Cara proses diturunkan-Nya wahyu

Cara proses diturunkan-Nya wahyu kepada para nabi-Nya

Amat jarang atau bahkan hampir tidak ada penjelasan yang relatif cukup jelas dan memadai,
yang berkembang luas di kalangan umat Islam ataupun umat agama tauhid lainnya tentang
proses turunnya 'wahyu', sejak dari Allah langsung sampai diterima oleh umat manusia.
Penjelasan yang ada umumnya relatif masih amat ringkas dan berragam (tidak pasti).

Persoalan pemahaman atas wahyu

Definisi wahyu yang berkembang luas di kalangan umat Islam, misalnya "wahyu adalah perintah, sabda, kalam atau firman-Nya yang disampaikan kepada para nabi-Nya, melalui perantaraan malaikat Jibril, dalam bentuk, seperti: penampakan dan perkataan langsung dari malaikat Jibril, visi/penglihatan, ilham/inspirasi, mimpi, dsb". Namun amat ironisnya, justru amat kurang atau bahkan hampir tidak ada penjelasan lebih lanjut, yang relatif cukup lengkap dan mendalam dari para alim-ulama, tentang definisi itu sendiri.

Penjelasannya pada umumnya justru hanya berupa pengungkapan yang juga relatif amat terbatas, tentang berbagai kejadian luas-biasa yang dialami oleh nabi Muhammad saw, pada saat menerima wahyu. Padahal dalam definisi wahyu itu misalnya, mengandung banyak pertanyaan yang belum terjawab secara relatif cukup memadai, misalnya:

  • Apa hakekat yang sebenarnya dari kenabian dan malaikat Jibril, juga perantaraan, penampakan dan perkataan malaikat Jibril, visi / penglihatan, ilham / inspirasi dan mimpi?;

  • Jika 'ada', apa hubungan antara perkataan malaikat Jibril, visi / penglihatan, ilham / inspirasi dan mimpi?;

  • Bagaimana cara Allah berkehendak, bertindak ataupun berbuat di alam semesta ini?.

  • Bagaimana cara Allah memilih / menunjuk dan mengutus para utusan-Nya (para nabi-Nya dan para malaikat Jibril), termasuk cara para nabi-Nya memperoleh kenabiannya?;

  • Apa keistimewaan atau kelebihan yang sebenarnya pada para nabi-Nya, sehingga mereka bisa memperoleh kenabian dan wahyu-Nya?, serta apakah hal ini bukan bentuk perlakuan 'pilih kasih' Allah kepada mereka (tidak dialami oleh seluruh umat manusia lainnya)?;
    Jika Allah berlaku 'pilih kasih' kepada para nabi-Nya, apakah Allah memang berlaku adil kepada segala makhluk ciptaan-Nya?;

  • Bagaimana cara dan bentuk interaksi 'langsung' yang sebenarnya, antara Zat Allah dan segala zat makhluk ciptaan-Nya (termasuk para nabi-Nya dan para malaikat Jibril, sebagai utusan-Nya)?;

  • Bagaimana cara dan bentuk interaksi 'langsung' yang sebenarnya, antara para makhluk gaib dan seluruh umat manusia (termasuk antara para malaikat Jibril dan para nabi-Nya)?;

  • Apakah malaikat Jibril pasti hanya mendatangi orang-orang tertentu saja (hanya para nabi-Nya)?, apakah jin, syaitan atau iblis juga pernah mendatangi para nabi-Nya?, serta kapan saja kedatangan mereka?;

  • Apa perbedaan penampakan wujud dari para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis)?, serta bagaimana cara para nabi-Nya bisa mengetahui, bahwa makhluk yang mendatanginya memang malaikat Jibril?;

  • Apa perbedaan antara perkataan dari para malaikat Jibril, dibandingkan dari para jin, syaitan dan iblis?;

  • Jika visi / penglihatan, ilham / inspirasi dan mimpi juga dihasilkan oleh para makhluk gaib, apa perbedaan antara hal-hal yang berasal dari para malaikat Jibril, dibandingkan dari para jin, syaitan dan iblis?;

  • Jika wahyu-Nya memang diturunkan-Nya berupa perkataan, visi / penglihatan, ilham / inspirasi dan mimpi dari para malaikat Jibril, bagaimana cara proses turunnya masing-masing secara lengkap?;

  • Bagaimana cara para nabi-Nya bisa mengetahui, bahwa hal yang disampaikan oleh malaikat Jibril memang wahyu-Nya (bukan hal lainnya)?, atau apa ukuran sebenarnya yang menunjukkan, bahwa sesuatu hal memang pasti berasal dari Allah?;

  • Jika wahyu-Nya memang hanya semata 'didiktekan' langsung oleh para malaikat Jibril kepada para nabi-Nya, bagaimana cara proses pendiktean itu tetap bisa berlangsung, misalnya pada saat tiap nabi-Nya sendiri sama sekali belum memiliki segala pengetahuan dan pengalaman, yang terkait dengan segala sesuatu hal di dalam wahyu-Nya itu?, serta bagaimana cara proses pendiktean melalui visi / penglihatan, ilham / inspirasi dan mimpi?;

  • Jika 'ada', apa saja perbedaan antara wahyu-Nya yang diterima oleh para nabi-Nya dari para malaikat Jibril, daripada wahyu-Nya yang diterima oleh umatnya dari para nabi-Nya?;

  • Jika 'ada' transformasi perubahan 'bentuk' wahyu-Nya (sabda, kalam atau firman-Nya), apa saja macam bentuk wahyu-Nya, dari bentuk awalnya yang sebenarnya 'langsung' dari Allah, sampai ke bentuk akhirnya yang biasa dikenal oleh umat manusia saat ini (termasuk ayat-ayat Al-Qur'an)?;
    Sebaliknya jika 'tidak ada' transformasi perubahan 'bentuk' wahyu-Nya, apakah ayat-ayat Al-Qur'an pada saat ini adalah bentuk wahyu-Nya yang sebenarnya 'langsung' dari Allah, terutama pada isi dan susunannya?;

  • Apa kaitan yang sebenarnya antar seluruh wahyu dan kitab-Nya dari para nabi-Nya, sehingga nabi Muhammad saw bahkan juga ikut membenarkan seluruh wahyu dan kitab-Nya dari para nabi-Nya yang terdahulu?, serta kenapa bisa terjadi perbedaan antar wahyu dan kitab-Nya (makin baru, relatif makin sempurna)?;

  • Jika 'ada', apa peranan akal dan keyakinan hati-nurani pada para nabi-Nya, dalam proses turunnya wahyu dan kitab-Nya?, serta apa kaitan antara akal dan keyakinan hati-nurani pada tiap umat manusia?;

  • Jika 'ada', apa hubungan antara wahyu-Nya dan pengetahuan pada para nabi-Nya?;

  • Jika wahyu-Nya berupa pengetahuan pada para nabi-Nya, apa saja perbedaannya daripada pengetahuan pada umat manusia biasa lainnya, terutama pada isi, susunan dan cara perolehannya?;

  • Dan berbagai pertanyaan terkait lainnya;

Dan semua persoalan atau pertanyaan di atas pada dasarnya mempertanyakan cara proses diturunkan-Nya wahyu secara relatif lebih mendalam, ilmiah, terstruktur ataupun sistematis, sejak dari Allah langsung sampai diterima oleh umat manusia saat ini. Hal ini sekali lagi terutama karena hampir tidak ada penjelasan yang relatif cukup memadai dari para alim-ulama sampai saat ini. Sedangkan penjelasan yang ada umumnya relatif hanya mengutip berbagai keterangan yang cukup ringkas dari kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi, tanpa disertai pula dengan penelitian dan pengkajian yang cukup mendalam.

Walau begitu, segala penjelasan atas cara proses diturunkan-Nya wahyu yang telah diungkapkan di bawah ini, tentunya juga bukan bentuk penjelasan atau pemahaman yang pasti benar. Namun minimalnya, penulis telah berusaha mengungkapkan hasil pengkajian yang dilakukan semaksimal mungkin secara relatif cukup mendalam, ilmiah, terstruktur dan sistematis. Tentunya segala penjelasan inipun tetap terbuka bagi tiap kritik dan saran, terutama bagi pencapaian pemahaman yang makin sempurna tentang kebenaran-Nya.

