Sinopsis

Buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Sebelumnya

Daftar isi

Terbawah

Berikutnya

  

 

CATATAN DAN RINGKASAN BUKU

 

Menggapai Kembali
Pemikiran Rasulullah SAW

(Al-Hikmah yang terlupakan)

 

Tindakan-Nya pada penciptaan manusia
dan alam semesta ini, melalui Sunatullah

 

Suatu kumpulan dan bangunan pemahaman hikmah
atas ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an

 

 

Penulis:

Syarif Muharim

(Alumni Teknik Mesin − KBK Teknik Penerbangan − ITB angkatan 1987)

Alamat Email  :  syarifmuharim@ymail.com

 

 

 

Sarana dan bahan penulisan:

Perangkat lunak  :  MS Word, MS Frontpage, HTML Help Workshop dan UltraEdit-32.

Sumber teks Al-Qur'an  :  "Al-Qur'an.chm" di http://www.kampungsunnah.co.nr.

Sumber teks terjemahan Al-Qur'an  :  "Al-Qur'an dan Terjemahnya" Dep. Agama RI.

 

 

(Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang)

 

Latar-belakang penulisan buku

Tiap kali penulis memperhatikan pembicaraan, perdebatan ataupun bahkan perselisihan amat keras yang terjadi di kalangan umat Islam tentang ajaran-ajaran agama Islam, lebih khususnya lagi antar berbagai aliran-golongan-mazhab. Pada puncaknya, di dalam pikiran penulis sendiri selalu kembali timbul sejumlah besar pertanyaan tentang 'wahyu' (beserta segala hal yang terkait). Hal ini memang telah sejak lama belum terjawab selesai tuntas, minimal menurut ukuran pengetahuan pada penulis sendiri.
Padahal agama Islam dan ajaran-ajarannya justru timbul berdasar keseluruhan wahyu yang telah bisa diperoleh nabi Muhammad saw selama hidupnya, yang lebih dikenal oleh tiap umat Islam sebagai ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Sehingga pemahaman atas wahyu dan segala hal yang terkait dengannya, memang menjadi amat penting. Terutama agar umat Islam benar-benar bisa mengenal atau memahami agamanya sendiri, beserta segala pondasi yang mendasarinya. Pemahaman itu tentunya mestinya telah cukup memadai bisa dimiliki, sebelum memulai tiap perdebatan atas ajaran-ajarannya, apalagi yang bahkan bisa menimbulkan perselisihan amat keras.

Tanpa adanya pemahaman yang cukup memadai tentang 'wahyu', maka segala perdebatan dan perselisihan antar umat Islam tentang ajaran-ajaran agamanya, hampir bisa dipastikan mustahil akan pernah selesai tuntas sampai kapanpun, karena memang menjadi mengambang tidak jelas dan tanpa ujung-pangkal. Sedangkan pemahaman tiap umat Islam sendiri menjadi relatif bersifat parsial (sepotong-sepotong) dan terpisah-pisah. Serta tanpa seluruh pemahamannya yang bisa relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhannya.
Bahkan keterbatasan pemahaman itulah yang telah melahirkan sejumlah aliran-golongan-mazhab di kalangan umat Islam, sampai saat ini. Segala perbedaan pemahaman umat memang suatu hal yang amat alamiah, dan bahkan merupakan suatu bagian dari kekayaan rahmat-Nya. Dimana tiap umat memang bisa mengamalkan ajaran agamanya, sesuai dengan tingkat pemahamannya masing-masing. Namun persoalan mulai timbul, jika ada umat yang bertindak relatif berlebihan atau melampaui batas, termasuk dalam memaksa-maksakan pemahamannya kepada umat lainnya.

Definisi wahyu yang berkembang luas di kalangan umat Islam, seperti "wahyu adalah perintah, sabda, kalam atau firman-Nya yang disampaikan kepada para nabi-Nya, melalui perantaraan malaikat Jibril, dalam bentuk, seperti: penampakan dan perkataan langsung dari malaikat Jibril, visi/penglihatan, ilham/inspirasi, mimpi, dsb". Namun ironisnya, justru relatif amat kurang atau bahkan hampir tidak ada penjelasan lebih lanjutnya, yang cukup lengkap dan mendalam dari para alim-ulama, tentang definisi wahyu itu sendiri.
Penjelasannya pada umumnya justru hanya berupa pengungkapan yang juga relatif amat terbatas, tentang berbagai kejadian luas-biasa yang telah dialami oleh nabi Muhammad saw, saat menerima wahyu. Padahal dalam definisi wahyu itu misalnya, masih mengandung banyak pertanyaan yang juga relatif belum terjawab secara cukup memadai, seperti:

~ Apa hakekat yang sebenarnya dari kenabian dan malaikat Jibril, juga perantaraan, penampakan dan perkataan malaikat Jibril, visi/penglihatan, ilham/inspirasi dan mimpi?;
~ Bagaimana cara Allah berkehendak, bertindak ataupun berbuat di alam semesta ini?.
~ Bagaimana cara Allah memilih/menunjuk dan mengutus para utusan-Nya (para nabi-Nya dan para malaikat Jibril), termasuk cara para nabi-Nya memperoleh kenabiannya?;
~ Apa keistimewaan atau kelebihan yang sebenarnya pada para nabi-Nya, sehingga mereka bisa memperoleh kenabian dan wahyu-Nya?, serta apakah hal ini bukan bentuk perlakuan 'pilih kasih' Allah kepada mereka (tidak dialami oleh seluruh umat manusia lainnya)?;
~ Bagaimana cara dan bentuk interaksi 'langsung' yang sebenarnya, antara Zat Allah dan segala zat makhluk ciptaan-Nya (termasuk para nabi-Nya dan para malaikat Jibril, sebagai utusan-Nya)?;
~ Bagaimana cara dan bentuk interaksi 'langsung' yang sebenarnya, antara para makhluk gaib dan seluruh umat manusia (termasuk antara para malaikat Jibril dan para nabi-Nya)?;
~ Apakah malaikat Jibril pasti hanya mendatangi orang-orang tertentu saja (hanya para nabi-Nya)?, apakah jin, syaitan atau iblis juga pernah mendatangi para nabi-Nya?, serta kapan saja kedatangan mereka?;
~ Apa perbedaan penampakan wujud dari para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis)?, serta bagaimana cara para nabi-Nya bisa mengetahui, bahwa makhluk yang mendatanginya memang malaikat Jibril?;
~ Apa perbedaan antara perkataan dari para malaikat Jibril, dibandingkan dari para jin, syaitan dan iblis?;
~ Jika visi/penglihatan, ilham/inspirasi dan mimpi juga dihasilkan oleh para makhluk gaib, apa perbedaan antara hal-hal yang berasal dari para malaikat Jibril, dibandingkan dari para jin, syaitan dan iblis?;
~ Jika wahyu-Nya memang diturunkan-Nya berupa perkataan, visi/penglihatan, ilham/inspirasi dan mimpi dari para malaikat Jibril, bagaimana cara proses turunnya masing-masing secara lengkap?;
~ Bagaimana cara para nabi-Nya bisa mengetahui, bahwa hal yang disampaikan oleh malaikat Jibril memang wahyu-Nya (bukan hal lainnya)?, atau apa ukuran sebenarnya yang menunjukkan, bahwa sesuatu hal memang pasti berasal dari Allah?;
~ Jika wahyu-Nya memang hanya semata 'didiktekan' langsung oleh para malaikat Jibril kepada para nabi-Nya, bagaimana cara proses pendiktean itu tetap bisa berlangsung, misalnya pada saat tiap nabi-Nya sendiri sama sekali belum memiliki segala pengetahuan dan pengalaman, yang terkait dengan segala sesuatu hal di dalam wahyu-Nya itu?, serta bagaimana cara proses pendiktean melalui visi/penglihatan, ilham/inspirasi dan mimpi?;
~ Jika 'ada', apa saja perbedaan antara wahyu-Nya yang diterima oleh para nabi-Nya (dari para malaikat Jibril), daripada wahyu-Nya yang diterima oleh umatnya?;
~

Jika 'ada' transformasi perubahan 'bentuk' wahyu-Nya (sabda, kalam atau firman-Nya), apa saja macam bentuk wahyu-Nya, dari bentuk awalnya yang sebenarnya 'langsung' dari Allah, sampai ke bentuk akhirnya yang biasa dikenal oleh umat manusia saat ini (termasuk ayat-ayat Al-Qur'an)?;
Sebaliknya jika 'tidak ada' transformasi perubahan 'bentuk' wahyu-Nya, apakah ayat-ayat Al-Qur'an pada saat ini adalah bentuk wahyu-Nya yang sebenarnya 'langsung' dari Allah, terutama pada isi dan susunannya?;

