Teori ‘Big Light’ vs teori ‘Big Bang’ (4): Perbandingan

Teori 'Big Light' vs teori 'Big Bang' (4): Perbandingan

Sebagai konsep kosmogoni alternatif bagi teori 'Big Bang' dan bagi konsep-konsep
kosmogoni lainnya, tentunya teori 'Big Light' mestinya juga bisa membawa berbagai
perbaikan dan kelebihan. Berikut ini diungkap perbandingan antara kedua teori,
sekaligus pula menunjukkan berbagai kelebihan dari teori 'Big Light'.

Seri artikel "Teori Big Light vs teori Big Bang", yaitu:

Perbandingan antara teori 'Big Light' dan teori 'Big Bang'

Dalam beberapa artikel/posting terkait terdahulu "Pengantar", "Urutan penciptaan alam semesta" dan "Model alam semesta", memang hanya amat sekilas diungkap tentang berbagai kelebihan dari teori 'Big Light' terhadap teori 'Big Bang', sekaligus pula tentang berbagai kelemahan dari teori 'Big Bang'. Padahal pengungkapan atas hal ini justru menjadi tujuan dari seluruh penulisan artikel/posting terkait, khususnya untuk menawarkan teori 'Big Light', sebagai konsep kosmogoni alternatif dari kalangan umat Islam (minimalnya dari penulis sendiri), untuk menggantikan teori 'Big Bang'. Apalagi amat jarang adanya konsep kosmogoni (konsep kosmologi pada awal penciptaan alam semesta ini), yang berkembang dan berasal dari kalangan umat Islam, khususnya yang berdasarkan ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Padahal konsep kosmogoni justru amat terkait dengan keyakinan umat Islam dalam beragama, karena menyangkut penciptaan alam semesta ini, oleh Allah Tuhannya alam semesta ini yang sebenarnya.

Di lain pihaknya, secara sekilas tampak, bahwa relatif sebagian besar kalangan umat Islam justru ikut pula mengakui atau membenarkan teori 'Big Bang', ataupun minimalnya hanya bersikap diam dan tidak memberi kritikan terhadap teori 'Big Bang'. Padahal secara sekilas tampak pula, bahwa teori 'Big Bang' masih mengandung amat banyak pertanyaan dan keraguan, termasuk pertanyaan yang menyangkut letak peranan Tuhan, dalam proses penciptaan alam semesta ini. Sedangkan para pendukung utama dari teori 'Big Bang', pada awalnya banyak yang berasal dari kalangan penganut ateis.

Dalam ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an pada dasarnya telah ada tersedia bahan yang cukup bagi umat Islam, khususnya bagi para alim-ulama dan para ilmuwan Muslim, agar secara bersama-sama bisa menyusun sesuatu konsep kosmogoni yang Islami. Hubungan antara ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an dan proses penciptaan alam semesta ini, sejak saat paling awal penciptaannya, sampai saat paling akhirnya (akhir jaman), pada dasarnya telah relatif cukup jelas, seperti halnya yang telah ditunjukkan dalam artikel/posting terdahulu "Urutan penciptaan alam semesta". Persoalannya pada dasarnya hanya semata tertinggal kepada kemauan para alim-ulama dan para ilmuwan Muslim, untuk mau mengungkapnya secara relatif lebih mendalam, dengan segala ilmu-pengetahuan yang dimilikinya.

Dalam tabel berikut ditunjukkan perbandingan antara teori 'Big Light' dan teori 'Big Bang', dalam berbagai aspek pembandingnya, sambil sekaligus pula ditunjukkan berbagai kelebihan dari teori 'Big Light'. Adapun berbagai aspek pembanding itu, antara lain:

  • Keadaan sebelum penciptaan alam semesta.

  • Bentuk awal alam semesta.

  • Bentuk akhir alam semesta.

  • Teori-teori pendukung.

  • Keberadaan 'pusat alam semesta'.

  • Adanya proses ekspansi alam semesta.