Berbagai bentuk dan sifat wahyu yang umumnya dikenal

Bahkan jika mengamati berbagai bentuk dan sifat wahyu, yang umumnya diyakini oleh umat-umat agama tauhid, seperti disebut pada Wikipedia, juga tampak menunjukkan amat terbatasnya pengetahuan umat beragama tentang proses turunnya wahyu. Karena pada tiap agama tauhid, umat-umatnya masih meyakini berragam bentuk dan sifat wahyu (hampir tidak ada pemahaman yang relatif pasti atau seragam). Di samping itu, juga relatif belum benar-benar dipahaminya tiap bentuk dan sifat wahyu itu sendiri, termasuk proses turunnya secara relatif lengkap dan mendalam, sejak dari Allah langsung sampai diterima oleh umat manusia.

Adapun berbagai bentuk wahyu yang umumnya dikenal, antara lain:

Berbagai bentuk wahyu secara umum (dikutip dari Wikipedia)

  • Wahyu proposisional – lisan & tulisan (verbal).

    Wahyu proposisional – lisan & tulisan adalah wahyu yang berupa hasil penyampaian melalui lisan dan tulisan, atas pesan secara langsung dan proposisional (tersusun apa adanya), dari Tuhan kepada para nabi-Nya. Juga bisa pesan langsung dan proposisional (tersusun apa adanya) dari Tuhan, yang melalui perantaraan para malaikat Jibril.

    Bentuk wahyu proposisional – lisan & tulisan ini diyakini oleh sebagian umat Yahudi Ortodoks dan umat Kristiani tradisional. Juga diyakini oleh sebagian umat Islam, terutama wahyu yang melalui perantaraan dan perkataan malaikat Jibril.

  • Wahyu proposisional – bukan lisan & tulisan (non-verbal propositional).

    Wahyu proposisional – bukan lisan & tulisan adalah wahyu yang berupa hasil penyampaian atas pesan secara langsung dan proposisional (tersusun apa adanya), dari Tuhan kepada manusia (para nabi-Nya), namun para nabi-Nya terispirasi oleh Tuhan, ‘bukan’ melalui pesan secara lisan ataupun tulisan, melainkan melalui antara lain: penglihatan langsung, mimpi, ilham, dsb.

    Bentuk wahyu proposisional – bukan lisan & tulisan ini diyakini oleh sebagian umat Yahudi, yang menganggap bahwa sebagian dari para nabi Yahudi (Isaiah, Micaiah, dsb) telah melihat langsung dialog antara Tuhan dan para malaikat, lalu isi dialog itu mereka sampaikan kembali sebagai ‘wahyu’ kepada umat manusia lainnya. Juga diyakini oleh sebagian umat Islam, atas wahyu yang berupa mimpi dan ilham.

  • Wahyu akal (aristotelian rationalism).

    Wahyu akal adalah wahyu yang berupa hasil penemuan atas kebenaran mutlak tentang Tuhan, manusia, keberadaan manusia di alam semesta ini, dsb, yang ditemukan melalui penyelidikan secara logis dan filosofis oleh para nabi-Nya, karena hubungan antara para nabi-Nya dan Tuhan dianggap hanya bisa terjadi, ketika para nabi-Nya itu telah mencapai suatu ‘tingkat pemikiran murni’ (state of pure reason).

    Bentuk wahyu akal ini terutama diyakini oleh sebagian para filsuf pada abad pertengahan penganut paham ‘neo-Aristotelian’.

  • Wahyu alam (natural).

    Wahyu alam adalah wahyu yang berupa hasil pemahaman atas berbagai kebenaran tentang Tuhan, yang bisa diperoleh hanya dengan mempelajari alam, ilmu alam, kosmologi, dsb, karena Tuhan mengungkapkan tentang diri ataupun kehendak-Nya, hanya melalui segala ciptaan-Nya di alam semesta ini.

    Para penganut bentuk wahyu alam ini seringkali menolak pemikiran tentang wahyu yang berupa teks atau kitab suci yang diturunkan oleh Tuhan.

    Bentuk wahyu alam ini diyakini oleh sebagian umat Kristiani.

  • Wahyu sejarah (historical faith development).

    Wahyu sejarah adalah wahyu yang berupa hasil pemahaman atas berbagai kebenaran tentang Tuhan, yang bisa diperoleh dengan mempelajari ‘sejarah’, karena kehendak Tuhan Yang Maha Gaib hanya bisa terungkap ketika terjadi interaksi antara Tuhan dan manusia melalui ‘sejarah’.

    Bentuk wahyu sejarah ini diyakini oleh sebagian umat Yahudi, yang justru menganggap bahwa sejarah perkembangan budaya hukum bangsa Yahudi adalah sesuatu bentuk wahyu (perwujudan kehendak Tuhan).

  • Wahyu eksistensialis (existentialism).

    Wahyu eksistensialis adalah wahyu yang berupa hasil tanggapan seorang nabi terhadap Tuhan, ketika ia terinspirasi oleh Tuhan, yang sedang berhubungan, berinkarnasi atau menyatu dengan dirinya.

    Bentuk wahyu eksistensialis ini diyakini oleh sebagian umat Kristiani, yang menganggap bahwa esensi Tuhan telah berinkarnasi, menyatu, bereksistensi atau mewujud ke dalam tubuh Yesus Kristus (nabi Isa as).

  • Wahyu sistematik (systematic theology).

    Wahyu sistematik adalah wahyu yang berupa hasil formulasi filosofis dan sistematik, yang masuk akal dan bisa diterapkan bagi berbagai dasar ajaran agama, dengan memperhitungkan teks-teks suci, sejarah, filosofi, ilmu-pengetahuan, etika, dsb, untuk bisa mencapai pendekatan filosofis yang utuh dan lengkap.

    Bentuk wahyu sistematik ini diyakini oleh sebagian umat Kristiani, terutama dalam menjelaskan tentang konsep ‘Trinitas’ dan ‘Inkarnasi’.

Umat Islam umumnya meyakini bentuk wahyu a dan b di atas, sedangkan penulis meyakini bentuk wahyu c, d dan g. Hal ini mudah dipahami, karena sebagian besar umat Islam memang meyakini, bahwa wahyu diturunkan-Nya melalui perantaraan malaikat Jibril, dalam bentuk, seperti: penampakan dan perkataan langsung dari malaikat Jibril, visi/penglihatan, ilham/inspirasi, mimpi, dsb, seperti yang telah disebutkan pada definisi wahyu di atas. Di samping itu, sebagian besar umat Islam juga meyakini, bahwa wahyu 'didiktekan' langsung oleh para malaikat Jibril kepada para nabi-Nya. Sehingga ayat-ayat Al-Qur'an misalnya, dianggap berbentuk proposisional (tersusun apa adanya) atau persis sama dengan 'perkataan' malaikat Jibril kepada nabi Muhammad saw. Hal ini juga sejalan dengan pemahaman pada sebagian besar para alim-ulama, yang amat mempertentangkan antara akal dan wahyu / agama. Dengan sendirinya, akal Nabi dianggap sama sekali tidak berperan dalam proses turunnya kitab suci Al-Qur'an.

Namun seperti disebutkan di atas, pemahaman pada sebagian besar umat Islam semacam ini memang masih menimbulkan sejumlah besar pertanyaan, yang relatif belum terjawab tuntas oleh para alim-ulama. Bahkan hal inipun amat ironis, dengan banyaknya ayat-ayat Al-Qur'an yang menyebutkan tentang 'akal' dan berbagai keutamaan bagi umat yang menggunakan 'akal'-nya. Sebaliknya Allah justru amat memurkai umat yang tidak menggunakan 'akal'-nya, untuk mempelajari tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini (QS.10:100-101). Selain itu, pemahaman pada umat Islam di atas tentunya juga belum mengaitkan langsung antara perolehan wahyu pada Nabi dan kesempurnaan pemahaman Nabi atas tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini, dengan 'akal'-nya. Dan sekali lagi, sebagian besar umat Islam di atas sama sekali belum mampu menjelaskan, bagaimana cara para malaikat Jibril 'mendiktekan' wahyu kepada para nabi-Nya.

