syarif Muharrim,
    Sy mohon idzin tuk download & copas tulisan2 bp baik sbahagian maupun scr parsial, sbg apresiasi & attensi sy thd karya2 bp…jga bnyk yg sy copas tuk dijadikan status dlm fb sy…trim’s idzinnya & jazakumullah…

    • Syarif Muharim berkata:

      Wa ‘alaikum salam Wr. Wb.
      Salam kenal juga pak.
      Silahkan di download dan dicopas. Mdh2an bisa bermanfaat bagi umat. Aamiin.
      Sama2 pak. Juga terima kasih atas apresiasi & attensinya.

  5. assalamualaikum wr wb
    ijin copas kang syarif semoga bermanfaat bagi yang membaca dan semoga mendapatkan pahala bagi penulisnya amin yra

  6. Orang Awam berkata:

    Mohon untuk dijawab dengan jujur..

    Jika seandainya Tuhan memberikan kita kesempatan untuk kita memilih menjadi siapa bagaimana dan dimana dilahirkan ke dunia yang HANYA sekali ini saja, Apakah kita mau memilih untuk dilahirkan di negara atau wilayah yang sedang berperang? setiap harinya diliputi rasa kekhawatiran? atau dilahirkan menjadi orang yang miskin, sengsara, hidup yang sungguh sulit, harus menjadi pemulung atau pengemis, melihat anak kita sakit dan tidak memiliki biaya berobat? Atau dilahirkan dengan cacat fisik, bodoh, buta, atau anggota tubuh yang tidak lengkap?

    Atau kita ingin dilahirkan di tempat yang sejuk dengan alam yang masih indah, di wilayah yang damai tidak ada peperangan, atau dilahirkan di keluarga orang yang berada atau kaya dengan lahir sempurna, memiliki paras cantik atau tampan, pintar? JUJUR yang mana akan kita pilih?

    Apakah Tuhan itu adil?? mengapa ada orang yang dilahirkan dengan penderitaan? dan sebagian lainya dengan kondisi yang berbeda?.. mengapa Tuhan memberikan penderitaan di dunia ini kepada orang-orang tersebut dan yang lainnya mendapatkan kebahagiaan di dunia ini? Apakah alasan dari Tuhan mengapa kita dilahirkan dengan keadaan kita sekarang?

    Tuhan maha adil akan seluruh ciptaanNya, tidak melihat apa agamanya, apa suku bangsanya, siapapun dia tidak terkecuali. Tuhan tidak menciptakan mahluknya dengan sengaja agar masuk neraka, surga tidak diciptakan khusus untuk agama tertentu. Kasihan sekali jika orang-orang non muslim (kafir) walaupun misalnya semasa hidupnya banyak berbuat baik tetapi hanya karena ia tidak beragama islam kemudian ia masuk neraka? jika memang benar demikian mengapa Tuhan menciptakan orang-orang tersebut? yang “sudah pasti” akan masuk neraka? dimana keadilan Tuhan?
    Segala sesuatu mengenai kelahiran dan keadaan kita ke dunia ini adalah hasil dari perbuatan kita sendiri dikehidupan kita kita terdahulu dan bukan karena takdir Tuhan. Baik atau buruknya perbuatan yang dilakukan pasti akan diterima balasannya sekecil apapun itu. karena tuhan adil dalam tugasnya sebagai keadilan tertinggi.
    seseorang yang selalu berbuat baik dalam kehidupan ini, rohnya akan mendapatkan surga dan akan dilahirkan kembali jika masih memiliki perbuatan tidak baik dan demikian pula sebaliknya untuk seseorang yang selalu berbuat jahat.
    kelahiran dari surga adalah orang yang penuh kebahagiaan, sedangkan yag dilahirkan dari neraka penuh dengan kesengsaraan.
    akan tetapi setiap mahluk yang diciptakan pasti ada kelebihan dan kekurangannya walau dilahirkan melalui surga dan neraka. Berapa lama kita akan menikmati hasil kita di surga atau neraka? tergantung besar kecilnya dosa atau pahala kita, namun selama kita masih memiliki dosa, Tuhan akan memberikan kesempatan untuk kita dilahirkan kembali ke dunia untuk memperbaiki dosa-dosa kita tersebut tentunya dengan membawa serta karma dari kehidupan kita sebelumnya, jadi inilah hakekat TUJUAN HIDUP di dunia ini, memperbaiki dosa-dosa yang pernah kita perbuat dengan berbuat sebaik-baiknya dengan harapan kelak menjadi manusia dengan derajat yang lebih tinggi.
    Hendaknya kita sebagai manusia, sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna yang memiliki akal dan budi berpikir bagaimana selalu berbuat baik dengan menuhankan Tuhan sebagai tujuan utama, bukan menuhankan Agama bahkan sampai menghina, melecehkan, menganggap mahluk atau manusia lain dengan derajat yang lebih rendah dan berpikir bahwa kebenaran hanya ada pada mereka, kita semua adalah ciptaan Tuhan dan Tuhan memandang adil semua ciptaanNya.

  7. Anonymous berkata:

    Izin Copas akhii..

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s