Teori ‘Big Light’ vs teori ‘Big Bang’ (5): Jawab persoalan fisika

Teori 'Big Light' vs teori 'Big Bang' (5): Jawab persoalan ilmu fisika
(yang 'belum terpecahkan')

Dalam Wikipedia disebut sejumlah besar persoalan yang 'belum terpecahkan' di bidang
ilmu fisika, termasuk tentang alam semesta dan penciptaannya. Secara tidak langsung,
hal inipun menunjukkan masih banyaknya kelemahan teori Big Bang dan model alam
semestanya, bahkan termasuk kelemahan 'Model standar' yang dipakai di bidang
ilmu fisika. Berbagai jawaban berikut tentunya bukan untuk bisa menjawab
tuntas semua persoalan itu. Tetapi hanya sekedar menerapkan teori
Big Light dan model alam semestanya, dalam menjawabnya.

Seri artikel "Teori Big Light vs teori Big Bang", yaitu:

Pendahuluan

Sejumlah besar persoalan yang 'belum terpecahkan' di bidang ilmu fisika (unsolved problems in physics) yang disebut dalam Wikipedia, pada dasarnya meliputi cukup banyak bidang kajian, antara lain: kosmologi, astronomi dan astrofisika, fisika nuklir, fisika energi tinggi/fisika partikel, fisika materi terkondensasi, fisika biologi, dsb. Maka tentunya tidak semua persoalan itu bisa dijawab di bawah. Sebagai gambaran, dari 154 jumlah persoalan, relatif hanya 130 yang telah terjawab. Lingkup persoalan yang terjawab, tentunya relatif hanya terkait dengan teori Big Light dan model alam semestanya. Namun semua persoalan itu diterjemahkan dan tetap diungkapkan kembali semuanya di bawah, agar para pembaca bisa ikut mengetahui atau menjawabnya.

Sekali lagi, berbagai jawaban berikut bukan bertujuan untuk menjawab tuntas, atas tiap persoalan terkait. Namun penulis hanya mencoba memberikan solusi alternatif, sesuai dengan teori Big Light dan model alam semestanya, yang telah dikembangkannya berdasar dari kitab suci Al-Qur'an. Khususnya sebagai alternatif bagi teori Big Bang dan model alam semestanya, bahkan juga bagi 'Model standar' yang telah dipakai amat lama di bidang ilmu fisika (sejak tahun 1960), yang justru belum bisa menjawab semua persoalan tersebut, dan bahkan juga belum bisa menjawab tentang asal-muasal kehidupan dan hukum alam.

Berbagai jawaban berikut ini juga masih bersifat konseptual-filosofis, belum berupa rumusan-formula yang detail. Sehingga solusi atau jawabannya lebih berupa tawaran, bagi perubahan kerangka berpikir para ilmuwan/fisikawan, terutama kepada kerangka tentang penciptaan alam semesta oleh Allah. Juga karena 'Model standar' tersebut, sekitas tampak tersusun relatif tanpa konsep yang jelas (penuh tambal-sulam atau carut-marut). Contoh sederhananya, berbagai teori di dalamnya relatif mudah dijadikan standar, hanya karena kepopuleran penemunya; relatif banyak mengandung spekulasi dan persoalan; relatif amat lemah secara konseptual-filosofis; dsb. Sebaliknya dengan konsepnya yang relatif jelas dan sederhana, hampir semua persoalan itu relatif mudah dijawab, melalui teori Big Light.

Di lain pihaknya, artikel/posting sekarang ini sengaja ditulis, agar umat Islam juga bisa makin memahami, bahwa kaitan antara agama dan ilmu-pengetahuan memang relatif amat dekat. Sederhananya, jika para fisikawan lebih terfokus mempelajari sunatullah fisik-lahiriah (hukum alam), maka para nabi-Nya justru lebih terfokus mempelajari sunatullah moral-batiniah. Proses pencapaian pemahamannya juga sama, melalui segala pengalaman empirik yang terkait. Adapun perbedaannya, hal-hal fisik-lahiriah memang mudah diukur atau dideteksi, serta bersifat 'fana', 'semu' dan 'terbatas'. Sedangkan hal-hal moral-batiniah hanya bisa dirasakan atau diyakini, serta bersifat 'kekal', 'hakiki' dan 'relatif tak-terbatas'. Juga melalui pemahaman atas sunatullah, umat Islam justru bisa relatif mudah memahami segala sesuatu kejadian di alam semesta (lahiriah dan batiniah).

Sebelum berbagai persoalan tersebut dijawab, berikut diungkapkan terlebih dahulu rangkuman atas teori Big Light dan model alam semestanya, terutama agar para pembaca bisa memiliki gambaran umum atas jawabannya.

Rangkuman atas teori Big Light dan model alam semestanya

  • Jumlah alam semesta hanya 'satu', namun di dalamnya ada berragam alam (alam benda dan makhluk; alam nyata dan gaib; alam fisik-lahiriah dan moril-batiniah; alam dunia dan akhirat; alam ruh, rahim dan kubur; alam pria dan wanita; dsb).
  • Penciptaan seluruh alam semesta mulai dilakukan 'langsung' oleh Allah, Yang Maha Pencipta, hanya dari 3 elemen yang "paling dasar", yaitu: "Ruh" (zat penyusun dan pengendali kehidupan bagi tiap makhluk), "Materi terkecil" (zat penyusun terkecil bagi tiap benda mati) dan "Energi" (potensi atau kemampuan bagi tiap zat).
    Bahkan ketiganya juga sebagai satu-kesatuan pada sesuatu hal yang sama, karena tiap "Materi terkecil" pasti ditempati oleh suatu "Ruh" ("ditiupkan-Nya ruh"), yang mengendalikan atau menggerakkan materinya dengan "Energi", pada materinya.
  • Seluruh elemen yang "paling dasar" itu tak-terhitung jumlahnya (mengisi seluruh alam semesta), serta telah diciptakan-Nya secara 'sekaligus' dan 'bersamaan', pada saat penciptaan yang paling awal itu. Pada tiap zat ruh sekaligus ditanamkan-Nya segala "keadaan, sifat atau fitrah dasar", yang sama-sama suci-murni dan bersih dari dosa, sebagai bentuk paling awal ke-Maha Adil-an Allah kepada tiap makhluk. Di samping, umur segala makhluk juga sama (sama saat penciptaan tiap zat ruhnya).
  • Hakekat yang sebenarnya dari tiap makhluk, berada pada "ruh"-nya. Tubuh wadah fisik-lahiriahnya hanya tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah "ruh"-nya. Juga tiap makhluk bisa hidup, walau hanya berupa "ruh" (kehidupan para makhluk gaib, manusia sebelum dan setelah hidup di alam dunia, dsb).
  • Tiap perbuatan makhluk pasti mengubah berbagai "keadaan batiniah" ruhnya, dan keadaan inipun 'kekal' bersama zat ruhnya, sampai kapanpun. Tiap taubat misalnya hanya bisa 'menutupi' atau 'memperringan' beban dosa terkait (kerusakan keadaan batiniahnya), tetapi justru bukan 'menghapus' atau 'menghilangkannya' sama sekali.
    Namun Allah, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, juga memberikan segala bentuk pertolongan dan kesempatan bagi tiap makhluk, untuk bisa 'membersihkan' ruhnya.
  • Tiap makhluk diciptakan-Nya berjenis kelamin (bersifat 'feminin' atau 'maskulin'), yang justru telah membentuk segala dinamika, simetrisitas, ketidak-sempurnaan, ketidak-lengkapan dan keseimbangan pada segala zat ciptaan-Nya di alam semesta.
  • Benda mati adalah makhluk yang paling terbatas segala kebebasan dan kemampuan fisik-lahiriahnya, serta makhluknya biasa disebut "para malaikat", yang justru telah bisa menimbulkan terjadinya segala hukum alam (termasuk gaya gravitasi).
    Di lain pihaknya, manusia adalah makhluk yang paling sempurna, termasuk karena berada pada hierarki tertinggi, dalam mengendalikan atau mengatur tak-terhitung jumlah benda / makhluk, yang menyusun tubuh wadahnya (dari "materi terkecil", sel, jaringan, organ sampai anggota badannya), secara sadar ataupun tidak.
  • "Fitrah dasar" yang telah ditanamkan-Nya itu juga disebut "Fitrah Allah" (sifat-sifat terpuji dan mulia Allah), yang menjadi dasar dari penciptaan seluruh umat manusia dan penciptaan "agama-Nya yang lurus" (pada QS.30:30). Lebih umum lagi, menjadi dasar dari perwujudan pelaksanaan sunatullah (lahiriah dan batiniah).
  • "Fitrah dasar" adalah bentuk segala perintah-Nya yang sebenarnya, kepada segala makhluk (terutama kepada tak-terhitung jumlah para malaikat), bagi perwujudan pelaksanaan sunatullah ('bukan langsung' dilakukan oleh Allah sendiri), serta hanya diberikan atau diperintah-Nya 'sekali' saja (saat awal penciptaan tiap zat ruhnya).
  • Seperti halnya "fitrah dasar" atau "Fitrah Allah", tentunya sunatullah (lahiriah dan batiniah) juga bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), sejak saat awal penciptaan alam semesta, sampai akhir jaman.
  • Sunatullah pada aspek lahiriah juga biasa disebut "hukum alam" (laws of nature).
  • Sunatullah pasti berlaku setimpal atau adil, sesuai dengan segala keadaan lahiriah dan batiniah, 'tiap saatnya', pada tiap zat ciptaan-Nya (termasuk pada lingkungan terkait di sekitar zat itu). Sederhananya, sunatullah berupa 'respon dasar' lahiriah dan batiniah, dari segala zat terkait di sekitar, atas sikap, perbuatan atau perubahan keadaan pada suatu zat (termasuk pula 'respon dasar'-nya sendiri), 'tiap saatnya'.
  • Sunatullah (Sunnah Allah) bisa disebut "segala kehendak, tindakan atau perbuatan Allah di alam semesta". Walau terkadang juga disebut "aturan, hukum, ketentuan atau ketetapan Allah", karena memang pasti mengatur segala zat ciptaan-Nya.
  • Sunatullah berupa tak-terhitung jumlah aturan atau rumus proses kejadian lahiriah dan batiniah, atas segala zat ciptaan-Nya, yang berlaku 'mutlak', 'kekal', 'alamiah', 'universal', 'seragam', 'adil' (setimpal), 'netral', 'halus' dan juga 'gaib' (tersembunyi).
  • Sunatullah adalah bagian yang paling penting dari ilmu-pengetahuan 'mutlak' Allah. Sedangkan segala bentuk ilmu-pengetahuan 'relatif' manusia, pada dasarnya hanya hasil usaha pengungkapan, atas sebagian amat sangat sedikit dari ilmu-pengetahuan Allah, dengan amat berragam tingkat kebenaran, kedalaman dan kesempurnaannya.
  • Tiap pengetahuan manusia makin 'benar', jika makin mendekati atau sesuai dengan hal-hal yang berlaku 'mutlak' dan 'kekal' (seperti pengetahuan para nabi-Nya, pada tataran hikmah dan hakekatnya, bukan pada tataran tekstual-harfiahnya).
  • 'Benar' yang 'mutlak' dan 'kekal', adalah 'satu-satunya' ukuran ('tidak ada' ukuran lainnya), bahwa sesuatu hal memang berasal dari Allah, Yang Maha Benar (Haq).
    Namun sesuatu yang 'benar' justru juga bersifat 'netral' (bisa menguntungkan atau merugikan tiap makhluk). 'Benar' yang bisa menguntungkan tiap makhluk, biasanya disebut "keredhaan-Nya", yang banyak diungkap dalam ajaran-ajaran agama-Nya.
  • Penciptaan alam semesta dimulai dari suatu "sinar alam semesta" ('Big Light'), yang amat sangat putih, terang dan panas di seluruh tempat, akibat dari diciptakan-Nya "energi alam semesta" (energi panas bagi penciptaan dan berjalannya alam semesta dan segala isinya, sampai akhir jaman).
  • "Sinar alam semesta" tentunya memang belum 'tampak' pada saat paling awalnya, karena hanya berupa emisi tak-terhitung jumlah "materi terkecil". Sinarnya makin tampak, setelah terbentuk segala materi yang lebih besar (terutama berupa partikel sub-atomik), serta puncak paling terangnya saat paling banyak terbentuk photon.
  • "Energi alam semesta" yang pada awalnya seluruhnya berupa energi panas (energi kinetik dari "materi terkecil"), perlahan-lahan berubah bentuk menjadi segala jenis energi lainnya. Juga alam semesta tentunya makin lama, makin mendingin.
  • Setelah terbentuk segala jenis atom, molekul dan butir benda, lalu alam semesta berwujud berupa "gas, asap atau kabut" yang amat terang, juga di seluruh tempat.
    Pada saat ini tentunya Bumi dan segala benda langit lainnya belum terbentuk (masih menyatu, bercampur-baur atau bersatu-padu), atau masih berupa segala partikel-materi-benda yang amat sangat kecil, dan sekaligus bergerak amat sangat cepat.
  • Pada teori Big Light, selain diperkenalkan konsep "materi terkecil", sebagai partikel yang 'paling dasar' (paling kecil, ringan dan sederhana), yang tentunya juga menjadi partikel penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta.
    Juga diperkenalkan konsep "pusat alam semesta", sebagai suatu benda langit berupa lubam hitam, yang berukuran 'terbesar' dibanding seluruh benda langit lainnya di alam semesta, juga sekaligus melingkupi seluruhnya (sebagai pusat orbit relatif bagi seluruh benda langit lainnya, pada hierarki yang tertinggi).
  • Tiap "materi terkecil" pasti selalu bermuatan 'positif' ataupun 'negatif', karena suatu ruh makhluk yang menempati, mengendalikan atau menggerakkannya, memang pasti selalu bersifat 'feminin' ataupun 'maskulin', sehingga berupa magnet monopol yang sebenarnya (satu kutub) dan sekaligus materi supersimetri yang sebenarnya. Segala materi yang berukuran lebih besar, pasti berupa magnet dipol (dua kutub).
  • Tiap "materi terkecil" adalah pembawa unit energi yang terkecil (berupa 'kekuatan' tarikan ataupun tolakannya terhadap segala "materi terkecil" lainnya di sekitarnya).
  • Semua gaya dasar yang dikenal oleh manusia, yaitu: gaya elektromagnetik 'normal', gaya gravitasi, gaya interaksi kuat (gaya nuklir kuat) dan gaya interaksi lemah (gaya nuklir lemah), justru hanya tersusun dari gaya elektromagnetik yang "paling dasar", yang dimediasi oleh "materi terkecil" (gaya interaksi antar "materi terkecil").
  • Teori Big Light tidak dikembangkan berdasar semua partikel pembawa gaya dasar, pada 'Model standar', yaitu: "photon" (gaya elektromagnetik normal), "graviton" (gaya gravitasi), "gluon" (gaya nuklir kuat) dan "W & Z boson" (gaya nuklir lemah).
  • Teori Big Light juga tidak dikembangkan berdasar partikel dasar dan komposit, pada 'Model standar', seperti: fermion, lepton, quark, muon, hadron, barion, meson, gluon, boson, graviton, pion, kaon dan magnon, juga bukan materi gelap dan antipartikel / antimateri (hanya materi tertentu yang bersifat transisional dan amat tidak stabil).
  • Segala partikel dasar yang telah terbukti (dengan amat berragam komposisi muatan, massa, ukuran, sifat, dsb), hanya tersusun dari sejumlah besar "materi terkecil".

Baca pula uraian yang lebih lengkapnya pada artikel/posting terdahulu "Sunatullah sebagai wujud perbuatan Allah", seri artikel "Teori Big Light vs teori Big Bang" lainnya dan juga artikel-artikel terkait lainnya pada blog ini.

Berbagai persoalan ilmu fisika, yang belum terpecahkan

Berikut ini diungkapkan daftar sejumlah persoalan utama yang 'belum terpecahkan', dalam bidang ilmu fisika. Beberapa persoalan ini bersifat 'teoritis', dimana teori-teori yang ada tampaknya belum mampu, untuk menjelaskan suatu fenomena teramati tertentu atau hasil eksperimental. Persoalan yang lainnya bersifat 'eksperimental', dimana ada kesulitan dalam membuat eksperimen, untuk menguji teori yang diusulkan, atau untuk menyelidiki suatu fenomena secara lebih detail.

Adapun uraian-uraian lebih lengkapnya, yaitu:

Sejumlah persoalan yang 'belum terpecahkan', dalam ilmu fisika

(teks-teks di luar jawaban, dikutip dan diterjemahkan dari Wikipedia)

A.

Persoalan-persoalan teoretis

» Persoalan-persoalan berikut ini baik tentang dasar teoretisnya, maupun tentang ide-ide teoretisnya, yang kurang memiliki bukti eksperimental, dan sedang dicari satu atau keduanya, seperti kebanyakan darinya. Beberapa dari persoalan ini amat saling terkait. Sebagai contoh, dimensi ekstra atau supersimetri boleh jadi akan bisa memecahkan persoalan hierarki. Telah diperkirakan, bahwa teori gravitasi kuantum selengkapnya mestinya mampu memecahkan, sebagian besar dari persoalan ini (selain dari persoalan pulau stabilitas).
»
    • Mengapa massa yang terprediksi dari vakum kuantum, memiliki pengaruh yang kecil terhadap perluasan / ekspansi alam semesta?

      Massa atau energi di ruang vakum (termasuk ruang antariksa) justru sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadap perluasan / ekspansi alam semesta. Karena tiap materi di ruang vakum juga pasti selalu bermuatan positif, negatif atau netral (tergantung komposisi jumlah muatan positif dan negatif, pada sejumlah besar partikel yang "paling dasar" penyusunnya). Hal ini juga serupa dengan tiap materi pada benda-benda langit, termasuk yang telah bisa membentuk kutub-kutub magnetnya. Sedangkan partikel yang "paling dasar" itu sendiri pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif. Persoalannya justru hanya pada materi di ruang vakum, yang memang amat sulit bsa terdeteksi (ukurannya amat sangat kecil), serta bukan vakum atau 'kosong' sama sekali.

      Diprediksi pada teori Big Light, bahwa partikel yang "paling dasar" (partikel penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), adalah "materi terkecil", yang berupa magnet monopol yang sebenarnya (selalu bermuatan positif ataupun negatif). Sehingga segala partikel-materi-benda lainnya (selain "materi terkecil"), pasti berupa magnet dipol. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil", dan jawaban A.2.c di bawah, tentang magnet monopol.

      Seluruh materi di alam semesta justru cenderung selalu saling 'berkumpul', melalui saling interaksi antar medan elektromagnetik atau medan gravitasinya. Medan dan gaya gravitasi pada dasarnya berupa medan dan gaya elektromagnetik yang amat lemah, tiap satuan volumenya.
      Namun jika gravitasi seluruh materi pada tiap benda langit misalnya dijumlahkan (terutama lagi materi inti pusatnya, yang bermassa amat sangat tinggi), maka gravitasi tiap benda langit justru amat sangat besar, dan jangkauannya amat sangat jauh (termasuk bisa melintasi ruang vakum).
      Bahkan mustahil gravitasi bisa dihilangkan sama sekali, tetapi hanya bisa berkurang. Tentunya juga mustahil gravitasi bisa melintasi ruang vakum, jika tanpa materi di dalamnya, yang menjadi perantara atau mediator bagi gravitasi. Baca pula jawaban A.2.b di bawah, tentang persoalan hierarki gaya dasar, dan jawaban A.1.f di bawah, tentang banyak alam semesta, yang keliru.

      Perluasan / ekspansi alam semesta teramati hanya terjadi, akibat makin berkurangnya massa dari benda-benda langit, terutama yang masih memancarkan sinar atau partikelnya (bintang, quarsar, dsb). Maka benda-benda langit itu makin berkurang pula gravitasinya, dan sekaligus saling menjauh dari benda langit pusat orbitnya masing-masing.

      Hal ini berkebalikan dengan prediksi menurut teori Big Bang, bahwa adanya energi vakum yang bertekanan negatif, yang justru dianggap telah mendorong perluasan / ekspansi alam semesta (bahkan berupa percepatan), dengan melawan pengaruh gravitasi. Mustahil ada energi vakum semacam ini. Bahkan sebaliknya, segala materi di ruang vakum justru mendukung gravitasi.

    • Dapatkah mekanika kuantum dan relativitas umum terwujud sebagai teori yang sepenuhnya konsisten (mungkin sebagai teori medan kuantum )?

      Teori mekanika kuantum dan teori relativitas umum mustahil bisa tetap konsisten, terutama karena memang belum bisa menyatukan atau mengkaitkan, antara semua partikel dasar dan semua gaya dasar (belum diformulasikan berdasar partikel dan gaya yang "paling dasar").
      Bahkan teori relativitas umum lebih parah lagi, karena menyertakan konsep "kurva waktu", yang sama sekali tidak berguna. Juga teori relativitas umum mengandung singularitas dan konstanta, yang menunjukkan keterbatasan ruang lingkupnya. Baca pula jawaban A.1.d di bawah, tentang dimensi ekstra, dan jawaban A.4.c di bawah, tentang Teori segalanya ("Teori penyatuan besar").

      Di samping mestinya bisa diformulasikan berdasar partikel dan gaya yang "paling dasar", maka di dalam suatu teori yang konsisten juga mestinya bisa dihilangkan semua konstanta fisik. Hal ini tentunya mestinya sekaligus digantikan dengan segala variabel keadaan yang lebih lengkap, dan mencakup lingkup keadaan yang lebih luas. Minimalnya tiap konstanta fisik itu hanya dijadikan referensi awal, bagi segala variabel keadaan yang terkait. Dengan begitu, teorinya relatif bisa makin terhindar dari singularitas (lingkup keadaannya telah diformulasikan dengan lebih baik).

      Apakah ruang-waktu pada dasarnya bersifat kontinu atau diskrit?

      Tidak ada pilihan jawaban. Ruang-waktu tergantung bentuk pemodelan alam semesta yang dipakai oleh para ilmuwan, dalam merumuskan teorinya.
      Dimensi ruang-waktu hanya dimensi relatif (amat tergantung kepada referensi awal, pengukur, alat ukur, dsb), dan juga bisa dianggap memiliki sifat kontinu, diskrit atau sifat-sifat lainnya.

      Alam semesta justru relatif tak-terbatas ruang dan waktunya (tidak perlu dimensi dan definisi ruang-waktu sama sekali). Dimensi ruang-waktu bukan milik alam, tetapi milik pemakai atau pengukurnya. Baca pula jawaban A.1.d di bawah, tentang dimensi ekstra.

      Apakah suatu teori yang konsisten akan melibatkan gaya yang termediasi oleh hipotetik graviton, atau menjadi hasil dari struktur diskrit ruang-waktu itu sendiri (seperti dalam putaran gravitasi kuantum)?

      Dengan definisi partikel hipotetik graviton dalam Model standar, yang hanya sebagai mediator gaya gravitasi, maka keberadaannya tentunya juga belum bisa menjadi solusi yang konsisten, untuk menjawab persoalan ilmu fisika secara mendasar. Teori yang konsisten mestinya bisa menyatukan atau mengkaitkan, antara semua gaya dasar (bisa diformulasikan berdasar gaya yang "paling dasar", sekaligus beserta partikel mediatornya). Partikel mediatornya ini tentunya juga berupa partikel yang "paling dasar".

      Hal yang serupa juga terjadi atas partikel mediator gaya dasar lainnya dalam Model standar, yaitu: "photon" (gaya elektromagnetik normal), "gluon" (gaya nuklir kuat) dan "W & Z boson" (gaya nuklir lemah). Bahkan semuanya bukan partikel yang "paling dasar", tidak bermuatan (kecuali W boson) dan ber-spin bulat, menjadihan semuanya diragukan sebagai mediator yang sebenarnya. "Bagaimana mediator yang tidak bermuatan dan hanya ber-spin, bisa membawa gaya yang amat besar?". Baca pula jawaban A.2.b di bawah, tentang persoalan hierarki gaya dasar.

      Gaya yang "paling dasar" adalah "gaya elektromagnetik", yang dimediasi oleh "materi terkecil", serta sebagai penyusun bagi semua gaya dasar lainnya di atas. Dimana "materi terkecil" adalah partikel yang "paling dasar" (partikel penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), yang berupa magnet monopol yang sebenarnya (selalu bermuatan positif ataupun negatif). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Teori gravitasi kuantum tidak memerlukan "struktur ruang-waktu", "jaringan spin" (spin network), "busa spin" (spin foam), dsb, seperti dalam teori "putaran gravitasi kuantum". Terutama karena pengaruh "spin" hanya turunan atau hanya sebagian kecil dari pengaruh "muatan magnet".

      Adakah penyimpangan dari prediksi relativitas umum, pada skala yang amat kecil atau amat besar, atau dalam keadaan ekstrim lainnya, yang dihasilkan dari teori gravitasi kuantum?

      Tiap pemakaian teori relativitas umum dan teori gravitasi kuantum di sekitar daerah singularitas (daerah keadaan ekstrim), hampir pasti menghasilkan penyimpangan.

      Tidak ada fenomena atau kejadian singularitas di alam semesta, semuanya berlangsung lokal dan bertahap. Walau gabungan dari tak-terhitung jumlah kejadian lokal yang saling berkaitan, secara kulmulatif memang bisa membentuk keadaan yang amat ekstrim (skala yang amat luas pada massa, gaya, suhu, kecepatan, energi, dsb). Serta gradien perubahan keadaan pada tiap kejadian lokal itupun justru tetap relatif amat kecil. Maka perubahan keadaannya berbentuk relatif seperti piramida rendah (keadaan paling ekstrim pada puncaknya).

      Tiap teori yang menghasilkan singularitas, sama halnya dengan pemaksaan pemakaiannya, dalam lingkup skala keadaan yang terlalu luas (relatif jauh lebih luas daripada keadaan empirik dalam perumusannya).

    • Apakah lubang hitam menghasilkan radiasi termal, seperti yang diperkirakan secara teoretis?

      Tidak terjadi radiasi termal dari lubang hitam itu sendiri, karena hampir seluruh materi pada lubang hitam memiliki massa jenis dan titik lebur yang amat sangat tinggi, dan tidak akan terpancar ke luar. Kalaupun ada radiasi termal justru hanya terjadi pada awal pembentukannya, yang juga hanya bagi materi di bagian permukaan terluarnya Setelah materi di bagian ini habis, radiasi termal juga berhenti. Ukuran lubang hitam itu sendiri lalu relatif tidak berubah-ubah lagi.

      Namun jika ada akresi materi dari benda langit lainnya yang terhisap oleh lubang hitamnya, maka materi inipun bisa langsung menguap dan terpancar ke luar kembali, sebagai radiasi termal, akibat tekanan dan suhu yang amat sangat tinggi di bagian permukaan lubang hitam. Serta radiasi termal dari lubang hitam secara umum juga relatif serupa dengan radiasi termal latar belakangnya (radiasi dari luar yang sampai ke lubang hitam, lalu terpancar kembali).

      Walau tekanan dan suhunya amat sangat tinggi, namun seluruh materi di bagian inti pusat lubang hitam, justru tetap berbentuk padat dan amat stabil.

      Apakah radiasi ini berisi informasi tentang struktur internalnya, seperti yang disarankan oleh dualitas pengukuran-gravitasi, ataupun tidak, seperti yang tersirat oleh perhitungan aslinya Hawking?

      Struktur materi di bagian inti pusat lubang hitam justru hampir mustahil bisa diketahui, terutama karena materinya memang tidak ada yang terpancar ke luar, sebagai radiasi termal. Bahkan hal ini serupa dengan inti pusat bulan, planet dan bintang, yang juga hampir mustahil bisa diketahui.

      Manusia relatif hanya bisa mengetahui materi di bagian permukaan terluar atau bagian dinding pelindung dari inti pusat bulan, planet dan bintang, yang biasanya hanya berupa Besi (Fe) dan Nikel (Ni). Setelah suatu bintang berubah menjadi lubang hitam, materi di bagian permukaan terluarnya tentunya bukan hanya berupa Besi (Fe) dan Nikel (Ni), namun relatif jauh lebih tinggi titik leburnya dan stabil pada suhu yang amat stinggi. Baca pula jawaban A.3.b di bawah, tentang nuklei dan astrofisika nuklir.

      Hal itu juga tidak terkait dengan dualitas pengukuran-gravitasi. Terutama karena gravitasi bisa menembus segala benda sampai amat jauh, sebaliknya pengukuran tidak bisa. Lebih jelasnya, informasi atas bagian inti pusat lubang hitam mustahil diperoleh dari hasil pengukuran secara langsung (tidak ada radiasi langsung darinya), tetapi hanya bisa diprediksi atau diukur secara tak-langsung, dari segala pengaruhnya di luar (termasuk dari bagian permukaan terluarnya).

      Jika tidak, dan lubang hitam dapat menguap ke luar, apakah yang terjadi pada informasi yang tersimpan di dalamnya (mekanika kuantum tidak menyediakan adanya penghancuran informasi)?

      Materi pada bagian inti pusat lubang hitam justru tidak ada yang menguap dan terpancar ke luar. Ukuran lubang hitam juga relatif tidak berubah-ubah (amat stabil). Serta penghancuran informasi tentang lubang hitam juga tidak terjadi, karena memang tidak ada informasi langsung darinya.

      Atau apakah radiasi berhenti di beberapa titik meninggalkan sisa-sisa lubang hitam?

      Walau ada radiasi dari lubang hitam, hal ini hanya terjadi akibat adanya akresi materi dari benda langit lainnya yang terhisap oleh lubang hitamnya (bukan materi dari inti pusat lubang hitam).

      Kalaupun ada sisa-sisa terakhir dari awal pembentukan lubang hitam, yang masih bisa diketahui, justru relatif hanya berupa Besi (Fe) dan Nikel (Ni), sebagai materi yang diketahui oleh manusia relatif paling berat dan stabil di alam bebas (materi di bagian permukaan terluarnya). Setelah Besi (Fe) dan Nikel (Ni) inipun habis, di bagian permukaan terluarnya tentunya hanya tersusun dari materi yang relatif jauh lebih tinggi titik leburnya dan stabil pada suhu yang amat stinggi.

      Adakah cara lain untuk menyelidiki struktur internalnya, jika struktur itu memang ada?

      Hampir tidak ada cara untuk menyelidiki secara langsung atas bagian inti pusat lubang hitam, walau strukturnya sendiri memang ada. Struktur materi di bagian inti pusat lubang hitam memiliki massa jenis, tekanan dan titik lebur yang amat sangat tinggi, serta berbentuk padat dan amat stabil (berada di balik dinding pelindung atau bagian permukaan terluarnya).

      Tetapi secara tidak langsung, struktur inti pusat lubang hitam bisa diselidiki, relatif hanya melalui ukuran dan kekuatan gravitasinya (termasuk kekuatan "lensa gravitasinya"), sambil dibandingkan dengan struktur inti pusat benda-benda langit lainnya, yang bisa lebih mudah diketahui.

    • Apakah alam memiliki lebih dari empat dimensi ruang-waktu?

