Beranda

Beranda: Islam, agama universal

Agama Islam adalah agama universal, yang sesuai dengan
segala kebenaran-Nya di seluruh alam semesta ini.

(Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang)

Segala puji bagi Allah, Tuhannya keseluruhan alam semesta, atas segala nikmat dan karunia-Mu, terutama segala hikmah dan hidayah-Mu, agar kami hamba-hamba-Mu bisa terus-menerus mengingat dan memuji kebesaran-Mu. Juga shalawat bagi utusan-Mu nabi Muhammad saw, beserta seluruh keluarganya, para sahabatnya, para pembantu setianya di jamannya, dan para khalifah sepeninggalnya.

Semoga Engkau senantiasa selalu menganugerahkan bagi kami hamba-hamba-Mu, segala pengetahuan yang baik-baik, yang makin mendalam dan sempurna, agar juga makin meningkat pemahaman kami (keimanan batiniah), atas tiap ajaran agama Islam, serta sekaligus untuk makin mendukung dan memperkuat pengamalannya (keimanan lahiriah).

Semoga Engkau senantiasa selalu memelihara agama Islam, bahkan sampai akhir jaman nantinya. Apalagi agama Islam, adalah agama yang telah Engkau pilih dan redhai bagi kami, untuk mengikutinya, dalam berusaha meraih segala kemuliaan dan keagungan dari-Mu, di dunia dan terutama lagi di akhirat.

Agama Islam adalah agama universal

Barangkali sebagian dari umat Islam terkadang telah melupakan, atau seluruh umat manusia lainnya bahkan kurang memahami, misalnya:

  • Bahwa agama Islam adalah agama universal (bisa melewati batas waktu, ruang dan konteks budaya / bisa berlaku kapanpun, dimanapun dan bagi siapapun);

  • Bahwa agama Islam adalah agama yang tidak tergantung sejarah dan budaya umat manusia (bahkan termasuk para nabi-Nya). Walau para nabi-Nya memang berperan besar, dalam memberi segala contoh pemahaman dan pengamalannya, secara relatif sempurna (lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan);

  • Bahwa agama Islam adalah agama yang sesuai kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta ("tanda-tanda kekuasaan-Nya"), yang justru bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah);

  • Bahwa agama Islam adalah agama yang menyertai atau mengikuti perjalanan alam semesta, bahkan sampai akhir jaman.

  • Bahwa agama Islam adalah agama yang berbentuk rahmat-Nya bagi alam semesta, terutama dalam makin menyempurnakan pemahaman dan pengamalan seluruh umat manusia di dalamnya, tentang kebenaran-Nya di alam semesta;

  • Bahwa agama Islam adalah agama bagi seluruh umat manusia di muka Bumi (sama sekali bukan hanya semata bagi bangsa Arab ataupun umat Islam), agar sama-sama bisa kembali ke "agama-Nya yang lurus" ("jalan-Nya yang lurus");

  • Bahwa agama Islam adalah agama yang membawa kemuliaan dan keagungan, bagi seluruh umat manusia yang mengikutinya, di dunia dan terutama lagi di akhirat;

  • Bahwa agama Islam adalah agama yang sesuai segala "fitrah dasar" manusia;

  • Bahwa agama Islam adalah agama hasil perwujudan dari "Fitrah Allah" (sifat-sifat terpuji dan mulia Allah), secara 'tak-langsung'. Sedangkan perwujudan 'langsung'-nya berupa "agama-Nya yang lurus" di alam semesta (segala keredhaan-Nya bagi segala makhluk ciptaan-Nya, dan terkandung dalam "tanda-tanda kekuasaan-Nya");

  • Bahwa agama Islam adalah agama yang berdasar hasil usaha pengungkapan Nabi, atas "agama-Nya yang lurus" di alam semesta, yang juga telah dipelajari dari nabi ke nabi (bahkan juga dari umat ke umat), dari jaman ke jaman;

  • Bahwa agama Islam adalah agama yang terlahir berdasar segala pemahaman Nabi, yang relatif lengkap dan mendalam, dari segala hasil usaha mempelajari "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta, sekaligus sambil dituntun oleh para malaikat Jibril. Begitu pula halnya, kelahiran agama-agama tauhid lainnya dari tiap nabi-Nya terkait;

  • Bahwa agama Islam adalah agama tauhid (selain agama Yahudi dan Nasrani), yang berasal dari sisi Allah (sesuai kebenaran-Nya di alam semesta);

  • Bahwa agama Islam adalah agama tauhid terakhir, yang juga paling lurus, lengkap dan sempurna, dibanding agama-agama tauhid lainnya (Yahudi dan Nasrani);

  • Bahwa agama Islam adalah agama yang sesuai tiap ilmu-pengetahuan hasil temuan manusia, yang diperoleh secara relatif amat 'obyektif', 'cermat' dan 'mendalam', dalam mengamati dan mempelajari "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta;

Semua keterangan pada poin-poin di atas, tentunya hanya berupa rangkuman yang amat ringkas. Sedangkan uraian dan penjelasannya yang lebih lengkapnya bisa dibaca pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW".

Lalu dari semua keterangan di atas, justru juga menimbulkan berbagai pertanyaan atau persoalan yang amat penting, seperti misalnya:

  • Agama Islam yang 'bagaimana' atau 'semacam apa' bentuknya, yang bisa ideal atau sempurna (bisa berlaku 'universal' dan juga sekaligus berlaku 'aktual', bahkan sampai akhir jaman)?.

  • Sifat 'universal' dan 'aktual' memang relatif 'saling bertentangan', namun bagaimana cara menyatukan atau mengaitkan, antara hal-hal yang bersifat 'universal' dan yang bersifat 'aktual', dalam ajaran agama Islam?.