Sedangkan penulis tidak meyakini bentuk wahyu a dan b di atas, di lain pihaknya meyakini bentuk wahyu c, d dan g. Hal ini terutama karena penulis tidak meyakini adanya 'pendiktean' wahyu oleh para malaikat Jibril kepada para nabi-Nya, walau wahyu memang diturunkan-Nya kepada para nabi-Nya melalui perantaraan para malaikat Jibril. Lebih pentingnya lagi, karena wahyu diturunkan-Nya juga sekaligus melalui perantaraan 'akal' dan 'hati-nurani' para nabi-Nya. Serta perolehan wahyu pada para nabi-Nya bahkan amat terkait langsung dengan kesempurnaan pemahamannya atas tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini, dengan 'akal'-nya masing-masing.

Dan harap baca pula berbagai uraian di bawah untuk penjelasan lebih lengkapnya, tentang proses turunnya wahyu melalui perantaraan para malaikat Jibril dan sekaligus pula melalui 'akal' dan 'hati-nurani' para nabi-Nya.

Adapun berbagai sifat wahyu yang umumnya dikenal, antara lain:

Berbagai sifat wahyu secara umum (dikutip dari Wikipedia)

  • Wahyu progresif (progressive revelation).

    Wahyu dianggap bersifat progresif (maju), karena wahyu-wahyu-Nya yang diturunkan kemudian, dianggap relatif lebih lengkap jika dibandingkan dengan wahyu-wahyu-Nya sebelumnya.

    Termasuk wahyu-wahyu-Nya dianggap diturunkan secara siklis (berulang), berkesinambungan dan bahkan tidak pernah berhenti, dari waktu ke waktu melalui serangkaian para nabi-Nya. Serta ajaran-ajaran agama-Nya dianggap tersusun makin lengkap, sesuai dengan kebutuhan waktu dan tempat kemunculannya.

    Wahyu progresif diyakini oleh sebagian umat Kristiani dan umat Baha’i. Juga diyakini secara terbatas oleh sebagian umat Islam.

  • Wahyu kontinu (continuous revelation).

    Wahyu dianggap bersifat kontinu, karena wahyu-wahyu-Nya dianggap terus-menerus diturunkan-Nya, untuk bisa mengungkapkan segala prinsip dan perintah ilahi untuk kemanusiaan.

    Wahyu kontinu ini terkadang dianggap bersesuaian dengan wahyu progresif (pada poin a di atas). Juga wahyu kontinu terkadang dianggap tanpa harus melalui kitab suci dan para nabi-Nya.

    Wahyu kontinu diyakini oleh sebagian umat Kristiani, umat Taoisme, umat Baha’i, umat Ahmadiah, dsb. Juga diyakini secara terbatas oleh sebagian umat Islam.

  • Wahyu umum (general revelation).

    Wahyu dianggap bersifat umum, karena wahyu-wahyu-Nya dianggap sangat mengacu kepada aspek universalitas tentang Tuhan, pengetahuan-Nya dan hal-hal spiritual lainnya, yang dianggap pasti bisa ditemukan melalui cara-cara alami, seperti: pengamatan alam fisik, ilmu filsafat, penalaran, hati-nurani, kebaikan ataupun sejarah takdir manusia.

    Sehingga Tuhan dianggap tidak menggunakan kata-kata ataupun tindakan tertentu, tetapi bersifat lebih umum atau mencakup segala kejadian yang terjadi dalam penciptaan, hati-nurani dan sejarah.

    Juga karya dan keberadaan Tuhan dianggap bisa diketahui oleh manusia, walau hanya secara tak-langsung.

    Wahyu umum ini dianggap berkebalikan dengan wahyu khusus (dalam kitab suci atau mu’jizat dari para nabi-Nya, pada poin d di bawah) ataupun wahyu langsung (hasil komunikasi langsung antara Tuhan dan para nabi-Nya, pada poin e di bawah).

    Wahyu umum terutama diyakini oleh sebagian umat Kristiani.

  • Wahyu khusus (special revelation).

    Wahyu dianggap bersifat khusus, karena wahyu-wahyu-Nya dianggap lebih mengacu kepada keyakinan, bahwa pengetahuan tentang Allah dan hal-hal spiritual lainnya bisa ditemukan melalui cara-cara supranatural, seperti kitab suci atau mu’jizat pada waktu tertentu dan bagi orang-orang tertentu, yang merupakan cara-cara selain melalui akal manusia.

    Perolehan wahyu khusus ini dianggap berkebalikan dengan wahyu umum (pada poin c di atas). Wahyu langsung (pada poin e di bawah) juga bisa dianggap termasuk ke dalam klasifikasi wahyu khusus ini.

    Wahyu khusus terutama diyakini oleh sebagian umat Kristiani. Juga diyakini oleh sebagian umat Islam.

  • Wahyu langsung (direct revelation).

    Wahyu dianggap bersifat langsung, karena wahyu-wahyu-Nya dianggap ada mengacu kepada sesuatu komunikasi langsung antara manusia dan Tuhan, dengan kata-kata, kesan, visi, mimpi ataupun dengan kemunculan yang sebenarnya.

    Secara lebih umum, wahyu langsung ini juga bisa diklasifikasikan sebagai wahyu khusus (pada poin d di atas).

    Wahyu langsung terutama diyakini oleh sebagian umat Kristiani.

  • Wahyu privat (private revelation).

    Wahyu dianggap bersifat privat, karena wahyu-wahyu-Nya tertentu dianggap bisa diturunkan kepada umat-umat tertentu, dalam bentuk kontemplasi, yang terjadi setelah berakhirnya jaman para nabi-Nya. Wahyu privat ini dianggap tidak diwajibkan kepada umat untuk mempercayainya, dan relatif hanya membentuk keyakinan pribadi saja, pada umat yang memperolehnya.

    Sedangkan wahyu-wahyu-Nya yang telah diturunkan kepada para nabi-Nya, dianggap bersifat universal atau umum, sehingga dianggap harus diyakini oleh semua umat.

    Wahyu privat terutama diyakini oleh sebagian umat Kristen Katolik. Juga diyakini secara terbatas oleh sebagian umat Islam.

  • Wahyu supranatural (supranatural revelation).

    Wahyu dianggap bersifat supranatural, karena wahyu-wahyu-Nya dianggap mengacu kepada suatu hasil komunikasi antara manusia dengan Tuhan ataupun zat supranatural lainnya (seperti para malaikat).

    Wahyu supranatural terkadang dianggap tidak selalu memerlukan kehadiran fisik dari suatu zat supranatural. Misalnya wahyu supranatural dianggap cukup hanya mencakup suara hati (‘ilham’ atau ‘interior locution’), yang didengar oleh penerimanya.

    Juga ada anggapan lain, bahwa Tuhan dan zat-zat supranatural tidak bisa diakses oleh mata dan telinga fisik manusia, tetapi hanya bisa diamati dan didengar oleh manusia, yang memiliki kekuatan ekstrasensori.

    Wahyu supranatural diyakini oleh umat banyak agama (seperti: Yahudi Ortodoks, Kristen Katolik dan aliran Kristen lainnya, Islam, Hindu, Budha, dsb), dan bahkan membentuk keyakinan fundamental dalam ajaran agama-agama itu.

Umat Islam umumnya meyakini sifat wahyu a (terbatas), b (terbatas), d, e dan g di atas, sedangkan penulis meyakini sifat wahyu a (terbatas) dan c. Hal ini mudah dipahami, karena sebagian besar umat Islam meyakini, bahwa wahyu diturunkan-Nya makin lama makin sempurna, dari nabi ke nabi. Namun umat Islam juga meyakini, bahwa wahyu telah berakhir pada nabi Muhammad saw, sebagai nabi yang terakhir. Sehingga wahyu dianggap bersifat 'progresif' (makin sempurna) dan 'kontinu' (terus-menerus), namun juga bersifat 'terbatas' (hanya sampai suatu saat tertentu). Dan juga wahyu dianggap bersifat 'khusus' (melalui cara-cara khusus dan selain melalui akal), 'langsung' (langsung dari Allah kepada para nabi-Nya) dan 'supranatural' (melalui zat-zat gaib).