      Dimensi ruang-waktu adalah dimensi fisik yang dipakai oleh manusia, untuk mendeskripsikan posisi atau letak tiap zat fisik di alam semesta (termasuk manusia sendiri), terhadap suatu titik referensi atau kerangka acuan fisik tertentu. Sehingga dimensi ruang-waktu, seperti halnya semua dimensi lainnya, pasti bersifat "relatif" (amat tergantung kepada referensi awal, pengukur, alat ukur, dsb). Tentunya posisi atau letak tiap zat fisik telah cukup hanya dideskripsikan, melalui 3 + 1 dimensi ruang-waktu.

      Sedangkan hukum alam atau sunatullah sama sekali tidak terkait dengan dimensi ruang-waktu (hanya berlaku sesuai dengan segala keadaan "tiap saatnya", pada tiap zat). Alam semesta justru relatif tak-terbatas ruang dan waktunya (tidak perlu dimensi dan definisi ruang-waktu sama sekali). Juga relatif tidak ada kaitan antara alam semesta (beserta segala benda langitnya), dengan ruang tempatnya berada (alam semesta hanya 'mengambang' di dalamnya). Ruangnya tentunya justru tidak berkembang mengikuti pergerakan segala benda langit di alam semesta. Dimensi ruang-waktu bukan milik alam, tetapi milik pemakai atau pengukurnya.

      Sunatullah sama sekali tidak tergantung kepada ruang dan waktu, yang bukan berupa variabel keadaan fisik yang sebenarnya (hanya dimensi buatan manusia). Sederhananya, sunatullah yang berlaku atas suatu zat, tidak tergantung kepada posisi atau letak zat itu (ruang dan waktunya).

      Namun dalam merumuskan, memformulasikan atau mendefinisikan teorinya, tentang keadaan dan sifat zat fisik terkait di alam semesta, tentunya manusia perlu mendeskripsikannya melalui dimensi ruang-waktu. Hal ini tentunya agar teorinya itu juga bisa disimulasikan, diuji ataupun dibuktikan secara berulang, oleh pihak lainnya (perlu dimensi atau kerangka acuan bersama).
      Lebih khususnya, dimensi ruang-waktu diperlukan oleh manusia, untuk bisa mengsimulasikan, mengiterasikan atau mengintegrasikan berbagai perubahan keadaan, yang dialami oleh suatu zat fisik, terhadap suatu referensi atau posisi awalnya.

      Maka segala teori atau hukum fisik yang dirumuskan oleh para ilmuwan, yang mendalilkan "kurva waktu" dan "perjalanan waktu", justru sama sekali tidak terkait dengan kejadian yang sebenarnya di alam semesta. Hal ini hanya bentuk "persepsi" mereka, tentang alam semesta.

      Konsep "kurva waktu" dan "perjalanan waktu" sama sekali tidak berguna untuk dipakai. Karena waktu pasti selalu maju ke depan, secara bertahap (mustahil maju jauh ke depan atau mundur ke belakang). Tetapi konsep "kurva ruang" masih berguna, bagi deskripsi bentuk geometri yang cukup rumit.

      Jika demikian, apakah ukurannya?

      Tidak ada lebih dari empat dimensi ruang-waktu.

      Apakah dimensi adalah deskripsi dasar dari alam semesta, atau hasil yang muncul dari hukum-hukum fisik lainnya?

      Tidak ada hukum-hukum fisik "lainnya" (tidak ada "banyak alam semesta", "banyak dunia" ataupun "alternatif sejarah"), yang berbeda daripada hukum-hukum fisik yang telah dikenal oleh manusia. Hal yang ada hanya hukum-hukum fisik yang 'baru', ataupun hanya hasil 'perbaikan' atas hukum-hukum fisik yang telah ada. Baca pula jawaban A.1.f di bawah, tentang banyak alam semesta, yang keliru.

      Lebih jelasnya, jumlah alam semesta hanya 'satu', serta hukum alam atau sunatullah yang berlaku di dalamnya, juga hanya 'satu' macam. Sedangkan hukum-hukum fisik, adalah hasil perumusan atau pengungkapan oleh manusia atas sunatullah (dengan amat berragam tingkat kebenarannya). Serta sunatullah tidak pernah berubah (kekal), sejak awal penciptaan alam semesta, sampai akhir jaman.

      Dimensi ruang-waktu adalah deskripsi dasar dan universal, tentang posisi atau letak tiap zat fisik di alam semesta, namun bukan hasil yang muncul dari hukum-hukum fisik.
      Lebih jelasnya, hukum-hukum fisik yang dirumuskan, diformulasikan atau didefinisikan oleh manusia, 'memerlukan' dimensi atau kerangka acuan bersama, bagi simulasi, pengujian atau pembuktikannya.

      Dapatkah "terlihat" secara eksperimental, bukti dari dimensi ruang yang lebih tinggi?

      Tidak ada dimensi ruang, yang lebih tinggi.

    • Apakah teori inflasi kosmik yang benar, dan jika demikian, apakah rincian dari jaman inflasi ini?

      Teori inflasi kosmik, seperti halnya yang mendasari teori Big Bang, pada dasarnya tidak benar (tidak dipakai sebagaimana semestinya). Terutama karena teori Big Bang justru mengabaikan materi, struktur dan proses pembentukan bola raksasa, yang amat sangat tinggi kerapatan dan suhunya, yang menjadi sumber terjadinya Big Bang; mengabaikan materi, struktur dan proses pembentukan inti pusat benda-benda langit, yang massa dan gravitasinya amat sangat besar; mengabaikan fluktuasi kuantum; mengabaikan hukum kekekalan energi dan momentum; mengabaikan pengaruh turbulensi; dsb. Lebih umumnya lagi, teori Big Bang mengabaikan sebagian dari hukum alam atau sunatullah.

      Penyebaran materi secara amat sangat cepat dan eksponensial akibat fluktuasi kuantum, seperti menurut teori inflasi kosmik, mestinya hanya melibatkan partikel-partikel yang amat sangat ringan saja (terutama partikel sub-atomik), dan tidak melibatkan partikel-partikel yang amat sangat berat (terutama materi pada inti pusat benda-benda langit), yang memang amat sangat besar massa dan gravitasinya. Karena memang mustahil benda langit bisa bergerak mendekati kecepatan cahaya, seperti partikel sub-atomik. Bahkan sesuai hukum kekekalan momentum, makin ringan materi juga makin cepat pergerakkannya, jika momentum awalnya sama (saat awal Bing Bang). Maka penyebaran materi pada Bing Bang justru "tidak homogen" (bervariasi sesuai massanya).

      Kejadian supernova yang sering dianalogikan dengan kejadian Big Bang, justru bukan terjadi dengan sendirinya (termasuk bukan akibat fluktuasi kuantum), tetapi akibat adanya akresi materi dari luar bintang terkait. Energi dari fluktuasi kuantum (seperti energi ledakan nuklir di Matahari) justru tidak cukup bagi terjadinya supernova. Bahkan energi supernova hanya bisa menebarkan partikel-materi yang relatif amat sangat ringan (partikel sub-atomik, gas dan debu). Juga materi di bagian inti pusat bintang terkait, sama sekali tidak ikut hancur bercerai-berai. Bahkan ledakan nuklir selama milyaran tahun di permukaannya, sama sekali tidak menghancurkan inti pusatnya (bintangnya hanya berubah menjadi lubang hitam atau bintang neutron).

      Sama sekali tidak ada penjelasan dalam teori Big Bang, tentang proses pembentukan materi bagi inti pusat benda-benda langit. Bahkan benda-benda langit dianggap bisa terbentuk, hanya dari sekumpulan besar gas dan debu, yang 'runtuh' atau 'termampatkan' begitu saja (sama sekali tanpa melibatkan peran materi bagi inti pusatnya).

      Perluasan / ekspansi alam semesta teramati bukan akibat inflasi kosmik, tetapi akibat makin berkurangnya massa dari benda-benda langit, terutama yang masih memancarkan sinar atau partikelnya (bintang, quarsar, dsb). Maka benda-benda langit itu perlahan makin berkurang pula gravitasinya, dan sekaligus saling menjauh dari benda langit pusat orbitnya masing-masing.
      Jika pancaran atau perpindahan partikel antar benda langit telah berakhir, maka perluasan / ekspansi alam semesta teramati tentunya juga pasti berakhir.

      Lebih lanjutnya lagi, perluasan / ekspansi alam semesta teramati juga masih tetap berada dalam lingkup pengaruh gravitasi dari "pusat alam semesta", sebagai benda langit yang terbesar di seluruh alam semesta, berupa lubang hitam, dan menjadi pusat orbit relatif bagi seluruh benda langit lainnya, pada hierarki yang tertinggi.

      Apakah hipotetik medan inflaton yang menimbulkan inflasi?

      Tidak ada komentar, tentang inflaton dan inflasi. Relatif hampir tidak ada peran yang khusus dari inflasi kosmik, dalam penciptaan alam semesta.

      Jika inflasi terjadi pada satu titik, apakah terjadi dengan sendirinya melalui inflasi dari fluktuasi mekanika kuantum, dan apakah juga bisa terus-menerus terjadi sampai ke tempat-tempat yang terlalu jauh?

      Perluasan / ekspansi alam semesta teramati bukan berpusat pada "satu titik", tetapi pada "banyak titik" (pada benda-benda langit pusat orbit). Walau pada puncak hierarkinya memang berpusat pada "satu titik" (pada "pusat alam semesta"). "Pusat alam semesta" adalah benda langit yang terbesar di seluruh alam semesta, berupa lubang hitam, dan menjadi pusat orbit relatif bagi seluruh benda langit lainnya, pada hierarki yang tertinggi.

      Ekspansi menurut teori Big Bang berbeda daripada menurut teori Big Light. Ekspansi menurut teori Big Bang, justru terjadi akibat adanya proses inflasi, yang berlangsung terus-menerus relatif tanpa akhir atau ujung, serta makin dipercepat (berakselerasi). Juga pemicu ekspansi ataupun inflasinya, adalah adanya "energi gelap" sejak saat awal penciptaan alam semesta, yang dianggap bisa mendorong segala materi, dari yang bermassa paling ringan sampai yang paling berat, secara amat sangat cepat dan eksponensial, dan juga sekaligus dianggap bisa melawan gravitasi antar materi.

      Sedangkan ekspansi menurut teori Big Light, justru hanya berlangsung secara terbatas (suatu saat pasti akan berhenti). Seluruh benda langit di alam semesta, pasti tetap berada dalam lingkup pengaruh medan magnet dan medan gravitasi dari "pusat alam semesta". Pemicu ekspansinya adalah adanya pengurangan massa dari benda-benda langit (terutama bintang-bintang), terutama akibat pancaran materinya (radiasi sinarnya), maka gravitasinya juga makin berkurang. Dan sekaligus benda-benda langit itu saling makin menjauh dari benda langit pusat orbitnya masing-masing. Kecepatan ekspansi tentunya tergantung tingkat laju pengurangan massa, pada seluruh benda langit di alam semesta (bisa makin cepat ataupun makin lambat). Ekspansi pasti berhenti, pada saat tidak ada lagi pengurangan massa tersebut (tidak ada radiasi, pancaran ataupun perpindahan materi antar benda langit).

      Inflasi, seperti menurut teori Big Bang, justru mustahil bisa terjadi "dengan sendirinya" (mandiri), misalnya akibat dari fluktuasi kuantum. Supernova juga bukan terjadi dengan sendirinya, tetapi justru akibat adanya akresi atau pertambahan materi "dari luar" bintang mati, yang mengalami supernova. Baca pula jawaban B.3.f di bawah, tentang supernova.

      Fluktuasi kuantum yang terjadi pada suatu bintang, pada puncaknya hanya bisa menghasilkan ledakan nuklir (seperti pada Matahari), yang hanya sebagian amat sedikit dari materinya yang terpancar ke luar, sebagai radiasi sinar kosmik. Radiasi sinar kosmik tersusun dari partikel-partikel yang amat kecil dan ringan (partikel alpha, beta, gamma, dsb), dan sama sekali bukan dari partikel-partikel yang relatif amat sangat berat (terutama materi pada inti pusat bintangnya).
      Juga inflasi dari fluktuasi kuantum mustahil bisa terjadi 'terus-menerus', tetapi hanya bisa terjadi pada saat dan pada titik awalnya saja.

      Sedangkan fluktuasi kuantum pada kejadian inflasi, yang diprediksi oleh teori Big Bang, justru dianggap bisa menebarkan segala jenis materi, dari yang bermassa paling ringan, sampai yang paling berat (menebarkan "seluruh" materi pada suatu bola raksasa yang amat sangat rapat dan panas). Bahkan segala materi inti pusat, yang menjadi embrio bagi pembentukan galaksi-galaksi juga dianggap telah terbentuk atau tersebar, pada saat kejadian inflasi itu.

      Hal ini cukup jelas menunjukkan, para penganut teori Big Bang telah keliru menganggap, bahwa ledakan nuklir dan supernova bisa menghancurkan inti pusat dari benda langit terkait. Padahal ledakan nuklir yang telah terjadi terus-menerus pada bintang, selama "milyaran tahun", justru sama sekali tidak menghancurkan bagian inti pusat bintangnya.
      Padahal supernova hanya mengubah suatu bintang mati, menjadi lubang hitam atau bintang neutron (sama sekali bukan menghancurkan bagian inti pusatnya).
      Padahal tumbukan dari segala benda langit lainnya, yang pernah dialami selama "milyaran tahun" oleh suatu benda langit (terutama benda langit yang berupa bola, termasuk Bumi dan Bulan), bahkan juga sama sekali tidak menghancurkan bagian inti pusatnya.

      Teori Big Bang memang cukup banyak mengambil analogi dari kejadian supernova, namun secara keliru. Padahal sama sekali belum jelas terjawab, bagaimana cara suatu bola raksasa yang amat sangat rapat dan panas, yang menjadi cikal-bakal Big Bang, justru bisa "terbentuk" (terkumpul) dan bisa "hancur" (terpisah).

    • Adakah alasan fisik untuk memperkirakan alam semesta lain, yang memang tidak teramati?

      Jumlah alam semesta hanya satu (tidak ada alam semesta lainnya). Bukti fisiknya cukup jelas, dari adanya gaya gravitasi antar materi (gaya tarik-menarik). Sehingga seluruh materi dalam ruang 'tak-terbatas', tempat alam semesta berada, justru cenderung selalu 'berkumpul'. Seluruh materi itupun tentunya telah menyusun alam semesta, tempat manusia berada sekarang ini. Benda-benda langit misalnya, juga saling 'berkumpul' dalam tiap sistemnya, secara berhierarki (sistem planet, bintang, galaksi, kumpulan galaksi, dan alam semesta), sekaligus beserta benda langit pusat orbitnya masing-masing.

      Bahkan hal yang serupa terjadi pada sistem atom, sebagai sistem yang terkecil (skala kuantum), dimana 'berkumpul' berbagai jenis partikel sub-atomik di dalamnya. Namun dengan sifatnya yang paling energik (kecepatannya paling tinggi, pada tingkat kecepatan cahaya), juga tentunya partikel sub-atomik paling dinamis dalam 'berkumpul' (paling mudah pindah tempat 'berkumpul', dari atom ke atom). Hal yang sebaliknya tentunya bagi benda-benda langit, sebagai benda dan sistem yang terbesar (skala makrokosmos). Dimana tiap benda langit pasti selalu berada dalam lingkup pengaruh gravitasi, dari benda langit pusat orbitnya masing-masing.

      Dan seperti halnya berbagai sistem yang lebih kecil di dalamnya, sebagai sistem yang terbesar tentunya alam semesta juga memiliki "pusat alam semesta", yang berupa benda langitnya yang terbesar dan pusat orbit relatif bagi seluruh benda langit lainnya, pada hierarki yang tertinggi.

      Sebagai contoh: adakah mekanika kuantum dengan "alternatif sejarah" atau "banyak dunia"?

      Jumlah alam semesta hanya 'satu', serta hukum alam atau sunatullah yang berlaku di dalamnya, juga hanya 'satu' macam, yang bahkan tidak pernah berubah (kekal), sejak awal penciptaan alam semesta, sampai akhir jaman. Maka tidak ada "alternatif sejarah" atau "banyak dunia" dalam hukum-hukum fisik (termasuk teori mekanika kuantum), sebagai hasil perumusan atau pengungkapan oleh manusia atas sunatullah (dengan amat berragam tingkat kebenarannya).

      Adakah alam semesta yang "lain", dengan hukum-hukum fisik yang dihasilkan dari cara-cara lain, yang melanggar simetri yang nyata atas gaya-gaya fisik pada energi tinggi, yang mungkin terletak amat jauh akibat inflasi kosmik?

      Tidak ada alam semesta yang "lain", dan juga tidak ada hukum alam atau sunatullah yang "lain". Maka mestinya juga tidak ada hukum-hukum fisik (sebagai hasil perumusan atau pengungkapan oleh manusia atas sunatullah), yang dihasilkan dari cara-cara yang "lain". Apalagi hukum alam atau sunatullah justru bersifat mutlak (pasti terjadi / berlaku) dan kekal (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), serta pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan 'tiap saatnya', pada tiap zat (termasuk pada lingkungan terkait di sekitar zat itu).

      Pelanggaran simetri pasti terjadi secara spontan, kapanpun, dimanapun dan pada tingkat energi berapapun (jika keadaan terkait telah memungkinkan), terutama karena kecenderungan materi untuk selalu mencapai keadaan keseimbangan atau kestabilannya (terutama keseimbangan muatan dan medan elektromagnetik). Namun pada keadaan dan tingkat energi yang berbeda, tentunya juga bisa relatif berbeda bentuk pelanggaran simetrinya. Baca pula jawaban A.2.e di bawah, tentang supersimetri.

      Juga sunatullah justru pasti berlaku "lokal" (sesuai segala keadaan pada "tiap zat"), walau lingkup lingkungan terkait di sekitar, bisa amat sangat jauh atau luas (khususnya pada skala kuantum). Bahkan 'jarak' antara suatu zat dengan segala zat lain, yang ikut mempengaruhi keadaan zat itu, justru juga sama sekali tidak melanggar fenomena lokal. Karena segala pengaruh dari luar pasti tetap harus mencapai 'langsung' zat itu, termasuk melalui sejumlah besar partikel mediator atau perantara. Walau tidak semua partikel mediatornya bisa dideteksi atau diketahui 'langsung'.

      Mustahil ada pelanggaran simetri yang bisa terjadi, tanpa melalui rangkaian partikel mediator, sekalipun sumber awal yang mempengaruhinya terletak amat jauh. Sedangkan inflasi kosmik hampir mustahil bisa menimbulkan pelanggaran simetri, karena partikel bergerak secara radial dan amat sangat cepat (hampir tidak ada interaksi antar partikel selama pergerakannya).

      Apakah penggunaan prinsip antropik untuk memecahkan dilema kosmologis global bisa dibenarkan?

      Dengan bukti fisik yang cukup jelas, bahwa jumlah alam semesta hanya satu (tidak ada alam semesta lainnya), maka prinsip antropik itu justru tidak diperlukan (tidak relevan). Bahkan dilema kosmologis global itu sendiri mestinya tidak ada.

      Sedangkan prinsip antropik menyatakan, bahwa "pengamatan secara fisik atas alam semesta, mestinya sesuai dengan kesadaran makhluk yang mengamatinya", atau bahwa "hukum alam dan semua parameter alam semesta memiliki harga-harga, yang konsisten dengan keadaan bagi kehidupan di dalamnya (seperti di Bumi)". Padahal sekilas tampak cukup jelas, bahwa prinsip antropik inipun bertujuan untuk bisa mengakomodir kemungkinan adanya segala alam semesta lainnya, yang justru tidak ada.

      Juga di lain pihaknya, segala makhluk di alam semesta justru amat berragam (makhluk gaib, sel, tumbuhan, hewan, manusia, dsb). Bahkan segala ruh makhluk gaib dan ruh makhluk nyata (yang belum lahir dan sudah wafat), justru bisa hidup dan berada dimana saja di alam semesta (tanpa perlu keadaan yang khusus). Maka keberadaan kehidupan segala makhluk nyata tingkat tinggi di Bumi misalnya (termasuk manusia), justru terjadi secara "kebetulan" (segala keadaan di Bumi memungkinkan), termasuk pula di planet-planet serupa lainnya di antara ratusan milyar planet.

      Namun segala fenomena fisik di seluruh alam semesta (hukum alam atau sunatullah), justru berlaku sama atau seragam bagi segala makhluk, sesuai dengan segala keadaannya masing-masing (bukan tergantung kesadaran pada tiap makhluk). Serta keadaan di alam semesta "tidak selamanya" harus konsisten dengan kehidupan makhluk nyata (ada kematian dan akhir jaman).

    • Dapatkah singularitas tidak tersembunyi di balik cakrawala kejadian, yang dikenal sebagai "singularitas yang jelas", muncul dari kondisi awal yang realistis, atau apakah mungkin untuk membuktikan beberapa versi "hipotesis sensor kosmik" dari Roger Penrose, yang menyatakan bahwa hal ini mustahil?.

      Tidak ada singularitas di alam semesta (tidak ada singularitas yang "jelas" dan "tersembunyi"), karena segala keadaan di dalamnya justru berubah secara relatif perlahan dan bertahap (dari hasil berlakunya hukum alam atau sunatullah), sesuai dengan segala keadaan atau kondisi awal yang realistis "tiap saatnya", pada tiap zat (termasuk pada lingkungan di sekitar zat itu). Walau perubahan keadaan atau kondisi zatnya pada puncaknya memang bisa mencapai harga-harga yang amat ekstrim (massa jenis, tekanan dan suhu materi yang amat sangat tinggi pada inti pusat benda langit dan pada lubang hitam, ledakan nuklir pada bintang, dsb).

      Materi yang mengalami keadaan amat ekstrim itupun, hanya sebagian amat sedikit daripada seluruh materi yang terlibat pada suatu kejadian, serta keadaannya hanya bisa tercapai akibat dukungan keadaan pada segala materi terkait di sekitarnya. Perubahan keadaannya berbentuk relatif seperti piramida rendah (keadaan paling ekstrim pada puncaknya).

      Singularitas dari hasil hukum-hukum fisik buatan manusia, pada dasarnya hanya bisa terjadi, karena kurang tepat atau kelirunya formulasi model matematiknya, dalam mengsimulasikan kejadian di alam semesta. Terutama lagi karena terlalu memaksakan formulasi bagi lingkup keadaan tertentu, untuk diterapkan dalam lingkup skala keadaan yang terlalu luas (relatif jauh lebih luas daripada keadaan empirik dalam perumusannya).

      Hipotesis sensor kosmik yang menyatakan, bahwa "singularitas yang jelas di alam semesta hanya terjadi pada kejadian Big Bang", juga keliru, karena memang tidak ada kejadian Big Bang.

      Segala fenomena atau kejadian di alam semesta mestinya bisa dinalar ataupun dijangkau oleh manusia (tidak ada yang benar-benar tersembunyi). Walau memang tidak semuanya bisa diukur, dideteksi atau diamati secara langsung, serta tidak semuanya bisa dicapai dengan mudah.

      Demikian pula, akankah kurva waktu tertutup, yang muncul pada beberapa solusi persamaan relativitas umum (dan yang menyiratkan kemungkinan perjalanan waktu secara mundur), akan tercakup oleh teori gravitasi kuantum, yang menyatukan relativitas umum dengan mekanika kuantum, seperti yang disarankan oleh "dugaan perlindungan kronologi" dari Stephen Hawking?

      Tidak ada "kurva waktu" dan "perjalanan waktu" secara mundur, terutama karena waktu pasti selalu maju ke depan, secara bertahap (mustahil maju jauh ke depan atau mundur ke belakang). Karena hukum alam atau sunatullah justru bersifat mutlak (pasti terjadi / berlaku) dan kekal (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), serta pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan 'tiap saatnya', pada tiap zat (termasuk pada lingkungan terkait di sekitar zat itu). Sunatullah sama sekali tidak tergantung kepada ruang dan waktu, yang bukan berupa variabel keadaan fisik yang sebenarnya (hanya dimensi buatan manusia). Baca pula jawaban A.1.h di bawah, tentang panah waktu, dan jawaban A.1.d di atas, tentang dimensi ekstra.

      Maka adanya "kurva waktu" pada teori relativitas umum, tentunya suatu kekeliruan dan bahkan sama sekali tidak berguna, termasuk tentunya jika diterapkan pula pada teori gravitasi kuantum.

      Hipotesis "dugaan perlindungan kronologi" yang menyatakan, bahwa "hukum alam mencegah segala perjalanan waktu, kecuali hanya pada skala sub-mikroskopik.", justru juga keliru.

    • Apakah fenomena yang berbeda antara perjalanan maju dan mundurnya waktu, bisa menjelaskan tentang sifat waktu?

      Mustahil ada "perjalanan waktu", secara maju jauh ke depan atau mundur ke belakang. Sifat ataupun perjalanan waktu pasti selalu maju ke depan, secara perlahan dan bertahap.

      Hukum alam atau sunatullah justru bersifat mutlak (pasti terjadi / berlaku) dan kekal (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), serta pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan 'tiap saatnya', pada tiap zat (termasuk pada lingkungan terkait di sekitar zat itu). Sunatullah sama sekali tidak tergantung kepada ruang dan waktu, yang bukan berupa variabel keadaan fisik yang sebenarnya (hanya dimensi buatan manusia). Baca pula jawaban A.1.d di atas, tentang dimensi ekstra.

      Kenapa waktu berbeda dari ruang?

      Waktu dan ruang memang dimensi fisik yang berbeda, untuk menjadi referensi, rujukan, ukuran ataupun kerangka acuan, bagi hal-hal yang juga berbeda, tentang posisi atau letak tiap zat fisik. Lebih jelasnya, dimensi ruang adalah referensi tentang posisi "pada" suatu saat tertentu. Serta dimensi waktu adalah referensi tentang posisi "terhadap" suatu saat tertentu.

      Mengapa pelanggaran CP teramati pada peluruhan gaya lemah tertentu, tetapi tidak pada gaya lainnya?

      Pada semua bentuk pelanggaran simetri (C, CP, CPT, dsb, dengan C = konjugasi muatan, P = paritas dan T = waktu balik), serta pada semua tingkat energi, memang tidak harus melibatkan 'semua' gaya dasar yang telah dikenal, yaitu: gaya elektromagnetik 'normal', gaya gravitasi, gaya interaksi kuat (gaya nuklir kuat) dan gaya interaksi lemah (gaya nuklir lemah). Lebih tepatnya, kontribusi dari masing-masing gaya dasar itu bisa berbeda-beda pada tiap pelanggaran simetri.

      Juga karena tiap gaya dasar itu bukan berupa gaya yang "paling dasar", tentunya tampak bisa meluruh, berkurang, menghilang atau berubah bentuk, pada berbagai kejadian. Di lain pihaknya, jika ditinjau berdasar gaya yang "paling dasar", justru peluruhan mestinya relatif mustahil terjadi.

      Sedangkan gaya yang "paling dasar", yang menjadi sumber yang paling awal, bagi terjadinya semua gaya dasar lainnya yang telah dikenal, justru berupa "gaya elektromagnetik". Serta gaya yang "paling dasar" ini dimediasi oleh partikel yang "paling dasar", yang berupa "materi terkecil". Maka tinjauan yang paling tepat di antara gaya-gaya dasar, yang terlibat pada tiap pelanggaran simetri, justru mestinya berupa gaya elektromagnetik. Gaya-gaya dasar lainnya tentunya mestinya telah diformulasikan pula kaitannya, dengan gaya elektromagnetik. Baca pula jawaban A.2.b di bawah, tentang persoalan hierarki gaya dasar, dan jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Usaha untuk mencari kaitan antara semua gaya dasar semacam ini, sampai sekarang masih menjadi persoalan terbesar di bidang ilmu fisika (seperti melalui perumusan "Teori penyatuan besar", "Teori segalanya", dsb), yang belum tuntas terselesaikan. Dimana salah-satu persoalan utamanya, berupa segala keterbatasan pada alat-alat pengukuran, dalam mendeteksi seluruh partikel yang menjadi mediator atau pembawa gaya-gaya dasarnya. Bahkan "materi terkecil" di atas memang mustahil bisa terdeteksi langsung.

      Apakah pelanggaran CP sebagai hasil dari hukum termodinamika kedua, atau apakah pelanggaran CP pada gaya lemah tertentu dan pada gaya lainnya memiliki panah waktu yang terpisah?

      Entropi di alam semesta secara keseluruhan pasti selalu meningkat, seperti disebut pada hukum termodinamika kedua. Dimana entropi adalah jumlah energi yang tidak termanfaatkan selama konversi energi. Dengan kata lain, suhu ataupun energi panas di alam semesta (di suatu sistem), cenderung pasti selalu berkurang, karena selalu diserap oleh segala materi di dalamnya.

      Namun pelanggaran CP bukan akibat dari peningkatan entropi, yang hanya berupa fenomena umum di suatu sistem. Pelanggaran CP justru terjadi akibat dari kecenderungan materi, untuk selalu mencapai keadaan keseimbangan atau kestabilannya (terutama keseimbangan muatan dan medan elektromagnetik). Serta panah waktu sama sekali tidak ada yang terpisah. Baca pula jawaban A.2.e di bawah, tentang supersimetri, jawaban B.2.a di bawah tentang Pelanggaran atas simetri listrik arus lemah, dan jawaban A.2.a di bawah, tentang Mekanisme Higgs.

      Adakah pengecualian untuk prinsip kausalitas?

      Sama sekali tidak ada pengecualian terhadap prinsip kausalitas (sebab-akibat), karena hukum alam atau sunatullah, justru bersifat mutlak (pasti terjadi / berlaku) dan kekal (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), serta pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan "tiap saatnya", pada tiap zat (termasuk pada lingkungan di sekitar zat itu).

      Persoalan yang menjadikannya 'seolah-olah' memiliki pengecualian, umumnya hanya terjadi karena memang tidak semua sebab dan akibatnya bisa diukur, dideteksi atau diamati secara langsung (termasuk segala zat yang terlibat, segala proses dan segala variabel keadaannya), serta tidak semuanya bisa dicapai dengan mudah.

      Adakah masa lalu yang mungkin tunggal?

      Tiap waktu justru pasti bersifat tunggal, karena "secara keseluruhan atau global", mustahil ada segala keadaan yang persis sama di alam semesta, pada dua waktu yang berbeda. Walau "secara terbatas atau lokal", memang bisa terjadi segala keadaan yang persis sama, pada dua waktu yang berbeda.

      Juga sejak awal penciptaannya, alam semesta "secara keseluruhannya" justru selalu bersifat dinamis (selalu berubah keadaannya). Walau kedinamisan keadaan fisiknya justru pasti makin berkurang pula, bersama dengan berjalannya waktu. Hal ini terutama karena "keseluruhan" energi panas di alam semesta (energi kinetik partikel mikroskopik), secara perlahan selalu makin berkurang (cenderung selalu berubah bentuk, menjadi berbagai jenis energi lainnya).

      Namun sekali lagi "secara terbatas atau lokal", perubahan dari waktu ke waktu juga berlangsung relatif amat sangat perlahan, maka seolah-olah kurang jelas dirasakan langsung perubahannya. Panas sinar Matahari misalnya, dirasakan relatif sama dari jaman ke jaman, padahal umur dan panas sinar Matahari justru makin berkurang.