  • Apakah pemahaman dan pengamalan umat Islam saat ini, atas ajaran agama Islam, telah ideal atau sempurna (pemahamannya bersifat 'universal' dan pengamalannya bersifat 'aktual')?;

  • Apakah umat Islam saat ini telah memahami ajaran agama Islam, 'sesuai' dengan pemahaman Nabi, atas keseluruhan wahyu-Nya yang telah diperolehnya (memahami secara relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan)?;

  • Apakah umat Islam saat ini telah benar-benar mengenal agama Islam?, termasuk bagaimana cara agama Islam dan agama-agama tauhid lainnya, diturunkan-Nya? dan apa kaitan antara "seluruh agama tauhid", "agama-Nya yang lurus" (terkandung dalam "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta) dan "Fitrah Allah"?;

Berbagai pertanyaan atau persoalan itu akan dicoba dijawab, melalui uraian-uraian ringkas di bawah. Namun jawaban dan penjelasan yang lebih lengkapnya bisa dibaca pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW".

Penting diketahui, bahwa "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta terkadang disebut sebagai "wajah-Nya", "segala kebenaran atau pengetahuan-Nya", "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "sabda, firman, kalam atau wahyu-Nya yang sebenarnya" atau sebagai "Al-Qur'an dan kitab-kitab-Nya lainnya yang berbentuk 'gaib', yang tercatat dalam kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya".

Semua sebutan ini hanya berbeda fokus, sudut pandang atau konteks pemakaian masing-masing, namun merujuk kepada sesuatu hal yang sama, berupa "segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta".

Baca pula artikel "Kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dan keragaman kandungan isinya".

Dalil-dalil naqli, bahwa agama Islam adalah agama universal

Istilah 'universal' tentunya sama sekali tidak ada dalam kitab suci Al-Qur'an, karena memang berasal dari bahasa Inggris, dan terkait dengan 'alam semesta' ('universe'). Tetapi dalam ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an justru amat banyak disebut 'alam semesta' ('semesta alam', 'sekalian alam', 'seluruh alam', 'langit dan Bumi', 'segala sesuatu', dsb).

Tentunya juga termasuk amat banyak disebut, segala hal yang terkait dengan 'alam semesta', seperti: "bukti-bukti nyata", "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "tanda-tanda kekuasaan-Nya", "langit", "bintang", "gugusan bintang (galaksi)", dsb. Bahkan semua ayat seperti ini ada ratusan jumlahnya.

Lebih penting lagi, hampir semua ayat ini disertai dengan segala anjuran-Nya, agar umat Islam bisa banyak mengamati, mempelajari, memikirkan dan memahami penciptaan alam semesta, beserta segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di dalamnya. Ayat-ayat seperti ini tentunya sekaligus telah menunjukkan, bahwa kaitan antara 'agama tauhid' dan 'alam semesta', memang amat dekat.

Bahkan suatu agama tauhid justru terlahir berdasar seluruh pemahaman, pada tiap nabi-Nya terkait (seluruh wahyu-Nya), dari segala hasil usahanya yang relatif amat keras dan maksimal, dalam mengamati, meneliti dan mempelajari "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di 'alam semesta' ("ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" / "segala kebenaran-Nya"), sekaligus sambil dituntun oleh para malaikat Jibril.

Tentunya untuk memahami hal di atas, umat Islam mestinya telah memahami pula, "bagaimana cara proses diturunkan-Nya wahyu, kepada para nabi-Nya?", serta termasuk, "bagaimana transfomasi perubahan bentuk wahyu-Nya, sejak dari Allah 'langsung', ke para malaikat Jibril, ke para nabi-Nya, sampai ke bentuk yang diterima umat para nabi-Nya?". Kedua hal inipun telah dijawab cukup lengkap, dalam artikel "Cara proses diturunkan-Nya wahyu" dan "Wahyu dan kitab-Nya memiliki 4 macam bentuk".

Penting diketahui, bahwa "wahyu-Nya yang sebenarnya, dan berasal 'langsung' dari Allah, adalah 'alam semesta'". Sedangkan tiap bentuk wahyu-Nya selanjutnya (pada para malaikat Jibril, pada pikiran para nabi-Nya dan pada Al-Kitab), justru hanya berasal dari hasil pemahaman, atas kebenaran-Nya di 'alam semesta'. Ringkasnya, bentuk wahyu-Nya pada malaikat Jibril berupa tiap ilham yang positif-benar-baik, pada pikiran para nabi-Nya berupa tiap pemahaman Al-Hikmah, dan pada Al-Kitab berupa tiap ayatnya.

Selain itu, dalam ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an juga banyak disebut, seperti:

  • "Tiap nabi-Nya bisa saling membenarkan wahyu dan kitab-Nya pada para nabi-Nya lainnya" (QS.5:48, QS.2:41, QS.2:89, QS.2:91, QS.2:97, QS.2:101, QS.3:3, QS.4:47, QS.6:92, QS.10:37, QS.12:111, QS.35:31, QS.46:12, QS.46:30, QS.37:37 dan QS.3:81).
    "Tauhid pada keseluruhan para nabi-Nya relatif 'sama', seperti 'Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa'" (QS.40:62, QS.27:26, QS.37:35, QS.40:3, QS.40:65, QS.59:22-23, QS.73:9 dan QS.11:84).

    Hal ini menunjukkan, bahwa para nabi-Nya memang telah bisa memahami nilai-nilai universal yang 'sama', dari hasil mempelajari alam semesta yang 'sama', sekalipun antar para nabi-Nya justru tidak saling bertemu atau muncul terpisah selama berabad-abad.

