Allah dan ‘Arsy-Nya berada dalam hati-nurani tiap makhluk

Allah dan 'Arsy-Nya berada dalam hati-nurani tiap makhluk

"Dimanakah sebenarnya Allah berada?". Padahal 'esensi' Zat Allah, Yang Maha Gaib dan
Maha Suci, memang tersucikan dari segala sesuatu hal, termasuk mustahil bisa dicapai
atau dijangkau oleh segala alat indera pada tiap makhluk (termasuk para malaikat-Nya
dan para nabi-Nya), di dunia dan di akhirat. Maka berikut ini diungkap, bahwa Allah
dan 'Arsy-Nya berada dalam 'hati-nurani' tiap makhluk. Walau hal ini juga tetap
bukan letak keberadaan Zat Allah, tetapi letak pemahaman tentang Allah.

Daftar isi

Pendahuluan

Adanya berragam keterangan dalam kitab suci Al-Qur'an tentang keberadaan Allah, yang diungkap di bawah, sedikit-banyak justru telah bisa menimbulkan kebingungan pada sebagian kalangan umat Islam, khususnya jika ayat-ayatnya yang terkait dipahami secara 'tekstual-harfiah'. Tetapi jika umat justru telah bisa memahami 'hikmah dan hakekat', yang terkandung 'di balik' teks ayat-ayatnya, maka umat juga mestinya tidak perlu mengalami kebingungan. Bahkan umat sekaligus bisa membenarkan ayat-ayat tersebut.

Maka dalam uraian-uraian di bawah akan diungkap pendapat penulis, bahwa "Allah dan 'Arsy-Nya berada dalam 'hati-nurani' tiap makhluk". Walau hal ini bukan berupa 'letak keberadaan' Zat Allah, namun hanya berupa 'letak pemahaman' tentang Allah. Juga akan diungkap, bahwa pendapat tentang keberadaan Allah seperti ini, bahkan justru telah bisa menghubungkan, mencakup atau mewakili semua ayat tersebut, secara 'sekaligus' (semua ayatnya tetap relatif benar). Selain itu, pendapatnya justru tetap berdasar atas "ke-Esa-an Allah" (tauhid), karena memang sama sekali tidak terkait dengan 'esensi' Zat Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Maha Gaib dan Maha Suci.

Baca pula Metode pencapaian pemahaman hikmah dan hakekat (Al-Hikmah).

Keberadaan Allah dalam kitab suci Al-Qur'an

Berikut inipun diungkap ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an, yang menerangkan tentang keberadaan Allah, seperti: "di atas 'Arsy-Nya" (pada QS.7:54, QS.10:3, QS.13:2, QS.20:5, QS.25:59, QS.32:4, QS.57:4), "di langit" (pada QS.67:16), "Maha Dekat" (pada QS.34:50), "dekat" (pada QS.2:186), "lebih dekat daripada urat leher" (pada QS.50:16), "dekat ke jiwa-ruh-nyawa" (pada QS.56:85) dan "dimana-mana" (pada QS.57:4, QS.58:7, QS.2:115), beserta ayat-ayat lainnya yang terkait.

"Sesungguhnya Rabb-kamu ialah Allah, Yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. …" – (QS.7:54) dan (QS.10:3, QS.13:2, QS.20:5, QS.25:59, QS.32:4, QS.57:4).

"Apakah kamu merasa (aman) terhadap Allah, Yang di langit, bahwa Dia menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang," – (QS.67:16).

"…. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, lagi Maha Dekat." – (QS.34:50).

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. …" – (QS.2:186).

"Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih (dekat) kepadanya daripada urat lehernya," – (QS.50:16).

"dan Kami lebih dekat kepadanya (nyawamu), daripada kamu. Tapi kamu tidak melihat," – (QS.56:85).

"…. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat, apa yang kamu kerjakan." – (QS.57:4).

"…. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka, di manapun mereka berada. …" – (QS.58:7).

"Dan kepunyaan-Nya-lah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah (ada) wajah-Nya. Sesungguhnya, Allah Maha Luas, lagi Maha Mengetahui." – (QS.2:115).

 

"Dan Dia-lah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah 'Arsy-Nya di atas air (di langit), …" – (QS.11:7).

"Allah, tiada Ilah Yang disembah, kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai 'Arsy yang besar'." – (QS.27:26).

"Katakanlah: 'Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh, dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?'. …" – (QS.23:86-87).

"…. Kursi Allah (tempat keberadaan Allah) meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi, lagi Maha Besar." – (QS.2:255).

'Esensi' Zat Allah, tersucikan dari segala sesuatu hal

Perlu diketahui, bahwa tiap zat pasti memiliki 'esensi' dan/atau 'perbuatan'. Karena keberadaan suatu zat telah terbukti, jika salah-satu dari keduanya bisa dibuktikan. Namun 'esensi' Zat Allah, Yang Maha Gaib dan Maha Suci, memang tersucikan dari segala sesuatu hal, termasuk mustahil bisa dicapai atau dijangkau oleh segala alat indera 'lahiriah' (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, dsb) dan alat indera 'batiniah' (hati / kalbu), pada tiap makhluk ciptaan-Nya (bahkan juga termasuk para malaikat-Nya dan para nabi-Nya), di dunia dan di akhirat. 'Esensi' Zat Allah juga mustahil bisa dicapai atau dijangkau oleh akal-pikiran tiap makhluk. Maka keberadaan Zat Allah memang hanya bisa dibuktikan, melalui pengamatan atas hasil segala 'perbuatan' Zat Allah di alam semesta ("tanda-tanda kekuasaan-Nya").

Hal itu relatif mudah dipahami, karena segala sesuatu hal di alam semesta, tentunya hanya berupa hal-hal yang bisa dijangkau oleh segala alat indera lahiriah ataupun batiniah pada tiap makhluk, secara langsung ataupun tidak (tanpa / dengan alat). Sedangkan segala sesuatu hal yang bisa dipikirkan oleh tiap makhluk, tentunya hanya hasil dari segala olahan akalnya, berdasar atas hal-hal yang telah bisa dijangkau oleh segala alat inderanya (hampir mustahil memikirkan hal-hal yang justru sama sekali tidak diketahuinya sedikitpun).

Padahal di lain pihak, "tidak ada sesuatupun di alam semesta, yang setara ataupun serupa dengan 'Zat Allah'". Maka 'esensi' Zat Allah tentunya sama sekali berbeda, daripada hal-hal yang bisa dijangkau, oleh segala alat indera dan akal-pikiran pada 'segala' makhluk. Sedangkan hasil dari segala 'perbuatan' Zat Allah di alam semesta, tentunya hanya berupa hal-hal yang bisa dijangkau, oleh segala alat indera dan akal-pikiran pada 'segala' makhluk (pasti 'terwujud' melalui segala sesuatu hal yang terdapat di alam semesta).

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, …" – (QS.6:103) dan (QS.50:33).

"dan tidak ada seorangpun (sesuatupun), yang setara (serupa) dengan Dia." – (QS.112:4) dan (QS.42:11).

Membicarakan 'esensi' Zat Allah, bisa melahirkan kemusyrikan

Sedangkan segala usaha manusia dalam membicarakan, menguraikan, menjelaskan, mendefinisikan ataupun mendeskripsikan tentang 'esensi' Zat Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Pencipta alam semesta yang sebenarnya, justru pasti akan menghadapi segala dilema atau kegagalan. Terutama hal inipun pasti melahirkan segala bentuk 'ketidak sempurnaan', dalam pemahaman umat manusia tentang sifat-sifat Allah, Tuhan Yang Maha Sempurna.

Bahkan paling parahnya, hal ini justru bisa melahirkan segala bentuk 'kemusyrikan' (menyekutukan Allah), seperti halnya yang biasanya diketahui terjadi, pada agama-agama yang 'musyrik' (Tuhannya 'tidak sempurna', dan berupa seperti: para malaikat, para dewa, manusia biasa, patung / berhala, dsb). Dengan diakui ataupun tidak, hal ini justru biasanya sekaligus pula melahirkan 'banyak' Tuhan (politeisme), yang masing-masingnya bisa relatif 'sempurna', hanya terbatas dalam hal-hal tertentu saja. Maka agama-agama seperti itupun perlu 'banyak' Tuhan, agar bisa terbentuk kesempurnaan ketuhanan yang utuh.

"Maha Suci dan Maha Tinggi Dia, dari apa yang mereka katakan (sifatkan), dengan ketinggian yang sebesar-besarnya." – (QS.17:43) dan (QS.21:22, QS.23:91, QS.37:159, QS.43:82).

"…. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan." – (QS.16:1) dan (QS.10:18, QS.28:68, QS.30:40, QS.39:67).

"…. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." – (QS.2:22) dan (QS.4:36, QS.6:150-151, QS.16:74, QS.18:110, QS.28:87, QS.30:31, QS.31:13).

Tidak ada keterangan tentang 'esensi' Zat Allah, dalam kitab suci Al-Qur'an

Perlu diketahui pula, bahwa dalam kitab suci Al-Qur'an justru tidak pernah disebut tentang 'esensi' Zat Allah, namun hanya disebut tentang segala 'perbuatan' Zat Allah. Juga serupa halnya dengan seluruh sifat dan nama Allah, tidak ada yang terkait dengan 'esensi' Zat Allah. Bahkan sifat-sifat-Nya yang seolah-olah terkait dengan 'esensi' Zat Allah, antara lain: Ada (wujud), Maha Esa, Maha Gaib (Tersembunyi), Maha Kekal, Maha Awal, Maha Akhir, Maha Hidup, dsb, justru hanya diperoleh dari mempelajari segala hasil 'perbuatan' Zat Allah di alam semesta, seperti halnya bagi seluruh sifat-Nya lainnya.

Tentunya untuk memahami hal di atas, umat Islam memang mestinya mempelajari kitab suci Al-Qur'an, kitab-kitab Hadits Nabi, ataupun bahkan segala kitab dan risalah dari para nabi-Nya terdahulu, secara amat hati-hati dan cermat, ayat-per-ayat. Hal seperti ini amat perlu dilakukan, agar umatpun bisa menjawab, "apakah para nabi-Nya benar-benar pernah menerangkan, tentang 'esensi' Zat Allah?", "apakah nabi Musa as benar-benar bisa melihat dan berbicara dengan Allah?" dan "apakah segala perbuatan Allah di alam semesta (selain penciptaan paling awalnya), benar-benar dilakukan 'langsung' oleh Allah sendiri?".

Sedangkan jawaban penulis atas semua pertanyaan seperti ini jelas "tidak". Karena segala makhluk mustahil menjangkau 'segala sesuatu hal' tentang tiap ciptaan-Nya, apalagi tentang Zat Allah; 'esensi' dan 'perbuatan' Allah justru sama sekali berbeda daripada segala sesuatu hal pada tiap ciptaan-Nya; Allah bernteraksi dengan segala makhluk hanya semata dari balik 'hijab-tabir-pembatas' (pasti melalui perantaraan wahyu dan para utusan-Nya); kalam atau wahyu yang 'sebenarnya' hanya berupa 'alam semesta' (bentuk wahyu lainnya berupa hasil pemahaman atas alam semesta); juga segala perbuatan Allah di alam semesta (selain penciptaan paling awalnya), justru dilaksanakan oleh segala makhluk ciptaan-Nya, berdasar segala perintah-Nya, secara sadar ataupun tidak.

Baca pula Sunatullah sebagai wujud perbuatan Allah, yang perwujudannya memang dilaksanakan oleh segala makhluk ciptaan-Nya (terutama para malaikat-Nya). Serta juga Wahyu dan kitab-Nya memiliki 4 macam bentuk.

Lalu mungkin timbul pertanyaan "apakah keterangan tentang Allah, seperti: 'kursi', 'wajah', 'tangan', 'kaki', 'pendengaran', 'penglihatan', dsb, bukan menunjukkan 'esensi' Zat Allah?". Jawaban ringkasnya, "hal-hal seperti ini hanya 'contoh-perumpamaan simbolik', bukan fakta-kenyataan yang sebenarnya". Baca pula pada uraian berikut.

Segala hal 'gaib' mestinya selamanya tetap bersifat 'gaib'

Hal yang relatif sering dilupakan oleh tiap umat Islam, bahwa hal-hal 'gaib' mestinya tetap ditempatkan sebagai 'gaib' (mestinya mustahil memiliki wujud 'fisik-lahiriah-nyata'), termasuk mustahil bisa dirasakan atau diketahui, melalui segala alat indera fisik-lahiriah. Hal-hal 'gaib' hanya semata bisa dirasakan atau diketahui, melalui alat indera batiniah pada zat ruh tiap makhluk ("hati / kalbu"), ataupun lebih luasnya melalui akal-pikirannya.

Dengan sendirinya, pada pemahaman umat atas segala keterangan dalam kitab suci Al-Qur'an, tentang hal-hal 'gaib', juga mestinya tetap ditempatkan sebagai 'gaib', seperti: 'esensi' dan 'perbuatan' Zat Allah; 'Arsy-Nya; Kitab mulia (Lauh Mahfuzh); zat ruh; para makhluk gaib; alam akhirat (Surga dan Neraka); Hari Kiamat; Qadla dan Qadar (Takdir); dsb. Maka segala keterangan seperti itu mestinya sekaligus tetap tidak dibandingkan atau dipadankan begitu saja, dengan segala wujud 'fisik-lahiriah-nyata'. Khusus terkait dengan keberadaan Zat Allah, tentunya mestinya sama sekali tidak bisa ditunjuk 'disini' / 'disitu'.

Di samping itu pula, bahwa dalam kitab suci Al-Qur'an justru banyak dipakai segala bentuk "contoh-perumpamaan simbolik". Hal ini dipakai terutama untuk bisa meringkas, menyederhanakan dan memudahkan segala penjelasan bagi hal-hal gaib dan batiniah, yang sebenarnya relatif amat rumit dan panjang. Sedangkan hal-hal gaib dan batiniah memang sama sekali tidak memiliki bandingan atau padanan yang persis sama, secara fisik-lahiriah-nyata. Segala "contoh-perumpamaan simbolik" berupa analogi atau pendekatan, agar umat telah bisa merasakan secara 'tak-langsung', atas segala hal yang sebenarnya dimaksud 'di baliknya', walau belum benar-benar dipahaminya.

Di lain pihak, segala "contoh-perumpamaan simbolik" itu, beserta maknanya secara 'tekstual-harfiah', sama sekali bukan 'kekeliruan', bahkan tiap umat Islam justru tetap bisa memakainya dalam kehidupan beragamanya. Tetapi makna seperti inipun memang bukan berupa "makna yang sebenarnya" atau "makna yang tertinggi" (Al-Hikmah / hikmah dan hakekat kebenaran-Nya). Serta tiap "contoh-perumpamaan simbolik" itu sendiri tentunya justru bukan berupa fakta-kenyataan yang sebenarnya.