~ Apa kaitan yang sebenarnya antar seluruh wahyu dan kitab-Nya dari para nabi-Nya, sehingga nabi Muhammad saw bahkan juga ikut membenarkan seluruh wahyu dan kitab-Nya dari para nabi-Nya yang terdahulu?, serta kenapa bisa terjadi perbedaan antar wahyu dan kitab-Nya (makin baru, relatif makin sempurna)?;
~ Jika 'ada', apa peranan akal dan keyakinan hati-nurani pada para nabi-Nya, dalam proses turunnya wahyu dan kitab-Nya?, serta apa kaitan antara akal dan keyakinan hati-nurani pada tiap umat manusia?;
~ Jika wahyu-Nya berupa pengetahuan pada para nabi-Nya, apa saja perbedaannya daripada pengetahuan pada umat manusia biasa lainnya, terutama pada isi, susunan dan cara perolehannya?;
~ Dan berbagai pertanyaan terkait lainnya;

 

Selama ini, dengan relatif amat terbatasnya jawaban atas berbagai pertanyaan seperti di atas, dari para alim-ulama dan dari ilmu-pengetahuan pada penulis sendiri, pada akhirnya penulis hanya semata bisa menyerahkan kepada Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Benar, untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas, termasuk sekaligus untuk menjawab segala perdebatan dan perselisihan di kalangan umat tentang ajaran-ajaran agama Islam, terutama yang pasti akan dilakukan-Nya pada Hari Kiamat, dalam menyelesaikan segala ketidak-tahuan, keraguan dan perselisihan umat manusia.
Di lain pihaknya, dengan makin terbuka dan luasnya cakupan komunikasi antar umat Islam di seluruh dunia, melalui sarana internet, justru juga makin jelas dan banyak jumlah perdebatan dan perselisihan di kalangan umat, dari yang amat ringan sampai amat keras, yang bahkan bisa diamati tiap saatnya. Termasuk amat seringnya antar umat Islam dalam saling menuduh sebagai kafir, sesat dan bid'ah di internet. Sarana internet juga makin menunjukkan kenyataan, bahwa pemahaman umat Islam tentang ajaran-ajaran agamanya, memang masih cukup luas mengandung hal-hal yang 'mistis-tahayul', yang sulit bisa diterima oleh akal-sehat. Dengan semua kenyataan ini penulis sendiri mulai beranggapan, bahwa bukan suatu langkah terbaik, jika hanya semata menyerahkan segala sesuatu hal kepada Allah, selama umat Islam memang masih diijinkan-Nya, untuk bisa terus-menerus berusaha memperbaiki tiap keadaannya (termasuk tiap pemahamannya).

Sekali lagi, perbedaan pemahaman umat Islam memang suatu hal yang amat alamiah, dan juga suatu bagian dari kekayaan rahmat-Nya. Bahkan memang mustahil menyatukan atau menyeragamkan pemahaman keseluruhan umat Islam. Namun seperti halnya yang dilakukan oleh para nabi-Nya, dari jaman ke jaman, memang umat manusia mestinya bisa terus-menerus berusaha, untuk makin memperbaiki tiap pemahamannya tentang kebenaran-Nya. Hal ini ditunjukkan dengan relatif makin sempurnanya ajaran dari seorang nabi-Nya, dibandingkan dengan ajaran dari para nabi-Nya terdahulu. Sedangkan di lain pihaknya, "apakah pemahaman umat Islam telah benar-benar relatif 'mendekati' atau 'sesuai' dengan pemahaman nabi Muhammad saw atas wahyu-wahyu-Nya?".
Sehingga amat diharapkan oleh penulis, agar makin lama, mestinya bisa makin banyak pula jumlah titik konvergensi atau titik kesamaan dalam pemahaman keseluruhan umat Islam. Dimana tiap titik konvergensi ini adalah suatu pemahaman yang relatif bisa diterima oleh seluruh kalangan umat Islam, sekaligus memiliki segala dalil-alasan-hujjah yang relatif amat kokoh-kuat dan sulit terbantahkan. Melalui ajaran-ajarannya, bahkan para nabi-Nya justru membawa segala titik konvergensi seperti itu, bagi perbaikan pemahaman umat-umatnya tentang kebenaran-Nya. Bagi umat Islam saat ini, titik konvergensinya tentunya terutama berupa tiap pemahaman atas ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an?".

Dipicu oleh keprihatinan amat kuat penulis, terhadap relatif amat kerasnya berbagai perdebatan dan perselisihan di kalangan umat Islam. Juga terhadap masih relatif amat luasnya berbagai pemahaman umat yang bersifat 'mistis-tahayul'. Sementara relatif tidak ada solusinya masing-masing yang cukup memadai, yang relatif masuk akal dan bisa diterima oleh semua pihak. Dan lebih penting lagi, dipicu oleh berbagai pengalaman rohani-spiritual-batiniah, yang 'kebetulan' telah dialami langsung oleh penulis sendiri, sejak sekitar 6 tahun belakangan ini (sejak sekitar tahun 2005 sampai sekarang ini), terutama dalam berinteraksi dengan para makhluk gaib. Maka penulis merasa amat terpancing untuk berusaha menyusun buku ini, dengan harapan agar bisa menawarkan berbagai solusi bagi pemahaman umat Islam tentang ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an.
Berdasar berbagai pengalaman rohani-spiritual-batiniah langsung di atas, yang sekaligus sambil dicocokkan dengan berbagai keterangan yang terkait dari ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an, akhirnya bisa terbentuk berbagai pengetahuan yang relatif mendasar, tentang hal-hal gaib dan batiniah. Lalu penulis mulai berusaha untuk jauh lebih mendalam lagi dalam bertafakur, agar sebanyak mungkin bisa mengungkap tiap pemahaman Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), 'di balik' teks ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Sekaligus sambil diperbanyak pula jumlah ayatnya yang diungkap, ataupun yang dipakai untuk memperkuat segala dalil-alasan-hujjahnya. Dan sampai saat ini, jumlah ayat pendukung segala pemahaman pada buku ini, telah mencapai ±2900 ayat (hampir setengah dari jumlah seluruh 6236 ayat). Sedangkan lingkup cakupan pemahamannya juga telah relatif cukup luas (baca pula uraian di bawah).

Dan karena cakupan buku ini sengaja hanya dibatasi tentang dasar-dasar pokok aqidah agama Islam, maka dengan sengaja pula penulis hanya membahas ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an, sebagai dasar paling tinggi ajaran agama Islam, yang memang telah lengkap dan sempurna mengungkap dasar-dasar pokok aqidah Islam. Lebih khususnya lagi, cakupan buku ini relatif hanya pada lingkup pembahasan 'ilmu ushulluddin', yang terkadang juga disebut sebagai 'ilmu kalam', 'ilmu tauhid' atau 'ilmu theologi' (ketuhanan). Di lain pihaknya, penulis relatif amat terbatas membahas tentang Sunnah Nabi (Hadits Nabi) dan hasil ijtihad dari para alim-ulama, termasuk pula relatif amat terbatas membahas tentang syariat atau hukum syariat.

Melalui keseluruhan pembahasan pada buku ini, telah berusaha diungkapkan ke-Maha Halus-an berbagai tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini (melalui sunatullah atau Sunnah Allah), dalam bentuk pengungkapan atas berbagai pemahaman Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), terutama lagi yang terkait dengan penciptaan dan berbagai hal lainnya di sekitarnya (terkait secara tidak langsung dengan penciptaan). Sebagian dari pemahaman Al-Hikmah itu telah pula amat ringkas diuraikan di bawah. Di samping itu, disertakan pula berbagai hasil perbandingannya terhadap pemahaman yang terkait, yang diketahui telah berkembang cukup luas di kalangan umat Islam (pada Lampiran D).

Segala pengungkapan itupun selain dilakukan dengan harapan agar umat Islam bisa relatif lebih mudah memahami tentang berbagai tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini dan tentang dasar-dasar pokok aqidah agama Islam, yang memang amat diperlukannya dalam kehidupan beragama. Juga termasuk agar bisa menjawab secara implisit dan eksplisit terhadap berbagai pertanyaan yang cukup mendasar seperti di atas. Serta agar relatif bisa menawarkan solusi, bagi berbagai hal yang sering menjadi sumber perdebatan dan perselisihan antar aliran-golongan-mazhab di kalangan umat Islam.

Lebih khususnya lagi, agar bisa membantah berbagai 'mistis-tahayul' pada pemahaman umat Islam, yang memang amat sulit bisa diterima oleh akal-sehat. Berbagai 'mistis-tahayul' itu pada umumnya terkait secara langsung ataupun tidak, dengan tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini, yang memang bersifat 'gaib' (tidak nyata kentara atau tersembunyi). Namun dengan telah relatif dipahaminya berbagai tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini, berbagai 'mistis-tahayul' itupun diharapkan bisa relatif makin berkurang dan bahkan menghilang sama sekali.
Agama Islam pada dasarnya agama yang 'rasional' dan 'universal', yang pasti sesuai dengan tiap kebenaran-Nya di alam semesta ini. Sebagian dari ajaran agama Islam memang relatif 'SULIT' bisa dicapai oleh akal sebagian umat, namun justru 'BUKAN MUSTAHIL' bisa dicapainya sama sekali. Bahkan agama Islam pada dasarnya 'MUSTAHIL DIIKUTI' oleh umat, jika ajaran-ajarannya memang 'TIDAK MASUK AKAL' sama sekali. Dan juga agama Islam pada dasarnya sama sekali 'BUKAN' terlahir dan berkembang, melalui segala bentuk 'mistis-tahayul'.