  • "Islam, Al-Qur'an dan nabi Muhammad saw, adalah agama, kitab dan nabi-Nya bagi 'seluruh umat manusia'" (QS.12:38, QS.5:3, QS.3:138, QS.16:44, QS.68:52, QS.34:28 dan QS.4:79).
    "Nabi Muhammad saw menjadi saksi bagi 'seluruh umat manusia' di Hari Kiamat" (QS.16:89 dan QS.22:78).

    Hal ini menunjukkan, bahwa ajaran agama Islam 'mestinya' bisa berlaku 'universal' (bisa melewati batas waktu, ruang dan konteks budaya / bisa berlaku kapanpun, dimanapun dan bagi siapapun), bahkan termasuk juga 'mestinya' berlaku bagi seluruh umat manusia 'terakhir', di akhir jaman.
    Namun tentunya juga tidak perlu 'dipaksakan', menjadi "'seluruh umat manusia' ini termasuk seluruh umat manusia 'sebelum' kemunculan Nabi".

  • "Tiap-tiap umat memiliki syariatnya masing-masing" (QS.22:67, QS.42:13 dan QS.45:18).
    "Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan (untuk melaksanakan) penyembelihan (kurban). …" (QS.22:34).

    Hal ini menunjukkan, bahwa syariat yang telah diajarkan oleh para nabi-Nya, memang bisa berbeda-beda, dari jaman ke jaman (sesuai perkembangan keadaan umat atau jamannya masing-masing). Walau ada sebagian syariat, yang juga bersifat 'universal' (tetap terus berlaku / tetap serupa dari umat ke umat, dari jaman ke jaman).
    Namun tentunya juga tidak perlu 'dipaksakan', menjadi "syariat bagi umat Nabi pada abad sekarang, abad 30, abad 100, saat akhir jaman, dsb, harus persis 'sama' dengan syariat bagi umat Nabi, pada jaman Nabi".
    Umat Islam mestinya memahami prinsip dan tujuan dasar dari timbulnya suatu syariat.
    Syariat bukan tergantung nabi pembawanya, tetapi tergantung perkembangan keadaan kehidupan umat nabi itu sendiri (tiap nabi menyesuaikan syariatnya, dengan keadaan kehidupan umatnya, agar bisa mudah dipahami dan diamalkannya).
    Wahyu-Nya dan syariat bukan diturunkan atau diperintahkan-Nya dengan 'begitu saja', namun semuanya justru melalui segala proses yang amat 'alamiah'.

  • Dsb.

Ayat-ayat dan uraiannya di atas tentunya hanya untuk menunjukkan 'universalitas' dari ajaran agama Islam, secara ringkas. Uraian yang lebih lengkapnya bisa dibaca pada blog ini, terutama dari buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW".

Istilah 'universal' dan 'plural' sekilas serupa, tetapi berbeda

Dalam kamus, tentunya istilah 'universal' memang berbeda daripada istilah 'plural', walau di dalam pemakaiannya sekilas tampak serupa. Istilah 'universal' bermakna "umum (berlaku bagi semua orang / seluruh dunia); bersifat melingkupi seluruh dunia" dan istilah 'plural' bermakna "jamak; majemuk; lebih dari satu".

Hal ini amat perlu ditekankan kembali perbedaannya, selain untuk bisa mengurangi kecurigaan umat Islam atas istilah 'universal', khususnya lagi akibat telah makin maraknya gerakan pluralisme dalam kehidupan beragama. Jika di jaman dahulu, gerakan pluralisme misalnya telah bisa melahirkan aliran-aliran besar, dalam agama Islam (termasuk aliran Sunni dan Syiah), dari berbagai aliran pemikiran ilmu kalam ataupun ilmu fiqih yang lebih kecil. Maka persoalan mulai timbul pada saat ini, dari gerakan pluralisme yang telah makin meluas, menjadi "antar / lintas agama".

Pluralisme memang bukan hal yang baru atau asing, dalam agama Islam. Dimana semua aliran pemikirannya telah menetapkan berbagai prinsip dasar 'bersama' (terutama pada tauhid atau syahadatnya), yang tidak boleh dilanggar. Sedangkan hal-hal yang di luar berbagai prinsip dasar itu, masih dibolehkan ada perbedaan antar umat. Namun pluralisme dalam hal-hal 'ketuhanan', 'kebenaran' dan 'keyakinan', justru menjadi persoalan (bahkan termasuk pluralisme 'kebenaran' dan 'keyakinan' antar umat Islam, dalam 'suatu' aliran).

Padahal telah disebut di dalam kitab suci Al-Qur'an, "bahwa manusia memang tidak dijadikan-Nya 'satu umat' (satu agama dan pemikiran), sebagai bentuk ujian-Nya baginya" (QS.5:48, QS.16:93, QS.42:8 dan QS.10:19). Dengan fitrah dasar manusia yang cenderung saling berselisih (akibat diciptakan-Nya nafsu-keinginannya), sehingga gerakan pluralisme 'antar agama' itu berupa langkah yang mustahil dan pasti sia-sia. Hal inipun serupa dengan kemustahilan, untuk menyatukan keyakinan dan pemikiran antar umat Islam sendiri.

Lebih tepat, jika gerakan pluralisme 'antar agama' itu bukan terarah, untuk saling mengakui, menyetujui atau membenarkan, atas tiap 'keyakinan' yang dimiliki oleh masing-masing agama. Tetapi gerakan itu mestinya hanya terarah, untuk bisa mengurangi segala perselisihan atau konflik antar agama, yang benar-benar tidak perlu (diawali kasus kecil / tanpa ada kezaliman dari suatu pihak), yang justru pasti merugikan semua pihak. Dengan kata lain, gerakan itu mestinya hanya untuk bisa meningkatkan toleransi atau kesadaran, "bahwa segala perbedaan / pluralitas antar manusia, adalah bentuk kehendak-Nya (bagian dari sunatullah), untuk menguji keyakinan atau keimanannya masing-masing".

