Agama Islam = agama universal

Agama Islam = agama universal

Agama Islam adalah agama universal, yang sesuai dengan
segala kebenaran-Nya di seluruh alam semesta ini.

Barangkali sebagian dari umat Islam terkadang telah melupakan, atau seluruh umat manusia lainnya bahkan kurang memahami, misalnya:

  • Bahwa agama Islam adalah agama universal, yang sesuai segala kebenaran-Nya di alam semesta ini;

  • Bahwa agama Islam adalah agama yang melewati batas waktu, ruang dan konteks budaya (bisa berlaku kapanpun, dimanapun dan bagi siapapun di alam semesta ini);

  • Bahwa agama Islam adalah agama yang menyertai atau mengikuti perjalanan alam semesta ini, bahkan sampai akhir jaman.

  • Bahwa agama Islam adalah bentuk rahmat Allah bagi alam semesta ini (terutama bagi seluruh umat manusia);

  • Bahwa agama Islam adalah agama milik seluruh umat manusia di alam semesta ini (sama sekali bukan semata milik bangsa Arab ataupun umat Islam), agar sama-sama bisa kembali ke "agama atau jalan-Nya yang lurus";

  • Bahwa agama Islam adalah salah-satu agama tauhid, yang juga hasil pengungkapan atas "agama atau jalan-Nya yang lurus" yang terdapat di alam semesta ini, yang telah dipelajari dari nabi ke nabi dan bahkan dari umat ke umat, dari jaman ke jaman;

  • Bahwa agama Islam adalah agama tauhid terakhir, yang juga paling lurus, lengkap dan sempurna dibanding agama-agama tauhid lainnya (Yahudi dan Nasrani);

  • Bahwa agama Islam adalah terlahir berdasar segala pemahaman nabi Muhammad saw yang amat lengkap dan sempurna, dari mempelajari "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya" di alam semesta ini, sekaligus sambil dituntun oleh malaikat Jibril;

Namun pertanyaan atau persoalan utamanya:

  • Bagaimana bentuk Agama Islam atau Agama Islam semacam apa, yang bisa ideal atau sempurna seperti di atas (bisa berlaku 'universal' dan juga sekaligus tetap selalu berlaku 'aktual', bahkan sampai akhir jaman)?.

  • Apakah pemahaman dan pengamalan umat saat ini atas ajaran agama Islam, telah berbentuk ideal atau sempurna?;

  • Apakah umat telah bisa memahami ajaran agama Islam, sesuai pemahaman Nabi atas wahyu-Nya yang diperolehnya (memahami secara relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan)?;

  • Apakah umat telah benar-benar mengenal agama Islam?;

Semua pertanyaan atau persoalan inipun pada dasarnya berpuncak kepada seluruh pemahaman yang terkait 'wahyu-Nya', sebagai dasar dari kelahiran semua agama tauhid, agama samawi atau agama wahyu (termasuk agama Islam), misalnya:

  • Apakah hakekat yang sebenarnya dari wahyu-Nya?;

  • Bagaimana proses lengkap turunnya wahyu-Nya, sejak dari Allah langsung, sampai kepada umat (dari Allah kepada para malaikat Jibril, dari para malaikat Jibril kepada para nabi-Nya, serta dari para nabi-Nya kepada umat)?;

  • Apa saja bentuk wahyu-Nya, dari bentuk awalnya yang disampaikan langsung oleh Allah, sampai bentuk akhirnya yang biasa dikenal oleh umat (ayat-ayat kitab-Nya), beserta tiap sifat, penyampai, perantara, sarana dan sasaran penyampaiannya?;

  • Dimana saja letak universalitas dan juga letak aktualitas dari wahyu-Nya?;

  • Kenapa para nabi-Nya bisa memperoleh wahyu-Nya (tidak diberikan-Nya bagi umat manusia lainnya)?;

  • Apa saja peranan para nabi-Nya pada proses turunnya wahyu-Nya, termasuk pula peranan akal dan keyakinan hati-nuraninya?;

  • Apakah kaitan antara proses turunnya wahyu-Nya, dengan keadaan kehidupan umat yang menerimanya?;

  • Bagaimana proses turunnya wahyu-Nya pada para nabi-Nya, dari jaman ke jaman, serta kaitan antara wahyu-wahyu-Nya pada para nabi-Nya?.

  • Apakah perbedaan antara wahyu-wahyu-Nya pada nabi Muhammad saw, daripada wahyu-wahyu-Nya pada para nabi-Nya terdahulu?.