      Apakah momen fisik di saat sekarang ini berbeda daripada di masa lalu dan di masa depan, atau apakah hal ini merupakan sifat yang muncul dari kesadaran?

      "Secara keseluruhan atau global", segala keadaan atau momen fisik di alam semesta, pasti selalu berubah atau berbeda, dari waktu ke waktu. Hal ini terutama karena "keseluruhan" energi panas di alam semesta (energi kinetik partikel mikroskopik), secara perlahan selalu makin berkurang (cenderung selalu berubah bentuk, menjadi berbagai jenis energi lainnya). Dalam bahasa agama, segala hal fisik-lahiriah pasti bersifat fana (sementara), semu dan terbatas.

      Perubahan atau perbedaan itu sama sekali bukan sifat yang muncul dari kesadaran makhluk, tetapi akibat adanya hukum alam atau sunatullah, yang justru pasti mengatur seluruh alam semesta. Lebih jelasnya, terutama akibat tiap materi pasti selalu menyerap energi panas, untuk beraktifitas atau berinteraksi dengan segala materi lainnya.

      Namun "secara terbatas", tentunya ada berbagai keadaan atau momen fisik, yang justru relatif sama dan bisa terjadi berulang-ulang, akibat amat berragamnya kejadian fisik yang dialami oleh tak-terhitung jumlah materi, dan juga relatif amat perlahannya perubahan fisik di alam semesta.

      Alam semesta diciptakan-Nya dengan tujuan yang pasti dan jelas, terutama agar tiap makhluk bisa terus-menerus makin memperbaiki keadaan batiniah ruhnya (keadaan kehidupan akhirat atau keadaan pikirannya), yang justru bersifat kekal (abadi), hakiki dan relatif tak-terbatas.

      Mengapa manusia tampaknya bisa akur atau cocok, dengan momen yang terjadi di saat sekarang ini?

      Tiap manusia memang mestinya bisa akur atau cocok, terhadap segala keadaan atau momen fisik pada dirinya dan pada lingkungan di sekitarnya, pada saat kapanpun, terutama dengan mengatur-atur keadaan alam batiniah ruhnya sendiri (keadaan kehidupan akhirat atau keadaan pikirannya). Sedangkan jangkauan pikiran tiap manusia memang relatif tak-terbatas, dan juga ia memang memiliki kebebasan, kekuasaan dan otoritas yang sepenuhnya, untuk mengatur-atur alam pikirannya sendiri. Serta keakuran atau kecocokan memang hanya ukuran pikiran.

      Dalam bahasa agama, "tiap manusia memang mestinya mampu menghadapi segala bentuk ujian-Nya (secara lahiriah dan batiniah)", dengan sikap-sikap sabar, ikhlas, tawakal dan syukur, serta sekaligus dengan tidak berlebihan dalam pemenuhan segala nafsu-keinginan fisik-lahiriah.

    • Adakah fenomena non-lokal dalam fisika kuantum?

      Sama sekali tidak ada fenomena non-lokal di alam semesta (hanya ada fenomena lokal), juga termasuk dalam fisika kuantum. Karena hukum alam atau sunatullah justru bersifat mutlak (pasti terjadi / berlaku) dan kekal (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), serta pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan "tiap saatnya", pada tiap zat (termasuk pada lingkungan di sekitar zat itu).

      Sehingga sunatullah justru pasti berlaku "lokal" (sesuai segala keadaan pada "tiap zat"), walau lingkup lingkungan terkait di sekitarnya, bisa amat sangat jauh atau luas (khususnya pada skala kuantum), serta sunatullah memang juga pasti mengatur seluruh alam semesta (global). 'Global' adalah gabungan dari tak-terhitung jumlah 'lokal' (tak-terhitung jumlah zat).

      Bahkan 'jarak' antara suatu zat dengan segala zat lain, yang ikut mempengaruhi keadaan zat itu, justru juga sama sekali tidak melanggar fenomena lokal. Karena segala pengaruh dari luar pasti tetap harus mencapai 'langsung' zat itu, termasuk melalui sejumlah besar partikel mediator atau perantara. Walau tidak semua partikel mediatornya bisa dideteksi atau diketahui 'langsung'.

      Menurut teori Big Light, bahwa "materi terkecil" adalah partikel mediator yang terkecil, yang bahkan mustahil bisa diukur atau dideteksi. Serta "materi terkecil" mengisi segala ruang di alam semesta, dan bahkan menjadi penyusun bagi segala partikel-materi-benda (ada dimana-mana). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Tidak bisa dideteksi atau diketahuinya partikel mediator, sama sekali bukan ukuran keberadaan fenomena non-lokal. Bahkan banyak fenomena non-lokal, jika partikel mediator justru diabaikan.

      Jika ada, apakah fenomena non-lokal hanya terbatas pada segala keadaan terkait, yang terungkap dalam pelanggaran Ketimpangan Bell, atau dapatkah informasi dan kuantitas yang terjaga, juga berubah secara non-lokal?

      Tidak ada komentar, tentang fenomena non-lokal. Karena sama sekali tidak ada fenomena non-lokal di alam semesta. Termasuk tidak ada fenomena non-lokal secara terbatas. Serta tentunya tidak ada informasi dan kuantitas yang berubah secara non-lokal.

      Dalam keadaan apakah fenomena non-lokal bisa teramati?

      Tidak bisa (sama sekali tidak ada fenomena non-lokal di alam semesta).

      Apakah ada atau tidak adanya fenomena non-lokal menyiratkan tentang struktur dasar dari ruang-waktu?

      Tidak ada struktur ruang-waktu. Dimensi ruang-waktu justru telah amat sederhana dan jelas, serta pasti bersifat "relatif" (amat tergantung kepada referensi awal, pengukur, alat ukur, dsb).

      Ruang dan waktu sama sekali tidak terkait langsung, dengan segala fenomena, kejadian, sifat dan keadaan pada tiap zat fisik di alam semesta. Hal ini terutama karena hukum alam atau sunatullah justru sama sekali tidak terkait dengan dimensi ruang-waktu (hanya berlaku sesuai dengan segala keadaan "tiap saatnya", pada tiap zat). Sunatullah sama sekali tidak tergantung kepada ruang dan waktu, yang bukan berupa variabel keadaan fisik yang sebenarnya (hanya dimensi buatan manusia).

      Lebih jelasnya, dimensi ruang-waktu justru hanya dipakai atau diperlukan oleh manusia, dalam merumuskan, memformulasikan atau mendefinisikan teorinya, tentang berbagai fenomena di alam semesta. Terutama agar teorinya itu juga bisa disimulasikan, diuji ataupun dibuktikan secara berulang-ulang, oleh pihak lainnya (perlu dimensi atau kerangka acuan bersama). Baca pula jawaban A.1.d di atas, tentang dimensi ekstra.

      Bagaimana hal ini berkaitan dengan keadaan kuantumnya?

      Segala perubahan keadaan kuantum juga pasti bersifat 'lokal', serta sama sekali tidak terkait dengan ruang dan waktu. Persoalannya justru hanya pada tingkat pengetahuan manusia, tentang partikel mediator, dalam interaksi antar materi pada skala kuantum (termasuk tentang gaya-gaya yang terlibat dalam interaksinya). Tidak semua partikel mediator bisa dideteksi atau diketahui.

      Bagaimana hal ini menjelaskan interpretasi yang tepat, atas sifat dasar dari fisika kuantum?

      Persoalan utama pada fisika kuantum, sama sekali bukan pada lokalitas, tetapi justru pada keterbatasan alat ukur buatan manusia, dalam mengukur atau mendeteksi segala keadaan, pada tingkat mikrokosmos (kuantum) dan makrokosmos (benda langit).
      Manusia memang mustahil bisa mengukur atau mendeteksi seluruh jenis materi, dari materi yang terkecil, sampai yang terbesar, serta hanya bisa di antaranya.

      Satu-satunya solusi bagi persoalan pengukuran ini, hanya berupa interpretasi-pendekatan secara konseptual-filosofis yang menyeluruh, yang sekaligus disesuaikan dengan segala hasil pengamatan secara langsung, yang telah diperoleh. Hal ini tentunya termasuk interpretasi atas persoalan hierarki, terutama dengan memprediksi materi yang terkecil dan terbesar di alam semesta, di samping tentunya juga memprediksi gaya yang "paling dasar".

      Model alam semesta dari teori Big Light telah memprediksi, bahwa materi yang terkecil adalah "materi terkecil", dan yang terbesar adalah "pusat alam semesta". Juga gaya yang "paling dasar" adalah gaya elektromagnetik, yang dimediasi oleh "materi terkecil". Baca pula jawaban A.2.b di bawah, tentang persoalan hierarki gaya dasar, dan jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Hukum alam atau sunatullah bersifat mutlak (pasti terjadi / berlaku) dan kekal (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), serta pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan "tiap saatnya", pada tiap zat (termasuk pada lingkungan di sekitar zat itu). Maka segala fenomena atau kejadian di alam semesta, memang ada yang selalu konsisten, dari hasil berlakunya sunatullah. Lalu perbedaan interpretasi atas fenomenanya, umumnya hanya pada lingkup atau skala keadaannya (beserta jenis segala interaksi dan segala zat yang terlibat).

      Sedangkan sifat dasar dari fisika kuantum, tentunya relatif serupa dengan sifat dasar dari segala fenomena alam, pada skala lainnya (makrokosmos ataupun makroskopik).

    • Apakah alam semesta menuju kepada Kebekuan Besar, Kematian Besar, Kehancuran Besar atau Lambungan Besar?

      Keadaan akhir alam semesta tidak ada yang benar-benar sesuai dengan "Kebekuan Besar" (Big Freeze), "Kematian Besar" (Big Rip), "Kehancuran Besar" (Big Crunch) ataupun "Lambungan Besar" (Big Bounce), yang diprediksi melalui teori Big Bang. Hanya keadaan "Kebekuan Besar" (Big Freeze) yang relatif lebih mendekati keadaan akhirnya, menurut teori Big Light.

      Lebih tepatnya, keadaan akhir alam semesta antara-lain: amat sangat beku atau dingin; ukuran benda-benda langit tidak lagi berubah; tidak ada lagi pancaran atau perpindahan materi antar benda langit; seluruh bintang telah berubah menjadi lubang hitam dan bintang neutron; telah berhenti perluasan / ekspansi alam semesta teramati; seluruh benda langit bergerak dengan paling stabil, mengitari benda langit pusat orbitnya masing-masing; telah terbentuk "pusat alam semesta", sebagai benda langit terbesar dan melingkupi seluruh benda langit lainnya; telah berakhir kehidupan fisik-lahiriah segala makhluk-Nya; dsb. Baca pula artikel/posting terdahulu "Urutan penciptaan alam semesta"

      Juga hampir semua hal ini relatif berkebalikan dari keadaan di awal penciptaan alam semesta, terutama antara-lain: amat sangat panas; ukuran materi-benda cenderung makin besar, dari ukuran awalnya berupa "materi terkecil"; perpindahan atau pergerakan materi paling dinamis (amat sangat cepat); seluruh materi masih berupa "materi terkecil" ataupun partikel sub-atomik; kecepatan perluasan / ekspansi alam semesta paling tinggi; belum ada benda langit, beserta benda langit pusat orbitnya; belum terbentuk "pusat alam semesta" telah dimulai kehidupan fisik-lahiriah segala makhluk-Nya; dsb.

      Apakah alam semesta ini bagian dari model siklik yang berulang tanpa batas?

      Alam semesta tidak mengalami siklus yang berulang tanpa batas. Alam semesta hanya berjalan satu arah, dari segala keadaan awal (tingkat energi panas paling tinggi), menuju segala keadaan akhirnya (tingkat energi panas paling rendah), di akhir jaman. Alam semesta pasti memiliki awal dan akhir. Hanya Allah, Yang Maha Awal dan Maha Akhir (tanpa awal dan tanpa akhir).

    • Adakah partikel Higgs boson?

      Partikel hipotetik Higgs boson pada dasarnya tidak ada, terutama karena menurut Model standar, partikel Higgs boson justru dianggap bisa melahirkan partikel yang bermassa "tidak nol", melalui pelanggaran simetri secara spontan, pada tingkat listrik arus lemah (melalui mekanisme Higgs).

      Padahal menurut Model standar, partikel Higgs boson dianggap bermassa sekitar 116 s/d 130 GeV/c2, yang justru jauh lebih berat daripada partikel boson lainnya (sekitar 0 s/d 91 GeV/c2), daripada seluruh partikel lepton (sekitar 0 s/d 157 MeV/c2) dan bahkan juga daripada sebagian besar dari partikel quark (sekitar 1,5 s/d 173.000 MeV/c2). Maka partikel Higgs boson tentunya juga amat diragukan, sebagai partikel penyusun bagi tiap partikel sub-atomik (bisa melahirkan partikel yang bermassa "tidak nol").

      Lebih jelasnya, segala interaksi antar partikel pada skala kuantum, juga termasuk pelanggaran simetri, mestinya melibatkan partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi semua partikel dasar lainnya). Sekalipun partikel semacam ini memang tidak bisa diukur atau dideteksi.
      Padahal Higgs boson justru bukan partikel yang "paling dasar", dan juga bukan pembawa gaya yang "paling dasar" (penyusun bagi semua gaya dasar lainnya). Padahal massa juga hanya terbentuk pada tingkat energi yang amat tinggi (bukan pada tingkat listrik arus lemah).

      Juga hal yang serupa bagi partikel boson lainnya (Photon, W & Z boson, Gluon, Graviton, dsb), dengan ciri khas "ber-spin bulat", yang dianggap sebagai pembawa gaya-gaya dasar. Padahal partikel pembawa gaya-gaya dasar mestinya tetap stabil pada segala keadaan (tidak ada gaya dasar yang hilang pada keadaan tertentu). Padahal interaksi antar partikel, tidak cukup hanya melalui "spin", namun paling kuat, penting dan mendasar justru melalui "muatan magnet". Serta pengaruh "spin" hanya turunan atau hanya sebagian kecil dari pengaruh "muatan magnet".

      Menurut teori Big Light, bahwa partikel yang "paling dasar", adalah "materi terkecil", dan gaya yang "paling dasar", adalah gaya elektromagnetik, yang dimediasi oleh "materi terkecil". Baca pula jawaban A.2.b di bawah, tentang persoalan hierarki gaya dasar, dan jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Apakah implikasinya jika tidak ada?

      Tidak ada implikasi dari tidak terbuktinya keberadaan partikel hipotetik Higgs boson, kecuali bagi perumusan ulang atau perbaikan, atas Model standar (keliru memprediksi keberadaannya).

      Tidak ada materi atau partikel yang bermassa "nol", yang ada hanya partikel yang bermassa "amat sangat ringan". Partikel yang "paling dasar" (paling kecil, ringan dan sederhana), adalah "materi terkecil", yang menjadi penyusun bagi segala partikel-materi-benda yang berukuran lebih besar (partikel sub-atomik; atom; molekul; benda biasa; benda langit; dsb). Maka massa juga mestinya hanya terbentuk oleh partikel yang "paling dasar" (bukan partikel seperti Higgs boson).

      Partikel yang "paling dasar" (seperti "materi terkecil") dan beberapa materi yang berukuran lebih besar, justru mustahil bisa diukur atau dideteksi oleh manusia. Terutama karena segala alat ukur buatan manusia pasti memiliki keterbatasan, serta "materi terkecil" justru juga pasti ada pada tiap alat ukur itu sendiri ataupun ada dimana-mana di alam semesta (pasti tampak transparan).

      Juga simetrisitas sebenarnya hanya berada pada "materi terkecil", karena tiap "materi terkecil" pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif (tiap ruh yang mengendalikannya pasti bersifat feminin ataupun maskulin). Sedangkan materi yang berukuran lebih besar, adalah sekumpulan "materi terkecil", yang jumlah muatan seluruh "materi terkecil"-nya positif, negatif ataupun netral. Maka pelanggaran simetri justru juga hanya bisa terjadi, oleh partikel seperti "materi terkecil". Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Apakah hanya ada satu jenis partikel boson?

      Mestinya memang hanya ada satu jenis partikel boson (berupa boson yang "paling dasar"), yang bisa berlaku sebagai pembawa 'semua' gaya dasar. Namun dari definisi, sifat dan ukuran boson, justru mustahil menjadikannya sebagai partikel yang "paling dasar" ataupun sebagai pembawa gaya yang "paling dasar". Bahkan semua partikel dasar lainnya pada Model standar juga bukan partikel yang "paling dasar" (partikel penyusun terkecil).

      Maka model alam semesta dari teori Big Light tidak dikembangkan berdasar partikel dasar dan komposit, seperti: fermion, lepton, quark, muon, hadron, barion, meson, gluon, boson, graviton, pion, kaon, magnon, dsb, juga bukan materi gelap dan antipartikel.

      Tetapi teori Big Light hanya dikembangkan berdasar "materi terkecil" (suatu partikel hipotetik), sebagai partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), dan juga sekaligus sebagai partikel mediator bagi gaya yang "paling dasar" (gaya elektromagnetik, penyusun terkecil bagi semua gaya dasar lainnya). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

    • Mengapa gaya gravitasi berupa gaya lemah?. Gravitasi menjadi kuat hanya untuk partikel pada skala Planck, sekitar 1019 GeV, jauh di atas skala listrik arus lemah (100 GeV, skala energi yang mendominasi keadaan fisik pada energi rendah).

      Gaya gravitasi kuat dan lemah pada dasarnya tidak dipisahkan oleh skala tertentu, bagi ukuran partikel yang terkait (termasuk bukan oleh skala Planck). Tetapi sederhananya, justru dipisahkan oleh interaksi antar partikel dasar, yang menyusun suatu partikel sub-atomik (interaksi kuat / gaya nuklir kuat, "di dalam" partikelnya) dan di lain pihaknya, oleh interaksi antar partikel sub-atomik (interaksi lemah / gaya nuklir lemah, "di luar" partikelnya).

      Namun tentunya cakupan gaya gravitasi lemah justru amat luas (bukan hanya antar partikel sub-atomik), juga misalnya: antar atom, molekul, butir, benda biasa, dan antar benda langit, yang memang melalui sejumlah partikel mediator gaya gravitasi (pembentuk medan gravitasinya).

      Partikel yang "paling dasar" (paling kecil, ringan dan sederhana), yang menjadi 'materi' penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta, adalah "materi terkecil", yang justru mustahil bisa diukur atau dideteksi oleh manusia. Sedangkan 'sistem' penyusun terkecil bagi segala materi-benda, yang telah bisa diukur atau dideteksi oleh manusia, adalah "atom". "Materi terkecil" juga pembawa unit energi yang terkecil. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Tiap "materi terkecil" berupa magnet monopol yang sebenarnya (pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif). Segala partikel-materi-benda lainnya (selain "materi terkecil"), pasti berupa magnet dipol, yang amat kuat ataupun amat lemah (tergantung jumlah dan komposisi "materi terkecil" penyusunnya). Baca pula jawaban A.2.c di bawah, tentang magnet monopol.

      Dari kajian konseptual-filosofis atas gaya dasar pada "materi terkecil", terutama yang dipakai dalam berinteraksi dengan "materi terkecil" lainnya, justru hanya berupa "gaya elektromagnetik" (tiap "materi terkecil" pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif). Maka semua gaya dasar lainnya yang telah biasa dikenal, yaitu: gaya elektromagnetik 'normal', gaya gravitasi, gaya interaksi kuat (gaya nuklir kuat) dan gaya interaksi lemah (gaya nuklir lemah), mestinya bisa diformulaskan ataupun dikaitkan, dengan gaya elektromagnetik yang "paling dasar" tersebut (gaya interaksi antar "materi terkecil").

      Kaitan antar gaya-gaya dasar, secara sederhananya yaitu: (lihat pula tabel di bawahnya untuk perbandingan)

      • Gaya elektromagnetik 'normal', adalah gaya interaksi antar benda yang "bermuatan".
        Sifat jarak jauh dan jangkauan dari gaya elektromagnetik, serupa dengan gaya gravitasi (makin jauh makin kecil, dan jangkauannya bisa amat jauh). Perbedaan utama keduanya hanya pada kekuatan gayanya (gaya gravitasi jauh lebih kecil). Hal ini karena pada gaya elektromagnetik terjadi aliran partikel yang relatif kuat pula, sedangkan relatif tidak terjadi aliran partikel pada gaya gravitasi.
        Maka gaya elektromagnetik terkait dengan energi kinetik dan momentum yang cukup besar, pada partikel yang mengalir. Energi kinetik ini terutama tergantnng selisih muatan antar benda yang saling berinteraksi (termasuk energi eksitasi atau pemicu awalnya).
        Namun segala partikel yang mengalir ini tentunya justru bukan partikel mediator yang sebenarnya, bagi gaya elektromagnetik 'normal', karena memang hampir mustahil bisa saling berinteraksi selama mengalir atau bergerak.
        Sedangkan benda yang bermuatan yang terkecil, adalah "materi terkecil", karena berupa magnet monopol yang sebenarnya (pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif). Maka "materi terkecil" juga paling tepat sebagai partikel mediator yang sebenarnya, bagi gaya elektromagnetik 'normal'.
      • Gaya gravitasi, adalah gaya interaksi antar benda (dengan segala jenis dan ukuran), yang relatif ada ruang 'kosong' di antaranya.
        Kekuatan gaya gravitasi paling lemah di antara semua gaya dasar lainnya. Hal ini karena partikel mediatornya 'diam' di tempat dan berukuran amat sangat kecil (tak-terdeteksi). Namun jangkauannya justru relatif tak-terbatas, serta gayanya tidak bisa diserap, diubah dan ditahan. Sehingga partikel mediatornya mestinya memang mengisi seluruh ruang di alam semesta, secara kontinu atau tidak terputus.
        Maka partikel mediator yang sebenarnya bagi gaya gravitasi, paling tepat berupa "materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar" (paling kecil, ringan dan sederhana), yang memang bisa mengisi seluruh ruang di alam semesta.
        Sedangkan interaksi antar "materi terkecil" itu sendiri, yang telah bisa membentuk medan gravitasi, tentunya justru berupa interaksi gaya elektromagnetik yang 'amat lemah'.
      • Gaya interaksi lemah (gaya nuklir lemah), adalah gaya interaksi antar "partikel sub-atomik", di dalam tiap sistem atom.
        Kekuatan gaya interaksi ini berada di antara gaya gravitasi dan gaya elektromagnetik. Hal ini karena tidak hanya berupa interaksi gaya gravitasi antar partikel sub-atomik, namun juga termasuk melibatkan energi hasil dari tumbukan antar partikel sub-atomik, terutama akibat adanya perbedaan muatannya (interaksi gaya elektromagnetik).
        Namun partikel sub-atomik yang terlibat dalam interaksi ini, relatif hanya berupa elektron (bermuatan negatif) dan proton (bermuatan positif), sedangkan ukuran elektron relatif amat kecil (relatif jauh lebih kecil daripada proton dan nukleon). Sehingga energi yang dihasilkan juga relatif amat kecil, walau memang masih jauh lebih besar daripada energi hasil interaksi gaya gravitasi. Dan juga seperti halnya segala partikel sub-atomik lainnya, elektron tentunya terbentuk melalui gaya interaksi kuat.
        Sedangkan partikel mediator yang sebenarnya bagi gaya interaksi lemah tentunya juga serupa dengan partikel mediator bagi gaya gravitasi ("materi terkecil"), karena memang mestinya mengisi ruang 'kosong' antar partikel sub-atomik.
      • Gaya interaksi kuat (gaya nuklir kuat), adalah gaya interaksi antar "partikel penyusun", di dalam tiap partikel sub-atomik (termasuk nukleon atau nuklei atom), untuk bisa saling mengikat atau menyatukannya.
        Kekuatan gaya interaksi kuat tentunya paling kuat di antara semua gaya dasar lainnya. Hal ini karena memang berupa interaksi antar partikel penyusun tiap partikel sub-atomik, yang juga hanya bisa terjadi atau menyatu pada tingkat energi yang amat tinggi.
        Sedangkan partikel penyusun terkecil bagi tiap partikel sub-atomik, justru berupa "materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar" (paling kecil, ringan dan sederhana).
        Maka gaya interaksi kuat, adalah interaksi gaya elektromagnetik antar "materi terkecil" penyusun tiap partikel sub-atomik, yang terbentuk pada tingkat energi yang amat tinggi. Lalu pada tingkat energi yang lebih rendah, interaksinya juga relatif selalu tetap terjaga atau terlindungi terhadap pengaruh dari luar, oleh bagian permukaan terluar partikel sub-atomiknya (bisa terbentuk energi dalam).
        Serta pada gaya interaksi kuat tentunya justru tidak memerlukan partikel mediator sama sekali, karena memang telah berupa interaksi 'langsung' antar "materi terkecil".
        Energi nuklir yang paling kuat bisa dicapai, jika paling banyak jumlah ikatan antar "materi terkecil", yang bisa dipisahkan (paling banyak 'kehilangan' massa pada bahan nuklirnya), terutama jika nukleon atomnya bisa terpecah (berukuran terbesar), serta juga melalui reaksi berrantai. Jumlah massa yang 'hilang' ini (berupa segala "materi terkecil"), pasti setara dengan jumlah energi yang ditimbulkannya.
        Seperti halnya penyatuannya, pemisahan antar "materi terkecil" penyusun tiap partikel sub-atomik, juga hanya bisa terjadi pada tingkat energi yang relatif amat tinggi.

      Semua gaya dasar itu tampak terkait dengan "materi terkecil", serta juga sekaligus terkait dengan gaya yang "paling dasar" (gaya elektromagnetik), yang dimediasi oleh "materi terkecil". Bahkan medan gravitasi juga serupa dengan medan elektromagnetik. Bahkan perbedaan kekuatan atau skala energi antar gaya dasarnya, justru bukan terkait partikel mediatornya, tetapi terkait tingkat kehancuran pada segala partikel sub-atomik yang terlibat, yang bisa diukur atau dideteksi.

      Kaitan antara gaya gravitasi dan gaya elektromagnetik semacam ini, bahkan juga telah diungkap pada tahun 1893 oleh Oliver Heaviside, tentang gravitomagnetik atau gravitoelektromagnetik (GEM). Namun justru konsep inipun terpinggirkan dalam ilmu fisika, akibat para fisikawan belum benar-benar memahami gravitasi itu sendiri (belum diketahui partikel mediator gaya gravitasi).

      Adapun partikel gluon, photon, W & Z boson dan graviton, yang dianggap pada Model standar, sebagai mediatur atau pembawa gaya-gaya dasar itu, justru tidak menunjukkan sebagai partikel yang "paling dasar" (tidak terkait dengan semua gaya dasar). Padahal gluon, photon dan graviton telah dianggap tidak bermassa. Bahkan gluon, photon, Z boson dan graviton amat diragukan pula, sebagai mediatur gaya dasar yang sebenarnya, terutama karena justru tidak bermuatan (netral), serta hanya ber-spin. "Bagaimana mediator yang tidak bermuatan dan hanya ber-spin, bisa menjadi mediator bagi gaya yang amat besar?".

      Sebagai perbandingan, pada tabel-tabel berikut ditunjukkan tentang gaya-gaya dasar pada Model standar, berikut partikel mediatornya.

      Rangkuman tentang gaya-gaya dasar pada Model standar

      Interaksi

      Teori terpakai

      Mediator

      Kekuatan relatif

      Sifat jarak jauh

      Jangkauan (m)

      Kuat

      Dinamika kuantum kuat (QCD)

      Gluon

      1038

      1 (dalam partikel)

      10-15 (dlm atom)

      Elektromagnetik (normal)

      Dinamika kuantum lemah (QED)

      Photon

      1036

      1 / r2

      ∞ (amat jauh)

      Lemah

      Listrik-lemah

      W & Z boson

      1025

      1 / r x e-mW

      10-18 (dlm atom)

      Gravitasi

      Relatifitas umum (GR)

      Graviton (hipotetik)

      1 (acuan)

      1 / r2

      ∞ (amat jauh)

       

      Rangkuman tentang mediator gaya-gaya dasar pada Model standar

      Nama

      Simbol

      Antipartikel

      Muatan (e)

      Spin

      Massa (GeV/c2)

      Interaksi

      Ada

      Photon

      Γ

      -sendiri-

      0

      1

      0

      Elektromagnetik

      ya

      W boson

      W-

      W+

      −1

      1

      80.4

      Interaksi lemah

      ya

      Z boson

      Z

      -sendiri-

      0

      1

      91.2

      Interaksi lemah

      ya

      Gluon

      G

      -sendiri-

      0

      1

      0

      Interaksi kuat

      ya

      Higgs boson

      H0

      -sendiri-

      0

      0

      116 – 130

      Massa

      tidak

      Graviton

      G

      -sendiri-

      0

      2

      0

      Gravitasi

      tidak

      Perbedaan utama antar semua gaya dasar itu, pada dasarnya terjadi karena perbedaan tingkat energi yang 'membentuk' dan yang 'dihasilkan', di samping tentunya perbedaan jenis partikel-materi-benda yang terlibat. Hanya gaya interaksi kuat (gaya nuklir kuat), yang terbentuk pada tingkat energi yang amat tinggi (materi yang terlibat saling terikat atau menyatu), sedangkan gaya-gaya dasar lainnya terbentuk pada tingkat energi berapun, termasuk pada suhu 'normal' ruangan (materi yang terlibat saling terpisah).

      Adapun perbedaan antara materi yang terikat atau menyatu, dengan materi yang terpisah, pada dasarnya terjadi karena sifat materi yang selalu menyerap energi. Juga sekaligus karena pada tingkat energi yang masih amat tinggi, segala materi terkait cenderung mudah saling melebur, terikat atau menyatu. Lalu pada saat tingkat energi telah berkurang, pada materi komposit atau gabungan yang terbentuk, bagian permukaannya cenderung 'melindungi' bagian dalamnya, dari penurunan suhu (terjadi gradien suhu yang makin ke dalam, makin tinggi). Pada akhirnya, materi komposit masih 'menyimpan' energi panas (terutama di bagian dalamnya), yang juga disebut "energi dalam atau internal", walau di bagian permukaannya justru lebih dingin.

      Serta sifat materi juga cenderung berpindah, dari daerah yang bersuhu rendah (bertekanan tinggi, di bagian permukaan), ke daerah yang bersuhu lebih tinggi (bertekanan rendah, di bagian dalam). Maka segala partikel yang menyusun suatu materi komposit, dengan sendirinya menjadi cenderung tetap saling menyatu. Bersamaan tentunya dengan tekanan ke dalam, akibat dari gaya gravitasi antar segala partikel penyusunnya.

      Di lain pihaknya, tekanan ke dalam itu justru mengakibatkan tekanan di bagian dalam materi kompositnya, justru makin tinggi (sekaligus suhunya makin rendah). Namun karena partikel di bagian dalam tidak bisa keluar kemana-mana, maka tekanan yang makin tinggi mengakibatkan pergesekan antar partikelnya juga makin tnggi. Lalu pergesekan inipun mengakibatkan suhu partikelnya makin tnggi. Hal ini menimbulkan siklus atau fluktuasi perubahan suhu dan tekanan, yang selalu berlangsung terus-menerus, yang juga tetap menjaga kestabilan suhu dan tekanan itu sendiri (termasuk selalu ada gradien suhu dan tekanan, dari dalam ke permukaan).