Tentunya segala pemahaman Al-Hikmah pada penulis yang telah terungkap pada buku ini, pasti tetap hanya bersifat 'relatif' dan 'subyektif' menurut penilaian pribadi penulis, maka belum tentu telah persis sama dengan berbagai kebenaran-Nya yang terkait di alam semesta ini, yang bersifat 'mutlak', 'kekal' dan 'universal'. Serta juga belum tentu telah benar-benar sesuai dengan pemahaman pada nabi Muhammad saw, atas wahyu-wahyu-Nya yang telah diperolehnya. Walau penulis telah pula berusaha semaksimal mungkin untuk bisa makin 'mendekatinya', dengan cara menyertakan segala dalil-alasan-hujjah yang seobyektif mungkin, dan terutama berdasar ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Juga dengan membentuk "bangunan pemahaman" yang telah tersusun relatif mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhan, termasuk tersusun relatif saling terkait, ilmiah, sistematis dan terstruktur.
Di samping tentunya, karena hanya Allah pemilik segala kebenaran dan kesempurnaan yang 'mutlak', sedang hanya penulis sendiri pemilik segala keterbatasan, kekurangan, kekeliruan dan kesalahan pada buku ini.

Bahan-bahan untuk bisa relatif makin 'mendekati' pemahaman pada Nabi, tentunya idealnya berupa segala risalah yang diwariskan oleh Nabi, beserta segala risalah, catatan, keterangan dan penjelasan yang terkait lainnya, antara-lain: kitab suci Al-Qur'an (tafsir ataupun terjemahannya); kitab-kitab hadits; hasil ijtihad dari para alim-ulama sejak jaman dahulu sampai sekarang; catatan atas turunnya ayat-ayat Al-Qur'an (Asbabun Nuzul); catatan sejarah umat-umat pada jaman Nabi, termasuk budaya dan bahasanya; kisah-kisah para nabi-Nya dan umat terdahulu; dsb.
Bahan lainnya yang justru amat penting, yang disebut "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya" di alam semesta ("ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis"), yang berupa segala hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian (lahiriah dan batiniah) di alam semesta ini. Dan untuk bisa memahaminya, tentunya diperlukan penguasaan ilmu-pengetahuan yang cukup memadai, dalam berbagai bidang.

Tentunya pasti tetap kembali kepada keyakinan dan penilaian masing-masing umat Islam, untuk bisa memilih-milih segala bentuk pemahaman yang dianggapnya relatif 'lebih benar', baik yang telah ada berkembang cukup luas di kalangan umat, maupun yang ada pada buku ini. Tugas dan kewajiban penulis khususnya, serta seluruh umat Islam umumnya, pada dasarnya hanya berusaha untuk menyampaikan pemahaman yang telah diketahui dengan relatif amat pasti dan yakin, dengan sebaik-baiknya, sekaligus pula sambil terus-menerus berusaha untuk mau menerima dan memperbaiki tiap pemahamannya, jika ada diketahui pemahaman yang relatif 'lebih benar' segala dalil-alasan-hujjahnya.
Idealnya lagi tentunya, jika tiap pemahaman yang telah dimiliki oleh tiap umat Islam, tidak terpisah-pisah dari seluruh pemahamannya lainnya, tentang ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Tetapi 'seluruh' pemahamannya telah berupa suatu "bangunan pemahaman" yang tersusun relatif konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhan. Makin idealnya lagi, jika relatif lengkap dan mendalam. Karena kandungan isi kitab suci Al-Qur'an memang menyangkut seluruh aspek kehidupan umat manusia, serta memang saling terkait utuh (relatif hampir tidak ada celah-celah yang tidak diungkapkan dalam kitab suci Al-Qur'an). Pemahaman yang utuh dan menyeluruh seperti ini bisa membentuk keyakinan batiniah tiap umat Islam, yang juga relatif amat kokoh-kuat dan tidak parsial (sepotong-sepotong), tentang kitab suci Al-Qur'an.

Harap maklum apabila tiap Al-Hikmah pada dasarnya relatif hanya cocok bagi umat-umat yang cukup berilmu saja, terutama agar tidak menimbulkan 'kebingungan' dan 'kekagetan' bagi umat pada umumnya. Karena tiap Al-Hikmah memang relatif bisa berbeda daripada hal-hal yang biasanya bisa dipahami secara sekilas dan langsung, dari teks ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Walau pada tingkat 'hakekatnya' justru tetap sama, jika Al-Hikmah-nya memang telah relatif 'benar'.
Dan meskipun telah memahami berbagai Al-Hikmah, umat yang berilmu mestinya tetap beriman kepada kitab suci Al-Qur'an (termasuk mestinya beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat), sebagai kitab pengajaran dan tuntunan-Nya yang paling lengkap dan sempurna bagi seluruh umat manusia (QS.3:7). Walau ayat-ayat yang mutasyabihat justru mengandung hal-hal yang gaib yang uraiannya banyak berupa "contoh-perumpamaan simbolik" (hanya semata analogi, bukan gambaran sebenarnya). Dan berbagai Al-Hikmah tentunya termasuk hasil pengungkapan atas hal-hal yang sebenarnya, dalam "contoh-perumpamaan simbolik" tersebut.

 

 

Sinopsis / ringkasan isi buku

Bahwa penciptaan seluruh alam semesta dan segala isinya, termasuk di dalamnya penciptaan manusia dan kehidupannya, merupakan hasil perwujudan dari Fitrah Allah (surat Ar-Ruum ayat 30). Dan dengan Fitrah itu pulalah, Allah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, telah menciptakan segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya (agama-Nya yang lurus), yang berupa ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis (tanda-tanda kekuasaan dan kemuliaan-Nya), yang ada terdapat di seluruh alam semesta ini.

Segala penciptaan itupun bertujuan, agar seluruh umat manusia yang dipilih-Nya sebagai khalifah-Nya (penguasa) di muka bumi (di dunia), tidak berjalan kehilangan arah-tujuan, dengan hanya bermodalkan daya dan akalnya semata. Agar ia bisa mencari dan mengenal Allah, Tuhan Yang telah menciptakannya. Dan agar ia bisa kembali dekat ke hadapan 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung, dengan mengikuti agama-Nya atau jalan-Nya yang lurus, sebagai suatu keredhaan-Nya bagi kemuliaan umat manusia itu sendiri.

Ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis itu juga biasa disebut sebagai "Al-Qur'an yang berbentuk gaib", yang telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya. Sedang ayat-ayat-Nya yang tertulis (kitab-kitab tauhid), merupakan sekumpulan besar wahyu-Nya pada tiap nabi-Nya yang terkait, yang berupa segala hasil 'rangkuman' pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), dari mempelajari ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis itu, sekaligus sambil dituntun pula oleh para malaikat Jibril. Dan kitab-kitab tauhid itupun lalu menjadi sumber pengajaran dan tuntunan-Nya yang bersifat relatif lengkap, sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, bagi seluruh umat manusia pada tiap jamannya masing-masing.

Segala kehendak dan tindakan-Nya bagi alam semesta ini, justru tidak pernah berubah sejak saat awal penciptaannya, yang perwujudannya melalui aturan-Nya (atau sunatullah), yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian yang bersifat mutlak (pasti terjadi) dan kekal (pasti konsisten). Juga bersifat amat sangat teratur, alamiah, halus, tidak kentara ataupun seolah-olah terjadi begitu saja.

Namun jika memahami ke-Maha Sempurna-an dari segala proses penciptaan alam semesta, yang juga hanya menggunakan dua unsur paling elementer, yaitu 'Atom' (nyata dan mati) dan 'Ruh' (gaib dan hidup). Maka sesuatu yang mampu bertindak begitu pasti hanya Allah semata, Tuhannya alam semesta, Yang Maha Esa, Maha Pencipta dan Maha Sempurna.

Melalui pembahasan pada buku ini telah dicoba diungkapkan ke-Maha Halus-an berbagai tindakan-Nya, terutama yang terkait dengan penciptaan alam semesta ini. Agar bisa relatif lebih mudah dipahami oleh tiap umat Islam pada umumnya. Sekaligus diungkapkan berbagai hikmah dan hakekat yang terkait lainnya di sekitarnya (tidak terkait langsung dengan penciptaan). Beserta perbandingannya terhadap berbagai pemahaman, yang telah diketahui berkembang luas di kalangan umat Islam (pada Lampiran D).

 

 

Lingkup cakupan isi buku

Keseluruhan pemahaman Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya) yang telah terungkap pada buku ini, pada dasarnya hanya mencakup tentang dasar-dasar pokok aqidah agama Islam, ataupun hanya pada lingkup pembahasan ilmu ushulluddin (ilmu kalam, ilmu tauhid atau ilmu theologi), beserta hal-hal yang terkait di sekitarnya.