  • Laju ekspansi awal 'kritis'.

  • Percepatan ekspansi alam semesta.

  • Umur alam semesta.

  • Pergerakan galaksi-galaksi.

  • Amat berlimpahnya elemen-elemen purba di alam semesta.

  • Adanya radiasi gelombang mikro latar kosmik.

  • Proses evolusi dan distribusi galaksi.

  • Sifat alam semesta yang 'homogen' dan 'isotropi'.

  • Keberadaan singularitas pada proses penciptaan alam semesta

  • Penjelasan dan peranan 'ruh' kehidupan.

  • Keberadaan peranan Tuhan.

Sedangkan berbagai perbandingan antara teori 'Big Light' dan teori 'Big Bang', yaitu:

Kesimpulan perbandingan antara teori 'Big Light' dan teori 'Big Bang'

Pembanding

Teori 'Big Bang'

Teori 'Big Light'

Keadaan sebelum pembentukan atau penciptaan alam semesta. Belum cukup jelas.
Namun bagi sebagian penganut teori 'Big Bang' yang menganggap alam semesta ini 'kekal', maka keadaan sebelum pembentukannya, tentunya berupa keadaan akhir dari siklus 'Big Bang' sebelumnya.
Juga barangkali alam semesta dianggap tanpa ada Penciptanya.
Keadaan 'ketiadaan'.
Sama sekali tidak ada sesuatupun 'zat' ciptaan-Nya (ruh dan materi) di alam semesta, ataupun di ruang tak-terbatas tempat alam semesta berada.
Dan semata-mata hanya ada Zat Allah, Yang Maha Esa, Maha pencipta, Maha kekal dan Maha awal.
Bentuk awal alam semesta. Suatu bola yang amat sangat besar, padat dan panas, yang lalu 'meledak' ataupun mengalami penyebaran segala materinya ke segala arah, secara amat cepat ('Big Bang').
Lalu beberapa lama kemudian diikuti oleh terbentuknya kabut atau asap, pada lokasi di sekitar tempat terjadinya embrio galaksi-galaksi, yang terpancar atau mengembang saat 'Big Bang'.
Namun proses perubahan dari bola yang amat sangat besar, padat dan panas, menjadi kabut atau asap yang terdiri dari partikel-partikel yang amat sangat kecil (termasuk partikel sub-atom), justru sangat diragukan kejadiannya.
Juga amat diragukan proses pembentukan materi inti-pusat bagi segala benda langit, yang akan terbentuk.
Suatu sinar yang amat sangat terang, putih dan panas, serta amat merata di seluruh alam semesta ('Big Light' atau 'sinar alam semesta').
'Big light' ini awalnya bukan sinar tampak (hanya emisi 'materi terkecil'), dan mulai berupa sinar tampak setelah terbentuknya photon. Paling terang tentunya saat puncak terjadinya emisi photon.
Lalu beberapa lama kemudian setelah terbentuk segala atom, molekul dan butir inti-pusat bagi segala benda langit, berubah menjadi berupa kabut atau asap di seluruh alam semesta, yang juga relatif sangat terang, putih dan panas.
Bentuk akhir alam semesta. Jaman 'black hole', yang diikuti oleh jaman kegelapan.
Namun belum jelas, apakah hal ini sekaligus menandai keadaan terakhir dari alam semesta, ataukah diikuti oleh siklus 'Big Bang' yang berikutnya.
Begitu pula, ada berbagai keraguan atas keadaan dan kejadian pada jaman kegelapan itu, terutama karena ekspansi alam semesta dianggap tetap terus-menerus berlangsung.
Jaman 'black hole', yang diikuti oleh jaman kegelapan.
Hal ini sekaligus menandai keadaan terakhir dari alam semesta, dimana segala benda langit dalam bentuk, gerakan dan formasinya yang paling stabil (hanya dari saling interaksi medan gravitasi dan medan magnit). Serta ekspansi alam semesta dan transfer energi panas antar benda langit juga telah berakhir.