      Siklus suhu dan tekanan pada tingkat kuantum itu, tentunya juga terjadi pada tingkat yang lebih tinggi (termasuk tingkat makrokosmos). Siklus suhu dan tekanan di dalam perut Bumi misalnya, telah menimbulkan magma yang amat panas dan selalu terus-menerus berfluktuasi. Dan hal ini misalnya mengakibatkan terjadinya gempa (tektonik dan vulkanik), letusan gunung berapi dan kontur permukaan Bumi.

      Energi nuklir adalah sebagian dari energi dalam pada suatu partikel sub-atomik, yang langsung terpancar keluar, pada saat partikelnya terpecah, akibat dari tumbukan partikel lainnya.

      Sama sekali tidak ada ruang vakum yang sebenarnya di alam semesta (dalam lingkup pengaruh "pusat alam semesta"), termasuk ruang vakum antar partikel sub-atomik, yang 'tampak' tanpa sesuatupun partikel-materi-benda sama sekali. Hal ini karena seluruh ruang pada dasarnya pasti terisi oleh "materi terkecil". Rangkaian segala pasangan "materi terkecil" (yang bermuatan positif dan negatif), yang telah bisa membentuk "medan elektromagnetik", secara kontinu atau tidak terputus di seluruh alam semesta (tentunya juga sekaligus sebagai "medan gravitasi").

      "Materi terkecil" tentunya juga sebagai "mediator" yang sebenarnya bagi semua gaya dasar (gaya nuklir kuat, gaya nuklir lemah, gaya gravitasi dan gaya elektromagnetik 'normal'). Di lain pihaknya, "mediator" bagi gaya dasar, yang disebut pada Model standar, yaitu: "gluon" (gaya nuklir kuat), "W & Z boson" (gaya nuklir lemah), "graviton" (gaya gravitasi) dan "photon" (gaya elektromagnetik 'normal'), tentunya justru bukan "mediator" yang sebenarnya. Sekali lagi, gaya yang "paling dasar" yang menyusun semua gaya dasar, adalah "gaya elektromagnetik".

      Tiap "materi terkecil" adalah satuan unit massa yang terkecil, yang sebenarnya (namun bukan nol). Juga suatu teori medan yang berdasar pemahaman atas sifat-sifat "materi terkecil", tentunya bisa menjadi "teori kesatuan medan" (unified field theory), yang sebenarnya, karena justru bisa mengkaitkan antara semua gaya dasar dan semua partikel dasar, dalam satu medan.

      Pada akhirnya, bukan perbedaan skala atau tingkat energi, antara gravitasi kuat dan lemah, yang menjadi persoalan yang penting, karena wilayah cakupan skala dari segala jenis energi di alam semesta, memang amat luas. Namun hal yang lebih penting untuk diketahui, "bagaimana kaitan yang sebenarnya, antar tiap jenis gaya dan energinya?".

      Mengapa skala energi gravitasi di atas saling amat berbeda satu sama lainnya?

      Skala energi di atas bisa saling berbeda satu sama lainnya, karena fokus tinjauannya memang berbeda. Namun jika tinjauannya dimulai dari energi pada "materi terkecil" (beserta hasil saling interaksinya), maka semua jenis energi mestinya relatif bisa ditemukan saling keterkaitannya secara hierarki, dari skala energi yang paling kecil, sampai paling tinggi. Walau tinjauan seperti ini tentunya hanya bersifat konseptual-filosofis, yang relatif amat sulit bisa dibuktikan langsung, karena "materi terkecil" memang mustahil bisa diukur atau dideteksi. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil", dan jawaban di atas.

      Gaya gravitasi pada skala kuantum pada dasarnya berupa gaya interaksi kuat ("di dalam" partikel sub-atomik) ataupun gaya interaksi lemah ("di luar" partikel sub-atomik), yang tentunya jauh lebih besar daripada skala energi dari gaya gravitasi 'normal' (interaksi antar materi makroskopok).

      Apakah yang mencegah kuantitas pada skala listrik arus lemah, seperti massa Higgs boson, dari mendapatkan koreksi kuantum pada orde skala Planck?

      Hanya tingkat energi, karena ikatan yang amat sangat kuat antar "materi terkecil" (interaksi kuat / gaya nuklir kuat), yang menyusun tiap partikel sub-atomik (elektron, proton, neutron, photon, dsb), hanya bisa terjadi pada tingkat energi yang amat tinggi (seperti: energi ledakan fusi nuklir pada bintang dan pusat galaksi; energi pada awal penciptaan alam semesta; energi radiasi sinar kosmik; energi pada akselerator; dsb). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Koreksi kuantum tentunya bukan terjadi pada skala listrik arus lemah. Energi listrik arus lemah hanya menimbulkan perpindahan partikel, tetapi bukan perubahan struktur partikel (koreksi atau perubahan angka kuantum, termasuk timbulnya kuantitas atau massa pada partikel sub-atomik).

      Di lain pihaknya, partikel hipotetik Higgs boson pada dasarnya tidak ada. Baca pula jawaban A.2.a di atas, tentang Mekanisme Higgs.

      Apakah solusi bagi terjadinya koreksi kuantum, berupa supersimetri, dimensi ekstra atau hanya penyetelan antropis?

      Koreksi kuantum hanya bisa terjadi melalui tingkat energi yang amat tinggi, sama sekali bukan melalui solusi supersimetri, dimensi ekstra, ataupun penyetelan antropis.

      Pertanyaan tambahan: Adakah suatu benda langit, yang menjadi puncak hierarki yang "tertinggi", dari segala pusat orbit (planet, bintang, pusat galaksi, dsb), atau menjadi pusat orbit 'relatif' bagi segala benda langit, di alam semesta?

      "Pusat alam semesta", sebagai benda langit yang terbesar di alam semesta, dan berupa lubang hitam. Walau "pusat alam semesta" memang relatif mustahil bisa terlihat atau teramati langsung.

      Pertanyaan tambahan: Atom memang 'sistem' penyusun terkecil bagi segala benda nyata, namun adakah suatu 'partikel' penyusun terkecil bagi segala partikel di dalam sistem atom (segala partikel sub-atomik)?

      "Materi terkecil", sebagai materi yang terkecil di alam semesta. Walau "materi terkecil" memang relatif mustahil bisa terlihat atau teramati langsung. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

    • Apakah partikel yang membawa "muatan magnet" ada di jaman dahulu, saat tingkat energi masih amat tinggi?

      Segala partikel-materi-benda pasti selalu bermuatan magnet (kapanpun dan pada tingkat energi berapapun), karena tiap "materi terkecil" yang menyusun segala partikel-materi-benda, memang pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif. Serta tiap "materi terkecil" juga sebagai pembawa unit muatan yang terkecil (bukan proton dan elektron). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Sehingga magnet monopol yang sebenarnya (satu kutub, positif ataupun negatif), justru hanya berupa tiap "materi terkecil". Segala partikel-materi-benda lainnya, yang lebih besar daripada "materi terkecil", pasti berupa magnet dipol (dua kutub), yang amat kuat ataupun amat lemah.

      Bahkan neutron (bermuatan netral), proton (bermuatan positif) dan elektron (bermuatan negatif) juga pada dasarnya berupa magnet dipol, karena hanya ada sedikit-banyak perbedaan pada jumlah "materi terkecil" penyusunnya, yang bermuatan positif dan yang negatif. Dan mustahil ada partikel, yang seluruh "materi terkecil" penyusunnya, hanya bermuatan positif ataupun negatif.

      Jika demikian, apakah masih tetap ada sekarang ini? (Paul Dirac menunjukkan adanya beberapa jenis magnet monopol yang menjelaskan kuantisasi muatan).

      "Muatan magnet" pasti selalu ada kapanpun, pada tiap partikel-materi-benda. Persoalannya hanya pada kekuatan muatan magnet yang bisa diukur atau dideteksi oleh manusia.

      Namun jenis magnet monopol yang sebenarnya hanya ada dua macam, dan berupa "materi terkecil" yang bermuatan positif ataupun negatif. Serta magnet monopol mustahil bisa diukur atau dideteksi, karena mestinya berupa partikel yang "paling dasar" (partikel penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta). Sehingga "materi terkecil" atau magnet monopol yang amat dicari-cari oleh para ilmuwan selama ini, justru ada dimana-mana di alam semesta. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

    • Bagaimana menyatukan tiga interaksi dasar mekanika kuantum yang berbeda pada teori medan kuantum?

      Segala jenis interaksi fisik di alam semesta, relatif hanya bisa disatukan atau dikaitkan, jika telah bisa diprediksi partikel yang "paling dasar", beserta sifat-sifatnya (penyusun terkecil bagi segala partikel sub-atomik), dan bentuk interaksinya tentunya juga berupa interaksi yang "paling dasar" (penyusun bagi semua interaksi dasar).

      Model alam semesta dari teori Big Light telah memprediksi, bahwa partikel yang "paling dasar" adalah "materi terkecil", dan juga gaya yang "paling dasar" adalah gaya elektromagnetik, yang dimediasi oleh "materi terkecil". Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil", dan jawaban A.2.b di atas, tentang persoalan hierarki gaya dasar.

      Sebagai barion yang paling ringan, apakah proton benar-benar stabil?

      Tiap partikel sub-atomik (elektron, proton, neutron, photon, dsb), cenderung stabil pada tingkat energi yang relatif rendah. Namun struktur partikel sub-atomik cenderung berubah atau tidak stabil, pada tingkat energi yang relatif tinggi (termasuk akibat pengaruh radiasi sinar kosmik), serta cenderung selalu membentuk partikel yang bermuatan netral.

      Proton tentunya tidak benar-benar stabil, terutama lagi jika berada di alam bebas. Bahkan pada fase plasma (pada tingkat energi yang relatif amat tinggi), proton juga tidak benar-benar stabil. karena kecepatannya yang amat tinggi, yang menjadikannya seolah-olah bisa stabil cukup lama (relatif kurang sempat berinteraksi dengan partikel lainnya). Namun jika energi kinetiknya telah berkurang ataupun telah bertumbukan dengan partikel lainnya, maka proton juga cenderung meluruh menjadi bermuatan netral (berubah menjadi neutron).
      Juga pada fase plasma, tinjauan pengukurannya bukan pada suatu proton tunggal, tetapi pada tak-terhitung jumlah proton, maka relatif tak-terdeteksi jumlah proton yang telah meluruh.

      Kestabilan relatif amat sedikit terkait dengan berat-ringannya partikel (massa dan ukurannya), namun terutama paling terkait dengan "muatan magnetnya". Sedangkan massa dan ukuran partikel (gravitasi dan luas penampang), lebih terkait dengan jumlah kemungkinan bertumbukan dengan partikel lainnya, yang secara tidak langsung juga bisa membentuk kestabilan "muatan magnetnya" (makin banyak tumbukan, relatif makin netral muatannya). Namun di lain pihaknya, makin besar massa dan ukuran partikel, relatif makin sulit massa dan ukurannya dipertahankan (relatif makin mudah hancur menjadi lebih kecil, akibat makin banyaknya tumbukan).

      Jika tidak, lalu apakah paruh waktu dari proton?

      Ada paruh waktunya. Namun relatif tidak berguna untuk diukur, karena relatif amat singkat.

    • Apakah supersimetri ruang-waktu terwujud di alam?

      Tidak ada supersimetri ruang-waktu, dan yang ada hanya supersimetri partikel. Supersimetri partikel yang sebenarnya justru berada pada "materi terkecil", karena selalu bermuatan positif ataupun negatif (monopol yang sebenarnya), serta sebagai partikel yang "paling dasar" (partikel penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Supersimetri dan simetri pada segala partikel-materi-benda, selain "materi terkecil" (lebih besar daripada "materi terkecil"), hanya bersifat transisional, dan amat tidak stabil, serta terjadi secara acak (kebetulan). Begitu pula dengan antipartikel, yang bukan partikel yang "paling dasar".

      Sedangkan definisi pada Model standar, bahwa supersimetri adalah simetri yang mengkaitkan antar partikel dasar yang bermassa dan berangka kuantum sama, tetapi ber-spin berbeda 'setengah'. Hal inipun dianggap telah melahirkan pasangan antara boson dan fermion. Tetapi pada Model standar justru telah diakui pula, bahwa supersimetri seperti ini belum terjadi atau belum teramati, serta hanya muncul sebagai solusi teoretis, bagi berbagai persoalan teoretis.

      Supersimetri yang berdasar "spin" tersebut tentunya juga bukan supersimetri yang sebenarnya, yang mestinya berdasar "muatan magnet". Pengaruh "spin" justru hanya turunan atau hanya sebagian kecil dari pengaruh "muatan magnet". Baca pula jawaban A.2.a di atas, tentang Mekanisme Higgs.

      Juga supersimetri yang sebenarnya tentunya mestinya selalu konstan (atabil) kapanpun, bukan transisional dan bukan terjadi secara acak (kebetulan), serta justru berada pada "materi terkecil", sebagai magnet monopol yang sebenarnya (selalu bermuatan positif ataupun negatif).

      Jika demikian, apakah mekanisme yang melanggar supersimetri?

      Tidak ada pelanggaran supersimetri ruang-waktu, karena tidak ada supersimetri ruang-waktu.

      Sedangkan pelanggaran supersimetri dan simetri partikel justru cenderung selalu terjadi secara spontan, kapanpun, dimanapun dan pada tingkat energi berapapun (jika keadaan terkait telah memungkinkan), karena kecenderungan materi untuk selalu mencapai keadaan keseimbangan atau kestabilannya (terutama keseimbangan muatan dan medan elektromagnetik). Namun pada keadaan dan tingkat energi yang berbeda, tentunya juga bisa relatif berbeda bentuk pelanggaran supersimetri dan simetrinya.

      Serta supersimetri yang sebenarnya pada "materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar", tentunya justru mustahil bisa dilanggar (pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Apakah supersimetri menstabilkan skala listrik arus lemah, mencegah koreksi kuantum tingkat tinggi?

      Tidak ada kaitannya. Koreksi kuantum hanya terjadi pada tingkat energi yang amat tinggi (bukan pada skala listrik arus lemah), karena terkait dengan perubahan struktur materi (perubahan interaksi kuat antar partikel penyusunnya).

      Juga kestabilan yang telah terbentuk pada skala listrik arus lemah, sama sekali tidak mencegah atau mempengaruhi koreksi kuantum, karena dinamika kuantun pada tingkat energi yang amat tinggi, justru menghilangkan kestabilan itu sendiri.

      Apakah partikel supersimetri yang paling ringan termasuk materi gelap?

      Dari definisinya, materi gelap justru bukan partikel yang "paling dasar" (seperti "materi terkecil"), terutama karena bukan sebagai penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta (tidak mengisi 'seluruh' alam semesta), maka materi gelap juga bukan kandidat bagi partikel supersimetri. Baca pula jawaban B.1.d di bawah, tentang materi gelap.

    • Adakah lebih dari tiga generasi quark dan lepton?

      Tidak ada komentar, tentang quark dan lepton. Karena model alam semesta dari teori Big Light tidak dikembangkan berdasar quark dan lepton.

      Namun secara umum, generasi partikel bisa banyak jumlahnya, karena justru hanya tergantung kepada "tingkat energi", pada saat pembentukannya (pada tingkat energi yang relatif amat tinggi). Serta sifat-sifat dasar antar generasinya justru relatif tetap sama, dan hanya berbeda pada skala massa, gravitasi dan titik leburnya. Makin tinggi generasinya (tingkat energi pembentukannya), juga makin besar massanya (makin banyak partikel penyusunnya yang melebur atau menyatu).

      Generasi partikel sub-atomik yang tertinggi, terjadi pada saat awal penciptaan alam semesta (saat tingkat energinya tertinggi). Generasi partikel yang tertinggi ini justru mustahil bisa diketahui oleh manusia, karena berada pada inti pusat benda-benda langit (terutama benda langit yang berupa bola, seperti: satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb), serta memiliki massa, gravitasi dan titik lebur yang amat sangat tinggi (tertinggi di antara seluruh partikel di alam semesta).

      Juga generasi partikel yang tertinggi ini amat berbeda daripada generasi kedua dan ketiga, yang telah diketahui oleh manusia. Karena dalam keadaan suhu 'normal', generasi kedua dan ketiga cenderung kembali berubah menjadi generasi pertama (makin kecil massanya), akibat selalu adanya gangguan atau interaksinya dengan segala partikel yang bertebaran di alam semesta (termasuk partikel pada radiasi sinar kosmik dari bintang). Sedangkan generasi partikel yang tertinggi justru bisa tetap stabil, akibat berada pada inti pusat benda langit (tidak terganggu atau tidak berinteraksi dengan partikel dari luar), dan terlindungi oleh permukaan terluar inti pusatnya. Namun generasi partikel yang tertinggi justru juga langsung hancur atau meledak di alam bebas.

      Generasi kedua dan ketiga juga tidak ada pada materi normal (suhu normal), namun hanya ada pada tingkat energi yang amat tinggi (pada bintang, sinar kosmik, akselerator partikel, dsb).

      Mengapa ada generasi secara keseluruhannya?

      Adanya generasi partikel sub-atomik amat dipengaruhi oleh skala atau tingkat energi tinggi, pada saat pembentukannya dari sejumlah besar "materi terkecil", dengan berragam komposisi, jumlah muatan, massa, ukuran, kecepatan, dsb, yang terjadi secara acak (kebetulan). Namun pada tiap tingkat energi memang relatif bisa terbentuk sejumlah jenis tertentu partikel, yang cukup khas (terutama pada massa-massanya), walau sifat-sifat dasar antar generasi pasti tetap sama (partikel penyusunnya relatif homogen). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Hal itu mudah dipahami, karena makin tnggi skala atau tingkat energi, juga relatif makin mudah antar partikel untuk bisa saling melebur atau menyatu (membentuk partikel yang bermassa makin berat), sekalipun memang makin tinggi energi kinetik partikel (makin banyak tumbukan antar partikel). Lebih penting lagi, hal itu juga mengakibatkan bisa terbentuknya partikel-partikel yang terberat (generasi yang tertinggi), pada awal penciptaan alam semesta, karena tingkat energinya memang tertinggi. Partikel-partikel terberat inipun tentunya menjadi cikal-bakal bagi pembentukan segala benda langit (terutama pembentukan materi inti pusat dari benda langit yang berupa bola, seperti: satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb). Baca pula jawaban A.3.c di bawah, tentang Pulau stabilitas.

      Adakah teori yang dapat menjelaskan massa quark dan lepton tertentu pada generasi tertentu dari prinsip-prinsip pertama (teori kopling Yukawa)?

      Pada dasarnya hampir mustahil menentukan massa partikel sub-atomik pada generasi tertentu, secara tepat, karena pembentukan segala jenis partikel justru terjadi secara acak (kebetulan). Serupa halnya dengan pembentukan segala jenis benda langit, dengan amat berragam massa dan ukurannya, juga termasuk amat berragam kekuatan gravitasi; letak, bentuk lintasan dan kecepatan orbit; kekuatan medan magnet; dsb. Walau secara umum, massa memang relatif menentukan sifat-sifat dari tiap partikelnya, sedangkan segala "materi terkecil" penyusunnya memang bercampur-baur secara relatif homogen. Serupa pula dengan tiap benda langit.

      Juga karena sifat dari tiap partikel sub-atomik, tidak hanya tergantung massanya, namun juga komposisi dan jumlah "materi terkecil" penyusunnya (beserta muatannya masing-masing), dan juga berbagai aspek lainnya. Sehingga pengklasifikasian partikel sub-atomik justru kurang tepat, jika hanya berdasar massanya. Minimalnya tiap klasifikasi bisa memiliki 'wilayah' massa tertentu, walau antar klasifikasi tentunya juga bisa saling tumpang-tindih. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Namun model alam semesta dari teori Big Light tidak dikembangkan secara khusus berdasar partikel quark dan lepton.

    • Apakah sifat dari neutrino, berapakah massanya, dan bagaimana peran neutrino dalam penciptaan alam semesta?

      Neutrino adalah partikel sub-atomik yang bermuatan netral dan bermassa amat kecil. Sehingga sifat dari neutrino relatif serupa dengan photon, serta keduanya termasuk partikel yang relatif paling energik. Hal inipun karena relatif tanpa ada partikel yang bermuatan, yang mengganggu pergerakan keduanya (relatif hanya terganggu oleh tumbukan dan gravitasi partikel lainnya).

      Pada Model standar, neutrino generasi ke-1 (elektron neutrino) dianggap bermassa "nol", serupa dengan massa photon. Maka keduanya pada dasarnya suatu hal yang 'sama', walau neutrino dianggap berada pada kelompok lepton dan photon pada kelompok boson.

      Peran neutrino dalam penciptaan alam semesta, relatif tidak terlalu khusus atau istimewa (relatif sama pentingnya dengan peran segala jenis partikel sub-atomik lainnya).

      Mengapa sekarang lebih terdeteksi materi daripada antimateri di alam semesta?

      Dalam keadaan 'stabil atau seimbang', memang mustahil ada antimateri di alam semesta.

      Antipartikel pada dasarnya hanya partikel dengan sifat-sifat tertentu, yang transisional dan amat tidak stabil. Dimana antipartikel bermassa serupa dengan partikel normal, namun berlawanan muatan. Sedangkan antimateri pada dasarnya hanya materi yang tersusun dari antipartikel, dengan atau tanpa tersusun pula dari partikel normal. Antipartikel dan antimateri hanya terdapat secara alamiah, pada tempat terjadinya fluktuasi kuantum (tingkat energinya amat tinggi, seperti di Matahari), namun juga langsung menghilang hanya amat sesaat saja setelah terbentuk.

      Antipartikel seperti 'positron' (elektron yang bermuatan positif) misalnya, pada keadaan tingkat energi berapapun, cenderung langsung bertumbukan dengan elektron normal dan 'antiproton' (bermuatan negatif), lalu membentuk photon yang bermuatan netral (beserta partikel yang lebih kecil). Serupa halnya dengan 'antiproton' (proton yang bermuatan negatif), yang juga cenderung langsung bertumbukan dengan proton normal dan 'positron' (bermuatan positif), lalu membentuk neutron yang bermuatan netral (beserta partikel yang lebih kecil).

      Segala partikel cenderung saling membentuk keseimbangan muatannya (menjadi bermuatan netral). Hal ini dalam ilmu fisika disebut "cenderung membentuk angka kuantum nol". Sehingga inti pusat atau nuklei, sebagai partikel yang paling besar pada atom, juga cenderung bermuatan netral (biasa disebut neutron).

      Adapun masih adanya elektron (bermuatan negatif) dan proton (bermuatan positif), yang masih 'tersisa' pada keadaan normal, terutama karena memang sesuai dengan tingkat energi pada keadaan normal ini. Dimana elektron adalah partikel yang belum sempat menyatu atau terikat oleh muatan dan gravitasi dari nuklei atom, karena energi geraknya (kinetik) yang relatif besar. Minimalnya elektron hanya bergerak mengitari nuklei atom. Di samping tentunya pada tingkat energi yang lebih tinggi, elektron juga bisa melintas antar atom (menimbulkan arus listrik).

      Sebaliknya, proton adalah partikel pada nuklei atom, yang justru belum sempat dinetralkan oleh elektron. Nuklei atom yang masih mengandung proton (masih bermuatan positif), sebenarnya lebih tepat disebut "nuklei positif". Sedangkan nuklei atom yang tanpa proton, lebih tepat disebut "nuklei netral" (neutron). Terutama karena proton pada nuklei atom justru bersifat transisional (sementara), atau nuklei atom cenderung selalu berubah menjadi bermuatan netral. Pemisahan antara proton dan neutron pada nuklei atom, pada dasarnya relatif kurang berguna.

      Penting diketahui pula adanya anggapan yang keliru dari konsep "simetri barion", "bahwa tingkat energi yang amat sangat tinggi pada awal penciptaan alam semesta, dianggap telah berubah menjadi segala pasangan antipartikel dan partikel (antimateri dan materi) dalam jumlah yang 'persis sama'". Anggapan ini amat keliru, serta sekedar muncul terutama untuk bisa mengatasi persoalan kuantisasi muatan, akibat belum ditemukannya magnet monopol yang sebenarnya (partikel pembentuk supersimetri yang sebenarnya). Baca pula jawaban A.2.c di atas, tentang Magnet monopol, dan jawaban A.2.e di atas, tentang Supersimetri.

      Juga segala pasangan antipartikel dan partikel (antimateri dan materi) justru bukan bentuk supersimetri atau pasangan yang sebenarnya. Namun supersimetri yang sebenarnya tentunya mestinya selalu konstan (atabil) kapanpun, bukan transisional dan bukan terjadi secara acak (kebetulan), serta justru berada pada "materi terkecil", sebagai magnet monopol yang sebenarnya (selalu bermuatan positif ataupun negatif). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang Partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Adakah gaya-gaya yang tak-terlihat yang hadir pada awal penciptaan alam semesta, tetapi menghilang bersama dengan berkembangnya alam semesta?

      Gaya-gaya dasar pada awal penciptaan alam semesta, justru pasti ada pada saat ini (bahkan pasti selalu ada kapanpun), namun hanya berbeda-beda skala atau besarnya (terutama akibat perbedaan tingkat energi dan jenis partikel-materi-benda yang terlibat, saat terbentuknya).
      Mustahil ada gaya-gaya dan fenomena-fenomena alam yang menghilang begitu saja. Padahal hukum alam atau sunatullah justru bersifat mutlak (pasti terjadi / berlaku) dan kekal (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), sejak awal penciptaan alam semesta, sampai akhir jaman.

      Sama sekali tidak penting, apakah suatu gaya dasar "harus selalu" bisa diukur atau dideteksi ('terlihat'), karena tidak semua halnya memang bisa 'terlihat' (tiap alat ukur buatan manusia pasti memiliki berbagai keterbatasan). Jauh lebih penting dipahami justru keadaan, sifat, fenomena, kejadian dan hal-hal yang terkait dengan suatu gaya dasar, dari skala yang masih 'terlihat', yang lalu dikembangkan ke skala yang 'tak-terlihat'.

      Maka keberadaan konsep "simetri barion" justru amat keliru, karena telah terlalu memaksakan kajian hanya pada skala yang 'terlihat'. Padahal supersimetri yang sebenarnya berada pada "materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta) dan sebagai monopol yang sebenarnya (selalu bermuatan positif ataupun negatif), yang memang mustahil 'terlihat', namun justru selalu ada dimana-mana. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang Partikel hipotetik berupa "materi terkecil", jawaban A.2.c di atas, tentang Magnet monopol, dan jawaban A.2.e di atas, tentang Supersimetri.

    • Apakah fase-fase materi yang berinteraksi kuat, dan apakah peran yang dilakoninya di kosmos?

      Segala materi purba yang berinteraksi kuat (seluruh partikel sub-atomik, terutama nuklei atom), terbentuk saat awal penciptaan alam semesta, saat tingkat energi masih tertinggi. Fase materi pada saat ini tentunya seluruhnya berupa plasma. Dengan tingkat energi ini, materi relatif mudah melebur atau menyatu dengan materi lainnya (bukan saling menghancurkan). Hal ini sekaligus relatif mudah membentuk atom-atom purba (beserta segala partikel sub-atomik di dalamnya), yang relatif terbesar massa, gravitasi, ukuran dan titik leburnya (jauh di atas atom-atom yang dikenal oleh manusia).

      Atom-atom purba ini menjadi cikal bakal bagi pembentukan segala benda langit saat ini, yang berukuran relatif paling besar (terutama benda langit yang berupa bola, padat ataupun dingin, seperti: satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb). Atom-atom purba ini tentunya hanya ada di bagian inti pusat benda-benda langit itu (berfase padat), serta juga mustahil bisa dideteksi dan dijangkau oleh manusia (terbungkus atau terlindungi dari luar oleh bagian permukaan terluarnya, serta juga langsung hancur atau meledak di alam bebas). Baca pula jawaban A.3.b di bawah, tentang nuklei dan astrofisika nuklir.

      Sedangkan pembentukan segala jenis partikel sub-atomik, pada atom-atom yang dikenal oleh manusia saat ini (selain atom-atom purba bagi materi inti pusat benda-benda langit), tentunya juga melalui interaksi kuat, walau amat jauh daripada kekuatan interaksi pada atom-atom purba. Hal ini terutama karena tingkat energi saat pembentukannya memang jauh lebih rendah (seperti pada bintang dan pusat galaksi), serta relatif tidak terlindungi dari segala interaksi atau tumbukan dengan partikel lainnya (termasuk partikel pada radiasi sinar kosmik). Juga proses pembentukan atom-atom saat ini, tentunya serupa dengan atom-atom purba (hanya berbeda tingkat energinya).

      Apakah susunan internal dari nukleon?

      Segala partikel sub-atomik (bahkan segala partikel-materi-benda di alam semesta), hanya tersusun dari sejumlah besar "materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar" (paling kecil, ringan dan sederhana), serta sebagai monopol yang sebenarnya (pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif).

      Nukleon misalnya tersusun dari sejumlah besar "materi terkecil", dengan jumlah yang bermuatan positif "sama", terhadap jumlah yang bermuatan negatif (disebut "nukleon tanpa proton" atau hanya "neutron"), ataupun "sedikit lebih banyak" (disebut "nukleon dengan proton"). Secara alamiah, tidak ada nukleon yang bermuatan negatif, karena cenderung selalu meluruh menjadi bermuatan netral (jika keadaan terkait telah memungkinkan), begitu pula dengan nukleon yang bermuatan positif. Maka pemisahan antara proton dan neutron pada nukleon (nuklei atom), pada dasarnya relatif tidak berguna (tidak diperlukan). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil", dan jawaban A.3.b di bawah, tentang Nuklei dan astrofisika nuklir.

      Pada teori Big Light justru tidak diterapkan pemodelan secara khusus, bagi struktur internal dari nukleon (hanya gabungan dari sejumlah besar "materi terkecil"), serupa pula dengan segala jenis partikel sub-atomik lainnya. Hal ini berbeda daripada Model standar, yang memodelkan struktur nukleon misalnya, dengan partikel-partikel gluon dan berragam jenis quark.

      Apakah QCD memprediksi sifat dari materi yang berinteraksi kuat?

      Tidak ada komentar, tentang teori QCD. Karena model alam semesta dari teori Big Light tidak dikembangkan berdasar teori QCD.

      Namun secara umum, sifat dari materi yang berinteraksi kuat, adalah interaksi elektromagnetik antar partikel penyusunnya yang "paling dasar" (seperti "materi terkecil"), yang terbentuk pada tingkat energi yang amat tinggi. Tiap "materi terkecil" berupa magnet monopol yang sebenarnya (pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif). Lalu pada tingkat energi yang lebih rendah, interaksinya juga relatif selalu tetap terjaga atau terlindungi terhadap pengaruh dari luar, oleh bagian permukaan terluar materinya. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil", dan jawaban A.3.b di bawah, tentang Nuklei dan astrofisika nuklir.

      Apakah yang mempengaruhi transisi dari quark dan gluon menjadi pion dan nukleon?

      Tidak ada komentar, tentang quark, gluon dan pion. Karena model alam semesta dari teori Big Light tidak dikembangkan berdasar partikel dasar dan komposit, seperti: fermion, lepton, quark, muon, hadron, barion, meson, gluon, boson, graviton, pion, kaon, magnon, dsb, juga bukan materi gelap dan antipartikel.