Sedangkan penulis tidak meyakini sifat wahyu b (terbatas), d, e dan g di atas, namun meyakini sifat wahyu a (terbatas) dan c. Hal ini terutama karena penulis tidak meyakini adanya 'kontinuitas' proses turunnya wahyu, yang prosesnya justru berlangsung alamiah, serta proses kemunculan para nabi-Nya justru tidak berlangsung kontinu (sering terputus selama berabad-abad). Seperti diungkapkan di atas, tentunya wahyu dianggap tidak bersifat 'khusus', karena wahyu diturunkan-Nya juga melalui perantaraan akal para nabi-Nya. Juga wahyu dianggap tidak bersifat 'langsung', karena mustahil ada interaksi langsung antara Allah dan para nabi-Nya, namun pasti melalui tabir dan perantara, serta Zat Allah tersucikan dari segala sesuatu hal. Dan penulis memang meyakini, bahwa wahyu diturunkan-Nya melalui perantaraan malaikat Jibril. Namun jika dipahami hakekat yang sebenarnya dari malaikat Jibril, yang justru kedatangannya tidak bersifat khusus hanya semata-mata kepada para nabi-Nya, bahkan juga pasti mendatangi hampir seluruh umat manusia. Termasuk sekali lagi karena proses turunnya wahyu, memang berlangsung amat alamiah atau umum (tidak mengharuskan adanya berbagai kejadian supranatural khusus). Bahkan juga tidak semua para nabi-Nya pernah didatangi oleh para malaikat Jibril, secara khusus. Maka wahyu sengaja dianggap tidak bersifat 'supranatural' (melalui zat-zat gaib). Walaupun segala kejadian supranatural itu memang ikut makin memperkaya isi wahyu.

Dan harap baca pula berbagai uraian di bawah untuk penjelasan lebih lengkapnya, tentang proses turunnya wahyu melalui perantaraan para malaikat Jibril dan sekaligus pula melalui 'akal' dan 'hati-nurani' para nabi-Nya, yang juga berlangsung amat alamiah.

Perlu diketahui, bahwa semua bentuk dan sifat wahyu di atas relatif hanya bentuk dan sifatnya pada saat diterima oleh para nabi-Nya. Sehingga hal ini belum menunjukkan proses tranformasi perubahan bentuk dan sifat wahyu, sejak dari Allah langsung sampai diterima oleh umat manusia, seperti yang telah ditunjukkan pada artikel/posting terdahulu "empat macam bentuk wahyu". Selain itu pula, pengelompokan bentuk dan sifat wahyu di atas masih bersifat umum, sehingga belum tentu telah menunjukkan hal yang sebenarnya terjadi secara tepat.

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang berbagai bentuk dan sifat wahyu yang umumnya dikenal, serta berbagai bentuk dan sifat wahyu yang 'sebenarnya' (menurut penilaian atau pemahaman relatif penulis).

Cara proses diturunkan-Nya wahyu kepada para nabi-Nya

Pada artikel/posting sekarang ini, selanjutnya hendak diungkapkan secara ringkas proses diturunkan-Nya wahyu kepada para nabi-Nya, terutama melalui gambar berikut. Sedangkan proses yang lebih lengkapnya lagi bisa dibaca dari topik-topik yang terkait pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", termasuk di dalamnya telah pula diungkapkan jawaban-jawaban bagi hampir semua pertanyaan tentang wahyu di atas.

Gambar diagram sederhana proses perolehan wahyu

Agar lebih lengkapnya, juga disertakan gambar-gambar terkait berikut.

Gambar diagram detail proses berpikir manusia

Gambar diagram sederhana elemen ruh dan fungsinya

Penting diketahui pula, bahwa pemahaman atas istilah, definisi ataupun fungsi dari tiap elemen pada zat ruh manusia, bisa relatif berbeda-beda pada tiap umat Islam ataupun alim-ulama. Hal ini mudah dipahami, terutama karena memang menyangkut hal-hal yang gaib (tersembunyi), dan juga relatif cukup ringkas dan terbatas segala penjelasannya dari ajaran-ajaran agama Islam. Sehingga para pembaca diharapkan agar bisa lebih cermat dan fleksibel dalam menelaahnya, khususnya dengan lebih menambah kepekaan batiniah dan juga lebih terfokus kepada fungsinya (bukan kepada istilah dan definisinya).

Dari gambaran sederhana proses perolehan 'wahyu' pada para nabi-Nya di atas, ada tampak ditunjukkan secara ringkas hubungan antara: berbagai bentuk pengajaran-Nya di alam semesta ini (ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis dan tertulis), alat-alat indera pada para nabi-Nya, para makhluk gaib dan segala bentuk ilhamnya, akal dan hati-nurani pada para nabi-Nya, tingkat kesempurnaan pemahaman para nabi-Nya tentang kebenaran-Nya, dsb.

Bahkan keseluruhan proses perolehan 'wahyu' pada para nabi-Nya, pada dasarnya 'persis sama' dengan proses berpikir tiap manusia, dengan menggunakan 'akal'-nya, untuk bisa memperoleh pengetahuan atau pemahaman tentang segala sesuatu halnya. Dari segi 'zatnya', bahkan para nabi-Nya memang 'manusia biasa' (segala sifat dan alat-sarana pada tubuh wadahnya, sama sekali tidak berbeda daripada manusia biasa lainnya).

Perbedaan utama antar umat manusia (termasuk antara para nabi-Nya dan umat manusia biasa lainnya) pada dasarnya hanya semata-mata pada segala 'usaha' dan 'hasil usaha' yang diperolehnya masing-masing (pasti setimpal dengan usahanya), antara-lain:

  • Usaha para nabi-Nya yang relatif jauh lebih keras, dalam mencari pengetahuan atau pemahaman tentang tiap kebenaran-Nya. Lalu merekapun relatif jauh lebih keras, dalam mengamalkan segala pengetahuannya itu secara relatif amat konsisten.

  • Para nabi-Nya relatif jauh lebih keras, dalam menyampaikan segala pengetahuannya kepada umat manusia lainnya, agar umat bisa ikut memahami kebenaran-Nya dan sekaligus pula umat bisa ikut mendapat limpahan rahmat dan keredhaan-Nya.
    Sehingga merekapun umumnya menyampaikannya secara relatif sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, agar umat relatif jauh lebih mudah bisa memahami dan mengamalkannya, dalam kehidupannya sehari-hari.

  • Para nabi-Nya relatif jauh lebih banyak mengamati dan mempelajari segala sesuatu hal di sekitarnya ataupun di alam semesta ini (lahiriah dan terutama batiniah).

  • Para nabi-Nya relatif jauh lebih banyak menyendiri untuk bisa bertafakur (sambil duduk, berdiri, berbaring, dsb), dalam berusaha memikirkan tiap kebenaran-Nya.
    Dan setelah memahami berbagai kebenaran-Nya, tentunya merekapun kembali lagi ke tengah-tengah umatnya, terutama untuk menyampaikannya kepada umatnya.

  • Para nabi-Nya relatif jauh lebih banyak memiliki pengalaman batiniah-rohani-spiritual (termasuk pengalaman berinteraksi dengan para makhluk gaib).

  • Tingkat pengetahuan para nabi-Nya tentang kebenaran-Nya relatif jauh lebih sempurna (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya).

  • Pengetahuan para nabi-Nya relatif jauh lebih banyak menyangkut hal-hal gaib dan batiniah, yang memang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan seluruh umat manusia (Allah, tujuan penciptaan alam semesta dan kehidupan umat manusia di dalamnya, ruh makhluk-Nya, alam gaib, alam akhirat, dsb).

  • Tingkat keimanan para nabi-Nya tentang kebenaran-Nya relatif jauh lebih tinggi, secara batiniah (pemahaman / ilmu) dan secara lahiriah (pengamalan / amal).

Dari uraian-uraian di atas secara sekilas menunjukkan, bahwa Allah pasti berlaku adil kepada seluruh umat manusia, atau Allah sama sekali tidak berlaku pilih kasih hanya kepada para nabi-Nya itu. Segala keistimewaan pada para nabi-Nya memang berdasarkan segala usaha yang relatif amat keras dan setimpal dari para nabi-Nya itu sendiri, bahkan sama sekali bukan diberikan-Nya dengan begitu saja (tanpa adanya usaha yang setimpal). Dan tentunya Allah juga pasti memberikan segala bentuk balasan-Nya yang setimpal atau adil (nikmat ataupun siksaan-Nya), atas tiap usaha atau perbuatan manusia.