Lebih lengkapnya, hal-hal yang terungkap atau relatif bisa terjawab pada buku ini, antara lain:

~ Bagaimana cara Allah berkehendak, bertindak dan berbuat di alam semesta ini;
~ Apa hakekat dari kebebasan, kehendak, perbuatan dan daya tiap manusia, serta kaitannya dengan kehendak, perbuatan dan daya Allah;
~ Bagaimana proses dari tiap amal-perbuatan manusia, serta proses pemberian balasan-Nya secara setimpal, atas tiap amalan itu;
~ Bagaimana cara Allah berlaku 'adil' bagi segala makhluk-Nya, sesuai tugas-amanat dan amal-perbuatannya masing-masing (dari segala jenis zat makhluk, lama usia hidup, tingkat pengetahuan & kesadaran, beban tanggung-jawab, kedudukan & keadaan lahiriah, dsb);
~ Apa hakekat dari Qadla dan Qadar-Nya (takdir-Nya), dan bagaimana cara Allah menentukan takdir-Nya (nasib) bagi tiap zat makhluk-Nya, serta bagaimana cara tiap manusia bisa berusaha 'memilih' takdir-Nya (mustahil bisa 'mengubahnya');
~ Bagaimana cara Allah berkehendak menurunkan mu'jizat-Nya bagi para nabi-Nya, memberikan rejeki-Nya, menimpakan azab-Nya, menentukan kematian, dsb;
~ Apa hakekat dari agama dan kitab-Nya (agama dan kitab tauhid), serta kaitannya dengan Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji dan mulia Allah);
~ Bagaimana cara Allah bertindak menurunkan wahyu, kitab dan agama-Nya;
~ Bagaimana transformasi perubahan bentuk kitab dan wahyu-Nya, dari bentuknya langsung dari Allah, sampai bentuknya yang biasa dikenal saat ini oleh umat Islam (Al-Qur'an dan ayat-ayatnya);
~ Bagaimana cara Allah memelihara kitab suci Al-Qur'an;
~ Apa kaitan antara alam semesta ini, pengetahuan dan wahyu-Nya, akal, hati-nurani dan pengetahuan para nabi-Nya, serta kaitannya dengan para makhluk gaib-Nya (terutama malaikat mulia Jibril);
~ Apa kaitan antara pengetahuan, Al-Hikmah, kenabian, dan Al-Kitab (Al-Hikmah yang terungkap, melalui kitab-kitab-Nya dan sunnah-sunnah para nabi-Nya);
~ Apa hakekat dari 'hijab-tabir-pembatas' antara Allah dan tiap makhluk-Nya, serta kaitannya dengan pengetahuan 'mutlak' Allah di alam semesta dan pengetahuan 'relatif' manusia;
~ Apa hakekat dari 'Arsy-Nya, yang amat mulia dan agung, serta kaitannya dengan pengetahuan pada Allah dan manusia;
~ Apa hakekat dari kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, serta berbagai hal yang tercatat di dalamnya;
~ Apa hakekat dari 'kembali' ke hadapan 'Arsy-Nya (bagi 'zat' ruh di Hari Kiamat, dan bagi 'keadaan batiniah' ruh selama di kehidupan dunia ini), serta kaitannya dengan peristiwa 'Isra Mi'raj, yang dialami oleh Nabi;
~ Apa hakekat dari 'sunatullah' (sunnah Allah atau perbuatan Allah, lahiriah dan batiniah), serta kaitannya dengan hukum alam (lahiriah) dan segala pengetahuan pada manusia;
~ Apa kaitan antara sunatullah dan segala zat ruh ciptaan-Nya (terutama zat ruh para malaikat), serta apa kaitan antara zat ruh makhluk-Nya dan materi-benda mati;
~ Bagaimana cara memahami sifat-sifat Allah, serta berbagai persoalan dalam memahaminya (termasuk yang telah menimbulkan segala bentuk kemusyrikan);
~ Bagaimana Allah bertindak mengutus para nabi dan rasul utusan-Nya;
~ Apa hakekat dari 'kenabian terakhir' pada nabi Muhammad saw, serta hakekat dari agama Islam dan Al-Qur'an sebagai agama dan kitab tauhid terakhir;
~ Bagaimana kemustahilan atas turunnya 'nabi baru', setelah nabi Muhammad saw;
~ Bagaimana kemustahilan anggapan atas turunnya nabi Isa as dan Imam Mahdi, 'pada Hari Kiamat', serta apa hakekat dari dibangkitkan-Nya hidup kembali nabi Isa as, nabi Yahya as dan seluruh manusia lainnya, 'pada Hari Kiamat';
~ Apa hakekat dari ruh, fitrah dan hati-nurani manusia;
~ Apa sifat-sifat dari zat ruh makhluk-Nya, serta elemen-elemennya (akal, nafsu, hati/kalbu, hati-nurani, catatan amalan, dsb);
~ Bagaimana proses berpikir manusia, serta bagaimana cara akalnya mengendalikan semua elemen ruh lainnya (akal sebagai pengendali satu-satunya);
~ Apa kekeliruan atau kesalahan pada teori 'reinkarnasi';
~ Bagaimana pengabdian segala zat ruh makhluk-Nya kepada-Nya, serta hambatan atas pengabdiannya itu, dari adanya kehidupan dunia (fisik-lahiriah-nyata);
~ Apa hakekat dan tujuan dari diciptakan-Nya kehidupan dunia, yang bersifat fana;
~ Apa hakekat dari penunjukan umat manusia sebagai 'khalifah-Nya' (penguasa) di muka Bumi (dunia), serta apa kelebihan dan kekurangan manusia dibanding segala makhluk-Nya lainnya;
~ Apa hakekat dari kehidupan akhirat (termasuk kehidupan di surga dan di neraka pada Hari Kiamat), serta kaitannya dengan kehidupan batiniah ruh tiap manusia di dunia;
~ Apa hakekat dari Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian di sekitarnya (kebangkitan; pertemuan, pengumpulan; penyaksian; penghisaban; pengadilan, pemutusan dan pembalasan), serta kaitannya dengan kematian atas tiap makhluk-Nya (termasuk manusia);
~ Apa hakekat dari 'syafaat', serta kaitannya dengan amal-perbuatan tiap manusia, pengajaran-Nya dan proses penyaksian pada Hari Kiamat;
~ Apa hakekat dari 'mau dan tidak mau' bersujudnya para makhluk gaib kepada Adam (khususnya para malaikat dan iblis), pada saat awal penciptaan Adam;
~ Bagaimana 'wujud asli' dari para makhluk gaib, yang amat cerdas itu, serta tugas-amanatnya masing-masing yang diberikan-Nya;
~ Apa hakekat dari pengelompokan para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis), serta kaitannya dengan keseimbangan segala pengajaran-Nya dan ujian-Nya secara batiniah bagi manusia;
~ Apa hakekat dari 'ilham', 'bisikan' atau 'godaan' dari para makhluk gaib, pada alam batiniah ruh tiap manusia;
~ Bagaimana cara berinteraksi antara para makhluk gaib dan manusia (terutama melalui 'bisikan suara' dari para makhluk gaib), pada interaksi secara 'terselubung atau tersembunyi', dan secara 'terang-terangan';
~ Apa kaitan antara 'Ruh', 'Atom'/'materi terkecil' dan 'Energi', sebagai elemen paling dasar penyusun keseluruhan alam semesta ini;
~ Bagaimana proses-proses awal penciptaan alam semesta ini, sesuai konsep kosmogoni dan kosmologi di dalam ajaran agama Islam;
~ Apa kekeliruan-kesalahan teori ilmuwan barat, tentang asal-muasal kehidupan makhluk di Bumi, serta apa kekeliruan-kesalahan teori 'big bang', teori 'evolusi' ataupun teori 'anti-materi';
~ Bagaimana proses dan siklus ringkas dalam penciptaan makhluk hidup nyata, dari benih dasar tubuh wadah (tanah liat kering dari lumpur berwarna hitam, dan air mani);
~ Bagaimana proses ringkas dalam penciptaan nabi Adam as, Hawa, nabi Isa as, dan manusia pada umumnya, serta berbagai kasus khusus dalam penciptaannya;
~ Apa kaitan antara syariat, pengalaman rohani-moral-spiritual, akhlak dan keadaan kehidupan akhirat (keadaan alam batiniah ruh);
~ Apa hakekat dari 'jalan hidup' tiap manusia dan 'jalan-Nya yang lurus';
~ Apa hakekat dari 'ujian-Nya' (lahiriah dan batiniah), serta batas kemampuan manusia dalam menghadapinya;
~ Dan masih banyak lagi;

 

Dalam proses pencapaian seluruh pemahaman Al-Hikmah pada buku ini, telah didukung pula oleh sejumlah ±2900 ayat-ayat Al-Qur'an (terutama di dalam Lampiran E, dan sebagian lainnya langsung di bagian pembahasan buku ini), untuk bisa memperkuat segala dalil-alasan-hujjahnya. Seluruh pemahaman Al-Hikmah itu sekaligus pula disusun menjadi suatu "bangunan pemahaman", yang relatif amat konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhannya. Sehingga buku ini bukan hanya sekedar suatu ensiklopedia atau kumpulan hikmah, tetapi seluruh pemahaman Al-Hikmah di dalamnya memang diusahakan semaksimal mungkin bisa saling terkait secara utuh dan menyeluruh.