Sekali lagi, dalam gerakan itu sama sekali tidak perlu atau tidak bermanfaat, untuk membicarakan 'keyakinan' dari masing-masing agama. Jika hal inipun terjadi, justru hanya pihak atau agama yang paling berpengaruh di dalamnya, yang paling diuntungkan, sebagai sarana bagi penyebaran agamanya. Apalagi dasar acuan bagi gerakan itu justru tidak ada, semua bersifat relatif, amat tergantung kekuatan tarik-menarik kepentingan antar pihak. Bahkan pembicaraan seperti ini hanya makin mengaburkan keyakinannya masing-masing, serta ada pihak yang diuntungkan dari pengaburan itu sendiri. Padahal telah jelas disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, "untukmu agamamu, untukku agamaku" (QS.109:6).

Di lain pihak, jauh lebih penting bagi umat Islam (termasuk bagi penggagas gerakan pluralisme 'antar agama' itu), untuk bisa makin banyak mengungkap nilai-nilai 'universal' (Al-Hikmah), yang terkandung dalam ajaran agama Islam, yang juga makin kokoh-kuat segala dalil-alasan-hujjah dan makin lengkap penjelasannya. Melalui usaha pengungkapan seperti ini, selain keyakinan umat Islam sendiri justru bisa makin kokoh-kuat, atas ajaran agama Islam. Bahkan umat penganut agama-agama lainnya juga bisa ikut mengakuinya, karena nilai-nilai 'universal' itu memang relatif amat sulit bisa dibantahnya.

Nilai-nilai 'universal' (Al-Hikmah) itu bisa diperoleh dengan mengaitkan, antara teks ajaran agama Islam, dan hasil pemahaman atas "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta. Sedangkan "tanda-tanda kekuasaan-Nya" itu sendiri bersifat 'mutlak' dan 'kekal', serta memang hanya hasil dari segala perbuatan Allah, Yang Maha Kuasa dan Maha Kekal.

Maka sesuatu hal yang bersifat 'universal' memang memiliki dasar acuan yang jelas (bersifat 'mutlak' dan 'kekal'), dan pasti berasal dari Allah. Nilai-nilai 'universal' justru pasti berlaku bagi segala sesuatu hal di alam semesta, mau diakui ataupun tidak. Hal ini memang berbalikan dengan 'pluralisme' di atas, yang tanpa memiliki dasar acuan yang jelas (bersfat 'relatif' dan 'fana'), dan pasti berasal dari manusia, meskipun 'pluralitas' justru pasti berasal dari Allah. Nilai-nilai 'pluralisme' berlaku terbatas, hanya bagi sebagian manusia yang mau mengakuinya. Agama bukan hasil 'pluralisme', 'demokratisme' dan 'budaya manusia', tetapi berdasar hasil pemahaman para nabi-Nya, atas nilai-nilai 'universal' di alam semesta.

Walau diakui, memang relatif amat sulit, untuk bisa memahami nilai-nilai 'universal' (Al-Hikmah), serta di jaman dahulu relatif hanya dicapai oleh para nabi-Nya. Sedangkan di jaman sekarang ini, umat Islam telah relatif dipermudah dalam memahaminya, khususnya dengan memulai mengacu dari kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi, yang memang penuh 'mengandung' Al-Hikmah di dalamnya (QS.3:58, QS.10:1, QS.31:2, QS.36:2, QS.43:4 dan QS.44:4). Selain itu, tentunya umat Islam juga mestinya amat berilmu-pengetahuan, dari mempelajari "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta (lahiriah dan batiniah).

Baca pula artikel "Metode pencapaian pemahaman Al-Hikmah".

Hampir seluruh agama di dunia memang membenarkan adanya nilai-nilai 'universal' di alam semesta, yang berasal dari Tuhan Pencipta alam semesta, seperti misalnya disebut dalam 'universalisme' (universalism) pada Wikipedia. Termasuk melalui segala pengajaran dalam seluruh agama itu, tentang berragam 'kebaikan' atau 'etika' yang bersifat 'universal'. Tetapi amat ironisnya, pembenaran ini justru juga hanya berlaku 'parsial' (sebagian / tidak utuh / sepotong-sepotong).

Contoh sederhananya, ke-Maha Esa-an Tuhan (tauhid), adalah nilai yang bersifat 'universal', dan bahkan diakui oleh hampir seluruh agama. Namun pada sebagian agama itu justru juga sekaligus tetap berlaku 'musyrik' (menyekutukan Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Pencipta alam semesta / memiliki 'banyak' Tuhan), diakui ataupun tidak.

Maka umat Islam (terutama Majelis alim-ulamanya) justru mestinya bisa memiliki segala dalil-alasan-hujjah dan segala penjelasannya, yang kokoh-kuat dan lengkap, tentang ke-Maha Esa-an Allah (tauhid), serta sekaligus bisa membantah dengan kokoh-kuat pula, atas segala bentuk kemusyarikan (menyekutukan Allah). Hal ini juga amat penting, untuk makin memperkuat keyakinan umat Islam sendiri, atas ajaran agama Islam.

Contoh sederhananya, telah jelas disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, "Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan" (QS.112:1 & 3). Namun juga umat Islam mestinya bisa memahami segala kemustahilan dan kerugian, pada keterangan seperti, "manusia adalah anak Tuhan". Sebaliknya sekaligus bisa memahami kenapa justru disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, "manusia adalah khalifah-Nya" (bukan anak Tuhan).

