Kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dan keragaman kandungan isinya

Kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dan keragaman kandungan isinya

Kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, yang amat mulia dan agung, adalah 'simbol' bagi tempat tercatatnya segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta ini.
Seperti halnya 'Arsy-Nya, tentunya kitab mulia (Lauh Mahfuzh) juga berada di alam
gaib (bersifat gaib). Berikut ini akan diungkap secara lebih lengkap dan detail,
tentang kitab mulia (Lauh Mahfuzh), juga beserta keragaman kandungan
isinya. Agar umat Islam bisa memiliki pemahaman yang makin tepat
dan proporsional, tentang sifat Maha Mengetahui Allah.

Pendahuluan

Dalam artikel/posting terdahulu telah diungkap relatif cukup lengkap, bahwa "Allah, 'Arsy-Nya dan kitab mulia (Lauh Mahfuzh) berada di dalam 'hati-nurani' tiap makhluk" (di alam batiniah ruh, alam pikiran atau alam akhiratnya), dan juga bahwa kitab mulia (Lauh Mahfuzh) disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, hanya sebagai suatu "contoh-perumpamaan simbolik" (bukan suatu kitab yang sebenarnya). Segala kebenaran atau pengetahuan-Nya, yang secara 'simbolik' disebut tercatat dalam kitab mulia (Lauh Mahfuzh), pada fakta atau kenyataannya memang tersebar dimana-mana di alam semesta ('berada' atau 'tercatat' di alam semesta, bukan di dalam suatu kitab).

Di lain pihak, umat Islam umumnya telah berpendapat, bahwa sebagian dari segala pengetahuan-Nya yang tercatat dalam kitab mulia (Lauh Mahfuzh), berupa qadar, takdir atau ketentuan-Nya bagi tiap makhluk. Namun umat justru sekaligus berpendapat, bahwa takdir-Nya itu sendiri berupa segala keadaan lahiriah dan batiniah pada tiap makhluk, 'tiap saatnya', yang seluruhnya telah diketahui-Nya 'sebelumnya' (bahkan sejak jaman 'azali').

Pendapat pertama tersebut relatif tidak menimbulkan persoalan, namun sebaliknya bagi pendapat keduanya. Karena pendapat kedua ini memang amat meragukan, terutama jika dikaitkan dengan 'kebebasan' dan 'tanggung-jawab' pada makhluk, dalam berkehendak dan berbuat. Padahal segala takdir atau ketentuan-Nya bisa berupa 'keadaan' dan 'aturan'. Lebih luas lagi, padahal segala kebenaran atau pengetahuan-Nya justru memiliki berragam 'sifat', 'bentuk', 'saat perolehan', 'peran makhluk', dsb, yang akan diungkap di bawah.

Segala perdebatan tentang takdir-Nya, bahkan relatif tidak pernah selesai tuntas di kalangan umat Islam, terutama sejak setelah wafatnya nabi Muhammad saw, sampai saat ini. Hal yang serupa, bahkan juga terjadi di kalangan umat pengikut agama-agama lainnya. Beberapa contoh perbedaan pendapat antar agama atau antar umat pengikutnya, tentang takdir-Nya, misalnya bisa dilihat pada predestination (Wikipedia).

Hal yang mengecewakan dari tiap perdebatan atau perbedaan pendapat seperti itu, adalah hampir tidak adanya analisa yang utuh dan mendalam, tentang 'keragaman' segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta ('sifat', 'bentuk', 'saat perolehan', 'peran makhluk', dsb). Tiap pendapat umat Islam umumnya 'hanya' mengacu kepada keterangan dari kitab suci Al-Qur'an, seperti "Allah, Maha Mengetahui segala sesuatu hal", tetapi tidak diperhatikan 'keragaman' segala pengetahuan-Nya. Maka tidak terlalu mengherankan, jika tidak pernah selesai tuntasnya perdebatan tentang takdir-Nya.

Agar umat Islam bisa memperoleh pemahaman yang makin tepat dan proporsional, tentang takdir-Nya, pengetahuan-Nya ataupun sifat Maha Mengetahui Allah, maka dalam artikel/posting sekarang ini, akan diungkap lebih lengkap dan detail, tentang kandungan isi kitab mulia (Lauh Mahfuzh), beserta 'keragaman' kandungan isinya ('sifat', 'bentuk', 'saat perolehan' dan 'peran makhluk', atas pengetahuan-Nya).

Namun sebaliknya, jika umat tidak melakukan pengungkapan seperti ini, atas segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta, bahkan bisa melahirkan pemahaman yang relatif 'fatal', tentang takdir-Nya. Disebut bisa 'fatal', karena pemahaman umat yang 'keliru' tentang takdir-Nya, memang bisa amat mempengaruhi pula segala usahanya dalam berkehendak dan berbuat. Contoh sederhananya, segala keburukan, kebatilan, kekafiran, kehinaan, dsb, justru bisa dianggapnya sebagai 'ketentuan-Nya' yang mustahil bisa ditolak, serta sekaligus dianggapnya sama sekali tanpa 'peran' dan 'tanggung-jawab', dari makhluk yang mengalaminya (segala hal dianggapnya pasti telah diketahui dan ditentukan-Nya).

Suatu fatalisme seperti itu telah dikenal cukup luas, terdapat pada aliran Jabariyah, melalui pemahamannya seperti, "umat manusia tidak memiliki kendali atas perbuatannya, dan seluruhnya didiktekan oleh Allah". Sedangkan pada aliran-golongan-mazhab lainnya di kalangan umat islam, memang tidak menyetujui fatalisme seperti ini. Namun aliran-aliran ini justru juga relatif belum cukup memadai menerangkan, terutama tentang kaitan antara takdir-Nya dan kebebasan makhluk, termasuk tentang sifat Maha Mengetahui dan Maha Menentukan Allah. Padahal tanpa pemahaman yang cukup memadai atas hal-hal ini, justru juga bisa mengarah kepada fatalisme.

Tiap umat Islam mestinya bisa menjawab secara cermat, atas pertanyaan seperti, "apakah nasib ataupun keadaan tiap makhluk, saat sedetik, sejam, setahun atau saat Hari Kiamat 'nantinya', memang benar-benar telah diketahui dan ditentukan-Nya?", "'sebelum' dipilih oleh akal tiap makhluk, apakah pilihan akhir di antara sejumlah pilihan tiap saatnya, memang benar-benar telah diketahui dan ditentukan-Nya?" atau "apakah tiap perbuatan makhluk memang benar-benar perbuatan Allah (diciptakan-Nya, tanpa peran makhluk)?". Maha Suci Allah, semua jawaban atas pertanyaan seperti ini tentunya mestinya "tidak".

Segala qadar, takdir, nasib ataupun keadaan tiap makhluk, memang pasti diketahui dan ditentukan-Nya. Namun umat Islam juga mestinya bisa menjawab secara relatif cukup memadai, "apa hakekat dari qadar atau takdir-Nya?" dan "kapan dan bagaimana cara saat diketahui dan ditentukan-Nya, atas sesuatu hal?". Baca pula Takdir-Nya.

Maha Suci Allah, ada hal-hal yang 'tidak' diketahui-Nya, 'sebelum' terjadinya

Allah memang Maha Mengetahui segala sesuatu hal, dan Maha Menentukan segala sesuatu hal. Tetapi umat juga mestinya memahami 'apa', 'kapan' dan 'bagaimana' diketahui dan ditentukan-Nya, atas sesuatu hal, agar umat bisa memiliki pemahaman yang tepat dan proporsional. Maha Suci Allah, padahal ada berbagai hal yang justru 'tidak' diketahui-Nya, 'sebelum' terjadinya, seperti yang disebut "agar Allah mengetahui", dalam ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an di bawah. Hal yang serupa juga terjadi pada sifat Maha Menentukan Allah.

Lebih jelasnya, Allah justru "tidak mengetahui segala keadaan" pada tiap makhluk, 'sebelum' terjadinya, karena memang telah diberikan-Nya kebebasan, dalam berkehendak dan berbuat, dengan diciptakan-Nya akal dan nafsu-keinginannya (ada pengetahuan-Nya yang memang diperoleh dari hasil pengaruh atau peran makhluk). Serta Allah justru "tidak menentukan segala keadaan" pada tiap makhluk, sebagai suatu bentuk balasan-Nya secara adil atau setimpal, 'sebelum' makhluknya sendiri memang telah berusaha mengubah-ubah keadaannya, melalui tiap amal-perbuatannya (ada hasil dari ketentuan-Nya yang memang ditentukan 'bersama-sama' oleh Allah dan makhluk).

Di lain pihak Allah memang mengetahui segala "keadaan umum" pada tiap makhluk, 'sebelum' terjadinya, karena alam semesta telah diciptakan-Nya dengan tujuan yang 'pasti' dan 'jelas'. Makhluk nyata misalnya (termasuk manusia), pasti makin tua dan menghadapi kematian (telah diketahui dan ditentukan-Nya 'sebelumnya'). Namun 'kapan', 'bagaimana' atau 'dimana' kematiannya, justru tidak diketahui dan ditentukan-Nya 'sebelumnya'. Maka amat keliru pendapat seperti, "bunuh diri bisa menentang atau melawan ketentuan-Nya" atau lebih luasnya "makhluk bisa hidup 'di luar' ketentuan-Nya".

Allah, Maha Meliputi segala sesuatu hal, serta sama sekali tidak ada sesuatupun zat atau makhluk ciptaan-Nya, yang berada 'di luar' pengetahuan dan ketentuan-Nya. Namun sekali lagi, umat Islam mestinya bisa memahami 'apa', 'kapan' dan 'bagaimana' diketahui dan ditentukan-Nya, atas sesuatu hal. Termasuk juga mestinya bisa memahami berragam 'sifat', 'bentuk', 'saat perolehan' dan 'peran makhluk', atas pengetahuan-Nya, yang tercatat dalam kitab mulia (Lauh Mahfuzh).

"…. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." – (QS.2:29) dan (QS.2:231, QS.2:282, QS.3:154, QS.4:32, QS.4:135, QS.4:176, QS.5:97, QS.8:43, QS.8:75, QS.9:115, QS.11:5, QS.21:81, QS.24:35, QS.24:64, QS.29:62, QS.31:23, dsb).

"Kepunyaan-Nya-lah apa yang di langit, dan apa yang di Bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu." – (QS.4:126) dan (QS.41:54).

"…, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." – (QS.65:12) dan (QS.6:80, QS.20:98, QS.7:89, QS.40:7, QS.18:91, QS.72:28, QS.17:60).

 

"… melainkan agar Kami mengetahui, siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. …" – (QS.2:143).

"…, dan agar Allah mengetahui, siapa orang-orang yang beriman." – (QS.3:166).

"…, dan agar Allah mengetahui, siapa orang-orang yang beriman.", "Dan supaya Allah mengetahui, siapa orang-orang yang munafik. …" – (QS.3:166-167).

"…, supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. …" – (QS.5:94).

"…, dan supaya Allah mengetahui, siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. …" – (QS.57:25).

"Dan sesungguhnya, Kami benar-benar akan menguji kamu, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad, dan bersabar di antara kamu. Dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." – (QS.47:31).

"…, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu, yang lebih tepat dalam menghitung …" – (QS.18:12).

"…, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.", "Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Rabb-nya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu-persatu." – (QS.72:27).

 

"…. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan, yang ada pada diri mereka sendiri. …" – (QS.13:11).

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. …" – (QS.3:185) dan (QS.21:35, QS.29:57).

"Kami telah menentukan kematian di antara kamu, dan Kami sekali-kali, tidak dapat dikalahkan," – (QS.56:60).

Berbagai hal umum yang terkait kitab mulia (Lauh Mahfuzh)

Bahwa kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, berwujud gaib dan berada di alam gaib, seperti halnya dengan 'Arsy-Nya itu sendiri. Sekali lagi, seperti telah diungkap dalam artikel/posting terdahulu, bahwa "Allah, 'Arsy-Nya dan kitab mulia (Lauh Mahfuzh) justru berada di dalam 'hati-nurani' tiap makhluk" (di alam batiniah ruh, alam pikiran atau alam akhiratnya). Tetapi agar lebih jelasnya, berbagai uraian yang terkait dalam artikel itu diungkap kembali rangkumannya, antara lain:

  • Segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta, bisa meliputi: sifat-Nya, kehendak / keredhaan-Nya, tindakan / perbuatan-Nya, hukum / aturan / ketentuan / ketetapan-Nya, qadla dan qadar-Nya (takdir-Nya), kitab-kitab-Nya, dsb, "selain" tentang 'esensi' Zat Allah, Yang Maha Suci dan tersucikan dari segala sesuatu hal.
    Tiap makhluk (bahkan termasuk para malaikat-Nya dan para nabi-Nya) justru mustahil bisa menjangkau, tentang 'esensi' Zat Allah, di dunia dan di akhirat.
    Para nabi-Nya misalnya, justru hanya bisa menjangkau hal-hal yang 'amat umum' dan 'tak-langsung', tentang 'esensi' Zat Allah, seperti: Wujud (ada), Maha Esa, Maha Hidup, Maha Gaib, Maha Kekal, Maha Awal, Maha Akhir, dsb.
  • Segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta, adalah "segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian lahiriah dan batiniah di alam semesta".
  • "Segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta" terkadang juga disebut "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya", "wajah-Nya", "sabda, firman, kalam atau wahyu-Nya yang 'sebenarnya'" ataupun disebut "Al-Qur'an dan kitab-kitab-Nya lainnya yang berbentuk 'gaib', yang tercatat dalam kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya". Semua sebutan ini serupa, dan hanya berbeda fokus, sudut pandang atau konteks pemakaiannya masing-masing.
  • Serupa dengan segala hal gaib lainnya, kitab mulia (Lauh Mahfuzh) juga hanya suatu "contoh-perumpamaan simbolik" (bukan suatu kitab yang sebenarnya), karena segala kebenaran-Nya pada fakta-kenyataannya memang tersebar dimana-mana di alam semesta ('berada' atau 'tercatat' di alam semesta, bukan di dalam suatu kitab).
  • Segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta, hanya bisa diketahui atau dipahami oleh tiap makhluk (bahkan termasuk pula para malaikat-Nya dan para nabi-Nya), dari hasil mengamati dan mempelajari segala sesuatu hal yang terdapat di alam semesta ('hasil' segala perbuatan-Nya / "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis").
    Sedangkan tiap umat manusia biasa lainnya tentunya telah relatif amat dipermudah dalam memahaminya, melalui ajaran para nabi-Nya ("ayat-ayat-Nya yang tertulis").
  • Para nabi-Nya bisa relatif paling sempurna memahami, atas sebagian amat sedikit dari segala kebenaran atau pengetahuan-Nya, dibanding seluruh umat manusia biasa lainnya di tiap jamannya, karena mereka memang telah berusaha amat keras dan maksimal, dalam mengamati dan mempelajari segala sesuatu hal di alam semesta.
    Sehingga mereka juga bisa 'paling dekat' atau 'amat dekat' di sisi 'Arsy-Nya.
  • Hakekat wujud dari suatu 'hijab-tabir-pembatas' antara Allah dan tiap makhluk, adalah tiap "tingkat kesempurnaan pengetahuan" makhluknya (jarak perbedaan antara pengetahuan 'mutlak' Allah dan pengetahuan 'relatif' makhluknya), tentang 'sesuatu hal'. 'Hijab-tabir-pembatas' itu amat banyak, baik jumlah (jumlah 'segala' pengetahuan), maupun tingkatannya (tingkat kesempurnaan 'tiap' pengetahuannya).
  • Dari kesempurnaan seluruh pengetahuan pada tiap nabi-Nya (seluruh wahyu-Nya), maka ia telah bisa mencapai berbagai 'hijab-tabir-pembatas' tertinggi (baik jumlah maupun tingkatannya, atau terdekat di sisi 'Arsy-Nya), terutama tentang segala hal yang paling penting, hakiki dan mendasar, dalam kehidupan seluruh umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah).
  • Letak segala pengetahuan 'relatif' pada tiap makhluk (juga termasuk para nabi-Nya), tentang kebenaran-Nya, justru berada di dalam 'hati-nurani'-nya, dari segala hasil olahan akalnya selama hidupnya.
    Segala kebenaran atau pengetahuan 'relatif' inipun telah membentuk keyakinan tiap makhluknya, dalam menilai segala sesuatu hal (bisa dipakai kembali oleh akalnya).
  • Allah, 'Arsy-Nya dan kitab mulia (Lauh Mahfuzh) berada pada 'posisi' yang amat mulia dan agung, di dalam 'hati-nurani' tiap makhluk. Hal ini sama sekali bukan letak keberadaan Zat Allah, tetapi hanya letak pengetahuan tentang kebenaran-Nya.

Perlu diketahui lebih lanjut, bahwa segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta, bersifat 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), sejak saat 'perolehannya' (saat diketahui atau ditentukan-Nya), sampai akhir jaman. Saat 'perolehan' ini bisa disebut "saat tercatat ke dalam kitab mulia (Lauh Mahfuzh)", yang tentunya bisa 'saat paling awal' penciptaan alam semesta, ataupun bisa 'tiap saatnya', sampai saat sekarang ini.

Tetapi saat 'perolehan' ini tentunya bukan saat 'nantinya' (saat akan diketahui atau ditentukan-Nya 'nantinya'). Maka sifat 'kekal' dari segala pengetahuan-Nya, menunjukkan saat 'akhirnya', yang tak-terbatas, bukan saat 'awalnya'. Bahkan segala pengetahuan-Nya bukan 'seluruhnya' telah bisa diketahui-Nya sejak jaman 'azali' (saat paling awal penciptaan alam semesta), namun hanya 'sebagiannya' saja, serta terutama berupa segala hal "dasar" pada tiap zat yang paling elementer, penyusun keseluruhan alam semesta dan segala isinya ("zat Ruh" dan "zat Materi terkecil"). Baca pula Urutan penciptaan alam semesta, Model alam semesta ataupun uraian-uraian di bawah, bagi penjelasan lebih lengkapnya.

Hal ini amat perlu diungkap, terutama agar umat Islam justru memiliki pemahaman yang makin tepat dan proporsional, tentang pengetahuan-Nya, ataupun tentang sifat Maha Mengetahui Allah. Karena memang ada hal-hal yang diketahui-Nya, pada saat 'sebelum', 'sedang' dan 'setelah' terjadi (terwujud). Namun Allah justru 'tidak pasti selalu' mengetahui segala sesuatu halnya, 'sebelum' terjadinya.

Bahkan tidak tepat pemahaman, seperti "kandungan isi kitab mulia (Lauh Mahfuzh) justru bisa 'diubah-ubah', sesuai dengan kehendak atau perintah-Nya (sekehendak-Nya)". Karena penulisan isi kitab mulia (Lauh Mahfuzh) tidak seperti halnya penulisan buku-buku buatan manusia (bisa ditambah, dikurangi ataupun dihapus), tetapi justru terkait langsung dengan kebenaran-Nya di alam semesta (bersifat 'kekal'). Serta kandungan isi kitab mulia (Lauh Mahfuzh) hanya bisa ditambah, tetapi justru 'tidak bisa' dikurangi ataupun dihapus. Allah memang Maha Berkehendak dan Maha Menentukan, namun Allah, Yang Maha Suci, Maha Mulia dan Maha Memelihara, juga mustahil berbuat sekehendak-Nya (alam semesta mustahil tetap tegak-kokoh). Hanya makhluk yang berbuat sekehendak (tidak konsisten).

Adanya pemahaman di atas umumnya terkait dengan pemahaman lainnya, seperti "takdir-Nya bisa 'diubah-ubah', melalui do'a dan perbuatan manusia". Namun dalam buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", tentang Takdir-Nya, telah bisa diungkap bahwa takdir-Nya justru tidak bisa 'diubah-ubah', tetapi tepatnya hanya bisa 'dipilih-pilih', di antara sejumlah besar takdir-Nya yang tersedia bagi tiap makhluk, 'tiap saatnya'.

Juga keterangan dalam ayat QS.13:39, seperti "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya-lah ada Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).", justru 'bukan' terkait langsung dengan kandungan isi kitab mulia (Lauh Mahfuzh), namun terkait dengan perubahan atau penyempurnaan kitab-kitab-Nya, secara 'alamiah', sesuai dengan tingkat kesempurnaan pemahaman tiap nabi-Nya terkait, tentang berbagai kebenaran-Nya di alam semesta (sesuai dengan perkembangan jamannya).

Keterangan itu mestinya ditafsirkan, seperti "ayat-ayat-Nya yang 'tertulis' (kitab-kitab-Nya) memang bisa berubah-ubah secara 'alamiah', dari jaman ke jaman, namun ada ayat-ayat-Nya yang 'tak-tertulis' di alam semesta, yang justru tidak pernah berubah-ubah ('kekal' / pasti tetap terpelihara)".

Lalu mungkin timbul pertanyaan, seperti "apakah kaitan antara kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dan kitab catatan amalan pada tiap makhluk?" dan "siapa yang mencatat kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dan kitab catatan amalan itu?". Jawaban ringkasnya masing-masing "amat dekat" dan "para malaikat, termasuk para malaikat Rakid dan 'Atid". Tetapi hal-hal ini belum sempat dibahas pada artikel/posting sekarang ini. Insya Allah akan dibahas pada waktu lainnya, ataupun para pembaca mungkin bisa mengembangkannya sendiri.