Pada buku ini juga disertakan suatu metoda, agar tiap umat Islam bisa memperoleh kembali berbagai pemahaman Al-Hikmah, 'di balik' teks ayat-ayat Al-Qur'an. Terutama karena tiap pemahaman Al-Hikmah adalah pemahaman yang relatif paling tinggi tentang sesuatu hal, yang bisa dicapai oleh umat manusia. Di samping itu, ada pula suatu metoda yang cukup sederhana, agar umat bisa menyusun "bangunan pemahaman" seperti di atas. Dan tentunya makin baik lagi, jika seluruh pemahamannya bisa relatif makin lengkap dan mendalam, yang bisa diperoleh jika telah dimiliki pengalaman rohani-spiritual-batiniah langsung yang relatif makin banyak, luas dan lengkap.
Metoda penyusunan "bangunan pemahaman" tersebut mungkin hanya salah-satu saja, dari sejumlah metoda lainnya yang dipakai di kalangan umat Islam, yang juga bertujuan serupa. Terutama untuk bisa menata seluruh pemahaman pada tiap umat Islam, menjadi lebih baik sebagai satu-kesatuan yang utuh dan menyeluruh. Misalnya menjadi relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhannya. Dan metoda seperti inipun tentunya amat diperlukan, misalnya agar pemahaman tiap umat tidak bersifat parsial (sepotong-sepotong), terpisah-pisah, tidak konsisten ataupun saling bertentangan, seperti yang relatif umum terjadi. Ternasuk agar tiap umat tidak hanya semata mendasarkan pemahamannya kepada ajaran-ajaran para nabi-Nya, tanpa memiliki pemahaman yang cukup memadai atas ajaran-ajaran itu sendiri (tanpa memahami berbagai dalil-alasan-hujjah dan penjelasannya).

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an?. Kalau sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya." – (QS.4:82).

 

"… Maka tatkala Rasul (Muhammad) itu datang kepada mereka, dengan membawakan bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: 'Ini adalah sihir yang nyata'." – (QS.61:6) dan (QS.7:105).

"Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka, telah mendustakan (para rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat, (atas) orang-orang yang zalim itu." – (QS.10:39) dan (QS.39:32-33, QS.43:86, QS.29:68, QS.23:70-71).

"Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran, dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya)." – (QS.37:37) dan (QS.5:48, QS.17:81, QS.34:49, QS.2:91, QS.2:213, QS.7:181-182, QS.7:53).

 

 

Pemahaman 'tekstual-harfiah' vs 'hikmah dan hakekat'

Sebagian umat Islam yang memahami ajaran-ajaran agama-Nya secara 'tekstual-harfiah' (bukan memahami hikmah dan hakekatnya), pada dasarnya tidak mau mengakui, bahwa melalui pemahaman secara 'tekstual-harfiah' itu, justru banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang menjadi seolah-olah tampak 'saling bertentangan', secara keseluruhan. Maka bukan hanya sekedar Hadits Nabi dan ijtihad dari para alim-ulama terdahulu saja, yang seolah-olah tampak 'saling bertentangan'.
Adanya saling pertentangan tersebut bahkan terjadi 'di luar' pengaruh dari keberadaan hadist-hadits palsu dan dari keberadaan berbagai pemahaman yang memang keliru dari sebagian para alim-ulama terdahulu.

Pemahaman yang 'saling bertentangan' umumnya bisa terjadi, karena teks-teks ajaran agama-Nya memang kurang lengkap menggambarkan segala 'konteks keadaan' umat dan penyampaiannya. Relatif serupa pula pada kitab Asbabun Nuzul (sejarah turunnya ayat-ayat Al-Qur'an), yang juga belum sempurna. Hal yang lebih utama lagi tentunya, karena kurang lengkap menggambarkan 'maksud' dan 'isi pikiran' yang sebenarnya, pada para penyampainya (terutama tentang hal-hal gaib dan batiniah), termasuk akibat keterbatasan bahasa lisan dan tulisan untuk mengungkap segala sesuatu isi pikiran.
Maka makna 'tekstual-harfiah' dari tiap ajaran agama, yang biasanya dipahami secara langsung dan sekilas sehari-harinya oleh tiap umat, juga relatif kurang bisa menunjukkan 'makna yang sebenarnya', dan maknanyapun juga relatif paling sederhana. Bahkan antar berbagai ayat Al-Qur'an dan Hadits amat mudah tampak seolah-olah 'saling bertentangan', jika tiap 'konteks keadaan' yang melatar-belakanginya belum benar-benar bisa dipahami.

Dalam hal-hal gaib dan batiniah, bahkan 'konteks keadaannya' memang relatif amat sulit dan rumit pula untuk bisa diungkapkan. Terutama karena hal-hal ini memang bukan hal-hal yang bisa mudah dipahami oleh tiap umat manusia pada umumnya. Tidak mengherankan jika dalam ayat-ayat Al-Qur'an, hal-hal gaib dan batiniah itu justru amat banyak diungkapkan dengan menggunakan segala bentuk "contoh-perumpamaan simbolik". Walau biasanya ada sejumlah amat terbatas ayat-ayat Al-Qur'an, yang juga menjelaskan maknanya yang sebenarnya (hikmah dan hakekatnya), secara langsung dan amat ringkas.
Tiap "contoh-perumpamaan simbolik" itu tentunya pasti bukan hal yang sebenarnya. Namun hanya sebagai sarana untuk meringkas dan memudahkan penjelasan atas hal-hal gaib dan batiniah, khususnya bagi umat-umat yang awam. Agar umat relatif bisa lebih mudah merasakannya secara 'tidak langsung', atas hal yang sebenarnya dimaksudkan di balik "contoh-perumpamaan simbolik" itu. Jika umat telah relatif cukup memadai memiliki segala pengalaman rohani-batiniah-spiritual yang terkait, atas ijin-Nya, tentunya umat juga relatif bisa memahami hal yang sebenarnya tersebut.

Namun jika dipaksakan untuk mengambil makna 'tekstual-harfiah' dari "contoh-perumpamaan simbolik" dalam suatu ayat Al-Qur'an, sebagai maknanya yang sebenarnya. Maka relatif hampir bisa dipastikan, makna ini bisa saling bertentangan dengan makna dari ayat-ayat Al-Qur'an yang terkait lainnya (baik terhadap makna yang sebenarnya ataupun bahkan terhadap makna 'tekstual-harfiahnya'). Dan makna yang sebenarnya juga biasa disebut sebagai "makna hikmah dan hakekat".
Dan makna yang bisa relatif makin 'mendekati' makna yang sebenarnya, yang dimaksudkan atau dipahami oleh nabi Muhammad saw atas wahyu-wahyu-Nya yang disampaikannya, mestinya hanya bisa diperoleh kembali melalui pemahaman yang utuh, menyeluruh dan obyektif, atas seluruh teks ajaran agama Islam yang terkait, beserta segala penjelasannya, serta sekaligus pula sambil didukung oleh berbagai pengalaman rohani-batiniah-spiritual yang terkait. Pemahaman hikmah dan hakekat seperti ini juga mestinya bisa menghilangkan 'banyaknya' makna dan penafsiran atas sesuatu hal tertentu (terutama tentang hal-hal yang gaib dan batiniah), sehingga juga menjadi relatif lebih 'konsisten' dan 'tidak saling bertentangan'.

Walau masih untung atau amat positif, jika sebagian umat juga masih meyakini Al-Qur'an sebagai suatu 'kitab suci'. Tetapi dengan pemahaman 'tekstual-harfiahnya', mereka pada dasarnya justru telah banyak mengurangi kesucian Al-Qur'an itu sendiri. Karena mereka justru kurang memakai Al-Qur'an secara 'utuh' dan 'menyeluruh', sebagai dasar acuan utama bagi keseluruhan pemahaman mereka. Kalaupun Al-Qur'an dipakai, mereka justru hanya memilih-milih ayat tertentu, yang terasa menguntungkan pemahamannya. Sedangkan ayat-ayat yang terkait lainnya yang bertentangan dengan pemahamannya, justru sengaja 'diabaikan' dan 'disembunyikan'. Bahkan lebih ekstrimnya lagi, jika 'tidak diakuinya' kebenarannya. Na'udzubillah.
Juga makin parah, jika mereka sama sekali tidak mau berusaha memperbaiki segala pemahamannya (karena telah dianggapnya 'paling benar'). Perbaikan ini bahkan mestinya terus-menerus dilakukannya, 'minimal' sampai bisa ditemukannya segala pemahaman, yang justru bisa mengarahkan kepada kesimpulan, bahwa seluruh ayat kitab suci Al-Qur'an memang sama sekali tidak ada yang 'saling bertentangan'. Tanpa adanya perbaikan seperti itu, maka secara tidak langsung atau tanpa disadari, justru nilai kebenaran dari seluruh pemahaman mereka, dianggapnya relatif lebih tinggi daripada seluruh ayat kitab suci Al-Qur'an itu sendiri. Na'udzubillah.