Selain uraian ringkas dari gambaran sederhana proses perolehan 'wahyu' pada para nabi-Nya di atas, juga bisa diungkapkan atau dijelaskan lebih lengkap berbagai hal terkait, antara-lain:

Berbagai catatan terkait proses perolehan wahyu pada para nabi-Nya

Allah menciptakan seluruh alam semesta dan segala isinya ini (termasuk seluruh umat manusia di dalamnya), berdasarkan "Fitrah Allah" (sifat-sifat terpuji dan mulia Allah), serta berdasarkan "Fitrah Allah" itu pula Allah menciptakan "agama-Nya yang lurus" (pada QS.30:30).
"Fitrah Allah" adalah sifat-sifat yang sengaja dipilih-Nya (di antara keseluruhan sifat mutlak Allah) dan hendak ditunjukkan-Nya kepada segala makhluk ciptaan-Nya di alam semesta ini, agar bisa mengenal kekuasaan, kemuliaan dan kesempurnaan Allah.
Sedangkan "agama-Nya yang lurus" adalah suatu bentuk keredhaan-Nya untuk bisa diikuti oleh tiap makhluk ciptaan-Nya, bagi keselamatan, kebahagiaan dan kemuliaannya sendiri (sama sekali bukan demi kepentingan Allah).
Dan secara tersirat, terselubung, tersembunyi atau gaib, di alam semesta ini tersebar segala sesuatu hal yang bisa menunjukkan "Fitrah Allah" (sifat-sifat terpuji dan mulia Allah), serta juga bisa menunjukkan kehendak ataupun keredhaan-Nya.

Manusia bisa mengenal Allah (mengetahui tiap kebenaran-Nya), hanya semata-mata dengan mempelajari segala sesuatu hal di alam semesta ini (segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian lahiriah dan batiniah di dalamnya).
Juga 'alam semesta ini' adalah bentuk 'wahyu-Nya' yang paling awal dan sebenarnya, yang telah berwujud (harap baca pula artikel/posting terdahulu "empat macam bentuk wahyu").
Dan interaksi antara Allah dan segala makhluk ciptaan-Nya hanya semata-mata melalui alam semesta ini (sama sekali tidak ada interaksi langsung), bahkan termasuk interaksi antara Allah dan para utusan-Nya (para malaikat Jibril dan para nabi-Nya).

'Esensi' Zat Allah Yang Maha Gaib dan Maha Suci, pasti tersucikan dari segala sesuatu halnya, termasuk pasti mustahil bisa dijangkau, dilihat ataupun diketahui oleh segala alat indera pada tiap makhluk ciptaan-Nya, di dunia dan di akhirat.
Namun manusia hanya semata-mata bisa mengetahui 'perbuatan' Zat Allah di alam semesta ini, yang berupa segala sesuatu hal yang berlaku 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), serta tentunya juga berlaku 'universal' kepada segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini (pasti berlaku sama dari awal sampai akhir jaman).
Di samping itu, juga pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan lahiriah dan batiniah 'tiap saatnya' pada tiap zat ciptaan-Nya (pasti berlaku alamiah).

Segala tindakan atau perbuatan Allah secara lahiriah dan batiniah di alam semesta ini biasa disebut 'sunatullah' (Sunnah Allah). Sedangkan 'hukum alam' umumnya hanya dikaitkan dengan sunatullah pada aspek lahiriahnya saja.
Pelaksanaan sunatullah sama sekali bukan diwujudkan langsung oleh Allah sendiri, namun diwujudkan oleh tak-terhitung jumlah para malaikat-Nya, yang memang pasti tunduk, patuh dan taat melaksanakan segala perintah-Nya.

Tiap kebenaran-Nya (menurut Allah) atau kebenaran 'mutlak' milik Allah, adalah segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten) di alam semesta ini.
Segala kebenaran-Nya semacam ini juga biasa disebut "tanda-tanda kekuasaan dan kemuliaan-Nya", "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" ataupun "segala ilmu / pengetahuan-Nya". Semua sebutan ini pada hakekatnya merujuk kepada sesuatu hal yang sama, namun hanya berbeda fokus dan konteks pemakaiannya saja.
Dan segala kebenaran-Nya di alam semesta ini, secara 'simbolik' tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, yang amat mulia dan agung.

Tiap kebenaran-Nya (menurut manusia) atau kebenaran 'relatif' tertinggi milik manusia, adalah segala sesuatu hal yang telah relatif amat sesuai atau mendekati kebenaran 'mutlak' milik Allah di alam semesta ini.
Segala pengetahuan atau kebenaran pada tiap manusia pasti bersifat 'relatif' (tidak 'mutlak' benar) dan 'terbatas' (tidak mengetahui segala sesuatu hal), bahkan juga termasuk pada para nabi-Nya.
Tiap manusia mustahil bisa mencapai atau meraih 'Arsy-Nya, namun hanya semata-mata bisa 'mendekatinya' (dari berbagai sisi atau aspek kebenaran-Nya), karena pasti ada tabir-hijab-pembatas antara Allah dan manusia (sedikit-banyak pasti ada perbedaan antara kebenaran 'mutlak' milik Allah dan kebenaran 'relatif' milik manusia).
Dan hal yang sama juga pada segala makhluk ciptaan-Nya lainnya.

'Benar' (relatif amat sesuai atau mendekati kebenaran 'mutlak' milik Allah di alam semesta ini), adalah 'satu-satunya' ukuran (sama sekali tidak ada ukuran lainnya), bahwa sesuatu hal yang terkait memang pasti berasal dari Allah, bagaimanapun cara disampaikannya, pada kitab manapun tertulis dan oleh siapapun tersampaikan.
Sehingga nabi Muhammad saw juga ikut membenarkan wahyu dan kitab-Nya dari para nabi-Nya yang terdahulu, karena memang ada mengandung kebenaran-Nya.

Secara 'umum', segala sesuatu yang 'benar' di alam semesta ini pada dasarnya bersifat 'netral' (ada yang positif-menguntungkan, netral dan negatif-merugikan bagi manusia). Maka dalam beragama, selain diajarkan untuk mengenal kebenaran-Nya, namun juga amat ditekankan untuk mengenal keredhaan-Nya (segala sesuatu hal yang bisa menguntungkan, menolong, menyelamatkan dan memuliakan manusia).
Keberadaan syaitan dan iblis misalnya, memang bagian dari rencana, kehendak dan kebenaran-Nya (pasti diciptakan oleh Allah, terutama untuk bisa menguji keimanan tiap manusia).
Namun segala sesuatu hal yang disampaikan oleh syaitan dan iblis, justru bukan suatu bentuk keredhaan-Nya untuk diikuti oleh manusia (hanya suatu bentuk ujian-Nya secara batiniah).

Manusia bisa mengamati atau mengetahui segala sesuatu hal di alam semesta ini, hanya semata-mata melalui alat-alat indera lahiriah dan batiniahnya (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, hati / kalbu, dsb).
Segala informasi yang ditangkap oleh alat-alat indera lahiriahnya, juga pasti diterima oleh alat indera batiniah pada zat ruhnya (hati / kalbu).
Hati / kalbu adalah satu-satunya alat-sarana untuk saling tukar-menukar informasi atau saling berinteraksi antar makhluk ciptaan-Nya di alam arwah atau alam ruh, termasuk pula pada interaksi antara manusia dan para makhluk gaib di alam dunia.
Dan pada saat zat ruh telah terpisah dari tubuh wadah fisik lahiriahnya (pada saat kematiannya), maka alat indera pada tiap manusianya hanya berupa hati / kalbu.

Pada alam batiniah ruh tiap manusia (alam pikirannya), 'tiap saatnya' pasti selalu ada sejumlah para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis), yang ditugaskan-Nya untuk mengikuti, mengawasi dan menjaga manusianya.
Pada hati / kalbu tiap manusia, para makhluk gaib itupun 'tiap saatnya' pasti selalu memberikan segala bentuk ilham (yang positif-benar-baik dan yang negatif-sesat-buruk), sebagai suatu bentuk pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah.
Dan ilham juga sering disebut 'bisikan', 'godaan' atau 'inspirasi'.