      Model ini hanya dikembangkan berdasar partikel hipotetik "materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), sebagai monopol yang sebenarnya (pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif), dan juga sebagai pembawa gaya yang "paling dasar" (gaya elektromagnetik). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Juga partikel sub-atomik, seperti: nukleon, neutron, proton, elektron, photon, neutrino, dsb, hanya disebut sebagai contoh komposisi dan jumlah muatan, dari sejumlah besar "materi terkecil".

      Segala transisi perubahan struktur partikel, hanya melalui tingkat energi yang relatif amat tinggi, sambil disertai interaksi gaya elektromagnetik antar partikel penyusunnya ("materi terkecil").

      Apakah peran dari gluon, dan interaksi antar gluon dalam nukleon dan nuklei?

      Tidak ada komentar, tentang gluon. Karena model alam semesta dari teori Big Light tidak dikembangkan berdasar partikel gluon.

      Segala interaksi antar "materi terkecil" ("di dalam" dan "di luar" suatu partikel sub-atomik), justru hanya berupa interaksi gaya elektromagnetik. Hal ini karena tiap "materi terkecil" sebagai partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), sebagai monopol yang sebenarnya (pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif), dan juga sebagai pembawa gaya yang "paling dasar" (gaya elektromagnetik).. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Sedangkan interaksi kuat antar "materi terkecil", di dalam dalam nukleon dan nuklei misalnya, justru hanya berupa interaksi gaya elektromagnetik yang terbentuk pada tingkat energi yang relatif amat tinggi, yang sekaligus relatif selalu tetap terjaga atau terlindungi terhadap pengaruh dari luar, oleh bagian permukaan terluarnya (bisa terbentuk energi dalam). Baca pula jawaban A.2.b di atas, tentang Persoalan hierarki gaya dasar.

      Apakah yang menentukan ciri utama dari QCD, dan apakah kaitannya dengan sifat dari gravitasi dan ruang-waktu?

      Tidak ada komentar, tentang teori QCD. Karena model alam semesta dari teori Big Light tidak dikembangkan berdasar teori QCD.

      Secara umum, gaya interaksi kuat (gaya nuklir kuat) tidak terkait langsung dengan gaya gravitasi. Karena gaya interaksi kuat hanya mengikat tiap partikel sub-atomik (termasuk nuklei atom), menjadi satu-kesatuan. Maka gaya interaksi kuat berada "di dalam" partikel sub-atomik (gaya antar partikel penyusun tiap partikel sub-atomik).
      Sedangkan gaya gravitasi justru mengikat antar partikel-materi-benda (termasuk antar partikel sub-atomik), melalui sejumlah besar partikel mediator. Maka gaya gravitasi berada "di luar" partikel sub-atomik. Serta partikel mediator gaya gravitasi justru mengisi seluruh ruang di alam semesta, untuk membentuk medan gravitasi yang kontinu atau tidak terputus.

      Namun secara khusus, gaya interaksi kuat dan gaya gravitasi, justru sama-sama berupa gaya elektromagnetik (sebagai gaya yang "paling dasar"). Dimana gaya interaksi kuat adalah gaya elektromagnetik antar partikel yang "paling dasar", yang menyusun tiap partikel sub-atomik. Sedangkan gaya gravitasi adalah gaya elektromagnetik antar partikel-materi-benda, yang melalui gaya elektromagnetik antar sejumlah besar partikel mediator. Baca pula jawaban A.2.b di atas, tentang persoalan hierarki gaya dasar.

      Sifat dari gaya interaksi kuat justru tidak terkait dengan ruang dan waktu. Kerangka ruang-waktu dari alam semesta justru relatif tak-terbatas (tidak perlu dimensi dan definisi ruang-waktu sama sekali), serta tidak terkait dengan segala kejadian di dalamnya. Juga dimensi ruang-waktu hanya dimensi relatif (amat tergantung kepada referensi awal, pengukur, alat ukur, dsb), serta hanya didefinisikan oleh manusia. Baca pula jawaban A.1.d di atas, tentang dimensi ekstra.

    • Apakah sifat dari gaya nuklir yang mengikat proton dan neutron, dalam nuklei dan isotop langka yang stabil?

      Segala partikel sub-atomik tersusun dari sejumlah besar "materi terkecil". Tiap "materi terkecil" itu sendiri selalu bermuatan positif ataupun negatif (monopol yang sebenarnya). Maka partikel sub-atomik yang bermuatan positif, seperti proton misalnya, adalah partikel yang jumlah "materi terkecil" yang bermuatan positifnya, 'sedikit lebih banyak' daripada yang bermuatan negatifnya. Sesuai muatannya masing-masing, tentunya hal yang serupa pula pada partikel yang bermuatan negatif (elektron) dan netral (neutron, photon, dsb). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Maka pada dasarnya tidak ada hal yang khusus, tentang interaksi antar sejumlah besar "materi terkecil", pada tiap partikel sub-atomik (proton, neutron, elektron, photon, dsb), yang melalui gaya nuklir kuat (gaya elektromagnetik antar "materi terkecil"-nya). Dan hanya ada "sedikit" perbedaan pada komposisi dan jumlah muatan "materi terkecil"-nya. Gaya nuklir pengikatnya justru tetap sama, pada segala partikel sub-atomik (tidak khusus hanya pada nuklei dan isotop). Ukuran nuklei yang memang terbesar, yang seolah-olah menjadikannya memiliki kekhususan (energi dalamnya juga terbesar). Baca pula jawaban A.2.b di atas, tentang persoalan hierarki gaya dasar.

      Pada teori Big Light, tidak diperlukan pemisahan antara proton dan neutron, di dalam nuklei atom (cukup dianggap sebagai satu-kesatuan, dan disebut 'nukleon').

      Apakah sumber dari pola sederhana pada nuklei yang kompleks?

      "Materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar" (paling kecil, ringan dan sederhana). Maka pada dasarnya tidak ada nuklei yang kompleks. Nuklei hanya berupa campuran sejumlah besar "materi terkecil", dengan jumlah yang bermuatan positifnya "sama" atau "sedikit lebih banyak", daripada yang bermuatan negatifnya. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Apakah sifat dari eksotis eksitasi dalam nuklei pada batas-batas stabilitas, dan perannya dalam proses-proses pada benda langit?

      Tidak ada komentar, tentang sifat dari eksotis eksitasi. Juga tidak ada hal yang terlalu khusus tentang nuklei, kecuali massa dan ukurannya yang terbesar di antara segala partikel sub-atomik lainnya, di dalam sistem atom, serta sekaligus sebagai pusat orbitnya.

      Apakah sifat dari bintang neutron dan materi nuklir padat?

      Segala benda langit yang berbentuk relatif seperti bola (satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb), pada dasarnya memiliki bagian inti pusat (nuklei), yang tersusun dari atom-atom yang bermassa jenis relatif paling tinggi di seluruh alam semesta (nuklei atomnya relatif paling berat dan besar). Atom-atom dengan nuklei yang bermassa dan gravitasi amat sangat tinggi semacam ini, tidak tersebar dimana-mana di alam semesta, serta mustahil bisa dideteksi dan dijangkau oleh manusia, karena hanya berada pada materi di bagian inti pusat benda langit (terbungkus atau terlindungi dari luar oleh bagian permukaan terluarnya, serta juga langsung hancur atau meledak di alam bebas).

      Hal ini tentunya juga terjadi pada bintang neutron dan lubang hitam, karena keduanya pada awalnya juga bintang biasa (dengan berbagai massa dan ukurannya). Namun setelah milyaran tahun memancarkan sinar atau materinya, relatif hampir semua materi di bagian permukaan keduanya (termasuk gas dan debu di atmosfirnya), justru telah habis. Maka relatif hampir seluruh bagian dari keduanya, akhirnya hanya tersusun dari materi inti pusat.

      Sedangkan sebagian amat sedikit lainnya di bagian permukaan, tersusun dari materi transisi antara materi inti pusat dan materi yang terpancar. Materi transisi ini amat berperan sebagai dinding pelindung bagi kestabilan materi inti pusatnya. Serta pada sebagian benda langit, materi transisi terluarnya berupa Besi (Fe) dan Nikel (Ni), sebagai materi yang terakhir yang masih bisa dideteksi oleh manusia, dari inti pusat benda langit. Pada lubang hitam, materi transisi terluarnya tentunya bukan berupa Besi (Fe) dan Nikel (Ni), namun materi yang relatif jauh lebih tinggi massa dan titik leburnya, serta tetap stabil pada suhu yang amat stinggi.

      Di lain pihaknya, materi nuklir padat yang bisa dikenal oleh manusia, mustahil bisa bermassa dan gravitasi amat sangat tinggi, seperti halnya materi inti pusat benda langit. Hal ini terutama karena partikel-partikelnya, justru hampir mustahil bisa tetap terjaga massa atau ukurannya, karena relatif amat tidak terlindungi dari interaksi atau tumbukan dengan segala partikel, yang bertebaran di alam semesta (termasuk partikel pada radiasi sinar kosmik).

      Maka sifat-sifat dari materi nuklir padat dan materi inti pusat benda langit, secara umum pada dasarnya sama, serta relatif hanya berbeda pada skala massa, gravitasi, ukuran, titik lebur, dsb. Juga sekali lagi, hampir mustahil ada informasi tentang materi inti pusat benda langit, yang bisa diukur, dideteksi atau diketahui langsung oleh manusia.

      Apakah sumber dari elemen-elemen di kosmos?

      Sumber paling awal bagi segala sesuatu hal di alam semesta (bagi penciptaannya), justru hanya berupa 3 elemen yang "paling dasar", yaitu: "Ruh", "Materi terkecil" dan "Energi", yang telah diciptakan oleh Allah, Yang Maha Esa dan Maha Pencipta.
      Bahkan ketiganya juga sebagai satu-kesatuan pada sesuatu hal yang sama, karena tiap "Materi terkecil" pasti ditempati oleh suatu "Ruh" ("ditiupkan-Nya ruh"), yang pasti mengendalikan atau menggerakkan materinya, dengan "Energi".
      Seluruh elemen yang "paling dasar" itu tak-terhitung jumlahnya (mengisi seluruh alam semesta), yang diciptakan-Nya secara sekaligus dan bersamaan, pada saat paling awal penciptaan alam semesta. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Apakah reaksi nuklir yang mendorong ledakan bintang dan benda langit?

      Reaksi fusi nuklir, seperti halnya pada Matahari, namun dengan amat berragam skala atau lingkupnya (termasuk tingkat energi, jumlah dan jenis materi yang terlibat). Reaksi fusi nuklir ini tentunya justru didorong oleh tekanan dan suhu yang relatif amat sangat tinggi, akibat massa dan gravitasi yang relatif amat sangat besar, terutama dari materi inti pusat benda langitnya. Gravitasi semacam ini tentunya menimbulkan fluktuasi tekanan dan suhu, serta juga sekaligus fluktuasi kuantum, yang mendasari terjadinya reaksi fusi nuklir.

      Di lain pihaknya, dengan gravitasi yang relatif rendah dari materi inti pusat planet, satelit dan benda langit yang lebih kecil lainnya, maka fluktuasi tekanan dan suhu yang ditimbulkannya justru tidak memungkinkan bagi terjadinya fluktuasi kuantum dan reaksi fusi nuklir.

    • Apakah nuklei terberat stabil atau metastabil, yang mungkin ada?

      Nuklei yang stabil dan relatif paling berat, berada pada atom-atom yang menyusun inti pusat (nuklei) dari benda-benda langit (terutama benda langit yang berupa bola, padat ataupun dingin, seperti: satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb). Tentunya nuklei yang stabil dan "paling berat", berada pada inti pusat (nuklei) dari "pusat alam semesta", sebagai benda langit yang terbesar di alam semesta, dan berupa lubang hitam.

      Nuklei atom seperti itu membentuk atom-atom, yang memiliki massa, kerapatan dan titik lebur yang amat sangat tinggi (paling tinggi di antara seluruh jenis atom di alam semesta), sekaligus juga relatif paling stabil, karena memang berada pada inti pusat benda langit (tidak terganggu atau tidak berinteraksi dengan partikel dari luar). Nuklei atom seperti itupun hanya terbentuk pada saat awal penciptaan alam semesta (saat tingkat energi paling tinggi).

      Nuklei atom seperti itu hampir mustahil bisa diamati oleh manusia (mustahil bisa menggali ke pusat Bumi atau Bulan misalnya). Paling tingginya manusia relatif hanya bisa mengamati nuklei-nuklei atom yang jauh lebih ringan, seperti pada komet, meteor ataupun asteroid yang pernah jatuh ke Bumi, Bulan atau planet lainnya.

      Sedangkan nuklei-nuklei atom yang biasa diketahui oleh manusia, justru relatif kurang stabil (metastabil), karena cenderung selalu mengalami gangguan ataupun sering berinteraksi dengan segala partikel lainnya, yang bertebaran di alam semesta (termasuk partikel pada radiasi sinar kosmik dari bintang). Sehingga nuklei-nuklei inipun relatif sering berubah massa dan muatannya (di samping perubahan segala keadaan lainnya). Juga sekaligus massanya amat jarang yang bisa amat berat, secara alamiah (relatif terus-menerus hancur menjadi partikel-partikel kecil ataupun menyatu dengan partikel lainnya). Makin berat massanya (gravitasi dan ukurannya), juga relatif makin mudah hancur, akibat makin sering bertumbukan dengan partikel lainnya.

      Bahkan unsur-unsur yang paling berat pada "Tabel susunan berkala" (zat-zat radioaktif), justru hasil buatan manusia (bukan langsung terdapat di alam, secara alamiah).

      Sedangkan pembentukan nuklei atom dan segala partikel sub-atomik lainnya yang menyusun inti pusat (nuklei) dari benda-benda langit, justru hanya terbentuk pada saat awal penciptaan alam semesta (saat tingkat energinya paling tinggi). Hal ini karena pembentukan partikel sub-atomik, amat dipengaruhi oleh skala atau tingkat energi tinggi, pada saat pembentukannya dari sejumlah besar "materi terkecil", dengan berragam komposisi, jumlah muatan, massa, ukuran, kecepatan, dsb, yang terjadi secara acak (kebetulan). Namun pada tiap tingkat energi memang relatif bisa terbentuk sejumlah jenis tertentu partikel, yang cukup khas (terutama pada massa-massanya), walau sifat-sifat dasar lainnya pasti tetap sama (partikel penyusunnya relatif homogen). Setelah terbentuk tentunya kestabilan partikelnya bisa terganggu dan lalu cenderung selalu membentuk kestabilan yang baru, pada tiap perubahan tingkat energinya.

      Makin tnggi skala atau tingkat energi, juga relatif makin mudah antar partikel untuk bisa saling melebur atau menyatu (membentuk partikel yang bermassa makin berat), sekalipun memang makin tinggi energi kinetik partikel (makin banyak tumbukan antar partikel). Dengan sendirinya partikel-partikel yang terberat justru hanya bisa terbentuk, pada saat awal penciptaan alam semesta, karena tingkat energinya memang tertinggi. Partikel-partikel terberat inipun tentunya menjadi cikal-bakal bagi pembentukan segala benda langit (terutama pembentukan materi inti pusat dari benda langit yang berupa bola, seperti: satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb).

      Namun ironisnya, kejadian Big Bang justru amat diragukan bagi terjadinya pembentukan materi inti pusat benda-benda langit, sekalipun tingkat energi saat kejadiannya memang juga paling tinggi. Hal ini terutama karena pergerakan partikel akibat adanya inflasi kosmik, secara amat sangat cepat dan eksponensial, dan sekaligus secara radial (makin menjauh), justru relatif amat sulit bagi terjadinya interaksi antar partikel (sulit saling bertumbukan).
      Bahkan relatif hampr tidak ada penjelasan dalam teori Big Bang, tentang pembentukan materi inti pusat benda-benda langit. Benda-benda langit (terutama bintang dan planet) justru dianggap bisa terbentuk, hanya dari sekumpulan besar gas dan debu di sekitar pusat galaksi, yang 'runtuh' atau 'termampatkan' begitu saja (tanpa melibatkan materi bagi inti pusatnya).

    • Adakah interpretasi yang tepat bagi mekanika kuantum?

      Segala fenomena atau kejadian di alam semesta, pada dasarnya tersusun secara hierarki, dari yang paling sederhana sampai paling kompleks, dari yang paling kecil sampai paling besar, dari yang paling ringan sampai paling berat, dari tingkat kuantum sampai tingkat benda langit, dsb. Sehingga skala atau ukuran tiap kejadiannya bisa berbeda-beda, namun proses kejadiannya sendiri justru tetap sama. Hal ini karena hukum alam atau sunatullah yang mengatur segala proses kejadian di alam semesta, memang bersifat kekal (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), serta pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan "tiap saatnya", pada tiap zat (termasuk pada lingkungan di sekitar zat itu).

      Tentunya interpretasi yang tepat bagi mekanika kuantum, pada dasarnya juga serupa dengan interpretasi atas interaksi dan gerak benda-benda langit di alam semesta, namun dengan skala sistem yang paling kecil. Contoh sederhananya, Matahari serupa dengan nuklei atum, planet dengan elektron, photon dengan meteor, neutrino dengan komet, dsb. Hal ini tentunya tidak persis serupa, selain karena perbedaan skala sistemnya, juga perbedaan skala segala keadaan lainnya pada tiap partikel-materi-bendanya (termasuk partikel sub-atomik jauh lebih energik).

      Sekali lagi, proses kejadian atas tiap partikel-materi-benda (termasuk gaya-gaya dasarnya), pada daaarnya pasti tetap sama, sesuai dengan segala keadaannya masing-masing.

      Juga persoalan pengukuran pada tingkat kuantum, juga serupa dengan persoalan pada tingkat benda langit. Contoh sederhananya, manusia tidak bisa mengetahui partikel yang paling ringan, kecil dan sederhana (seperti "materi terkecil"), serta tidak bisa mengetahui benda langit. yang paling berat, besar dan kompleks (seperti "pusat alam semesta"). Termasuk manusia tidak bisa mengetahui atom yang paling berat, besar dan kompleks, yang berada pada inti pusak benda langit (Bulan, Bumi, Matahari, pusat galaksi, lubang hitam, dsb).

      Pada tingkat yang paling ekstrim (pada tingkat kuantum dan tingkat benda langit), satu-satunya solusi bagi pemahamannya, adalah pendekatan konseptual-filosofis, serta tidak perlu harus dipaksakan, untuk bisa dibuktikan atau 'dilihat' secara fisik dan empirik (bahkan memang mustahil bisa dicapai sampai kapanpun). Pendekatan ini mestinya sambil disesuaikan dengan fenomena dari segala hasil pengamatan, pada tingkat yang memang telah bisa dibuktikan dengan relatif pasti dan jelas (memakai fakta atau realitas secara apa adanya).

      Juga termasuk tidak perlu dipaksakan adanya teori-konsep, seperti: superposisi keadaan, kurva waktu, keruntuhan fungsi gelombang ataupun dekoherensi kuantum, yang makin mengaburkan informasi fisik yang diperoleh (hanya melahirkan spekulasi atau ketidak-pastian).

      Pada awal dilakukannya pendekatan konseptual-filosofis itu, juga mestinya terlebih dahulu bisa diprediksikan gaya yang "paling dasar", yang bisa mengkaitkan atau bisa menjadi sumber yang paling awal, bagi terjadinya semua gaya dasar lainnya, yang memang telah dikenal. Lalu bisa diprediksikan partikel hipotetik yang "paling dasar" (paling kecil, ringan dan sederhana), yang menjadi penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta, yang sekaligus juga bisa menjadi mediator bagi gaya yang "paling dasar" tersebut.

      Dalam model alam semesta dari teori Big Light, telah diprediksi, bahwa gaya yang "paling dasar" adalah gaya elektromagnetik, yang dimediasi oleh partikel yang "paling dasar" ("materi terkecil"). Baca pula jawaban A.2.b di atas, tentang persoalan hierarki gaya dasar, dan jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Bagaimana deskripsi kuantum tentang realitas, yang mencakup elemen-elemen seperti superposisi keadaan dan keruntuhan fungsi gelombang atau dekoherensi kuantum, menimbulkan realitas yang biasa dirasakan?

      Deskripsi kuantum tidak memerlukan teori-konsep, seperti: superposisi keadaan, keruntuhan fungsi gelombang ataupun dekoherensi kuantum, namun cukup memakai fakta atau realitas yang telah relatif pasti dan jelas.

      Cara lain untuk menyatakan hal ini adalah persoalan pengukuran – apakah terdapat "pengukuran" yang menyebabkan fungsi gelombang runtuh kepada keadaan tertentu?

      Tidak ada "keruntuhan fungsi gelombang". Karena gelombang bagian dari dualitas sifat materi. Bukan "keruntuhan fungsi gelombang" yang terjadi, tetapi materi atau informasinya yang diukur memang tidak ada.

      Bahkan persoalan pengukuran justru bukan hal yang paling penting, karena segala sesuatunya memang mustahil bisa terukur atau terdeteksi semuanya. Jauh paling penting dipahami justru tentang keadaan, sifat, fenomena atau kejadian di alam semesta (termasuk yang terkait dengan semua gaya dasar dan partikel dasar), dari skala yang masih 'terukur', yang lalu dikembangkan ke skala yang 'tak-terukur'.

    • Adakah fenomena fisik, seperti lubang hitam atau keruntuhan fungsi gelombang, yang tidak dapat ditarik kembali, telah menghancurkan informasi tentang keadaan terdahulunya?

      Pada dasarnya sama sekali tidak ada informasi fisik yang "terhancurkan", namun memang hanya 'belum' dan 'mustahil' bisa diamati (diukur atau dideteksi).

      Terkait dengan struktur 'internal' dari lubang hitam, juga sama sekali tidak ada informasi fisiknya yang terhancurkan. Hal yang sebenarnya terjadi, memang justru tidak ada informasi fisik tentang struktur 'internalnya', yang terkirim dari lubang hitam (melalui radiasi sinar kosmiknya). Radiasi sinar kosmik dari lubang hitam relatif hanya membawa informasi fisik, tentang materi di bagian permukaan terluarnya dan materi pada benda langit dari luar, yang mengalami akresi atau 'jatuh' ke lubang hitam itu sendiri. Baca pula jawaban A.1.c di atas, tentang lubang hitam.

      Juga sama sekali tidak ada "keruntuhan fungsi gelombang", termasuk pada gelombang radiasi sinar kosmik dari lubang hitam. Bahkan gelombang memang bagian dari dualitas sifat materi-partikel, "saat sedang bergerak" (bukan sifat saat diam). Sedangkan telah jelas diketahui, bahwa segala partikel yang bertebaran di alam semesta, justru bermuatan positif, negatif ataupun netral.

      Maka saat suatu partikel sedang bergerak melintas di ruang antariksa misalnya, ia pasti bergerak secara "jigjag" (berkelok-kelok ke kiri dan ke kanan), akibat pengaruh tumbukan, serta pengaruh interaksi medan elektromagnetik atau medan gravitasi, dengan partikel-partikel yang dilintasinya. Hal ini relatif serupa, dengan seseorang yang sedang berjalan secara "jigjag" di gang yang lurus, di dalam pasar yang ramai. Gerakan partikel secara "jigjag" itupun disebut sifat gelombangnya (tiap jenis partikel relatif berbeda-beda frekuensi dan panjang gelombangnya).

      Sekali lagi, memang justru tidak ada informasi fisik tentang struktur 'internalnya', yang terkirim dari lubang hitam (melalui radiasi sinar kosmiknya). Bahkan hal yang serupa juga terjadi pada benda-benda langit lainnya (terutama benda langit yang berupa bola, padat ataupun dingin, seperti: satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb). Misalnya tidak ada informasi fisik tentang struktur inti pusat Bumi, kecuali hanya tentang bagian permukaan terluarnya. Baca pula jawaban A.3.b di atas, tentang Nuklei dan astrofisika nuklir.

    • Adakah teori yang menjelaskan harga-harga dari semua konstanta fisik dasar?

      Secara umumnya, tiap konstanta fisik justru timbul hanya untuk bisa mewakili suatu lingkup keadaan empirik tertentu (sama sekali bukan mewakili lingkup keadaan, secara menyeluruh atau global). Dengan sendirinya, tiap teori yang memakai konstanta fisik, tentunya mestinya hanya berlaku pada lingkup keadaan terkait. Bahkan makin banyak konstanta fisik yang dipakai, justru relatif makin sempit pula lingkup keadaan, yang bisa dirumuskan, diformulasikan, didefinisikan ataupun didalilkan oleh teorinya.

      Contoh sederhananya, saat awal dirumuskannya, tentunya kecepatan cahaya (c = 299.792.458 m/s) juga relatif pasti dianggap sebagai kecepatan pergerakan partikel yang paling tinggi. Maka tiap teori yang memakai konstanta kecepatan cahaya, tentunya lingkup keadaan bagi berlakunya teorinya, hanya berada di sekitar lingkup keadaan pada partikel, yang telah menimbulkan cahaya itu sendiri (photon). Namun jika ditemukan partikel yang kecepatannya bisa melebihi kecepatan cahaya, teori terkait tentunya juga mestinya relatif tidak berlaku, bagi lingkup keadaan yang lebih luas. Minimalnya, teori terkait bisa makin diperbaiki.

      Teori yang sedikit-banyak memakai konstanta fisik, pada dasarnya bukan teori yang ideal. Di lain pihaknya, teori yang ideal di samping mestinya bisa diformulasikan berdasar partikel dan gaya yang "paling dasar", juga di dalamnya mestinya bisa dihilangkan semua konstanta fisik. Hal ini tentunya mestinya sekaligus digantikan dengan segala variabel keadaan yang lebih lengkap, dan mencakup lingkup keadaan yang lebih luas. Minimalnya tiap konstanta fisik itu hanya dijadikan referensi awal, bagi segala variabel keadaan yang terkait. Dengan begitu, teorinya relatif bisa makin terhindar dari singularitas (lingkup keadaannya telah diformulasikan dengan lebih baik).

      Suatu teori yang ideal tentunya tidak harus bisa menjelaskan harga-harga dari semua konstanta fisik dasar, namun cukup hanya bagi konstanta fisik yang relavan atau terkait.

      Adakah teori yang menjelaskan, mengapa kelompok pengukuran pada Model standar, terjadi sebagaimana adanya, mengapa ruang-waktu teramati memiliki 3 + 1 dimensi, dan mengapa semua hukum ilmu fisika terjadi sebagaimana adanya?

      Hukum alam atau sunatullah bersifat mutlak (pasti terjadi / berlaku) dan kekal (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), serta pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan "tiap saatnya", pada tiap zat (termasuk pada lingkungan di sekitar zat itu). Sunatullah tidak pernah berubah, sejak awal penciptaan alam semesta, sampai akhir jaman.

      Maka suatu bentuk pengukuran tertentu, pada suatu lingkup keadaan empirik tertentu, tentunya pasti menunjukkan hasil yang relatif sama (terjadi sebagaimana adanya). Serupa pula halnya hukum-hukum fisik, dengan berragam tingkat kebenaran, kedalaman dan kesempurnaannya, yang hanya hasil usaha perumusan atau pengungkapan oleh manusia, atas sunatullah.

      Tiap data hasil pengukuran yang ditampilkan pada Model standar, tentunya relatif sulit diragukan kebenarannya (bisa diuji oleh banyak pihak). Namun kebenaran bentuk interpretasi atas tiap data itu sendiri (berikut pemakaiannya) dan juga kebenaran bentuk rumusan hukum-hukum ilmu fisika di dalamnya (berikut pemakaiannya), tentunya masih bisa diragukan.

      Dimensi ruang-waktu adalah dimensi fisik yang dipakai oleh manusia, untuk mendeskripsikan posisi atau letak tiap zat fisik di alam semesta (termasuk manusia sendiri), terhadap suatu titik referensi atau kerangka acuan fisik tertentu. Tentunya posisi atau letak tiap zat fisik telah cukup hanya dideskripsikan, melalui 3 + 1 dimensi ruang-waktu.

      Di lain pihaknya, sunatullah justru sama sekali tidak terkait dengan dimensi ruang-waktu (hanya berlaku sesuai dengan segala keadaan "tiap saatnya", pada tiap zat). Namun hukum-hukum ilmu fisika atau ilmu alam, sebagai hasil perumusan manusia atas sunatullah (hukum-hukum alam), memang 'memerlukan' dimensi atau kerangka acuan bersama, bagi simulasi, pengujian atau pembuktikannya. Baca pula jawaban A.1.d di atas, tentang dimensi ekstra.

      Apakah "konstanta fisik dasar" bervariasi menurut waktu?

      Pertanyaan ini tentunya kurang tepat, karena "konstanta" berbeda daripada "variabel". Barangkali lebih tepatnya, "apakah sifat-sifat fisik dari tiap materi, bervariasi menurut waktu?" atau "apakah konstanta fisik dasar bisa tidak berlaku pada berbagai keadaan?".

      Hukum alam atau sunatullah bersifat mutlak (pasti terjadi / berlaku) dan kekal (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), serta pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan "tiap saatnya", pada tiap zat (termasuk pada lingkungan di sekitar zat itu).

      Sedangkan sifat-sifat fisik dari materi pasti hanya bersumber dari berlakunya sunatullah. Maka sifat-sifat fisik itupun mustahil bervariasi menurut waktu, bahkan sekalipun segala keadaan fisik berubah-ubah, dari waktu ke waktu. Perbedaan segala keadaan fisik hanya membedakan skala atau besar pengaruh dari sifat-sifat fisik materinya. Namun proses berlakunya sifat-sifat fisik itu sendiri justru pasti tetap sama.

      Dan seperti halnya dalam jawaban di atas, bahwa tiap konstanta fisik pasti hanya terkait dengan lingkup keadaan empirik tertentu, saat perumusan atau perolehannya. Maka tiap konstanta fisik yang memang 'benar', tentunya pasti selalu tetap berlaku pada lingkup keadaan empiriknya.

      Adakah partikel fisik dalam Model standar, yang sebenarnya berupa gabungan partikel-partikel yang terikat amat kuat, seperti halnya untuk mengamati energi eksperimental saat ini?

      Segala partikel fisik yang telah diketahui oleh manusia, yang memang telah terbukti (termasuk dalam Model standar), pasti tersusun dari sejumlah besar "materi terkecil". "Materi terkecil" adalah partikel yang "paling dasar" (paling kecil, ringan dan sederhana), yang menjadi penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta. Sedangkan interaksi antar "materi terkecil" 'di dalam' suatu partikel fisik, pasti berupa interaksi kuat (interaksi nuklir kuat). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Namun persoalannya, prediksi dari teori Big Light atas keberadaan "materi terkecil", justru hanya diperoleh berdasar kajian konseptual-filosofis, atas segala partikel fisik yang telah bisa diukur atau dideteksi, berikut sifat-sifatnya.

      Adakah partikel dasar yang belum teramati, dan jika ada, apakah itu dan apakah sifat-sifatnya?

      Tentunya bisa banyak partikel dasar yang belum teramati, akibat pasti adanya keterbatasan alat ukur atau deteksi buatan manusia. Apalagi belum ditemukannya suatu partikel, yang manjadi mediator yang "paling dasar" (mediator yang sebenarnya), bagi 'semua' gaya dasar sekaligus.