Selain itu pula, merekapun biasanya lebih banyak memakai Hadits Nabi dan ijtihad dari para alim-ulama terdahulu, daripada memakai ayat-ayat Al-Qur'an, sebagai sumber dalil-alasan-hujjah untuk bisa mendukung tiap pemahaman mereka. Padahal sebagian dari teks-teks Hadits Nabi dan risalah ijtihad, justru relatif bisa diragukan keotentikan dan kebenarannya. Sedangkan teks ayat-ayat Al-Qur'an justru tidak pernah berubah atau tetap otentik, sejak disampaikan oleh nabi Muhammad saw, sampai sekarang. Dan tentunya, Al-Qur'an adalah kitab suci dan dasar tertinggi ajaran agama Islam.
Dengan mengetahui kenyataan, bahwa seluruh Hadits Nabi ditulis setelah wafatnya Nabi, juga oleh para alim-ulama terdahulu, serta sama sekali tidak berasal langsung dari Nabi sendiri, yang memang melarang penulisan Hadits Nabi. Maka merekapun pada dasarnya amat bergantung kepada sekelompok tertentu para alim-ulama terdahulu, yang pemahamannya dianggap relatif paling sesuai atau cocok. Sebaliknya mereka amat terbatas bergantung kepada berbagai pemahaman yang diperolehnya sendiri, dari hasil mempelajari kitab suci Al-Qur'an dengan memakai akal dan keyakinan hati-nuraninya. Bahkan mereka biasanya amat mempertentangkan antara akal dan agama.

Segala bentuk pemahaman umat manusia atas berbagai kebenaran-Nya di alam semesta ini, pada dasarnya pasti bersifat 'relatif' (termasuk pemahaman para nabi-Nya). Namun pemahaman para nabi-Nya justru 'relatif paling sempurna' di antara pemahaman seluruh umat manusia lainnya pada jamannya masing-masing. Karena telah bisa tersusun relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhannya. Serta telah terungkapkan melalui kitab-kitab-Nya dan sunnah-sunnah para nabi-Nya. Dan pemahaman mereka juga bisa menjawab hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah), termasuk tentang Allah, sifat dan kehendak Allah, tujuan dari penciptaan alam semesta ini, beserta tujuan dari penciptaan kehidupan umat manusia di dalamnya, alam akhirat, Hari Kiamat, dsb.
Maka pada dasarnya tidak ada sesuatu pemahaman yang 'pasti benar'. Namun yang ada dan mestinya selalu terus menerus dicari sampai akhir jaman, adalah pemahaman yang 'makin baik, benar atau sempurna'. Dan juga tentunya mestinya berpatokan pada pemahaman para nabi-Nya, yang memang telah 'relatif paling sempurna', atas hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki tersebut. Sehingga keseluruhan umat Islam juga mestinya berusaha semaksimal mungkin, untuk bisa makin 'mendekati' pemahaman pada para nabi-Nya atas berbagai kebenaran-Nya, khususnya pemahaman nabi Muhammad saw sebagai nabi-Nya yang terakhir, 'di balik' teks ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an dan kitab Hadits Nabi. Di samping berusaha mengungkap berbagai kebenaran-Nya lainnya di alam semesta ini, sesuai dengan perkembangan ilmu-pengetahuan.

Dan segala kebenaran-Nya di seluruh alam semesta ini (ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis) memang mustahil akan bisa dituliskan dengan tinta sebanyak 'beberapa samudera'. Serta mustahil bisa terungkap tuntas semuanya oleh umat manusia, bahkan sampai akhir jaman. Karena itulah telah dijanjikan-Nya dalam kitab suci Al-Qur'an, bahwa segala kebenaran-Nya pasti dibukakan-Nya pada Hari Kiamat, untuk bisa menjawab segala keraguan, ketidak-tahuan dan perselisihan umat manusia.

 

 

Kelebihan dari buku keagamaan lainnya

Secara umum buku ini relatif amat berbeda dan memiliki berbagai kelebihan, antara-lain karena berbagai tulisan dan buku agama Islam lainnya, misalnya:

Cukup jarang yang mau mengakui, bahwa segala petunjuk atau wahyu-Nya pada para nabi-Nya, justru berupa pengetahuan (pemahaman) mereka atas berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di alam semesta ini (Al-Hikmah). Hal ini tentunya pasti melalui pengunaan 'akal' mereka, sambil dituntun oleh malaikat Jibril, yang memberikan mereka segala bentuk ilham yang mengandung nilai-nilai kebenaran-Nya, melalui alam batiniah ruhnya (alam pikiran atau alam akhiratnya).

Tentunya cukup jarang pula yang mau mengakui, bahwa para nabi-Nya justru adalah orang-orang yang berilmu-pengetahuan relatif paling tinggi di antara seluruh umat manusia pada tiap jamannya, terutama dalam menguasai berbagai pengetahuan, tentang hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia, yang sebagian besarnya justru berupa hal-hal yang gaib dan batiniah.

Para nabi-Nya itu juga relatif amat banyak memiliki pengalaman hidup (termasuk dalam mengamati, mencermati dan mempelajari tanda-tanda kekuasaan dan kemuliaan-Nya di lingkungan sekitarnya), relatif amat banyak pengalaman rohani-spiritual-batiniah, dan bahkan relatif amat senang menyendiri untuk bisa bertafakur (memikirkan tiap kebenaran-Nya di alam semesta ini).

Dan segala hal yang dipahami oleh para nabi-Nya itu (wahyu-wahyu-Nya), bukan turun begitu saja 'dari langit'. Namun justru dari hasil usaha mereka yang relatif 'amat keras dan setimpal', di dalam mengenal Allah Tuhannya alam semesta ini, atau di dalam memahami berbagai kebenaran-Nya. Sekaligus tentunya mereka juga telah relatif 'amat konsisten', di dalam mengamalkan segala pemahamannya itu.

Cukup jarang yang berdasar berbagai pemahaman yang tersusun pada sesuatu 'bangunan pemahaman' yang konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya, atas berbagai Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya) 'di balik' teks ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an dan hadits Nabi (Al-Kitab).

Para ahli tafsir dan ahli ijtihad juga mestinya telah memiliki 'bangunan pemahaman' seperti ini, tetapi relatif amat jarang pula dari mereka, yang telah mengungkapnya secara 'utuh' melalui tulisan atau buku.

Hal yang biasanya terjadi, berbagai pemahaman mereka justru disampaikan melalui 'banyak' tulisan atau buku. Sehingga aspek-aspek konsistensi, keutuhan dan tidak saling bertentangannya secara keseluruhan pemahamannya, menjadi relatif sulit diketahui, kecuali jika semua tulisan atau buku mereka telah dibaca.

Cukup jarang yang relatif cukup lengkap dan saling 'mengaitkan' antar banyak aspek dalam kitab suci Al-Qur'an, seperti: Allah; sifat-sifat Allah; alam semesta; atom dan ruh; segala zat ciptaan dan segala zat makhluk-Nya; alam nyata-dunia-lahiriah dan gaib-akhirat-batiniah; Hari Kiamat; amal-perbuatan makhluk; akhlak; pahala dan beban dosa; ujian-Nya; syariat dan pengalaman rohani-batiniah-spiritual; ilmu, Al-Hikmah, kenabian dan Al-Kitab; takdir-Nya atau Qadla dan Qadar-Nya; syafaat; agama-Nya; wahyu-Nya; nabi dan rasul utusan-Nya; kebebasan makhluk-Nya; hukum alam dan sunatullah; mu'jizat, ayat-ayat-Nya; azab-Nya; dsb.

Cukup jarang yang relatif 'sistematis' bisa menjelaskan berbagai tindakan yang Maha Halus dari Zat Allah, serta berbagai tindakan ruh-ruh zat makhluk-Nya di alam semesta ini (makhluk gaib ataupun makhluk nyata). Serta tentunya relatif tidak cukup memadai pula bisa menjelaskan hal-hal gaib lainnya.
Penjelasan atas berbagai tindakan Zat Allah dan ruh-ruh zat makhluk-Nya umumnya hanya sekedar mengutip dari Al-Qur'an dan Hadits Nabi, tanpa melalui pemahaman yang utuh dan menyeluruh.

Contoh sederhananya, hampir tidak ada suatu buku yang cukup jelas dan lengkap bisa mengungkap tentang Qadla dan Qadar-Nya (Takdir-Nya), atau "apa hakekat sebenarnya dari takdir-Nya dan bagaimana cara ditentukan-Nya?". Perdebatan tentang takdir-Nya, bahkan tidak pernah selesai tuntas dari jaman dahulu (sejak setelah Nabi wafat) sampai sekarang. Hal yang serupa juga terjadi pada agama lain.

Dan juga hampir tidak ada suatu buku yang relatif cukup lengkap dan mendalam menjelaskan, tentang "bagaimana cara proses wahyu, kalam atau risalah-Nya, kitab-Nya, agama-Nya, nabi dan rasul-Nya, dsb, pada saat diturunkan-Nya". Begitu pula hal-hal lainnya.

Cukup jarang yang bisa relatif 'ilmiah' dan 'terstruktur' dalam membahas dan mengungkap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), di dalam ajaran-ajaran agama Islam (terutama kitab suci Al-Qur'an).