Akal-pikiran tiap makhluk, jangkauannya tertinggi

'Esensi' Zat Allah justru mustahil bisa dicapai atau dijangkau oleh akal-pikiran tiap makhluk. Sekalipun jangkauan akal-pikiran tiap makhluk justru relatif 'tak-terbatas', serta bisa melampaui jangkauan segala alat inderanya, misalnya bisa mencapai: dari saat paling awal penciptaan alam semesta, sampai saat berakhirnya (akhir jaman); dari isi perut Bumi terdalam, sampai di luar batas tepi alam semesta; dari materi yang terkecil, sampai benda langit yang terbesar; dari paling benar, sampai paling sesat; kecepatannya bisa melebihi kecepatan cahaya (bisa berubah amat sangat cepat); dsb.

Bahkan termasuk pula segala hal yang disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, memang mestinya masih bisa dijangkaunya, karena Nabi memang mustahil menerangkan segala hal yang berada 'di luar' akal-pikiran manusia. Sedangkan umat-umat di jaman Nabi, tentunya justru meyakini dan mengikuti ajaran-ajaran Nabi, pasti karena memang ada mengandung 'kebenaran' di dalamnya (pasti bisa diterima oleh akal-pikiran mereka). Maka umat Islam mestinya bisa memisahkan atau membedakan, antara 'amat sangat sulit' terhadap 'tidak bisa' atau 'mustahil' dijangkau oleh akal-pikiran tiap makhluk.

Dengan kata lainnya, segala sesuatu hal (nyata & gaib; lahiriah & batiniah; esensi & perbuatan; zat & non-zat; sedikit & banyak; mudah & rumit; jelas & kabur; dsb), "selain" tentang 'esensi' Zat Allah, tentunya justru mestinya masih bisa dijangkau oleh akal-pikiran tiap makhluk. Ringkasnya, batasan akal-pikiran tiap makhluk justru hanya berupa 'esensi' Zat Allah. Sedangkan segala 'perbuatan' Zat Allah di alam semesta ini (melalui sunatullah), justru mestinya masih bisa dijangkaunya.

Baca pula keistimewaan akal-pikiran manusia, termasuk menurut Imam Al-Ghazali.

Segala perbuatan-Nya di alam semesta, dalam jangkauan akal-pikiran tiap makhluk

Segala perbuatan-Nya di alam semesta (melalui sunatullah), memang justru masih bisa dicapai atau dijangkau oleh akal-pikiran tiap makhluk. Hal ini terutama karena melalui segala perbuatan-Nya itu, Allah memang hendak menunjukkan kemuliaan, kekuasaan atau kesempurnaan-Nya kepada segala makhluk ciptaan-Nya, agar bisa mengenal-Nya, Tuhan Pencipta dirinya dan alam semesta, serta sekaligus pula agar bisa menyembah-Nya.

Hal ini juga karena perwujudan atau pelaksanaan sunatullah justru dilakukan 'bukan langsung' oleh Allah sendiri, tetapi oleh tak-terhitung jumlah makhluk ciptaan-Nya di alam semesta (terutama para malaikat-Nya), dengan segala macam tugasnya masing-masing, di dalam melaksanakan segala perintah-Nya, secara sadar ataupun tidak. Selain itu, tentunya karena perwujudan sunatullah justru bisa dilihat, dirasakan atau diketahui, melalui segala alat indera lahiriah ataupun batiniah, pada tiap makhluk.

Baca pula Sunatullah sebagai wujud perbuatan Allah.

Tiap makhluk bisa mengenal tindakan atau perbuatan-Nya, dengan cara mengamati segala kejadian lahiriah dan batiniah di alam semesta, yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah). Karena hal seperti ini memang hanya semata hasil dari perbuatan-Nya, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Kekal. Tetapi persoalan pengenalannya justru terletak pada segala kejadiannya, yang juga bersifat 'gaib' (tersembunyi / amat tidak jelas kentara).

Pertanyaannya, "apakah umat Islam juga harus kalah daripada kaum non-Muslim, dalam memahami hal-hal gaib?". Sir Isaac Newton misalnya, justru telah pula 'bertafakur' di bawah pohon apel, agar bisa menjawab "kenapa apelnya bisa jatuh ke Bumi?". Apel dan Bumi memang 'nyata', namun penyebab gravitasi justru 'gaib'. Padahal di lain pihak, dalam kitab suci Al-Qur'an justru telah amat banyak, luas dan lengkap menerangkan hal-hal gaib. Maka tinggal kemauan umat Islam, untuk bisa relatif makin memperjelas, melengkapi dan menyempurnakannya, sesuai dengan kemajuan perkembangan ilmu-pengetahuan.

"Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,", "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Rabb-kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksaan neraka'." – (QS.3:190-191).

"…. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami), supaya kamu memikirkannya." – (QS.57:17) dan (QS.16:11, QS.2:164, QS.13:3, QS.16:67, QS.16:69).

"…. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu memikirkannya." – (QS.2:266) dan (QS.16:44).

Alam pikiran tiap makhluk (alam batiniah ruhnya) = alam akhiratnya

Di lain pihak, secara umum segala sesuatu hal di alam semesta bisa dibagi menjadi 2 kelompok besar 'alam', yaitu: 'alam dunia' dan 'alam akhirat'. Jika alam dunia berupa alam fisik-lahiriah, maka alam akhirat berupa alam batiniah ruh (alam pikiran). Alam dunia dan alam akhirat justru berlangsung secara bersamaan, walau keduanya memang berada pada aspek yang berbeda (aspek lahiriah dan aspek batiniah). Hal inipun tentunya jauh berbeda daripada pemahaman umat Islam pada umumnya, karena kehidupan alam akhirat justru dianggapnya terjadi, hanya setelah selesainya kehidupan alam dunia (setelah Hari Kiamat).

Padahal kehidupan alam akhirat bagi tiap makhluk, justru telah dimulai dan berlaku 'kekal' (bersama zat ruhnya), sejak saat awal penciptaan zat ruhnya (saat awal penciptaan alam semesta), sampai saat "dikehendaki-Nya" lain. Sedangkan kehidupan alam dunia bagi tiap makhluk nyata (termasuk tiap umat manusia), dimulai sejak saat zat ruhnya menyatu ke tubuh wadah fisik-lahiriahnya (ditiupkan-Nya ruh), sampai saat zat ruhnya terpisahkan dari tubuh wadahnya (dicabut atau diangkat-Nya ruh di Hari Kiamat / saat kematiannya). Maka kehidupan alam akhirat setelah Hari Kiamat, adalah kehidupan alam akhirat yang sebenarnya dan murni (tidak lagi 'bercampur-baur' dengan kehidupan alam dunia).

Baca pula tahapan umum kejadian manusia dan jagalah hati-pikiran, tentang kaitan antara alam pikiran, alam batiniah ruh dan alam akhirat pada tiap makhluk.

"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia. Sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." – (QS.30:7).

'Alam akhirat' juga biasa disebut 'alam atas' atau 'alam malakut' (alam tempat para malaikat berada). Di alam pikiran tiap manusia misalnya, tiap saatnya memang pasti selalu diikuti, diawasi dan dijaga oleh sejumlah para makhluk gaib (para malaikat, jin, syaitan dan iblis), selama di dunia dan setelah Hari Kiamat, termasuk di dalam memberi segala bentuk ilham (positif dan negatif). Sedangkan 'alam dunia' juga biasa disebut 'alam bawah'.

Alam pikiran tiap makhluk = langit yang sebenarnya dan tertinggi

Dengan adanya pengelompokan 'alam dunia' (alam fisik-lahiriah) dan 'alam akhirat' (alam batiniah ruh / alam pikiran), maka tentunya ada 'langit lahiriah' dan 'langit batiniah' bagi tiap alamnya. Dimana 'langit lahiriah' terisi oleh segala partikel-materi-benda di 'alam semesta'. Sedangkan 'langit batiniah' terisi oleh segala bentuk ilmu-pengetahuan pada tiap makhluk, tentang segala sesuatu hal yang terkait dengan 'alam semesta'.

Dimana ilmu-pengetahuan makhluk, antara lain meliputi: Pencipta alam semesta (sifat, kehendak, perbuatan-Nya, dsb); hakekat dan tujuan penciptaan; segala 'zat' (zat ruh dan zat materi) dan 'non-zat' (aturan, pengajaran, tuntunan-Nya, dsb); segala benda mati dan makhluk hidup; segala alam (akhirat, rahim, dunia, kubur, dsb); dan segala hal lainnya (lahiriah & batiniah, nyata & gaib, fisik & moril, mutlak & relatif, benar & sesat, obyektif & subyektif, hakiki & semu, dsb).

Maka 'langit lahiriah' tentunya justru lebih rendah daripada 'langit batiniah', karena jangkauan akal-pikiran tiap makhluk bisa melampaui 'batas tepi' alam semesta (termasuk bisa melampaui batas daya jangkauan teleskop atau alat indera fisik-lahiriah). Serta 'langit batiniah', adalah langit yang sebenarnya, paling tinggi dan sempurna, yang terletak di alam pikiran tiap makhluk.

Dengan begitu, umat Islam mestinya juga bisa membedakan, antara 'langit lahiriah' (di alam semesta) dan 'langit batiniah' (di alam pikiran tiap makhluk), yang disebut dalam kitab suci Al-Qur'an. Tentunya 'langit' yang disebut terkait dengan keberadaan 'Arsy-Nya, justru hanya berupa 'langit batiniah' (bukan 'langit lahiriah'). Serta 'langit batiniah' juga bisa terdiri dari 'tujuh tingkat' (tingkat kesempurnaan pengetahuan tentang kebenaran-Nya).

Bahkan perjalanan "'Isra dan Mi'raj" yang dialami oleh nabi Muhammad saw, adalah perjalanan 'batiniah' saat menembus 'langit batiniah', sampai bisa 'amat dekat' ke hadapan 'Arsy-Nya. Lebih jelasnya, perjalanan ini berupa pengembaraan kesadaran Nabi, pada saat sedang bertafakur, sambil dituntun oleh malaikat Jibril, dalam mencapai berbagai 'hijab-tabir-pembatas' terdekat (tertinggi), terhadap kebenaran 'mutlak' Allah di alam semesta. Pada saat itu Nabi telah bisa memperoleh banyak pemahaman Al-Hikmah (wahyu-Nya / hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), yang memang amat tinggi pula nilai kemuliaan dan keagungannya. Baca pula uraian-uraian di bawah.

Juga bisa mudah dipahami, jika dalam kitab suci Al-Qur'an disebut, seperti "Surga (di alam akhirat), seluas alam semesta (langit dan bumi)" dan "'langit lahiriah' adalah langit yang 'dekat'". Sekali lagi, hal ini karena 'alam akhirat' pada tiap makhluk (alam batiniah ruh / alam pikirannya), memang jangkauannya amat sangat luas, bahkan juga bisa melampaui 'batas tepi' alam semesta ('langit lahiriah'), termasuk bisa menjangkau bertingkat-tingkat hakekat, 'di balik' segala hal yang teramati di alam semesta. Kesempurnaan pengetahuan makhluk tentang kebenaran-Nya di alam semesta, memang banyak tingkatannya (tingkat kedekatan antara kebenaran 'relatif' makhluk dan kebenaran 'mutlak' Allah).

Lebih spesifiknya lagi, karena segala kemuliaan dan keagungan yang diperoleh tiap makhluk di Surga, memang seluas segala keadaan batiniah ruhnya sendiri. Segala keadaan ini terbentuk dari hasil balasan-Nya, secara adil atau setimpal, atas segala amal-perbuatan makhluknya, selama hidup di dunia. Saat pemberian balasan-Nya juga pasti dihitung-Nya, secara amat teliti dan adil, atas segala keadaan batiniah ruhnya dalam berbuat, misalnya: niat, tingkat kesadaran atau pengetahuan, tingkat keimanan, tingkat keterpaksaan, beban ujian-Nya, beban tanggung-jawab, dsb.

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu (bertaubat), dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa," – (QS.3:133) dan (QS.57:21).

"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang, …" – (QS.67:5) dan (QS.37:6, QS.41:12).

Keimanan (kesempurnaan pemahaman atas kebenaran-Nya) = kedekatan di sisi-Nya

Dalam artikel/posting terdahulu "Cara proses diturunkan-Nya wahyu" sekilas telah diungkap, bahwa para nabi-Nya memiliki segala pemahaman yang relatif amat 'sempurna', tentang kebenaran-Nya di alam semesta (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya), terutama tentang segala hal yang paling penting, hakiki dan mendasar, dalam kehidupan seluruh umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah). Serta merekapun sekaligus relatif amat 'konsisten' pula mengamalkan segala pemahamannya tersebut, dalam kehidupannya sehari-harinya (terutama dalam melayani seluruh umatnya).

"(Al-Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Ilah Yang Maha Esa, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran." – (QS.14:52) dan (QS.6:115).

"…. Kalau kiranya Al-Qur`an itu bukan dari sisi-Nya, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." – (QS.4:82).

"…, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur'an, sebelum disempurnakan diwahyukannya kepadamu, dan katakanlah: 'Ya Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan'." – (QS.20:114).

"Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. …" – (QS.28:14).

Maka mudah dipahami, jika para nabi-Nya memiliki 'tingkat keimanan' yang relatif paling tinggi, dibanding dengan seluruh umat manusia lainnya di tiap jamannya. Hal inipun karena 'keimanan' meliputi aspek 'pemahaman' (ilmu) dan aspek 'pengamalan' (amal). Jika pemahaman berupa keimanan 'batiniah', maka pengamalan berupa keimanan 'lahiriah'.

Tiap pemahaman tanpa pengamalan, sama halnya suatu bentuk 'kemunafikan' (jika pemahamannya memang telah benar), ataupun sebaliknya pemahamannya sendiri belum benar atau belum sempurna (meragukan). Sedangkan tiap pengamalan tanpa pemahaman, sama halnya suatu bentuk 'taklid' (umat hanya mengikuti begitu saja, anjuran dari orang lain). Persoalan bisa amat mudah timbul pada tiap 'taklid', terutama jika pemahaman umat yang keliru atas anjurannya, ataupun sebaliknya anjurannya ada mengandung kekeliruan. Maka keimanan yang tinggi pasti tetap diperoleh hanya melalui gabungan sekaligus, antara 'pemahaman' yang sempurna dan 'pengamalan' yang konsisten.

Terkait dengan tingkat keimanan para nabi-Nya yang relatif paling tinggi, terutama akibat segala pemahamannya yang relatif amat 'sempurna' tentang kebenaran-Nya, maka dalam kitab suci Al-Qur'an, para nabi-Nya juga biasa disebut "amat dekat di sisi-Nya". Hal inipun karena di sisi-Nya memang terdapat kitab mulia (Lauh Mahfuzh), sebagai 'simbol' tempat tercatatnya segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta.

Bahkan dalam kitab suci Al-Qur'an justru juga amat sering disebut berdampingan, antara 'iman' dan 'amal'. Sehingga 'keimanan' memang lebih terfokus kepada 'pemahaman' (ilmu). Hal ini amat mudah dipahami, karena 'ilmu' memang berada di dalam pikiran tiap makhluk. Sedangkan tubuh wadah fisik-lahiriahnya, justru pasti hanya tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah pikirannya (berdasar ilmu, pengetahuan atau kesadarannya). Ringkasnya, 'pengamalan' (amal) pasti timbul berdasar 'pemahaman' (ilmu). Sehingga juga amat mudah dipahami, jika justru amat banyak anjuran-Nya dalam kitab suci Al-Qur'an, agar umat Islam menggunakan akalnya, bagi usaha peningkatan keimanannya. Sebaliknya Allah justru memurkai umat Islam, yang tidak menggunakan akalnya (pada QS.10:100).