Tiap bentuk ilham adalah suatu potongan amat kecil informasi yang ditawarkan 'tiap saatnya' oleh para makhluk gaib kepada manusia, bagi penyusunan pengetahuannya (yang positif-benar-baik dan yang negatif-sesat-buruk), serta merupakan salah-satu dari sejumlah besar informasi lainnya pada pengetahuannya itu.
Sehingga segala bentuk ilham dari para makhluk gaib adalah bahan-bahan yang amat 'sederhana' dan 'mentah' (belum terolah) bagi penyusunan pengetahuan manusia.

Para malaikat Jibril adalah para makhluk gaib yang memberikan segala bentuk ilham yang positif-benar-baik, yang juga sering disebut 'wahyu-Nya' (terutama jika telah membentuk suatu pengetahuan yang utuh dan sempurna pada manusianya).
Sebaliknya para jin, syaitan dan iblis memberikan segala bentuk ilham yang negatif-sesat-buruk, dengan tingkat kesesatannya yang terurut makin meningkat.

Tiap makhluk gaib yang 'sama' pada hakekatnya bisa menjadi malaikat Jibril pada suatu saat, namun juga bisa menjadi jin, syaitan ataupun iblis pada saat lainnya.
Karena penilaian manusia atas para makhluk gaib itu pada hakekatnya memang mestinya bukan tergantung kepada 'nama-sebutan' ataupun 'zat'-nya yang bersifat gaib, namun justru mestinya tergantung kepada tiap bentuk ilham yang 'sedang' diberikannya pada 'suatu saat', beserta tingkat kebenaran ataupun kesesatannya.

Ilham yang positif-benar-baik adalah wujud dan hakekat yang sebenarnya dari 'perkataan' para malaikat Jibril. Serta visi/penglihatan dan mimpi pada dasarnya berupa rangkaian sejumlah besar ilham dari para makhluk gaib.
Namun visi/penglihatan, ilham/inspirasi dan mimpi yang positif-benar-baik pada dasarnya bukan bentuk wahyu yang sebenarnya, namun hanya berupa bahan-bahan yang amat sederhana dan mentah bagi penyusunan pengetahuan atau wahyu, yang dilakukan oleh para nabi-Nya dalam keadaan penuh kesadaran.

Dalam memberikan segala bentuk ilham, para makhluk gaib umumnya selalu berdasarkan segala pengetahuan yang telah dimiliki oleh tiap manusianya, serta umumnya selalu mengikuti arah kecenderungan pikiran manusianya, sehingga 'seolah-olah' dianggap hanya berasal dari hasil pikiran manusianya sendiri.
Hampir mustahil para makhluk gaib memberikan pengajaran-Nya, jika manusianya sendiri memang belum siap menerimanya (belum cukup berpengetahuan ataupun tidak sedang berusaha mencari pengetahuan), yang justru pasti bisa menyebabkan pengajaran-Nya itu sendiri menjadi sia-sia.
Dan para makhluk gaib umumnya juga selalu memanfaatkan segala informasi batiniah pada manusianya, termasuk pada 'nafsu' (segala informasi tentang tingkat keinginan atau kemauannya) dan 'catatan amalan'-nya (segala informasi tentang amal-perbuatan lahiriah dan batiniah yang telah dilakukannya).

Pada hati / kalbu tiap manusia, tiap saatnya pasti selalu bercampur-baur antara segala informasi yang 'murni' dari alat-alat indera lahiriahnya, dan segala informasi 'tambahan' dari para makhluk gaib (segala bentuk ilhamnya), yang umumnya dari 'hasil olahan' mereka atas segala informasi batiniah pada manusianya sendiri (sedikit disimpangkan ke arah yang lebih positif-benar-baik dan lebih negatif-sesat-buruk).
Pada saat manusianya sedang tertidur misalnya (alat-alat indera lahiriahnya relatif sedang beristirahat), segala bentuk ilham dari para makhluk gaib tentunya jauh lebih dominan jumlahnya (berupa mimpi). Hal yang relatif serupa juga terjadi, ketika manusianya sedang melongo, melamun, mengantuk, hilang kesadaran, dsb.
Bahkan lebih lanjutnya lagi pada kehidupan tiap manusia setelah Hari Kiamat (saat kehidupan fisik-lahiriahnya telah berakhir), hati / kalbu manusianya hanya menerima segala bentuk ilham dari para makhluk gaib dan segala makhluk lainnya.
Bahasa segala makhluk di kehidupan akhirat, selama di dunia ataupun setelah Hari Kiamat, adalah 'ilham'. Sedangkan 'alat bicara' dan 'alat pendengarnya', adalah 'hati / kalbu'. Dan bentuk komunikasinya relatif serupa dengan komunikasi 'telepati'.

Di samping memberikan segala bentuk ilham, para makhluk gaib juga bertugas memeriksa dan menyalurkan segala informasi batiniah pada tiap manusianya, termasuk mencatatkan segala amal-perbuatan lahiriah dan batiniah yang telah dilakukannya (perbuatan tubuh fisik-lahiriah dan akalnya), ke 'otak' dan 'catatan amalan'-nya. Dan tentunya mereka juga diberikan-Nya banyak tugas lainnya.

Secara umum, interaksi antara manusia dan para makhluk gaib bisa dikelompokkan menjadi: interaksi secara "terselubung" dan interaksi secara "terang-terangan".
Interaksi secara "terselubung" adalah interaksi yang amat sangat halus (kehadiran para makhluk gaib relatif sulit diketahui) dan tiap saatnya tiap manusia pasti selalu mengalaminya, terutama berupa pemberian segala bentuk ilham di atas.
Interaksi secara "terselubung" ini paling berperan dalam penyusunan pengetahuan manusia, karena memang berlangsung amat sangat cepat (secepat proses berpikir, serta tiap ilham-bisikan-godaannya amat sangat singkat dan halus).
Interaksi secara "terang-terangan" adalah interaksi yang amat jelas (kehadiran tiap makhluk gaib bisa jelas diketahui, melalui "suara bisikan"-nya pada alam pikiran manusianya) dan hanya sejumlah relatif amat terbatas manusia yang mengalaminya.
Dimana "suara bisikan" dari para makhluk gaib itu 'serupa' dengan suara manusia, dalam berbagai: usia (dari suara bayi sampai lansia), bangsa (berbagai bahasa), jenis kelamin (suara pria, wanita, dan bahkan banci), dsb.
Interaksi secara "terang-terangan" ini kurang berperan dalam penyusunan pengetahuan manusia, karena memang berlangsung amat lambat (secepat proses berdialog antar manusia), tidak terfokus atau arahnya simpang-siur tidak jelas (relatif banyak para makhluk gaib yang saling bergantian ikut 'berbicara', dan tidak dimonopoli oleh satu atau beberapa makhluk gaib saja, juga sekaligus topiknya masing-masing relatif berbeda-beda), serta tiap pembicaraan dengan tiap makhluk gaib hanya berlangsung sebentar saja (relatif hanya satu atau dua kalimat saja).
Dan hal-hal yang disampaikan oleh para makhluk gaib pada 2 macam interaksi ini juga tetap terdiri dari hal-hal yang positif-benar-baik dan yang negatif-sesat-buruk, bahkan walaupun dari tiap makhluk gaib yang sama sekalipun (ia bisa berbicara yang positif-benar-baik dan yang negatif-sesat-buruk sekaligus).
Harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", tentang interaksi antara para makhluk gaib dan manusia.