Berbagai sebutan lain bagi kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dan penjelasannya

Kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, di dalam kitab suci Al-Qur'an disebut pula dengan berragam istilah-istilah lain, misalnya: "Kitab" (QS.7:37, QS.17:58, QS.22:70, QS.35:11, QS.57:22), "Kitab di sisi-Nya" (QS.13:8), "Kitab yang nyata" (QS.6:59, QS.10:61, QS.11:6, QS.27:75, QS.34:3), "Kitab induk yang nyata" (QS.36:12), "Ummul-Kitab / Induk Al-Kitab" (QS.13:39, QS.43:4) dan juga "Kitab yang terpelihara / memelihara" (QS.56:78, QS.50:4). Sedangkan istilah "Lauh Mahfuzh" itu sendiri disebut dalam ayat QS.85:22.

Kitab mulia (Lauh Mahfuzh) memang hanya suatu "contoh-perumpamaan simbolik" (bukan suatu kitab yang sebenarnya / hanya suatu 'simbol' bagi tempat tercatatnya segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta). Namun jika dikaitkan langsung antara berragam istilah sebutan dan kandungan isinya (segala kebenaran atau pengetahuan-Nya), justru bisa diungkap lebih lanjut hal-hal yang amat penting, antara lain:

  • "Kitab mulia (Lauh Mahfuzh)"

    Sesuai dengan 'Arsy-Nya, yang amat mulia dan agung, tentunya segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta, memang benar-benar tinggi nilai kemuliaan dan keagungannya, serta amat banyak mengandung hikmah (pada QS.43:4), jika umat manusia tentunya telah bisa memahaminya.
    Baca pula Metode pencapaian pemahaman Al-Hikmah.

    Maka umat manusia yang amat beriman kepada-Nya (terutama amat memahami kebenaran-Nya), juga bisa 'amat dekat' di sisi 'Arsy-Nya, serta sekaligus mendapat amat banyak kemuliaan dan keagungan yang kekal dan hakiki di kehidupan akhirat.

    "Allah memberikan hikmah-Nya, kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah-Nya, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang-orang yang berakal." – (QS.2:269).

    "Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb-nya dan ampunan, serta rejeki (nikmat) yang mulia." – (QS.8:4) dan (QS.9:20, QS.10:2, QS.33:69, QS.57:19, QS.2:277, QS.3:199).

    "…, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, …" – (QS.58:11).

  • "Kitab di sisi-Nya"

    Segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku), 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah) dan 'tak-terbatas', serta segala hal seperti ini memang pasti hanya berasal dari sisi Allah, Yang Maha Kuasa, Maha Kekal dan Maha Tinggi (pasti hanya hasil dari segala perbuatan-Nya). Sedangkan segala perbuatan makhluk pasti bersifat 'relatif', 'fana' dan 'terbatas'.

    Namun kebenaran 'relatif' milik manusia, justru bisa amat 'sesuai' atau 'mendekati' kebenaran 'mutlak' milik Allah, jika manusianya telah mempelajari alam semesta, secara relatif amat obyektif, cermat dan mendalam. Kebenaran 'relatif' seperti ini (termasuk pada para nabi-Nya), tentunya juga pasti hanya berasal dari sisi Allah.

    "Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka Bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. …" – (QS.7:146).

    "Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, karena itu janganlah sekali-kali kamu menjadi orang-orang yang ragu." – (QS.2:147) dan (QS.3:60, QS.10:94, QS.18:29, QS.10:76, QS.28:48, QS.40:25, QS.4:174, QS.4:170, QS.10:108).

    "…. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al-Qur'an itu. Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar dari Rabb-mu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman'." – (QS.11:17) dan (QS.5:64, QS.8:32, QS.10:37, QS.28:53, QS.32:3).

    "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk, dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka, bahwa Al-Qur'an itu benar. …" – (QS.41:53) dan (QS.69:51).

    "sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar firman(-Nya, yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),", "yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi-Nya, Yang mempunyai 'Arsy," – (QS.81:19-20) dan (QS.86:13-14).

  • "Kitab yang nyata"

    Segala kebenaran atau pengetahuan-Nya memang pasti terwujud secara 'jelas' dan 'nyata' di alam semesta, walau sebagiannya memang juga sekaligus bersifat 'gaib' (tersembunyi / tidak jelas kentara / amat sulit dipahami langsung).
    Maka hanya umat-umat manusia yang berilmu relatif amat tinggi (termasuk para nabi-Nya), yang bisa memahaminya dengan relatif 'jelas', 'nyata' dan "yakin".

    "… Rabb, Yang memelihara langit dan Bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. …" – (QS.17:102).

    "Sebenarnya, Al-Qur'an itu adalah ayat-ayat-Kami yang nyata, di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat-Kami, kecuali orang-orang yang zalim." – (QS.29:49) dan (QS.7:203, QS.10:15, QS.12:1, QS.22:16, QS.28:2, QS.40:23).

    "Dan sesungguhnya, Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) ayat-ayat-Kami yang jelas (dalam Al-Qur'an). Dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik." – (QS.2:99) dan (QS.6:55, QS.6:105, QS.11:1, QS.15:1, QS.24:1, QS.24:46, QS.25:33, QS.27:1, QS.45:25, QS.46:7).

  • "Kitab yang terpelihara / memelihara"

    Segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta memang bersifat 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), sejak saat 'perolehannya' (saat diketahui atau ditentukan-Nya), sampai akhir jaman, sehingga juga 'pasti tetap terpelihara'.

    Maka para nabi-Nya, dari jaman ke jaman misalnya, justru bisa memiliki tauhid yang 'sama', seperti "Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa", dari hasil segala usaha mereka yang amat keras dan maksimal, dalam mencari dan mengenal Allah, Tuhan Pencipta alam semesta yang sebenarnya.
    Juga nabi Muhammad saw misalnya, bisa ikut 'membenarkan' seluruh kitab dan wahyu-Nya dari para nabi-Nya terdahulu, karena seluruhnya memang mengandung kebenaran-Nya, serta seluruhnya dari hasil mempelajari alam semesta yang 'sama'.

    Walau secara alamiah, para nabi-Nya bisa memiliki tingkat kelengkapan, kedalaman atau kesempurnaan pemahaman yang relatif berbeda-beda, tentang kebenaran-Nya, sesuai dengan perkembangan jamannya (makin mutakhir, relatif makin sempurna).

    "…. Kursi Allah (tempat keberadaan Allah) meliputi langit dan Bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. …" – (QS.2:255).

    "Dan kepunyaan-Nya-lah, apa yang di langit dan apa yang di Bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara." – (QS.4:132) dan (QS.4:171).

    "Rabb Yang memelihara langit dan Bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, …" – (QS.44:7) dan (QS.78:37, QS.17:102, QS.39:62, QS.37:6-7, QS.41:12, QS.21:32, QS.55:17).

    "…. Dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu." – (QS.6:102) dan (QS.11:12, QS.11:57, QS.34:21, QS.59:23).

    "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya, Kami benar-benar memeliharanya." – (QS.15:9) dan (QS.33:2).

    "Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Rabb-mu, Pencipta segala sesuatu, tiada Ilah (yang berhak disembah), melainkan Dia. Maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?." – (QS.40:62) dan (QS.27:26, QS.37:35, QS.40:3, QS.40:65, QS.59:22-23, QS.73:9, QS.11:84).

    "Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an (hai Muhammad), dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya), dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. …" – (QS.5:48) dan (QS.2:41, QS.2:89, QS.2:91, QS.2:97, QS.2:101, QS.3:3, QS.4:47, QS.6:92, QS.10:37, QS.12:111, QS.35:31, QS.46:12, QS.46:30).

    "Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran, dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya)." – (QS.37:37).

    "Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi-Nya: 'Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul, yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya, dan menolongnya'. …" – (QS.3:81).

    "Maka siapakah yang lebih zalim, daripada orang yang membuat-buat dusta tentang Allah, dan mendustakan kebenaran, ketika datang kepadanya. Bukankah di neraka Jahanam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang kafir?." dan "Dan orang yang membawa kebenaran dan (orang yang) membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa." – (QS.39:32-33).

    "Apa saja ayat-ayat-Kami yang telah Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, (setelah itu) Kami datangkan yang lebih baik darinya, atau sebanding dengannya. …" – (QS.2:106).

  • "Kitab induk / Ummul-Kitab / Induk Al-Kitab"

    Hal yang mungkin relatif dilupakan oleh umat Islam, bahwa segala kebenaran-Nya di dalam kitab suci Al-Qur'an, justru sama sekali tidak bertentangan dengan segala kebenaran-Nya di alam semesta. Bahkan segala kebenaran-Nya di dalam kitab suci Al-Qur'an, adalah hasil pengungkapan pemahaman nabi Muhammad saw, yang telah diperolehnya dari segala usaha amat kerasnya, dalam mengamati dan mempelajari berbagai kebenaran-Nya di alam semesta, sambil dituntun pula oleh malaikat Jibril.
    Hal yang persis sama justru juga dilakukan oleh para nabi-Nya lainnya, dari jaman ke jaman. Baca pula Cara proses diturunkan-Nya wahyu, kepada para nabi-Nya.

    Maka umat Islam justru mestinya sama sekali tidak perlu kuatir, dengan segala ilmu-pengetahuan yang telah diperoleh dari hasil mengamati dan mempelajari alam semesta, secara relatif amat obyektif, cermat dan mendalam. Bahkan agama Islam mestinya amat sesuai dengan ilmu-pengetahuan, serta mestinya bersifat 'universal' (sesuai perjalanan alam semesta / bisa melewati batas waktu, ruang dan budaya).

    Lebih pentingnya lagi, segala kebenaran-Nya di alam semesta justru menjadi acuan 'pokok' dan 'utama' bagi umat (acuan 'induk'), dalam berusaha memahami tiap ajaran agama-Nya. Jika suatu pemahaman umat belum sesuai dengan kebenaran-Nya di alam semesta, maka pemahamannya itu tentunya juga relatif 'belum benar'.
    Bahkan segala kebenaran-Nya di alam semesta, adalah sarana 'paling utama' dari Allah, untuk 'memelihara' kitab-kitab-Nya (terutama kitab suci Al-Qur'an). Makin terungkap kebenaran-Nya di alam semesta, sekalipun oleh umat non-Muslim, justru relatif makin terbukti kebenaran-Nya yang terkait di dalam kitab suci Al-Qur'an.

    Serta jaman para nabi-Nya memang juga telah berakhir pada nabi Muhammad saw. Namun justru pasti selalu tetap ada segala kebenaran-Nya di alam semesta (sebagai sumber pengajaran-Nya yang 'paling dasar'), yang bisa dipelajari oleh seluruh umat manusia, dari jaman ke jaman, bahkan sampai akhir jaman.

    Namun sebaliknya dalam mempelajari kebenaran-Nya di alam semesta, tentunya paling aman dan mudah bagi umat manusia, jika mulai mengacunya dari kitab suci Al-Qur'an, sebagai sumber pengajaran dan tuntunan-Nya yang paling akhir, lurus (benar), lengkap dan sempurna, yang masih dimiliki oleh seluruh umat manusia.

    "Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan Bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,", "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan Bumi (seraya berkata): 'Ya Rabb-kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksaan neraka." – (QS.3:190) dan (QS.2:164, QS.10:67, QS.12:105, QS.14:5, QS.15:75-77, QS.16:12, QS.16:65, QS.16_79, QS.20:54, QS.20:128, QS.30:20-25, dsb).

    "…. Sesungguhnya, Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami, kepada kaum yang yakin." – (QS.2:118) dan (QS.5:75, QS.6:46, QS.6:75, QS.6:97-99, QS.10:5-6, QS.10:24, QS.13:2-4, QS.31:31, dsb).

    "(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk, serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa." – (QS.3:138) dan (QS.68:52, QS.34:28, QS.16:89).

Berbagai kandungan isi kitab mulia (Lauh Mahfuzh), secara lengkap

Sekali lagi, segala hal yang tertulis atau tercatat secara 'simbolik', dalam kitab mulia (Lauh Mahfuzh), adalah segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta. Namun segala pengetahuan-Nya tersebut juga bisa dikelompokkan lebih detail lagi, menjadi:

a. Pengetahuan-Nya.
b. Ketetapan, ketentuan ataupun aturan-Nya.
c. Ancaman balasan-Nya.
d. Catatan amal-perbuatan tiap makhluk.
e. Kitab-kitab-Nya dalam wujud gaibnya.

Uraian yang lebih lengkapnya tentang hal-hal itu, diungkap pada tabel berikut.

Tabel berbagai hal dalam kitab mulia (Lauh Mahfuzh)

Berbagai hal yang tercatat dalam kitab mulia (Lauh Mahfuzh)
di sisi 'Arsy-Nya, menurut kitab suci Al-Qur'an

a.

Pengetahuan-Nya

»

"Dan pada sisi-Nya-lah, kunci-kunci semua yang gaib. Tak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan Bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." – (QS.6:59).

"Kamu tidak berada dalam suatu keadaan, dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur'an, dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu, di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Rabb-mu, biarpun sebesar zarrah (atom) di Bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." – (QS.10:61).

"Dan tidak ada sesuatu binatang melatapun di Bumi, melainkan Allah-lah Yang memberi rejekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu, dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." – (QS.11:6).

"Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di Bumi. Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah." – (QS.22:70).

"Dan orang-orang yang kafir berkata: 'Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami'. Katakanlah: 'Pasti datang, demi Rabb-ku Yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya Kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi dari-Nya seberat zarrahpun, yang ada di langit dan yang ada di Bumi, dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)'," – (QS.34:3).

"Sesungguhnya Kami telah mengetahui, apa yang dihancurkan oleh Bumi, dari (jasad tubuh mereka), dan pada sisi Kamipun ada kitab yang memelihara (mencatat, Lauh Mahfuzh)." – (QS.50:4).

 

Rangkuman tiap ayat:

QS.6:59 :

~

Pengetahuan-Nya tentang segala hal gaib ("kunci-kunci semua yang gaib").

~

Pengetahuan-Nya tentang segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ("apa yang ada di daratan dan di lautan").

~

Pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu hal yang amat sederhana dan amat detail sekalipun ("sehelai daun yang gugur; jatuhnya sebutir biji; suatu yang basah atau yang kering").

QS.10:61 :

~

Pengetahuan-Nya tentang segala keadaan pada tiap makhluk ("tidak berada dalam suatu keadaan").

~

Pengetahuan-Nya tentang segala amal-perbuatan tiap makhluk ("tidak membaca; tidak mengerjakan suatu pekerjaan").

~

Pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu hal yang amat sederhana dan amat kecil sekalipun di alam semesta ("biarpun sebesar zarrah di Bumi ataupun di langit; dan yang lebih kecil ataupun yang lebih besar").

QS.11:6 :

~

Pengetahuan-Nya tentang segala makhluk di Bumi ataupun di alam semesta, sekaligus beserta segala sesuatu hal padanya ("tidak ada sesuatu binatang melatapun di Bumi; rejeki, tempat berdiam dan tempat penyimpanannya").

QS.22:70 :

~

Pengetahuan-Nya tentang segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ("apa saja yang ada di langit dan di Bumi").

QS.34:3 :

~

Pengetahuan-Nya tentang segala hal gaib ("mengetahui yang gaib").

~

Pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu hal yang amat sederhana dan kecil sekalipun di alam semesta ("tidak ada tersembunyi seberat zarrahpun, yang ada di langit dan di Bumi; dan yang lebih kecil ataupun lebih besar").

QS.50:4 :

~

Pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu hal yang telah terjadi, atas tiap zat ciptaan-Nya di alam semesta ("apa yang dihancurkan oleh Bumi").

b.

Ketetapan, ketentuan ataupun aturan-Nya

»

"Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta tentang Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya. Orang-orang itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: 'Dimana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah'. Orang-orang musyrik itu menjawab: 'Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami', dan mereka mengakui terhadap diri mereka, bahwa mereka adalah orang-orang kafir." – (QS.7:37).

"Allah mengetahui apa yang dikandung oleh perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya (di Kitab Lauh Mahfuzh) ada ukurannya." – (QS.13:8).

"Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung, dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan pengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang, dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (telah ditentukan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah." – (QS.35:11).

 

Rangkuman tiap ayat:

QS.7:37 :

~

Ketentuan atau aturan proses pemberian balasan-Nya, bagi orang-orang yang berbuat dosa ("memperoleh bagian yang telah ditentukan untuknya").

QS.13:8 :

~

Ketentuan atau aturan proses penciptaan tiap makhluk ("mengetahui apa yang dikandung; yang kurang sempurna dan yang bertambah; dan ada ukurannya").

QS.35:11 :

~

Ketentuan atau aturan proses penciptaan tiap makhluk ("dari tanah, ataupun dari air mani, sampai menjadi laki-laki dan perempuan dewasa; mengandung dan melahirkan; dan tidak dipanjangkan dan tidak dikurangi umurnya").

c.

Ancaman balasan-Nya

»

"Tidak ada sesuatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum Hari Kiamat, atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang amat keras (di Hari Kiamat). Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)." – (QS.17:58).

"Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di Bumi, dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." – (QS.57:22).

 

Rangkuman tiap ayat:

QS.17:58 :

~

Aturan proses pemberian balasan-Nya di dunia ("membinasakannya sebelum Hari Kiamat"), dan di akhirat ("azab yang amat keras").

QS.57:22 :

~

Aturan proses pemberian balasan-Nya secara lahiriah ("sesuatu bencana yang menimpa di Bumi"), dan secara batiniah ("pada dirimu sendiri").

d.

Catatan amal-perbuatan tiap makhluk

»

"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati, dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan, dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan, dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)." – (QS.36:12).

"Dan sesungguhnya, Rabb-mu benar-benar mengetahui, apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan." dan "Tiada sesuatupun yang gaib di langit dan di Bumi, melainkan (semua tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." – (QS.27:74-75).

 

Rangkuman tiap ayat:

QS.36:12 :

~

Segala amal-perbuatan tiap makhluk ("apa yang telah mereka kerjakan")

~

Segala hasil atau pengaruh dari tiap amal-perbuatan makhluk ("bekas-bekas yang mereka tinggalkan")

QS.27:74-75 :

~

Segala isi pikiran tiap makhluk ("apa yang disembunyikan hati mereka")

~

Segala amal-perbuatan tiap makhluk ("apa yang mereka nyatakan").

~

Segala amal-perbuatan tiap ruh makhluk di alam semesta ("sesuatupun yang gaib di langit dan di Bumi").

e.

Kitab-kitab-Nya dalam wujud gaibnya

»

"Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu, dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul (untuk) mendatangkan suatu ayat (mu'jizat), melainkan dengan ijin-Nya. Bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu)." dan "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)." – (QS.13:38-39).

"Dan sesungguhnya, Al-Qur'an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya), dan amat banyak mengandung hikmah." – (QS.43:4).

"sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang amat mulia," dan "pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh)," – (QS.56:77-78).

"Bahkan yang didustakan mereka itu, ialah Al-Qur'an yang mulia," dan "yang tersimpan dalam Lauh Mahfuzh." – (QS.85:21-22).

"Dan sesungguhnya, telah Kami tulis di dalam (kitab) Zabur, setelah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya Bumi ini dipusakai (bagi) hamba-hamba-Ku yang shaleh." – (QS.21:105).

 

Rangkuman tiap ayat:

QS.13:38-39 :

~

Adanya perubahan dari kitab-Nya yang satu, ke kitab-Nya yang lain, dari jaman ke jaman, dari kitab Zabur, Taurat, Injil, sampai kitab terakhir Al-Qur'an. ("menghapuskan dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya").
Namun di sisi-Nya juga ada Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh), yang di dalamnya tercatat segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta ("ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis"), yang bersifat 'kekal' (tidak berubah-ubah) dan menjadi acuan induk bagi seluruh kitab-Nya ("ayat-ayat-Nya yang tertulis").

QS.43:4, QS.56:77-78, QS.85:21-22 dan QS.21:105 :

~

Kitab-kitab-Nya dalam wujud 'gaib'-nya, yaitu: Zabur, Taurat, Injil dan terakhir Al-Qur'an, pada dasarnya berupa "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" di seluruh alam semesta ("tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya").

Setelah "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" dipelajari oleh manusia (termasuk para nabi-Nya), lalu ada yang menjadi pemahaman Al-Hikmah, di dalam hati-dada-pikiran para nabi-Nya. Lalu ada pula yang terungkap menjadi Al-Kitab (kitab-Nya / kitab tauhid / "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis").

Tentunya sebagian dari tiap ayat pada tabel di atas, kandungan isinya bisa meliputi lebih dari satu kelompok pengetahuan-Nya. Maka kandungan isi dari semua ayat tersebut, lalu dirangkum lebih lanjut lagi dan sekaligus dilengkapi, pada tabel berikut.

Rangkuman atas berbagai hal yang tercatat dalam kitab mulia (Lauh Mahfuzh)

a.

Segala zat ciptaan-Nya di alam semesta (makhluk hidup dan benda mati, nyata dan gaib), beserta segala keadaannya (lahiriah dan batiniah).

b.

Segala hal gaib, seperti tentang 'esensi' dan 'perbuatan' ruh-ruh makhluk. Serta juga tentang 'perbuatan' Zat Allah, namun tidak ada tentang 'esensi' Zat Allah.

c.