Teori-teori pendukung. Didukung oleh berbagai konsep atau teori yang masih misterius, seperti 'energi gelap' (energi penembus segala ruang dan pengekspansi alam semesta); 'materi gelap' (materi penyebab gravitasi); 'materi yang hilang' (zat anti-materi); 'inflasi' (ekspansi amat cepat, tiba-tiba dan eksponensial di awal pembentukan alam semesta); 'energi vakum' (energi yang ada dalam ruang, walau tanpa ada materi di dalamnya); dsb. Hanya didukung oleh berbagai hukum alam yang relatif sederhana, serta telah terbukti dan telah lama dikenal oleh manusia.
Sama sekali tidak dipakai konsep atau teori, seperti 'energi gelap', 'materi gelap', 'materi yang hilang', 'inflasi' dan 'energi vakum'.
Dan hanya ada konsep 'materi terkecil', sebagai materi penyusun terkecil bagi segala benda mati (termasuk segala partikel sub-atom), sekaligus sebagai materi pembawa unit energi terkecil.
Keberadaan 'pusat alam semesta', sebagai 'pengikat' bagi segala benda langit di alam semesta. Tidak pernah disebut ataupun dijelaskan, tentang keberadaan 'pusat alam semesta'. Bahkan ekspansi alam semesta dianggap bisa berlangsung selamanya (segala benda langit dianggap tidak terikat oleh suatu pusat bersama). Ada 'pusat alam semesta' saat ini, yang terbentuk relatif jauh setelah saat paling awal penciptaan alam semesta, serta relatif mulai aktif berfungsi, saat awal terjadinya formasi benda-benda langit.
Dan 'pusat alam semesta' adalah sesuatu benda langit yang paling besar, berat dan padat, di antara segala benda langit di alam semesta.
Adanya proses ekspansi alam semesta (proses pengembangan luas). Proses pengembangan luas alam semesta mengalami 'percepatan' dan berlangsung 'selamanya', dimulai secara amat cepat, tiba-tiba dan eksponensial (proses inflasi), sejak awal pembentukannya, dari suatu bola yang amat sangat besar, panas dan padat (titik pusat 'Big Bang').
Percepatan itu dianggap disebabkan oleh 'energi vakum' atau 'energi gelap', yang bisa menimbulkan tekanan negatif (berlawanan arah dari gaya gravitasi), yang mendorong materi dari ruang vakum 'di belakangnya'.
Dan 'energi vakum' dianggap bisa berada dan menjalar dalam ruang vakum (tanpa ada materi di dalamnya).
Padahal segala jenis energi mustahil ada, tanpa adanya materi dan interaksi antar materi.
Proses pengembangan luas alam semesta pada awalnya mengikuti pergerakan acak partikel. Namun setelah terbentuknya 'pusat alam semesta' (termasuk segala benda langit di dalamnya, beserta kelompok dan formasinya), proses pengembangan luas mengalami perubahan (hanya luas wilayah kelompok benda langit yang berubah, namun luas keseluruhan alam semesta justru tidak berubah).
Pengembangan luas terjadi pada kelompok benda langit, karena benda-benda langit yang bersinar di dalamnya (bintang, quasar, dsb), memang terus-menerus memancarkan energi radiasi (makin berkurang massa dan gravitasinya), sehingga jarak antar benda langitnya juga makin menjauh.
Proses pengembangan luas ini bukan terpusat pada 'satu' titik, tetapi pada 'banyak' titik (pusat-pusat orbit benda langit), dan suatu saat pasti berhenti sejalan dengan selesainya pancaran dan perpindahan materi antar benda-benda langit (ukurannya tidak lagi berubah-ubah).
Serta seluruhnya tetap berada dalam lingkup pengaruh gravitasi dari 'pusat alam semesta'.
Dan 'energi vakum' mustahil ada di alam semesta.
Laju ekspansi awal 'kritis' (laju pengembangan luas). Pada awal 'Big Bang' pasti diperlukan ada laju 'kritis' pengembangan luasnya, agar alam semesta bisa terbentuk seperti saat ini.