  • Kenapa wahyu-Nya berakhir hanya sampai pada nabi Muhammad saw?.

Semua pertanyaan atau persoalan semacam ini tentunya mestinya telah terjawab oleh tiap umat Islam, agar ia benar-benar mengenal agama Islam. Juga mestinya telah terjawab lebih dahulu, sebelum umat Islam (terutama melalui Majelis alim-ulamanya) bisa mengusahakan terbentuknya agama Islam, yang ideal seperti di atas. Wahyu-Nya dan kenabian memang telah berakhir, namun Majelis alim-ulama di tiap negeri dan jamannya, justru telah diwarisi 'tugas' dan 'ajaran' para nabi-Nya (bukan hanya 'ajaran', namun juga 'tugas' para nabi-Nya dalam berusaha memahami dan menyampaikan kebenaran-Nya).

Harap baca pula "Beranda: Islam, agama universal", tentang letak universalitas dan aktualitas dari ajaran agama Islam, serta bagaimana cara mengembalikan atau menjaga universalitas dan aktualitasnya. Juga tentang bentuk umum pemahaman dan pengamalan umat saat ini atas ajaran agama Islam, serta perbedaannya dengan bentuk idealnya.

Juga tentunya kurang sempurna, apabila harapan ideal bagi terbentuknya agama Islam, yang bisa berlaku universal dan juga sekaligus selalu berlaku aktual sampai akhir jaman, tanpa disertai dengan hasil pengungkapan atas nilai-nilai universal (Al-Hikmah), 'di balik' teks ajaran-ajarannya (terutama kitab suci Al-Qur'an). Berbagai Al-Hikmah itupun sebagiannya telah diungkapkan pada resensi buku (selengkapnya pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"). Sekaligus melalui pengungkapan itu telah relatif bisa terjawab pula hampir semua pertanyaan di atas. Mudah-mudahan berbagai Al-Hikmah itu bisa bermanfaat bagi umat Islam dan para alim-ulama. Amien.

Majelis alim-ulama di tiap negeri dan jamannya tentunya lebih berkewajiban, untuk bisa mengungkap segala nilai universal (Al-Hikmah), 'di balik' teks ajaran-ajaran agama Islam (terutama kitab suci Al-Qur'an dan Hadits-hadits Nabi). Dan relatif hanya dengan cara ini, 'universalitas' dari ajaran agama Islam bisa tetap terjaga, sampai akhir jaman.

Majelis alim-ulama tentunya juga berkewajiban, untuk bisa melahirkan segala hasil ijtihad, yang bisa menjawab ataupun mengatasi segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan beragama umat, di tiap negeri dan jamannya, terutama lagi berdasar segala Al-Hikmah yang telah diperoleh. Dan relatif hanya dengan cara ini, 'aktualitas' dari ajaran agama Islam bisa tetap terjaga, sampai akhir jaman.

Bahkan gabungan antara seluruh pemahaman yang bersifat 'universal' (Al-Hikmah) atas "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya" di alam semesta ini, dan juga sekaligus seluruh hasil pengungkapannya secara 'aktual' sesuai keadaan kehidupan umat kaumnya, justru telah dilakukan oleh para nabi-Nya, dari jaman ke jaman. Hal yang serupa mestinya juga bisa dilakukan oleh Majelis alim-ulama di tiap negeri dan jamannya.

Dan tiap umat Islam tentunya justru amat mengharapkan, agar agama Islam bisa menjadi agama universal, yang berlaku secara relatif ideal atau sempurna bahkan sampai akhir jaman, serta sekaligus bisa menuntun seluruh umat manusia kepada keredhaan-Nya (kepada kemuliaan umat manusia itu sendiri). Amien.

Wallahu a'lam bishawwab.

Artikel / buku terkait:

Beranda: "Islam, agama universal"

Resensi buku: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Buku on-line: "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW"

Al-Qur'an on-line (teks Arab, latin dan terjemah)

Download terkait:

Al-Qur'an digital (teks Arab, latin dan terjemah) (chm: 2,45MB)

Buku elektronik (chm): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (+Al-Qur'an digital) (chm: 5,44MB)

Buku elektronik (pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" (pdf: 8,04MB)

Buku elektronik (chm + pdf): "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW" dan Al-Qur'an digital (zip: 15,9MB)

 

About these ads

Tentang Syarif Muharim

Alumni Teknik Mesin (KBK Teknik Penerbangan) - ITB - angkatan 1987 Blog: "islamagamauniversal.wordpress.com"
Tulisan ini dipublikasikan di Hikmah, Saduran buku dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Buat komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s