Segala hal yang paling halus, sederhana, kecil dan detail sekalipun di alam semesta ("sebesar biji zarrah"), secara lahiriah dan batiniah.

d.

Segala amal-perbuatan lahiriah dan batiniah tiap makhluk (pikiran, sikap, perkataan dan perbuatan), beserta segala hasil atau pengaruhnya (lahiriah dan batiniah).

e.

Segala ketentuan, ketetapan, hukum atau aturan-Nya bagi alam semesta (lahiriah dan batiniah).

f.

Segala ketentuan atau aturan proses bagi penciptaan segala zat ciptaan-Nya.

g.

Segala ketentuan atau aturan proses bagi pemberian segala bentuk balasan-Nya (lahiriah dan batiniah, di dunia dan di akhirat), atas tiap amal-perbuatan makhluk.

h.

"Ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" (lahiriah dan batiniah).
Ada sebagian amat sedikit darinya yang telah bisa diungkap atau dipahami oleh umat manusia, seperti menjadi segala Al-Hikmah di dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya. Lalu ada pula sebagiannya yang telah bisa diungkap atau ditulis, menjadi berbagai Al-Kitab (kitab-Nya / kitab tauhid / "ayat-ayat-Nya yang tertulis").

Namun penting diketahui, bahwa semua hal yang disebut pada tabel di atas, adalah segala pengetahuan-Nya, yang terkait dengan segala sesuatu hal di alam semesta (berupa segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di dalamnya). Lebih jelasnya, semuanya berupa segala pengetahuan-Nya di alam semesta, yang memang masih bisa dijangkau atau dinalar oleh umat manusia (terutama para nabi-Nya). Tentunya ada pula segala pengetahuan-Nya lainnya, 'selain' dari semua hal di atas (tidak terkait dengan alam semesta / mustahil bisa dinalar oleh umat manusia), termasuk tentang 'esensi' Zat Allah.

Ringkasnya, segala pengetahuan-Nya yang disebut dalam artikel sekarang ini, kitab mulia (Lauh Mahfuzh), kitab suci Al-Qur'an ataupun Hadits Nabi, adalah pengetahuan-Nya bagi sudut pandang manusia, bukan bagi sudut pandang Allah sendiri (jauh lebih luas lagi).

Berragam segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta

Hal yang relatif kurang diperhatikan oleh umat Islam, bahwa kandungan isi kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, berupa segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta, yang justru memiliki berragam 'sifat', 'bentuk', 'saat perolehan' dan 'peran makhluk', yang secara sekilas telah tampak pada tabel di atas. Maka pada uraian dan tabel berikut, keragaman ini diungkap lebih lengkap lagi.

Terutama umat relatif kurang memperhatikan 'saat perolehan' dan 'peran makhluk' atas pengetahuan-Nya. Hal ini karena umat umumnya beranggapan, seperti "Allah Maha Mengetahui segala sesuatu hal, bahkan 'sebelum' terjadinya dan juga keseluruhannya telah diketahui-Nya sejak jaman 'azali'", namun sekaligus tanpa diperhatikannya 'saat perolehan' pengetahuan-Nya, serta apa 'peran makhluk' atas pengetahuan-Nya (tidak dipisahkannya, antara hal-hal yang memang telah diketahui-Nya sejak jaman 'azali', dan yang tidak).

Juga sekali lagi perlu diingatkan kembali, bahwa meskipun ada berragam kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta, tetapi keseluruhannya justru pasti bersifat 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), sejak saat 'perolehannya' (saat diketahui ataupun ditentukan-Nya), sampai akhir jaman.

Berragam segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta

Pengelompokan "sifatnya"

Berdasar "sifatnya", maka segala pengetahuan-Nya di alam semesta bisa dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: "mutlak" (pasti terjadi / berlaku, dari hasil perbuatan Allah dan makhluk) dan "relatif" (tidak pasti terjadi / berlaku, hanya dari hasil perbuatan makhluk).

Segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak', tentunya pasti hanya berasal dari hasil perbuatan Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Namun sebaliknya, segala sesuatu hal yang bersifat 'relatif', tentunya pasti hanya berasal dari hasil perbuatan makhluk, melalui segala kebebasan yang telah diberikan-Nya, dalam berkehendak dan berbuat (diciptakan-Nya akal dan nafsu-keinginannya).

Tetapi amat uniknya seperti disinggung di atas, bahwa ada hal-hal 'mutlak' dari hasil perbuatan 'makhluk'. Hal ini karena segala perbuatan Allah di alam semesta (selain penciptaan alam semesta paling awalnya), memang dilakukan 'bukan langsung' oleh Allah, tetapi dilakukan atau diwujudkan oleh tak-terhitung jumlah segala makhluk ciptaan-Nya (terutama para malaikat-Nya), berdasar segala perintah-Nya, secara sadar ataupun tidak.
Lebih jelasnya, ada perbuatan makhluk yang dilakukannya berdasar kebebasannya sendiri. Namun ada pula perbuatan makhluk yang dilakukannya berdasar segala "sifat atau fitrah dasar", yang justru telah ditanamkan-Nya pada zat ruhnya, sejak saat awal penciptaan zat ruhnya. Segala "sifat atau fitrah dasar" itu bersifat 'kekal'.

Baca pula Sunatullah sebagai wujud perbuatan Allah, yang perwujudannya memang dilaksanakan oleh segala makhluk ciptaan-Nya (terutama para malaikat-Nya).

Segala perbuatan Allah di alam semesta (melalui sunatullah), justru pasti berlaku adil atau setimpal, sesuai dengan segala keadaan lahiriah dan batiniah, 'tiap saatnya', pada tiap zat ciptaan-Nya (termasuk pada lingkungan terkait di sekitar zat itu). Sederhananya, sunatullah berupa "respon dasar" lahiriah dan batiniah 'tiap saatnya', dari segala zat terkait di sekitar, atas perubahan keadaan pada suatu zat.

Juga melalui tiap perbuatannya, secara sadar ataupun tidak, tiap manusia justru pasti mengubah-ubah berbagai keadaan lahiriah dan batiniahnya, yang terkait.

Sedangkan pada saat paling awal penciptaan alam semesta, yang memang dilakukan 'langsung' oleh Allah sendiri, justru berupa penciptaan tak-terhitung jumlah 3 jenis elemen paling dasar, secara sekaligus dan bersamaan seluruhnya (hanya sesaat atau sekejap), bagi penciptaan seluruh alam semesta dan segala isinya, yaitu: "Ruh" (zat penyusun kehidupan bagi tiap makhluk), "Materi terkecil" (zat penyusun terkecil bagi tiap benda mati) dan "Energi" (potensi atau kemampuan bagi tiap zat).

Juga pada saat paling awal ini sekaligus ditentukan-Nya, segala hal yang terkait langsung dengan ke-3 elemen paling dasar itu, antara lain: segala komponen pada tiap zat ruh makhluk (akal, nafsu, hati / kalbu, hati-nurani dan catatan amalan); segala "esensi dan keadaan dasar" bagi tiap elemen (termasuk segala "kebenaran dasar" pada hati-nurani tiap zat ruh makhluk); segala "sifat atau fitrah dasar" pada tiap zat ruh makhluk (termasuk sifat feminin atau maskulinnya / 'jenis kelamin'); dsb. Jenis kelamin dimaksud berupa jenis kelamin 'batiniah' (bukan 'fisik-lahiriah').

Baca pula Urutan penciptaan alam semesta dan Model alam semesta.

Amat perlu diketahui, bahwa selain dari adanya perbedaan jenis kelamin 'batiniah', segala esensi, keadaan, kebenaran, sifat ataupun fitrah dasar pada keseluruhan zat ruh makhluk justru telah diciptakan-Nya persis "sama" (ruh segala makhluk sama), sebagai bentuk paling awal ke-Maha Adil-an Allah. Bahkan 'umur' ataupun 'saat penciptaan' keseluruhan zat ruh makhluk juga persis "sama". Juga segala keadaan batiniah ruh pada tiap makhluk, pada awalnya sama-sama masih suci-murni dan bersih dari dosa (bahkan jin, syaitan dan iblis pada awalnya masih berada di Surga).

Hakekat dari tiap makhluk berada pada "ruhnya" (bukan tubuh fisik-lahiriahnya). Serta hakekat dari nilai tiap makhluk di hadapan-Nya, berada pada segala "keadaan batiniah ruhnya" (bukan segala keadaan fisik-lahiriahnya), sebagai hasil dari segala amal-perbuatannya selama hidup di dunia.

Segala "sifat atau fitrah dasar" pada tiap zat ruh makhluk, juga bisa disebut "Fitrah Allah" (pada QS.30:30), yang menjadi dasar bagi penciptaan alam semesta dan segala isinya (termasuk seluruh umat manusia), bagi penciptaan "agama-Nya yang lurus", bagi perwujudan pelaksanaan sunatullah, bagi timbulnya "Energi", dsb.

Pengelompokan "bentuknya"

Berdasar "bentuknya", maka segala pengetahuan-Nya di alam semesta bisa dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: "zat" (berupa segala zat ciptaan-Nya) dan "non-zat" (berupa segala keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya tiap saatnya; segala hukum, aturan, ketetapan atau ketentuan-Nya, bagi segala zat ciptaan-Nya; dsb).
Selain itu juga bisa dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: "gaib" (tidak jelas kentara / tidak terjangkau oleh alat indera fisik-lahiriah makhluk / tersembunyi / batiniah) dan "nyata" (jelas kentara / terjangkau oleh alat indera fisik-lahiriah makhluk).

Seperti disinggung pada poin di atas, bahwa segala zat ciptaan-Nya yang menyususn alam semesta dan segala isinya, justru hanya tersusun dari elemen paling dasar yang berupa "zat Ruh" dan "zat Materi terkecil", yang tak-terhitung jumlahnya dan telah diciptakan-Nya secara sekaligus dan bersamaan seluruhnya (hanya sekejap), pada saat paling awal penciptaan alam semesta. Sedangkan "Energi" adalah elemen paling dasar yang berupa 'non-zat' (potensi atau kemanpuan bagi tiap zat).

Baca pula Urutan penciptaan alam semesta dan Model alam semesta.

Juga pada saat paling awal itu ditentukan-Nya segala "esensi dan keadaan dasar", pada tiap "zat Ruh" dan "zat Materi terkecil". Serta pada tiap "zat Ruh" makhluk ditentukan atau ditanamkan-Nya segala "sifat atau fitrah dasar" (termasuk sifat feminin atau maskulinnya / 'jenis kelaminnya'). Segala "esensi, keadaan, sifat ataupun fitrah dasar" inipun tentunya berupa 'non-zat' (deskripsi tentang zat).

Perlu diketahui, bahwa segala hukum, aturan, ketetapan atau ketentuan-Nya di alam semesta (termasuk sunatullah), 'selanjutnya' atau 'setelah' saat penciptaan paling awal, justru terwujud melalui "sifat atau fitrah dasar" pada segala makhluk ciptaan-Nya ("Fitrah Allah"), yang telah ditanamkan-Nya tersebut.

Baca pula Sunatullah sebagai wujud perbuatan Allah, yang perwujudannya memang dilaksanakan oleh segala makhluk ciptaan-Nya (terutama para malaikat-Nya).

Juga 'setelah' saat paling awal itu, segala jenis zat ciptaan-Nya di alam semesta (makhluk hidup dan benda mati, nyata dan gaib) justru hanya terbentuk dari hasil saling interaksi, antar sejumlah "zat Ruh" dan "zat Materi terkecil", yang didukung oleh adanya "Energi". Tubuh manusia misalnya terbentuk dari tak-terhitung jumlah sel (makhluk) dan atom (materi), yang saling berinteraksi secara harmonis.

Sedangkan segala keadaan tiap saatnya pada tiap zat ciptaan-Nya (selain segala "keadaan dasar"-nya), secara lahiriah justru terbentuk dari hasil saling interaksi antar segala materi terkait di alam semesta. Serta secara batiniah (di alam pikiran tiap makhluk), justru terbentuk dari hasil saling interaksi antar makhluk (antar manusia, antar tiap manusia dan para makhluk gaib yang selalu mengikutinya, dsb), hasil tangkapan alat indera batiniah ataupun hasil olahan akal makhluknya sendiri.

Juga perlu diketahui, bahwa setelah saat paling awal itu, justru Allah sama sekali tidak ikut campur-tangan 'langsung', dalam menentukan segala keadaan lahiriah dan batiniah, pada tiap zat ciptaan-Nya (termasuk manusia). Lebih jelasnya, segala keadaan tiap saatnya pada tiap zat ciptaan-Nya, justru hanya ditentukan-Nya melalui sunatullah ('tak-langsung'), secara adil atau setimpal, sesuai dengan hasil saling interaksi antar zat ataupun hasil usaha dari segala makhluk, yang terkait.

Pada pengelompokan lainnya, tentunya segala pengetahuan-Nya yang berbentuk 'gaib', antara lain berupa: Zat Allah, zat-zat ruh makhluk, segala ketetapan-Nya, alam akhirat, Hari Kiamat, dsb.
Hal-hal gaib ini juga biasa disebut sebagai hal-hal 'batiniah', karena memang hanya terjangkau oleh alat indera batiniah pada tiap makhluk ('hati / kalbu'), ataupun lebih luasnya oleh akal-pikirannya.

Sedangkan segala pengetahuan-Nya yang berbentuk 'nyata', tentunya berupa segala partikel-materi-benda (beserta segala keadaannya), yang bisa terjangkau oleh alat indera fisik-lahiriah pada tiap makhluk nyata, secara langsung ataupun tidak (tanpa / dengan bantuan alat).

Pengelompokan "saat perolehannya"

Berdasar "saat perolehannya", maka segala pengetahuan-Nya di alam semesta bisa dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: "non-kronologis" (tak-tergantung waktu) dan "kronologis" (tergantung waktu).

Seperti telah disinggung di atas, bahwa ada hal-hal yang ditentukan-Nya secara 'langsung', pada saat paling awal penciptaan alam semesta, dan ada pula hal-hal yang ditentukan-Nya secara 'tak-langsung' (melalui sunatullah), 'setelah' saat paling awal itu ('tiap saatnya', sampai saat sekarang ini).

Maka dengan sendirinya, hal-hal yang ditentukan-Nya secara 'langsung', justru pasti telah diketahui-Nya sejak saat paling awal penciptaan alam semesta (sejak jaman 'azali'), serta berupa pengetahuan-Nya yang saat perolehannya bersifat 'non-kronologis' (tak-tergantung waktu).
Sedangkan hal-hal yang ditentukan-Nya secara 'tak-langsung' (melalui sunatullah), justru hanya diketahui-Nya 'tiap saatnya' (bukan sejak jaman 'azali'), serta berupa pengetahuan-Nya yang saat perolehannya bersifat 'kronologis' (tergantung waktu).

Pengelompokan "peran makhluknya"

Berdasar "peran makhluknya", maka segala pengetahuan-Nya di alam semesta bisa dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: "tanpa peran makhluk" (hanya dari Allah) dan "dengan peran makhluk" ('bersama-sama' dari Allah dan makhluk).

Seperti telah disinggung pula di atas, bahwa segala perbuatan Allah di alam semesta, yang dilakukan-Nya secara 'langsung', justru hanya terjadi pada saat paling awal penciptaan alam semesta, serta hanya berupa penciptaan tak-terhitung jumlah 3 jenis elemen paling dasar, secara sekaligus dan bersamaan seluruhnya (hanya sesaat atau sekejap), yaitu: "Ruh", "Materi terkecil" dan "Energi".
Maka segala pengetahuan-Nya pada saat paling awal ini memang sama sekali 'tanpa peran makhluk', yang justru 'belum' atau 'sedang' diciptakan-Nya.

Sedangkan segala perbuatan Allah lainnya di alam semesta ('setelah' saat paling awal penciptaan alam semesta), justru dilakukan-Nya secara 'tak-langsung' (melalui sunatullah). Karena sunatullah itu dilakukan atau diwujudkan oleh tak-terhitung jumlah segala makhluk ciptaan-Nya (terutama para malaikat-Nya), berdasar segala perintah-Nya, secara sadar ataupun tidak.
Maka segala pengetahuan-Nya 'setelah' saat paling awal itu, justru pasti terkait 'dengan peran makhluk'. Namun hal inipun tentunya sekaligus terkait dengan peran Allah, Yang justru telah memberi perintah kepada segala makhluk ciptaan-Nya. Wujud dari perintah-Nya itu berupa segala "sifat atau fitrah dasar" pada tiap zat ruh makhluk, yang telah ditanamkan-Nya pada saat awal penciptaan zat ruhnya.

Baca pula Sunatullah sebagai wujud perbuatan Allah, yang perwujudannya memang dilaksanakan oleh segala makhluk ciptaan-Nya (terutama para malaikat-Nya).

Di samping itu, selain ada perbuatan makhluk yang dilakukannya berdasar segala "sifat atau fitrah dasar"-nya (berdasar perintah-Nya, bagi perwujudan sunatullah), ada pula perbuatan makhluk yang dilakukannya berdasar kebebasannya sendiri.
Sedangkan sunatullah berupa "respon dasar" lahiriah dan batiniah 'tiap saatnya', dari segala zat terkait di sekitar, atas perubahan keadaan pada suatu zat.
Serta tiap perbuatan makhluk justru pasti mengubah-ubah segala keadaan lahiriah dan batiniahnya, yang terkait.

Maka pada tiap perbuatan makhluk (termasuk tiap perbuatan manusia), juga pasti 'disertai', 'diikuti' atau 'direspon', oleh segala makhluk terkait di sekitarnya. Secara lahiriah, hal ini 'direspon' oleh para malaikat Mikail yang menempati materi-benda, ataupun oleh para makhluk nyata. Sedangkan secara batiniah, hal ini 'direspon' oleh sejumlah para makhluk gaib (malaikat, jin, sysitan dan iblis), yang menempati atau berinteraksi di alam batiniah ruh makhluk pelaku perbuatan itu (alam pikirannya).

Tentunya dari segala respon itu, ada berbagai respon yang memang tepat, adil atau setimpal, berdasar segala "sifat atau fitrah dasar" pada tiap makhluk (berdasar perintah-Nya). Serta ada pula berbagai respon yang tidak tepat, adil atau setimpal, berdasar kebebasan pada tiap makhluknya sendiri (bukan berdasar perintah-Nya).

Di samping berbagai pengelompokan pada tabel di atas, tentunya juga bisa banyak pengelompokan lainnya, terkait segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta. Tetapi hal-hal di atas diungkap, cukup sekedar untuk bisa menunjukkan adanya berragam segala kebenaran atau pengetahuan-Nya. Terutama agar selanjutnya, tiap umat Islam bisa memiliki pemahaman yang relatif makin tepat dan proporsional, tentang pengetahuan atau ketentuan-Nya, ataupun tentang sifat Maha Mengetahui dan Maha Menentukan Allah.

Pengelompokan umum atas segala kebenaran atau pengetahuan-Nya

Di lain pihaknya, berbagai pengelompokan pada tabel di atas ('sifat', 'bentuk', 'saat perolehan' dan 'peran makhluk', atas pengetahuan-Nya), justru telah menunjukkan saling 'keterkaitan' antar kelompok. Maka pada tabel berikut diungkap lebih lanjut, dan sekaligus dirangkum berdasar 'saat perolehan' pengetahuan-Nya ('non-kronologis' dan 'kronologis').

Pengelompokan umum atas segala pengetahuan-Nya di alam semesta

Pengetahuan-Nya yang bersifat 'non-kronologis'.

»

Segala pengetahuan-Nya yang sama sekali tidak terkait peran makhluk (hanya hasil peran Allah), ataupun tidak terkait keadaan zat ciptaan-Nya 'tiap saatnya', serta seluruhnya ditentukan-Nya pada saat paling awal penciptaan alam semesta, seperti:

~

Segala keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta, pada saat paling awal penciptaan alam semesta.

Sedangkan segala keadaan setelahnya, justru hanya hasil interaksi antar zat-zat ciptaan-Nya (ada hasil peran Allah dan makhluk 'bersama-sama').

Segala keadaan paling awal inipun, terutama berupa segala "keadaan dasar" pada tiap elemen paling dasar, bagi penciptaan seluruh alam semesta dan segala isinya, yaitu: "zat Ruh" dan "zat Materi terkecil".
Juga termasuk di dalamnya segala "kebenaran dasar" pada hati-nurani tiap zat ruh makhluk, sebagai bentuk tuntunan-Nya yang paling dasar.

~

Segala hal gaib, terutama berupa segala 'esensi' dari tiap zat ruh makhluk, tetapi bukan berupa segala 'perbuatan'-nya (termasuk bukan perbuatan berpikir). Juga termasuk segala 'esensi' dari tiap "materi terkecil", karena berupa benda fisik-lahiriah-nyata yang sekaligus bersifat 'gaib' (transparan / amat sangat kecil / mustahil terdeteksi).

~

Segala ketentuan, ketetapan, hukum ataupun aturan-Nya bagi alam semesta, yang ditentukan-Nya sebelum penciptaannya, seperti: segala aturan proses bagi penciptaan tiap zat ciptaan-Nya, dari tiap elemen paling dasarnya; segala aturan proses bagi pemberian segala balasan-Nya di dunia dan di akhirat, secara lahiriah dan batiniah; dan segala aturan proses lainnya.
Segala aturan proses ini justru ditanamkan-Nya pada tiap zat ruh makhluk, pada saat penciptaan zat ruhnya, serta berupa segala "sifat atau fitrah dasar"-nya ("Fitrah Allah").