Jika pengembangan sedikit berada di bawah laju 'kritis' itu, maka alam semesta akan hancur bertubrukan ataupun runtuh menjadi bola raksasa kembali.
Sedangkan jika pengembangan sedikit berada di atas laju 'kritis' itu, maka segala galaksi akan lenyap dan saling terpisah di kedalaman alam semesta.
Dan laju pengembangan luas saat ini tentunya telah berada jauh di atas laju 'kritis' awal itu, karena dianggap selamanya terus-menerus mengalami percepatan, akibat adanya energi vakum.
Laju 'kritis' pengembangan luas alam semesta justru sama sekali tidak diperlukan.
Karena pengembangan luas alam semesta 'teramati' justru berlangsung alamiah, mengikuti interaksi medan gravitasi dan medan magnet antar materi ataupun antar benda langit.
Dan suatu saat, pengembangan luas alam semesta 'teramati' akan berhenti, saat ukuran segala benda langit telah tidak berubah-ubah (tidak ada lagi pancaran dan perpindahan materi), serta seluruhnya bergerak dengan amat sangat stabil, dan tetap dalam lingkup pengaruh gravitasi dari 'pusat alam semesta'.
Percepatan ekspansi alam semesta. Kurang jelas, Pada awalnya alam semesta dianggap berekspansi pada laju ekspansi 'kritis', akibat adanya proses inflasi, yang berlangsung dengan amat cepat, tiba-tiba dan eksponensial (bahkan terjadi suatu singularitas)
Lalu dianggap makin melambat akibat makin kuatnya peran gaya gravitasi dari benda-benda langit, yang mulai terbentuk.
Dan akhirnya ekspansi alam semesta saat ini dianggap makin cepat kembali dan berlangsung selamanya, setelah peran gaya gravitasi juga mulai berkurang, relatif terhadap peran energi vakum.
Alam semesta tidak pernah mengalami percepatan ekspansi, sebaliknya ekspansi alam semesta justru selalu mengalami perlambatan (dimulai dari pergerakan materi secara amat cepat dan acak), selain akibat resistensi antar materi, juga akibat makin berkurangnya pancaran dan perpindahan materi antar benda langit (ukuran dan gaya gravitasi bintang-bintang makin berkurang), sekaligus pula makin banyak terbentuknya bintang mati atau black hole.
Suatu saat nanti perlambatannya juga pasti akan berhenti (pada jaman kegelapan), saat dimana ukuran dan gerak revolusi segala benda langit telah paling stabil.
Umur alam semesta. Saat ini diperkirakan telah berumur sekitar 13,7 triliun tahun.
Sederhananya, hal ini dihitung berdasar laju pengembangan alam semesta yang mengikuti kurva tertentu, dari titik pusat 'Big Bang' (bola yang amat sangat besar, padat dan panas).
Lalu kurva itu disesuaikan dengan laju pengembangan terakhir Matahari pada saat sekarang dan jarak Matahari ke pusat 'Big Bang'.
Saat ini diperkirakan telah berumur jauh lebih lama daripada 13,7 triliun tahun.
Karena pengembangan alam semesta, tidak mengikuti kurva yang 'sederhana', seperti menurut teori 'Big Bang'.
Di mana awal pengembangannya mengikuti pergerakan acak partikel (termasuk 'materi terkecil'), lalu pada pengembangan berikutnya, mengikuti hasil interaksi medan gravitasi dan medan magnet antar benda langit.
Pergerakan galaksi-galaksi. Galaksi-galaksi terjauh bisa saling menjauh pada kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Karena proses pengembangan luas alam semesta dianggap mengalami 'percepatan' dan bisa berlangsung 'selamanya'. Benda-benda yang berukuran relatif amat besar, seperti: galaksi, bintang, planet dan bahkan kerikil, mustahil bisa bergerak mendekati ataupun melebihi kecepatan cahaya.