Ayat-ayat Al-Qur'an bersifat ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual

Seperti disebut di atas, bahwa tiap ajaran agama Islam justru mestinya berlaku 'universal' (bisa melewati batas waktu, ruang dan konteks budaya / berlaku kapanpun, dimanapun dan bagi siapapun). Hal ini karena ajaran agama Islam (terutama kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah / Hadits Nabi), justru berdasar seluruh pemahaman Nabi, tentang kebenaran-Nya di alam semesta (seluruh wahyu-Nya yang berupa Al-Hikmah dan bersifat 'unversal'), yang telah diperolehnya melalui perantaraan para malaikat Jibril.

Namun ketika 'rangkuman' dari seluruh pemahaman Al-Hikmah pada Nabi, justru disampaikan atau diungkapkan kepada umat-umatnya (menjadi wahyu-Nya yang berupa tiap ayat Al-Kitab), relatif hampir pasti 'terlingkupi' dalam batas waktu, ruang dan konteks budaya umat. Termasuk bentuk penyampaiannya relatif hampir pasti menghadapi segala keterbatasan bahasa lisan dan tulisan, sekaligus keterbatasan alat tulis-menulis di jaman dahulu (batu tipis; pelepah kurma; tulang; kulit kayu; kulit dan tanduk binatang; dsb).

Sedangkan sebagian terbesar dari umat-umat Nabi (umat-umat yang awam) justru jauh lebih memerlukan bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya, yang bersifat relatif ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual, untuk bisa menjawab segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan beragamanya sehari-hari. Relatif hanya umat-umat yang telah amat berilmu saja, yang memerlukan pemahaman yang lengkap dan mendalam, atas wahyu-wahyu-Nya pada Nabi (Al-Hikmah), bagi peningkatan keimanannya.

Baca pula topik "Keterbatasan bahasa tulisan dalam penyampaian wahyu-Nya".

Tidak mengherankan, apabila teks ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an justru cenderung relatif amat pendek, ringkas, sederhana dan padat. Kandungan isinya juga dipengaruhi oleh konteks keadaan di jaman Nabi, lingkup di sekitar Jazirah Arab, serta keadaan budaya dan bahasa bangsa Arab, terutama agar umat relatif mudah memahami dan mengamalkannya. Padahal 'di balik' teks ayat-ayatnya justru amat banyak mengandung 'nilai-nilai universal', dari ajaran agama Islam ('Al-Hikmah' / hikmah dan hakekat kebenaran-Nya). Seluruh Al-Hikmah inipun dipahami oleh Nabi dan para pengikut terdekatnya yang amat berilmu, beserta segala dalil-alasan-hujjah dan segala penjelasannya, yang kokoh-kuat dan lengkap.

Sedangkan dari sifat-sifatnya, tentunya Sunnah Nabi (ataupun Hadits Nabi sebagai bentuk tertulisnya) justru relatif serupa dengan ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an itu sendiri. Sunnah / Hadits Nabi justru bukan bentuk Al-Hikmah yang sebenarnya (seperti anggapan pada sebagian umat Islam), tetapi tetap hanya berupa Al-Hikmah yang terungkap, secara relatif ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual. Sunnah / Hadits Nabi hanya berupa contoh dan penjelasan pengamalan langsung, atas ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an.

Bentuk ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an dan Hadits-hadits Nabi, yang memang relatif amat pendek, ringkas, sederhana dan padat (bentuk pengungkapan atas hasil 'rangkuman' dari seluruh pemahaman Al-Hikmah, di dalam dada-hati-pikiran Nabi), juga lebih mudah bisa dipahami dari fakta atau kenyataan, bahwa segala hal yang paling penting, hakiki dan mendasar di dalam kehidupan seluruh umat manusia, yang rumit, lengkap dan mendalam, justru terungkap 'hanya' melalui 6236 ayat kitab suci Al-Qur'an dan puluhan ribu Hadits. Padahal pengungkapan secara lengkap, atas seluruh pemahaman Al-Hikmah pada Nabi, justru bisa memerlukan ratusan buku tebal.

Segala pemahaman Al-Hikmah = penjaga 'universalitas' ajaran agama Islam

Tiap Al-Hikmah itu sendiri justru bersifat relatif kompleks, rumit, mendalam, tidak praktis-aplikatif dan universal (tidak aktual), termasuk memiliki segala dalil-alasan-hujjah yang kokoh-kuat dan segala penjelasannya yang lengkap. Sehingga tiap Al-Hikmah relatif amat sulit terbantah kebenarannya, oleh umat-umat yang amat berilmu sekalipun.

Di lain pihak, tiap Al-Hikmah justru relatif amat sulit bisa dipahami oleh umat-umat pada umumnya (umat-umat yang awam). Serta segala pemahaman Al-Hikmah ini, justru bisa menjaga 'universalitas' dari ajaran agama Islam, bahkan sampai akhir jaman.

Agar ajaran agama Islam tetap bisa berlaku relatif ideal atau sempurna, bahkan sampai akhir jaman, tentunya amat perlu usaha pengungkapan kembali segala Al-Hikmah, 'di balik' teks-teksnya. Idealnya jika segala Al-Hikmah itu tidak terpisah-pisah, tetapi telah tersusun membentuk 'bangunan pemahaman', yang relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhan.

Serta 'bangunan pemahaman' seperti ini mestinya bisa dimiliki oleh para alim-ulama (terutama yang berada di dalam Majelis alim-ulama pada tiap negeri dan jamannya), yang memang telah diwarisi 'tugas-peran' dan 'ajaran' para nabi-Nya.

Baca pula artikel "Metode pencapaian pemahaman Al-Hikmah".