"…, dia (nabi-Nya) mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami, dan tempat kembali yang baik." – (QS.38:25) dan (QS.38:40, QS.33:69).

"Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb-nya dan ampunan, serta rejeki (nikmat) yang mulia." – (QS.8:4) dan (QS.9:20, QS.10:2).

"Dan orang-orang yang beriman, serta beramal shaleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal (tinggal) di dalamnya." – (QS.2:82) dan (QS.2:62, QS.2:277, QS.3:57, QS.4:57, QS.4:122, QS.4:173, QS.5:9, QS.5:69, QS.5:93, QS.7:42, QS.10:4, QS.10:9, QS.11:23, QS.13:29, QS.14:23, dsb).

"Dan tidak ada seorangpun akan beriman, kecuali dengan ijin-Nya. Dan Allah menimpakan kemurkaan, kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya." – (QS.10:100).

Segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta

Seperti halnya segala hal gaib lainnya, tentunya kitab mulia (Lauh Mahfuzh) justru juga hanya suatu "contoh-perumpamaan simbolik". Selain itu, segala kebenaran-Nya pada fakta dan kenyataannya memang tersebar dimana-mana di alam semesta (pada hembusan angin dan awan; turunnya air hujan; sinar Matahari atau bintang; siang dan malam; pohon yang tumbuh dan berbuah; hembusan napas dan detak jantung; penciptaan dan kematian makhluk; dan pada tak-terhitung hal lainnya). Maka segala kebenaran-Nya memang pada hakekatnya 'berada' atau 'tercatat' di alam semesta (bukan di dalam suatu kitab).

"Segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta" itu terkadang juga bisa disebut "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya", "wajah-Nya", "sabda, firman, kalam atau wahyu-Nya yang 'sebenarnya'" dan "Al-Qur'an dan kitab-kitab-Nya lainnya yang berbentuk 'gaib', yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya".

Sedangkan semua sebutan itu hanya berbeda pada fokus, sudut pandang ataupun konteks pemakaiannya. Namun semuanya justru merujuk kepada sesuatu hal yang sama, berupa "segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian lahiriah dan batiniah di alam semesta". Serta hal seperti ini memang semuanya hanya semata hasil dari tindakan atau perbuatan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kuasa dan Maha Kekal.

Dalam 'hati-nurani', letak segala pengetahuan tiap makhluk tentang kebenaran-Nya

Lalu "dimanakah letak segala pengetahuan tiap makhluk tentang kebenaran-Nya?". Jawaban ringkasnya, "dalam hati-nuraninya". Lihat pula pada gambar-gambar berikut.

Gambar diagram detail proses berpikir manusia

Gambar diagram sederhana elemen ruh manusia dan fungsinya

Perlu diketahui dari gambar di atas, bahwa pemahaman atas istilah, definisi ataupun fungsi dari tiap elemen pada zat ruh manusia, bisa berbeda-beda pada tiap umat Islam dan alim-ulama. Hal inipun terutama karena memang terkait hal-hal yang 'gaib' (tersembunyi). Maka para pembaca diharapkan, agar bisa lebih cermat dan fleksibel dalam menelaahnya, terutama dengan lebih menambah kepekaan batiniahnya, serta juga lebih terfokus kepada fungsi dari tiap elemen ruh (bukan kepada istilah dan definisinya).

Menurut pemahaman penulis misalnya, 'hati' dianggap sama dengan 'kalbu', namun berbeda daripada 'hati-nurani'. 'Hati / kalbu' dianggap sebagai 'alat indera batiniah' pada tiap makhluk (penerima segala informasi dari luar zat ruhnya), terutama menerima segala informasi dari segala alat indera fisik-lahiriahnya, dan juga menerima segala ilham-bisikan-godaan dari para makhluk gaib (positif dan negatif). Maka segala informasi batiniah pada 'hati / kalbu', juga dianggap bernilai kebenaran relatif paling rendah (mentah).

Sedangkan segala informasi batiniah pada 'hati-nurani', dianggap bernilai kebenaran relatif paling tinggi (telah diolah oleh akal dan pembentuk keyakinan makhluknya), bahkan tidak bisa dilangkahi atau berada di luar pengaruh 'godaaan' dari para makhluk gaib. Serta perbedaan antara 'hati / kalbu' dan 'hati-nurani' relatif mudah dipisahkan. Jika isi 'hati / kalbu' terpakai saat awal makhluknya menghadapi sesuatu hal. Sedangkan isi 'hati-nurani' terpakai saat berikutnya, setelah makhluknya mulai menilai benar / salahnya sesuatu hal.

Proses pemahaman tiap makhluk tentang kebenaran-Nya

Segala informasi yang 'tiap saatnya' telah bisa diketahui, dijangkau, ditangkap atau dirasakan oleh semua alat indera fisik-lahiriah pada tiap makhluk, lalu pasti selalu terkirim dan diterima pula oleh alat indera batiniah, pada zat ruhnya ("hati / kalbu"). Sedangkan kepada "hati / kalbu" itu, justru para makhluk gaib juga 'tiap saatnya' pasti selalu memberi segala bentuk ilham yang 'positif-benar-baik' (dari para malaikat) dan yang 'negatif-sesat-buruk' (dari para jin, syaitan atau iblis), sebagai bentuk pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah kepada tiap makhluk lainnya (termasuk tiap umat manusia).

Lalu segala informasi yang 'murni' dari semua alat indera fisik-lahiriah, dan beserta segala informasi 'tambahan' dari para makhluk gaib, juga 'tiap saatnya' pasti selalu diterima oleh "akal"-nya, untuk dipilih, diolah, dinilai dan diputuskannya, sebagai bahan-bahan bagi penyusunan segala bentuk kebenaran atau pengetahuan 'relatif' (menurut penilaian 'relatif' tiap makhluknya sendiri). Tiap kebenaran 'relatif' ini justru pasti tersimpan ke dalam "hati nurani"-nya, yang membentuk keyakinannya dalam menilai segala sesuatu halnya. Makin sering "akal"-nya digunakan, tentunya relatif makin banyak menumpuk segala kebenaran 'relatif' dalam "hati nurani"-nya. Segala kebenaran 'relatif' makin sempurna (keyakinannya makin kokoh-kuat dan sulit terbantahkan), jika "akal"-nya telah digunakan secara relatif makin obyektif, cermat dan mendalam.

Pada saat paling awal penciptaan zat ruh bagi tiap makhluk, telah ditanamkan-Nya segala "keadaan, sifat atau fitrah dasar", yang suci-murni dan bersih dari dosa, sekaligus di dalamnya terdapat segala kebenaran atau tuntunan-Nya yang "paling dasar", dalam hati nuraninya. Termasuk suatu tuntunan-Nya, agar tiap makhluk bisa mencari dan mengenal Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Yang sebenarnya telah menciptakan dirinya dan seluruh alam semesta. Hal ini disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, sebagai suatu bentuk 'kesaksian' dari tiap jiwa makhluk, tentang Allah, Tuhan Penciptanya (pada QS.7:172)

Lalu setelah saat penciptaan paling awal itu, segala kandungan isi hati nurani pada tiap makhluk, justru hanya terbentuk dari hasil olahan akalnya. Pada manusia misalnya, hal inipun terutama terbentuk sejak mulai melewati usia akil-baliqnya. Di lain pihak, justru tiap kandungan isi hati nurani juga bisa dipakai kembali oleh akalnya, dalam menilai segala sesuatu halnya, 'selanjutnya'. Maka amat mudah dipahami, jika dalam kitab suci Al-Qur'an amat banyak anjuran-Nya, agar umat Islam menggunakan akalnya. Serta sebaliknya Allah justru memurkai umat Islam, yang tidak menggunakan akalnya (pada QS.10:100). Karena penggunaan akal memang relatif makin menyempurnakan segala kandungan isi hati nurani (makin memahami tiap kebenaran-Nya / makin mengenal Allah / makin beriman).

Namun jika tiap umat manusia justru telah relatif banyak berbuat amal-keburukan (cenderung mudah terpengaruh oleh informasi dari syaitan dan iblis), tentunya kandungan isi hati nuraninya juga mudah terkotori oleh segala pengetahuan yang negatif-sesat-buruk, sekalipun akalnya memang amat cerdas. Hal inipun tentunya karena segala informasi yang terolah oleh akalnya, justru relatif banyak yang jauh dari kebenaran-Nya (bersifat 'mutlak' dan 'kekal'). Juga kecerdasannya cenderung tidak digunakan sebagaimana mestinya, untuk mencari kebenaran, tetapi justru untuk mengabaikan, menyembunyikan atau merekayasa kebenaran, sekecil, sesederhana atau sehalus apapun bentuknya ("sebesar biji zarrah").

Kesempurnaan pemahaman para nabi-Nya tentang kebenaran-Nya

Seseorang yang telah bisa memiliki segala pemahaman yang relatif amat 'sempurna' tentang kebenaran-Nya (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya), sehingga bisa menjawab hampir seluruh persoalan kehidupan umat kaumnya ataupun seluruh umat manusia, yang paling penting, hakiki dan mendasar, yang justru telah menjadikannya disebut "nabi-Nya", dan tiap pemahamannya juga disebut "wahyu-Nya". Hal ini tentunya relatif mudah dipahami, karena tiap nabi-Nya memang relatif paling memahami kehendak Allah, Tuhan Pencipta alam semesta, dari hasil segala usahanya yang relatif amat keras dalam mempelajari "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta ("ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis").

Namun juga relatif mudah dipahami, bahwa 'kenabian' justru telah berakhir secara 'alamiah', pada nabi Muhammad saw. Karena tiap manusia memang memiliki keterbatasan kapasitas dalam memahami seluruh persoalan kehidupan umat manusia, yang pasti makin berkembang, serta juga memiliki keterbatasan waktu dan kemampuannya dalam melayani seluruh umatnya, yang makin banyak jumlahnya. Sedangkan di jaman dahulu (kehidupan umat relatif sederhana), hal-hal seperti ini masih bisa diatasi hanya oleh seorang nabi-Nya.

Segala kebenaran atau pengetahuan pada tiap manusia (bahkan termasuk pada tiap nabi-Nya), memang pasti bersifat 'relatif' (tidak mutlak benar), 'fana' (hanya benar dalam keadaan tertentu) dan 'terbatas' (tidak mengetahui segala sesuatu hal). Namun kebenaran atau pengetahuan 'relatif' manusia juga bisa makin 'sesuai atau mendekati' kebenaran atau pengetahuan 'mutlak' Allah, jika telah diperoleh secara relatif amat 'obyektif' dan telah bisa tersusun secara relatif amat 'sempurna' (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya), seperti halnya segala pengetahuan pada tiap nabi-Nya. Maka pengetahuan seperti ini relatif amat sulit bisa terbantahkan.

Tiap pengetahuan pada para nabi-Nya (wahyu-Nya), yang telah tersimpan di dalam dada-hati-pikirannya, memiliki segala dalil-alasan-hujjah dan penjelasan, yang relatif amat kokoh-kuat dan lengkap (sulit terbantahkan). Bentuk pengetahuan seperti ini telah biasa disebut "Al-Hikmah", sebagai bentuk pengetahuan yang tertinggi yang bisa dijangkau oleh umat manusia tentang suatu kebenaran-Nya. Juga seperti disebut di atas, tiap wahyu-Nya tersusun sebagai "satu-kesatuan" yang utuh (saling terkait), bersama seluruh wahyu-Nya lainnya pada tiap nabi-Nya. Tidak ada suatu wahyu-Nya yang berdiri sendiri dan terpisah.

'Hijab-tabir-pembatas' antara Allah dan tiap makhluk

Maka tiap wahyu-Nya ataupun Al-Hikmah, adalah tingkat perbedaan terkecil (jarak terdekat / 'hijab-tabir-pembatas' tertinggi), antara pengetahuan 'relatif' manusia terhadap pengetahuan 'mutlak' Allah. Hakekat wujud dari suatu 'hijab-tabir-pembatas' antara Allah dan tiap manusia, adalah tiap "tingkat kesempurnaan pengetahuan" manusianya, tentang 'sesuatu hal'. Tentunya 'hijab-tabir-pembatas' itu amat banyak, baik jumlah (jumlah segala pengetahuan), maupun tingkatannya (tingkat kesempurnaan tiap pengetahuannya).

Dari kesempurnaan seluruh pengetahuan pada tiap nabi-Nya (seluruh wahyu-Nya), tentunya iapun telah bisa mencapai berbagai 'hijab-tabir-pembatas' tertinggi (baik jumlah maupun tingkatannya). Sedangkan kesempurnaan pengetahuan pada tiap umat manusia biasa lainnya, relatif masih 'amat jauh' daripada para nabi-Nya, terutama tentang segala hal yang paling penting, hakiki dan mendasar, dalam kehidupan seluruh umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah). Serta umat manusia biasa hanya bisa memperoleh 'Al-Hikmah', tetapi bukan 'wahyu-Nya' (seluruh 'Al-Hikmah' yang tersusun relatif amat sempurna).

Sekali lagi, hal ini telah menjadikan para nabi-Nya bisa "amat dekat di sisi-Nya" (di hadapan 'Arsy-Nya). Dengan kata lainnya, tiap pengetahuan 'relatif' milik para nabi-Nya (tiap wahyu-Nya), justru telah bisa "amat dekat" dengan pengetahuan 'mutlak' milik Allah, di alam semesta. Namun para nabi-Nya justru mustahil bisa 'meraih' atau 'menyentuh' ke 'Arsy-Nya, karena seluruh pengetahuan mereka memang pasti tetap bersifat 'relatif', 'fana' dan 'terbatas'. Hal yang serupa tentunya terjadi pula pada segala makhluk lainnya (bahkan termasuk para malaikat utusan-Nya), dengan segala tingkat kedekatannya di sisi-Nya.

Allah dan 'Arsy-Nya berada dalam 'hati-nurani' tiap makhluk

Dari uraian-uraian di atas telah bisa disimpulkan, bahwa Allah, 'Arsy-Nya dan kitab mulia (Lauh Mahfuzh) memang berada dalam "hati-nurani" tiap makhluk. Hal ini tentunya sama sekali bukan letak keberadaan yang sebenarnya bagi 'Zat' Allah, namun hanya letak pemahaman atau pengetahuan tentang Allah (tentang kebenaran-Nya). Bahkan 'Arsy-Nya tentunya juga bukan 'kursi / tahta' yang sebenarnya bagi 'Zat' Allah. Dan kitab mulia (Lauh mahfuzh) tentunya juga bukan tempat yang sebenarnya bagi tercatatnya segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta, yang meliputi seperti: sifat, kehendak, keredhaan, tindakan / perbuatan, hukum / aturan / ketentuan / ketetapan, qadla dan qadar (takdir), kitab-kitab-Nya, dsb, yang selain tentang 'esensi' Zat Allah.