Hanya partikel sub-atom yang bisa bergerak pada kecepatan cahaya.
Amat berlimpahnya elemen-elemen purba di alam semesta (gas Hidrogen dan Helium). Belum cukup jelas proses pembentukan dan penyebarannya.
Apakah suatu 'Big Bang' memang bisa menguraikan suatu bola yang amat sangat besar, panas dan padat, yang sebagiannya bisa berubah menjadi amat sangat banyak atom gas Hidrogen dan Helium (atau bahkan berupa partikel sub-atom terlebih dahulu). Sedangkan sebagiannya lagi tetap padat, sebagai embrio bagi pembentukan galaksi-galaksi.
Padahal 'energi vakum' yang dianggap bisa menyebarkan dan menguraikan partikel (menjadi energi panas), justru amat diragukan keberadaannya.
Dari segala 'materi terkecil' dan melalui tak-terhitung jumlah reaksi fusi nuklir, yang merata terjadi di seluruh tempat di alam semesta, bisa terbentuk segala partikel sub-atom, sampai menjadi segala jenis atom.
Hal ini bisa terjadi saat tingkat energi panas masih amat sangat tinggi ('energi awal alam semesta'), di awal penciptaan alam semesta, dan terus-menerus makin mendingin.
Sebagai atom-atom yang paling sederhana, tentunya atom gas Hidrogen dan Helium juga paling banyak bisa terbentuk.
Sedangkan makin kompleks atau berat atomnya, maka relatif makin sedikit pula bisa terbentuk.
Adanya radiasi gelombang mikro latar kosmik yang merata. Radiasi yang terjadi pada materi-materi, yang tersebar dari suatu titik (titik pusat 'Big Bang'), hampir pasti tidak akan merata.
Bahkan radiasi akibat adanya 'energi vakum' (jika ada), hanya terjadi pada daerah embrio galaksi-galaksi berada, namun tidak terjadi pada daerah-daerah lainnya (daerah-daerah vakum).
Radiasi yang berasal dari tak-terhitung jumlah reaksi fusi nuklir, atas materi-materi yang tersebar merata di seluruh tempat di alam semesta, hampir pasti akan merata pula.
Dan radiasi hanya bisa terjadi, jika ada materi (ada emisi partikel dari reaksi pembelahan ataupun reaksi penggabungan materi-materi).
Proses evolusi dan distribusi galaksi ataupun benda-benda langit. Belum cukup jelas, proses evolusi dan distribusinya.
Karena dianggap, bahwa proses distribusi dimulai sejak awal 'Big Bang' (embrio galaksi-galaksi terpancar pada saat 'Big Bang'). Sedangkan benda-benda langit lainnya dianggap terbentuk dari kabut yang menyertai embrio galaksi tersebut (tiap benda langit dianggap berasal dari kabut yang 'runtuh', 'mampat' atau 'mengempis').
Namun masih amat diragukan apakah embrio galaksi memiliki cukup energi, untuk bisa membentuk materi penyusun inti-pusat bagi segala benda langit di dalamnya.
Juga amat diragukan adanya interaksi medan gravitasi antar embrio galaksi, karena tidak dijelaskan adanya materi pada medium antar embrio galaksi.
Proses evolusi dan distribusi pada dasarnya berlangsung amat alamiah mengikuti hasil interaksi medan gravitasi dan medan magnit antar setiap benda langit, dengan benda-benda langit di sekitarnya (termasuk 'pusat alam semesta').
Terutama setelah atom, molekul dan butir benda 'pusat' terbentuk, melalui tak-terhitung jumlah reaksi fusi nuklir, yang menyusun inti-pusat bagi segala benda langit, yang memiliki massa, gravitasi dan titik lebur yang amat sangat besar.
Dan sekumpulan amat besar kabut mustahil bisa runtuh atau mengempis untuk membentuk suatu benda langit, tanpa ada materi inti-pusat di dalamnya ataupun melintasinya, yang bisa mengumpulkan dan memampatkan materi-materi pada kabut tersebut.