Segala hasil ijtihad = penjaga 'aktualitas' ajaran agama Islam

Dengan berdasar segala pemahaman Al-Hikmah yang diperoleh, Majelis alim-ulama pada tiap negeri dan jamannya lalu bisa melahirkan segala hasil ijtihad, yang bersifat relatif amat ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual, terutama agar bisa menjawab segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan beragama umat sehari-hari. Hal ini justru relatif serupa, dengan penyampaian yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya.

Baca pula artikel "Pola penyampaian pengajaran-Nya sepanjang masa".

"Tiap hasil ijtihad dari para nabi-Nya" disampaikannya melalui Sunnah-sunnahnya, berdasar seluruh wahyu-Nya (berupa Al-Hikmah), di dalam dada-hati-pikirannya masing-masing, yang telah diperolehnya melalui perantaraan para malaikat Jibril. Tiap sunnah itu disampaikan, terutama agar bisa mengatasi persoalan pengamalan umat.

Namun ada pula yang disampaikannya melalui tiap kitab tauhid (Al-Kitab), sebagai suatu sumber pengajaran dan tuntunan-Nya, yang telah bisa tersusun relatif amat lengkap dan sempurna, juga sekaligus sebagai dasar paling pokok dari keseluruhan ajarannya. Tiap kitab tauhid itu disampaikan, terutama agar bisa mengatasi persoalan pemahaman umat.

Sekali lagi, kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah-sunnah Nabi, pada dasarnya justru juga bentuk 'hasil ijtihad', walau memang berasal langsung dari Nabi sendiri, dan telah tersusun relatif amat lengkap dan sempurna. Sedangkan segala hasil ijtihad dari Majelis alim-ulama, relatif jauh dari kelengkapan dan kesumpurnaan itu. Serta segala hasil ijtihad dari Majelis alim-ulama, pada tiap negeri dan jamannya itu, justru bisa menjaga 'aktualitas' dari ajaran agama Islam, bahkan sampai akhir jaman.

Perbedaan usaha antara para nabi-Nya dan manusia biasa lainnya

Siklus proses penyampaian pengajaran dan tuntunan-Nya justru relatif serupa dari nabi ke nabi, dari umat ke umat dan dari jaman ke jaman, serta letak perbedaannya relatif amat sedikit. Al-Hikmah pada para nabi-Nya relatif sebagian besarnya diperoleh dari hasil mempelajari langsung "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta. Sedangkan relatif amat sedikit diilhami dari risalah-risalah para nabi-Nya terdahulu.

Di lain pihak, Al-Hikmah pada umat manusia biasa lainnya relatif sebagian besarnya diilhami dari risalah-risalah para nabi-Nya. Sedangkan relatif amat sedikit diperoleh dari hasil mempelajari langsung "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta. Pengungkapan hasil rangkuman atas segala Al-Hikmah, secara relatif ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual, oleh para nabi-Nya disebut sebagai 'kitab tauhid' dan 'Sunnah', sedangkan oleh umat manusia biasa lainnya hanya disebut sebagai 'hasil ijtihad'.

Baca pula artikel "Pola penyampaian pengajaran-Nya sepanjang masa".

Sedangkan tiap Al-Hikmah dan hasil pengungkapannya (tiap ayat kitab tauhid) dari para nabi-Nya sama-sama pantas disebut sebagai 'wahyu-Nya', karena telah bisa tersusun relatif sempurna (relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhan), di dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya dan di dalam kitab tauhid, khususnya tentang segala hal yang paling penting, hakiki dan mendasar, dalam kehidupan beragama seluruh umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah).

Di lain pihak, tiap Al-Hikmah dan hasil pengungkapannya dari umat manusia biasa lainnya, 'tidak pantas' disebut sebagai 'wahyu-Nya', karena memang relatif amat 'jauh' dari kesempurnaan pada para nabi-Nya (relatif belum menjawab segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan beragama seluruh umat manusia, secara sempurna).

Baca pula artikel "Cara proses diturunkan-Nya wahyu" dan "Wahyu dan kitab-Nya memiliki 4 macam bentuk".

Tiap wahyu-Nya adalah satu-kesatuan yang tersusun 'utuh' dan 'sempurna', dengan 'seluruh' wahyu-Nya pada tiap nabi-Nya (tidak berdiri-sendiri atau terpisah). Dan ukuran kesempurnaan ini tentunya bersifat relatif, tergantung tingkat keyakinan umat atas wahyu dan kenabian. Ukuran-ukuran di atas (kelengkapan, kedalaman, konsistensi, keutuhan dan pertentangan) hanya sebagai contoh dan tentunya hanya menurut penilaian relatif penulis.

Pengungkapan segala Al-Hikmah pada buku "Menggapai Kembali"

Dengan semangat dan harapan, agar bisa menjaga 'universalitas' dari ajaran agama Islam (khususnya kitab suci Al-Qur'an), maka penulis sendiri telah berusaha semaksimal mungkin, untuk bisa mengungkap berbagai Al-Hikmah, 'di balik' teks-teksnya, serta telah diungkap relatif amat lengkap pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (setebal ±1460 halaman) ataupun pada "ringkasan bukunya".

Seluruh pengungkapan inipun didukung oleh ±2900 ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an, untuk memperkuat seluruh dalil-alasan-hujjahnya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi umat Islam dan para alim-ulama khususnya, serta bagi umat manusia umumnya. Amien.

Berbagai Al-Hikmah itupun tentunya bukan bentuk pemahaman yang 'paling benar' atau 'pasti benar', di antara berbagai Al-Hikmah yang terkait, yang telah dimiliki oleh umat Islam lainnya. Namun hal yang paling pentingnya bagi tiap umat Islam, untuk bisa terus-menerus berusaha mencari Al-Hikmah yang 'makin benar' (makin kokoh-kuat segala dalil-alasan-hujjah dan makin lengkap segala penjelasannya).