~

"Ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" ("Al-Qur'an dan kitab-kitab-Nya lainnya yang berbentuk gaib, di sisi 'Arsy-Nya").
Pondasi dari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" telah lengkap dan sempurna, pada saat paling awal ini. Namun 'perwujudannya' di alam semesta justru makin lengkap dan sempurna bersama berjalannya waktu, sampai akhir jaman (sesuai dengan perjalanan alam semesta).
'Nantinya' ada sebagian amat sedikit dari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" yang dipahami oleh umat manusia, termasuk menjadi segala Al-Hikmah di dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya. Lalu sebagiannya ada pula yang terungkap menjadi Al-Kitab (kitab-Nya / kitab tauhid / "ayat-ayat-Nya yang tertulis").

Dan secara umum, pengetahuan-Nya seperti ini bersifat gaib, serta berupa segala hukum, aturan, ketetapan atau ketentuan-Nya, tetapi justru bukan berupa segala keadaan zat ciptaan-Nya 'tiap saatnya'.
Tidak ada lagi segala ketetapan atau ketentuan-Nya lainnya, 'setelah' saat paling awal penciptaan alam semesta, namun hanya 'hasil' dari berlalunya segala ketetapan atau ketentuan-Nya, yang justru telah ditentukan-Nya pada saat paling awal itu.

Pengetahuan-Nya ini bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), sejak saat paling awal penciptaan alam semesta, sampai akhir jaman. Juga bersifat 'universal', amat 'umum' dan 'luas' cakupannya.

Pengetahuan-Nya ini pasti telah diketahui-Nya, 'sebelum', 'sedang' dan 'setelah' terjadinya sesuatu hal (kapan saja), karena memang tidak berubah-ubah ('kekal'), dan juga ditentukan-Nya 'langsung'.

Dari adanya perbedaan tingkat kesempurnaan pemahaman para nabi-Nya, atas "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", secara alamiah sesuai perkembangan jamannya, menjadikan kitab-kitab-Nya ("ayat-ayat-Nya yang tertulis"), juga berubah-ubah (relatif makin lengkap dan sempurna, dari nabi ke nabi). Padahal "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" di alam semesta, justru pasti tetap 'sama' (bersifat 'kekal').

Pengetahuan-Nya yang bersifat 'kronologis'.

»

Segala pengetahuan-Nya yang justru terkait peran makhluk (pasti 'bersama-sama' dengan peran Allah), ataupun terkait keadaan zat ciptaan-Nya 'tiap saatnya', serta seluruhnya ditentukan-Nya secara 'tak-langsung' (melalui sunatullah), 'setelah' saat paling awal penciptaan alam semesta, seperti:

~

Segala keadaan 'tiap saatnya' pada tiap zat ciptaan-Nya di alam semesta, dari hasil peran Allah dan makhluk 'bersama-sama'.

~

Segala amal-perbuatan tiap makhluk (pikiran, sikap, perkataan dan perbuatan, baik dan buruk), beserta segala hasil atau pengaruhnya.

Dan secara umum, bentuk pengetahuan seperti ini berupa segala keadaan zat ciptaan-Nya 'tiap saatnya', tetapi justru bukan berupa segala hukum, aturan, ketetapan atau ketentuan-Nya.
Lebih jelasnya, segala ketetapan atau ketentuan-Nya 'setelah' saat paling awal penciptaan alam semesta, justru hanya 'hasil' dari berlalunya segala ketetapan atau ketentuan-Nya, yang justru telah ditentukan-Nya pada saat paling awal itu.

Pengetahuan-Nya ini bersifat 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), hanya sejak saat 'setelah' terjadinya sesuatu hal (setelah makhluk berbuat sesuatu, atau setelah sesuatu keadaan pada zat ciptaan-Nya berubah). Juga bersifat 'aktual', amat 'khusus' dan 'terbatas' cakupannya.

Pengetahuan-Nya ini justru diketahui-Nya hanya 'segera setelah' terjadinya sesuatu hal (bukan saat 'sebelum' terjadinya), karena memang tidak ditentukan-Nya secara 'langsung'. Namun Allah justru telah menentukan aturan-Nya atau sunatullah, yang pasti mengatur segala proses perubahan keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya, setelah diubah-ubah oleh segala makhluk, yang terkait.

Pengetahuan-Nya ini adalah wujud dari kebebasan yang justru telah diberikan-Nya kepada tiap makhluk, dalam berkehendak dan berbuat (dengan diciptakan-Nya akal dan nafsu-keinginannya).

Tiap amal-perbuatan makhluk justru pasti mengubah segala keadaan lahiriah dan batiniah yang terkait, pada makhluk pelakunya sendiri, ataupun pada segala zat ciptaan-Nya yang terkait di sekitarnya.

Sekali lagi secara umum, segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di seluruh alam semesta, bisa dipisah menjadi 2 kelompok, yaitu: "segala hukum, aturan, ketetapan atau ketentuan-Nya" bagi alam semesta, yang ditentukan atau ditetapkan-Nya secara langsung pada saat paling awal penciptaannya (termasuk segala "keadaan dasar" pada tiap elemen paling dasarnya, yaitu: "zat Ruh" dan "zat Materi terkecil") dan "segala keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya, 'tiap saatnya'", yang ditentukan atau ditetapkan-Nya secara tak-langsung 'setelah' saat paling awal itu (melalui sunatullah).

Kesimpulan

Usaha pengungkapan seluruh ayat kitab suci Al-Qur'an, yang terkait dengan kitab mulia (Lauh Mahfuzh), sekaligus beserta pengungkapan atas keragaman segala kandungan isinya (keragaman segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta), khususnya bertujuan agar umat Islam bisa memiliki pemahaman, yang makin tepat dan proporsional, tentang segala pengetahuan dan ketentuan-Nya (termasuk takdir-Nya), ataupun tentang sifat Maha Mengetahui dan Maha Menentukan Allah.

Allah memang Maha Mengetahui segala sesuatu hal, dan Maha Menentukan segala sesuatu hal. Namun justru telah diungkap, bahwa segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta, memiliki berragam 'sifat', 'bentuk', 'saat perolehan', 'peran makhluk', dsb. Maka Allah justru "tidak" mengetahui dan menentukan segala sesuatu hal, dengan 'begitu saja', apalagi zejak jaman 'azali' seluruhnya. Padahal ada 'kebebasan' dan 'tanggung-jawab' pada tiap makhluk, dalam berkehendak dan berbuat, yang justru telah diberikan-Nya. Dan padahal ada 'peran makhluk', dalam 'sebagian' dari segala perbuatan dan pengetahuan-Nya di alam semesta.

Ringkasnya, Maha Suci Allah, ada berbagai hal yang 'tidak' diketahui-Nya, 'sebelum' terjadinya. Maka umat Islam tidak perlu relatif 'berlebihan', dalam memahami sifat Maha Mengetahui dan Maha Menentukan Allah. Termasuk umat tidak perlu melahirkan segala 'mistis-tahayul', terkait hal ini. Namun cukup dipahami secara 'obyektif' dan 'proporsional', melalui segala fakta-kenyataan-kebenaran yang ada di alam semesta.

Berikut ini diungkap contoh-contoh pemahaman sederhana, khususnya yang terkait dengan takdir atau ketentuan-Nya, tentang kematian, rejeki dan jodoh, seperti misalnya:

~

Allah 'bukan' menentukan bagaimana, kapan dan dimana kematian bagi tiap makhluk nyata, yang justru bersifat 'kronologis'.

Tetapi justru Allah menentukan, seperti "tiap-tiap zat ciptaan-Nya yang berjiwa, pasti akan menghadapi kematian" (zat ruh yang telah ditiupkan-Nya ke tubuh wadah pada tiap makhluk nyata, suatu saat pasti akan dicabut atau diangkat-Nya, untuk kembali ke hadapan-Nya)." (pada QS.3:185, QS.21:35 dan QS.29:57).

Karena pengetahuan-Nya atas hal ini, berupa ketentuan-Nya tentang segala rumus proses pemberian 'batas usia', bagi zat-zat fisik-lahiriah (termasuk tubuh wadah pada tiap makhluk nyata). Segala rumus ini juga tergantung kepada berbagai keadaan, yang bisa diusahakan oleh tiap makhluk itu sendiri.

~

Allah 'bukan' menentukan apa, bagaimana, kapan dan dimana rejeki diberikan-Nya kepada tiap makhluk, yang justru bersifat 'kronologis'.

Tetapi justru Allah menentukan, seperti "tiap-tiap makhluk yang memang telah berusaha mencari rejeki, secara tepat, pasti akan diberikan-Nya tanpa hisab (tanpa ditunda-tunda) dan tanpa batas." (pada QS.3:27, QS.3:37, QS.40:40, QS.2:212, QS.24:38 dan QS.39:10).

Karena pengetahuan-Nya atas hal ini, berupa ketentuan-Nya tentang segala rumus proses pemberian rejeki-Nya, bagi tiap makhluk. Segala rumus ini juga tergantung kepada berbagai keadaan, yang bisa diusahakan oleh tiap makhluk itu sendiri.

~

Allah 'bukan' menentukan siapa, bagaimana, kapan dan dimana jodoh diberikan-Nya kepada tiap makhluk, yang justru bersifat 'kronologis'.

Tetapi justru Allah menentukan, seperti "tiap-tiap makhluk yang memang telah berusaha mencari jodoh, secara tepat, pasti akan diberikan-Nya tanpa hisab (tanpa ditunda-tunda).".

Karena pengetahuan-Nya atas hal ini, berupa ketentuan-Nya tentang segala rumus proses pemberian jodoh, bagi tiap makhluk. Segala rumus ini juga tergantung kepada berbagai keadaan, yang bisa diusahakan oleh tiap makhluk itu sendiri. Dsb.

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang lebih lengkapnya, tentang kandungan isi kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi ‘Arsy-Nya, takdir-Nya, takdir-Nya tentang jodoh, rejeki dan kematian, di samping dari topik-topik terkait lainnya dalam buku ini.

Wallahu a'lam bishawwab.

Artikel / buku terkait:

Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

Tentang Syarif Muharim

Alumni Teknik Mesin (KBK Teknik Penerbangan) - ITB - angkatan 1987 Blog: "islamagamauniversal.wordpress.com"
Tulisan ini dipublikasikan di Hikmah, Saduran buku dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

47 Balasan ke Kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dan keragaman kandungan isinya

  1. Subhanallah.
    Terimakasih penjelasanya yg sangat bermanfaat ini bapak.
    Semoga Allah SWT memberika kemulian hidup dunia dan Akhirat buat Bapak.
    Semoga Bapak serta Keluarga diRahmati oleh ALLAH SWT..
    AmiiiiiiN.! Ya rabb.

    سُبْحَانَ اللّهِ وَ بِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللّهِ الْعَظِيمِ –

    SubhanAllahi wa biHamdihi, Subhan-Allahi ‘l-`adhziim

    “Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung.”
    ▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬
    ▬▬۞▬▬▬۞▬▬▬۞▬—۞۞
    ۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞۞

    Alhamdulillah,Agama Islam adalah agama yg Sempurna.۩۞۩

    ۩۞۩

    • syarifmuharim berkata:

      Amien. Terima kasih.
      Terlebih lagi, salam dan salawat amat perlu kita ucapkan bagi junjungan kita, nabi besar Muhammad saw, yg telah menyampaikan kebenaran-Nya dengan amat sempurna.
      Sehingga tertinggal kpd kemauan dan usaha amat keras dari tiap umat Islam sendiri, utk mengungkapnya kembali, dan juga makin bisa memahaminya, secara relatif lengkap, mendalam, utuh-menyeluruh, konsisten dan tidak saling bertentangan (makin sesuai atau mendekati tingkat pemahaman Nabi, atas seluruh wahyu-Nya yg telah diperolehnya).

  2. Lebih jelasnya, Allah justru “tidak mengetahui segala keadaan” pada tiap makhluk, ‘sebelum’ terjadinya, karena memang telah diberikan-Nya kebebasan, dalam berkehendak dan berbuat, dengan diciptakan-Nya akal dan nafsu-keinginannya (ada pengetahuan-Nya yang memang diperoleh dari hasil pengaruh atau peran makhluk). Serta Allah justru “tidak menentukan segala keadaan” pada tiap makhluk, sebagai suatu bentuk balasan-Nya secara adil atau setimpal, ‘sebelum’ makhluknya sendiri memang telah berusaha mengubah-ubah keadaannya, melalui tiap amal-perbuatannya (ada hasil dari ketentuan-Nya yang memang ditentukan ‘bersama-sama’ oleh Allah dan makhluk).

    ?????? …. terhadap tulisan di atas..Allah justru “tidak mengetahui segala keadaan” pada tiap makhluk
    bukankah..
    Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu dan berkuasa atas segala sesuatu. Dan masalah roh itu adalah urusan Allah SWT. sehingga kalimat tersebut perlu dikoreksi ?!.

    • Syarif Muharim berkata:

      Dlm hal di atas, mestinya dipisahkan antara segala keadaan saat ‘sebelum’, ‘sedang’ dan ‘setelah’ terjadinya. Tentunya Allah Maha Mengetahui segala keadaan pd tiap ciptaan-Nya saat ‘sedang’ dan ‘setelah’ terjadinya, namun bukan saat ‘sebelum’ terjadinya.
      Ayat-ayat kitab suci Al-Qur’an yg berbunyi “agar / supaya Kami mengetahui” di atas (QS.2:143, QS.3:166, QS.3:166-167, QS.5:94, QS.57:25, QS.47:31, QS.18:12, QS.72:27), telah cukup jelas menunjukkan adanya keadaan2 yg tdk diketahui-Nya, ‘sebelum’ terjadinya.
      Sedangkan hal2 yg pasti telah diketahui-Nya ‘sebelum’ terjadinya, justru berupa ‘ketentuan atau aturan-Nya’ (keadaan secara ‘umum’), yg mmg mustahil bisa ditolak / dihindari oleh tiap makhluk, krn alam semesta mmg diciptakan-Nya dgn tujuan yg pasti dan jelas (bukan sekedar main-main). Namun justru bukan berupa ‘keadaan’ pd tiap ciptaan-Nya tiap saatnya ‘sebelum’ terjadinya (keadaan secara ‘detail’), yg terdapat peran dan kebebasan tiap makhluk dlm menentukannya. Contoh2nya telah diberikan pd artikel di atas.
      Sifat Maha Mengetahui dan Maha Kuasa Allah perlu dipahami oleh umat Islam, secara amat hati2, cermat, proporsional dan tepat. Begitu pula dgn semua sifat-Nya lainnya. Shg pemahaman atas sifat-sifat-Nya tdk hanya sekedar ‘segala-galanya’ dgn begitu saja, tanpa dasar alasan yg jelas.
      Harap baca pula “Catatan dan permasalahan pemahaman atas sifat-sifat-Nya” (pd http://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/bd_6/#_Toc280619314).
      Wallahu a’lam bishawwab.

      • Muhammad Najib berkata:

        Anda ingin menjelaskan bahwa Islam mengajarkan bahwa Manusia mempunyai kebebasan dan berkehendak sehingga memiliki tanggung jawab atas segala perbuatannya . . . . Sejak awal Umat Islam (ahlussunnah wal jamaah) sudah menyakini hal tersebut, sekaligus meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu (wahuwa bi kulli syain ‘alim). Pengetahuan Allah itu tidak terikat waktu (bi laa kaifa) (sebelum, sedang, dan sesudah) karena Allah tidak berada dalam ruang dan waktu, bahkan Dialah yang menciptakan waktu. Menurut saya Anda terlalu gegabah memahami akidah Islam, khususnya pernyataan ini: “telah cukup jelas menunjukkan adanya keadaan2 yg tdk diketahui-Nya” dengan merujuk ayat-ayat Alquran yang Anda tafsirkan sendiri dengan logika (apa Anda memiliki ilmu alat yang cukup untuk menafsirkan Alquran) dan tidak merujuk penafsiran ulama-ulama ahli tafsir yang kompeten.

        • Syarif Muharim berkata:

          Terima kasih atas kritikannya pak Muhammad Najib.

          Ayat-ayat QS.2:143, QS.3:166, QS.3:166-167, QS.5:94, QS.57:25, QS.47:31, QS.18:12, dan QS.72:27, yg isinya ada berbunyi “agar / supaya Kami mengetahui”, justru amat jelas dan bahkan tidak memerlukan penafsiran sama sekali. Adanya kata2 “agar / supaya” amat jelas menunjukkan, bahwa ada berbagai pengetahuan-Nya yg perolehannya justru memerlukan prasyarat. Dgn adanya prasyarat tsb, maka mestinya ada sebagian pengetahuan-Nya yg mmg tdk diperoleh dgn begitu saja, atau tdk diketahui-Nya lgsg sejak jaman azali.
          Adapun prasyarat tsb terkait dgn adanya peran dari kebebasan pada makhluk hidup tiap saatnya, dlm berkehendak dan berbuat, yg mmg telah diberikan-Nya.

          Dari sudut pandang yg lain, saat menciptakan ‘makhluk nyata’ (menghidupkannya) sbnarnya Allah justru ‘melepas’ sebagian amat kecil dari pengetahuan dan kekuasaan-Nya thd makhluk nyata tsb. Namun demikian Allah tetap ‘tidak melepas’ sebagian amat besar lainnya dari pengetahuan dan kekuasaan-Nya thdnya.
          Sebaliknya saat menciptakan ‘benda mati’ sbnarnya Allah justru ‘tidak melepas’ / ‘tetap mempertahankan’ sgla pengetahuan dan kekuasaan-Nya thd benda mati tsb.
          Maka saat Allah mematikan tiap ‘makhluk nyata’, justru Allah mengambil kembali segala pengetahuan dan kekuasaan-Nya thd makhluk nyata tsb, yg pernah dilepas-Nya, krn makhluk nyata tsb mmg telah menjadi jasad mati.

          Hal di atas amat mudah dipahami oleh manusia, dimana dgn memakai ilmu2 pasti yg telah dikuasainya, manusia mmg amat mudah mengetahui / memprediksi keadaan2 dan kejadian2 pada benda mati tiap saatnya. Bahkan melalui teori Big Bang misalnya, manusia bisa memprediksi kejadian2 di awal dan di akhir penciptaan alam semesta, krn benda2 langit mmg berupa benda mati. Sebaliknya manusia relatif amat sulit mengetahui / memprediksi keadaan2 dan kejadian2 pada makhluk nyata.

          Sejauh yg saya ketahui, semua para alim-ulama dari aliran2 ilmu kalam / ilmu tauhid yg ada, justru saya anggap telah gagal dlm mengaitkan antara Sifat Maha Mengetahui Allah dan kebebasan makhluk dlm berkehendak dan berbuat. Minimalnya belum ada yg bisa menjelaskannya secara relatif amat memadai dan tuntas. Bahkan persoalan ini selalu terus-menerus menjadi perdebatan sejak dahulu sampai saat ini.

          Jika pak Muhammad Najib memiliki penjelasan yg lebih baik, ttg kaitan antara Sifat Maha Mengetahui Allah dan kebebasan makhluk, saya dgn senang hati ingin diajari.
          Minimalnya saya berharap jawaban dari pak Muhammad Najib, “apakah sgla hasil pilihan yg akan dilakukan oleh makhluk tiap saatnya ‘nantinya’ / ‘di masa depan’ mmg benar2 telah diketahui-Nya sebelumnya / sejak jaman azali?”. Dimana aliran jabariyah telah umum diketahui memiliki jawaban “YA”, atas pertanyaan tsb.

          • Muhammad Najib berkata:

            Anda bilang ayat-ayat yg Anda rujuk tidak butuh penafsiran, tapi Anda merujuk kepada terjemahan bahasa Indonesia yang nota bene juga hasil proses interpretasi tim penerjemah Alquran Departemen Agama RI dari lafal Arab ke bahasa Indonesia yang kemudian Anda juga maknai (tafsirkan) berbeda (Silahkan lihat penafsiran .para sahabat dan ulama tafsir mengenai kata li na’lama pada Q.S. 2:143 antara lain dapat dilihat dalam tafsir Al-Qurthubi)

            Bukan saja jabariyah yang memahami bahwa Allah itu mengetahui segala-galanya (termasuk yang Anda istilahkan hasil pilihan makhluk–maksudnya manusia dan jin?, batu juga makhluk mas) , tapi semua aliran dalam Islam juga meyakini hal itu, maha suci Allah dari sifat tidak tahu (bodoh).
            Yang saya pahami pengetahuan Allah itu tidak memaksa manusia (garis bawahi), Allah mengetahui apa yang akan dipilih manusia itu karena Allah mempunyai sifat maha Tahu. Jangankan Allah, manusia saja ada yang diberi ilmu mengenai apa yang akan terjadi dan apa yang dipilih manusia pada masa yang akan datang, apakah Anda akan mengingkari ayat Alquran lainnya, misalnya: Q.S Al-Kahfi :65 dst. (Kisah Musa dan Khidr).
            Anda mengatakan para ulama kalam telah gagal menjelaskan hubungan antara ke Maha tahuan Allah dengan kebebasan manusia dalam berkehendak dan berbuat. Boleh jadi karena hal-hal berikut:
            1. Para ulama sebenarnya sudah menjelaskan secara memadai akan hal itu, tapi Anda kurang memahaminya, bisa jadi karena kemampuan Anda mengakses (membaca) dan memahami tulisan-tulisan mereka secara langsung yang kurang ditambah lagi Anda merujuk kepada tulisan-tulisan yang ditulis oleh orang-orang dengan persepsi demikian.
            2. Para ulama dan manusia secara keseluruhan (sebagai makhluk yag tidak sempurna/terbatas), memang tidak bisa menjelaskan secara sempurna terhadap hal-hal yang berkaitan dangan sang Maha Sempurna, bukankah para salaf memang mengajarkan kepada umat Islam agar membatasi diri dalam membahas dzat Allah

          • Muhammad Najib berkata:

            “Apakah kalau Anda memberi pengetahuan (mengajar) tentang sesuatu kepada seseorang kemudian Anda kehilangan pengetahuan tentang sesuatu itu”

            “apakah bila Allah memberi sesuatu kepada hambanya maka Allah akan kehilangan/kekurangan/hilang kesempurnaannya?”