Serta suatu pendapat tentang "keberadaan Allah, 'Arsy-Nya dan kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dalam 'hati-nurani' tiap makhluk", yang justru relatif paling sempurna dan tepat, karena justru bisa mencakup atau mewakili semua 'dalil naqli' dalam kitab suci Al-Qur'an, secara 'sekaligus', seperti: "di atas 'Arsy-Nya" (pada QS.7:54, QS.10:3, QS.13:2, QS.20:5, QS.25:59, QS.32:4, QS.57:4), "di langit" (pada QS.67:16), "Maha Dekat" (pada QS.34:50), "dekat" (pada QS.2:186), "lebih dekat daripada urat leher" (pada QS.50:16), "dekat ke jiwa-ruh-nyawa" (pada QS.56:85) dan "dimana-mana" (pada QS.57:4, QS.58:7, QS.2:115). Baca pula penjelasan lebih lengkap di bawah, tentang keberadaan Allah dalam kitab suci Al-Qur'an, jika dihubungkan dengan "keberadaan Allah dalam 'hati-nurani' tiap makhluk".

Di samping itu pula, pendapatnya justru tetap berdasar "ke-Esa-an Allah" (tauhid). Dimana semua manusia, dari jaman ke jaman, yang telah 'amat sempurna' bisa memahami 'suatu' kebenaran-Nya, maka pemahamannya masing-masing atas kebenaran itu, dalam 'hati-nurani'-nya, justru pasti 'sama' ('satu'). Hal ini karena segala kebenaran-Nya di alam semesta memang bersifat 'mutlak', 'kekal' dan 'universal', walau juga bersifat 'gaib'.

Contoh sederhananya, tauhid seluruh para nabi-Nya, dari jaman ke jaman, justru 'sama', seperti "Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa". Hal ini berdasar segala hasil usaha mereka yang maksimal, dalam mengenal Allah, Tuhan Pencipta alam semesta. Tentunya tauhid ini juga sekaligus berupa nilai yang bersifat 'universal' (tidak tergantung konteks ruang, waktu dan budaya). Serta sebaliknya, segala pemahaman atas keberadaan tuhan-tuhan selain Allah, justru 'bukan' hasil usaha yang maksimal dan bersifat 'universal'.

Di lain pihak telah diuraikan di atas, bahwa "'Arsy-Nya, yang amat mulia, agung dan besar, berada dalam 'hati-nurani' tiap makhluk". Hal ini karena kemuliaan, keagungan dan kebesaran Allah memang terkait dengan nilai-nilai kebenaran-Nya, yang tersimpan dalam 'hati-nurani' tiap makhluk (terutama para malaikat Jibril dan para nabi-Nya, yang justru telah diyakini relatif paling memahami tiap kebenaran-Nya). Bahkan para malaikat Jibril disebut khusus dalam kitab suci Al-Qur'an, seperti “akalnya amat cerdas” (pada QS.53:6).

Tetapi tiap umat manusia biasa lainnya yang telah relatif sempurna memahami tiap kebenaran-Nya, tentunya juga bisa merasakan tiap kemuliaan, keagungan dan kebesaran Allah dalam 'hati-nurani'-nya, setelah bisa berhasil menggunakan 'akal'-nya dengan 'benar' (amat obyektif, cermat dan mendalam). Serta sumber yang paling aman, mudah, lengkap dan sempurna, bagi seluruh umat manusia, dalam berusaha mempelajari atau memahami segala kebenaran-Nya di alam semesta ("ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis"), adalah "kitab suci Al-Qur'an", tentunya sebagai "ayat-ayat-Nya yang tertulis", yang terakhir.

Penjelasan tentang keberadaan Allah dalam kitab suci Al-Qur'an

Telah diungkap di atas, bahwa keberadaan Allah dalam kitab suci Al-Qur'an, disebut seperti: "di atas 'Arsy-Nya", "di langit", "Maha Dekat", "dekat", "lebih dekat daripada urat leher", "dekat ke jiwa-ruh-nyawa" dan "dimana-mana". Lalu mungkin timbul pertanyaan, "bagaimana hubungan antara berbagai keberadaan Allah tersebut, dan keberadaan Allah dalam 'hati-nurani' tiap makhluk?". Maka pada tabel berikut diungkap pula penjelasan dan sekaligus hubungannya masing-masing, secara ringkas.

  • Allah bersemayam "di atas 'Arsy-Nya" (pada QS.7:54, QS.10:3, QS.13:2, QS.20:5, QS.25:59, QS.32:4 dan QS.57:4)

    Ayat-ayat ini jumlahnya paling banyak dan hanya menyebutkan "Allah bersemayam di atas 'Arsy-Nya", serta justru tidak menyebutkan "di langit".
    Namun "'Arsy-Nya" dikaitkan atau disamakan secara tak-langsung dengan "langit", oleh sebagian dari umat Islam, karena ayat QS.11:7 menyebutkan "'Arsy-Nya berada di atas air". Lalu "air" yang dimaksud, dianggap sebagai "air laut", serta "langit", yang dianggap berada di atasnya. Di samping itu, juga karena ayat QS.67:16 menyebutkan "Allah berada di langit". Dan tentunya Allah juga terkadang dianggap berada "di atas".

    Walau begitu, pendapat yang menyebutkan "Allah berada 'di langit' ataupun 'di atas'", justru kurang sempurna atau tepat. Karena tiap makhluk bisa menunjuk 'langit' dan 'atas'-nya masing-masing. Juga 'atas' bagi suatu makhluk, justru bisa menjadi 'bawah' bagi makhluk lainnya. Maka pemahaman bagi 'langit' dan 'atas', lebih tepat dianggap sebagai kemuliaan, keagungan dan kebesaran Allah, Yang Maha Tinggi (tak-terbatas). Apalagi 'Arsy-Nya memang amat mulia, agung dan besar.

    Bahkan 'langit' yang sebenarnya, tertinggi dan sempurna berupa 'langit batiniah', yang berada di alam pikiran tiap makhluk, bukan 'langit lahiriah' (langit yang biasa dikenal).

    Di lain pihak telah diuraikan di atas, bahwa 'Arsy-Nya berada dalam 'hati-nurani' tiap makhluk. Karena kemuliaan, keagungan dan kebesaran Allah, memang terkait dengan nilai-nilai kebenaran-Nya yang tersimpan dalam 'hati-nurani' tiap makhluk (terutama para malaikat Jibril dan para nabi-Nya), yang telah amat sempurna memahaminya. Sehingga iapun bisa mendapat derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi 'Arsy-Nya.

  • Allah berada "di langit" (pada QS.67:16)

    Hanya ayat ini yang langsung menyebutkan "Allah berada di langit".

    Hal ini serupa dengan penjelasan pada poin a di atas.
    Namun sekali lagi, segala pendapat yang menyebutkan "Allah berada 'di langit', justru kurang sempurna atau tepat. Lebih tepat dianggap sebagai kemuliaan, keagungan dan kebesaran Allah, Yang Maha Tinggi (tak-terbatas).

  • Allah "Maha Dekat" (pada QS.34:50)

    Ayat ini terkait dengan sifat Allah, Yang "Maha Dekat". Tentunya sifat inipun hanya berupa sifat 'perbuatan' Zat Allah, dan bukan sifat 'esensi' Zat Allah. 'Esensi' Zat Allah bahkan mustahil bisa dijangkau oleh para malaikat dan para nabi-Nya sekalipun.

    Segala perbuatan-Nya di alam semesta (melalui sunatullah), justru bagian yang paling penting dari kebenaran atau pengetahuan-Nya.
    Dimana segala perbuatan-Nya secara lahiriah (melalui sunatullah lahiriah), terwujud atau terlaksana oleh para malaikat, yang menempati tiap partikel-materi-benda.
    Sedangkan segala perbuatan-Nya secara batiniah (melalui sunatullah batiniah), terwujud atau terlaksana oleh aejumlah para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis), yang menempati alam pikiran tiap makhluk lainnya (termasuk tiap manusia).

    Tentunya sifat "Maha Dekat" justru lebih terkait dengan segala perbuatan-Nya secara batiniah (bukan secara lahiriah). Karena alam batiniah ruh atau alam pikiran tiap makhluk, memang berada dalam 'diri' makhluknya (dalam jiwa-ruh-nyawanya).

    Di lain pihak, 'hati-nurani' tiap makhluk memang salah-satu elemen dari zat ruhnya. Serta segala informasi batiniah pada "hati-nurani", justru bernilai kebenaran relatif paling tinggi (pembentuk keyakinan batiniahnya), dibanding pada elemen-elemen lainnya. Juga tingkat kebenaran tiap kandungan isi 'hati-nurani' justru menunjukkan tingkat kedekatan antara pengetahuan 'relatif' makhluknya dan pengetahuan 'mutlak' Allah (tingkat kedekatan antara makhluknya dan Allah / tingkat keyakinannya).

  • Allah "dekat" dengan tiap manusia (pada QS.2:186)

    Ayat ini terkait dengan 'kedekatan' Allah dengan tiap makhluk (termasuk manusia).

    Hal ini serupa dengan penjelasan pada poin c di atas.

  • Allah "lebih dekat daripada urat leher" tiap manusia (pada QS.50:16)

    Ayat ini terkait dengan 'pengetahuan' Allah, Yang juga meliputi segala bisikan isi hati tiap makhluk nyata (termasuk manusia). Sedangkan hati makhluknya memang 'lebih dekat' daripada urat lehernya (anak tekaknya). Lebih jelasnya, ucapan tiap makhluk melalui urat lehernya, memang timbul atau terwujud berdasar isi hatinya.

    Hal ini serupa dengan penjelasan pada poin c dan d di atas.
    Namun penyebutan "hati / kalbu" juga kurang tepat (lebih tepat justru "hati-nurani"). Karena menurut pemahaman penulis, segala informasi batiniah pada "hati / kalbu", bernilai kebenaran relatif paling rendah. Dimana "hati / kalbu" dianggap sebagai "alat indera batiniah" pada tiap makhluk (penerima segala informasi dari luar zat ruhnya), terutama menerima segala informasi dari segala alat indera fisik-lahiriahnya, dan juga menerima segala ilham-bisikan-godaan dari para makhluk gaib (positif dan negatif).

    Di lain pihak, segala informasi batiniah pada "hati-nurani", bernilai kebenaran relatif paling tinggi (telah diolah oleh akal dan pembentuk keyakinan makhluknya), serta tidak bisa dilangkahi atau berada di luar pengaruh 'godaaan' dari para makhluk gaib.

    Perbedaan antara "hati / kalbu" dan "hati-nurani" relatif mudah dipisahkan. Jika isi "hati / kalbu" terpakai saat awal makhluknya menghadapi sesuatu hal. Sedangkan isi "hati-nurani" terpakai saat berikutnya, setelah makhluknya mulai menilai benar atau salahnya sesuatu hal.

  • Allah "dekat ke jiwa-ruh-nyawa" tiap manusia (pada QS.56:85)

    Ayat ini terkait dengan 'kedekatan' Allah dengan 'jiwa-ruh-nyawa' pada tiap makhluk nyata (termasuk manusia), daripada dengan tubuh wadah fisik-lahiriahya.
    Apalagi hakekat dari tiap makhluk memang berada pada 'zat ruhnya', dan bukan pada tubuh wadah fisik-lahiriahya.

    Hal ini serupa dengan penjelasan pada poin c s/d e di atas.

  • Allah berada "dimana-mana" (pada QS.57:4, QS.58:7 dan QS.2:115)

    Ayat QS.57:4 terkait dengan 'keberadaan' Allah, dimanapun tempat tiap makhluk berada (termasuk manusia). Ayat QS.58:7 terkait dengan 'pengetahuan' Allah, Yang juga meliputi segala isi pembicaraan tiap makhluk (termasuk manusia), dimanapun tempat pembicaraannya. Serta ayat QS.2:115 terkait dengan "wajah-Nya", yang berada dimana-mana di alam semesta ("tanda-tanda kekuasaan-Nya").

    Hal ini serupa dengan penjelasan pada poin c s/d f di atas.
    Hakekat dari tiap makhluk memang berada pada zat ruhnya. Maka dimanapun tiap makhluk berada, tentunya di situ pula zat ruhnya pasti berada, ataupun sebaliknya.

    Segala sikap, perkataan dan perbuatan dari tiap makhluk memang dikendalikan oleh ruhnya. Maka para malaikat Rakid dan 'Atid yang memang diutus-Nya, dan memang berinteraksi dengan 'hati / kalbu' pada zat ruh makhluknya, tentunya juga pasti bisa mengetahui segala isi pembicaraannya, dimanapun dilakukannya.

    Serta perwujudan segala perbuatan-Nya di alam semesta (melalui sunatullah), justru dilakukan oleh tak-terhitung jumlah makhluk ciptaan-Nya di alam semesta (terutama para malaikat-Nya). Maka "wajah-Nya" ("tanda-tanda kekuasaan-Nya"), tentunya memang berada dimana-mana di alam semesta, tempat segala ruh makhluk berada.

Kesimpulan

Dari seluruh uraian atau penjelasan di atas, maka umat Islam mestinya sama sekali tidak perlu saling berselisih atau bahkan saling mengkafirkan, hanya akibat ada perbedaan pendapat tentang keberadaan Allah. Umat Islam justru bisa menyebutnya seperti: "di atas 'Arsy-Nya", "di langit", "di atas", "Maha Dekat", "dekat", "lebih dekat daripada urat leher", "di hati", "dekat ke jiwa-ruh-nyawa", "dimana-mana" dan juga "di dalam 'hati-nurani'".

Hal ini karena semua pendapat tersebut memang ada mengandung kebenaran (ada dalil-dalilnya dalam kitab suci Al-Qur'an), walau sedikit berbeda tingkat kesempurnaannya masing-masing. Lebih jelasnya lagi, perbedaan ini hanya berupa perbedaan fokus, sudut pandang dan cara pengungkapannya, walau semuanya justru merujuk kepada sesuatu hal yang ‘sama’. Namun jika keberadaan Allah mestinya dipilih atau disebut, maka secara 'tekstual-harfiah' paling tepat "di atas 'Arsy-Nya", karena pengungkapannya relatif paling mudah, sederhana dan ringkas. Sedangkan secara 'hikmah dan hakekat' paling tepat "di dalam 'hati-nurani'" (pada bagian yang paling tinggi, mulia dan agung di dalam 'hati-nurani').

Hal lebih pentingnya lagi, bahwa tiap pendapat tentang keberadaan Allah, mestinya bukan terkait dengan keberadaan yang sebenarnya bagi Zat Allah, ataupun bukan tentang 'esensi' Zat Allah, Yang Maha Esa, Maha Gaib dan Maha Suci, karena tersucikan dari segala sesuatu hal. Namun pendapatnya mestinya hanya terkait dengan "letak pemahaman atau pengetahuan" tiap makhluk, tentang Allah (tentang sifat, kehendak, keredhaan, tindakan / perbuatan, kebenaran / pengetahuan-Nya, dsb), selain tentang 'esensi' Zat Allah.