Maka segala kritik dan saran dari para pembaca justru amat diharapkan, dan Insya Allah, selalu diterima dengan tangan terbuka, agar secara bersama bisa diperoleh seluruh Al-Hikmah, yang 'makin mendekati' pemahaman Nabi yang relatif sempurna, atas wahyu-wahyu-Nya yang telah diperolehnya (relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhan).

Amat diharapkan lagi, agar tiap kritik dan saran itu bisa disertai pula dengan segala dalil-alasan-hujjah dan penjelasannya, baik yang membantah, maupun yang memperkuat pemahaman dalam buku penulis itu. Sehingga tidak hanya semata mengarah kepada debat kusir yang tanpa ujung-pangkalnya, serta hanya semata berupa saling klaim, tentang siapa yang 'benar' dan siapa yang 'sesat'. Tetapi diharapkan bisa terjadi dialog atau tukar-pikiran yang sehat dan obyektif, serta mengarah kepada peningkatan keimanan secara bersama.

Atas ijin Allah, tiap umat Islam pada dasarnya pasti selalu berkeinginan, untuk bisa makin menyempurnakan tiap pemahamannya tentang kebenaran-Nya dan juga pasti tidak berkeinginan untuk sengaja menyesatkan dirinya sendiri. Hal yang biasanya terjadi, relatif hanya adanya berbagai keterbatasan pengetahuan pada masing-masing umat, yang justru menjadikannya bisa tersesat, terutama lagi apabila umat terlalu bersikap memaksakan diri atau berlebihan, dengan pengetahuan yang dimilikinya.

Padahal segala bentuk pengetahuan manusia, bahkan termasuk pula para nabi-Nya, memang pasti bersifat 'relatif' dan 'terbatas'. Namun seluruh pengetahuan para nabi-Nya tentang kebenaran-Nya, memang relatif paling sempurna di antara seluruh umat manusia, pada tiap jamannya masing-masing. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Benar.

'Universalitas' + 'aktualitas' ajaran agama Islam = 'Al-Hikmah' + 'hasil ijtihad'

Sekali lagi, dengan berdasar segala Al-Hikmah yang telah bisa diperoleh, lalu Majelis alim-ulama pada tiap negeri dan jaman, bisa melahirkan segala hasil ijtihad, sesuai segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan beragama umat sehari-hari.

Hal ini mestinya relatif hanya dilakukan oleh Majelis alim-ulama (bukan alim-ulama secara perseorangan), karena tiap hasil ijtihad memang menyangkut kehidupan beragama seluruh umat. Juga tiap alim-ulama memang hampir mustahil bisa mengatasi sendiri, atas segala persoalan pada umatnya dan pada dirinya sendiri.

Serta relatif hanya melalui gabungan antara segala Al-Hikmah (nilai-nilai universal 'di balik' teks-teks ajaran agama Islam) dan segala hasil ijtihad dari Majelis alim-ulama, yang bisa tetap menjaga 'universalitas' dan 'aktualitas' dari ajaran agama Islam, bahkan sampai akhir jaman. Sedangkan ajaran agama Islam memang bukan hanya semata bagi umat-umat di jaman dahulu, namun juga bagi seluruh umat manusia, sampai akhir jaman.

Kembali ke kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah Nabi = kembali ke Al-Hikmah-nya

Pernyataan "kembali kepada kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Hadits Nabi)" mestinya berupa anjuran, agar pemahaman dan pengamalannya bisa sesuai dengan makna yang sebenarnya, 'di balik' teks-teksnya (Al-Hikmah-nya), ataupun sesuai dengan hal yang sebenarnya dimaksud atau dipahami oleh nabi Muhammad saw, atas tiap ajarannya itu. Hal ini tentunya diperlukan pemahaman yang relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhan, berdasar segala kitab, risalah, catatan dan keterangan terkait, agar bisa diperoleh makna yang sebenarnya, atas tiap ajarannya.

Apalagi segala Al-Hikmah yang tertanam di dalam dada-hati-pikiran tiap nabi-Nya terkait, yang memang pasti mendasari tiap kitab tauhid dan sunnah-nya (amal-perbuatan manusia memang pasti berdasar segala isi pikirannya). Namun sebaliknya, pernyataan itu mestinya 'bukan' berupa anjuran, agar pemahaman dan pengamalannya bisa sesuai dengan makna tekstual-harfiahnya, sebagai makna yang paling sederhana, karena memang relatif paling mudah dan langsung diperoleh dari teks-teksnya.

Dari kenyataan kandungan isi kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi, yang memang sesuai dengan konteks keadaan umat saat disampaikan, agar umat bisa relatif amat mudah memahami dan mengamalkannya, serta juga dari amat banyaknya segala bentuk "contoh-perumpamaan simbolik", bagi uraian atas hal-hal gaib dan batiniah (hanya semata analogi-pendekatan, dan bukan uraian yang sebenarnya).

Maka pemahaman secara tekstual-harfiah semata atas tiap ajarannya, justru amat tidak memadai, dan bahkan bisa menjadikan agama Islam 'bukan' agama yang universal, bagi seluruh umat manusia sampai akhir jaman. Serta paling parahnya, pemahaman secara tekstual-harfiah semata tentunya bisa mengkerdilkan, membekukan atau membinasakan agama Islam. Na'udzubillah.

Wallahu a'lam bishawwab.

Ya Allah, hanya Engkau pemilik segala kebenaran dan kesempurnaan. Sedangkan hanya kami hamba-hamba-Mu pemilik segala keterbatasan, kekurangan, kekeliruan dan kesalahan. Karena itulah, kami memohon segala ampunan dan taubat kepada-Mu. Hanya kepada-Mu kami pasti kembali dan mestinya berserah-diri, atas segala urusan kami.