            Menurut saya Anda perlu mempelajari/membaca kitab ilmu kalam yang paling mendasar yang banyak dikaji oleh santri diPesantren, misalnya Kitab Ummul Barahin, silahkan searching dengan kata kunci “matan ummul barahin”

          • Syarif Muharim berkata:

            Terima kasih atas pengajaran dan informasinya pak Muhammad Najib.

            Saya menyatakan “tidak butuh penafsiran”, krn mmg hanya terkait dgn terjemahan satu kata “agar / supaya”, yg tdk perlu penafsiran, penakwilan dan olahan akal yg rumit. Serta saya tdk bisa menyatakan, bahwa tim penerjemah Alquran Depag RI telah keliru menerjemahkan kata “agar / supaya” tsb, krn saya yakin mereka tlh bertahun2 menguasai bahasa Arab / bahasa Al-Qur’an.

            Saya setuju mmg semua umat Islam mestinya meyakini (termasuk dlm semua alirannya), bahwa “Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. Namun juga perlu diketahui, bahwa pemahaman atas “segala sesuatu” justru sering melahirkan persoalan, dlm hal jangkauan / wilayah cakupannya.

            Contohnya keterangan dlm Al-Qur’an, “Allah Maha Mencipta segala sesuatu”. Pertanyaannya “apakah Allah juga mencipta dirinya sendiri, sbgai bagian dari ‘segala sesuatu’?”. Tentu jawabannya mestinya “TIDAK”.
            Begitu pula keterangan dlm Al-Qur’an, “Nabi Muhammad saw diutus-Nya untuk seluruh umat manusia”. Pertanyaannya “apakah Nabi Muhammad saw juga diutus-Nya untuk seluruh umat manusia ‘terdahulu’, sebelum Muhammad menjadi nabi-Nya?”. Tentu jawabannya mestinya “TIDAK”.

            Maka kata2 “segala sesuatu” ataupun “seluruh” mestinya bisa dipahami scra tepat dan proporsional, bukan “segala-galanya scra mutlak” ataupun bukan “seluruhnya scra mutlak” dgn begitu saja.
            Jangkauan cakupan kata2 “segala sesuatu” ataupun “seluruh” mestinya cukup jangkauannya mmg ‘amat sgt luas’ ataupun ‘amat sgt banyak’, serta mestinya memiliki batasan2 tertentu.

            Bayangkan jika Allah mmg benar2 telah mengetahui segala sesuatu ‘sebelumnya’ (atau bahkan sejak jaman azali), termasuk atas tingkat keimanan tiap manusia di Hari Kiamat nanti. Maka apalah artinya sgla perbuatan baik dan buruk tiap manusia tiap saatnya, jika sgla hasil akhirnya mmg benar2 telah diketahui-Nya ‘sebelumnya’. Hal ini sebenarnya justru persis serupa dgn pemahaman atas “Allah Maha Menentukan segala sesuatu”, yg dianut oleh aliran Jabariyah.

            Harap anda uraikan dgn sejelas-jelasnya ttg “Allah mengetahui tetapi tdk memaksa”, yg telah anda sebutkan.
            Padahal sifat Maha Mengetahui Allah justru amat terkait lgsg dgn sifat Maha Kuasa dan Maha Menentukan Allah, dan bahkan saling timbal balik.
            Bagaimana Allah berkuasa atau menentukan, jika Allah tdk mengetahui sgla hal atas tiap zat ciptaan-Nya. Dan sbliknya bagaimana Allah mengetahui, jika Allah tdk berkuasa atau tdk menentukan atas tiap zat ciptaan-Nya.
            Serta jangkauan cakupan pengetahuan, kekuasaan dan ketentuan Allah, mestinya bisa dipahami scra tepat dan proporsional, juga mestinya tdk segala-galanya dgn bgtu saja.

            Maka pemahaman anda sbenarnya persis serupa dgn pemahaman pd aliran Jabariah, saat anda menyatakan “Allah mengetahui apa yang akan dipilih manusia, karena Allah mempunyai sifat Maha Tahu”. Hanya aliran Jabariah terlalu berlebihan dlm memahami sifat Maha Menentukan Allah. Sdgkan anda terlalu berlebihan dlm memahami sifat Maha Mengetahui Allah. Walau sekali lagi, hasil keduanya justru persis serupa.

            Contoh sederhananya, jika “1 km lebih” misalnya dianggap sbgai ‘Maha’, maka apakah “1 km dikurangi 1mm” justru TIDAK dianggap sbgai ‘Maha’?. Bagi saya, jawabannya mestinya tetap ‘Maha’.
            Atau “apakah ‘tak-terhingga’ dikurangi angka berhingga dianggap tdk sama dgn ‘tak-terhingga’?”. Bagi saya, jawabannya mestinya tetap ‘tak-terhingga’.

            Dari sudut pandang yg lain, saya meyakini bahwa pd hakekatnya Allah mmg MAMPU memiliki sifat2 yg ‘mutlak semutlak-mutlaknya’. Namun pd implementasi / perwujudannya di alam semesta, sifat2-Nya justru TIDAK ‘mutlak semutlak-mutlaknya’, tetapi hanya ‘mutlak yg agak terbatas’.
            Hal ini krn sifat2-Nya amat banyak (ada 99 sifat pd Asmaul Husna), yg mustahil saling bertentangan (dua / lebih sifat ‘mutlak’ mustahil slg membatalkan atau meniadakan). Maka perwujudan sifat2-Nya di alam semesta ini justru mestinya ada slg ‘kompromi’ antar sifat2-Nya (TIDAK ‘mutlak semutlak-mutlaknya’), yg menjadikan seluruh sifat2-Nya justru berjalan scra harmonis dan sempurna. Serta mestinya tidak ada sifat2-Nya yg lebih penting / lebih dominan drpd sifat2-Nya lainnya, dan juga tiap sifat2-Nya pasti memiliki konteks berlakunya msg2.
            Harap baca pula “Catatan dan permasalahan pemahaman atas sifat-sifat-Nya” pd (http://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/bd_6/#_Toc280619314).

            Kesimpulannya scra umum, umat Islam (terutama yg mengikuti aliran2 ilmu kalam yg ada) justru relatif gagal memahami seluruh sifat2-Nya sbgai satu-kesatuan yg utuh, scra tepat dan proporsional. Juga umat relatif terlalu berlebihan dlm memahami berbagai sifat2-Nya. Namun saya pribadi juga tdk mengklaim tlh benar2 berhasil memahaminya.

            Contoh sederhananya, ttg pemahaman yg berlebihan atas sifat Maha Mengetahui Allah, yg maaf melahirkan pemahaman yg agak lucu.
            Pemahaman2nya yaitu: “Allah Maha Mengetahui segala sesuatunya, scra ‘mutlak / tanpa batas'”, “Dalam Lauh Mahfuzh telah tercatat sejak jaman azali, ttg segala sesuatunya (termasuk segala sesuatu sampai akhir jaman)” dan “Isi Lauh Mahfuzh hanya bisa diubah melalui do’a dan amal kebaikan”.
            Bisa dibayangkan, tak-terhitung perubahan isi Lauh Mahfuzh (dihapus / ditambah / diperbaiki) tiap saatnya, atas do’a dari tiap manusia tiap saatnya misalnya. Seluruh isi Lauh Mahfuzh yg ‘lama’ sejak sebelum saat do’a dilakukan smpai akhir jaman ‘dihapus’. Lalu seluruh isi Lauh Mahfuzh yg ‘baru’ sejak setelah saat do’a dilakukan smpai akhir jaman ‘ditambah’ / ‘ditulis’.
            Pertanyaannya, “apa perlunya sgla isi Lauh Mahfuzh yg sbnarnya akan terjadi ‘di masa mendatang’ sampai akhir jaman, harus tercatat terlebih dahulu ‘seluruhnya’ sejak jaman azali?”, atau ringkasnya “buat apa tercatat ‘seluruhnya’ sejak jaman azali?”. Padahal isi Lauh Mahfuzh masih bisa berubah2 tiap saatnya akibat adanya do’a dan amal kebaikan manusia.
            Apakah hal ini HANYA sekedar dijawab, “PASTI PERLU / PASTI TERCATAT, KRN TIDAK ADA YG MUSTAHIL BAGI ALLAH”. Dalam memahami agama, justru pasti tetap perlu akal-sehat, tdk bisa sekedar memakai logika sim-salabim / logika jalan potong.

            Pernyataan “apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang” dan “apa yang akan dipilih manusia pada masa yang akan datang”, adalah dua hal yg berbeda, krn yg satu terkait dgn ‘proses kejadian’, yg lain dgn ‘keadaan’.
            Manusia relatif mudah mengetahui kejadian2 yg akan datang, krn mmg ada aturan-Nya yg pasti mengatur sgla proses kejadian atas sgla zat ciptaan-Nya (sunatullah), yg mmg berlaku kekal (tdk berubah2).
            Misalnya, saya dgn amat mudah bisa menyatakan sprti, “ah kamu pasti mati” (terkait proses kejadian). Namun justru saya tdk bisa menyatakan sprti, “kamu pasti mati krn anu, di tempat anu, pd waktu anu” (terkait keadaan2).

            Pengetahuan-Nya yg berupa aturan-Nya (sunatullah) dan juga sgla keadaan yg plg awal pd sgla zat ciptaan-Nya yg plg elementer penyusun alam semesta ini, yg mmg telah diketahui dan ditentukan-Nya sejak jaman azali, namun justru BUKAN sgla keadaan tiap saatnya ‘nantinya’ pd sgla zat ciptaan-Nya.

            Lebih jelasnya, tiap detiknya saja tiap manusia pasti melakukan tak-terhitung ‘pilihan’, berdasar tak-terhitung keadaannya tiap saatnya scra lahiriah dan batiniah. Tiap milimeter perubahan gerakan tubuh lahiriah dan tiap sepersekian detik perubahan amat sgt cepat pikiran, adalah bentuk2 hasil pilihan manusia.
            Sekali lagi saya bertanya kpd anda, “apakah Allah mmg benar2 mengetahui hasil dari pilihan yg ‘terakhir’, dari rangkaian tak-terhitung ‘pilihan’?”, atau “apakah Allah mmg benar2 ‘perlu’ untuk mengetahui hasil dari pilihan yg akan dilakukan oleh tiap makhluk ‘di masa depan’ (sebelum pilihan2 tsb dilakukan)?”.

            Apa kaitannya dgn “mengingkari ayat Q.S Al-Kahfi:65″?. Para mahasiswa yg belajar ilmu2 fisika, biologi, dsb, justru juga bisa diberi-Nya ilmu dari sisi-Nya.

            Insya Allah, lain kali akan saya sebut kekeliruan2 pemahaman pd aliran2 ilmu kalam, ttg kaitan antara ke-Maha Tahu-an Allah dan kebebasan manusia, yg umumnya terkait lgsg dgn takdir-Nya. Namun utk sementara anda bisa baca pada “Lampiran D: Perbandingan aliran2 teologi Islam” (http://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/bf_lamda/).

            Menurut penilaian relatif saya ‘pribadi’, sgla hal yg saya ungkap pd blog ini, adalah ‘paling benar’. Krn saya sdh membaca, menelaah dan memperbaikinya berulang2 puluhan kali, sblum saya ungkap. Sekali lagi menurut saya ‘pribadi’.
            Namun saya sama sekali tdk bisa menyatakan, bahwa sgla pemahaman / pengetahuan pd blog ini adalah ‘pasti benar’ / ‘mutlak benar’.
            Apakah anda yakin bahwa pemahaman anda sendiri ttg hal ini adalah ‘pasti benar’?. Atau apakah anda yakin, bahwa pemahaman org lain ttg hal ini, yg anda sebut di atas adalah ‘pasti benar’?.

            Hal yg plg penting, justru umat Islam mestinya bisa terus-menerus mencari pemahaman2 yg makin kokoh-kuat sgla dalil alasannya dan makin lgkap sgla penjelasannya, atau diringkas ‘makin benar’. Serta umat Islam mestinya tidak taklid buta thd pemahaman2 tertentu.
            Termasuk saya tdk akan ragu / segan utk terus-menerus makin memperbaiki sgla pemahaman saya sendiri, jika mmg telah terbukti lemah / keliru sgla dalil alasan dan penjelasannya.

            Maaf saya tdk terbiasa memakai kata ‘bodoh’, krn tiap makhluk mmg pasti tdk mengetahui sgla sesuatu (tdk Maha tahu).

            Sekali lagi terima kasih pak Muhammad Najib. Dan saya dgn senang hati akan tetap menerima sgla kritikan anda.

          • Muhammad Najib berkata:

            Pertama-tama saya meminta maaf kalau ada kata-kata berikut yang menyinggung, percaylah saya tidak bermaksud merendahkan dan menghina. Akan tetapi ini dalam rangka nasehat menasehati, apalagi topik ini adalah menyangkut dasar-dasar agama, saya memilih menggunakan kata-kata tegas, lugas dan jelas.Hehehe sante aja!!!

            Tanggapan Anda terhadap tanggapan sy yang terakhir terkesan sekedar membela diri dan tergesa-gesa tanpa berusaha memahami dan mencari tahu apa yang saya maksud, sehingga ada beberapa hal yang sy kemukakan Anda pahami secara salah (tidak nyambung), misalnya saja:
            1.”Serta saya tdk bisa menyatakan, bahwa tim penerjemah Alquran Depag RI telah keliru menerjemahkan kata “agar / supaya” tsb, krn saya yakin mereka tlh bertahun2 menguasai bahasa Arab / bahasa Al-Qur’an.” Saya katakan: Tidak ada pernyataan saya yg menyalahkan terjemahan tersebut; sy tidak menyalahkan terjemahan tersebut. Yang berlebihan adalah Anda karena memaknai terjemahan “melainkan agar kami mengetahui” (iLLa Lina’Lama) sebagai: “Allah tidak tahu sebelumnnya” ( fatal!!). Tidak ada ahli tafsir (termasuk tim penerjemah Depag) yang memahami demikian, Mas!! Saya pastikan Anda sama sekali awam bahasa Arab, bukankah demikian? Saya sarankan kepada Anda dan diri saya sendiri, belajar bahasa Arab dululah, kemudian pahami Alquran dengan benar, pahami kitab-kitab ulama (kalam) secara langsung baru kritik mereka dan buat pernyataan yang konsekwensinya besar (mis: dalam bidang akidah). AHLI HIKMAH berkata :”Tidak layak pengkritik mengkritik orang yang tidak sepadan (lebih tinggi) ilmunya dalam hal ilmu tersebut” makanya Imam Al-Gazali belajar filsafat dahulu baru mengkritik para filosof; Anda kalau ingin mengkritik Habibie sudah benar dengan belajar Ilmu Penerbangan, sudah siap mengkritik Habibie sekarang!!Kritiklah Habibie dulu baru mengkritik Ulama Ilmu Kalam.

            Untuk sementara, bacalah terjemahan kitab-kitab tafsir standar, misalnya Kitab Tafsir Jalalain dan Tafsir Al-Qurthubi dan cari guru untuk memahami kitab-kitab tsb dengan benar. Jangan sampai Sesat dan Menyesatkan orang lain pula.
            2.”Maka kata2 “segala sesuatu” ataupun “seluruh” mestinya bisa dipahami scra tepat dan proporsional” . Kalau sampai disitu, saya setuju dengan pernyataan tersebut. Untuk memahami nash (Alquran dan hadis) secara tepat dan proporsional perlu ilmu yang memadai mas (istilah ulama: ilmu alat), misalnya bahasa arab, dan berbagai cabangnya menguasai Alquran secara keseluruhan dan hafal banyak hadis dst. Kalau belum bisa menguasai ilmu alat, pelajarilah pemahaman para ulama yang berkompeten mengenai hal tersebut.
            Sebagai contoh:
            “Segala sesuatu” memang diartikan berbeda-beda cakupannya oleh ulama tapi itu semua didasarkan pada pemahaman yg komprehensif terhadap nash dan pemahaman bahasa yang baik. Kalau imam Sanusi (salah seorang pemuka ulama Asy’ariah) menggunakan istilah ta’alluq, ada sifat Allah (seperti sifat ilmu) yang berta’alluq kepada yang hal yang wajib, mumkin , dan mustahil. Ada yang berta’alluq kepada yang mumkin saja, Ada sifat (melihat dan mendengar) yang berta’alluq kepada yang wajib dan mumkin (maujudaat) saja tidak ke yang mustahil. dst.
            Imam Sanusi tentu saja menulis hal-hal itu didasarkan pada penguasaan ilmu agama dan ilmu alat yang baik, dia tahu lafal yang khusus dan umum, dia tahu nash yang mengkhususkan nash yang umum. Tapi Anda telah mentakhsis lafal umum (mengurangi cakupan “mengetahui segala sesuatu” menjadi “mengetahui yang sedang dan sudah terjadi” atau “tidak tahu/jahlun/bodoh terhadap hal-hal yang belum terjadi” hanya berbekal Alquran terjemahan.

            3. Terkait Q.S Al-Kahfi ayat 65-82., saya kecewa dengan tanggapan Anda (“refleks bela diri”), kayaknya Anda belum paham maksud saya dan belum memahami baik-baik ayat tersebut sebelum menanggapi komentar saya yang lalu. Baiklah sya bantu dengan mengungkap sebagian kandungannya disini:
            Pada ayat-ayat tsb disebutkan tentang kisah perjalanan seorang Hamba Allah(Khidr), yang memiliki kelebihan ilmu tentang hal-hal yang belum terjadi, bersama dengan nabi Musa. Diceritakan bahwa dalam perjalanan itu Khidr membunuh seorang anak yang tidak bersalah dan hal itu dikritik/dipertanyakan Nabi Musa (ayat 74). Jawaban Khidr kemudian adalah: (silahkan simak alkahfi:80-81 beserta footnote Terjemahan Depag mengenai hal itu). Kalau Anda menggunakan logika Anda bahwa Allah Tidak Mengetahui Pilihan Manusia (hal-hal yang belum terjadi), gimana menjelaskan ayat ini? ALLAH SUDAH TAHU DAN MEMBERI PETUNJUK KEPADA KHIDR BAHWA APABILA ANAK ITU BERANJAK DEWASA DIA AKAN MEMAKSA ORANG TUANYA KEPADA KEKAFIRAN. Jadi Allah Maha Tahu segala-galanya tanpa terkecuali, Allah tahu yang WAJIB ADA (KHALIK), Yang Mungkin ADA (Makhluk), dan Yang Mustahil. Allah Tahu yang Belum terjadi, Allah tahu Pilihan Manusia, apalagi yang sedang dan sudah terjadi (dipilih). Allah adalah Khalik yang artinya Pencipta segala sesuatu, yakni makhluk (ciptaan) (cakupannya dikurangi berdasarkan dalil lain). Allah itu tidak diciptakan karena Allah itu Qadim (tidak pernah tidak ada) dan bukan Ciptaan (makhluk); kalau diciptakan berarti bukan lagi khalik.Jadi sifat Pencipta ta’alluq pada Ciptaan saja (mumkinul wujud)

            4. Allah Maha Mengetahui tapi pengetahuannya itu tidak memaksa manusia. Seseorang berbuat jahat (misalnya memaksa orang tuanya menjadi kafir) itu karena orang tersebut memilih hal itu dan hal tersebut sudah diketahui Allah “sebelumnya”. Pengetahuan Allah itu tidak menjadikan dia kemudian tidak bertanggung jawab dengan pilihannya tersebut.
            “Allah menentukan dia berbuat Jahat karena Allah Sudah tahu dia akan memilih berbuat jahat”. Jadi ketentuan Allah itu buka sebab, yang menjadi sebab adalah karena dirinya sendiri memilih hal itu. Bukankah semua yang baik datang dari Allah dan yang “buruk” dari manusia dan jin. Wallahu a’lam.

          • Syarif Muharim berkata:

            1. Saya sepakat, bahwa antar umat Islam mestinya slg belajar, mengingatkan dan menasehati, ttg kebenaran-Nya, bahkan juga trmsuk dgn umat non-Muslim. Dalam hal ini sama sekali tdk ada masalah pak Muhammad Najib.