Contoh sederhananya, hampir tidak ada yang memakai tabel dan gambar (skema / diagram) di dalam membahas pengetahuan keagamaan, seperti umumnya pada buku-buku ilmiah.

Padahal di dalam tiap ajaran agama Islam terkandung pengetahuan atau pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya, yang relatif amat 'pasti' dan 'jelas' (nyata), selain tentunya 'benar' (haq).

Padahal melalui tabel dan gambar bisa relatif lebih terstruktur dan jelas, terutama dalam menerangkan tentang pengelompokan, pembagian, hierarki struktur, percabangan, saling keterkaitan hubungan, aliran dan urutan pentahapan proses, dsb, daripada melalui teks-teks semata. Juga tentunya melalui tabel dan gambar bisa mudah dan jelas dilihat langsung 'gambaran ringkas' tentang sesuatu hal.

Sedang suatu hal yang 'benar' (haq) pasti memiliki alur pemikiran yang 'jelas' dan segala dalil-alasan-hujjah yang kokoh-kuat. Walau harus diakui pula ajaran-ajaran agama-Nya memang amat banyak mengandung pengetahuan tentang hal-hal gaib dan batiniah, yang memang juga relatif sulit dijelaskan, dan memang amat memerlukan keyakinan atau keimanan batiniah yang relatif kuat.

Cukup banyak yang mengandung segala hal yang bersifat 'mistis-tahayul', yang tidak memiliki berbagai dalil-alasan-hujjah dan penjelasan yang bisa diterima oleh akal-sehat.

Cukup jarang yang bisa menjawab tiap persoalan pemahaman umat atas ajaran-ajaran agama Islam, secara relatif 'memadai' dan 'tuntas' (melalui berbagai aliran-mazhab-golongannya). Terutama tentang sejumlah hal yang telah menjadi polemik dan kontroversi di kalangan umat, yang terkait dengan berbagai dasar-pokok bagi keyakinan atau keimanan umat, yaitu: Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para nabi-Nya, Hari Kiamat dan takdir-Nya.

Lebih detail lagi misalnya, berbagai persoalan pemahaman atas:

a. Berbagai sifat dan perbuatan-Nya.
b. Cara malaikat Jibril menurunkan wahyu-Nya, serta apa tugas para malaikat-Nya (atau para makhluk gaib secara umum).
c. Cara Allah menurunkan kitab-kitab-Nya, serta hubungan antar kitab-kitab-Nya.
d. Cara Allah menunjuk ataupun mengutus para nabi-Nya, serta hubungan antar para nabi-Nya.
e. Hakekat dari Hari Kiamat, serta segala kejadian dan keadaannya.
f. Cara Allah menentukan takdir-Nya bagi tiap makhluk-Nya, serta apa hubungannya dengan kebebasan tiap makhluk-Nya dalam berkehendak dan berbuat.
g. Dan masih banyak lagi.

 

Padahal amat kurang memadainya pemahaman umat atas hal-hal tersebut, yang justru telah berperan amat besar dalam melahirkan banyak aliran-mazhab-golongan di kalangan umat.

Jikalaupun hal-hal tersebut telah bisa terjawab pada berbagai aliran-mazhab-golongan itu, tetapi pada umumnya segala dalil-alasan-hujjahnya relatif masih amat lemah. Serta bukan berdasar dari suatu 'bangunan pemahaman' yang utuh dan menyeluruh atas keseluruhan kandungan isi kitab suci Al-Qur'an dan hadits Nabi, sehingga juga relatif mudah terbantahkan.

Cukup banyak yang hanya pandai mengumpulkan sejumlah ayat kitab suci Al-Qur'an Hadits Nabi, tentang 'siapa yang benar dan sesat'. Tetapi amat lemah dalam memberi segala penjelasan, dan bahkan relatif amat sedikit segala dalil-alasan-hujjahnya, agar makin jelas memisahkan antara 'pemahaman yang benar dan sesat'.

Cukup banyak yang hanya berupa suatu rangkuman dan kumpulan pemahaman para alim-ulama terdahulu. Serta bukan berupa alur-pemikiran dan pemahaman yang utuh dari penulisnya sendiri.

Dari amat berragamnya pemahaman para alim-ulama terdahulu, yang ditunjukkan dengan perbedaan dan perselisihan antar aliran-mazhab-golongannya. Maka tiap tulisan dan buku juga mestinya bisa mengambil sesuatu 'kesimpulan', sebagai bentuk pemahaman yang bisa dianggap paling baik (minimal menurut penilaian relatif penulisnya), ataupun justru berbentuk berbagai pemahaman baru yang sama sekali berbeda, yang bisa memadai megatasi perselisihan umat.

Segala bentuk pemahaman manusia pasti bersifat 'relatif', sehingga hal yang paling pentingnya justru agar umat selalu terus-menerus berusaha mengungkap atau mencari pemahaman yang 'makin baik', dengan segala dalil-alasan-hujjah dan penjelasan yang 'makin baik' pula (makin lengkap, makin mendalam dan makin sulit terbantahkan).

Dan tiap usaha pengungkapan hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) memang tidak akan pernah selesai tuntas oleh manusia, sampai dibukakan-Nya di Hari Kiamat.

Bahkan walau semua ajaran yang telah disampaikan oleh nabi Muhammad saw, memang telah relatif lengkap menjawab semua persoalan yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia, khususnya pada jaman Nabi. Tetapi pemahaman Nabi yang diungkapkannya melalui lisan, tulisan, sikap dan contoh perbuatannya (Al-Kitab), sedikit-banyak tetap relatif berbeda daripada pemahaman Nabi sendiri (segala Al-Hikmah dalam dada-hati-pikiran Nabi), akibat adanya keterbatasan bahasa lisan, bahasa tulisan dan bahasa tubuh, untuk mengungkap isi pikiran. Termasuk pula karena pemahaman umat belum tentu telah benar-benar sesuai dengan pemahaman Nabi, atas wahyu-wahyu-Nya yang diperolehnya.

Sehingga pengungkapan atas tiap Al-Hikmah 'di balik' teks-teks ayat kitab suci Al-Qur'an dan hadits Nabi, mestinya tetap perlu dilakukan oleh umat Islam, di samping pengungkapan langsung atas tanda-tanda kekuasaan dan kemuliaan-Nya di alam semesta ini.

Cukup banyak yang cenderung hanya bertujuan membela berbagai pemahaman pada suatu aliran, yang lebih diyakini oleh penulisnya sendiri. Bukan bertujuan untuk bisa mencari berbagai pemahaman yang 'makin baik', yang makin 'mendekati' berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), seperti yang telah dipahami oleh nabi Muhammad saw sendiri, secara relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, di balik keseluruhan wahyu-Nya yang telah disampaikannya.

Walau untuk bisa mencapai berbagai pemahaman yang 'makin baik', jika perlu harus mengkritik dan memperbaiki berbagai pemahaman pada aliran penulisnya sendiri.

Tentunya juga mestinya tidak dengan sengaja menyembunyikan tiap kebenaran yang telah diketahui, sekecil apapun bentuknya, khususnya yang kurang menguntungkan bagi tiap pemahaman yang ingin terus dipertahankan.

Cukup jarang yang mempunyai keberanian untuk mau melewati batas-batas dogmatis, yang telah dipakai oleh sebagian besar umat Islam selama berabad-abad, yang biasa timbul dari segala pemahaman secara 'tekstual-harfiah' atas ajaran-ajaran agama-Nya. Walau sebagian dari dogma-dogma itu memang justru diajarkan dan disampaikan oleh nabi Muhammad saw sendiri, yang tentunya hanya sesuai bagi umat pada jaman Nabi, dan hanya sesuai sebagai pengajaran 'paling dasar' bagi umat pada umumnya.

Padahal tiap pemahaman 'tekstual-harfiah' adalah suatu bentuk pemahaman yang 'paling sederhana', sedangkan pemahaman yang sebenarnya dan 'paling tinggi' nilainya, justru berupa pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah). Karena tiap Al-Hikmah itu justru bersifat 'universal', bahkan meliputi atau mencakup seluruh ayat kitab suci Al-Qur'an dan seluruh Sunnah Nabi yang terkait.
Bahkan juga bisa meliputi atau mencakup seluruh ajaran yang terkait, dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman, karena tiap Al-Hikmah memang menyangkut kebenaran-Nya di alam semesta ini, yang mestinya memang bisa dipahami oleh seluruh umat manusia.

Cukup jarang yang ditujukan secara relatif umum kepada 'seluruh' umat manusia di muka Bumi ini. Padahal seluruh ajaran agama-Nya justru mestinya bersifat universal. Maka selain agar bisa dipahami oleh kalangan umat Muslim sendiri. Mestinya bisa dipahami pula oleh umat non-Muslim, agar bisa membawanya kembali ke agama atau jalan-Nya yang lurus.

Agar bisa diperoleh kemanfaatan dan rakhmat-Nya yang lebih besar, maka pemakaian semua istilah bahasa Arab misalnya, mestinya semaksimal mungkin disertai dengan teks terjemahannya.