      Namun persoalan pengukuran justru bukan hal yang paling penting, karena segala sesuatunya memang mustahil bisa terukur atau terdeteksi semuanya. Jauh paling penting dipahami justru tentang keadaan, sifat, fenomena atau kejadian di alam semesta (termasuk yang terkait dengan semua gaya dasar dan partikel dasar), dari skala yang masih 'terukur', yang lalu dikembangkan ke skala yang 'tak-terukur'.

      Dari proses pemahaman semacam itu, sambil disertai kajian konseptual-filosofis, maka pada teori Big Light telah diprediksi keberadaan "materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), sebagai monopol yang sebenarnya (pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif), dan juga sebagai pembawa gaya yang "paling dasar" (gaya elektromagnetik). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Namun persoalannya, "materi terkecil" adalah partikel hipotetik yang mustahil bisa diukur atau dideteksi secara langsung, terutama karena bersifat transparan (ada dimana-mana di alam semesta, atau mustahil bisa dipisahkan dari latar-belakangnya).

      Adakah gaya-gaya dasar yang belum teramati yang tersirat oleh teori, yang menjelaskan persoalan-persoalan yang belum terpecahkan lainnya dalam ilmu fisika?

      Semua gaya dasar yang ada di alam semesta, relatif semuanya telah teramati oleh manusia. Persoalannya umumnya hanya pada amat berragamnya skala atau besar gayanya (termasuk akibat amat berragamnya tingkat energi dan jenis materi yang terlibat). Sedangkan sifat atau fenomena tiap gayanya justru pasti tetap relatif sama (tergantung kesempurnaan definisinya), termasuk jika diamati pada kejadian di alam semesta, yang baru diketahui sama sekali.

      Persoalan lainnya tentunya karena belum ditemukannya gaya yang "paling dasar", yang bisa mengkaitkan atau bisa menjadi sumber yang paling awal, bagi terjadinya semua gaya dasar lainnya, yang memang telah dikenal.

      Namun melalui model alam semesta dari teori Big Light, telah diprediksi, bahwa gaya yang "paling dasar" adalah gaya elektromagnetik, yang dimediasi oleh partikel yang "paling dasar" ("materi terkecil"). Baca pula jawaban A.2.b di atas, tentang persoalan hierarki gaya dasar, dan jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Namun persoalannya, "materi terkecil" yang menjadi mediator bagi gaya yang "paling dasar" (gaya elektromagnetik), adalah partikel hipotetik yang mustahil bisa diukur atau dideteksi secara langsung, terutama karena bersifat transparan (ada dimana-mana di alam semesta, atau mustahil bisa dipisahkan dari latar-belakangnya).

    • Apakah teori-teori pengukuran non-Abelian dengan celah massa benar-benar ada?

      Teori semacam ini pada dasarnya tetap mustahil bisa menyelesaikan persoalan fisika, pada tingkat yang paling ekstrim (pada tingkat kuantum dan tingkat benda langit), yang memang mustahil bisa dicapai seluruhnya sampai kapanpun (mustahil bisa dilihat, diukur atau dideteksi seluruhnya). Lebih jelasnya, teori semacam ini hanya bisa relatif makin memperbaiki, berbagai hasil prediksi dari Model standar.

      Solusi yang terbaik bagi segala persoalan fisika, pada dasarnya hanya bisa dicapai melalui gabungan atau sinkronisasi antara segala hasil pengukuran atau pengamatan, dengan hasil pendekatan konseptual-filosofis. Baca pula jawaban A.4.a di atas, tentang mekanika kuantum.

B.

Fenomena empiris yang kurang memiliki penjelasan ilmiah yang jelas

»
    • Apakah asal usul materi, energi, ruang-waktu dan gaya-gaya dasar yang membentuk satu / banyak alam semesta?

      Jumlah alam semesta hanya satu. Hal ini cukup jelas dari adanya gaya gravitasi antar materi (gaya tarik-menarik). Sehingga segala materi di dalam ruang 'tak-terbatas' tempat alam semesta berada, justru cenderung selalu 'berkumpul'. Segala materi itupun tentunya telah menyusun alam semesta, tempat manusia berada. Benda-benda langit misalnya, juga saling 'berkumpul' dalam tiap sistemnya, secara berhierarki (sistem planet, bintang, galaksi, kumpulan galaksi, dan alam semesta). Baca pula jawaban A.1.f di atas, tentang banyak alam semesta, yang keliru.

      Alam semesta dan segala isinya mulai diciptakan oleh Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Pencipta, hanya dari 3 elemen yang "paling dasar", yaitu: "Ruh", "Materi terkecil" dan "Energi". Bahkan ketiganya juga sebagai satu-kesatuan pada sesuatu hal yang sama, karena tiap "Materi terkecil" pasti ditempati oleh suatu "Ruh" ("ditiupkan-Nya ruh"), yang pasti mengendalikan atau menggerakkan materinya, dengan "Energi". Serta seluruhnya ada tak-terhitung jumlahnya, yang diciptakan-Nya secara sekaligus dan bersamaan, pada saat paling awal penciptaan alam semesta. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      "Ruh" sebagai zat penyusun dan pengendali kehidupan bagi tiap makhluk. "Materi terkecil" sebagai zat penyusun terkecil bagi tiap benda mati. Sedangkan "Energi" sebagai potensi atau kemampuan bagi tiap zat, dalam beraktifitas atau berinteraksi. Secara keseluruhan, energi yang terpakai bagi berjalannya alam semesta, sejak awal penciptaannya sampai akhir jaman, disebut "energi alam semesta", yang pada saat awalnya seluruhnya diciptakan-Nya berupa energi panas (energi kinetik partikel mikroskopik, pada segala "Materi terkecil"). Bersama berjalannya waktu dan secara perlahan, energi panas inipun berubah menjadi segala jenis energi lainnya.

      Gaya yang "paling dasar" adalah "gaya elektromagnetik", yang dimediasi oleh "materi terkecil", serta sebagai penyusun bagi semua gaya dasar lainnya, yaitu: gaya elektromagnetik 'normal', gaya gravitasi, gaya interaksi kuat (gaya nuklir kuat) dan gaya interaksi lemah (gaya nuklir lemah). Baca pula jawaban A.2.b di atas, tentang persoalan hierarki gaya dasar.

      Dimensi ruang-waktu berasal dari manusia, yang dipakai atau diperlukannya, dalam usaha merumuskan, memformulasikan atau mendefinisikan teorinya, tentang berbagai fenomena di alam semesta. Terutama agar teorinya itu juga bisa disimulasikan, diuji ataupun dibuktikan secara berulang, oleh pihak lainnya (perlu dimensi atau kerangka acuan bersama).

      Serta alam semesta justru relatif tak-terbatas ruang dan waktunya (tidak perlu dimensi dan definisi ruang-waktu sama sekali). Baca pula jawaban A.1.d di atas, tentang dimensi ekstra.

    • Mengapa ada jauh lebih banyak materi daripada antimateri di alam semesta teramati?

      Dalam keadaan 'stabil atau seimbang', memang mustahil ada antimateri di alam semesta.

      Antipartikel pada dasarnya hanya partikel dengan sifat-sifat tertentu, yang transisional dan amat tidak stabil. Dimana antipartikel bermassa serupa dengan partikel normal, namun berlawanan muatan. Sedangkan antimateri pada dasarnya hanya materi yang tersusun dari antipartikel, dengan atau tanpa tersusun pula dari partikel normal. Antipartikel dan antimateri hanya terdapat secara alamiah, pada tempat terjadinya fluktuasi kuantum (tingkat energinya amat tinggi, seperti di Matahari), namun juga langsung menghilang hanya amat sesaat saja setelah terbentuk. Baca pula jawaban A.2.g di atas, tentang dasar simetri dan neutrino.

      Juga segala pasangan antipartikel dan partikel (antimateri dan materi) justru bukan bentuk supersimetri atau pasangan yang sebenarnya. Namun supersimetri yang sebenarnya tentunya mestinya selalu konstan (atabil) kapanpun, bukan transisional dan bukan terjadi secara acak (kebetulan), serta justru berada pada "materi terkecil", sebagai magnet monopol yang sebenarnya (selalu bermuatan positif ataupun negatif). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang Partikel hipotetik berupa "materi terkecil", dan jawaban A.2.e di atas, tentang Supersimetri.

    • Mengapa energi titik nol dari ruang vakum tidak menyebabkan konstanta kosmologis yang besar?

      Hal ini cukup jelas menunjukkan, bahwa "konstanta kosmologis" memang tidak diperlukan atau telah keliru dalam mendeskripsikan proses perluasan / ekspansi alam semesta teramati, serta juga sekaligus menunjukkan, bahwa "energi gelap" (energi vakum) memang tidak ada.

      Sedangkan diketahui, bahwa "konstanta kosmologis" telah didefinisikan oleh Einstein, melalui persamaan medan pada teori Relativitas umum, sederhananya untuk menjelaskan "mengapa alam semesta tidak berkontraksi, akibat adanya gravitasi", dalam mendukung konsep "alam semesta stasioner"-nya. Lalu setelah konsep ini memang tidak terbukti, "konstanta kosmologis" juga ditinggalkannya. Namun "konstanta kosmologis" justru dipakai kembali oleh para ilmuwan saat ini, untuk menjelaskan "mengapa alam semesta teramati bisa berekspansi (makin meluas)". Hal ini juga sekaligus melahirkan konsep hipotetik "energi gelap", sebagai energi pada ruang vakum yang memiliki "tekanan negatif" (melawan gravitasi).

      Persoalan "alam semesta tidak berkontraksi" justru amat sederhana, serta hanya terjadi karena adanya keseimbangan antara gravitasi antar benda langit di alam semesta, dan energi kinetik pada tiap benda langitnya. Maka sama sekali tidak diperlukan adanya "konstanta kosmologis" dan "energi gelap" (energi vakum), kecuali tentunya bagi teori Big Bang misalnya.

      Sedangkan perluasan / ekspansi alam semesta teramati, justru bukan terjadi akibat adanya "energi gelap" dan "inflasi kosmik", tetapi hanya terjadi akibat makin berkurangnya massa dari benda-benda langit, terutama yang masih memancarkan sinar atau partikelnya (bintang, quarsar, dsb). Maka benda-benda langit itu makin berkurang pula gravitasinya, dan sekaligus saling menjauh dari benda langit pusat orbitnya masing-masing. Baca pula jawaban A.1.e di atas, tentang inflasi kosmik, yang keliru, dan jawaban A.1.a di atas, tentang bencana vakum.

      Baca pula jawaban berikut, bagi penjelasannya.

      Apakah yang membatalkannya?

      Ringkasnya, "muatan" dan "kecepatan" dari partikel-materi-benda.

      Contoh sederhana misalnya, Bumi memang berada di bawah pengaruh medan elektromagnetik atau medan gravitasi dari Matahari, namun kecepatan pergerakan Bumi sendiri, justru telah mengakibatkannya bisa tetap berada pada letak dan lintasan orbit, yang relatif amat stabil (tidak jatuh ke Matahari). Energi kinetik pada Bumi yang relatif seimbang dengan energi potensialnya terhadap Matahari, yang bisa menjaga kestabilan itu.

      Segala partikel-materi-benda di alam semesta, tersusun dari sejumlah besar "materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar", dan sebagai magnet monopol yang sebenarnya (pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif, satu kutub). Sedangkan segala partikel-materi-benda yang berukuran lebih besar daripada "materi terkecil" (dari partikel sub-atomik sampai benda langit), pasti berupa magnet dipol (dua kutub), yang amat kuat ataupun amat lemah. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Sehingga segala partikel-materi-benda di alam semesta, justru cenderung selalu 'berkumpul', melalui saling interaksi antar medan elektromagnetik atau medan gravitasinya. Sebaliknya justru bukan cenderung saling 'berpisah' oleh "energi gelap" (beserta "konstanta kosmologis"). Baca pula jawaban A.1.f di atas, tentang Banyak alam semesta, yang keliru.

      Sedangkan pergerakan acak segala partikel-materi-benda di alam semesta (amat berragam arah dan kecepatannya), memang telah terjadi sejak saat awal penciptaan alam semesta (saat tingkat energinya juga paling tinggi), serta seluruh materinya masih berupa "materi terkecil". Pada saat ini segala "materi terkecil" bergerak dengan amat sangat cepat (akibat saling interaksi medan elektromagnetik atau medan gravitasi) dan ke segala arah (akibat saling bertumbukan). Setelah terbentuk segala materi yang berukuran makin besar, tentunya tumbukan antar materi dan kecepatan pergerakannya juga makin berkurang. Juga sekaligus terbentuk pusat-pusat orbit, secara hierarki, dari yang terkecil (nuklei atom) sampai yang terbesar ("pusat alam semesta").

    • Apakah materi gelap?

      Definisi pada Model standar, bahwa "materi gelap adalah materi yang tidak memancarkan atau menebarkan cahaya (ataupun radiasi elektromagnetik lainnya), sehingga tidak bisa terdeteksi langsung, melalui gelombang optik dan radio di antariksa".

      "Indikasi atau tanda-tanda" keberadaan materi gelap di alam semesta, misalnya: adanya "massa yang hilang", pada kecepatan orbit dari kumpulan galaksi; kecepatan rotasi galaksi; "lensa gravitasi" terhadap benda langit latar, oleh kumpulan galaksi; dan distribusi suhu gas panas pada galaksi dan kumpulan galaksi. Serta materi gelap dianggap meliputi 83% dari volume seluruh materi di alam semesta, dan meliputi 23% dari seluruh massa-energi.

      Sekilas materi gelap itu relatif serupa dengan partikel hipotetik lainnya, seperti: "materi terkecil", "quintessence" dan "aether" (ether). Hal ini terutama karena sama-sama tidak bisa terdeteksi, amat kecil ukuran, massa dan energinya (amat 'gelap'), serta juga relatif terkait dengan gravitasi, walau dasar alasan keberadaannya masing-masing amat berbeda-beda.

      Namun materi gelap berbeda daripada "materi terkecil", terutama karena "materi terkecil" adalah materi yang "hidup" (pasti dikendalikan atau digerakkan oleh suatu zat "ruh kehidupan"). Juga materi gelap dipustulasikan hanya untuk menjelaskan persoalan yang terbatas (terutama 'kurangnya' jumlah materi yang tampak, bagi timbulnya gravitasi). Sedangkan "materi terkecil" justru dipustulasikan untuk menjelaskan persoalan yang amat luas, seperti: "ruh dan kehidupan makhluk"; "partikel dan gaya dasar"; "persoalan hierarki"; "bencana vakum"; "gravitasi kuantum"; "magnet monopol"; "supersimetri"; "generasi materi"; "pulau stabilitas"; "hukum alam"; dsb.

      "Materi terkecil" juga meliputi 'keseluruhan' alam semesta (100% dari volume materi dan massa-energi). Hal ini terutama karena "materi terkecil" sebagai partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta) dan juga sebagai pembawa unit energi yang terkecil. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil", dan jawaban terkait lainnya.

      Juga dari penjelasan atas materi gelap, yang masih memerlukan konsep "campuran materi gelap", "materi gelap dingin", "materi gelap hangat", dan "materi gelap panas", telah cukup jelas menunjukkan, bahwa materi gelap bukan partikel yang "paling dasar" (seperti "materi terkecil").

      Apakah materi gelap terkait dengan supersimetri?

      Definisi pada Model standar, bahwa "supersimetri adalah simetri yang mengkaitkan antar partikel dasar yang bermassa dan berangka kuantum sama, tetapi ber-spin berbeda 'setengah'". Dimana spin-rotasi partikel terjadi, akibat interaksi medan elektromagnetik atau medan gravitasinya dengan nuklei atomnya. Serupa halnya gerak rotasi benda langit terhadap sumbunya, akibat interaksi medan elektromagnetik atau medan gravitasinya dengan benda langit pusat orbitnya. Baca pula jawaban A.2.e di atas, tentang Supersimetri.

      Namun dari definisi materi gelap, yang belum meliputi penjelasan tentang sifat elektromagnetik, gravitasi dan muatannya, tentunya materi gelap justru belum terkait dengan supersimetri.

      Sedangkan supersimetri yang hanya berdasar spin-rotasi, justru juga bukan supersimetri yang sebenarnya (paling kuat, stabil, penting dan mendasar) dan mestinya berdasar "muatan magnet". Pengaruh "spin" hanya turunan atau hanya sebagian kecil dari pengaruh "muatan magnet".

      Maka supersimetri yang sebenarnya justru berada pada "materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), sebagai monopol yang sebenarnya (pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif), dan sebagai partikel mediator bagi gaya yang "paling dasar" (gaya elektromagnetik). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil", dan jawaban A.2.c di atas, tentang magnet monopol.

      Apakah fenomena yang terkait dengan materi gelap, bukan menunjukkan bentuk materi, tetapi sebenarnya menunjukkan perpanjangan gravitasi?

      Pada dasarnya tidak perlu ada istilah "perpanjangan gravitasi". Gravitasi pasti hanya terbentuk, melalui rangkaian interaksi antar tak-terhitung jumlah partikel mediator, yang membentuk medan gravitasi. Juga gravitasi tentunya memerlukan rangkaian partikel mediator, yang kontinu atau tidak terputus pada seluruh ruang di alam semesta.

      Alam semesta tampak 'kosong' sebagiannya, karena memang mustahil seluruh materinya bisa terdeteksi. Partikel mediator bagi gaya gravitasi justru pasti ada, sekalipun tak-terdeteksi.

      Kandidat yang paling tepat bagi terjadinya gravitasi, tentunya berupa "materi terkecil" (bukan materi gelap), karena sebagai partikel yang "paling dasar", "materi terkecil" ada dimana-mana di alam semesta (pada segala ruang dan benda). Juga tiap "materi terkecil" pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif (monopol yang sebenarnya), yang membuatnya bisa saling berinteraksi, untuk membentuk rangkaian medan gravitasi. Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

    • Apakah penyebab perluasan / ekspansi yang dipercepat, yang teramati (fase de Sitter) dari alam semesta?

      Perluasan / ekspansi alam semesta teramati hanya terjadi, akibat makin berkurangnya massa dari benda-benda langit, terutama yang masih memancarkan sinar atau partikelnya (bintang, quarsar, dsb). Maka benda-benda langit itu makin berkurang pula gravitasinya, dan sekaligus saling menjauh dari benda langit pusat orbitnya masing-masing. Baca pula jawaban A.1.e di atas, tentang inflasi kosmik, yang keliru.

      Perluasan / ekspansi yang 'dipercepat' atau 'diperlambat', tergantung tingkat laju pengurangan massa, pada seluruh benda langit di alam semesta (termasuk pada tiap sistem benda langit). Ekspansi pasti berhenti, pada saat tidak ada lagi pengurangan massa dari benda-benda langit (tidak ada radiasi, pancaran ataupun perpindahan materi antar benda langit).

      Mengapa kerapatan energi dari komponen energi gelap, besarnya sama dengan kerapatan materi pada saat ini, sedangkan keduanya berkembang relatif berbeda menurut waktu, dapatkah hal itu hanya menunjukkan bahwa kedua kerapatan itu memang teramati pada waktu yang tepat?

      Karena memang tidak ada "energi gelap", sebagai energi pada ruang vakum yang memiliki "tekanan negatif" (melawan gravitasi). Tidak ada energi, tanpa adanya materi. Tidak ada ruang yang benar-benar vakum atau 'kosong' di alam semesta (sama sekali tanpa materi di dalamnya), sekalipun sebagian dari materinya memang mustahil terdeteksi (berukuran amat sangat kecil). Baca pula jawaban B.1.c di atas, tentang persoalan konstanta kosmologi.

      Juga tidak ada suatu jenis energi, yang bisa berkembang pada suatu saat, tetapi justru tidak berkembang pada saat lainnya. Tiap jenis energi memang bisa berbeda-beda skala atau besarnya, tetapi fenomena dan keberadaannya, justru pasti selalu ada sampai kapanpun.

      Amat aneh, jika "energi gelap" dianggap telah berperan amat besar bagi timbulnya inflasi kosmik, pada awal penciptaan alam semesta (saat kejadian Big Bang). Lalu setelahnya "energi gelap" dianggap telah menghilang atau berkurang perannya. Dan setelah terjadi perluasan / ekspansi alam semesta teramati, yang dipercepat, "energi gelap" dianggap telah mulai berperan kembali.

      Apakah energi gelap adalah konstanta kosmologis murni, atau apakah model quintessence berlaku sebagai energi hantu?

      Tidak ada "energi gelap". Juga tidak diperlukan adanya konstanta kosmologis, karena segala perkembangam di alam semesta justru selalu berlangsung relatif amat dinamis. Baca pula jawaban B.1.c di atas, tentang persoalan konstanta kosmologi.

      "Energi hantu" adalah suatu bentuk dari "energi gelap", yang juga bertujuan untuk menjelaskan, tentang "perluasan / ekspansi alam semesta yang dipercepat". "Energi hantu" juga tidak ada.

    • Apakah penyebab rangkaian besar dari kumpulan galaksi, semuanya bisa bergerak ke arah salah satu bagian dari alam semesta?

      Sifat dari "aliran gelap" relatif amat serupa dengan sifat dari "energi gelap" (melawan gravitasi), maka "aliran gelap" juga tidak ada.
      Sedangkan pergerakan kumpulan galaksi tertentu yang relatif "ke satu arah", diprediksikan akibat arah pergerakan perluasan / ekspansinya relatif "tegak lurus", terhadap arah pergerakan galaksi Bimasakti, sebagai tempat pengamatannya.

    • Mengapa alam semesta memiliki entropi yang rendah di masa lalu, sehingga menghasilkan perbedaan antara masa lalu dan masa depan dan hukum termodinamika kedua?

      Entropi memang cenderung selalu meningkat, karena energi panas (energi kinetik partikel mikroskopik) pada tiap materi di alam semesta, juga cenderung selalu terus-menerus makin berkurang, akibat diserap oleh segala materi lainnya di sekitarnya. Juga energi panas cenderung selalu berubah bentuk, menjadi berbagai jenis energi lainnya. Baca pula jawaban A.1.h di atas, tentang Panah waktu.

      Tiap materi memang cenderung selalu menyerap energi panas dari lingkungan di sekitarnya, bagi segala 'aktifitasnya' (termasuk dalam rangka 'berinteraksi' dengan segala materi lainnya).

    • Mengapa bagian pinggir dari alam semesta begtu homogen, sedangkan teori Big Bang tampaknya memprediksi anisotropi terukur dari langit malam, yang lebih besar daripada yang teramati?

      Alam semesta memang sesuai dengan prinsip utama kosmologi, yang disebut bersifat relatif 'homogen' (sama di semua tempat) dan relatif 'isotropi' (sama ke semua arah). Prediksi teori Big Bang yang keliru, tentang sifat homogen dan isotropi alam semesta, cukup jelas menunjukkan, bahwa para penganut teori Big Bang memang terlalu memaksakan diri. Padahal teori Big Bang sebenarnya justru belum memenuhi prinsip-prinsip utama kosmologi.

      Unsur pemaksaan ini juga cukup jelas tampak, dari pemakaian berbagai teori-konsep yang justru masih misterius dan belum terbukti, untuk mendukung teori Big Bang secara mati-matian, seperti: inflasi kosmik; energi vakum / energi gelap; materi gelap; materi yang hilang; konstanta kosmologis; variasi kecepatan cahaya; kurva ruang-waktu; keruntuhan fungsi gelombang; dsb.

      Sedangkan sifat homogen dan isotropi alam semesta terjadi, karena penciptaan alam semesta memang mulai diciptakan-Nya dari tak-terhitung jumlah "materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda), yang bergerak amat sangat cepat dan ke segala arah, akibat diciptakan-Nya pula "energi alam semesta" (energi panas awal bagi berjalannya alam semesta, sampai akhir jaman). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil", dan jawaban B.1.c di atas, tentang Persoalan konstanta kosmologi.

      Inflasi kosmologis secara umum diterima sebagai solusi, tetapi adakah penjelasan yang mungkin lainnya, seperti hipotesis variasi kecepatan cahaya lebih tepat?

      Teori inflasi kosmik, seperti halnya yang dipakai pada teori Big Bang, pada dasarnya tidak benar (tidak dipakai sebagaimana semestinya). Inflasi kosmik justru bukan solusi, untuk menjelaskan keadaan alam semesta (prinsip kosmologi), yang homogen dan isotropi. Baca pula jawaban A.1.e di atas, tentang inflasi kosmik, yang keliru.

      Hipotesis variasi kecepatan cahaya juga dipakai pada teori Big Bang, untuk menjelaskan adanya benda-benda langit yang lebih tua usianya, daripada usia alam semesta (sekitar 13,7 milyar tahun menurut prediksi teori Big Bang). Hipotesis ini menganggap, bahwa benda-benda langit tua semacam itu hanya berada di bagian yang berlawanan, daripada arah pergerakan ekspansi sistem Tata Surya. Sehingga selain benda-benda langit itu dianggap letaknya amat jauh, juga pancaran radiasinya dianggap mengalami efek doppler.

      Akhirnya, kecepatan sinar radiasi dari benda-benda langit itu dianggap bisa melambat, serta perhitungan usianya melalui metode standar, tentunya juga dianggap jauh lebih tua, daripada usianya yang sebenarnya.

      Namun dengan membandingkan antara kecepatan cahaya di ruang vakum (299.792.458 m/s), dan kecepatan gerak relatif galaksi Bimasakti terhadap titik referensi diam misalnya (sekitar 552.000 m/s), maka efek doppler yang dimaksud sebenarnya terlalu mengada-ada (relatif amat kecil dan bisa diabaikan). Efek doppler relatif hanya sesuai dipakai bagi kecepatan relatif pada tingkat kecepatan suara (343 m/s) ataupun pada tingkat kecepatan ekspansi galaksi.

      Teori Big Bang memang telah menyibukkan para ilmuwan, terutama dalam melahirkan berbagai teori-konsep yang baru, hanya untuk bisa mempertahankan atau membenarkan teori Big Bang itu sendiri. Dan tentunya para ilmuwan pendukung teori Big Bang akan lebih sibuk lagi, jika ditemukan benda langit yang tetap lebih tua daripada 13,7 milyar tahun, walau variasi kecepatan cahaya telah diperhitungkan.

    • Ciri utama dari gelombang mikro di antariksa, pada jarak lebih dari 13 miliar tahun cahaya, tampaknya selaras dengan gerakan dan orientasi dari sistem Tata Surya. Apakah hal ini diakibatkan oleh kesalahan sistematis dalam pengolahan data, kontaminasi hasil pengukuran oleh pengaruh lokal, atau pelanggaran yang tidak dapat dijelaskan dari prinsip Copernicus?

      Tidak ada jawaban khusus.

      Namun secara umum, pengaruh gerakan dan orientasi dari sistem Tata Surya justru relatif amat sangat kecil, jika dibanding jarak Matahari ke pusat galaksi Bimasakti, jarak antar galaksi, dan apalagi jarak ke tepi alam semesta teramati (batas kemampuan teleskop).

      Serta jika memang ada benda-benda langit yang berusia lebih tua, daripada usia alam semesta yang diprediksi melalui teori Big Bang (13,7 miliar tahun), mestinya bukan hasil pengukuran yang disalahkan. Tidak perlu dicari-cari kesalahan pada tempat lainnya, jika memang ada kesalahan pada teori Big Bang itu sendiri.

      Dalam model alam semesta dari teori Big Light diprediksi, bahwa usia alam semesta amat jauh di atas 13,7 miliar tahun, karena memang mulai diciptakan-Nya hanya dari 3 elemen yang "paling dasar", yaitu: "Ruh", "Materi terkecil" dan "Energi".

    • Apakah 3 manipol dari ruang comoving, yaitu bagian ruang comoving dari alam semesta, yang secara informal disebut "bentuk" dari alam semesta?

      Bentuk dari alam semesta tentunya benar-benar sesuai dengan segala yang bisa terlihat atau teramati di dalamnya, sama sekali tidak perlu interpretasi lainnya. Namun alam semesta teramati inipun tentunya hanya sebagian kecil daripada alam semesta keseluruhannya, karena pasti ada batas kemampuan teleskop.

      Lebih jelasnya, bentuk dari alam semesta keseluruhannya (susunan segala benda langitnya), diprediksi berupa piringan yang amat tipis (bentuk ellipsoid tipis), dengan "pusat alam semesta" di tengah-tengahnya, sebagai benda langit yang terbesar dan berupa lubang hitam.
      Hal ini relatif serupa dengan bentuk sistem bintang (beserta segala planetnya) dan sistem galaksi (beserta segala bintangnya), terutama yang terletak relatif amat jauh dari sistem lainnya. Bentuk dari sistem galaksi Bimasakti, relatif bisa mewakili bentuk dari alam semesta keseluruhannya.

      Sedangkan bentuk dari alam semesta keseluruhannya, yang sebenarnya (meliputi segala benda langit dan segala materinya yang tak-terlihat), diprediksi berupa bola yang agak lonjong, akibat pengaruh medan elektromagnetik atau medan gravitasi dari "pusat alam semesta", di samping pengaruh pergerakan rotasinya.

      Bukan kelengkungan maupun topologi yang saat ini diketahui, meskipun kurva ini diketahui "mendekati" nol pada skala teramati. Hipotesis inflasi kosmik menyatakan bahwa bentuk alam semesta mungkin tak-terukur, namun sejak tahun 2003, Jean-Pierre Luminet et al. dan kelompok lainnya telah menyatakan bahwa bentuk alam semesta mungkin berupa ruang dodecahedral Poincare. Apakah bentuk alam semesta tak-terukur, ruang Poincare, atau 3 manipol lainnya?

      Luas ruang tempat alam semesta berada justru tak-terbatas, maka sama sekali tidak diperlukan kelengkungan, topologi, kurva, dimensi dan definisi ruangnya. Alam semesta 'mengambang' di dalam ruang yang tak-terbatas. Sedangkan bentuk dari alam semesta keseluruhannya, yang sebenarnya, diprediksi berupa bola yang agak lonjong. Serta sama sekali tidak ada kaitan antara alam semesta (beserta bentuknya), dengan ruang tempatnya berada.

    • Apakah mekanisme yang bertanggung-jawab atas pelanggaran pengukuran simetri listrik arus lemah, yang memberikan massa untuk W & Z boson?

      Pelanggaran simetri dan supersimetri pada tingkat energi berapapun, pada dasarnya bersumber dari kecenderungan materi, untuk selalu mencapai keadaan keseimbangan atau kestabilannya (terutama keseimbangan muatan dan medan elektromagnetik).

      Dalam model alam semesta dari teori Big Light diketahui, bahwa keadaan keseimbangan ini terbentuk melalui partikel pembawa supersimetri yang sebenarnya, berupa "materi terkecil" (bukan W & Z boson), sebagai monopol yang sebenarnya (pasti selalu bermuatan positif ataupun negatif), dan juga sebagai pembawa gaya yang "paling dasar" (gaya elektromagnetik).
      Supersimetri yang sebenarnya pada "materi terkecil" tentunya justru mustahil bisa dilanggar, karena "materi terkecil" adalah partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil", jawaban A.2.e di atas, tentang supersimetri, dan jawaban A.2.a di atas, tentang Mekanisme Higgs.