Wassalam.

Artikel / buku terkait:

Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

18 Balasan ke Beranda

  1. TheSalt Asin berkata:

    Assalamu alaikum wr wb – sangat bagus dan berkesan artikelnya – semoga keluarga anda selalu ada dalam ridha Allah swt – amiin.

  2. Anonymous berkata:

    salam ,udah lama saya nggak baca artikelx,perkembangax udah sampai mana.

    • Syarif Muharim berkata:

      Salam kembali.
      Skrg blm smpat tulis2 lagi, krn sdg ada kesibukan. Juga kebanyakan tulisanx hanya utk menyadur / mengungkap ulang kembali bagian2 dari isi buku “Menggapai” (bangunan pemahaman saya atas kitab suci Al-Qur’an sdh lngkap terungkap dlm buku ini).

  3. bang kapan kita bisa diskusi tentang buku itu lagi

  4. Ayi Purbasari berkata:

    selamat siang pak syarif, saya diminta profesor saya untuk membaca blog bapak tentang islam (dan sains/engineering). mohon ijinnya :). terima kasih.

  5. Anonymous berkata:

    Assalamu’alaykum WrWb Pak Syarif,
    salam Kenal,
    bolehkah saya download buku “Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW” dan saya share ke teman2 yang lain.
    terimakasih,

    salam,
    Mono

  6. Anonymous berkata:

    Masbro, aku mau nanya. Apakah benar Tuhan itu ada ???. Apakah benar semua yang terjadi didunia ini atas kehendak NYa ?. Kalo memang benar atas kehendakNYA, berarti manusia yang berbuat Zina, mencuri, maling, rampok, sombong dan lain sebagainya TIDAK BOLEH dihukum dineraka donk, KARENA BUKANKAH ITU SEMUA ATAS KEHENDAKNYA ???.

    • Syarif Muharim berkata:

      Ya, Tuhan mmg benar2 ada. Hal ini bisa diketahui dari dalil2 dlm teks kitab2 suci, ataupun dalil2 akal-pikiran, yg misalnya bisa dibaca dari artikel Wikipedia “Existence of God (eksistensi / keberadaan Tuhan)” (pd http://en.wikipedia.org/wiki/Existence_of_god).
      Bagi umat Islam, sama sekali tidak ada Tuhan, selain Allah, Tuhan Yg Maha Esa dan Pencipta alam semesta ini yg sebenarnya.

      Betul, sgla sesuatu kejadian di seluruh alam semesta ini, mmg pasti terjadi atas dasar kehendak-Nya, atau juga disebut “atas ijin-Nya”. Tapi hal yg penting pula diketahui, bhwa sgla kehendak atau ijin-Nya justru bersifat “netral”, krn bisa menguntungkan ataupun merugikan makhluk2 ciptaan-Nya.

      Trmsuk Allah Maha Menciptakan sgla pasangan keseimbangan, yg membentuk sgla dikotomi, dinamika, simetrisitas, ketidak-sempurnaan, dan ketidak-lengkapan pada segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini, seperti: pria & wanita; jantan & betina; maskulin & feminin; elektron & proton; iblis & malaikat; tua & muda; baik & jahat; benar & sesat; hak & batil; dunia & akhirat; nyata & gaib; lahiriah & batiniah; bumi & langit; pahala & dosa; dsb.

      Dari adanya sgla pasangan keseimbangan ataupun ketidak-sempurnaan tsb, maka tiap makhluk justru bisa menghayati / memahami makna “kesempurnaan”, dan bahkan juga bisa mengenal Allah, Tuhan Yg Maha Sempurna.
      Selain itu pula, dari adanya sgla pasangan keseimbangan ataupun ketidak-sempurnaan tsb, maka tiap makhluk justru bisa menjadi “hidup”.

      Bayangkan misalnya jika manusia hanya mengenal ‘baik’ dan tdk pernah mengenal ‘jahat’. Maka manusia tdk akan pernah memahami ‘kebaikan’, tdk akan pernah menghargai ‘kebaikan’ sbgai suatu kesempurnaan yg perlu dicari, dan juga manusia akan ‘mati’ (srpti robot ataupun benda2 mati).

      Pembahasan yg serupa ini bisa dibaca pula dari artikel “Berbagai permasalahan terkait kejahatan atau keburukan” (pd http://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/bd_5d/#_Toc280619307).

      Utk bisa “hidup”, tentunya tiap makhluk juga telah diberikan-Nya kebebasan dlm berkehendak dan berbuat, dgn diciptakan-Nya ‘akal’ (sarana bagi pembentukan pengetahuan atau kecerdasan untuk memilih) dan ‘nafsu’ (sarana bagi pembentukan semangat atau keinginan untuk berkembang) bagi msg2 makhluknya.

      Akhirnya, sbgai konsekuensi dari kebebasan yg telah diberikan-Nya kpd tiap makhluk dlm berkehendak dan berbuat, maka tiap makhluk juga pasti harus bertanggung-jawab dan pasti diberikan-Nya hukuman atas tiap keburukan / perbuatan dosanya. Sbliknya tiap makhluk pasti diberikan-Nya kenikmatan atas tiap kebaikannya.

      “Allah berkehendak bagi suatu makhluk, hanya jika makhluknya sendiri mmg juga berkehendak dan berbuat”.

  7. Anonymous berkata:

    Subhanallah walhamdulillah… sebuah pencerahan bagi saya sbg org awam.. trima kasih atas artikel”nya, smoga Allah SWT mencurahkan hidayahNya pada Pak Syarif.. Aamiin

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s