            2. Tdk masalah jika saya dianggap membela diri, krn mmg sifat dasar manusia utk cenderung berusaha tetap mempertahankan pemahaman2 yg telah diyakininya msg2.
            Namun persoalan baru muncul, jika usaha membela diri dilakukan scra ‘mati2an’ (tdk mau menerima pemahaman2 yg lbh sempurna kebenarannya).
            Juga tdk masalah jika saya dianggap tergesa-gesa, krn saya mmg blm membaca seutuhnya bahan2 yg anda sodorkan. Namun sgla pemahaman saya dlm buku “Menggapai” ataupun dlm blog ini, justru bukan diperoleh scra tergesa-gesa.

            3. Maaf pak, anda telah amat gegabah mereduksi peryataan saya dlm artikel di atas “’ada’ hal2 yg tdk diketahui-Nya sebelum terjadinya” menjadi “Allah tidak tahu sebelumnya”, yg tentunya mmg fatal.
            Kedua pernyataan ini jelas berbeda, krn pernyataan yg pertama hanya atas ‘sebagian’ hal2 yg belum terjadi, sdgkan pernyataan yg kedua atas ‘seluruh’ hal2 yg belum terjadi.
            Juga perlu diketahui, bhw wilayah kebebasan makhluk justru relatif amat sgt sempit, dibandingkan dgn ke-Maha Luas-an pengetahuan-Nya. Shg “hal2 yg tdk diketahui-Nya sebelum terjadinya” tsb justru relatif amat sgt sedikit, dan skligus sama-sekali tdk menjadikan Allah tidak Maha Mengetahui.
            Harap baca pula komentar2 dan artikel saya di atas, yg terkait dgn hal ini.

            4. Syukurlah kita sepakat ttg terjemahan kata “agar / supaya”, walau saya juga tdk pernah menyalahkan anda dlm hal ini.
            Kesepakatan ini justru amat penting, trmasuk bagi para alim-ulama, krn tinggal memakai makna kata “agar / supaya” tsb. Persoalannya, ada umat2 yg ‘mengakali’ / ‘menafsirkan’ kembali makna kalimat yg sdrhana “agar / supaya Kami mengetahui” dlm Al-Qur’an, hanya skdar agar tdk mengurangi ‘kemutlakan’ sifat Maha Mengetahui Allah.

            5. Persoalan kritik-mengkritik relatif amat mudah pak. Kalau kritikannya tdk kokoh-kuat dalil-alasannya dan bisa dibantah, ya siap2 saja diabaikan dan menerima rasa malu.
            Tanya pak, apakah seorg ahli mmg benar2 menguasai sgla hal dlm bidangnya dari A s/d Z, dan skligus tanpa cacat/salah? apakah mengkritik mmg hanya bisa dilakukan, stlah berkualifikasi ahli?

            Einstein yg maestro/ahli ilmu fisika, justru bisa salah dan pernah menarik kembali teori yg telah diungkapnya. Juga anda bisa membaca satu/beberapa pemahaman yg keliru/nyeleneh dari ‘tiap’ ahli Ilmu Kalam yg dikenal luas.
            Knpa saya tdk bisa mengkritik Einstein dan para ahli Ilmu Kalam, jika mereka mmg jelas2 diketahui salah, beserta sgla dalil-alasannya, sklipun saya bukan ahli.

            Namun saya setuju, bhw khususnya dlm hal2 agama (termasuk aqidah), tiap umat Islam mmg mestinya hanya menyampaikan hal2 yg benar2 telah diketahuinya dgn relatif pasti dan yakin (dgn dalil-alasan yg kokoh-kuat), krn sdkit-byk mmg bisa mempengaruhi umat2 Islam lainnya (trmsuk bisa menyesatkannya).

            Jika saya sebut para ahli telah keliru, salah, gagal, dsb, tentunya anda jgn lgsg menganggap ‘seluruh’ ahli bgtu. Yg benar ya tetap benar, bukan menjadi salah hanya krn kritikan / omongan saya. Juga saya tdk pernah menunjuk2 org.
            Silahkan saja anda sampaikan hal2 yg anda anggap benar / lebih benar, tanpa harus kebakaran jenggot, krn kebenaran pasti tetap mengalahkan kebatilan.

            6. Saya setuju, bhwa penguasaan bahasa arab mmg salah-satu alat utk bisa memahami Al-Qur’an, namun juga bukan satu-satunya alat.
            Faktanya sudah byk terjemahan dan tafsir Al-Qur’an yg dibuat oleh para ahli bahasa arab, shg umat2 yg awam berbahasa arab justru telah relatif mudah dlm memahami Al-Qur’an.

            Di lain pihak juga perlu diketahui, bhwa kebenaran-Nya di alam semesta ini (ayat2-Nya yg tak-tertulis) justru bersifat universal, bahkan termasuk bisa melampaui bahasa (melampaui ayat2-Nya yg tertulis).
            Ayat2-Nya yg tertulis tdk lain hanya bentuk pengungkapan atas sebagian dari ayat2-Nya yg tak-tertulis, melalui bahasa lisan dan tulisan, yg justru memiliki berbagai keterbatasan.
            Shg dgn pemahamannya yg relatif amat memadai atas kebenaran-Nya di alam semesta ini, justru umat bisa ‘memperbaiki’ terjemahan / tafsir atas ayat2 Al-Qur’an yg terkait, sklipun tanpa harus benar2 menjadi ahli bahasa arab.

            Bahkan faktanya, penafsiran hanya atas suatu ayat justru bisa byk, yg timbul hanya krn masalah bahasa. Padahal penafsiran tsb mestinya hanya ada satu macam, jika kebenaran-Nya yg terkait di alam semesta ini mmg telah benar2 dipahami.

            7. Tadinya, saya sengaja tdk menjawab pjg-lebar ttg Q.S Al-Kahfi ayat 65, krn saya anggap pemahaman atas kata ‘ilmu/pengetahuan’ adalah hal yg amat umum. Shg saya lebih terfokus hanya pd “dari sisi-Nya”.

            Baiklah saya bahas lebih detail ttg ilmu, khususnya yg terkait dgn kemampuan ilmu manusia (trmsuk nabi Khidr as misalnya), dlm “memperkirakan hal2 yg belum terjadi”.
            Lalu dari hal ini anda ‘kembangkan’ pemahaman, bhwa “manusia saja bisa mengetahui hasil2 pilihan manusia lainnya, sebelum dipilihnya, apalagi Allah Yg Maha Mengetahui”.

            Waduh pak, perkiraan dan pilihan manusia justru dua hal yg amat berbeda, walau sekilas hasil2nya mmg serupa. Ringkasnya. perkiraan hanya bisa dilakukan berdasar pola2 kejadian tertentu yg relatif teratur, sdgkan pilihan justru tdk memiliki pola2 tertentu (makhluk cndrg berlaku tdk konsisten dan memiliki kebebasan). Walau pd aspek2 dan skala2 yg ‘terbatas’, hasil2 pilihan makhluk mmg bisa pula memiliki pola2 yg relatif teratur, dan relatif bisa diperkirakan. Perkiraan tetap ‘terbatas’ atas pilihan makhluk.

            Sgla bentuk perkiraan manusia (trmsuk yg dilakukan nabi Khidr as) pd prinsipnya hanya memerlukan 2 macam pengetahuan, yaitu: pengetahuan ttg keadaan2 dan pengetahuan ttg aturan / rumus proses kejadian, yg mengatur perubahan keadaan2. Jika tdk tersedia lgsg, rumus proses tsb bisa dicari dari bentuk pola perubahan keadaan2 dlm suatu jangka waktu. Dan akhirnya, lalu berdasarkan rumus proses tsb dan keadaan2 aktual / terakhir sbgai titik acuan, dicari perkiraan atas keadaan2 di masa depan, ataupun bahkan di masa lalu.

            Dlm ilmu statistik, rumus proses / bentuk pola perubahan keadaan2 tsb biasanya dikenal dgn garis / kurva regresi, yg biasanya diperoleh dgn memformulasikan persamaan pola atas sejumlah data empirik. Sdgkan tiap keadaannya adalah tiap data empirik itu sendiri.

            Bahkan prinsip di atas justru juga berlaku bagi pengetahuan-Nya ttg masa depan tiap zat ciptaan-Nya, yg mmg ditetapkan-Nya sejak jaman azali (saat paling awal penciptaan alam semesta ini).
            Dlm hal ini, aturan / rumus proses kejadiannya biasanya dikenal dgn ‘aturan-Nya / sunatullah’, yg mmg lgsg ditetapkan-Nya pd saat itu.
            Dan keadaan2 sbgai titik acuannya adalah keadaan2 lahiriah dan batiniah yg ‘plg dasar’ pd sgla zat ciptaan-Nya yg ‘plg elementer’, yg menyusun keseluruhan alam semesta ini. Sgla keadaan2 yg ‘plg dasar’ tsb juga lgsg ditetapkan-Nya pd saat itu.

            Sunatullah adalah segala aturan / rumus proses kejadian lahiriah dan batiniah, yg bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’, yg pasti mengatur tiap zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini, sesuai dgn sgla keadaannya msg2 tiap saatnya, sejak saat paling awal penciptaannya smpai akhir jaman.

            Dari adanya ‘aturan-Nya / sunatullah’ yg bersifat ‘mutlak’ tsb cukup jelas, bhwa sgla kebebasan makhluk dlm berkehendak dan berbuat, mmg bukan hal yg diatur-Nya. Namun sgla makhluk ciptaan-Nya pasti selalu diliputi oleh ‘aturan-Nya / sunatullah’ (mustahil bisa lepas darinya), sprti “tiap2 yg bernyawa ‘pasti’ akan mati”, dan byk lagi contoh lainnya.

            Akhirnya sgla pengetahuan-Nya ttg masa depan (sebelum terjadinya), yg bahkan telah diketahui-Nya sejak jaman azali, justru bersifat relatif amat umum dan sama sekali tdk terkait dgn kebebasan makhluk tiap saatnya (trmsuk kebebasannya dlm memilih).

            Saya pikir uraian ttg ‘pilihan’ bisa anda kembangkan sendiri. Jika diperlukan, Insya Allah akan saya uraikan di waktu lain.

            Maaf, tampaknya anda tdk pernah mencoba menelaah keragaman bentuk pengetahuan-Nya, sprti yg disebut dlm artikel di atas.

            Dan ironisnya, di satu pihak anda bisa mengakui adanya batasan2 bagi istilah ‘segala sesuatu’. Namun dlm hal sifat Maha Mengetahui Allah, justru anda sama sekali tdk menerima adanya batasan2, walau tanpa dalil-alasan yg jelas.

            8. Maaf penjelasan anda ttg “Allah mengetahui tetapi tdk memaksa”, justru blm nyambung / blm bisa diterima oleh logika akal-sehat saya. Saya tdk tahu, apakah otak saya tdk nyampe / apa.
            Harap pikirkan kembali penjelasan tsb dgn amat matang, atau jelaskan dgn logika2 yg lebih sdrhana dan tdk melompat-lompat.

            Jika anda ingin mengetahui pemahaman saya ttg perbuatan baik dan buruk manusia, bisa dibaca pd topik “Sunatullah” (http://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/bd_6a/).

            Segala sesuatu hal di alam semesta ini pasti berasal dari Allah, bahkan termasuk sgla keburukan / kejahatan, dgn diciptakan-Nya akal dan nafsu-keinginan pd tiap makhluk (diberi-Nya kebebasan dlm berkehendak dan berbuat). Perlu diingat, iblis dan syaitan justru juga diciptakan oleh Allah.
            Namun Allah justru menciptakan sgla keseimbangan di alam semesta ini, ada kebaikan dan ada keburukan misalnya. Maka tinggal kebebasan / pilihan tiap makhluk, utk menuju kpd kebaikan atau kpd keburukan, walau Allah justru juga pasti memberinya sgla pengajaran dan tuntunan-Nya dlm memilih.

            Shg pernyataan “semua yang baik datang dari Allah dan yang buruk dari manusia dan jin” justru sdkit kurang tepat, krn konteksnya bercampur-baur / tdk selevel antara Pencipta dan ciptaan.

      • Muhammad Najib berkata:

        Saya ingin fokus kepada pada 2 hal saja dlm tanggapan saya kali ini, yang pertama sekedar nasehat dan yang kedua inti persoalan yang kita diskusikan.

        Pertama, Anda telah memilih pemahaman2 yg berbeda dengan umat, bahkan telah mempublishnya, terkait bidang mendasar yang bukan keahlian Anda. Ada baiknya (sepatutnya), Anda mengkonsultasikan pemahaman-pamahaman berbeda Anda ini terlebih dahulu kepada yang lebih berlimu. Saya salut dengan Nugroho Suksmanto (saya harap Anda kenal dia, kalau tidak, silahkan lihat disini: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2012/12/05/7725/Mendedah-Lauh-Mahfuz dan disini: http://lauhmahfuz.com/ ) sebelum merilis novel “dahsyatnya” dia berkonsultasi terlebih dahulu ke Ustad Bustomi (salah seorang penghapal Qur’an terbaik dunia) dan kyai Abdullah Faqih Langitan (Almarhum) . ” Pencari kebenaran Sejati identik dengan sifat tawadu dan tahu mengukur diri”

        Kedua, Pemahaman bahwa “’ada’ hal2 yg tdk diketahui-Nya sebelum terjadinya” ;”Pengetahuan Allah bersifat Umum, hanya mengetahui ketentuan dan aturan-Nya”; mirip pemahaman, (bahkan melebihi) para filosof seperti Aristoteles, Al-Farabi dan Ibn Sina bahwa “Pengetahuan Allah tidak bersifat Juz’iyat (Tuhan tidak mengetahui perincian segala sesuatu (juz’iyat) yang terjadi di alam.). Dalama bukunya: “Tahafut al-Falasifah” (kekacauan pemikiran filosof-filosof), Imam Al-Gazali telah menulis kritikan terhadap 20 masalah metafisika yang dibahas oleh para filosof. Tiga diantaranya Al-Ghazali mengatakan bahwa filsafat mereka membawa kepada kekufuran yaitu:
        1.Bahwa aliran alam tidak bermula (qadim).
        2. Bahwa Tuhan tidak mengetahui perincian segala sesuatu (juz’iyat) yang terjadi di alam.
        3. Pengingkaran terhadap kebangkitan jasmani (hasyr al-jasad) di akhirat.

        Baiklah, saya coba ikuti jalan berpikir Anda. Anda memahami bahwa sebelum sesuatu dipilih manusia Allah tidak tahu apa yang akan dipilih manusia, Allah cuma tahu aturan-nya (sunnatullah), dan dengan pengetahuan tentang aturan-aturan itu lah Allah dan manusia, seperti khidr bisa memprediksi apa yang akan terjadi (misalnya Khidr memprediksi seorang Anak kecil akan membawa orang tuanya kpd kekafiran jika sudah dewasa), bukankah begitu jalan pikiran Anda?Anda jawab dulu ini

        • Syarif Muharim berkata:

          Pertama
          =======
          Maaf pak, saya tdk ingin mengomentari bagian ini, krn tampaknya bapak telah keliru menyimpulkan sebagian dari pernyataan2 saya dlm diskusi sblumnya, terutama krn telah diambil scra sepotong-sepotong dan telah kehilangan konteks diskusinya.
          Namun terima kasih atas saran / anjurannya.

          Kedua
          =====
          1. Saya tdk membantah pernyataan saya, “’ada’ hal2 yg tdk diketahui-Nya sebelum terjadinya”, krn mmg telah tertulis dlm artikel di atas.

          Contoh pertanyaan sederhana, apakah Allah mmg telah mengetahui sejak jaman azali (telah tercatat dlm Lauh Mahfuzh), ttg sgla isi pikiran tiap makhluk tiap saatnya ‘nantinya’, smpai akhir jaman. Atau apakah Allah mmg perlu mengetahui sgla isi pikiran tiap makhluk tiap saatnya ‘nantinya’, smpai akhir jaman.

          Jawaban saya atas pertanyaan serupa itu “tdk perlu / blm diketahui-Nya saat ‘sebelum’ terjadinya (blm tercatat dlm Lauh Mahfuzh), namun pasti diketahui-Nya sedetail-detailnya di saat ‘setelah’ dan ‘sedang’ terjadinya”. Krn hal2 serupa itu mmg terkait dgn kebebasan tiap makhluk tiap saatnya, dlm berkehendak dan berbuat, serta mmg tdk bersifat kekal sejak jaman azali, tetapi bersifat kekal sejak saat terjadinya.

          2. Maaf pak, pernyataan2 sprti “Pengetahuan-Nya bersifat Umum” dan “Allah hanya mengetahui ketentuan dan aturan-Nya” justru telah keliru, krn telah kehilangan konteksnya dlm diskusi sblumnya.
          Padahal konteks dari pernyataan2 ini mestinya hanya terkait dgn hal2 yg ‘belum’ terjadi, yg mmg telah didiskusikan sblumnya. Sbliknya justru BUKAN terkait dgn hal2 yg ‘telah’ dan ‘sedang’ terjadi, yg mmg belum didiskusikan.

          Pernyataan2 tsb yg tepat mestinya menjadi “Segala pengetahuan-Nya yang pasti telah diketahui-Nya ‘sebelum’ terjadinya, bersifat Umum, serta hanya berupa segala ketentuan dan aturan-Nya, yang memang telah ditetapkan dan diketahui-Nya sejak jaman azali, serta bersifat kekal sampai akhir jaman”.

          Pengetahuan-Nya yg berupa ketentuan dan aturan-Nya ini juga mestinya hanya berupa pengetahuan yg telah ditetapkan dan diketahui-Nya sejak jaman azali (saat plg awal penciptaan alam semesta ini), dan tdk berubah-ubah sampai akhir jaman (kekal). Shg pengetahuan smcam ini justru sama sekali tdk terikat dgn waktu, dan juga sama sekali tdk terkait dgn kebebasan makhluk.

          Sekali lagi, Pengetahuan-Nya yg bisa melintasi batas waktu, mestinya hanya semata berupa pengetahuan yg bersifat ‘kekal’, sejak jaman azali.

          Sgla ketentuan dan aturan-Nya disebut bersifat Umum, krn mestinya mmg berlaku sama atau seragam bagi ‘seluruh’ zat makhluk ciptaan-Nya, sesuai dgn sgla keadaannya msg2 tiap saatnya.
          Tdk ada ketentuan dan aturan-Nya yg khusus ditetapkan-Nya hanya bagi satu/beberapa makhluk tertentu saja.
          Tiap makhluk yg mmg memiliki sgla keadaan yg persis sama, pasti mengalami sgla ketentuan dan aturan-Nya yg sama pula.
          Dan tentunya sgla ketentuan dan aturan-Nya disebut bersifat Umum, krn mmg tdk terkait dgn hasil peran tiap makhluk tiap saatnya.

          Maka pernyataan “Pengetahuan-Nya tidak bersifat Juz’iyat (Tuhan tidak mengetahui perincian segala sesuatu (juz’iyat) yang terjadi di alam.)”, yg mmg tanpa keterangan2 tambahan, jelas amat keliru. Harap baca pula uraian di bawah.

          Kritikan2 Imam Al-Ghazali thd pendapat para filosof:
          —————————————————-
          1. Bahwa aliran alam tidak bermula (qadim).
          Saya ‘tidak setuju’ dgn pendapat para filosof ini, krn alam semesta ini dan segala zat ciptaan-Nya di dalamnya pasti berawal / bermula.
          Hal ini bisa anda baca pd artikel “Urutan penciptaan alam semesta” (http://islamagamauniversal.wordpress.com/2011/11/09/big-light-vs-big-bang-2/).

          2. Bahwa Tuhan tidak mengetahui perincian segala sesuatu (juz’iyat) yang terjadi di alam.
          Saya ‘tidak setuju’ dgn pendapat para filosof ini, krn Allah pasti mengetahui perincian segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, sedetail-detailnya, di saat ‘sekarang’ (sedang terjadi) dan di ‘masa lalu’ (telah terjadi).
          Namun Allah ‘terbatas’ mengetahui hal-hal yang akan terjadi di alam semesta ini, karena Allah belum / tidak mengetahui segala keadaan dari hasil peran makhluk tiap saatnya di ‘masa depan’ (belum terjadi), dengan telah diberikan-Nya kebebasan bagi tiap makhluk dalam berkehendak dan berbuat.

          3. Pengingkaran terhadap kebangkitan jasmani (hasyr al-jasad) di akhirat.
          Saya ‘setuju’ dgn pendapat para filosof ini, krn kehidupan akhirat berupa kehidupan di alam rohani-batiniah ruh (alam pikiran), dan bukan berupa kehidupan di alam jasmani-fisik-lahiriah, yg serupa saat skrg ini.
          Hal ini bisa anda baca pd artikel “Tahapan umum kejadian manusia” (http://islamagamauniversal.wordpress.com/2011/11/24/tahapan-kejadian-manusia/).

          Supaya lebih jelas, saya uraikan jawaban atas pertanyaan anda yg terakhir:
          ————————————————————————–
          1. Betul, bhwa “Sebelum sesuatu dipilih manusia, Allah tidak mengetahui apa yang akan dipilih manusia”.

          2. Tidak lengkap, bhwa “Allah hanya mengetahui aturan-Nya (sunnatullah)”. Terutama krn tidak disebutkan konteks waktunya (masa depan).