      Apakah mekanisme Higgs yang sederhana dari Model standar, atau apakah alam menimbulkan dinamika yang kuat, dalam pelanggaran simetri listrik arus lemah, seperti yang diusulkan oleh teori technicolor?

      Tidak ada komentar, tentang mekanisme Higgs dan teori technicolor. Karena model alam semesta dari teori Big Light tidak dikembangkan berdasar mekanisme Higgs (beserta partikel Higgs boson) dan teori technicolor.

      Namun sesuai dengan tingkat energinya yang relatif amat rendah, justru mestinya tidak terjadi dinamika yang kuat, dalam pelanggaran simetri listrik arus lemah. Baca pula jawaban A.2.a di atas, tentang Mekanisme Higgs, dan jawaban di atas.

    • Apakah mekanisme yang bertanggung-jawab atas pembentukan massa neutrino?

      Neutrino pada dasarnya bisa timbul dari sisa hasil tumbukan antar partikel yang memang telah bermuatan netral, ataupun antar partikel yang bermuatan positif dan negatif. Sehingga sisa hasil tumbukan itu bermuatan netral dan berukuran amat kecil (neutrino).
      Bagi neutrino 'purba', tentunya timbul langsung dari penggabungan antar sejumlah besar "materi terkecil", dengan jumlah yang bermuatan positif dan negatifnya, sama,

      Dengan kecenderungan partikel yang bermuatan netral (partikel yang relatif paling stabil), justru berukuran amat besar ataupun paling besar (seperti neutron pada inti pusat atau nuklei atom), tentunya neutrino 'purba' relatif tidak ada lagi, serta neutrino saat ini umumnya berupa sisa hasil tumbukan antar partikel. Juga pembentukan photon relatif serupa dengan neutrino.

      Apakah neutrino memiliki antipartikel?

      Partikel yang bermuatan netral (neutrino, photon, neutron, dsb) mestinya justru tidak memiliki antipartikel. Karena antipartikel adalah partikel yang massanya serupa dengan suatu partikel normal, namun berlawanan muatannya.

      Maka antineutron juga mestinya tidak ada. Namun tepatnya hanya ada "antinukleon" atau "anti nuklei positif" (antipartikel dari nuklei atom yang "mengandung proton").

      Atau dapatkah neutrino menjadi suatu antipartikel, yang sederhananya tidak bisa bergabung dan hancur bersama dengan partikel normal, akibat dari keadaan tak-teraturnya?

      Neutrino tentunya tetap tidak bisa menjadi antipartikel, karena definisi antipartikel memang hanya terkait dengan "berlawanan muatan dari partikel normal". Sedangkan keadaan tak-teraturnya neutrino, justru terjadi hanya karena memang bersifat amat energik (bisa bergerak relatif amat cepat dan bebas), dan juga terbentuk dari hasil tumbukan antar partikel.

      Juga tidak ada antipartikel yang bisa stabil, sekalipun kecepatannya amat tinggi, karena energi kinetiknya pasti makin berkurang, lalu pada akhirnya juga pasti bergabung dan hancur bersama dengan partikel normal.

      Jika ukuran atau definisi antipartikel hanya berdasar dari kemampuan saling bergabung dan saling menghancurkan, tentunya hampir seluruh partikel normal pasti bisa dianggap memiliki antipartikel.

    • Proyek osilasi dengan alat pelacakan emulsi (OPERA), adalah sebuah percobaan untuk menguji fenomena osilasi neutrino. Pada bulan September 2011, CERN dan OPERA mengumumkan bahwa waktu pengukuran terbang yang dibuat dari hasil kerjasama mereka, telah menunjukkan neutrino muon yang lajunya melebihi kecepatan cahaya. Apakah penjelasan atas anomali ini?

      Neutrino amat mungkin bisa melaju melebihi kecepatan cahaya. Karena rumusan kecepatan cahaya itu sendiri bisa muncul relatif hanya berdasar kecepatan photon. Sedangkan neutrino dan photon sama-sama bermuatan netral, serta berukuran relatif paling kecil, di antara semua jenis partikel sub-atomik lainnya. Hal ini menjadikan keduanya juga relatif paling energik.

      Adanya anomali tersebut pada puncaknya bersumber pada definisi dan massa yang sebenarnya dari keduanya (pada Model standar). Jika massa neutrino bisa lebih rendah daripada massa photon, tentunya neutrino bisa melaju melebihi kecepatan cahaya. Namun pada Model standar, justru neutrino telah dianggap bisa bermassa "tidak nol", sedangkan photon telah dianggap hanya bermassa "nol". Padahal definisi massa photon tersebut, hanya hasil dari persoalan pengukuran, namun bukan massa yang sebenarnya (mustahil ada partikel yang bermassa "nol").

      Maka adanya anomali tersebut justru muncul dari kelemahan pada Model standar itu sendiri.

    • Menurut prinsip kesetaraan dari relativitas umum, rasio inersia massa terhadap massa gravitasi dari semua partikel elementer, adalah satu. Namun tidak ada konfirmasi eksperimental untuk banyak partikel. Secara khusus, tidak diketahui berapakah berat gumpalan makroskopik dari antimateri, yang diketahui massanya.

      Tidak ada jawaban khusus. Jawaban umumnya, kalikan massanya dengan percepatan gravitasi yang sesuai.

    • Awalnya telah diukur oleh Kerjasama Eropa Muon, tiga quark utama dari proton ("valensi"), meliputi sekitar 12% dari spin-rotasi totalnya. Dapatkah gluon yang mengikat quark-quark secara bersama-sama, seperti halnya "lautan" dari pasangan quark, yang terus-menerus tercipta dan terhancurkan, dengan tepat meliputi semuaanya?

      Tidak ada komentar, tentang quark dan gluon. Karena model alam semesta dari teori Big Light tidak dikembangkan berdasar partikel dasar dan komposit, seperti: fermion, lepton, quark, muon, hadron, barion, meson, gluon, boson, graviton, pion, kaon, magnon, dsb, juga bukan materi gelap dan antipartikel.

      Namun hal ini cukup jelas menunjukkan, bahwa pemodelan pada Model standar, bagi struktur proton, neutron ataupun nukleon, sebagai partikel komposit yang tersusun dari sejumlah quark dan gluon, justru mengandung kelemahan dan persoalan yang mendasar.

      Hal ini mudah dipahami, karena para ilmuwan terlalu terfokus kepada pemodelan, yang hanya berdasar partikel-partikel yang telah 'terdeteksi'. Sebaliknya mereka tidak terfokus untuk terlebih dahulu memprediksi secara konseptual-filosofis, atas partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), dan juga sekaligus atas gaya yang "paling dasar", yang dimediasinya, sekalipun keduanya memang mustahil 'terdeteksi' langsung.
      Namun jika partikel semacam itu telah diprediksikan dengan relatif tepat, justru pemahaman dan pemodelan atas semua partikel dasar dan gaya dasar, juga bisa relatif mudah terbentuk.

    • Persamaan QCD tetap belum terpecahkan pada skala energi yang relevan, bagi penggambaran nuklei atom, dan antara lain pendekatan numeriknya khususnya, tampaknya mulai memberikan jawaban pada batas ini. Bagaimana QCD menimbulkan fisik dari nuklei dan nuklir terkait?

      Tidak ada komentar, tentang teori QCD. Karena model alam semesta dari teori Big Light tidak dikembangkan berdasar teori QCD.

      Namun juga tidak ada hal yang terlalu khusus tentang nuklei atom, kecuali massa dan ukurannya yang terbesar di antara segala partikel sub-atomik lainnya, di dalam sistem atom, serta sekaligus sebagai pusat orbitnya. "Energi nuklir" ataupun "energi dalam"-nya juga terbesar. Sedangkan pembentukan nuklei justru relatif serupa dengan segala partikel sub-atomik lainnya. Baca pula jawaban A.3.b di atas, tentang Nuklei dan astrofisika nuklir.

    • Mengapa tidak pernah diukur quark atau gluon bebas, tetapi hanya obyek yang dibangun darinya, seperti meson dan barion?

      Tidak ada komentar, tentang quark, gluon, meson dan barion. Karena model alam semesta dari teori Big Light tidak dikembangkan berdasar partikel dasar dan komposit, seperti: fermion, lepton, quark, muon, hadron, barion, meson, gluon, boson, graviton, pion, kaon, magnon, dsb, juga bukan materi gelap dan antipartikel.

      Namun hal ini cukup jelas menunjukkan, bahwa pemodelan pada Model standar, bagi struktur partikel sub-atomik, justru mengandung kelemahan dan persoalan yang mendasar.

      Pemodelan bagi segala partikel sub-atomik, mestinya dimulai dari partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), sekalipun partikel semacam ini memang hanya berupa partikel hipotetik dan mustahil 'terdeteksi' langsung.

      Bagaimana fenomena ini muncul dari QCD?

      Tidak ada komentar, tentang teori QCD. Karena model alam semesta dari teori Big Light tidak dikembangkan berdasar teori QCD.

      Namun pembentukan nuklei atom justru relatif serupa dengan segala partikel sub-atomik lainnya. Baca pula jawaban A.3.b di atas, tentang Nuklei dan astrofisika nuklir.

    • Mengapa interaksi nuklir kuat tidak mengubah paritas dan konjugasi muatan?

      Interaksi nuklir kuat justru terkait dengan "energi dalam" pada tiap partikel sub-atomik (energi ikatan antar partikel penyusunnya), serta tidak terkait langsung dengan fenomena 'eksternal' pada partikelnya, seperti: konjugasi muatan (C), paritas (P) dan waktu balik (T).

      Lebih jelasnya, interaksi nuklir kuat itu sendiri berupa gaya interaksi antar sejumlah besar "materi terkecil" (gaya elektromagnetik), yang menyusun suatu partikel sub-atomik, yang terbentuk pada tingkat energi yang amat tinggi, dan juga interaksinya relatif tetap bisa bertahan, terutama akibat terlindungi oleh bagian permukaan terluar partikelnya (bisa terbentuk energi dalam). Serta interaksinya tentunya makin ke dalam, makin kuat (paling lemah di bagian permukaan terluar).

      Sedangkan "materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), sebagai monopol yang sebenarnya (selalu bermuatan positif ataupun negatif), dan sebagai partikel mediator bagi gaya yang "paling dasar" (gaya elektromagnetik). Baca pula jawaban B.2.i di bawah, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil", dan jawaban A.3.b di atas, tentang Nuklei dan astrofisika nuklir.

      Maka interaksi nuklir kuat (terkait perubahan atau pembentukan struktur partikel), yabg berada "di dalam" partikel, tentunya berbeda daripada bentuk interaksi lainnya, yang berada "di luar" partikel (termasuk melalui sejumlah partikel mediator). Serta tentunya amat mudah terjadi pelanggaran simetri CP, melalui arus elektron yang timbul akibat listrik arus lemah. Sedangkan interaksi nuklir kuat tentunya tidak terkait dengan pelanggaran simetri CP.

      Dan persoalan ini tentunya juga hanya timbul dari kelemahan pemodelan pada Model standar, bagi struktur partikel sub-atomik (terutama nuklei atom).

      Apakah teori Quinn Peccei merupakan solusi untuk persoalan ini?

      Interaksi nuklir kuat justru berada "di dalam" tiap partikel, serta tidak terkait langsung dengan fenomena 'eksternal', seperti: konjugasi muatan (C), paritas (P) dan waktu balik (T), maka tidak perlu ada solusinya sama sekali.

    • Manakah dari partikel hipotetik yang diprediksi oleh teori supersimetri dan teori yang cukup terkenal lainnya, yang sebenarnya terjadi di alam?

      Tidak ada komentar, tentang teori-teori, selan teori Big Light.

      Partikel hipotetik yang "paling dasar" menurut teori Big Light, adalah "materi terkecil", sebagai partikel yang paling kecil, ringan dan sederhana di alam semesta, serta sebagai penyusun bagi segala partikel-materi-benda yang berukuran lebih besar (segala partikel sub-atomik; atom; benda biasa; benda langit; dsb). Ringkasnya, tak-terhitung jumlah "materi terkecil" yang justru telah menyusun seluruh alam semesta, dan bahkan termasuk pula menyusun kehidupan fisik-lahiriah-nyata, bagi segala makhluk-Nya di dalamnya.

      "Materi terkecil" adalah salah-satu elemen yang "paling dasar", bagi penyusunan seluruh alam semesta, selain "Ruh" dan "Energi". Ketiga elemen yang "paling dasar" ini, diciptakan-Nya secara sekaligus dan bersamaan keseluruhannya, pada saat paling awal penciptaan alam semesta. Juga segala perintah=Nya kepada tiap makhluk-Nya, bagi terwujudnya pelaksanaan hukum alam atau sunatullah, justru telah ditanamkan-Nya pada tiap zat ruhnya masing-masing, serta berupa segala "sifat atau fitrah dasar" (Fitrah Allah). Baca pula jawaban B.5.e di bawah, tentang kesadaran.

      Bahkan dengan saling keterkaitan yang amat erat, ketiganya pada dasarnya satu-kesatuan pada sesuatu hal yang sama, karena: 'ruh' perlu 'materi' sebagai tubuh wadahnya ataupun sarana untuk menjalani kehidupan dunia (nyata-fisik-lahiriah); 'ruh' perlu 'energi' untuk bisa hidup dan beraktifitas; 'materi' perlu 'energi' untuk perubahan strukturnya; 'materi' perlu 'ruh' untuk bisa mengendalikan dan menggerakkannya; 'energi' perlu 'ruh' untuk mengubah bentuknya; 'energi' perlu 'materi' sebagai tempatnya merambat; dsb.
      Ringkasnya, tiap "Materi terkecil" pasti ditempati oleh suatu "Ruh" ("ditiupkan-Nya ruh"), yang mengendalikan atau menggerakkan materinya dengan "Energi".

      Dengan ukurannya, "materi terkecil" adalah zat fisik-lahiriah-nyata yang sekaligus bersifat gaib (mustahil bisa diukur atau dideteksi oleh manusia). Terutama karena segala alat ukur buatan manusia pasti memiliki keterbatasan, serta "materi terkecil" justru juga pasti ada pada tiap alat ukur itu sendiri dan bahkan ada dimana-mana di alam semesta (pasti tampak transparan, atau mustahil bisa dipisahkan dari latar-belakangnya).

      Tiap "materi terkecil" bermassa "amat sangat ringan" (bukan bermassa "nol"), serta sekaligus ditempati, dikendalikan atau digerakkan oleh suatu zat "ruh kehidupan", yang justru selalu bersifat feminin ataupun maskulin, yang menjadikannya selalu bermuatan positif ataupun negatif. Sifat atau muatan inipun membentuk segala dinamika, simetrisitas, ketidak-sempurnaan, ketidak-lengkapan dan keseimbangan pada segala zat ciptaan-Nya di alam semesta, misalnya: elektron dan proton; kutub benda langit dan magnet; gaya tarik-menarik (gravitasi) dan tolak-menolak; jenis kelamin (pria & wanita, jantan & betina); simetrisitas bentuk tubuh makhluk nyata; dsb.

      Dalam bahasa agama, segala sesuatu di alam semesta justru diciptakan-Nya saling berpasang-pasangan dan seimbang.

      Tentunya tiap "materi terkecil", selain sebagai unit massa yang terkecil, juga sebagai pembawa unit muatan yang terkecil (bukan proton dan elektron), dan sebagai pembawa unit energi yang terkecil (terutama energi elektromagnetik).

      Tiap ruhnya itu tentunya juga membawa segala sifat yang "paling dasar" kepada "materi terkecil" terkait, termasuk membawa semua gaya dasar, dalam berinteraksi dengan materi lainnya, yaitu: gaya elektromagnetik, gaya interaksi kuat (gaya nuklir kuat), gaya interaksi lemah (gaya nuklir lemah) dan gaya gravitasi. Serta segala sifat pada "materi terkecil" tidak berubah-ubah (kekal), sejak diciptakan-Nya sampai akhir jaman.

      Semua gaya dasar yang telah dikenal oleh manusia, pada puncaknya hanya tersusun dari "gaya elektromagnetik", dengan berbagai skala atau besarnya. "Gaya elektromagnetik" adalah gaya yang "paling dasar" dari semua gaya dasar lainnya. Skala atau besarnya "gaya elektromagnetik" pada tiap "materi terkecil", tergantung kepada tingkat energi, pada saat berinteraksinya dengan segala "materi terkecil" lainnya, karena energi terkait dengan restrukturisasi dan pembentukan partikel. Maka tingkat energi inipun secara tidak langsung menentukan kekuatan interaksi atau ikatan antar "materi terkecil", dari yang paling kuat ("di dalam" partikel sub-atomik), sampai yang paling lemah ("di luar" partikel sub-atomik). Baca pula jawaban A.2.b di atas, tentang Persoalan hierarki gaya dasar.

      Dengan saling interaksi "gaya elektromagnetik"-nya (terutama pada tingkat energi yang amat tinggi), sejumlah besar "materi terkecil" menyatu atau melebur membentuk segala partikel dasar (partikel sub-atomik), yang telah biasa dikenal oleh manusia, seperti: neutron, proton, elektron, photon, neutrino, dsb. Maka segala partikel-materi yang berukuran lebih besar daripada "materi terkecil", adalah gabungan sejumlah "materi terkecil", dengan jumlah muatannya positif, negatif ataupun netral, juga tentunya beserta berbagai sifat lainnya (massa; ukuran; titik lebur; letak, arah, kecepatan dan pusat orbit; arah dan kecepatan gerak spin-rotasi; dsb).

      Sekilas "materi terkecil" relatif serupa dengan partikel hipotetik, seperti: 'quintessence', 'aether' (ether), 'materi gelap', dsb. Namun dengan adanya perbedaan definisi, maka istilah "materi terkecil" tetap dipakai. Hal ini terutama karena "materi terkecil" adalah materi yang "hidup" (pasti ditempati, dikendalikan atau digerakkan oleh suatu zat "ruh kehidupan").

      Tiap "materi terkecil" adalah magnet monopol yang sebenarnya (satu kutub, positif ataupun negatif). Sedangkan segala partikel-materi-benda, yang berukuran lebih besar daripada "materi terkecil" (dari partikel sub-atomik sampai benda langit), pasti berupa magnet dipol (dua kutub, positif dan negatif / utara dan selatan), yang amat kuat ataupun amat lemah.

      Bahkan neutron (bermuatan netral), proton (bermuatan positif) dan elektron (bermuatan negatif) juga pada dasarnya berupa magnet dipol, karena hanya ada sedikit-banyak perbedaan pada jumlah "materi terkecil" penyusunnya, yang bermuatan positif dan yang negatif. Serta mustahil ada partikel, yang seluruh "materi terkecil" penyusunnya bermuatan positif ataupun negatif (mustahil ada magnet monopol di alam semesta, selain dari "materi terkecil"), karena partikel semacam ini memang amat sangat tidak stabil.

      Pada teori "Teori penyatuan besar" (Grand Unification Theory) pada dasarnya telah diprediksi adanya partikel hipotetik 'dyon', yang juga dianggap sebagai magnet monopol, namun definisi, sifat, peran dan kestabilannya justru belum jelas. Juga mustahil ada 'dyon', jika bukan berupa partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel dasar).

      Serta dengan tinjauan yang dimulai berdasar atas partikel hipotetik ini ("materi terkecil"), hampir seluruh persoalan dari tingkat kuantum (sifat-sifat partikel sub-atomik), sampai tingkat benda langit (sifat-sifat alam semesta), justru relatif amat mudah terpecahkan. Bahkan juga terkait dengan kehidupan makhluk-Nya.

      Sekali lagi, "materi terkecil" adalah partikel hipotetik yang mustahil bisa diukur atau dideteksi. Namun melalui kajian konseptual-filosofis atas segala partikel dasar yang telah terdeteksi, maka keadaan dan sifat dari "materi terkecil" juga mestinya bisa diketahui.

    • Mengapa akresi piringan di sekitar benda langit tertentu, seperti halnya nuklei dari galaksi aktif, memancarkan pancaran relativistik di sepanjang sumbu kutubnya?

      Nuklei galaksinya menyerap materi dari benda langit lainnya yang terakresi atau 'jatuh', dengan tekanan yang amat tinggi. Sekalipun berukuran relatif kecil, tentunya benda langit yang terakresi pasti bisa menimbulkan ledakan yang amat besar di bagian permukaan nuklei galaksinya, serta pecahan dari benda langitnya tersebar kemana-mana. Namun tekanan seperti itu menimbulkan pergesekan antar materi yang amat kuat, yang lalu juga mengakibatkan suhunya menjadi amat tinggi. Siklus suhu dan tekanan yang amat tinggi, mengakibatkan sebagian besar dari materi yang terakresi, juga bisa 'menguap' menjadi plasma.

      Sebagai partikel yang terionisasi, tentunya plasma pasti cenderung bergerak mengikuti polarisasi kutub nuklei galaksinya. Namun sebelum sampai ke daerah keseimbangan muatannya, ada sebagian dari plasma pada daerah kutub, yang langsung 'terlempar' keluar sebagai pancaran relativistik (berkecepatan amat tinggi), akibat berpolarisasi sama dengan kutub itu sendiri.

      Pancaran relativistik umumnya berlangsung relatif singkat, karena berhenti pada saat seluruh plasma telah sampai ke daerah keseimbangan muatannya.

      Mengapa ada osilasi kuasi-periodik pada banyak akresi piringan?

      Tiap terjadi akresi ke dalam pusat galaksi, pada dasarnya sesaat mengembangkan atmosfir di pusat galaksinya, karena sebagian besar dari materi yang terakresi, menjadi 'menguap'. Hal inipun menimbulkan tekanan gas atau plasma ke luar, yang sesaat bisa sedikit menghambat akresi berikutnya. Lalu akhirnya terjadi osilasi kuasi-periodik (radiasi sinarnya berkedip).

      Mengapa periode osilasi ini berkebalikan dari skala massa benda langit pusatnya?

      Pengaruh berkembangnya atmosfir di pusat galaksi, setelah terjadinya suatu akresi, tentunya berkebalikan dari massa pusat galaksinya. Makin besar massa pusat galaksinya (gravitasinya), relatif makin kecil pula pengaruh berkembangnya atmosfirnya (makin kecil periode akresi dan osilasinya).

      Mengapa terkadang ada nada tambahan, dan mengapa hal ini muncul pada rasio frekuensi yang berbeda, pada benda langit yang juga berbeda?

      Tentunya rasio frekuensi terhadap massa benda langitnya, bukan ukuran yang baku, termasuk karena bisa dipengaruhi pula, oleh jumlah, jenis, massa dan homogenitas materi yang terakresi.

    • Mengapa korona Matahari (lapisan atmosfer) jauh lebih panas daripada permukaan Matahari?

      Tidak ada jawaban.

      Mengapa rekoneksi magnetik mempengaruhi besarnya dalam banyak orde, lebih cepat daripada yang diprediksi oleh Model standar?

      Model standar relatif belum memperhitungkan peranan partikel mediator, yang terdapat pada seluruh ruang 'kosong' antar segala partikel-materi-benda di alam semesta, yang justru telah membentuk medan elektromagnetik atau medan gravitasi, yang kontinu atau tidak terputus.

      Dalam model alam semesta dari teori Big Light diketahui, bahwa partikel mediator yang mengisi "seluruh" tempat di alam semesta (ada dimana-mana, atau ada pada segala ruang dan segala partikel-materi-benda), adalah "materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), sebagai monopol yang sebenarnya (selalu bermuatan positif ataupun negatif), dan juga sebagai pembawa gaya yang "paling dasar" (gaya elektromagnetik). Baca pula jawaban B.2.i di atas, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Maka rekoneksi magnetik tentunya amat mudah terjadi (termasuk di bagian permukaan dan atmosfir Matahari), karena segala partikel-materi-benda memang pasti bermuatan magnet dan pasti saling berinteraksi melalui gaya elektromagnetik (termasuk materi di dalam ruang 'kosong'). Serta tidak ada ruang yang benar-benar vakum atau 'kosong' di alam semesta (sama sekali tanpa materi di dalamnya), sekalipun sebagian dari materinya memang mustahil terdeteksi.

    • Bagaimana asal dari semburan berdurasi pendek dan berintensitas tinggi ini?

      Semburan sinar gamma terutama terjadi melalui akresi materi dari luar (dari benda langit yang melintas), yang jatuh atau terhisap ke dalam lubang hitam. Maka hal ini relatif serupa dengan efek supernova. Namun sedikit perbedaannya, supernova justru terjadi pada tiap bintang mati, "sebelum" menjadi lubang hitam. Sehingga jumlah materi yang terlibat pada supernova, relatif lebih banyak (materi yang terakresi, ditambah materi sisa-sisa bahan bakar nuklir di pemukaan bintangnya). Baca pula jawaban B.3.f di bawah, tentang Supernova.

    • Apakah asal dari kaitan M-sigma, antara lubang hitam yang bermassa super-raksasa dan kecepatan penyebaran galaksi?

      Melalui 'kaitan M-sigma' terungkap, bahwa makin tinggi massa dari lubang hitam raksasa, juga makin tinggi kecepatan penyebaran galaksi-galaksi, di dalam lingkup cakupannya.

      Hal ini relatif mudah dipahami, karena makin tinggi massa dari lubang hitam raksasa, tentunya juga makin banyak jumlah segala materi atau benda langit yang telah 'dikumpulkannya', sejak awal penciptaannya. Serta sekaligus makin banyak jumlah bintang di dalamnya.

      Dengan sifatnya yang memancarkan keluar partikelnya, sebagai radiasi sinar kosmik, tentunya bintang-bintang di dalamnya, justru juga makin berkurang massa dan gravitasinya. Sehingga pusat-pusat galaksi makin saling menjauh dari lubang hitam raksasanya, bintang-bintang makin saling menjauh dari pusat galaksinya, dan planet-planet makin saling menjauh dari bintangnya. Hal ini justru serupa dengan proses perluasan / ekspansi alam semesta. Baca pula jawaban A.1.e di atas, tentang Inflasi kosmik, yang keliru.

      Juga makin banyak jumlah bintang di dalam sistem lubang hitam raksasanya (makin berat massanya), tentunya makin banyak jumlah materi yang terpancar keluar dari sistemnya. Lalu pada akhirnya, kecepatan penyebaran galaksi-galaksi di dalamnya juga makin tinggi.

    • Anomali Hipparcos: Berapakah jarak yang sebenarnya ke Pleiades?

      Tidak ada jawaban.

      Anomali Pioneer: Apakah yang menyebabkan tambahan kecil percepatan ke arah matahari, dari pesawat ruang angkasa Pioneer?

      Tidak ada jawaban (tidak ada cukup data).

      Anomali Flyby: Mengapa energi teramati dari satelit yang mengitari bumi, berbeda dengan jumlah menit dari energi yang diprediksi oleh teori?

      Tidak ada jawaban.

      Persoalan rotasi galaksi: Apakah materi gelap bertanggung-jawab atas perbedaan antara kecepatan teramati dan kecepatan teoretis bintang, dalam berrevolusi di sekitar pusat galaksi, atau sesuatu yang lainnya?

      Tidak ada komentar, tentang materi gelap. Karena model alam semesta dari teori Big Light tidak dikembangkan berdasar materi gelap. Baca pula jawaban B.1.d di atas, tentang materi gelap.

      Namun perhitungan kecepatan teoretis itu diprediksi relatif belum memperhitungkan peranan partikel mediator, yang terdapat pada seluruh ruang 'kosong' antar segala partikel-materi-benda di alam semesta, yang justru telah membentuk medan elektromagnetik atau medan gravitasi, yang kontinu atau tidak terputus.

      Dalam model alam semesta dari teori Big Light diketahui, bahwa partikel mediator yang mengisi "seluruh" tempat di alam semesta (ada dimana-mana, atau ada pada segala ruang dan segala partikel-materi-benda), adalah "materi terkecil", sebagai partikel yang "paling dasar" (penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), sebagai monopol yang sebenarnya (selalu bermuatan positif ataupun negatif), dan juga sebagai pembawa gaya yang "paling dasar" (gaya elektromagnetik). Baca pula jawaban B.2.i di atas, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Tentunya persoalan perbedaan pengukuran rotasi galaksi itu bukan akibat keberadaan "materi gelap", tetapi akibat "materi terkecil". Hal ini terutama karena definisi "materi gelap" pada Model standar, justru belum meliputi penjelasan tentang sifat elektromagnetik, gravitasi dan muatannya.

    • Bagaimana mekanisme yang tepat, di mana ledakan ke dalam dari bintang yang sekarat, menjadi ledakan ke luar?

      Hanya terjadinya "ledakan ke dalam" pada bintang yang sekarat atau mati, pada dasarnya karena telah kehabisan bahan bakar bagi terjadinya ledakan nuklir ("ledakan ke luar", melalui reaksi fusi nuklir), secara "mandiri", seperti halnya yang telah terjadi terus-menerus selama milyaran tahun. Tentunya ledakan nuklir secara "mandiri" itupun pasti perlahan-lahan makin mengurangi massa bintangnya, karena hampir semua materi di permukaannya terus-menerus terpancar ke luar, sebagai radiasi sinar kosmik (terpancar segala partikel sub-atomik, yang relatif amat ringan).

      Dengan tingkat energi yang amat tinggi pada bintang, relatif hampir semua jenis materi di bagian permukaannya, pada dasarnya pasti bisa menjadi bahan bakar nuklir. Serta segala bahan bakar nuklir inipun pasti terus-menerus makin berkurang, sampai habis. Pada saat terakhir ini (saat bintangnya telah sekarat, mati, atau tidak bisa lagi memancarkan sinarnya), "ledakan ke dalam" yang terjadi di permukaannya, relatif serupa seperti fluktuasi suhu dan tekanan pada magma di dalam perut Bumi, yang tidak menghasilkan radiasi yang relatif kuat.

      Sekali lagi, "ledakan ke luar" pada bintang, yang biasa atau normalnya terjadi (seperti Matahari saat ini), justru hanya memancarkan berbagai jenis partikel sub-atomik, yang relatif amat ringan (partikel alpha, beta, gamma, dsb), sebagai radiasi sinar kosmik. Maka bintang tampak sebagai bola yang amat putih, terang dan menyilaukan.

      Sedangkan "ledakan ke luar" pada bintang, yang berupa nova, supernova ataupun hipernova (tingkat skala kekuatan ledakan berbeda-beda), justru berbentuk relatif amat tidak teratur (relatif bukan berupa bola), serta berwarna-warni (relatif bukan hanya amat putih dan terang), Hal ini karena supernova misalnya, memang menebarkan segala jenis materi, debu dan gas, juga di samping menimbulkan radiasi sinar kosmik, dengan amat berragam panjang gelombangnya (berwarna-warni).

      Hal ini cukup jelas menunjukkan, bahwa "ledakan ke luar" yang berupa supernova misalnya, justru bukan terjadi secara "mandiri" seperti biasanya. Namun terjadi akibat adanya akresi atau pertambahan materi, dari benda-benda langit lainnya yang melintas dan 'jatuh' ke bintang terkait (terhisap oleh gravitasinya). Akresi materi ataupun tumbukan ini tentunya menimbulkan ledakan yang amat besar (dengan berragam skalanya). Serta supernova pada bintang mati, justru bukan terjadi secara "mandiri" (dari dan oleh bintangnya sendiri).