Segala pendapat yang memang berusaha membicarakan, tentang 'esensi' Zat Allah, justru pasti melahirkan segala dilema, kegagalan, 'ketidak sempurnaan' pemahaman umat tentang sifat-sifat Allah, atau bahkan paling parahnya, melahirkan segala "kemusyrikan", seperti halnya yang terjadi pada agama-agama 'musyrik' (Tuhannya 'tidak sempurna', dan berupa seperti: para malaikat, para dewa, manusia biasa, patung / berhala, dsb).

Serta suatu pendapat tentang "keberadaan Allah, 'Arsy-Nya dan kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dalam 'hati-nurani' tiap makhluk", yang justru relatif paling sempurna dan tepat, karena memang bisa mencakup atau mewakili semua dalil naqli ataupun semua pendapat di atas, secara sekaligus. Selain itu, pendapatnya juga tetap berdasar "ke-Esa-an Allah".

Namun juga pendapat ini tentunya mestinya tetap dijelaskan secara cukup cermat, misalnya: "Dalam 'hati-nurani' bukan berada Zat Allah, tetapi berada pemahaman tentang kebenaran-Nya"; "Jika manusia sedang mengingat Allah (berzikir), maka Allah pasti hadir dalam 'hati-nurani'-nya"; "Allah, Maha mengetahui segala isi hati, sikap, perkataan atau perbuatan manusia, sekecil atau sehalus apapun, kapanpun dan dimanapun berada"; dsb.

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang lebih lengkap, tentang Kembali ke hadapan 'Arsy-Nya dan Kandungan isi kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, di samping dari topik-topik terkait lainnya dalam buku ini, termasuk untuk mengetahui lebih lengkap, ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an yang mendukung berbagai dalil-alasan bagi tiap penjelasan atau pemahaman di atas.

Wallahu a'lam bishawwab.

Artikel / buku terkait:

Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

Tentang Syarif Muharim

Alumni Teknik Mesin (KBK Teknik Penerbangan) - ITB - angkatan 1987 Blog: "islamagamauniversal.wordpress.com"
Tulisan ini dipublikasikan di Hikmah, Saduran buku dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

45 Balasan ke Allah dan ‘Arsy-Nya berada dalam hati-nurani tiap makhluk

  1. Agama, Hati, dan Ilahi berkata:

    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. Dia lah Zat Tuhan Yang Maha Sempurna. Penjelasan Pak Syarif sangat mendukung kearifan akal untuk menjangkau akan keluasan ilmu Allah.

    Bagi siapa pun, kaum mukmin atau kafir, sangat sulit untuk memaklumi esensi Zat Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Akal, sebagai salah satu karunia Allah yang dianugerahkan dalam ketetapan-Nya bagi umat manusia, adalah salah satu wujud akan kemahabesaran-Nya dalam penciptaan langit dan bumi.

    Akan tetapi, sebagai Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana, Allah telah berkehendak untuk menjadikan akal manusia ‘dapat’ memahami Allah di dalam kekuasaan-Nya. Al-Qur’an yang mulia sebagai Kitab-Nya telah menjelaskan aspek-aspek lahiriah, juga batiniah, terkait dengan kemahakuasaan Allah.

    Atas dasar itu, banyak kaum mukmin yang telah berjuang, dengan segala keterbatasannya, untuk menangkap setiap kalimat Allah yang ditulis di dalam kitab-Nya untuk mencapai apa makna di balik kalimat-kalimat-Nya.

    Kata, kata-kata dan kalimat Allah memiliki keluasan makna yang tidak seluruh makhluk-Nya dapat memahaminya, kecuali di dalam jiwanya atau dirinya atau hatinya atau ruhnya dianugerahkan oleh Allah Al-Hikmah (pemahaman mendalam akan kalimat-kalimat Allah).

    Allah Yang Maha Pencipta berkehendak agar kaum mukmin memahami bagaimana sesungguhnya Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi dirinya (orang-orang beriman). Al-Qur’an yang mulia bukanlah sebatas ‘bacaan’ yang mencakup penjelasan-penjelasan Allah dalam kedudukan-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta, melainkan mendudukkan Diri-Nya dalam ketidakkuasaan umat manusia, jin, bahkan malaikat-Nya sekalipun, memahami siapakah Dia?

    Adakah yang mengetahui Dia (Allah) sebagai “tiada Tuhan kecuali Allah”? Kalimat ini (La ilaha illallah) merupakan sesungguhnya kesaksian kaum beriman di dalam ketauhidannya akan Ada-Nya Dia (Allah) di dalam jiwanya atau dirinya atau hatinya atau ruhnya. Dunianya (tempat di mana manusia berada) tidaklah sama dengan Keberadaan-Nya (Wujud Allah di dalam keluasan ilmu-Nya), sekalipun telah dijelaskan akan hakikat-Nya dengan pemahaman akal yang sangat terbatas.

    Adakah akal manusia ‘mampu’ mengetahui bahwa Dia (Allah) itu berada di dalam dirinya atau jiwanya atau hatinya atau ruhnya? Akal, dengan segala keterbatasannya, pasti takkan mampu mengetahui Wujud Keberadaan-Nya di dalam keluasan ilmu-Nya. Akal, dalam keutuhan sebagai wujud fisik-lahiriah manusia, telah ditetapkan untuk memikirkan dunianya, sebagai makhluk ciptaan Allah, dan bukan diperintahkan untuk memahami esensi Zat Tuhannya.

    Karena itu, bukanlah akal yang dipersiapkan oleh Allah untuk mengerti bagaimana esensi Zat Allah itu. Al-Qur’an yang mulia tidak menjelaskan esensi Zat Allah bukan berarti meniadakan Ada-Nya di dalam keluasan ilmu-Nya, melainkan dengan kehendak-Nya Allah bersatu di dalam jiwanya atau dirinya atau hatinya atau ruhnya yang tak terjangkau oleh pengetahuan akal-lahirnya. Inilah yang sulit dipikirkan oleh akal, selain hanya dapat menangkap pemahaman siapakah Dia (Allah) itu?

    Ada Dia di dalam Jiwanya?!

    Adakah bahwa Allah Yang Maha Mulia akan ‘Hadir’ di dalam jiwa atau diri atau hati atau ruh kaum beriman? Adakah yang disebut ‘Arasy Allah berada di dalam ruhaniah kaum mukmin? Inilah pertanyaan, sekaligus pemberitaan, akan hakikat-Nya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana di dalam Wujud kekuasaan-Nya.

    Adalah benar sekiranya “hati-ruhaniah manusia” orang beriman terliputi oleh keberadaan Dia (Allah) sebagai Pemilik Kebenaran. Hati (qolbun) di dalam keberadaanya sebagai zat yang tak terjangkau oleh akalnya (manusia) sendiri telah ditetapkan oleh Allah menjadi “Tempat” Bersemayam Dia Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.

    Kata “Tempat” tidak bermakna sebagaimana dipahami oleh akal sebagai ‘tempat’ keberadaan makhluk-Nya. Allah Bersemayam di dalam jiwa atau diri atau hati atau ruh bukan mengambil pemahaman sebagaimana yang ditangkap oleh keterbatasan pengetahuan akal, selain kata tersebut berupaya mempertegas akan hakikat “Kehadiran” Dia Yang Maha Sempurna.

    Adakah “Kehadiran” memiliki pemahaman yang sama sebagaimana ‘hadir’ makhluk-Nya? Ternyata tidak juga sama. Allah “Hadir” tidak dibatasi oleh ruang dan tempat sebagaimana ‘hadir’ makhluk-Nya yang dibatasi ruang dan tempat, serta arah dan waktu (berbagai dimensi lahiriah maujud-Nya). Sekali lagi tidak!

    Istilah tersebut bermakna simbolik agar dapat dipahami akan “Keberadaan-Nya,” yang juga tidak bermakna sebagaimana ada-nya makhluk-Nya. Istilah tersebut berdiri sendiri, sebagaimana Allah Berdiri Sendiri tanpa pertolongan makhluk-Nya. Akan tetapi, istilah-istilah tersebut diperlihatkan untuk menjadi bahan perenungan akan Ada-Nya Dia sebagai Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.

    Karena kebijaksanaan-Nya, maka Allah Yang Maha Mulia menjelaskan di dalam firman-Nya dengan bahasa yang dipahami oleh manusia (basyar). Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Mengetahui menurunkan wahyu melalui perantaraan Jibri a.s dengan bahasa Arab ke dalam hati Nabi-Nya agar dapat dipahami.

    “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya” (QS. Yusuf: 2).

    “Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Baqarah: 97).

    Oleh karena itu, Allah Yang Maha Mulia telah menjelaskan bahwa ayat-ayat-Nya itu mengandung penuh Al-Hikmah (pemahaman mendalam tentang ayat-ayat-Nya). Allah telah berfirman: “Demi Al Qur’an yang penuh hikmah” (QS. Yaasin: 2).

    Hal ini mempertegas akan keluasan ilmu Allah Yang Maha Mengetahui. Kata “Al-Hikmah,” di dalam pemahaman konteks keindonesiaan, bermakna Allah Maha Bijaksana telah menguraikan kalimat-kalimat-Nya untuk dipahami oleh kaum yang mengimani-Nya.

    Oleh karena itu, kata “Al-Hikmah” telah dijadikan oleh Allah untuk menegaskan bahwa siapa pun, khususnya orang-orang yang telah menaati-Nya atas perintah dan larangan-Nya sesudah ada penjelasan di dalam kitab-Nya, yang dianugerahi Al-Hikmah dia mendapati “khoiron katsiro” atau kebaikan yang banyak.

    “Allah menganugrahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi kebaikan (karunia) yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (QS. Al-Baqarah: 269).

    “Kebaikan yang banyak” didatangkan oleh Allah ke dalam jiwanya atau hatinya atau dirinya atau ruhnya yang menyebabkan orang mukmin tersebut dapat memahami kehendak Allah atas dirinya atau hatinya atau jiwanya atau ruhnya. Maka, berlakulah ketetapan Allah untuk orang tersebut Dapat Memahami Secara Mendalam atas ayat-ayat Allah Yang Maha Pencipta sekalipun dia tidak banyak ‘membaca’ harfiah yang tertulis di dalam catatan-catatan manusia yang telah menggunakan pemikirannya mengenai penafsiran keluasan ilmu Allah Yang Maha Bijaksana.

    Keluasan ilmu Allah memenuhi jiwa atau diri atau hati atau ruh orang yang mendapati Al-Hikmah. Luasnya ilmu Allah meniadakan pemahaman dirinya atau jiwanya atau hatinya atau ruhnya bahwa Dia (Allah) Bersemayam di dalamnya. Yang lahir di dalamnya adalah bahwa keluasan kasih sayang Allah telah dapat dirasakan dan dinikmati sebagai karunia terbesar bagi jiwanya atau dirinya atau hatinya atau ruhnya.

    Perlukah dia (mukmin yang memperoleh Al-Hikmah) memaksakan untuk secara terus menerus memandang Wajah-Nya, yang di dalam kekuasaan-Nya, Dia (Allah) telah menunjukkan karena kemahabijaksanaan-Nya menyerupai wajah sang hamba? Tentu tidak! Akan tetapi, Allah Yang Maha Berkehendak telah ‘memampukan’ sang hamba menerima Kehadiran-Nya di dalam jiwanya atau dirinya atau hatinya atau ruhnya.

    Allah Yang Maha Mulia telah rido ‘membuka’ tabir kegoiban, sehingga dia telah sampai kepada yang dijanjikan oleh Allah di dalam firman-Nya, bahwa “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al-Kahfi: 110).

    Allah yang memampukan hamba-Nya memandang Wajah-Nya di dalam keterbatasan akalnya sehingga hanya jiwanya atau dirinya atau hatinya atau ruhnya yang mendapati Ada Dia di dalam jiwanya atau dirinya atau hatinya atau ruhnya. Diri-Nya seolah diri-nya yang tak terjangkau oleh penglihatan mata (dhohirnya). Allah Yang Maha Mulia telah berkenan untuk memfungsikan mata hatinya berhadapan dengan keluasan kasih sayang-Nya di setiap kehendak-Nya Berada dengan keridoaan-Nya.

    ‘Arasy Allah Yang Maha Mulia takkan mungkin menjauh dari-Nya karena di sanalah Kerajaan-Nya Berada di dalam keluasan penciptaan makhluk-Nya. Begitu simbolik kalimat ini yang dapat ditangkap oleh pemahaman akal manusia yang sangat terbatas. Kemahabijaksanaan Allah lah yang telah memampukan orang yang didekatkan-Nya (muqarrobin) ‘dapat’ mengetahui ke ‘arah’ mana kehendak Allah berada di dalam jiwanya atau dirinya atau hatinya atau ruhnya.

    Pendapatku Tentang Tulisan Pak Syarif

    Pak Syarif sudah berupaya mengurai pemahaman “Allah dan ‘Arasy-Nya berada di dalam ‘hati-nurani’ Tiap Makhluk” mendasarkan kepada pengetahuan lahir-jasmaniah yang diperoleh berdasarkan kajian akal terhadap firman Allah Yang Maha Mulia di dalam konteks ketauhidan seorang hamba.

    Hal demikian tidak menjadikan apa yang dikaji berseberangan dengan hakikat Keberadaan Allah sebagaimana yang ditangkap oleh pengetahuan ‘akal-jasmaniah manusia’ orang yang beriman kepada keluasan ilmu Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Menguasai jiwa atau diri atau hati atau ruh hamba-Nya.

    Adakah keluasan ilmu manusia telah mendapati bahwa Allah sebagai Tuhan Yang Maha Penyayang kepada orang-orang beriman menyisihkan kehadiran-Nya di dalam jiwa atau diri atau hati atau ruh Pak Syarif? Inilah yang belum diungkap oleh Pak Syarif ketika mengumpulkan bukti-bukti firman Allah sebagai rujukan dalam kajian mengenai Keberadaan Allah di dalam keluasan kasih sayang-Nya.

    Padahal, menurut hematku, kajian ini sudah sangat memadai untuk segera melangkah kepada ketaatan jiwa atau diri atau hati atau ruh terhadap perintah Allah Yang Maha Mengetahui isi hati, sebagaimana firman Allah berikut:

    “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raaf: 205).

    Al-Qur’an telah lama menegaskan adanya perintah Allah Yang Maha Mulia kepada orang-orang beriman, termasuk salah satu di antaranya adalah ayat di atas. Maka, tak ada alasan akal untuk mengurai lebih jauh bahwa seorang hamba dapat melupakan Tuhannya sendiri, yang telah Bersemayam di dalam jiwa atau diri atau hati atau ruh manusia yang beriman, sampai dia tak dijumpai Tuhannya!

    Oleh karena itu, sekiranya Pak Syarif tidak berkeberatan memenuhi perintah Allah pada ayat di atas, maka hati yang Allah rido akan Bersemayam di dalamnya pasti terjadi sebagaimana penjelasan-Nya di dalam Al-Qur’an.

    Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana menjelaskan kekuasaan-Nya kepada kaum yang yakin di dalam jiwanya atau dirinya atau hatinya atau ruhnya, bukan di akalnya. Kehadiran-Nya sejalan dengan ketundukan dan kepatuhan kepada apa yang menjadi perintah dan larangan-Nya. Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi hanya Bersemayam kepada hati yang mukhlis mengikuti perintah dan larangan-Nya, bukan karena kecerdasan akal-lahiriahnya tanpa melibatkan kecerdasan hatinya atau jiwanya atau dirinya atau ruhnya.