          Pernyataan yg semestinya, “Terkait dengan ‘masa depan’ (belum terjadi), Allah hanya mengetahui segala ketentuan dan aturan-Nya (sunnatullah), yang memang telah ditetapkan dan diketahui-Nya sejak jaman azali, serta bersifat kekal sampai akhir jaman. Namun sebaliknya Allah belum / tidak mengetahui segala keadaan dari hasil peran makhluk tiap saatnya di ‘masa depan’ (belum terjadi), dengan telah diberikan-Nya kebebasan bagi tiap makhluk, dalam berkehendak dan berbuat”.

          3. Tidak lengkap dan bercampur-baur, bhwa “Dengan pengetahuan tentang aturan-aturan itulah Allah dan manusia, seperti khidr, bisa memprediksi apa yang akan terjadi”. Terutama krn pengetahuan Allah dan manusia mustahil bisa dibandingkan dan disetarakan. Allah sumber pengetahuan dan manusia hanya pencari pengetahuan.

          Pernyataan yg semestinya, “Pengetahuan-Nya yang berupa segala ketentuan dan aturan-Nya (sunnatullah), yang memang telah ditetapkan dan diketahui-Nya sejak jaman azali, pasti tetap berlaku / tetap sama di ‘masa depan’ (belum terjadi)”.
          Jadi perolehan pengetahuan-Nya tsb bukan sekedar ‘diprediksi’, tetapi mmg pasti telah diketahui-Nya sebelumnya, walau sekilas mmg ‘serupa’ dgn hasil prediksi manusia.

          Dan juga pernyataan yg semestinya, “Dengan pengetahuan tentang pola bentuk keteraturan kejadian2 di alam semesta ini, manusia bisa memprediksi secara ‘umum’ (tidak detail), atas apa yang akan terjadi di ‘masa depan’ (belum terjadi)”.
          Jadi manusia amat terbatas mengetahui segala ketentuan dan aturan-Nya (sunnatullah), disamping tentunya juga amat terbatas mengetahui segala perilaku manusia.

          Maaf pak, sgla pemahaman yg amat sensitif sprti di atas, mestinya tdk diungkap sepotong-sepotong, krn bisa kehilangan makna / esensinya. Juga perlu kecermatan, dlm mengutip, merangkum atau menyimpulkannya.

          Supaya lebih jelas lagi, sgla pengetahuan-Nya dirangkum sbgai berikut:

          ………..Tlh terjadi…..Sdg terjadi….Blm terjadi
          ………———————————————-
          Umum…..|…..TAHU…..|…..TAHU…..|…..TAHU…..|
          ………———————————————-
          Detail…|…..TAHU…..|…..TAHU…..|…BLM TAHU…|
          ………———————————————-
          ………^awal jaman…………………..akhir jaman^
          Keterangan:
          Umum : Pengetahuan-Nya yg berupa segala ketentuan dan aturan-Nya, yg telah ditetapkan-Nya sejak jaman azali, dan sama sekali tdk ada peran makhluk.
          Detail : Pengetahuan-Nya yg terkait dgn peran makhluk tiap saatnya.
          TAHU : Segala hal yg diketahui-Nya.
          BLM TAHU: Segala hal yg ‘belum’ diketahui-Nya.

          Wallahu ‘alam.

          • Muhammad Najib berkata:

            Maaf mas, jawaban Anda terlalu bertele-tele. Konteksnya memang tentang ilmu Allah tentang yang hal-hal yang belum terjadi, kalau yg “sedang” dan “sudah” terjadi sejak awal diskusi kan tidak saya persoalkan. (Perbedaan kita adalah Apakah Allah tahu segala-segalanya–dari segi detail dan waktu– atau tidak)
            Anda : Umum/Detail | Sebelum | Sedang | Setelah
            Umum Tahu Tahu Tahu
            Detail Tidak Tahu Tahu
            Saya : Tahu Semua
            Intinya begini;
            1. Dengan ilmu terhadap “Aturan umum” atau Sunnatullah, siapapun bisa memprediksi atau mengetahui hal-hal yang akan terjadi dengan tingkat kebenaran sebanding dengan ilmunya terhadap aturan umum itu.(Semakin tinggi ilmunya terhadap aturan umum semakin akurat prediksi atau pengetahuannya terhadap hal-hal yang belum terjadi). Persamaannya seperti ini:
            Tingkat ilmu tentang Sunnatullah | Tingkat Kebenaran ilmu tentang yg akan datang
            1 = 1
            5 = 5
            10 = 10
            2. Manusia, yang memiliki ilmu tinggi terhadap Aturan Umum (Sunnatullah) bisa memprediksi hal-hal secara detail dimasa yang akan datang, dalilnya seperti kisah khidr. (Tingkat kebenaran prediksinya tidak mutlak benar, misalnya skala kebenaran 1 sampai dengan 10, akurasi prediksinya adalah dibawah 10).
            3. Allah memiliki ilmu tertinggi (10) terhadap sunnatullah yang mutlak kebenarannya terhadap hal-hal yang belum terjadi.
            Bagaimana tanggapan Anda terhadap pernyataan 1 ,2 dan 3 , sudah sesuai dengan jalan pikiran Anda?Jawabannya to the point saja ya mas, yes or not!

          • Syarif Muharim berkata:

            Baiklah saya ringkas dan gabungkan jawaban2 atas 3 pertanyaan anda yg terakhir, krn prinsip pertanyaan2nya sama dan hanya ada perbedaan tingkat kesempurnaan pengetahuan manusia, atas pengetahuan Allah yg berupa Aturan-Nya / Sunnatullah.
            ———————————
            1. Saya amat setuju dgn pernyataan anda, “Dengan ilmu terhadap ‘Aturan umum’ atau Sunnatullah, siapapun bisa memprediksi atau mengetahui hal-hal yang akan terjadi dengan tingkat kebenaran sebanding dengan ilmunya terhadap aturan umum itu.”.

            Shg tinggal bgmna pemahaman atas Aturan-Nya / Sunnatullah itu sendiri. Pemahaman2 saya atas Sunnatullah, bisa dibaca pada http://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/bd_6a/.

            2. Penting diketahui, bhwa ‘aturan’ dan ‘keadaan’ adalah dua hal yg berbeda. Dimana2 ‘aturan’ pasti memiliki keadaan2 awal sbgai input / masukannya dan juga keadaan2 akhir sbgai output / keluarannya.
            Keadaan2 awal tsb mrpkan hasil2 dari pilihan makhluk tiap saatnya, dgn sgla kebebasannya.

            Tentunya ‘aturan’ yg dimaksud disini adalah Aturan-Nya / Sunnatullah yg tiap saatnya pasti mengatur tiap zat ciptaan-Nya. Sdgkan ‘keadaan’ adalah sgla keadaan lahiriah dan batiniah tiap saatnya pd tiap zat ciptaan-Nya.

            3. Salah-satu contoh dari Aturan-Nya / Sunnatullah yg telah cukup jelas diketahui oleh manusia, adalah hukum gravitasi (hukum tarik-menarik antar benda), baik yg rumusnya sederhana dari Newton, maupun yg lebih detail dari Einstein. Rumus2 gravitasi dari para ilmuwan tsb tentunya pasti tdk mutlak benar, seperti halnya Aturan-Nya / Sunnatullah itu sendiri (rumus2 dari Allah), yg mereka formulasikan bentuk pendekatannya.

            Maka contoh sederhananya misalnya:
            >> Rumus gravitasi dari Newton adalah ‘aturan': Gaya gravitasi antar benda = (konstanta gravitasi x massa benda 1 x massa benda 2) / (kuadrat jarak antar pusat benda 1 & 2).
            >> Konstanta gravitasi, massa2 benda dan jarak antar benda adalah keadaan2 awal sbgai hasil dari pilihan2 makhluk.
            >> Gaya gravitasi adalah keadaan2 akhir sbgai hasil dari aturan, yg pd akhirnya juga tergantung kepada hasil dari pilihan2 makhluk.

            7. Jadi ‘aturan’ (Aturan-Nya / Sunnatullah) justru sama sekali tdk terkait dgn peran makhluk dan bahkan telah ditetapkan / diketahui-Nya sejak jaman azali. Maka Aturan-Nya / Sunnatullah juga disebut bersifat ‘umum’.
            Sbliknya sgla ‘keadaan’ justru terkait dgn peran makhluk tiap saatnya dan bahkan hanya ditetapkan / diketahui-Nya sejak saat ‘sedang’ terjadinya. Maka sgla ‘keadaan’ juga disebut bersifat ‘detail’.
            ———————————
            Saya bersyukur, jika anda telah mengakui, bhwa pengetahuan-Nya atas ‘masa depan’ mmg hanya berupa Aturan-Nya / Sunnatullah. Walau saya belum bisa memperkirakan pemahaman2 anda atas Aturan-Nya / Sunnatullah tsb.

            Jika anda belum puas atas jawaban2 di atas, atau anda memiliki pemahaman yg berbeda ttg Aturan-Nya / Sunnatullah, silahkan disampaikan.

            Namun bagaimanapun, saya tetap menghargai apapun bentuk pendapat / pemahaman anda, dan saya juga tidak bisa memaksakan pendapat kepada anda.
            Kita serahkan saja hanya semata kepada Allah, Yang Maha Mengetahui mana pendapat yg paling benar. Serta kita pasti dimintai-Nya pertanggung-jawaban, atas sgla bentuk pendapat msg2nya, apalagi jika telah disampaikan kpd umat scra luas.

          • Muhammad Najib berkata:

            Mengenai pengertian Sunnatullah (hukum alam) tidak ada masalah. Kemudian saya “garis bawahi”pernyataan Anda ini:
            “Saya amat setuju dgn pernyataan anda, “Dengan ilmu terhadap ‘Aturan umum’ atau Sunnatullah, siapapun bisa memprediksi atau mengetahui hal-hal yang akan terjadi dengan tingkat kebenaran sebanding dengan ilmunya terhadap aturan umum itu.”.
            Oleh karena itu saya kemudian menyimpulkan bahwa Anda pasti setuju dengan pernyataan berikut:
            1. Manusia, yang memiliki ilmu tinggi terhadap Aturan Umum (Sunnatullah) bisa memprediksi hal-hal secara detail (keadaan) dimasa yang akan datang, dalilnya seperti kisah khidr. (Tingkat kebenaran prediksinya tidak mutlak benar, misalnya skala kebenaran 1 sampai dengan 10, akurasi prediksinya adalah dibawah 10).
            2. Allah yang memiliki ilmu tertinggi (10) terhadap sunnatullah yang mutlak kebenarannya terhadap hal-hal yang belum terjadi oleh karena itu pengetahuan Allah terhadap detail (keadaan) pada masa yang akan datang adalah bernilai 10 (mutlak benar).

          • Syarif Muharim berkata:

            Sebgmna penjelasan saya sejak awal, maka saya tidak setuju / menolak 2 poin pernyataan bapak yg terakhir.

            Lebih jelasnya, saya menolak pernyataan sprti “segala ‘keadaan’ di masa depan bisa diketahui / diprediksi scra ‘detail’, baik oleh manusia maupun oleh Allah”, krn mmg berbeda antara pengetahuan yg berupa ‘aturan’ (Aturan-Nya / Sunnatullah bersifat kekal / tdk berubah2 sejak jaman azali) dan berupa ‘keadaan’ (sgla keadaan pd tiap zat ciptaan-Nya bersifat kumulatif dan tdk kekal / berubah2 tiap saatnya).

            Pengetahuan atas Aturan-Nya / Sunnatullah hanya terkait dgn ‘bentuk pola perubahan’ keadaan, namun bukan terkait lgsg dgn tiap keadaan itu sendiri. Sdgkan Aturan-Nya / Sunnatullah pasti berlaku sesuai dgn sgla keadaan tiap saatnya pd tiap zat ciptaan-Nya, baik dari hasil usaha zatnya sendiri maupun dari hasil pengaruh zat2 lain di sekitarnya.

            Penolakan2 saya tsb persis serupa dgn penolakan saya thd pemahaman pd aliran Jabariyah, krn sgla ‘keadaan’ tiap saatnya pd tiap zat ciptaan-Nya, mmg saya yakini TIDAK DIATUR / TIDAK DITENTUKAN / TIDAK DIKETAHUI oleh Allah sejak jaman azali, atau krn tiap makhluk mmg telah diberikan-Nya kebebasan, utk bisa mengubah2 berbagai keadaannya tiap saatnya (bebas berkehendak dan berbuat). Walau ada Aturan-Nya / Sunnatullah, yg mmg pasti meliputi kebebasan makhluk (pasti relatif membatasinya).

            Harap dicermati, dlm pernyataan yang saya setujui dan bapak garis-bawahi HANYA disebut “hal-hal yang akan terjadi”, yg saya anggap relatif ‘terbatas’, dan BUKAN disebut “‘segala / seluruh’ hal yang akan terjadi secara ‘detail'”. Dan pernyataan tsb juga HANYA terkait dgn pengetahuan ttg Aturan-Nya / Sunnatullah, dan BUKAN ttg ‘keadaan’ pd zat ciptaan-Nya.

            Walau begitu, saya setuju pernyataan sprti:
            – “Allah Maha Mengetahui tiap Aturan-Nya / Sunnatullah ‘sedetail-detailnya’, bahkan sejak jaman azali sampai akhir jaman, termasuk yg ‘mengatur’ sgla zat yg plg elementer / sederhana, yg menyusun keseluruhan alam semesta ini”;
            – “Allah Maha Mengetahui tiap keadaan pd tiap zat ciptaan-Nya ‘sedetail-detailnya’, sejak saat ‘sedang’ terjadinya, termasuk sgla keadaan pd sgla zat yg plg elementer / sederhana”;
            – “Manusia bisa mengetahui / memprediksi sebagian dari Aturan-Nya / Sunnatullah scra ‘umum’, yg pasti berlaku di alam semesta ini”;
            – “Manusia bisa mengetahui / memprediksi sebagian dari keadaan2 scra ‘umum’ di masa depan, pd sebagian dari zat2 ciptaan-Nya di alam semesta ini”;

            Harap bapak telaah scra amat matang atas hakekat dari kebebasan makhluk, yg mmg telah sengaja diberikan-Nya, dgn diciptakan-Nya akal dan nafsu-keinginannya.
            Termasuk harap dijawab scra amat matang, pertanyaan sprti “apakah keadaan keimanan tiap manusia di Hari Kiamat nanti (atau bahkan tiap saatnya / detiknya), mmg benar2 telah ditetapkan / diketahui-Nya sejak jaman azali?”, sekaligus beserta implikasi2 yg terkait dgn tiap jawabannya. Cukup bapak jawab sendiri, kecuali jika hendak dishare disini.

            Semoga kita semua senantiasa selalu dilimpahkan-Nya hikmah dan hidayah-Nya. Amin.

          • Muhammad Najib berkata:

            Anda tidak konsisten baik dalam berpikir maupun menggunakan kata-kata, silahkan perhatikan ini:
            – “Manusia bisa mengetahui / memprediksi sebagian dari Aturan-Nya / Sunnatullah scra ‘umum’, yg pasti berlaku di alam semesta ini”;

            – “Manusia bisa mengetahui / memprediksi sebagian dari keadaan2 scra ‘umum’ di masa depan, pd sebagian dari zat2 ciptaan-Nya di alam semesta ini”; Pada pernyataan ini Anda gunakan lagi istilah “umum” kenapa tidak katakan saja “keadaan-keadaan secara detail pada masa depan, meskipun tidak sempurna”. Apakah Anda hendak menghindari pemahaman bahwa manusia bisa mengetahui keadaan-keadaan secara detail dimasa depan. Kalau Anda konsisten seharusnya begini pernyataannya:
            “Manusia bisa mengetahui / memprediksi sebagian (pengetahuan yg tidak sempurna) dari keadaan2 scra ‘detail’ di masa depan, pd sebagian dari zat2 ciptaan-Nya di alam
            semesta ini”;
            Menurut Anda pengetahuan Khidr bahwa Anak yang dibunuhnya akan menyebabkan orang tuanya kafir jika dia sudah dewasa adalah suatu hal yang detail atau sunnatullah (aturan umum). Menurut saya ini detail tentang masa depan. Meskipun Anda memahaminya itu adalah pengetahuan yang tidak mutlak (prediksi) tetapi paling tidak itu adalah detail yang tidak sempurna

          • Muhammad Najib berkata:

            Bagaimana bisa Anda mengakui/menyatakan ini:
            A.“Dengan ilmu terhadap ‘Aturan umum’ atau Sunnatullah, siapapun bisa memprediksi atau mengetahui hal-hal yang akan terjadi dengan tingkat kebenaran sebanding dengan ilmunya terhadap aturan umum itu.”
            Juga ini:
            B “Manusia bisa mengetahui / memprediksi sebagian dari keadaan2 scra ‘umum’ di masa depan, pd sebagian dari zat2 ciptaan-Nya di alam semesta ini”;
            Tetapi sekaligus menolak ini:
            1. Manusia, yang memiliki ilmu tinggi terhadap Aturan Umum (Sunnatullah) bisa memprediksi hal-hal secara detail (keadaan) dimasa yang akan datang, dalilnya seperti kisah khidr. (Tingkat kebenaran prediksinya tidak mutlak benar, misalnya skala kebenaran 1 sampai dengan 10, akurasi prediksinya adalah dibawah 10).
            2. Allah yang memiliki ilmu tertinggi (10) terhadap sunnatullah yang mutlak kebenarannya terhadap hal-hal yang belum terjadi oleh karena itu pengetahuan Allah terhadap detail (keadaan) pada masa yang akan datang adalah bernilai 10 (mutlak benar).

            Cobalah Anda berpikir sistematis dan cermat: Logikanya begini mas:
            I
            Premis Mayor: Dengan ilmu terhadap ‘Aturan umum’ atau Sunnatullah, siapapun bisa memprediksi atau mengetahui hal-hal yang akan terjadi dengan tingkat kebenaran sebanding dengan ilmunya terhadap aturan umum itu
            Premis Minor: Pengetahuan Allah tentang Sunnatullah adalah sempurna dan mutlak benar.
            Konklusi: Pengetahuan Allah tentang Sunnatullah (A) adalah mutlak sempurna dan benar sebanding dengan pengetahuan Allah tentang keadaan yang akan datang (B).
            Matematikannya begini: A=7+3 A=10
            B=10, Jadi A=B

            II
            Premis Mayor: Dengan ilmu terhadap ‘Aturan umum’ atau Sunnatullah, siapapun bisa memprediksi atau mengetahui hal-hal yang akan terjadi dengan tingkat kebenaran sebanding dengan ilmunya terhadap aturan umum itu
            Premis Minor : Nabi Khidr diberi anugrah tingkat pemahaman yang tinggi terhadap sunnatullah (Nilainya misalnya 9) (A)
            Konklusi: Pemahaman tinggi terhadap Sunnatullah yang melingkupi seorang anak kecil membuat Khidr punya pengetahuan (prediksi dengan akurasi tinggi, nilainya=9) terhadap keadaan (detail) masa depan anak tersebut (B), yakni menjadi seorang anak yang akan membuat orang tuanya kafir, sehingga khidr membunuh anak itu sebelum keadaan yang “diprediksi”nya terjadi.

            III
            Kalau pengetahuan Khidr tentang anak itu (umum dan detail/masa depan) nilainya 9, sehingga pengetahuan tentang masa depan bagi khidr bisa diistilahkan sbg prediksi karena kebenarannya tidak mutlak. Maka pengetahuan Allah adalah 10 (Mutlak benar dan sempurna). Dan sebagaimana khidr, pengetahuan itu adalah mencakup sunnatullah yang melingkupi anak itu dan keadaan (detail) “masa depan” anak itu.

            Saya kira Argumen bahwa Allah mengetahui segala-segalanya, tanpa kecuali sudah jelas sekarang tergantung Anda mau terima atau ingkar.
            Silahkan renungkan dan pahami secara benar ayat berikut (jangan tafsirkan seenak nya demi menyesuaikan dengan pikiran-pikiran spekulatif Anda sebagaimana anggapan Anda terhdp sebagian penafsir yang Anda kritik pada komentar terdahulu).

            Dalam Surah Yunus Ayat 61:
            “Tidak luput dari pengetahuan Tuhan biarpun sebesar Zarrah di bumi ataupun di langit, tidak ada yang lebih kecil dan tidak pula yang besar dari itu.”

          • Syarif Muharim berkata:

            Maaf saya terlambat menjawab pertanyaan terakhir dari bapak, krn saya justru sedang kebingungan menemukan cara2 utk bisa menerangkannya kpd bapak, krn cndrung mempertanyakan pemakaian bahasa, yg justru krg substansial.

            Padahal saya merasa telah menerangkan substansi2nya dari byk aspek dan sudut pandang, misalnya: apa makna kata ‘detail’, apa bentuk2 pengetahuan-Nya (aturan dan keadaan), cara memprediksi dan hal2 yg diperlukan (pola perubahan keadaan dan dasar acuan awal), saat2 perolehan pengetahuan-Nya (sejak jaman azali dan tiap saatnya), perbedaan pengetahuan-Nya ttg masa lalu, skrg dan masa depan, pengetahuan-Nya yg berasal dari peran makhluk, pilihan dan kebebasan makhluk, adanya sedikit batasan / perkecualian bagi ‘Maha’, ‘sgla sesuatu’ dan ‘seluruh’, dsb.

            Jika bisa bertemu lgsg dgn bapak, Insya Allah, akan saya jelaskan lebih detail, atas hal2 yg telah saya ungkap dlm artikel di atas. Sementara ini hanya komen2 dan artikel di atas yg bisa saya sampaikan.