Juga segala penghujatan kepada umat-umat yang pemahamannya berbeda dan bahkan agamanya berbeda, mestinya bisa jauh dikurangi. Justru jauh lebih baik, jika langsung dikemukakan tiap kelemahan dan kerugian yang bisa ditimbulkan, dari pemahaman dan agama yang berbeda tersebut. Sekaligus tentunya juga dikemukakan tiap pemahaman yang benar, beserta tiap kelebihan dan keuntungan yang bisa diperoleh (rahmat dan pahala-Nya).

Dalam kitab suci Al-Qur'an, justru penghujatan hanya dilakukan terhadap 'pribadi dan kelompok' umat, yang memang telah berbuat 'amat berlebihan' atau 'amat melampaui batas' (Abu jahal, Fir'aun, Bani Israil, kaum musyrik, dsb).
Bahkan kepada para 'ahli kitab' (umat Nasrani dan Yahudi) yang masih mengikuti 'agama-Nya yang lurus', tetap dianggap pula sebagai orang-orang yang beriman.

Kepada umat-umat yang pemahamannya relatif berbeda mestinya bisa amat dihindari menyalahkan 'pribadi dan kelompoknya', namun sebaiknya lebih menyalahkan pemahamannya itu sendiri. Karena tiap pribadi dan kelompok amat tidak tertutup kemungkinan bisa pula mempunyai berbagai pemahaman lainnya yang relatif 'benar'. Bahkan hampir tidak ada pribadi dan kelompok yang keseluruhan pemahamannya relatif 'sempurna', seperti pada para nabi-Nya.

 

Pada buku ini, berbagai kekurangan di atas semaksimal mungkin telah berusaha dihindari. Insya Allah, berbagai pemahaman pada buku ini diharapkan bisa menjembatani berbagai perbedaan dan perselisihan pemahaman, antar aliran-mazhab-golongan dalam agama Islam. Terutama melalui pembentukan suatu "bangunan pemahaman" pada buku ini yang telah tersusun relatif utuh, konsisten dan tidak saling bertentangan, serta meliputi ±2900 ayat Al-Qur'an. Sekaligus telah pula disusun dan dibahas secara relatif sistematis, terstruktur dan ilmiah (dengan segala dalil-alasan-hujjah dan penjelasannya), termasuk meliputi berbagai pemahaman tentang hal-hal gaib dan batiniah.

Walau diakui pula, bahwa pembahasan pada buku inipun relatif belum cukup detail, lengkap dan mendalam, karena amat banyak dan luasnya segala aspek di dalam kitab suci Al-Qur'an, yang menyangkut seluruh aspek yang mendasar pada kehidupan umat manusia. Sehingga buku ini hanya bermaksud memberi gambaran umum atau garis besar dari "bangunan pemahaman" tersebut.
Namun begitu, keutuhan "bangunan pemahaman" pada buku ini jauh lebih diutamakan daripada kelengkapannya. Kecuali tentunya jika atas ijin-Nya, sampai saat "bangunan pemahaman" ini telah lengkap, dan meliputi seluruh ayat Al-Qur'an di masa mendatang. Maka hal-hal yang memang belum memiliki hubungan erat dengan berbagai topik yang telah dibahas, memang sengaja belum disertakan.

Sedangkan pembahasan yang lebih detail dan mendalam, lebih tepat jika diperoleh dari berbagai tulisan dan buku lain. Karena tujuan utama seluruh pembahasan pada buku ini, memang hanya sekedar untuk 'secukupnya' bisa membuktikan konsistensi, keutuhan dan tidak saling bertentangannya 'berbagai' kandungan isi kitab suci Al-Qur'an (ataupun atas ijin-Nya, 'seluruh' kandungan isinya nantinya).
Tentunya disertai pula semua pemahaman yang mendasari usaha pembuktian itu, yang dianggap di sini sebagai pemahaman yang 'relatif' benar, atas ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an (minimal menurut penilaian relatif-subyektif penulis sendiri). Tiap pemahaman yang biasanya disebut sebagai pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) ini, sedikit-banyak bisa berbeda daripada makna tekstual-harfiahnya. Termasuk karena pemahaman ini bukan berdasar makna tekstual-harfiah dari 'ayat per ayat', namun berdasar makna dari 'seluruh ayat yang terkait' (berdasar suatu 'benang merah' yang bisa menghubungkan seluruh ayat yang terkait ini, secara relatif paling 'sesuai' atau 'tepat').

Pada Lampiran E, berbagai ayat yang terkait dengan sesuatu kesimpulan atau pemahaman tertentu, bisa berjumlah puluhan ayat. Namun ayat-ayat inipun adalah hasil dari suatu 'pilihan', yang dianggap telah cukup bisa mewakili berbagai versi atau bentuk pengungkapan, dari sejumlah besar ayat kitab suci Al-Qur'an.

Adapun pemilihan itu sendiri hanya terjadi karena alasan teknis semata, untuk bisa mengurangi jumlah keseluruhan halaman buku ini.

 

 

Suplemen: kitab suci Al-Qur'an digital

Dalam "Suplemen: Kitab suci Al-Qur'an Digital", ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an yang telah dipakai untuk mendukung dan memperkuat dalil-alasan-hujjah bagi "bangunan pemahaman" pada buku ini, teks-teks terjemahannya telah diberikan 'warna biru' ataupun nomor ayatnya dibuat 'tebal'. Insya Allah, diharapkan di masa mendatang, "bangunan pemahaman" pada buku ini bisa utuh dan lengkap, yang meliputi keseluruhan ayat kitab suci Al-Qur'an.

Melalui Al-Qur'an Digital itu pula, para pembaca bisa mudah mempelajari ayat-ayat Al-Qur'an yang terkait, secara lebih lengkap. Bahkan tiap ayat yang dipakai untuk memperkuat dalil-alasan-hujjah pada suatu pembahasan, telah dihubungkan langsung dengan Al-Qur'an Digital itu. Sehingga para pembaca tinggal 'mengklik' tiap tanda yang berbentuk "QS.xx:yy", untuk menampilkan ayatnya (beserta ayat-ayat lainnya pada suatu surat). Ayat-ayat terkait itupun bisa terpisah dan terletak langsung pada pembahasannya, ataupun bisa terkelompok pada catatan kaki atas topik tertentu (pada Lampiran E)

 

 

Penutup

Sekali lagi, segala pemahaman pada buku ini sama sekali bukan pemahaman yang 'paling benar' ataupun 'pasti benar'. Sehingga kritik dan saran dari para pembaca tetap amat diharapkan, agar makin bisa diperoleh seluruh pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), yang makin 'mendekati' pemahaman nabi Muhammad saw, atas seluruh wahyu-Nya yang diperolehnya. Minimal dengan ukuran 'tingkat kedekatan' pemahaman ini, adalah relatif amat konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhannya. Juga jauh lebih baik lagi, jika bisa relatif amat lengkap dan mendalam. Namun sesuai keyakinannya, tentunya tiap umat Islam juga bisa memiliki ukuran 'tingkat kedekatannya' masing-masing.
Seluruh pemahaman yang telah tersusun relatif sempurna (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan), sekaligus membentuk "bangunan pemahaman" yang saling terkait semua aspeknya, tentunya mestinya terdiri dari segala dalil-alasan-hujjah yang relatif kokoh-kuat pula, agar relatif sulit terbantahkan atau tergoyahkan. Terutama jika dalil-alasan-hujjahnya berasal langsung dari ayat-ayat Al-Qur'an, ataupun dari pemahaman atas tanda-tanda kekuasaan dan kemuliaan-Nya di alam semesta ini (ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis), yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', secara relatif amat obyektif. Tentunya tiap pemahaman Al-Hikmah ini mestinya bisa bersifat 'universal' (bisa melewati konteks waktu, ruang dan budaya), agar bisa berlaku kapanpun, dimanapun dan bagi bangsa manapun. Selain itu, Al-Hikmah juga bersifat relatif amat kompleks, rumit, mendalam dan tidak praktis-aplikatif.

Seluruh pemahaman yang tersusun relatif sempurna semacam itu, mestinya juga dimiliki oleh Majelis alim-ulama, pada tiap negeri dan jamannya. Hal ini amat penting dimiliki sebelum bisa melahirkan tiap 'ijtihad', sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya bagi umat, yang bersifat relatif amat ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual, sesuai dengan keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupannya sehari-hari, sekaligus agar relatif mudah dipahami dan diamalkannya.

Dan seperti halnya do'a Imam Al-Ghazali, "kumohon Anda bersedia memohonkan ampunan bagiku, dari tersesatnya pena dan tergelincirnya kaki. Karena keberanian mengarungi lautan rahasia-rahasia Ilahi, adalah suatu tindakan yang amat berbahaya. Usaha untuk menyingkapkan cahaya-cahaya di persada tinggi, di balik berbagai 'hijab', adalah suatu langkah yang tidak mudah. Segala puji bagi Allah Rabbul 'Alamin, shalawat untuk Sayyidina Muhammad beserta keluarganya yang baik-baik dan tersucikan".

 

  

Sebelumnya

Daftar isi

Teratas

Berikutnya

 

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s