      Namun penting diketahui, bahwa tumbukan segala benda langit lainnya yang pernah dialami oleh suatu benda langit (termasuk Bumi dan Bulan), selama "milyaran tahun", justru sama sekali tidak menghancurkan bagian inti pusatnya (nukleinya). Serta inti pusat dari segala benda langit (terutama benda langit yang berupa bola, padat ataupun dingin, seperti: satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb), terdiri dari segala atom dan nukleinya, yang memiliki massa, kerapatan dan titik lebur yang relatif amat sangat tinggi (relatif paling tinggi di antara seluruh atom-partikel di alam semesta). Baca pula jawaban A.3.c di atas, tentang nuklei yang paling berat.

      Bahkan ledakan nuklir yang telah terjadi terus-menerus di permukaan bintang, selama "milyaran tahun", justru juga sama sekali tidak menghancurkan bagian inti pusatnya. Tentunya hal yang serupa dengan kejadian nova, supernova ataupun hipernova pada bintang mati, yang justru hanya mengubahnya menjadi lubang hitam ataupun bintang neutron (inti pusatnya tetap ada).

      Hal inipun sekaligus membantah anggapan sebagian para ilmuwan, bahwa supernova bisa menghancurkan "seluruh" bagian suatu bintang, untuk menjadi (membentuk) berbagai benda langit yang berukuran kecil. Bahkan benda-benda langit ini dianggap bisa terbentuk, hanya dari sekumpulan besar gas dan debu hasil ledakan, yang 'runtuh' atau 'termampatkan' begitu saja (tanpa melibatkan materi bagi inti pusatnya).

      Sekali lagi adanya bantahan ini, karena pada supernova memang tidak terpancar ke luar, segala materi-partikel yang amat sangat berat pada bintang terkait (terutama materi pada inti pusatnya). Serta materi pada inti pusat, adalah cikal-bakal bagi pembentukan tiap benda langit, yang relatif paling besar (satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb).

      Bahkan inti pusat atau nuklei dari benda langit yang berakresi dan 'jatuh' ke bintang terkait, justru relatif menyatu atau melebur dengan nuklei dari bintangnya. Hal ini terutama karena materi pada nuklei dari benda langit, memang memiliki massa dan gravitasi yang relatif amat sangat tinggi.

      Juga sekali lagi, bintang mati yang mengalami nova, supernova ataupun hipernova, umumnya lalu berubah menjadi lubang hitam ataupun bintang neutron.

    • Mengapa beberapa sinar kosmik tampaknya memiliki energi yang terlalu tinggi (disebut partikel OMG), mengingat bahwa tidak ada sumber sinar kosmik yang cukup energik di dekat Bumi?

      Tidak ada jawaban. Apakah lubang hitam yang terdekat juga belum cukup dekat?.

      Mengapa beberapa sinar kosmik (ternyata) dipancarkan oleh sumber yang jauh, memiliki energi di atas batas Greisen-Zatsepin-Kuzmin?

      Tidak ada jawaban.

    • Mengapa magnetosfer planet Saturnus menunjukkan periodisitas (yang berubah perlahan) mendekati perputaran awannya?

      Tidak ada jawaban.

      Bagaimana laju rotasi yang sebenarnya dari bagian dalam planet Saturnus?

      Tidak ada jawaban.

    • Apakah sumber dari medan magnet pada magnetar?

      Ringkasnya, pergerakan rotasinya yang relatif amat cepat (lebih cepat daripada benda-benda langit lainnya), yang telah terjadi sejak awal penciptaannya.

      Bahkan hampir semua benda langit (terutama benda langit yang berupa bola, padat ataupun dingin, seperti: satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb), relatif pasti memiliki dua kutub magnet (magnet dipol, positif dan negatif / utara dan selatan). Hal ini terjadi akibat adanya pergerakan rotasi benda langit terhadap sumbu rotasinya, sejak awal penciptaannya (saat tingkat energi panas masih amat sangat tinggi).

      Pergerakan rotasi ini menimbulkan momentum angular (sudut), yang lalu menimbulkan momen magnet (efek Barnett). Sehingga materi yang bermuatan cenderung saling menjauh, dari materi yang bermuatan berlawanan. Lalu makin cepat gerak rotasi, juga makin banyak materi yang bermuatan, yang saling menjauh. Setelah tingkat energi panas telah jauh berkurang, pemisahan materi ini tentunya membentuk kutub magnet yang relatif permanen.
      Namun dengan dinamika pergerakan benda langit, lalu sumbu rotasinya juga bisa berbeda atau bergeser dari sumbu kutubnya (sumbu rotasi Bumi misalnya, miring 10o dari sumbu kutubnya).

    • Apakah sifat transisi kaca antara fase cairan atau padatan biasa dan kaca?

      Tidak ada jawaban.

      Apakah proses fisik yang menimbulkan sifat-sifat umum dari kacamata?

      Tidak ada jawaban.

    • Apakah penjelasan untuk laporan kontroversial tentang kelebihan panas, radiasi dan transmutasi?

      Tidak ada jawaban.

    • Mengapa pancaran elektron dalam ketiadaan cahaya, meningkat bersama dengan penurunan suhu photomultiplier?

      Tidak ada jawaban.

    • Bagaimana mekanisme yang menyebabkan material tertentu menunjukkan superkonduktivitas, pada suhu yang lebih tinggi daripada sekitar 50 kelvin (bisa mendekati suhu ruangan ±300oK)?

      Tidak ada jawaban.

    • Apakah yang menyebabkan pancaran cahaya bersemburan pendek dari ledakan gelembung dalam cairan, ketika tereksitasi oleh suara?

      Tidak ada jawaban.

    • Apakah mungkin untuk membuat model teoretis, untuk menggambarkan statistik dari aliran turbulen (khususnya, struktur internalnya)?

      Tidak ada jawaban khusus.

      Namun secara umum, model teoretisnya mestinya cukup memadai melalui sistem kisi (grid), karena hukum alam atau sunatullah memang bersifat lokal (setempat, atau berlaku sesuai dengan segala keadaan "tiap saatnya", pada tiap zat). Lalu keadaan pada tiap kisinya diiterasikan dan diintegrasikan, dari segala kondisi batasnya.
      Walau begitu, persoalan utamanya justru pasti kembali kepada kesempurnaan persamaan bagi tiap lingkup keadaan, di samping kelengkapan persamaan bagi lingkup keadaan yang lebih luas (termasuk lingkup keadaan internal pada aliran turbulennya).

      Juga, di bawah kondisi apakah, ada solusi yang mulus bagi persamaan Navier-Stokes?

      Tidak ada jawaban khusus.

      Namun secara umum, solusi yang mulus justru bukan tergantung pada kondisi atau masukan awalnya, namun terutama pada perbaikan bagi tiap persamaannya, termasuk agar bisa pula mencakup lingkup kejadian dan keadaan fisik yang amat luas. Minimalnya tiap persamaan hanya dipakai bagi lingkup keadaan empiriknya, saat perumusannya masing-masing (tidak dipaksakan bagi lingkup keadaan lainnya). Pemaksaan seperti ini umumnya bisa melahirkan singularitas, yang justru relatif tidak alamiah (tidak mulus).

  • Bidang penelitian ini biasanya milik ilmu biologi, dan secara tradisional tidak dimasukkan dalam ilmu fisika, tetapi dimasukkan di sini karena bertambahnya fisikawan yang menelitinya, menggunakan metode dan alat yang lebih populer dalam penelitian ilmu fisika daripada ilmu biologi.

    • Plastisitas sinaptik ini diperlukan untuk komputasi dan model fisik dari otak, tetapi apakah penyebabnya?, dan apakah peran yang bermain pada pemrosesan orde tinggi, di luar hipokampus dan korteks visual?

      Tidak ada jawaban khusus.

      Namun secara umum, sifat dari tiap materi justru pasti dikendalikan atau digerakkan oleh suatu kecerdasan (intelegensia), karena tiap "materi terkecil" (partikel penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), memang pasti ditempati oleh suatu zat "ruh kehidupan" (suatu makhluk). Sedangkan tiap "materi terkecil" juga sebagai partikel pembawa gaya yang "paling dasar" (gaya elektromagnetik). Sehingga tiap ekspresi atas hasil dari suatu kecerdasan, secara fisik pasti terwujud melalui gaya elektromagnetik. Baca pula jawaban B.2.i di atas, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Maka pada kasus plastisitas sinaptik (kemampuan hubungan antar 2 neuron atau sel otak, untuk bisa mengubah kekuatannya dalam merespon suatu tramsmisi informasi), tentunya juga pasti terkait dengan interaksi antar neuron, melalui kekuatan gaya elektromagnetik pada jalur-jalur sinaptik atau penghubungnya (kekuatan "muatan magnet" pada informasinya). Hal ini tentunya sekalipun perbedaan kekuatan gaya elektromagnetik antar tiap jalurnya, memang bisa amat sangat kecil. Serta informasi yang terkirim antar neuron, biasa disebut "akson" (axon).

    • Bagaimana akson bercabang ke luar dari neuron, untuk menemukan targetnya?. Proses ini amat penting bagi pengembangan sistem saraf, yang memungkinkan pembangunan otak.

      Tidak ada jawaban khusus. Namun baca pula jawaban B.5.a di atas, tentang Plastisitas sinaptik.

    • Bagaimana gen mengatur tubuh, dalam menahan tekanan eksternal yang berbeda dan stokastisitas internal?. Model tertentu ada untuk proses genetik, tetapi masih jauh dari pemahaman gambaran keseluruhannya, khususnya dalam pengembangan di mana ekspresi gen harus diatur secara ketat.

      Tidak ada jawaban.

    • Apakah sifat kuantitatif dari respon kekebalan?

      Tidak ada jawaban.

      Apakah blok bangunan dasar dari jaringan sistem kekebalan tubuh?

      Tidak ada jawaban.

      Apakah peran yang dimainkan oleh stokastisitas?

      Tidak ada jawaban.

    • Apakah mekanisme yang menyebabkan kehidupan dalam susunan partikel non-hidup (seperti halnya otak manusia, misalnya)?

      Tiap "materi terkecil" (partikel penyusun terkecil bagi segala partikel-materi-benda di alam semesta), justru pasti ditempati, dikendalikan atau digerakkan oleh suatu zat "ruh kehidupan" (suatu makhluk), berdasar sifat, pengetahuan dan kesadaran yang dimilikinya masing-masing. Serupa halnya dengan zat ruh manusia, yang mengendalikan tubuh fisik-lahiriahnya. Baca pula jawaban B.2.i di atas, tentang partikel hipotetik berupa "materi terkecil".

      Dimana 3 elemen yang "paling dasar" bagi penciptaan seluruh alam semesta, yaitu: "Ruh", "Materi terkecil" dan "Energi". Sehingga tak-terhitung jumlah "materi terkecil" di seluruh alam semesta, yang masing-masingnya telah ditempati oleh suatu zat "ruh kehidupan" (suatu makhluk), serta telah diberikan-Nya "Energi", yang justru telah membentuk keseluruhan alam semesta sampai sekarang ini, atas segala perintah-Nya. Namun terbentuknya alam semesta, justru bukan berdasar segala pengetahuan atau kesadaran pada tiap makhluk itu sendiri, tetapi berdasar segala "sifat atau fitrah dasar", yang telah ditanamkan-Nya pada tiap zat ruh makhluk.

      Segala fitrah dasar pada tiap makhluk itu bersifat "kekal" (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), serta pasti dilakukan oleh tiap makhluk itu sendiri (pasti terjadi / berlaku), pada berbagai keadaan atau saat tertentu, secara sadar ataupun tidak. Segala fitrah dasar itu adalah bentuk perintah-Nya yang sebenarnya, kepada segala makhluk, bagi perwujudan segala kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta (bagi pelaksanaan sunatullah, termasuk pula bagi penciptaan alam semesta).

      Dalam kitab suci Al-Qur'an (QS.30:30), segala fitrah dasar ini juga disebut "Fitrah Allah" (sifat-sifat terpuji dan mulia Allah), yang terkait dengan penciptaan seluruh umat manusia dan penciptaan "agama-Nya yang lurus".

      Makhluk yang zat ruhnya menempati dan mengendalikan segala benda mati, dari yang paling kecil ("materi terkecil"), sampai yang paling besar ("pusat alam semesta"), biasanya disebut "para malaikat Mikail". Lebih jelasnya, zat ruh tiap makhluk pasti menempati suatu "materi terkecil", namun sebutan bagi tiap makhluk itu lalu menjadi berbeda-beda, tergantung kepada segala keadaan atau jenis tubuh fisik-lahiriah, yang bisa dikendalikannya secara keseluruhan.

      Ruh yang menempati suatu benda, yang berukuran lebih besar daripada "materi terkecil", pada dasarnya hanya menjadi "koordinator" bagi segala ruh lainnya, yang menempati tiap "materi terkecil" lainnya, yang menyusun benda itu. Namun proses koordinasi juga berlangsung secara bertingkat atau berhierarki, dari yang paling sederhana (hanya meliputi dua "materi terkecil"), sampai yang paling kompleks (meliputi milyaran "materi terkecil", seperti pada tubuh manusia).

      Tubuh fisik-lahiriah manusia misalnya, justru tersusun secara bertingkat dari sel, jaringan, organ, sampai tubuh lengkap, yang semuanya saling berkoordinasi atau berinteaksi secara harmonis. Begitu pula halnya dengan benda mati, tersusun secara bertingkat dari "materi terkecil", partikel sub-atomik, atom, molekul-senyawa, butir, benda biasa, sampai benda langit (debu antariksa, asteroid, satelit, planet, bintang, pusat galaksi, "pusat alam semesta", dsb), yang juga saling berinteaksi secara harmonis.

      Benda mati pada dasarnya hanya makhluk hidup, yang paling terbatas segala kebebasan, kemampuan dan kekuasaan secara fisik-lahiriahnya, namun secara moril-batiniah justru pasti sama dan relatif tak-terbatas (dari malaikat sampai iblis), seperti halnya segala makhluk nyata (termasuk manusia). Sedangkan manusia sebagai khalifah-Nya di dunia, yang relatif paling sempurna segala kebebasan, kemampuan dan kekuasaan secara fisik-lahiriahnya, walau juga pasti tetap memiliki segala kekurangan dan keterbatasan.

      Segala makhluk (terutama para malaikat), yang menempati dan mengendalikan segala partikel-materi-benda di alam semesta, yang justru telah bisa mewujudkan berlakunya hukum alam atau sunatullah lahiriah (termasuk gravitasi). Sedangkan sunatullah batiniah terwujudkan oleh para malaikat (dari malaikat sampai iblis), yang 'menempati' alam batiniah ruh (alam pikiran), pada tiap makhluk lainnya (termasuk manusia).

      Sehingga pada dasarnya tidak ada "partikel non-hidup" (termasuk pada otak manusia), namun segala partikel-materi-benda di alam semesta justru pasti tersusun dari "partikel hidup", yang disebut "materi terkecil".

      Apakah mekanisme ini bisa direproduksi?

      Telah diungkap pada jawaban di atas, bahwa tiap benda mati pada dasarnya justru juga suatu makhluk hidup (pasti ditempati atau dikendalikan oleh suatu zat "ruh kehidupan"), namun paling terbatas segala kebebasan, kemampuan dan kekuasaan secara fisik-lahiriahnya. Bahkan tidak ada "partikel non-hidup".

      Maka pertanyaan sekarang ini mestinya lebih tepat menjadi, "bagaimana mekanisme terciptanya kehidupan tiap makhluk nyata (sel, tumbuhan, hewan, manusia, dsb)?".

      Secara detail atau lengkapnya, tentunya hampir mustahil bisa dijelaskan, tentang penciptaan kehidupan tiap makhluk nyata (sebagian terbesarnya pasti tetap menjadi "rahasia" Allah, Yang Maha Mengetahui). Terutama karena penciptaan itu sendiri memang pasti melalui tak-terhitung tahapan proses (teramati ataupun tidak), yang juga berlangsung relatif amat lama dan rumit.

      Sedangkan secara umum dan sederhananya, bahwa hukum alam atau sunatullah justru pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan "tiap saatnya", pada tiap zat (termasuk pada lingkungan di sekitar zat itu). Maka usaha mereproduksi proses penciptaan makhluk nyata (walau hampir mustahil "seluruhnya" bisa dilakukan oleh manusia), tidak cukup hanya dengan menyiapkan segala zat unorganik dan zat organik, secara lengkap misalnya, seperti yang biasa dikonsumsi atau dibutuhkan oleh manusia sehari-harinya (air, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dsb).

      Namun penciptaan makhluk nyata justru melalui tak-terhitung tahapan proses. Dimana pada tiap tahapan prosesnya itu, selain saat terjadinya mestinya relatif tepat, juga mestinya tersedia segala keadaan yang relatif sesuai. Hal ini justru hampir mustahil bisa direproduksi "seluruhnya" secara tepat oleh manusia (manusia hanya bisa mereproduksi sebagian amat sedikit darinya).
      Proses kloning misalnya juga sama sekali bukan mengganti proses penciptaan makhluk nyata, namun hanya sedikit mengalihkan tahapan-tahapan proses tertentu, dari penciptaan itu sendiri.

      Maka proses penciptaan makhluk nyata dari segala materi penyusun tubuhnya, justru mustahil bisa direproduksi. Hal ini memang hanya semata hak Allah, Yang Maha Pencipta.

C.

Persoalan-persoalan yang terpecahkan dalam beberapa dekade terakhir

»
  • Semburan sinar gamma (GRB) berdurasi lama dikaitkan dengan kematian bintang-bintang raksasa, melalui sejenis kejadian tertentu, yang serupa dengan supernova, yang biasa disebut 'collapsar'. Namun ada juga GRB berdurasi lama, yang menunjukkan bukti terhadap supernova terkait, seperti kejadian Swift GRB 060614.

    Tidak ada jawaban.

  • Jumlah neutrino yang terpancar dari Matahari, yang bisa terdeteksi justru hanya sekitar ⅓ s/d ½, dari jumlah yang terprediksi melalui Model standar. Hal ini dipecahkan dengan pemahaman baru tentang fisika neutrino, yang membutuhkan modifikasi atas Model standar tentang partikel fisik (khususnya tentang osilasi neutrino).

    Tidak ada jawaban.

  • Perkiraan usia alam semesta adalah sekitar 3 s/d 8 milyar tahun lebih muda, daripada perkiraan usia bintang-bintang tertua dalam galaksi Bimasakti. Perkiraan yang lebih baik atas jarak ke bintang-bintang, dan juga pengenalan atas percepatan perluasan / ekspansi alam semesta, telah memperbaiki perkiraan usia.

    Kurang setuju. Perkiraan usia alam semesta menurut teori Big Light, justru jauh lebih tinggi daripada perkiraan menurut teori Big Bang, yang sekitar 13,7 milyar tahun. Hal ini terutama karena menurut teori Big Light, keseluruhan alam semesta justru mulai diciptakan-Nya, hanya dari 3 elemennya yang "paling dasar", yaitu: "Ruh", "Materi terkecil" dan "Energi".

    Juga perkiraan usia bintang-bintang masih kurang tepat, serta relatif jauh lebih muda daripada usia sebenarnya. Hal ini terutama karena manusia justru hanya bisa mendeteksi sifat-sifat materinya, yang berada pada atmosfer, permukaan ataupun pada kedalaman yang "terbatas" (bahkan mustahil bisa mendeteksi materi pada inti pusat bintangnya). Padahal inti pusat bintang, adalah cikal-bakal bagi penciptaannya, sejak saat paling awalnya. Baca pula jawaban A.4.b di atas, tentang informasi fisik, yang mustahil terdeteksi.

    Begitu pula tentunya dengan perkiraan usia dari segala benda langit lainnya, yang berukuran relatif paling besar (terutama benda langit yang berupa bola, padat ataupun dingin, seperti: satelit, planet, bintang, pusat galaksi, dsb). Benda langit yang berupa bola cukup jelas menunjukkan, adanya inti pusat dan pengaruhnya yang amat sangat kuat (bisa merapatkan seluruh materi di bagian luarnya), karena memang memiliki massa dan gravitasi yang amat sangat tinggi.

    Maka minimalnya, perkiraan usia dari tiap benda langit mestinya juga ditambahkan dengan suatu rasio tertentu, yang berdasar nilai perkiraan sementara, atas massa dan gravitasi yang sebenarnya dari materi pada inti pusatnya.

  • Sifat dari quasar tidak dimengerti selama beberapa dekade. Quasar sekarang diterima sebagai jenis galaksi aktif, di mana hasil energi keluaran yang amat besar, dari materi yang jatuh ke dalam lubang hitam raksasa di pusat galaksi.

    Setuju. Quasar juga serupa halnya dengan supernova, namun terjadi secara terus-menerus (terjadi akresi materi secara terus-menerus ke pusat quasar, dari segala bintang dan benda langit lainnya di dalamnya). Serta tiap quasar pada dasarnya suatu galaksi yang relatif baru terbentuk atau belum stabil sepenuhnya. Di lain pihaknya, segala galaksi yang stabil seperti halnya Bimasakti, justru telah memiliki formasi atau susunan pergerakan segala bintang dan planetnya, yang relatif stabil.

Sekali lagi, semua jawaban di atas hanya bersifat konseptual-filosofis, maka bukan berupa jawaban yang tuntas, lengkap dan detail. Namun tujuan utama dikemukakannya semua jawaban itu, memang hanya sekedar untuk bisa menunjukkan, bahwa suatu teori-konsep yang tersusun secara sistematis dan mendasar, justru relatif mudah dipakai untuk menjawab hampir semua persoalan ilmu fisika dan ilmu alam lainnya, yang bahkan "belum terpecahkan". Walau tentunya hanya 'waktu' yang akan bisa membuktikan kebenaran dari teori Big Light dan model alam semestanya, beserta berbagai jawaban di atas.

Penyusunan teori-konsep yang sistematis semacam itu, sekilas tampak tidak terjadi pada teori Big Bang. Sehingga teori Big Bang justru menimbulkan relatif banyak persoalan, pertanyaan dan bahkan juga sejumlah 'tahayul modern'. Teori Big Bang telah mengenalkan konsep "kurva dan perjalanan waktu", "singularitas" (inflasi kosmik secara amat cepat dan eksponensial), "konstanta kosmologis", "materi gelap", "energi gelap" (energi vakum), dsb, yang justru semuanya belum terbukti, dan bahkan relatif amat jauh dari kebenaran.

Hal yang relatif serupa juga terjadi pada 'Model standar' di bidang ilmu fisika, walau memang tidak separah teori Big Bang (sebagai model standar dalam ilmu kosmologi). Para ilmuwan cenderung amat setengah hati, dalam melakukan pendekatan konseptual-filosofis. Padahal mustahil semua halnya bisa diukur, dideteksi atau diamati. Tidak mengherankan jika sampai saat ini, mereka belum bisa memprediksi materi dan gaya yang "paling dasar", termasuk kaitan antar semua gaya dasar dan mediator gayanya. Cara terbaiknya adalah gabungan antara hasil pengamatan dan pendekatan konseptual-filosofis.

Wallahu a'lam bishawwab.

Artikel / buku terkait:

Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

Tentang Syarif Muharim

Alumni Teknik Mesin (KBK Teknik Penerbangan) - ITB - angkatan 1987 Blog: "islamagamauniversal.wordpress.com"
Tulisan ini dipublikasikan di Hikmah, Saduran buku dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

14 Balasan ke Teori ‘Big Light’ vs teori ‘Big Bang’ (5): Jawab persoalan fisika

  1. agus berkata:

    wah, hebat, & sangat konseptual
    gue blm baca, ntar kalo udah d rumah…………
    thanks telah membagi ilmu bapak dgn hamba yg secara kbetulan menemukan blog bpk syarif.

    • syarifmuharim berkata:

      Trims dan semoga bermanfaat. Amien.

      • agus berkata:

        salam kebaikan untuk semuanya,
        kalo uraian ttg fenomena sleep paralyses, udah ada belum pak ? terutama pandangan al qur’an ttg hal ini……..krn bbrp tahun yg lalu, dlm keadaan penuh protes kepada Allah, saya sangat sering mengalaminya, & bahkan mencoba untk melawan sesuatu/makhluk yg menindih badan saya ketika tidur…….
        adakah ilmu kosmos membahas ttg hal ini ?
        trims balasannya.

        • syarifmuharim berkata:

          Salam kembali,
          Dalam keadaan yang relatif ekstrim (termasuk seperti pertentangan batin yg dialami oleh p’ agus), memang bisa mengundang ‘perhatian’ dari para makhluk gaib, baik yg memang selalu mengikuti, menjaga atau mengawasi tiap manusia, tiap saatnya, maupun yg memang ada dimana-mana di sekitar. Karena dalam keadaan ekstrim itu, energi batin juga sedang relatif ekstrim, secara positif ataupun negatif.
          Fenomena sleep paralyses tentunya hanya sebagian dari bentuk respon para makhluk gaib, dan ada banyak macam bentuk lainnya.
          Tentunya ilmu yg membahasnya bukan ilmu fisik-lahiriah, namun ilmu batin. Dan hal ini bisa ditanyakan kepada para alim ulama yg relatif amat tinggi ilmunya.
          Namun pada puncaknya, hal semacam ini relatif hanya kembali kepada keimanan masing-masing, dalam mengatasinya. Terutama karena para makhluk gaib itu memang diutus-Nya, untuk menguji keimanan manusia.

          • agus berkata:

            assallamualaikum.wr.wb
            …sudahkah bapak membaca ttg artikel yg didalamnya membahas ttg alam semesta sebagai sebuah hologram ? …kayaknya menarik banget je itu pak Syarif. Gue sangat menunggu ulasan Bapak ttg hal ini. Trims.

          • Syarif Muharim berkata:

            Wa ‘alaikum salam wr. wb.
            Saya blm tahu / blm pernah baca sblumnya, klo tdk diberitahu skrg ini oleh pak Agus. Teori ini pd dasarnya mirip M-teori dan D-brane, yg cndrung berusaha menjawab persoalan2 fisika partikel, yg dianggap bersifat “non-lokal”.
            Maaf, saya pribadi kurang setuju dan kurang tertarik dgn teori2 tsb, krn bagi teori Big Light, sgla fenomena di alam semesta ini dianggap pasti bersifat “lokal”, namun sumber2 plg utama bagi terjadinya fenomena2 tsb mmg justru bersifat ghaib.
            Efek2 yg dianggap “non-lokal” tsb sbnarnya hanya semata efek2 “lokal”, namun juga skligus “ghaib”.
            Saya berasumsi, bhwa teori holography (sebutlah bgtu namanya), M-teori dan D-brane, terlahir sbgai ekspresi “kelelahan” amat sgt pd para ilmuwan, yg telah tdk lagi mampu menjelaskan fenomena2 fisik di alam semesta ini, hanya scra empirik semata (terutama persoalan2 fisika partikel). Shg mereka cndrung “melarikan-diri” kpd konsep2 sprti “Holographic Universe”, “Multi Universe”, dan konsep2 smcamnya. Pelarian smcam itu sprtinya cndrung utk menghindari pengaruh2 dari hal2 ghaib, terutama Tuhan, ruh2 dan para malaikat-Nya.
            Di lain pihak, persoalan2 gravitasi, gaya2 dasar, magnet monopol, dan supersimetri misalnya relatif mudah dijelaskan melalui teori Big Light, sprti yg telah diungkap di atas.
            Terima kasih kembali.

          • agus berkata:

            kok tak ada satupun kalimat di artikel anda, bahwa alam semesta melakukan evolusi sebagaimana gen-gen terkecil dari makhluk mati ataupun yg hidup d dalamnya juga ber evolusi ? saya percaya pada evolusi, tapi tak percaya pada pendapat bahwa nenek moyang kita itu kera, dan al-qur’an jelas2 membahas masalah evolusi ini secara gamblang……sebagaimana firman bahwa adam tingginya 30an meter, dan menyusut seperti sekarang ? namun aneh, mengapa alam semesta justru dikatakan dalam al qur’an semakin meluas ? Allah maha Perkasa dalam mengatur segala ciptaannya, namun adakah/apakah maksud dari kontradiksi ini ? apakah anda setuju bahwa ada pula tahapan planet yg menyusut untuk meledak, dan mengembang untuk meledak pula ? ……sudahkah ada penelitian ilmiah bahwa jika cahaya mampu di tangkap dan diproses dgn metode tertentu mampu berubah menjadi zat padat ? makasih.

  2. masterbing berkata:

    Apakah teori ini benar2 sesuai dgn AlQur’an? Buktinya?

    • Syarif Muharim berkata:

      Scra ‘detail’ tentunya teori Big Light ini amat sulit disebut “benar2 sesuai dgn Al-Qur’an”, krn teori ini hasil pengembangan saya pribadi, dan ayat2 Al-Qur’an mmg kurang detail menerangkan kejadian penciptaan alam semesta. Namun scra umum dapat saya katakan, bhwa teori ini saya kembangkan berdasar pondasi2 yg ada dlm ayat2 Al-Qur’an.
      Juga dapat saya katakan, bhwa teori ini bukan satu-satunya bentuk penafsiran atas ayat2 Al-Qur’an, yg berkembang di kalangan umat Islam, dan bhwa teori ini tdk saya anggap sbgai bentuk penafsiran yg plg benar atas ayat2 Al-Qur’an. Tingkat kebenaran teori ini hanya semata saya serahkan kpd Allah swt, Yang Maha Mengetahuinya.
      Utk melihat bukti2 scra ringkas atas ayat2 Al-Qur’an yg mendukung teori ini, bisa dibaca pada “Urutan penciptaan alam semesta” (http://islamagamauniversal.wordpress.com/2011/11/09/big-light-vs-big-bang-2/). Sdgkan bukti2 scra lebih lengkapnya, bisa dibaca pada artikel2 terkait dlm blog ini ataupun dlm buku “Menggapai kembali” (http://islamagamauniversal.wordpress.com/daftar-isi-buku/).
      Wassalam.

  3. wawan berkata:

    Assalaamu’alaikum.
    Pak syarif, minta izin download bukunya ya…?
    terima kasih sebelumnya.

    • Syarif Muharim berkata:

      Wa ‘alaikum salam.
      Silahkan didownload bukunya.

      • wawan berkata:

        Alhamdulillaah… sudah saya download.
        Terima kasih banyak. insya Allah, saya akan baca dulu buku yang sepintas secara umum tergolong tebal dan padat, sehingga banyak khazanah yang tersimpan di dalamnya. Yang dapat memperkaya pengetahuan.
        Mudah-mudahan, saya dapat bertanya lebih jauh tentang hal yang saya belum dapat mengerti dari buku tersebut. dan mudah-mudahan Bapak tidak keberatan memberi keterangan lebih lanjut demi meningkatkan kebaikan semuanya.
        Jazakallaahu khairan katsir.
        salaam…

  4. Akung Ibnu berkata:

    Saya sudah menyimpan tulisan anda di flash disk untuk saya pelajari guna menambah wawasan saya dalam mengungkap rahasia Alam Semesta.
    Saya mengundang anda untuk mengunjungi situs saya: http://www.akungibnu.wordpress.com dan bersedia mengkritisi tulisan saya.
    Terima kasih atas perhatian anda.

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s