    Tak mungkin bagi Allah akan rido Bersemayam di hati yang hatinya tidak menyebut-nyebut nama Tuhannya sendiri. Perintah-Nya agar berdzikr di dalam hati atau jiwa atau diri atau ruh ditujukan agar tidak melupakan-Nya di waktu pagi dan petang, bahkan di setiap keadaan (di waktu berdiri atau di waktu duduk atau di waktu berbaringnya). Allah telah menamakan orang-orang berakal (Ulil Albab) dikaitkan dengan hatinya tak pernah melupakan Allah (dzikir), bertafakur, memuji Allah dan memohon perlindungan dari siksa api neraka. Allah telah menegaskan hal demikian di surat Ali Imron ayat 190-191.

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS. Ali Imron: 190).

    “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali Imron: 191).

    Demikian, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

    Salam dari jauh,

    Ahmad

    • Syarif Muharim berkata:

      Wa ‘alaikum salam wr, wb,.
      Terima kasih atas penegasannya p’ Ahmad.
      Makna “keberadaan Allah” di atas mmg sama sekali tidak terkait dgn keberadaan Zat Allah ataupun dgn ‘esensi’ Zat Allah, yg pasti mustahil bisa dijangkau oleh segala makhluk-Nya. Tetapi hanya semata terkait dgn keberadaan pemahaman makhluk-Nya ttg Allah (lebih tepatnya, ttg kebenaran-Nya di alam semesta). Maka jika umat makin memahami kebenaran-Nya, Insya Allah, hatinyapun bisa makin mengenal dan dekat kepada-Nya.
      Namun ‘kedekatan’ inipun pasti ada batasnya, krn makhluk mmg pasti amat terbatas akal dan pemahamannya, ttg segala sesuatu hal di alam semesta.
      Juga terima kasih atas tambahannya p’ Ahmad, yg lebih-kurangnya saya tangkap, sebagai bentuk kelanjutan dari hasil pemahaman di atas, khususnya utk senantiasa selalu berzikir kepada-Nya kapanpun, sambil berdiri, duduk ataupun berbaring.
      Alhamdulillah, sy selalu berzikir hampir tiap saatnya, di samping juga masih selalu bertafakur, walaupun tlh cukup byk hasilnya, yg terungkap melalui buku “Menggapai”.
      Dan saya akan lebih berterima kasih lagi, jika p’ Ahmad berkenan utk bisa ikut menyempurnakan isi buku tsb, walaupun mmg telah sengaja disusun hanya semata berdasar keyakinan pribadi saya.
      Salam kembali.

  2. ev berkata:

    untuk bisa mendzikiri-Nya sesuai dengan petunjuk-Nya. kita harus memenuhi perintah-Nya “fas aluu ahla dzikri inkuntum laa ta’lamuuna”
    yaitu bertanya kepada ahli dzikir (yaitu seorang /hamba Allah yang di utus mewakili diri-Nya dzat yang Allah asma-Nya yang wajib wujud-Nya) jika kamu tidak tahu.
    sebab Allah itu adalah nama, setiap nama pasti ada yang punya.

    • Syarif Muharim berkata:

      Terima kasih ibu Evi.
      Saya setuju, umat Islam perlu banyak bertanya kepada para alim-ulama yg telah relatif tinggi ilmu agamanya, terutama pd saat2 awal umat mempelajari ajaran2 agama Islam, secara makin mendalam, dan agar umat tdk terlalu menyimpang pemahamannya. Serupa halnya saat umat manusia memerlukan tuntunan dan pengajaran-Nya dari para nabi-Nya (memerlukan wahyu-Nya), utk bisa memahami berbagai kebenaran-Nya.
      Persoalannya, setelah berakhirnya kenabian pd nabi Muhammad saw, hampir tdk ada lagi umat manusia yg benar2 memiliki kesempurnaan pemahaman ttg kebenaran-Nya (relatif amat lengkap, mendalam. konsisten, utuh dan tdk saling bertentangan, secara keseluruhannya), terutama ttg hal2 gaib dan batiniah.
      Bahkan para alim-ulama ahli ilmu kalam dan ilmu fiqih yg plg terkemuka sekalipun, justru amat berragam / berbeda2 pemahamannya ttg berbagai halnya. Pada akhirnya, tiap umat Islam mestinya bisa selalu terus-menerus berusaha mencari pemahaman2, yg makin kokoh-kuat segala dalil-alasannya dan sekaligus makin lengkap segala penjelasannya, di antara segala pemahaman yg berkembang di kalangan umat.
      Juga tentunya saya setuju, bahwa ‘wujud’ adalah salah-satu sifat wajib Allah. Apalagi ‘wujud’ adalah sifat yg paling dasar dari tiap zat, yg menunjukkan bahwa zat itu mmg benar2 telah terbukti keberadaannya. Maka sifat ‘wujud’ ini sering disebut pula dgn ‘ada’.
      Namun ada sebagian umat manusia yg telah keliru beranggapan (terutama lagi umat2 agama musyrik), bahwa sifat ‘wujud’ atau ‘ada’ menunjukkan Zat Pencipta mestinya bisa ‘dilihat’, baik di dunia dan/atau di akhirat (Zat Pencipta dianggapnya mesti bisa dilihat atau dibayangkannya).
      Padahal telah jelas dlm kitab suci Al-Qur’an, bahwa Zat Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Gaib justru sama sekali tidak bisa ‘dilihat’, dgn mata lahiriah ataupun mata batiniah, di dunia ataupun di akhirat, serta bahwa Zat Allah sama sekali berbeda drpd segala zat ciptaan-Nya. Padahal umat manusia juga sama sekali tdk bisa melihat segala sesuatu hal, ttg ‘tiap’ zat ciptaan-Nya (ruh, benda yg terkecil dan terbesar, mediator gravitasi, bau, udara, dsb), apalagi ttg Zat Allah.
      Tiap makhluk hanya semata bisa melihat atau menyaksikan kebenaran-Nya di alam semesta ini. Maka “makin banyak memahami kebenaran-Nya di alam semesta (pemahaman tentunya mestinya juga disertai dgn pengamalan)” sama halnya dgn “makin mengenal-Nya” atau “makin dekat dengan-Nya” atau “makin beriman”.
      Keterangan “org2 yg beriman akan bisa menyaksikan Allah di Hari Kiamat (di alam akhirat)” mestinya ditafsirkan sbg “org2 yg beriman akan bisa makin jelas memahami tiap kebenaran-Nya, krn di Hari Kiamat itu, Allah mmg akan membukakan tiap kebenaran-Nya, utk menuntaskan segala ketidak-tahuan, keraguan dan perselisihan antar umat manusia”. Juga keterangan “Allah ataupun wajah-Nya ada dimana-mana” mestinya ditafsirkan sbg “kebenaran-Nya ada dimana-mana”.
      Wallahu a’lam bishawwab.

  3. alfie noe berkata:

    Assalammualaikum akhie.. Sekiranya mungkin punya akun fb.. Tambahin saya sebagai teman

    pingin belajar agama lebih baik lagi.
    Ini link profil saya http://m.facebook.com/alfie.noe?refid=52&ref=stream

  4. Anonymous berkata:

    Kalo Alloh Maha Ghoib apa Alloh juga akan selamanya Ghoib (tersembunyi) Rosululloh pernah melihat langsung Alloh SWT pada waktu mikroj dan berkata pula Mikrojul Muslimin Asholah, apa bisa dikatakan “Rahasia”? dan hanya dibukakan kepada Manusia Pilihan semoga kita Aamiin

    • Syarif Muharim berkata:

      Sejauh pengetahuan saya, keterangan2 dlm Al-Qur’an ttg hal ini mmg amat terbatas dan juga sekaligus tdk jelas. Hal ini di samping berada dlm ayat2 ttg Rasulullah saw yg ‘melihat lgsg’ Allah dlm perjalanan Mi’raj-nya (tepatnya bisa mendekati ‘Arsy-Nya). Juga ttg kisah nabi Musa saw yg ‘melihat lgsg’ Allah (tepatnya gunung Thursina meletus krn tdk sanggup ‘melihat lgsg’ Allah) dan ttg kejadian org2 yg beriman di Hari Kiamat, yg berseri2 ‘melihat lgsg’ Allah.
      Keterbatasan yg juga relatif serupa terjadi pd hadits2 Nabi. Shg selanjutnya, umat relatif hanya bisa menelaah / memperolehnya melalui nalar-logika akalnya.

      Saya sengaja beri tanda petik ”, krn ‘melihat lgsg’ Allah dlm Al-Qur’an mmg bukan berupa keterangan yg jelas, dan masih berupa penafsiran dari sebagian umat. Di lain pihak, juga ada sebagian umat yg membantahnya.

      Analisa nalar-logika akal:
      1) Indera mata lahiriah manusia pasti hanya bisa dipakai, utk melihat hal2 fisik-lahiriah-material.
      Padahal Allah bersifat im-material / gaib, dan skligus mestinya pasti tdk memiliki wujud fisik-lahiriah-material. Shg mata lahiriah manusia mestinya mustahil bisa melihat Allah, yg bersifat gaib.
      2) Indera mata lahiriah manusia pasti terbatas, shg manusia membuat teleskop dan mikroskop yg meningkatkan kemampuannya. Namun adanya bantuan alat2 tsb, justru pasti tetap memiliki keterbatasan.
      Padahal Allah bersifat tak-terbatas. Shg mata lahiriah manusia mestinya mustahil bisa melihat Allah, yg bersifat tak-terbatas.
      3) Jika ada manusia2 pilihan yg mmg bisa ‘melihat lgsg’ Allah, maka mestinya mereka bisa mengetahui misalnya: jenis kelamin Allah, bentuk sosok Allah, ukuran Allah, anggota2 badan Allah, dsb.
      Padahal sama sekali tidak ada keterangan dlm Al-Qur’an ttg jenis kelamin dan bentuk sosok Allah misalnya.
      4) Dsb.

      Tentunya dalil2 akal tersebut bisa byk lagi. Dan juga byk dalil2 naqlinya yg mendukungnya, yg sulit diungkapkan semuanya disini.

      Maaf, pernyataan Mikrojul Muslimin Asholah, “hal ini mrpkan ‘rahasia’ dan hanya dibukakan kepada manusia2 pilihan”, justru amat diragukan kebenarannya.

      Saya pribadi meyakini, bhwa keterangan2 ‘melihat lgsg’ Allah dlm Al-Qur’an, hanya berupa “memahami / menyaksikan dgn amat jelas, atas bukti2 kekuasaan-Nya di alam semesta ini (atau memahami kebenaran-Nya dgn amat jelas)”, dan bukan ‘melihat lgsg’ Allah dgn sebenar-benarnya.
      Wallahu ‘alam.

      Wassalam.

    • Anonymous berkata:

      baik yang berada di langit dan dibumi tidak ada yg sanggup berhadapan langsung dgan allah apalagi smpai melihatnya….manusia pilihan itu adalah manusia yg mnyentuhi al-qur’an itu dan meyakini al-qur”an palagi smpai menjalankan yg diperintahkan di al-qur’an itu baca di surah al-wakiyah…dan tidak ada di al-qur”an yg mngatakan bahwa ada manusia yg sanggup melihat allah kecuali dikitab lain selain al-qur”an saja mungkin….waktu isra miraj allah perlihatkan SEBAGIAN tanda2 kebesaran allah kepada nabi kita muhamad SAW dan allah berkahi disekelilingnya,,,saudara baca lagi di al qur”an dgan perlahan2 krna kitab yg bisa menjamin kita, adalah al qur’an ini saja selain dari pada itu diragukan k’afsahanya. asalamualaikum warrahmatulahi wabarakatuh…..

      • Syarif Muharim berkata:

        Wa ‘alaikum salam warrahmatulahi wabarakatuh.
        Saya amat sepakat dgn hal2 yg disampaikan, lbh khususnya lagi “baik yang berada di langit dan di bumi, tidak ada yg sanggup berhadapan langsung dgan Allah, apalagi smpai melihat-Nya”.
        Baik dalil2 naqli maupun dalil2 aqli, mmg sama sekali tdk ada yg cukup kuat mendukung pendapat2 yg sebaliknya.
        Juga terima kasih banyak atas saran-sarannya.

  5. Abdullah Chanif berkata:

    Izin Share Mas

  6. budak kedah berkata:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Pak syarif saya bisa minta tolong di jelaskan tentang makna dan nama yg merujuk pada sifat yaitu. bahwa Allah itu Dzahir dan DIA pun bathin. ” hu wal awwalu wal akihru ,wa dzahiru wa bathinu”
    karena menurut keterangan di atas pak Syarif selalu menyampaikan bahwa Allah itu ghaib.dan satu lgi pak syarif.yg di maksud Allah di sini merujuk pada nama zatnya yg maha besar atau merujuk pada tuhan sebenar-benarnya, karena zat mutlak itu bukan tuhan tapi tuhan adalah zat nya zat. terlebih laysa kamistlihi syaiun. tuhan adalah rabbul izzati. rabnya sekalian zat.Wasslam.

    • Syarif Muharim berkata:

      Wa ‘alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

      Maaf terlambat dibalas.

      Pemahaman ttg sifat2-Nya trmsuk pemahaman yg relatif plg tinggi, yg bisa dicapai oleh umat manusia. Misalnya amat jarang para alim-ulama yg telah mengulas Asmaul Husna satu-per-satu scra lgkap dan mendalam.
      Maka harap dimaklumi, jika saya juga hanya bisa amat terbatas mengulas berikut ini, serta hanya sebatas kemampuan pemahaman saya. Serta pemahaman inipun amat relatif dan belum tentu sama dgn pemahaman pd umat2 lainnya.

      Sifat2-Nya dlm pernyataan “Dia(Allah) Yang Maha Awal (tiada bepermulaan / tanpa awal) dan Maha Akhir (tiada berkesudahan / tanpa akhir) dan Maha Dzahir (Nyata) dan Maha Bathin (Ghaib / Tersembunyi).” (”hu wal awwalu wal akihru ,wa dzahiru wa bathinu”), lebih khususnya lagi sifat2-Nya Yang Maha Dzahir dan Maha Bathin yg dipertanyakan, mmg agak membingungkan, terutama krn seolah2 slg bertentangan, atau seolah2 berada dlm 2 wilayah yg berbeda sekaligus.

      Pernyataan2 saya “Allah itu Maha Ghaib”, sbnarnya tak-lain mrpkan sebutan lain dari sifat “Maha Bathin” di atas, yg kadang2 juga disebut “Maha Tersembunyi”.

      Juga dlm pemahamaan saya, seluruh hal2 batiniah pasti mrpkan hal2 yg bersifat Ghaib / Tersembunyi.
      Tapi ada hal2 fisik-lahiriah yg justru juga bisa dianggap bersifat Ghaib, krn mmg belum terjangkau / belum terdeteksi oleh alat2 indera fisik-lahiriah manusia, skligus beserta sgla alat2 bantunya (alat2 ukur dan alat2 deteksi buatan manusia).