Hasil dari interaksi secara "terang-terangan" antara para makhluk gaib dengan sebagian dari para nabi-Nya, pada dasarnya bukan langsung terkait dengan wahyu (para makhluk gaib bukan langsung menyampaikan wahyu). Karena hal-hal yang dibicarakannya, tetap hanya berupa bahan-bahan yang amat 'sederhana' dan 'mentah' (belum terolah) bagi penyusunan wahyu, serupa halnya dengan ilham.
Lebih jelasnya, para nabi-Nya relatif hanya menggunakan 'bahasa hikmah', dalam berinteraksi secara "terang-terangan" dengan para makhluk gaib. Para nabi-Nya tidak hanya semata menerima secara apa adanya, atas tiap hal yang dibicarakan, namun mereka justru hanya mengambil tiap hikmah, yang terkandung di baliknya.
Selain itu, interaksi semacam ini bisa ikut makin 'memperkaya' isi wahyu, karena para nabi-Nya juga telah bisa mengetahui dengan relatif jelas, tentang para makhluk gaib ('wujud asli', jenis kelamin, dsb), ruh, kehidupan makhluk di alam ruh (alam gaib), alam dan kehidupan akhirat, Surga dan Neraka, dsb. Dan termasuk tentunya tentang bagaimana cara para makhluk gaib dalam memberikan ilham-ilham.

Hanya 'akal' satu-satunya alat-sarana pada zat ruh tiap manusia, yang bisa memilih, menelaah, menilai dan memutuskan segala sesuatu informasi pada alam batiniah ruhnya (alam pikirannya), untuk dianggapnya sebagai pengetahuan yang 'relatif' benar (kebenaran 'relatif' menurut manusianya sendiri), ataupun tidak.
Juga hanya akal tentunya, yang bisa memisahkan atau membedakan antara ilham yang positif-benar-baik dan yang negatif-sesat-buruk dari para makhluk gaib.
Dan para makhluk gaib sama sekali tidak bisa melangkahi atau mempengaruhi otoritas atau kekuasaan akal manusia, kecuali jika akal manusianya sendiri memang memilih dan memutuskan untuk mengikuti pengaruh dari para makhluk gaib.

Tiap kebenaran 'relatif' dari hasil olahan akal, pasti tersimpan dalam hati-nurani tiap manusianya, serta terus-menerus makin banyak menumpuk sepanjang hidupnya, jika manusianya sendiri memang terus-menerus menggunakan akalnya.
Dan segala kebenaran 'relatif' pada hati-nurani inilah yang membentuk keyakinan atau keimanan batiniah pada tiap manusianya.

Jika manusia makin banyak menggunakan hati-nuraninya, maka segala kebenaran 'relatif' di dalamnya bahkan juga bisa dimanfaatkan kembali oleh akal, agar bisa makin baik dalam menentukan pilihan dan keputusannya selanjutnya.
Dan para nabi-Nya adalah orang-orang yang amat sering menggunakan akal dan keyakinan hati-nuraninya, terutama agar tiap kebenaran 'relatif' yang telah bisa dipahaminya, juga bisa relatif makin baik, sempurna atau mendekati kebenaran 'mutlak' milik Allah di alam semesta ini, dengan cara terus-menerus menggunakan akalnya secara relatif amat obyektif, cermat dan mendalam.

Jika telah cukup lengkap dan sempurna, berbagai kebenaran 'relatif' pada hati-nurani juga akan bisa membentuk suatu pemahaman 'Al-Hikmah' (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), yang terkadang juga disebut 'cahaya kebenaran-Nya' (nur ilahi), 'petunjuk-Nya', 'hikmah dan hidayah-Nya' ataupun 'makrifat'.
Dan tiap 'Al-Hikmah' adalah pengetahuan atau pemahaman yang relatif paling tinggi tentang suatu kebenaran-Nya ('hijab' tertinggi tentang sesuatu hal), dengan segala dalil-alasan dan penjelasannya yang relatif amat kokoh-kuat dan lengkap.

Para nabi-Nya adalah orang-orang yang telah memperoleh amat banyak pemahaman 'Al-Hikmah', yang juga telah tersusun relatif sempurna (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya), terutama tentang segala hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan seluruh umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah)
Seluruh pemahaman semacam ini juga disebut "pemahaman kenabian", yang dengan kesempurnaannya, segala dalil-alasannya telah relatif amat sulit dibantah atau digoyahkan (tingkat keyakinan atau kepastiannya telah relatif amat tinggi).
Sehingga para nabi-Nya juga biasa disebut berada paling dekat ke hadapan 'Arsy-Nya (dari amat banyak sisi atau aspeknya), di antara seluruh umat manusia lainnya.

Seseorang bisa dianggap telah memperoleh 'wahyu-Nya' ataupun bisa disebut 'nabi-Nya', hanya semata-mata jika telah memperoleh "pemahaman kenabian" ('seluruh' Al-Hikmah yang telah tersusun relatif sempurna). Serta 'tiap' Al-Hikmah di dalamnya juga bisa disebut 'wahyu-Nya'.
Tentunya kenabian mestinya disertai pula dengan pengamalan atas segala pemahamannya tentang kebenaran-Nya, secara relatif amat konsisten.
Dan seluruh para nabi-Nya adalah orang-orang yang telah memperoleh wahyu yang berupa Al-Hikmah ini, yang tersimpan atau tertanam di dalam dada-hati-pikirannya.

Keimanan yang utuh adalah gabungan antara keimanan batiniah (pemahaman / ilmu) dan keimanan lahiriah (pengamalan / amal). Iman = ilmu + amal.
Keimanan yang makin tinggi bisa diperoleh, jika segala pemahamannya yang makin sempurna, yang disertai pula dengan segala pengamalannya yang makin konsisten.
Dan para nabi-Nya adalah orang-orang yang tingkat keimanannya relatif amat tinggi.

Wahyu dan kenabian telah berakhir secara alamiah pada nabi Muhammad saw.
Setelah jaman Nabi, 'tiap' manusia hampir mustahil bisa menjawab sendirian secara relatif sempurna, atas segala persoalan pada dirinya sendiri dan juga pada seluruh umat manusia, yang memang telah berkembang makin banyak, luas dan kompleks.
Sedangkan wahyu pada hakekatnya memang hadir untuk bisa menjawab dengan relatif sempurna, atas segala hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat suatu kaum ataupun bahkan seluruh umat manusia.
Dan juga wahyu pada hakekatnya memang berdasarkan kesempunaan pemahaman atau keyakinan pribadi seseorang (tiap nabi-Nya), sama sekali bukan berdasarkan keyakinan kolektif sekelompok orang ataupun masyarakat. Keyakinan kolektif umumnya relatif amat rendah, akibat adanya berbagai perbedaan antar individunya (pengetahuan, pengalaman, keadaan, kebutuhan, kepentingan, persoalan, dsb).

Para nabi-Nya menyampaikan atau mengungkapkan berbagai 'hasil rangkuman' atas 'seluruh' pemahaman Al-Hikmah yang diperolehnya kepada umat manusia lainnya, melalui lisan, tulisan, sikap dan contoh perbuatannya, agar umat bisa ikut pula memahami kebenaran dan keredhaan-Nya.
Tiap pengungkapan hasil rangkuman ini umumnya bersifat relatif ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual, sesuai dengan segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umatnya, agar umat relatif mudah bisa memahami dan mengamalkannya.
Sedangkan tiap Al-Hikmahnya sendiri umumnya bersifat relatif kompleks, rumit, mendalam, tidak praktis-aplikatif dan universal (tidak aktual), yang disampaikan relatif hanya terbatas kepada umat-umat terdekat yang relatif amat berilmu.

Hasil rangkuman Al-Hikmah yang telah terungkap, terucap atau tertulis juga biasa disebut 'Al-Kitab' (kitab-Nya / kitab tauhid) dan 'Sunnah para nabi-Nya'.
Sedangkan tiap ayat Al-Kitab juga biasa disebut 'wahyu-Nya', terutama karena seluruh ayat Al-Kitab memang telah sengaja disusun sebagai bahan pengajaran dan tuntunan-Nya yang relatif amat lengkap dan sempurna bagi umat manusia, walaupun tiap nabi-Nya yang terkait itu sendiri telah tiada.

Sunnah para nabi-Nya (lisan, tulisan, sikap ataupun perbuatannya) adalah contoh pengamalan langsung atas wahyu yang berupa Al-Hikmah di dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya, ataupun atas wahyu yang berupa ayat-ayat di dalam Al-Kitab.
Dan Hadits para nabi-Nya adalah catatan atau kitab tertulis atas Sunnah para nabi-Nya, yang dibuat oleh tiap nabi-Nya sendiri ataupun oleh para pengikutnya.