Sifat alam semesta yang 'homogen' (relatif seragam) dan 'isotropi' (relatif merata) di seluruh tempat. Penyebaran materi yang berasal dari suatu titik (titik pusat 'Big Bang') ke segala arah, amat diragukan bisa tersebar secara homogen (relatif seragam) dan isotropi (relatif merata).
Dan pemenuhan atas sifat homogen dan isotropi itu, masih berupa pengakuan yang sepihak dari para penganut teori 'Big Bang', tanpa adanya berbagai penjelasan yang cukup memadai dan lengkap.
Penyebaran materi secara homogen (relatif seragam) dan isotropi (relatif merata) bisa terpenuhi.
Karena seluruh materi pada awalnya memang tersebar merata di seluruh alam semesta (awalnya berupa 'gas' yang terdiri dari materi-materi terkecil), lalu saling bertumbukan dan berreaksi membentuk materi-materi yang lebih besar, selama bergerak relatif amat cepat, bebas dan acak, akibat adanya 'energi alam semesta'.
Keberadaan singularitas pada proses pembentukan atau penciptaan alam semesta Terutama ada singularitas pada proses paling awal dan proses paling akhir pembentukan alam semesta.
Singularitas ini terutama terkait dengan adanya proses 'inflasi' yang awalnya terjadi secara amat cepat, tiba-tiba dan eksponensial, lalu percepatan terjadi selamanya atau makin cepat.
Kalaupun ada, singularitas hanya terjadi tentang 'keberadaan' zat-zat ciptaan-Nya (proses penciptaan paling awal), dalam bentuknya yang paling elementer, yaitu berupa: ruh, 'materi terkecil' dan energi.
Selanjutnya justru sama-sekali tidak ada singularitas, pada segala proses atau kejadian atas segala zat ciptaan-Nya di alam semesta, serta semuanya berlangsung alamiah.
Penjelasan dan peranan 'ruh', serta penjelasan tentang kehidupan. Tidak ada. Padahal ruh-ruh (terutama ruh para malaikat), yang justru berperan menjalankan segala 'hukum alam (sunatullah pada aspek lahiriah)'.
Penciptaan kehidupan diduga hanya mengikuti teori evolusi.
Ruh adalah elemen paling dasar pembentuk kehidupan tiap makhluk. Bahkan ruh juga sebagai pengendali benda mati, tempatnya masing-masing berada (tubuh wadahnya).
Dan evolusi hanya sebagian kecil aspek saja daripada penciptaan. Bahkan ruh dan sunatullah bukan termasuk bagian dari evolusi.
Keberadaan peranan Tuhan. Relatif diragukan, terutama lagi jika umur alam semesta dianggap 'tak-berhingga' (kekal).
Bahkan jika umur alam semesta dianggap 'berhingga' (fana), peranan Tuhan juga diragukan, karena beberapa prosesnya justru tidak berlangsung alamiah, seperti halnya segala perbuatan Allah di alam semesta, melalui sunatullah.
Hanya Allah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Pencipta, Yang telah menciptakan alam semesta dan segala isinya ini.
Bahkan tanpa sesuatupun peranan dari zat-zat selain Allah, dalam penciptaannya.
Sedangkan para malaikat yang mengawal pelaksanaan sunatullah, justru pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah-Nya.

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang Perbandingan antara teori 'Big Bang' dan teori 'Big Light', juga di samping dari topik-topik terkait lainnya dalam buku ini.

Wallahu a'lam bishawwab.

Artikel / buku terkait:

Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

Tentang Syarif Muharim

Alumni Teknik Mesin (KBK Teknik Penerbangan) - ITB - angkatan 1987 Blog: "islamagamauniversal.wordpress.com"
Tulisan ini dipublikasikan di Hikmah, Saduran buku dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s