      Contohnya: Graviton yg diprediksi oleh para fisikawan, sbgai zat yg plg bertanggung-jawab atas timbulnya efek gravitasi antar benda (gaya tarik menarik), mrpkan zat fisik-lahiriah yg justru skligus bersifat Ghaib, krn mmg sama sekali blm ditemukan / blm dideteksi oleh manusia.

      Sebelum menjelaskan sifat2 Maha Dzahir (Nyata) dan Maha Bathin (Ghaib / Tersembunyi), terlebih dahulu saya ingin menjelaskan hakekat pemahaman atas sifat2-Nya, yg tentunya juga hanya mnrut keyakinan dan pemahaman saya pribadi.

      Sifat2 sesuatu zat scra umum bisa terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu: sifat2 ‘esensi / statis / pembeda’ dari zatnya, dan sifat2 ‘perbuatan / dinamis / proses’ dari zatnya. Hal ini bisa dibaca pd “Sifat ciptaan-Nya” (http://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/bd_6/).
      Bgtu pula dgn Zat Allah sendiri. Tapi khusus ttg Zat Allah, “tidak ada sesuatupun yang serupa / setara dengan-Nya” (“laysa kamistlihi syaiun”).
      Maka tidak ada sesuatupun dari sgla zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini, yang serupa / setara sifat2 ‘esensi’ dan ‘perbuatannya’, dengan Zat Allah.

      Di lain pihak, tiap manusia hanya semata bisa melihat, merasakan, mengetahui, mengindera ataupun menyaksikan scra LANGSUNG, atas sgla zat ciptaan-Nya dan sgla kejadiannya (lahiriah dan batiniah) di alam semesta ini, tapi sama sekali BUKAN atas Zat Allah scra LANGSUNG.
      Maka Zat Allah ataupun sifat2 ‘esensi’ dari Zat Allah, justru tersucikan dari sgla sesuatu halnya, krn mmg MUSTAHIL bisa dilihat, dirasakan, diketahui, diindera ataupun disaksikan scra LANGSUNG, dgn mata lahiriah dan mata batiniah manusia.

      Tapi manusia justru masih bisa melihat, merasakan, mengetahui, mengindera ataupun menyaksikan scra TAK-LANGSUNG, atas sifat2 ‘perbuatan’ dari Zat Allah, dgn cara mempelajari sgla kejadian (lahiriah dan batiniah) pada sgla zat ciptaan-Nya di alam semesta ini, yg bersifat MUTLAK (pasti terjadi / berlaku) dan KEKAL (pasti konsisten / tdk berubah2).
      Sgla kejadian yg bersifat MUTLAK dan KEKAL di alam semesta ini, PASTI hasil dari perbuatan Allah. Sbliknya sgla kejadian yg bersifat TIDAK MUTLAK (relatif / tdk pasti terjadi) dan TIDAK KEKAL (fana / tdk konsisten) di alam semesta ini, PASTI hasil dari perbuatan sgla makhluk ciptaan-Nya.

      Jadi seluruh nama2 Allah pd Asmaul Husna, pada hakekatnya hanya semata berupa sifat2 ‘perbuatan’ dari Zat Allah, dan sama sekali TDK ADA yg berupa sifat2 ‘esensi’ dari Zat Allah.
      Dgn sendirinya, tentunya sifat2 Maha Dzahir (Nyata) dan Maha Bathin (Ghaib / Tersembunyi), juga mrpkan sifat2 ‘perbuatan’ dari Zat Allah, dan BUKAN sifat2 ‘esensi’ dari Zat Allah.

      Dgn bgtu, telah mulai relatif mudah untuk memaknai / memahami sifat2 Maha Dzahir dan Maha Bathin pd Allah.
      Sifat2 Maha Dzahir pd Allah, adalah sifat dimana Allah menunjukkan berbgai kekuasaan, kemuliaan dan kesempurnaan-Nya, melalui sgla hal nyata-fisik-lahiriah di seluruh alam semesta ini.
      Sdgkan sifat2 Maha Bathin pd Allah, adalah sifat dimana Allah menunjukkan berbgai kekuasaan, kemuliaan dan kesempurnaan-Nya, melalui sgla hal ghaib-moral-batiniah di seluruh alam semesta ini (ujung2nya di dalam pikiran tiap makhluk).

      Lalu terkait dgn alinea terakhir pertanyaannya, maka saya sama sekali tidak berani membicarakan ttg Zat Allah scra LANGSUNG, kecuali hanya semata membicarakan scra TAK-LANGSUNG, melalui seluruh sifat-Nya dlm berbuat di alam semesta ini (terwujud melalui sgla zat ciptaan-Nya), terutama yg telah berupa Asmaul Husna.
      Termsuk saya tdk berani menyatakan sprti, “Zat mutlak itu bukan Tuhan”.

      Maha Besar tentunya juga sifat ‘perbuatan’ dari Zat Allah, dan BUKAN sifat ‘esensi’ dari Zat Allah. Misalnya Maha Besar menunjukkan luas alam semesta ini (hasil dari perbuatan-Nya), yg mmg tak-terhingga besarnya, serta sama sekali belum terdeteksi batas2nya.

      Allah merujuk pada nama Zat-Nya dan juga merujuk pada Tuhan sebenar-benarnya.
      Allah adalh Tuhan, Pemilik, Pencipta ataupun Pengatur atas sgla zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini.

      Wallahu ‘alam.

  7. Anonymous berkata:

    saya tidak mnyalahkan , tpi sya tidak sependapat,,,jikalau allah swt itu di hati nurani dan batin bathin itu menurut saya tdak bisa dilihat berarti gaib, klo allah itu maha gaib tidak bisa ditempatkan lagi. klo allah swt itu dihati nurani maupun batin berarti allah itu bertempat , sedangkan allah itu tdak bertempat atau membutuhkan ruang dan tempat tapi ruang dan tempat itulah yg membutuhkan allah SWT…. tasbih itu menurut sya memuji ke”esaan allah klo sudah memuji pastilah ingat dan ingat itu dekat ,bukan artian kita dekat dlam wujud bathin aplgi klo menempatkan allah. maha suci allah,,,,,,dzat menurut saya apapun alasan adalah suatu unsur atau benda krna dzat bermacam2 dzat kapor, dzat asam, dzat gula, dzat kimia apapun itu, walaupun maksudnya tidak seperti itu, dimana kita meletakan kemaha sucian allah jika allah tu bersifat dzat. marilah kita jaga kemahasucian allah swt dari kata2 yg apapun yg membuat allah itu lemah karna allah itu tidak bisa digambarkan lagi oleh pikiran dan apapun krna maha hebatnya ,rasanya kurang pantas aja kita tempatkan kata dzat itu kpada allah apalagi bersifat dzat subahanallah…..mohon maaf jika ada salah kata yg kurang berkenan dihati saudara2.

    • Syarif Muharim berkata:

      Insya Allah, semangatnya sama dan relatif tdk ada perbedaan yg mendasar, kecuali hanya semata pd keterbatasan pemakaian bahasa / istilah.

      Menurut saya, sbgai sesuatu entitas yg wujud (ada), tentunya tetap perlu istilah utk menerangkan “DIRI” Allah. Dlm hal ini, istilah2 yg biasa dipakai dan berkembang di kalangan umat, adalah “Dzat” atau “Zat” (huruf kapital di depan ataupun seluruhnya).
      Di lain pihaknya, istilah2 bagi makhluk / ciptaan-Nya, adalah “dzat” atau “zat” (seluruhnya huruf kecil).
      Ada pula umat2 yg memakai istilah “Dzat” / “dzat” bagi Allah, dan istilah “Zat” / “zat” bagi makhluk / ciptaan-Nya.

      Saya sendiri memilih memakai istilah “Dzat” / “Zat” bagi Allah, dan istilah “dzat” / “zat” bagi makhluk / ciptaan-Nya. Shg relatif lbh sdrhna dan hanya dibedakan dgn pemakaian huruf kapital / huruf kecil.

      Insya Allah, pemakaian istilah2 tsb sama sekali tdk akan mengurangi sedikitpun kemahasucian Allah.

      Lebih pentingnya lagi, keberadaan Allah dlm artikel ini sama sekali bukan menerangkan keberadaan Zat / DIRI Allah, namun hanya semata menerangkan keberadaan pengetahuan makhluk ttg kebenaran2-Nya, dlm hati-nuraninya msg2,
      Hal inipun bertujuan utk bisa relatif “meluruskan” berbgai tafsiran atas ayat2 Al-Qur’an, ttg keberadaan Allah.

      Terima kasih.

    • Anonymous berkata:

      saya sependapat dengan sdra….allah merupakan sumber dari segala sumber, ya ngk mungkin sumber dapat mengetahui sumber’apa lagi menandingi sumber…trims.

  8. Anonymous berkata:

    dimana kita meletakan kemaha sucian allah jika allah itu pkai istilah kata2 dzat/zat ??….apapun alasannya tdak pantas bagi allah berdampingan dgan kta2 dzat….jagalah kmaha sucian allah walaupun hnya dalam istilah….padahal nabi muhamad tidak pernah mgajarkan itu kpada kita padahal beliau dekat dgan allah seandainya ada pstilah beliau mngajarkanya….beliau mgajarkan kta bertasbih mengucapkan subhanallah bertujuan kita mnjaga kmaha sucian allah…wujud (ada) itu menurut sya nampak kukuasaan allah saja, dan bukan allah yg berwujud.. bisa kita lihat lewat min ayatina nya saja bukanx allah itu nampak…dan saya tdak menggunakan kata zat apapun istilahnya sebab nama allah bukan utuk main2 dan menempatkan kan istilah2 atau menempatkan kta2 yg tdak al-qur’an ajarkan krna kta d’tuntut menjaga kemaha sucian allah dan disesuaikan dgan kata2 tasbih kta subhanallah….masalah allah swt seperti yang anda bicarakan KEBERADAAN menurut saya allah itu ADA bukan KEBERADAAN klo keberadaan berarti allah itu wujud…sedangkan allah itu tidak wujud/nampak bigi sya wujud/nampak itu maksudnya kekuasaan allah saja, tidak terpikirkan lagi oleh alam pikir kita krna sangat hebatnya allah swt itu., sebab klo mmpu terpikirkan berarti allah itu lemah, yang mampu kita pikirkan adalah tanda2 kebesaran allah saja seperti yg al qur”an ajarkan supaya kita mengakui klo allah itu allahhuakbar dan tiada tuhan yg patut disembah selain allah SWT, kita d’ajarkan utk mngakui allah sbgai tuhan kita walaupun hanya melalui nama dan mengakui kita ini hamba yg tidak mmpunyai apa2 ….namun allah itu ADA….kata ADA ini pun tidak sanggup utuk melukiskan allah swt,,,, dan kta2 istilah sperti yg saudara ktakan itu tdak pantas rasanya utk bertukar pendapat tentang ktuhanan krna tdak ada kta2 istilah yg d’ajarkan d’alqur’an adalah kata perumpamaan agar mudah dipahami… maaf saudaraku jika ada penulisan kata yg salah…ini tjuan nya saling berbagi bukan utk sling berdebat kepada saudara….

  9. Anonymous berkata:

    maaf menurut saya allah itu bukan DIRi tdak pantas kata2 diri utk melukiskan keberadaan allah namun allah itu ada dan tidak berwujud, krna kata2 diri itu hnya pantas utk manusia yg diciptakanya saja….hati2 dalam penempatan kata2 maupun istilah sebab nama allah bukan utk main2 ataupun utk istilah2…..allah SWT itu maha hebat tak ada kata2 umpama lagi bagi allah krna sangat hebatnya cukup akui allah SWT tuhan kita allahu akbar maha besarnya allah….maaf jika ada salah kata tujuanya hanya utk sling berbagi bukan utk dperdebatkan

  10. Anonymous berkata:

    mengakui allah SWT itu tuhan kita dan menjalankan perintahnya dan menjauhi laranganya.

    • Syarif Muharim berkata:

      Sedikit saran, tapi amat penting, lafadz ALLAH semestinya tdk ditulis dgn huruf kecil semua, tapi semestinya ditulis “ALLAH” atau “Allah”, utk menjunjung tinggi kemaha sucian Allah.
      Saran kedua, jika tdk ingin didebat oleh org lain, harap jgn mendebat pendapat org lain. Hal ini berlaku dimana-mana dlm berdialog atau saling berbagi.
      Terima kasih.

      1) “Dzat / Zat / Diri” Allah dipakai utk bisa membedakannya dari: sifat Allah; perbuatan Allah; kehendak Allah; kebenaran Allah; wahyu Allah; nabi/rasul Allah; kitab Allah; takdir Allah; ‘Arsy Allah; ciptaan Allah; dsb.
      2) Betul “Allah itu ada dan tidak berwujud”.
      Sifat “wujud” maknanya “ada” itu sendiri dlm bhsa Arab. Sifat “wujud” Allah BUKAN berarti Allah berwujud (BUKAN berarti bisa dilihat dgn mata kepala, ataupun bisa dipikirkan).
      3) “Dzat / Zat / Diri” Allah mmg mustahil bisa dilihat dan dipikirkan, tapi sifat Allah; perbuatan Allah; kehendak Allah; kebenaran Allah; wahyu Allah; nabi/rasul Allah; kitab Allah; takdir Allah; ‘Arsy Allah; dan ciptaan Allah misalnya masih bisa dilihat ataupun dipikirkan.
      4) Mustahil bisa diketahui letak KEBERADAAN “Dzat / Zat / Diri” Allah, tapi masih bisa diketahui letak KEBERADAAN “kebenaran2″ Allah, dlm hati-nurani manusia.

  11. Anonymous berkata:

    kebenaran ALLAH SWT itu ada d’al-qur’an, masalah hati nurani adalah tentang keimanan dan keyakinan bukanya malah meletakan ALLAH SWT dan ARSY didalam hati ,berarti ALLAH bertmpat klo seperti itu sedangkan ALLAH itu tdak bertempat tpi ruang dan tempat itulah yg membutuhkan ALLAH, masalah pemikiran yg terbatas makanya klo bisa jangan mgadakan kata2 yg mmbuat ALLAH itu lemah, dzat/zat/DIRI itu siapa yang menciptakan ?? ya tentu ALLAH bukankah ALLAH itu berbeda dri bentuk ciptaanya…..berbicara masalah menjunjung tinggi tentang kemaha sucian ALLAH knpa anda menempatkan kata2 dzat/zat kepada ALLAH, apapun alasannya kata2 dzat/zat itu adalah unsur atau pengertian anda DIRI itu yg pantas mnyandang kata2 diri itu adalah manusia ciptaanya,,,,,sedikit masukan kepada anda tpi amat penting buat keimanan kita, sifat ALLAH, perbuatan ALLAH , kehendak ALLAH ataupun itu, itu semua tidak sama dengan sifat dan kehendak manusia atau kata2 yg kita samakan untuk ALLAH , d’dalam menjelaskan tauhid kurang kuat klo berbicara tentang misal. yg misalnya masih bisa dilihat yang anda mksud itu adalah melihat tanda2 kekuasaan allah bukanya melukis keberadaan allah..hati nurani manusia tdak akan sanggup menempatkan ALLAH dan ARSY nya ALLAH….sedikit masukan buat org yg berilmu pengetahuan seperti anda, makanya al-qur’an dturunkan supaya kita mngetahui tentang tanda2 kekuasaan allah kapasitas hati adalah untuk kita meletakan suatu keimanan dan keyakinan dan mengamalkannya dari min ayattinaya ALLAH itu bukanya menempatkan ALLAH DAN ARSY seperti itu…. anda merasa didebatkan klo begitu saya minta maaf karna anda merasa d’perdebatkan…MASALAH LAFADZ ALLAH hruf BESAR dan HURUF KECIL itu kayaknya tdak bermasalah, yang penting k’imanan seseorang dan insya ALLAH tidak mngurangi kemaha sucian ALLAH SWT. klo dzat/zat/diri yang anda katakan itu dgan dalil untuk membedakan sifat ALLAH dgan manusia terus buat apa al-qur”an itu kan sudah jelas mngajarkan kita untuk membedakan mana yg benar dan mana yang salah atau sifat ALLAH dengan sifat manusia ciptaanya……SEMOGA Dialog anda dan saya bukan menjadi perpecahan diantara kita karena setahu saya dgan keterbatasan saya, al-qur’an dturunkan untuk rahmatan dan peringatan bagi seluruh alam dan umat..buat apa berbantahan setelah turunya kitab suci al-qur’an krna al-qur’an itu petunjuk….assalamualikum wr.wb…

    • Anonymous berkata:

      saya sependapat dengan anda…kalau agama kita bisa perdepatkan tpi kalau akidah atau keyakinan ngk bisa di ukur….