            Kesimpulan akhirnya, tidak ada keharusan bagi bapak, utk bisa memahami dan mengikuti hal2 yg telah saya ungkap tsb. Silahkan bapak mempertahankan pemahaman2 yg mmg telah dimiliki, ataupun silahkan bapak memilih dan meyakini pemahaman2 lainnya yg berkembang luas di kalangan umat.
            Namun pada puncaknya hanya semata hak-milik Allah, Yang Maha Mengetahui pemahaman2 yg sesungguhnya plg benar. Serta hanya semata kepada Allah semestinya manusia menyerahkan segala sesuatu urusannya.

            Semoga bapak dilimpahkan-Nya rahmat dan berkah-Nya. Aamiin.

  3. janu atmojo berkata:

    bagus sekali tentang isi buku kitap mulia di dunia internet.artinya siapa saja yang pingin membaca secara instan dan memang benar benar membantu..allahhuakbar allahhuakbar alahhuakbar………

  4. silver account berkata:

    Suatu kecerdasan tunggal, kearifan universal, melingkupi alam semesta. Sejumlah penemuan oleh ilmu pengetahuan, yang mengkaji tentang sifat quantum dari materi-materi pembentuk atom (sub-atomik), telah membawa kita sangat dekat kepada pemahaman yang mengejutkan: seluruh keberadaan merupakan perwujudan dari kearifan ini. Di laboratorium kita merasakannya dalam bentuk informasi yang pertama-tama terwujudkan secara fisik dalam bentuk energi, dan kemudian terpadatkan menjadi bentuk materi. Setiap partikel, setiap wujud, dari atom hingga manusia, tampak mewakili satu tingkatan informasi, satu tingkatan kearifan.

    • Syarif Muharim berkata:

      Betul. Kearifan ini juga biasa disebut “Fitrah Allah” ataupun “fitrah dasar pd tiap makhluk”. Dgn kata lain kearifan ini berupa kepatuhan, ketaatan ataupun ketundukan segala sesuatu zat ciptaan-Nya kpd segala perintah Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Pencipta alam semesta ini. Sdgkan segala perintah Allah tsb hanya diberikan-Nya sekali saja dan hanya berupa segala fitrah dasar pd tiap ruh zat, yg tlh ditanamkan-Nya pd saat awal penciptaan zat ruhnya msg2. Makin sederhana zatnya, relatif makin tampak jelas pula kepatuhan, ketaatan ataupun ketundukannya kpd-Nya.

  5. Arif berkata:

    Assalamualaikum..
    Tadz mau tanya,, kalau ramalan dalam Quran itu gimana ya? Contohnya kemenangan byzantium?

    • Syarif Muharim berkata:

      Wa ‘alaikum salam wr wb.
      Insya Allah, ramalan2 dalam Al-Qur’an pasti terbukti kebenarannya, dan persoalannya relatif hanya ‘kapan’ saat terbuktinya (ada yg sdh terbukti dan ada yg blm terbukti). Kemenangan Byzantium misalnya telah terbukti, dgn telah berdirinya negara Turki saat ini.

    • arsyad berkata:

      Assalamulaikum,
      saya mau berbagi kenyataan (fakta) juga ilmu kepada bapak syarif muharim juga saudara2ku sesama muslim terutama yang bingung mengenai ke MAHA TAHUAN ALLAH terhadap kejadian yang akan datang.. mengenai kenyataan, saya akan bercerita tentang mimpi yang mana membuktikan bahwa Allah Maha Tahu tentang kejadian yang akan datang.
      1. saya bermimpi, saya di marahin sama mertua saya. mimpi tsb 2 malam berturut yang menimpa saya membuat saya ketakutan. saya gak percaya karena cuma mimpi, tapi setelah 2 malam berturut tsb barulah benar2 kejadian yang membuat saya nangis.. kenapa? saya pulang kerja, istri minggat dari rumah memang kehidupan kami pas2an.. inilah bukti yang pertama, ALLAH Maha Tau yang memberi peringatan kepada hambanya melalui mimpi..
      setelah istri minggat dari rumah, saya benar2 berubah yang tadinya tidak taat jadi taat kepada ALLAH. sholat tidak pernah saya tinggalkan baik wajib maupun sunnah, sering membaca Alqur,an dll..
      2. setelah sebulan saya ditinggal istri, ibu saya bermimpi melihat banyak semut hitam dibawah lemari dan diperkuat dengan mimpi saya sendiri, Alhamdulllilah, mimpi2 baik saya mimpikan setiap malam antara lain bermimpi wudhuk, mimpi diberi sepatu hitam oleh wanita berpakaian hitam, mimpi mendatangi suatu perusahaan (PT) memang saya berniat akan mendirikan perusahaan PT yang akan membuat istri saya menyesal nantinya.., diberi kabar gembira dengan istri yg sholeh lagi cantik yang mana saya bermimpi melihat burung merpati putih dan wanita hitam yang jelek.. dan masih banyak lagi mimpi2 baik yg saya alami. saya mengetahui tabir mimpi baik tsb dari kitab tafsir mimpi ibnu sirin..
      disini saya mau menegaskan bukti, bahwa ALLAH Maha Mengetahui kejadian2 yang akan datang seperti mimpi no. 1 saya yg benar2 terjadi dan mimpi saya no. 2 memang belum terjadi, tapi ALLAH telah memberikan kabar gembira kepada hambanya apa yang akan terjadi, dan mimpi2 baik tsb membuat saya menjadi percaya diri, optimis, yakin dan semangat menjalani kehidupan ini meskipun sekarang ini tgl 5/4/2014 saya masih dalam kondisi ekonomi yg kesulitan tapi saya yakin dan berbaik sangka sama ALLAH akan pertolongannya.. semoga ini memberi masukan bagi yang kebingungan, sekali lagi saya tegaskan bahwa ALLAH MAHA MENGETAHUI kejadian2 yang akan datang..

      • Syarif Muharim berkata:

        Wa ‘alaikum salam,
        Terima kasih atas masukannya.

        • Haris berkata:

          menurut saya ini contoh nyata bukti bahwa ALLAH itu maha tahu.. saya pun pernah bermimpi, tapi kita kebanyakan tidak menghiraukan mimpi2 itu sendiri bahkan rasullullah sendiri pun bermimpi apa yang akan terjadi dan anda sekalian bisa cari googling tentang kedudukan mimpi dalam islam. dan untuk pak syarif apakah sudah yakin bahwa ALLAH maha tahu apa yang akan terjadi? saya harap bapak pun meyakininya karena ilmu tuhan dan makhluknya tidak akan sama. dan jujur kalo kita masih ragu akan ilmu ALLAH, jelas berarti kita meragukan neraka dan surganya serta hari kiamat. tentunya keislaman kita patut dipertanyakan? nauzubillah min zalik.. jangan sampai masalah ini melepaskan keimanan kepada ALLAH dengan tidak mempercayai sifat2 nya..

  6. Anonymous berkata:

    Maha Suci Allah, ada hal-hal yang ‘tidak’ diketahui-Nya, ‘sebelum’ terjadinya

    Ya Allah aku bersaksi bahwa artikel ini adalah tidak benar.
    Tidak mengetahui adalah sifat mahluk Mu dan itu tidak ada pada diri Mu.
    Maha Suci Engkau Ya Allah dari sifat-sifat yang ada pada mahluk Ciptaan Mu.

    Banten 07.02.2013
    MTSK

    • Syarif Muharim berkata:

      Silahkan saja jika anda meyakini, bhwa pernyataan “ada hal-hal yang ‘tidak’ diketahui-Nya, ‘sebelum’ terjadinya”, ataupun lebih luasnya artikel ini, adalah tidak benar. Krn mmg sama sekali tdk ada hak dan kemampuan saya, utk mengatur dan memaksakan keyakinan saya kpd org2 lainnya. Saya hanya skdar menyampaikan hal2 yg benar2 saya yakini.
      Adapun pernyataan “ada hal-hal yang ‘tidak’ diketahui-Nya, ‘sebelum’ terjadinya” tsb justru timbul dari firman2 Allah sendiri, yg berbunyi “agar / supaya Kami mengetahui” di atas (QS.2:143, QS.3:166, QS.3:166-167, QS.5:94, QS.57:25, QS.47:31, QS.18:12, QS.72:27). Silahkan saja jika ada umat yg menafsirkan ungkapan “agar / supaya Kami mengetahui”, yg tafsirannya sbnarnya cukup sdrhna, menjadi bentuk2 tafsiran lainnya.

      Di samping ayat2 tsb, tentunya ada byk pula ayat2 lainnya yg memperkuatnya. Contoh ringkasnya, berupa ayat2 yg menerangkan ttg kitab catatan amalan tiap manusia, yg justru dicatat ‘tiap saat terjadinya’ oleh para malaikat Rakid dan ‘Atid, serta pasti akan dibacakan / diberitakan / dibukakan pd Hari Kiamat.
      Logika sdrhnanya, jika segala sesuatu halnya mmg benar2 telah tercatat “seluruhnya” sejak jaman azali di Lauh Mahfuzh (bahkan termasuk sgla amalan tiap manusia berikut sgla hasilnya ‘nantinya’), maka kenapa para malaikat Rakid dan ‘Atid harus perlu mencatatnya lagi ‘tiap saatnya’, ke dlm kitab catatan amalan. Bahkan mestinya para malaikat Rakid dan ‘Atid justru tdk perlu mencatatnya sama sekali.
      Juga jika isi Lauh Mahfuzh mmg benar2 telah lengkap, maka kenapa bukan isi Lauh Mahfuzh yg dibacakan / diberitakan / dibukakan pd Hari Kiamat, tetapi justru isi kitab catatan amalan. Serta cukup byk alasan2 lainnya, yg belum sempat diungkap disini.

      Shg tiap umat Islam mestinya bisa mempelajari scra relatif amat cermat dan mendalam, misalnya mengenai: apa kaitan antara Lauh Mahfuzh dan kitab catatan amalan tiap manusia; kapan saja tercatatnya tiap isi Lauh Mahfuzh, serta apa saja yg tercatat tsb; apakah ada peran makhluk atas ‘sebagian’ dari pengetahuan-Nya; dsb, agar umat bisa memahami sifat Maha Mengetahui Allah scra relatif tepat dan proporsional (tidak berlebihan).

      Bahkan umat Islam telah cukup luas mengetahui, bahwa pemahaman yg berlebihan thd sifat Maha Menentukan Allah, yg justru telah mengantarkan kaum jabariyah kpd fatalisme yg amat berbahaya.
      Sebagai pelengkap, harap membaca “Catatan dan permasalahan pemahaman atas sifat-sifat-Nya” (http://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/bd_6/#_Toc280619314).

      Dan saya menyerahkan persoalan ini hanya semata kpd Allah, Yang Maha Mengetahui pemahaman2 yg sesungguhnya plg benar, serta sbgai tempat semestinya manusia menyerahkan segala sesuatu urusannya.

      Mdh2an anda dilimpahkan-Nya rahmat dan berkah-Nya. Aamiin.

      • Anonymous berkata:

        Assalamualaikum…
        Seru bacanya… Apalagi baca2 komentnya… Hehehe…
        Apapun yg telah diterangkan diartikel ini atau yg di diskusikan, dikembalikan lagi kepada masing2 individu dengan bagaimana caranya memahaminya masing2 individu,
        Saya sendiri masih minim tentang pemahaman2 seperti ini,
        Dengan itu saya sering membaca artikel2 seperti ini untuk sekedar pengetahuan… Semoga kita semua selalu di beri pengetahuan untuk dapat memahami terlebih-lebih mengenali yg maha ESA…
        Wassalam /Rd

        • Syarif Muharim berkata:

          Wa ‘alaikum salam wr. wb.,
          Aamiin.
          Penafsiran atau pemahaman umat atas ajaran2 agama Islam mmg amat berragam dan pasti bersifat relatif (tidak pasti benar). Sdgkan hanya semata Allah Yang Maha Mengetahui pemahaman2 yg paling benar dan sekaligus pula pengamalan2 yg plg baik.
          Shg sudah semestinya jika tiap umat menyerahkan segala sesuatu urusannya kepada Allah.

          Sgla sesuatu penafsiran atau pemahaman pd blog ini tentunya juga pasti bersifat relatif, serta hanya semata berdasar keyakinan subyektif penulis. Shg terpulang kpd msg2 umat utk menilai, meyakini ataupun mengikutinya, serta sebaliknya juga utk mengabaikan ataupun meninggalkannya.

          Semoga sgla sesuatu pd blog ini bisa bermanfaat bagi umat, terutama utk bisa makin meningkatkan pemahaman dan keyakinan umat atas ajaran2 agama Islam. Aamiin.

  7. wawan berkata:

    “Bismillaahirrahmaanirrahiim”
    Uraian serta diskusi yang menambah khazanah untuk mempertebal iman terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Terlepas dari kebenaran dari Allah Yang Maha Suci kepada masing-masing, namun semangat untuk memperkokoh tauhid sangat terasa.
    Orang-orang yang nyata-nyata kemaksiatannya dan kesesatannya saja masih di beri petunjuk, apalagi orang-orang yang nyata-nyata mendekat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
    jazakumullaahu khairan…
    afwan wa salam.

  8. Cek Jen berkata:

    Sy mengedit dr buku Fazlur Rahman dan Quraisy Shihab mengenai determinsme/predeterminis, dan sy perluas dg tambahan analogi dll, sbb:

    MEMAHAMI QADAR, TAKDIR dan ‘AMR

    QS 87:1-3 ,”Sabbihi isma rabbika al-a’laa(Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi),alladzii khalaqa fasawwaa (yang menciptakan, dan menyempurnakan), waalladzii qaddara fahadaa (dan yang menentukan kadar {masing-masing}) dan memberi petunjuk”.
    Di atas tafsir standar. Tafsir lebih luas :
    “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan ( khalaqa= memberi bentuk kepada sesuatu), dan menyempurnakan (bentuknya) serta memperlengkapinya (setelah diciptakan) dengan ‘qaddar’ (potensialitasnya/ kemampuannya/ukurannya/takarannya/performance/kemampuan kerjanya/kinerjanya) dan kemudian memberi petunjuk (‘hada’, aturan, hukum)
    Ilustrasi : Pompa air daya 250 watt, mempunyai kemampuan kerja : Total Head (dalam sedot dan tinggi angkat air) 20m, debit max 40 ltr/menit, ini disebut QADAR (Kadar).
    Ayat2 sejenis: QS 25:2; 41:11-12; 15:21; 65:3; 36:38
    Bila Pompa tsb difungsikan maka disebut Taqdir/’Amr
    Dg demikian arti Taqdir/’Amr, MENJALANKAN PERINTAH/KETENTUAN
    Lebih jauh lagi, ‘Amr (PERINTAH / LARANGAN) lebih spesifik ditujukan untuk manusia, sedangkan Taqdir berlaku umum.

    JADI JELAS ARTI KATA QADAR, JANGAN DIKAITKAN DG KETENTUAN “NASIB” DIMASA DEPAN YG SUDAH DITENTUKAN SEBELUMNYA (PREDETERMINISME). SAMA SEKALI TIDAK BERHUBUNGAN, seperti pemahaman takdir/qadar selama ini.

    ALLAH MAHA MENGETAHUI
    3 bh ilustrasi : 1>. Seberapa pasti besok pagi seorang anak pergi sekolah? Bila pembatasnya hanya dipilih yg dominan : a. Bangun pagi, b. Tidak macet, c. Tidak hujan, maka PASTI TAHU sang anak dapat kesekolah. 2>. Untuk mengetahui apa yg akan terjadi dimasa depan, pialang saham komoditi terus mengupdate dr media. Cuaca, perang, suply-demand, suku bunga, embargo,dll. Ia menetapkan nilai komoditas pd harga tertentu, dan dia akan mencari keuntungan dr issue negatif/positif pd perilaku pialang saham lain yg terburu2 “jual dan beli”. Bahasa yg dipakai adalah TREND/KECENDERUNGAN, sebagai pengganti KEPASTIAN. 3>.Pada pemograman, dikenal istilah IF-THEN-ELSE, IF-GOTO. Ia tulang punggung program komputer. Memakai contoh pertama di atas, dengan memperluas pembatas : d. tak ada benda langit dan pesawat jatuh, e. tak ada huru-hara, f. tak musibah kematian terdekat, g. Gaya gravitasi tak berubah, h. Tak ada perubahan konstanta semesta (massa,muatan atom,dll),…dst, dst…. (lebih banyak prediksi lagi yg tidak dipahami/diketahui kita) . Maka siapapun yg dapat mengetahui , maka ia, Maha Mengetahui Mutlak.
    Kesimpulan : ALLAH MAHA MENGETAHUI NASIB MANUSIA. TAPI ALLAH TIDAK MENENTUKAN NASIB MANUSIA. Dan Rahasia ini, hanya Allahlah yg tau dan menyimpannya. Namun biasanya, untuk kejadian yg akan terjadi pd waktu dekat, Allah akan melibatkan pihak lain ( Malaikat)

    BERIMAN KEPADA QADDAR BAIK DAN BURUK

    Dalam al-Quran Rukun Iman ditulis secara berangkai hanya 5 item keimanan , QS 4:136, dan tentang Taqdir tertulis pd tempat terpisah. Dan pada saat Rasulullahpun istilah “rukun” belum ada. Baru kemudian istilah Rukun Iman ada dan menjadi 6 item.

    Pemahami konsep TAKDIR dan konsep ALLAH MAHA MENGETAHUI (seperti analogi di atas), HARUS DIPAHAMI SECARA BERSAMAAN , sehingga tak ada kontradiksi dalam pemahaman Rukun Iman yang 6 item, begitu pula dengan pernyataan , “ HIDUP, REJEKI, MATI SUDAH DITENTUKAN ALLAH “.

    Kecenderungan teoritik sain akan adanya mesin waktu, tempat manusia berkelana maju-mundur, sangat bertentangan dg Konsep Allah Maha Mengetahui dlm konteks determins/predeterminis. Sehingga Allah menjaga langsung koordinat waktu dalam arah positif, shg tak ada kontradiksi Sejarah. Mungkinkan hal tersebutu dibalik hikmah dr Sumpah Allah terhadap elemen2 Waktu dlm alQuran (Pagi, sore, bulan, dll) ??
    Wallahuallam bissowab

  9. Jan U. Day berkata:

    Menurut keterangan dari kitab”Asraarul Mufidah” barangsiapa mengamalkan membaca Ayat Al-Kursi setiap hari sebanyak 18 kali maka akan dibukakan dadanya dengan berbagai hikmah, dimurahkan rezekinya, dinaikkan darjatnya dan diberikannya pengaruh sehingga semua orang akan menghormatinya serta terpelihara ia dari segala bencana dengan izin Allah.

  10. ratmin berkata:

    Assallamualaikum pak Syarif.
    Suatu pembelajaran kerohnaian yang sangat bagus, saya dukung dengan segala kemampuan saya. Buat pak Najib…. belajar lebih banyak lagi dengan pak Syarif supaya lebih pintar lagi…..

  11. Anonymous berkata:

    assalamualaikum, permisi mampir untuk menambah pengetahuan pak… :)
    banyak hal baru yang saya dapat dari artikel ini, namun jujur saja pertama kali membaca ini kepala saya sakit pak, sulit sekali dipahami, mungkin saya harus berulang kali membaca agar dapat memahami dengan baik… :) dan kalau bisa dikemas lebh ringkas pak agar pembaca yang sedikit lemot seperti saya kepala nya gak sakit :D

    • Syarif Muharim berkata:

      Wa ‘alaikum salam.
      Maaf…. harap maktum, jika topik ini mmg relatif amat berat, dan mmg relatif amat jarang ada yg mengupasnya scra panjang-lebar.
      Untuk bentuk ringkasnya, cukup mengacu saja kpd keterangan2 dari kitab suci Al-Qur’an, Hadits2 Nabi, dan pendapat2 para alim-ulama, yg terkait dgn Lauh Mahfuzh.
      Sedangkan artikel ini mmg bertujuan, utk membahas / mengupas lbh mendalam ttg Lauh Mahfuzh itu sendiri.

      Semoga bisa bermanfaat. Aamiin.

  12. anonim berkata:

    Assalamu alaikum, saya salut atas usaha Bapak dalam menuliskan ini walau agak berat bahasanya. Selain itu beberapa tulisan menohok batin saya mengenai konsep anda mengenai “Keterbatasan pengetahuan Allah dalam megetahui yang belum terjadi”. Secara logika dan batin, saya benar-benar tidak setuju. Alhamdulillah ada pencerahan dari Pak Najib yang menyadarkan saya kembali tentang yang benar. Menurut saya tidak sepantasnya makhluk mengukur/memperkirakan kemampuan pengetahuan penciptanya dengan akal kita yang terbatas. Karena kemampuan akal pikiran kita tidak akan pernah sampai.

    Wassalam

  13. nderek nyimak nggih” wonten lepat nyuwun sepuro…
    nggak akan selesai-selesai perdebatan seperti ini,para-para orang agamis tekstual, yaitu beragama hanya berdasarkan pemahaman sendiri atas teks-teks dalil tanpa pemahaman mendalam sampai tingkat: ” bukan tanganmu yg melempar tapi Aku, kata Allah Swt ” kok malah njenengan-njenegan bwt serumit itu… oalah… manusia..manusia…

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s