Hanya sebagian kecil saja dari para nabi-Nya yang telah menyampaikan 'Al-Kitab' (kitab-Nya / kitab tauhid), antara lain: nabi Ibrahim as (lembaran-lembaran lepas), nabi Musa as (Taurat), nabi Daud as (Jabur), nabi Isa as (Injil) dan terakhir nabi Muhammad saw (Al-Qur'an), karena penyusunan Al-Kitab memang menyangkut kelengkapan dan kesempurnaan seluruh pemahaman Al-Hikmah pada tiap nabi-Nya.
Dan sebagai Al-Kitab dari nabi-Nya yang terakhir, secara alamiah tentunya kitab suci Al-Qur'an adalah bahan pengajaran dan tuntunan-Nya yang paling aman, lurus, lengkap dan sempurna bagi seluruh umat manusia sampai akhir jaman.

Ajaran-ajaran agama Islam (terutama dalam kitab suci Al-Qur'an dan Hadits-hadits Nabi) tentunya hanya bisa berlaku relatif sempurna sampai akhir jaman, jika umat Islam telah bisa mengungkap kembali nilai-nilai universal di dalamnya (segala Al-Hikmah yang terkandung di balik teks-teksnya), sambil mengungkapnya pula dari tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini (ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis).
Lalu umat Islam melalui Majelis alim-ulamanya bisa melahirkan ijtihad berdasarkan segala Al-Hikmah yang telah diperoleh, untuk bisa menjawab segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupannya pada tiap waktu atau jamannya.
Dan proses inipun relatif amat serupa dengan hal-hal yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya, dari jaman ke jaman, yang pada saat sekarang ini mestinya juga dilakukan oleh "Majelis alim-ulama", yang telah diwarisi 'tugas' dan 'ajaran' para nabi-Nya, serta mustahil bisa dilakukan hanya oleh tiap alim-ulama secara perseorangan.

Sekali lagi, seperti yang telah diungkapkan pada artikel/posting terdahulu "empat macam bentuk wahyu", semua penjelasan di atas secara sekilas juga telah menunjukkan empat macam bentuk wahyu tersebut, yaitu: "Fitrah Allah", "tanda-tanda kekuasaan dan kemuliaan-Nya" ("ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis"), "Al-Hikmah" dan "Al-Kitab", yang sekaligus disertai pula dengan penjelasan secara ringkas atas proses diturunkan-Nya atau proses perolehan wahyu pada para nabi-Nya.

Tentunya semua penjelasan di atas juga perlu 'disandingkan' kembali dengan segala penjelasan yang terkait tentang wahyu, khususnya dari ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi, agar para pembaca bisa makin mengetahui 'benang merah' penghubungnya, dan sekaligus bisa menempatkan segala sesuatu halnya pada tempatnya yang semestinya.

Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang selengkapnya, tentang proses perolehan wahyu para nabi-Nya, di samping dari topik-topik terkait lainnya dalam buku ini, termasuk untuk mengetahui lebih lengkap, ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an yang mendukung berbagai dalil-alasan bagi tiap penjelasan atau pemahaman di atas.

Wallahu a'lam bishawwab.

Artikel / buku terkait:

Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

Tentang Syarif Muharim

Alumni Teknik Mesin (KBK Teknik Penerbangan) - ITB - angkatan 1987 Blog: "islamagamauniversal.wordpress.com"
Tulisan ini dipublikasikan di Hikmah, Saduran buku dan tag , , , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Cara proses diturunkan-Nya wahyu

  1. Ping balik: the process of revelation | captured in her eyes

  2. KURDIANTO berkata:

    Adakah keterkaitan wahyu dengan Dunia ?karena sebagaimana diketahui dunia adalah fenomena yang riil tentang kehidupan , mohon jawabannya. Tks

    • Syarif Muharim berkata:

      Ada keterkaitannya….. Lebih jelasnya dlm artikel “Wahyu dan kitab-Nya memiliki 4 macam bentuk” (http://islamagamauniversal.wordpress.com/2011/09/26/4-macam-bentuk-wahyu/), diterangkan 4 macam bentuk scra “hierarki” dlm proses diturunkan-Nya wahyu. Adapun bentuk wahyu ke-2 bisa disebut sbgai “tanda-tanda kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini”.
      Kehidupan dunia ini justru mrpkan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Jadi mmg ada keterkaitannya langsung dan amat jelas, antara wahyu dan kehidupan dunia ini. Artikel “Cara proses diturunkan-Nya wahyu” di atas juga ada sdkit menerangkan keterkaitan tsb.
      Wallahu ‘alam.

  3. Cek Jen berkata:

    Sudah dorujuk silang dg Double Movementnya Fazlur Rahman? Dan juga idenya dg Fill Kreatif

    • Syarif Muharim berkata:

      Sayangnya, saya belum punya kesempatan membaca hal2 yg disebut. Dan sementara ini rujukan saya hanya kitab suci Al-Qur’an.

      Adapun metoda yg saya buat dan pakai, dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, bisa dibaca pada artikel “Metode pencapaian pemahaman Al-Hikmah” (http://islamagamauniversal.wordpress.com/2011/11/14/metode-pencapaian-pemahaman-al-hikmah/).

      Terima kasih atas informasinya.

      • Cek Jen berkata:

        Fazlur Rafman, merujuk kepada Syak Walliullah dan Iqbal. Yakni, ttg bgmn ide, perasaan, ilham dan wahyu (yg bersumber dr muara yg sama). FR menolak ide Malaikat (Jibril) sbgmna mekanisme Tukang Pos. Dia mengajukan hal baru, Fill Kreatif. Namun sayang, progressi dr penalaahannya ( dimulai kl th 1965-an), hingga kini belum ada yg sy ketahui, pdhl ide2 dia di Ind banyak diadopsi (sy sangat ingin mendapatkan progressinya). Ttg Double movement, adalh cara/metode dia dlm menafsirkan, yg menolak cara2 hermenutika barat, mungkin mudahnya terkenak dg konstektual Vs tekstual, menuju peggalian lebih dalam(ilmiah) Asbabun Nuzul, dlm tradisi kita. Wallahuallam

        • Syarif Muharim berkata:

          Saya kesulitan / belum menemukan artikel ttg ide “Fill creative” dari Fazlur Rahman. Namun dari keterangan ringkas di atas pd dasarnya saya sepakat, bhwa Jibril as tidaklah berlaku sprti Tukang Pos.

          Ringkasnya dlm bhsa saya, bhwa proses turunnya wahyu kpd para nabi-Nya, persis serupa dgn proses perolehan sgla bentuk ilmu-pengetahuan, bagi seluruh umat manusia lainnya, bhwa wahyu juga suatu bentuk ilmu-pengetahuan, dan bhwa Jibril as memberi sgla bentuk ilham yg benar, bagi penyusunan tiap wahyu pd para nabi-Nya.
          Perbedaan antara wahyu dan sgla bentuk ilmu-pengetahuan lainnya relatif hanya pada “tingkat kesempurnaan” ataupun “tingkat kedekatan” ilmu-pengetahuannya, thd ilmu-pengetahuan mutlak milik Allah di alam semesta ini (kebenaran-Nya).
          Wahyu adalah ilmu-pengetahuan yg relatif paling sesuai / paling dekat, thd ilmu-pengetahuan mutlak milik Allah.

          Juga pd dasarnya saya sepakat dgn ide “Double movement” (gerakan ganda) dari Fazlur Rahman, yg baru sempat saya baca.
          Namun krn isi blog ini lbh terfokus kpd perolehan pemahaman atas ayat2 Al-Qur’an (bukan penerapan / pengamalannya), sepertinya baru “gerakan pertama” yg diungkap disini, secara cukup lengkap. Walaupun disini juga lbh luas drpd sekedar kajian sosio-historis dan kultural.
          Sdgkan “gerakan kedua” lbh tepatnya saya serahkan kpd para alim-ulama ahli fiqih ataupun ahli tafsir.

          Melalui blog ini mmg bertujuan utama, untuk mencari, memahami ataupun mengungkap nilai2 universal (hikmah2), yg mmg amat banyak terkandung dlm Al-Qur’an.

          Terima kasih.

  4. Ping balik: Manusia Dan Agama | saiful runardi

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s