    • Syarif Muharim berkata:

      Wa ‘alaikum salam Wr. Wb.

      Insya Allah, sprtinya dialog di atas terlalu jauh utk sampai menimbulkan perpecahan, apalg persoalannya hanya skdar pd perbedaan pemakaian bahasa / istilah, dan juga pd perbedaan ‘sistematika’ cara berpikir msg2 atas sesuatu halnya.
      Insya Allah, dgn hanya semata sdkit menyamakan cara pandang / pola pikir msg2, dialog inipun bisa berakhir dgn baik, krn mmg tdk ada perbedaan yg mendasar.

      Saya sama sekali tdk merasa didebat, namun hanya bingung saja dgn inkonsistensi pernyataan2 anda, “tujuannya saling berbagi bukan utk saling berdebat”. Di lain pihaknya, justru anda sendiri suka mendebat pendapat2 org lain (hrs bgni hrs bgtu).

      Saya tdk ingin byk mengomentari komen2 anda, krn kuatir menjadi debat kusir tanpa ujung, yg bisa timbul hanya krn perbedaan pemakaian bahasa / istilah, dan perbedaan ‘sistematika’ cara berpikir.
      Silahkan saja dgn pendapat2 anda… Insya Allah, anda hanya salah-pengertian saja thd pendapat2 saya.

      Saya hanya ingin mengomentari kalimat plg atas saja, “kebenaran ALLAH SWT itu ada d’al-qur’an, masalah hati nurani adalah tentang keimanan dan keyakinan bukanya malah meletakan ALLAH SWT dan ARSY didalam hati”.

      Setelah kebenaran2 ALLAH SWT dlm Al-Qur’an telah dibaca dan dipahami, maka sgla ‘informasi’ mengenai kebenaran2 ALLAH SWT tsb, pd dasarnya meresap ke dlm dada-hati-pikiran dan tersimpan dlm “hati-nurani” (isi hati yg telah disinari oleh cahaya2 kebenaran ALLAH SWT).
      Sgla ‘informasi’ mengenai kebenaran2 ALLAH SWT dlm “hati-nurani” itulah yg membentuk keimanan dan keyakinan pd tiap manusianya msg2.

      Sekali lagi, dlm “hati-nurani” bukan letak “Dzat / Zat / Diri” ALLAH SWT, tapi hanya semata letak “sgla ‘informasi’ mengenai kebenaran2″ ALLAH SWT.

      Wassalam.

  12. Luluth berkata:

    Maaf ikut komentar sedikit, penurut pandangan saya sebagai orang awam, saya pernah membaca bahwa ilmu agama itu ada tingkatanya (syariat, torekat, hakikat, ma’rifat dan ismu Dzat) sebagaimana kita sekolah (TK, SD, SMP, SMA, Universitas), maksud saya dalam hal ini kebanyakan dari kami yang ikut nimbrung disini, mungkin rata-rata masih di kelas yang belum begitu tinggi jadi wajar jika mas “Syarif” menjelaskannya dari kelas yang sedang2 saja, tapi saya juga yakin dengan mas “Anonimous” dengan penjelasannya, beliau juga mantap dengan pengetahuannya, tapi help ya mas levelnya diturunin dikit.., tengkyu untuk semua (semangat dan tetap istiqomah dari khobar yakin, ainul yakin sampai hakul yakin)

    • Syarif Muharim berkata:

      Insya Allah, dlm diskusi di atas relatif hanya ada perbedaan sistematika dan pemakaian bahasa, walau mmg tampak agak sensitif akibat perbedaan latar-belakang msg2. Sedangkan semangat dan maksud-tujuannya pada dasarnya relatif sama.

      Sistematika dan pemakaian bahasa dlm blog ini mmg semaksimal mungkin diusahakan agar bisa relatif mudah dipahami oleh umat kebanyakan. Shg dlm blog ini cndrung memakai bahasa Indonesia yg baku, yg mgkn berbeda dgn bahasa yg dipakai di kalangan tareqat misalnya.

      Terima kasih atas perhatiannya.

  13. Mohamad Effendy berkata:

    Petilan dari atas : Allah dan ‘Arsy-Nya berada dalam hati-nurani tiap makhluk khususnya MANUSIA
    Opiniku akan hat tsb adalah bhw itu adalah dlm fenomena “MIKO KOSMOSNYA” sdgkan yg Makro kosmosnya ada yg tdk bisa diperkirakan oleh manusia siapapun namun pejelasan secara umum utk menjadi pegangan sdh diuraikan dlm artikel/ literatur di atas …

  14. Mohamad Effendy berkata:

    Terima kasih banyak pula, atas literturnya yg luar biasa kompelitnya ini …

  15. Beir Nasution berkata:

    Syukron kang Syarif atas uraiannya, sangat membantu dan bermanfaat. Tapi memang, orang seperti saya sepertinya harus banyak belajar lebih dalam lagi, masih terlalu sulit memahami antara Dzat Allah dan esensi Dzat Allah.

    • Syarif Muharim berkata:

      Ringkasnya:
      Zat Allah adalah ‘Diri’ Allah itu sendiri.
      ‘Esensi’ Zat Allah adalah sifat2 yg langsung menyangkut ‘Diri’ Allah.

      Lbh lengkapnya:
      Sifat2 sesuatu zat scra umum bisa terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu: sifat2 ‘esensi / statis / pembeda’ dari zatnya, dan sifat2 ‘perbuatan / dinamis / proses’ dari zatnya. Hal ini bisa dibaca pd “Sifat ciptaan-Nya” (http://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/bd_6/).
      Bgtu pula dgn Zat Allah sendiri. Tapi khusus ttg Zat Allah, “tidak ada sesuatupun yang serupa / setara dengan-Nya” (“laysa kamistlihi syaiun”).
      Maka tidak ada sesuatupun dari sgla zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini, yang serupa / setara sifat2 ‘esensi’ dan ‘perbuatannya’, dengan Zat Allah.

      Di lain pihak, tiap manusia hanya semata bisa melihat, merasakan, mengetahui, mengindera ataupun menyaksikan scra LANGSUNG, atas sgla zat ciptaan-Nya dan sgla kejadiannya (lahiriah dan batiniah) di alam semesta ini, tapi sama sekali BUKAN atas Zat Allah scra LANGSUNG.
      Maka Zat Allah ataupun sifat2 ‘esensi’ dari Zat Allah, justru tersucikan dari sgla sesuatu halnya, krn mmg MUSTAHIL bisa dilihat, dirasakan, diketahui, diindera ataupun disaksikan scra LANGSUNG, dgn mata lahiriah dan mata batiniah manusia.

      Tapi manusia justru masih bisa melihat, merasakan, mengetahui, mengindera ataupun menyaksikan scra TAK-LANGSUNG, atas sifat2 ‘perbuatan’ dari Zat Allah, dgn cara mempelajari sgla kejadian (lahiriah dan batiniah) pada sgla zat ciptaan-Nya di alam semesta ini, yg bersifat MUTLAK (pasti terjadi / berlaku) dan KEKAL (pasti konsisten / tdk berubah2).
      Sgla kejadian yg bersifat MUTLAK dan KEKAL di alam semesta ini, PASTI hasil dari perbuatan Allah. Sbliknya sgla kejadian yg bersifat TIDAK MUTLAK (relatif / tdk pasti terjadi) dan TIDAK KEKAL (fana / tdk konsisten) di alam semesta ini, PASTI hasil dari perbuatan sgla makhluk ciptaan-Nya.

      Jadi seluruh nama2 Allah pd Asmaul Husna, pada hakekatnya hanya semata berupa sifat2 ‘perbuatan’ dari Zat Allah, dan sama sekali TDK ADA yg berupa sifat2 ‘esensi’ dari Zat Allah.

      Wallahu ‘alam.

  16. Suprawoto Mertowijoyo berkata:

    Bila ingin mengenal Allah, bersihkan diri kita dan mohonlah sungguh sungguh agar diberi seorang imam yang alim yang mampu mengajar kita langkah langkah mengenal Allah. Akal manusia bukanlah pemandu yang dapat diabdalkan, karena Adam as dapat ditipu iblis setelah memiliki akal.
    Surat Al Anbiya ayat 73
    Artinya :
    Kami telah menjadikan mereka itu sebagai Imam-Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu
    Pengenalan kepada Allah adalah bagian dari ikhsan, kita akan berhadapan dengan iblis yang sangat hebat tipu dayanya. Dalam suara hati (Qolbu) ada tanda tanda untu membedakan antara tipuan dan petunjuk, demikian juga didalam mimpi. Kita perlu alimin untuk mendampingi.
    Dalam Al Qur;an ada ayat yang tergolong muhkamad (jelas) ada pula yang mutasyabiat (perlu penjelasan alimin atau dari Allah sendiri) kalau yang kedua ini digunakan akal, dijamin akan tersesat. Itu sebabnya kita beragama harus mempunyai Imam.
    Saya ingin memberi penjelasan, tetapi ruangnya terlalu sempit untuk memberi penjelasan yang begitu banyak.
    Nabi itu menjawab masalah umatnya bukan pakai akalnya tetapi dengan wahyu. Allah mengejar manusia ini dengan banyak cara, diantaranya Al Qur’an yang tertulis, melalui utusan, melalui percontohan dalam ciptaannya atau peenjelasan langsung (laduni). Allah membuat Al Qur’an demikian agar kita jangan belajar agama dari buku, tetapi melalui imam yang Allah tunjuk yang mengajar manusia untuk bertakwa dan berujung Allah mengajar kita. (QS Al Baqoroh ayat 282)
    Jangan kita berselisih sehingga kita terpecah, hendaklah kita kembali kepada Allah dan RasulNya. Karena Rasulullah telah tiada, kita cari alimin (jamaknya ulama), yang merupakan pewaris dan pengganti nabi. Islam itu saintifik, bisa dijelaskan bila yang menjelaskan mampu (memiliki ilmu dan hikmah seperti Daud as) dan yang dijelaskan mampu menerima sudah sampai tingkat pemahamannya. Jangan berdebat itu dilarang.
    Wassalam

    • Syarif Muharim berkata:

      Saya amat sepakat dgn uraian-uraiannya. Terima kasih.

      Adapun hal2 yg diungkap dlm artikel di atas, memang masih sekedar bersifat relatif umum dan relatif masih bisa dinalar dgn akal-sehat. Sehingga memang memerlukan pendalaman lebih lanjut, yg mestinya dipandu oleh para ulama, para imam ataupun para wali yg amat berilmu.

      Sedangkan pengungkapan tsb terutama bertujuan untuk berusaha bisa menjembatani berbagai polemik / perdebatan yg masih sering amat keras dan relatif tidak pernah tuntas, antar umat Islam sendiri sampai saat ini, yg justru sebenarnya memang tidak perlu terjadi.

      Salaam…

      • Suprawoto Mertowijoyo berkata:

        Bila berselisih, kembalilah pada Allah dan RasulNya. Silahkan menghadap Allah dan bertanya yang sebenarnya bagaimana, atau cari pengganti RasulNya, dan tanyakan hal itu. Hidari perdebatan yang tidak pakai sandaran As Sunnah. Jangan menafsir Al Qur’an yang sudah jelas. dan jangan menafsir yang mutasyabi’at bila belum mampu. semoga kita tidak melebihi batas yang Allah tentukan.

  17. Anonymous berkata:

    assalamu alaikum wb.wr.mas syarif. saya al askar.al kahfi.melihat dari sudut jawaban.yang di bahas adalah.1.pandangan dari syare at. 2. dari.tarekat. 3.hakekat. 4.dan ma’rifat. adakah.pandangan.dari. 4.pelajaran tersebut. perbedaan yg mendasar. kalau sama. hanya menurut.-menurut saja.

    • Syarif Muharim berkata:

      Wa ‘alaikum salam Wr. Wb.
      Pada 4 macam sudut pandang tsb juga kurang tepat sekedar disebut “sama”. Namun seperti disebut pada bagian kesimpulan artikel di atas, lebih tepatnya ke-4 macam sudut pandang tsb “sama-sama benar” (sama-sama ada dalil-dalilnya dalam kitab suci Al-Qur’an), walau ada perbedaan pada “tingkat kesempurnaannya” masing-masing.
      Lebih jelasnya lagi, perbedaan tsb hanya berupa perbedaan fokus, sudut pandang dan cara pengungkapannya, walau semuanya justru merujuk kepada sesuatu hal yang “sama”.

      Juga seperti yg telah saya coba ungkap pada bagian “Penjelasan tentang keberadaan Allah dalam kitab suci Al-Qur’an” dlm artikel di atas, ternyata berbagai penjelasan yg sekilas seolah-olah saling berbeda tsb (sekilas seolah-olah ayat-ayat Al-Qur’an saling bertentangan), justru punya mata-rantai penghubung atau punya saling keterkaitan.
      Hal ini cukup bisa menunjukkan, bahwa ayat-ayat Al-Qur’an justru tidak saling bertentangan, seperti yg telah disinggung pada ayat QS.4:82 berikut.

      “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an?. Kalau kiranya Al-Qur`an itu bukan dari sisi-Nya, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS.4:82)

  18. Anonymous berkata:

    saya setuju apa yg disampaikan kalau kita bersandarkan kur’an dan hadisd.tapi tata bahasa.dan sasra.al qur’an dan hadisd.nya.

  19. asy syams berkata:

    terimah kasih banyak mas referensinya sangat membantu ijin kopi

  20. Abdullah Chanif berkata:

    Mohon Izin Ngopy trimakasih

  21. fransiskus berkata:

    memang ALLAH maha besar dengan segala ciptaannya di alam semesta ini didalam nama yesus kristus terpujilah ALLAH sampai selama2nya ami…………..n

  22. abahatd berkata:

    Reblogged this on abaholot and commented:
    سبحن الله

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s